.

Sabtu, 29 Februari 2020

Pemanfaatan BIOGAS sebagai sumber energi alternatif

oleh: agustina retno.w @Q10-Agustina
41618110083

Abstrak
Tahukah kamu tentang Biogas ? Definisi dan Bagaimana Cara kerjanya ?

Biogas saat ini menjadi salah satu opsi alternatif dalam pengolahan limbah kotoran peternakan. Limbah kotoran  yang tidak diolah dan dibiarkan begitu saja menjadi masalah tersendiri dalam dunia peternakan. Penimbunan kotoran ternak di sekitar kandang menyebabkan pencemaran lingkungan. Bau menyengat sudah pasti terjadi, dan akan diperparah ketika musim penghujan datang.
Jika kotoran ikut tergenang air hujan, maka dapat menurunkan mutu lingkungan dan mutu kesehatan bagi masyarakat sekitar peternakan. Situasi semacam inilah yang menyebabkan, secara sosial peternakan dipadang jelek oleh masyarakat pada beberapa daerah. Maka dijadikan lah motivasi terbaru sumber energi ramah lingkungan dari hasil pemanfaatan ampas atau kotoran hewan yang bila tidak diolah maka akan membuat kita berpandang buruk tentang kotoran yang padahal bila diolah menjadi energi yang sangat bermanfaat bagi manusia.
Hendroko (2008) menjelaskan bahwa biogas merupakan suatu campuran gas-gas yang dihasilkan dari suatu proses fermentasi bahan organik oleh bakteri dalam keadaan tanpa oksigen. Komposisi biogas yang dihasilkan adalah gas methan (CH4) sekitar 55-75%, gas karbondioksida (CO2) sekitar 25-45% dan gas lain dengan proporsi kecil.
Kata kunci : biogas,energi alternatif
Pembahasan
Manfaat yang diperoleh dengan memanfaatkan kotoran sapi sebagai sumber energi alternatif masa kini sangat banyak manfaatnya mulai dari:
a.      Pertanian
Pengolahan anaerob pada kotoran ternak dan sisa makanan organik memberikan manfaatbagi sektor pertanian. Beberapa manfaat termasuk:
·         Diversifikasi keuangan dan mitigasi risiko melalui penjualan energi.
·         mendukung pengolahan lokal produksi pertanian.
·         mengurangi kebutuhan dan biaya pupuk komersial.
b.      Ekonomis
Manfaat ekonomi hijau dari biogas sangat besar dan meliputi:
·         penciptaan lapangan kerja lokal di bidang teknis, manufaktur dan konstruksi / perdagangan
·         pembangunan ekonomi menghasilkan miliaran dolar investasi di masyarakat pedesaan
·         penciptaan produk sampingan yang berguna dari limbah, bertindak sebagai pengganda ekonomi yang signifikan
c.      lingkungan
Manfaat biogas bagi lingkungan sangat banyak.
·         mengontrol perkecambahan gulma, mengurangi penggunaan herbisida
·         menghilangkan senyawa penyebab bau
·         menangkap dan menggunakan metana, gas rumah kaca 21 kali lebih buruk dari CO2
·         Mengubah aliran limbah energi tinggi menjadi bahan bakar, mengalihkannya dari TPA
d.      Energi
Sebagai sumber energi terbarukan, biogas memiliki karakteristik unik. Biogas bisa
·         Menghasilkan daya yang fleksibel dan dapat diandalkan 24/7
·         mengelola catu daya terbarukan yang terputus-putus melalui sarana penyimpanan dan daya fleksibel
·         meningkatkan / mendukung infrastruktur lokal dan kualitas daya
·         meningkatkan ke gas alam terbarukan (RNG) untuk injeksi ke dalam jaringan gas alam, menghasilkan energi terbarukan ‘hijau’ melalui infrastruktur yang ada
·         dikompres untuk digunakan sebagai bahan bakar transportasi, atau penggantian langsung gas alam yang berasal dari fosil dalam pemanasan rumah tangga, atau proses industri, komersial, dan kelembagaan
Manfaat pembuatan biogas dari kotoran ternak

1.     Gas yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk menganti kayu bakar yang tidak menimbulkan jelaga dan asap sehingga pera­latan dan ruang dapur tetap bersih. Ditinjau dari segi kesehatan tidak akan terjadi rasa pedih di mata dan sesak nafas akibat asap.
2.     Limbah digester biogas, baik yang padat maupun yang cair da­pat dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Limbah padat sangat baik untuk pupuk karena pemrosesan pupuk lebih sempurna dari pada pupuk kandang yang di­tumpuk di tempat terbuka. Pupuk yang dihasilkan dari di­gester ini juga dapat berfungsi memperbaiki struktur tanah sehingga menjadi gembur dan mempunyai daya pengikat air yang tinggi. Limbah cair dapat pula dimanfaatkan untuk menyiram tanam-an karena mengandung unsur hara yang dibutuhkan tanaman.
3.     Kesehatan dan kebersihan lingkungan terjamin karena semua kotoran ternak langsung dimasukkan ke digester sehingga para­sit-parasit seperti cacing pita, cacing hati dan lain-lain akan han­cur di dalam digester. Di simping itu, ruang digester ini akan mengurangi bau yang menyengat dari kotoran ternak.
Pengolahan kotoran ternak menjadi energi alternatif biogas yang ramah lingkungan merupakan metode yang sangat menguntungkan bagi masyarakat, karena mampu memanfaatkan alam tanpa merusak siklus ekologi. Manfaat lain mengolah kotoran ternak menjadi energi biogas adalah dihasilkannya pupuk organik yang dapat dimanfaatkan untuk tanaman (Mangiwa, S. (2017).
pengumpulan faeces ternak ke dalam suatu tangki kedap udara yang disebut digester (pen­cerna). Di dalam digester tersebut, kotoran dicerna dan difermentasi oleh bakteri yang menghasilkan gas methan serta gas-gas lain. Gas yang timbul dari proses ini ditampung di dalam digester. Penumpuk­an produksi gas akan menimbulkan tekanan sehingga dapat disalur­kan ke rumah dengan pipa. Gas yang dihasilkan tersebut dapat dipa­kai untuk memasak dengan mengunakan kompor gas atau untuk pe­nerangan dengan menggunakan lampu petromaks sesuai dengan ba­han bakar gas tadi. Gas yang dihasilkan ini sangat baik untuk pemba­karan karena mampu menghasilkan panas yang cukup tinggi, apinya berwarna biru, tidak berbau dan tidak berasap.
Kesimpulan
Berinovasi lebih itu penting, menjadikan hal apapun yang dipandang manusia sudah tidak bermanfaat kita jadikan bermanfaat untuk pengembangan teknologi ramah lingkungan, pemanfaatan biogas ini juga merupakan motivasi alternatif untuk sumber energi yang semakin berkembang berbagai permintaan yang semakin melonjak. Pengganti energi BBM, Gas ,Listrik,Maka dari itu memilih motivasi terbaru agar semua kebutuhan dapat terpenuhi serta ramah lingkungan.
Daftar pustaka
Putro, S. (2007). Penerapan instalasi sederhana pengolahan kotoran sapi menjadi energi biogas di Desa Sugihan Kecamatan Bendosari Kabupaten Sukoharjo.
Subekti, S. (2011). Pengolahan limbah cair tahu menjadi biogas sebagai bahan bakar alternatif. Prosiding SNST Fakultas Teknik, 1(1).
Saputro, R. R., Putri, D. A., & Artanti, D. (2009). Pembuatan biogas dari limbah peternakan.

Pembangunan Industri Hijau


Dibuat Oleh : Ryan Hidayat Viery Hakim (@Q08-Ryan)


Abstrak
       Industri hijau sudah menjadi istilah yang diterapkan oleh berbagai negara di dunia sebagai tanggapan terhadap polusi udara, pemanasan global, dan sebagainya. Negara - negara berkembang perlu mengembangkan sector industry untuk mengurangi kemiskinan, meningkat standar hidup masyarakat, dll. Dalam hal ini industry hijau merupakan solusi kreatif bagi setiap pemerintahan di negara manapun untuk menumbuh kembangkan industry.
       Tujuan Pembangunan Industri Nasional angka Panjang diatur oleh Perpres No. 28 tahun 2008 tentang kebijakan Industri Nasional.  Menurut Kementrian Perindustrian, pembangunan sector industry di Indonesia telah berjalan 50 tahun. Menurut Undang – Undang Perindustrian (2004) pasal 1 ayat 3, menjelaskan bahwa industry hijau adalah industry yang dalam proses produksinya mengutamakan upaya efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya secara berkelanjutan sehingga mampu menyelaraskan pembangunan industry dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup serta dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Kata Kunci : Industry, Industri Hijau, Kimia Hijau

I. Pengertian
       Industri hijau adalah industri yang dalam proses produksinya menerapkan upaya efisiensi dan efektivitas dalam penggunaan sumber daya secara berkelanjutan. Dengan kata lain industri hijau merupakan sebuah industri yang ramah lingkungan.
Ada sembilan jenis industri hijau, antara lain:
  1. Pengembangan hutan energi
  2. Pkowisata
  3. Pembentukan kebun raya atau hutan kota
  4. Penangkaran satwa liar dan langka,
  5. Pengembangan hutan non hasil kayu seperti getah dan sebagainya.
  6. Pengembangan produk subtitusi impor
  7. Pengolahan limbah energi dari hasil pemanfaatan mikroba
  8. Pemanfaatan panas bumi (geothermal)
  9. Pestorasi ekosistem

 Industry hijau dapat dicapai melalui :
  • Meningkatkan proses pengawasan
  • Daur ulang
  • Teknologi bersih
Manfaat Penerapan Industri Hijau :
  • Meningkatkan profitabilitas (keuntungan) melalui peningkatan efisiensi sehingga dapat mengurangi biaya operasi, pengurangan biaya pengelolaan limbah dan tambahan pendapatan dari produk hasil samping
  • Meningkatkan image perusahaan
  • Meningkatkan kinerja perusahaan
  • Mempermudah akses pendanaan
  • Flexsibelitas dalam regulasi
  • Terbukanya peluang pasar baru
  • Menjaga kelestarian fungsi lingkungan
II. Prinsip-Prinsip Penerapan Industri Hijau
Prinsip-prinsip yang dikembangkan dalam penerapan Konsep Hijau secara luas:

1. Efisiensi energi dan energi terbarukan
       Di dalam ekosistem dan metabolisme organisme, energi dimanfaatkan secara fisik. Energi yang terlepas dalam bentuk kalor dimanfaatkan sebagai sumber energi panas bagi subsistem lain di dalam sistem, atau diserap oleh sistem lain. Konsep Hijau dilakukan dengan memanfaatkan energi terbarukan yang tersedia di alam. Selanjutnya pemanfaatan energi terbarukan yang semakin banyak akan mendorong pengurangan penggunaan bahan bakar fosil. Sumber energi terbarukan lainnya meliputi angin, energi potensial air, panas bumi dan biomassa.

2. Efisiensi Pemanfaatan Sumber Daya
       Di dalam konsep hijau, sumber daya yang pada umumnya tersedia dalam jumlah terbatas harus dimanfaatkan secara efisien. Teknologi Hijau adalah teknologi yang dapat meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya sehingga mengurangi limbah yang dihasilkan atau yang dikenal sebagai zero-waste. Konsep zero-waste production tidak hanya berhubungan dengan efisiensi pemanfaatan sumber daya, tetapi juga dengan penerapan siklus materi di dalam sistem. Limbah yang dihasilkan oleh satu subsistem harus dapat dijadikan sebagai sumber daya bagi subsistem lainnya. Konsep seperti Recycle dan Reuse adalah penerapan dari siklus materi dan efisiensi pemanfaatan sumber daya dalam Konsep Hijau.

