.

Tampilkan postingan dengan label @F25-Nuriel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @F25-Nuriel. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Februari 2018

Maju dengan Teknologi Hijau



Oleh : Nuriel Hanifan (@F25-Nuriel)

Abstrak
Saat ini kesadaran akan perlunya teknologi yang lebih ramah lingkungan makin meluas. Teknologi yang boros energi terutama sumber energi fosil, kalau tetap dipertahankan berpotensi besar mengancam kerusakan permanen kondisi planet bumi, sekaligus membahayakan kehidupan umat manusia.

Pengembangan Industri Hijau Di Indonesia


Oleh : Nuriel Hanifan (@F25-Nuriel)
Kata Kunci : Industri hijau, kebijakan industri hijau,

Pendahuluan
Pembangunan sektor industri di Indonesia telah berjalan sekitar empat puluh lima tahun terhitung sejak lahirnya Undang-Undang Penanaman Modal Asing (PMA) tahun 1967 dan Undang-Undang Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) tahun 1968. Selama 10 tahun terakhir, industri memberikan kontribusi 25,45-28,96 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dengan kecenderungan meningkat.

Sabtu, 10 Februari 2018

Green Chemistry untuk Merehabilitasi Bumi



Oleh : Nuriel Hanifan (@F25-Nuriel)

Abstrak
Kimia hijau datang sebagai solusi untuk mencegah bumi semakin rusak, Ilmu kimia dapat memainkan peran penting untuk mencapai peradaban yang berkelanjutan di planet Bumi (Collins, 2001). Dalam aplikasinya kimia hijau berfungsi untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan zat kimia berbahaya sebagai upaya untuk menyelamatkan lingkungan dari pencemaran. 



Kata kunci : Green Chemistry, Kerusakan Lingkungan, 

Pendahuluan
Saat ini masyarakat dunia sedang dihadapi dengan masalah kerusakan alam yang terus terjadi dimana-mana , baik di udara, air, tanah. Manusia dengan segala kemampuannya terus menciptakan alat yang digunakan untuk kemudahan dalam berbagai hal pekerjaan dan aktivitasnya. Kemajuan teknologi terus membuat manusia berinovasi namun terkadang inovasi yang dibuat merugikan salah satu pihak yaitu “alam”. Mereka membuat alat dengan konsumsi atau bahan dari sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui (Non-Renewables). Namun saat ini manusia sedang fokus dalam merehabilitasi bumi dengan berbagai cara agar bumi tidak terus rusak oleh aktivitas manusia. Munculah sebuah gagasan “Kimia Hijau”. Kimia hijau (Green Chemistry) adalah desain produk dan proses kimia yang berupa mengurangi atau menghilangkan penggunaan zat berbahaya (EPA, 2015 dalam Hidayat, Atep Afia dan M. Kholil (2017). Kimia hijau berlaku untuk seluruh siklus hidup produk kimia, termasuk desain, manufaktur, penggunaan, dan pembuangan akhir. Konsep dari kimia hijau mengenai kimia untuk menyelamatkan lingkungan dari pencemaran.
Pembahasan
Menurut (Collins, 2001 dalam Hidayat, Atep Afia dan M. Kholil, 2017), Kimia hijau dapat memberikan kontribusi terhadap pembangunan lestari dan berkelanjutan, setidaknya untuk tiga bidang utama. Pertama, teknologi energi terbarukan yang akan menjadi pilar utama dari peradaban teknologi tinggi yang berkelanjutan. Kedua, reagen yang digunakan oleh industri kimia, yang masih sebagian besar bersumber dari minyak bumi, harus mulai digantikan oleh sumber yang terbarukan. Ketiga, perlu ada teknologi alternatif pengendalian polusi yang lebih mumpuni.
Green Chemistry itu sendiri memiliki 12 prinsip, antara lain :
1. Menghindari penghasilan sampah
2. Desain bahan kimia dan produk yang aman
3. Desain sintesis kimia yang tak berbahaya
4. Penggunaan sumber daya yang dapat diperbaharui (renewable)
5. Penggunaan katalis
6. Menghindari bahan kimia yang sifatnya derivatif (chemical derivatives)
7. Desain sintesis dengan hasil akhir (produk) yang mengandung proporsi maksimum bahan mentah
8. Penggunaan pelarut dan kondisi reaksi yang aman
9. Peningkatan efisiensi energi
10. Desain bahan kimia dan produk yang dapat terurai
11. Pencegahan polusi
12. Peminimalan potensi kecelakaan kerja
Seiring berkembangnya waktu, kesadaran para pelaku industri akan konsep ini semakin berkembang. Hampir setiap industri di negara-negara maju mulai menerapkan konsep kerja ini. Sementara itu, para ilmuwan pun banyak yang mulai mengadakan penelitian mendalam mengenai segala sesuatu mengenai konsep ini. Bahkan sejak tahun 1995, dibagikan The Presidential Green Chemistry Challenge Awards, kepada individu ataupun korporat yang dianggap telah turut andil dalam memberikan inovasi dalam Green Chemistry. Semua ini, dilakukan dengan satu tujuan. Yaitu, untuk menyelamatkan bumi kita yang tercinta ini.
Selain itu Green Chemistry juga dapat diterapkan dalam Smart City , Konsep    kota    cerdas    diperkenalkan untuk  mengusah akan tersedianya kehidupan perkotaan yang baik bagi penduduknya melalui pengelolaan optimal berbagai sumberdaya yang diperlukan. Konsep kota cerdas  merupakan   proses   kegiatan   yang   dilakukan   untuk membuat perkotaan menjadi nyaman untuk kehidupan penduduknya dan  siap  menghadapi  berbagai  tantangan  yang  mungkin  muncul. Tahun  2008  para  walikota  di  Eropa  telah  menyepakati  kebijakan-kebijakan  pembangunan  kota  berkelanjutan,  yaitu  mencapai tujuan 20-20-20 (20% reduksi gas buang/emisi, 20% energi terbarukan, dan 20% peningkatan efisiensi  energi)  pada tahun2020 (Woinasroschy, 2016 dalam mustafa, Dina ,2017).
Kota  cerdas  digambarkan  dengan  atribut  kecerdasan  dalam  hal bangunan,   infrastruktur,   teknologi,   energi,   mobilitas,  penduduk,administrasi,  dan  pendidikan  (Albino,  Berardi,  &  Dangelico,  2015). Atribut-atribut  itu  secara  terintegrasi  diterapkan  dalam  mengelola sumberdaya,   mengendalikan   tingkat  polusi,  dan  mengalokasikan energi.  Sebagai  penggiat  pengembangan  ekonomi  terutama  pada industri  moderen  seperti  elektronik,  teknologi  informasi,  bio  dan nanoteknologi,  yang  memainkan  peran  penting  pada  struktur  dan pengelolaan  kota  cerdas,  industri  kimia yang  menerapkan  prinsip Kimia Hijau dapat   memainkan   peranan   penting   pada   evolusi berkelanjutan kota cerdas.
Konsep Green Chemistry itu sendiri berasal dari Kimia Organik, Kimia Anorganik, Biokimia, dan Kima Analitik. Bagaimanapun juga, konsep ini cenderung mengarah ke aplikasi pada sektor industri. Green Chemistry berbeda dengan Environmental Chemistry (Kimia Lingkungan). Perbedaannya adalah sebagai berikut. Green Chemistry lebih berfokus pada usaha untuk meminimalisir penghasilan zat-zat berbahaya dan memaksimalkan efisiensi dari penggunaan zat-zat (substansi) kimia. Sedangkan Environmental Chemistry lebih menekankan pada fenomena lingkungan yang telah tercemar oleh substansi-substansi kimia.
Aplikasi Green Chemistry menurut  Ryoji Noyori, peraih hadiah Nobel Kimia pada tahun 2001, terdapat 3 kunci perkembangan Green Chemistry. Yaitu, penggunaan Supercritical Carbon Dioxide sebagai pelarut, larutan Hidrogen Peroksida untuk proses oksidasi yang bersih (clean oxidation), dan penggunaan Hidrogen dalam sintesis kiral (chiral synthesis). Tinjauan beberapa sektor diatas sebagai berikut:
1)         Supercritical Carbon Dioxide adalah karbon dioksida (CO2) yang berada dalam fase cair (liquid phase),yang berada di atas ataupun pada temperatur dan tekanan kritis. Yaitu pada temperatur 31,1oC ke atas dan tekanan 73,3 atm. Zat ini banyak dimanfaatkan sebagai pelarut dalam industri,dikarenakan oleh zat ini memiliki kandungan racun yang rendah dan memiliki tidak memiliki dampak lingkungan yang berarti. Selain itu, rendahnya temperatur dari proses dan stabilitas CO2 memungkinkannya berfungsi sebagai pelarut layaknya aqua distilata.
2)         Hidrogen Peroksida (H2O2), adalah suatu senyawa yang lazim digunakan sebagai dalam proses pemutihan kertas (paper-bleaching) dan desinfektan. Hidrogen Peroksida merupakan salah satu senyawa yang tergolong ke dalam oksidator kuat. Melalui proses katalisasi, dapat dihasilkan radikal hidroksil (-OH) yang memiliki potensial oksidasi dibawah Fluor (F). Keunggulan Hidrogen Peroksida dibandingkan senyawa yang lain adalah, senyawa ini tidak meninggalkan residu yang berbahaya. Selain itu, kekuatan oksidatornya dapat disesuaikan (adjustable).
3)         Sintesis kiral (chiral synthesis), adalah suatu proses sintesis organik yang menghasilkan suatu senyawa dengan elemen kiralitas yang diinginkan. Ada tiga jenis pendekatan kepada sintesis kiral, salah satunya adalah Katalisasi Asimetris (Assymetric Catalysis). Pada intinya, teknik yang dikembangkan oleh William S. Knowles, Ryoji Noyori, dan K. Barry Sharpless ini menunjukkan bahwa langkah dari penelitian skala kecil menuju ke arah aplikasi industri dapat terjadi secara singkat. Selain itu, penemuan mereka sangat bermanfaat bagi pengembangan industri farmasi/obat-obatan.
Kemudian LanzaTech, Inc, berhasil meraih penghargaan tahun 2015 untuk kategori Greener Synthetic pathways, berhasil memproduksi bahan bakar dan bahan kimia dari pemanfaatan gas buang. LanzaTech telah bermitra dengan sekitar 10 perusahaan dalam lingkup Global Fortune 500 seperti Invista dan Evonik untuk menggunakan teknologi tersebut, termasuk pemanfaatan fasilitas yang dapat menghasilkan 100.000 galon etanol per tahun, dan sejumlah bahan kimia untuk pembuatan plastik.
Sementara SOLTEX yang merupakan perusahaan yang memproduksi minyak dan pelumas sintetik dari Texas berhasil meraih penghargaan tahun 2015 untuk kategori Greener Reaction Conditions, berhasil mengembangkan . Jika digunakan secara luas, teknologi ini memiliki potensi untuk menghilangkan jutaan galon air limbah per tahun dan mengurangi penggunaan bahan kimia berbahaya sampai 50 persen.
Sedangkan Hybrid Coating Teknologi / Nanotech Industri Daly City dari California, berhasil meraih penghargaan tahun 2015 untuk kategori Designing Greener Chemical. Inovasinya berupa pengembangan poliuretan nabati untuk digunakan pada lantai, furniture dan pelapis/busa. Teknologi ini dapat mensubtitusi penggunaan isosianat, yang dikenal menyebabkan gangguan terhadap kulit dan organ pernapasan ( termasuk memicu asma). Poliuteran nabati yang sudah diproduksi, penggunaanya dapat mengurangi Voltile Organic Compound (VOC) dan menurunkan biaya produksi, dan lebih aman bagi manusia dan lingkungan.
Penutup
Berdasarkan catatan (Santosa, 2008  dalam Hidayat, Atep Afia dan M. Kholil, 2017), yang mengutip pendapat Koch (2007), bahwa dalam 50 tahun kedepan, terdapat 10 masalah besar yang dihadapi umat manusia, mulai dari masalah energi, air, makanan, lingkungan, kemisikinan, terorisme dan perang, penyakit, pendidikan, demokrasi dan populasi. Ternyata lima diantaranya, yaitu masalah energim air, makanan, lingkungan, dan penyakit berkaitan erat dengan kimia, dan hanya dapat diselesaikan secara seksama dengan pengembangan lebih lanjut konsep dan apliaksi Kimia Hijau.
Seiring berkembangnya waktu, kesadaran para pelaku industri akan konsep ini semakin berkembang. Hampir setiap industri di negara-negara maju mulai menerapkan konsep kerja ini. Sementara itu, para ilmuwan pun banyak yang mulai mengadakan penelitian mendalam mengenai segala sesuatu mengenai konsep ini. Bahkan sejak tahun 1995, diberikan penghargaan The Presidential Green Chemistry Challenge Awards, kepada individu ataupun korporat yang dianggap telah turut andil dalam memberikan inovasi dalam Green Chemistry. Semua ini, dilakukan dengan satu tujuan yaitu untuk menyelamatkan bumi kita yang tercinta ini.

