Pembangunan sektor industri di Indonesia telah berjalan sekitar empat puluh lima tahun terhitung sejak lahirnya Undang-Undang Penanaman Modal Asing (PMA) tahun 1967 dan Undang-Undang Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) tahun 1968.
Tampilkan postingan dengan label @A31-ALAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @A31-ALAM. Tampilkan semua postingan
Kamis, 15 Desember 2016
Kamis, 08 Desember 2016
Prose Pengolahan pada Industri Makanan
A. PENGERTIAN DAN MEKANISME TEKNIK PENGOLAHAN
Pengertian Pengolahan
Makanan
Kamis, 01 Desember 2016
Pencemaran di Sulawesi Tenggara
fenomena
red tide yang dapat mematikan biota laut dalam jumlah massal dan juga
keracunan bagi manusia yang mengkonsumsi biota yang terkontaminasi
(sumber foto klik gambar)
Fenomena banyaknya keracunan setelah
mengkonsumsi biota laut khususnya ikan dan kerang yang dialami oleh
warga Kota Baubau pada Bulan Juni lalu ternyata tidak hanya dialami oleh
warga Kota Baubau. Media-media lokal Sulawesi Tenggara telah melaporkan
kejadian yang serupa juga dialami oleh warga-warga daerah lain yang
mengkonsumsi ikan dan kerang di wilayah Sulawesi Tenggara. Kejadian ini
sudah terjadi sejak Bulan Mei sampai Bulan Juli 2010 dengan wilayah
jatuhnya korban yang dilaporkan begitu luas meliputi Kabupaten Muna
(Kec. Maginti dan Kec. Napabalano), Kabupaten Buton (Kec. Gu, Lakudo,
Pasarwajo dan Lasalimu), Kota Bau-Bau dan sebagian pesisir Buton Utara
serta sudah menimbulkan beberapa orang korban meninggal dunia. Patut
diingat bahwa ini adalah data yang bersumber dari laporan media-media
online karena belum ada data resmi yang dikeluarkan oleh instansi
terkait sehubungan dengan jumlah dan wilayah jatuhnya korban akibat
keracunan setelah mengkonsumsi hewan laut. Jadi kemungkinan wilayah dan
jumlah korban lebih luas dan banyak dari yang kami tuliskan daftarnya di
bawah ini.
- Kejadian yang sudah berlangsung sejak Bulan Mei namun baru dilaporkan Tanggal 22 Juni 2010. Lokasi : Desa Moko, Mone, Lolibu dan Wajo Gu. Jumlah Korban : Hampir semua masyarakat di Desa Moko, Mone, Lolibu dan Wajo Gu dengan korban meninggal 2 orang. Penyebabnya : Setelah makan ikan dan kerang-kerangan yang ditangkap di sekitar Teluk Lasongko. Gejala yang dialami : mual dan muntah. Berita lengkapnya lihat di sini
- Kejadian tanggal 18 Juni 2010. Lokasi : Desa Gala Kecamatan Maginti, Muna. Jumlah Korban : 5 orang dengan kondisi 4 orang berhasil diselamatkan dan 1 orang meninggal dunia. Penyebabnya : Setelah makan kerang laut yang diambil dari laut. Gejala yang dialami : Muntah-muntah. Berita lengkapnya lihat disini
- Kejadian Tanggal 27 Juni 2010. Lokasi : Kecamatan Mataoleo, Bombana. Jumlah korban : 2 orang dengan kondisi dapat diselamatkan. Penyebabnya : Setelah makan ikan cakalang hasil tangkapan sendiri. Gejala yang dialami : mual, muntah dan sakit kepala. Berita lengkapnya lihat disini
- Kejadian Tanggal 27 Juni 2010. Lokasi : Kota Baubau. Jumlah korban : 6 orang dengan kondisi selamat. Penyebabnya : Setelah makan siput yang dibeli di pasar wameo. Gejala yang dialami : kejang pada bagian lidah dan tubuh serta muntah-muntah. Berita lengkapnya lihat di sini
- Laporan dari Puskesmas Wajo Kota Baubau selama Bulan Juni 2010. Jumlah korban : 20 orang dengan kondisi selamat. Penyebabnya : Setelah mengkonsumsi kerang dan ikan. Gejalayang dialami : mengalami gejala muntah-muntah, keram dan tingkat kesadaran menurun. Berita lengkapnya lihat di sini.