3. Keterkaitan Sistem Alam – Manusia
       Green development tidak dapat dilepaskan dari pembangunan masyarakat. Konsep Sistem Ekologi Sosial (SES) memperhatikan masyarakat sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari sistem alam (ekosistem). Alam memberikan sumberdaya bagi manusia, tetapi manusia juga memberikan masukan bagi siklus materi di dalam ekosistem. Pembangunan berwawasan lingkungan yang tidak mengindahkan masyarakat memiliki tendensi untuk gagal dan berpotensi menimbulkan masalah atau bahkan dapat berpotensi menimbulkan bencana. Masyarakat dapat merusak lingkungan melalui pemanfaatan eksploitatif, tetapi juga dapat berperan dalam memelihara lingkungan melalui sistem pengelolaan yang berkelanjutan. Konsep Hijau harus turut serta dalam mengedepankan pemberdayaan masyarakat sekitar sebagai bagian dari pembangunan yang ramah lingkungan.

4. Green Industrial Park
        Daerah Kalundborg di Denmark merupakan salah satu daerah yang telah menerapkan konsep Eco-Industrial Park yang terintegrasi dengan pemukiman dan perkotaan. Di Kalundborg, berbagai industri seperti farmasi, penyulingan minyak, pengolahan limbah pertanian, dan permunian air saling terintegrasi dengan memanfaatkan energi dari Power Station yang memanfaatkan bahan baku batubara disamping penggunaan energi terbarukan lain. Di kota ini, masyarakat dapat berenang di danau yang mengandung air luaran dari pabrik (yang tentunya telah diolah lebih dahulu) dan minum dari air kran hasil pengolahan air dalam sistem eko-industrinya. Innovista Industrial Park di kota Hinnon, Kanada juga membangun pemukiman dan komplek industri berwawasan Hijau dengan membangun bangunan hijau, mempertahankan jalur hijau dan taman kota di sebagian besar kawasan, hingga mendesain tata letak pabrik agar asap pabriknya dapat diserap oleh hutan kota di sekitarnya.


III. Sasaran Pengembangan Industri Hijau
Sasaran atau target terciptanya lingkungan industri hijau, yaitu:
  • Tersusunnya standar industri hijau (jenis industri)
  • Terakreditasinya lembaga sertifikasi (unit)
  • Tersertifikasi auditor industri hijau (orang)
  • Bantuan prasarana industri hijau pada sentra IKM (unit)
  • Bantuan fasilitasi untuk sertifikasi industri hijau (kegiatan)

Dalam rangka mencapai sasaran tersebut di atas, maka akan dilakukan beberapa hal sebagai berikut:


A. Standart Industri Hijau
       Standar industri hijau menekankan dalam kegiatan produksi manufaktur mengutamakan upaya efisensi dan efektivitas penggunaan sumber daya secara berkelanjutan sehingga mampu menyelaraskan pembangunan industri dengan lingkungan hidup dan memberikan manfaat ke masyarakat.
       Penyusunan standar industri hijau terdiri dari persyaratan teknis dan persyaratan manajemen. Persyaratan teknis meliputi bahan baku, energi, air, proses produksi, produk, pengelolaan limbah, dan emisi gas rumah kaca. Sementara itu, persyaratan manajemen meliputi kebijakan dan organisasi, perencanaan strategis, pelaksanaan dan pemantauan, tinjauan manajemen, CSR, dan ketenagakerjaan.
Standart industri hijau (SIH) yang telah disahkan oleh pemerintah, antara lain :
1. Industri Ubin Keramik
2. Industri Semen
3. Industri Pupuk
4. Industri Gula
5. Industri Baja (Batangan dan Lembaran)
6. Industri Susu (Susu Bubuk)
7. Industri Kulit (Penyamakan Kulit)
8. Industri Karet (Crumb Rubber)
9. Industri Pulp & Paper
10.Industri Kaca (Lembaran, Pengaman, Kemasan, Lainnya)
11.Industri Oleo-Chemical

B. Seritifikasi Industri Hijau
       Pembangunan dan pengembangan lembaga sertifikasi industri hijau yang terakreditasi serta peningkatan kompetensi auditor industri hijau, meliputi antara lain:
  • Menyusun Pedoman Umum Pembentukan Lembaga Sertifikasi
  • Menyusun Standar Kompetensi Auditor Industri Hijau
  • Menyusun Standard Operating Procedure (SOP) Sertifikasi Industri Hijau
  • Menyusun Modul Pelatihan Industri Hijau
  • Menunjuk Lembaga Sertifikasi Industri Hijau yang terakreditasi
  • Menetapkan Pedoman Akreditasi terhadap Lembaga Sertifikasi Industri Hijau
  • Melakukan Pengawasan terhadap Lembaga Sertifikasi Industri Hijau
  • Melakukan pelatihan auditor industri hijau

C. Fasilitas Industri Hijau
Pemberian fasilitas untuk industri hijau, meliputi:
  • Fasilitas fiskal yang diberikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
  • Fasilitas non-fiskal berupa :

  1. pelatihan peningkatan pengetahuan dan keterampilan sumber daya manusia Industri;
  2. sertifikasi kompetensi profesi bagi sumber daya manusia Perusahaan Industri;
  3. bantuan pembangunan prasarana fisik bagi Perusahaan Industri kecil dan industri menengah; dan
  4. penyediaan bantuan promosi hasil produksi bagi Perusahaan Industri.

IV. Tantangan Industri Hijau

Setidaknya ada 5 tantangan Industri Hijau, Antara Lain :
  1. Kebutuhan teknologi dan penelitian dan pengembangan/litbang yang dapat diterapkan sesuai dengan kebutuhan industri nasional.
  2. Masih banyaknya industri yang menggunakan teknologi obsolete sehingga dibutuhkan restrukturisasi proses dan permesinan untuk meningkatkan efisiensi produksi.
  3. Sertifikasi Penghargaan Industri Hijau. Dibutuhkan penghargaaan bagi kalangan industri yang telah mewujudkan industri hijau
  4. Terbatasnya SDM yang kompeten dalam penerapan industri hijau.
  5. Belum adanya insentif yang mendukung pengembangan industri hijau.

Kesimpulan
       Industri Hijau adalah rezim ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan manusia dan kesetaraan sosial, yang sekaligus mengurangi risiko lingkungan secara signifikan. Industri Hijau juga berarti perekonomian yang rendah karbon atau tidak menghasilkan emisi dan polusi lingkungan, hemat sumber daya alam dan berkeadilan sosial. Untuk menjalankan Industri hijau tersebut, maka sektor industri harus berperan dalam hal pengurangan resiko lingkungan dari limbah hasil industrinya, bekerja dengan produksi bersih agar bisa mengurangi emisi gas karbon, menghemat penggunaan energi, dan memperhatikan penggunaan bahan baku yang berkelanjutan. Untuk mencapai hal tersebut maka sektor industri juga harus berproduksi secara Industri Hijau.

Daftar Pustaka
Hastuti, Indri ( PWK ) , Sulistyarso, Haryo ( PWK )., 2012, Penyediaan Ruang Terbuka Hijau Berdasarkan Nilai Emisi Co2 Di Kawasan Industri Surabaya, Jurnal Teknik ITS, Vol. 1

Kwanda. Timoticin., 2000, Pengembangan Kawasan Industri Di Indonesia, Vol 28, No 1 http://dimensi.petra.ac.id/index.php/ars/article/view/15727 (diakses 28 Febuari 2020)

Hastuti, Indri ( PWK ) , Sulistyarso, Haryo ( PWK )., “Penyediaan Ruang Terbuka Hijau Berdasarkan Nilai Emisi Co2 Di Kawasan Industri Surabaya”, Jurnal Teknik ITS, Vol. 1, September 2012, “ http://download.garuda.ristekdikti.go.id/article.php?article=53951&val=4186&title=Penyediaan%20Ruang%20Terbuka%20Hijau%20Berdasarkan%20Nilai%20Emisi%20Co2%20Di%20Kawasan%20Industri%20Surabaya ,diunduh 28 Febuari2020”

Anonim, 2016. Manfaat industri hijau

Atmawinata, Achdiat (2012). Efisiensi dan Efektivitas dalam Implementasi Industri Hijau

Ruang Lingkup Teknologi Hijau



Oleh : @Q01 - WAWAN
Abstrak
   Kesadaran masyarakat terhadap teknologi hijau masih belum mencapai tahap yang memuaskan. Masih banyak kilang-kilang yang mengeluarkan asap hitam yang membahayakan, penggunaan bahan bakar kendaraan bermotor, sungai-sungai yang kotor dan pelepasan karbon ke udara. Oleh karena itu, pemerintah terus meningkatkan kesadaran umum tentang teknologi hijau dan  pengurusan sumber tenaga. Teknologi adalah bentuk penerapan dari sebuah karya ide ilmiah yang memerlukan tahap pengujian secara menyeluruh demi sebuah perubahan selamatkan bumi yang lebih baik dari sebelumnya, yang kesemuanya untuk sebuah peningkatan kualitas dan mutu yang bisa di gunakan bersama-sama oleh seluruh umat manusia di muka bumi ini. Dampak dan hasil teknologi itu sendiri nantinya akan bisa di rasakan oleh kita sebagai pengguna teknologi dan juga lingkungan di sekitar kita.

Kata Kunci : Teknologi Hijau; Teknologi Ramah Lingkungan; Selamatkan Lingkungan

Sumber: http://greenlookme.blogspot.co.id
Dalam perkembangannya, penggunaan energi fosil, terutama minyak bumi dan batubara, kecuali gas, baik dalam industri maupun dalam kegiatan sehari-hari menjadi sumber persoalan pemanasan global dan perubahan iklim, berupa peningkatan suhu bumi, peningkatan permukaan air laut anomali  cuaca yang sangat mengakhawatirkan. Itu semua mengakibatkan banyak bencana alam yang semakin sering terjadi diantaranya adalah banjir dan kekeringan, sering munculnya badai, puting beliung, dan timbulnya hama penyakit.

      Pertemuan PBB tentang Perubahan Iklim ke-21 Desember 2015 telah menyepakati Paris Agreement menyatakan bahwa setiap negara berkewajiban mempertahankan suhu bumi 20C. Kesepakatan ini bersifat mengikat secara hukum. Untuk melaksanakannya diperlukan rencana aksi penurunan GRK. Antara lain komitmen Indonesia untuk mereduksi GRK sebesar 29%  dari BAU (Business as usual) dan 41% jika ada bantuan asing, dengan periode 2020-2030. Selain komitmen, SDM dan kelembagaan, peraturan perundangan dan pendanaan, teknologi ramah lingkungan atau teknologi hijau menjadi satu faktor utama mendukung  upaya mengatasi persoalan Lingkungan, termasuk Perubahan Iklim. ( MSI, 2016)

      Menurut Nuris (2015) Teknologi hijau adalah teknik untuk menghasilkan energi dan/atau produk yang tidak mencemari atau meracuni lingkungan hidup. Tujuannya adalah untuk memelihara alam sekitar dan meminimalkan dampak negatif dari aktivitas manusia. Teknologi Hijau adalah teknologi rendah karbon dan lebih ramah lingkungan. Dengan begitu sangat diharapkan penggunaan teknologi hijau dapat segera direalisasikan di setiap bidang. Menurut Hidayat (2017) Prinsip utama dalam Teknologi Hijau meliputi 3 aspek, yaitu: Kenyamanan Sosial; Ekonomis dan Ramah Lingkungan. dari ketiga prinsipnnya Teknologi Hijau akan membawa banyak sekali keuntungan bagi manusia. Dalam buku  "Manajemen Lingkungan" Hidayat (2017) menyatakan bahwa "Hanya dalam kondisi lingkungan yang optimal bisnis dapat berkembang dengan baik, dan hanya dengan bisnis yang baik lingkungan akan berkembang kearah yang optimal." Dari moto yang dituliskan Hidayat kita dapat dengan sangat jelas dapat menyimpulkan bahwa Teknologi Hijau adalah salah satu solusi terbaik untuk mengembangkan bisnis atau industri yang tetap selaras dengan perkembangan dan pelestarian lingkungan. Misal contohnya adalah pabrikan mobil Ford, Selama empat tahun terakhir ini Ford sedang bekerja keras mencoba melakukan sesuatu yang ‘hijau’. Ford telah bekerja pada teknologi untuk menangkap aliran CO2 yang berasal dari pabrik dan pembangkit listrik, CO2 tersebut diubah menjadi busa dan plastik yang dapat digunakan untuk pembuatan mobil (emma, 2017).

     Ruang lingkup dari Teknologi Hijau tidak hanya terbatas dari bidang industri, bahkan kepada setiap rumah tangga dan individu dapat menerapkan Teknologi Hijau misal contoh projek Sun Roof, kendaraan elektrik, pembangkit listrik energi terbarukan, dan masih banyak lagi. Ketika Teknologi Hijau semakin berkembang dan di gunakan secara masive secara langsung kita akan merasakan dampak nya. Yaitu bumi kita akan semakin sehat, lingkungan bersih dan kualitas kesehatan serta hidup pun akan meningkat.

Daftar Pustaka
- Hidayat, Atep Afia, dan M. Kholil.2017.Manajemen Lingkungan dengan Berfikir Hijau. Yogyakarta: Wahana Resolusi
- Hidayat, Atep Afia dan M. Kholil.2017.kimia,industry dan teknologi hijau. Jakarta : Pantona Media
- MSI. 2017. Teknologi Hijau Ramah Lingkungan. Majalah Sains Indonesia. Web. Diakses 25 Feb 2020. http://www.sainsindonesia.co.id/index.php/rubrik/kolom/2518-teknologi-hijau-ramah-lingkungan
- Nuris, Dini. 2015. Teknologi Hijau, Solusi Cerdas Bagi Pemanasan Global. Kompasiana. Web. Diakses 25 Feb 2020. https://www.kompasiana.com/dininuris/teknologi-hijau-solusi-cerdas-bagi-pemanasan-global_552931adf17e61824a8b458f
- Emma. 2017. 6 Teknologi Hijau Yang Ramah Lingkungan. Web. Diakses 25 Feb 2020. https://iniemma.com/6-teknologi-hijau-yang-ramah-lingkungan

Industri Hijau : Aplikasi Industri Hijau



Oleh : @Q01 - WAWAN

ABSTRAK

Industri Hijau merupakan program pemerintah lewat Kementerian Perindustrian yang dikeluarkan pada  tahun  2010.  Industri  Hijau  merupakan  program  yang  ditujukan  untuk industri manufaktur di Indonesia agar lebih berwawasan lingkungan, menjaga kelestarian lingkungan, efisien dalam penggunaan energi, dan mempunyai sistem manajemen perusahaan yang baik. 
Sampai tahun 2015 sifat keikutsertaan dalam program ini masih bersifat sukarela sehingga masih banyak perusahaan yang belum mengetahui dan mengikuti program ini. Penelitian yang akan dipaparkan dalam makalah ini dilakukan untuk mengevaluasi kesiapan perusahaan mengikuti program Industri Hijau. Perusahaan yang dievaluasi dalam penelitian ini adalah PT X, sebuah perusahaan semen di Indonesia Timur yang telah memiliki sertifikasi ISO maupun PROPER.

Kata   Kunci:   Industri   Hijau  

PENDAHULUAN

Isu lingkungan menjadi isu global sekarang ini dengan semakin banyaknya lembaga peduli lingkungan yang mempromosikan dan mengajak seluruh kalangan untuk menjaga lingkungan.  Industri dinilai menjadi salah satu penyebab isu lingkungan saat ini  industri merupakan   penyumbang gas CO2, limbah B3, dan limbah padat maupun cair yang sangat membahayakan Selain penyumbang limbah, industri manufaktur juga diklaim sebagai pengguna sumber daya alam dan energi terbesar. Bey dkk (2013) mengatakan bahwa isu lingkungan menjadi sangat penting sekarang ini, berbagai tekanan dari berbagai pihak mulai dari masyarakat sekitar hingga permintaan pasar akan proses produksi dan produk yang ramah lingkungan. Upaya untuk mengatasi permasalahan lingkungan yang diakibatkan oleh industri telah banyak dikembangkan oleh masyarakat ataupun industri itu sendiri. Shapira dkk, 2014 mengatakan upaya untuk membantu perkembangan program “green” pada industri sudah diperkenalkan seluruh negara. di Eropa, sudah diperkenalkan program Eco-Innovation melalui the Executive Agency for Competitiveness and Innovation pada tahun 2008. Dengan berkembangnya kewaspadaan mengenai masalah perlindungan lingkungan maka diwujudkannya program-program peduli lingkungan untuk industri manufaktur seperti Green Manufacture, Green Supply Chain, Green Building, Green Construction, Green Product, Green Technology dan masih banyak yang lain

Penerapan industri hijau menjadi penentu utama bagi peningkatan daya saing dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Penerapan Industri Hijau dapat menumbuhkan inovasi untuk pengembangan industri yang menyediakan jasa dan produk untuk “ perlindungan “ lingkungan. Menurut FFS (2016), Berbagai peluang bisnis bidang lingkungan (yang berkaitan dengan penerapan industri hijau) antara lain bidang efisiensi energi, yaitu dengan pengurangi konsumsi per unit energi melalui peningkatan efisensi :

1.       Energi Terbarukan
2.       Produksi Cleaner
3.       Carbon Finance
4.       Rantai Pasok berkelanjutan

Menurut Hidayat (2013),yang dikutip Hidayat dan Muhamad Kholil dalam Kimia Industri dan Teknologi Hijau (2017) bahwa memang sulit untuk menjadikan industri dan lingkungan seiring dengan sejalan. Sektor industri tidak hanya mengeksploitir lingkungan, namun juga turut merawat dan melestraikannnya.
Dalam hal ini menurut Kepenperin (2012), Industri Hijau dapat dicapai antara lain melalui :
1.       House keeping /  Meningkatkan Upaya pengelolaan internal
2.       Meningkatkan proses pengawasan
3.       Daur ulang Bahan
4.       Modifikasi alat yang ada
5.       Teknologi bersih
6.       Perubahan bahan baku
7.       Modifikasi Produk
8.       Pemanfaatan Produk samping

Sedangkan Tantangan yang dihadapi untuk membangun sebuah Industri Hijau sebagai berikut:

1.       Dibutuhkan Penggantian / modifikasi mesin industri. Untuk mengganti / modifikasi mesin dibutuhkan investasi, sementara bunga komersial perbankan nasional tinggi (14%) serta tidak adanya industri
2.       Dibutuhkan penghargaan bagi kalangan industri yang telah mewujudkan industri hijau, misalnya : pemberian kompensansi dalam bentuk bantuan dana, bantuan teknis dll untuk meningkatkan upaya perbaikan
3.       Perlu dirumuskan pola insentif bagi industri yang telah menerapkan industri hijau

Daftar Pustaka :
Bey, Niki., Hauschild, Michael., & McAloone, Tim. (2013). Drivers and Barrier for Implementation  of  Environmental  Strategies  in  Manufacturing  Companies.  The Journal of CIRP Annals- Manufacturing Technology, 62, 42-46 Diakses ( 22 Feb 2020 ).
Shapira, Philip., Gok, Abdullah., Klochikhin, Evgeny., & Sensier, Marianne. (2014). Probing “Green” Industry Enterprise in the UK: A New Identification Approach. The Journal of Technological Forecasting & Social Change, 85, 93-104 Diakses ( 22 Feb 2020 ).
Menurut Hidayat (2013),dikutip Hidayat dan Muhamad Kholil dalam Kimia Industri dan Teknologi Hijau, (2017), Jakarta, Pantona Media Diakses ( 22 Feb 2020 ).

Teknologi Hijau: SOLUSI UNTUK PELESTARIAN SUMBER AIR


TEKNOLOGI HIJAU: SOLUSI UNTUK PELESTARIAN SUMBER AIR


Dibuat oleh: Ardhi Setya Dharma (@Q06-Ardhi)



ABSTRAK

Teknologi hijau merupakan salah satu solusi yang tepat untuk mengatasi masalah pada alam sekitar. Salah satu unsur dalam polutan yang menyebabkan terjadinya pemanasan global adalah CO2. Peningkatan CO2 memiliki dampak negative bagi bumi. Peningkatan konsentrasi gas CO2 di atsmosfer menyebabkan semakin banyak pemantulan gelombang panas dari bumi dan diserap oleh atsmofer. Hal ini tentu saja akan menyebabkan terjadinya kenaikan suhu permukaan bumi . Setiap negara sedang berlomba –lomba dalam menemukan mengembangkan serta meneraokan teknologi hijau sebagai salah satu upaya dalam mengatasi pemanasan global. Namun pengembangan teknologi hijau ini pun harus diiringi dengan  memperhatikan faktor lain seperti kenyaman social, ekonomis dan ramah lingkungan
Kata kunci: Teknologi Hijau

PENDAHULUAN

Banyak penelitian mutakhir menunjukkan bahwa masalah pemanasan global yang terjadi saat ini disebabkan oleh perilaku manusia. Di era revolusi industri 50 tahun terahir ini penduduk dunia telah menggunakan sumber energi yang tak terpulihkan yang terlalu banyak dan telah merusak 50% dari hutan dunia. Penggundulan hutan telah menghilangkan kemampuan untuk menyerap emisi karbon sehingga memacu terjadinya perubahan iklim. Sejak Perang Dunia II jumlah kenderaan bermotor di dunia bertambah sekitar 40 juta menjadi 680 juta, yang merupakan penyumbang emisi carbon dioksida pada atmosfer. Enam tindakan manusia yang dikenal sebagai “Tragedy of Commons” sebagai penyebab utama perubahan iklim global menurut Gany (2008) yaitu:

a. Meningkatnya kadar karbon dioksida (CO2) di atmosfir
b. Perobahan terhadap siklus bio-kimia global dari nitrogen dan elemen-elemen lainnya.
c. pembentukan dan pelepasan komponen organik secara terus menerus seperti chlorofluorocarbon.
19 Jurnal Spasial
d. Perubahan besar-besaran dalam tataguna lahan dan vegetasi tutupan permukaan.
e. Perburuan dan perambahan sejumlah besar sumber daya alam dan kehidupan predator dan konsumen.
f. Invasi keanekaragaman hayati oleh species asing.

Pada abad ke 21 ini, perubahan iklim yang diakibatkan oleh pemanasan global merupakan permasalahan yang serius dihadapi Negara-Negara di seluruh dunia. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyatakan bahwa kenaikan suhu bumi dari tahun 1990 – 2005 antara 0.13 – 0.15 derajat celcius. Apabila tidak ada upaya pencegahan, pada tahun 2050 – 2070 suhu Bumi akan naik sekitar 4,2 derajat Celcius, (KPKC Roma, 2002). Pada tahun 2100, suhu atmosfir akan meningkat 1,5 – 4,5 derajat.

Dampak pemanasan global yang akan terjadi adalah:

a. Musnahnya berbagai jenis keanekaragaman hayati.
b. Meningkatnya frekuensi dan intensitas hujan badai, angin topan, dan banjir.
c. Mencairnya es dan glasier di kutub.
d. Meningkatnya tanah kering yang potensial menjadi gurun karena kekeringan yang berkepanjangan.
e. Kenaikan permukaan laut hingga menyebabkan banjir yang luas. Pada tahun 2100 diperkirakan permukaan air laut naik hingga 15 – 95 cm.
f. Kenaikan suhu air laut menyebabkan terjadinya pemutihan karang (coral bleaching) dan kerusakan terumbu karang di seluruh dunia.
g. Meningkatnya frekuensi kebakaran hutan.
h. Menyebarnya penyakit-penyakit tropis, seperti malaria ke daerah-daerah baru karena bertambahnya populasi serangga (nyamuk).
i. Daerah-daerah tertentu menjadi padat karena terjadinya arus pe-ngungsian.


PEMBAHASAN
 

1. Teknologi pelestarian sumber air

Dengan menggunakan Taman Biologi (Bio–Park). Bio-Park merupakan salah satu teknologi hijau yang digunakan untuk memperbaiki kualitas sumber-sumber air yang tercemar seperti air saluran, sungai dan danau. Proses reduksi bahan-bahan pencemar dalam Bio-Park terjadi melalui siklus rantai makanan dalam ekosistem akuatik atau ekoteknologi. Di Jepang, teknologi Bio-Park diterapkan untuk memperbaiki kualitas air danau antara lain Danau Tsuchiura, Kibagata, Koishikawa, dan Haruno.
Teknologi Bio-Park juga telah dimodifikasi sebagai taman atap (Roof Top Bio-Park) di perumahan Canon Housing .
Pada saat ini teknologi Roof Top Bio-Park dikembangkan dalam rangka mitigasi pemanasan global yang terjadi di daerah perkotaan. Dalam 5 tahun terahir, teknologi Bio- Park telah diperkenalkan ke Thailand, China dan Brazil melalui bantuan teknik pemeritah Jepang. Karena menggunakan proses ekosistem alami, teknologi Bio-Park merupakan upaya adaptasi dan mitigasi dampak pemanasan global dengan karakteristik sbb:
a. Menanam vegetasi
b. Memperbaiki kualitas air yang tercemar secara efisien tanpa bahan kimia.
c. Memanfaatkan lumpur sebagai pupuk organic
d. Tidak menghasilkan limbah kimiawi
e. Bio-Park adalah “zero emission System”

2. Teknologi Pengolahan Air Limbah Domestik

a. Ecological Sanitation
Ecological sanitation (Ecosan), merupakan teknologi hijau yang diharapkan menjadi revolusi baru untuk peningkatan kesehatan masyarakat melalui upaya pengolahan limbah domestik. Ecosan didasarkan kepada tiga prinsip yaitu:
1) Pencegahan pencemaran lebih baik daripada melakukan pengendalian dan pengawasan setelah terjadi pencemaran.
2) Perbaikan sanitasi tinja dan urine
3) Pemanfaatan produk Ecosan untuk pertanian

b. Taman Buangan Air Limbah (Wastewater Garden)
Wastewater Garden (WWG) adalah teknologi hijau yang digunakan untuk mendaur ulang sisa zat pencemar dari unit pengolahan limbah perumahan, hotel, restoran, atau perkantoran. WWG merupakan 100% ekologis, murah dan mudah dalam pembangunan, pengoperasian dan pemeliharaannya. Tanpa memerlukan peralatan mekanis dan bahan kimia, air limbah di daur ulang secara gravitasi ke taman, kebun sayuran, ataupun buah-buahan. WWG pada awalnya dikembangkan untuk melindungi pantai dari pencemaran limbah penduduk.
Kontribusi penerapan teknologi WWG dalam mitigasi dan adaptasi dampak pemanasan global karena:
a. menanam vegetasi
b. meningkatkan kualitas effluent ke lingkungan tanpa bahan kimia dan peralatan mekanis
c. Ekologis, mudah dan murah

c). Sanitasi Taman (SANITA)
Sanitasi Taman (SANITA), adalah Teknologi Hijau untuk memperbaiki kualitas effluent tangki septik konvensional agar tidak mencemari air tanah. Effluen septik tank konvensional masih mengandung bakteri Fecal Coli yang cukup tinggi dan beresiko mencemari air sumur dangkal yag terletak berdekatan, terutama pada permukiman yang padat. Sebagian besar penduduk perkotaan masih mengkonsumsi air tanah dangkal sebagai sumber air minum dan rumah tangga sehingga mereka berisiko tinggi terjangkit penyakit perut (waterborne deseases). SANITA mampu menurunkan
bakteri Fecal Coli pada effluent tangki septik sampai dengan lebih dari 99% sehingga diharapkan tidak mencemari air tanah. Penerapan SANITA pada permukiman akan menambah vegetasi permukaan yang merupakan salah satu upaya adaptasi dan mitigasi dampak perobahan iklim.

d) Konsep Teknologi Hijau (Green Technology)
Green Technology (Teknologi Hijau), diartikan sebagai suatu ilmu pengetahuan praktis / teknologi yang dapat digunakan untuk melaksanakan pembangunan yang dapat mewujudkan tatanan infrastuktur untuk memenuhi kebutuhan manusia secara berkelanjutan (sustainable development), tanpa merusak atau mengganggu sumber daya alam. Secara singkat, teknologi yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan generasi saat ini dan tidak mengganggu ketersediaan kebutuhan generasi mendatang, dari (Green Tecnology, 2008)

KESIMPULAN

Perubahan Iklim yang diakibatkan oleh Pemanasan Global telah dirasakan dampaknya dalam kehidupan manusia. Apabila tidak dilakukan upaya pencegahan, dampak pemanasan global di masa yang akan datang merupakan ancaman yang sangat serius bagi kehidupan semua makhluk di bumi. Dalam menghadapi dampak Pemanasan Global diperlukan upaya-upaya mitigasi dan adaptasi yang melibatkan masyarakat, seperti teknologi pelestarian sumber air dengan tanaman biologi (bio-park), teknologi pengolahan air limbah domestik dengan ecological sanitation (Ecosan), taman bunga air limbah (waste water garden), sanitasi taman (sanita) dan konsep teknologi hijau (green tecnology). Teknologi Hijau merupakan salah satu upaya adaptasi dan mitigasi dampak Pemanasan Global yang sejalan dengan prinsip pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). Berbagai Teknologi Hijau di bidang pelestarian sumber air dan pengolahan air limbah telah tersedia untuk diterapkan dalam pembangunan.

DAFTAR PUSTAKA

Bellwood DR, Hoey AS and Choat J.H., 2003. Limited functional redundancy in high diversity
Buddemeier RW, Kleypas JA and Aronson R., 2004. Coral Reefs and Global Climate Change:CCSP (Climate Change Science Program and the Subcommittee on Global Change Research), 2003.

Pengetahuan Dasar Teknologi Industri


Dibuat Oleh : Ryan Hidayat Viery Hakim (@Q08-Ryan)



Abstrak : Teknologi Hijau atau Greentech, ialah integrasi antara teknologi modern dan ilmu lingkungan yang diaplikasikan untuk melestarikan pemenuhan kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan di masa depan tanpa merubah lingkungan dan sumber daya alam.
Kata Kunci : Greentech, teknologi hijau, teknologi lingkungan.

Pembahasan
       Teknologi hijau merupakan teknologi untuk menghasilkan energi dan/atau produk yang tidak mencemari atau meracuni lingkungan hidup. Untuk masa mendatang, “teknologi hijau” merupakan suatu bidang yang akan melahirkan banyak inovasi dan perubahan dalam kehidupan sehari-hari. Itu merupakan satu upaya untuk menjaga kelestarian atau keberlanjutan kehidupan.
       Teknologi hijau bertujuan untuk menemukan dan mengembangkan cara-cara untuk menyediakan kebutuhan bagi manusia tanpa menyebabkan kerusakan lingkungan atau pengurangan sumber daya alam yang cepat di planet bumi. Salah satu contoh alternatif teknologi konvensional yang diterapkan guna mengaplikasikan konsep teknologi hijau  adalah proses pendaur-ulangan sampah, upaya ini dapat memberikan pengurangan yang signifikan terhadap efek negatif pada lingkungan yaitu mengurangi jumlah limbah dan polusi yang dihasilkan dari kegiatan yang dilakukan oleh manusia.

Konsep Teknologi Hijau, yaitu :
  • Konsep keberlanjutan, yaitu kebutuhan masyarakat akan terus terpenuhi tanpa merusak sumber daya alam.
  • Konsep daur ulang, dimana dalam proses produksi dirancang sedemikian rupa sehingga dapat didaur ulang dan digunakan kembali, sehingga dapat menghemat penggunaan sumber daya alam.
  • Konsep pengurangan limbah dan polusi, yaitu pola produksi dan konsumsi diubah menjadi sedemikian rupa sehingga meminimalisir produksi limbah dan polutan.
  • Konsep inovasi, yaitu selalu mengupayakan pengembangan teknologi alternatif sehingga semakin hari kita semakin melestarikan lingkungan.
  • Konsep viabilitas, yaitu bagaimana kegiatan produksi dan konsumsi ramah lingkungan terus terpelihara.
  • Konsep edukasi, yaitu upaya meningkatkan pemahaman masyarakat tentang penggunaan teknologi hijau lewat pendidikan dan pelatihan.

Ruang Lingkup Teknologi Hijau :
  • Energi hijau, yaitu pengembangan bahan bakar alternative sehingga menyebabkan adanya efisiensi energy.
  • Bangunan hijau (green building) juga mendapat perhatian penting di bidang teknologi hijau, segala sesuatu yang berkaitan dengan pembangunan rumah atau infrastruktur yang ramah lingkungan. Penerapannya mulai sejak pemilihan bahan bangunan hingga lokasi tempat bangunan akan didirikan diharapkan telah mempertimbangan kelestarian lingkungan hidup.
  • Kimia hijau (green chemistry) mulai mendapat perhatian berbagai negara maju dalam hal penemuan, rancangan dan aplikasi produknya termasuk proses yang dijaga dari penggunaan bahan beracun atau zat yang berbahaya bagi kehidupan.
  • Nanoteknologi hijau (green nanotechnology) adalah penerapan kimia hijau tingkat lanjut dengan prinsip-prinsip rekayasa teknologi yang ramah lingkungan.

Prinsip utama pada Konsep Green Technology meliputi 3 hal yaitu :
1.          Kenyamanan Sosial.
2.          Ekonomis.
3.          Ramah Lingkungan.

Bidang-bidang Teknologi Hijau, diantaranya :
1.     Energi Terbarukan (Renewable Energy)
                Mengingat keterbatasan sumber energi berbahan baku fosil (minyak, gas dan batubara), maka energi menjadi masalah yang paling mendesak dalam bidang teknologi hijau, termasuk didalamnya pengembangan bahan bakar alternatif atau energi terbarukan yang efisien.

2.     Bangunan hijau (Green Building)
                Bangunan hijau juga mendapat perhatian penting di bidang teknologi hijau, segala sesuatu yang berkaitan dengan pembangunan rumah atau infrastruktur yang ramah lingkungan. Penerapannya mulai sejak pemilihan bahan bangunan hingga lokasi tempat bangunan akan didirikan diharapkan telah mempertimbangan kelestarian lingkungan hidup.

3.     Kimia Hijau (Green Chemistry)
            Hampir seluruh produk untuk keperluan sehari-hari adalah produk kimiawi. Oleh karena itu kimia hijau (green chemistry) mulai mendapat perhatian berbagai negara maju dalam hal penemuan, rancangan dan aplikasi produknya termasuk proses yang dijaga dari penggunaan bahan beracun atau zat yang berbahaya bagi kehidupan.

4.     Teknologi Nano Hijau (Green Nanotechnology)
             Yang paling terkini adalah studi tentang Green nanotechnology (teknologi nano hijau) yang melibatkan manipulasi bahan pada skala nanometer (satu miliar meter). Beberapa ilmuwan percaya bahwa penguasaan subjek ini di masa datang akan mengubah cara bagaimana segala sesuatu di dunia ini dibuat. “Green nanoteknologi” adalah penerapan kimia hijau tingkat lanjut dengan prinsip-prinsip rekayasa teknologi yang ramah lingkungan.

Kesimpulan
                Dengan mengaplikasikan teknologi hijau dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat membantu melestarikan bumi kita tercinta agar tetap hijau dan asri. dan mencegah bumi kita tercemar oleh limbah limbah industri yang sangat merugikan mahkluk hidup. Jadi kebutuhan makhluk hidup masih dipenuhi tanpa harus merusak lingkungan itu sendiri

DAFTAR PUSTAKA
Shidqi, Muhammad. 2018. Green Technology. Dalam https://sites.google.com/site/muhammadshidqi/green-technology (Diakses pada 28 Febuary 2020)
Farhan, Alfatur. 2017. Teknologi Hijau : Kecenderungan Teknologi di Masa yang Akan Datang. Dalam http://d3ipii-d3ipii.blogspot.com/2011/01/teknologi-hijau-green-technology.html (Diakses pada 28 Febuari 2020)
  Soemarno. 2011. Filosofi Teknologi Hijau, (http://marno.lecture.ub.ac.id/files/2012/01/FILOFOSI-DASAR-TEKNOLOGI-HIJAU.doc, diakses tanggal 28 Febuari 2020)
  Nefilinda. 2015. Teknologi Hijau Warisan Nenek Moyang di Tanah Parahyangan, (http://journal.uii.ac.id/JSTL/article/download/3507/3100, diakses tanggal 28 Febuari 2020)