.

Sabtu, 11 Agustus 2018

Bahaya Limbah Detergen Bagi Ekosistem dalam Air


oleh Muhammad Falik Muntafa (@H15-FALIK)

ABSTRAK
            Pencemaran air menyebabkan terganggunya semua spesies mahluk hidup yang ada di planet bumi. Salah satu sumber pencemaran air adalah deterjen. Detergen merupakan suatu senyawa kimia yang keberadaannya sangat dekat dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan deterjen selain untuk mencuci pakaian, juga untuk membersihkan alat-alat kebutuhan rumah tangga dan industri. Limbah detergen industri laundry ini akan menyebabkan turunnya kualitas bahan baku mutu perairan. Hal ini mengakibatkan terjadinya penurunan keanekaragaman biota air salah satunya kematian beberapa spesies ikan yang berada di ekosistem perairan.

Kata Kunci: Air, Limbah, Detergen, Ekosistem, Ikan

PENDAHULUAN
            Pencemaran air menyebabkan terganggunya semua spesies mahluk hidup yang ada di planet bumi. Sekitar 60% spesies hewan dan tumbuhan terdapat di permukaan laut atau di dalam air. Pencemaran air antara lain terjadi karena: Limbah industri yang dibuang ke sungai atau perarian lainnya, yang menyebabkan ketidak seimbangan dan menimbulkan kontaminasi bagi organisme di dalam atau di sekitarnya; Penggunaan bahan kimia pertanian seperti insektisida, herbisida, dan fungisida di sekitar tanaman juga menimbulkan pencemaran pada system air tanah; selain itu tumpahan minyak di lepas pantai atau larutan berpotensi menimbulakan kerusakan permanen pada badan pantai; sumber pencemaran lainya ialah kegiatan sehari hari seperti mencuci pakaian dan peralatan di sekitar kolam, sungai atau danau. Melalui aktifitas tersebut deterjen masuk ke system perairan, sebagai dampak  sampingnya antara lain penyinaran matahari ke permukaan air menjadi terhambat, selain itu menyebabkan berkurangnya kadar oksigen perairan. Pencemaran air bukan hanya merugikan bagi biota perairan, namun menvemari seluruh rantai pangan, yang lebih jauh lagi akan mengganggu sediaan pangan untuk manusia. Pencemaran air juga berpotensi menimbulkan wabah penyakit kolera dan diare, dimana mikroorganisme penyebab penyakit tersebut tumbuh subur diperairan tercemar.
Salah satu sumber pencemaran air adalah deterjen. Detergen merupakan suatu senyawa kimia yang keberadaannya sangat dekat dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan deterjen selain untuk mencuci pakaian, juga untuk membersihkan alat-alat kebutuhan rumah tangga dan industri. Penggunaan deterjen per kapita bergerak sejalan dengan pertumbuhan gross domestik product (GDP) setiap tahun, artinya semakin meningkat pendapatan masyarakat , maka konsumsi deterjen juga meningkat. Data statistik menunjukkan bahwa tahun 1998, konsumsi deterjen per kapita menjadi hanya 1,97 kg dibandlngkan 2,46 kg pada tahun 1997, namun dengan membaiknya daya beli masyarakat konsumsi deterjen meningkat menjadi 2,11 kg pada 1999, 2,26 kg pada 2001 dan 2,32 kg pada 2002 [21. Menurut hasil studi PT Corinthian Indopharma Corpora (CIC) diperkirakan konsumsi deterjen per kapita tersebut akan terus tumbuh hingga mencapai 2,44 kg pada 2004, seiring membaiknya kondisi perekonomian dan pertambahaJ1 penduduk

PERMASALAHAN
            Menurut Kirk dan Othmer, 1982 dalam Yuliani, Rifky Luvia, 2016 detergen merupakan salah satu produk komersial yang digunakan untuk menghilangkan kotoran pada pencucian pakaian di industri laundry maupun rumah tangga. Umumnya detergen tersusun atas tiga komponen yaitu, surfaktan (sebagai bahan dasar detergen) sebesar 20-30%, builders (senyawa fosfat) sebesar 70-80 %, dan bahan aditif (pemutih dan pewangi) yang relative sedikit yaitu 2-8%. Surface Active Agent (surfaktan) pada detergen digunakan untuk proses pembasahan dan pengikat kotoran, sehingga sifat dari detergen dapat berbeda tergantung jenis surfaktannya. Limbah detergen industri laundry ini akan menyebabkan turunnya kualitas bahan baku mutu perairan. Hal ini mengakibatkan terjadinya penurunan keanekaragaman biota air salah satunya kematian beberapa spesies ikan yang berada di ekosistem perairan.