- Kejadian yang dilaporkan tanggal 9 Juli 2010. Lokasi : Kelurahan Kadolomoko Kota Baubau. Jumlah korban : 1 orang dengan kondisi selamat. Gejala yang dialami : keram dan mual. Penyebabnya : setelah mengkonsumsi ikan. Berita lengkapnya lihat di sini
- Kejadian Tanggal 11 Juli 2010. Lokasi : Kota Baubau. Jumlah Korban : 5 orang selamat. Gejala yang dialami : penglihatan kabur, kejang-kejang dan mual-mual. Penyebabnya : setelah mengkonsumsi ikan dari pasar sehat wameo. Berita lengkapnya lihat di sini
- Kejadian sekitar Tanggal 16 Juli 2010. Lokasi : Pulau Batu Atas, Kabupaten Buton. Jumlah : 2 orang meninggal dunia. Gejala yang dialami : tidak dilaporkan. Penyebabnya : setelah mengkonsumsi ikan. Berita lengkapnya lihat di sini.
- Kejadian Tanggal 19 Juli 2010. Lokasi : Kec. Sampolawa Kab. Buton. Jumlah Korban : 3 orang dengan kondisi selamat. Gejala yang dialami : kondisi tubuh lemas. Penyebabnya : setelah mengkonsumsi ikan cakalang. Berita lengkapnya lihat di sini
- Kejadian Tanggal 24 Juli 2010. Lokasi : Desa Lakapera Kec. Gu, Buton. Jumlah Korban : 5 orang dengan kondisi 3 orang selamat dan 2 orang meninggal dunia. Gejala yang dialami : mual-mual dan buang air terus menerus. Penyebabnya : setelah mengkonsumsi kerang yang diambil dari Teluk Lasongko. Berita lengkapnya lihat di sini
- Kejadian yang dilaporkan tanggal 28 Juli 2010. Lokasi : Kec. Lasalimu Kab. Buton. Jumlah korban : 4 orang dengan kondisi selamat. Gejala yang dialami : tidak dilaporkan. Penyebabnya : setelah mengkonsumsi ikan dan kerang. Berita lengkapnya lihat di sini
- Kejadian Tanggal 30 Juli 2010. Lokasi : Kel. Kombeli, Takimpo dan Laburunci, Pasarwajo, Buton. Jumlah Korban : Kombeli 4 orang, Takimpo 2 orang dan Laburunci 4 orang. Gejala yang dialami : mual, pusing dan sakit kepala. Penyebabnya : Setelah mengkonsumsi ikan yang di beli di Pasar Ompu Kelurahan Kombeli. Berita lengkapnya lihat di sini
- Selama Bulan Juli 2010. Lokasi : Kel. Tampo, Napabalano, Muna. Jumlah Korban : Belum ada laporan resmi. Gejala yang dialami : muntah-muntah, mual dan pusing. Penyebabnya : Setelah mengkonsumsi ikan yang ditangkap oleh nelayan. Berita lengkapnya lihat di sini.
- Kejadian yang dilaporkan Tanggal 2 Agustus 2010. Lokasi : Buton Utara. Jumlah Korban : Beberapa orang. Gejala yang dialami : pusing-pusing, muntah dan mata merah. Penyebabnya : Setelah mengkonsumsi ikan. Berita lengkapnya lihat di sini
- Laporan korban dari RSUD Kota Baubau selama Juni-Juli 2010. Jumlah Korban : Juni 13 Orang dan Juli, 23 orang yg mana semuanya selamat. Penyebabnya : keracunan setelah mengkonsumsi hewan laut jenis ikan dan kerang. Berita lengkapnya lihat di sini
Sayangnya meski terjadi dalam rentang
waktu yang berdekatan, telah menimbulkan banyak korban (meninggal dunia,
trauma dan kerugian material akibat menurunnya tingkat penjualan ikan
dan kerang) dan terjadi dalam wilayah yang luas dalam lingkup Provinsi
Sulawesi Tenggara, kasus keracunan setelah mengkonsumsi hewan laut ini
tidak ditangani secara terpadu dan terkesan lambat. Ketidakterpaduan
ditunjukkan oleh tidak adanya koordinasi antar unit kerja dalam satu
daerah dan antar unit kerja satu daerah dengan daerah yang lain yang
menangani kelautan, perikanan, kesehatan dan pencemaran. Padahal waktu
kejadian antar daerah yang satu dengan yang lain relatif berdekatan
