.

Tampilkan postingan dengan label @ProyekJ11. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @ProyekJ11. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Januari 2019

Nano-tech


Nanoteknologi adalah satu ilmu atau teknologi yang mempelajari obyek yang ukurannya sangat kecil (sepersemiliar meter), kemudian dilakukan manipulasi-manipulasi untuk menghasilkan benda-benda baru yang menjadi karakter khusus seperti yang diinginkan. Sederhananya, nanoteknologi merupakan lompatan teknologi untuk merekayasa benda-benda baru dari benda-benda yang sudah ada.

Selasa, 18 Desember 2018

Teknologi Hijau


Oleh : Triyatno (@J01-Triyatno)

Soemarno (2011) Teknologi hijau adalah aplikasi sains alam sekitar untuk memelihara sumberdaya alam serta mengelola dampak negatif akibat akitivitas manusia. Teknologi hijau adalah teknologi rendah karbon dan lebih ramah lingkungan. Apabila kita menggunakan teknologi hijau, kita menggunakan sumberdaya seperti energi, air, dan sebagainya secara minimum untuk menghasilkan sesuatu produk.

Hanif, Muhammad (2014) Pengembangan kimia hijau adalah penggunaan fluida superkritis sebagai pelarut hijau. Sebagai sebuah teknologi hijau, ekstraksi fluida superkritis (EFS) memiliki potensi untuk menyelesaikan masalah yang berhubungan ekstraksi pelarut organik, khususnya kecepatan dan penggunaan volume pelarut yang rendah.

Hamdani, Asriningputri dkk (2015) Teknologi Hijau adalah Teknologi yang mempertimbangkan penghematan dalam penggunaan sumberdaya alam dan menjaga keberlangsungan ketersediaannya serta meminimalisasi dampak negatif bahkan berusaha meningkatkan kualitas hidup manusia, oleh sebab itu rancangan arsitektur yang memenuhi kriteria pertimbangan tersebut disebut “Arsitektur ber Teknologi Hijau”.

Green Technology (Teknologi Hijau), diartikan sebagai suatu ilmu pengetahuan praktis / teknologi yang dapat digunakan untuk melaksanakan pembangunan yang dapat mewujudkan tatanan infrastuktur untuk memenuhi kebutuhan manusia secara berkelanjutan (sustainable development), tanpa merusak atau mengganggu sumber daya alam. Secara singkat, teknologi yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan generasi saat ini dan tidak mengganggu ketersediaan kebutuhan generasi mendatang, dari (Green Tecnology, 2008)
 
Tenaga hijau merupakan tenaga yang dihasilkan daripada sumber alam semula jadi seperti cahaya matahari, air, angin dan pemanasan geotermal.11  Sumber ala mini merupakan tenaga alternatif berbanding dengan tenaga konvensional yang berasaskan arang batu dan minyak. Antara tenaga hijau yang dibangunkan di Malaysia ialah biojisim, fotovolta suria, biogas dan hidro. Peningkatan projek tenaga hijau ini bertujuan untuk mengatasi masalah kehabisan tenaga dalam jangka masa tertentu. Markom,Ruzian dan Hassan,Norizan (2014).

Bokhari,Mohamad (2014) Teknologi hijau merupakan pembangunan dan aplikasi produk, peralatan serta sistem untuk memulihara alam sekitar dan sumber semula jadi dalam usaha mengurangkan kesan negatif aktiviti manusia. Teknologi hijau adalah pendekatan yang tepat dalam menangani masalah alam sekitar dan pertumbuhan ekonomi. Ia juga selaras dengan agenda utama kerajaan-kerajaan di seluruh dunia pada masa kini yang memberi keutamaan kepada isu-isu alam sekitar khususnya fenomena perubahan cuaca dunia. Sehubungan itu, penduduk dunia perlu bertanggungjawab untuk bersama-sama memainkan peranan dalam menjadikan dunia ini tempat selamat dan selesa untuk didiami. Dalam mengaplikasikan teknologi hijau, faedah terbesar ialah dari segi peningkatan kualiti hidup rakyat dengan menjamin kualiti alam sekitar yang lebih mapan. Pencemaran udara, air, bunyi dan sebagainya akan menjejaskan kualiti hidup rakyat sekiranya masalah tersebut dibiarkan berterusan. Apabila kita menggunakan teknologi hijau, kesan negatif terhadap alam sekitar adalah minimum.

DAFTAR PUSTAKA


Hanif, Muhammad. 2014. Aplikasi Teknologi Hijau, Vol 15, No.1, Januari 2014. http://ejurnal.bppt.go.id/index.php/JTL/article/view/1457/1249. (diakses pada 18 Desember 2018)

Hamsani, Asriningputri dkk. 2015. Teknologi Hijau Warisan Nenek Moyang Ditanah Parahyangan. Jurnal Sains dan Teknologi Lingkungan. http://journal.uii.ac.id/JSTL/article/view/3507/3100. (diakses pada 18 Desember 2018)

Green Technology, 2008, Strategy and Leadership for Clean and Sustainable Communities, http://www.green-technology.org. (diakses pada 18 Desember 2018)

Markom,Ruzian dan Hassan,Norizan. 2014. KELESTARIAN ALAM SEKITAR DAN PEMBIAYAAN TEKNOLOGI HIJAU DARI PERSPEKTIF UNDANG-UNDANG SYARIAH. file:///C:/Users/User/Downloads/Documents/JurnalKanun-7-Kelestarian-Alam-Sekitar1.pdf.(diakses pada 18 desember 2018)

Bokhari,Mohamad.2014. HUBUNGAN ANTARA KEFAHAMAN, KESEDARAN DAN AMALAN TEKNOLOGI HIJAU BERDASARKAN PERSPEKTIF ETNIK DI NEGERI MELAKA, Vol. 7     No. 2    July - December 2014. file:///C:/Users/User/Downloads/Documents/2124-5653-1-SM.pdf. (diakses pada 18 Desember 2018)


Tindakan PT Petrokimia Gresik Kepada Masyarakat


Menurut Djokorayono dkk (2013), Industri Petrokimia adalah proses mengolah bahan baku nafta dari minyak mentah menjadi Polyethylene dan kemudian menjadi biji plastik, menggunakan metoda pengukuran temperatur yang dikombinasi dengan tekanan untuk mendeteksi adanya penggumpalan material di dalam reaktor, yang hasilnya kurang akurat. Sedangkan menurut Sulistyono, Industri petrokimia secara umum dapat didefinisikan sebagai industri yang berbahan baku utama minyak dan gas bumi. Indonesia mempunyai sumber yang potensial untuk pengembangan klaster industri petrokimia yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan dasar manusia seperti sandang, pangan dan papan. Produk-produk petrokimia merupakan produk strategis karena merupakan bahan baku bagi industri hilirnya seperti industri plastik dan industri yang lain seperti industri tekstil, karet sintetik, kosmetik, pestisida, bahan pembersih, bahan farmasi, bahan peledak, kulit imitasi dan lain-lain.

Industri Petrokimia Gresik ditunjuk pemerintah sebagai pemasok utama, tetapi industri tersebut menghasilkan limbah yang cukup berbahaya bagi masyarakat. Menurut Tomo dan Irwan, Limbah hasil dikomisioning Instalasi Fasilitas Asam Fosfat – Petrokimia Gresik yang berupa padatan dan slude dikatagorikan sebagai limbah padat takterkompaksi dan tak terbakar dan mempunyai aktivitas rendah (maksimal 25 µSv/jam). Limbah diolah dengan cara immobilisasi dalam kontainer drum 200 liter dan ditambah dengan bahan matriks semen, Immobilisasi dengan matrik semen berfungsi sebagai penahan untuk mengungkung dan mengikat radionuklida yang terkandung dalam limbah agar tidak mudah lepas ke lingkungan.

Menurut Ramadhani dan Sri (2016), PT Petrokimia Gresik menimbulkan dampak ekternalitas terhadap masyarakat sekitar secara positif untuk menunjang dan meningkatkan sosial dan perekonomian. Dampak positif tersebut salah satunya terlihat dengan meningkatnya pendapatan pada masing-masing masyarakat yang tinggal disekitar wilayah industri, selain itu juga terlihat dengan kondisi fisik rumah masyarakat sekitar yang berubah menjadi lebih bagus dari sebelumnya. Sedangkan menurut Marsa dan Andry (2014), PT Petrokimia Gresik (PT PG) berkomitmen kepada pemangku kepentingan di luar perusahaan melalui program CSR. Program ini diabdikan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan menjalankan inisiatif-inisiatif pembangunan berkelan￾jutan dalam rangka membantu menciptakan kesejahteraan masyarakat, khususnya desa-desa yang ada di sekitar perusahaan. Tetapi, banyak pihak yang menyangsikan apakah program CSR yang dilaksanakan oleh perusahaan-perusahaan besar, termasuk PT PG telah mampu memberi dampak positif bagi lingkungan sosialnya.

