.

Minggu, 01 November 2020

INDUSTRI PLASTIK DAN POLIMER

                                                    INDUSTRI PLASTIK DAN POLIMER





DISUSUN OLEH : Fauzi Ardiansyah

KODE PESERTA : @S05-Fauzi

 

Abstrak

Plastik merupakan bahan kebutuhan yang banyak digunakan dalam kehidupan masyarakat modern. Sejak pertama diciptakan, plastik telah banyak dimanfaatkan di berbagai bidang industri baik industri pangan maupun non pangan. Dapat dilihat produk berbahan plastik mulai dari mainan, perlengkapan dapur, alat elektronik sampai sikat gigi yang digunakan setiap hari. Plastik dalam istilah umum yang di pakai untuk Polimer, Polimer adalah makromolekul yang tersusun dari unit-unit monomernya. Sekarang ini kita hidup dalam era polimer: plastik, elastomer (karet sintetis), fiber (serat sintetis), bahan pelapis (cat dan teflon), bahan perekat (semuanya yang disebutkan didepan adalah polimer sintetis) dan polimer alam: karet, protein, amilum, selulosa, semuanya merupakan istilah umum dalam perbendaharaan kata modern yang merupakan bagian dari dunia kimia polimer.

bahwa setiap hari orang kerergantungan terhadap plastik semakin tinggi, namun bahaya yang timbulkannya kurang di sadari oleh masyarakat. Penggunaan bahan plastik dalam kehidupan sehari - hari tidak perlu di khawatirkan jika kita tau cara penggunannya. Plastik yang aman untuk di pakai pada suhu tertentu dan minyak/lemak untuk kemasan makanan adalah plastik yang memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Namun, tidak semua produk kemasan plastic memenuhi standar SNI. Maka dari itu kita harus lebih teliti untuk memasukan makanan atau minuman panas kedalam plastik. Adapun bahaya plastic bagi kesehatan tubuh manusia bisa menyebabkan kanker, mengganggu system saraf, depresi, pembekakan hati, gangguan reproduksi, radang paru paru. Selain mengaggu kesehatan tubuh ternyata plastic juga menggangu ekosistem lingkungan, yaitu : Mengakibatkan Banjir, menurunkan kesuburan tanah, menjerat hewan, pencemaran air dan polusi udara.

Kata kunci : sampah plastik, bahaya plastik, manfaat plastic

 

PENDAHULUAN

Kebutuhan masyarakat akan plastic semakin meningkat.Sebagai kemasan, plastic memiliki banyak keunggulan. Plastik cenderung lebih ringan dibanding dengan bahan lain, tidak berkarat, mudah  dibentuk, murah dantidak mudah pecah. Hampir semua pusat perbelanjaan masih menggunakan kantong plastic bagi konsumen. Sebagai contoh, kantong belanja di hipermarket,supermarket, dan minimarket masih berupa kantong plastik. Demikian pula ditoko-toko lain, seperti toko buku, bahkan di   pasar tradisional. Menurut Prasetyo(2008) plastik yang dikonsumsi  masyarakat Indonesia mencapai 1,5  juta  ton atau tujuh kilogram per kapita. Plastik-plastik tersebut kemudian hanya dibuang setelah sekali dipakai.Bahkan, sebagian plastik tersebut dibuang di tanah begitu saja. Plastik yang beredar di pasaran   pada umumnya  berasal dari polimer sintetis yang tidak dapatdiuraikan. Menumpuknya sampah plastik      di permukaan tanah menyebabkantertutupnya  pori-pori tanah sehingga air tidak dapat diserap ke dalam tanah.Dengan tidak terserapnya air ke dalam tanah, dalam jangka panjang dapatmenyebabkan banjir. Bukan hanya di darat, dilaut pun, sampah plastic menyebabkan matinya ribuan hewan laut.Untuk mengatasi hal itu, hingga kini plastic diolah dengan cara  daurulang. plastik hasil daur ulang tersebut  memiliki kualitas yang tidak terlalu bagus.

 

 

PERMASALAHAN

1.     Apa yang dimaksud dengan plastic ?

2.     Sebutkan jenis-jenis plastic ?

3.     Adakah dampak penggunaan plastik pada lingkungan dan bagaimana penanggulangannya ?

 

 

 

 

 

PEMBAHASAN

 

A.     PENGERTIAN PLASTIK

Plastik merupakan senyawa organik yang sangat mudah dibentuk, punya rantai yang sangat panjang karena dibentuk dari polimerisasi bahan organik dan punya berat molekul yang sangat besar. Plastik  terbuat dari karbon, hidrogen dan  atom – atom lainnya yang terikat dalam rantai molekul panjang yang disebut polimer. Plastik tidak ditemukan di alam, tetapi dibuat dari produk – produk batubara, minyak bumi, katun, kayu gas, garam dan air. Plastik digunakan untuk membuat berbagai macam materi, termasuk perabot, komputer dan mainan.  Plastik sangat berguna karena kuat, ringan dan tahan terhadap panas dan bahan kimia dibandingkan banyak materi lain. Semua plastik adalah polimer sintesis. Polimer adalah bahan yang molekul – molekulnya terdiri dari molekul sederhana yang disebut monomer dan membentuk rantai yang panjang. Monomer terdiri atas Karbon dan Hidrogen dan terkadang elemen lain seperti oksigen dan nitrogen. Polimer sintetis terbagi menjadi 2 macam, yaitu termoplastik dan termoset.