Daftar Pustaka
Hidayat, Atep Afia dan M. Kholil (2017), Kimia Industri dan Teknologi Hijau. Patona Media : Jakarta
Mustafa, Dian (2017), Peranan Kimia Hijau (Green Chemistry) dalam mendukung tercapainnya kota cerdas (Smart City) suatu tinjauan pustaka.  http://repository.ut.ac.id/7076/1/UTFMIPA2017-07-dina.pdf (Diunduh, 08 Februari 2018)
Artikel Green Chemistry (2015) http://www.infosarjana.com/2015/10/green-chemistry.html (Diakses, 08 Februari 2018)
Artikel Kimia Undip09 (2015), Green Chemistry  https://kimiaundip09.wordpress.com/2012/07/09/green-chemistry/#more-76 (Diakses, 08 Februari 2018)

Pengolahan Limbah Berwarna Industri Tekstil pada Air



Oleh : Nuriel Hanifan (@F25-Nuriel)
Abstrak
Seiring pesatnya dunia industri pada kota besar memberikan dampak buruk bagi lingkungan, pasalnya kebanyakan industri tidak menerapkan sistem pengelolaan limbah yang baik sehingga menimbulkan berbagai macam limbah khususnya limbah tekstil yang dibuang langsung pada aliran sungai yang ada disekitar lokasi pabrik tersebut. Untuk itu pengawasan dalam pengelolahan air limbah yang dihasilkan industri harus dijaga ketat agar pelaku usaha berperan aktif dalam menjaga kebersihan air limbah yang akan dibuang ke sungai-sungai terdekat.

Kata kunci : polusi air, limbah tekstil,

Pendahuluan
Indonesia dalam dasawarsa terakhir merupakan salah satu negara penghasil utama tekstil dan bahan sejenisnya setelah India dan Pakistan. Banyaknya industri-industri tekstil di Indonesia dalam satu sisi membawa peningkatan devisa, namun disisi lain menimbulkan masalah pencemaran lingkungan yang cukup besar. Keberadaan Industri tekstil di Indonesia tidak hanya dalam kategori industri skala besar dan menengah, tetapi juga dalam skala kecil dan bahkan ada yang dalam skala rumah tangga (home industry), seperti pewarnaan dan pencelupan jeans. Dengan demikian, pencemaran yang ditimbulkan oleh industri tersebut tidak hanya pada kawasan-kawasan industri, namun juga terjadi di perkampungan-perkampungan padat penduduk. Air limbah yang dihasilkan oleh industri tekstil dan bahan sejenisnya disamping mengandung bahan pencemar organik yang umum dinyatakan dalam COD, BOD dan logam-logam berat, juga mengandung bahan pewarna organik rantai panjang yang relatif sukar diolah dengan proses biologis biasa. Secara umum, untuk mereduksi bahan pencemar organik yang mudah didegradasi, teknologi yang diterapkan adalah teknologi pengolahan air limbah secara biologis, seperti proses lumpur aktif, aerated lagoon, biofilter anaerob-aerob ataupun trickling filter. Sedangkan air limbah yang mengandung polutan bahan organik zat warna rantai panjang yang biasa digunakan pada indutsri tekstil seperti senyawa azo, antraquinon dan juga ftalosianin, tidak dapat dengan mudah diolah dengan proses biologis biasa.

Pembahasan
Limbah cair merupakan limbah yang berwujud cair. Limbah cair terlarut dalam air, selalu berpindah, dan tidak pernah diam. Contoh limbah cair adalah air bekas mencuci pakaian, air bekas pencelupan warna pakaian, dan sebagainya (Said, 2011). Selain itu saluran air yang keluar dari pabrik biasanya mengeluarkan limbah industri, yang mengalir ke badan-badan air mulai selokan, parit, sungai, bahkan sampai ke lautan. Pabrik merupakan sumber utama pencemaran air, namun setiap individu manusia pada dasarnya juga merupakan sumber pencemaran air. Hampir setiap orang berkontribusi dalam penggunaan bahan kimia rumah tangga misalnya, dan dengan sengaja menuangkannya ke toilet atau saluran air. Untuk mencuci piring atau pakaian tidak pernah terlepas dari pemakaian detergen, sisa pemakaiannya masuk ke pipa pembuangan, terus memasuki selokan yang mengalir ke sungai, dan sungai-sungai itupun bermuara ke lautan (Hidayat, Atep Afia dan M. Kholil (2017).
Sebenarnya untuk mengindentifikasi pencemaran air sehingga kualitasnya diketahui dapat dilakukan melalui dua cara. Cara pertama dengan mengambil sampel air, kemudian mengukur konsentrasi bahan kimia yang terkandung di dalamnya (indikator kimia kualitas air). Sedangkan cara kedua ialah dengan menganalisis kondisi kehidupan satwa seperti ikan, serangga dan hewan invertebrata yang habitatnya disekitar perairan (indikator kimia kualitas air).
Jenis-jenis zat pewarna tekstil
 Zat pewarna tekstil, kebanyakan menggunakan  senyawa  organik  rantai  panjang.  Berdasarkan   struktur   kimianya   zat   pewarna tekstil  dibedakan  menjadi  beberapa  jenis  seperti  pada Tabel 1. Produksi zat pewarna baik   dalam   skala internasional maupun  didalam  negeri   menunjukkan   angka   peningkatan   dari   tahun  ketahun.  Hal  ini  disebabkan  karena  permintaan  bahan  tersebut  yang  meningkat  seiring  dengan  laju  pertumbuhan  industri  tekstil  dan  industri  lain  yang memerlukan pewarnaan.   Sebagian   zat pewarna  yang  telah  digunakan  untuk  proses  di  industri, akan terbuang menjadi polutan bersama air  limbah  dan  penanganan  khusus  sesuai  sifat-sifatnya.


 





































(Sumber : jurnal pengolahan air limbah industri tekstil)



















Dampak pencemaran air
·         Menurunkan jumlah oksigen dalam air
·         Mematikan binatang-binatang yang ada di air
·         Meningkatkan kecepatan reaksi kimia
·         Mengganggu kesehatan manusia
·         Mengganggu kesuburan tanah
·         Mengganggu produktivitas tumbuhan
Teknologi Pengolahan Limbah Zat Cair Pewarna
Menurut degreemont dalam Nugroho, Rudi dan ikbal (2005), ada beberapa alternatif teknologi yang dapat digunakan untuk mengolah limbah cair yang mengandung zat pewarna. Teknologi tersebut meliputi netralisasi, kogulasi-flokulasi, adsorbsi dan oksidasi menggunakan oksidator kuat (AOPs).
1.       Netralisasi
Secara umum proses netralisasi digunakan untuk   menetralkan   limbah   cair   yang   bersifat   terlalu  asam  atau  basa.  Namun  pada  beberapa  jenis  air  limbah  yang  megandung  zat  pewarna,  dengan  proses  netralisasi  warna  sudah  dapat  dikurangi   bahkan   dapat   hilang   sama   sekali.  Bahan kimia untuk menetralkan pH dipilih dengan  mempertimbangkan  harga,  kemudahan  dalam   memperolehnya   dan   keamanan   dalam   penyimpanan  disamping  tingkat  keefektifannya.  Bahan   kimia   penetral   yang   sering   digunakan   adalah   natrium   hidroksida,   natrium   karbonat,   kalsium   hidroksida   hidrat,   asam   sulfat,   asam   khlorida dan karbon dioksida.
2.       Koagulasi dan Flokulasi
Proses  koagulasi  dan  flokulasi  juga  dapat  digunakan  untuk  menghilangkan  warna.  Pada  proses koagulasi dan flokulasi, padatan termasuk juga  zat  pewarna  akan  saling  menempel  dan  membentuk  partikel  dengan  ukuran  yang  lebih  besar  dan  berat  (flok).  Flok  selanjutnya  dapat  dipisahkan   melalui   filtrasi,   pengendapan   dan   pengapungan.       Koagulasi   terjadi  akibat  penurunan potensial    zeta    pada    permukaan    partikel    sehingga dapat bergabung untuk   membentuk  partikel  yang  lebih  besar.  Proses  koagulasi  sangat  bergantung  pada  pH  operasi  dan    konsentrasi    koagulan    yang    digunakan. Koagulan  yang  sering  digunakan  adalah  lime,  kalsium  sulfat,  kalsium  hidroksida,  magnesium  hidroksida,  magnesium  sulfat,  ferri  klorida,  feri  dan fero sulfat dan kombinasi garam-garamnya
3.       Adsobsi
Adsorbsi    adalah    penyerapan    partikel-partimel   halus   oleh   bahan   adsorben.   Pada   proses ini warna yang ada dalam air limbah juga akan  ikut  terserap.  Proses  penghilangan  warna  dengan  karbon  aktif  saat  ini  banyak  digunakan  terutama   untuk   zat   warna   anorganik   dengan  konsentrasi  rendah.  Kelemahan  dari  proses  ini  diantaranya adalah hanya memindahkan polutan zat  warna  dari  air  limbah  ke  permukaan  karbon  aktif.   Pada   fase   tertentu,   karbon   aktif   akan mengalami    kejenuhan    dan    harus    dilakukan   
pencucian.  Air  hasil  cucian  karbon  aktif  ini  pada  akhirnya   akan   bermasalah   karena   berpotensi  menjadi air limbah lagi. Penghilangan     warna     dengan     proses   flokulasi-koagulasi  dan  adsorbsi  sifatnya  hanya  memindahkan zat warna ksususnya dari fase cair kedalam    fase    padat,    bukan    menguraikan   senyawa-senyawa  komplek  pembentuk  warna.  Dengan  demikian,  partikel-partikel  warna  yang  mengumpal   bersama   bahan   koagulan-flokulan  atau yang menempel pada bahan adsorben perlu diproses lebih lanjut sehingga tidak menimbulkan pencemaran lanjutan.
4.       Advanced Oxidation Process (AOPs)
Advanced   Oxidation   Processes   (AOPs) didefinisikan   oleh   Glaze   et   al.   (1987)   dan   Gottschalk,  et  al.  (2000)  sebagai  proses  yang melibatkan  pembentukan  radikal  aktif  hidroksil  (HO*)  dalam  jumlah  yang  cukup  untuk  proses  penguraian   air   limbah   dengan   menggunakan   oksidator kuat. Oksidator kuat yang dipakai dapat berupa    campuran    ozon    dengan    hydrogen    peroksida  (O3  +  H2O2),  ozon  dengan  sinar  ultra  violet   (O3 +   UV),   dan   campuran   hydrogen   peroksida  dengan  sinar  ultra  violet  (H2O2  +  UV).  Radikal  aktif  hidroksil  yang  dilepaskan  senyawa-senyawa       diatas       dengan       cepat       akan       mengoksidasi  polutan-polutan  zat  warna  dalam  air limbah. 

