.

Tampilkan postingan dengan label @R11-Hafiz. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @R11-Hafiz. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 November 2020

Kualitas Udara Memburuk Akibatnya Berdampak Pada Kesehatan Makhluk Hidup Di Muka Bumi

 Oleh : Hafiz Zurrohmansyah (@R11-Hafiz)


Abstrak

Masalah pencemaran udara saat ini telah sampai pada tingkat yang mengkhawatirkan. Hal ini terjadi karena semakin banyaknya zat-zat polutan yang dihasilkan dari kegiatan sehari-hari, pabrik-pabrik industri, pembangkit listrik, dan kendaraan bermotor yang setiap harinya selalu menghasilkan polutan yang membuat kualitas udara menjadi buruk. Hal ini tentunya menjadi permasalahan pada kehidupan makhluk hidup di muka bumi ini. Udara yang telah tercemar oleh zat-zat polutan bukan hanya mempengaruhi kesehatan manusia tetapi seluruh makhluk hidup dan lingkungan juga akan terkena efek dari pencamaran udara tersebut. 

Kata Kunci : Pencemaran udara, Poluton, Kesehatan, Kualitas udara

Minggu, 01 November 2020

AGROKIMIA DAN DAMPAKNYA BAGI LINGKUNGAN DAN KESEHATAN

 

AGROKIMIA DAN DAMPAKNYA BAGI LINGKUNGAN DAN KESEHATAN

Disusun oleh : Hafiz Zurrohmansyah (@R11-Hafiz)


 Abstrak

Industri pertanian dalam memproduksi hasilnya mempunyai peranan aktif pada rantai kebutuhan pangan manusia. Dengan begitu industri agrokimia akan semakin meningkat dalam memproduksi bahan agrokimia yang membantu meningkatkan hasil produksi industri pertanian. Namun, penggunaan bahan agrokimia telah salah dalam penerapannya dan pemakaiannya yang menyebabkan kerugian terhadap lingungan serta manusia.

Bahan agrokimia ini yang seharusnya bermanfaat untuk membantu meningkatkan hasil produksi, namun sangat disayangkan malah menjadi bumerang. Karena bahan aktif pada agrokimia inilah yang membuat kerugian-kerugian seperti gejala neurotoksik, hilangnnya nitrogen pada tanah, memicu banyaknya logam berat pada tanah, peptisida yang menjadi pengganggu kesehatan manusia dan lingkungan.

Maka dari itu dibutuhkan pemahaman sehingga dapat mengetahui manfaat dan bahaya bahan agrokimia, yang nantinya akan menjadi bekal untuk penerapannya yang baik dan benar. Dalam memberi pemahaman diperlukannya upaya ancaman dari bahan agrokimia agar dapat memperbaiki dan membenahi kondisi rusaknya lingkungan akibat bahan agrokimia.

Kata kunci : neurotoksik, peptisida, pupuk, agrokimia

Pendahuluan

Dalam mendukung hasil-hasil pertanian, penggunaan agrokimia belum dapat sepenuhnya ditinggalkan dalam aktivitas agronomi tetap saja masih memerlukan sentuhan bahan kimia pupuk, herbisida, pestisida dan sejenisnya. Penggunaan bahan kimia tadi masih tetap menjadi pertimbangan sehubungan dengan efisiensi produksi. Kini penggunaan bahan agrokimia pada industri agrokimia  sangat berkembang pesat, Namun, masih terdapat dampaknya terhadap lingkungan. Sumber pencemaran dapat berupa residu bahan agrokimia, seperti pupuk dan peptisida yang penggunaannya cenderung berlebihan serta limbah industri yang menggunakan bahan kimia tertentu dengan pengelolaan limbahnya yang kurang baik. penggunaannya yang berlebihan dan tidak tepat sasaran dapat menyebabkan berbagai permasalahan diantaranya keracunan tanaman, timbulnya resistensi hama, serta tercemarnya tanah dan air. Selain pencemaran lingkungan, pengaruh cemaran agrokimia ini juga memberikan dampak negatif terhadap manusia dan makhluk hidup lainnya.

Untuk itu perlunya pengawasan pada kemungkinannya terjadi pencemaran lingkungan karena bahan agrokimia dan limbah industri. Maka sangat diperlukan pembahasan informasi mengenai bahan agrokimia dan potensi pencemarannya terhadap lingkungan dalam upaya memberikan pemahaman seputar agrokimia. dengan informasi tersebut, upaya untuk mengatasinya.

 

Permasalahan

Pada industri pertanian, penggunaan bahan agrokimia secara tidak langsung berdampak penting pada peningkatan hasil pertanian. Namun demikian, pengunaan bahan agrokimia secara terus menerus justru mengakibatkan pencemaran pada tanah pertanian. Selain lingkungan, pengunaan bahan agrokimia juga berdampak langsung pada kesehatan manusia, salah satunya adalah dapat menimbulkan efek neurobehavioral (NB) atau lebih dikenal dengan gejala neurotoksik.

Terdapat pokok masalah yang menjadi pusat pembahasan :

1. Gejala apa yang terjadi pada efek dari neurotoksik

2. Adanya kandungan logam berat pada bahan agrokimia

3. Potensi hilangnya Nitrogen (N) dari sistem tanah-tanaman

4. Mengenal lebih dalam mengenai peptisida dan dampaknya pada lingkungan

5. Upaya menurunkan pengaruh buruk bahan agrokimia terhadap lingkungan

 

Pembahasan

1. Gejala dari neurotoksik

 Gejala neurotoksik didefenisikan sebagai gangguan secara fungsional pada saraf, baik sistem saraf pusat maupun sistem saraf tepi yang diakibatkan oleh paparan bahan kimia. Ganguan ini mengakibatkan perubahan pada memori, attention, mood, disorientasi, penyimpangan berfikir, serta perubahan somatik, sensorik, dan fungsi kognitif sebagai efek neurotoksik akibat penggunaan neurotoksikan. Pada beberapa kasus, perubahan ini akan menghasilkan gejala-gejala yang mudah diidentifikasi sebagai gangguan saraf seperti lelah berlebihan, insomnia, pusing, sulit berkonsentrasi, sering merasakan jantung berdebar tanpa adanya melakukan kegiatan/tekanan, serta sakit kepala secara terus menerus lebih dari satu minggu.

