.

Selasa, 26 November 2019

Kenali Prinsip Kimia Hijau

Oleh @N12-ALFINA, Alfina Septiyadevi


Abstrak :
Kimia hijau sangat efektif karena mengaplikasikan solusi saintifik yang inovatif bagi situasi lingkungan dunia. Karena saat ini tuntutan sebagian besar umat manusia ialah untuk menjalani kehidupan yang lebih sejahtera yang makin memacu pengembangan teknologi dan industri yang mumpuni.

Pendahuluan :
Ilmu kimia dapat memainkan peran penting untuk mencapai peradaban yang berkelanjutan di Palnet Bumi (Collins 2001). Kemudian kimia hijau berlaku untuk seluruh siklus hidup produk kimia, termasuk desain, manufaktur, penggunaan, dan pembuangan akhir. Kimia Hijau dikenal juga sebagai Kimia Berkelanjutan. Dengan berupaya membuat langkah – langkah kreatif dan inovatif beragam proses kimia baik menggeser, menambah, mengurangi, dan memperbaharui proses kimia tradisional maupun konvensional menjadi ramah lingkungan dengan tetap mengedepankan prinsip optimasi dalam proses produksi.

Pembahasan :
Menurut EPA (2015), Kimia Hijau berupaya mengurangi beragam sumber polusi, yaitu dengan cara meminimalkan bahkan menghilangkan bahaya dari bahan baku kimia, reagen, pelarut dan produk. Kemudian ahli kimia Amerika Serikat, Paul Anastas dari United States Environmental Protection Agency dan John C. Warner mengembangkan 12 prinsip kimia hijau yang berfungsi sebagai panduan pengaplikasian kimia hijau dalam tindakan nyata. 12 Prinsip Kimia Hijau tersebut diantaranya :
1.      Mencegah limbah, mendesain sintesa kimiawi untuk mencegah limbah, tak meninggalkan limbah untuk ditindaklanjuti atau dibersihkan.
2.      Mendesain zat kimiawi dan produk kimiawi yang aman, mendesain sintesa untuk digunakan dan menghasilkan zat kimia yang tidak atau hanya sedikit menjadi racun bagi manusia dan lingkungannya.
3.      Mendesain sintesa kimia yang tidak terlalu berbahaya, mendesain sintesa untuk digunakan dan menghasilkan zat kimia yang tidak atau hanya sedikit menjadi racun bagi manusia dan lingkungannya
4.      Menggunakan bahan baku yang bisa diperbarui, menggunakan material dan bahan baku yang bisa diperbarui dari pada yang tidak bisa diperbarui. Bahan baku yang bisa diperbarui biasanya dibuat dari produk agrikultur atau merupakan limbah dari proses, sedangkan bahan baku yang tidak bisa diperbarui berasal dari fossil atau merupakan hasil tambang.
5.      Menggunakan pengkatalis, bukan bahan reaksi stoikometri, meminimalkan limbah dengan reaksi katalik. Pengkatalis digunakan dalam jumlah kecil dan membawa sebuah reaksi tunggal kecil secara berulang beberapa kali. Pengkatalisi diutamakan dibandungkan dengan bahan reaksi stoikometri yang digunakan secara berlebih dan hanya bekerja sekali.
6.      Menghindari turunan kimiawi, menghindari penggunaan grup penghambat atau pelindung atau perubahan sementara jika memungkinkan. Turunan menggunakan bahan reaksi tambahan dan menghasilkan limbah.
7.      Memaksimalkan ekonomi atom, mendesain sintesa agar produk akhir mengandung proporsi maksimum dari materi awal yang digunakan. Kalau ada atom yang terbuang, sebaiknya hanya sedikit.
8.      Gunakan pelarut dan kondisi reaksi yang aman, hindari penggunaan pelaruut, agen pemisahan, atau pelengkap kimia lain. Jika penting, gunakan zat kimia yang tidak berbahaya.
9.      Tingkatkan efisiensi energi, jalankan reaksi kimia pada suhu  dan tekanan yang sesuai dengan lingkungan kapan pun bisa.
10.  Mendesain zat kimia dan produk yang dapat terurai setelah digunakan, mendesain produk kimiawi yang terurai ke dalam zat yang tidak berbahaya setelah digunakan supaya tidak terakumulasi dalm lingkungan.
11.  Menganalisa dalam waktu sesungguhnya untuk mencegah polusi, melakukan pemantauan dan pengontrolan waktu sesunggunya selama sintesa berlangsung untuk meminimalkan atau menghilangkan pembentukan limbah.
12.  Meminimalkan potensi terjadinya kecelakaan, mendesain zat kimia dan bentuknya untuk meminimalkan potensi terjadinya kecelakaan kimiawi termasuk ledakan, kebakaran, dan pelepasan ke dalam lingkungan.
Setelah mengetahui beberapa prinsip dasar kimia hiaju, selanjutnya dapat diterapkan dalam dunia industri yang berkonsep green industry. Berbagai program terus dikembangkan untuk mendukung terwujudnya industri hijau, diantaranya :
1.    Menyusun rencana induk pengembangan industri hijau. 
2.    Konservasi energi dan pengurangan emisi CO2 di sektor industri.
3.    Penggunaan mesin ramah lingkungan.
4.    Menyiapkan standar industri hijau.
5.    Menyiapkan lembaga sertifikasi industri hijau.
6.    Menyiapkan insentif bagi industri hijau.
7.    Penerapan produksi bersih.  
8.    Penyusunan katalog material input ramah lingkungan

Kesimpulan :
Dalam sebuah industri, tentunya menghasilkan limbah. Limbah ini harus diolah sebelum dibuang. Dikutip dari Dina Mustafa, Industri kimia, khususnya Kimia Hijau dapat menawarkan solusi yang kredibel untuk masalah pengolahan limbah pada kota cerdas. Seperti untuk pengelolaan limbah padat juga dapat diterapkan pemisahan limbah (waste segregation),yaitu dengan penyediaan empat kantong pembuangan sampah untuk jenis limbah organik, kaca atau keramik, kertas dan plastik yang akan mempermudah pengumpul limbah untuk mentransfer sampah ke tempat daur ulang.

Daftar Pustaka :
Hidayat, A A; Kholil, Muhammad. 2018. Kimia dan Pengetahuan Ingkungan Industri - Penerbit Wahana Revolusi. Yogyakarta.
Atmojo, Susilo Tri. 2018. Green Chemistry (Kimia Hijau). Dalam http://chemistry35.blogspot.com/2011/06/green-chemistry.html
GrĂ¼n, Gianna. 2013. Kimia Hijau Makin Ngetrend. Dalam https://www.dw.com/id/kimia-hijau-makin-ngetren/a-16929898
Anonim. 2017. 12 Prinsip – Prinsip Green Chemistry Untuk Mencegah Pencemaran Lingkungan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.