 

B.    JENIS-JENIS PLASTIK

1.     PET (Polyethylene terephthalate)

Plastik jenis ini biasanya digunakan sebagai bahan botol plastik untuk air minum kemasan dan biasanya tidak berwarna atau transparan. Penggunaannya hanya cocok untuk sekali pakai dan sangat tidak dianjurkan untuk diisi air hangat apalagi air panas. Meskipun cukup aman dan tidak mengandung BPA, namun kontak suhu panas dapat meracuni makanan dengan antimon dan metaloid beracun. Produk yang biasa menggunakan jenis plastic PET yaitu air mineral, minuman botol plastik, atau bumbu dapur. Sebagai produk sekali pakai, plastik kemasan ini menjadi salah satu sumber sampah plastik terbesar di muka bumi.

2.     Plastik HDPE (High Density Polyethylene)

Plastik jenis ini biasa digunakan untuk botol jus, detergen, botol sampo, dan kantong belanjaan. Dengan sifatnya sebagai plastik kemasan sekali pakai, maka volume sampah plastik HDPE juga cukup banyak di lingkungan.

3.     Jenis Plastik PVC (Polyvinyl Chloride)

Bentuknya bisa fleksibel ataupun kaku dan biasa digunakan untuk pipa, plastik kemasan bungkus makanan, mainan anak, dan lantai vinyl. Selain membahayakan ginjal dan hati, zat bernama DEHP di dalam plastik PVC juga dapat memengaruhi hormon maskulin menjadi feminine.

4.     Plastik LDPE (Low Density Polyethylene)

Plastik LDPE secara umum memiliki standar food grade yang artinya baik untuk berbagai makanan dan minuman. Biasanya plastik kemasan ini digunakan untuk kantong roti, kantong sampah, karton susu, dan juga gelas minuman.

5.     Jenis Plastik PP (Polypropylene)

jjuga minuman. engan daya tahan yang baik terhadap panas, polypropylene terbukti tidak menghasilkan zat kimia berbahaya sebanyak jenis lainnya. Biasanya digunakan untuk botol plastik yoghurt, botol susu bayi, dan wadah makanan antar. Dari semua jenis jenis plastik yang ada, plastik PP ini yang paling direkomendasikan untuk makanan dan minuman.

6.     Jenis Plastik PS (Polystyrene)

styrofoam dan juga wadah makanan sekali pakai lainnya umumnya dibuat dari bahan PS atau polystyrene ini. Dalam keadaan panas, plastik ini dapat menghasilkan zat styrene yang dapat meracuni makanan dan minuman kita. Tidak hanya itu, bahan plastik ini juga tidak dapat mengurai dengan tanah dan akan menimbulkan gas beracun bila dibakar. Alhasil, plastik kemasan ini tidak sekadar menimbulkan sampah plastik tetapi juga menghasilkan polusi yang mencemari lingkungan sekitar.

7.     Jenis Lainnya (Umumnya Polycarbonate)

jenis plastik yang termasuk dalam kategori ini berarti dibuat dari bahan lainnya selain enam bahan di atas. Bahayanya juga sangat tinggi dan terbukti dapat menimbulkan zat BPA dan/atau zat BPS yang merusak tubuh. Bahayanya di antaranya gangguan mood, pertumbuhan, fungsi seksual, fungsi reproduksi dan juga pubertas. Sebisa mungkin hindari pemakaian plastik ini untuk berbagai makanan dan minuman kamu ya!

 

 

C.    BAHAYA PLASTIK BAGI LINGKUNGAN

1.     Plastik berbahaya bagi kesehatan manusia

Bahan kimia yang keluar dari plastik ditemukan dalam darah dan jaringan tubuh dari hampir semua manusia hidup. Adapun, manusia yang terpapar oleh plastik berisiko lebih besar untuk mengalami kanker, cacat lahir, gangguan imunitas, gangguan endokrin dan penyakit berbahaya lainnya.

2.     Plastik mengancam kelestarian satwa liar

Sekarang ini, kehidupan satwa liar telah menyatu dengan sampah plastik. Mereka pun salah mengira plastik sebagai makanan mereka dan memberikannya kepada anak-anak mereka. Bahkan, sampah plastik pun telah mencemari daerah-daerah terpencil dari bumi. Di laut sendiri, sampah plastik telah melebih jumlah zooplankton dengan perbandingan 36:1. Dilansir dari Biological Sciences, lebih dari 260 spesies, antara lain invertebrata, kura-kura, ikan, burung laut dan mamalia yang telah tercemar sampah plastik sehingga mereka mengalami gangguan makan dan pergerakan. Plastik pun mengancam reproduksi, laserasi (luka-luka pada kulit dan daging), bisul hingga kematian.

3.     Plastik sendiri gak bisa hilang

Plastik adalah material yang mampu bertahan selamanya. Mirisnya, 33 persen bahan plastik hanya dipakai sekali lalu dibuang, seperti botol air kemasan, kantong plastik dan sedotan. Plastik sendiri gak bisa terurai dan hanya menjadi potongan yang lebih kecil dan kecil lagi. membuang material plastik bisa bertahan hingga 2.000 tahun, bahkan bisa lebih lama

4.     Plastik merusak air tanah bumi

Di Amerika Serikat terdapat ribuan tempat pembuangan sampah. Adapun, sampah-sampah plastik yang terkubur memiliki bahan kimia berbahaya yang mengalir keluar dan meresap hingga ke air tanah. Nantinya, air tersebut akan mengalir ke danau dan sungai.

5.     Plastik bisa menarik polutan (bahan yang mengakibatkan polusi)

Bahan kimia yang terkandung dalam plastik memberikan sifat kaku atau fleksibel, tahan api, bisphenol, phthalates dan bahan kimia berbahaya lainnya. Adapun, racun tersebut bersifat menolak air dan akan menempel pada benda-benda berbasis minyak, seperti sampah plastik. Dengan begini, bahan kimia beracun yang terkandung dalam plastik akan terakumulasi dengan plastik lain dan akan mencemari samudera di seluruh dunia.

6.     Sampah plastik menumpuk dan menggunung di bumi

Dilansir dari PLoS One, lebih dari 5 triliun potongan plastik seberat lebih dari 250.000 ton mengapung di laut. Amerika sendiri membuang lebih dari 30 juta ton plastik per tahun, Sementara, hanya delapan persen plastik yang didaur ulang. Selebihnya berakhir di pembuangan sampah, dibakar, atau menjadi sampah sembarangan. 

 

 

D.    CARA PENANGGULANGAN PLASTIK

Penumpukan limbah plastik tentu tidak dapat dibiarkan. Penanggulangan limbah plastik dengan cara menguburnya ditanah tentu bukan merupakan solusi yang baik mengingat sifatnya yang sulit terurai di alam, apalagi dengan cara membakarnya dimana saat proses pembakaran dihasilkan senyawa kimia berbahaya bagi manusia. Terdapat beberapa cara penanggulangan limbah plastik selain mengubur ataupun membakarnya,antara lain meliputi mengurangi penggunaan kantong plastik dengan menggantinya dengan alat (kain) untuk membungkus barang atau dikenal dengan furoshiki ; pengolahan limbah plastik menggunakan metode fabrikasi; dan penggunaan plastik biodegradable yang lebih mudah terurai di alam.

 

KESIMPULAN

Limbah plastik adalah barang buangan yang berupa plastik yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga, yang lebih dikenal sebagai sampah), yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis.Dampak plastik terhadap lingkungan merupakan akibat negatif yang harus ditanggung alam karena keberadaan sampah plastik. Karena bukan berasal dari senyawa biologis, plastik memiliki sifat sulit terdegradasi (non-biodegradable). Plastik diperkirakan membutuhkan waktu 100 hingga 500 tahun hingga dapat terdekomposisi (terurai) dengan sempurna. Sampah kantong plastik dapat mencemari tanah, air, laut, bahkan udara. Pemanfaatan limbah plastik dapat dilakukan dengan pemakaian kembali (reuse) maupun daur ulang (recycle)

 

DAFTAR PUSTAKA

http://yuumukhlis.blogspot.com/2017/03/contoh-makalah-pengolahan-limbah-plastik.html

 

Srinovaz, 2017 https://bisakimia.com/2017/12/27/penjelasan-plastik-dan-jenis-jenisnya/ diakses pada tanggal 27 Desember 2017

 

Rahmatika Elmi, 2020 https://www.99.co/blog/indonesia/jenis-plastik-kegunaan-bahaya/ diakses pada tanggal 3 april 2020

 

Alviandita Haniv Tegar, 2020 https://rri.co.id/humaniora/info-publik/859811/dampak-negatif-sampah-plastik-kesehatan-hingga-lingkungan diakses pada tanggal 30 juni 2020 13.37 

AGROKIMIA DAN DAMPAKNYA BAGI LINGKUNGAN DAN KESEHATAN

 

AGROKIMIA DAN DAMPAKNYA BAGI LINGKUNGAN DAN KESEHATAN

Disusun oleh : Hafiz Zurrohmansyah (@R11-Hafiz)


 Abstrak

Industri pertanian dalam memproduksi hasilnya mempunyai peranan aktif pada rantai kebutuhan pangan manusia. Dengan begitu industri agrokimia akan semakin meningkat dalam memproduksi bahan agrokimia yang membantu meningkatkan hasil produksi industri pertanian. Namun, penggunaan bahan agrokimia telah salah dalam penerapannya dan pemakaiannya yang menyebabkan kerugian terhadap lingungan serta manusia.

Bahan agrokimia ini yang seharusnya bermanfaat untuk membantu meningkatkan hasil produksi, namun sangat disayangkan malah menjadi bumerang. Karena bahan aktif pada agrokimia inilah yang membuat kerugian-kerugian seperti gejala neurotoksik, hilangnnya nitrogen pada tanah, memicu banyaknya logam berat pada tanah, peptisida yang menjadi pengganggu kesehatan manusia dan lingkungan.

Maka dari itu dibutuhkan pemahaman sehingga dapat mengetahui manfaat dan bahaya bahan agrokimia, yang nantinya akan menjadi bekal untuk penerapannya yang baik dan benar. Dalam memberi pemahaman diperlukannya upaya ancaman dari bahan agrokimia agar dapat memperbaiki dan membenahi kondisi rusaknya lingkungan akibat bahan agrokimia.

Kata kunci : neurotoksik, peptisida, pupuk, agrokimia

Pendahuluan

Dalam mendukung hasil-hasil pertanian, penggunaan agrokimia belum dapat sepenuhnya ditinggalkan dalam aktivitas agronomi tetap saja masih memerlukan sentuhan bahan kimia pupuk, herbisida, pestisida dan sejenisnya. Penggunaan bahan kimia tadi masih tetap menjadi pertimbangan sehubungan dengan efisiensi produksi. Kini penggunaan bahan agrokimia pada industri agrokimia  sangat berkembang pesat, Namun, masih terdapat dampaknya terhadap lingkungan. Sumber pencemaran dapat berupa residu bahan agrokimia, seperti pupuk dan peptisida yang penggunaannya cenderung berlebihan serta limbah industri yang menggunakan bahan kimia tertentu dengan pengelolaan limbahnya yang kurang baik. penggunaannya yang berlebihan dan tidak tepat sasaran dapat menyebabkan berbagai permasalahan diantaranya keracunan tanaman, timbulnya resistensi hama, serta tercemarnya tanah dan air. Selain pencemaran lingkungan, pengaruh cemaran agrokimia ini juga memberikan dampak negatif terhadap manusia dan makhluk hidup lainnya.

