.

Tampilkan postingan dengan label @F24-Setiawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @F24-Setiawan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Februari 2018

Energi terbarukan untuk industri hijau

oleh: setiawan eji prayogi (@F24-Setiawan, @Proyek D08, )
Abstrak
Industri hijau merupakan penerapan teknologi yang ramah lingkungan yang mampu mengubah lingkungan hidup agar sesuai dengan kehidupan manusia, sumber daya alam diambil dan diolah untuk sebesar-besarnya kesejahterahan manusia secara lestari Menurut Hidayat dan Atep (2017) dalam Darsono (2014)

Jumat, 16 Februari 2018

Teknologi Tepat Guna Air Nira Sebagai Biotanol


Oleh : Setiawan eji prayogi (@F24-Setiawan, @Proyek D09, )

Abstrak

Teknologi merupakan penerapan ilmu pengetahuan untuk tujuan praktis. Dengan kata lain teknologi merupakan penjabaran dan tindak lanjut dari ilmu pengetahuan. Menurut Hidayat dan Kholil (2017) dalam Karyono (2009), teknologi masa kini (konvensional) menawarkan kemudahan, kenyamanan dan kecepatan bagi aktivitas manusia. Namun tanpa disadari teknologi tersebut cenderung konsumtif terhadap penggunaan energy fosil. Di sisi lainnya melonjaknya konsumsi energy fosil menyebabkan menipisnya cadangan minyak, memicu pemanasan bumi, perubahan iklim global, dan menimbulkan beragam bencana bagi kehidupan manusia akibat limbah padat, cair dan gas yang dihasilkan dari penggunaan teknologi di sector industry, perumahan bisnis, transportasi dan sebagainya, yang sering kali tidak mendapat penanganan sampai tuntas.

Kesadaran akan perlunya teknologi yang lebih ramah lingkungan makin meluas. Teknologi yang boros energy terutama sumber energy fosil, kalau tetap di pertahankan berpotensi besar mengancam kerusakan permanen kondisi Planet Bumi. Sekaligus membahayakan kehidupan umat manusia. Karyono (2009) menyebutkan, bahwa ketika Eropa mengalami krisis energy pada tahun 1973, muncul istilah Teknologi Tepat Guna/TTG (appropriate technology). Prinsipnya ialah menghilangkan ketergantungan pada sumber daya luar yang tidak dimiliki oleh masyarakat setempat. Pengolahan teknologi tepat guna memanfaatkan sumber daya local secara efektif, efisien dan tetap menjaga kelestarian lingkungan. Pada dasarnya teknologi tepat guna menawarkan solusi masalah yang cenderung tidak selalu tergantung pada penggunaan energy fosil.


Kata kunci : Teknologi Tepat Guna (TTG)

Isi pembahasan

Hadi, Sopyan dan Setya SM dan Syarif Bahry (2014) menjelaskan bahwa, cadangan  minyak  indonesia  diprediksi  hanya  cukup  10-15  tahun  kedepan.  Tingginya konsumsi  energi  dari  bahan  bakar  fosil  ditambah  dengan  meningkatnya  impor  bahan  bakar minyak  untuk  memenuhi  kebutuhan  perkembangan  ekonomi  nasional  menimbulkan  krisis ekonomi  dan  energi.  Penggunaan  bahan  bakar  fosil  juga  berdampak  terhadap  kerusakan lingkungan  dengan  tingginya  emisi  gas  buang  kendaraan  yang  berbahaya  terhadap  kesehatan. Dengan  kondisi  permasalahan  tersebut  dengan  memperhatikan  aspek  ekonomi,  lingkungan hidup,  dan  pemanfaatan  sumber  daya  alam  yang  berlanjut  ketersediannya    maka  perlu dieksplorasi    penelitian  dan  pengembangan  menggali  sumber  energi  baru  dan  terbaharukan (new  and  renewable  energy)  yang  arahnya  kepada  energi  biomassa  yaitu  bioetanol  dari penyadapan  nira  hutan  mangrove  nipah  sebagai  potensi  wilayah  pesisir  pantai.          