Penggunaan pestisida yang cukup besar ini memberikan dampak besat terhadap kesehatan seperti terjadinya gejala neurotoksik. Gejala neurotoksik atau sering dikenal dengan efek NB \termasuk kedalam sepuluh penyakit terbanyak yang berhubungan dengan tempat kerja di Amerika Serikat. Pajanan terhadap zat racun seperti timbal, pestisida, pelarut organik dan insektisida di tempat kerja dianggap berkontribusi dalam perkembangan terjadinya efek NB.

Di Indonesia, permasalahan ini belum terlalu menjadi perhatian yang serius, namun Asosiasi Industri Perlindungan Tanaman Indonesia (AIPTI) mengemukakan dari 1.000 petani hanya 1% petani yang menerapkan pola pemakaian pestisida secara benar. Penerapan pemakaian pestisida yang tidak benar inilah yang nantinya menyebabkan terjadinya berbagai gangguan kesehatan, hingga terjadinya gangguan neurotoksik. Kebiasaan petani dalam mencampur beberapa pestisida (> 4 pestisida) dalam satu kali penyemprotan turut memperkuat terjadinya gejala neurotoksik. Serta Kebiasaan petani yang tidak menggunakan APD terutama sarung tangan, dan masker dalam melakukan kegiatan penyemprotan dan pencampuran diduga juga dapat berpotensi pestisida dapat masuk kedalam tubuh petani melalui inhalasi dan ingesti. Maka dari itu penggunaan dan penerapan peptisida yang salah pada petani mengakibatkan gejala neurotoksik, dengan begitu sangat diperlukan pemahaman mengenai pemakaian peptisida yang baik dan benar demi keberlangsungan para petani.

 2. Adanya kandungan logam berat pada bahan agrokimia

         Logam berat (heavy metal) terdapat secara alami di alam. Logam berat yang terdapat dalam batuan ultramafic dan mafic adalah cadmium (Cd), kromium (Cr), kobalt (Co), tembaga (Cu), mangan (Mn), dan yodium (I), sedangkan yang umum terdapat dalam batuan asam dan intermediet adalah barium (Ba), molibdenum (Mo), timbal (Pb), timah (Sn), uranium (U), tungsten (W: wolframium), dan seng (Zn) (Kabata-Pendias et al. 1993). Logam berat juga dapat berasal dari pupuk dan sumber lain yang mencemari lahan pertanian.

Permasalahan logam berat pada tanah pertanian di Indonesia sudah banyak dilaporkan, namun belum sampai pada tingkat membahayakan. Meskipun sektor industri berkontribusi besar dalam pencemaran lingkungan oleh logam berat, namun peranan sektor pertanian tidak dapat dikesampingkan. Kandungan logam berat dalam tanah, tanaman, dan air, kandungan logam berat dalam pupuk juga perlu mendapat perhatian. Sebagai gambaran logam berat dalam pupuk dapat dilihat informasi dari California Department of Food and Agriculture (1998) yang menunjukkan bahwa pupuk mineral maupun pabrikasi mengandung logam berat.

Penggunaan pupuk yang berlebihan dapat memicu kelebihan penggunaan logam berat dalam tanah. Selain itu kualitas pupuk seperti pupuk organik sangat bervariasi berdasarkan sumber bahan bakunya sehingga kemungkinan mengandung logam berat tinggi bisa terjadi terutama yang menggunakan bahan baku limbah. Untungnya Saat ini kriteria logam berat dalam pupuk sudah diatur dalam Permentan No. 43/Permentan/SR.140/8/2011. Kandungan logam berat yang dipersyaratkan dalam pupuk adalah maksimal mengandung As = 100 ppm, Hg = 10 ppm, Cd = 100 ppm, dan Pb = 500 ppm. Sedangkan kriteria logam dalam tanah adalah spesifik lokasi sesuai dengan kondisi tanah dan pengunaan lahannya.

3. Potensi hilangnya Nitrogen (N) dari sistem tanah-tanaman


Potensi cemaran lingkungan dari pupuk umumnya berasal dari sumber pupuk N dan P. Kelebihan pupuk N dalam tanah akan menyebabkan banyak N hilang baik melalui volatilisasi, run-off, dan leaching. Kehilangan N ini umumnya setelah pupuk N mengalami perubahan bentuk menjadi nitrat (NO3), nitrit (NO2), dan ammonia (NH4) (Rechcigl 1995). Efisiensi penggunaan pupuk oleh tanaman juga merupakan hal krusial dalam pengelolaan hara N. Brentrup et al. (2004) menyebutkan bahwa efisiensi N merupakan indikator utama dalam menilai kualitas lingkungan pertanian. . Di Indonesia, Widowati et al. (2011) menghitung efisiensi N pada lahan sayuran umumnya lebih rendah dari 20%. Rendahnya tingkat efisiensi pupuk N menyebabkan banyaknya N yang hilang dari tanah. Di lahan sawah intensifikasi, perhitungan neraca hara menunjukkan bahwa kehilangan N sebesar 147 kg/ha hilang terbawa melalui panen dan 29 kg/ha hilang melalui denitrifikasi, volatilisasi, dan pencucian.

Penggunaan pupuk N berlebihan terhadap tanaman mengakibatkan banyak dampak negatif seperti pertumbuhan vegetatif yang berlebihan dan sukulen. Hal ini menyebabkan konsumsi berlebihan (luxury consumption) unsur N, lodging, dan rapuhnya jaringan tanaman. Secara fisiologis terdapat penurunan kadar gula, melambatnya kematangan tanaman sehingga tanaman menjadi sangat rentan terhadap serangan penyakit dan serangan OPT (Rechcighl 1995). Hingga nantinya akan mempengaruhi berbagai proses kimia dalam tanah dan menyebabkan tanaman menjadi lunak, tidak tegak sehingga intensitas cahaya selama pematangan tidak optimal dan akibatnya suplai unsur hara menjadi tidak seimbang.