Untuk itu perlunya pengawasan pada kemungkinannya terjadi pencemaran lingkungan karena bahan agrokimia dan limbah industri. Maka sangat diperlukan pembahasan informasi mengenai bahan agrokimia dan potensi pencemarannya terhadap lingkungan dalam upaya memberikan pemahaman seputar agrokimia. dengan informasi tersebut, upaya untuk mengatasinya.

 

Permasalahan

Pada industri pertanian, penggunaan bahan agrokimia secara tidak langsung berdampak penting pada peningkatan hasil pertanian. Namun demikian, pengunaan bahan agrokimia secara terus menerus justru mengakibatkan pencemaran pada tanah pertanian. Selain lingkungan, pengunaan bahan agrokimia juga berdampak langsung pada kesehatan manusia, salah satunya adalah dapat menimbulkan efek neurobehavioral (NB) atau lebih dikenal dengan gejala neurotoksik.

Terdapat pokok masalah yang menjadi pusat pembahasan :

1. Gejala apa yang terjadi pada efek dari neurotoksik

2. Adanya kandungan logam berat pada bahan agrokimia

3. Potensi hilangnya Nitrogen (N) dari sistem tanah-tanaman

4. Mengenal lebih dalam mengenai peptisida dan dampaknya pada lingkungan

5. Upaya menurunkan pengaruh buruk bahan agrokimia terhadap lingkungan

 

Pembahasan

1. Gejala dari neurotoksik

 Gejala neurotoksik didefenisikan sebagai gangguan secara fungsional pada saraf, baik sistem saraf pusat maupun sistem saraf tepi yang diakibatkan oleh paparan bahan kimia. Ganguan ini mengakibatkan perubahan pada memori, attention, mood, disorientasi, penyimpangan berfikir, serta perubahan somatik, sensorik, dan fungsi kognitif sebagai efek neurotoksik akibat penggunaan neurotoksikan. Pada beberapa kasus, perubahan ini akan menghasilkan gejala-gejala yang mudah diidentifikasi sebagai gangguan saraf seperti lelah berlebihan, insomnia, pusing, sulit berkonsentrasi, sering merasakan jantung berdebar tanpa adanya melakukan kegiatan/tekanan, serta sakit kepala secara terus menerus lebih dari satu minggu.

Penggunaan pestisida yang cukup besar ini memberikan dampak besat terhadap kesehatan seperti terjadinya gejala neurotoksik. Gejala neurotoksik atau sering dikenal dengan efek NB \termasuk kedalam sepuluh penyakit terbanyak yang berhubungan dengan tempat kerja di Amerika Serikat. Pajanan terhadap zat racun seperti timbal, pestisida, pelarut organik dan insektisida di tempat kerja dianggap berkontribusi dalam perkembangan terjadinya efek NB.

Di Indonesia, permasalahan ini belum terlalu menjadi perhatian yang serius, namun Asosiasi Industri Perlindungan Tanaman Indonesia (AIPTI) mengemukakan dari 1.000 petani hanya 1% petani yang menerapkan pola pemakaian pestisida secara benar. Penerapan pemakaian pestisida yang tidak benar inilah yang nantinya menyebabkan terjadinya berbagai gangguan kesehatan, hingga terjadinya gangguan neurotoksik. Kebiasaan petani dalam mencampur beberapa pestisida (> 4 pestisida) dalam satu kali penyemprotan turut memperkuat terjadinya gejala neurotoksik. Serta Kebiasaan petani yang tidak menggunakan APD terutama sarung tangan, dan masker dalam melakukan kegiatan penyemprotan dan pencampuran diduga juga dapat berpotensi pestisida dapat masuk kedalam tubuh petani melalui inhalasi dan ingesti. Maka dari itu penggunaan dan penerapan peptisida yang salah pada petani mengakibatkan gejala neurotoksik, dengan begitu sangat diperlukan pemahaman mengenai pemakaian peptisida yang baik dan benar demi keberlangsungan para petani.

 2. Adanya kandungan logam berat pada bahan agrokimia

         Logam berat (heavy metal) terdapat secara alami di alam. Logam berat yang terdapat dalam batuan ultramafic dan mafic adalah cadmium (Cd), kromium (Cr), kobalt (Co), tembaga (Cu), mangan (Mn), dan yodium (I), sedangkan yang umum terdapat dalam batuan asam dan intermediet adalah barium (Ba), molibdenum (Mo), timbal (Pb), timah (Sn), uranium (U), tungsten (W: wolframium), dan seng (Zn) (Kabata-Pendias et al. 1993). Logam berat juga dapat berasal dari pupuk dan sumber lain yang mencemari lahan pertanian.

Permasalahan logam berat pada tanah pertanian di Indonesia sudah banyak dilaporkan, namun belum sampai pada tingkat membahayakan. Meskipun sektor industri berkontribusi besar dalam pencemaran lingkungan oleh logam berat, namun peranan sektor pertanian tidak dapat dikesampingkan. Kandungan logam berat dalam tanah, tanaman, dan air, kandungan logam berat dalam pupuk juga perlu mendapat perhatian. Sebagai gambaran logam berat dalam pupuk dapat dilihat informasi dari California Department of Food and Agriculture (1998) yang menunjukkan bahwa pupuk mineral maupun pabrikasi mengandung logam berat.

