.

Tampilkan postingan dengan label @H12-STEALLA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @H12-STEALLA. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Agustus 2018


Oleh : @H12-STEALLA

TEKNOLOGI HIJAU
@PROYEKH09



ABSTRAK :
Kesadaran akan perlunya teknologi yang ramah lingkungan semakin meluas. Teknologi yang boros energi, terutama energi fosil akan berpotensi besar mengancam kerusakan permanen pada Bumi dan juga membahayakan kahidupan umat manusia. Ketika Eropa mengalami krisis energi pada tahun 1973, muncul istilah teknologi tepat guna (appropriate technology). Prinsipnya adalah menghilangkan ketergantungan pada sumber daya luar yang tidak dimiliki oleh masyarakat setempat. Pengelolaan teknologi tepat guna memanfaatkan sumber daya local secara efektif, efisien, dan tetap menjaga kelestarian lingkungan. Pada dasarnya teknologi tepat guna menawarkan solusi masalah yang cenderung tidak terlalu tergantung pada penggunaan energi fosil. Teknologi hijau merupakan salah satu upaya untuk menjaga kelestarian atau kelangsungan hidup di bumi. Kelestarian atau kelangsungan hidup (Sustainable) di bumi dapat diartikan sebagai perihala pemenuhan kebutuhan masyarakat secara berkesinambungan di masa depan tanpa merusak sumber daya alam ataupun pemenuhan kebutuhan saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.

ISI :
Penggundulan hutan telah menghilangkan kemampuan untuk menyerap emisi karbon sehingga memacu terjadinya perubahan iklim. Sejak Perang Dunia II jumlah kenderaan bermotor di dunia bertambah sekitar 40 juta menjadi 680 juta, yang merupakan penyumbang emisi carbon dioksida pada atmosfer. Enam tindakan manusia yang dikenal sebagai “Tragedy of Commons” sebagai penyebab utama perubahan iklim global menurut Gany (2008) yaitu:
a.       Meningkatnya kadar karbon dioksida (CO2) di atmosfir
b.       Perubahan terhadap siklus bio-kimia global dari nitrogen dan elemen-elemen lainnya
c.       Pembentukan dan pelepasan komponen organik secara terus menerus seperti chlorofluorocarbon
d.       Perubahan besar-besaran dalam tataguna lahan dan vegetasi tutupan permukaan
e.       Perburuan dan perambahan sejumlah besar sumber daya alam dan kehidupan predator dan konsumen
f.        Invasi keanekaragaman hayati oleh species asing.

Pada abad ke 21 ini, perubahan iklim yang diakibatkan oleh pemanasan global merupakan permasalahan yang serius dihadapi Negara-Negara di seluruh dunia. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyatakan bahwa kenaikan suhu bumi dari tahun 1990 – 2005 antara 0.13 – 0.15 derajat celcius. Apabila tidak ada upaya pencegahan, pada tahun 2050 – 2070 suhu Bumi akan naik sekitar 4,2 derajat Celcius, (KPKC Roma, 2002). Pada tahun 2100, suhu atmosfir akan meningkat 1,5 – 4,5 derajat
Dampak pemanasan global yang akan terjadi adalah:
a.       Musnahnya berbagai jenis keanekaragaman hayati
b.       Meningkatnya frekuensi dan intensitas hujan badai, angin topan, dan banjir
c.       Mencairnya es dan glasier di kutub
d.       Meningkatnya tanah kering yang potensial menjadi gurun karena kekeringan yang berkepanjangan
e.       Kenaikan permukaan laut hingga menyebabkan banjir yang luas. Pada tahun 2100 diperkirakan permukaan air laut naik hingga 15 – 95 cm
f.        Kenaikan suhu air laut menyebabkan terjadinya pemutihan karang (coral bleaching) dan kerusakan terumbu karang di seluruh dunia
g.       Meningkatnya frekuensi kebakaran hutan
h.       Menyebarnya penyakit-penyakit tropis, seperti malaria ke daerah-daerah baru karena bertambahnya populasi serangga (nyamuk)
i.         Daerah-daerah tertentu menjadi padat karena terjadinya arus pengungsian

Bagi masyarakat Indonesia dampak pemanasan global yang timbul antara lain kenaikan permukan air laut sampai 90 cm yang mengakibatkan tenggelamnya sekitar 2000 pulau, penurunan pH air laut dari 8,2 menjadi 7,8 yang akan menghambat kematian biota dan terumbu karang sehingga akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi, yang mengakibatkan terjadinya penurunan populasi ikan dan sehingga menurunkan hasil laut seperti ikan, udang dan biota laut lainnya. Selanjutnya dampak ekonomi dan sosial akan terjadi akibat terendamnya sebagian besar kota-kota di wilayah pesisir. Dampak pada pertanian yaitu, akan terjadi menurunnya produktivitas tanaman karena terganggunya akibat perobahan pola presipitasi, penguapan, air limpasan dan kelembaban tanah. Selain itu pemanasan global juga berisiko terjadinya ledakan hama dan penyakit tanaman, sehingga akan menggangu pertahanan pangan. Peningkatan suhu Bumi akan menyebabkan curah hujan yang semakin lebat sehingga banjir akan lebih besar. Dampak pada kesehatan masyarakat akan meningkat karena peningkatan suhu akan memperpendek siklus hidup beberapa vektor penyakit dan masa inkubasi penularan menjadi lebih singkat terutama malaria dan Demam Berdarah, serta penyakit lainnya seperti Diare, Leptospirosis, kanker kulit, dll, (Kompas, 2007).