Penyedian  produksi  etanol  untuk  industri  energi  hijau  atau  biofuel  saat  ini  masih    didominasi dari  bahan  baku  tanaman  dengan  pola  farming  energy  yaitu  berasal  dari  tanaman  yang   berfungsi  ganda  untuk  kebutuhan  industri  pangan  dan  energi  juga  seperti  tebu,  jagung, singkong.  Hanya  sebagian  kecil  dari  bukan  komoditi  tanaman  pangan  akan  tetapi  ditanam pada  lahan  potensial  tanaman  pangan  serta  dalam  proses  pemanenan  juga    memiliki  tingkat kesulitan  yang  tinggi.  Energi  hijau  berbasiskan  farming  energy    atau  sistem  budidaya    dimulai melalui  beberapa  pola  tahapan  yaitu  diawali  dengan  pembersihan  lahan,  pengolahan  tanah, pembibitan,  persemaian,  penanaman,  pemanenan  habis  melaui  cara  potong  ataupun  cabut selanjutnya  kembali  ketahap  proses  semula.  Sistem  farming  energy  ini  terus  terjadi  berulangulang  setiap  tahun  dan  musim  tanam  mengakibatkan  degradasi  terhadap  kualitas  humus tanah.  Sehingga  berdampak  pada  masalah  lingkungan    yaitu  dengan  mengorbankan  ekosistem alami  kearah  bentuk  lain  atau  tujuan  tertentu  dari  fungsi  aslinya.     Sehingga  muncullah  konsep  ide  yaitu  mencari  solusi  energi  hijau  yang  serasi  dengan lingkungan  dengan  tetap  menjalankan  fungsi  lingkungannya  yaitu  ditinjau  dari  ketersedian dan  keberlanjutan  sumber  bahan  baku  ekosistem  alami  dengan  tetap  menjaga  fungsi ekologisnya  atau  diistilahkan  “Eco-green  Energi”. 

Hal  ini  tergambar    dari    potensi  ekosistem hutan  mangrove  Indonesia      yang  memiliki  pulau  dan  pantai  dengan  wilayah  pesisir  terluas  di dunia.  Ekosistem  mangrove  jenis  Nipah    dimungkinkan  untuk  dapat  dijadikan  sumber  bahan baku  energi  hijau  potensial  berpola  pengelolaan  konservasi  lingkungan  dan  bernilai ekonomis.  Ekosistem  hutan  mangrove  nipah  memiliki  fungsi  sebagai  proteksi  kawasan pesisir  pantai,  penahan  angin,  gelombang  dan  tsunami,  intrusi  air  asin,  sumber  oksigen, penyerap  CO2  dan  nursery  ground  sekaligus  memiliki  nilai  sebagai  sumber  bahan  baku energi  hijau  bioetanol.

      Seperti  halnya  teknologi  lain,  Tambunan, Djaban (2014) menjelaskan bahwa TTG  di  samping  mempunyai  beberapa  keunggulan, juga   kelemahan dibandingkan dengan teknologi modern seperti disajikan berikut ini.

1.   Keunggulan TTG Beberapa  keunggulan  TTG  dibandingka  dengan  teknologi  modern  adalah  sebagai berikut  :
a. Memerlukan biaya lebih kecil dalam pengadaan dan operasinya.
b. Memerlukan lebih sedikit sumberdaya.
c. Lebih  mudah dipelihara.
d. Mempunyai dampak lingkungan yang minimal.
e. Lebih  sesuai  untuk  masyarakat di  sekitar  hutan.
F. Dapat  dioperasikan  dan  dipelihara  oleh  orang  yang  tingkat  penguasaan teknologinya rendah
g. Menggunakan teknologi sederhana atau relatif  sederhana.
h. Sesuai untuk kegiatan ekonomi berskala kecil.
i. Berfokus pada ekonomi masyarakat kelas menengah dan bawah.
j. Pembangunan  dan  penggunaan  TTG  membuka  seluas-luasnya  partisipasi masyarakat lokal.
k. Tidak perlu tergantung pada barang impor.


2.   Kelemahan TTG Di  samping  berbagai  keunggulan  tersebut  di  atas,  terdapat  juga  beberapa kelemahan TTG sebagai berikut :

a. Kurang mampu beroperasi di medan yang berat.
b. Kurang mampu menangani kayu berukuran besar.
c. sulit  meyakinkan  masyarakat  untuk  memberikan  apresiasi  pada produk lokal.
d. Biasanya  sulit  mendapatkan  orang  yang  kreatif  dalam  mengembangkan  TTG di  masyarakat  tingkat    bawah.
e. sulit  mendapakan  kredit  untuk  mengembangkan  TTG  di  kelas masyarakat   ekonomi lemah.



Daftar Pustaka

Hidayat, Atep Afia dan M. Kholil.(2017). Kimia Industri dan Teknologi Hijau. Patona Media :  Jakarta.
Hadi, Sopyan dan Setya SM dan Syarif Bahry (2014). Karakteristik dan potensi dari air nira nipah (nypah fruitcans) untuk penerpan skala teknlologi tepat guna.
Tambunan, Djaban (2014). Teknologi tepat guna dalam pemanenan hutan di Indonesia: perkembangan, keunggulan,kelemahan dan kebijakan yang diperlukan untuk optimasi pemanfaatannya 