Daftar Pustaka

Djokorayono, R., Indarzah MP. dan Usep SG. 2013. Perekayasaan Sistem Pencitraan Material Di Dalam Reaktor Petrokimia Dengan Teknik Serapan Sinar Gamma. Jurnal Perangkat Nuklir, Volume 07, Nomor 01, Juni 2013. Dalam http://jurnal.batan.go.id/index.php/jpn/article/view/394/367 (diunduh pada 18 Desember 2018)

Marsa IM. dan Andry Irwanto. 2014. Implementasi Tanggung Jawab Sosial PT Petrokimia Gresik Pada Masyarakat Lokal: Apa Kata Mereka?. Jurnal Akuntansi Multiparadigma, Volume 05, Nomor 03, Desember 2014. Dalam http://jamal.ub.ac.id/index.php/jamal/article/view/319/363 (diunduh pada 18 Desember 2018)

Rahmadhani E.R. dan Sri Herianingrum. 2016. Dampak Eksternalitas Positif PT Petrokimia Gresik Terhadap Masyarakat Dalam Perspektif Maqashid. Jurnal Ekonomi Syariah dan Terapan, Volume 03, Nomor 10, 2016. Dalam https://e-journal.unair.ac.id/JESTT/article/view/3664/2491 (diunduh pada 18 Desember 2018)

Sulistyono. Penggunaan Produk Plastik Dari Petrokimia Dengan Bahan Dasar Minyak Dan Gas Bumi Manfaat Dan Bahayanya Bagi Kesehatan Dan Lingkungan. Jurnal Teknologi, Volume 06, Nomor 02. Dalam https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwjHwK7u3KnfAhUNiXAKHa8JBNcQFjAAegQICRAC&url=http%3A%2F%2Fpusdiklatmigas.esdm.go.id%2Ffile%2FT7_Penggunaan_Plastik___Sulistyono.pdf&usg=AOvVaw3NiEDYLuj0S-5PrdS43EWk (diunduh pada 18 Desember 2018)

Tomo, Bung dan Irwan Santoso. Pengolahan Limbah Radioaktif Padat Hasil Dekomisioning Fasilitas Instalasi Pemurnian Asam Fosfat Petrokimia Gresik. Jurnal Teknologi. Dalam https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwj_gOj33anfAhVbfH0KHQJHBtoQFjAAegQIBRAC&url=http%3A%2F%2Fdigilib.batan.go.id%2Fe-prosiding%2FFile%2520Prosiding%2FLingkungan%2FPenelit_Kegiatan_PTLR_06%2FData_Artikel%2FBung_Tomo_420.pdf&usg=AOvVaw0EtBda9QbHz801VSqblJcs (diunduh pada 18 Desember 2018)

Penerapan Teknologi Hijau di Taman, Sektor Pertanian, Sawah

Oleh: Denny Farazumar Arief Kelana. (@ProyekJ11, @J11-Denny).

Abstrak:
Ragam atau tipe dalam penerapan konsep Green Technology di dunia didasarkan pada prinsip-prisip utama pada Greentech. Konsep Greentech diterapkan untuk membantu manusia dari teknologi yang paling sederhana hingga teknologi yang paling mutakhir untuk mencapai kehidupan yang nyaman, ekonomis dan ramah lingkungan. Pada dasarnya konsep Greentech  yang diterapkan  dalam menciptakan produk adalah untuk meminimalkan bahan baku, mengefisiensikan proses, dan memaksimalkan output produk tetapi menghasilkan sampah yang minimal. Hal ini selaras dengan prinsip yang ada di konsep Greentech. Kali ini saya akan membahas penerapan teknologi hijau khususnya di sektor pertanian yang meliputi sawah dan taman serta berfokus pada energi, bangunan dan chemistry.

Energi Terbarukan Untuk Hari Esok Yang Lebih Baik


Indonesia kaya akan sumber daya alamnya terutama sumber daya fosil yang membuat kita terkadang lupa untuk mengembangkan sumber daya alternatif. Sekarang ini kita sedang dalam krisis bahan bakar. (Menurut Yayuk dan Amri, 2006) Situasi krisis energi kini makin mengemuka, ditandai oleh terbatasnya pasokan bahan bakar yang mengakibatkan melambungnya harga bahan bakar minyak (BBM) (seperti solar, bensin, minyak tanah dan lain-lain).
Maka dari itu kita perlu untuk mengembangkan energi terbarukan yang ramah lingkungan atau biasa disebut dengan “green energy” atau energi hijau. Energi hijau merupakan upaya pembaruan energi.
Energi hijau adalah energi yang tidak mencemari lingkungan dan ramah lingkungan dibandingkan dengan energi yang berasal dari fosil. Energi hijau mencakup semua energi terbarukan seperti tenaga surya, panas bumi, angin, dll.
Energi Baru dan Terbarukan World Council for Renewable Energy (WCRE) mendefinisikan energi terbarukan yang berupa surya, angin, air, laut, panas bumi,biomassa, dan lain-lain sesungguhnya adalah turunan dari energi matahari yang secara alami terbarukan melalui proses alam.
Menurut Abubakar,2007. Mengapa energi terbarukan ? Energi terbarukan harus segera dikembangkan secara nasional bila tetap tergantungan energi fosil, ini akan menimbulkan setidaknya tiga ancaman serius yakni:
(1) Menipisnya cadangan minyak bumi yang diketahui (bila tanpa temuan sumur minyak baru)
(2) Kenaikan/ketidakstabilan harga akibat laju permintaan yang lebih besar dari produksi minyak, dan
(3) Polusi gas rumah kaca (terutama CO2 ) akibat pembakaran bahan bakar fosil.

Kadar CO2 saat ini disebut sebagai yang tertinggi selama 125,000 tahun belakangan [2]. Bila ilmuwan masih memperdebatkan besarnya cadangan minyak yang masih bisa dieksplorasi, efek buruk CO2 terhadap pemanasan global telah disepakati hampir oleh semua kalangan. Hal ini menimbulkan ancaman serius bagi kehidupan makhluk hidup di muka bumi. Oleh karena itu, pengembangan dan implementasi bahan bakar terbarukan yang ramah lingkungan perlu mendapatkan perhatian serius
Konservasi Energi Mendorong pemanfaatan energi secara efisien dan rasional tanpa mengurangi penggunan energi yang benarbenar diperlukan.
• Konservasi di sisi pembangkit, yang didahului oleh audit energi
• Mengurangi pemakaian listrik yang bersifat konsumtif, keindahan, kenyamanan
• Mengganti peralatan yang tidak effisien
• Mengatur waktu pemakaian peralatan listrik

Dalam Konferensi Dunia Biomassa untuk Energ i dan Perubahan Cuaca yang kedua tahun 2003 di Roma, Italia, Volkswagen-Exxon Mobile menyebutkan bahwa berdasarkan jenis bahan bakar dan otomotif yang akan mendominasi pasar, dunia dihadapkan pada 4 generasi.
1.      Generasi pertama : Generasi bahan bakar minyak (BBM) berbasis prtroleum (minyak bumi)
2.      Generasi kedua : Generasi BBM mix atau campuran antara BBM terbarukan dan BBM petroleum yang saat ini sedang dikembangkan.
3.      Generasi ketiga : generasi BBM terbaruka Advance Synthetic Fuel, seperti Flash Pyolsis Oil (bio-oil), Fischer Tropsh (FT) Methanol, dan Hydro Thermal Upgrading Oil (HTU)
4.      Geneerasi keempat : Generasi ini akaan menjadi andalan, yaitu Hidrogen. Mengingat bahwa bahan ini memiliki nilai kalori yang tertinggi.
Lalu, apakah kita siap dengan perubahan ini ?
Pada prinsipnya bangsa kita siap memasuki era generasi kedua BBM. Beberapa perguruan Tinggi Negeri dan Swasta besa, Pusat Penelitian Kelapa Sait (PPKS), serta LIPI telah menjadi pionir dalam pengembangan dan riset BBM generasi kedua .Minyak dari biji jarak pagar menjadi salah satu andalan bahan mentah yang diharapkan sebagai salah satu tulang punggung industri biodiesel di Indonesia. Namun, perkembangan BBM generasi kedua ini juga memiliki hambatan salah satunya karea harga produksi yang tinggi. (Rama dan Roy, 2008)

Sampai kini pertumbuhan Energi Hijau masih sangat rendah, padahal telah dicanangkan bahwa energi hijau akan mencapai 25% pada tahun 2025. Hal ini disebabkan beberapa kendala yaitu harga yang tidak kompetitif dibandingkan dengan bahan bakar minyak. “Indonesia sendiri kini sudah tidak lagi kaya akan minyak. Energi tersebut akan segera habis dalam beberapa puluh tahun lagi. Artinya, ketahanan energi Indonesia harus dicarikan solusi, utamanya dengan pemanfaatan energi hijau,” ungkap Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Marzan Iskandar Jakarta (3/7).


