.

Selasa, 13 Februari 2018

Penerapan Kimia Hijau Untuk Kota Yang Cerdas

Oleh : Farichatus Sa'diyah (G13-Farichatus)

Abstrak :
Konsep kota cerdas diperkenalkan untuk mengusahakan tersedianya kehidupan perkotaan yang baik bagi penduduknya melalui pengelolaan optimal berbagai sumber daya yang diperlukan. Konsep kota cerdas merupakan proses kegiatan yang dilakukan untuk membuat perkotaan menjadi nyaman untuk kehidupan penduduknya dan siap menghadapi berbagai tantangan yang mungkin muncul. Untuk tercapainya kota yang cerdas, maka perlu dikembangkan semua sistem dan strukturnya; baik sumber daya listrik dan gas, air, transportasi dan sebagainya. Dalam pembentukan kota cerdas, perlunya konsep kimia hijau untuk pengelolaan pembangunan berkelanjutan yang berfokus pada produksi dan teknologi penerapan Ilmu Kimia yang ramah lingkungan.

Kata Kunci : kimia, hijau, kota cerdas
Isi :
Menurut Mustafa bahwa kimia hijau ini merupakan pendekatan untuk mengatasi masalah lingkungan baik dari segi bahan kimia yang dihasilkan, proses, ataupun tahapan reaksi yang digunakan. Konsep ini menegaskan tentang suatu metode yang didasarkan pada pengurangan penggunaan dan pembuatan bahan kimia berbahaya baik itu dari segi perancangan maupun proses. Bahaya bahan kimia yang dimaksudkan dalam konsep Kimia Hijau ini meliputi berbagai ancaman terhadap kesehatan manusia dan lingkungan, termasuk toksisitas, bahaya fisik, perubahan iklim global, dan penipisan sumber daya alam.

Menurut Mustafa bahwa smart City atau kota cerdas memiliki 6 (enam) indikator yaitu
  1. Smart governance, pemerintahan transparan, informatif, dan responsif
  2. Smart economy, menumbuhkan produktivitas dengan kewirausahaan dan semangat inovasi
  3. Smart people, peningkatan kualitas sumber daya manusia dan fasilitas hidup layak
  4. Smart mobility, penyediaan sistem transportasi dan infrastruktur
  5. Smart environment, manajemen sumber daya alam yang ramah lingkungan; dan smart living, mewujudkan kota sehat dan layak huni
Definisi aspek pengelolaan kota cerdas adalah terdiri dari sistem pengelolaan air, infrastruktur, transportasi, energi, pengelolaan limbah, dan konsumsi bahan mentah (Albino, Berardi, & Dangelico, 2015), berikut penjelasannya ;

1. Sistem Pengelolaan Air, terbatasnya akses kepada air bersih karena tidak sistematisnya tata kelola daerah aliran sungai/DAS dan pencemaran badan air. Untuk mengatasinya, pemerintah Indonesia sudah mengusahakan perbaikan akses terhadap air bersih dan sanitasi (International Bank for Reconstruction and Development/The World Bank, 2015). Sejak 2011 sekitar 55% penduduk Indonesia memiliki akses kepada perbaikan pelayanan penyediaan air bersih dan 56% penduduk pada perbaikan pelayanan sanitasi. duduk Indonesia pada tahun 2019.

2. Infrastruktur, Pemanfaatan energi dalam bangunan secara global menyumbang hampir 40% konsumsi energi dan memunculkan emisi karbon dioksida sebanyak 36% dari total emisi karbondioksida yang terkait dengan konsumsi energi menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (Woinaroschy, 2016). Ada sejumlah solusi yang terkait dengan kimia, untuk membangun efisiensi energi pada bangunan guna mendukung konsep smart cities. Solusi itu, antara lain, dengan pemanfaatan:
    • Cat pelapis interior yang mempunyai daya pantul tinggi (High Reflectance Indoor Coatings)
    • Cat pelapis eksterior yang memiliki daya pantul tinggi dan tahan terhadap cuaca (High Reflectance and Durable Outdoor Coatings)
    • Busa pelapis untuk isolasi yang berkinerja tinggi dan panel isolasi vakum, untuk mengatasi cuaca dingin, yang bila diadopsi dapat mengurangi biaya energi pemanasan dari 30% sampai 80% saat musim dingin.
    • Phase change materials (PCM), yaitu materials yang memungkinkan dinding dan langit-langit bangunan menyerap dan menyimpan panas berlebih di siang hari dan membuangnya di malam hari, sehingga memoderasi suhu bangunan agar lebih menyenangkan dan nyaman sepanjang hari.

3. Transportasi, alat transport yang ramah lingkungan antara lain sepeda biasa dan sepeda listrik, mobil listrik, dan mobil hibrida.

4. Energi, ada beberapa cara yang didukung oleh Ilmu Kimia untuk mengurangi konsumsi energi di kota cerdas, yaitu pemanfaatan materi poliuretan sebagaiinsulasi yang sangat baik digunakan dalam produksi panel prefabrikasi untuk industri konstruksi, untuk dinding pendingin pada gudang atau box kendaraan pembawa materi yang harus beku/dingin, dan pembentuk kayu imitasi.

5. Pengelolaan Limbah, Pabrik pengolahan limbah dapat dibangun, yaitu yang dapat menggunakan perlakuan tersier lanjutan melalui teknologi ultrafiltrasi dan reverse osmosis, dapat beroperasi sepanjang waktu untuk menggunakan kembali air limbah dan menghemat sejumlah besar air setiap hari (Woinaroschy, 2016). Selain itu juga, imu dan teknologi Kimia berhasil menciptakan bahan fiberglass untuk septik tank dan penyaring biologis, serta cairan desinfektan yang ramah lingkungan.Kesemuanya ini diterapkan pada septik tank dengan penyaring biologis (biological filter septic tank), yang dirancang dengan teknologi khusus untuk tidak mencemari lingkungan, memiliki sistem penguraian secara bertahap, dilengkapi dengan sistem desinfektan, hemat lahan, antibocor atau tidak rembes, tahan korosi, pemasangan mudah dan cepat, serta tidak membutuhkan perawatan khusus.Kotoran diproses untuk penguraian secara biologis dan filterisasi secara bertahap melalui tiga kompartemen (Septic tank Biotech). Selanjutnya, teknologi reaktor “fermentasi kontinyu” untuk sampah organik karena lebih ramah lingkungan (green), zero waste, sebab tidak ada proses pembakaran secara langsung. Untuk pengelolaan limbah padat juga dapat diterapkan pemisahan limbah (waste segregation), yaitu dengan penyediaan empat kantong pembuangan sampah untuk jenis limbah organik, kaca atau keramik, kertas dan plastik yang akan mempermudah pengumpul limbah untuk mentransfer sampah ke tempat daur ulang.

6. Konsumsi Bahan Mentah, empat strategi solusi berkelanjutan dapat berkontribusi untuk meningkatkan keamanan pasokan untuk bahan baku ini di masa depan. Kegiatan ini secara kolektif dikenal sebagai '4Rs' yaitu: reduce/kurangi – kurangi penggunaan bahan untuk menghasilkan efek produk yang sama; reuse/gunakan kembali – memulihkan material untuk menghasilkan efek yang sama berulang kali, recycle/daur ulang untuk memulihkan material untuk diproses kembali tanpa kehilangan nilainya, replace/ganti-ganti dengan material, proses, teknologi atau model bisnis yang memberikan efek yang sama atau lebih baik (Woinaroschy, 2016).


Agar ramah lingkungan, kompetitif secara ekonomi dan tetap menarik untuk ditinggali, kota cerdas perlu mengurangi total konsumsi energi, meningkatkan penggunaan energi terbarukan, menyesuaikan infrastruktur fisik dan komunikasi, menemukan solusi untuk masalah mobilitas dalam kota - khususnya mobilitas pribadi - dan memperbaiki kondisi pendidikan dan kerja

Daftar Pustaka :
Barus, H. 2017. Pemerintah dorong penerapan konsep smart city.
Dalam http://www.industry.co.id/read/8809/pemerintah-dorong-penerapan-konsep-smart-city (Diunduh pada tanggal 13/02/2018)

Andang, I. S. 2011. Tantangan pengelolaan air di kota.
Dalam http://ylki.or.id/ 2011/09/tantangan-pengelolaan-air-di-kota/ (Diunduh pada tanggal 13/02/2018)

Mustafa, Dina. Peranan Kimia Hijau (Green Chemistry) Dalam Mendukung Tercapainya Kota Cerdas (Smart City)
Dalam http://repository.ut.ac.id/7076/1/UTFMIPA2017-07-dina.pdf (Diunduh pada tanggal 13/02/2018)

Setyawati, Ekaterina, Syamsul Ma'arif dan Yandra Arkeman. Inovasi Dalam Industri
Dalam http://trijurnal.lemlit.trisakti.ac.id/index.php/tekin/article/viewFile/1559/1349 (Diunduh pada tanggal 13/02/2018)

International Bank for Reconstruction and Development-The World Bank. 2015. Water supply and sanitation in Indonesia turning finance into service for the future (Service Delivery Assesment).
Dalam https://www.wsp.org/sites/wsp.org/files/ publi-cations/WSP-Indonesia-WSS-Turning-Finance-into-Service-for-the-Future.pdf (Diunduh pada tanggal 13/02/2018)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar