.

Tampilkan postingan dengan label @proyekD09. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @proyekD09. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Februari 2018

Bangunan Hijau Di Planet Bumi


 Oleh : Andreas Yoga Pratama (@F32-Andreas, @ProyekD09)

Abstrak
Pada zaman yang canggih ini, sudah banyak negara untuk berlomba-lomba dalam menemukan, mengembangkan dan menerapkan teknologi hijau. Tetapi dalam perlombaan menata teknologi hijau, harus mempunyai prinsip yaitu menimbulkan kenyamanan sosial, ekonomis dan ramah lingkungan.

Maju dengan Teknologi Hijau



Oleh : Nuriel Hanifan (@F25-Nuriel)

Abstrak
Saat ini kesadaran akan perlunya teknologi yang lebih ramah lingkungan makin meluas. Teknologi yang boros energi terutama sumber energi fosil, kalau tetap dipertahankan berpotensi besar mengancam kerusakan permanen kondisi planet bumi, sekaligus membahayakan kehidupan umat manusia.

Teknologi Hijau

Oleh : @F07_agung

Abstrak

 “Teknologi” lebih bermakna sebagai penerapan pengetahuan untuk tujuan praktis. Sedangkan “teknologi hijau” adalah teknik untuk menghasilkan energi dan/atau produk yang tidak mencemari atau meracuni lingkungan hidup. Teknologi hijau masih terus dikembangkan hingga saat ini.

BANGUNAN HIJAU ( Green Building)

Dibuat oleh : Fernando Andreas, @F15-Fernando,


Abstrak
Relatif cepatnya pertambahan jumlah penduduk dibarengi dengan perubahan dinamika sosial budaya masyarakat yang cenderung bersifat materialistik dan konsumtif serta perkembangan ipteks dan politik yang relatif cepat, telah banyak memunculkan kota-kota baru dan mendorong kota-kota yang sudah ada berkembang secara ekonomis dengan berbagai fasilitas infrastruktur fisik kota yang umumnya mengabaikan faktor lingkungan kota tersebut.

Teknologi Pengecatan Water Base


Oleh : Samuel Aditya Oka H. @F12-Samuel







Abstrak :

            Proses pengecatan di dalam suatu industri menghasilkan emisi yang tinggi. Hal tersebut dikarenakan material yang digunakan untuk pengecatan mengandung  Volatile Organic Compound (VOC) yaitu semacam senyawa organic yang menguap. Untuk dapat mengurangi emisi tersebut perlu adanya penerapan teknologi hijau, yaitu teknologi pengecatan permahyd water base. Teknologi tersebut merupakan teknologi yang lebih ramah lingkungan dari pengecatan konvensional, karena berbahan dasar air.

Kata Kunci : Teknologi Hijau, Teknologi Pengecatan Water Base

Teknologi Biomassa

Oleh : Yehezkiel Theo Parlindungan M, (@F19-Yehezkiel)



ABSTRAK

Teknologi hijau dikenal juga sebagai teknologi lingkungan dan teknologi bersih, merupakan integrasi antara teknologi modern dan ilmu lingkungan untuk lebih mengoptimalkan pelestarian lingkungan global dan sumber daya alam, serta untuk meminimalisir dampak negative dari berbagai kegiatan seluruh umat manusia di planet bumi.

BANGUNAN RAMAH LINGKUNGAN SEBAGAI PENJAGA LINGKUNGAN

Abstrak
Konsep bangunan ramah lingkungan atau green building concept adalah terciptanya konstruksi dari tahap perencanaan, pelaksanaan dan pemakaian produk konstruksi yang ramah lingkungan, efisien dalam pemakaian energi dan sumber daya, serta berbiaya rendah, dan memperhatikan kesehatan, kenyamanan penghuninya yang semuanya berpegang kepada kaidah bersinambungan.Bangunan hijau juga harus dimulai dengan penggunaan lahan yang sesuai dengan tata ruang kota dan merupakan daerah peruntukan. Selain itu Green Building juga memperhatikan sampai taraf pengoperasian hingga dalam operasional pemeliharaannya. Manfaat Pembangunan Green Building meliputi manfaat lingkungan, manfaat ekonomi, manfaat sosial. Setiap kawasan memiliki peraturan mendirikan bangunan yang harus dipatuhi seperti Koefisien Dasar Bangunan (KDB), Koefisien Lantai Bangunan (KLB), Garis Sepadan Bangunan (GSB), dan Ruang Terbuka Hijau (RTH).
Studi ini bertujuan untuk mewujudkan suatu tempat di kawasan Segi Empat Tunjungan yang dihuni secara massal serta kelompok rumah tinggal yang dilengkapi sarana dan prasarana. Demi terciptanya suatu tatanan perkotaan dan penduduk kota yang ideal, sehat, aman, serasi, dan teratur, serta memberi peluang besar terhadap calon penghuni dan sekitar secara berkelanjutan, maka penerapan konsep arsitektur hijau digunakan sebagai pendekatan desain. Metode desain yang digunakan adalah metode Generating Architectural Concept and Idea yang kemudian akan dikembangkan selama proses desain dan menghasilkan desain yang skematik.
Kata kunci : pemilihan lahan, bangunan, ramah lingkungan, arsitektur hijau, rumah susun
PENDAHULUAN.
Pada umumnya tempat tinggal sering dipandang hanya sebagai bentuk fisik sebuah bangunan rumah yang mudah dikenali dan diidentifikasi. Hal ini membuktikan bahwa tempat tinggal hanya difungsikan sebagai tempat berlindung atau melindungi diri sehari-hari, mengingat bahwa kondisi alam tidak selamanya menguntungkan. Tempat tinggal juga merupakan sarana bagi manusia dalam menciptakan tatanan hidup kemasyarakatan. Hal ini mencerminkan bahwa tempat tinggal merupakan salah satu kebutuhan primer yang harus dipenuhi untuk kelangsungan hidup manusia dan juga merupakan determinan kesehatan masyarakat.
Namun dengan bertambahnya jumlah penduduk urbanisasi khususnya pada daerah pusat kota dan semakin maraknya kegiatan perekonomian mendorong timbulnya peningkatan kebutuhan lahan permukiman . Permasalahan yang terjadi pada permukiman kampung di tengah kota ini adalah penurunan kualitas lingkungan , tidak ada ruang terbuka hijau ± 90% telah terbangun, dan berbagai dampak masalah lainnya sehingga kawasan ini dinilai tidak layak huni.
Dengan berbagai masalah yang ada dalam kawasan ini, tentu perlu dilakukan strategi khusus yaitu peremajaan kampung dengan pembangunan suatu tempat yang dapat dihuni secara massal untuk para pendatang tersebut, yakni dengan pembangunan rumah susun. Demi terciptanya suatu tatanan perkotaan dan penduduk kota yang ideal, sehat, aman, serasi, dan teratur, serta memberi peluang besar terhadap calon penghuni dan sekitar secara berkelanjutan, maka penerapan konsep arsitektur hijau digunakan sebagai pendekatan desain.
Arsitektur hijau merupakan salah satu cara yang digunakan untuk mewujudkan arsitektur yang ekologis atau ramah lingkungan demi mencapai keseimbangan di dalam sistem interaksi manusia dengan lingkungan . Arsitektur hijau adalah arsitektur yang minim mengonsumsi sumber daya alam serta minim menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan, yang merupakan langkah untuk merealisasikan kehidupan manusia yang berkelanjutan . Aplikasi arsitektur hijau akan menciptakan suatu bentuk arsitektur yang berkelanjutan .
Konsep penghematan energi pada bangunan sebaiknya dimulai dengan pemilihan lahan dimana bangunan tersebut ditempatkkan. Efisiensi energi, air, dll, diterapkan pada aspek lahan dalam skala kawasan dan kota yang terkait dengan lingkungan binaan (built environment) akan semakin nyata. Efisiensi energi dalam hal aspek lahan yaitu dengan cara merancang lahan dan bangunan dengan mempertimbangkan aspek penghematan penggunaan energi. Sebagai contoh pengalihan fungsi area tanam menjadi bangunan menyumbang emisi CO2 sebesar 18,3 %. Kemudian jika bangunan sudah dipakai baik sebagai rumah tinggal atau bangunan komersial menyumbang emisi CO2 sebesar lebih dari 15 %. Dengan demikian perlu diantisipasi berbagai kemungkinan pelestarian lingkungan dan penghematan energy
ISI
Menurut Hidayat (2017) Teknologi Hijau ( Green Tech ) dikenal sebagai teknologi lingkungan ( Envirotech ) dan Teknologi Bersih ( Cleantech ) , Merupakan integrase antara teknologi modern dan ilmu lingkungan untuk lebih mengoptimalkan pelestrian lingkungan global dan sumber daya alam , serta untuk meminilmalisir dampak negative dari berbagai kegiatan seluruh umat manusia di planet bumi . salah satu nya adalah dengan arsitektur hijau .
Arsitektur hijau merupakan salah satu cara yang digunakan untuk mewujudkan arsitektur yang ekologis atau ramah lingkungan demi mencapai keseimbangan di dalam sistem interaksi manusia dengan lingkungan. Selain itu Arsitektur hijau adalah arsitektur yang minim mengonsumsi sumber daya alam serta minim menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan, yang merupakan langkah untuk merealisasikan kehidupan manusia yang berkelanjutan. dalam penerapan arsitektur hijau mencakup beberapa aspek, antara lain:
·         Ramah Lingkungan
Pada dasarnya, penerapan konsep ramah lingkungan ini menerapkan konsep arsitektur hemat energy, banyak memanfaatkan pengudaraan dan pencahayaan alami.
·         Berkelanjutan
 Arsitektur yang memenuhi kebutuhan saat ini, tanpa membahayakan kemampuan generasi mendatang, dalam memenuhi kebutuhan mereka sendiri.
·         Sehat
Pemanfaatan desain yang mempertimbangkan kesehatan lingkungan, kehidupan sekitar serta efek positif untuk kehidupan.
·         Iklim
Penerapan konsep yang mempertimbangkan iklim yang sesuai. Contohnya penggunaan konsep penghijauan yang sangat cocok untuk iklim tropis.
·         Kegunaan
estetik Penggunaan konsep desain yang tidak hanya mempertimbangkan keestetikaannya saja, tetapi juga kegunaan dan efek pada lingkungan.

Penataan sesuai zona peruntukan akan menempatkan kota tertata dengan baik serta mempermudah penyediaan sarana dan prasarana. Tetapi ada kemungkinan terjadi pemborosan energi terutama masalah transportasi, olehkarenanya untuk penghematan energi harus benar-benar diperhatikan tentang posisi lahan yang ada yang memungkinkan pemakaian energi bisa dikurangi semaksimal mungkin. Untuk mengurangi emisi gas CO2 maka berikut ini adalah : beberapa tanaman akan sangat baik dalam penyerapan CO2. Setiawati (2000) dalam Abrarsyah (2002) menyebutkan bahwa tanaman yang tergolong tahan terhadap pencemaran kendaraan bermotor adalah kembang merak, trembesi, angsana, asam londo, flamboyan, kupu – kupu, saputangan, kaliandra, sengon, nyamplung, kenanga, mahoni, eboni, krey payung, kesumba, glodokan, akasia aurikuliformis dan salam. Adapun tanaman yang tergolong sangat tahan terhadap pencemaran kendaraan bermotor adalah akasia mangium, sawo kecik, kayu manis, kayu putih, beringin dan kenari diacu dalam (Abrarsyah 2002).
Sedangkan untuk mengurangi pengurukan atupun pengangkutan tanah mka seorang arsitek sebaiknya memanfaatkan kontur tanah, kemiringan tanah untuk bangunan yang dibangun, Misal : bangunan hotel resort ditempatkan pada lahan yang mempunyai keindahan alam dan bila lahan mempunyai kemiringan tanah/ tidak datar atau curam bisa dibuat perencanaan bangunan yang memanfaatkan kemiringan lahan sebanyak – banyaknya sehingga bisa mengurangi penggunaan energi, tidak perlu mengangkut material dari tempat lain sehingga mengurangi transportasi yang akan mengurangi emisi gas CO2. Contoh : pemilihan lahan yang memperhatikan kemiringan tanah dan keindahan alam.
Setiap kawasan/zone peruntukan memiliki peraturan mendirikan bangunan yang harus dipatuhi seperti Koefisien Dasar Bangunan (KDB), Koefisien Lantai Bangunan (KLB), Garis Sepadan Bangunan (GSB), dan Ruang Terbuka Hijau (RTH).
Koefisien Dasar Bangunan (KDB) mengharuskan luas lantai dasar bangunan tidak melebihi prosentase yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Daerah setempat. Misal KDB kawasan hunian maksimal 70%, Ruang Terbuka Hijau (RTH) seluas 30% dari total luas lahan tersebut. Artinya bila lahan seluas 100m2 akan dibangun rumah hijau, maka luas maksimal lantai dasar adalah 100m2x 70% = 70m2, 30m2 nya digunakan untuk taman. (Nirwono Yoga, anggota Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia (IALI) di buku Gerakan Kota Hijau)
Bila KDB 70% maka luas lahan 100m2, maka luas 70m2 adalah luas maksimal yang dapat dibangun oleh pemilik lahan. Angka KDB bisa bervariasi tergantung pada lokasi lahannya.Semakin besar KDB maka semakin kecil RTH nya. Semakin besar RTH maka semakin besar kemungkinan air masuk ke dalam tanah pada lahan tersebut, dan semakin besar tanah menyerap air dari atas permukaan tanah, bisa memperkecil kemungkinan banjir. Air hujan tersebut disimpan di dalam tanah, air hujan tersebut di”tabung” oleh bumi. Pada saat kemarau, “tabungan” air dapat diambil sebagai persediaan air bersih.
Air hujan bukan untuk disalurkan menjauhi para pemakai air, tetapi air perlu disimpan sebagai persediaan pada musim kemarau. Managemen air yang kurang baik, bila ada saat tertentu akan berlimpah air tapi ada saat lain kawasan tersebut tidak memiliki air. Bangunan ramah lingkungan mampu menyerap air yang jatuh sebanyak banyaknya ke dalam tanah (zero run off).
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih lahan untuk pembangunan lingkungan binaan yang berwawasan lingkungan yaitu : bila lahan belum tersedia maka mencari lahan yang sesuai dengan peruntukannya. Misal : mendirikan bangunan yang berfungsi untuk kantor maka pemilik proyek harus mencari lahan yang memang diperuntukkan bagi fungsi perkantoran, dst. Peruntukan lahan dalam suatu wilayah kota maka diatur melalui rencana umum tata ruang kota (RUTK) dan rencana detail tata ruang kota (RDTRK). Pemilihan lahan yang memperhatikan mengenai konservasi energi, seperti : dengan memperbanyak RHT maka memperbanyak tabungan air tanah, lanskap arsitektur hemat energi yaitu dalam pemilihan material pembentuk lanskap , proses konstruksi dan pemeliharaan lanskap yang hemat energi.
Arsitektur ramah lingkungan, yang juga merupakan arsitektur hijau, mencakup keselarasan antara manusia dan lingkungan alamnya. Arsitektur hijau mengandung juga dimensi lain seperti waktu, lingkungan alam, sosio-kultural, ruang, serta teknik bangunan. Hal ini menunjukkan bahwa arsitektur hijau bersifat kompleks, padat dan vital dibanding dengan arsitektur pada umumnya.
Green architecture adalah pembangunan yang memperhatikan masalah ekonomi, hema energi, utilitas, daya tahan, dan kenyamanan, ramah lingkungan, dan dapat dikembangkan menjadi pembangunan berkesinambungan. Green architecture (dikenal sebagai konstruksi hijau atau bangunan yang berkelanjutan) adalah membuat struktur dan menggunakan proses pembuatannya memperhatikan terhadap lingkungan dan sumber daya yang efisien di seluruh siklus hidup bangunan: dari tapak untuk desain, konstruksi, operasi, pemeliharaan, renovasi, dan dekonstruksi.
Tujuan umumnya adalah bahwa bangunan hijau dirancang untuk me- ngurangi dampak keseluruhan dari ling- kungan yang dibangun pada kesehatan manusia dan lingkungan alam dengan cara :
·         Efisien menggunakan energi, air (memilih keran yang memakai tap yang hanya mengeluarkan air dalam volume tertentu) dan sumber daya lain seperti material bagunan
·         Kesehatan penghuni, melindungi dan meningkatkan produktivitas manusia dalam bekerja. *
·         Mengurangi limbah, polusi dan degradasi lingkungan.
Sebagai contoh bangunan yang ramah lingkungan adalah dengan mendesain bangunan yang memperhatikan banyak bukaan untuk memaksimalkan sirkulasi udara dan cahaya alami. Seperti desain interior, menggunakan interior yang ramah lingkungan dan mengurangi pengunaan listrik yang sangat berlebihan, misalnya menggunakan lampu hemat energi seperti lampu LED yang rendah konsumsi listrik, memperbanyak penggunaan panel sel surya sehingga bisa mengurangi kebutuhan energi listrik bangunan dan memberikan keuntungan antara lain tidak perlu takut kebakaran, hubungan pendek (korsleting), bebas polusi, hemat listrik, hemat biaya listrik, dan rendah perawatan. Sesedikit mungkin penggunaan pendingin ruang / AC pada siang hari dan memperbanyak pembuatan taman di lingkungan rumah dan gedung. Dengan jendela besar untuk lubang sirkulasi udara ke dalam ruangan.

Sedangkan pada desain eksteriornya, dengan menghindari penggunaan bahan bangunan yang berbahaya dan diganti dengan yang ramah lingkungan, dengan memperbanyak taman hijau dan taman dilingkungan rumah dan gedung untuk mengatur keseimbangan lingkungan sekitar.
Desain bangunan dengan atap-atap bangunan dikembangkan menjadi taman atap (roof garden, green roof) yang memiliki nilai ekologis tinggi (suhu udara turun, pencemaran berkurang, ruang hijau bertambah).
Sedangkan untuk material bangunan yang ramah lingkungan seperti misalnya kerangka bangunan utama dan atap, menggunakan material baja memiliki keunggulan lebih kuat, antikarat, antikeropos, antirayap, lentur, mudah dipasang, dan lebih ringan sehingga tidak membebani konstruksi dan fondasi, sehingga baja dapat digunakan sebagai pengganti pemakaian material kayu, untuk mengurangi penebangan hutan/pembabatan kayu hutan yang tak terkendali menempatkan bangunan berbahan kayu mulai berkurang sebagai wujud kepedulian dan keprihatinan terhadap penebangan kayu dan kelestarian hutan sebagai paru-paru dunia. Material bangunan lainnya yang ramah lingkungan misalnya semen instan, keramik ( untuk dinding pengganti wallpaper dan lantai ). Dinding keramik memberikan kemudahan dalam perawatan, pembersihan dinding (tidak perlu dicat ulang, cukup dilap), motif beragam dengan warna pilihan eksklusif dan elegan, serta menyuguhkan suasana ruang yang bervariasi, batu bata, aluminium (bisa untuk kusen jendela dan pintu juga sudah mulai menggunakan bahan aluminium sebagai generasi bahan bangunan masa datang). Aluminium memiliki keunggulan dapat didaur ulang (digunakan ulang), bebas racun dan zat pemicu kanker, bebas perawatan dan praktis (sesuai gaya hidup modern), hemat biaya, lebih kuat, tahan lama, antikarat, tidak perlu diganti sama sekali hanya karet pengganjal saja, tersedia beragam warna, bentuk, dan ukuran dengan tekstur variasi (klasik, kayu). sehingga dapat mewujudkan konsep bangunan ramah lingkungan.
Untuk bangunan ramah lingkungan (green building), tidak hanya disain bangunan dan material bangunannya saja yang dipikirkan tetapi juga dipikirkan masalah energi,selain energi listrik seperti diatas, merambah ke dunia sanitasi. Septic tank dengan penyaring biologis (biological filter septic tank) berbahan fiberglass dirancang dengan teknologi khusus untuk tidak mencemari air tanah dan lingkungan, antibocor atau tidak rembes, tahan korosi.
Untuk mengantisipasi krisis air bersih, dikembangkan sistem pengurangan pemakaian air (reduce), penggunaan kembali air untuk berbagai keperluan sekaligus (reuse), mendaur ulang buangan air bersih (recycle), dan pengisian kembali air tanah (recharge).
Dikembangkan sistem pengolahan air limbah bersih yang mendaur ulang air buangan sehari-hari (cuci tangan, piring, kendaraan, bersuci diri) maupun air limbah (air buangan dari kamar mandi) yang dapat digunakan kembali untuk mencuci kendaraan, membilas kloset, dan menyirami taman, serta membuat sumur resapan air (1 x 1 x 2 meter) dan lubang biopori (10 sentimeter x 1 meter) sesuai kebutuhan.

KESIMPULAN
Green building dimulai dengan perencanaan pada pemilihan lahan yang sesuai dengan tata ruang kota yaitu sesuai dengan peruntukannya, kemudian membuat bangunan hijau sebagai desain bangunan yang hemat energy, dimana system bangunan yang didesain dapat mengurangi pemakaian listrik untuk pencahayaan dan sirkulasi udara yang memungkinkan mengurangi penggunaan AC juga konstruksi yang menggunakan material bangunan yang ramah lingkungan. Konsep hijau yang terdiri dari enam aspek penting untuk bangunan ramah lingkungan meliputi:
1) Penataan dan penggunaan lahan sesuai dengan peruntukannya dan berkelanjutan
2) Penghematan sumber daya energy
3) Konservasi sumber daya air untuk menjamin keberlanjutan penyediaan air bersih
4) Pemilihan material yang ramah lingkungan dan memiliki daur hidup yang panjang
5) Peningkatan kesehatan dan kenyamanan dalam ruang yang sehat dan nyaman
 6) pengelolaan sistem bangunan yang mendukung keberlanjutan lingkungan.

DAFTAR PUSAKA
Hidayat, Atep Afia dan Muhammmad Kholill , (2017), Kimia, Industri dan teknologi hijau , Patona Media
Prawibawa, Putu Dera Lesmana dan Happy Ratna Santosa,(2015), Konsep arsitektur hijau daklam penerapan hunian susun dikawasan segi empat tunjungan Surabaya
Karuniastuti, Nurhenu , (2013), Banguna Ramah Lingkungan 

“Future Technology with Green Technology”