PEMBAHASAN
Limbah deterjen merupakan salah satu limbah yang banyak mencemari badan perairan dan sumber utama dari limbah deterjen ini berasal dari aktivitas rumah tangga. Hal ini dikarenakan peran deterjen dalam kegiatan rumah tangga sangat beragam, selain digunakan untuk mencuci pakaian, deterjen juga digunakan untuk mencuci peralatan rumah tangga. Limbah atau sisa pemakaian deterjen yang masuk ke lingkungan perairan akan mempengaruhi kualitas perairan dan akan berpengaruh terhadap keadaan ekosistem di perairan tersebut (Sa’adah, 2009). Pencemaran air oleh deterjen diakibatkan dari bahan utama penyusun deterjen tersebut yaitu Natrium Dodecyl Benzen Sulfonat (NaDBS) dan Sodium Tripolyphospat (STPP) dimana kedua bahan tersebut sulit untuk didegradasi secara alamiah (Sumarno dkk., 1996).
 Pengaruh negatif detergen terhadap kondisi fisik dan kimia perairan yang teraliri limbah dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Beberapa pengaruh limbah detergen terhadap lingkungan antara lain gangguan terhadap estetika oleh adanya busa putih di permukaan perairan, penurunan kadar oksigen terlarut perairan, perubahan sifat fisik dan kimia air serta terjadinya eutrofikasi. Kandungan fosfat yang tinggi dapat merangsang tumbuhnya gulma air (Bourdeau and Treshow, 1978). Peningkatan gulma air akan menyebabkan peningkatan penguraian fosfat, dan penghambatan pertukaran oksigen dalam air, sehingga kadar oksigen terlarut dalam air amat rendah (mikroaerofil) (H. Sitorus, 1997). Semakin tinggi akumulasi detergen maka semakin rendah pula suplai oksigen terlarut di dalam air. Hal ini menyebabkan terganggunya proses respirasi pada ikan. Sehingga dampak yang paling buruk adalah kematian pada ikan. Kematian yang terjadi dikarenakan berhentinya fungsi kerja organorgan tubuh pada ikan akibat tidak terpenuhi oksigen pada proses respirasi. Atau kandungan detergen yang toksik tidak bisa ditolerir oleh tubuh ikan.
            Bahan aktif dari deterjen seperti Alkyl Benzene Sulfonate (ABS) dapat menghancurkan sel, kemudian mengganggu proses yang penting pada organisme. Insang sebagai organ yang penting memiliki sifat sensitive yang tinggi terhadap racun di perairan. Kerusakan organ respirasi ini disebabkan karena terjadinya iritasi pada permukaan insang sehingga mengganggu proses respirasi. Selain merusak insang, deterjen juga merusak indra perasa ikan sehingga ikan akan kesulitan dalam mencari makan. Banyaknya zat pencemar pada air limbah akan menyebabkan menurunnya kadar oksigen terlarut dalam air tersebut, sehingga akan mengakibatkan kehidupan dalam air yang membutuhkan oksigen terganggu serta mengurangi perkembangannya. Selain itu kematian dapat pula disebabkan adanya zat beracun yang juga menyebabkan kerusakan pada tanaman dan tumbuhan air. Akibat matinya bakteri-bakteri, maka proses penjernihan air secara alamiah yang seharusnya terjadi pada air limbah juga terhambat. Dengan demikian air limbah menjadi sulit terurai. Panas dari industri juga akan membawa dampak bagi kematian organisme, apabila air limbah tidak didinginkan dahulu.
Pengaruh detergen terhadap lingkungan juga diketahui dengan melakukan uji biologis, misalnya terhadap ikan dengan melihat mekanisme fisiologis dari sistem hidup, yang perlu dipertimbangkan sebagai faktor yang terpengaruhi (Weiss dan Botts, 1957). Rendahnya oksigen terlarut berpengaruh terhadap fungsi fisioligis ikan salah satunya pada organ metabolisme tubuh. Fungsi fisiologi pada organ metabolisme ini dapat diukur dengan perhitungan indeks fisiologi pada organ hati dan gonad. Penurunan fungsi organ ini merupakan salah satu gangguan metabolisme tubuh. Oleh karena itu, penurunan fungsi organ tersebut dapat dijadikan parameter biologis mengenai pengaruh detergen terhadap pertumbuhan, perkembangan, dan nilai indeks fisiologi pada ikan. Menurut Tugiyono (2009) dalam Sopiah (2008) analisis biomarker sebagai respon secara biologi terhadap pencemaran lingkungan yang memberikan besarnya paparan dan pengaruh toksik bahan pencemar, yaitu dengan menghitung indeks fisiologinya. Penentuan indeks fisiologi ini meliputi Condition Factor (CF), Liver Somatic Index (LSI), dan Gonad Somatic Index (GSI) merupakan bentuk analisis biomarker yang menjadi indikator kesehatan pada ikan akibat adanya tekanan perubahan lingkungan (D. Webb, 2001).

Kesimpulan
Limbah detergen sangat berbahaya terhadap ekosistem dalam air, pertumbuhan mahluk hidup di dalam air menjadi terganggu. Dengan adanya limbah detergen dapat menghambat masuknya sinar matahari pada permukaan air dan berkurangnya kadar oksigen dalam air yang mengakibatkan kerusakan ekosistem dalam air, salah satunya ikan. Analisis biomarker dapatyang indikator kesehatan pada ikan akibat adanya tekanan perubahan lingkungan dan dapat menjadikan parameter kerusakan yang diakibatkan oleh pencemran lingkungan.

Daftar Pustaka
Hidayat, Atep Afia dan M. Kholil. 2017. Kimia, Industri dan Teknologi Hijau. Jakarta: Pantona Media 
N.R. Sa’adah dan P. Winarti., 2009, Pengolahan Limbah Cair Domestik Menggunakan Lumpur Aktif Proses Anaerob. Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang, [Online] Available: http://eprints.undip.ac.id/11591/ 2/laporan_penlit_Puji_Rahmi.pdf.
Sopiah, Nida, 2008, Pengelolaan Limbah Deterjen Sebagai Upaya Minimalisasi Polutan di Badan Air dalam Rangka Pembangunan Berkelanjutan, Jurnal LIPI.
Sumarno, I. Sumantri, dan A. Nugroho., 1996, Penurunan kadar detergen dalam limbah cair dengan pengendapan secara kimiawi, Majalah Penelitian Lembaga Penelitian, 8 (30) : 25-35
Yuliani, Rifky Luvia. 2016. Effect of Waste Laundry Detergent Industry Against Mortality and Physiology Index of Nile Tilapia (Oreochromis niloticus). Jurnal Sainmatika, Volume 3 Nomor 2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar