.

Sabtu, 14 Mei 2022

Bahan bakar fosil by Adrian Adiputra Danny Prasetya (@V24_Adrian)

 BAHAN BAKAR FOSIL


Bahan bakar fosil atau bahan bakar mineral, adalah sumber daya alam yang mengandung hidrokarbon seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam. Bahan bakar fosil terbentuk karena adanya proses alamiah berupa pembusukan dari organisme yang mati ratusan juta tahun lalu. Bahan bakar fosil seperti minyak bumi dan gas alam berasal dari organisme laut yaitu jasad renik (mikroba, seperti ganggang, alga, diatom, zooplankton, fitoplankton, dll) yang mati dan mengendap di lapisan sedimen dasar laut. Endapan ini lantas terbawa ke dasar kerak Bumi melalui gerakan lempeng yang disebut penunjaman (subduksi). Setelah melalui tekanan dan suhu ekstrem selama berjuta-juta tahun, fosil mereka akhirnya berubah menjadi substansi berminyak yang bisa dimanfaatkan. Tidak semua makhluk hidup atau tumbuhan akan menjadi bahan bakar fosil. Sedangkan bahan bakar fosil seperti Batubara, berasal dari vegetasi tanaman rawa, dari hutan Periode Devonian dan Karboniferus yang menjadi gambut, kemudian tertimbun jutaan tahun hingga menjadi batubara.


Bahan bakar fosil termasuk jenis sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui (dalam waktu singkat). sebab, bahan bakar fosil terbentuk dari proses endapan dan penguraian makhluk hidup yang membutuhkan waktu jutaan tahun lamanya. Itulah sebabnya, pemanfaatan dari bahan bakar ini harus dilakukan secara bijak dan bertanggung jawab. Selain itu juga sumber bahan bakar fosil yang ada lebih cepat habis dibandingkan dengan terbentuknya yang baru.


Penggunaan bahan bakar fosil yang telah berlangsung lama, dari dulu hingga sekarang ini menyebabkan timbulnya masalah-masalah lingkungan. Oleh karena itu diperlukan gerakan global menuju pembangkitan energi terbarukan agar bahan bakar fosil tidak cepat habis. Walaupun penggunaan bahan bakar fosil pada era sekarang telah menggerakkan pengembangan industri dan menggantikan kincir angin, tenaga air, dan juga pembakaran kayu atau pelat untuk panas.




Dalam menjalani berbagai aktivitas di zaman sekarang, banyak hal yang tidak bisa terlepas dari yang namanya bahan bakar. Seperti yang kita ketahui bersama, bahan bakar yang masih umum digunakan hingga saat ini adalah bahan bakar fosil yang sumber daya energinya semakin menipis. Tidak hanya itu, bahan bakar fosil pun terbukti dapat menghasilkan polusi udara. Kondisi udara yang tidak sehat tentunya dapat menurunkan harapan hidup manusia. Agar lingkungan menjadi bersih dan tidak secara terus menerus tercemar dengan adanya polusi udara, harus ada bahan bakar yang ramah lingkungan. Bahan bakar tersebut adalah hidrogen yang berasal dari nonfosil. Salah satu cara untuk memperoleh hidrogen adalah reaksi elektrolisis dengan bahan baku air. Hanya dengan beberapa liter air saja, proses ini dapat menghasilkan sepuluh hingga dua puluh ribu liter gas Hidrogen per jam. Cara lain untuk memperoleh gas hidrogen adalah melalui steam methane reforming (SMR), petroleum refining dan coal gasification. Penggunaan Hidrogen sebagai bahan bakar nonfosil telah terbukti sebagai bahan bakar yang ramah lingkungan dan free of carbon monoxide. Udara yang sehat dan lingkungan yang bersih tentunya merupakan tanggung jawab kita bersama. Saatnya untuk beralih ke penggunaan bahan bakar hidrogen.


Penggunaan bahan bakar dalam menjalani aktivitas sehari-hari menjadi suatu hal yang umum bahkan sering dijumpai. Aktivitas manusia dimulai dari mengolah makanan, bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain menggunakan transportasi, sampai pada penerangan cahaya selalu membutuhkan bahan bakar. Semakin sangat digunakannya bahan bakar semakin banyak pula bahan bakar yang diperlukan. Dengan meningkatnya permintaan bahan bakar dari hari ke hari membuat semakin menipisnya persediaan sumber daya energi fosil.

Tidak hanya karena ketersediaannya yang menipis, bahan bakar dari energi fosilpun dapat menghasilkan polusi udara. Semakin meningkatnya konsentrasi polutan di udara tentunya membuat kondisi lingkungan menjadi tidak sehat. Penggunaan energi fosil juga dapat menimbulkan efek rumah kaca (Marline, E., 2013). Menurut Michael Greenstone dan Qing Claire Fan (2019), terjadi peralihan status kondisi udara di Indonesia. Indonesia yang awalnya merupakan salah satu negara paling bersih menjadi salah satu dari 20% negara paling berpolusi. Terjadi peningkatan konsentrasi polutan hingga mencapai 171%.


Ada 3 jenis bahan bakar fosil dan ketiganya memiliki bentuk yang berbeda, yaitu:


  • Gas bumi, memiliki wujud gas

Gas alam merupakan bahan bakar fosil berbentuk gas. Gas alam merupakan campuran hidrokarbon yang mempunyai daya kembang besar, daya tekan tinggi, berat jenis spesifik yang rendah dan dengan secara alamiah terdapat dalam bentuk gas. Pada dasarnya, gas alam tersebut terkumpul di bawah tanah dengan berbagai macam komposisi yang terdapat di dalam kandungan minyak bumi (associated gas). Semua kandungan minyak bumi berhubungan dengan gas alam, di mana gas itu larut dalam minyak mentah serta juga sering kali membentuk “cungkup gas” (gas cap) di atas kandungan minyak bumi itu. Selain itu, gas alam tersebut juga dapat berkumpul pada tambang batu bara serta juga ladang gas bumi. Gas alam tersebut terdiri dari senyawa hidrogen serta juga karbon.Gas alam tersebut dapat ditemukan dengan sifat berwarna atau juga tidak berwarna. Hal tersebut membuat gas alam menjadi salah satu energi yang mempunyai sifat bersih serta aman untuk pemakaian sehari-hari. Meskipun gas alam ini memiliki sifat yang mudah terbakar.Struktur hidrokarbon dalam gas alam pada saat baru keluar dari tanah terdiri dari metana, etana, butana, propane, karbon dioksida, minyak, nitrogen, sulfur, serta juga berbagai jenis kotoran lain. Proses pengolahan gas alam tersebut selanjutnya berfungsi untuk dapat memisahkan berbagai jenis kotoran. Proses pengolahan gas alam dilakukan oleh pabrik khusus yang menangani masalah energi. Gas alam yang keluar di dalam bentuk energi yang sudah dapat digunakan oleh masyarakat dengan secara langsung mempunyai sifat yang sudah bersih sehingga akan sangat aman. Proses Pengolahan Gas Alam adalah proses industri yang kompleks dirancang untuk membersihkan gas alam mentah dengan memisahkan kotoran dan berbagai non-metana hidrokarbon dan cairan untuk menghasilkan apa yang dikenal sebagai dry natural gas. Pengolahan Gas alam dimulai sumur bor. Komposisi gas alam mentah yang diekstrak dari sumur bor tergantung pada jenis, kedalaman, dan kondisi geologi daerah. Minyak dan gas alam sering ditemukan bersama-sama dalam yang sama reservoir. Gas alam yang dihasilkan dari sumur minyak umumnya diklasifikasikan sebagai associated-dissolved, yang berarti bahwa gas alam dilarutkan dalam minyak mentah. Kebanyakan gas alam mengandung senyawa hidro karbon, contoh seperti gas metana (CH4), benzena (C6H6), dan butana (C4H10). Meskipun mereka berada dalam fase cair pada tekanan bawah tanah, molekul-molekul akan menjadi gas pada saat tekanan atmosfer normal. Secara kolektif,mereka disebut kondensat atau cairan gas alam (NGLs). Gas alam yang diambil dari tambang batu bara dan tambang (coalbed methane) merupakan pengecualian utama, yang pada dasarnya campuran dari sebagian besar metana dan karbon dioksida (sekitar 10 persen). Pabrik pengolahan gas alam memurnikan gas alam mentah yang diproduksi dari ladang gas bawah tanah. Sebuah pabrik menyuplai gas alam lewat pipa-pipa yang dapat digunakan sebagai bahan bakar oleh perumahan, komersial dan industri konsumen. Pada proses pengolahan, kontaminan akan dihilangkan dan hidrokarbon yg lebih berat akan diolah lagi untuk keperluan komersial lainnya.


Gas alam dapat diukur dalam sejumlah cara. Sebagai gas, ia dapat diukur melalui volume satuan m3 pada temperatur 15 C dan tekanan 750 mmHg, atau dalam cubic feet (CF) dengan temperatur 60 F dan tekanan 14,73 lb/in2. Satuan volume yang umumnya dipakai adalah dalam ribuan cubic feet (MCF), jutaan cubic feet (MMCF), atau triliun cubic feet (TCF). Gas alam juga sering diukur dan dinyatakan dalam British thermal unit (BTU). Satu BTU adalah sejumlah gas alam yang akan menghasilkan energi yang cukup untuk memanaskan satu pound air dengan satu derajat pada tekanan normal. Satu cubic feet gas alam mengandung sekitar 1,027 BTU. Gas alam yang dikirim melalui pipa di USA, diukur dalam satuan ‘therms’ untuk penggunaan pembayaran. Satu ’therm’ adalah ekivalen dengan 100.000 BTU, atau sekitar 97 SCF gas alam.


  • Minyak bumi, memiliki wujud cair

Minyak bumi merupakan sumber daya yang paling banyak dimanfaatkan, baik secara personal maupun industri. Minyak bumi yang masih dalam kondisi mentah, akan melalui beberapa tahap pengolahan hingga akhirnya menjadi produk jadi dan siap digunakan. Beberapa hasil olahan minyak bumi yang sering dimanfaatkan dalam keseharian yaitu bensin, minyak tanah, dan sebagainya.


  • Batu bara, memiliki wujud padat

Batu bara adalah batuan sedimen yang dapat terbakar. Terbentuk dari endapan organik dan melalui proses pematubaraan. Unsur utama dari batu bara adalah karbon, hidrogen, dan oksigen. Batu bara digunakan sebagai bahan baku pembuatan semen, baja, aluminium, dan juga sumber energi pembangkit listrik pada beberapa negara. Selain itu, masih banyak lagi manfaat dari batu bara. Akan tetapi, proses yang salah dalam mengolah batu bara dapat memberikan dampak negatif pada lingkungan. Itulah sebabnya, banyak negara yang memberikan aturan mengenai penggunaan batu bara ini.


proses pembentukan bahan bakar fosil


Bahan bakar fosil terbentuk karena adanya proses alamiah berupa pembusukan dari organisme yang mati ratusan juta tahun lalu. Bahan bakar fosil termasuk sumber energi yang tak terbarukan (non-renewable energy), sehingga saat bahan bakar ini akan habis.


Berikut ini proses pembuatan bahan bakar fosil berdasarkan contoh hasilnya. 


  • Minyak Bumi 

Minyak bumi berasal dari sisa-sisa hewan kecil dan tumbuhan yang hidup di laut jutaan tahun yang lalu. Bangkai-bangkai makhluk hidup tersebut mengendap di dasar laut dan tertutup lumpur dalam jangka waktu yang lama. 


  • Gas Alam 

Seperti halnya minyak bumi, gas alam merupakan salah satu bahan bakar fosil yang terperangkap dalam lapisan batu kapur diatas reservoir minyak bumi. Gas alam dapat ditemukan di ladang minyak, ladang gas bumi, dan juga tambang batubara. Unsur utama penyusun gas alam adalah metana (CH4) yang merupakan molekul hidrokarbon rantai terpendek dan teringan. 


  • Batu Bara 

Secara definisi, batubara adalah batuan sedimen yang berasal dari material organik (organoclastic sedimentary rock), dapat dibakar dan memiliki kandungan utama berupa karbon (C), hidrogen (H), dan oksigen (O). Secara proses (genesa), batubara adalah lapisan yang merupakan hasil akumulasi tumbuhan dan material organik pada suatu lingkungan pengendapan tertentu, yang disebabkan oleh proses syn-sedimentary dan post-sedimentary, sehingga menghasilkan rank dan tipe tertentu.


kegunaan bahan bakar fosil


Berikut ini manfaat bahan bakar fosil dalam kehidupan sehari-hari.


  • Bahan Bakar Kendaraan


Minyak bumi yang sudah mengalami pengolahan, dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar kendaraan seperti bensin.


Batu bara juga bisa digunakan sebagai pengganti minyak dengan cara mengubah bubuk atau bongkahan batu bara menjadi cair.  


Minyak ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar kendaraan.


  • Pembangkit Listrik


Batu bara juga dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik, oleh karena itu pemakaian listrik berdampak langsung dalam penggunaan batu bara. 


Semakin banyak listrik yang digunakan di bumi, maka semakin banyak batu bara yang dibutuhkan. 


  • Bahan Baku Industri


Batu bara dapat menghasilkan gas alam ketika masih tersimpan di dalam tanah. 


Gas dari batu bara dapat memisahkan produk baja sehingga dapat menghasilkan produk alumunium. 


Batu bara juga bermanfaat untuk membantu memproduksi atau membuat baja hingga semen. 


Minyak bumi yang sudah diolah juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuat plastik dan karet, yang bernama nafta.


Nafta juga digunakan sebagai bahan baku produksi bensin jenis pertamax.




kelebihan dan kekurangan energi fosil


Berikut adalah beberapa kekurangan dan kelebihan bahan bakar fosil :


  • Kelebihan

  1. Dapat dinikmati untuk kesejahteraan rakyat yaitu penggunaan bahan bakar fosil dapat menghasilkan listrik dalam jumlah yang sangat besar dan merata pada sebuah lokasi atau wilayah yaang diinginkan .
  2. Relatif lebih mudah untuk ditemukan dalam keadaan terdesak karena saat ini ketersediaan bahan bakar fosil sudah dapat dijumpai diberbagai wilayah dengan jarak yang tidak terlalu jauh antara lokasi tempat yang menyediakan bahan bakar fosil misalnya bensin dengan bahan bakar fosil selanjutnya .
  3. Relatif sangat hemat bagi pengguna yang berasal dari masyarakat tak mampu karena harga yang disediakan selalu disesuaikan dengan kebutuhan pada saat itu.
  4. Pengolahan dan pengambilan bahan bakar fosil dapat dilakukan dengan mudah hanya dengan pipa khusus yang biasa digunakan para pekerja dilokasi penambangan.
  5. Bahan bakar fosil termasuk bahan bakar yang ketersediaaannya saat ini masih banyak dan stabil untuk dimanfaatkan setiap hari. bahan bakar fosil juga termasuk bahan bakar yang stabil yang tidak mengalami perubahan warna, bau, berat , ukuran serta kadar asamnya dibandingkan zat zat lain yang ada dibumi.
  6. Bahan bakar fosil dapat mensejahterakan seluruh umat manusia terbukti dengan penggunaan bahan bakar ini listrik dapat menerangi seluruh negara yang ada didunia tanpa harus khawatir akan habis sumber alamnya untuk saat ini.
  7. Bahan bakar fosil adalah pendukung utama yang sangat vital bagi kemajuan dan pergerakan ekonomi yang sedang berlangsung dari tahun ketahun dan selama persediaan bahan bakar fosil masih ada maka kemajuan sebuah industri akan selalu berjalan dengan lancar.
  8. Penggunaan Bahan bakar fosil pada industri terutama industri biokimia dan elemen lain dapat digunakan untuk kemajuan, perkembangan dan pertumbuhan perekonomian kedepannya atau dimasa yang akan datang.

  • kekurangan


  1. Meningkatkan polusi berupa racun dalam udara (radikal bebas) – Pemakaian emisi gas alam atau nahan bakar fosil dapat meningkatkan polusi udara yang akan menjadi penyebab pemanasan global dan mencemari air. Udara yang telah terkontiminasi oleh bahan bakar fosil dapaat menyebabkan penumpukan partikel partikel beracun yang bergabung dengan radikal bebas yang dihasilkan oleh debu, asap rokok, asap pembakaran sampah dan lain lain. Jika terus menerus terjadi maka udara tidak akan pernah sehat karena semakin menungkat tingkat radikal bebas maka akan semakin banyak racun yang terhirup oleh manusia dan hewan serta tumbuhan. Dengan demikian kandungan oksigen dalam udara semakin menipis.
  2. Menyebabkan hujam asam – Penggunaan bahan bakar fosil dapat melepaskan beberapa zat berbahaya ke udara seperti asam sulfat, karbonik,dan zat nitrit yang jika telah mengumpul diangkasa dan menjadi gumpalan awaan hitam maka ketika jatuh kebumi maka akan terjadi Proses terjadinya hujan asam. Hujan asam dapat merusak bahan bahan atau barang seni yang memounyai nilai sejarah yang tinggi seperti patung patung kenegaraan, monumen nasional, arca simbol keagamaan dan lain lain, dimana hujan asam tersebut mamapu merusak dan menghancurkan kalsium karbonat yang ada didalam lapisan dan bagian dalam benda benda penting tersebut.
  3. Menyebabkan pencemaran lingkungan tanah dan air – Hasil dari pembakaran bahan bakar fosil yang digunakan pada industri biokimia cenderung menghasilkan limbah yaitu sisa sisa proses pembakaran ketika kegiatan industri dilaksanakan. Limbah yang terbuang dapat mencemari dan meracuni lapisan tanah yang dapat membuat tumbuhan tidak dapat hidup secara normal dan mengakibatkan air tanah yang tercemar serta mampu mencemari air jika cara pembuangan limbah tidak benar . Misalnya jika dibuang pada danau atau laut maka akan menyebakan oksigen pada air menjadi berkurang dan dapat menyebabkan ekosistem penghuni dasar air berupa ikan, udang, kepiting, atau hewan hewan lain akan mati sehingga perlu memiliki cara pemanfaatan sampah dan limbah.
  4. Persediaan yang semakin menipis – Bahan bakar fosil sudah dipakai selama ratusan tahun sebagai bahan bakar kendaraan , kereta api, pesawat dan lain lain,. jika terus dipakai sampai beberapa abad kedepan dipastikan bahan bakar fosil akan habis .
  5. Berbahaya bagi kesehatan para pekerja tambang – Penambangan batu bara banyak membutuhkan banyak pekerja yaang bekerja selama berminggu minggu bahkan berbulan bulan tanpa menghirauakan akibat efek buruk yang dapat diakibatkan dari radiasi penguapan bau dan zat yang dalam batu bara. Jika terus menerus terhirup akan mengganggu sistem pernafasan, rongga hidung dan pembuluh darah menuju otak. Selain itu penambangan batu bara bisa merusak keseimbangan ekologi ketika tanah mengalami kehancuran dan kerusakan secara luas dan lebar.
  6. Harga bahan bakar yang tidak pernah mengalami penurunan – Dari tahun ketahun penggunaan bahan bakar fosil memang tak bisa terlepas dari kehidupan manusia seharaai hari. tetapi semakin tinggi permintaan masyarakat akan bahan bakar fosil seiring bertambahnya pemakaian untuk sumber energi kendaraan mereka, maka harga yang akan dipatok akan semakin memningkat setiap tahunnya.
  7. Meningkatkan efek buruk pada pemanasan global – Penggunaan bahan bakar fosil dapat menyebabkan radio aktif yang dihasilkan dari zat uranium dan thorium yang dilepaskan ke udara yang terus melayang layang kearah lapisan atmosfer bumi yang jika terus menerus berkelanjutan, udara sekitar atmosfer akan rusak dan menipis karena telah dicemari zat racun hasil pelepasan dari zat uranium dan thorium dan akibatnya terjadi pemanasan global dimana maana, bumi teras dua kali lebih panas dari beberapa tahun sebelumnya.
  8. Mempengaruhi perubahan iklim yang ekstrem – Dampak daari pelepasan emisi karbon hasil pembakaran dari bahan bakar fosil dapat menyebabkan kerusakan udara yang akan menimbulkan perubahan iklim yang ekstrem bahkan terkadang sulit diprediksi dengan akurat oleh badan yang menangani kondisi cuaca.
  9. Bahan bakar tidak dapat terbarukan – Bahan bakar fosil memang sangat bermanfaat bagi hajat hidup orang banyak, tetapi jika persediaannya telah habis maka tidak dapat didapatkan dengan mudah karena kemunculan bahan bakar fosil dalam jumlah yang saangat besar akan dapat ditemukan dalam seratus tahun kedepan. maka bahan bakar fosil adalah bahan bakar yang tak terbarukan yang aartinya jika telah dipakai saat ini maka besok tidak akan dapat terpakai lagi.



REFERENSI


https://scholar.google.co.id/citations?view_op=view_citation&hl=id&user=07FgWPUAAAAJ&citation_for_view=07FgWPUAAAAJ:Tyk-4Ss8FVUC


https://id.m.wikipedia.org/wiki/Bahan_bakar_fosil


https://m.liputan6.com/news/read/4511085/belajar-tentang-proses-pembentukan-bahan-bakar-fosil#:~:text=Bahan%20bakar%20fosil%20terbentuk%20karena,bahan%20bakar%20ini%20akan%20habis.


https://tirto.id/apa-itu-bahan-bakar-fosil-dan-bagaimana-proses-terbentuknya-ga5f


https://bobo.grid.id/read/083164882/contoh-pemanfaatan-bahan-bakar-fosil-dalam-kehidupan-sehari-hari?page=all


https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/kekurangan-dan-kelebihan-bahan-bakar-fosil


Pencemaran Udara : Dampak Pencemaran Udara Pada Lingkungan

Dampak Pencemaran Udara

Oleh : Fitria Febri Sahara

    Pertumbuhan aktivitas ekonomi dan urbanisasi yang cukup tinggi baik diperkotaan dan subperkotaan berpotensi besar dalam peningkatan penggunaan konsumsi energi. Pembakaran bahan bakar merupakah sumber pencemar utama yang dilepaskan udara speerti COx, NOx, SPM, Ox dan berbagai logam berat. Berlebihnya tingkat konsentrasi zat pencemar yang melampaui ambang batas toleransi yang diperkenankan akan mempunyai dampak negatif dan berbahaya terhadap lingkungan, baik bagi manusia, tumbuhan, hewan serta benda-benda material yang berakibat pada mata rantai berikutnya yaitu pada ekosistem flora dan fauna.

Dampak terhadap Kesehatan Manusia 

    Pada tingkat konsentrasi tertentu zat-zat pencemar udara berakibat langsung terhadap kesehatan manusia mulai dari iritasi saluran pernapasan, iritasi mata dan alergi kulit sampai pada timbulnya tumbuhan atau kanker paru. Terdapat 3 cara masuknya bahan pencemar udara kedalam tubuh manusia yaitu : 

1. Melalui Inhalasi

        Inhalasi adalah masuknya bahan pencemar udara ke tubuh manusia melalui sistem pernapasan, bahan pencemar ini dapat mengakibatkan gangguan pada paru-paru dans saluran pernapasan,selain itu pencemar kemudian masuk dalam peredaran darah dan menimbulkan akibat pada alat tubuh lain.Secara umum ada 3 faktor yang berpengaruh dalam proses inhalasi bahan pencemar ke dalam paru-paru yaitu komponen fisik, kimiari dan faktor penjamu (host)

2. Melalui Ingestasi

    Bahan pencemar udara berdiameter cukup besar tidak jaran masuk ke saluran pencernaan ketika makan atau minum, seperti juga halnya di paru-paru, maka bahan pencemar yang masuk kedalam pencernaan dapat menimbulkan efek lokal dan dapat pula meyebar keseluruh peredaran darah. 

3. Penetrasi kulit

Dampak terhadap Kesehatan Flora

    Tumbuh-tumbuhan memiliki reaksi yang bedar dalam menerima pengaruh perubahan atau gangguan akibat polusi udara dan perubahan lingkungan. hal ini terjadi karena banyak faktor yang berpengaruh diantaranya spesies tanaman, umur, keseimbangan nutrisi, kondisi tanaman, temperatur dan penyinaran. Beberapa contoh kerusakan yang terjadi pada gangguan nutrisional yang terjadi pada gangguan nutrisional dan gangguan atraksional bilogis adalah terjadinya penurunan tingkatan kandungan enzym, gangguan pada respon fisiologis adalahperuabhan pada sistem fotosintesa, sedag gangguan nampak secara visual adalah chlorosis, fleckong dan reduced crop yield.

Dampak terhadap Kesehatan Fauna

    Dampak negatid zat-zat pencemaran udara terhadap fauna tidak berbeda jauh dengan dampak terhadap manusia dan tumbuhan. Dampak langsung pada hewan terjadi bila ada interaksi melalui sistem pernapasan, secara tidak langsung terjadi melalui suatu perantara, baik tumbuhan atau perairan yang berfungsi sebagai bahan makanan hewan.

Dampak terhadap Material

    Dampak pencemaran udara terhadap material yaitu bangunan-bangunan, loga,, batuan, kulit dan lain-lain dapat digambarkan sebagai dampak pencemaran udara terhadap lingkungan alam sekeliling, timbulnya karat pada permukaan logam, yang meyebabkan terlepas serta berubahnya kemampuan elektris logam merupakan contoh pengaruh pencemaran udara yang cukup penting. Terdapat 3 faktor yang mempengaruhi kecepatan perkaratan pada logam yaitu kelembaban , tipe/jenis pencemar dan temperatur. 

    Pengaruh pencemaran udara terhadap batuan adalah terbentuknya noda/kotoran (Soiling) dan pelapukan (deterioration) batuan kapur yang umum digunakan sebagai bahan bangunan dan pemehatan marmer, selain itu pengaruh pemaparan sulfur dioksida terhadap kulit dan kertas akan meyebabkan terjadinya pelapukan. Contoh yang sering terjadi adalah rusaknya kulit-kulit dan karet pengikat buku pada perpustakaan.

Dampak Terhadap Terjadinya Hujan Asam



Pandangan bahwa masalah pencemaran udara semata-mata hanya merupakan masalah urban telah berubah setelah terjadinya hujan asam dan pencemaran regional lainnya dibeberapa negara. Hujan asam diartikan sebagai segala macam hujan dengan pH di bawah 5,6. Hujan secara alami bersifat asam (pH sedikit di bawah 6) karena karbondioksida (CO2) di udara yang larut dengan air hujan memiliki bentuk sebagai asam lemah. Jenis asam dalam hujan ini sangat bermanfaat karena membantu melarutkan mineral dalam tanah yang dibutuhkan oleh tumbuhan dan binatang.

Hujan asam disebabkan oleh belerang (sulfur) yang merupakan pengotor dalam bahan bakar fosil serta nitrogen di udara yang bereaksi dengan oksigen membentuk sulfur dioksida dan nitrogen oksida. Zat-zat ini berdifusi ke atmosfer dan bereaksi dengan air untuk membentuk asam sulfat dan asam nitrat yang mudah larut sehingga jatuh bersama air hujan. Air hujan yang asam tersebut akan meningkatkan kadar keasaman tanah dan air permukaan yang terbukti berbahaya bagi kehidupan ikan dan tanaman. Usaha untuk mengatasi hal ini saat ini sedang gencar dilaksanakan.

Secara alami hujan asam dapat terjadi akibat semburan dari gunung berapi dan dari proses biologis di tanah, rawa, dan laut. Akan tetapi, mayoritas hujan asam disebabkan oleh aktivitas manusia seperti industri, pembangkit tenaga listrik, kendaraan bermotor dan pabrik pengolahan pertanian (terutama amonia). Gas-gas yang dihasilkan oleh proses ini dapat terbawa angin hingga ratusan kilometer di atmosfer sebelum berubah menjadi asam dan terdeposit ke tanah.

Hujan asam karena proses industri telah menjadi masalah yang penting di Republik Rakyat Cina, Eropa Barat, Rusia dan daerah-daerah di arahan anginnya. Hujan asam dari pembangkit tenaga listrik di Amerika Serikat bagian Barat telah merusak hutan-hutan di New York dan New England. Pembangkit tenaga listrik ini umumnya menggunakan batu bara sebagai bahan bakarnya.

Referensi : 

https://dpmg.bandaacehkota.go.id/2011/01/09/proses-terjadinya-hujan-asam/#:~:text=Hujan%20asam%20disebabkan%20oleh%20belerang,sulfur%20dioksida%20dan%20nitrogen%20oksida.

Afif Budiyono, Pencemaran Udara : Dampak Pencemaran Udara pada lingkungan ,Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim

 

PENCEMARAN AIR: SUMBER, DAMPAK DAN PENANGGULANGANNYA (@V25-Alfarizi)

 

PENCEMARAN AIR: SUMBER, DAMPAK DAN PENANGGULANGANNYA

Oleh : Rifki Alfarizi (@V25-Alfarizi)


Abstrak:
Air merupakan sumber kehidupan di muka bumi ini, kita semua bergantung pada air. Untuk itu diperlukan air yang dapat dipergunakan sebagaimana mestinya. Tapi pada akhir-akhir ini, persoalan penyediaan air yang memenuhi syarat menjadi masalah seluruh umat manusia. Dari segi kualitas dan kuantitas air telah berkurang yang disebabkan oleh pencemaran. Makalah ini membahas mengenai pencemaran air yang ditinjau dari sumber pencemaran, dampak serta penanggulangan pencemaran tersebut. Selain itu juga dijelaskan mengenai indikator pencemaran air dan pengertian pencemaran air. Diharapkan makalah ini dapat memberikan informasi bagi kita semua, sehingga akan dapat mengurangi pencemaran yang terjadi dan akan didapat air yang aman, bersih dan sehat.  


  1. Latar Belakang
    Air merupakan komponen lingkungan yang penting bagi kehidupan. Makhluk hidup di muka bumi ini tak dapat terlepas dari kebutuhan akan air. Air merupakan kebutuhan utama bagi proses kehidupan di bumi, sehingga tidak ada kehidupan seandainya di bumi tidak ada air. Namun demikian, air dapat menjadi malapetaka bilamana tidak tersedia dalam kondisi yang benar, baik kualitas maupun kuantitasnya.
    Air yang relatif 2 bersih sangat didambakan oleh manusia, baik untuk keperluan hidup sehari-hari, untuk keperluan industri, untuk kebersihan sanitasi kota, maupun untuk keperluan pertanian dan lain sebagainya. Dewasa ini, air menjadi masalah yang perlu mendapat perhatian yang serius. Untuk mendapat air yang baik sesuai dengan standar tertentu, saat ini menjadi barang yang mahal, karena air sudah banyak tercemar oleh bermacam-macam limbah dari berbagai hasil kegiatan manusia. Sehingga secara kualitas, sumberdaya air telah mengalami penurunan. Demikian pula secara kuantitas, yang sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan yang terus meningkat. 
  2. Tujuan Penulisan
    Berdasarkan latar belakang di atas, maka tulisan ini bertujuan untuk mengupas mengenai pencemaran air. Secara khusus, akan dibahas sumber, dampak dan penganggulangan pencemaran air yang tidak lepas dari pengertian dan persfektif hukum dari pencemaran air serta indikator pencemaran tersebut. Diharapkan dengan adanya penjelasan mengenai dampak pencemaran air beserta penanggulangannya, maka akan timbul kesadaran dari kita semua. Yang pada akhirnya pencemaran dapat dikurangi dan akan didapat sumber air yang aman. 
Pencemaran Air
Pencemaran air dapat menimbulkan ancaman serius bagi lingkungan serta kehidupan.  Efek polutan dapat bervariasi tergantung pada jenis dan sumbernya.  Misalnya, sementara logam hcavy, pewarna, dan beberapa polutan organik lainnya telah diidentifikasi sebagai karsinogen, hormon, farmasi, dan kosmetik dan limbah produk perawatan pribadi dikenal sebagai bahan kimia pengganggu endokrin.  Polutan-polutan yang masuk ke badan air melalui berbagai saluran tetapi didominasi oleh antropogenik, telah menjadi perhatian besar para pemerhati lingkungan karena berbagai bahaya yang ditimbulkannya terhadap lingkungan (Inyinbor dkk, 2018).

Istilah pencemaran air atau polusi air dapat dipersepsikan berbeda oleh satu orang dengan orang lainnya mengingat banyak pustaka acuan yang merumuskan definisi istilah tersebut, baik dalam kamus atau buku teks ilmiah. Pengertian pencemaran air juga didefinisikan dalam Peraturan Pemerintah, sebagai turunan dari pengertian pencemaran lingkungan hidup yang didefinisikan dalam undang-undang. 

Dalam praktek operasionalnya, pencemaran lingkungan hidup tidak pernah ditunjukkan secara utuh, melainkan sebagai pencemaraan dari komponen-komponen lingkungan hidup, seperti pencemaran air, pencemaran air laut, pencemaran air tanah dan pencemaran udara. 

Dengan demikian, definisi pencemaran air mengacu pada definisi lingkungan hidup yang ditetapkan dalam UU tentang lingkungan hidup yaitu UU No. 23/1997. Dalam PP No. 20/1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air, pencemaran air didefinisikan sebagai : “pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya mahluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiaan manusia sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya” (Pasal 1, angka 2). Definisi pencemaran air tersebut dapat PENCEMARAN AIR - Pengertian, Indikator - Standar baku mutu DAMPAK - Terhadap biota air - Terhadap air tanah - Terahadap kesehatan - Terhadap estetika PENANGGULA NGAN - Secara teknis - Secara non teknis - Kebijakan SUMBER - Industri - Rumah tangga (pemukiman) - Pertanian, perkebunan dll. 5 diuraikan sesuai makna pokoknya menjadi 3 (tga) aspek, yaitu aspek kejadian, aspek penyebab atau pelaku dan aspek akibat (Setiawan, 2001).  

Indikator pencemaran air 

Indikator atau tanda bahwa air lingkungan telah tercemar adalah adanya perubahan atau tanda yang dapat diamati yang dapat digolongkan menjadi :
  • Pengamatan secara fisis, yaitu pengamatan pencemaran air berdasarkan tingkat kejernihan air (kekeruhan), perubahan suhu, warna dan adanya perubahan warna, bau dan rasa.
  • Pengamatan secara kimiawi, yaitu pengamatan pencemaran air berdasarkan zat kimia yang terlarut, perubahan pH.
  • Pengamatan secara biologis, yaitu pengamatan pencemaran air berdasarkan mikroorganisme yang ada dalam air, terutama ada tidaknya bakteri pathogen.
Indikator yang umum diketahui pada pemeriksaan pencemaran air adalah pH atau konsentrasi ion hydrogen, oksigen terlarut (Dissolved Oxygen, DO), kebutuhan oksigen biokimia (Biochemiycal Oxygen Demand, BOD) serta kebutuhan oksigen kimiawi (Chemical Oxygen Demand, COD). 

pH atau Konsentrasi Ion Hidrogen 

Air normal yang memenuhi syarat untuk suatu kehidupan mempunyai pH sekitar 6,5 – 7,5. Air akan bersifat asam atau basa tergantung besar kecilnya pH. Bila pH di bawah pH normal, maka air tersebut bersifat asam, sedangkan air yang mempunyai pH di atas pH normal bersifat basa. Air limbah dan bahan buangan industri akan mengubah pH air yang akhirnya akan mengganggu kehidupan biota akuatik. 
Sebagian besar biota akuatik sensitif terhadap perubahab pH dan menyukai pH antara 7 – 8,5. Nilai pH sangat mempengaruhi proses biokimiawi perairan , misalnya proses nitrifikasi akan berakhir pada pH yang rendah. Pengaruh nilai pH pada komunitas biologi perairan dapat dilihat pada table di bawah ini : 

Tabel : Pengaruh pH Terhadap Komunitas Biologi Perairan 

Pada pH < 4, sebagian besar tumbuhan air mati karena tidak dapat bertoleransi terhadap pH rendah. Namun ada sejenis algae yaitu Chlamydomonas acidophila mampu bertahan pada pH =1 dan algae Euglena pada pH 1,6. 

Oksigen terlarut (DO)
Tanpa adanya oksegen terlarut, banyak mikroorganisme dalam air tidak dapat hidup karena oksigen terlarut digunakan untuk proses degradasi senyawa organic dalam air. Oksigen dapat dihasilkan dari atmosfir atau dari reaksi fotosintesa algae. Oksigen yang dihasilkan dari reaksi fotosintesa algae tidak efisien, karena oksigen yang terbentuk akan digunakan kembali oleh algae untuk proses metabolisme pada saat tidak ada cahaya. Kelarutan oksigen dalam air tergantung pada temperature dan tekanan atmosfir. 8 Berdasarkan data-data temperature dan tekanan, maka kalarutan oksigen jenuh dalam air pada 25o C dan tekanan 1 atmosfir adalah 8,32 mg/L (Warlina, 1985).

Kebutuhan Oksigen Biokimia (BOD) 
Dekomposisi bahan organic terdiri atas 2 tahap, yaitu terurainya bahan organic menjadi anorganik dan bahan anorganik yang tidak stabil berubah menjadi bahan anorganik yang stabil, misalnya ammonia mengalami oksidasi menjadi nitrit atau nitrat (nitrifikasi). Pada penentuan nilai BOD, hanya dekomposisi tahap pertama ynag berperan, sedangkan oksidasi bahan anorganik (nitrifikasi) dianggap sebagai zat pengganggu. Dengan demikian, BOD adalah banyaknya oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme dalam lingkungan air untuk memecah (mendegradasi) bahan buangan organic yang ada dalam air menjadi karbondioksida dan air. Pada dasarnya, proses oksidasi bahan organic berlangsung cukup lama. Menurut Sawyer dan McCarty, 1978 (Effendi, 2003).

Kebutuhan Oksigen Kimiawi (COD) 
COD adalah jumlah oksigen yang diperlukan agar bahan buangan yang ada dalam air dapat teroksidasi melalui reaksi kimia baik yang dapat didegradasi secara biologis maupun yang sukar didegradasi. Seperti pada BOD, perairan dengan nilai COD tinggi tidak diinginkan bagi kepentingan perikanan dan pertanian. Nilai COD pada perairan yang tidak tercemar biasanya kurang dari 20 mg/L, sedangkan pada perairan tercemar dapat lebih dari 200 mg/L dan pada limbah industri dapat mencapai 60.000 mg/L (UNESCO,WHO/UNEP, 1992).

Sumber Pencemaran Air
Banyak penyebab sumber pencemaran air, tetapi secara umum dapat dikategorikan menjadi 2 (dua) yaitu sumber kontaminan langsung dan tidak langsung. Sumber langsung meliputi efluen yang keluar dari industri, TPA sampah, rumah tangga dan sebagainya. Sumber tak langsung adalah kontaminan yang memasuki badan air dari tanah, air tanah atau atmosfir berupa hujan (Pencemaran Ling. Online, 2003). Pada dasarnya sumber pencemaran air berasal dari industri, rumah tangga (pemukiman) dan pertanian. Tanah dan air tanah mengandung sisa dari aktivitas pertanian misalnya pupuk dan pestisida. 
Kontaminan dari atmosfir juga berasal dari aktifitas manusia yaitu pencemaran udara yang menghasilkan hujan asam. Pengaruh bahan pencemar yang berupa gas, bahan terlarut, dan partikulat terhadap lingkungan perairan dan kesehatan manusia dapat ditunjukkan secara skematik sebagai berikut : 


a. Limbah Manusia
Berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2013, ternyata 780 juta penduduk (sekitar 11 persen dari populasi dunia) tidak memiliki akses terhadap air bersih (air minum). Sedangkan 2,5 miliar ( sekitar 40 persen dari populasi dunia) ternyata tidak memiliki fasilitas sanitasi yang layak (tidak memiliki toilet, tidak memiliki toilet yang layak). Dari data tersebut sudah dapat diduga bahwa Sebagian limbah manusia memasuki kawasan perairan tanpa mengalami pengolahan terlebih dahulu, sehingga terjadi pencemaran terhadap air permukaan dan air bawah tanah.

b. Limbah Nutrisi

Secara teori dan praktek limbah dapat dikelola dan dijadikan kompos atau pupuk, dengan demikian terjadi pengembalian nutrisi ke lingkungan. Di mana nutrisi seperti nitrogen dan fosfor akan dimanfaatkan kembali oleh mikroorganisme dan makroorganisme di sekitar perairan. Persoalan mendasar ialah jumlah limbah yang masuk atau dimasukkan ke perairan dalam volume yang sangat besar, sehingga kemampuan sumberdaya perairan untuk merehabilitasi dirinya sendiri menjadi terlampaui. Dapat diistilahkan lebih besar pasak daripada tiang, sehingga yang terjadi adalah kondisi lingkungan menjadi semakin memprihatinkan, kotor, tidak terawatt bahkan cenderung membahayakan.

c. Air Limbah

Limbah cair merupakan limbah yang berwujud cair. Limbah cair terlarut dalam air, selalu berpindah, dan tidak pernah diam. Contoh limbah cair adalah air bekas mencuci pakaian, air bekas pencelupan warna pakaian, dan sebagainya (Said, 2011). Selain itu saluran air yang keluar dari pabrik biasanya mengeluarkan limbah industri, yang mengalir ke badan-badan air mulai selokan, parit, sungai, bahkan sampai ke lautan. Sejak tahun 1970-an sudah mulai muncul kesadaran akan pentingnya pengelohan limbah cair yang dirintis oleh Environmental Protection Agency (EPA), Amerika Serikat. Sedangkan di Indonesia telah diterbitkan antara lain Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: KEP-51/MENLH/10/1995 Tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri. Baku mutu limbah cair tersebut mencangkup 21 jenis industry.

d. Limbah Kimia

Beberapa contoh limbah kimia yang menimbulkan pencemaran air dan sangat beracun ialah polychlorinated biphenyls (PCB). Berdasarkan catatan Greenfact (2003), sekitar 10 persen dari PCB yang diproduksi sejak tahun 1929 masih tetap ada di lingkungan saat ini. Sekitar 209 macam molekul PCB telah berhasil dibentuk, yaitu dengan menggunakan atom karbon, hidrogen dan klor. Penggunaan dan produksi PCB saat ini dilarang atau dibatasi di banyak negara. Penggunaan PCB misalnya untuk peralatan listrik, pelapis permukaan, tinta dan cat. Limbah yang mengandung PCB biasanya dibakar atau disimpan ditempat pembuangan sampah. Namun PCB ini sangat mudah larut dalam air, sehingga dalam satu penelitian terbukti pada contoh burung dan ikan yang ada di Arktik (salah satu wilayah di kutub Utara), positif mengandung PCB (Woodford, 2014). Dengan demikian, PCB sebagai polutan telah menempuh jarak ribuan mil melalui lautan. PCB tersebut bisa saja berasal dari Rusia, Alaska, Kanada, Islandia atau Nonlvegia.

Jenis polutan lainnya yang berpotensi meracuni ekosistem perairan ialah logam berat seperti cadmium (Cd), merkuri (Hg), Timbal (Pb) dan Arsen (As). Saifullah (2013) menjelaskan, bahwa beberapa kasus pencemaran air yang menimbulkan korban manusia seperti pada akhir tahun tahun 1950, yaitu mewabahnya penyakit yang sangat mengerikan, yang terkenal sebagai pemyakit itai-itai (aduh-aduh). Lokasi penyebaran penyakit sekitar tiga km di sepanjang Sungai Jintsu, Toyama, Jepang. Penyebabnya ternyata Sungai Jintsu telah terkontaminasi polutan, terutana cadmium (Cd) yang bersumber dari limbah pertambangan seng (Zn). Hasil penelitian menunjukkan, bahwa kadar Cd dalam beras dari pesawahan di Toyama 10 kali lebih tinggi dengan beras dari daerah lainnya. Hal itu menunjukkan, bahwa pesawahan di sekitar Toyama mendapat pengairan dari Sungai Jintsu yang sudah tercemar salah satu logam berat tersebut.

e. Limbah Radioaktif

Menurut WNA (2015), tujuan utama dalam mengelola dan membuang limbah radioaktif (atau lainnya) adalah untuk melindungi masyarakat dan lingkungan. Hal tersebut berarti mengisolasi atau menipiskan limbah sehingga tingkat atau konsentrasi dari setiap radionuklida kembali ke biosfer tidak berbahaya. Untuk itu, hampir semua limbah yang menjalani pengelolaan, beberapa di antaranya membutuhkan perlakuan berupa penguburan secara permanen. Sementar di pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) tidak diperbolehkan menimbulkan pencemaran yang membahayakan. Pada dasarnya semua limbah beracun harus dikelola dengan baik, bukan hanya limbah radioaktif. Sementara di negara-negara yang memiliki kekuatan nuklir, limbah radioaktif kurang dari satu persen dari total limbah beracun yang dibuang industri.

f. Limbah Minyak

Penyebab pencemaran air yang tak kalah pentingnya ialah limbah minyak. Industri minyak bumi memiliki potensi sebagai sumber dampak terhadap pencemaran air, tanah dan udara baik secara langsung maupun tidak langsung. Minyak yang merembes ke dalam tanah dapat menyebabkan tertutupnya suplai oksigen dan meracuni mikroorganisme tanah sehingga mengakibatkan kematian mikroorganisme tersebut. Tumpahan minyak di lingkungan dapat mencemari tanah dan perairan hingga ke daerah sub-surface dan lapisan aquifer air tanah. Jumlah tanah yang terkontaminasi minyak bumi yang dihasilkan dalam proses produksi minyak telah meningkat ribuan ton setiap tahun di lndoesia (Yudono, dkk, 2009). Sementara menurut Prince (2003), Hidrokarbon minyak bumi merupakan kontaminan yang paling luas yang mencemari lingkungan. Kecelakaan tumpahan minyak yang terjadi sering mengakibatkan kerusakan lingkungan yang serius. Tingkat pencemaran yang berat mampu membunuh berbagai jenis organisme air atau tanah dan menyebabkan lingkungan mengalami kerusakan yang bersifat permanen.

g. Limbah Plastik

Limbah plastik merupakan salah satu sumber polutan yang menimbulkan pencemaran air, baik di lautan, sungai, danau dan badan perairan lainnya. Bahkan limbah plastik mengancam keberadaan air tanah, terutama dengan kemampuannya untuk menghalangi inflltrasi air hujan masuk ke dalam pori-pori tanah. Jika diakumulasikan secara keseluruhan, ratusan km2 lahan di permukaan Bumi ini tertutup oleh plastik yang salah satu sifatnya sulit diuraikan. 


Komponen Pencemaran Air 

Saat ini hampir 10 juta zat kimia telah dikenal manusia, dan hampir 100.000 zat kimia telah digunakan secara komersial. Kebanyakan sisa zat kimia tersebut dibuang ke badan air atau air tanah. Sebagai contoh adalah pestisida yang biasa digunakan di pertanian, industri atau rumah tangga, detergen yang biasa digunakan di rumah tangga atau PCBs yang biasa digunakan pada alat-alat elektronik. Erat kaitannya dengan masalah indikator pencemaran air, ternyata komponen pencemaran air turut menentukan bagaimana indikator tersebut terjadi. Menurut Wardhana (1995), komponen pencemaran air yang berasal dari industri, rumah tangga (pemukiman) dan pertanian dapat dikelompokkan sebagai bahan buangan: 

  • padat 
  • cairan berminyak 
  • organic dan olahan bahan makanan
  • berupa panas
  • anorganik
  • zat kimia


Dampak Pencemaran Air

Pencemaran air dapat berdampak sangat luas, misalnya dapat meracuni air minum, meracuni makanan hewan, menjadi penyebab ketidak seimbangan ekosistem sungai dan danau, pengrusakan hutan akibat hujan asam dsb. Di badan air, sungai dan danau, nitrogen dan fosfat dari kegiatan pertanian telah menyebabkan pertumbuhan tanaman air yang di luar kendali yang disebut eutrofikasi (eutrofication). Ledakan pertumbuhan tersebut menyebabkan oksigen yang seharusnya digunakan bersama oleh seluruh hewan/tumbuhan air, menjadi berkurang. Ketika tanaman air tersebut mati, dekomposisinya menyedot lebih banyak oksigen. Akibatnya ikan akan mati dan aktivitas bakteri akan menurun. Dampak pencemaran air pada umumnya dibagi dalam 4 kategori (KLH, 2004)
  1. dampak terhadap kehidupan biota air.
  2. dampak terhadap kualitas air tanah.
  3. dampak terhadap kesehatan.
  4. dampak terhadap estetika lingkungan.

    1. Dampak terhadap kehidupan biota air 

      Banyaknya zat pencemar pada air limbah akan menyebabkan menurunnya kadar oksigen terlarut dalam air tersebut. Sehingga akan mengakibatkan kehidupan dalam air yang membutuhkan oksigen terganggu serta mengurangi perkembangannya. Selain itu kematian dapat pula disebabkan adanya zat beracun yang juga menyebabkan kerusakan pada tanaman dan tumbuhan air. Akibat matinya bakteri-bakteri, maka proses penjernihan air secara alamiah yang seharusnya terjadi pada air limbah juga terhambat. Dengan air limbah menjadi sulit terurai. Panas dari industri juaga akan membawa dampak bagi kematian organisme, apabila air limbah tidak didinginkan dahulu. 

    2. Dampak terhadap kualitas air tanah

      Pencemaran air tanah oleh tinja yang biasa diukur dengan faecal coliform telah terjadi dalam skala yang luas, hal ini telah dibuktikan oleh suatu survey sumur dangkal di Jakarta. Banyak penelitian yang mengindikasikan terjadinya pencemaran tersebut. 

    3. Dampak terhadap kesehatan

      Peran air sebagai pembawa penyakit menular bermacam-macam antara lain :

      - air sebagai media untuk hidup mikroba pathogen
      - air sebagai sarang insekta penyebar penyakit
      - jumlah air yang tersedia tak cukup, sehingga manusia bersangkutan tak dapat membersihkan diri
      - air sebagai media untuk hidup vector penyakit

      Ada beberapa penyakit yang masuk dalam katagori water-borne diseases, atau penyakit-penyakit yang dibawa oleh air, yang masih banyak terdapat di daerah-daerah. Penyakit-penyakit ini dapat menyebar bila mikroba penyebabnya dapat masuk ke dalam sumber air yang dipakai masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sedangkan jenis mikroba yang dapat menyebar lewat air antara lain, bakteri, protozoa dan metazoa.
    4. Dampak terhadap estetika lingkungan

      Dengan semakin banyaknya zat organic yang dibuang ke lingkungan perairan, maka perairan tersebut akan semakin tercemar yang biasanya ditandai dengan bau yang menyengat disamping tumpukan yang dapat mengurangi estetika lingkungan. Masalah limbah minyak atau lemak juga dapat mengurangi estetika. Selain bau, limbah tersebut juga menyebabkan tempat sekitarnya menjadi licin. Sedangkan limbah detergen atau sabun akan menyebabkan penumpukan busa yang sangat banyak. Inipun dapat mengurangi estetika. 

Penanggunalan Pencemaran Air 

Pengendalian/penanggulangan pencemaran air di Indonesia telah diatur melalui Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas dan Pengendalian Pencemaran Air. Secara umum hal ini meliputi pencemaran air baik oleh instansi ataupun non-instansi. Salah satu upaya serius yang telah dilakukan Pemerintah dalam pengendalian pencemaran air adalah melalui Program Kali Bersih (PROKASIH). Program ini merupakan upaya untuk menurunkan beban limbah cair khususnya yang berasal dari kegiatan usaha skala menengah dan besar, serta dilakukan secara bwertahap untuk mengendalikan beban pencemaran dari sumber-sumber lainnya. Program ini juga berusaha untuk menata pemukiman di bantaran sungai dengan melibatkan masyarakat setempat (KLH, 2004). 

Pada prinsipnya ada 2 (dua) usaha untuk menanggulangi pencemaran, yaitu penanggulangan secara non-teknis dan secara teknis. Penanggulangan secara non-teknis yaitu suatu usaha untuk mengurangi pencemaran lingkungan dengan cara menciptakan peraturan perundangan yang dapat merencanakan, mengatur dan mengawasi segala macam bentuk kegiatan industri dan teknologi sehingga tidak terjadi pencemaran. Peraturan perundangan ini hendaknya dapat memberikan gambaran secara jelas tentang kegiatan industri yang akan dilaksanakan, misalnya meliputi AMDAL, pengaturan dan pengawasan kegiatan dan menanamkan perilaku disiplin. Sedangkan penanggulangan secara teknis bersumber pada perlakuan industri terhadap perlakuan buangannya, misalnya dengan mengubah proses, mengelola limbah atau menambah alat bantu yang dapat mengurangi pencemaran. 

  • Mengelola penggunaan detergen dengan baik Detergen merupakan salah satu produk yang mengandung banyak zat kimia yang sulit terurai sehingga beresiko menyebabkan pencemaran air. Oleh sebab itu, dalam menggunakan detergen untuk mencuci pakaian, ada baiknya Anda mengelola penggunaannya dengan baik. Selain itu, pilih pula detergen yang sisa zat kimianya biasa terurai dengan baik alias ramah lingkungan.

  • Mengolah dan membuang limbah rumah tangga dengan tepat Mencegah masalah pencemaran air juga bisa dilakukan dengan menerapkan beberapa kebiasaan baik. Salah satunya adalah dengan mengolah serta membuang limbah rumah tangga dengan tepat. Hindari membuang sampah rumah tangga ke sungai atau danau karena hal tersebut bisa mengganggu keberlangsungan ekosistem di lingkungan itu sendiri. Selain itu, kelola sampah dengan baik, misalnya memisahkan sampah organik dan anorganik.

  • Mengganti bahan kimia pemberantas hama dengan memanfaatkan musuh alami dan parasitoid Sebenarnya, produk kimia pemberantas hama seperti insektisida dan sejenisnya bisa diganti dengan menggunakan cara alternatif lainnya. Cara alternatif yang dimaksud adalah dengan menggunakan musuh alami dan parasitoid. Dengan salah satu upaya penanggulangan pencemaran air ini, lingkungan menjadi lebih aman dan tidak meninggalkan dampak buruk bagi kesehatan.

  • Mengganti pupuk kimia dengan pupuk organik dan kompos Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mencegah dan mengatasi masalah pencemaran air adalah dengan membatasi penggunaan pupuk kimia. Pupuk kimia merupakan salah satu produk yang memiliki kandungan nitrat dan fosfat tinggi. Jika digunakan secara berlebihan, zat tersebut bisa memicu pencemaran air. Sebaliknya, menggunakan pupuk organik atau pupuk kompos akan tetap memberikan efek kesuburan tanah tanpa menciptakan resiko pencemaran air.

  • Mengolah limbah cair dari industri atau pabrik Pabrik atau industri merupakan salah satu contoh sumber pencemaran air. Oleh karena itu, mengelola limbah cair yang dialirkan ke sungai atau lainnya adalah hal yang penting untuk diperhatikan. Anda sendiri bisa menetralkan, mengendapkan, atau menyaring limbah tersebut sebelum dialirkan ke sungai, danau, atau bahkan laut.

  • Membuat penampungan limbah (septic tank) Baik rumah tangga maupun perkantoran harus memiliki bak penampungan limbah alias septic tank yang memadai. Dengan begitu, masalah pencemaran air oleh limbah buangan setiap harinya bisa teratasi. Selain itu, penanggulangan pencemaran air dengan septitank atau bak penampungan limbah ini juga perlu diterapkan untuk area khusus seperti rumah sakit dan kawasan peternakan.

  • Menangkap ikan dengan cara alami Biasanya, orang yang lebih mengutamakan hasil instan dalam mencari ikan akan memanfaatkan bahan peledak untuk mendapatkan banyak hasil tangkapan. Namun, hal ini bukanlah cara yang tepat karena bahan peledak mengandung berbagai zat kimia berbahaya yang bisa tertinggal di air dan memicu pencemaran air. Anda bisa berkontribusi dalam upaya menanggulangi pencemaran air dengan menggunakan cara alami dalam menangkap ikan. Cara alami yang dimaksud bisa menggunakan jala atau pancing. Dengan begitu, regenerasi ikan dalam berlanjut dengan baik.

  • Membuat perencanaan AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) Upaya yang terakhir pada bahasan kali ini adalah menerapkan perencanaan AMDAL dengan baik. Upaya ini wajib dipertimbangkan ketika melakukan pembangunan berskala besar seperti pembangunan kawasan industri. Dengan mendapatkan analisis dampak lingkungan dari pembangunan industri tersebut, pihak yang membangun industri terkait bisa menerapkan cara penanggulangan pencemaran air yang tepat agar tidak terjadi kerusakan pada lingkungan.


 Referensi

  1. Achmadi, Umar Fachmi, Prof. Dr.MPH, Ph.D, Peranan Air Dalam Peningkatan Kesehatan Masyarakat, http://www.bpkpenabur.or.id/kps-jkt/berita/200104/lap-perananair.pdf., dikunjungi 5/3/2004.
  2. Air Kita Diracuni, http://www.walhi.or.id/Indonesia/kampanye/Air/airdiracuni.htm, dikunjungi 21/3/2004.
  3. Bali Post, 14 Agustus 2003, Penggunaan Pestisida Pengaruhi Air, http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2003/8/14/nt1hl.htm, dikunjungi 5/3/2004.
  4. Effendi, Hefni, 2003, Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
  5. Kementerian Lingkungan Hidup, 2004, Pengendalian Pencemaran Air, Jakarta.
  6. Pencemaran Lingkungan Online, Pencemaran Air, http://www.tlitb.org/plo/air.html, dikunjungi 5/3/2004.
  7. Pikiran Rakyat, 8 Juni 2003, Kemarau Tiba Saguling Makin Tercemar, http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0603/08/0106.htm, dikunjungi 21/3/2004.
  8. Pikiran Rakyat, 25 Agustus 2003, Penambangan Emas Ciherang Cemari Lingkungan Warga, http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0803/25/0301.htm, dikunjungi 14/3/2004.
  9. Republika Online, 17 Peb. 2003, Penelitian KIRJU: Pencemaran, Kerugian Bagi Nelayan dan Petambak, http://www.forek.or.id/detail.php?rubrik=pendidikan&beritaID=1207, dikunjungi 23 21/3/2004.
  10. Setiawan, Hendra, Agustus 2001, Pengertian Pencemaran Air Dari Perspektif Hukum, http://www.menlh.go.id/airnet/Artikel01.htm, dikunjungi 7/3/2004.
  11. Wardhana, Wisnu Aria, 1995, Dampak Pencemaran Lingkungan, Penerbit Andi Offset Jogyakarta, Jogyakarta.
  12. Warlina, Lina, 1985, Pengaruh Waktu Inkubasi BOD Pada Berbagai Limbah, FMIPA Universitas Indonesia, Jakarta

Jumat, 13 Mei 2022

PENGOLAHAN LIMBAH INDUSTRI PERHOTELAN DENGAN INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH (IPAL)

 Oleh : Aziz Affandi (@V04-Aziz)


BAB I 

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

        Usaha perhotelan yang berkembang cepat,  limbah  rumah   tangga yang semakin   berlimpah mengakibatkan   timbulnya   pencemaran   yang    semakin meningkat  dari   tahun   ke   tahun.  Limbah  cair  yang   berasal  dari   hotel  dapat digolongkan sebagai limbah domestik atau  limbah rumah  tangga. Namun perbedaannya adalah limbah yang  berasal dari hotel jauh lebih banyak daripada limbah  yang   berasal  dari  rumah   tangga.  Oleh  sebab itu  perlu  dilakukan  dan dikembangkan  suatu usaha  untuk  dapat mengatasi  atau   mengurangi  dampak negatif oleh kegiatan tersebut.

        Limbah cair yang berasal dari hotel berkisar 150 – 220 L/orang/hari.   seiring  dengan  kapasitas  tamu   atau   pengunjung  yang masuk setiap hari. Sumber limbah cair hotel biasanya berasal dari kamar  mandi, maupun wc (MCK), loundry, dapur,  restaurant, bar,  ac  sentral atau  yang  sendiri- sendiri, yang masing-masing mempunyai karakteristik atau  sifat tersendiri.
        Limbah  dapat  didefenisikan  sebagai  buangan  yang   kehadirannya  pada suatu saat  dan   tempat  tertentu  tidak  dikehendaki  lingkungannya  karena tidak mempunyai  nilai  ekonomi.   Limbah  dapat  mengandung bahan  pencemar  yang bersifat racun  dan  berbahaya karena alasan warna,  isinya, kandungan anorganik atau  organik, kadar  garam, keasaman, alkalinitas dan sifat-sifat khas mereka yang beracun (Ginting, 1992).

1.2 Maksud dan Tujuan

        Mengatahui keefektifan sistem pengolahan air limbah  dalam meningkatkan kualitas  air  limbah  hotel  dan  membuat disain  perencanaan instalasi  pengolahan air limbah (IPAL) dan Re-use air di lingkungan perhotelan. 


BAB II
LANDASAN  TEORI

2.1 Limbah

        Limbah adalah buangan yang  dihasilkan dari  suatu proses produksi  baik industri  maupun domestik  (rumah   tangga). Di  mana masyarakat bermukim,   di sanalah berbagai jenis limbah akan  dihasilkan. Ada sampah, ada  air kakus (black water), dan  ada  air buangan dari berbagai aktivitas domestik lainnya (grey water).
        Limbah   padat   lebih   dikenal   sebagai sampah,   yang    seringkali   tidak dikehendaki  kehadirannya  karena  tidak  memiliki  nilai  ekonomis.  Bila  ditinjau secara kimiawi, limbah ini terdiri dari bahan kimia Senyawa organik dan  Senyawa anorganik.  Dengan konsentrasi dan  kuantitas  tertentu, kehadiran  limbah  dapat berdampak  negatif  terhadap  lingkungan  terutama  bagi   kesehatan  manusia, sehingga   perlu    dilakukan   penanganan   terhadap   limbah.   Tingkat   bahaya keracunan yang  ditimbulkan oleh limbah tergantung pada jenis dan  karakteristik limbah.

2.2 Pengolahan Limbah

        Beberapa faktor yang  memengaruhi kualitas limbah adalah volume limbah, kandungan  bahan   pencemar, dan frekuensi   pembuangan   limbah. Untuk mengatasi  limbah  ini  diperlukan  pengolahan  dan penanganan  limbah.  Pada dasarnya pengolahan limbah ini dapat dibedakan menjadi:
  1. pengolahan menurut tingkatan perlakuan
  2. pengolahan menurut karakteristik limbah
        Untuk  mengatasi berbagai limbah dan  air limpasan (hujan), maka  suatu kawasan  permukiman membutuhkan  berbagai  jenis  layanan  sanitasi.  Layanan sanitasi  ini   tidak  dapat  selalu  diartikan  sebagai  bentuk   jasa  layanan  yang disediakan  pihak  lain.  Ada  juga  layanan  sanitasi  yang  harus disediakan  sendiri oleh masyarakat, khususnya pemilik atau penghuni rumah, seperti jamban misalnya.

2.3 Karakteristik Limbah

  1. Berukuran mikro 
  2. Dinamis
  3. Berdampak luas (penyebarannya)
  4. Berdampak jangka panjang (antar  generasi) 

2.4 Limbah Industri

Berdasarkan karakteristiknya limbah industri dapat dibagi menjadi empat bagian, 
  1. Limbah cair biasanya dikenal sebagai entitas pencemar air. Komponen pencemaran air pada umumnya terdiri dari bahan buangan padat, bahan buangan organik dan  bahan buangan anorganik
  2. Limbah padat
  3. Limbah gas dan  partikel

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Kebutuhan Air di Hotel Sanur

        Berdasarkan hasil survai lapangan dan  dilanjutkan diskusi dengan pihak pengelola  hotel,  diperoleh  keterangan  tentang  pemakaian  air  dihotel. Air ini digunakan untuk  memenuhi kebutuhan sebanyak 100  kamar  yang ada, laundry, kolam renang, kolam ikan & siram taman serta untuk  memenuhi keperluan di dapur.  Untuk memenuhi kebutuhan air tersebut, maka  digunakan dua sumber air, yaitu dari air tanah dalam dan  dari PDAM. Dari hasil diskusi, diketahui pemakaian  air  rata-rata  per   hari  adalah  sekitar  115   m3/hari,   dengan  rincian sebagai berikut :

Keb. Air kamar                      = 100 x 0,25   = 25    m3/hari. 
Laundry                                                         = 30    m3/hari. 
Kolam renang                                                = 15    m3/hari. 
Dapur dll                                                        = 5      m3/hari. 
Air siram taman, kolam                                 = 40    m3/hari. 
TOTAL                                                           = 115  m3/hari.

3.2 Jumlah Air Limbah

        Pada   umumnya,  untuk    menentukan   jumlah   limbah   yang    dihasilkan didasarkan dari pemakaian air yang  berpotensi menjadi limbah. Untuk keperluan domestik pada umumnya jumlah limbahnya sebesar 80 – 90% dari pemakaian air yang   berpotensi  menjadi  limbah.  Berdasarkan  asumsi  tersebut,  maka   jumlah limbah yang dihasilkan oleh hotel Sanur sebesar :
Limbah dari kamar   = 100 x 0,25  x 90%         = 22,5 m3/hari. 
Limbah laundry         = 30 x 90 %                     = 27    m3/hari. 
Limbah dapur  dll      = 5 x 90 %                       = 4,5  m3/hari. 
TOTAL                                                               = 54   m3/hari. 
Perkiraan  jumlah  limbah  ini  akan   digunakan  sebagai  dasar disain  IPAL  yang direncanakan.

3.3 Sistem Pengumpulan Air Limbah

        Karena di hotel Sanur hanya tersedia satu calon lokasi IPAL yang sesuai,  maka   pengolahan  limbah  hotel  Sanur  ini  akan   menggunakan sistem terpusat. Untuk itu diperlukan satu sistem yang  dapat menyalurkan semua limbah yang  ada  menuju lokasi IPAL. Karena area hotel yang sangat luas (± 6 Ha) dan   datar   serta  sumber limbah  saat  ini  berada di  tengah-tengah  taman  yang sudah  tertata rapi,  maka   diperlukan  suatu  sistem yang  tidak  sederhana. Agar sistem dapat berjalan dengan baik, sesuai dengan rencana yang  diinginkan serta tidak mengganggu secara estitika dan  keindahan, maka  diperlukan perencanaan jaringan  yang  tepat   sesuai  dengan  tempat tersebut. Ada  dua  alternatif  sistem pengumpulan limbah yang  dapat dikerjakan serta jenis dan  sumber limbah yang akan  diolah di IPAL ini nanti. Gambar 1 menunjukkan sistem pengumpulan limbah dari sumbernya. 


Gambar 1 : Alternatif pengumpulan limbah dari sumbernya.

Keterangan :
  • Alternatif 1 : hanya limbah dari kamar  mandi (grey water) yang  akan  diolah di IPAL, sedangkan limbah toilet (black water) tetap  diresapkan ke dalam tanah.
  • Alternatif 2 : semua limbah dari kamar  mandi (grey water & black water) diolah di IPAL. dengan sistem dikumpulkan di bak pengumpul terlebih dahulu.

3.4 Teknologi IPAL yang Digunakan

Dalam  menentukan teknologi  proses pengolahan  air  limbah  Hotel  Sanur, didasarkan atas beberapa kriteria antara lain :
  • Efisiensi pengolahan dapat mencapai standar Baku Mutu Lingkungan,
  • Pengelolaannya harus mudah,
  • Lahan  yang diperlukan tidak terlalu besar,
  • Konsumsi energi sedapat mungkin rendah,
  • Biaya operasinya rendah,
  • Lumpur yang dihasilkan sedapat mungkin kecil,
  • Dapat  digunakan untuk air limbah dengan beban BOD yang cukup besar,
  • Dapat  menghilangkan padatan tersuspensi (SS) dengan baik,
  • Perawatannya mudah dan sederhana.
Berdasarkan kriteria tersebut di atas untuk  pengolahan air limbah Hotel Sanur yang  tepat  digunakan adalah kombinasi proses biofilter  anaerob-aerob. 

3.5 Sistem kelistrikan IPAL

     Peralatan dan  Mesin  di IPAL dan  system Re-use meliputi pompa feed air limbah di bak  equalisasi, pompa sirkulasi air limbah, blower udara, pompa feed sistem  re-use air  dan   dosing   klorin.  Semua  peralatan  dan   mesin   di  IPAL  ini dioperasikan dan  dikontrol melalui satu sistem di panel kontrol IPAL. Sedangkan pompa-pompa di masing-masing bak  pengumpul dipasang dan  dikontrol secara terpisah dari IPAL. Gambar 2 menunjukkan Wire diagram kelistrikan tersebut. 
Gambar 2 : Wire diagram kelistrikan IPAL dan Re-use


3.6 Lokasi Untuk IPAL
        IPAL dan  sistem  re-use air  limbah  hotel  Sanur  dengan kapasitas 60 m3/hari  rencananya akan  ditempatkan di ujung lapangan tenis. Saat ini lokasi tersebut merupakan lahan kosong yang  belum termanfaatkan dengan luas area yang  dapat digunakan seluas  8  x 15  m.
Gambar 3 : Foto calon lokasi IPAL yang direncanakan. 

Gambar 4 : Denah calon lokasi IPAL yang direncanakan.

3.7 Biaya dan Efisiensi

Biaya operasional dari instalasi pengolahan limbah dan  sistem re-use ini terdiri dari  biaya listrik untuk  pompa dan  blower, biaya perawatan peralatan dan mesin  dan  biaya  tenaga operator. Secara  rinci  jumlah  biaya  operasional  IPAL tersebut adalah :
a. Kebutuhan Listrik 
b. Biaya Perawatan = Rp 600.000/bulan
c. Tenaga operator IPAL Rp 1.250.000/orang/bulan.

Total Biaya Operasional IPAL

Dari  total biaya operasional IPAL  ini dapat dihitung juga besarnya biaya operasional untuk pengolahan limbah setiap meter  kubiknya, yaitu sebagai berikut :
  • Jumlah air limbah per hari           = 54 m3
  • Biaya pengolahan air limbah       = Rp.116.133/54 m3, atau 
                                                                = Rp 2.150  / m3 limbah.

Efisiensi :
Effisiensi yang  diperoleh dari sistem reuse ini diperoleh dari besarnya nilai rupiah dari jumlah air yang  dapat dihemat karena digantikan oleh air olahan IPAL ini. Secara rinci jumlah effisiensi yang diperoleh adalah sebagai berikut :
= ( Jumlah air yang di re-use x Harga  air ) – Biaya Operasional IPAL
= (54 m3/hari x Rp.22.000/m3) - Rp.116.133,- /hari
= Rp. 1.188.000 - Rp. 116.133,- / hari
= Rp. 1.071.867 / hari.
= Rp. 32.156.010 / bulan.
= Rp. 385.872.120 /tahun. 


BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil  analisis  tersebut di  atas, maka  dapat ditarik  beberapa kesimpulan, antara lain :
  • Rencana pengelolaan limbah dengan teknologi  IPAL dan  dilanjutkan  dengan Reuse  air   akan   dapat  digunakan   sebagai   solusi   permasalahan   bahaya pencemaran lingkungan dan menghindari terjadinya defisit air bersih.
  • Teknologi  re-use dapat menghemat pemakaian air bersih, tanpa mengurangi jumlah  pemakaian  air.  Program ini dapat menghemat pemakaian  air  sampai dengan 50%.
  • Ada   banyak  keuntungan  yang   akan   diperoleh   oleh   pengelola   hotel   jika gerakan  “Green   Hotel   &  Resort”   (upaya  pemanfaatan   kembali   air)   ini dilakukan antara lain :
    1. Akan   meningkatkan   image   di   masyarakat   sekitar   dan    internasional sehingga akan  meningkatkan tingkat hunian hotel.
    2. Menghindari   ternyadinya   konflik   sosial   dengan  masyarakat  di   sekitar karena persoalan kekurangan air bersih  dan pencemaran lingkungan.
    3. Menghindari  terjadinya  kerusakan lingkungan  (intrusi  air  laut,  penurunan muka daratan akibat penyedotan air bawah tanah)
    4. Memberikan lapangan kerja bagi operator IPAL,
    5. Mendapatkan keuntungan finasial, karena penurunan pajak pemakaian air.
    6. Sebagai hotel yang  pertama kali berpredikat “Green  Hotel”, maka  Sanur akan  menjadi pioneer di bidang pengolahan air limbah dan  akan dipublikasikan secara luas oleh berbagai media. 

4.2 Saran

Dalam Pendesainan  instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dan Re-use air di lingkungan perhotelan. Dapat  menggunakan teknologi yang memenuhi kriteria berikut :
  • Efisiensi pengolahan dapat mencapai standar Baku Mutu Lingkungan,
  • Pengelolaannya harus mudah,
  • Lahan  yang diperlukan tidak terlalu besar,
  • Konsumsi energi sedapat mungkin rendah,
  • Biaya operasinya rendah,
  • Lumpur yang dihasilkan sedapat mungkin kecil,
  • Dapat  digunakan untuk air limbah dengan beban BOD yang cukup besar,
  • Dapat  menghilangkan padatan tersuspensi (SS) dengan baik,
  • Perawatannya mudah dan  sederhana. 

DAFTAR PUSATAKA


Widayat, W. (2010). Pengolahan Air Limbah Industri Kecil Pelapisan Logam. Pusat Teknologi Lingkungan, BPP Teknologi, Jakarta.

Raka, I. G., & Yuliar, S. (1999). Paradigma Produksi Bersih: mendamaikan pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Nuansa.

Setiyono, S. (2009). Disain Perencanaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (Ipal) dan Re-use Air di Lingkungan Perhotelan. Jurnal Air Indonesia, 5(2).

Ratnawati, R., Al Kholif, M., & Sugito, S. (2014). Desain Instalasi Pengolahan Air Limbah (Ipal) Biofilter Untuk Mengolah Air Limbah Poliklinik Unipa Surabaya. Waktu: Jurnal Teknik UNIPA, 12(2), 73-82.

Wright, P. J., Ginting, Y. A., & Abbot, J. (1992). Kinetic Models for Peroxide Bleaching Under Alkaline Conditions, Part 2. Equilibrium Models. Journal of wood chemistry and technology, 12(1), 111-134.