 4. Mengenal lebih dalam mengenai peptisida dan dampaknya pada lingkungan



Bahan utama penyusun pestisida adalah persistent organic pollutants (POPs) yang diketahui resisten di lingkungan, terakumulasi di dalam tubuh makhluk hidup, dan memiliki toksisitas yang tinggi (Rodan et al. 1999). Berdasarkan pedoman penggunaan pestisida yang dikeluarkan oleh Ditjen PSP 2011, terdapat 39 jenis bahan aktif pestisida yang dilarang beredar di Indonesia. Pestisida menjadi berbahaya karena efek sampingnya seperti tertinggal dalam tanaman, masuk ke dalam bahan makanan dan pencernaan makhluk hidup, terbawa air dan terbang lewat udara (Madhun dan Freed 1990).

Madhun dan Freed (1990) merangkum berbagai pengaruh pestisida terhadap tanah dan air hampir semua jenis pestisida dapat terangkut dalam residu tanaman kecuali kelompok organophosphate, carbonate, dan pyrethroid yang memiliki umur pendek. Pengaruh negatif pestisida untuk tanaman yang sensitif adalah tanda pematangan yang cepat dan tidak beraturan, kehilangan biomassa dan kematian tanaman (Wild 1993). Tingkat kerusakan yang ditimbulkan dari residu pestisida dipengaruhi oleh jenis bahan aktif, tingkat kelarutan, dan kondisi lingkungan saat pestisida diberikan. (Weber dan Miller 1989) mengatakan Proses transformasi pestisida dalam tanah. Bahwa pestisida yang masuk ke dalam tanah akan melalui 7 proses yaitu:

1.     volatilisasi ke atmosfir tanpa perubahan kimia

      diadsorpsi tanah

3.      hilang melalui leaching

4.      bereaksi secara kimia di dalam tanah maupun permukaan tanah

5.      dapat dirombak oleh mikroorganisme

6.      terbawa erosi dan run-off ke aliran sungai

7.      masuk jaringan tanaman dan juga hewan melalui rantai makanan

Bahaya pestisida jiki sudah memasuki rantai makanan dan sangat membahayakan kesehatan. Untuk itu, selain perbaikan dari aspek legal penggunaan pestisida, teknologi yang tepat dan mampu mereduksi tingkat toksisitas residu pestisida tersebut baik di tanah dan air agar tidak mencemari bahan makanan sangat dibutuhkan.

5. Upaya menurunkan pengaruh buruk bahan agrokimia terhadap lingkungan

        
Dalam waktu yang kian berjalan populasi manusia kian bertambah, maka kebutuhan akan pangan menjadi sasaran utama industri pertanian untuk meningkatkan hasilnya dalam memproduksi pangan. Namun sejalan dengan kebutuhan pangan yang semakin banyak terdapat juga kebutuhan bahan agrokimia seperti pupuk dan pestisida kian hari semakin bertambah. Upaya mengembalikan lahan pertanian menjadi pertanian organik merupakan salah satu alternatif pendekatan untuk menghindari penggunaan bahan agrokimia. Namun demikian, kebutuhan pangan yang sangat besar tersebut tentu merupakan prioritas utama untuk dipenuhi.

Produksi pangan dari pertanian organik belum mampu memenuhi kebutuhan pangan secara nasional. Oleh karena itu, sangat diperlukan dukungan teknologi pupuk dan pestisida yang ramah lingkungan agar dampak negatifnya dapat diminimalisir namun target outputnya tetap tercapai. Berikut beberapa pendekatan pengelolaan pertanian ramah lingkungan terkait pupuk dan pestisida diuraikan sebagai berikut:

5.1 Pengelolaan unsur hara dan teknologi pemupukan

Pengelolaan unsur hara di lahan pertanian merupakan salah satu cara mengatasi permasalahan pupuk. Pemberian pupuk yang tepat sesuai dengan kebutuhan tanaman dan status hara tanah merupakan kunci pengelolaan unsur hara pada lahan pertanian. Pengetahuan tentang cara pemupukan, waktu pemberian, dosis pupuk, jenis pupuk dan memperhitungkan kebutuhan setiap jenis tanaman merupakan kunci pengelolaan hara.

Teknologi yang dapat membantu meningkatkan efisiensi pupuk adalah dengan menggunakan pupuk yang memiliki efisiensi tinggi seperti penggunaan pupuk slow release. Pupuk slow release adalah pupuk yang dapat melepas unsur hara secara lambat. Pupuk slow release dapat berupa pupuk yang dicoating dengan polimer nano, bahan mineral alami seperti zeolite, gypsum atau membran, teknik enkapsulasi, atau dengan menjadikan pupuk berbentuk tablet/kapsul yang cukup besar sehingga pupuk tersebut dapat bertahan cukup lama sebelum habis secara perlahan. Penggunaan pupuk slow release ini dapat menghemat kebutuhan pupuk.

5.2 Pemulihan lahan tercemar

Metode reklamasi tanah tercemar secara umum dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu insitu treatment dan exsitu treatment baik secara fisik, kimia maupun biologi. Metode insitu diantaranya adalah dengan menggunakan karbon aktif, mencuci air buangan, heat treatment air buangan, mengeluarkan logam berat, dan kontaminan lainnya, membersihkan air tanah dengan karbon aktif, metode biologi (bioremediasi), dan prosedur khusus seperti menggunakan tanaman toleran logam berat (fitoremediasi) serta enkapsulasi.