Daftar Pustaka :
Prihandana, Rama  dan R. Hendroko. 2008. Energi Hijau: pilihan bijak menuju negeri mandiri energi. Jakarta: Penebar Swadaya. Dalam : https://books.google.co.id/books?hl=id&lr=&id=QTIKqw5aNGIC&oi=fnd&pg=PA3&dq=energi+hijau+adalah&ots=Clr50qUX1c&sig=3Ow5J0O5kxB-nCmMnIEPpiZCvNk&redir_esc=y#v=onepage&q=energi%20hijau%20adalah&f=false (Diakses 18 Desember 2018)

Lubis, Abubakar. 2007. Energi Terbarukan Dalam Pembangunan Berkelanjutan. Vol 8, No. 2, Mei 2007. Dalam: http://ejurnal.bppt.go.id/ejurnal2011/index.php/JTL/article/view/508 (Diakses 18 Desember 2018)

Siswiyanti, Yayuk, A. Jahi. 2006. MENGEMBANGKAN KAPASITAS MASYARAKAT PEDESAAN DALAM BERSWASEMBADA ENERGI MELALUI PENDIDIKAN: Pengembangan Energi Hijau (Green Energy) sebagai Energi Alternatif. Vol2, No.2, Juni 2016. Dalam: http://journal.ipb.ac.id/index.php/jupe/article/viewFile/2133/1163 (Diakses 18 Desember 2018)

 Heyko, Eduardo, Z. Hasid, dan Priyagus.
Eduardo Heyko, Zamruddin Hasid, Priyagus. 2016. STRATEGI PEMANFAATAN ENERGI TERBARUKAN DALAM RANGKA KEMANDIRIAN ENERGI DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR. Vol. 12, No. 1. Dalam: journal.feb.unmul.ac.id/index.php/INOVASI/article/download/797/71(Diakses 18 Desember 2018)
BPPT. 2013. Energi Hijau Untuk Ketahanan Energi Indonesia. Dalam: https://www.bppt.go.id/teknologi-informasi-energi-dan-material/1724-energi-hijau-untuk-ketahanan-energi-indonesia (Diakses 18 Desember 2018)

Energi Biomassa

Oleh : Sinta Anggraeni (@J12-Sinta)

Menurut Oni dan Pujayanto (2013), Biomassa adalah bahan organik yang berasal dari tumbuh-tumbuhan maupun hewan. Energi yang tersimpan dalam biomassa berasal dari matahari. Energi matahari diserap oleh matahari dalam proses fotosintesis. Sumber energi biomassa mempunyai beberapa kelebihan antara lain merupakan sumber energi yang dapat diperbarukan‟ (renewable) sehingga dapat menyediakan sumber energi secara berkesinambungan (suistainable)

Menurut Jamilatun (2008), Biomassa adalah bahan bakar padat yang memiliki karakteristik yang berbeda. Biomassa memiliki kandungan bahan volatil tinggi namun kadar karbon rendah. Kadar abu biomasa tergantung dari jenis bahannya, sementara nilai kalornya tergolong sedang. Tingginya kandungan senyawa volatil dalam biomassa menyebabkan pembakaran dapat dimulai pada suhu rendah. dinyalakan dan terbakar. Namun, pembakaran yang terjadi berlangsung sangat cepat dan bahkan sulit dikontrol.

Biomassa terdiri atas beberapa komponen yaitu:
1. Kandungan air (moisture content)
2. Zat mudah menguap (volatile matter)
3. Karbon terikat (fixed carbon)
4. Abu (ash)
Mekanisme pembakaran biomassa terdiri dari tiga tahap yaitu:
• Pengeringan (drying)
• Devolatilisasi (devolatilization)
• Pembakaran arang (char combustion)
Proses pengeringan akan menghilangkan moisture, devolatilisasi yang merupakan tahapan pirolisis akan melepaskan volatile, dan pembakaran arang yang merupakan tahapan reaksi antara karbon dan oksigen, akan melepaskan kalor. Laju pembakaran arang tergantung pada laju reaksi antara karbon dan oksigen pada permukaan dan laju difusi oksigen pada lapis batas dan bagian dalam dari arang. Reaksi permukaan terutama membentuk CO. Diluar partikel, CO akan bereaksi lebih lanjut membentuk CO2. Pembakaran akan menyisakan material berupa abu. (Surono, 2010)

Pengertian energi biomassa sangat beragam dalam berbagai referensi ilmiah. Namun dapat didefinisikan sebagai ”energi terbarukan dalam bentuk energi padat yang berasal dari bagian tumbuhan berlignoselulosa baik yang langsung digunakan atau diproses terlebih dahulu”. Energi biomassa dalam hal ini mencakup kayu bakar, limbah pembalakan, limbah industri perkayuan, limbah perkebunan/pertanian, briket kayu, arang dan briket arang. Dalam sektor kehutanan, energi biomassa difokuskan pada kayu bakar, limbah pembalakan, limbah industri perkayuan, arang dan briket arang. (Agustinus, 2008)

Produksi etanol dari biomassa atau bioetanol perlu terus ditingkatkan. Selama ini, biomassa yang digunakan juga merupakan bahan pangan, seperti jagung, ubi kayu, dan molasse. Oleh karena itu, penggunaan bahan baku yang jauh lebih murah dan tersedia melimpah, yakni bahan lignoselulosa dari limbah industri pertanian dan kehutanan perlu terus dikembangkan, misalnya ampas tebu sebagai hasil samping pada pabrik gula. Senyawa lignoselulosa terdiri atas tiga komponen utama, yaitu selulosa, hemiselulosa, dan lignin yang merupakan bahan utama penyusun dinding sel tumbuhan. (Hermiati, Djumali, dkk, 2009)

Daftar Pustaka
Arlita, Oni. Pujayanto. 2013. PENGEMBANGAN BAHAN AJAR IPA TERPADU BEBASIS SALINGTEMAS DENGAN TEMA BIOMASSA SUMBER ENERGI ALTERNATIF TERBARUKAN, Volume 1, No. 1, Hal : 85. Dalam http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/pfisika/article/view/1783/1276 (Diunduh pada 18 Desember 2018)

Jamilatun, Siti. 2008. Sifat-Sifat Penyalaan dan Pembakaran Briket Biomassa, Briket Batubara dan Arang Kayu, Volume 2, No. 2. Dalam https://journal.ugm.ac.id/jrekpros/article/view/554 (Diunduh pada 18 Desember 2018)

Surono, Budi, Untoro. 2010. Peningkatan Kualitas Pembakaran Biomassa Limbah Tongkol Jagung sebagai Bahan Bakar Alternatif dengan Proses Karbonisasi dan Pembriketan, Volume 4, No. 1. Dalam https://www.researchgate.net/profile/Untoro_Budi_Surono2/publication/ (Diunduh pada 18 Desember 2018)

Tampubolon, Agustinus. 2008. KAJIAN KEBIJAKAN ENERGI BIOMASSA KAYU BAKAR, Volume 5, No. 1. Dalam http://www.forda-mof.org/files/3._Agustinus[1].pdf (Diunduh pada 18 Desember 2018)

Hermiat, Djumali, dkk. 2009. PEMANFAATAN BIOMASSA LIGNOSELULOSA AMPAS TEBU UNTUK PRODUKSI BIOETANOL. Dalam http://www.ejurnal.litbang.pertanian.go.id/index.php/jppp/article/view/7758/6722 (Diunduh pada 18 Desember 2018)
















INOVASI INDUSTRI HIJAU

Dibuat oleh : @J02-Rizky, @ProyekJ11

KATA KUNCI: Inovasi Industri Hijau
Bagaimana langkah industrialisasi merupakan jurus ampuh untuk mempercepat pertumbuhan ekomi. Tak dapat dipungkiri bahwa insensif ekonomi dab dampak eksternal sektor industri lebih besar dibanding pertanian. Selain itu, tingkat produktivitas dan efisiensi sektor industri lebih tinggi dan menyerap tenaga lebih banyak (Hidayat, 2013).

Indonesia masih memerlukan inovasi di sektor industri dalam upaya pengelolaan lingkungan hijau. Maka itu, pelaku industri dituntut untuk berusaha secara aktif dan bijak dalam menggunakan sumber daya dan teknologi yang ramah lingkungan sehingga menciptakan efektivitas dan efisiensi bagi keberlanjutan usahanya.Sedangkan, Kementerian Perindustrian sebagai pembina industri nasional, berkomitmen memacu para pelaku industri untuk terus mengembangkan inovasi yang mendorong peran perusahaan melakukan perbaikan lingkungan yang berkelanjutan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat (Airlangga 2016).

Eko-efesiensi akan terus bergulir jika mendapat dukungan masyarakat internasional. Baik eko-inovasi maupun eko-efesiensi penerapanya akan menyebabkan penggunaan sumber daya dan energi menjadi lebih hemat, sehingga industri hijau dapat berlangsung dengan baik dan lancar. Inovasi teknologi perlu terus mengalami pemutakhiran, sehingga persaingan induatri semakin mengarah pada trwujudnya jaringan industri hijau (Gray dkk. 2011).

Industri yang dalam proses produksinya mengutamakan upaya efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya secara berkelanjutan sehingga mampu menyelaraskan pembangunan industri dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup serta dapat memberi manfaat bagi masyarakat ” (UU No. 3/2014 tentang Perindustrian (sopandi 2017).

Peran bioteknologi dalam pembangunan di bidang pangan/ pertanian, energi, kesehatan, lingkungan dan industri pengolahan di dunia saat ini tidak perlu dipertanyakan lagi. Indonesia sebagai negara dengan potensi biodiversity yang besar baik di tingkat species maupun DNA sangat berpeluang dalam meningkatkan daya saing nasional. Isu pemanasan global telah menjadi isu mendasar pada berbagai aspek ilmu pengetahuan dan teknologi karena dampaknya diyakini sangat besar bagi kehidupan manusia saat ini dan masa depan. Konferensi Bioteknologi Indonesia ke-5 dengan tema "Inovasi Industri Hijau melalui Bioteknologi " diharapkan dapat mempromosikan inovasi di bidang penelitian dan aplikasi industri bioteknologi untuk mengembangkan kesejahteraan hijau dan berkelanjutan serta aplikasinya secara praktis dan klinis (prasetya 1970).

Daftar Pustaka

Hidayat, A.A dan M. Kholil. 2018. KIMIA DAN PENGETAHUAN LINGKUNGAN INDUSTRI. Jakarta, september 2018.

Hartarto, A. 2016. Inovasi industri Hijau. Dalam http://kemenperin.go.id/artikel/15963/Indonesia-Masih-Perlu-Inovasi-Industri-Hijau? (diunduh 18 desember 2018).

Hidayat, A.A dan M. Kholil. 2018. KIMIA DAN PENGETAHUAN LINGKUNGAN INDUSTRI. Jakarta, september 2018.

Sopandi, L. 2017. Pengembagan Industri Hijau Nasional. Dalam https://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://apki.net/wp-content/uploads/2017/04/Industri-Hijau-Pak-Lintong-1.pdf&ved=2ahUKEwjs_ffxjanfAhXDUn0KHet9C0QQFjAFegQICRAB&usg=AOvVaw3U5ZKjUf2Qh4XFyr3wXptL&cshid=1545130133954 (Diunduh 18 desember 2018).

Prasetya, B. 2012. inovasi industri hijau melalui bioteknologi. Dalam http://lipi.go.id/berita/single/Inovasi-Industri-Hijau-melalui-Bioteknologi/13534 . (diunduh 18 desember 2018)

"Nanotechnology" Teknologi Yang Bermanfaat Bagi Kehidupan

Abstrak

Ide dan konsep ilmu dan teknologi nano pertama kali diperkenalkan oleh Dr. Richard Feynman pada sebuah pertemuan ilmiah yang diselenggarakan oleh American Physical Society di California Institute of Technology (Caltech), 29 Desember 1959, dengan judul “There’s plenty of room at the bottom”, jauh sebelum istilah teknologi nano digunakan (NNI [tanpa tahun]). Teknologi nano didefinisikan oleh US Environmental Protection Agency (2007) sebagai “the science of understanding and control of matter at dimensions of roughly 1–100 nm, where unique physical properties make novel applications possible.” Sementara, the US National Nanotechnology Initiative (NNI [tanpa tahun]) mendefinisikan teknologi nano sebagai “science, engineering, and technology conducted at the nanoscale, which is about 1 to 100 nanometers.” Definisi lain dari teknologi nano dikemukakan oleh Institute of Technology di Inggris, yang mendefinisikan teknologi nano sebagai "science and technology where dimensions and tolerances in the range of 0.1 nanometer (nm) to 100 nm play a critical role" (WhatIs.com 2011). Nano merupakan satuan panjang sebesar sepermiliar meter (1 nm = 10-9 m). Nano sendiri berasal dari kata Yunani yang berarti kerdil, kemudian diturunkan menjadi kata nanometer. Jadi, teknologi nano adalah teknologi pada skala nanometer. Pada dasarnya, teknologi nano merupakan ilmu interdisiplin dari ilmu fisika, kimia, biologi, ilmu pengetahuan bahan, dan keteknikan yang di dalamnya tidak hanya berupa proses pengecilan ukuran bahan/materi (top-down) menjadi bentuk nanometer (10-9 m), namun juga menyusunnya (assembly/bottom-up) menjadi ukuran nano dengan struktur yang diatur sedemikian rupa sehingga produk yang dihasilkan memiliki sifat “unik” yang disesuaikan dengan tujuan sifat produk yang diinginkan (NNI [tanpa tahun]). Menurut Duncan (2011), teknologi nano meliputi karakterisasi, fabrikasi, dan/atau manipulasi struktur, perangkat atau bahan yang memiliki setidaknya satu dimensi (atau mengandung komponen dengan setidaknya satu dimensi) yang kira-kira panjangnya 1–100 nm (Ariningsih, 2016).

Menurut Sudibyo dan Djunarman (2008) Tinjauan ilmiah tentang penerapan nanotegnologi dalam industri pangan dan pengembangan regulasinya di susun untuk membahas potensi penerapan nanotegnologi dan ilmu nanopada berbagai industri pengolahan pangan (ingredien pangan,bahan tambahan pangan, pembawa untuk penambahanzak gizi/suplemen),kemasan pangan sebagai bahan yang kntak lasung dengan pengan, penginderaan dan ke amanan pangan, pembersihan dan sanitasi pangan, dan bahan produk pangan nano ini telah siap dijumpai di beberapa negara. Isu potensi keamanan pangan terhadap konsumen dan resiko dari produk pangan nano telah menjadi bahan perdebatan yang hangat sehingga perlu adanya klarifikasi. Sejumlahketidakpastian dan adanya jurang pemisah yang berkaitan dengan aspek regulasi pangan nano telah didiskusikan pula.

Menurut Firda dan Mutiara (2014) Perkembangan teknologi dan pemanfaatannya tidak bisa dipungkiri terkait erat dengan peningkatan daya saing industri suatu negara.  Peningkatan pengetahuan dan penguasaan terhadap teknologi baru sangat dibutuhkan untuk memenangkan persaingan di era perdagangan global baik oleh pemerintah maupun industri.  Salah satu contoh teknologi yang sedang hangat diperbincangkan adalah nanoteknologi.  Pemanfaatan nano teknologi sudah dikenal baik diantaranya di bidang kesehatan, industri kosmetik dan pertanian.  Pada dasarnya prinsip penemuan nanoteknologi adalah untuk memaksimalkan hasil atau produksi tanaman dengan meminimalkan penggunaan pupuk,  pestisida dan kebutuhan lainnya dengan melakukan monitoring kondisi tanah seperti perakaran dan mengaplikasikannya langsung ke target sehingga tidak ada yang terbuang.  Untuk pestisida, jika hal ini diterapkan akan dapat meminimalisir penggunaan pestisida pada tanaman karena hanya serangga target saja yang terkena dampaknya. Penggunaan teknologi nano pada pupuk akan memungkinkan pelepasan nutrisi yang terkandung pada pupuk dapat dikontrol.  Jadi hanya nutrisi yang benar-benar akan diserap oleh tanaman saja yang dilepaskan, sehingga tidak terjadi kehilangan nutrisi ada target yang tidak dikehendaki seperti tanah, air dan mikroorganisme.  Pada pupuk nano, nutrisi dapat berupa enkapsulasi nanomaterial, pelapisan oleh lapisan pelindung yang tipis atau dilepaskan dalam bentuk emulsi dari nanopartikel.

Menurut Berlian Hanutami dan Arif Budiman Penggunaan obat herbal dalam beberapa waktu terakhir mulai meningkat di dunia khususnya di berbagai negara seperti Indonesia, China dan India. Penggunaan obat herbal mengalami peningkatan karena memiliki efek farmakologi hampir pada semua penyakit dengan efek samping yang ringan. Permasalahan umum dalam obat herbal yaitu bioavailabilitas, kelarutan, absorbsi zat aktif dan stabilitas yang rendah . Untuk mengatasi permasalahan ini maka dilakukan pengembangan terhadap teknologi yang digunakan untuk formulasi obat herbal. Salah satu contoh yaitu teknologi nano. Teknologi nano adalah suatu teknologi dimana partikel obat dibuat dalam skala nano (10 nm – 1000nm). Penggunaan teknologi nano diharapkan dapat mengatasi masalah dalam obat herbal serta meningkatkan efek terapi dan mengurangi toksisitas. Contoh teknologi nano yang dapat digunakan yaitu polimer nanopartikel, solid lipid nanopartikel, magnetik nanopartikel dan lain-lain. Teknologi nano dibuat dengan meggunakan metode preparasi yang cocok untuk setiap jenis obat herbal.

Jadi Kesimpulannya Nanoteknologi sangat bermanfaat bagi kehidupan kita, sudah selayaknya kita sebagai pengguna teknologi tersebut harus selalu menjaga dan terus meningkatkan atau mengembangkan teknologi tersebut agar dapat menjadi teknologi yang lebih bermanfaat bagi kelangsungan hidup kita.
Daftar Pustaka

Sintesis Kimia

Pada sintesis ZSM-5 menggunakan bibit perbandingan mol yang digunakan adalah : 10 Na2O : 100 SiO2 : x Al2O3 : 1800 H2O dengan x divariasi 1.3, 2 dan 4.
Dari difraktogram sinar-X didapatkan fasa ZSM-5. ZSM-5 terbentuk secara maksimal pada perbandingan SiO2/Al2O3 = 50, sedangkan untuk perbandingan SiO2/Al2O3 = 75 didapatkan fasa selain ZSM-5 yaitu kuarsa dan kristobalit.
Untuk perbandingan SiO2/Al2O3 = 25 didapatkan fasa analsim dan fasa amorfus. Pengamatan morfologi menggunakan SEM kristal ZSM-5 hasil sintesis mempunyai keseragaman bentuk yaitu berbentuk balok dengan perkiraan panjang 0.2 - 1.5 μm (A.L. Putro dkk, 2007).

Kulit udang putih mengandung kitosan sebanyak 15,68%. Spektra IR kitosan menunjukan adanya serapan –NH2 yang menunjukan telah terjadinya proses deasetilasi.Pola difraksi sinar-X kitosan menunjukkan pola puncak difraksi pada posisi 2θ sekitar 10odan 20o.

Berdasarkan hasil karakterisasi juga diperoleh kadar air, abu, lemak dan protein dari kitosan sebesar 19,34; 0,17; 0,69 dan 39,98 %. (M. Kurniasih dkk, 2011).

Menurut Veranita, Anita dkk (2013), bahwa:
1. Ekstrak yang memiliki daya proteksi tertinggi terhadala nyamuk aedes aegypti yaitu pada ekstrak etanol batang serai bambu (Andropogo citratus D.C) sebesar 85,0% pada kadar 5% dijam ke-3

2. Dalam ekstrak etanol terdeteksi 26 senyawa  dengan komponen: Heksadekanol, Asam Nerat, Geraniol, Hidroksidihidromaltol, Asam Palmitat, Hidroksimetilfulfural.

Kondisi optimal dari jumlah massa katalis dalam penelitian ini adalah 2 gram. Hasil karakterisasi GC-MS diperoleh 3 jenis senyawa metil ester yang terbentuk, yaitu metil ester palmitat, metil ester linoleat dan metil ester oleat. Hasil GC diperoleh rendemen metil ester (biodiesel) sebesar 21,94% ( Santoso dkk, 2012).

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terbentuknya salisilanilida berdasarkan analisis IR yang ditandai dengan adanya serapan gugus C=O karbonil amida dan C-N amida. Pada uji KG-SM salisilanilida terlihat pada waktu retensi 22,890 menit dengan % area= 0,26% dan rendemen sebesar 0,199% ( R. Sulistyo dkk, 2015).

Daftar Pustaka:

A.L. Putro dan Prasetryoko, Didik. 2007. Abu Sekam Padi Sebagai Sumber Silika Pada Sintesis Zeolit ZSM-5 Tanpa Menggunakan Templat Organik. Jurnal Kimia, Volume 3, No. 1, Oktober 2007. Pp 33 - 36. Dalam https://scholar.google.co.id/scholar?hl=id&as_sdt=0%2C5&q=sintesis+kimia&btnG=#d=gs_qabs&p=&u=%23p%3D7VjP9qhBZnMJ (Diunduh 18 Desember 2018).

M. Kurniasih dan D. Kartika. 2011. Sintesis Dan Karakterisasi Fisika-Kimia Kitosan. Jurnal Inovasi, Volume 5, No. 1, Januari 2011. Pp 42 - 48. Dalam https://scholar.google.co.id/scholar?hl=id&as_sdt=0%2C5&q=sintesis+kimia&btnG=#d=gs_qabs&p=&u=%23p%3DGUDjo8I9yrkJ (diunduh 18 Desember 2018).

Veranita, Anita., K. Anam, D. Kusrini. 2013. Identifikasi Kandungan Kimia Ekstrak Etanol Serai Bambu Dan Uji Efektivitas Repelen Terhadap Nyamuk Aedes Aegypti. Jurnal Sains dan Matematika, Volume 21, No. 1, 2013. Pp 20 - 24. Dalam https://scholar.google.co.id/scholar?hl=id&as_sdt=0%2C5&q=sintesis+kimia&btnG=#d=gs_qabs&p=&u=%23p%3Dg9VWXZ5LJXUJ ( diunduh 18 Desember 2018).

M.P.B. Santoso., E.B. Susatyo dan A.T. Prasetya. 2012. Sintesis Biodisel dari Minyak Biji Kapuk dengan Katalis Zeolit Sekam Padi. Jurnal Kimia, Volume 1, No. 2, 2012. Dalam https://scholar.google.co.id/scholar?hl=id&as_sdt=0%2C5&q=sintesis+kimia+organik+pdf&btnG=#d=gs_qabs&p=&u=%23p%3DM9PGQvNC5-oJ (Diunduh 18 Desember 2018).

R. Sulistyo, S. Suratmo dan R. Retnowati. 2015. Sintesis Salisilanilida Dari Komponen Utama Minyak Gandapura. Jurnal Kimia, Volume 1, No. 1, April 2015. Pp 805 - 811. Dalam https://scholar.google.co.id/scholar?hl=id&as_sdt=0%2C5&q=sintesis+kimia+organik+pdf&btnG=#d=gs_qabs&p=&u=%23p%3DomaOoqRvd8AJ ( Diunduh 18 Desember 2018).

Nanotechnology

Oleh:
Farah Dita Salsabila
@J04-Farah

Kata kunci: Nanotechnology, teknologi nano

Perkembangan teknologi dan pemanfaatannya tidak bisa dipungkiri terkait erat dengan peningkatan daya saing industri suatu negara. Peningkatan pengetahuan dan penguasaan terhadap teknologi baru sangat dibutuhkan untuk memenangkan persaingan di era perdagangan global baik oleh pemerintah maupun industri. Salah satu contoh teknologi yang sedang hangat diperbincangkan adalah nanoteknologi. Pemanfaatan nano teknologi sudah dikenal baik diantaranya di bidang kesehatan, industri kosmetik dan pertanian. Pada dasarnya prinsip penemuan nanoteknologi adalah untuk memaksimalkan hasil atau produksi tanaman dengan meminimalkan penggunaan pupuk, pestisida dan kebutuhan lainnya dengan melakukan monitoring kondisi tanah seperti perakaran dan mengaplikasikannya langsung ke target sehingga tidak ada yang terbuang.

Menurut Sudibyo (2008), nanoteknologi dan ilmu nano dalam industri pangan merupakan salah satu teknologi yang penerapannya relatif baru dibandingkan pada industri lainnya. Tetapi diprediksi penerapannya akan berkembang dengan cepat terutama pada industri yang menghasilkan pangan. Produk pangan hasil teknologi dan ilmu nano hingga sekarang masih menyisakan isu keamanan dan resiko yang perlu diteliti dan digali secara lebih mendalam dan komprehensif guna mengetahui karakteristik sifat produk pangan nano yang sudah mulai diperdagangkan di pasar internasional dan di Indonesia.

Penggunaan teknologi nano diharapkan dapat mengatasi masalah dalam obat herbal serta meningkatkan efek terapi dan mengurangi toksisitas. Contoh teknologi nano yang dapat digunakan yaitu polimer nanopartikel, solid lipid nanopartikel, magnetik nanopartikel dan lain-lain. Teknologi nano dibuat dengan meggunakan metode preparasi yang cocok untuk setiap jenis obat herbal. (Hanutami, 2017)

Manfaat Nanoteknologi di Bidang Pertanian: (Yanuar, 2014):

1. Memaksimalkan hasil atau produksi tanaman dengan meminimalkan penggunaan pupuk, pestisida dan kebutuhan lainnya dengan melakukan monitoring kondisi tanah seperti perakaran dan mengaplikasikannya langsung ke target sehingga tidak ada yang terbuang
2. Meminimalisir penggunaan pestisida pada tanaman karena hanya serangga target saja yang terkena dampaknya
3. Meminimalisir berkembangnya mekanisme resistensi pada hama dan mengurangi kematian 
serangga non target

Dalam konteks yang lebih luas, menurut Ariningsih (2016) pemanfaatan teknologi nano di sektor pertanian  berpotensi untuk meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya, penanganan limbah pertanian, mengurangi polusi lingkungan akibat penggunaan bahan kimia seperti pupuk dan pestisida dan meningkatkan kesejahteraan petani.

Daftar Pustaka

Yanuar, Firda dan Mutiara Widawati. 2014. Pemanfaatan Nanoteknologi dalam Pengembangan Pupuk dan Pestisida Organik. Dalam https://www.researchgate.net/publication/264048884
Hanutami, Berlian dan Arif Budiman. 2017. Penggunaan Teknologi Nano pada Formulasi Obat Herbal. Suplemen Volume 15 Nomor 2. Dalam 12947-28182-1-PB.pdf
Ariningsih, Ening. 2016. Prospek Penerapan Teknologi Nano dalam Pertanian dan Pengolahan Pangan di Indonesia. Forum Penelitian Agro Ekonomi, Vol. 34 No. 1, Juli 2016: 1-20. Dalam 63029-none-8cffd419.pdf
Sudibyo, Agus dan Djumarman. 2008. Penerapan Nanoteknologi dalam Industri Pangan dan Pengembangan Regulasinya. Jurnal Riset Industri Vol. 2, No. 3, Desember 2008: 171-183. Dalam 35-104-1-PB.pdf
Harahap, Sefty Aryani dan Sumadhi Sastrodihardjo. Teknologi Nano di Bidang Kedokteran Gigi. dentika Dental Journal, Vol 18, No. 2, 2014: 194-198. Dalam 

Biomassa

Abstrak
Menurut Agustinus (2008) Departemen Kehutanan perlu meningkatkan penyediaan energi biomassa, khususnya kayu bakar dan arang, bagi masyarakat di sekitar hutan sejalan dengan visi kesejahteraan masyarakat dan kelestarian hutan. Menindaklanjuti Kebijakan Energi Nasional (KEN), Keputusan Menteri Kehutanan No. 345/Menhut-II/2006 dapat mendorong capacity building, teknologi dan penyediaan energi biomassa secara berkelanjutan. 

Masalah
Menurut Oni (2008) Di tengah krisis energi fosil BBM, pemerintah harus mencari solusi terbaik mengingat energi merupakan kebutuhan pokok rakyat dan menentukan keberlangsungan pembangunan. Solusi kuratif jangka pendek berupa Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada masyarakat miskin harus diiringi dengan peningkatan akses (daya beli) masyarakat terhadap BBM, peningkatan produksi dan teknologi pengolahan BBM serta upaya efisiensi penggunaan BBM dan diversifikasi energi pada jangka menengah dan panjang. Penggunaan energi terbarukan (renewable energy) dalam konteks diversifikasi energi sangat strategis karena sejalan dengan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) dan ramah lingkungan (emisi gas rumah kaca relatif rendah). 
Menurut PPI (2005) Energi biomassa, khususnya kayu bakar, masih merupakan sumber energi dominan bagi masyarakat pedesaan yang pada umumnya berpenghasilan rendah. Diperkirakan 50% penduduk Indonesia menggunakan kayu bakar sebagai sumber energi dengan tingkat konsumsi 1,2 m /orang/tahun.

Wright (2008) berpendapat bahwa : “Biomass energy means energy derived from present-day photosynthesis” yang artinya bahwa sumber energi biomassa berasal dari proses fotosintesis. Lorenzini, Biserni dan Flacco (2010) berpendapat: “ everything that has an organic matrix is a biomass” yang artinya segala sesuatu yang tersusun oleh bahan organik disebutdengan biomassa. Sehingga dapat disimpulkan bahwa biomassa adalah bahan organik yang berasal dari tumbuh-tumbuhan maupun hewan. Energi yang tersimpan dalam biomassa berasal dari matahari. Energi matahari diserap oleh matahari dalam proses fotosintesis (Kandi & Winduono, 2009:58). Sumber energi biomassa mempunyai beberapa kelebihan antara lain merupakan sumber energi yang dapat diperbarukan‟ (renewable) sehingga dapat menyediakan sumber energi secara berkesinambungan (suistainable) (Kandi & Winduono, 2009:58).

Solusi
Menurut Pujayanto (2005) bahan bakar fosil dapat tergantikan dengan biomassa. Biomassa merupakan bahan organik yang berasal dari tumbuh - tumbuhan maupun hewan. Contoh biomassa yaitu etanol, bio gas, bio fuel, energi yang berasal dari limbah.

Penutup

Berdasarkan penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

a. Cadangan minyak dan produksi minyak dunia terus mengalami penurunan sedangkan komsumsi minyak semakin meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan perekonomian sehingga sejak tahun 2004, Indonesia merupakan net-importer.

b. Penentuan harga jual BBM di Indonesia sangat ditentukan oleh asumsi harga minyak APBN dan asumsi apakah minyak dianggap sebagai penerimaan negara atau bukan.

c. Alasan kenaikan harga BBM di Indonesia antara lain: defisit APBN, kenaikan BBM dilakukan banyak negara, harga BBM rendah mendorong peningkatan konsumsi, disparitas harga mendorong penyelundupan, subsidi BBM banyak dinikmati golongan kaya, realokasi subsidi BBM ke subsidi yang bersifat produktif, dan insentif berkembangnya energi alternatif.

d. Dampak kenaikan BBM terhadap kemiskinan sangat tergantung dari dampak kenaikan BBM terhadap inflasi khususnya inflasi bahan makanan.

Daftar Pustaka

Tampubolon, Agustinus. 2008. Kajian Kebijakan Energi Biomassa Kayu Bakar. Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol. 5 No. 1, April 2008 : 29 - 37.
http://www.forda-mof.org/files/3._Agustinus[1].pdf (diunggah pada bulan april 2008).


PENTINGNYA KIMIA HIJAU

Researchgate.net
 Menurut A Carolina, FN Ilmi
International Food Research Journal 23 (2), 2016
Edible canna (Canna edulis) is a potential forest product that can be used for food diversification. The objective of this study was to obtain Type IV resistant starch which has been proven beneficial because of its physiological effect. In this study, the production of resistant starch was done by chemical modification using different concentration of acetic anhydride, namely 3, 4, and 5%, in 300 g of canna. Two types of canna used in this study were red and white canna. The degree of substitution gained through acetylation was 0.082, 0.168, and 0.257 for red canna and 0.083, 0.168 and 0.256 for white canna. Through proximate analysis, modification of canna starch resulted in increase of water content and decrease of ash content, while protein content, lipid, and carbohydrate content showed no significant difference. Total starch content (amylose and amylopectin), dietary fiber, resistant starch content, and digestibility of starch were measured for native and the selected modified canna starch (4% acetic anhydride concentration). The result also showed that modification through acetylation increased the resistant starch content. It increased about 3.54% in red canna, while for the white one was about 3.80%. This influenced the increasing of total dietary fiber with value of 2.45% for red canna and 1.95% for white one. The increasing of dietary fiber also resulted in the decreasing of starch digestibility with value of 1.58% for red canna and 1.98% for white one. (Kanisius 2005)

academia.edu
  Menurut BH Prasetyo 2006, DA Suriadikarta
Jurnal Litbang Pertanian 25 (2), 39-46, 2006
Tanah Ultisol mempunyai sebaran yang sangat luas, meliputi hampir 25% dari total daratan Indonesia. Penampang tanah yang dalam dan kapasitas tukar kation yang tergolong sedang hingga tinggi menjadikan tanah ini mempunyai peranan yang penting dalam pengembangan pertanian lahan kering di Indonesia. Hampir semua jenis tanaman dapat tumbuh dan dikembangkan pada tanah ini, kecuali terkendala oleh iklim dan relief. Kesuburan alami tanah Ultisol umumnya terdapat pada horizon A yang tipis dengan kandungan bahan organik yang rendah. Unsur hara makro seperti fosfor dan kalium yang sering kahat, reaksi tanah masam hingga sangat masam, serta kejenuhan aluminium yang tinggi merupakan sifat-sifat tanah Ultisol yang sering menghambat pertumbuhan tanaman. Selain itu terdapat horizon argilik yang mempengaruhi sifat fisik tanah, seperti berkurangnya pori mikro dan makro serta bertambahnya aliran permukaan yang pada akhirnya dapat mendorong terjadinya erosi tanah. Penelitian menunjukkan bahwa pengapuran, sistem pertanaman lorong, serta pemupukan dengan pupuk organik maupun anorganik dapat mengatasi kendala pemanfaatan tanah Ultisol. Pemanfaatan tanah Ultisol untuk pengembangan tanaman perkebunan relatif tidak menghadapi kendala, tetapi untuk tanaman pangan umumnya terkendala oleh sifat-sifat kimia tersebut yang dirasakan berat bagi petani untuk mengatasinya, karena kondisi ekonomi dan pengetahuan yang umumnya lemah.

Menurut MP Sirappa
Jurnal Litbang Pertanian 22 (4), 133-140, 2003
Sorghum (Sorghum bicolor) merupakan tanaman serealia yang cukup potensial untuk dikembangkan di Indonesia karena mempunyai adaptasi lingkungan yang cukup luas, khususnya pada lahan marginal. Sorgum merupakan komoditas alternatif untuk pangan, pakan, dan industri. Biji sorgum mempunyai nilai gizi setara dengan jagung, namun kandungan tanin yang tinggi menyebabkan pemanfaatannya masih terbatas. Selain itu, biji sorgum sulit dikupas sehingga diperlukan perbaikan teknologi penyosohan antara lain dengan menggunakan penyosoh beras yang dilengkapi dengan silinder gurinda batu. Masalah utama pengembangan sorgum adalah nilai keunggulan komparatif dan kompetitif sorgum yang rendah, penanganan pascapanen yang masih sulit, dan usaha tani sorgum di tingkat petani belum intensif. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan pengelolaan sistem produksi sorgum secara menyeluruh (holistik) yang mencakup empat dimensi, yaitu: 1) wilayah,(areal tanam), 2) ekonomi (nilai keunggulan komparatif dan kompetitif sorgum terhadap komoditas lain), 3) sosial,(sikap dan persepsi produsen terhadap sorgum sebagai bagian dari usaha taninya), dan 4) industri (nilai manfaat sorgum sebagai bahan baku industri makanan dan pakan).




Menurut Juniaty Towaha
Perspektif 11 (2), 79-90, 2012
Senyawa eugenol merupakan komponen utama yang terkandung dalam minyak cengkeh (Syzygium aromaticum) dengan kandungan dapat mencapai 70-96%. Dalam senyawa eugenol terkandung beberapa gugus fungsional, yaitu alil (-CH2-CH= CH2), fenol (OH) dan metoksi (-OCH3). Gugus tersebut memungkinkan eugenol menjadi bahan dasar sintesis berbagai senyawa lain yang bernilai lebih tinggi seperti isoeugenol, eugenol asetat, isoeugenol asetat, benzil eugenol, benzil isoeugenol, metil eugenol, eugenol metil eter, eugenol etil eter, isoeugenol metil eter, vanilin dan sebagainya. Senyawa eugenol serta senyawa turunannya tersebut mempunyai berbagai manfaat dalam berbagai industri, seperti industri farmasi, kosmetika, makanan, minuman, rokok, pestisida nabati, perikanan, pertambangan, kemasan aktif dan industri kimia lainnya. Pengolahan isolasi senyawa eugenol dari minyak cengkeh di Indonesia masih sangat terbatas, oleh karena itu Indonesia sebagai negara penghasil utama minyak cengkeh di dunia diharapkan dapat meningkatkan diversifikasi industri hilirnya yang berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Untuk itu pemerintah perlu memberikan regulasi yang kondusif untuk pengembangan industri hilir antara lain dalam bentuk kemudahan investasi, keringanan pajak serta terobosan kebijakan lainnya yang kondusif seperti transfer teknologi bagi pelaku industri skala Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).iya
 Menurut Naliawati Prastiya Ningrum, Muhamad Alfin Indra Kusuma, Nur Rokhati
Jurnal Teknologi Kimia Dan Industri, 275-285, 2013
Kapuk Randu (Ceiba pentandra (L)) Gaerin van Indica (DC) banyak dijumpai di Indonesia terutama dalam perkebunan di daerah Jawa Tengah, dengan total luas 95.107, 17 ha. Hasil pengolahan abu kulit buah kapuk randu disebut sebagai Soda Qie dan mengandung kalium sebesar 78% W. Di sisi lain, konsumsi minyak goreng Indonesia sangat tinggi dan cenderung naik setiap tahunnya, mencapai 500.000 ton/tahun. Minyak goreng bekas yang dihasilkan masih mengandung asam lemak bebas dalam jumlah besar yang dapat dimanfaatkan


 Menurut H Soeranto
Prosiding Pertemuan dan Presentasi Ilmiah Penelitian Dasar Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Nuklir, P3TM BATAN, Yogyakarta 8, 2003
PERAN IPTEK NUKLIR DALAM PEMULlAAN TANAMAN UNTUK MENDUKUNG INDUSTRI PERTANIAN. Pemuliaan tanaman memegang peranan penting dalam industri pertanian. khususnya dalam perakitan varietas-varietas/lIIggul. Teknik mutasi mempakan salah satu metoda pemuliaan tanaman yang banyak digwwkan. Teknik ini menggwwkan bahan mutagen. seperti sinar Gamma, untuk menginduksi mutasi pada tanaman. Mutasi dapat meningkatkan keragaman genetik tanaman yang kemudian dijadikan. febagai populasi damr U1llukseleksi dan program pemuliaan lebih lanjut. Secara global. lebih dari 2000 va/'ietas mUlan dari bermacam jenis tanaman telah di/epas, sebagai varietas unggul di berbagai negara. Sejumlah l4 varietas mutan tanaman dialllaranya berasal dari Indonesia, yaitu terdiri dari 10 varietas padi. 3 kedelai dan I kacang hijau.

