.

Jumat, 16 Februari 2018

Teknologi Tepat Guna Air Nira Sebagai Biotanol


Oleh : Setiawan eji prayogi (@F24-Setiawan, @Proyek D09, )

Abstrak

Teknologi merupakan penerapan ilmu pengetahuan untuk tujuan praktis. Dengan kata lain teknologi merupakan penjabaran dan tindak lanjut dari ilmu pengetahuan. Menurut Hidayat dan Kholil (2017) dalam Karyono (2009), teknologi masa kini (konvensional) menawarkan kemudahan, kenyamanan dan kecepatan bagi aktivitas manusia. Namun tanpa disadari teknologi tersebut cenderung konsumtif terhadap penggunaan energy fosil. Di sisi lainnya melonjaknya konsumsi energy fosil menyebabkan menipisnya cadangan minyak, memicu pemanasan bumi, perubahan iklim global, dan menimbulkan beragam bencana bagi kehidupan manusia akibat limbah padat, cair dan gas yang dihasilkan dari penggunaan teknologi di sector industry, perumahan bisnis, transportasi dan sebagainya, yang sering kali tidak mendapat penanganan sampai tuntas.

Kesadaran akan perlunya teknologi yang lebih ramah lingkungan makin meluas. Teknologi yang boros energy terutama sumber energy fosil, kalau tetap di pertahankan berpotensi besar mengancam kerusakan permanen kondisi Planet Bumi. Sekaligus membahayakan kehidupan umat manusia. Karyono (2009) menyebutkan, bahwa ketika Eropa mengalami krisis energy pada tahun 1973, muncul istilah Teknologi Tepat Guna/TTG (appropriate technology). Prinsipnya ialah menghilangkan ketergantungan pada sumber daya luar yang tidak dimiliki oleh masyarakat setempat. Pengolahan teknologi tepat guna memanfaatkan sumber daya local secara efektif, efisien dan tetap menjaga kelestarian lingkungan. Pada dasarnya teknologi tepat guna menawarkan solusi masalah yang cenderung tidak selalu tergantung pada penggunaan energy fosil.


Kata kunci : Teknologi Tepat Guna (TTG)

Isi pembahasan

Hadi, Sopyan dan Setya SM dan Syarif Bahry (2014) menjelaskan bahwa, cadangan  minyak  indonesia  diprediksi  hanya  cukup  10-15  tahun  kedepan.  Tingginya konsumsi  energi  dari  bahan  bakar  fosil  ditambah  dengan  meningkatnya  impor  bahan  bakar minyak  untuk  memenuhi  kebutuhan  perkembangan  ekonomi  nasional  menimbulkan  krisis ekonomi  dan  energi.  Penggunaan  bahan  bakar  fosil  juga  berdampak  terhadap  kerusakan lingkungan  dengan  tingginya  emisi  gas  buang  kendaraan  yang  berbahaya  terhadap  kesehatan. Dengan  kondisi  permasalahan  tersebut  dengan  memperhatikan  aspek  ekonomi,  lingkungan hidup,  dan  pemanfaatan  sumber  daya  alam  yang  berlanjut  ketersediannya    maka  perlu dieksplorasi    penelitian  dan  pengembangan  menggali  sumber  energi  baru  dan  terbaharukan (new  and  renewable  energy)  yang  arahnya  kepada  energi  biomassa  yaitu  bioetanol  dari penyadapan  nira  hutan  mangrove  nipah  sebagai  potensi  wilayah  pesisir  pantai.          

Penyedian  produksi  etanol  untuk  industri  energi  hijau  atau  biofuel  saat  ini  masih    didominasi dari  bahan  baku  tanaman  dengan  pola  farming  energy  yaitu  berasal  dari  tanaman  yang   berfungsi  ganda  untuk  kebutuhan  industri  pangan  dan  energi  juga  seperti  tebu,  jagung, singkong.  Hanya  sebagian  kecil  dari  bukan  komoditi  tanaman  pangan  akan  tetapi  ditanam pada  lahan  potensial  tanaman  pangan  serta  dalam  proses  pemanenan  juga    memiliki  tingkat kesulitan  yang  tinggi.  Energi  hijau  berbasiskan  farming  energy    atau  sistem  budidaya    dimulai melalui  beberapa  pola  tahapan  yaitu  diawali  dengan  pembersihan  lahan,  pengolahan  tanah, pembibitan,  persemaian,  penanaman,  pemanenan  habis  melaui  cara  potong  ataupun  cabut selanjutnya  kembali  ketahap  proses  semula.  Sistem  farming  energy  ini  terus  terjadi  berulangulang  setiap  tahun  dan  musim  tanam  mengakibatkan  degradasi  terhadap  kualitas  humus tanah.  Sehingga  berdampak  pada  masalah  lingkungan    yaitu  dengan  mengorbankan  ekosistem alami  kearah  bentuk  lain  atau  tujuan  tertentu  dari  fungsi  aslinya.     Sehingga  muncullah  konsep  ide  yaitu  mencari  solusi  energi  hijau  yang  serasi  dengan lingkungan  dengan  tetap  menjalankan  fungsi  lingkungannya  yaitu  ditinjau  dari  ketersedian dan  keberlanjutan  sumber  bahan  baku  ekosistem  alami  dengan  tetap  menjaga  fungsi ekologisnya  atau  diistilahkan  “Eco-green  Energi”. 

Hal  ini  tergambar    dari    potensi  ekosistem hutan  mangrove  Indonesia      yang  memiliki  pulau  dan  pantai  dengan  wilayah  pesisir  terluas  di dunia.  Ekosistem  mangrove  jenis  Nipah    dimungkinkan  untuk  dapat  dijadikan  sumber  bahan baku  energi  hijau  potensial  berpola  pengelolaan  konservasi  lingkungan  dan  bernilai ekonomis.  Ekosistem  hutan  mangrove  nipah  memiliki  fungsi  sebagai  proteksi  kawasan pesisir  pantai,  penahan  angin,  gelombang  dan  tsunami,  intrusi  air  asin,  sumber  oksigen, penyerap  CO2  dan  nursery  ground  sekaligus  memiliki  nilai  sebagai  sumber  bahan  baku energi  hijau  bioetanol.

      Seperti  halnya  teknologi  lain,  Tambunan, Djaban (2014) menjelaskan bahwa TTG  di  samping  mempunyai  beberapa  keunggulan, juga   kelemahan dibandingkan dengan teknologi modern seperti disajikan berikut ini.

1.   Keunggulan TTG Beberapa  keunggulan  TTG  dibandingka  dengan  teknologi  modern  adalah  sebagai berikut  :
a. Memerlukan biaya lebih kecil dalam pengadaan dan operasinya.
b. Memerlukan lebih sedikit sumberdaya.
c. Lebih  mudah dipelihara.
d. Mempunyai dampak lingkungan yang minimal.
e. Lebih  sesuai  untuk  masyarakat di  sekitar  hutan.
F. Dapat  dioperasikan  dan  dipelihara  oleh  orang  yang  tingkat  penguasaan teknologinya rendah
g. Menggunakan teknologi sederhana atau relatif  sederhana.
h. Sesuai untuk kegiatan ekonomi berskala kecil.
i. Berfokus pada ekonomi masyarakat kelas menengah dan bawah.
j. Pembangunan  dan  penggunaan  TTG  membuka  seluas-luasnya  partisipasi masyarakat lokal.
k. Tidak perlu tergantung pada barang impor.


2.   Kelemahan TTG Di  samping  berbagai  keunggulan  tersebut  di  atas,  terdapat  juga  beberapa kelemahan TTG sebagai berikut :

a. Kurang mampu beroperasi di medan yang berat.
b. Kurang mampu menangani kayu berukuran besar.
c. sulit  meyakinkan  masyarakat  untuk  memberikan  apresiasi  pada produk lokal.
d. Biasanya  sulit  mendapatkan  orang  yang  kreatif  dalam  mengembangkan  TTG di  masyarakat  tingkat    bawah.
e. sulit  mendapakan  kredit  untuk  mengembangkan  TTG  di  kelas masyarakat   ekonomi lemah.



Daftar Pustaka

Hidayat, Atep Afia dan M. Kholil.(2017). Kimia Industri dan Teknologi Hijau. Patona Media :  Jakarta.
Hadi, Sopyan dan Setya SM dan Syarif Bahry (2014). Karakteristik dan potensi dari air nira nipah (nypah fruitcans) untuk penerpan skala teknlologi tepat guna.
Tambunan, Djaban (2014). Teknologi tepat guna dalam pemanenan hutan di Indonesia: perkembangan, keunggulan,kelemahan dan kebijakan yang diperlukan untuk optimasi pemanfaatannya 







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.