Kesimpulan
Kemajuan perindustrian di Indonesia terutama industri tekstil, dalam beberapa tahun terakhir industri tekstil menghasilkan limbah yang mencemari perairan terutama dikota-kota besar untuk itu pengawasan pengelolaan limbah cair yang dibuang disungai harus dijaga pengawasannya untuk mengurangi dampak pencemaran yang tiap tahun semakin meluas kerusakannya.
Jenis-jenis zat pewarna tekstil yang berbahaya diantaranya :
·         Azo
·         Antraqhuinones
·         Ftalosianin
·         Indigoid
·         Benzodifuranones
·         Oxazines
·         Polimetin
·         Di dan Tri-aril Karbonium
·         Karbonil Aromatik Polisiklik
·         Quinopthalones
·         Sulfur
·         Nitro dan Nitroso
Dampak pencemaran air sebagai berikut
·       Menurunkan jumlah oksigen dalam air
·       Mematikan binatang-binatang yang ada di air
·       Meningkatkan kecepatan reaksi kimia
·       Mengganggu kesehatan manusia
·       Mengganggu kesuburan tanah
·       Mengganggu produktivitas tumbuhan
Teknologi pengolahan limbah zat cair pewarna
1.   Netralisasi
2.   Koagulasi dan Flokulasi
3.   Adsobsi
4.   Advanced Oxidation Process (AOPs)

Daftar Pustaka
Hidayat, Atep Afia dan M. Kholil (2017), Kimia Industri dan Teknologi Hijau. Patona Media : Jakarta
Rudi Nugroho dan Ikbal (2005), Pengolaha  limbah berwarna industri tekstil dengan proses AOPs. JAI Vol.1,No.2 2005 http://download.portalgaruda.org/article.php?article=61910&val=4559&title=PENGOLAHAN%20AIR%20LIMBAH%20BERWARNA%20INDUSTRI%20TEKSTIL%20DENGAN%20PROSES%20AOPs (diunduh, 07 februari 2018)
Artikel 6 Dampak pencemaran air dan penyebabnya (2016),https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/hidrologi/dampak-pencemaran-air (diakses, 07 februari 2018)

Penanggulangan Polusi Udara di Perkotaan



Oleh : Nuriel Hanifan (@F25-Nuriel)