5.3 Bioremediasi

Bioremediasi adalah teknik pemulihan lahan tercemar dengan memanfaatkan bakteri dan jamur dalam tanah untuk mendegradasi kontaminan sehingga menjadi bahan tidak berbahaya. Proses bioremediasi ini sangat ditentukan oleh mikroba alami yang terdapat dalam tanah.

5.4 Fitoremediasi

Fitoremediasi didefinisikan sebagai teknologi pembersihan, penghilangan atau pengurangan zat pencemar dalam tanah atau air dengan menggunakan bantuan tanaman (Chussetijowati et al. 2009). Dalam fitoremediasi terdapat 2 mekanisme utama yaitu:

1) akar tanaman dapat mengambil polutan dari dalam tanah

2) dengan menggunakan tanaman pembersih yang dikenal dengan istilah pemacu fitoremediasidi rizosfir. Dalam metode kedua, tanaman tidak mengambil kontaminan tetapi akar tanaman mengeluarkan enzim (komponen karbon tanah) sebagai sumber hara untuk meningkatkan aktivitas mikroba pendegradasi

Banyak jenis tanaman yang sangat efektif dalam fitoremediasi tanah tercemar logam berat seperti rumput gajah (Pennisetum purpureum) (Toulousia 2008) dan eceng gondok (Eichhornia Crassipes (Mart.) Solms (Syahputra 2005). Menurut Anonim dalam Hardiani (2009), Dahlia sp. dan Helianthus annus (Compositae) juga diketahui memiliki kemampuan untuk mengakumulasi logam Cr dengan kuantitas yang hampir sama dengan beberapa tanaman Brassicaceae sp yaitu sebesar 167 -196 mg/g.

 

Kesimpulan

Upaya mewujudkan lahan pertanian yang ramah lingkungan dan memiliki produktivitas yang tinggi memerlukan perhatian khusus dalam penggunaan pupuk dan pestisida. Degradasi lahan akibat ketidakseimbangan unsur hara dalam tanah dan pencemaran lingkungan pertanian merupakan isu penting terkait dengan pertanian. Kekurangan satu atau beberapa jenis unsur hara dalam tanah menyebabkan unsur tersebut menjadi faktor pembatas produksi pertanian. Sebaliknya kelebihan unsur hara dalam tanah menyebabkan sifat toksik bagi tanaman dan inefisiensi karena banyak pupuk yang hilang.

 Penggunaan pupuk dan pestisida yang berlebihan menjadi pencetus berbagai masalah lingkungan antara lain terjadinya pencemaran tanah dan badan air. Bahan aktif pestisida yang sukar dirombak melalui proses kimia dan biologi pada akhirnya akan diserap kembali oleh tanaman dan terakumulasi dalam tubuh manusia dan hewan.

Berbagai teknologi pemulihan lahan tercemar bahan agrokimia tersebut dapat dilakukan dengan pengelolaan unsur hara, pemulihan secara kimia, fisika, bioremediasi, dan fitoremediasi. Oleh karena itu, penerapan sistem pertanian bio industri dan terintegrasi dengan ternak merupakan salah satu alternatif dalam meningkatan produksitivitas lahan serta menurunkan risiko pencemaran dan kerusakan lingkungan.

 

Daftar Pustaka

Bahan, I. P. Pencemaran Bahan Agrokimia Perlu Diwaspadai.

Husnain, N. D., & Purnomo, J. (2014). Penggunaan bahan agrokimia dan dampaknya terhadap pertanian ramah lingkungan. h. 7-46. Buku Pengelolaan Lahan pada Berbagai Ekosistem Mendukung Pertanian Ramah Lingkungan. Balai Penelitian Tanah BBLSDLP-Kementerian Pertanian, Bogor.

IRA, D. (2016). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Gejala Neurotoksik Pada Petani Penyemprot Tanaman Sayuran Dengan Pestisida Di Kenagarian Alahan Panjang Kabupaten Solok Tahun 2016 (Doctoral dissertation, Universitas Andalas).

Sulistinah, N., Antonius, S., & Rahmansyah, M. (2016). Pengaruh Residu Pestisida Terhadap Pola Populasi Bakteri dan Fungi Tanah di Rumahkaca. Jurnal Teknologi Lingkungan12(1), 43-53.

 


Kamis, 08 Oktober 2020

KEAJAIBAN TERIPANG SEBAGAI OBAT ALAMI BERBAGAI PENYAKIT

 

KEAJAIBAN TERIPANG SEBAGAI OBAT ALAMI BERBAGAI PENYAKIT

 


Disusun oleh : Hafiz Zurrohmansyah (41620010012)

Kode Peserta : @R11-Hafiz 

Teknik Industri, Universitas Mercu Buana Jakarta

hzandzurroh@gmail.com

ABSTRAK

Teripang atau sea cucumber merupakan hewan laut yang telah dimanfaatkan sebagai bahan pangan dan obat Kandungan nutrisinya yang lengkap. Secara tradisional telah dimanfaatkan untuk berbagai penyakit  melancarkan peredaran darah akibat penyempitan pembuluh darah karena kolesterol, melancarkan fungsi ginjal, meningkatkan metabolisme, mencegah penyakit arthritis, diabetes melitus, hipertensi, mempercepat penyembuhan luka, dan antiseptik tradisional. Karena manfaatnya yang cukup luas, kini produk olahan teripang semakin berkembang seperti ekstrak teripang yang biasanya dalam bentuk jeli atau cair yang digunakan sebagai suplemen. Indonesia sebagai negara yang kaya akan keanekaragaman jenis teripang. Sampai saat ini teknologi pengolahan teripang baru dalam bentuk kering dan dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Sementara penelitian teripang sebagai bahan obat masih terbatas dan produk ekstrak teripang masih diimpor dari Malaysia dan Amerika. Teripang diketahui memiliki zat yang salah satunya berfungsi sebagai antijamur dari ekstrak teripang secara kimia dengan pelarut terbaik untuk mengisolasi senyawa antijamur teripang adalah metanol terhadap bakteri (C. albicans) serta kandungan senyawa bioaktif dalam teripang mengandung senyawa alkaloid, saponin, steroid dan triterpenoid. Ada indikasi potensi antijamur pada ekstrak teripang. Maka penelitian ke arah bidang farmasi dan kesehatan perlu ditingkatkan. Penelitian tersebut untuk mendukung industri farmasi yang mengolah teripang menjadi bahan produk kesehatan yang nilai tambahnya cukup tinggi (ekonomis).