Perkembangan teknologi hijau semakin pesat, antara lain dengan mengacu pada beberapa konsep yang menjadi tujuan aplikasinya :
1. Konsep keberlanjutan
2. Konsep daur ulang
3. Konsep penguraian limbah dan polusi
4. Konsep inovasi
5. Konsep viabilitas
6. Konsep edukasi

3 Aspek yang menjadi prinsip teknologi hijau ;
a. Kenyamanan soSial
b. Ekonomis
c. Ramah lingkungan

Ruang lingkup teknologi hijau sangat luas, beberapa diantaranya adalah :
1. Energi hijau
2. Bangunan hijau (Green Building)
3. Kimia hijau (Green Chemistry)
4. Nanoteknologi hijau (Green nanotechnology)

DAFTAR PUSTAKA :

Afia Hidayat, Atep. 2017. Kimia Industri dan Teknologi Hijau

Apriliyanto Sani, Andry. 2017. PENGARUH TEKNOLOGI RAMAH LINGKUNGAN DAN KUALITAS PELAYANAN TERHADAP KEUNGGULAN KOMPETITIF DAN KINERJA PERUSAHAAN. https://ojs.unud.ac.id/index.php/Manajemen/article/view/30139/19181



Mahmood, Salwa. 2013. Green Technology Management in the Muslim World. file:///C:/Users/ASUS/Downloads/652013107-115GreenTechnologyManagementintheMuslimWorld.pdf

Nefilinda. TEKNOLOGI HIJAU: SOLUSI UNTUK PELESTARIAN SUMBER AIR. https://media.neliti.com/media/publications/131624-ID-none.pdf




Oleh : @H12-STEALLA

INDUSTRI HIJAU
@PROYEKH08




ABSTRAK :
Cara pandang tentang permasalahan pelestarian lingkungan hidup oleh industri sangat beragam, akibatnya definisi industri hijau juga menjadi bervariasi. Untuk memperbaharui konsep-konsep tentang industri, Kementerian Perindustrian mengajukan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perindustrian dimana didalamnya didefinisikan “Industri Hijau adalah industri yang dalam proses produksinya mengutamakan upaya efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya secara berkelanjutan sehingga mampu menyelaraskan pembangunan industri dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup serta dapat memberi manfaat bagi masyarakat.” Sebagai tindak lanjut operasional, Kementerian Perindustrian menyusun konsep industri hijau dalam Permenperind No. 05/M-IND/PER/1/2011 dimana industri hijau didefinisikan sebagai industri berwawasan lingkungan yang menyelaraskan pertumbuhan dengan kelestarian lingkungan hidup, mengutamakan efisiensi dan efektivitas penggunaan sumberdaya alam serta bermanfaat bagi masyarakat.

ISI :
Definisi industri hijau, industri yang berkelanjutan atau definisi yang lebih luas seperti Green Development atau Green Economy seringkali diangkat dari sudut pandang yang beragam sehingga terminologi tersebut saat ini dapat memiliki dimensi yang luas. Konsep industri hijau tidak hanya terkait dengan pembangunan industri yang ramah lingkungan tetapi juga berhubungan dengan penerapan sistem industri yang terintegrasi, holistik dan efisien. Pemikiran tentang konsep industri hijau juga memunculkan berbagai kajian, termasuk dalam manufaktur sehingga dikenal istilah sistem manufaktur yang berkelanjutan atau sustainable manufacturing. NACFAM-USA mendefinisikan sustainable manufacturing sebagai “penciptaan produk manufaktur yang bebas polusi, menghemat energi dan sumberdaya alam, serta ekonomis dan aman bagi karyawan, masyarakat dan pelanggan‟.
Karakteristik Industri Hijau :
a.       Rendahnya Intensitas Material Input
b.       Menggunakan Alternatif Material Input
c.       Penerapan Konsep 4R
d.       Rendahnya Insenitas Air
e.       Penggunaan Energi Alternatif (Biomass)
f.         Sumber Daya Manusia yang kompeten
g.       Rendahnya Intensitas Energi
h.       Teknologi Rendah Karbon
i.         Minimisasi Limbah yang dihasilkan

Di dalam Konsep Hijau secara luas, infrastruktur, desain dan sistem dibuat sedekat mungkin dengan karakteristik ekosistem, dimana energi dimanfaatkan secara efisien dan materi, alat atau bahan baku dimanfaatkan dari satu entitas ke entitas yang lain dalam sistem siklus yang terbarukan (renewable inputs) serta ikut serta dalam mensejahterakan masyarakat. Berikut adalah prinsip-prinsip yang dikembangkan dalam penerapan Konsep Hijau secara luas:
1.       Efisiensi energi dan energi terbarukan
Di dalam ekosistem dan metabolisme organisme, energi dimanfaatkan secara fisik. Energi yang terlepas dalam bentuk kalor dimanfaatkan sebagai sumber energi panas bagi subsistem lain di dalam sistem, atau diserap oleh sistem lain. Panas yang diserap oleh sistem selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Konsep Hijau dilakukan dengan memanfaatkan energi terbarukan yang tersedia di alam. Selanjutnya pemanfaatan energi terbarukan yang semakin banyak akan mendorong pengurangan penggunaan bahan bakar fosil. Sumber energi terbarukan yang ada di alam yang paling utama dan berlimpah adalah energi yang disediakan oleh sinar matahari. Sumber energi terbarukan lainnya meliputi angin, energi potensial air, panas bumi dan biomassa.
2.       Efisiensi pemanfaatan sumber daya
Di dalam konsep hijau, sumber daya yang pada umumnya tersedia dalam jumlah terbatas harus dimanfaatkan secara efisien. Teknologi Hijau adalah teknologi yang dapat meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya sehinggamengurangi limbah yang dihasilkan atau yang dikenal sebagai zero-waste. Konsep zero-waste production tidak hanya berhubungan dengan efisiensi pemanfaatan sumber daya, tetapi juga dengan penerapan siklus materi di dalam sistem. Limbah yang dihasilkan oleh satu subsistem harus dapat dijadikan sebagai sumber daya bagi subsistem lainnya. Konsep seperti Recycle dan Reuse adalah penerapan dari siklus materi dan efisiensi pemanfaatan sumber daya dalam Konsep Hijau.
3.       Keterkaitan sistem alam – manusia
Green development tidak dapat dilepaskan dari pembangunan masyarakat. Konsep Sistem Ekologi Sosial (SES) memperhatikan masyarakat sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari sistem alam (ekosistem). Alam memberikan sumberdaya bagi manusia, tetapi manusia juga memberikan masukan bagi siklus materi di dalam ekosistem. Pembangunan berwawasan lingkungan yang tidak mengindahkan masyarakat memiliki tendensi untuk gagal dan berpotensi menimbulkan masalah atau bahkan dapat berpotensi menimbulkan bencana. Masyarakat dapat merusak lingkungan melalui pemanfaatan eksploitatif, tetapi juga dapat berperan dalam memelihara lingkungan melalui sistem pengelolaan yang berkelanjutan. Konsep Hijau harus turut serta dalam mengedepankan pemberdayaan masyarakat sekitar sebagai bagian dari pembangunan yang ramah lingkungan.
4.       Green Industrial Park
Daerah Kalundborg di Denmark merupakan salah satu daerah yang telah menerapkan konsep Eco-Industrial Park yang terintegrasi dengan pemukiman dan perkotaan. Di Kalundborg, berbagai industri seperti farmasi, penyulingan minyak, pengolahan limbah pertanian, dan permunian air saling terintegrasi dengan memanfaatkan energi dari Power Station yang memanfaatkan bahan baku batubara disamping penggunaan energi terbarukan lain. Di kota ini, masyarakat dapat berenang di danau yang mengandung air luaran dari pabrik (yang tentunya telah diolah lebih dahulu) dan minum dari air kran hasil pengolahan air dalam sistem ekoindustrinya. Innovista Industrial Park di kota Hinnon, Kanada juga membangun pemukiman dan komplek industri berwawasan Hijau dengan membangun bangunan hijau, mempertahankan jalur hijau dan taman kota di sebagian besar kawasan, hingga mendesain tata letak pabrik agar asap pabriknya dapat diserap oleh hutan kota di sekitarnya. (Atmawinata, 2012)


DAFTAR PUSTAKA :

2010. KEBIJAKAN PENGEMBANGAN INDUSTRI HIJAU. http://iesr.or.id/files/2apr_WORKSHOP_ENERGI.pdf

Afia Hidayat, Atep. 2017. Kimia Industri dan Teknologi Hijau

Atmawinata, Achdiat. 2012. Efisiensi dan Efektivitas dalam Implementasi Industri Hijau. http://www.kemenperin.go.id/download/6297/Efisiensi-dan-Efektivitas-dalam-Implementasi-Industri-Hijau


SOPANDI HUTAHAEAN, LINTONG. 2017. PENGEMBANGAN INDUSTRI HIJAU NASIONAL. http://apki.net/wp-content/uploads/2017/04/Industri-Hijau-Pak-Lintong-1.pdf

Sri Untari, Galuh. 2017. TINGKAT KESIAPAN KAWASAN INDUSTRI TERAS-MOJOSONGO KABUPATEN BOYOLALI SEBAGAI KAWASAN GREEN INDUSTRY. file:///C:/Users/ASUS/Downloads/12118-31402-2-PB.pdf




Kamis, 23 Agustus 2018


Oleh : @H12-STEALLA

KIMIA HIJAU YES
@PROYEKH07



ABSTRAK :