Penggunaan pupuk yang berlebihan dapat memicu kelebihan penggunaan logam berat dalam tanah. Selain itu kualitas pupuk seperti pupuk organik sangat bervariasi berdasarkan sumber bahan bakunya sehingga kemungkinan mengandung logam berat tinggi bisa terjadi terutama yang menggunakan bahan baku limbah. Untungnya Saat ini kriteria logam berat dalam pupuk sudah diatur dalam Permentan No. 43/Permentan/SR.140/8/2011. Kandungan logam berat yang dipersyaratkan dalam pupuk adalah maksimal mengandung As = 100 ppm, Hg = 10 ppm, Cd = 100 ppm, dan Pb = 500 ppm. Sedangkan kriteria logam dalam tanah adalah spesifik lokasi sesuai dengan kondisi tanah dan pengunaan lahannya.

3. Potensi hilangnya Nitrogen (N) dari sistem tanah-tanaman


Potensi cemaran lingkungan dari pupuk umumnya berasal dari sumber pupuk N dan P. Kelebihan pupuk N dalam tanah akan menyebabkan banyak N hilang baik melalui volatilisasi, run-off, dan leaching. Kehilangan N ini umumnya setelah pupuk N mengalami perubahan bentuk menjadi nitrat (NO3), nitrit (NO2), dan ammonia (NH4) (Rechcigl 1995). Efisiensi penggunaan pupuk oleh tanaman juga merupakan hal krusial dalam pengelolaan hara N. Brentrup et al. (2004) menyebutkan bahwa efisiensi N merupakan indikator utama dalam menilai kualitas lingkungan pertanian. . Di Indonesia, Widowati et al. (2011) menghitung efisiensi N pada lahan sayuran umumnya lebih rendah dari 20%. Rendahnya tingkat efisiensi pupuk N menyebabkan banyaknya N yang hilang dari tanah. Di lahan sawah intensifikasi, perhitungan neraca hara menunjukkan bahwa kehilangan N sebesar 147 kg/ha hilang terbawa melalui panen dan 29 kg/ha hilang melalui denitrifikasi, volatilisasi, dan pencucian.

Penggunaan pupuk N berlebihan terhadap tanaman mengakibatkan banyak dampak negatif seperti pertumbuhan vegetatif yang berlebihan dan sukulen. Hal ini menyebabkan konsumsi berlebihan (luxury consumption) unsur N, lodging, dan rapuhnya jaringan tanaman. Secara fisiologis terdapat penurunan kadar gula, melambatnya kematangan tanaman sehingga tanaman menjadi sangat rentan terhadap serangan penyakit dan serangan OPT (Rechcighl 1995). Hingga nantinya akan mempengaruhi berbagai proses kimia dalam tanah dan menyebabkan tanaman menjadi lunak, tidak tegak sehingga intensitas cahaya selama pematangan tidak optimal dan akibatnya suplai unsur hara menjadi tidak seimbang.

 4. Mengenal lebih dalam mengenai peptisida dan dampaknya pada lingkungan



Bahan utama penyusun pestisida adalah persistent organic pollutants (POPs) yang diketahui resisten di lingkungan, terakumulasi di dalam tubuh makhluk hidup, dan memiliki toksisitas yang tinggi (Rodan et al. 1999). Berdasarkan pedoman penggunaan pestisida yang dikeluarkan oleh Ditjen PSP 2011, terdapat 39 jenis bahan aktif pestisida yang dilarang beredar di Indonesia. Pestisida menjadi berbahaya karena efek sampingnya seperti tertinggal dalam tanaman, masuk ke dalam bahan makanan dan pencernaan makhluk hidup, terbawa air dan terbang lewat udara (Madhun dan Freed 1990).

Madhun dan Freed (1990) merangkum berbagai pengaruh pestisida terhadap tanah dan air hampir semua jenis pestisida dapat terangkut dalam residu tanaman kecuali kelompok organophosphate, carbonate, dan pyrethroid yang memiliki umur pendek. Pengaruh negatif pestisida untuk tanaman yang sensitif adalah tanda pematangan yang cepat dan tidak beraturan, kehilangan biomassa dan kematian tanaman (Wild 1993). Tingkat kerusakan yang ditimbulkan dari residu pestisida dipengaruhi oleh jenis bahan aktif, tingkat kelarutan, dan kondisi lingkungan saat pestisida diberikan. (Weber dan Miller 1989) mengatakan Proses transformasi pestisida dalam tanah. Bahwa pestisida yang masuk ke dalam tanah akan melalui 7 proses yaitu:

1.     volatilisasi ke atmosfir tanpa perubahan kimia

      diadsorpsi tanah

3.      hilang melalui leaching

4.      bereaksi secara kimia di dalam tanah maupun permukaan tanah

5.      dapat dirombak oleh mikroorganisme

6.      terbawa erosi dan run-off ke aliran sungai

7.      masuk jaringan tanaman dan juga hewan melalui rantai makanan

Bahaya pestisida jiki sudah memasuki rantai makanan dan sangat membahayakan kesehatan. Untuk itu, selain perbaikan dari aspek legal penggunaan pestisida, teknologi yang tepat dan mampu mereduksi tingkat toksisitas residu pestisida tersebut baik di tanah dan air agar tidak mencemari bahan makanan sangat dibutuhkan.

5. Upaya menurunkan pengaruh buruk bahan agrokimia terhadap lingkungan

        
Dalam waktu yang kian berjalan populasi manusia kian bertambah, maka kebutuhan akan pangan menjadi sasaran utama industri pertanian untuk meningkatkan hasilnya dalam memproduksi pangan. Namun sejalan dengan kebutuhan pangan yang semakin banyak terdapat juga kebutuhan bahan agrokimia seperti pupuk dan pestisida kian hari semakin bertambah. Upaya mengembalikan lahan pertanian menjadi pertanian organik merupakan salah satu alternatif pendekatan untuk menghindari penggunaan bahan agrokimia. Namun demikian, kebutuhan pangan yang sangat besar tersebut tentu merupakan prioritas utama untuk dipenuhi.

Produksi pangan dari pertanian organik belum mampu memenuhi kebutuhan pangan secara nasional. Oleh karena itu, sangat diperlukan dukungan teknologi pupuk dan pestisida yang ramah lingkungan agar dampak negatifnya dapat diminimalisir namun target outputnya tetap tercapai. Berikut beberapa pendekatan pengelolaan pertanian ramah lingkungan terkait pupuk dan pestisida diuraikan sebagai berikut:

5.1 Pengelolaan unsur hara dan teknologi pemupukan

Pengelolaan unsur hara di lahan pertanian merupakan salah satu cara mengatasi permasalahan pupuk. Pemberian pupuk yang tepat sesuai dengan kebutuhan tanaman dan status hara tanah merupakan kunci pengelolaan unsur hara pada lahan pertanian. Pengetahuan tentang cara pemupukan, waktu pemberian, dosis pupuk, jenis pupuk dan memperhitungkan kebutuhan setiap jenis tanaman merupakan kunci pengelolaan hara.

Teknologi yang dapat membantu meningkatkan efisiensi pupuk adalah dengan menggunakan pupuk yang memiliki efisiensi tinggi seperti penggunaan pupuk slow release. Pupuk slow release adalah pupuk yang dapat melepas unsur hara secara lambat. Pupuk slow release dapat berupa pupuk yang dicoating dengan polimer nano, bahan mineral alami seperti zeolite, gypsum atau membran, teknik enkapsulasi, atau dengan menjadikan pupuk berbentuk tablet/kapsul yang cukup besar sehingga pupuk tersebut dapat bertahan cukup lama sebelum habis secara perlahan. Penggunaan pupuk slow release ini dapat menghemat kebutuhan pupuk.

5.2 Pemulihan lahan tercemar

Metode reklamasi tanah tercemar secara umum dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu insitu treatment dan exsitu treatment baik secara fisik, kimia maupun biologi. Metode insitu diantaranya adalah dengan menggunakan karbon aktif, mencuci air buangan, heat treatment air buangan, mengeluarkan logam berat, dan kontaminan lainnya, membersihkan air tanah dengan karbon aktif, metode biologi (bioremediasi), dan prosedur khusus seperti menggunakan tanaman toleran logam berat (fitoremediasi) serta enkapsulasi.

5.3 Bioremediasi

Bioremediasi adalah teknik pemulihan lahan tercemar dengan memanfaatkan bakteri dan jamur dalam tanah untuk mendegradasi kontaminan sehingga menjadi bahan tidak berbahaya. Proses bioremediasi ini sangat ditentukan oleh mikroba alami yang terdapat dalam tanah.

5.4 Fitoremediasi

Fitoremediasi didefinisikan sebagai teknologi pembersihan, penghilangan atau pengurangan zat pencemar dalam tanah atau air dengan menggunakan bantuan tanaman (Chussetijowati et al. 2009). Dalam fitoremediasi terdapat 2 mekanisme utama yaitu:

1) akar tanaman dapat mengambil polutan dari dalam tanah

2) dengan menggunakan tanaman pembersih yang dikenal dengan istilah pemacu fitoremediasidi rizosfir. Dalam metode kedua, tanaman tidak mengambil kontaminan tetapi akar tanaman mengeluarkan enzim (komponen karbon tanah) sebagai sumber hara untuk meningkatkan aktivitas mikroba pendegradasi

Banyak jenis tanaman yang sangat efektif dalam fitoremediasi tanah tercemar logam berat seperti rumput gajah (Pennisetum purpureum) (Toulousia 2008) dan eceng gondok (Eichhornia Crassipes (Mart.) Solms (Syahputra 2005). Menurut Anonim dalam Hardiani (2009), Dahlia sp. dan Helianthus annus (Compositae) juga diketahui memiliki kemampuan untuk mengakumulasi logam Cr dengan kuantitas yang hampir sama dengan beberapa tanaman Brassicaceae sp yaitu sebesar 167 -196 mg/g.

 

Kesimpulan

Upaya mewujudkan lahan pertanian yang ramah lingkungan dan memiliki produktivitas yang tinggi memerlukan perhatian khusus dalam penggunaan pupuk dan pestisida. Degradasi lahan akibat ketidakseimbangan unsur hara dalam tanah dan pencemaran lingkungan pertanian merupakan isu penting terkait dengan pertanian. Kekurangan satu atau beberapa jenis unsur hara dalam tanah menyebabkan unsur tersebut menjadi faktor pembatas produksi pertanian. Sebaliknya kelebihan unsur hara dalam tanah menyebabkan sifat toksik bagi tanaman dan inefisiensi karena banyak pupuk yang hilang.

 Penggunaan pupuk dan pestisida yang berlebihan menjadi pencetus berbagai masalah lingkungan antara lain terjadinya pencemaran tanah dan badan air. Bahan aktif pestisida yang sukar dirombak melalui proses kimia dan biologi pada akhirnya akan diserap kembali oleh tanaman dan terakumulasi dalam tubuh manusia dan hewan.

Berbagai teknologi pemulihan lahan tercemar bahan agrokimia tersebut dapat dilakukan dengan pengelolaan unsur hara, pemulihan secara kimia, fisika, bioremediasi, dan fitoremediasi. Oleh karena itu, penerapan sistem pertanian bio industri dan terintegrasi dengan ternak merupakan salah satu alternatif dalam meningkatan produksitivitas lahan serta menurunkan risiko pencemaran dan kerusakan lingkungan.

 

Daftar Pustaka

Bahan, I. P. Pencemaran Bahan Agrokimia Perlu Diwaspadai.

Husnain, N. D., & Purnomo, J. (2014). Penggunaan bahan agrokimia dan dampaknya terhadap pertanian ramah lingkungan. h. 7-46. Buku Pengelolaan Lahan pada Berbagai Ekosistem Mendukung Pertanian Ramah Lingkungan. Balai Penelitian Tanah BBLSDLP-Kementerian Pertanian, Bogor.

IRA, D. (2016). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Gejala Neurotoksik Pada Petani Penyemprot Tanaman Sayuran Dengan Pestisida Di Kenagarian Alahan Panjang Kabupaten Solok Tahun 2016 (Doctoral dissertation, Universitas Andalas).

Sulistinah, N., Antonius, S., & Rahmansyah, M. (2016). Pengaruh Residu Pestisida Terhadap Pola Populasi Bakteri dan Fungi Tanah di Rumahkaca. Jurnal Teknologi Lingkungan, 12(1), 43-53.

 


PRODUK PETROKIMIA HILIR

Disusun oleh : Tasya Reviana Azhari (@R17-Tasya)

ABSTRAK 

    Industri Petrokimia merupakan industri yang mengolah bahan kimia yang  menggunakan bahan baku dari proses pengolahan minyak bumi dan gas bumi. Industri petrokimia terbagi menjadi tiga bagian yaitu  produk petrokimia hulu, produk antara dan produk petrokimia hilir. Tujuan dari penulisan ini yaitu untuk mengetahui pengertian dan proses dari produk petrokimia. Proses dari produk petrokimia memiliki tiga jalur yaitu , jalur gas sintetik, amonia dan carbon black, jalur olefin, serta jalur aromatik. Adapun manfaat dan bahaya yang berhubungan dengan kehidupan sehari hari dari industri petrokimia. 


Kata kunci : Minyak bumi, gas bumi, petrokimia hilir. 


PENDAHULUAN

sumber : https://investor.id

    Industri Petrokimia adalah suatu industri yang bergerak pada pengelolahan bahan kimia dengan menggunakan bahan baku dari hasil proses pengolahan minyak bumi dan gas bumi. Pola perkembangan industri petrokimia bergantung pada produk-produk hasil pengolahan minyak dan gas bumi yang tersedia. Dalam industri petrokimia, pengolahan minyak bumi dan gas alam yang digunakan juga mempertimbangkan kebutuhan manusia akan bahan-bahan kimia yang dihasilkan dan pemanfaataknnya dalam menunjang kegiatan manusia.

    Industri petrokimia merupakan salah satu sektor yang berkontribusi besar pada tingginya impor dan defisit neraca berjalan. Impor sektor petrokimia mencapai US$20 miliar atau Rp248 triliun setiap tahunnya (Kemenperin, 2019). Indonesia merupakan pasar yang sangat besar bagi produk petrokimia. Akan tetapi, kondisi industri petrokimia saat ini belum memungkinkan bagi indonesia untuk memaksimalkan keuntungan dari pasar domestik yang besar tersebut.


PERMASALAHAN

    Pada dasrnya, Industri Petrokimia terbagi dalam tiga bagian besar yaitu, produk petrokimia hulu yaitu proses pengolahan produk dasar (premier) dan akan menghasilkan produk setengah jadi (produk antara), produk antara yaitu hasil dari pengolahan petrokimia hulu dan selanjutnya akan diolah menjadi produk siap pakai (produk jadi) maupun produk yang masih bisa diolah lagi pada proses selanjutnya, serta produk petrokimia hilir yaitu pengolahan produk antara menjadi produk jadi sehingga dapat digunakan oleh masyarakat. Pada artikel ini, saya akan membahas mengenai produk petrokimia hilir mulai dari bagaimana proses pembentukan produk petrokimia dan reaksinya, manfaat dan bahayanya industri petrokimia.


PEMBAHASAN



A. Industri Petrokimia Hilir

    Industri petrokimia hilir adalah pengolahan produk setengah jadi dijadikan produk siap untuk dipakai dan digunakan. Contoh seperti nilon, plastik, karet sintesis dan zat peledak. Pada industri petrokimia hilir barang yang siap pakai siap untuk di distribusikan ke distributor untuk memenuhi kebutuhan konsumen.


B. Proses Pembuatan Produk Petrokimia

Proses pembuatan produk petrokimia terdapat tiga jalur yaitu:

1. Jalur gas sintetik, amonia dan carbon black

- Reaksi steam reforming untuk pembuatan amonia dengan gas sintetis.

    2 CH4 + O2 + 2 H2O + N2 ➡️ 2 CO2 + 4 NH3

- Reaksi steam reforming pada pembentukan methanol :

    Lurghi High Pressure Process

    ICI Low Pressure Process

- Reaksi oksidasi parsial untuk membuat carbon black

        Contoh : Reaksi pembentukan pupuk urea

                Tahap 1 : pembentukan Amonia Carbamat (NH4COONH2)

                        2 NH3 + CO2 ➡️ NH4COONH2

                Tahap 2 : Pengkristalan ammonium carbamat didalam priling tower menjadi urea

                        NH4COONH2 ➡️  CO(NH2) + H2O


2. Jalur olefin ( olefin center)

- Olefin : senyawa hidrokarbon tidak jenuh yang mempunyai ikatan rangkap terbuka yang sangat reaktif.

- Mudah terpolimerisasi

- Jalur olefin menghasilkan etilena, propilena, dan butilena ➡️produk dasar dari cracking bahan baku nafta.

        Contoh : olefin dengan bahan baku nafta

Jika bahan baku berasal dari nafta fraksi berat (C15-C23) dan dari jenis minyak parafin, makan akan terbentuk molekul parafin dan olefin :

- C23H48 ➡️ C8H18 + C15H30 ➡️ C3H8 + C12H22 (cracking)

Proses ini dapat terjadi terus menerus hingga terbentuk cokes :

- C12H22 ➡️ C2H6 + C10H16 ➡️ C2H4 + C8H12 ➡️ 2 CH4 + C6H4 (cracking)

- C6H4 ➡️CH4 + 5 C (cracking)

Selain itu juga dapat terbentuk dari hasil polimerisasi olefin :

- C10H16 + C10H16 ➡️ C20H32 + C15H30 ➡️ C35H62 (kopolimerisasi C20H32 dengan C15H30)


Produk petrokimia hilir yang dihasilkan melalui jalur olefin :

- Plastik dari etilena : polietilema (PE), polivinilklorida (PVC), poliesterina (PS), etilen glikol (EG), dan etilen asetat (EA).

- Plastik dari propilena : polipropilena (PP), isobutil asetat, akrilat, fenol, karet etilen propilena.

- Plastik dari butilena dan butadiena : polibutadiena 


3. Jalur Aromatik 

- Senyawa hidrokarbon tak jenuh yang mempunyai ikatan atom C siklis, berupa ikatan atom antara C6 – C8, seperti benzena, toluena, xilena, dll.

- Sangat reaktif sehingga mudah bereaksi dan terpolimerisasi.

- Menghasilkan Benzena, Toluena dan Xilena (BTX) sebagai hasil utama, serta sikloheksana (CHX) sebagai produk samping.

Contoh : Anihidrida Melaik (Melaic Anhydride)

Dihasilkan melalui reaksi oksidasi benzena, pada suhu 425C , dan bantuan katalis V2O5 dan MoO3.

Benzena ➡️ anhidrida melaik + H2O + CO2


C. Manfaat produk – produk petrokimia.

1. Dalam industri kendaraan bermotor atau transportasi dimana bumper mobil yang terbuat dari logam diganti dengan plastik poliuretan, propeller pesawat terbang diganti denga fiber glass.

2. Dalam industri kemasan, bahan logam tinplate dan alumunium diganti dengan plastik – plastik produk petrokimia.

3. Salah satu produk petrokimia adalah aspal. Aspal digunakan untuk jalanan. Kegunaan lainnya yaitu,  digunakan untuk pelapis tanggul, pelapis tahan air, sebagai bahan isolasi, pelapis anti korosi pada logam dan juga sebagai bahan campuran pada pembuatan briket barubara.

4. Lilin digunaan sebagai cadangan lampu bila listrik padam. Lilin juga dapat digunakan sebagai pelapis kertas pembungkus, bahan baku semir serta pengkilap lantai dan meubel.

5. Penggunaan dalam industri pupuk dan pestisida yaitu produk amoniak (urea) sebaguan besar digunakan sebagai pupuk pertanian.


D. Bahaya produk petrokimia 

Salah satu hasil dari produk petrokimia adalah plastik. Jika semakin banyak plastik yang digunakan maka akan menyebabkan :

1. Tercemarnya tanah, air tanah, dan mahkluk bawah tanah.

2. Racun – racun dari partikel plastik yang masuk kedalam tanah akan membunuh hewan-hewan pengurai di dalamm tanah seperti cacing. 

3. Polychlorinated biphenyl (PCB) yang tidak dapat terurai meskipun termakan oleh binatang maupun tanaman akan menjadi racun berantai sesuai urutan rantai makanan.

4. Kantong plastik akan mengganggu jalur air yang terserap ke dalam tanah.

5.  Menurunkan kesuburan tanah dan ruang gerak makhluk bawah tanah yang mampu menyuburkan tanah.


KESIMPULAN

    Industri petrokimia merupakan suatu industri yang bergerak pada pengelolahan bahan kimia dengan menggunakan bahan baku dari hasil proses pengolahan minyak bumi dan gas bumi. Proses yang dimiliki dalam pembuatan produk petrokimia memiliki tiga jalur yaitu, Jalur gas sintetik, amonia dan carbon black, jalur olefin, serta jalur aromatik. Hasil yang diperoleh dari industri dapat bermanfaat bagi kehidupan sehari hari, tetapi jika tidak digunakan sebaik mungkin akan berbahaya bagi lingkungan sekitar.


DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Mantiq. 2017. Mengenal Industri Petrokimia.

Oki Muraza. 2020. Memperkuat Industri Petrokimia Nasional.

Pera Meilita,dkk. 2019. Industri Petrokimia Nasional.

Iswahyudi. 2011. Petrokimia.

http://staff.ui.ac.id/system/files/users/yuliusman.eng/material/industripetrokimiadandampaklingkungannya.ppt

Tjoetnyak Izzatie. 2014. Penggunaan minyak bumi dalam industri petrokimia.

Sulistyono Sulistyono. 2015. Produk Petrokimia dari Minyak dan Gas Bumi Manfaat dan Bahayanya Bagi Kesehatan dan Lingkungan.