Biomassa adalah bahan organik yang terbuat dari tumbuhan dan
hewan. Biomassa mengandung energi yang tersimpan dari matahari.
Tampilkan postingan dengan label @TA14. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @TA14. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 25 Februari 2017
Teknologi Ramah Lingkungan
Irma Hapsari dalam ASTALOG.CO menjelaskan. secara
sederhana, teknologi ramah lingkungan adalah teknologi yang diciptakan untuk
memudahkan kehidupan manusia tanpa perlu merusak atau memberikan dampak negatif
pada lingkungan di sekitarnya.
Energi Tenaga Air (Hydropower)
Bahan
bakar fosil yang meliputi minyak bumi, gas dan batubara tergolong energi yang
tidak terbarukan yang bersifat merusak ekosistem bumi (biosfer).
Energi Geothermal
Energi Geo (Bumi) thermal (panas) berarti memanfaatkan panas dari dalam
bumi. Inti planet kita sangat panas- estimasi saat ini adalah 5,500 celcius
(9,932 F)- jadi tidak mengherankan jika tiga meter teratas permukaan bumi tetap
konstan mendekati 10-16 Celcius (50-60 F) setiap tahun. Berkat berbagai macam
proses geologi, pada beberapa tempat temperatur yang lebih tinggi dapat
ditemukan di beberapa tempat.
Jumat, 24 Februari 2017
Teknologi Hijau : Teknologi Masa Depan
"Teknologi" lebih bermakna sebagai penerapan pengetahuan untuk tujuan praktis. Sedangkan
Teknologi Hijau adalah teknik untuk menghasilkan energi dan/atau produk yang tidak mencemari atau meracuni lingkungan hidup. Teknologi hijau masih terus di kembangkan hingga saat ini. Untuk masa datang "teknologi hijau" merupakan suatu bidang yang akan melahirkan banyak inovasi dan perubahan dalam kehidupan sehari-hari.
Boleh dikatakan perkembangan teknologi hijau ini dapat disejajarkan dengan ledakan "teknologi informasi" selama dua dekade terakhir ini. Satu upaya untuk menjaga kelestarian atau keberlanjutan kehidupan Teknologi Hijau merupakan salah satu upaya untuk menjaga kelestarian atau keberlanjutan kehidupan di planet bumi ini.
Kelestarian atau keberlanjutan (sustainabilitas) yang dapat diartikan sebagai perihal pemenuhan kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan di masa depan tanpa merusak sumber daya alam atau pemenuhan kebutuhan saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.
Beberapa teknik untuk pencapaian sustainabilitas terserbut, yang telah banyak di kenal, antara lain :
- Produk Daur Ulang yaitu penciptaan (siklus) produk-produk manufaktur yang sepenuhnya dapat direklamasi atau di gunakan kembali.
- Inovasi teknologi hijau merupakan pengembangan teknologi alternatif baik berupa bahan bakar fosil atau bahan kimia dari budidaya tanaman yang telah terbukti tidak merusak kesahatan dan lingkungan hidup.
Studi tentang teknologi hijau yang masih terus dikembangkan dan merupakan kecenderungan teknologi di masa datang, antara lain mencakup bidang-bidang : Energi terbarukan (renewable energy), Bangunan hijau/ramah lingkungan (green building), Kimia hijau (green chermistry), dan Teknologi nano hijau (green nanotechnology).
- Renewable Energy
Mengingat keterbatasan sumber energi berbahan baku fosil (minyak, gas dan batubara), maka energi menjadi masalah yang paling mendesak dalam bidang teknologi hijau, termasuk didalamnya pengembangan bahan baku alternatif atau energi terbarukan yang efisien.
- Green Building
Bangunan hijau (green building) juga mendapat perhatian pentingan di bidang teknologi hijau, segala sesuatu yang berkaitan dengan pembangunan rumah atau insfrastuktur yang ramah lingkungan. Penerapannya mulai sejak pemilihan bahan bangunan hingga lokasi tempat bangunan akan didirikan diharapkan telah mempertimbangan kelestarian lingkungan hidup.
- Green Chemistry
Hampir seluruh produk untuk keperluan sehari-hari adalah produk kimiawi. Oleh karena itu kimia hijau (green chemistry) mulai mendapat perhatian berbagai negara maju dalam hal penemuan rancangan dan aplikasi produknya termasuk proses yang dijaga dari penggunaan bahan beracun atau zat yang berbahaya bagi kehidupan.
- Green Nanotechnology
Yang paling terkini adalah studi tentang green nanotechnology (teknologi nano hijau) yang melibatkan manipulasi bahan pada skala nanometer (satu miliar meter). Beberapa ilmuwan percaya bahwa penguasaan subjek ini di masa datang akan mengubah cara bagaimana segala sesuatu di dunia ini dibuat. "Green Nanotechnology" adalah penerapan kimia hijau tingkat lanjut dengan prinsip-prinsip rekayasa teknologi yang ramah lingkungan.
Bagaimana dengan kita? Barangkali teknologi hijau belum menjadi prioritas di Indonesia, karena masih banyak bidang, terutama menyangkut kesejahteraan warga negaranya yang perlu mendapat perhatian.
http://nextdaytechnology.blogspot.co.id/2010/06/teknologi-hijau-teknologi-masa-depan.html
http://d3ipii-d3ipii.blogspot.co.id/2011/01/teknologi-hijau-green-technology.html
Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) sebagai Biofilter alami
Biofilter adalah sistem pengolahan air limbah dengan memanfaatkan mikroorganisme
yang tumbuh dan berkembang, salah satunya yaitu dengan menggunakan tanaman
sebagai biofilter alami. Air limbah yang
mengandung zat organik, unsur hara dan mineral akan tersaring melalui mekanisme
proses yang terjadi dalam tanaman. Tanaman
yang dapat menjadi biofilter alami yaitu tanaman air, salah satunya eceng
gondok (Eichhornia crassipes).
Enceng gondok (Eichhornia
crassipes) dianggap sebagai tanaman yang mengganggu ekosistem air karena pertumbuhannya sangat pesat
dapat menutupi aliran sungai maupun danau. Tetapi tanaman ini memiliki banyak
manfaat dan salah satunya yaitu sebagai stabilisator suatu perairan dan
kemampuannya menetralisir bahan tercemar yang masuk ke dalam perairan. Akar
tanaman enceng gondok dapat menyerap partikel logam berat, fenol, dan senyawa
fosfat.
Sistem biofilter alami yang terjadi pada enceng
gondok berlangsung melalui proses transportasi dan fotosintesis. Kedua proses tersebut
merupakan kegiatan yang berlangsung dalam tanaman enceng gondok dalam
mempertahankan hidupnya.
Mekanisme
Biofilter Alami melalui Transportasi Enceng Gondok
Di dalam akar, tanaman biasa
melakukan perubahan pH kemudian membentuk suatu zat khelat yang disebut
fitosiderofor. Zat inilah yang kemudian mengikat logam kemudian dibawa ke dalam
sel akar. logam yang dibawa masuk ke sel akar kemudian ke jaringan pengangkut
yaitu xylem dan floem, ke bagian tumbuhan lain. untuk mencegah keracunan logam
terhadap sel, maka tanaman akan melakukan detoksofikasi, misalnya menimbun
logam kedalam organ tertentu seperti akar.
Kecepatan penyerapan zat pencemar
dari dalam air limbah oleh eceng gondok dipengaruhi oleh beberapa faktor, di
antaranya:
1) komposisi dan kadar zat yang terkandung
dalam air limbah
2) kerapatan eceng gondok
3) waktu tinggal eceng gondok
dalam air limbah.
Dengan mekanisme transportasi
seperti itulah enceng gondok mampu menyerap zat-zat organik, logam berat dan
mineral tinggi yang terkandung dalam air yang tercemar oleh limbah rumah tangga
dan industri.
Mekanisme
Biofilter Alami melalui Fotosintesis Enceng Gondok
Di dalam air yang tercemar
terdapat kandungan karbondioksida (CO2) yang berlebihan. Dalam mekanisme proses fotosintesis inilah karbondioksida
diubah sedemikian hingga untuk mengurangi pencemaran air yang disebabkan oleh
limbah rumah tangga dan industri. Enceng gondok bersifat autotrof. Autotrof artinya dapat
mensintesis makanan langsung dari senyawa anorganik. Enceng gondok menggunakan karbon dioksida dan air untuk
menghasilkan gula dan oksigen yang diperlukan sebagai makanannya. Proses
fotosistesis dari tanaman enceng gondok seperti
inilah yang diterapkan pada sistem biofilter alami, sehingga hasil akhir dari proses fotosintesis
ini, selain menghasilkan energi berupa karbohidrat yang digunakan untuk
pertumbuhan enceng gondok itu sendiri, juga dapat meningkatkan kadar oksigen (O2) dalam air dan udara yang berguna bagi makluk hidup disekitar.
Pengaruh
Pemanfaatan Enceng Gondok (Eichhornia crassipes) Terhadap Kualitas Air
- Penurunan TDS (Total Dissolved Solid) atau ukuran jumlah materi atau bahan–bahan yang terlarut dalam air.
- Mengurangi Konsentrasi Warna Air
- Peningkatan DO (Disolved Oxygen) atau oksigen bebas dalam air.
Daftar Pustaka:
Triyanto,
Lilik. 2011. PEMANFAATAN ENCENG GONDOK (Eichornia crassipes) SEBAGAI BIOFILTER ALAMI
PADA PRE-TREATMENT PENGELOLAAN KUALITAS AIR .dalam http://tukangbaksokeliling.blogspot.co.id/2011/09/pemanfaatan-enceng-gondok-eichornia.html
Rahwidhiyasa,
Viva. 2009. Know How - Biofilter dengan Tanaman Air .
Riyadi,
Kurniawan. 2012. Sistem Penyaring Alami (biofilter).
Dalam http://kolambuatan.blogspot.co.id/2012/05/penyaring-alami-biofilter.html
Blog Aplesi. penyaring air (
Biofilter) .Dalam http://www.aplesi.com/2012/07/penyaring-air-biofilter.html
TEKNOLOGI HIJAU (GREEN TECHNOLOGY)
TEKNOLOGI HIJAU (GREEN TECHNOLOGY)
@TA02,@B21-Hakim,@T14.
“Teknologi” lebih bermakna sebagai penerapan pengetahuan untuk tujuan praktis. Sedangkan “teknologi hijau” adalah teknik untuk menghasilkan energi dan/atau produk yang tidak mencemari atau meracuni lingkungan hidup. Teknologi hijau masih terus dikembangkan hingga saat ini.