Abstrak
Kawasan perkotaan sebagai tempat hidup manusia mulai menunjukkan penurunan daya dukung Lingkungan. Hal ini dapat dilihat dengan tingginya tingkat polusi yang dihasilkan suatu daerah perkotaan. Sebagian besar polusi udara yang berada diperkotaan disebabkan oleh aktivitas manusia seperti penggunaan kendaraan bermotor, kegiatan perindustrian, serta kegiatan rumah tangga. Berbagai upaya tengah dilakukan pada kota kota besar seperti penggunaan ruang terbuka hijau, teknologi emisi buang yang semakin canggih , serta berbagai peralatan elektronik yang sudah ramah lingkungan agar degrasi udara diperkotaan tidak semakin memburuk.
Kata kunci : Polusi udara, bahan pencemaran udara, penanggulangan polusi
Pendahuluan
Pembangunan kota sering lebih banyak dicerminkan oleh adanya perkembangan fisik kota yang lebih banyak ditentukan oleh sarana dan prasarana yang ada. Gejala pembangunan kota pada saat ini mempunyai kecenderungan untuk meminimalkan ruang terbuka hijau dan juga menghilangkan wajah alam. Lahan-lahan bertumbuhan banyak dialihfungsikan menjadi pertokoan, pemukiman, tempat rekreasi, industri dan lain-lain (N. Dahlan, 2004 dalam  Iwan setiawan Basri, 2009). Sehingga menimbulkan polutan pada perkotaan semakin banyak karena tidak bisa dikelola oleh tumbuhan hijau.
Menurut Akhadi (2013) dalam Hidayat, Atep Afia dan Muhammad Kholil (2017) mengatakan, Pencemaran udara tak lain merupakan kerusakan yang terjadi secara sistematis pada salam satu bagian atmosfer, tepatnya lapisan troposfer. Polutan yang dilepaskan dari permukaan Bumi akan langsung ke lapisan troposfer sebagai bagian atmosfer yang bersinggungan langsung dengan permukaan bumi. Selanjutnya kegiatan pembangunan yang berkembang sangat pesat, terutama karena penerapan teknologi modern dalam aktivitas industri, telah menyebabkan perubahan kondisi lingkungan secara drastis, di antaranya komposisi udara.
Kenapa pencemaran udara sangat membahayakan kehidupan manusia, urgensinya ialah berkaitan dengan sistem perafasan dan kualitas kesehatan manusia secara keseluruhan yang sangat membutuhkan oksigen. Berikut paparan Hart (2015) mengutip pernyataan nobel, Dr. Otto Warburg (salah seorang pemenang hadiah Nobel), bahwa sel-sel kanker tidak dapat tumbuh dalam lingkungan yang kaya oksigen. Selanjutnya dijelaskan, bahwa ketika sel mengalami kekurangan oksigen maka kanker segera mengancam.
Isi
Perkotaan  merupakan sebuah pusat aktifitas manusia yang kepadatannya   cenderung   tinggi   dari wilayah lainnya yang  fungsinya selain sebagai tempat   hidup   juga   sebagai tempat    untuk    menghasilkan barang dan jasa (Anggraeni, 2005 dalam Iwan setiawan Basri, 2009).  Aktifitas manusia sekecil apapun akan menghasilkan dampak lingkungan. Issue  aktifitas  perkotaan yang ada dewasa ini adalah tingginya tingkat urbanisasi, tingginya kebutuhan transportasi  dan  tingginya  limbah  yang dihasilkan kota akibat kegiatan tersebut. Salah satu dampak lingkungan  yang  paling  kompleks  dan berimplikasi luas untuk aktifitas perkotaan   adalah   polusi   udara   yang dialami hampir di setiap kota besar. 
Penyebab polusi udara yang pertama yaitu alam itu sendiri seperti kebekaran hutan, letusan gunung. Penyebab polusi udara yang kedua adalah faktor manusia dengans segala aktifitasnya. Berbagai kegiatan manusia yang dapat menghasilkan polutan antara lain (Alamendah, 2014) dan (Woodford, 2014): Pembakaran, seperti pembakaran sampah, pembakaran kegiatan rumah tangga, kendaraan bermotor, dan kegiatan industri. Polutan yang dihasilkan antara lain asap, debu, grit (pasir halus), dan gas (CO dan NO). Dalam berbagai kegiatan manusia yang menimbulkan polutan ada beberapa bahan yang menimbulkan pencemaran udara dengan dampak yang paling membahayakan (Woodford, 2014), yaitu :
Sulfur dioksida : Batubara, minyak bumi, dan bahan bakar lainnya sering tidak murni dan mengandung sulfur serta senyawa organik( berbasi karbon).
Karbon monoksida : Proses pembakaran yang kurang sempurna dan dalam kondisi kekurangan oksigen akan menghasilkan CO.
Karbon dioksida : C02 merupakan gas rumah kaca yang dilepaskan oleh mesin industri, mesin mobil dan sepeda motor, serta pembangkit listrik. Gas Co2 berkontribusi terhadap masalah pemanasan global dan perubahan iklim.
Nitrogen Oksida :  polutan yang dihasilkan sebagai akibat tidak langsung dari pembakaran
Senyawa organik volatil (VOC) : Bahan kimia berbasi karbon(organik), dapat menguap dengan mudah pada suhu dan tekanan normal , dan juga diyakini memiliki efek buruk secara jangka panjang teerhadap kesehatan manusia.
Partikulat : adalah deposit jelaga sebagai polutan udara yang menghitamkan bangunan dan menyebabkan gangguna pernafasan.
Ozon : pada lapisan troposfer, ozon merupakan polutan yang bersifat toksik dan dapat merusak kesehatan.
Chlorofluorocarbons (CFC) : Gas CFC telah dinyatakan sebagai gas berbahaya dalam pemakaiannya, CFC terbukti dapat merusak lapisan ozon.
Pembakaran Hidrokarbon tidak sempurna : proses pembakaran tidak sempurna maka akan terjadi pelepasan karbon monoksida yang segera masuk ke atmosfer sebagai asap.
Logam berat : Logam berat dapat menyebar ke udara sebagai senyawa beracun atau sebagai aerosol