Sabtu, 10 Februari 2018

Konsep Green Chemistry



Oleh : @F24-setiawan , @proyekD07

Abstrak

Kimia hijau ( Green Chemistry ) adalah desain produk dannproses kimia yang berupaya mengurangi atau menghilangkan penggunaan zat berbahaya. Kimia hijau berlaku untuk seluruh siklus hidup produk kimia, termasuk desain, manufacture, penggunaan, dan pembuangan akhir. Kimia hijau dikenal juga sebagai kimia berkelanjutan ( Sustainable Chemistry). Dalam hal ini kimia hijau merupakan konsep dan pemikiran mengenai kimia untuk menyelamatkan lingkungan dari pencemaran. Kimia hijau bukanlah  cabang ilmu kimia baru, namun merupakan cara pandang atau strategi dalam kaitan nya dengan pemanfaatan kimia




kata kunci : kimia hijau

Isi pembahasan

      Penerapan konsep green chemistry pada mata kuliah pengetahuan lingkungan menurut Ulfa, maria dan Rahayu Praptining dan Rosita dewi Lussana (2013) Konsep  Pengetahuan Lingkungan

Lingkungan (Lingkungan,  Ekologi, Dampak Manusia terhadap  Bumi, Beberapa  Kasus Masalah  Lingkungan,  Pertumbuhan Kesadaran terhadap  Lingkungan,  Organisasi  Lingkungan Hidup di  Dunia,  Satuan  makhluk  Hidup, Komponen  Ekosistem, Rantai  Makanan  dan Jaring –jaring makanan ,  Interaksi  ant arspesies)

Green  Chemistry 

1. Perancangan  produk  kimia  yang lebih  aman
2. Energi  alternatif
3. Perancangan produk degradable
4. Analisa realtime pencegahan polusi
5. Pencegahan limbah
6. Efisiensi energy

Sedangkan konsep lainnya menurut Anwar muslih M.SC (2015) dalam Anastas dan Warner (1998) mengusulkan konsep“The Twelve Principles of Green Chemistry” yang digunakan sebagai acuan oleh para peneliti untuk melakukan penelitian yang ramah lingkungan. Berikut adalah ke-12 prinsip kimia hijau yang diusulkan oleh Anastas dan Warner :
1.      Mencegah timbulnya limbah dalam proses
Lebih baik mencegah daripada menanggulangi atau membersihkan limbah yang timbul setelah proses sintesis, karena biaya untuk menanggulangi limbah sangat besar.
2.      Mendesain produk bahan kimia yang aman
Pengetahuan mengenai struktur kimia memungkinkan seorang kimiawan untuk mengkarakterisasi toksisitas dari suatu molekul serta mampu mendesain bahan kimia yang aman. Target utamanya adalah mencari nilai optimum agar produk bahan kimia memiliki kemampuan dan fungsi yang baik akan tetapi juga aman (toksisitas rendah). Caranya adalah dengan mengganti gugus fungsi atau dengan cara menurunkan nilai bioavailability. 
3.      Mendesain proses sintesis yang aman
Metode sintesis yang digunakan harus didesain dengan menggunakan dan menghasilkan bahan kimia yang tidak beracun terhadap manusia dan lingkungan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan dua cara yaitu meminimalkan paparan atau meminimalkan bahaya terhadap orang yang menggunakan bahan kimia tersebut.
4.      Menggunakan bahan baku yang dapat terbarukan
Penggunaan bahan baku yang dapat diperbarui lebih disarankan daripada menggunakan bahan baku yang tak terbarukan didasarkan pada alasan ekonomi. Bahan baku terbarukan biasanya berasal dari produk pertanian atau hasil alam, sedangkan bahan baku tak terbarukan berasal dari bahan bakar fosil seperti minyak bumi, gas alam, batu bara, dan bahan tambang lainnya.
5.      Menggunakan katalis
Penggunaan katalis memberikan selektifitas yang lebih baik, rendemen hasil yang meningkat, serta mampu mengurangi produk samping.Peran katalis sangat penting karena diperlukan untuk mengkonversi menjadi produk yang diinginkan.Dari sisi green chemistry penggunaan katalis berperan pada peningkatan selektifitas, mampu mengurangi penggunaan reagen, dan mampu meminimalkan penggunaan energi dalam suatu reaksi.
6.      Menghindari derivatisasi dan modifikasi sementara dalam reaksi kimia
Derivatisasi yang tidak diperlukan seperti penggunaan gugus pelindung, proteksi/deproteksi, dan modifikasi sementara pada proses fisika ataupun kimia harus diminimalkan atau sebisa mungkin dihindari karena pada setiap tahapan derivatisasi memerlukan tambahan reagen yang nantinya memperbanyak limbah.
7.      Memaksimalkan atom ekonomi
Metode sintesis yang digunakan harus didesain untuk meningkatkan proporsi produk yang diinginkan dibandingkan dengan bahan dasar.Konsep atom ekonomi ini mengevaluasi sistem terdahulu yang hanya melihat rendemen hasil sebagai parameter untuk menentukan suatu reaksi efektif dan efisiens tanpa melihat seberapa besar limbah yang dihasilkan dari reaksi tersebut.Atom ekonomi disini digunakan untuk menilai proporsi produk yang dihasilkan dibandingkan dengan reaktan yang digunakan.Jika semua reaktan dapat dikonversi sepenuhnya menjadi produk, dapat dikatakan bahwa reaksi tersebut memiliki nilai atom ekonomi 100%. Berikut adalah persamaan untuk menghitung nilai atom ekonomi :
Atom ekonomi (%) = x100%
8.      Menggunakan pelarut yang aman
Penggunaan bahan kimia seperti pelarut, ekstraktan, atau bahan kimia tambahan yang lain harus dihindari penggunaannya. Apabila terpaksa harus digunakan, maka harus seminimal mungkin. Penggunaan pelarut memang sangat penting dalam proses sintesis, misalkan pada proses reaksi, rekristalisasi, sebagai fasa gerak pada kromatografi, dan lain-lain. Penggunaan yang berlebih akan mengakibatkan polusi yang akan mencemari lingkungan. Alternatif lain adalah dengan menggunakan beberapa tipe pelarut yang lebih ramah lingkungan seperti ionic liquids, flourous phase chemistry, supercritical carbon dioxide, dan“biosolvents”.Selain itu ada beberapa metode sintesis baru yang lebih aman seperti reaksi tanpa menggunakan pelarut ataupun reaksi dalam media air.
9.      Meningkatkan efisiensi energi dalam reaksi
Energi yang digunakan dalam suatu proses kimia harus mempertimbangkan efek terhadap lingkungan dan aspek ekonomi. Jika dimungkinkan reaksi kimia dilakukan dalam suhu ruang dan menggunakan tekanan.Penggunaan energi alternatif dan efisien dalam sintesis dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode baru diantaranya adalah dengan menggunakan radiasai gelombang mikro (microwave), ultrasonik dan fotokimia.
10.  Mendesain bahan kimia yang mudah terdegradasi
Bahan kimia harus didesain dengan mempertimbangkan aspek lingkungan, oleh karena itu suatu bahan kimia harus mudah terdegradasi dan tidak terakumulasi di lingkungan.Seperti sintesis biodegradable plastik, bioderadable polimer, serta bahan kimia lainya.
11.  Penggunaan metode analisis secara langsung untuk mengurangi polusi
Metode analisis yang dilakukan secara real-time dapat mengurangi pembentukan produk samping yang tidak diinginkan.Ruang lingkup ini berfokus pada pengembangan metode dan teknologi analisis yang dapat mengurangi penggunaan bahan kimia yang berbahaya dalam prosesnya.
12.  Meminimalisasi potensi kecelakaan
Bahan kimia yang digunakan dalam reaksi kimia harus dipilih sedemikian rupa sehingga potensi kecelakaan yang dapat mengakibatkan masuknya bahan kimia ke lingkungan, ledakan dan api dapat dihindari.
Aplikasi penerapan ke-12 prinsip kimia hijau ini masih belum sepenuhnya dilakukan para kimiawan khususnya yang bergerak pada bidang sintesis dalam hal desain reaksi dan metode yang digunakan untuk mencegah seminimal mungkin terjadinya pencemaran lingkungan. Marilah kita mulai penelitian yang lebih berwawasan lingkungan dengan mempertimbangkan aspek green chemistry, agar generasi mendatang dapat hidup lebih baik.



Daftar Pustaka


Hidayat, Atep Afia dan M. Kholil.2017. Kimia Industri dan Teknologi Hijau. Patona Media :  Jakarta

Ulfa, maria dan Rahayu Praptining dan Rosita dewi Lussana (2013). Konsep pengetahuan lingkungan green chemistry pada program studi pendidikan biologi

Anwar muslih M.SC (2015) Kimia Hijau / Green Chemistry


Pemecah atmosfer bumi



oleh : @F24-Setiawan, @Proyek D05

 Abstrak


Hidayat dan Kholil (2017) dalam Woodford (2014), polusi udara gas (atau cairan dan padatan yang tersebar melalui udara) yang di lepaskan dalam jumlah cukup banyak sehingga membahayakan kesehatan manusia dan hewan menghentikan atau menghambat pertumbuhan tanaman, serta merusak atau mengganggu beberapa aspek lain dari lingkungan (termasuk menimbulkan kerusakan bangunan, menimbulkan bau yang tidak menyenangkan, dan sebagainya)

         Dalam keterangannya Hidayat dan Kholil (2017) mengatakan dalam penggunaan bahan bakar minyak, kayu dan batubara menimbulkan efek samping di hasilkan polutan udara. Dari proses penggunaan batu bara dilepaskan sulfur dioksida ke udara yang sifatnya beracun, selain itu berpotensi menimbulkan pemanasan global dan hujan asam, ditandai dengan peningkatan suhu, hujan tidak menentu dan kekeringan terjadi di seluruh dunia, sehingga banyak hewan dan tumbuhan mengalami kesulitan untuk kelanjutan hidupnya. Polutan di udara berkaitan dengan peningkatan jumlah penderita penyakit asma dan kanker paru-paru pada manusia


kata kunci : Polusi udara
     
Isi pembahasan

     Di bidang industry sendiri Mosey, Handy I.R (2012) mengatakan bahwa pertumbuhan  dunia industri  baik  nasional  maupun  internasional telah mengakibatkan meningkatnya pencemaran  udara  di  daerah  lokasi  industri, bahkan  di  daerah  yang  berada  di  sekitar lokasi  tersebut.  Pengetahuan  tentang  kajian meteorologi  yakni  angin  dan  kestabilan  udara di  daerah  sekitar  lokasi  industri  sangat penting  sebelum  dibangunnya sebuah pabrik. udara juga dipengaruhi oleh faktor meteorologi  yakni  angin  dan  kestabilan udara.  Angin  menyebabkan  terjadinya  proses adveksi,  sedangkan  kestabilan  udara  (gradien suhu secara vertikal) mengakibatkan perbedaan  pola  kepulan  asap  yang  bergerak meninggalkan  cerobong. Penyebaran  polutan  di  udara  akibat emisi  asap  pabrik  dapat  dikaji  secara  fisis dengan  asumsi  bahwa  penyebaran  materi dalam  suatu media berlangsung  selama belum tercapainya  kesetimbangan  mekanik.  Proses ini  dikenal  dengan  nama  proses  difusi.

     Lalu masalah lainnya adalah mengenai pengembangan kawasan untuk pemukiman  seperti yang disampaikan Ruslan, M dan Rahmad (2013 ) dalam PP N0. 41 Tahun (1999) bahwa hal tersebut terjadi  karena jumlah penduduk semakin berkembang pesat, baik itu penduduk lokal  ataupun pendatang  yang ambil bagian dalam kegiatan perekonomian. Peningkatan jumlah penduduk akan berdampak pada perubahan penggunaan lahan baik untuk  pemukiman,  kawasan hijau kota ataupun peruntukan  lainnya.  Jumlah kendaraan Banjarbaru setiap  di Kota  tahun  juga mengalami  peningkatan. Peningkatan jumlah kendaraan akan meningkatkan kebutuhan  energi yang berdampak terhadap peningkatan  jumlah karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan. Udara sebagai sumber daya alam yang mempengaruhi kehidupan manusia serta makhluk hidup lainnya harus dijaga dan dipelihara kelestarian fungsinya untuk pemeliharaan kesehatan dan kesejahterahan manusia serta perlindungan bagi makhluk hidup lainnya. Supaya udara dapat   bermanfaat sebesar-besarnya bagi pelestarian fungsi lingkungan hidup, maka udara perlu dipelihara di jaga dan di jamin mutunya melalui pengendalian pencemaran udara


    Dengan beberapa masalah diatas salah satu usaha untuk menurunkan tingkat  polusi  dan  meningkatkan  kualitas hidup  masyarakat  adalah  dengan upaya  green  belt  development.  Green belt  development  merupakan  solusi yang  tepat  karena  secara  ekonomi  dan teknologi  layak  dikembangkan.  Upaya ini dibagi  menjadi  2  solusi  yaitu berdasarkan  parameter  biofisik  dan sosial  ekonomi.  Parameter  biofisik  yang dimaksud  disini  adalah  bagaimana pengembangan  green  belt  yang  ideal dan  bermanfaat  optimum  untuk  suatu kota  dari  segi  spesies  tanaman,  tinggi tanaman,  lebar  green  belt  dan  jarak green  belt  dari  pusat  pencemar.

      Basri, Iwan setiawan (2012 ) menjelaskan dalam .  Rowan  A.  Rowntree,  (1998) bahwa Green  belt  sebagai  salah  satu bentuk  hutan  kota  memiliki  fungsi menjaga  kelangsungan  hidup  bumi, yakni  sebagai  media  yang  memiliki kemampuan  mengurangi  zat  pencemar udara  termasuk  Karbon  Dioksida  (CO2) yang  melayang  di  udara  dan  penghasil Oksigen  (O2).   Disamping  itu  hutan memiliki  fungsi  dan  peran  sebagai penyerap  panas  sehingga  dapat mendinginkan  bumi  dan    hutan  kota yang  di  dalamnya  terdapat  berbagai macam  vegetasi  pada  saat berfotesitesis  memerlukan  sinar  matahari dan  Karbon  Dioksida    (CO2)    serta  unsur-unsur  lainnya   sehingga  dengan demikian  keberadaan  hutan  kota  dapat mengurangi  konsentrasi  Karbon  Dioksida (CO2)    di  udara  dan  dapat  menurunkan suhu. 

     Kemudian cara yang lain adalah dengan melakukan reboisasi atau penanaman hutan kembali penanaman kembali hutan yang telah ditebang (tandus, gundul). Reboisasi berguna untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia dengan menyerap polusi dan debu dari udara, membangun kembali habitat dan ekosistem alam, mencegah pemanasan global dengan menangkap karbon dioksida dari udara, serta dimanfaatkan hasilnya (terutama kayu). Pratama,fakhrurozi (2013) menjelaskan bahwa hal pertama yang harus dilakukan sebelum mengajukan permintaan reboisasi adalah menyusun rancangan reboisasi itu. Hal-hal yang harus dipikirkan adalah: Lokasi penanaman reboisasi Luas area penanama (Ha) Rencana kegiatan dan biaya Peta lokasi Peta Rancangan Kemudian, setelah prosedur diatas dilakukan. Sebelum melakukan penanaman masih ada hal-hal lain yang perlu dipersiapkan. Hal-hal tersebut dibagi dalam kategori yang seperti dibawah ini:

     Persiapan Lapangan. Menyiapkan dokumen rancangan pembuatan tanaman untuk lokasi penanaman blok/area/lokasi reboisasi Menyiapkan organisasi pelaksana seperti: Pemimpin pelaksana, pengawah/mandor dan tenaga kerja. Meyiapkan areal reboisasi dari konflik. Mencegah terjadinya konflik antar penduduk dan pekerja di area tersebut agar proyek reboisasi dapat berjalan dengan lancar. Menyiapkan bahan-bahan seperti: gubuk kerja, papan nama dll. Dan alat pengukuran seperti: kompas, GPS.

     Pengukuran ulang batas-batas lokasi serta menentukan letak tanaman sesuai dengan rancangan. Lokasi ditandai dengan ajir (kayu yang ditancapkan untuk menandakan lokasi) lalu menyiapkan bibit pada tempat penampungan sementara, dan pembuatan tanaman persiapan menyiapakn dokumen rancangan dan peta rancangan, kemudian menyiapkan bahan dan tenaga kerja, untuk membuka dan membersihkan lahan dan mamembuat lubang sesuai dengan ajir, mempersiapkan pupuk dasar, mendistribusikan bibit dari tempat pengumpulan bibit sementara ke petak taman.     

    Ada hal lain yang perlu diperhatikan juga sebelum menanamkan bibit ke tanah: Bibit dapat mudah dilepas dari polybag Kondisi lubang tanaman telah digali dan dalam keadaan yang baik, tidak tergenang air. Kondisi bibit dalam keadaan sehat dan memnuhi kriteria/standar yang telah ditetapkan untuk ditanam Penanaman harus disesuaikan dengan musim tanam yang tepat  Polybag dilepas dari media tanaman dengan hati-hati sehingga tidak merusak system perakaran tanaman Bibit dan media diletakkan pada lubang tanaman dengan tegak lurus kemudian lubang tanaman ditimbun dengan tanah yang telah dicampur dengan pupuk dasar sampai lebih tinggi dari permukaan tanah.



Kesimpulan

     Setiap harinya udara yang kita hirup kualitasnya semakin berkurang, itu terjadi juga karena campur tangan kita sendiri yang tidak begitu perduli dengan lingkungan, oleh karena itu sudah menjadi kewajiban kita untuk melakukan penanganan atau tindakan yang bisa meminimalisir bertambah buruknya kualitas udara yang kita hirup. Untuk itu beberapa cara diatas mungkin bisa di berlakukan tentunya dengan cara-cara lain yang mungkin bisa ikut serta dalam menangani masalah pencemaran udara.












Daftar pustaka

Hidayat, Atep Afia dan M. Kholil.2017. Kimia Industri dan Teknologi Hijau. Patona Media :  Jakarta
Mosey, Handy I.R (2012). Pemodelan Penyebaran Polutan Di Udara Dengan Solusi Persamaan Difusi Advektif
Basri, Iwan setiawan (2012 ). Jalur Hijau (Green Belt) Sebagai Kkontrol Polusi Udara Hubungan Dengan Kualitas Hidup di Perkotaan
Ruslan, M dan Basuki Rahmad. (2013) Kajian Ruang Terbuka hijau Dalam Rangka Pembentukan Hutan Kota Banjarbaru
Pratama, Fakhrurozi (2013) Proses atau cara reboisasi
 ( diunduh 10 febuary 2018)


Biogas Fases Manusia




  • oleh  : @F24-Setiawan, @Proyek D06,


Abstrak

Saat ini  planet bumi dihuni oleh lebih dari 7 miliar penduduk, tentu saja hampir setiap semua penduduk tersebut harus membuang limbahnya sebagai sisa dari proses pencernaan makanannya. Lantas kemana saja di buangnya? Bagaimana pengelolaannya?  Menurut Hidayat dan Kholil (2017) berdasarkan data dari organisasi kesehatan dunia (WHO) tahun 2013, ternyata 780 juta penduduk (sekitar 11% dari populasi dunia) tidak memiliki  akses terhadap air bersih ( air minum). Sedangkan 2,5 miliar ( sekitar 40 %dari populasi dunia ) ternyata tidak memiliki fasilitas sanitasi yang layak ( tidak memiliki toilet, tidak memiliki toilet yang layak).

 Dari data tersebut sudah dapat diduga bahwa sebagian limbah manusia memasuki kawasan perairan tanpa mengalami pengolahan limbah terlebih dahulu, sehingga terjadi pencemaran terhadap air permukaan dan air bawah tanah. Pada dasarnya pengelolahan limbah manusia masih dilakukan secara tradisional dan manual, kalau tidak dihimpun di septic tank, maka dibuang dan dialirkan langsung ke perairan. 

Kata kunci : limbah kotaran/fases manusia

Isi pembahasan

Riski, Petrus (2015). Mengatakan bahwa kotoran manusia atau human excreta menjadi salah satu alternatif yang masih belum dilirik masyarakat, untuk dijadikan bahan baku pupuk organik yang berkualitas. Selain itu kotoran manusia juga dapat menghasilkan energi alternatif yang terbarukan berupa biogas. Menurut Direktur Pusat Studi Lingkungan Universitas Surabaya, Yunus Fransiscus, keberadaan limbah maupun sampah rumah tangga harus dapat dipahami oleh masyarakat sebagai sumber daya yang dapat menghasilkan keuntungan ekonomi, sekaligus kebaikan bagi lingkungan.

Kholiq, Imam dan Muharom (2015) menerangkan bahwa, nutrisi  kotoran  manusia  tidak jauh  berbeda dibanding  kotoran  ternak.  Kalaupun  berbeda tentu  akibat  pola  makan  dan  sistem  pencernaan yang  berbeda.  Pola  makan  manusia  lebih banyak  memilih  bahan  makanan  kurang berserat,  protein  lebih  tinggi  dan  umumnya dimasak  sebelum  dikonsumsi,  sedangkan ternak  sebaliknya.  Kotoran  manusia  memiliki keunggulan  dari  segi  nutrisi,  dimana  nisbah karbon  (C)  dan  nitrogen  (N)  jauh  lebih  rendah dari  kotoran  ternak  (C/N  rasio  6-10:18-30)

Dari karakteristik diatas limbah manusia memiliki potensi untuk menjadi bahan bakar pembuatan energi biogas terutama  untuk  memasak  di  dapur,  maka  perlu dirancang  alat  biogas  skala  perumahan  yang efisien,  praktis,  ramah  lingkungan  dan  aman untuk  meningkatkan  nilai  tambah  dari  nilai kotoran  manusia. Febriyanto, Y Erfin dan Priyanto (2012) mengatakan bahwa, pemanfaatan  limbah  manusia  (  feses  )  sebagai  sumber  energi  dalam  bentuk  biogas  dapat menghasilkan  gas  metana  melalui  proses  fermentasi,  dimana  gas  metana  yang  dihasilkan  tersebut  dapat  dijadi kan sebagai  bahan  baku  dalam  memproduksi  hidrogen  dengan  proses  reforming,  sehingga  limbah  manusia  (feses) tersebut  yang  tadinya  merupakan  suatu  bahan  yang  tidak  berharga  dapat  dijadikan  sebagai  bahan  bakar  yang ramah  lingkungan  dan  tentu  saja  penggunaannya  akan  mengurangi  ketergantungan  akan  pemakaian  minyak  bumi.


Kesimpulan

Ketergantungan terhadap energy minyak bumi saat ini sudah sangat melekat pada masyarakat, dari ketergantungan tersebut membuat pasokan energy minyak bumi menjadi semakin menipis, oleh karenanya alternative energy biogas berbahan dasar kotoran manusia bisa menjadi terobosan untuk menanggulangi permaslahan energy tersebut. Meskipun terkesan menjijikan namun kandungan yang terdapat pada kotoran manusia bisa memberikan nilai tambah yang bermanfaat, dari pada hanya di buang dan berkemungkinan menyebabkan pencemaran air. Semoga alternative biogas kotoran manusia ini bisa menjadi jalan keluar untuk mengatasi pemasalahan energy dan juga pencemaran yang terjadi.



Daftar Pustaka

Hidayat, Atep Afia dan M. Kholil.2017. Kimia Industri dan Teknologi Hijau. Patona Media :  Jakarta.

Kholiq, Imam dan Muharom (2015). Analisis pererncanaan reactor biogas KAP 16 m3 dengan pemanfaatan kotoran manusia
Febriyanto, Y Erfin dan Slamet Priyanto (2012). Studi Pemanfaatan (kotoran manusia) sebagai Bahan baku alternative energy terbarukan


Riski, Petrus (2015). Kotoran manusia dapat dimanfaatkan untuk pupuk dan biogas https://www.google.co.id/amp/s/www.voaindonesia.com/amp/2719931.html  (diunduh 10 febuary 2018)

Sabtu, 03 Februari 2018

Fases ayam sebagai vitamin tomat


oleh : @F24-Setiawan, @Proyek D03, 

Abstrak

     Kusnandar, Uya (2013) menyatakan bahwa Pupuk Anorganik adalah Pupuk hasil proses rekayasa secara kimia, fisik dan atau biologis dan merupakan hasil industri atau pabrik pembuat pupuk. Dan Pupuk Organik adalah Pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri dari bahan organik yang berasal dari tanaman dan atau hewan yang telah melalui proses rekayasa, dapat dibentuk padat atau cair yang digunakan untuk mensuplai bahan organik, memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah.

     Menurut atep dan kholil (2017) dalam (ECI, 2013) mengatakan bahwa Industry kimia dasar dengan bahan dasar senyawa anorganik digunakan untuk manufactur dan pertanian, diproduksi dalam jumlah yang sangat besar( dapat mencapai jutaan ton per tahun). Sebagai contoh bahan dasar klorin, natrium hidroksida, sulfat dan asam nitrat, serta dan bahan kimia lainya untuk pupuk.

Kata kunci : pupuk organic dan anorganik

Isi pembahasan

     Luthvyrakhman, haveel dan anas D. susila (2013) bahwa Kesadaran akan pentingnya pertanian berkelanjutan  dan  kesulitan  untuk  mendapatkan  serta mahalnya  harga  pupuk  anorganik  pada  kalangan petani  mengarahkan  penelitian  kepada  pemanfaatan limbah  organik  yang  murah,  tersedia  dan  ramah lingkungan  yang  bisa  digunakan  sebagai  pupuk organik. Salah  satu  sumber  pupuk  organik  yang  umum adalah  pupuk  kandang  ayam. Luthvyrakhman, haveel dan anas D. susila (2013) dalam Odoemena (2006),  pupuk  kandang  ayam  merupakan  sumber  yang baik  bagi  unsur-unsur  hara  makro  dan  mikro  yang mampu  meningkatkan  kesuburan  tanah  serta  menjadi substrat  bagi  mikroorganisme  tanah  dan  meningkatkan aktivitas  mikroba,  sehingga  lebih  cepat  terdekomposisi dan  melepaskan  hara. 

     Aplikasi  pupuk  kandang  ayam juga  diyakini  memperbaiki  sifat  fisik  tanah  dan meningkatkan  daur  hara  seperti  mengerahkan  efek enzimatik  atau  hormon  langsung  pada  akar  tanaman sehingga mendorong pertumbuhan tanaman. Luthvyrakhman, haveel dan anas D. susila (2013) dalam Kandil  and  Gad  (2010) bahwa pada  tanah lempung  berpasir  dan  tingkat  kesuburan  yang  rendah pemupukan  dengan  kotoran  ayam  bisa  meningkatkan pertumbuhan  vegetatif  dan  kualitas  hasil  panen. Urutan  perlakuan  yang  berpengaruh  dari  yang  paling besar  adalah  pemberian  kotoran  ayam,  farmyard manure,  pupuk  NPK  mineral,  kompos  hasil  pertanian. Kotoran  ayam  dan  farmyard  manure  memberikan pengaruh  yang  nyata  terhadap  bobot  basah  dan  kering brangkasan,  produktivitas  dan  kualitas  buah  tomat dibandingkan kontrol berupa perlakuan pupuk NPK



Daftar Pustaka

Hidayat, Atep Afia dan M. Kholil.2017. Kimia Industri dan Teknologi Hijau. Patona Media :  Jakarta

Kusnandars, Uyat (2013)  Apaitu pupuk anorganik, apa itu pupuk organic, apa itu pupuk berimbang http://uyatkusnandars.blogspot.co.id/2013/01/apa-itu-pupuk-anorganik-apa-itu-pupuk.html   ( diunduh 03 febuary 2018)

Optimasi Dosis Pupuk Anorganik dan Pupuk Kandang Ayam pada Budidaya Tomat Hibrida (Lycopersicon esculentum Mill. L.)


http://download.portalgaruda.org/article.php?article=5292&val=197&title=Optimasi%20Dosis%20Pupuk%20Anorganik%20dan%20Pupuk%20Kandang%20Ayam%20pada%20Budidaya%20Tomat%20Hibrida%20%20(Lycopersicon%20esculentum%20Mill.%20L.)         ( diunduh 03 febuary 2018)