.

Sabtu, 11 Agustus 2018

Oleh : @H12 - STEALLA

GAS RUMAH KACA BAGI LINGKUNGAN
@PROYEKH03





Abstrak :
Istilah “Gas Rumah Kaca” semakin sering kita dengar seiring dengan isu pemanasan global dan perubahan iklim yang dampaknya telah dirasakan di berbagai wilayah Indonesia. Namun pemahaman terhadap istilah “Gas Rumah Kaca” masih belum dipahami secara tepat oleh masyarakat luas. Ada yang mengartikan Gas Rumah Kaca sebagai gas yang dihasilkan oleh gedung-gedung tinggi berkaca di kota-kota besar. Sebenarnya “Gas Rumah Kaca” menggambarkan fungsi atmosfer bumi. Atmosfer di bumi diumpamakan sebagai kaca pada bangunan rumah kaca yang kita gunakan dalam praktek budidaya tanaman. Atmosfer bumi berperan sebagai penyaring (filter) radiasi sinar matahari. Lapisan ozon (O3) yang terdapat pada atmosfer membantu menahan radiasi sinar matahari yang bisa berdampak buruk bagi makhluk hidup, seperti merusak organ tubuh atau bahkan mematikan makhluk hidup di bumi.

Isi :
Seiring dengan kemajuan zaman yang diawali dengan adanya revolusi industri terjadi peningkatan GRK di atmosfer. Semakin meningkatnya kegiatan di sektor industri terutama industri kimia, tentunya bersamaan dengan semakin banyaknya dampak buruk bagi lingkungan. Salah satu dampak buruk dari aktivitas industri kimia  terhadap lingkungan adalah meningkatkan Gas Rumah Kaca. Gas rumah kaca (GRK) adalah istilah kolektif untuk gas-gas yang memiliki efek rumah kaca, seperti klorofluorokarbon (CFC), karbon dioksida (CO2), metana (CH4), nitrogen oksida (NOx), ozon (O3) dan uap air (H2O).
Peningkatan ini berasal dari berbagai sumber, seperti CO2 dari industri, pembangkit listrik, pembakaran bahan bakar fosil dan transportasi, sedangkan CH4 berasal dari lahan pertanian dan limbah yang tidak diproses. Gas-gas tersebut menahan lebih banyak radiasi dari yang dibutuhkan oleh bumi dan hasilnya suhu di permukaan bumi pun naik. Sumbangan emisi GRK tertinggi dihasilkan oleh gas CO2 , hampir 55% emisi GRK berasal dari gas tersebut. Gas CH4 hanya berkontribusi sekitar 15%, namun gas ini 21 kali lebih berpotensi menyebabkan efek rumah kaca daripada gas CO2 . Hal ini berdampak pada kerusakan lapisan ozon dan kenaikan suhu di bumi. Sedangkan gas N2 O memberikan kontribusi terkecil dari kedua gas sebelumnya, yaitu sekitar 6%. Meskipun kecil kontribusinya namun potensi terhadap efek rumah kaca paling tinggi, yaitu 296 kali dari CO2 . (Kartikawati, 2011)
Gas-gas di atmosfer yang bersifat seperti rumah kaca disebut “Gas Rumah Kaca (GRK)”. Terminologi Gas Rumah Kaca diartikan sebagai gas yang terkandung dalam atmosfer, baik alami maupun dari kegiatan manusia (antropogenik), yang menyerap dan memancarkan kembali radiasi infra merah. Sebagian radiasi dari matahari dalam bentuk gelombang pendek ini diterima permukaan bumi dan dipancarkan kembali ke atmosfer dalam bentuk radiasi gelombang panjang (radiasi infra merah). Radiasi gelombang panjang yang dipancarkan matahari yang kemudian oleh GRK (yang ada pada lapisan atmosfer bawah dekat dengan permukaan bumi) akan diserap dan menimbulkan efek panas yang dikenal sebagai “Efek Rumah Kaca”. (Martono)
Meningkatnya GRK memicu terjadinya Efek Rumah Kaca atau sering kita anggap sebagai gejala Global Warming. Global Warming adalah peristiwa naiknya suhu permukaan bumi. Gejala ini juga diikuti dengan naiknya suhu air laut, perubahan pola iklim seperti naiknya curah hujan, perubahan frekuensi dan intensitas badai serta naiknya tinggi permukaan air laut akibat mencairnya es di kutub. Perubahan iklim ini akan menyebabkan kerugian yang tidak sedikit, bukan hanya bagi industri pertanian, perikanan, dan pariwisata tetapi juga menyebabkan kerugian bagi kita (seperti krisis air bersih, meningkatnya frekuensi penyakit tertentu, dsb).
Sebenarnya upaya untuk mengantisipasi fenomena alam akibat pemanasan global sangat mudah dilakukan, tinggal bagaimana kesadaran manusia di dunia melestarikan dan menyelamatkan hutannya. Penyelamatan hutan menjadi penting dilakukan sebagai bagian dari upaya dunia intemasional mengantisipasi semakin parahnya efek pemanasan global. Kita ketahui bersama bahwa penyebab utama pemanasan global adalah terganggunya keseimbangan alam akibat ulah manusia, yaitu semakin tebalnya gas karbon (CO2) menyelimuti Bumi.
Salah satu fungsi hutan sendiri adalah sebagai penyerap emisi GRK (biasa juga disebut emisi karbon). Hutan dapat menyerap dan mengubah karbondioksida (CO2) menjadi oksigen (O2) yang merupakan kebutuhan utama bagi mahluk hidup. Ini berarti dengan luas hutan Indonesia yang cukup luas, sekitar 144 juta ha (tahun 2002), sudah tentu emisi karbon yang dapat diserap jumlahnya tak sedikit, sehingga laju terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim dapat dihambat
Masalah lingkungan dan kesehatan manusia yang terkait dengan penipisan lapisan ozon sesungguhnya berbeda derigan resiko yang dihadapi manusia dari akibat Pemanasan Global. Walaupun begitu, kedua fenomena tersebut saling berhubungan. Beberapa polutan (zat pencemar) memberikan kontribusi yang sama terhadap penipisan lapisan ozon dan Pemanasan Global. Penipisan lapisan ozon mengakibatkan masuknya lebih banyak radiasi sinar ultraviolet (UV) yang berbahaya masuk ke permukaan bumi. Namun, meningkatnya radiasi sinar UV bukanlah penyebab terjadinya Pemanasan Global, melainkan kanker kulit, penyakit katarak, menurunnya kekebala.n tubuh manusia, dan menurunnya hasil panen. Penipisan lapisan ozon terutama disebabkan oleh chlorofluorcarbon (CFC). Saat ini negara-negara industri sudah tidak memproduksi dan menggunakan CFC lagi. Dan, dalam waktu dekat, CFC akan benar -benar dihapus di seluruh dunia. Seperti halnya karbondioksida, CFC juga merupakan Gas Rumah Kaca dan berpotensi terhadap Pemanasan Global jauh lebih tinggi dibanding karbondioksida sehingga dampak akumulasi CFC di atmosfer mempercepat laju Pemanasan Global. CFC akan tetap berada di atmosfer dalam waktu sangat lama, berabad -abad. Artinya, kontribusi CFC terhadap penipisan lapisan ozon dan Perubahan Iklim akan berlangsung dalam waktu sangat lama. Pada intinya negara-negara di dunia harus berusaha melakukan efisiensi energi dan memasyarakatkan penggunaan energi yang dapat diperbarui (renewable energy) untuk mengurangi atau bahkan menghentikan ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Tidak salah kiranya pemerintah Indonesia harus tegas terhadap pembalakan liar yang selama ini dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan mementingkan keuntungan pribadinya, apalagi pembalakan liar ini sering dilakukan oleh cukong-cukong · dari negara tetangga. Terlepas dari itu semua, pemerintah hendaknya segera kembali merencanakan dan melakukan program-program reboisasi seperti yang pemah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya. Program ini dapat dilakukan dengan menggandeng institusi yang mudah digerakkan, misalnya menggandeng TNI maupun Polri begitu juga di negara-negara lain di dunia. Semoga saja kesadaran manusia di dunia untuk menjaga dan melestarikan hutan selalu terpelihara, sehingga efek pemanasan global dapat ditekan sesegera mungkin. (Fadliah)

Daftar Pustaka :

Adria Lina, Riska. KAJIAN EMISI GAS RUMAH KACA (CO2, CH4 DAN N2O) AKIBAT AKTIVITAS KENDARAAN. https://media.neliti.com/media/publications/191934-ID-kajian-emisi-gas-rumah-kaca-co2-ch4-dan.pdf

Anonimus. Teknologi Mitigasi Gas Rumah Kaca (Grk) Dari Lahan Sawah. http://www.litbang.pertanian.go.id/download/one/121/file/Pencegahan-Gas-Rumah-Kaca-.pdf



Diniya, S. Pd. PENGARUH EFEK RUMAH KACATERHADAP PERUBAHAN IKLIM EKSTRIM. http://www.academia.edu/12990045/PENGARUH_EFEK_RUMAH_KACA_TERHADAP_PERUBAHAN_IKLIM_EKSTRIM

Dr. Fadliah, M.S. Pemanasan Global, Faktor Penyebab, Dampak dan Solusi. http://download.portalgaruda.org/article.php?article=40612&val=3587

Goeritno, Arief. KEMUNGKINAN PENGENAAN PAJAK TERHADAP EMISI CO2 INDUSTRI. https://inis.iaea.org/collection/NCLCollectionStore/_Public/40/004/40004029.pdf

Hidayat, Atep Afia, Kholil, Muhammad. 2017. Kimia, Industri dan Teknologi Industri






Tidak ada komentar:

Posting Komentar