Industri Hijau
merupakan program pemerintah lewat Kementerian Perindustrian yang dikeluarkan
pada tahun 2010.
Tampilkan postingan dengan label @G09-RADEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @G09-RADEN. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 01 September 2018
Kota Hijau
Abstrak
Konsep Kota
Hijau adalah konsep pembangunan kota berkelanjutan yang menyelaraskan
lingkungan alam dan lingkungan buatan manusia sebagai respon terhadap kerusakan
lingkungan.
Sabtu, 18 Agustus 2018
Energi Alternatif
![]() |
| Energi alternatif |
Abstrak
Penggunaan
bahan bakar fossil memiliki banyak kelemahan. Salah satu faktor yang paling
berpengaruh adalah dampak buruknya bagi lingkungan berupa polusi dan gas rumah
kaca. Bahan bakar alternatif terus dikembangkan untuk menggantikan penggunaan
bahan bakar fossil. Perkembangan sumber bahan bakar alternatif terus dilakukan
agar di masa depan dapat diperoleh energi bersih dan terbarukan.
Pembahasan
Energi
atau tenaga bersifat abstrak dan sulit dibuktikan, tetapi dapat dirasakan keberadaannya.
Menurut Caffal (1995) dalam Raharjo et al. (2016) energi tidak dapat diciptakan
dan tidak dapat dimusnahkan, dapat dikonversikan atau berubah dari bentuk
energi yang satu ke bentuk energi yang lain, misalnya pada kompor di dapur,
energi yang tersimpan dalam minyak tanah diubah menjadi api. Jadi energi adalah
kemampuan dari suatu sistem untuk melakukan kerja pada sistem yang lain.
Menurut
Alkusma et al. (2016), Energi mempunyai peranan penting dalam pencapaian tujuan
sosial, ekonomi dan lingkungan untuk pembangunan berkelanjutan serta merupakan
pendukung bagi kegiatan ekonomi nasional. Semakin lama kebutuhan terhadap
energi setiap hari semakin meningkat. Akan tetapi persediaan energi terutama
dari Bahan Bakar Minyak (BBM) makin menipis dan suatu saat dapat habis sama
sekali (Yunginger, 2015).
Menurut
Dyah (2014) dalam Yunginger (2015), Oleh sebab itu diperlukan upaya pengadaan
energi alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak yang
bersumber dari fosil.
Sumber
energi alternatif
Pengertian
energi alternatif mengacu pada sumber energi yang tidak didasarkan pada pembakaran
bahan bakar fosil (Liun, 2011).
Menurut
Alkusma et. Al (2016), Energi terbarukan harus segera dikembangkan secara
nasional bila tetap tergantungan energi fosil, ini akan menimbulkan setidaknya
tiga ancaman serius yakni:
a. Menipisnya
cadangan minyak bumi yang diketahui (bila tanpa temuan sumur minyak baru)
b. Kenaikan/ketidakstabilan
harga akibat laju permintaan yang lebih besar dari produksi minyak, dan
c. Polusi
gas rumah kaca (terutama CO) akibat pembakaran bahan bakar fosil.
Menurut
Liun (2011), beberapa sumber energi alternatif yang dapat digunakan untuk
menggantikan sumber energi fosil adalah :
1)
Energi Surya
Matahari merupakan sumber utama
panas dan cahaya di bumi. Pada lapisan atmosfir terluar radiasi matahari rata-rata
sebesar 1.373 watt/m2. Sedangkan daya maksimum sinar matahari yang
sampai ke permukaan bumi sebesar 1.000 W/m2 secara langsung
2)
Energi Angin
Kapasitas listrik rata-rata yang
dihasilkan turbin baru telah meningkat dari 200 kilowatt pada tahun 1990
menjadi 2,5 megawatt tahun lalu. Pada tahun 1997, tenaga angin menghasilkan
hanya 7.636 megawatt daya, dan meningkat menjadi 47.912 megawatt ada akhir
tahun 2005, atau meningkat lebih dari enam kali lipat
3)
Tenaga Air
Sumber-sumber daya air berskala kecil sekalipun juga banyak
dikembangkan meliputi mikrohidro, tenaga pasang surut dan gelombang laut. Daya
pasang surut memanfaatkan energi baik arus yang diciptakan oleh pasang surut
atau, melalui penggunaan penghalang, kedalaman perubahan dalam cekungan sebagai
akibat arus pasang surut. Besarnya daya dari tenaga air diturunkan dari besarnya
energi potensial yang ditentukan oleh besarnya debit dan tinggi jatuh.
4)
Energi Panas Bumi
Pembangkit
Listrik Panas Bumi memanfaatkan tenaga tenaga panas bumi dengan cara manyalurkan
uap panas bumi ke turbin uap pada pembangkit. Relatif tidak ada produk sampingan
yang berbahaya bagi lingkungan. Juga tidak mengkonsumsi bahan bakar fosil
5)
Energi Biomassa
Energi dari biomassa merupakan sumber
energi terbarukan, bahan biologis atau organism hidup seperti kayu , limbah, (hidrogen) gas, dan bahan bakar alkohol.
6)
Energi Gelombang laut
teknologi
yang diuji termasuk pontoon yang dibaringkan di air yang menggunakan aksi gelombang
untuk mendorong dan menarik generator, serta mekanisme membran karet yang
menggunakan tekanan melalui gelombang untuk memompa air ke pantai yang menggerakkan
generator.
7)
Energi Nuklir
PLTN
tergolong pembangkit listrik yang mempu menghasilkan listrik dalam skala besar
hingga mencapai 1.000 –1.500 MW per unit. Karenanya PLTN sangat sesuai untuk negara-negara
industri maupun yang berpenduduk besar
Kesimpulan
Beberapa
jenis energi alternatif diatas masing-masing jenis mempunyai keunggulan dan
kekurangan. Energi terbarukan terutama surya, angin, biomass, dan gelombang
laut merupakan energi yang akan selalu tersedia, namun keandalan yang
ditawarkannya sangat rendah, karena intensitasnya rendah, tidak kontinyu, biaya
investasi tinggi, dan kemampuan kapasitas daya terbatas, meskipun sesuai untuk wilayah
yang kebutuhan energinya kecil (Liun, 2011).
Namun
pengembangan sumber energi alternatif adalah sebuah keniscayaan, karena kita
tidak mungkin dapat mengandalkan sumber energi hanya dari sumber energi fosil.
Daftar
Pustaka
Liun, E. 2011. POTENSI
ENERGI ALTERNATIF DALAM SISTEM KELISTRIKAN INDONESIA. Prosiding Seminar
Nasional Pengembangan Energi Nuklir IV, 2011, 311-322.
Nofriya. 2015. PENDAYAGUNAAN
SUMBER DAYA GENETIK RUMPUT LAUT SEBAGAI SUMBER ENERGI ALTERNATIF DI MASA DEPAN.
Jurnal Teknik Lingkungan UNAND 12 (1) : 38-47.
Alkusma, Y.,M., et al.
2016. Pengembangan Potensi Energi
Alternatif Dengan Pemanfaatan Limbah Cair Kelapa Sawit Sebagai Sumber Energi
Baru Terbarukan Di Kabupaten Kotawaringin Timur. Jurnal Ilmu Lingkungan, Vol. 14 (2): 96-102.
Yunginger et al. 2015. ANALISIS
ENERGI ANGIN SEBAGAI ENERGI ALTERNATIF PEMBANGKIT LISTRIK DI KOTA DI GORONTALO.
Penelitian Dasar Keilmuan, 1-15.
Raharjo et al. 2016. AUDIT
KONSUMSI ENERGI UNTUK MENGETAHUI PELUANG PENGHEMATAN ENERGI PADA GEDUNG PT
INDONESIA CAPS AND CLOSURES. Jurnal PASTI Volume X No. 3, 342 – 356.