Kata kunci : Teripang, antijamur, bioaktif, obat alami, penyakit

 

PENDAHULUAN

Sumber daya laut memiliki berbagai kegunaan dan manfaat, dengan berbagai biota laut diantaranya ialah mikroorganisme, blue green algae, green algae, brown algae, red algae, sponges, coelenterates, bryozoans, moluska, dan enchinodermata. Biota laut tersebut dapat menghasilkan berbagai bahan alami yang berguna dan bermanfaat untuk industri farmasi (antikanker, antibiotik, anti-inflamasi), pertanian (pestisida, fungisida, growth stimulator), kosmetik dan makanan (zat pewarna alami), dan masih banyak lainnya. Disamping itu juga dapat dihasilkan protein serta bahan diet sebagai sumber makanan sehat, seperti asam lemak tidak jenuh omega 3, vitamin, asam amino, dan berbagai jenis gula rendah kalori (Dahuri, 2003).

Diantara berbagai biota laut tersebut, teripang (enchinodermata) ialah salah satu yang memiliki potensi besar dan mempunyai banyak kegunaan dan manfaat terutama sebagai bahan obat-obatan. Teripang atau dikenal sebagai mentimun laut atau sea cucumber termasuk ke dalam jenis Holothuroidae dan Stichopodidae dari bangsa Echinodermata yang merupakan hewan tidak bertulang belakang dan bertubuh lunak. Teripang bergerak lambat dan tidak memiliki struktur perlindungan fisik khusus untuk mempertahakan dirinya dari serangan predator. Untuk kelangsungan hidup dan pertahanan dirinya, teripang memproduksi metabolit sekunder dengan menghasilkan senyawa bioaktif antara lain adalah holothurin atau dikenal sebagai saponin dan triterpene glycoside suatu struktur serupa dengan ginseng yang aktif, genoderma, dan tumbuh-tumbuhan tonik yang terkenal. Aktivitas-aktivitas anti bakateri, antijamur, antitumor dan antikanker ditemukan dalam senyawa-senyawa tersebut (Kerr, 1995; Sendih, 2006; Alfonso, et al., 2007; Farouk , et al., 2007). Di dunia ada 1.250 spesies teripang yang telah dideskripsikan, sedangkan di Indonesia ada 25 jenis yang mempunyai nilai komersial yang berasal dari  perairan karang di Indonesia (Darsono, 2005) dengan ukuran panjang tubuh teripang bervariasi tergantung umur dan jenisnya tetapi umumnya ukuran panjang teripadang berkisar 3-150 cm (Darsono, 1998).

Teripang umumnya bertempat dan bersembunyi ekosistem terumbu karang dengan perairan dasar yang jernih, bebas dari polusi, air relative tenang dengan mutu air cukup baik. Habitat yang ideal bagi teripang adalah air laut dengan salinitas 29-33% yang memiliki kisaran PH 6,5-8,5. kecerahan air 50-150 cm, kandungan oksigen terlarut 4-8 ppm, dan suhu air 20-25o C (Wibowo et al, 1997).

Menurut Martoyo et al. (2000) teripang yang terdapat di perairan Indonesia adalah dari genus Holothuria, Muelleria dan Stichopus. Ketiga genus tersebut terdiri dari 23 spesies, diantaranya baru lima spesies yang sudah dimanfaatkan dan mempunyai nilai ekonomis penting, yaitu Holothuria scabra (teripang putih atau pasir), Holothuria edulis (teripang hitam), Holothuria vacabunda (teripang getah atau keling), Holothuria vatiensis (teripang merah) dan Holothuria marmorata (teripang cokelat). Namun, menurut Ibrahim (2003), spesies teripang yang benar-benar asli dan bermutu tinggi serta paling berkhasiat adalah yang berwarna kuning keemasan. Di Malaysia dikenal dengan sebutan Gamat Emas (Stichopus horrens). Teripang telah lama digunakan sebagai sumber obat-obatan tradisional dari Malaysia, teripang di malaysia dikenal dengan sebutan gamat emas. Gamat emas diolah menjadi air gamat dan minyak gamat untuk mengobati luka dan peradangan, meninkatkan vitalitas tubuh, dan menyembuhkan luka lambung (Sendih, 2006; Farouk, et al.,2007).

Teripang mengandung berbagai macam senyawa yang besarnya bervariasi tergantung spesiesnya. Jenis teripang yang banyak digunakan sebagai obat dan makanan. Menurut Departemen Obat dan Makanan Amerika Serikat (USDA), teripang memiliki kandungan gizi yang lengkap, antara lain 9 jenis karbohidrat, 59 jenis asam lemak, 19 jenis asam amino, 25 komponen vitamin, 10 jenis mineral, dan 5 sterol. Walaupun kandungan lemaknya cukup rendah, namun teripang mengandung asam lemak multitetradonik penghambat enzim lipoksigenase yang memacu kerusakan saluran pernafasan penyebab asma (Darmananda, 2002). Teripang mengandung kolagen yang cukup tinggi yaitu sebesar 86% serta berbagai jenis mineral seperti kalsium, fosfat, fosfor, kromium, magnesium, besi, natrium, dan yodium. Dalam seratus gram bobot kering, daging teripang mengandung kalsium 118 mg, fosfor 22 mg, besi 14 mg, dan yodium 0,6 mg (Darmananda, 2006) yang mana dapat menetralisirkan keasaman pada lambung agar tidak terjadi kanker lambung (maag kronis). Hasil penelitian Fredalina et al. (1999) menunjukkan bahwa ekstraksi asam lemak teripang jenis Stichopus chloronotus mengandung 11 jenis asam lemak dengan berbagai macam pelarut etanol, metanol, dan bufer fosfat. Ekstraksi dengan menggunakan bufer fosfat menghasilkan asam eicosapentaenoat (EPA) sebesar 25,69% dan asam dokosaheksaenoat (DHA) sebesar 3,63%. Sedangkan jika ekstraksi dilakukan dengan menggunakan air diperoleh DHA sebesar 57,55% dan EPA sebesar 7,84%. Berdasarkan kandungan asam aminonya, teripang mengandung asam amino lebih tinggi bila dibandingkan dengan ikan laut, ayam, dan telor (Anonymous, 2006).

