.

Sabtu, 31 Agustus 2019

Penerapan Teknologi Hijau di Indonesia


Abstrak
Pertumbuhan konsumsi energi semakin hari semakin meningkat sementara persediaan energi di dalam bumi terus berkurang. Konsumsi energi yang semakin besar menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan yang semakin besar juga. Masalah pencemaran air, pencemaran udara, pencemaran tanah, menjadi topik hangat di kalangan masyarakat urban karena dapat mempengaruhi kesehatan keluarga.
Teknologi Hijau diperlukan untuk merekayasa teknologi yang digunakan saat ini agar dapat mencukupi kebutuhan manusia tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan dan manusia.

Kata kunci : Konsumsi energi, Lingkungan, Pencemaran, Teknologi hijau

I.                    Pendahuluan
Berdasarkan data dari Kementerian ESDM, pada tahun 2016 konsumsi energi di Indonesia mencapai 731 juta TOE. Angka tersebut mengalami kenaikan sekitar 5% dari tahun sebelumnya. Meningkatnya tren konsumsi energi tidak diiringi dengan kesediaan energi di Indonesia. Pada tahun 2016, sebaran energi yang dikonsumsi masyarakat Indonesia masih sangat tergantung pada bahan bakar fossil yang notabene bukan energi yang cepat diperbarui. Selain itu, mengkonsumsi bahan bakar fossil memiliki risiko tinggi terhadap pencemaran air, udara, maupun tanah. Oleh karena itu, pemerintah perlu mulai mengedepankan penerapan teknologi hijau di Indonesia untuk mengurangi dampak pencemaran serta mengurangi konsumsi energi secara keseluruhan.

II.                  Landasan Teori
Teknologi Hijau adalah pengembangan dan aplikasi dari suatu produk, peralatan, dan sistem yang digunakan untuk menjaga kelestarian lingkungan dan sumber daya serta meminimalkan dampak negatif akibat dari perbuatan manusia. Teknologi hijau mengacu pada produk, peralatan, dan sistem yang memenuhi beberapa kriteria sebagai berikut :
a.      Mengurangi kerusakan lingkungan
b.      Kondisi udara aman dari emisi gas rumah kaca dan menjaga kelestarian lingkungan dalam berbagai bentuk kehidupan
c.       Membatasi penggunaan energi dan sumber daya alam
d.      Mempromosikan penggunaan energi terbarukan
Empat pilar kebijakan teknologi hijau :
a.      Energi
b.      Lingkungan
c.       Ekonomi
d.      Sosial
Keuntungan penerapan teknologi hijau :
a.      Tidak menghasilkan polutan
b.      Memberikan keuntungan ekonomis pada beberapa area tertentu
c.       Energi terbarukan tidak akan habis
d.      Menurunkan laju pemanasan global
Ketidakuntungan penerapan teknologi hijau :
a.      Biaya impementasi tinggi
b.      Kurang informasi
c.       Belum terdapat masukan bahan kimia atau bahan baku alternatif
d.      Belum diketahui ada proses teknologi alternatif
e.      Ketidakpastian terhadap dampak performa teknologi hijau
f.        Kekurangan sumber daya manusia dan skill
Teknologi hijau sudah diterapkan oleh beberapa pihak. Berikut ini bentuk penerapannya :
1.      Konversi energi
2.      Water dan waste water treatment
3.      Seawage treatment
4.      Remediasi energi
5.      Pengendalian polusi udara
6.      Sel hidrogen dan bahan bakar
7.      Energi terbarukan




III.                Pembahasan
Penerapan teknologi hijau mampu memberikan peluang baru yang memiliki nilai ekonomis. Seperti contoh saat ini terdapat beberapa perusahaan yang bergerak di pengolahan air dan menyediakan kebutuhan air bersih secara komersil. Mereka berlomba – lomba menerapkan sistem water treatment yang baik agar dapat menjual air bersih dengan harga yang paling kompetitif. Selain itu, di sektor pembangkitan listrik ada standard baku mutu air dan batu mutu emisi yang wajib dipenuhi agar limbah dari produksi listrik tidak merusak alam.
Di sisi lain, pemanfaatan renewable energi masih jauh di bawah potensi renewable energi yang tersedia di Indonesia. Problem utama ada pada 4 pilar kebijakan teknologi hijau. Dari sektor ekonomi, proses investasi dan implementasi pembangkit listrik EBT yang memakan biaya jauh lebih besar daripada pembangkit listrik berbahan bakar fossil, mengakibatkan adanya potensi kenaikan tarif dasar listrik. Pendapatan per kapita di Indonesia masih rendah juga salah satu faktor ekonomi yang memberatkan terealisasinya pembangkit listrik EBT. Selain dari sektor ekonomi, dari sektor energi Indonesia masih kekurangan tenaga ahli yang kompeten di bidang pembangkitan listrik EBT. Faktor lain yang mempengaruhi adalah faktor sosial, di mana untuk mendapatkan izin pembangunan pembangkit EBT ada banyak kendala mulai dari isu lingkungan sampai kurangnya edukasi masyarakat tentang pentingnya energi bersih. 

IV.               Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan
Teknologi hijau sudah banyak diterapkan pada beberapa sektor, namun untuk bidang energi pemanfaatan teknologi hijau belum maksimal

Saran
Pemerintah perlu memperkuat 4 pilar kebijakan teknologi hijau agar Indonesia dapat memanfaatkan potensi sumber daya terbarukan dengan maksimal


Daftar Pustaka


Bhardwaj, Monu and Neelam. The Advantages and Disadvantages of Green Technology. Journal of Basic and Applied Engineering Research Volume 2, Issue 22. 2015. http://www.krishisanskriti.org/Publication.html

Bhowmik, Abhijeet and Dahekar, Rahul M. Green Technology for Sustainable Urban Life. Recent Research in Science and Technology ISSN: 2076-5061. 2014. http://recent-science.com/

Show, Kuan-Yeow. Green Technology. Department of Environmental Engineering, Faculty of Engineering and Green Technology, Universiti Tunku Abdul Rahman
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.