Oleh : Dede Abdulah K. (@F28-Komaludin)
Abstrak
Perkembangan teknologi yang kian melesat, terbukti telah menjadikan kehidupan manusia lebih sejahtera, dengan adanya teknologi segala aktivitas manusia menjadi mudah, efektif dan effisien.
Teknologi Hijau adalah keseluruhan kegiatan industri (bahan, proses, dan produk) harus ramah lingkungan, sehingga tidak berakibat terjadi kerusakan ekosistem lingkungan dan kehidupan manusia.
Salah satu produk dari penerapan Teknologi Hijau, adalah plastik Biodegradabl. Plastik tersebut meski memiliki fungsi yang sama dengan platik konvensional, namun plastik tersebut dapat mengalami dekomposisi dengan bantuan mikroorganisme karena sebagian besar dari bahan baku pembuatan plastik berasal dari limbah tumbuhan dan limbah hewan yang di kombinasi dengan gliserol sebagai pemplastis dan kitosan sebagai penguat.
Kata Kunci : Teknologi Hijau, Biodegradable, Plastik
Pendahuluan
Perkembangan teknologi yang kian melesat, terbukti telah menjadikan kehidupan manusia lebih sejahtera, dengan adanya teknologi segala aktivitas manusia menjadi mudah, efektif dan effisien. Namun dibalik berbagai manfaat yang dapat dirasakan untuk manusia menyisakan problematikan yang sangat serius, bahkan dapat membahayakan ekosistem lingkungan dan kelangsungan hidup manusia.
Eksploitasi besar – besaran terhadap lingkungan dengan tidak memperhitungkan akibat dari kerusakan lingkungan, mulai dari terjadi polusi, pencemaran, terjadi berbagai bencana sampai dengan pemanasan global adalah akibat dari kemajuan teknologi dan industri.
Pentingnya akan Teknologi dan Industri yang tetap mengedepankan aspek kelestarian lingkungan dan kehidupan manusia merupakan tantangan dari kemajuan ilmu dan teknologi masa depan.
Pembahasan
Memajukan teknologi dan industri dengan tetap memperhatikan lingkungan, adalah pekerjaan rumah yang harus segera di kerjakan, salah satu cara mengatasi hal ini adalah dengan menerapkan Teknologi Hijau. Menurut Atep (2017), kesadaran akan perlunya teknologi yang lebih ramah lingkungan makin meluas, terknologi yang boros energi terutama sumber energi fosil, kalau tetap dipertahankan berpotensi mengancap kerusakan permanen kondisi Planet Bumi, sekaligus membahayakan kehidupan umat manusia.
Teknologi hijau (Green Technology) adalah teknologi yang memperhatikan lingkungan (ramah lingkungan). Memurut Semarno (2011) dalam Atep (2017), Teknologi hijau adalah teknik menghasilkan energi dan atau produk yang prosesnya tidak mencemari lingkungan.
Menurut Atep (2017) terdapat beberapa konsep yang menjadi tujuan dari perkembangan Teknologi Hijau diantaranya :
1.      Konsep keberlanjutan, dimana kebutuhan masyarakat secara terus – menerus dapat dipenuhi tanpa merusak atau menghabiskan sumber daya alam.
2.      Konsep daur ulang, dimana dalam proses produksi manufaktur dirancang sedemikian rupa supaya dapat didaur-ulang atau digunakan kembali.
3.      Konsep pengurangan limbah dan polusi, dimana pola produksi dan konsumsi diubah sedemikian rupa sehingga hanya menghasilkan seminimal mungkin polusi dan limbah.
4.      Konsep inovasi, dalam hal selalu berupaya mengembangkan teknologi alternative.
5.      Konsep viabilitas, intinya adalah bagaimana kegiatan produksi dan konsumsi ramah lingkungan senantiasa terpelihara keberadaannya.
6.      Konsep edukasi, upaya untuk meningkatkan pemahaman masyarakat secara keseluruhan melalui pendidikan dan pelatihan.
Inti dari Teknologi Hijau adalah keseluruhan kegiatan industri (bahan, proses, dan produk) harus ramah lingkungan, sehingga tidak berakibat terjadi kerusakan ekosistem lingkungan dan kehidupan manusia.
Salah satu produk yang dihasilkan dari penerapan Teknologi Hijau adalah plastik Bio-Degradable atau plastik yang mudah terurai oleh mikroorganisme, karena sifatnya yang dapat kembali kea lam, plastic biodegradable merupakan bahan plastik yang ramah terhadap lingkungan.
Seperti yang diketahui, plastik dan polimer adalah bahan hasil dari proses kimia (polymerisasi) dari monomer – monomer, polymer dan plastik sulit mengalami dikomposisi didalam tanah meskipun telah terkubur ratusan tahun. plastik bersifat tahan lama dan tidak mudah dihancurkan secara alami sehingga menjadi masalah lingkungan. Berbagai penanganan plastik dengan cara pemusnahan dengan cara pembakaran, Proses daur ulan dan Pemanfaatannya sebagai energi malah menghasilkan masalah baru yaitu dari sisi kesehatan dan ekonomi. Namun dengan menerapkan Teknologi Hijau dapat meminimalisir permasalahan dari penggunaan plastik.
Plastik Biodegradable adalah suatu bahan dalam kondisi tertentu, waktu tertentu mengalami perubahan dalam struktur kimianya, yang mempengaruhi sifat-sifat yang dimilikinya oleh pengaruh mikroorganisme (bakteri, jamur, algae). (Fachry, A. Rasyidi.2012). Plastik Biodegradable dibuat dengan memanfaatkan bahan baku dasar seperti limbah tumbuhan dan limbah hewan, yang di kombinasi dengan digunakan gliserol sebagai pemplastis dan kitosan sebagai penguat. Coniwanti ,Pamilia.(2014).
Plastik biodegradable biasanya disebut dengan bioplastik, yaitu plastik yang seluruh atau hampir  seluruh komponennya berasal dari bahan baku yang dapat diperbaharui. Plastik biodegradabel merupakan bahan plastik yang ramah terhadap lingkungan karena sifatnya yang dapat kembali ke alam


Kesimpulan
Teknologi dan Industri merupakan ujung tombak kesejahteraan kehidupan manusia, namun diharapkan dengan semakin berkembangnya ilmu dan teknologi, tidak menimbulkan permasalahan serius bagi lingkungan dan kehidupan manusia.
Konsep dari penerapan Teknologi Hijau diharapkan dapat memperbaikin dan menyelamatkan ekosistem alam dan kehidupan manusia, karena baik dari bahan, proses dan produk dibuat sedemikian rupa sehingga ramah lingkungan.
Salah satu produk dari penerapan Teknologi Hijau, adalah plastik Biodegradabl. Plastik tersebut meski memiliki fungsi yang sama dengan platik konvensional, namun plastik tersebut dapat mengalami dekomposisi dengan bantuan mikroorganisme karena sebagian besar dari bahan baku pembuatan plastik berasal dari limbah tumbuhan dan limbah hewan yang di kombinasi dengan gliserol sebagai pemplastis dan kitosan sebagai penguat.

Daftar Pustaka.
Hidayat, Atep Afia dan M. Kholil.2017.Kimia,industri dan teknologi hijau. Jakarta : Pantona Media

Fachry. A. Rasyidi. Dkk. 2012. Pemanfaatan limbah kulit udang dan limbah kulit ari singkong sebagai bahan baku pembuatan plastik biodegradeble. Jurnal Teknik Kimia No. 3, Vol. 18, Agustus 2012. Dalam http://jtk.unsri.ac.id/index.php/jtk/article/view/19
(diunduh 12 Februari 2018)

Karina, Myrtha. 2015. Penelitian dan pengembangan plastik ramah lingkungan di indonesia. Prosiding Seminar Nasional Kulit, Karet, dan Plastik ke-4 Yogyakarta, 28 Oktober 2015. dalam
(diunduh 12 Februari 2018)

Coniwanti, Pamilia. Dkk.2014. Pembuatan Fil Plastik Biodegradable dari pati jangung dengan penambahan kitosan dan pemplastis gliserol. Jurnal Teknik Kimia No. 4, Vol. 20, Desember 2014 dalam http://jtk.unsri.ac.id/index.php/jtk/article/view/188
(diunduh 12 Februari 2018)

Silvia Nasution. Reni.2015. Berbagai cara penanggulangan limbah plastik. Journal of Islamic Science and Technology Vol. 1, No.1, Juni 2015. dalam
(diunduh 12 Februari 2018)
Cornelia, Melanie Dkk. 2013 . Pemanfaatan pati biji durian (Durio zibethinus Murr ) dan Pati sagu (Metroxylon sp.) dalam pembuatan bioplastik. J. Kimia Kemasan, Vol.35 No.1 April 2013 : 20-29. Dalam

(diunduh 12 Februari 2018)

Penerapan Teknologi Ramah Lingkungan




Oleh : Adik Mukti (@F02-Adik)
Abstrak
Kerusakan lingkungan telah banyak terjadi di mana-mana. Penipisan ozon, efek rumah kaca sehingga berimbas pada pemanasan global di bumi ini telah terjadi dan dapat ditemukan fakta-fakta tentang bencana tersebut. Musim yang tak menentu, es di kutub yang mulai mencair adalah beberapa contohnya. Oleh karena itu, kita perlu “menyembuhkan” kembali alam kita dengan membuat dan menggunakan produk-produk serta teknologi yang ramah lingkungan. Disebut “ramah” karena kelebihan produk dan teknologi ini adalah tidak merusak lingku

Pentingnya Teknologi Hijau

Oleh : Khadijah Zahrah (@F29-Khadijah)


Abstrak
Pesatnya perkembangan sektor industri di Indonesia dapat berdampak pada lingkungan hidup. Kerusakan lingkungan hidup merupakan pokok permasalahan yang tiada habisnya menjadi perbincangan. Teknologi merupakan faktor pendukung industri untuk membuat pekerjaan manusia semakin lancar. Semakin berkembangnya teknologi untuk solusi terhadap dampak lingkungan, maka terciptanya teknologi hijau yang merupakan salah satu upaya untuk menjaga kelestarian dan keberlanjutan kehidupan manusia.

Kata kunci : teknologi hijau

Isi
Isu mengenai kerusakan lingkungan hidup menjadi tren perbincangan di kalangan masyarakat. Kita merasakan bumi yang makin panas, banjir, serta pencemaran udara, air, dan tanah; semua itu adalah masalah yang menimbulkan banyak dampak negatif bagi manusia. Gaya hidup manusia yang tidak ramah lingkungan dan eksploitasi alam yang berlebihan telah membuat alam ini berduka. Lingkungan hidup menjadi rusak dan terjadilah ketidakadilan ekologi.

Melihat kenyataan ini berbagai pihak berlomba-lomba untuk menciptakan sebuah teknologi ramah lingkungan. Teknologi yang mampu memanfaatkan energi alternatif serta dapat mengurangi dampak buruk kerusakan lingkungan. Berbagai pihakpun kini gencar melakukan penelitian guna menciptakan teknologi yang benar-benar ramah lingkungan seperti teknologi hijau.

Teknologi hijau adalah aplikasi sains alam sekitar untuk memelihara sumberdaya alam serta mengelola dampak negatif akibat akitivitas manusia. Menurut Hidayat dan Kholil (2017) Teknologi hijau adalah teknologi yang penggunaannya minim menggunakan sumber daya alam, termasuk sumberdaya energi, mineral, air dan material, serta minim menimbulkan dampak negative bagi lingkungan dan manusia. Ia juga menghemat energi dan sumberdaya alam serta menggalakkan sumber-sumberdaya yang renewable.

Tujuannya adalah mengurangi penggunaan energi dan sekaligus meningkatkan pembangunan ekonomi. Selain itu, teknologi hijau memastikan pembangunan lestari dan memelihara sumberdaya alam untuk generasi mendatang serta meningkatkan pendidikan dan kesedaran masyarakat terhadap teknologi hijau dan menyebar-luaskan aplikasi teknologi hijau. Teknologi hijau juga mampu mengurangi emisi karbon ke udara yang menyebabkan fenomena perubahan iklim global.

Teknologi hijau sendiri saat ini memang sangat dibutuhkan untuk mengurangi dampak negatif dari aktivitas manusia terhadap lingkungan yang kian hari kian parah. Teknologi hijau bertujuan untuk menekan penyebab kerusakan lingkungan serta pengurangan sumber daya alam ini. Lagipula teknologi hijau merupakan alternatif terbaik karena manusia tidak bisa terus menerus menggunakan teknologi yang justru memperburuk kondisi lingkungan saat ini.

Teknologi hijau di era globalisasi adalah teknologi yang bermanfaat bagi banyak umat manusia dan teknologi tersebut haruslah: Pertama, ramah lingkungan, contohnya minim polusi atau bahkan tidak menimbulkan polusi. Kedua, bersifat sustainable atau berkesinambungan sehinggap pemanfaatan teknologinya dapat dirasakan untuk waktu yang lama, dan Ketiga teknologi dapat diterapkan (applied).

Teknologi hijau merujuk kepada produk, peralatan, atau sistem yang memenuhi kriteria berikut:
  1. Meminimumkan degrasi kualitas lingkungan
  2. Mempunyai pembebasan gas rumah kaca (GHG) yang rendah
  3. Aman untuk digunakan dan menyediakan lingkungan hidup sehat dan lebih baik untuk semua kehidupan
  4. Menghemat energy dan sumberdaya alam
  5. Menggalakkan sumber-sumber yang dapat diperbaharui (renewable).
Lima Objektif  Dasar Teknologi Hijau
  1. Untuk menyelaras pertumbuhan industri teknologi hijau dan meningkatkan sumbanganya terhadap ekonomi negara.
  2. Untuk membantu pertumbuhan dalam industri teknologi hijau dan meningkatkan sumbanganya kepada ekonomi negara.
  3. Untuk meningkatkan keupayaan bagi inovasi dalam pembangunan teknologi hijau dan miningkatkan daya saing teknologi tersebut
  4. Untuk memastikan pembangunan berlanjut dan memelihara alam sekitar untuk generasi akan datang.
  5. Untuk meningkatkan pendidikan dan kesadaran masyarakat terhadap teknologi hijau dan menggalakkan penggunaan secara meluas beragam teknologi hijau.
Empat tonggak Dasar Teknologi Hijau
  1. Energi:  Mencari ketidak-bergantungan energi dan mempromosikan kecukupan energi
  2. Lingkungan hidup dan Alam Sekitar: Memelihara dan meminimumkan dampak terhadap lingkungan.
  3. Ekonomi: Meningkatkan pembangunan ekonomi negara melalui penggunaan teknologi
  4. Sosial: Meningkatkan kualitas hidup untuk semua.
Bidang berkaitan teknologi hijau
  1. Energi: Ini satu isu yang popular karena melibatkan pembangunan energi alternatif dan ketahanan energi.
  2. Bangunan Hijau: Melibatkan semua aspek termasuk penggunaan bahan / material buatan – sintetis dan lokasi bangunan, bukan merujuk kepada warna bangunan tersebut.
  3. Kimia Hijau: Reka cipta, reka bentuk pemrosesan dan aplikasi kimia serta meminimumkan penggunaan bahan berbahaya.
  4. Nanoteknologi Hijau: Melibatkan manipulasi bahan pada skalar nanometer atau satu bilion lebih kecil berbanding ukuran satu meter, ia melibatkan aplikasi kimia hijau dan prinsip standarisasi.


Daftar Pustaka

Hidayat, Atep Afia dan M.Kholil. 2017. Kimia, Industri dan Teknologi Hijau. Pantona Media : Jakarta





Kenyamanan Menggunakan Teknologi yang Ramah Lingkungan!

oleh: @F17-jaenudin

Abstrak


Teknologi ramah lingkungan adalah sebuah metode atau sistem untuk mencapai tujuan tertentu yang mana dalam pelaksanaannya mengacu pada wawasan lingkungan dan atau memperhatikan kaidah-kaidah lingkungan di sekitarnya. Dari pengertian tersebut telah mengilhami lahirnya bermacam-macam teknologi terapan, yang aman sekaligus bersahabat dengan makhluk hidup ataupun alam di sekitarnya. Teknologi yang di maksud kini telah banyak beredar meliputi beberapa aspek dalam kehidupan manusia, termasuk dalam sektor elektronik konsumen. Di akui memang, untuk bisa mendapatkan teknologi ini dibutuhkan biaya cukup mahal bila dibandingkan membeli peralatan dengan teknologi konvensional. Kondisi tersebut tentu menjadi tantangan bagi kita utamanya para pengembang untuk menciptakan teknologi hijau yang ramah akan lingkungan namun juga terjangkau harganya (murah).

Kata kunci: Teknologi Ramah Lingkungan

Prinsip dalam Konsep Teknologi Ramah Lingkungan

Secara sederhana, teknologi ramah lingkungan adalah teknologi yang diciptakan untuk memudahkan kehidupan manusia tanpa perlu merusak atau memberikan dampak negatif pada lingkungan di sekitarnya. Teknologi seperti ini diharapkan mampu menjaga lingkungan, misalnya dalam alat-alat teknologi ramah lingkungan tersebut tidak menggunakan polutan, serta pada akhirnya dapat memberikan penanganan yang tepat terhadap limbah-limbah yang mungkin dihasilkan dari alat-alat teknologi ramah lingkungan tersebut.

Ada 6 prinsip yang diterapkan pada konsep teknologi ramah lingkungan, yaitu:
1.      Refine, yang berarti menggunakan bahan yang ramah lingkungan serta melalui proses yang lebih aman dari teknologi sebelumnya.
2.      Reduce, yang berarti mengurangi jumlah limbah dengan cara mengoptimalkan penggunaan bahan.
3.      Reuse, yang berarti memakai kembali bahan-bahan yang tidak terpakai atau sudah berupa limbah dan diproses dengan cara yang berbeda.
4.      Recycle, yang berarti hampir sama dengan reuse, hanya saja recycle menggunakan kembali bahan-bahan atau limbah dan diproses dengan cara yang sama.
5.      Recovery, yang berarti pemanfaatan material tertentu dari limbah untuk diproses demi keperluan yang lain.
6.      Retrieve Energy, yang berarti penghematan energi dalam suatu proses produksi.
7.      Manfaat dari Konsep Teknologi Ramah Lingkungan

Teknologi yang ramah terhadap lingkungan tentunya memberikan manfaat yang sangat besar bagi kehidupan sehari-hari, antara lain:
a.       Teknologi ramah lingkungan sangat efektif dan efisien dalam hal pemanfaatan sumber daya alam, sehingga lingkungan pun dapat tetap terjaga dengan baik.
b.      Teknologi ramah lingkungan dapat mengurangi jumlah limbah agar tidak berlebihan, sehingga bisa mencegah pencemaran lingkungan.
c.       Teknologi ramah lingkungan mengurangi risiko penurunan kondisi kesehatan makhluk hidup, khususnya manusia.
d.      Teknologi ramah lingkungan dapat menekan biaya produksi (hemat) dengan memanfaatkan sumber daya alam sebagai bagian dari teknologi yang mampu menghemat biaya. Contohnya adalah pemanfaatan listrik tenaga surya yang hanya mengandalkan energi matahari tanpa dipungut biaya.

Contoh Penerapan Teknologi Ramah Lingkungan Dalam Kehidupan
a.       Mesin Tenaga Angin (Wind Power)
b.      Mesin Tenaga Surya (Solar Power)
c.       Hidroelektrik (Hydroelectricity)
d.      Mobil Tenaga Listrik (Electric Car)
e.       Sel Bahan Bakar (Fuel Cell)
f.       Toilet Pengomposan (Composting Toilet)
g.      Kulkas atau lemari pendingin Non Freon
h.      Pendingin ruangan (AC) Non Freon
i.        Pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN)
j.        Pembangkit listrik tenaga panas bumi (Enhanced Geolhermal System)

Bumi yang hijau dengan kekayaan alam didalamnya merupakan anugerah terindah dari Tuhan. Seperti para pendahulu, semua itu adalah karunia yang telah di curahkan sejak pertama kali kita lahir dan menghirup udara di dunia ini. Sebagai makhluk paling beradab, sudah seyogyanya manusia berperan lebih aktif dalam rangka menjaga serta melestarikan lingkungan hidup ini. Tentu semua orang menginginkan sebuah lingkungan yang bersih dari semua bentuk pencemaran. Baik air, udara maupun tanah adalah tiga unsur utama yang wajib kita jaga kelestariannya. Bilamana memang tak dapat dihindarkan, paling tidak bisa di minimalisir. Namun, untuk mewujudkannya tidaklah semudah membalik telapak tangan. Semua pihak harus bersinergi dan bergerak serentak. Jangan sampai ada pihak mengintervensi hanya karena membawa kepentingan politik serta golongan yang implikasinya dapat menghambat tujuan awal pelestarian lingkungan tersebut.


Daftar pustaka:

Hidayat, Atep Afia dan M. Kholil. 2017. Kimia, Industri dan Teknologi Hijau.Jakarta: Pantona Media

Sumber: astalog.com
https://environment-indonesia.com/portfolio/konsep-teknologi-ramah-lingkungan/

Rabu, 14 Februari 2018

TEKNOLOGI HIJAU : MEMBANGUN MASA KINI, MERAWAT MASA DEPAN








Oleh : Putri Mayang Sari (@F31-Putri, @proyekD09)

Abstrak

Kelangsungan peradaban manusia bergantung pada keutuhan lingkungannya. Dan keutuhan lingkungan akan bergantung pada kearifan manusia dalam mengelolanya. Maka setiap orang memiliki kebutuhan untuk menerapkan gaya hidup “hijau” yang ramah lingkungan serta teknologi hijau.

Kata kunci : Teknologi, teknologi ramah lingkungan dan teknologi hijau.

Isi Pembahasan

Definisi teknologi berdasarkan beberapa kamus terkemuka di dunia (Dictionary.com dan Meriam Webster) antara lain : Cabang pengetahuan yang berhubungan dengan penciptaan dan penggunaan sarana teknis dan keterkaitannya dengan kehidupan, masyarakat, dan lingkungan; penerapan pengetahuan untuk tujuan praktis; proses limbah atau industri, penemuan, metode atau sejenisnya; penggunaan ilmu pengetahuan dalam industri, teknik, dan sebagainya, untuk menemukan hal-hal yang berguna atau untuk memecahkan masalah (MW, 2016, dan DC, 2016).

Teknologi merupakan penerapan ilmu pengetahuan untuk tujuan praktis. Dengan kata lain teknologi merupakan penjabaran dan tindak lanjut dari ilmu pengetahuan. Menurut Karyono (2009), teknologi masa kini (konvensional) menawarkan kemudahan, kenyamanan, dan kecepatan bagi aktifitas manusia. Namun tanpa disadari teknologi tersebut cenderung konsumtif terhadap penggunaan energi fosil. Di sisi lainnya melonjaknya konsumsi energi fosil menyebabkan menipisnya cadangan minyak, memicu pemanasan bumi, perubahan iklim global, dan menimbulkan beragam bencana bagi kehidupan manusia. Selanjutnya permasalahan lingkungan juga muncul akibat limbah padat, cair, dan gas yang dihasilkan dari pengunaan teknologi dari sektor industri, perumahan, bisnis, transportasi, dan sebagainya, yang seringkali tidak mendapatkan penanganan sampai tuntas.
Kesadaran akan perlunya teknologi yang ramah lingkungan. Teknologi ramah lingkungan merupakan teknologi yang memproteksi lingkungan, mengurangi daya polutan, menggunakan seluruh sumberdaya secara berkelanjutan, mendaur-ulang lebih banyak produk dan limbahnya, dan mengangani sisa limbah dengan cara yang benar (SD-UN, 1992).

Menurut catatan Sumarno (2011), Teknologi hijau adalah teknik untuk menghasilkan energi dan atau produk yang prosesnya tidak mencemari lingkungan. Teknologi hijau merupakan salah satu upaya untuk menjaga kelestarian dan keberlanjutan kehidupan manusia di bumi. Teknologi hijau diprediksi akan banyak melahirkan kreatifitas dan inovasi yang menyebabkan perubahan lebih baik bagi peradaban manusia.
Teknologi hijau merupakan salah satu upaya untuk menjaga kelestarian atau keberlanjutan kehidupan di bumi. Kelestarian atau keberlanjutan (sustainabilitas) yang dapat diartikan sebagai perihal pemenuhan kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan dimasa depan tanpa meerusak sumber daya alam, atau pemenuhan kebutuhan saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.
Beberapa tujuan utama dari penerapan Teknologi Hijau yaitu :
  •  Konsep keberlanjutan, di mana kebutuhan masyarakat secara terus-menerus dapat dipenuhi tanpa merusak atau menghabiskan sumber daya alam.
  • Konsep daur ulang, di mana dalam proses produksi manufaktur dirancang sedemikian rupa supaya dapat didaur-ulang atau digunakan kembali.
  • Konsep pengurangan limbah dan polusi, di mana pola produksi dan konsumsi diubah sedemikian rupa sehingga hanya menghasilkan seminimal mungkin limbah dan polusi.
  • Konsep inovasi, dalam hal ini selalu berupaya mengembangkan teknologi alternatif.
  • Konsep viabilitas, intinya ialah bagaimana kegiatan produksi dan konsumsi ramah lingkungan senantiasa terpelihara keberadannya.
  • Konsep edukasi, upaya untuk meningkatkan pemahaman masyarakat secara keseluruhan melalui pendidikan dan pelatihan.

Kesimpulan

Kelangsungan peradaban manusia bergantung pada keutuhan lingkungannya. Dan keutuhan lingkungan akan bergantung pada kearifan manusia dalam mengelolanya. Kesadaran akan perlunya teknologi yang ramah lingkungan. Teknologi ramah lingkungan merupakan teknologi yang memproteksi lingkungan, mengurangi daya polutan, menggunakan seluruh sumberdaya secara berkelanjutan, mendaur-ulang lebih banyak produk dan limbahnya, dan mengangani sisa limbah dengan cara yang benar (SD-UN, 1992).

Menurut catatan Sumarno (2011), Teknologi hijau adalah teknik untuk menghasilkan energi dan atau produk yang prosesnya tidak mencemari lingkungan. Teknologi hijau merupakan salah satu upaya untuk menjaga kelestarian dan keberlanjutan kehidupan manusia di bumi. Teknologi hijau diprediksi akan banyak melahirkan kreatifitas dan inovasi yang menyebabkan perubahan lebih baik bagi peradaban manusia.

Daftar Pustaka

Hidayat, Atep Afia dan M.Kholil (2017) dalam buku Kimia industri dan teknologi hijau, pantona media, jakarta.
http://prosiding-saintiks.ftik.unikom.ac.id/jurnal/teknologi-hijau-membangun.1q