dengan penyebab dan gejala yang dialami korban keracunan relatif sama
yakni disebabkan oleh ikan dan kerang dengan gejala mual, muntah-muntah
dan pusing. Sedangkan kelambanan ditunjukkan oleh adanya penyelidikan
dengan hanya mengirimkan sampel yang diduga mengandung racun ke
instansi yang memiliki peralatan penelitian seperti Badan Pengawas Obat
dan Makanan (BPOM) Kendari yang kebetulan peralatannya rusak (Lihat di sini dan di sini)
. Padahal tidak menutup kemungkinan adanya zat beracun dalam tubuh
hewan laut diakibatkan oleh penurunan kualitas lingkungan perairan
seperti adanya pencemaran limbah berbahaya atau munculnya fenomena Harmful Algae Blooms (HABs)/Ledakan Alga Berbahaya (LAB)/red tide
yakni fenomena adanya ledakan populasi dari alga plankton mikroskopik
(dalam bentuk fitoplankton, bukan zooplankton) yang bersifat racun yang
kemudian dikonsumsi oleh ikan dan kerang. Apalagi ada laporan kejadian
kematian ikan secara massal di perairan yang warganya mengalami
keracunan (perairan Pulau Kadatua dan Teluk Lasongko Kab. Buton dan
perairan Kadolomoko Kota Baubau) tanpa diketahui penyebabnya yang
merupakan salah satu akibat dari kemunculan LAB/red tide.
Sehingga penelitian seharusnya tidak hanya difokuskan kepada biota
penyebab keracunan tetapi juga kualitas air suatu perairan seperti
oksigen terlarut, kandungan logam berat, pertumbuhan fitoplankton
berbahaya dan faktor kualitas air lainnya.
Ketidakterpaduan dan kelambanan
penanganan ini tentu dapatberakibat buruk bagi masyarakat mengingat
sifat laut dan biota di dalamnya serta rantai perdagangan hasil laut
begitu dinamis dan tidak mengenal batas-batas administratif sehingga
jika memang ada bahan pencemar atau bahan berbahaya yang berasal dari
laut dan biota di dalamnya maka akan mudah berpindah dari satu daerah ke
daerah lain yang kemudian akan dikonsumsi oleh manusia.
Kelambanan dan ketidakterpaduan
penanganan kasus keracunan setelah mengkonsumsi hasil laut dalam lingkup
Provinsi Sulawesi Tenggara kemudian berimbas pada sumirnya penyebab
utama kenapa hasil laut yang seharusnya aman untuk dikonsumsi menjadi
berbahaya bagi manusia. Padahal informasi tentang penyebab utama ini
penting untuk membangun strategi pencegahan dan pengendalian munculnya
kasus serupa di masa mendatang. Memang Badan Pengawas Obat dan Makanan
(BPOM) Kendari sebagai badan yang memiliki kewenangan menyelidiki
kandungan racun dalam bahan makanan telah mendapatkan adanya logam berat
berupa Cu (tembaga) dalam tubuh sampel kerang yang dikirimkan oleh
Dinas Kesehatan Kota Baubau dan menduga adanya arsen dan sianida dalam
sampel tersebut (Lihat di sini).
Namun hasil analisis tersebut tidak serta merta dapat dijadikan sebagai
kesimpulan penyebab utama timbulnya kejadian-kejadian keracunan di
Sulawesi Tenggara. Sebab dari hasil analisis tersebut, pihak BPOM juga
belum bisa memastikan bahwa kandungan tembagalah yang menyebabkan
terjadinya keracunan karena perlu adanya penelitian pada semua makanan
dan air minum yang dikonsumsi oleh korban. Kemudian juga adanya arsen
serta sianida pada sampel yang dikirim oleh Dinkes Baubau juga masih
sebatas dugaan. Juga hasil analisis tersebut sebatas pada sampel kerang
yang dikirimkan oleh Dinas Kesehatan Kota Baubau sehingga tidak bisa
mewakili penyebab kejadian-kejadian keracunan yang banyak terjadi di
daerah lain di Sulawesi Tenggara.