Rabu, 15 Agustus 2018
Pencemaran Udara
![]() |
| Pencemaran Udara |
Abstrak
Udara
merupakan faktor yang sangat penting dalam kelangsungan proses biologis makhluk
hidup. Namun seiring berjalannya waktu, tingkat pertumbuhan ekonomi, kegiatan industri,
trasportasi, perkantoran dan kegiatan domestik berkontribusi besar dalam
pencemaran udara. Hal ini tentu membawa penurunan kualitas kehidupan pada
berbagai aspek dan secara langsung atau tidak, juga mempengaruhi manusia.
Pembahasan
Menurut
BPLH DKI Jakarta (2013) dalam Ismiyati et al. (2014), seiring perkembangan
pembangunan fisik kota dan pusat-pusat industri, serta berkembangnya transportasi,
maka, kualitas udara pun mengalami perubahan yang disebabkan oleh terjadinya
pencemaran udara, atau, sebagai berubahnya salah satu komposisi udara dari
keadaan yang normal; yaitu masuknya zat pencemar (berbentuk gas-gas dan partikel
kecil/aerosol) ke dalam udara dalam jumlah tertentu untuk jangka waktu yang cukup
lama, sehingga dapat mengganggu kehidupan manusia, hewan, dan tanaman.
A. Dampak pencemaran udara
Menurut
Budiyono (2001), dampak pencemaran udara dapat dibagi menjadi beberapa kategori
yaitu:
1)
Dampak terhadap kesehatan manusia
Pada
tingkat konsentrasi tertentu zat-zat pencemar udara dapat berakibat langsung
terhadap kesehatan manusia, baik secara mendadak atau akut, menahun atau
kronis/sub-klinis dan dengan gejala-gejala yang samar.
2)
Dampak terhadap kesehatan flora
Terjadinya gangguan pencemaran terhadap tumbuhan dapat
digolongkan dalam (dua) kategori, yaitu pencemaran secara primer dan sekunder.
a.
Pencemaran Primer
Gangguan secara primer adalah terjadinya
kontak langsung antara sumber pencemar (mated pencemar) dengan bagian permukaan
tumbuhan secara langsung, sehingga dapat mengganggu dan menutupi lapisan epidermal
yang membantu sistem penguapan pada tumbuhan.
b.
Pencemaran Sekunder
Gangguan secara sekunder adalah gangguan yang terjadi pada tumbuhan
karena pencemaran yang mengganggu pada sistem akar, terjadi karena penumpukan
polutan/pencemar pada tanah dan permukaan air.
3)
Dampak terhadap kesehatan fauna
Dampak negatif zat-zat pencemar udara terhadap fauna (hewan)
sama dengan dampak-dampak lain seperti terhadap manusia dan tumbuhan. Dampak
terhadap hewan dapat terjadi secara langsung dan tidak langsung, secara
langsung terjadi bila ada interaksi melalui sistem pernafasan sebagaimana
terjadi pada manusia. Dampak tidak langsung terjadi melalui suatu perantara,
baik tumbuhan atau perairan yang berfungsi sebagai bahan makanan hewan.
4)
Dampak terhadap material
Dampak pencemaran udara terhadap material, yaitu bangunan-bangunan,
logam, batuan, kulit dan Iain-lain dapat digambarkan sebagai dampak pecemaran
udara terhadap lingkungan alam sekeliling, timbulnya karat pada permukaan
logam, yang menyebabkan terlepas dan hilangnya material dari permukaan serta
berubahnya kemampuan elektris logam merupakan contoh pengaruh pencemaran udara
yang cukup penting.
5)
Dampak terhadap terjadinya hujan
asam
Atmosfer sebagai tempat pembuangan bahan sisa-sisa aktivitas
manusia bertindak sebagai reaktor kimia yang kompleks yang akan merubah zat-zat
pencemar begitu zat pencemar tersebut berinteraksi dengan substansi lain, seperti
uap air dan sinar matahari.
B. Solusi
Menurut
BPLH DKI Jakarta (2013) dalam Ismiyati et al.(2014), Di kota-kota besar, kontribusi
gas buang kendaraan bermotor sebagai sumber polusi udara mencapai 60-70%,
sementara, kontribusi gas buang dari cerobong asap industri hanya berkisar 10-15%,
dan sisanya berasal dari sumber pembakaran lain; misalnya rumah tangga, pembakaran
sampah, kebakaran hutan, dan lain-lain.
Jika
dilihat dari persentase pencemaran, transportasi menyumbang angka paling besar
dalam pencemaran udara, sehingga solusi yang menjadi prioritas adalah di bidang
transportasi.
Menurut
Gusnita (2010), solusinya adalah dengan membuat transportasi berkelanjutan. Organization
for Economic Co-Operation & Development (OECD, 1994), dalam Gusnita
(2010) mendefinisikan : “Transportasi berkelanjutan merupakan suatu
transportasi yang tidak menimbulkan dampak yang membahayakan kesehatan
masyarakat atau ekosistem dan dapat memenuhi kebutuhan mobilitas yang ada
secara konsisten dengan memperhatikan:
a. Penggunaan
sumberdaya energi yang terbarukan pada tingkat yang lebih rendah dari tingkat
regenerasinya.
b. Penggunaan
sumber daya tidak terbarukan pada tingkat yang lebih rendah dari tingkat pengembangan
sumberdaya alternatif yang terbarukan.”
Kesimpulan
Solusi
untuk mengatasi polusi udara kota, terutama ditujukan pada pembenahan sektor
transportasi dengan tanpa mengabaikan sektor-sektor lain. Maka tidak ada kata
lain kecuali harus mau belajar dari kota-kota besar lain di dunia yang telah
berhasil menurunkan polusi udara dan angka kesakitan serta kematian yang
diakibatkan karenanya. Di antaranya, dengan pembatasan izin bagi angkutan umum
kecil, memperbanyak kendaraan angkutan massal; seperti bus dan kereta api.
Kemudian kontrol terhadap jumlah kendaraan pribadi juga dapat dilakukan seiring
dengan perbaikan pada sejumlah angkutan umum.
Daftar
Pustaka
Ismiyati et al. 2014. Pencemaran
Udara Akibat Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor. Jurnal Manajemen Transportasi
& Logistik (JMTransLog) - Vol. 01 No. 03: 241-248.
Gusnita, D. 2010. GREEN
TRANSPORT: TRANSPORTASI RAMAH LINGKUNGAN DAN KONTRIBUSINYA DALAM MENGURANGI
POLUSI UDARA. Berita Dirgantara Vol.
11 No. 2: 66-71.
Budiyono. 2001. Pencemaran Udara : Dampak Pencemaran Udara Pada
Lingkungan. Berita Dirgantara Vol. 2, No. 1: 21-27.
Kumaat, M. 2012. TRANSPORTASI DAN POLUSI PADA KAWASAN PENDIDIKAN. TEKNO-SIPIL/Volume
10/No. 57, 27-32.
Sabtu, 11 Agustus 2018
Radioaktif
![]() |
| Radioaktif |
Abstrak
Pemanfaatan bahan radioaktif dalam kehidupan sehari-hari
telah banyak diterapkan dalam berbagai bidang seperti kesehatan dan industri.
Disamping risiko yang dimilikinya, manfaat dari bahan radioaktif (radioisotope)
pun sangat banyak. Penelitian dan Pengembangan manfaat radiasi untuk daur ulang
limbah padat, cair dan gas sedang dikembangkan oleh Badan Tenaga Atom
Internasional (IAEA) dan BATAN guna menunjang program pelestarian lingkungan
dan pertanian berkelanjutan.
Pengertian
Menurut Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN),
Radioaktivitas adalah kemampuan inti atom yang tak-stabil untuk memancarkan
radiasi dan berubah menjadi inti stabil. Proses perubahan ini disebut peluruhan
dan inti atom yang tak-stabil disebut radionuklida. Materi yang mengandung
radionuklida disebut zat radioaktif. Menurut Suratman (1996) dalam Nugraheni
dkk. (2012), radioaktivitas adalah peristiwa peluruhan (disintegrasi) secara
spontan inti atom tidak stabil menjadi inti atom stabil. Sedangkan menurut
Susetyo (1988) dalam Nugraheni dkk.(2012), radioaktivitas adalah proses
perubahan keadaan inti atom secara spontan yang disertai radiasi berupa zarah
atau gelombang elektromagnetik.
Pemanfaatan Radioaktif
Menurut Hilmy (1995) teknik
nuklir adalah suatu ilmu teknik yang mempergunakan radiasi atau radioisotop
serta sifat lainnya telah banyak dikenal dan dimanfaatkan secara luas dalam
berbagai bidang di Indonesia untuk kesejahteraan masyarakat tanpa mengabaikan
segi keselamatan dan kelestarian lingkungan, misalnya di bidang kedokteran dan kesehatan
lingkungan, industri, pertanian dan petemakan. Pada saat ini sedang dikaji
pemakaian teknik tersebut untuk pelestarian lingkungan dan energi.
Menurut Hilmy (1995),
sifat dari radioaktif adalah:
1) Sifat dapat membunuh mikroba atau organisme
lainnya sehingga dapat digunakan untuk proses sterilisasi.
2) Mempercepat reaksi kimia.
3) Mengubah DNA untuk melakukan rekayasa biologi dan
genetika.
4) Kekuatan radiasi berubah ketika melewati bahan,
digunakan untuk uji non destruktif di bidang industry, kedokteran dan
pertanian.
5) Waktu paruh berbeda, digunakan untuk menentukan
umur bahan.
Menurut Wiyatmo, pemanfaatan bahan radioaktif (radioisotope)
dalam kehidupan sehari-hari diantaranya :
1) Bidang Arkeologi
Menentukan umur fosil dengan C-14
2) Bidang Kedokteran
a.
Sterisilasi
b.
Terapi
Tumor atau Kanker
c.
Penentuan
kepadatan tulang dengan bone densitometer
d.
Three
dimensional conformal radiotherapy
e.
Positron
Emision Tomography
3) Bidang Hidrologi
a.
Menguji
kecepatan aliran sungai atau lumpur
b.
Mendeteksi
kebocora pipa
4) Bidang Biologi
a.
Mempelajari
mekanisme fotosintesis
b.
Mempelajari
proses penyerapan air serta sirkulasinya di batang tumbuhan
c.
Mutasi gen
dan rekayasa genetika
5) Bidang Kimia
a.
Teknik
perunut
b.
Analisis
pengenceran isotop
c.
Analisis
aktivasi neutron
6) Bidang pertanian
a.
Efisiensi
pemupukan
b.
Penemuan
varietas baru
c.
Pengendalian
hama serangga
d.
Pengawetan
makanan
7) Bidang Industri
a.
Non
destructive test
b.
Mengontrol
ketebalan bahan
c.
Pengawetan
bahan
d.
Pembangkit
listrik
8) Bidang Pertambangan
Merunut alur-alur minyak bawah tanah
Kesimpulan
Teknologi pemanfaatan bahan radioaktif (radioisotope)
dalam kehidupan sehari-hari telah banyak berkembang. Hasilnya beberapa
pekerjaan yang menggunakan teknologi tersebut dapat menjadi lebih efektif dan
efisien dibandingkan dengan cara konvensional.
Daftar
Pustaka
BATAN.Radioaktivitas.
Diakses Sabtu 11 Agustus 2018, dari https://www.batan.go.id/ensiklopedi/08/01/01/03/08-01-01-03.html.
Nugraheni dkk. 2012.
PENENTUAN AKTIVITAS UNSUR RADIOAKTIF THORIUM YANG TERKANDUNG DALAM PROTOTIPE
SUMBER RADIASI KAOS LAMPU PETROMAKS. Jurnal MIPA 35 (1): 32-37.
Modul 2: Pemanfaatan
Bahan Radioaktif dalam Teknologi dan Kehidupan Sehari-hari. Diakses Rabu 15
Agustus 2018, dari http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/yusman-wiyatmo-drs-msi/modulpemanfaatan-radioaktif.pdf.
Hilmy, N. 1995. MANFAAT
RADIASI DALAM INDUSTRI, LINGKUNGAN, DAN KESEHATAN MASYARAKAT. PPNY-BATAN.
Efek Rumah Kaca
Abstrak
Dewasa ini pemanasan
global menjadi salah satu isu yang paling mencuat. Hal ini disebabkan karena
efeknya yang begitu besar bagi keberlangsungan kehidupan di planet bumi. Efek
rumah kaca merupakan peristiwa alami yang bermanfaat bagi makhluk hidup di
bumi. Namun meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca terutama setelah revolusi industri
semakin mengakselerasi proses tersebut ke taraf yang membahayakan.
Pembahasan
Pemanasan
global merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan kenaikan suhu rata-rata
bumi di atmosfer, laut dan darat yang memiliki dampak yang serius bagi seluruh
penghuni bumi, baik itu manusia, hewan atau tumbuhan.
Salah satu
faktor yang sering diangkat sebagai salah satu penyebab utama pemanasan global
adalah efek rumah kaca. Seperti yang dikatakan oleh Riebeek (2010), pemanasan
global merupakan fenomena peningkatan temperatur global dari tahun ke tahun
karena terjadinya efek rumah kaca (greenhouse effect) yang disebabkan oleh
meningkatnya emisi gas-gas seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4),
dinitrooksida (N2O), dan chlorofluorocarbons (CFC) selanjutnya disebut sebagai
emisi gas rumah kaca (GRK) sehingga energi matahari terperangkap dalam atmosfer
bumi.
Efek rumah
kaca adalah suatu fenomena ketika meningkatnya konsentrasi karbon dioksida dan
gas rumah kaca, dan menyebabkan cahaya matahari masuk, namun panasnya tidak
dapat keluar dari atmosfer.
Efek rumah
kaca sebenarnya bermanfaat bagi kehidupan makhluk hidup di bumi, masalah timbul
ketika aktivitas manusia mengakselerasi proses alami dari pembentukan efek
rumah kaca dengan cara menaikkan jumlah gas rumah kaca seperti CFC dan halon
(Khan, 2017)
Menurut
Hofstrand (2013) dalam Zein et al. (2015) penyebab terjadinya pemanasan global
dapat digolongkan menjadi dua jenis yaitu faktor alam dan faktor manusia .
Menurut Zein
et al. (2015) faktor alam yang menyebabkan pemanasan global adalah elemen
sistem cuaca, yang jika diantaranya ada yang berubah, maka akan mempengaruhi
suhu dan kondisi bumi secara keseluruhan, diantaranya adalah perubahan pada:
1)
Atmosfer
2)
Samudera
3)
Daratan
4)
Lapisan es kutub
5)
Biosfer
Sebagai
contoh, perubahan gas pada atmosfer dapat disebabkan oleh faktor alami berupa
bertambahnya uap air pada udara, radiasi matahari, erupsi vulkanik, serta kutub
es.
Sedangkan
faktor manusia adalah faktor yang berasal dari berbagai kegiatan manusia
diantaranya :
1)
Pembalakan hutan
2)
Emisi gas metana
3)
Emisi kendaraan
4)
Penggunaan CFC dan halon
Kedua faktor
umum diatas dapat meningkatnya kadar gas rumah kaca pada atmosfer dan menjadi
penyebab utama terjadinya efek rumah kaca yang mengakibatkan pemanasan global.
Dampak dari
meningkatnya suhu rata-rata bumi diantaranya adalah meningkatnya suhu di
kutub-kutub bumi yang akan menyebabkan pencairan es sehingga menaikkan
ketinggian permukaan laut. Secara langsung, dampak yang ditimbulkan adalah
banjir dan badai yang terjadi di seluruh dunia. (Zein et al. , 2015). Dampak
lainnya adalah punahnya berbagai flora dan fauna, rusaknya ekosistem, cuaca
ekstrim, dan dampak tidak langsung kepada perekonomian manusia.
Kesimpulan
Pemanasan global merupakan
masalah yang harus segera dicarikan solusinya. Faktor penyebabnya dapat
dikelompokkan menjadi dua yaitu faktor alam dan manusia.
Hal yang dapat kita lakukan untuk
mengurangi efek rumah kaca adalah :
1) Melakukan
manajemen sampah yang baik berupa reduce, reuse dan recycle.
2) Mengurangi
penggunaan sumber bahan bakar fosil.
3) Mengurangi
penggunaan kendaraan beremisi.
4) Menghentikan
penebangan hutan.
Daftar Pustaka
Zein et al. 2015. The Effect of
Greenhouse Gases on Earth’s Temperature . International Journal of
Environmental Monitoring and Analysis.3(2): 74-79.
Khan, M.Z.A. 2017. Causes and
Consequences of Greenhouse Effect & Its Catastrophic Problems for Earth. International
Journal of Sustainability Management and Information Technologies. 3(4): 34-39.
Anggraeni, D.Y. 2015. PENGUNGKAPAN
EMISI GAS RUMAH KACA, KINERJA LINGKUNGAN, DAN NILAI PERUSAHAAN. Jurnal Akuntansi
dan Keuangan Indonesia. Vol. 12, No. 2, hal 188 – 209.
Rizki et al. 2016. PERBANDINGAN
EMISI KARBON DENGAN KARBON TERSIMPAN DI HUTAN RAKYAT DESA BUANA SAKTI KECAMATAN
BATANGHARI KABUPATEN LAMPUNG TIMUR. Jurnal Sylva Lestari. Vol. 4 No. 1: 89-96.
Latake et al. 2015. The
greenhouse effect and its impacts on environment. International Journal of
Innovative Research and Creative Technology.
Volume 1(3) : 333-337
Pengolahan Limbah Plastik
![]() |
| Produk Plastik |
Abstrak
Plastik merupakan material yang
berasal dari pengolahan minyak bumi. Karena berasal dari bahan berkategori B3,
maka dengan sendirinya produk plastik terrmasuk kedalam kategori tersebut.
Penanganan yang salah terhadap sampah plastik dapat menimbulkan masalah yang
besar bagi kehidupan seluruh makhluk hidup, serta lingkungan sekitar. Sampah
plastik merupakan jenis non-biodegradable,
maka perlu dilakukan penanganan yang tepat untuk menanggulangi masalah yang
ditimbulkan olehnya.
Pembahasan
Sejak ditemukan pertama kali pada
tahun 1907, penggunaan plastik dan barang-barang berbahan dasar plastik semakin
meningkat. Peningkatan penggunaan plastik ini merupakan konsekuensi dari berkembangnya
teknologi, industri dan juga jumlah populasi penduduk (Wahyudi dkk, 2016).
Berdasarkan
asumsi Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), setiap hari penduduk Indonesia
menghasilkan 0,8 kg sampah per orang atau secara total sebanyak 189 ribu ton
sampah/hari. Dari jumlah tersebut 15% berupa sampah plastik atau sejumlah 28,4
ribu ton sampah plastik/hari (Fahlevi, 2012 dalam Surono dkk, 2016).
Menurut Surono (2013), di satu
sisi penemuan plastik ini mempunyai dampak positif yang luar biasa, karena plastik
memiliki keunggulan-keunggulan dibanding material lain. Tetapi di sisi lain,sampah
plastik juga empunyai dampak negatif yang cukup besar. Keunggulan plastik
dibanding material lain diantaranya kuat, ringan, fleksibel, tahan karat, tidak
mudah pecah, mudah diberi warna, mudah dibentuk, serta isolator panas dan
listrik yang baik. Sedangkan plastik yang sudah menjadi sampah akan berdampak negatif
terhadap lingkungan maupun kesehatan manusia.
Contoh penanganan sampah plastik yang kurang
tepat adalah dengan membuang sampah plastik ke aliran sungai yang dapat
menyebabkan terhambatnya aliran air dan mengakibatkan bencana banjir. Cara
lainnya adalah dengan cara membakar sampah plastik tersebut sehingga
menyebabkan pencemaran udara dan dapat merusak lapisan ozon. Menurut Sulistyono
(tanpa tahun), Karena plastik berbahan dasar dari minyak dan gas bumi, sementara
diketahui bahwa minyak dan gas bumi adalah kategori B3 (Bahan Beracun dan
Berbahaya),maka plastik merupakan bahan anorganik buatan yang tersusun dari bahan-bahan
kimia yang cukup berbahaya bagi kesehatan manusia, makhluk hidup lainnya dan lingkungan.
Untuk menangani sampah plastik perlu
dilakukan dengan konsep 3R ( Reuse, Reduce, Recycle). Reuse adalah menggunakan kembali
barang-barangyang terbuat dari plastik,Reduce adalah mengurangi pembelian atau penggunaan
barang-barang dari plastik, terutama barang-barang yang sekali pakai dan Recycle
adalah mendaur ulang barang-barangyang terbuat dari plastik. Dari konsep 3R
tersebut maka beberapa penelitian telah dilakukan untuk memanfaatkan kembali
plastik yang telah dibuang ke lingkungan, dalam hal ini menggunakan konsep Recycle
(Purwaningrum, 2012).
Daur ulang (recycle) sampah
plastik dapat dibedakan menjadi empat cara yaitu daur ulang primer, daur ulang
sekunder, daur ulang tersier dan daur ulang quarter.
Daur
ulang primer
adalah daur ulang limbah plastik menjadi produk yang memiliki kualitas yang
hampir setara dengan produk aslinya. Daur ulang cara ini dapat dilakukan pada
sampah plastik yang bersih, tidak terkontaminasi dengan material lain dan
terdiri dari satu jenis plastik saja. Daur
ulang sekunder adalah daur ulang yang menghasilkan produk yang sejenisdengan
produk aslinya tetapi dengan kualitas di bawahnya. Daur ulang tersier adalah daur ulang sampah plastik menjadi bahan
kimia atau menjadi bahan bakar. Daur
ulang quarter adalah proses untuk mendapatkan energi yang terkandung di dalam
sampah plastik (Kumar dkk., 2011, dalam Surono, 2013).
Kesimpulan
Berdasarkan beberapa penelitian yang
telah dilakukan dalam hal mengolah sampah plastic,
Maka
didapatkan suatu kesimpulan berupa :
1. Penggunaan plastik bagaikan dua
sisi mata uang yang memiliki kelebihan sekaligus kekurangan. Namun seiring
berkembangnya teknologi material dan pengolahan limbah, kekurangan tersebut
bisa diatasi.
2. Sampah plastik dapat diolah
kembali dengan cara : daur ulang, diubah menjadi sumber energi, gas dan minyak.
3. Dengan berkembangnya
teknologi-teknologi tersebut, maka jumlah sampah plastik di lingkungan dapat
berkurang.
Daftar Pustaka
Surono.
2013. BERBAGAI METODE KONVERSI SAMPAH PLASTIK MENJADI BAHAN BAKAR MINYAK. JURNAL
TEKNIK VOL.3 NO.1 :32-40.
Wahyudi,
dkk. 2016. Pengolahan Sampah Plastik
Polipropilena (PP) Menjadi Bahan Bakar Minyak dengan Metode Perengkahan
Katalitik Menggunakan Katalis Sintetis. Jurnal
Rekayasa Kimia dan Lingkungan Vol. 11, No.1 : 17 – 23.
Surono et al. 2016. Pengolahan Sampah Plastik Jenis PP, PET dan PE
Menjadi Bahan Bakar Minyak dan Karakteristiknya. Jurnal Mekanika dan Sistem Termal, Vol. 1(1) :
32-37.
Purwaningrum. 2016. UPAYA MENGURANGI TIMBULAN SAMPAH
PLASTIK DI LINGKUNGAN. JTL
Vol 8 No.2 : 141-147.
Langganan:
Postingan (Atom)






