.

Sabtu, 17 Februari 2018

Inovasi Hijau Pengolahan Rumput Laut


Oleh : Samuel Aditya Oka H. @F12-Samuel






Abstrak :

Rumput laut menjadi salah satu komoditi unggulan Indonesia, agar dapat memiliki nilai tambah, rumput laut seharusnya tidak hanya diolah menjadi rumput laut kering namun juga diolah menjadi produk jadi. Produk jadi yang berasal dari rumput laut diantaranya adalah ATC, SRC dan karaginan. Ditinjau dari aspek kemudahan teknologi dan aspek biaya, pemanfaatan limbah menjadi produk olahan berupa nata de seaweed dipilih untuk dikembangkan karena secara tren pasar masih terbuka luas dan dampak terhadap lingkungan sangat minim.

Kata Kunci : Green Industry, SRC


Isi :

            Menurut Atep A. dan M. Kholil (2017), dalam berbagai literatur sulit ditemukan adanya definisi sederhana mengenai Industri Hijau, namun memiliki beberapa atribut untuk mendefinisikan seperti :
1.      Proses produksi dengan menggunakan bahan baku yang lestari.
2.      Penggunaan bahan baku seminimal mungkin.
3.      Proses produksi hemat bahan, air dan energi.
4.      Proses produksi bebas bahan berbahaya dan beracun.
5.      Penerapan daur ulang untuk limbah padat.
6.      Pengurangan emisi atau gas rumah kaca sebagai polutan yang berbahaya secara substansial.
7.      Produk yang dihasilkan memiliki daya tahan dan dapat digunakan dalam jangka panjang.

            Pada industri pengolahan rumput laut saat ini masih menghasilkan limbah yang cukup banyak, terutama pada pengolahan SRC (Semi Re-fined Carrageenan) sehingga industri hijau perlu diterapkan dalam proses pengolahannya agar dapat meminimalisir dampak negatif limbah terhadap lingkungan.

            Menurut Setyawati dkk (2014) Berdasarkan kajian literatur, alternatif strategi penanganan limbah yang dapat dilakukan meliputi :
1.      Peningkatan nilai tambah air limbah menjadi produk yang mempunyai nilai ekonomis. Air limbah SRC yang banyak mengandung alkali jika diproses lebih lanjut akan memberikan nilai tambah dengan dihasilkannya produk baru.
2.      Pemanfaatan kembali air limbah. Proses pengolahan SRC membutuhkan banyak air, sehingga air limbah yang dihasilkan sangat besar. Pendaur ulangan air limbah akan mengefisienkan penggunaan air sekaligus mengurangi masalah pencemaran lingkungan.
3.      Peningkatan kinerja IPAL. Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) perlu dikelola dengan baik agar dapat beroperasi secara optimum. Untuk mencapai kondisi tersebut diperlukan beberapa perangkat manajemen dan pembiayaan seperti kelembagaan pengelola IPAL, sumberdaya manusia yang memadai, dan dukungan pembiayaan untuk perawatan IPAL.

            Upaya lain yang dapat diterapkan dalam mengelola limbah pengolahan karagenan adalah dengan cara memanfaatkannya menjadi nata de seaweed. Nata de seaweed dari limbah SRC diolah dengan cara sebagai berikut :
1.      Pemasakan air selama 10 – 15 menit
2.      Penambahan gula sebanyak 2,5%
3.      Penambahan sari jeruk nipis hingga pH air mencapai 3 – 4
4.      Tempatkan dalam wadah fermentasi
5.      Tutup dengan kain kasa steril dan diamkan selama satu malam
6.      Tambahkan starter Acetobacter Xylinum sebanyak 10%
7.      Fermentasi selama 10 – 15 hari hingga membentuk lapisan nata 1,5 – 2 cm

            Dengan upaya – upaya yang dilakukan tersebut diharapkan industri hijau dapat tercapai sehingga limbah yang dihasilkan dapat dikelola dengan baik, selain itu produk juga memiliki nilai tambah serta dampak terhadap lingkungan mampu ditekan.
             
Daftar Pustaka

Hidayat, Atep Afia dan Muhammad Kholil. 2017. Kimia, Industri dan Teknologi Hijau. Pantona Media. Jakarta.

Setyawati, Ekaterina; Ma’arif, Syamsul; Arkeman, Yandra. 2014. INOVASI HIJAU DALAM INDUSTRI PENGOLAHAN RUMPUT LAUT SEMI REFINED CARRAGEENAN (SRC). http://download.portalgaruda.org/article.php?article=521488&val=10659&title=INOVASI%20HIJAU%20DALAM%20INDUSTRI%20PENGOLAHAN%20RUMPUT%20LAUT%20SEMI%20REFINEED%20CARRAGEENAN%20(SRC). Diunduh tanggal 16 Februari 2018.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.