Jadi seyogyanya instansi-instansi yang
menangani urusan laut, ikan, kesehatan dan pencemaran di Sulawesi
Tenggara harus bekerja lebih cepat, terpadu dan terkoordinasi agar
masyarakat tidak berlarut-larut dalam kecemasan saat akan mengkonsumsi
hasil laut yang merupakan santapan favorit di daerah Sulawesi Tenggara.
Juga untuk menyelamatkan kaum nelayan yang kian terjepit oleh kebutuhan
hidup akibat menurunnya pendapatan setelah merebaknya kasus keracunan
dan naiknya harga-harga bahan pokok.
Wassalam
DAFTAR PUSTAKA :
https://musafirtimur.wordpress.com
https://mustofa.aliwikipedia.com
https.//wonderfullsulawesi.com
http.//limbahsulawesi.com
DAFTAR PUSTAKA :
https://musafirtimur.wordpress.com
https://mustofa.aliwikipedia.com
https.//wonderfullsulawesi.com
http.//limbahsulawesi.com
Kamis, 24 November 2016
Industri Pewarna Rambut
Kamis, 06 Oktober 2016
PENCEMARAN UDARA
Pengertian Pencemaran Udara
Pencemaran
udara adalah kehadiran satu atau lebih substansi fisik, kimia, atau biologi di
atmosfer dalam jumlah yang dapat membahayakan kesehatan manusia, hewan, dan
tumbuhan, mengganggu estetika dan kenyamanan, atau merusak properti.
Rabu, 21 September 2016
Prinsip Kesetimbangan Kimia
Disusun oleh : Zarica Halimmah (41616010034)Alamsyach nural achmad
(41616010070)
1. Pengertian Kesetimbangan Kimia
Prinsip kesetimbangan dalam reaksi kimia,
pertama kali dikemukakan oleh Berthollt sewaktu menjadi penasehat ilmiah
Napoleon di Mesir, sedangkan kajian secara laboratorium dilakukan oleh Guldberg
dan Waage.
Label:
@A12-ZARICA,
@A31-ALAM,
Tugas K03
Rabu, 14 September 2016
Penentuan Rumus Dari Data Percobaan
Pengantar :
Setiap reaksi kimia melibatkan atom dan molekul dalam jumlah
yang besar. Misalnya akan membuat senyawa karbon dioksida, CO2.
Dapat dilakukan dengan cara mereaksikan satu atom karbon dengan dua atom oksigen
untuk mendapatkan satu molekul karbon dioksida. Berapapun jumlah zat yang akan
direaksikan yang terpenting adalah perbandingan jumlah atom karbon dan oksigen
haruslah 1 : 2. Jadi kita perlu memiliki metode perhitungan yang tepat agar
jumlah yang kita timbang mengandung atom dalam jumlah yang sesuai dengan
perbandingan di atas.
Untuk menemukan rumus
suatu senyawa melalui percobaan, harus diketahui : unsur-unsur yang menyusun senyawa itu,
perbandingan massa unsure-unsur tersebut dalam senyawa, serta rumus empiris dan
massa molekul relatifnya. Pada bagian ini akan dibahas bagaimana rumus suatu
senyawa ditentukan dari data percobaan.
1. Persen Massa
Untuk memperoleh rumus suatu senyawa, langkah pertama yang harus
dilakukan adalah menentukan susunan atau komposisi dari senyawa bersangkutan.
Ada dua metode klasik yang diterapkan sejak dulu adalah analisis pengendapan
dan analisis pembakaran.
Metode analasis
pengendapan, dapat digunakan jika terbentuk senyawa yang sukar larut. Misalnya
dalam sintesis senyawa yang mengandung logam perak. Cuplikan dari senyawa
tersebut ditimbang kemudian direaksikan dengan larutan HCL agar terbentuk
endapan perak (I) klorida, AgCl. Selanjutnya endapan disaring, dibersihkan dri
pengotor, dikeringkan dan ditimbang secara analitis. Persen massa cuplikan
dapat dihitung dengan anggapan bahwa selama reaksi berlangsung, semua perak
bereaksi tepat dengan HCL membentuk perak (I).
