.

Sabtu, 17 Februari 2018

Maju dengan Teknologi Hijau



Oleh : Nuriel Hanifan (@F25-Nuriel)

Abstrak
Saat ini kesadaran akan perlunya teknologi yang lebih ramah lingkungan makin meluas. Teknologi yang boros energi terutama sumber energi fosil, kalau tetap dipertahankan berpotensi besar mengancam kerusakan permanen kondisi planet bumi, sekaligus membahayakan kehidupan umat manusia.
Pada era sekarang seluruh dunia sedang gencar mencipatakan berbagai teknologi yang semakin ramah lingkungan, sehingga lebih banyak menggunakan sumber daya alam yang re-newable sehingga tidak akan habis dalam waktu yang lama juga mengurangi dampak dari penggunaan bahan bakar fosil dibumi.
Kata kunci : Aplikasi teknologi Hijau, Ruang lingkup teknologi Hijau, penerapa teknologi Hijau
Pendahuluan
Teknologi merupakan penerapan ilmu pengetahuan untuk tujuan praktis. Dengan kata lain teknologi merupakan teknologi merupakan penjabaran dan tindak lanjut dari ilmu pengetahuan. Menurut Karyono (2009) dalam Hidayat, Atep Afia dan M. Kholil (2017), teknologi masa kini (konvensional) menawarkan kemudahan, kenyamanan dan kecepatan bagi aktifitas manusia. Namun tanpa disadari teknologi tersebut cenderung konsumtif terhadap penggunaan energi fosil. Disisi lainnya melonjaknya konsumsi energi fosil menyebabkan menipisnya cadangan minyak, memicu pemanasan bumi, perubahan iklim global, dan menimbulkan beragam bencana bagi kehidupan manusia. Setelah Eropa mengalami krisis energi pada tahun 1973, menurut Karyono (2009), muncul istilah teknologi tepat guna (appropriate technology). Prinsipnya ialah menghilangkan ketergantungan pada sumberdaya luar yang tidak dimiliki oleh masyarakat setempat.
Setelah istilah teknologi tepat guna memasyarakat dan diaplikasikan di berbagai bidang seperti transportasi, pertanian, usaha kecil, kedokteran dan pendidikan, maka kemudian muncul istilah Teknologi Hijau (Green technology). Menurut catatan Semarno (2011), Teknologi hijau adalah teknik untuk menghasilkan energi dan atau produk yang prosesnya tidak mencemari lingkungan. Teknologi Hijau merupakan salah satu upaya untuk menjaga kelestarian dan keberlanjutan kehidupan manusia di Planet Bumi.
Pembahasan
Perkembangan teknologi hijau semakin pesat, antara lain dengan mengacu pada beberapa konsep yang menjadi tujuan aplikasinya :
1.       Konsep berkelanjutan, dimana kebutuhan masyarakat secara terus-menerus dapat dipenuhi tanpa merusak atau menghabiskan sumber daya alam.
2.       Konsep daur ulang, dimana dalam proses produksi manufaktur dirancang sedemikian rupa supaya dapat didaur ulang atau digunakan kembali.
3.       Konsep pengurangan limbah dan polusi, di mana pola produksi dan konsumsi diubah sedemikian rupa sehingga hanya menghasilkan seminimal mungkin limbah dan polusi
4.       Konsep Inovasi, dalam hal selalu berupaya mengembangkan teknologi alternatif
5.       Konsep viabilitas, intinya ialah bagaimana kegiatan produksi dan konsumsi ramah lingkungan senantiasa terpelihara keberadaannya.
6.       Konsep Edukasi, upaya untuk meningkatkan pemahaman masyarakat secara keseluruhan melalui pendidikan dan pelatihan.
Kondisi saat ini setiap negara berlomba-lomba untuk menemukan, mengembangkan dan menerapkan teknologi hijau, dengan tetap memperhatikan prinsip menimbulkan kenyamanan sosial, ekonomis, dan ramah lingkungan.
Ruang lingkup teknologi hijau sangat luas, beberapa subyek yang paling banyak dibahas diantaranya:
1.       Energi Hijau, masalah yang paling mendesak untuk teknologi hijau adalah energi, termasuk pengembangan bahan bakar alternatif, serta dikembangkannya cara baru menghasilkan energi, termasuk efisiensi energi.
2.       Bangunan Hijau (Green Building), dikenal juga sebagai bangunan ramah lingkungan atau bangunan berkelanjutan, ada keterkaitan yang erat dengan arsitektur hijau, konstruksi hijau, desain berkelanjutan dan bangunan alami.
3.       Kimia Hijau (Greeen Chemistry), dalam proses penemuan, desain dan aplikasi proses dan produk kimia semaksimal mungkin menghilangkan pengggunaan bahan berbahaya beracun beserta turunannya.
4.       Nanoteknologi hijau (Green nanotechnology), merupakan manipulasi bahan pada skala nanometer. Banyak ilmuwan yang mempercayai bahwa melalui penguasaan nanoteknologi, pada masa yang akan datang banyak hal yang dapat diproduksi.
Aplikasi dan pemanfaatan Teknologi Hijau
Survei global Ernst & Young pada 2010 atas perusahaan dengan pemasukan hingga US$1 miliar menemukan, inisiatif penerapan teknologi ramah lingkungan itu kini sudah menjadi kebijakan organisasi di 89% perusahaan yang disurvei.
Sebanyak 33% perusahan mengalokasikan 3% atau lebih dari pemasukan total mereka ke teknologi ramah alam dan sebanyak 75% menargetkan investasi di teknologi hijau ini akan naik dalam lima tahun mendatang.
Pemerintah juga melirik teknologi hijau ini sebagai sarana strategis untuk menciptakan lapangan kerja, memacu inovasi dan mengembangkan industri lokal.
Menurut laporan Bloomberg New Energy Finance, investasi di teknologi hijau naik 30% ke US$243 miliar pada 2010 dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini naik dua kali lipat dibanding nilai investasi pada 2006 dan hampir lima kali lipat dibanding angka tahun 2004.
Menurut Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Suprihatin (2016) dikutip dalam artikel Republik.co.id, Bogor mengatakan, penerapan teknologi hijau di bidang agroindustri memiliki potensi yang besar, yakni mencakup teknologi bahan baru, energi baru/terbarukan, teknologi proses dan sistem, serta teknologi pemanfaatan/pengolahan limbah atau residu. Dengan teknologi kemurgi, biomassa pertanian yang melimpah, menurutnya dapat ditransformasikan menjadi produk industri non-pangan dan energi terbarukan yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan ramah lingkungan. 
Beberapa contoh produk kemurgi yaitu bioenergi, furfural, butanadiol, butadiena, etil laktat, alkohol lemak, gliseril, isoprena, asam laktat, propanadiol, propilen glikol, dan produk oleokimia dan sukrokima lainnya. "Produk-produk ini bisa menjadi substitusi bahan kimia sejenis yang diturunkan dari bahan petroleum sehingga mengurangi ketergantungan pada minyak bumi.
Kelapa sawit termasuk salah satu industri pertanian yang mendapatkan tekanan isu lingkungan sangat kuat, terutama tekanan dari luar negeri. Pada industri minyak kelapa sawit kasar dengan kapasitas 1,7 juta ton tandan buah segar (TBS) per tahun (setara kapasitas pabrik Crude Palm Oil di seluruh Provinsi Lampung), dapat menghasilkan listrik 42-67 juta kWh, dan mereduksi sekitar 300 ribu ton CO2 per tahun. Ini setara dengan penyerapan karbon dioksida oleh sekitar 28.273 hektar hutan lestari per tahun atau sebanyak 9,7 juta pohon trembesi selama setahun.
Mencegah dan Mengendalikan Emisi CO2 (Carbon Capture & Storage / CCS)
Berbagai cara ditempuh untuk mencegah dan mengendalikan emisi CO2.  Mencegah emisi CO2 jelas lebih murah tetapi lebih sulit. Bagaimana mungkin menghentikan pengeboran migas (bahan bakar fosil), menghentikan industri baja, semen, LNG serta menghentikan  transportasi. Karena itu sejak tahun 1980-an negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, Perancis dan Norwegia berjibaku mencari jalan mengendalikan emisi CO2 agar tidak dilepas ke atmosfer. Cara untuk menangani Emisi CO2 adalah dengan cara memanfaatkan teknologi dengan memisahkan Emisi CO2 dan kemudian menguburnya jauh di bawah tanah.
Sementara itu menurut Handri Kilo (2016), mengatakan Lingkungan teknologi ramah telah diterapkan di berbagai bidang, antara lain di bidang energi, lingkungan, industri, bidang rumah tangga, dan lain-lain.
1.       Energi
Di bidang energi beberapa teknologi ramah lingkungan yang dapat dimanfaatkan antara lain :
·         biofuel
·         biogas sel surya
·         tenaga air
·         PLTPSAL
·         PLTA (angin)
·         panas bumi
·         FuelCell.

2.       Bidang Transportasi
·         Kendaraan Hidrogen (Hydrogen Vehicle)
·         Mobil Surya (Solar Car)
·         Mobil Listrik (Electric Car)

3.       Bidang Lingkungan
·      Biopori
·      Fitoremediasi
·      Pengompos Toilet (Toilet yang dikomposkan)
·      Air Pemurnian Teknologi (Pemurnian Air)
·      Sederhana Pemurnian Air Technology
·      Reverse Osmosis Technology

4.       Industri Sektor
Di bidang teknologi ramah lingkungan industri dikenal dikenal sebagai biopulping. Biopulping adalah teknologi terinspirasi oleh pelapukan kayu dan limbah pabrik oleh mikroorganisme dan jamur. Para ahli telah mulai mengembangkan proses pelapukan kayu dengan menggunakan mikroorganisme mampu mengolah limbah kayu alami. Contoh mikroorganisme yang digunakan adalah jamur Phlebia subserialis dan Ceriporiopsis subvernispora.
Kesimpulan
Kesadaran manusia dalam menjaga lingkungan terus berkembang pesat dengan munculnya berbagai teknologi hijau yang ramah lingkungan. Sebelum teknologi hijau terkenal telah muncul terlebih dahulu teknologi tepat guna ialah menghilangkan ketergantungan pada sumberdaya luar yang tidak dimiliki oleh masyarakat setempat. Baru lah kemudian muncul istilah teknologi hijau adalah teknik untuk menghasilkan energi dan atau produk yang prosesnya tidak mencemari lingkungan.
Konsep teknologi hijau dalam aplikasinya yaitu :
·      Konsep berkelanjutan
·      Konsep daur ulang
·      Konsep pengurangan limbah dan polusi
·      Konsep Inovasi
·      Konsep viabilitas
·      Konsep Edukasi
Kemudian ruang lingkup teknologi hijau yang dibahas sangat luas, beberapa subyek yang paling banyak dibahas diantaranya :
·      Energi Hijau
·      Bangunan Hijau (Green Building)
·      Kimia Hijau (Greeen Chemistry)
·      Nanoteknologi hijau (Green nanotechnology)
Aplikasi dalam teknologi hijau juga semakin luas dalam berbagai bidang antara lain di bidang energi, lingkungan, industri, bidang rumah tangga, dan lain-lain.

Daftar Pustaka
Hidayat, Atep Afia dan M. Kholil (2017), Kimia Industri dan Teknologi Hijau. Patona Media : Jakarta.
Handri Kilo (2016), Teknologi ramah lingkungan. http://uzumaki4.blogspot.co.id/2016/01/teknologi-ramah-lingkungan.html (diakses pada 14 februari 2018).
Artikel Republika.co.id (2016), Teknologi Hijau, Solusi tangani limbah industri http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/16/12/20/oihhn7349-teknologi-hijau-solusi-tangani-limbah-industri (diakses pada 14 februari 2018).
Sidik mulyana (2012), Lima Teknologi Industri Ramah Lingkungan. http://halte-kampus.blogspot.co.id/2012/02/5-teknologi-industri-ramah-lingkungan.html (diakses pada 14 februari 2018).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar