.

Tampilkan postingan dengan label @ProyekD03. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @ProyekD03. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Februari 2018

Pencemaran Lingkungan Oleh Industri Kimia




Oleh : Gilang Pratama (f14-gilang)








Abstrak : 
Pencemaran lingkungan oleh industri kimia atau industri lainnya terjadi disemua industri, kawasan industri ata kota industri. dampaknya yang terpenting ialah menurunkan kualitas hidup manusia disekitarnya, bahkan dapat menimbulkan penyakit kronis. seperti hasil penelitian yang dilakukan oleh universitas california dan universitas michigan diwilayah alberta, kanada yang menunjukan bahwa makin tinggi tingkat kontminasi akibat polusi udar, maka makan tinggi pula jumlah penderit knker.


Kata kunci : Pencemaran lingkungn oleh industri kimia
Pengalaman beberapa negara berkembang khususnya negara-negara latin yang gandrung memakai teknologi dalam industri yang ditransfer dari negara-negara maju (core industry) untuk pembangunan ekonominya seringkali berakibat pada terjadinya distorsi tujuan. Keadaan ini terjadi karena aspek-aspek dasar dari manfaat teknologi bukannya dinikmati oleh negara importir, tetapi memakmurkan negara pengekpor atau pembuat teknologi. Negara pengadopsi hanya menjadi komsumen dan ladang pembuangan produk teknologi karena tingginya tingkat ketergantungan akan suplai berbagai jenis produk teknologi dan industri dari negara maju Alasan umum yang digunakan oleh negara-negara berkembang dalam mengadopsi teknologi (iptek) dan industri, searah dengan pemikiran Alfin Toffler maupun John Naisbitt yang meyebutkan bahwa untuk masuk dalam era globalisasi dalam ekonomi dan era informasi harus melewati gelombang agraris dan industrialis. Hal ini didukung oleh itikad pelaku pembangunan di negara-negara untuk beranjak dari satu tahapan pembangunan ke tahapan pembangunan berikutnya.

(Soemarwoto, 1991: 19). Lingkungan hidup adalah sistem yang merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya. keadaan dan mahluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dengan prilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan peri kehidupannya dan kesejahteraan manusia serta mahluk hidup lainnya (Soerjani, dalam Sudjana dan Burhan, 1996: 13).
Soemarwoto (1991: 50 -51) mengkategorikan sifat lingkungan hidup alas dasar: (1). Jenis dan jumlah masing-masing jenis unsur lingkungan hidup tersebut, (2). hubungan atau interaksi antara unsur dalam lingkungan hidup tersebut, (3). kelakuan atau kondisi unsur lingkungan hidup, dan (4). faktor-faktor non-materil, seperti cahaya dan kebisingan.

Joseph Schumpeter (dalam Marchinelli dan Smelser,1990 :14-20) mengisyaratkan tentang pentingnya inovasi dalam proses pembangunan ekonomi di suatu negara. Dalam hal ini, pesatnya hasil penemuan baru dapat dijadikan sebagai ukuran kemajuan pembangunan ekonomi suatu bangsa. Dari berbagai tantangan yang dihadapi dari perjalanan sejarah umat manusia, kiranya dapat ditarik selalu benang merah yang dapat digunakan sebagai pegangan mengapa manusia "survival" yaitu oleh karena teknologi. Teknologi memberikan kemajuan bagi industri baja, industri kapal laut, kereta api, industri mobil, yang memperkaya peradaban manusia.. Teknologi juga mampu menghasilkan sulfur dioksida, karbon dioksida, CFC, dan gas-gas buangan lain yang mengancam kelangsungan hidup manusia akibat memanasnya bumi akibat efek "rumah kaca".


Daftar pustaka :

  1. Hidayat atep afia dan M.kholil, 2017, buku Kimia industri dan teknologi hijau, pantona media, Jakarta
  2.  http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/3836/ssiologi-henry.pdf;jsessionid=2009041778DFA35D9F4C5923DB308783?sequence=1 (Diakses tanggal 03 Februari 2018)
  3. Soemarwoto, Olto., Ekologi lingkungan hidup dan pembangunan. Penerbit Djambatan, Jakarta, 1991.




PENGOLAHAN BIOFUEL MUTAGENIK EKSTRAK METANOL AMPAS BIJI JARAK


Oleh : Priyo Dwi Wijaksono (@F10-Priyo)









ABSTRAK
Biji jarak mengandug minyak yang dapat dimanfaatkan pada pembuatan sabun, kosmetik dan juga sebagai biofuel. Biji jarak mengandung senyawa ester phorbol yang bersifat toksik. Pengolahan minyak biji jarak menjadi biofuel menyisakan hasil samping berupa ampas biji yg jumlahnya cukup melimpah. Ekstrak dilakukan dengan cara maserasi dengan pelarut metanol. Hasil uji menunjukan bahwa ekstrak metanol ampas biji jarak tidak bersifat mutagenik terhadap bakteri S.typhimurium.

Kata Kunci : Metanol, Pengolahan Bahan, Biofuel

Isi :
             Jarak adalah tumbuhan yang sangat berguna, memiliki banyak manfaat, sekaligus sangat potensial. Biji jarak mengandung minyak yang dapat dimanfaatkan pada pembuatan sabun, kosmetik dan juga sebagai bahan bakar (biofuel). Pemanfaatan minyak biji jarak sebagai biofuel inilah yang membuat tumbuhan ini sangat potensial dikembangkan (Openshaw, 2000).

            Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah ampas biji jarak (Jatropha curcas L) yang merupakan sisa atau limbah pengolahan minyak biji jarak yang diperoleh pada bulan Mei 2009 dari Puspiptek (Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) Serpong. Penanganan yang dilakukan terhadap bahan/ampas yaitu pengeringan dan pengecilan ukuran ampas menjadi serbuk. Bahan lain yang digunakan adalah metanol, dimetilsulfoksida, natrium azida (NaN3), air suling, media nutrient broth (oxoid), glukosa, natrium klorida, histidin, biotin, magnesium sulfat, asam sitrat, kalium hidrogen sulfat, natrium amonium fosfat, homogenat hati S9, dan kristal violet.

            Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah Cawan Petri, inkubator, penghitung koloni, vortex, jarum ose, dan alat gelas lain yang lazim digunakan dalam laboratorium mikrobiologi.

Pembuatan ekstrak dilakukan dengan cara maserasi menggunakan pelarut metanol. Sari yang diperoleh diuapkan dengan penguap putar vakum hingga diperoleh ekstrak kental.

Menurut hasil penelitian Wahyuningrum, Retno (2010) Uji mutagenik dilakukan untuk mengetahui apakah ekstrak metanol ampas biji jarak bersifat mutagen atau tidak. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa ampas biji jarak sisa pengolahan bahan bakar nabati aman dan dapat dikembangkan dalam pemanfaatan ampas ini sebagai obat bahan alam. Mutagen adalah zat atau senyawa yang dapat meningkatkan laju perubahan di dalam gen. Uji ini menggunakan bakteri S. typhimurium galur.

 Hasil uji mutagenik dapat dilihat pada tabel II. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa jumlah koloni bakteri pada semua lempeng uji kurang dari dua kali jumlah koloni pada lempeng kontrol negatif. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak metanol ampas biji jarak tidak bersifat mutagen baik dengan dan tanpa penambahan enzim mikrosomal hati S-9. Hasil uji dinyatakan positif jika jumlah koloni pada pelat uji minimal dua (2) kali jumlah koloni pada pelat kontrol negatif serta adanya hubungan dosis-respon. Tidak adanya efek mutagen ekstrak metanol ampas biji jarak juga ditegaskan oleh kurva dosis-respon (Gambar 1 dan 2).


Ekstrak metanol ampas biji jarak tidak bersifat mutagenik terhadap S. typhimurium TA 1535.



DAFTAR PUSTAKA
1.       Hidayat, Atep Afia dan M. Kholil. 2017. Kimia, Industri dan Teknologi Hijau.Jakarta: Pantona Media.

2.       Wahyuningrum, Retno. 2010. EFEK MUTAGENIK EKSTRAK METANOL AMPAS BIJI JARAK SISA PENGOLAHAN BAHAN BAKAR NABATI (Dalam http://id.portalgaruda.org/index.php?ref=browse&mod=viewarticle&article=360608) Diakses tanggal 3 Februari 2018.

Pemanfaatan Limbah Plastik sebagai Bahan Pengeras Aspal Jalan

Oleh : Nuriel Hanifan (@F25-Nuriel)

Abstrak
Plastik merupakan salah satu produk yang diciptakan dari bahan polimer. Adapun kegunaan polimer sebenarnya sangat luas yang dapat menciptakan berbagai macam produk alat kebutuhan manusia seperti botol, tali , plastik, teflon, dan lainnya. Dalam hal ini penggunaan nya semakin digemari karena sifatnya yang ringan, tahan korosi, beberapa bahan tahan asam, beberapa bahan relatif tahan sampai temperatur tinggi, dan kuat. Polimer adalah senyawa yang bermassa molekul relatif besar dan terdiri atas monomer monomer (Labtek, 2011).



Kata kunci : Industri kimia, Bahan Polimer, Plastik,

Pendahuluan
Pertumbuhan penduduk yang signifikan membuat konsumsi penggunaan plastik di dunia semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir sebesar 24,4% selama kurun waktu 4 tahun. PlasticsEurope.com mencatat konsumsi plastik dunia pada tahun 2010 mencapai angka 562,2 miliar pon atau setara dengan 255 miliar kilogram. Sungguh angka yang sangat tinggi mengingat penduduk bumi yang setiap tahun terus meningkat membuat penggunaan plastik akan semakin bertambah setiap tahunnya. Selain berbahaya bagi lingkungan karena tidak dapat terdegradasi oleh mikroorganisme tanah dalam waktu singkat juga dapat berpengaruh pada kesehatan manusia. Kebanyakan  plastic  seperti  PVC,  agar tidak bersifat kaku dan rapuh ditambahkan dengan suatu bahan pelembut. Beberapa contoh pelembut adalah   epoxidized soybean oil (ESBO), di(2-ethylhexyl)adipate (DEHA), dan  bifenil  poliklorin  (PCB),  acetyl  tributyl citrate (ATBC) dan di(2-ethylhexyl) phthalate (DEHP). Penggunaan   bahan pelembut ini dapat menimbulkan  masalah   kesehatan, sebagai contoh,  penggunaan  bahan  pelembut  seperti PCB   dapat   menimbulkan   kamatian   pada jaringan dan kanker pada manusia (karsinogenik), oleh karenanya sekarang sudah  dilarang  pemakaiannya ( Karuniastuti, 2010). Untuk itu sekarang penggunaan bahan polimer plastik sudah semakin dikurangi penggunaannya agar ekosistem alam tidak semakin rusak.

Isi
Menurut Harper(2003) dalam Rahmawati, Anita dan Rama Rizana (2015) Biasanya  limbah  plastik  itu  terbuang  percuma  atau  didaur  ulang  untuk  dibuat  berbagai  kerajinan.  Padahal sebenarnya ada manfaat lain dari limbah plastik tersebut. Salah satunya untuk konstruksi, seperti perkerasan jalan.Di beberapa negara maju, seperti negara-negara benua Eropa dan Amerika, jumlah plastik yang didaur ulang masih sangat sedikit.  Sebagai contoh, Jerman yang  mempunyai persentase jumlah plastik  yang didaur ulang  terbesar di Eropa Barat saja hanya sebesar 27,1%. Sedangkan negara lainnya mempunyai persentase berkisar antara 0 hingga15%. Disisi lain, masalah yang timbul dalam hal konstruksi adalah bahan baku utama yang tersedia pada alam semakin menipis seperti batu dan kerikil (agregat) yang biasa digunakan                untuk pembuatan perumahan, gedung bertingkat, dan pengerasan jalan untuk itu menurut penelitian yang dilakukan oleh Al-Hadidy dan Qiu (2008) dalam Rahmawati, Anita dan Rama Rizana (2015) Dalam penelitian tersebut, limbah plastik digunakan sebagai bahan untuk meningkatkan kualitas aspal (asphalt modifier) , dalam penelitian tersebut digunakan low density polyethylene (LDPE) yang dicampurkan dalam aspal dengan komposisi 0%, 1%, 3%, 5% dan 7%. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa penambahan LDPE dapat meningkatkan angka stabilitas campuran perkerasan jalan.
Namun sebelum pengaplikasian jalan aspal dari plastik campuran aspal (bitumen) ada beberapa kelemahan yang harus diperhatikan.
Menurut David Sutasurya (2017) Direktur Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi (YPBB) dikutip dalam mongabay Indonesia Jalan plastik pertama kali diusulkan sebagai solusi untuk membuang sampah plastik berharga rendah dan plastik laminasi. Namun, ia gagal lepas landas sebagai solusi untuk sampah residu karena standar kualitas jalan di India mengharuskan kontraktormenggunakan LDPE dan HDPE, di mana keduanya lebih berharga untuk didaur ulang. Akibatnya infrastruktur yang telah diadakan untuk jalan plastik seperti pencacah dll, di Chennai sekarang mangkrak.
Penggunaan limbah kemasan plastik untuk peletakan jalan diperkenalkan di India oleh Prof.V.Vasudevan dari Thiyagaraja Engineering College, Tamil Nadu. Menurut penemu, proses pencampuran bitumen mengurangi biaya dan secara signifikan memperpanjang umur jalan. Prosesnya menggunakan cacahan plastik berharga bermutu rendah yang juga bisa mencakup plastik berlapis.
Namun, prosesnya hanya bisa menggunakan kemasan berlaminasi di bawah 60 mikron tebal (pedoman Kementerian Pembangunan Pedesaan India) dan hanya toleran terhadap pastik berlapis dalam jumlah terbatas (pedoman Kongres Jalan India).
Namun, panduan dari Kongres Jalan India hanya merekomendasikan penggunaan plastik yang sesuai dengan Low Density Polyethylene (LDPE), Polyethylene Kepadatan Tinggi (HDPE), PET dan Poliuretana untuk konstruksi perkerasan. Dengan kata lain, kemasan laminasi dapat digunakan sebagai pengisi tapi bukan bahan yang diutamakan dalam proses pembuatan jalan.
Terkait potensi paparan terhadap racun. Bitumen diproses pada suhu maksimum 160 derajat celcius, yang cukup tinggi untuk melelehkan plastik tapi terlalu rendah untuk memastikan degradasi berbagai jenis racun.
Masalah yang lebih besar dari teknologi ini adalah polusi mikro-plastik. Plastik yang digunakan dalam proses pengolahan aspal hanya berubah secara fisik dan membentuk lapisan tipis pada batuan. Plastik tersebut tidak benar-benar terurai. Pelapukan jalan sepanjang waktu berpotensi memecah plastik menjadi partikel mikro plastik yang masuk ke ekosistem.

Penutup
Plastik merupakan salah satu produk yang diciptakan dari bahan polimer, semakin tingginya pertumbuhan penduduk membuat penggunaan plastik meningkat secara drastis karena plastik memiliki beberapa keuntungan selain harga yang murah plastik juga ringan, tahan korosi, tahan asam dan kuat. Namun penggunaan plastik yang besar tidak diiringi dengan upaya dalam menanggulangi sampah tersebut karena plastik adalah bahan yang berbahaya dan sukar terdegradasi oleh mikroorganisme tanah sehingga menjadi masalah baru yang mencemarkan lingkungan dan menggangu kesahatan manusia (bersifat karsinogen) yang dapat memicu penyakit kanker.
Telah dilakukan berbagai upaya untuk mengatasi permasalahan plastik ini dengan cara re-use, re-duse, re-cycle  namun hingga saat ini belum juga maksimal pemanfaatannya. Study terbaru membuat terobosan mengunakan sampah plastik sebagai bahan agregat penguat lapisan aspal campuran dengan limbah plastik jenis polipropilena dan dianggap sebagai salah satu solusi penanggulangan sampah di Indonesia.
Namun menurut David Sutasurya Direktur Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi (YPBB) dalam diskusi dengan Dharmesh Shah dari Global Alliance for Incinerator Alternatives (GAIA) berpendapat kualitas jalan menggunakan LDPE dan HDPE lebih berharga untuk didaur ulang material LDPE dan HDPE dapat digunakan sebagai pengisi tapi bukan bahan yang diutamakan dalam proses pembuatan jalan , Masalah yang lebih besar dari teknologi ini adalah polusi mikro-plastik. Plastik yang digunakan dalam proses pengolahan aspal hanya berubah secara fisik dan membentuk lapisan tipis pada batuan.

Daftar Pustaka
Rahmawati, Anita dan Rama Rizana (2015), Pengaruh penggunaan limbah palstik Polipropilena sebagai pengganti agregat pada campuran laston terhadap karakteristik Marshall (105M) https://www.researchgate.net/publication/272743303_PENGARUH_PENGGUNAAN_LIMBAH_PLASTIK_POLIPROPILENA_SEBAGAI_PENGGANTI_AGREGAT_PADA_CAMPURAN_LASTON_TERHADAP_KARAKTERISTIK_MARSHALL (Diunduh 30, Januari 2018)
Hidayat, Atep Afia dan M. Kholil (2017), Kimia Industri dan Teknologi Hijau. Patona Media : Jakarta
Karuniastuti, Nurhenu (2017), Bahaya Plastik terhadap kesehatan dan lingkungan. jurnal forum teknologi Vol.03 No.1 http://pusdiklatmigas.esdm.go.id/file/t2-_Bahaya_Plastik_---_Nurhenu_K.pdf (Diunduh 30, Januari 2018)

Luh, de suryani (2017) dalam artikel mongabay http://www.mongabay.co.id/2017/08/02/limbah-plastik-digunakan-untuk-aspal-jalan-ternyata-berisiko-kenapa/ (Diakses, 30 Januari 2018)

PETROKIMIA

oleh: @F17-jaenudin 
ABSTRAK
Industri Petrokimia adalah industri yang berkembang berdasarkan suatu pola yang mengkaitkan suatu produk-produk industri minyak bumi yang tersedia, dengan kebutuhan masyarakat akan bahan kimia atau bahan konsumsi dalam kehidupan sehari-hari. Contoh produk-produk industri petrokimia hulu antara lain Methanol, Ethylene, Propylene, Butadine, Benzene, Toluene, Xylenes, Fuel Coproducts, Pyrolisis Gasoline, Pyrolisis Fuel Oil, Raffinate dan Mixed C4.


penggunaan istilah "petrokimia" tidak selalu tepat, karena berbagai bahan selain minyak seperti batubara dan biomassa dapat dipergunakan untuk menghasilkan produk yang sama. contoh: metanol yang umumnya dihasilkan dari minyak dan gas alam di amerika serikat dan eropa, namun di tiongkok dengan bahan baku batu bara, begitu pula dengan poli (etena) yang berasal dari minyak dan gas di amerika serikat dan eropa, namun bersumber dari biomasa di brasil.

Kata kunci : Petrokimia

Bahan-bahan dasar petrokima:

bahan dasar petrokimia yang paling utama. Produksi olefin di seluruh dunia mencapai milyaran kg per tahun. Di antara olefin yang paling banyak diproduksi adalah etilena (etena), propilena (propena), dan butadiena.

Beberapa produk petrokimia yang menggunakan bahan dasar etilena adalah:
  1. Polietilena, merupakan plastik yang paling banyak diproduksi, plastik ini banyak digunakan sebagai kantong plastik dan plastik pembungkus (sampul). Di samping polietilena sebagai bahan dasar, plastik dari polietilena ini juga mengandung beberapa bahan tambahan, yaitu bahan pengisi, plasticer, dan pewarna.
  2. PVC atau polivinilklorida, juga merupakan plastik yang digunakan pada pembuatan pipa pralon dan pelapis lantai.
  3. Etanol, merupakan bahan yang sehari-hari dikenal dengan nama alkohol. Digunakan sebagai bahan bakar atau bahan antara untuk pembuatan produk lain, misalnya pembuatan asam asetat.
  4. Etilena glikol atau glikol, digunakan sebagai bahan antibeku dalam radiator mobil di daerah beriklim dingin.

Beberapa produk petrokimia yang menggunakan bahan dasar propilena adalah:
  1. Polipropilena, digunakan sebagai karung plastik dan tali plastik. Bahan ini lebih kuat dari polietilena.
  2. Gliserol, digunakan sebagai bahan kosmetika (pelembab), industri makanan, dan bahan untuk membuat peledak (nitrogliserin).
  3. Isopropil alkohol, digunakan sebagai bahan-bahan produk petrokimia yang lain, misalnya membuat aseton.


Beberapa produk petrokimia yang menggunakan bahan dasar butadiena adalah:
  1.  Karet sintetis
  2.  Nilon

Bahan Dasar Petrokimia: Aromatika
Pada industri petrokimia, bahan aromatika yang terpenting adalah benzena, toluena, dan xilena. Beberapa produk petrokimia yang menggunakan bahan dasar benzena adalah:
  1. Stirena, digunakan untuk membuat karet sintetis.2) Kumena, digunakan untuk membuat fenol.
  2.  Sikloheksana, digunakan untuk membuat nilon.


Beberapa produk petrokimia yang menggunakan bahan dasar toluena dan xilena adalah:
  1. Bahan peledak, yaitu trinitrotoluena (TNT)
  2. Asam tereftalat, merupakan bahan dasar pembuatan serat.


Syn-Gas (Gas Sintetis)
  1. Gas sintetis ini merupakan campuran dari karbon monoksida (CO) dan hidrogen (H2). Beberapa produk petrokimia yang menggunakan bahan dasar gas sintetis adalah Amonia (NH3), yang dibuat dari gas nitrogen dan gas hidrogen. Pada industri petrokimia, gas nitrogen diperoleh dari udara sedangkan gas hidrogen diperoleh dari gas sintetis.
  2. Urea (CO(NH2)2), dibuat dari amonia dan gas karbon dioksida. Selain sebagai pupuk, urea juga digunakan pada industri perekat, plastik, dan resin.
  3. Metanol (CH3OH), dibuat dari gas sintetis melalui pemanasan pada suhu dan tekanan tinggi dengan bantuan katalis. Sebagian metanol digunakan dalam pembuatan formaldehida, dan sebagian lagi digunakan untuk membuat serat dan campuran bahan bakar.
  4. Formaldehida (HCHO), dibuat dari metanol melalui oksidasi dengan bantuan katalis. Formaldehida yang dilarutkan dalam air dikenal dengan nama formalin, yang berfungsi sebagai pengawet specimen biologi. Sementara penggunaan lainlainnya adalah untuk membuat resin urea-formaldehida dan lem.
Daftar Pustaka:

Hidayat, Atep Afia dan Kholil, Muhammad. 2017. Kimia, Industri dan Teknologi Hijau. Pantona Media. Jakarta.

http://coretanguesendiri.blogspot.co.id/2012/07/bahan-dasar petrokimia.htm

https://id.wikipedia.org/wiki/Petrokimia

Industri Kimia, WAJIB!!! SNI

Oleh: Kurniyanto Bayu Anggoro
@ProyekD03






Kata Kunci: Kementerian Perindustrian (Kemenperin)

Abstrak
Banyak sektor industri yang yang ada di Indonesia. Mulai dari industri pangan, kimia, tektil, aneka, dll. Demi terciptanya mutu, perlindungan konsumen, dan persaingan usaha yang sehat, maka wajib diterapkan SNI bagi industri-industri yang ada di Indonesia.  

Lingkungan Di Sekitar Industri Kimia

Oleh: Dwi Setiawan
@F06-Dwi

 








                                       

Petroleum

Dibuat oleh: Fernando Andreas @F15-Fernando


LPG (Liquefied Petroleum Gas) merupakan gas yang komponen penyusun utamanya adalah gas Propane (C3H8) dan butane (C4H10) yang dicairkan. Pada suhu kamar, LPG akan berbentuk gas. Sedang pada pemanfaatannya, seperti pada rumah tangga atau industri, LPG akan diubah dalam bentuk cair, dengan cara ditekan (4-5 kg/cm2 ). LPG jenis ini biasa di simpan dalam tabung atau tangki khusus bertekanan. Pengubahan gas LPG ke dalam bentuk cair dengan cara ini, diharapkan akan memudahkan dalam hal pendistribusian maupun pemanfaatannya. Namun, pada umumnya pemanfaatan tabung gas LPG bertekanan ini sering menimbulkan beberapa masalah, seperti terjadi kebocoran gas yang disebabkan oleh tabung atau pemasangan alat regulator tabung yang kurang benar. Sehingga dalam Proyek Akhir kali ini akan dirancang dan direalisasikan suatu alat yang digunakan untuk mendeteksi tekanan dan kebocoran LPG pada tabung bertekanan. Dalam proyek akhir ini direalisasikan alat pendeteksi tekanan dan kebocaran LPG, alat ini dibuat dengan menggunakan sensor tekanan berupa resistor variabel geser untuk mendeteksi tekanan gas dalam tabung, sensor suhu untuk dapat mengetahui suhu udara di sekitar tabung dan sensor gas LPG jenis TGS2610 untuk mendeteksi ada atau tidaknya kebocoran tabung gas. Sedangkan untuk mengolah algoritma digunakan mikrokontroler AVR ATMEGA8535, dan hasilnya akan ditampilkan pada LCD. Alat ini dapat digunakan untuk mengetahui level tekanan gas yang ada dalam tabung, memberikan indikator suhu udara di sekitar tabung berupa LED warna merah dan hijau dan mengetahui sedini mungkin jika terjadi kebocoran gas. Sehingga pemanfaatan tabung gas LPG bertekanan pun akan semakin aman dan nyaman.

Kata Kunci: Petroleum


PETROLEUM
  Pada masa sekarang ini pemanfaatan LPG pada tabung bertekanan sudah sangat banyak kita temui di masyarakat. Hal ini didorong karena adanya program pemerintah dalam rangka konversi bahan bakar rumah tangga dan industri dari minyak tanah ke LPG. Menurut Hanung Budya, Deputi Direktur pemasaran Pertamina, tujuan konversi minyak tanah ke LPG ini adalah untuk mengurangi beban subsidi pemerintah terhadap minyak tanah, dan agar lebih tepat sasaran. Selain itu ada beberapa alasan masyarakat memilih beralih ke LPG diantaranya adalah selain alasan ekonomis, pemakaian LPG juga lebih praktis dan bersih dari pada minyak tanah. Namun dalam penggunaan LPG kebanyakan masyarakat masih sering menemui kesulitan, seperti sulitnya untuk mengetahui besarnya tekanan dalam tabung secara terkalibrasi. Hal ini juga berarti sulitnya untuk mengetahui masih ada atau tidaknya gas dari tabung LPG tersebut. Bukan hanya itu namun penggunaan LPG dengan tekanan tinggi ini juga menimbulkan kekawatiran bagi masyarakat, misalnya apabila terjadi kebocoran baik terjadi karena tabung maupun karena kesalahan dalam pemasangan regulator, yang tentunya hal itu akan menimbulkan kerugian bahkan bahaya yang lebih besar apabila tidak segera diketahui. Sehingga pada proyek akhir kali ini akan di rancang dan di realisasikan suatu alat pendeteksi tekanan dan kebocoran LPG berbasis mikrokontroller. Diharapkan dengan alat tersebut masyarakat akan lebih aman dan nyaman dalam penggunaan tabung LPG bertekanan.

Daftar Pustaka

Hidayat, Atep Afia dan M. kholil 2017, Buku Kimia Industri dan Teknologi Hijau, Pantona media, Jakarta, 2017.
Wardhana, Lingga. 2006 .Belajar Sendiri Mikrokontroler AVR Seri ATMega8535 Simulasi, Hardware, dan Aplikasi. Penerbit Andi. Yogyakarta.
Heryanto ST, M. Ary,” Pemrograman Bahasa C untuk Mikrokontroler ATMega8535”, Andi: Yogyakarta, 2008.
www.digiwere.com
www.alldatasheet.com
www.pertamina.com

Industri Kimia Sebagai Sumber Pencemaran Lingkungan

Diunduh dari halaman www.google.com dengan kata kunci pencemaran lingkungan oleh industri kimia, pada tanggal 3 Februari 2018
Oleh : Andreas Yoga Pratama (@F32-Andreas, @ProyekD03)

Abstrak
Industri kimia tidak pernah lepas dari isu lingkungan. Hampir di semua industri kimia di negara manapun akan muncul isu lingkungan ini. Mulai dari masalah bau yang ditimbulkan oleh polusi bahan kimia, pelepasan bahan kimia beracun, emisi senyawa organik volatil (SOV), penambahan gas rumah kaca, konstaminasi tanah, penggunaan zat baru yang belum diketahui dampak lingkungannya dan lain-lain.

Kata kunci : Industri Kimia, Pencemaran Lingkungan, Dampak dan Penanganan

Pembahasan
Menurut Wikipedia, pencemaran adalah masuk atau dimasukkannya mahluk hidup, zat, energi dan/ atau komponen lain ke dalam air atau udara. Pencemaran juga bisa berarti berubahnya tatanan (komposisi) air atau udara oleh kegiatan manusia dan proses alam, sehingga kualitas air/ udara menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukkannya. Tetapi menurut Undang-undang Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup No. 4 Tahun 1982, pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan, atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat  tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya.

Dampak Negatif Kegiatan Industri terhadap Lingkungan
Adanya eskalasi besar-besaran dalam bidang industri memang memberikan keuntungan untuk banyak pihak. Dampak positif adanya gedung-gedung tempat kegiatan industri berlangsung ini antara lain meningkatnya jumlah lapangan kerja, membantu mengatasi permasalahan terkait kemiskinan dan pengangguran, menambah pendapatan negara, dan sebagainya. Meskipun demikian, dampak negatifnya terhadap lingkungan pun tak kalah banyak. Terganggungnya kebersihan dan munculnya berbagai pencemaran lingkungan menjadi akibat utama tumbuhnya industri; yang tak pelak merugikan masyarakat yang tinggal di daerah sekitarnya.
Pencemaran air dan tanah. Pencemaran pada air dan tanah ini bisa disebabkan oleh limbah-limbah industri, seperti sampah non-organik dan zat-zat kimia sisa proses produksi yang dibuang secara sembarangan oleh pihak pemilik industri. Sampah anorganik yang dibuang di tanah dapat mempengaruhi pertumbuhan organisme di dalam tanah (yang berperan pada kesuburan tanah); mengakibatkan tanah tidak lagi gembur dan subur sehingga tanaman enggan tumbuh di atasnya. Sedangkan sampah, baik padat maupun cair, yang terbuang ke dalam sumber air dapat menimbulkan, misalnya, bau, perubahan suhu, atau pendangkalan sungai. Di samping itu, air tidak lagi sehat untuk digunakan. Ketika penduduk sekitar memaksa menggunakan air yang tercampur limbah tersebut, kemungkinan mereka akan mengalami gangguan pada kesehatannya.
Pencemaran udara. Beberapa jenis industri melibatkan proses produksi yang menghasilkan asap. Tidak tanggung-tanggung, asap ini membumbung hampir setiap saat apabila pabrik beroperasi sepanjang hari, 24 jam tanpa henti. Asap ini tentu mengandung zat-zat yang sebagian besar berbahaya ketika dihirup. Selain asap, debu yang dihasilkan pun bisa mengakibatkan tercemarnya udara bersih. Adanya pencemaran udara ini, apapun penyebab khususnya, semakin mempersulit masyarakat sekitar untuk mendapatkan udara bersih untuk bernafas. Berbagai penyakit pernafasan seperti TBC, pneumonia, dan penyakit berbahaya lainnya pun mengancam.
Polusi suara. Kegiatan di industri-indsutri ini seringkali menimbulkan suara-suara yang mengganggu; atau bisa disebut dengan polusi suara. Jika intensitasnya tinggi dan jangka waktunya lama, kebisingan ini dapat menimbulkan gangguan, baik bagi para pekerja maupun masyarakat di dekatnya.


Mengatasi Isu Lingkungan di Kawasan Industri
Untuk mengatasi pencemaran yang merupakan isu lingkungan paling menarik perhatian di kawasan industri, dibutuhkan kerjasama yang baik antara berbagai pihak yang terkait; terutama penyelenggara atau pemilik industri.
Beberapa hal yang perlu diupayakan dalam mencegah dan/atau mengatasi dampak negatif pembangunan industri antara lain adalah sebagai berikut:
- Pemilihan lokasi pembangunan yang tidak terlampau dekat dengna pemukiman warga setempat.
- Adanya upaya memperkecil jumlah limbah yang dihasilkan oleh industri tersebut; misalnya dengan pemilihan bahan baku dan peralatan yang ramah lingkungan.
- Adanya usaha mencegah terjadinya pencemaran lingkungan sekitar. Contohnya, dengan melakukan pengelolaan limbah secara bijak atau menyediakan tempat penyaluran limbah yang tidak mengganggu kesehatan lingkungan sekitar.
- Menghijaukan lingkungan di sekitar lokasi pendirian industri. Hal ini bisa dilakukan oleh penyelenggara industri dan masyarakat sekitar. Seperti yang kita ketahui, pepohonan ataupun tanaman hijau lainnya mempunyai dampak signifikan dalam menetralkan udara yang kotor, ataupun menjadi sumber penampungan air bersih.
- Penjagaan kebersihan lokasi industri dan lingkungan sekitarnya; memastikan tidak ada sampah yang terbuang tidak pada tempatnya.

Kesimpulan
Industri kimia tidak pernah lepas dari isu lingkungan. Hampir di semua industri kimia di negara manapun akan muncul isu lingkungan ini. pencemaran adalah masuk atau dimasukkannya mahluk hidup, zat, energi dan/ atau komponen lain ke dalam air atau udara. Dalam hal ini, tetap akan menimbulkan dampak negatif dari Industri bagi lingkungan sekitar, tetapi walaupun demikian, tetap ada solusi untuk mengangani isu lingkungan tersebut.

Daftar Pustaka
-       Hidayat, Atep Afia dan M. Kholil. 2017. Kimia Industri dan Teknologi Hijau. Patona Media : Jakarta
-       https://id.wikipedia.org/wiki/Pencemaran (diakses tanggal 3 Februari 2018)
-       Rahmat, Riyandi. 2014. Mengatasi Isu Lingkungan Di Kawasan Industri. https://environment-indonesia.com/mengatasi-isu-lingkungan-di-kawasan-industri/ (diakses tanggal 3 Februari 2018)


Pembuatan Kertas dari Ampas Tebu




Oleh : F02-Adik
 
Abstrak :
Ampas tebu mempunyai sifat serat yang hampir sama dengan sifat serat kayu daun lebar. Hal ini yang mendasari pemilihan ampas tebu sebagai bahan alternatif pembuat kertas kraft denganmenggunakan metode organosolv. Tujuan penelitian ini adalah memanfaatkan ampas tebu menjadi kertas  kraft  dengan  metode  organosolv.  Penelitian  dilakukan  pada  tanggal  20  De

BAHAYA DAN EFEK SAMPING PESTISIDA TERHADAP LINGKUNGAN

Abstrac 
Dalam buku kimia , industry dan teknologi yang di buat oleh Atep Afia hidayat dan Muhammad kholil Pestisida merupakan bahan kimia yang terbuat dari methanol . Pestisida atau pembasmi hama adalah bahan yang digunakan untuk mengendalikan, menolak, atau membasmi organisme pengganggu.[1] Nama ini berasal dari pest ("hama") yang diberi akhiran -cide ("pembasmi"). Sasarannya bermacam-macam, seperti serangga, tikus, gulma, burung, mamalia, ikan, atau mikrobia yang dianggap mengganggu. Pestisida biasanya, tetapi tak selalu, beracun.pestisida merupakan saraina untuk membunuh hama-hama tanaman, dalam Konsep Pengendalian Hama Terpadu pestisida berperan sebagai salah satukomponen pengendalian. Pestisida dengan cepat menurtrnkan populasi hama hingga meluasnya serangan dapat dicegah, dan kehilangan hasil panen dapat dikurangi. Tetapi, benefit bagi produksi pertanian tanaman tersebut bukan tidak menimbulkan dampak.
Para ahli menyatakan bahwa salah satu penyebab terbesar penyakit dan penuaan dini pada manusia adalah banyaknya bahan kimia yang ada di lingkungan kit4 dan rekayasa genetika yang kerap dilalrukan pada budidaya bahan pangan non-organik merupakan salah satu penyebabnya.
Sekitar 40 % kematian di dunia disebabkan oleh pencemaran lingkungan termasuk tanaman-tanaman yang dikonsumsi manusi4 sementara dari 80 ribu jenis pestisida dan bahan kimia lain yang diguoakan saat ini, hampir 10 % bersifat karsinogenik atau dapat menyebabkan kanker. Sebuah penelitian tentang kanker juga pernah menyatakan bahwa sekitar 1,4 juta kanker di dunia disebabkan oleh pestisida.

kata kunci : Dampak negative pestida, human helth, pestida lingkungan

ISI

Dalam penerapan di bidang pertanian, ternyata tidak semua pestisida mengenai sasaran. Kurang lebih hanya 20 persen pestisida mengenai sasaran sodangkan 80 persen lainnya jatuh ke tanah. Akumulasi residu pestisida tersebut mengakibatkan pencemaran lahan pertanian. Apabila masuk ke dalam rantai makanan, sifat beracun bahan pestisida dapat menimbulkan berbagai penyakit seperti kanker, mutasi, bayi lahir cacat, CAIDS (Chemically Acquired Deficiency Syndrom) dan sebagainya.

Pada masa sekarang ini dan masa mendatang, orang lebih menyukai produk pertanian yang alami dan bebas dari pengaruh pestisida walaupun produk pertanian tersebut di dapat dengan harga yang lebih mahal dari produk pertanian yang menggunakan pestisida. Pestisida yang paling banyak menyebabkan kerusakan lingkungan dan mengancam kesehatan manusia adalah pestisida sintetik, yaitu golongan organoklorin. Tingkat kerusakan yang disebabkan oleh senyawa organoklorin lebih tinggr dibandingkan senyawa lain, karena senyawa ini peka terhadap sinar matahari dan tidak mudah terurai. Penggunaan insektisida dapat mematikan fauna tanah dan dapat juga menurunkan kesuburan tanah. Penggunaan pupuk terus menerus dapat menyebabkan tanah menjadi as€Lm, sehingga dapat menurunkan kesuburan tanah.
Faktor-faktor yang mempengaruhi degradasi tanah atau lahan adalah :
1.       pembukaan lahan (deforestration) dan penebangan kayu hutan secara berlebihan
untuk kepentingan domestik,
2.        penggunaan lahan untuk kawasan peternakanipenggembal&m secara berlebihan (over grazing)
3.        Aktivitas pertanian dalam penggunaan pupuk dan pestisida secara berlebihan

1.       Bahaya Pestisida terhadap Tumbuhan
Pestisida menghalangi proses pengikatan nitrogen yang dibutuhkan untuk perhrmbuhan tanaman. Insektisida golongan organoklorin seperti DDT, golongan organofosfat seperti metal parathion dan pentaklorofenol diketahui mengganggu simbiosis antaru tanaman legum dengan bakteri rhizobium. Dengan berkurangnya hubungan simbiotik antara keduanya menyebabkan pengikatan nitrogen menjadi terganggu sehingga mengurangi hasil tanaman pertanian.
Bintil akar pengikat nitrogen yang terbentuk pada tanaman ini diketahui telah berkontribusi US$ 10 miliar setiap tahunnya dalam penghematan pupuk nitrogen sintetis.
 Pestisida dapat membunuh lebah dan berakibat buruk terhadap proses penyerbukan tumbuhan, hilangnya spesies tumbuhan yang bergantung pada lebah dalam penyerbukannya, dan keruntuhan koloni lebah. Penerapan pestisida pada tanaman yang sedang berbunga dapat membunuh lebah madu yang akan hinggap di atasnya. Petani di Amerika Serikat kehilangan setidaknya US$ 200 juta pebr taihoun.nuya nakibsat obeerkudran.gnayac po.liindator untuk tanaman mereka.

2.        Bahaya Pestisida Terhadap Kehidupan Biota Akuatik
Ikan dan biota akuatik lainnya dapat mengalami efek buruk dari perairan yang terkontaminasi pestisida. Aliran permukaan yang membawa pestisida hingga ke sungai membawa dampak yang mematikan bagi kehidupan di perairan, dan dapat membunuh ikan dalam jumlah besar. Penerapan herbisida di perairan dapat membunuh ikan ketika tanaman yang mati membusuk dan proses pembusukan tersebut mengambil banyak oksigen di dalam air, sehingga menibuat ikan kesulitan bemafas.
 Beberapa herbisida mengandung tembaga sulfit yang beracun bagi ikan dan hewan air lainnya. Penerapan herbisida pada perairan dapat mematikan tanaman air yang menjadi makanan dan penunjang habitat ikan sehingga menyebabkan berkurangnya populasi ikan.
Pestisida dapat terakumulasi di perairan dalam jangka panjang dan mampu membunuh zooplanlton, sumber makanan utama ikan kecil. Beberapa ikan memakan serangga dan kematian serangga akibat pestisida dapat menyebabkan ikan kesulitan mendapatkan makanan.Semakin cepat pestisida terurai dilingkungan, dampak dan bahayanya semakin berkurang. Selain itu, telah diketahui bahwa insektisida secara umum memiliki dampak yang lebih berbahaya bagi biotaakuatik dibandingkan herbisida dan fungisida.
3.       Bahaya Pestisida terhadap Burung
Fish and Wildlife Service memperkirakan 72 juta burung di Amerika Serikat terbunuh karena pestisida setiap tahunnya. Burung predator merupakan hewan yang terdampak secara tidak langsung karena berada di puncak rantai makanan; residu pestisida terus terakumulasi dari satu tingkatan predatori ke tingkatan berikutnya. Di Inggris, populasi sepuluh spesies burung berkurang hingga 10 juta ekor sejak tahun 1979 hingga 1999, sebuah fenomena yang diperkirakan akibat hilangnya keragaman hayati tanaman dan inverteberata yang menjadi makanan burung tersebut. Di seluruh Eropa, 116 spesies burung saat ini dalam status terancam. Pengurangan populasi burung diketahui terkait dengan waktu dan tempat di mana pestisida tersebut digunakan.
Pestisida DDT diketahui menyebabkan penipisan cangkang telur pada burung di Amerika Utara dan Eropa. Fungisida yang digunakan pada usaha budi dayakacang tanahdiketahui dapat membunuh cacing tanah, sehingga mengancam keberadaan burung dan mamalia yang memangsa mereka.
Beberapa pestisida tersedia dalam wujud butiran, sehingga burung dan hewan lainnya dapat memakan butiran tersebut karena disangka sebagai biji-bijian. Herbisida ketika mengalami kontak dengan telur burung, akan mengakibatkan pertumbuhan embrio yang abnormal dan mengurangi jumlah telur yang akan menetas. Herbisida juga dapat mengurangi populasi burung karena banyak tumbuhan penunjang habitat mereka yang mati.
4.       Bahaya Pestisida Terhadap Kesehatan Manusia       
WHO (2014) mencatat 1-5 juta kasus keracunan terjadi tiap tahun khususnya pada pekerja pertanian. Dari besaran tersebut, 80% terjadi di negara berkembang dengan mortality rate sebesar 5,5% atau sekitar 220.000 jiwa. Jenni, et al. (2014) dalam studi kasusnya menyebutkan bahwa 95,8% petani sayur dan buah di kota Batu, Malang Jawa Timur mengalami keracunan pestisida berdasarkan pengukuran kadar kolinesterase dalam darahnya. Keracunan massal juga pernah terjadi dalam kecelakaan kerja skala ,isosianat, salah satu komponen pembentuk karbamat, pestisida organofosfat yang digunakan untuk membasmi serangga, menyebabkan kematian onsite 16 ribu jiwa.
Dampak insiden masih tetap dirasakan hingga 30 tahun pasca kejadian dengan banyaknya kelahiran cacat dan kasus gagal organ dalam (www.cnn.co.id:www.theatlantic.com). Pajanan ringan jangka pendek, mungkin hanya menyebabkan iritasi pada selaput mata atau kulit, namun pajanan ringan jangka panjang berpotensi menimbulkan berbagai dampak kesehatan, seperti gangguan terhadap sistem hormon, kegagalan organ dan kematian.
Pestisida dapat masuk kedalam tubuh melalui Kontaminasi lewat kulit ,kontaminasi ini merupakan yang paling sering terjadi, meskipun tidak seluruhnya berakhir dengan keracunan akut. Lebih dari 90% kasus keracunan diseluruh dunia disebabkan oleh kontaminasi lewat kulit (Djojosumarto, 2008). Faktor risiko kontaminasi lewat kulit dipengaruhi oleh daya toksisitas dermal, konsentrasi, formulasi, bagian kulit yang terpapar dan luasannya, serta kondisi fisik individu yang terpapar. Risiko keracunan semakin besar jika nilai lethal dose 50 (LD50) semakin kecil, konsentrasi pestisida yang menempel pada kulit semakin pekat, formulasi pestisida dalam bentuk yang mudah diserap, kulit yang terpapar lebih mudah menyerap seperti punggung tangan, area yang terpapar luas serta jika kondisi system kekebalan individu sedang lemah.
 Pekerjaanpekerjaan yang menimbulkan risiko kontaminasi lewat kulit umumnya adalah penyemprotan, pencampuran pestisida dan proses pencucuian alat-alat kontak pestisida.
Dampak pestida bagi manusia Salah satunya adalah menghambat perkembangan kognitif. Pada kehamilan bias beresiko terjadinya kelainan bawaan. Residu pestisida ini bisa terdapat dalam jenisbuah dan sayuran segaf,, sehingga kita memerlukan kehati-hatian dalam mengkonsumsinya. Penggunaan pestisida bisa terjadi pada saat proses produksi di lahan atau selama pasca panen.
Pestisida yang tidak sengaja termakan oleh ibu hamil dapat menyebabkan bayi cacat lahir. Cacat lahir seperti spina bifida, bibir sumbing, kaki pengkor, dan sindrom down bisa diakibatkan paparan pestisida. Untuk memperkecil resiko, ibu hamil harus selektif dalam mengkonsumsi makanan dan minuman.
Para ilmuwan dan dokter mengemukakan bahwa pestisida terutama jenis atrazine dapat meningkatkan risiko keguguran dan kemandulan (kualitas dan mobilitas spenna menurun). Paparan pestisida selama 3 bulan sebelum konsepsi dan selama kehamilan akan meningkatkan resiko keguguran spontan pada ibu hamil. Selain itu, bayi yang dilahirkan juga beresiko terkena leukemia dan menggangu kecerdasan anak. Ibu yang terpapar pestisida sejak kehamilan akan berpengaruh pada pembentukan janin dalam kandungan.
Residu pestisida bias meningkatkan risiko kelainan bawaan tertentu selama perkembangan janin. Apalagi selama perkembangannya janin belum mampu mendetoksifikasi racun yang ada. Pada anak, paparan pestisida dapat menunrnkan stamina tubuh serta perhatian dan konsentrasinya. Begitu pun memori dan koordinasi tangan mata yang terganegu, serta semakin besar kesulitan anak dalam membuat gambar berupa garis sederhana. Anak yang terpapar residu pestisida sejak balita ketika usia SD kecerdasannya akan menurun.
Sebuah penelitian yang dilakukan di Meksiko terhadap anak yang mengkonsumsi anggur disemprot pestisida dan yang tidak disemprot pestisida menunjukkan perbedaan kognitif yang signifikan antara kedua kelompok tersebut. Tingkat kecerdasan anak yang mengkonsumsi anggur yang disemprot pestisida lebih rendah dibandingkan anak yang mengkonsumsi anggur yang disemprot pestisida.
Penelitian yang dilakukan pada tahun 2010 oleh Universitas Harvard menunjukkan urin yang mengandung pestisida berbahan aktif organofosfat pada anak-anak lebih mungkin mengalami autism dan hiperaktif dibanding urin pada anak-anak yang urinnya tidak mengandung organofosfat.
Pestisida cukup erat hubungannya dengan kanker. Lebih dari 260 pestisida berkaitan dengan beragam jenis kanker seperti limfoma, leukemia, saxcoma, jaringan lunak, okk, kanker hati, dan kanker paru-paru Salah satu pestisida yaitu atrazine, pembunuh gulma yang banyak digunakan di pertanian tebu dan terdeteksi dalam air keran.
Petani juga banyak menggunakan berbagai bahan kimia tmtuk menjaga tanaman dari serangan hama. Satu jenis buah atau sayuran bisa menggunakan lebih dari 17 macam bahan kimia, sehingga buah dan sayur paling banyak terpapar pestisida dan residu yang banyak menempel di kulit buah dijumpai pada apel, pir, serta anggur. Pada sayuran, jenis yang paling banyak terpapar pestisida adalah seledri, paprika, bayam dan wortel.
KESIMPULAN
Penggunaan pestisida di sektor pertanian selain menimbulkan dampak positif bagi petani, ternyata dapat juga menimbulkan dampak negatif. Dampak negatif yang ditimbulkan pestisida adalah terjadinya kerusakan lingkungan dan ketidakseimbangan ekosistem serta menimbulkan keracunan bagi manusia yang dapat berujung pada kematian akibat timbulnya berbagai penyakit degeneratif.
DAFTAR PUSTAKA
Hidayat, Atep Afia dan Muhammad Kholill, 2017, Kimia,industry dan teknologi hijau , Pantona Media

http://jurnal.unej.ac.id/index.php/BIOED/article/view/4025

SABUN DARI LIDAH BUAYA (ALOE VERA)












Oleh : Putri Mayang Sari (@F31-Putri, @proyekD03)

Abstrak

Dewasa ini masyarakat semakin memperhatikan kebersihan diri dikarenakan banyak penyakit yang ditimbulkan akibat bakteri maupun kuman. Salah satu sarana untuk membersihkan diri adalah sabun. Biasanya dalam sabun ditambahkan zat aktif seperti triclosan untuk membunuh bakteri, namun triclosan berdampak negatif bagi tubuh. Lidah buaya mengandung saponin yang berfungsi sebagai antibakteri alami.

Kata kunci : Sabun, lidah buaya, saponin.

Pendahuluan


Kebersihan merupakan hal yang sangat penting karena semakin banyaknya penyakit yang timbul karena bakteri dan kuman. Sabun merupakan salah satu sarana untuk membersihkan diri dari kotoran, kuman dan hal-hal lain yang membuat tubuh menjadi kotor. Bahkan di zaman sekarang ini sabun bukan hanya digunakan untuk membersihkan diri, tetapi juga ada beberapasabun yang sekaligus berfungsi untuk : melembutkan kulit, memutihkan kulit, maupun menjaga kesehatan kulit. Dalam pembuatan sabun sering digunakan bermacam-macam lemak ataupun minyak sebagai bahan baku. Jenis-jenis minyak ataupun lemak yang digunakan dalam pembuatan sabun ini akan mempengaruhi sifat-sifat sabun tersebut, baik dari segi kekerasan, banyaknya busa yang dihasilkan, maupun pengaruhnya bagi kulit. Untuk itu dalam pembuatan sabun perlu dipilih jenis minyak dan lemak yang sesuai dengan kegunaan sabun itu sendiri.

Isi Pembahasan


Sabun yang berasal dari bahasa India/Hindi साबुन adalah surfaktan yang digunakan dengan air untuk mencuci dan membersihkan.

Molekul sabun terdiri atas rantai seperti hidrokarbon yang panjang. Hidrokarbon tersebut terdiri atas atom karbon dengan gugus yang sangat polar atau ionik pada satu ujungnya. Rantai karbon bersifat lipofilik (terlarut dalam lemak dan minyak), dan ujung polar yang hidrofilik (terlarut dalam air)

Lidah buaya dikenal sebagai tanaman hias dan banyak digunakan sebagai bahan dasar obat-obatan dan kosmetik. Lidah buaya sering dikenal dengan Aloe vera. Selain berfungsi sebagai antiseptik, lidah buaya juga dapat menghaluskan dan melembabkan kulit. Hal ini disebabkan karena lidah buaya mengandung lignin atau selulosa yang mampu menembus dan meresap ke dalam kulit serta menahan hilangnya cairan tubuh dari permukaan kulit, sehingga kulit tidak cepat kering dan terjaga kelembabannya.

Struktur daun lidah buaya terdiri dari 3 bagian :

  • Kulit daun

Kulit daun adalah bagian terluar dari struktur daun lidah buaya yang berwarna hijau.

  • Eksudat

Eksudat adalah getah yang keluar dari daun saat dilakukan pemotongan..Eksudat berbentuk cair, berwarna kuning dan rasanya pahit. Zat-zat yang terkandung di dalam eksudat adalah : 8-dihidroxianthraquinone (Aloe Emoedin) dan glikosida (Aloins), biasa digunakan untuk pencahar.

  • Gel 
Gel adalah bagian yang berlendir yang diperoleh dengan cara menyayat bagian dalam daun setelah eksudat dikeluarkan. Ada beberapa zat terkandung di dalam gel yaitu karbohidrat (glucomannan, accemannan), enzim, senyawa anorganik, protein, sakarida, vitamin, dan saponin. Lidah buaya sebagian besar mengandung air sekitar 99,51% per 100 gramnya, sisanya mengandung bahan aktif (active ingredients) seperti: minyak esensial, asam amino, mineral, vitamin, enzim, dan glikoprotein.


Dalam lidah buaya terdapat komponen aktif yaitu saponin yang mempunyai kemampuan untuk membunuh mikroorganisme. Saponin larut dalam air dan etanol, tetapi tidak larut dalam eter. Saponindalam lidah buaya akan menghasilkan busa apabila bercampur dengan air. Zat ini berfungsi sebagai antiseptik.
Saponin berfungsi sebagai pembersih dan memiliki sifat-sifat antiseptik. Saponin memiliki karakteristik berupa buih. Sehingga ketika direaksikan dengan air dan dikocok, maka akan terbentuk buih yang dapat bertahan lama. Kadar saponin dalam lidah buaya sekitar 5,651% per 100 gram. Saponin terdiri dari sebuah steroid atau triterpenoid aglycone(sapogenin) yang terkait dengan satu atau lebih gugus oligosakarida. Bagian karbohidrat tersebut terdiri dari pentosa, heksosa, atau asam uronic. Adanya gugus polar (gula) dan non polar (steroid atau triterpene) membuat saponin memiliki permukaan aktif yang kuat yang memberikan banyak manfaat.

kemampuan antiseptik lidah buaya lebih baik apabila diolah menjadi sabun. Hal ini disebabkan karena sabun memiliki rantai karbon yang bersifat lipofilik dan hidrofilik. Di mana rantai karbon bagian lipofilik akan berikatan dengan kotoran. Dengan demikian sabun dengan lidah buaya memiliki kemampuan membersihkan yang lebih baik dibandingkan dengan lidah buaya saja, karena selain sabun membersihkan tangan dari kotoran seperti: minyak, debu, dan sebagainya, sabun ini juga membersihkan tangan dari kuman dan bakteri karena mengandung saponin dari lidah buaya.



Daftar Pustaka





PEMBUATAN SABUN DENGAN LIDAH BUAYA (ALOE VERA) SEBAGAI ANTISEPTIK ALAMI WIDYA TEKNIK Vol. 12, No. 1, 2013 (11-21) (diunduh 3 februari 2018)
 
https://id.wikipedia.org/wiki/Sabun (diunduh 3 februari 2018)