Massa Ag = massa molar Ag
Massa AgCl massa molar AgCl
Massa Ag = massa molar Ag × massa AgCl
Massa molar AgCl
Persen massa Ag = massa molar
Ag × 100%
Massa cuplikan
Metode analisis pembakaran, sering digunakan secara
luas terutama untuk reaksi-reaksi yang melibatkan gas misalnya senyawa yang
mengandung karbon dan hydrogen. Cuplikan dari senyawa ditimbang, dimasukkan
kedalam tabung tertutup sambil dialirkan gas oksigen kedalamnya agar bterjadi
pembakaran sempurna sampai semua karbon dan hydrogen membentuk gtas karbon
dioksida dan uap air. Dengan diketahuyinya massa air dan massa karbon dioksida,
maka massa hydrogen dan massa karbon yang berasal dari cuplikan senyawa dapat
dihitung berikut persentase massanya, yaitu sebagai berikut.
Massa
H = 2× massa molar H × massa H2O
Massa molar H2O
Persen Massa H = massa
H × 100%
Massa cuplikan
Massa
C = massa molar C × massa CO2
massa molar CO2
Persen
Massa C = massa C ×
100%
Massa cuplikan
2. Rumus Empiris dan Rumus Molekul
a. Rumus Empiris
Yaitu
rumus molekul yang menunjukkan perbandingan atom-atom penyusun molekul paling
sederhana dan merupakan bilangan bulat. Rumus empiris merupakan rumus molekul
yang diperoleh dari percobaan. Contoh, rumus molekul benzene adalah
, rumus empirisnya adalah CH.
Untuk
mentukan rumus empiris perlu terlebih dahulu menentukan komposisi massa dari
cuplikan senyawa yang ditentukan melalui percobaan seperti diuraikan diatas.
Selanjutnya, data tersebut bersama-sama dengan massa atom relative unsure
penyusun senyawa digunakan untu menghitung nilai perbandingan yang paling
sederhana dari atom-atom penyusun \cuplikan senyawa itu.
b. Rumus Molekul
Adalah
ungkapan yang menyatakan jenis dan jumlah atom dalam suatu senyawa yang
merupakan satu kesatuan sifat. Jikia dihubungkan dengan rumus empiris, maka
rumus molekul dapat diartikan sebagai kelipatan dari rumus empirisnya.
Untuk
menentukan rumus molekul suatu zat dari rumus empiris, harus diketahui massa
molekul relatifnya, Mr. terdapat beberapa metoda yang dapat dikembangkan di
laboratorium untuk menentukan massa molekul relative suatu zat, diantaranya
berdasarkan teori Avogadro menggunakan volume molar gas atau berdasarkan
penurunan titik bveku atau kenaikan titik didih suatu larutan bergantung pada
wujud zat.
·Penentuan Rumus Kimia
:
Konsep mol digunakan untuk menentukan rumus kimia suatu senyawa,
baik rumus empiris (perbandingan terkecil atom dalam senyawa) maupun rumus
molekul (jumlah atom dalam senyawa).
Rumus empiris dihitung gram atau persen masing-masing penyusun
senyawa dan angka tersebut dibagi dengan Ar masing-masing diperoleh
perbandingan mol terkecil dari unsur penyusun senyawa.
Rumus molekul dan rumus empiris suatu senyawa ada kalanya sama,
tetapi kebanyakan tidak sama.
Rumus molekul merupakan kelipatan dari rumus empiris.
Jika senyawa mempunyai rumus empiris CH2O maka rumus
molekul mungkin C2H4O2 dll.
Menentukan rumus molekul senyawa ada dua hal yang harus terlebih
dahulu diketahui yaitu rumus empiris senyawa dan Mr atau BM senyawa.
Contoh :
Suatu senyawa hidrokarbon yang terdiri dari 20% hidrogen dan 80%
karbon memiliki massa rumus (Mr) = 60.
Tentukan rumus empirisnya dan rumus molekulnya! (Ar H =
1, Ar C =16).
Penyelesaian :
Rumus empiris senyawa hidrokarbon = CH3
Rumus molekul senyawa = (CH3)n
Massa rumus (Mr)
(CH3)n
= 60
60
= {12 + 13(1)}n
60
= 15 n
n
= 60/15 = 4
Jadi rumus molekul senyawa hidrokarbon :
(CH3)4 = C4H12
DAFTAR PUSTAKA :
Sunarya,Yayan.2014.”Kimia
Dasar 1”. Yrama Widya
Rabu, 07 September 2016
KANDUNGAN KIMIA PADA TATTO
KANDUNGAN KIMIA
PADA TINTA TATTO
DEFINISI
Tinta tatto adalah zat pewarna yang
berisi pigmen. Itu jawaban yang paling singkat. Namun jenis zat pewarna serta
kandungan utama tidak dapat kita jawab seratus persen dengan tepat karena
perusahaan yang memproduksi tinta dan pigmen tidak di wajibkan dan diharuskan
untuk menguraikannya ke khalayak umum tentang kandungan produk tinta yang
mereka produksi, karena tinta memang bukan untuk kosumsi atau obat bagi
manusia.
KARAKTERISTIK
TINTA TATTO
sekarang ini pigmen dibuat dari garam metal.
Namun, ada juga pigmen yang terbuat dari plastik. Pigmenlah yang menghasilkan
warna pada tattoo. Cairan pengangkutnya berfungsi untuk tetap menjaga agar
pigmen tetap cair, serta mempermudah penggunaan tinta itu untuk diaplikasikan.Pigmen
yang paling pertama digunakan terbuat dari mineral tanah dan karbon hitam.
Sekarang ini pigmen ada yang dari pigmen asli mineral, pigmen organic modern,
pigmen dari tanaman, dan pigmen plastik. Reaksi alergi dan fototoksik (reaksi
karena terkena sinar yang kuat) bisa saja terjadi karena ketidakcocokan pigmen
dengan kulit. Pigmen plastik warnanya sangat kuat, tapi banyak orang yang
mengalami efek alergi. Ada juga pigmen yang bisa menyala dalam gelap dan bisa
merespon sinar ultraviolet. Pigmen seperti ini resikonya lebih tinggi. Ada yang
aman, ada juga yang mungkin berbahaya.
ISI KANDUNGAN TINTA TATTO
Warna
|
Kandungan Warna
|
Pigmen Warna
|
Hitam
|
Iron Oxide (Fe3O4)
Iron Oxide (FeO) Carbon |
Alaminya pigmen hitam terbuat dari
Kristal magnetic, bubuk hitam, wustite (sejenis mineral yang mengandung besi
oksida dengan warna abu-abu kehitaman), bone black, yaitu sejenis mineral
yang mengandung 10 % carbon, 84% calcium phosphate, dan 6 % calcium
carbonate, umumnya orang menyebutnya dengan sebutan carbon, rumus kimianya Ca3(PO4)2,
amorphous carbon yaitu hasil pembakaran dalam jelaga. pigmen hitam biasanya
banyak terdapat di India
|
Coklat
|
Ochre
|
Ochre berasal dari gheotite,
merupakan mineral alam dengan rumus (Fe2)3.H20.
Kandungan ion ferri oksida bercampur dengan lempung. Warna dasar ochre
sebenarnya kekuning-kuningan, namun jika kandungan air nya menguap dan kering
ochre akan berubah warna menjadi coklat.
|
Merah
|
Cinnabar (HgS)
Cadmium Red (CdSe) Iron Oxide (Fe2O3) Naphtanol sebagai pigmen |
Besi oksida sudah terkenal bisa
membentuk karet besi, cinnabar dan cadmium adalh pigmen yang sangat beracun.
Napthanol merah adalah sintesis dari naptha. Reaksi yang di laporkan antara
naphtol merah dengan pigmen memang masih sedikit namun yang pasti adalah
bahwa pigmen merah sangat sering membawa dampak alergi atau reaksi lain yang
sejenis.
|
Orange
|
Disazodiarylide
Disazopyrazolone Cadmium seleno-sulfide |
Bahan organic ini terbentuk dari
hasil kondensasidari 2 monoazo molekul pigmen. Ianya molekulnya yang sangat
besar, namus satibilitas dan suhu nya sangat stabil, selain itu juga tidak
mudah luntur.
|
Kuning
|
Yellow ( CdS, CdZnS)
Ochres Curcuma Yellow Chrome Yellow (PbCrO4 Sering bercampur dengan PbS) Disazodiarylide |
Kunyit merupakan turunan dari
jenis tumbuhan dari keluarga jahe-jahean. Hasil reaksi pigmen kunyit biasanya
berwarna kuning, dibutuhkan lebih banyak pigmen kunyit jika kita ingin
mendapatkan warna kuning yang lebih kuat dan terang
|
Hijau
|
Chromium Oxide (Cr2O3)
biasa disebut hijau kasalis atau hijau anadomis.
Malachite (Cu2(CO3)) (OH2) Ferrocyanidas Ferricyanida Lead chromate Monoazo pigmen Cu / Al phthalocyanides Cu Phytalocyanine |
Warna hijau sering termasuk
sebagai bahan penambah campuran seperti kalium ferrocyanida (kuning atau
merah ) dan besi ferrocyanida (prusian biru)
|
Biru
|
Azure blue
Cobalt Blue Cu – Phytalocyanine |
Pigmen ini berasal dari mineral
yang terkandung di dalam copper carbonate (azurite), sodium
aluminum silicate (lapis lazuli) calcium copper silicate (Egyptian
blue) beberapa cobalt aluminum axides pigmen danchromium oxides.
Pigmen biru dan hijau lebih banyak tersimpan dalam bentuk garam-garaman
copper. Seperti copper pythalocyaninepigmen ini telah disetujui
oleh FDA untuk digunakan sebagai mebel bayi dan mainan anak-anak juga lensa
kontak. Copper pada dasarnya adalah pigmen yang cukup aman
lebih stabil dari pada cobalt atau pigmen biru laut.
|
Violet
|
Manganase Violet ( Manganase
ammonium pyrophosphate)
Beberapa variasi dari turunan garam aluminum.
Quinacridone
Dioxazine / carbazole
|
Beberapa pigmen ungu khususnya
merah keungu-unguan, umunya photoreactiv, dan warnanya mudah memudar setelah
pencahayaan. Dioxazine dan carbazole adalah yang lebih stabil di dalam pigmen
ungu
|
Putih
|
Lead white (lead carbonate)
Titanium dioxide (TiO2) Barium Sulfate ( BaSO4) Zinc Oxide |
Beberapa pigmen putih merupakan
turunan dari anastase atau rutile ( yaitu sejenis mineral yang yang berasal
dari perut bumi, berwarna putih dapat digunakan sendiri atau dilarutkan pada
pigmen yang lain).
Titanium Oxide adalah salah satu dari beberapa pigmen putih yang bersifat reaktif. |
BAHAYA
Berikut adalah beberapa resiko kesehatan bagi
mereka yang memiliki tato di tubuhnya.
Saat membuat tato, maka kita tentu beresiko mendapatkan infeksi. Jika pembuat tato bukanlah pembuat tato profesional yang mengedepankan kebersihan dan keamanan, bisa jadi tinta yang dipakai untuk mentato tubuh sudah terkontaminasi dengan bakteri mycobacterium chelonae. Bakteri ini bisa memberikan efek perih dan ruam-ruam yang bisa bertahan hingga berbulan-bulan. Selain bakteri tersebut, kulit juga beresiko terkena serangan jamur yang bisa menyebabkan kulit kemerahan, pembengkakan, rasa nyeri dan juga tumbuhnya tato. Selain infeksi, tubuh juga terkena alergi yang berupa gatal-gatal yang bisa berlangsung dalam waktu yang lama.
Saat membuat tato, maka kita tentu beresiko mendapatkan infeksi. Jika pembuat tato bukanlah pembuat tato profesional yang mengedepankan kebersihan dan keamanan, bisa jadi tinta yang dipakai untuk mentato tubuh sudah terkontaminasi dengan bakteri mycobacterium chelonae. Bakteri ini bisa memberikan efek perih dan ruam-ruam yang bisa bertahan hingga berbulan-bulan. Selain bakteri tersebut, kulit juga beresiko terkena serangan jamur yang bisa menyebabkan kulit kemerahan, pembengkakan, rasa nyeri dan juga tumbuhnya tato. Selain infeksi, tubuh juga terkena alergi yang berupa gatal-gatal yang bisa berlangsung dalam waktu yang lama.
Tato memang menutupi kulit dengan warna dan
gambar-gambar yang menarik, namun kulit yang tertutupi tentu saja akan membuat
banyak gejala penyakit yang biasanya muncul pada kulit sehingga kita tidak bisa
mendeteksi penyakit dengan baik. Sebagai contoh, jika seseorang terkena kanker
melanoma, maka Ia tidak akan bisa melihat gejala penyakit ini dengan jelas sama
sekali. Banyak kasus dimana dokter tidak bisa mendeteksi adanya kanker sejak
dini hanya karena kulitnya tertutupi oleh tato sehingga gejala kanker pun
semakin memburuk dan semakin sulit untuk ditangani.
DAFTAR PUSTAKA
Langganan:
Postingan (Atom)