Dilihat dari kandungan gizi dan senyawa-senyawa aktifnya, memungkinkan teripang dapat dimanfaatkan sebagai kesehatan atau obat alami. Kini teripang sudah tidak lagi dipandang sebelah mata, namun selayaknya menjadi perhatian kita semua dengan mengingat potensi medis dan non medis yang tak ternilai di dalamnya. Sehingga dapat memanfaatkan teripang dengan cara yang baik.

 

PERMASALAHAN

Berdasarkan pendahuluan yang telah diuraikan di atas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :

1. Apakah kandungan kolagen dalam teripang emas dapat menangani maag dan mencegah penyakit lambung?

2. Apakah benar teripang dapat menjadi bahan nutraceutical (produk kesehatan)?

3. Peran bahan kimia terhadap ektrak teripang dan manfaatnya?

 

PEMBAHASAN

1. Apakah kandungan kolagen dalam teripang emas dapat menangani maag dan mencegah penyakit lambung?

Maag lambung merupakan salah satu penyakit sistem pencernaan makanan yang ditandai dengan rasa perih didaerah lambung. Bahkan hal ini pernah dikemukakan oleh Tjay dan Rahardja (2007) yang menyatakan bahwa gejala-gejala umum berupa gangguan pada pencernaan adanya rasa nyeri serta rasa panas pada ulu hati dan dada, mual, kadang disertai muntah dan perut kembung.

Bahkan gangguan lambung bisa disebabkan karena stress. Stres menyebabkan perubahan hormonal di dalam tubuh yang selanjutnya akan merangsang sel-sel di dalam lambung memproduksi asam dalam jumlah berlebihan. Ditambah lagi ketika seseorang mengalami stress pertahanan tubuh di lapisan lambung melemah. Keadaan ini disebabkan lambung tidak dapat mensekresi cukup lendir untuk melindungi permukaan lambung dari asam lambung. Jika keadaan ini terus-menerus terjadi, akan timbul luka pada lambung dan jika dibiarkan akan terjadi pendarahan lambung. Secara umum, maag atau gastritis (radang lambung) merupakan penyakit yang menyebabkan peradangan pada lambung akibat produksi asam lambung yang berlebih.

Penyakit maag ini biasanya menyerang orang dengan pola makan yang tidak teratur dan kurang menjaga kebersihan. Hal ini dikemukakan pula oleh Riyanto (2008) Bahwa peningkatan produksi asam lambung dapat terjadi karena makanan atau minuman yang mrangsang lambung seperti makanan yang pedas atau asam, kopi dan alkohol, serta jadwal makan yang tidak teratur. Selain zat asam lambung, penyakit maag juga dapat disebabkan oleh bakteri Helycobacter pylori, yanitu organisme renik. Ketika zat asam lambung tinggi, bakteri lain akan mati, tapi bakteri Helycobacter pylori tidak mati, bahkan bertahan hidup dan berkembang biak. Helycobacter pylori adalah bakteri yang tahan asam yang dapat hidup di pH 2 sampai 4. Jadi, bakteri ini tidak akan mati, ketika produksi asam lambung sangat tinggi. Bakteri ini dapat membuat dinding lambung iritasi, sehingga mengakibatkan lambung mengalami peradangan dan luka. Jadi, akan terasa perih dibagian ulu hati bagi penderita yang mengalaminya

Dalam teripang emas (Stichopus variegatus) terkandung banyak sekali nutrisi yang baik untuk tubuh, diantaranya protein, kolagen, mineral, mukopolisakarida, glucasaminoglycans (GAGs), antiseptik alamiah, glucosamine dan chondroitin, saponin, omega, asam amino, lektin, vitamin dan mineral, gamapeptide. Teripang emas (Stichopus variegatus) memiliki kandungan “Sel Growth Factor” (faktor regenerasi sel) sehingga mampu merangsang regenerasi/ pemulihan sel dan jaringan tubuh manusia yang telah rusak atau sakit bahkan membusuk, sehingga menjadi sehat pulih kembali.

Penelitian Ridzwan Hasyim dari departemen ilmu biokomia universitas kebangsaan Malaysia, membuktikan bahwa teripang emas memiliki kandungan kolagen yang dapat mengurangi masalah lambung. Kolagen pada teripang mampu mencegah produksi berlebih dari asam lambung, sehingga erosi selaput lendir pada lambung dapat dihindari. Zat alkaloid Curcumin sebagai anti kuman berfungsi utuk merangsan dinding kantung empedu mengeluarkan cairan empedu. Sehingga sistem pencernaan bekerja lebih sempurna. Selain itu mampu mencegah terjadinya kanker lambung sebagai gejala lanjutan dari penyakit asam lambung. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Martoyo, dkk (2006) bahwa ekstrak murni teripang mempunyai kecenderungan menghasilkan holotoksin yang efeknya sama dengan antimicyne dengan kadar 6,25-25 mg/ml. Pada tubuh teripang terkandung sekitar 80% kolagen yang memiliki kemampuan meregenerasi sel untuk penyembuhan berbagai macam penyakit.