Penanggulangan pencemaran udara di perkotaan
Pencemaran udara pada perkotaan semakin lama semakin meningkat untuk itu harus ada upaya yang dilakukan untuk menanggulangi agar masyarakat perkotaan tetap bisa menghirup udara yang bersih dan sehat , diantaranya dengan :
Ruang terbuka hijau
Dapat dipastikan pada kota kota besar Ruang Terbuka Hijau (RTH) cukup sulit ditemukan atau bahkan luasnya yang tidak sesuai dengan peraturan yang sudah ditetapkan. Luas minimal ruang terbuka hijau yang dibutuhkan sebuah kota yang berkelanjutan dari aspek lingkungan adalah 30%
dari luasan total. Namun nyata nya seperti di Jakarta ruang terbuka hijau sangat sulit ditemui sudah banyak daerah pemukiman warga yang menutupi lahan tersebut, juga banyak pabrik-pabrik serta jalan-jalan yang terus dibangun dan menggerus lahan terbuka hijau pada perkotaan.
Penggunaan Transportasi umum
Seiring dengan semakin padatnya kota-kota besar, saat ini pemerintah terus mengkampanyekan gerakan penggunaan transportasi umum dijalanan kota besar. Selain mengurangi kemacetan penggunaan kendaran umum yang ramah lingkungan dapat mengurangi gas emisi pembuangan dari kendaraan bermotor yang semakin tahun semakin meningkat jumlahnya.
Teknologi Ramah lingkungan
Dalam beberapa tahun terakhir kemajuan teknologi terus dikembangkan dengan mengusung misi ramah lingkungan agar keadaan bumi tidak semakin parah karena berbagai kerusakan. Diantaranya saat ini terus diekembangkan pembangkit listrik dari tenaga alam itu sendiri seperti : Solar cell , PLTA,PLTU dan Geothermal. Saat ini juga sedang dikembangkan mobil mobil yang ramah lingkungan seperti mobl bertenaga listrik, mobil bertenaga air dan lain sebagainya. Begitu pula dengan dunia industri , mesin mesin yang digunakan semakin canggih sehingga selain menurunkan tingkat konsumsi energi juga mengurangi kadar pencemaran yang dikeluarkan oleh mesin tersebut.
Pemanfaatan pekarangan rumah
Untuk memberikan udara yang bersih sebaiknya dikota besar ditanami pohon yang rindang pada setiap lahan rumah yang mereka miliki, selain untuk membantu mengurangi pencemaran udara juga bermanfaat memberikan udara yang bersih dilingkungan rumah .
Pengurangan penggunaan CFC
Gas CFC sangat berbahaya bagi alam karena dapat menipiskan lapisan ozon, untuk penggunaan zat tersebut semakin dikurangi, untuk meberikan udara segar dan sejuk tanamlah tanaman hijau dirumah agar tumbuha tersebut membantu mengurangi hawa panas sehingga penggunaan cfc pada pendingin semakin berkurang.
Penutup
Kawasan perkotaan menjadi tujuan urbanisasi seluruh masyarakat karena dianggap dikota mudah dalam mencapai kemakmuran, namun dampak dari urbanisasi masyarakat desa ke kota adalah semakin tinggi jumlah penduduk dikota tersebut sehingga meningkatkan aktifitas yang dapat memberikan polusi terutama polusi udara. Berbagai aktifitas manusia mulai dari pembakaran sampah, penggunaan kendaraan bermotor, serta aktivitas industri yang memberikan dampak terhadap kualitas udara diperkotaan yang terus menurun.
Beberapa zat yang menimbulkan pencemaran udara dengan dampak yang paling membahayakan adalah :
·         Sulfur dioksida
·         Karbon monoksida
·         Karbon dioksida
·         Nitrogen Oksida
·         Senyawa organik volatil (VOC)
·         Partikulat
·         Ozon
·         Chlorofluorocarbons (CFC)
·         Pembakaran Hidrokarbon tidak sempurna
·         Logam berat
Kemudian penanggulangan dini terhadap pencemaran udara diperkotaan dengan cara :
·         Ruang terbuka hijau
·         Penggunaan Transportasi umum
·         Teknologi Ramah lingkungan
·         Pemanfaatan pekarangan rumah
·         Pengurangan penggunaan CFC

Daftar pustaka
Hidayat, Atep Afia dan M. Kholil (2017), Kimia Industri dan Teknologi Hijau. Patona Media : Jakarta
Basri, Iwan setiawan (2009), Jalur Hijau (Green belt) sebagai kontrol polusi udara hubungannya dengan kualitas hidup diperkotaan. SMARTek Vol 7, No 2 http://download.portalgaruda.org/article.php?article=10720&val=750&title=JALUR%20HIJAU%20%28GREEN%20BELT%29%20SEBAGAI%20KONTROL%20POLUSI%20UDARA%20HUBUNGANNYA%20DENGAN%20KUALITAS%20HIDUP%20DI%20PERKOTAAN (Diunduh 06, Februari 2018)
http://www.kelasipa.com/2015/04/5-cara-mengatasi-pencemaran-udara.html
https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/udara/polusi-udara-penyebab-dampak-dan-upaya-menanggulanginya