Daftar Pustaka
J Towaha - Perspektif, 2012 - perkebunan.litbang.pertanian.go.id diakses pada tanggal 18 Desember 2018

Teknologi industri hijau

TEKNOLOGI INDUSTRI HIJAU

Mau tidak mau atau siap tidak siap, pelaku industri mudak menerapkan standar tersebut, meskipun untuk mencapai hal tesebut tidak mudah. Arryanto mengatakan bahwa beberapa permasalahan di sektor industri antara lain adanya sebagian teknologi maupun mesin-mesin industri yang tidak mampu lagi menghasilkan produktivitas dengan efisiensi tinggi dan menyebabkan daya saing produk menjadi lemah. "Pembangunan industri memang memberikan dampak positif bagi perekonomian, namun menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan.(arryanto.2015)

Sektor industri bersifat dinamis seiring dengan perubahan yang terjadi di dalam sektor industri itu sendiri maupun di luar lingkungan industri. Sifat dinamis ini penting agar sektor industri dapat selalu beradaptasi dan berkembang. Salah satu faktor yang telah terbukti dan diakui memiliki pengaruh penting terhadap perkembangan sektor industri nasional di masa depan adalah perkembangan teknologi. Perkembangan teknologi tersebut akan berpengaruh pada perkembangan sektor industri nasional sehingga perlu disiapkan sistem serta strategi alih teknologi dan inovasi teknologi yang sesuai. Strategi yang dapat dilakukan adalah sinergi antara pemerintah, industri, lembaga Litbang, serta perguruan tinggi dalam peningkatan kualitas penelitian dan pengembangan (tjandra.2017)

Menurut fong kai hung(2017),bahwa Teknologi Hijau merupakan teknologi yang banyak mengandung sisi positifnyadan manfaatnya banyak di dapat untuk kehidupan sehari-hari. Teknologi inibiasanya membuat orang menjadi “fresh” dan menghasilkan banyakkeuntungan contohnya komputer, kulkas, kipas angin dan lain-lain. Salah satucontoh di terapkannya Teknologi Hijau yaitu harus di terapkan di setiap sekolah,kantor, maupun tempat kerja lainnya. Karena hal tersebut dapat membantu ataumeringankan beban kerja dan belajar mereka. Teknologi Hijau sama artinyadengan satu orang satu pohon ( one man one tree ).

Menurut Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto(2016) , proses industri hijau tidak hanya memperbaiki efisiensi dan efektivitas industri dalam penggunaan sumber daya. Pengakuan atas proses industri hijau juga bisa menjadi faktor penguat daya saing industri di pasar domestik maupun ekspor.

Menurut nonie(2017), Pemerintah akan menerapkan sejumlah prinsip di antaranya transparansi dan keterbukaan, konsensus dan tidak memihak, efektif dan relevan, koheren, serta berdimensi pengembangan.

Jadi menurut saya Teknologi industri hijau merupakan salah satu upaya untuk menjaga kelestarian atau keberlanjutan kehidupan di planet bumi ini. Kelestarian atau keberlanjutan (sustainabilitas) yang dapat diartikan sebagai perihal pemenuhan kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan di masa depan tanpa merusak sumber daya alam, atau pemenuhan kebutuhan saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.
Daftar pustaka
Kemenperin. 2015. Harian ekonomi neraca. Dalam http://www.kemenperin.go.id/artikel/6301/Teknologi-Jadi-Tantangan-Industri-Hijau. (Diunduh 18 desember 2018).
 Setiadi, tjandra. 2017. Peran teknologi ramah lingkungan untuk mendukung industri hijau. Dalam http://sntih.kemenperin.go.id. (Diunduh pada 18 desember 2018).
 Fong kai hung. 2017. Teknologi hijau. Dalam https://www.scribd.com/doc/161551472/Teknologi-Hijau. (Diunduh pada 18 desember 2018). Harris. 2016. Jurnal asia. Standar industri hijau diterapkan bertahap. Dalam https://www.jurnalasia.com/bisnis/standar-industri-hijau-diterapkan-bertahap/. (Diunduh pada 18 desember 2018).
Nonie. 2017. Standar induatri hijau wajib diterapkan. Dalam https://petrominer.com/standar-industri-hijau-wajib-diterapkan/. (Diunduh pada 18 desember 2018).

Beralih ke Energi Alternatif


Bahan bakar minyak adalah bahan bakar yang jumlahnya terbatas dan bahan bakar yang tidak dapat diperbaharui. Bahan bakar minyak merupakan minyak bumi yang berasal dari fosil jutaan tahun lalu sehingga biasa disebut dengan bahan bakar fosil. Saat ini jumlah kendaraan semakin meningkat sehingga membutuhkan minyak yang semakin banyak dan menimbulkan pencemaran yang semakin parah. Oleh karena itu, bahan bakar alternatif saat ini harus mulai digunakan untuk mengurangi kebutuhan akan bahan bakar fosil yang semakin menipis. Menurut Mark Poulton (1994), increased use of renewable and alternative fuels can extend fossil fuel supplies and help resolve air pollution problems inherent in automotive use of conventional fuels.
Kata Kunci : Alternative Fuel
Bahan Bahan bakar fosil dapat digantikan dengan bahan bakar alami yang dapat diperbaharui. Dikutip dari dalam artikelnya yang berjudul “Bahan Bakar Alternatif Biodiesel” bahwa, ide penggunaan minyak nabati sebagai pengganti bahan bakar diesel didemonstrasikan pertama kalinya oleh Rudolph Diesel (±tahun 1900). Penelitian di bidang ini terus berkembang dengan memanfaatkan beragam lemak nabati dan hewani untuk mendapatkan bahan bakar hayati (biofuel) dan dapat diperbaharui (renewable). Perkembangan ini mencapai puncaknya di pertengahan tahun 80-an dengan ditemukannya alkil ester asam lemak yang memiliki karakteristik hampir sama dengan minyak diesel fosil yang dikenal dengan biodiesel.
Selain bahan bakar fosil untuk kendaraan, bahan bakar alternatif juga dapat berupa bentuk lain seperti briket arang. Briket ini memiliki kelebihan dibandingkan dengan arang konvensional. Diantarannya adalah tidak berasap, tidak berbau dan lebih tahan lama. Menurut Feri, semakin banyaknya limbah pertanian berupa sekam padi, maka sangat menguntungkan jika limbah tersebut diolah menjadi bahan bakar alternative seperti briket.
            Selain bahan bakar untuk penggunaan kendarann bermotor, bahan bakar juga dipergunakan untuk pembangkit listrik, yaitu Batubara. Sebaiknya kita menggunakan pembangkit listrik tenaga air ataupun tenaga matahari. Menurut syaiful, Matahari adalah sumber energi utama yang memancarkan energi yang luar biasa besarnya ke permukaan bumi. Energi matahari dapat dimanfaatkan dengan berbagai cara yang berlainan bahan bakar minyak adalah hasil fotosintesis, tenaga hidro elektrik adalah hasil sirkulasi hujan tenaga angin adalah hasil perbedaan suhu antar daerah dan sel surya (sel fotovoltaik) yang menjanjikan masa depan yang cerah sebagai sumber energi listrik.
            Adapun pengolahan limbah yang dapat dimanfaatkan sebagai biogas. Salah satunya adalah limbah tahu yang diolah menjadi biogas di Grobogan Jawa Timur. Industry disana ada yang memanfaatkan limbah cair tahu sebagai bahan bakar biogas. Menurut sri,Dari beberapa alternatif teknik pengolahan limbah tahu disimpulkan alternatif yang paling sesuai dengan karakteristik industri tahu di lokasi perencanaan, sehingga limbah industri tahu yang dihasilkan dapat diolah menjadi biogas sebagai bahan bakar alternatif. Tahap akhir dari pekerjaan ini adalah tersusunnya rekomendasi berkaitan dengan pengelolaan limbah cair tahu menjadi biogas sebagai bahan bakar alternatif.

Daftar Pustaka
Poulton, Mark. 1994. Alternative Fuel for Road Vehicle. https://www.osti.gov/biblio/418713 (diunduh tanggal 18 Desember 2018)
Haryanto, Bode. 2002. Bahan Bakar Alternatif Biodiesel. Dalam https://scholar.google.co.id/scholar?hl=en&as_sdt=0%2C5&q=bahan+bakar+alternatif&oq=#d=gs_qabs&p=&u=%23p%3DOd_9eD2ZgGUJ (diunduh tanggal 18 Desember 2018)
Hartanto, Feri Puji.  http://eprints.undip.ac.id/36721/ (diunduh tanggal 18 Desember 2018)
Manan, Syaiful. 2009. ENERGI MATAHARI, SUMBER ENERGI ALTERNATIF YANG EFFISIEN, HANDAL DAN RAMAH LINGKUNGAN DI INDONESIA
http://eprints.undip.ac.id/1722/1/solarseeker.pdf (diunduh tanggal 18 Desember 2018)

Subekti, Sri. 2011. PENGOLAHAN LIMBAH CAIR TAHU MENJADI BIOGAS SEBAGAI BAHAN BAKAR ALTERNATIF https://www.publikasiilmiah.unwahas.ac.id/index.php/PROSIDING_SNST_FT/article/view/241 (diunduh tanggal 18 Desember 2018)