2. Apakah benar teripang dapat menjadi bahan nutraceutical?

Tentunya teripang dapat menjadi bahan untuk nutraceutical, karena teripang juga kaya akan zat besi yang dibutuhkan untuk melakukan pembentukan sel darah merah, serta kalium penting dalam pencegahan dan perawatan hipertensi. Salah satu unsur mineral yang penting adalah kromium yang mampu merangsang kelenjar pankreas untuk menghasilkan insulin. Insulin ini ialah senyawa yang dapat menyerap kelebihan glukosa dalam darah, sehingga ekstrak teripang dapat membantu para penderita diabetus melitus untuk mempertahankan kadar glukosa dalam darah, sedangkan yodium dapat mencegah penyakit gondok (Admin, 2008).

Kemampuan teripang dalam meregenerasi sel menjadi dasar utama bahwa teripang dapat menyembuhkan luka. Hidup di lingkungan yang keras seringkali menyebabkan dinding tubuh teripang terpecah atau luka pada organ tubuhnya. Namun teripang dapat meregenerasi dirinya sendiri dalam waktu 10–90 hari sehingga utuh kembali. Hal ini disebabkan oleh adanya faktor regenerasi sel (cell growth factor), yang mampu merangsang regenerasi untuk pemulihan sel atau jaringan tubuh yang rusak. Kandungan protein teripang yang tinggi dapat meningkatkan regenerasi sel-sel mati akibat luka sehingga mampu menyembuhkan luka.

Selain itu, protein dapat juga berfungsi untuk memperkuat sistem daya tahan tubuh serta menghasilkan hormon dan enzim untuk melancarkan metabolisme (Lehninger, 1994). Kolagen yang merupakan jaringan pengikat dalam tulang dan kulit dapat dimanfaatkan untuk kecantikan kulit serta dapat meningkatkan regenerasi sel-sel mati akibat luka sehingga dapat mempercepat penyembuhan. Oleh karena itu, teripang dapat dimanfaatkan sebagai kosmetik dan salep untuk menyembuhkan luka.

Bahkan Kandungan asam lemak teripang seperti asam eicosapentaenoat (EPA) dan asam dokosaheksaenoat (DHA)  merupakan asam lemak yang sangat diperlukan oleh tubuh kita. Kedua asam lemak ini dilaporkan mampu mencegah timbulnya penyakit kardiovasculer, diabetes, dan tekanan darah tinggi. Secara khusus EPA dapat menurunkan jumlah fibrinogen sehingga kekentalan darah menurun dan membuat aliran darah lebih baik. EPA juga dapat menurunkan kadar lemak dalam darah sehingga mengkonsumsi ekstrak teripang dapat mencegah penyakit arterosklerosis, sedangkan DHA berperan utama dalam perkembangan sistem syaraf dan dapat meningkatkan kemampuan memori dan daya pembelajaran, serta berfungsi sebagai anti alergi.

Teripang juga mengandung mukopolisakarida berupa glikosamin sulfat dan kondroitin sulfat. Glukosamin adalah suatu unsur pokok dari glikoprotein, proteoglikan, dan glikoaminoglikan yang berperan dalam sintesis proteoglikan. Glukosamin dapat menurunkan proses proteolitik kartilago dan membentuk kembali glukaminoglikan yang rusak. Di samping itu, senyawa ini dapat mencegah terjadinya penggumpalan dan pembekuan darah. Pada konsentrasi 5 µg/ml, glukoaminoglikan mampu menyembuhkan stroke isemik otak dan penyakit jantung isemik. Sementara kondroitin sulfat adalah suatu derivat komponen tulang rawan. Kondroitin sulfat baik secara oral maupun injeksi dapat membantu meningkatkan gerakan sendi dan mengurangi rasa nyeri pada sendi. Kombinasi penggunaan glukosamin sulfat dan kondroitin sulfat menunjukkan efek yang potensial dalam merangsang produksi proteoglikan dan asam hialuronat serta menghambat enzim proteolitik yang dapat merusak tulang rawan. Maka oleh karena itu, ekstrak teripang dapat menyembuhkan radang sendi, rematik, dan osteoarthritis.

3. Peran bahan kimia pada ektrak teripang dan manfaatnya?

            Penyakit infeksi pada manusia yang disebabkan oleh jamur Candida albicans. Pengobatan terhadap Candida albicans secara kimia dapat menimbulkan resistensi dan efek samping. Candida adalah flora normal pada saluran pencernaan, selaput mukosa, saluran pernafasan, vagina, uretra, kulit, dan di bawah kuku. C. albicans dapat menjadi patogen dan menyebabkan infeksi seperti septikemia, endokarditis, atau meningitis. Pengobatan terhadap C. albicans dapat menggunakan antijamur berbahan kimia. Namun dapat menimbulkan resistensi dan efek samping.

            Antijamur alami dapat ditemukan dalam tubuh teripang. Ekstrak teripang mengandung senyawa triterpen glikosida baru, bersama dengan 2 glikosida yang telah dikenal yaitu holothurin A dan holohurin B telah diidentifikasi dari fraksi n butanol. Senyawa holothurin B menunjukkan aktivitas antijamur yang lebih baik melawan 20 isolat jamur secara in vitro. Holothuria scabra secara spesifik mengandung sapogenin steroid, triterpen glikosida, dan holostan yang berfungsi sebagai antibakteri, antimikroba, dan antijamur (Bordbar et al., 2011).

Senyawa yang terkandung dan diduga berperan sebagai antijamur dalam H. scabra adalah alkaloid, saponin dan triterpen seperti yang ada pada ekstrak metanol. Ekstrak etil asetat hanya mengandung saponin dan triterpen sehingga aktivitas antijamurnya lebih kecil daripada ekstrak metanol. Kemampuan saponin sebagai antijamur diperkuat oleh Cowan (1999) yang menyatakan bahwa saponin berkontribusi sebagai antijamur dengan mekanisme menurunkan tegangan permukaan membran sterol dari dinding sel C. albicans, sehingga permeabilitasnya meningkat. Hardiningtyas (2009) menambahkan, saponin merupakan golongan senyawa yang dapat menghambat atau membunuh mikroba dengan cara berinteraksi dengan membran sterol. Efek utama saponin terhadap bakteri adalah adanya pelepasan protein dan enzim dari dalam sel.