Untuk masa datang, “teknologi hijau” merupakan suatu bidang yang akan melahirkan banyak inovasi dan perubahan dalam kehidupan sehari-hari. Boleh dikatakan perkembangan teknologi hijau ini dapat disejajarkan dengan ledakan “teknologi informasi” selama dua dekade terakhir ini.
Teknologi hijau merupakan salah satu upaya untuk menjaga kelestarian atau keberlanjutan kehidupan di planet bumi ini. Kelestarian atau keberlanjutan (sustainabilitas) yang dapat diartikan sebagai perihal pemenuhan kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan di masa depan tanpa merusak sumber daya alam, atau pemenuhan kebutuhan saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.
Beberapa teknik untuk pencapaian sustainabilitas tersebut, yang telah banyak dikenal, antara lain :
- Produk Daur Ulang yaitu penciptaan (siklus) produk-produk manufaktur yang sepenuhnya dapat direklamasi atau digunakan kembali.
- Inovasi teknologi hijau merupakan pengembangan teknologi alternatif baik berupa bahan bakar fosil atau bahan kimia hasil dari budidaya tanaman – yang telah terbukti tidak merusak kesehatan dan lingkungan hidup
Bidang-bidang Teknologi Hijau
Studi tentang teknologi hijau yang masih terus dikembangkan dan merupakan kecenderungan teknologi di masa datang, antara lain mencakup bidang-bidang, a.l: Energi terbarukan (renewable energy); Bangunan hijau/ramah lingkungan (green building); Kimia hijau (green chemistry) dan Teknologi Nano Hijau (green nanotechnology)
Renewable Energy
Mengingat keterbatasan sumber energi berbahan baku fosil (minyak, gas dan batubara), maka energi menjadi masalah yang paling mendesak dalam bidang teknologi hijau, termasuk didalamnya pengembangan bahan bakar alternatif atau energi terbarukan yang efisien.
Green Building
Bangunan hijau (green building) juga mendapat perhatian penting di bidang teknologi hijau, segala sesuatu yang berkaitan dengan pembangunan rumah atau infrastruktur yang ramah lingkungan. Penerapannya mulai sejak pemilihan bahan bangunan hingga lokasi tempat bangunan akan didirikan diharapkan telah mempertimbangan kelestarian lingkungan hidup.
Green Chemistry
Hampir seluruh produk untuk keperluan sehari-hari adalah produk kimiawi. Oleh karena itu kimia hijau (green chemistry) mulai mendapat perhatian berbagai negara maju dalam hal penemuan, rancangan dan aplikasi produknya termasuk proses yang dijaga dari penggunaan bahan beracun atau zat yang berbahaya bagi kehidupan.
Green Nanotechnology
Yang paling terkini adalah studi tentang Green nanotechnology (teknologi nano hijau) yang melibatkan manipulasi bahan pada skala nanometer (satu miliar meter). Beberapa ilmuwan percaya bahwa penguasaan subjek ini di masa datang akan mengubah cara bagaimana segala sesuatu di dunia ini dibuat. “Green nanoteknologi” adalah penerapan kimia hijau tingkat lanjut dengan prinsip-prinsip rekayasa teknologi yang ramah lingkungan.
Bagaimana dengan kita ? Barangkali teknologi hijau belum menjadi prioritas di Indonesia, karena masih banyak bidang, terutama yang menyangkut kesejahteraan warga negaranya yang perlu mendapat perhatian.
Perkembangan teknologi adalah
sesuatu yang pasti, jika tidak ingin menjadi bangsa yang tertinggal (mandeg).
Namun di balik itu, perkembangan teknologi membawa suatu konsekuensi berupa
dampak positif sekaligus dampak negatif. Akhirnya diupayakan agar dampak
positif tersebut lebih besar daripada dampak negatifnya, lalu lahirlah
Teknologi Hijau. Istilah ini mulai marak sejak beberapa tahun yang lalu seiring
dengan kesadaran berbagai pihak akan kelestarian alam. Teknologi hijau adalah
teknik untuk menghasilkan energi dan/atau produk yang tidak mencemari atau
meracuni lingkungan hidup. Tujuannya adalah untuk memelihara alam sekitar dan
meminimalkan dampak negatif dari aktivitas manusia. Teknologi Hijau adalah
teknologi rendah karbon dan lebih ramah lingkungan. Apabila kita menggunakan
teknologi hijau, kita menggunakan sumber-sumber seperti tenaga, air dan
sebagainya secara minimum untuk menghasilkan suatu produk. Teknologi hijau
merujuk pada produk, peralatan, atau sistem yang memenuhi kriteria-kriteria
berikut: Meminimalkan penurunan kualitas lingkungan, pembebasan gas rumah kaca
rendah atau tidak ada, aman digunakan dan membuat lingkungan sehat serta lebih
baik untuk semua kehidupan. Menghemat tenaga dan sumber asli Menggalakkan
sumber-sumber yang dapat diperbarui Teknologi hijau mencakup bidang-bidang,
antara lain : Energi terbarukan (renewable energi) Kebutuhan energi yang terus
meningkat berbanding terbalik dengan keberadaan sumber energi. Sampai saat ini
sumber energi utama di Indonesia berasal dari bahan bakar fosil, di mana
diperkirakan akan habis dalam waktu 12 tahun. Permasalahan ini ditambah dengan
munculnya permasalahan perubahan iklim akibat pemborosan energi melahirkan
teknologi hijau di bidang energi terbarukan. Bangunan hijau/ ramah lingkungan
(green building), yaitu segala sesuatu yang berkaitan dengan pembangunan rumah
atau infrastruktur ramah lingkungan. Penerapannya dimulai sejak pemilihan bahan
bangunan hingga lokasi pendirian diharapkan mempertimbangan kelestarian
lingkungan hidup. Kimia hijau (green chemistry), yaitu penemuan, rancangan dan
aplikasi produknya termasuk proses yang dijaga dari penggunaan bahan beracun
atau zat yang berbahaya bagi kehidupan. Teknologi Nano Hijau (Green nano
technology), yaitu penerapan kimia hijau tingkat lanjut dengan prinsip-prinsip
rekayasa teknologi yang ramah lingkungan. Beberapa tujuan utama dari penerapan
Teknologi Hijau yaitu: Keberlanjutan, dimana dengan diterapkannya jenis
teknologi ini maka tidak akan mengancam kelestarian lingkungan hidup di masa
mendatang. Desain daur ulang, di mana produk yang dihasilkan harus dapat di
daur ulang untuk menghasilkan produk sejenis. Konservasi sumber daya, dimana
mengurangi limbah dan polusi dengan mengubah pola produksi dan konsumsi.
Inovasi, dimana mengembangkan alternatif untuk teknologi - apakah fosil bahan
bakar atau bahan kimia pertanian intensif - yang telah terbukti merusak
kesehatan dan lingkungan. Viabilitas yaitu menciptakan pusat kegiatan ekonomi
di sekitar teknologi dan produk yang bermanfaat bagi lingkungan, mempercepat
pelaksanaannya dan menciptakan karier baru yang benar-benar melindungi planet
bumi.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/dininuris/teknologi-hijau-solusi-cerdas-bagi-pemanasan-global_552931adf17e61824a8b458f
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/dininuris/teknologi-hijau-solusi-cerdas-bagi-pemanasan-global_552931adf17e61824a8b458f
REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Teknologi hijau (green technology) diyakini
dapat membantu memecahkan masalah limbah industri secara fundamental, karena
dapat mengeliminir sumber masalahnya. Hal itu diungkapkan Guru Besar Fakultas
Teknologi Pertanian IPB Prof Dr Ing Ir Suprihatin, IPU, di Bogor, Jumat
(16/12).
"Teknologi hijau memanfaatkan sains lingkungan terkini dengan prinsip-prinsip rekayasa yang pro-lingkungan, mencakup input, proses, produk, dan sistem idustri," katanya.
Ia mengatakan industri menghadapi persoalan limbah, berbagai peraturan lingkungan diberlakukan secara ketat. Sehingga, penanganan dan pembuangan limbah menjadi semakin sulit dan mahal.
Menurutnya, tekanan regulasi dan biaya lingkungan tersebut saat ini tampak semakin jelas di seluruh mata rantai pasok produksi industri, mulai dari penyediaan bahan baku, pra-produksi, proses produksi, penjualan, penggunaan, hingga pembuangannya, yang menghambat pendirian industri baru. "Ini mengancam keberlanjutan industri yang sudah ada," katanya.
Sebagaimana teknologi pada umumnya, lanjut dia, inovasi teknologi hijau dapat memiliki tiga makna, yakni perangkat dan instrumen (tools dan instrument) untuk meningkatkan kemampuan manusia "merekayasa" alam (proses, produk dan sistem) dan memecahkan masalah praktis serta pengetahun untuk membuat/memproduksi barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia. "Teknologi hijau juga memiliki makna sebagai budaya dalam pemahaman tentang dunia dan sistem nilai," katanya.
Ia menjelaskan, di bidang agroindustri, potensi ruang penerapan teknologi hijau sangat besar, mencakup teknologi bahan baru (biomaterial, bioproduk), energi baru/terbarukan, teknologi proses dan sistem, dan teknologi pemanfaatan atau pengolahan limbah atau residu.
Menurutnya, dengan teknologi kemurgi, komoniti, dan biomassa pertanian yang ketersediaannya sangat melimpah di Indonesia dapat ditransformasi menjadi produk-produk industri non-pangan dan energi terbarukan yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan ramah lingkungan.
"Puluhan produk kemurgi telah diteliti secara mendalam baik secara teoritis maupun eksperimental, dan dinilai sebagai produk yang prospektif secara komersial," katanya.
Produk kemurgi tersebut seperti bioenergi, furfural, butanadiol, butadiena, eti laktat, alkohol lemak, furfural, gliserin, isoprena, asam laktat, propanadiol, propilen, glikol dan produk eleokimia dan sukrokimia lainnya.
"Produk berbasis komoditi dan biomassa pertanian dapat sebagai substitusi bahan kimia sejenis yang diturunkan dari bahan petroleum, sehingga mengurangi ketergantungan pada minyak bumi, sekaligus meningkatkan nilai tambah hasil pertanian," katanya.
Ia mengatakan, teknologi hijau dapat diterapkan di berbagai tahapan dalam siklus hidup komoditi dan biomassa pertanian, mulai dari kegiatan pertanian, pengemasan, transportasi, distribusi, logistik komoditi dan produk industri, kegiatan industri proses/pengolahan, konsumsi atau penggunaan komoditi dan produk industri pertanian, serta daur ulang, penanganan dan pembuangan limbah.
"Potensi terbesar pertanian adalah sebagai penghasil pangan, energi terbarukan, obat-obatan, bahan kimia industri dan bioproduk lainnya sebagai subtitusi bahan sintetik berbasis hasil tambang," katanya.
Ia mencontohkan, kelapa sawit sebagai salah satu industri pertanian yang mendapat tekanan isu lingkungan sangat kuat, terutama tekanan dari luar negeri. Oleh US EPA, produk turunan kelapa sawit Indonesia digolongkan sebagai tidak ramah lingkungan, sehingga daya saing produk kelapa sawit jadi berkurang di tingkat internasional.
Menurutnya, salah satu kesulitan menangkal isu lingkungan tersebut, terutama terletak pada kekurangan basis data tentang aspek lingkungan industri kelapa sawit di Indonesia.
"Salah satu penyebab masalah lingkungan industri sawit kasa (crude palm oil/CPO) adalah limbah cair yang dihasilkan," katanya.
Ia menambahkan, limbah cair mengandung bahan organik dalam konsentrasi yang sangat tinggi, dan selama ini ditangani dengan cara relatif sederhana yakni dengan mengalirkan ke dalam kolam.
Melalui orasi guru besar IPB yang akan dilaksanakan Sabtu (17/12) besok, Prof Suprihatin menyampaikan gagasannya terkait limbah industri kelapa sawit. Emisi metana dari kolam stabilitas limbah cair industri CPO dapat direduksi khusus sehingga memungkinkan untuk menampung dan memanfaatkan produksi biogas sebagai bahan energi terbarukan sebagai pembangkit listrik.
"Teknologi pemanfaatan limbah cair sebagai sumber energi listrik pada industri sawit kasar dengan kapasitas 1,7 ton tandan buah segar per tahun dapat menghasilkan listrik 42-67 juta kWh, dan mereduksi sekitar 300 ribu ton CO2e per tahun," katanya.
"Teknologi hijau memanfaatkan sains lingkungan terkini dengan prinsip-prinsip rekayasa yang pro-lingkungan, mencakup input, proses, produk, dan sistem idustri," katanya.
Ia mengatakan industri menghadapi persoalan limbah, berbagai peraturan lingkungan diberlakukan secara ketat. Sehingga, penanganan dan pembuangan limbah menjadi semakin sulit dan mahal.
Menurutnya, tekanan regulasi dan biaya lingkungan tersebut saat ini tampak semakin jelas di seluruh mata rantai pasok produksi industri, mulai dari penyediaan bahan baku, pra-produksi, proses produksi, penjualan, penggunaan, hingga pembuangannya, yang menghambat pendirian industri baru. "Ini mengancam keberlanjutan industri yang sudah ada," katanya.
Sebagaimana teknologi pada umumnya, lanjut dia, inovasi teknologi hijau dapat memiliki tiga makna, yakni perangkat dan instrumen (tools dan instrument) untuk meningkatkan kemampuan manusia "merekayasa" alam (proses, produk dan sistem) dan memecahkan masalah praktis serta pengetahun untuk membuat/memproduksi barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia. "Teknologi hijau juga memiliki makna sebagai budaya dalam pemahaman tentang dunia dan sistem nilai," katanya.
Ia menjelaskan, di bidang agroindustri, potensi ruang penerapan teknologi hijau sangat besar, mencakup teknologi bahan baru (biomaterial, bioproduk), energi baru/terbarukan, teknologi proses dan sistem, dan teknologi pemanfaatan atau pengolahan limbah atau residu.
Menurutnya, dengan teknologi kemurgi, komoniti, dan biomassa pertanian yang ketersediaannya sangat melimpah di Indonesia dapat ditransformasi menjadi produk-produk industri non-pangan dan energi terbarukan yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan ramah lingkungan.
"Puluhan produk kemurgi telah diteliti secara mendalam baik secara teoritis maupun eksperimental, dan dinilai sebagai produk yang prospektif secara komersial," katanya.
Produk kemurgi tersebut seperti bioenergi, furfural, butanadiol, butadiena, eti laktat, alkohol lemak, furfural, gliserin, isoprena, asam laktat, propanadiol, propilen, glikol dan produk eleokimia dan sukrokimia lainnya.
"Produk berbasis komoditi dan biomassa pertanian dapat sebagai substitusi bahan kimia sejenis yang diturunkan dari bahan petroleum, sehingga mengurangi ketergantungan pada minyak bumi, sekaligus meningkatkan nilai tambah hasil pertanian," katanya.
Ia mengatakan, teknologi hijau dapat diterapkan di berbagai tahapan dalam siklus hidup komoditi dan biomassa pertanian, mulai dari kegiatan pertanian, pengemasan, transportasi, distribusi, logistik komoditi dan produk industri, kegiatan industri proses/pengolahan, konsumsi atau penggunaan komoditi dan produk industri pertanian, serta daur ulang, penanganan dan pembuangan limbah.
"Potensi terbesar pertanian adalah sebagai penghasil pangan, energi terbarukan, obat-obatan, bahan kimia industri dan bioproduk lainnya sebagai subtitusi bahan sintetik berbasis hasil tambang," katanya.
Ia mencontohkan, kelapa sawit sebagai salah satu industri pertanian yang mendapat tekanan isu lingkungan sangat kuat, terutama tekanan dari luar negeri. Oleh US EPA, produk turunan kelapa sawit Indonesia digolongkan sebagai tidak ramah lingkungan, sehingga daya saing produk kelapa sawit jadi berkurang di tingkat internasional.
Menurutnya, salah satu kesulitan menangkal isu lingkungan tersebut, terutama terletak pada kekurangan basis data tentang aspek lingkungan industri kelapa sawit di Indonesia.
"Salah satu penyebab masalah lingkungan industri sawit kasa (crude palm oil/CPO) adalah limbah cair yang dihasilkan," katanya.
Ia menambahkan, limbah cair mengandung bahan organik dalam konsentrasi yang sangat tinggi, dan selama ini ditangani dengan cara relatif sederhana yakni dengan mengalirkan ke dalam kolam.
Melalui orasi guru besar IPB yang akan dilaksanakan Sabtu (17/12) besok, Prof Suprihatin menyampaikan gagasannya terkait limbah industri kelapa sawit. Emisi metana dari kolam stabilitas limbah cair industri CPO dapat direduksi khusus sehingga memungkinkan untuk menampung dan memanfaatkan produksi biogas sebagai bahan energi terbarukan sebagai pembangkit listrik.
"Teknologi pemanfaatan limbah cair sebagai sumber energi listrik pada industri sawit kasar dengan kapasitas 1,7 ton tandan buah segar per tahun dapat menghasilkan listrik 42-67 juta kWh, dan mereduksi sekitar 300 ribu ton CO2e per tahun," katanya.
REFERENSI
DAFTAR PUSAKA
Manggala, yudha p putra.”Teknologi hijau bantu pecahkan
masalah limbah industri”. Rabu , 09 September 2015.
Nurlis,Dini.”Teknologi hijau solusi cerdas bagi pemanasan
global”.25 april 2013.
TEKNOLOGI HIJAU
TEKNOLOGI HIJAU
Teknologi hijau adalah teknik untuk menghasilkan barang
tanpa mencemari lingkungan sekitar. Di era industri ini, tidak sedikit
perusahaan industri yang menghasilkan limbah yang mencemari lingkungan. Jika
dibiarkan saja, maka akan dapat menyebabkan bumi ini menjadi rusak. Oleh karena
itu, teknologi hijau adalah upaya yang dilakukan untuk menjaga lingkungan di
bumi ini agar tidak rusak. Ruang lingkup teknologi hijau sangat luas, antara
lain :
1. Energi hijau
Kebutuhan energi di bumi masih sangat
tergantung pada energi fosil. Energi fosil merupakan energi yang dihasilkan
melalui proses yang sangat panjang. Hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa
suatu hari nanti energi fosil akan habis dan jika umat manusia belum menemukan
sumber energi lain sebagai pengganti energi fosil maka akan ada masa dimana
planet bumi akan mengalami kelangkaan listrik, bahan bakar, dan hal lain yang
berhubungan dengan energi fosil.
Pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia dapat digolongkan dalam tiga
kategori. Yang pertama adalah energi yang sudah dikembangkan secara komersial,
seperti biomassa, panas bumi dan tenaga air. Yang kedua adalah energi yang
sudah dikembangkan tetapi masih secara terbatas, yaitu energi surya dan energi
angin. Dan yang terakhir adalah energi yang sudah dikembangkan, tetapi baru
saja sampai pada tahap penelitian, seperti energi pasang surut.
·
Energi Biomassa
Energi ini
berasal dari bahan organik dan sangat beragam jenisnya. Sumber energi biomassa
dapat berasal dari tanaman perkebunan atau pertanian, hutan peternakan atau
bahkan sampah. Energi ini mampu menghasilkan panas, membuat bahan bakar dan
membangkitkan listrik. Menurut Manurung, setiap tahun terdapat sekitar 160
miliar ton biomassa dari areal pertanian dan 80 miliar ton dari areal perhutanan.
Sebagai contoh, ampas tebu, sekam padi, batang dan tongkol jagung, pelepah dan
tandan sawit, serta beragam limbah lainnya. Padahal jika diolah, 240 miliar ton
biomassa itu setara dengan 60 ton BBM. Dari sektor perkebunan seperti industri
teh, limbah biomassa yang diproduksi setiap tahun mencapai 5,8 miliar ton atau
setara dengan 2,32 ton BBM. Sementara tahun ini diperkirakan ada sekitar 17,7
juta ton biomassa yang menjadi limbah penggilingan padi. Angka tersebut setara
dengan 7,07 juta ton BBM, belum lagi yang tercatat dari sektor perhutanan. Jika
teknologi pengolahan biomassa itu dikembangkan, bisa dihitung betapa besarnya
penghematan yang bisa dilakukan. Sebagai contoh, pengeringan 124.500 ton teh
membutuhkan biaya Rp 177miliar (Manurung, 2007). Energi biomassa ini pun telah
mulai digunakan di sejumlah daerah, seperti Banjarmasin, beberapa wilayah di
Sumatera serta NTB, khususnya untuk keperluan pembangkit listrik. Energi listik
itu sendiri dihasilkan dari pembakaran limbah pada tungku pemanas.
·
Energi Bioetanol
Energi
Bioethanol digunakan sebagai substitusi sebagian atau keseluruhan bahan bakar
bensin. Bioethanol dapat dihasilkan dari tumbuhan yang mengandung hidrokarbon
tinggi. Kelebihan energi bioethanol ini adalah mampu meningkatkan angka oktan
pada bahan bakar sehingga dapat meningkatkan efisiensi kerja mesin modern.
Keuntungan yang lain adalah rendahnya emisi gas berbahaya hasil pembakaran dari
pada gas buang hasil pembakaran bensin. Bioetanal cukup potensial dikembangkan
di Indonesia mengingat potensi lahan yang cukup luas untuk pengembangan bahan
baku pembuatan etanol. Bioethanol merupakan etanol atau bahan alkohol hasil
proses fermentasi. Bahan ini bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar yang disebut
gasohol yang merupakan paduan dari gasoline dan alkohol. Gasohol merupakan
campuran 90 persen bensin dan 10 persen bioetanol yang dikenal sebagai Gasohol
BE 10. Hasil campuran bensin dan bioetanol menghasilkan emisi karbonmonoksida
dan hidrokarbon yang lebih minim dibanding bensin premium yang beredar saat
ini, juga dapat meningkatkan angka oktan sehingga menghasilkan jenis bensin
baru yang lebih baik dan lebih ramah lingkungan. Perkembangan bioetanol ini
juga akan dapat menghemat devisa dari pengurangan impor premium. Disamping itu
pengembangan bio ethanol dapat menggerakan sektor agribisnis dan
ketenagakerjaan serta memberikan nilai tambah produksi (Manurung, 2007).
·
Energi Biodiesel
Biodiesel
adalah bahan kimia yang dipakai sebagai chemical additive untuk minyak diesel
atau sebagai energi alternatif yang ramah lingkungan karena berasal dari minyak
tumbuh-tumbuhan. Bio diesel dihasilkan dari minyak nabati, lemak hewani,
ganggang atau bahkan minyak goreng bekas sebagai bahan bakar kendaraan. Namun
bila diproduksi dalam skala besar akan meningkatkan beban lingkungan karena
budidaya monokultur atau perkebunan dengan satu jenis tanaman dapat mengurangi
produktivitas lahan serta mengganggu keseimbangan ekosistem. Kelemahan
penggunaan biodiesel atau ethanol murni sebagai bahan bakar kendaraan adalah
perlu modifikasi pada mesin karena ethanol dan biodiesel antara lain akan
bereaksi dengan karet dan plastik konvensional.
·
Energi Biogas
Gas ini
berasal dari berbagai macam limbah organik seperti sampah biomassa, kotoran
manusia, kotoran hewan dapat dimanfaatkan menjadi energi melalui proses
anaerobik digestion. Proses ini merupakan peluang besar untuk menghasilkan
energi alternatif sehingga akan mengurangi dampak penggunaan bahan bakar fosil
(Agung Pambudi, 2008). Biogas adalah campuran gas-gas dari biomasa yang dihasilkan
dan menggunakan bakteri melalui proses fermentasi bahan organik dalam keadaan
anaerob (tanpa oksigen). Dalam keadaan hangat, basah dan kurang udara maka
bakteri akan mencerna bahan organik dan akan menghasilkan gas methan yang mudah
terbakar. Proses ini memiliki kemampuan untuk mengolah sampah/limbah yang
keberadaanya melimpah dan tidak bermanfaat menjadi produk yang lebih bernilai.
·
Energi Sampah
Sampah di
Indonesia diperkirakan hanya mempunyai nilai kalor 1.000-2000 kkal/kg dan jauh
dibawah LHV biomass yang 15-20 MJ/kg. Beberapa sumber juga menyebutkan bahwa
nilai kalor sampah di Indonesia mencapai adalah 3.000-4.000 kkal/kg. Menurut
prediksi harga listrik dari sampah dapat dijual ke PLN adalah Rp 400/kWh.
Teknologi yang dijadikan rujukan oleh Indonesia adalah teknologi dari China.
Pada bulan Desember 1998, China (Shanghai Pudong City Heat Energy) membangun
pembangkit listrik tenaga sampah (PLTsa) dengan kapasitas 35-40 MWh. Dengan
nilai investasi 670 juta yuan (87 juta $) dapat mengolah sampah 1.100-1.200 ton
sampah/hari. Hitungan kasar ini adalah 1 ton sampah perhari menghasilkan
listrik 31.8 kWh dengan biaya investasi 2.5 juta $ (Rp 24 ) per MW ha tau 79
ribu $ perton sampah. Dengan demikian sampah akan menjadi salah satu sumberdaya
berharga untuk bisnis masa depan. Selain teknologi, aspek ke-ekonomian, tentu
peran serta masyarakat dalam pengelolaan sampah sangat-sangat dibutuhkan untuk
menciptakan kota/desa yang bersih. Di Indonesia PT PLN bersama Pemerintah
Kabupaten Bandung membangun pembangkit listrik tenaga sampah (PLTS), merupakan
project pertama di Indonesia, dimana sampah sebagai bahan baku pembangkit
energi (Widiono, 2007).
·
Energi angin
Potensi energi
angin di Indonesia secara umum kecil, karena kecepatan angin pada umumnya
rendah yaitu 3-5 m/detik. Akan tetapi, hal ini sudah memadai untuk pembangkit
listrik skala kecil. Untuk skala pedesaan, tenaga angin dapat menghasilkan 0,5
MW.
·
Energi Air
Indonesia
mempunyai sungai dan air terjun sangat banyak yang berpotensi besar tenaga air.
Secara teoritis, tenaga air diperkirakan mencapai 75.000 MW. Potensi tenaga air
bervariasi dari 200 kW sampai dengan 10 MW, yang diupayakan dari tenaga air
yang memutar turbin/kincir pembangkit.
·
Energi Panas Bumi
Indonesia
merupakan daerah vulkanik, potensi panas bumi terdapat di sepanjang pulau
Sumatra, Jawa-Bali, NTT, NTB, menuju laut Banda, Halmahera dan Sulawesi.
Penelitian menunjukkan bahwa sepanjang jalur tersebut terdapat 70 daerah sumber
energi panas bumi yang mempunyai prospek untuk dikembangkan dengan potensial
total sebesar 19.658 MW. Namun pengembangan panas bumi ini masih terhambat
terutama karena jarak sumber panas yang jauh dari pusat pengguna dan sebagian
berada di kawasan hutan lindung (Menurut Undang-Undang No. 5/1990 tidak
dibenarkan untuk eksploitasi).
2. Bangunan Hijau
Proses pembangunan yang dilakukan dengan
memperhatikan aspek-aspek yang berhubungan dengan penghematan energi serta
dampak terhadap lingkungan mulai dari lokasi bangunan, kontruksi, perawatan,
renovasi, serta reruntuhan bangunan selama bangunan tersebut masih berdiri. Bangunan
hijau sudah banyak di aplikasikan oleh berbagai negara di dunia baik negara
maju maupun negara berkembang.
Suatu bangunan dapat disebut sudah menerapkan konsep bangunan hijau apabila
berhasil melalui suatu proses evaluasi tersebut tolak ukur penilaian yang
dipakai adalah Sistem Rating. Sistem Rating adalah suatu alat yang berisi
butir-butir dari aspelk yang dinilai yang disebut rating dan setiap butir
rating mempunyai nilai. Apabila suatu bangunan berhasil melaksanakan butir
rating tersebut, maka mendapatkan nilai dari butir tersebut. Kalau jumlah semua
nilai yang berhasil dikumpulkan bangunan tersebut dalam melaksanakan Sistem
Rating tersebut mencapai suatu jumlah yang ditentukan, maka bangunan tersebut
dapat disertifikasi pada tingkat sertifikasi tersebut. Sistem Rating
dipersiapkan dan disus;un oleh Green Building Council yang ada di negara-negara
tertentu yang sudah mengikuti gerakan bangunan hijau. Setiap negara tersebut
mempunyai Sistem Rating masing-masing. Sebagai contoh : USA mempunyai LEED
Rating (Leadership Efficiency Environment Design).
Ada 6 (enam) aspek yang menjadi pedoman dalam evaluasi penilaian Green
Building
-
Tepat Guna Lahan (Approtiate Site Development / ASD)
-
Efisiensi dan Konservasi Energi (Energy Efficiency & Conservation
/ EEC)
-
Konservasi Air (Water Conservation / WAC)
-
Sumber dan Siklus Material (Material Resource and Cycle / MRC)
-
Kualitas Udara & Kenyamanan Ruang (Indoor Air Health and Comfort /
IHC)
-
Manajemen Lingkungan Bangunan (Building and Environment Management /
BEM)
3. Kimia Hijau
Proses meminimasi penggunaan dan pembuatan
senyawa- senyawa kimia berbahaya. Selain itu, kimia hijau juga memiliki tujuan
lain seperti mencegah atau mengurangi pencemaran lingkungan. Dalam dunia
industri, bahan-bahan pendukung untuk memproduksi suatu barang, misalkan
alat-alat dapur. Ada bahan kimia yang di pakai untuk membantu proses produksi,
dan bahan kimia tersebut memiliki campuran-campuran kimia yang tidak berbahaya
bagi kesehatan manusia yang menggunakan barang yang di produksi.
Ada 12 prinsip kimia hijau menurut Anastas
dan Warner :
-
Mencegah timbulnya limbah
-
Mendesain produk bahan kimia yang aman
-
Mendesain proses sintesis yang aman
-
Menggunakan bahan baku yang terbarukan
-
Menggunakan katalis
-
Menghindari derivatisasi dan modifikasi
sementara dalam reaksi kimia
-
Memaksimalkan atom ekonomi
-
Menggunakan pelarut yang aman
-
Meningkatkan efisiensi energi dalam reaksi
-
Mendesain bahan kimia yan mudah terdegradasi
-
Penggunaan metode analisis secara langsung untuk
mengurangi polusi
-
Meminimalisasi potensi kecelakaan
4. Nanoteknologi Hijau
Teknologi nano hijau memiliki dua tujuan utama: memproduksi material nano tanpa merusak lingkungan dan kesehatan manusia, dan memproduksi produk
nano untuk menyelesaikan masalah lingkungan. Teknologi ini memanfaatkan prinsip kimia
hijau dan teknologi
hijau untuk membuat material nano dan produk nano tanpa bahan beracun,
menggunakan energi yang lebih sedikit, mengkonsumsi sumber daya yang dapat
diperbarui jika memungkinkan, dan menggunakan pola pikir siklus
(produksi-pakai-daur ulang) dalam segala tahap desain dan keteknikannya. Teknologi nano hijau juga berarti
penggunaan teknologi nano untuk membuat proses manufaktur untuk material dan
produk bukan nano dan diproduksi secara ramah lingkungan. Seperti contoh, membran
sintetis berukuran nano mampu memisahkan hasil reaksi kimia dengan mudah sehingga
produk bisa lebih bersih tanpa menggunakan banyak energi atau katalis konvensional yang berpotensi menambah limbah, seperti pada proses kimia konvensional.
Referensi :
Langganan:
Postingan (Atom)