Green chemistry muncul karena adanya pergeseran paradigma tradisional suatu proses produksi yang hanya berfokus pada produk yang ekonomis tanpa memperhatikan limbah yang dihasilkan menjadi berfokus pada produk yang secara ekonomis mampu mengurangi pemakaian bahan yang bersifat toksik dan atau berbahaya. Tujuan utama dari konsep green chemistry adalah teknologi berkesinambungan (sustainable technology). Reaksi katalisis merupakan salah satu cara pengejawantahan green chemistry, karena reaksi katalisis menyediakan rute reaksi yang lebih pendek daripada rute reaksi kimia trisional. Dengan reaksi katalisis, pemakaian bahan dan reagen kimia dapat diminimalkan dan konsep lebih baik mencegah daripada mengobati dapat dilaksanakan. (Utomo, 2010)
Green chemistry atau “kimia hijau” merupakan bidang kimia yang berfokus pada pencegahan polusi. Pada awal 1990-an, green chemistry mulai dikenal secara global setelah Environmental Protection Agency (EPA) mengeluarkan Pollution Prevention Act yang merupakan kebijakan nasional untuk mencegah atau mengurangi polusi. Green chemistry merupakan pendekatan untuk mengatasi masalah lingkungan baik itu dari segi bahan kimia yang dihasilkan, proses ataupun tahapan reaksi yang digunakan. Konsep ini menegaskan tentang suatu metode yang didasarkan pada pengurangan penggunaan dan pembuatan bahan kimia berbahaya baik itu dari sisi perancangan maupun proses. Bahaya bahan kimia yang dimaksudkan dalam konsep green chemistry ini meliputi berbagai ancaman terhadap kesehatan manusia dan lingkungan, termasuk toksisitas, bahaya fisik, perubahan iklim global, dan penipisan sumber daya alam. (Muslih, 2015)


ISI :

Isu tentang polusi, limbah, pemanasan global sering diberitakan dalam media masa. Di era modern ini, isu-isu tersebut menjadi isu yang sensitif. Peningkatan kadar polutan yang relatif besar, membuat pembuat kebijakan, aktivis lingkungan dan juga masyarakat umum mulai memikirkan masa depan bumi ini. Hal ini melahirkan istilah ramah lingkungan. Dewasa ini, hampir setiap kegiatan, baik kegiatan sosial maupun industri, dituntut untuk memenuhi kriteria ramah lingkungan. Green chemistry adalah suatu falsafah atau konsep yang mendorong desain dari sebuah produk ataupun proses yang mengurangi ataupun mengeliminir penggunaan dan produksi zat-zat (substansi) toksik dan atau berbahaya. Konsep green chemistry berkaitan dengan Kimia Organik, Kimia Anorganik, Biokimia, dan Kima Analitik. Bagaimanapun juga, konsep ini cenderung mengarah ke aplikasi pada sektor industri. Patut digarisbawahi di sini, bahwa green chemistry berbeda dengan environmental chemistry (Kimia Lingkungan). Green chemistry lebih berfokus pada usaha untuk meminimalisir penghasilan zat-zat berbahaya dan memaksimalkan efisiensi dari penggunaan zat-zat (substansi) kimia. Sedangkan, environmental chemistry lebih menekankan pada fenomena lingkungan yang telah tercemar oleh substansi-substansi kimia (Nurma, 2008).
Pertumbuhan industri kimia yang ramah lingkungan semakin dibutuhkan. Kecenderungan tersebut dikenal dengan istilah green chemistry atau teknologi berkesinambungan. Green chemistry muncul karena adanya pergeseran paradigma konsep tradisional tentang efisiensi konsep yang berfokus utama pada hasil reaksi kimia, yang secara ekonomis bisa mengeliminasi limbah dan menghindari pemakaian material yang bersifat toksik dan atau berbahaya. Aktivitas green chemistry diformulasikan sebagai usaha pemakaian bahan dasar (terutama yang dapat diperbaharui) secara efisien, penghilangan limbah dan penghindaran pemakaian reagen dan pelarut yang bersifat toksik dan atau berbahaya dalam industri dan aplikasi produk kimia. (Utomo, 2010)
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Rashmi Sanghi (2003) pada sintesa senyawa organik dan persyaratan yaitu:
a) menghindari limbah
b) efisiensi atom
c) menghindari penggunaan dan produksi bahan kimia yang beracun dan berbahaya
d) prosesnya yang ramah lingkungan atau berorientasi green chemistry harus memenuhi beberapa
menghasilkan senyawa-senyawa dengan hasil yang lebih baik atau sama
e) dapat dibiodegradasi
f) mengurangi energi yang dibutuhkan
g) menggunakan bahan yang dapat didaur ulang
h) menggunakan katalis

Semua persyaratan ini dapat dipenuhi dengan konsep green chemistry, jadi dapat dikatakan bahwa green chemistry adalah proses kimia atau teknologi yang dapat memperbaiki lingkungan dan kualitas hidup.
Menurut Anastas & Warner hal yang penting dalam green chemistry adalah:
1) Mencegah terjadinya limbah di tempat pertama
2) Menggunakan pereaksi dan pelarut yang aman
3) Melakukan perobahan reaksi secara selektif dan efisien
4) Menghindari produk dan reaksi kimia yang tidak perlu

Selanjutnya Anastas & Warner mengusulkan 12 prinsip green chemistry yang perlu dipertimbangkan, yaitu:
1) Pencegahan terbentuknya bahan buangan beracun akan lebih baik dari pada menangani atau membersihkan bahan buangan tersebut
2) Mengekonomiskan atom dalam merancang metode sintesis
3) Sintesis bahan kimia yang tidak atau kurang berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungannya
4) Merancang produk bahan kimia yang lebih aman, walaupun sifat racunnya dikurangi tetapi fungsi-nya tetap efektif
5) Menggunakan pelarut dan bahan-bahan pendukung yang lebih aman dan tidak berbahaya
6) Rancangan untuk efisiensi energi
7) Penggunaan bahan dasar yang dapat diperbaharui
8) Mengurangi turunan (derivatives) yang tidak penting
9) Menggunakan katalis untuk meningkatkan selektifitas dan meminimalkan energi
10) Merancang produk-produk kimia yang dapat terdegradasi menjadi produk yang tidak berbahaya
11) Analisis serentak untuk mencegah polusi
12) Bahan kimia yang digunakan dalam proses kimia dipilih yang lebih aman untuk mencegah kecelakaan
(PENDEKATAN GREEN CHEMISTRY SUATU INOVASI DALAM PEMBELAJARAN KIMIA BERWAWASAN LINGKUNGAN, 2011)


DAFTAR PUSTAKA :
Anggraeni. 2012. SOSIALISASI KIMIA HIJAU DAUR ULANG LIMBAH ORGANIK DAN ANORGANIK DI DESA PADAKEMBANG DAN CILAMPUNG HILIR KECAMATAN CISAYONG KABUPATEN TASIKMALAYA. http://jurnal.unpad.ac.id/dharmakarya/article/viewFile/8196/3745

Anonimus. Pembangunan yang berkelanjutan dan "Kimia hijau". https://www.oc-praktikum.de/nop/id/articles/pdf/why_id.pdf

Anonimus. 2011. PENDEKATAN GREEN CHEMISTRY SUATU INOVASI DALAM PEMBELAJARAN KIMIA BERWAWASAN LINGKUNGAN . http://journal.unj.ac.id/unj/index.php/jrpk/article/download/175/216/

Anwar, Muslih, M.Sc. 2015. Kimia Hijau / Green Chemistry. http://bptba.lipi.go.id/bptba3.1/?lang=id&u=blog-single&p=343


Mustafa, Dina. 2017. PERANAN KIMIA HIJAU (GREEN CHEMISTRY) DALAM MENDUKUNG TERCAPAINY A KOTA CERDAS. http://repository.ut.ac.id/7076/1/UTFMIPA2017-07-dina.pdf

Pranjoto Utomo, M. 2010. GREEN CHEMISTRY DENGAN KIMIA KATALISIS. http://staffnew.uny.ac.id/upload/132206549/penelitian/08_green_chemistry.pdf

Redhana, Wayan. 2017. GREEN CHEMISTRY PRACTICUM TO IMPROVE STUDENT LEARNING OUTCOMES OF REACTION RATE TOPIC. https://media.neliti.com/media/publications/196192-ID-green-chemistry-practicum-to-enhance-stu.pdf

Sabtu, 18 Agustus 2018

Oleh : @H12 – STEALLA





AIR SEHAT ITU SEPERTI APA ?
@PROYEKH06

ABSTRAK :
Air bersih merupakan indikator penting yang harus ada yang sangat mempengaruhi profil kesehatan masyarakat. Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari dan akan menjadi air minum setelah dimasak terlebih dahulu. Sebagai batasannya, air bersih adalah air yang memenuhi   persyaratan   bagi   sistem   penyediaan   air   minum.   Adapun   persyaratan   yang dimaksud adalah persyaratan dari segi kualitas air yang meliputi kualitas fisik,  kimia, biologi dan radiologis, sehingga apabila dikonsumsi tidak menimbulkan efek samping (Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 1990).

ISI :
Air merupakan bahan alam yang diperlukan untuk kehidupan manusia, hewan dan tanaman yaitu sebagai media pengangkutan zat-zat makanan, juga merupakan sumber energi serta berbagai keperluan lainnya (Arsyad, 1989). Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 14/PRT/M/2010 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang menyebutkan bahwa kebutuhan air rata- rata secara wajar adalah 60 l/orang/hari untuk segala keperluannya. Kebutuhan akan air bersih dari tahun ke tahun diperkirakan terus meningkat. Menurut Suripin (2002), pada tahun 2000 dengan jumlah penduduk dunia sebesar 6,121 milyar diperlukan air bersih sebanyak 367 km3 per hari, maka pada tahun 2025 diperlukan air bersih sebanyak 492 km3 per hari, dan pada tahun 2100 diperlukan air bersih sebanyak 611 km3 per hari. Masalah utama yang dihadapi berkaitan dengan sumber daya air adalah kuantitas air yang sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan yang terus meningkat dan kualitas air untuk keperluan domestik yang semakin menurun dari tahun ke tahun. Kegiatan industri, domestik, dan kegiatan lain berdampak negatif terhadap sumber daya air, termasuk penurunan kualitas air. Kondisi ini dapat menimbulkan gangguan, kerusakan, dan bahaya bagi mahluk hidup yang bergantung pada sumber daya air (Effendi, 2003). Penurunan kualitas air tidak hanya diakibatkan oleh limbah industri, tetapi juga diakibatkan oleh limbah rumah tangga baik limbah cair maupun limbah padat (Lallanilla, 2013).

SYARAT AIR BERSIH
Persyaratan kualitas menggambarkan mutu atau kualitas dari air baku air bersih.
Persyaratan   ini   meliputi   persyaratan   fisik,   persyaratan   kimia,   persyaratan   biologis   dan persyaratan     radiologis.     Syarat-syarat     tersebut berdasarkan     Permenkes No.416/Menkes/PER/IX/1990   dinyatakan   bahwa   persyaratan   kualitas   air   bersih   adalah sebagai berikut:
1. Syarat-syarat fisik
Secara fisik air bersih harus jernih, tidak berbau dan tidak berasa. Selain itu juga suhu air bersih sebaiknya sama dengan suhu udara atau kurang lebih 250C, dan apabila terjadi perbedaan maka batas yang diperbolehkan adalah 250C ±  30C.

2. Syarat-syarat Kimia
Air bersih tidak boleh mengandung bahan-bahan kimia dalam jumlah yang melampaui batas. Beberapa persyaratan kimia antara lain adalah : pH (6,5-9), total  solid, zat organik (10 mg/L), CO2 ( 0 mg/L) agresif, kesadahan, kalsium (Ca), besi (Fe) (0,3 mg/L), mangan (Mn), tembaga (Cu) (1 mg/L), seng (Zn), chlorida (Cl) (250 mg/L), nitrit, flourida (F) (1-1,5 mg/L), serta logam berat.

3. Syarat-syarat bakteriologis dan mikrobiologis
Air bersih tidak boleh mengandung kuman patogen dan parasitik yang  mengganggu kesehatan. Persyaratan  bakteriologis ini ditandai dengan tidak  adanya bakteri  E. coli  atau Fecal coli  dalam air. Cara untuk mengetahui apakah air minum terkontaminasi oleh bakteri patogen adlah dengan memeriksa sampel air tersebut. Bila dari pemeriksaan 100 cc air terdapat   sekurang-kurangnya  4  bakteri   e.coli   maka   air  tersebut   sudah memenuhi  syarat kesehatan.

4. Syarat-syarat Radiologis
Persyaratan  radiologis mensyaratkan bahwa air bersih tidak boleh mengandung zat yang menghasilkan bahan-bahan yang mengandung radioaktif, seperti sinar alfa, beta dan gamma.



Daftar Pustaka :

Anonimus. 2012. Air Bersih, Sanitasi & Kebersihan. https://www.unicef.org/indonesia/id/A8_-_B_Ringkasan_Kajian_Air_Bersih.pdf

Hidayat, Atep Afia, Kholil, Muhammad. 2017. Kimia, Industri dan Teknologi Industri

Naway, Ridwan. 2013. PENGEMBANGAN SISTIM PELAYANAN AIR BERSIH. https://media.neliti.com/media/publications/140205-ID-pengembangan-sistim-pelayanan-air-bersih.pdf

Oktavianto, Aditya. 2014. EVALUASI KEAMANAN SUMBER AIR MINUM DESA MOJO KECAMATAN PADANG KABUPATEN LUMAJANG. file:///C:/Users/ASUS/Downloads/3447-1-6892-1-10-20161201.pdf

Ria Dharma Patni, Putu. PENYEDIAAN AIR BERSIH SEBAGAI SUMBER AIR MINUM BERKUALITAS. https://kupdf.net/download/jurnal-air-bersih_59f04496e2b6f56b78397069_pdf

Utami, Sri. KETERSEDIAAN AIR BERSIH UNTUK KESEHATAN: KASUS DALAM PENCEGAHAN DIARE PADA ANAK. http://repository.ut.ac.id/7078/1/UTFMIPA2017-09-utami.pdf

Widyastuti, Endang. 2014. KAJIAN KUALITAS AIR DAN PENGGUNAAN SUMUR GALI OLEH MASYARAKAT DI SEKITAR SUNGAI KALIYASA KABUPATEN CILACAP. file:///C:/Users/ASUS/Downloads/10530-23891-1-SM.pdf 


Jumat, 17 Agustus 2018


Oleh : @H12 – STEALLA

PERISAIKU, ATMOSFERKU
@PROYEKH05





Abstrak :

Bumi adalah salah satu benda langit yang sangat kecil yang mengembara di jagad raya, diantara milyaran benda-benda langit lain. Populasi benda langit sangatlah besar dan variasinya sangat kompleks. Sejumlah benda-benda jagad raya terus bergerak beragam ukuran dan sifat) dengan orbit yang seringkali bersinggungan atau berpotongan. Dengan demikian interaksi antar benda-benda jagad raya sangatlah sering terjadi, dan masing-masing dalam kecepatan yang sangat tinggi. Maka sesungguhnya setiap benda di jagad raya ini berpotensi dihancurkan atau menghancurkan benda lain, ketika terjadi tumbukan. Selain itu, radiasi dan emisi foton dari semua bintang, dengan berbagai tingkat energi, akan bergerak tanpa penghalang dan hanya dilemahkan oleh jarak. Sehingga energi radiasi (foton) yang bersumber dari bintang yang dekat, akan berpotensi sangat menghancurkan benda langit tertentu, baik karena jumlahnya (intensitasnya) maupun karena energinya (panasnya). Termasuk pada bumi kita. Tumbukan dengan benda langit lain atau radiasi energi dari matahari, merupakan ancaman bahaya pada eksistensinya dan kehidupan di dalamnya.
Benda langit yang paling dekat dengan bumi adalah bulan. Satelit planet bumi ini bergerak bersama bumi, dan mengalami lingkungan dan ancaman yang sama bahayanya dengan bumi. Nampak dari bumi (kasat mata), permukaan Bulan tidaklah rata, banyak kawah yang terbentuk. Para ahli berkeyakinan kawah-kawah di Bulan merupakan dampak dari masuknya benda-benda dari angkasa yang menumbuk permukaan Bulan. Atmosfer bulan yang sangat tipis menyebabkan benda-benda angkasa menumbuk permukaan bulan dengan ukuran dan momentum yang cukup untuk membentuk kawah sampai sedalam beberapa kilometer. Nampaknya sistem kehidupan cukup sulit bertahan jikapun bisa hidup di Bulan.
Bagaimana dengan Bumi kita? Untuk menjaga eksistensinya, maka dalam perjalanannya diperlukan suatu desain yang sempurna untuk bumi agar tetap berada dalam sistem jagad raya. Untuk melindungi dari tumbukan dan radiasi foton berlebihan, diperlukan tameng yang kuat bagi bumi. Tameng tersebut diperlukan bumi agar tidak terjadi kerusakan selama pengembaraanya. Atmosfer merupakan tameng bumi yang didesain berlapis-lapis dengan masing-masing fungsi yang unik, saling bersinergi, dan sangat kuat.


Isi :

Bumi merupakan salah satu planet yang ada di tata surya yang memiliki selubung yang berlapis-lapis. Selubung bumi tersebut berupa lapisan udara yang sering disebut dengan atmosfer. Atmosfer terdiri atas bermacam-macam unsur gas dan di dalamnya terjadi proses pembentukan dan perubahan cuaca dan iklim. Atmosfer melindungi manusia dari sinar matahari yang berlebihan dan meteor-meteor yang ada. Adanya atmosfer bumi memperkecil perbedaan temperatur siang dan malam. Gejala yang terjadi di atmosfer sangat banyak dan beragam. Pada lapisan bawah angin berhembus, angin terbentuk, hujan dan salju jatuh, dan terjadilah musim panas dan musim dingin. Semua ini merupakan gejala yang lazim terjadi yang sering disebut cuaca. Atmosfer bumi merupakan selubung gas yang menyelimuti permukaan padat dan cair pada bumi. Selubung ini membentang ke atas sejauh beratusratus kilometer, dan akhirnya bertemu dengan medium antar planet yang berkerapatan rendah dalam sistem tata surya. Atmosfer terdapat dari ketinggian 0 km di atas permukaan tanah sampai dengan sekitar 560 km dari atas permukaan bumi.
Bagi kita, atmosfer merupakan bagian Bumi yang paling penting. Karena keberadaan atmosfer itulah kamu bisa bernapas. Udara yang ada di atmosfer tersusun atas berbagai jenis gas. Gas penyusun atmosfer adalah nitrogen (78 persen), oksigen (21 persen), argon (0,9 persen), dan karbon dioksida (0,03persen). Bumi menjadi planet yang unik di alam semesta karena ada oksigen yang bisa digunakan manusia untuk bernapas. Atmosfer tidak hanya berguna untuk bernapas saja. Atmosfer juga melindungi Bumi dari radiasi Matahari yang berbahaya. Atmosfer juga melindungi Bumi apabila ada benda-benda berbahaya lain di ruang angkasa yang jatuh. Atmosfer melindungi kita dari meteoroid yang jatuh dari luar angkasa. Sebelum sampai di permukaan Bumi, meteor telah terbakar karena bergesekan dengan udara yang ada di atmosfer. Selain itu, atmosfer membuat suhu di Bumi tetap hangat dan nyaman untuk ditinggali. Atmosfer terdiri atas beberapa lapisan. Semakin tinggi atmosfer kerapatan dan suhunya semakin rendah. Jika sekali waktu kamu pergi ke puncak gunung maka kamu akan bernapas lebih berat daripada di lereng gunung. Bagian terbawah atmosfer disebut dengan troposfer. Tinggi troposfer mencapai 20 km. Di atas troposfer, hingga ketinggian 50 km, terdapat stratosfer.
Atmosfer bumi adalah campuran gas yang secara kimia-fisika relatif homogen pada setiap stratanya, yang membungkus permukaan bumi, dan tetap bertahan karena gravitasi bumi. Dibandingkan dengan diameter bumi (sekitar 12.000 km), atmosfer merupakan lapisan tipis (ketebalan 200-500 km) larutan udara sangat mudah dikompresi maupun diekspansi, dan mengelilingi bumi. Karena pengaruh gravitasi bumi, maka sebagian besar gas-gas penyusun atmosfer terkompresi di bagian bawah dekat permukaan bumi. Makin jauh jarak dari permukaan bumi, maka makin renggang struktur gas-gas penyusun atmosfer, sehingga densitas dan tekanan udara akan semakin rendah. Sesungguhnya, atmosfer tidak jauh berbeda dengan lautan yang membungkus permukaan bumi. Keduanya merupakan fluida yang membungkus permukaan bumi dan terikat secara gravitasi. Perbedaan yang mendasar antara atmosfer dan lautan adalah bahwa atmosfer merupakan campuran gas yang dapat dikompresi atau ekspansi sedangkan lautan berisi cairan yang relatif tidak terkompresi. Kemampuan kompresi dan ekspansi atmosfer, secara substansial dipengaruhi oleh tekanan, menyebabkan berbagai fenomena atmosfer seperti angin, mendung, hujan, iklim, cuaca, dan sebagainya (Petty 2008).
Secara umum komposisi saat ini atmosfer kering (tanpa kandungan air) adalah 78,6 % (volume) nitrogen (N2), 21 % oksigen (O2), 0,9 % argon (Ar), 0,03 % karbon dioksida (CO2), dan berbagai jenis gas-gas pada level yang sangat kecil (kurang dari 0,002 %) seperti neon (Ne), helium (He), metana (CH4), kripton (Kr), hidrogen (H2), nitous oksida (NOx), xenon (Xe), sulfur oksida (SOx), ozon (O3) ammonia (NH3), karbon monoksida (CO), dan sebagainya. Normalnya, air terkandung dalam atmosfer sebagai bentuk uap air sebesar 1-3 % volume (Manahan 2000).
Pembagian lapisan atmosfer juga dapat dilakukan dengan mempelajari sifat keteraturan perubahan sifat fisik (tekanan dan temperatur). Dalam hal ini, atmosfer bumi dibagi menjadi 4 lapisan utama. Keempat lapisan utama tersebut adalah:
a.Troposfer, berada dalam ketinggian dari permukaan bumi sampai ketinggian rata-rata 11 km, temperature rata-rata 15 oC dipermukaan laut menurun dengan bertambahnya ketinggian sampai kira-kira -56 oC di bagian atas (tropopause)
b. Stratosfer, dari ketinggian rata-rata 11 km sampai kira-kira 50 km, temperature rata-rata naik dari -56 oC sampai -2 oC di bagian atas (stratopause), kenaikan temperature ini utamanya karena penyerapan radiasi ultraviolet oleh ozon di atmosfer,
c. Mesosfer, lapisan diatas stratosfer (50 km) sampai dalam ketinggian ratarata 85 km , profil temperatur sama dengan troposfer, menurun dengan bertambahnya ketinggian, dari -2 oC sampai sekitar -92 oC di bagian lapisan paling atas (mesopause).
d. Termosfer, merupakan lapisan yang paling tinggi dari atmosfer mulai 85 km sampai dengan rata-rata 500 km, berisi lapisan gas dengan kerapatan rendah, profil temperatur naik sampai 1200 oC, kenaikan ini utamanya karena penyerapan radiasi dengan panjang gelombang < 200 nm oleh spesies gas-gas penyusun termosfer.

Diantara tiap-tiap dua lapisan atmosfer, terdapat lapisan antara (transisi) yang merupakan batas antar muka kedua lapisan. Lapisan batas (antara) berfungsi utama adalah menjaga eksistensi masing-masing lapisan tidak bercampur. Ada 3 lapisan transisi di atmosfer, yaitu:
a.       Tropopause, lapisan transisi antara troposfer dan stratosfer
b.       Stratopause, lapisan transisi antara stratosfer dan mesosofer
c.       Mesopause, lapisan transisi antara mesosfer dan termosfer

Setiap lapisan utama dan lapisan transisi atmosfer, mempunyai karakteristik dan peran spesifik, merupakan bagian sistem atmosfer. Sistem atmosfer ini didesain dalam rangka menopang kehidupan manusia dan kelangsungan sistem lingkungan di bumi. Sinergi setiap lapisan ini diciptakan dengan tugas masing-masing, untuk bersama-sama membuat kondisi bumi sangat layak untuk berlangsungnya kehidupan. (Hermana, 2010)

Daftar Pustaka :




Hidayat, Atep Afia, Kholil, Muhammad. 2017. Kimia, Industri dan Teknologi Industri