Saponin dihasilkan sebagai salah satu bentuk mekanisme pertahanan diri secara kimiawi bagi teripang di alam. Selain diduga sebagai pertahanan diri dari predator, juga diyakini memiliki efek biologis, termasuk diantaranya sebagai anti jamur, sitotoksik melawan sel tumor, hemolisis, aktivitas kekebalan tubuh, dan anti kanker. Adanya satu atau lebih senyawa bioaktif dalam tubuh teripang juga memungkinkan kemampuan antijamur semakin besar. menambahkan, interaksi dari senyawa saponin dan alkaloid diduga menimbulkan efek antijamur, walaupun mekanismenya masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Riguera (1997) dalam Nurjanah.

Menurut Gholib (2009), alkaloid merupakan senyawa yang bersifat antimikroba, yaitu menghambat esterase dan DNA serta RNA polymerase, menghambat respirasi sel. Alkaloid merupakan aktivator kuat bagi sel imun yang menghancurkan bakteri, virus, jamur, dan sel kanker. teripang terbukti mampu menjadi agen antijamur, antibakteri, dan sitotoksik. Senyawa antijamur alami dari teripang dan hewan laut lainnya menjadi salah satu sumber obat antijamur baru yang dapat dikembangkan karena potensinya yang besar.

 

KESIMPULAN

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa teripang yang selama ini, mempunyai potensi sebagai suplemen dan obat karena kandungan nutrisinya yang lengkap sehingga dapat digunakan sebagai suplemen untuk mencegah berbagai macam penyakit. Melihat potensi pemanfaatannya yang cukup besar serta ketersediaan sumberdaya teripang dengan keragaman jenis spesies. Seharusnya industri farmasi untuk mengolah teripang menjadi makanan suplemen berada di Indonesia. Hal ini juga didukung dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan kesehatan sehingga prospek pasar ekstrak teripang sangat menjanjikan. Serta teripang emas memiliki kandungan kolagen dan protein yang dapat menetralisir keasaman pada lambung agar tidak terjadi kanker lambung (maag kronis). Disamping itu, teripang merupakan sumber bioaktif yang berkhasiat sebagai antibakteri, antifungi, antikanker, antihipertensi, antithrombotik, antinosiseptif dan anti-inflamasi. Dengan metanol adalah pelarut terbaik untuk mengisolasi senyawa antijamur dari Holothuria scabra yaitu senyawa alkaloid, saponin, steroid, dan triterpen. Penggunaan konsentrasi terbaik ekstrak H. scabra untuk uji aktivitas antijamur adalah 7 mg/ml dalam pelarut metanol. Maka manfatkanlah teripang dengan baik agar manfaat dan kegunaannya dapat dimanfaatkan dan digunakan dengan baik juga.

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2004. http://gamatemas.dumei.com

Dahuri R. 2005. Menggali Bahan Baku Obat di dalam Laut. Departemen Perikanan dan Kelautan.

Darsono, Pepto. 1995. Kandungan Substansi Bioaktif pada Teripang. Jurnal Oseana Volume XVIII Nomor 3: 87-94. http://oseanografi.lipi.go.id/dokumen/oseana_xviii(3)87-94.pdf

Dharmananda S. 2003. Sea cucumber: food and medicine. Institute for Traditional Medicine. Oregon: Portland.

Ibrahim J. 2003. Gamat emas sasar perolehan RM 10 juta. http://sas7882.org/Documents/AlumniPress/SyidAyob-UtusanMalaysia 131003.pdf

Kaswandi MA, Lian HH, Nurzakiah S, Ridzwan BH, Ujang S, Samsudin MW, Jasnizat S, Ali AM. 2000. Crystal saponin from three sea cucumber genus and their potential as antibacterial agents. 9 th Scientific Conference Electron Microscopic Society, 12-14 Nov 2000, Kota Bharu, Kelantan. 273-276.

Kustiariyah. 2006. Isolasi, karakterisasi dan uji aktivitas biologis senyawa steroid dari teripang sebagai aprodisiaka alami [tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, IPB. https://journal.ipb.ac.id/index.php/jphpi/article/view/963

Martoyo, J. (1996). Budi daya teripang. Jakarta, dari Niaga Swadaya.

Pranoto, E. N., Ma'ruf, W. F., & Pringgenies, D. (2012). Kajian aktivitas bioaktif ekstrak teripang pasir (Holothuria scabra) terhadap jamur Candida albicans. Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan1(2), 1-8. https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jpbhp/article/view/651

Sahir, A. I. N. Pemanfaatan teripang emas untuk mencegah dan menangani penyakit maag dan tukak lambung. https://www.academia.edu/39102883/PEMANFAATAN_TERIPANG_EMAS_UNTUK_MENCEGAH_DAN_MENANGANI_PENYAKIT_MAAG_DAN_TUKAK_LAMBUNG

Sendih, S. (2006). Keajaiban Teripang; Penyembuh Mujarab, depok dari Laut. AgroMedia. https://books.google.co.id/books?hl=id&lr=&id=L7j-dQOPZO8C&oi=fnd&pg=PT10&dq=Keajaiban+Teripang%3B+Penyembuh+Mujarab&ots=QUzM7DFgTP&sig=CISSsgBletfzy1CbslRDEcim16c&redir_esc=y#v=onepage&q=Keajaiban%20Teripang%3B%20Penyembuh%20Mujarab&f=false

Suryaningrum, T. D. (2008). Teripang: potensinya sebagai bahan nutraceutical dan teknologi pengolahannya. Squalen3(2), 63-69. https://www.bbp4b.litbang.kkp.go.id/squalen-bulletin/index.php/squalen/article/view/160