.

Tampilkan postingan dengan label @proyekD02. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @proyekD02. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Februari 2018

DAMPAK HUJAN ASAM BAGI LINGKUNGAN


Oleh : Dedy Suryana (@f21-Dedy)

Abstrak
Hujan asam ialah turunnya asam dalam bentuk hujan. Hal ini terjadi apabila asam di udara larut dalam butirbutir air di awan. Sampai saat ini, kendaraan bermotor merupakan salah satu penyebab pengotoran udara dengan persentase terbesar, disamping pabrik. Sehingga sulit bagi kita sekarang ini, berharap bisa menghirup udara bersih. Gas buang kendaraan bermotor dan pabrik akan memberikan polutan seperti Sox, Nox, Co, Pb dan partikulat, serta pengaruh lain yaitu kebisingan. Gas limbah Sox dan Nox di athmosfir mengalami reaksi kimia menjadi asam sulfat dan asam nitrat. Asam tersebut dapat turun kebumi sebagai hujan dan disebut Hujan Asam. Jakarta, Singapura, Kuala lumpur, Bangkok dan Manila, misalnya, adalah kota-kota yang potensial mendapatkan hujan asam. Potensi ini bersumber pada perkembangan industri dan transportasi yang tinggi serta diperkuat oleh kondisi iklim, yaitu angin yang lemah, sehingga zat pencemar tidak disebar dan diencerkan. Daerah yang mempunyai banyak industri atau / dan pusat pembangkit listrik perlulah diwaspadai, misalnya Banten bagian utara, Jabodetabek, Gresik, Cilacap dan Aceh ( Soemarwoto, 1992 ).
Kata Kunci : Hujan Asam, Lingkungan

Isi
HUJAN ASAM Istilah hujan asam pertama kali digunakan oleh Robert A. Smith ( 1872 ) dalam Kupchella ( 1989 ) yang menguraikan tentang keadaan di Manchester, sebuah daerah industri dibagian utara Inggris. Hujan asam ialah turunnya asam dalam bentuk hujan. Hal ini terjadi apabila asam di udara larut dalam butirbutir air di awan. Jika hujan turun dari awan itu, air hujan bersifat asam. Asam itu terhujankan atau rainout. Hujan asam dapat pula terjadi karena hujan turun melalui udara yang mengandung asam sehingga asam itu terlarut kedalam air hujan dan turun kebumi.
DAMPAK HUJAN
Hujan asam berdampak terhadap kesehatan, hutan, pertanian, ekosistem akuatik dan material.
a.       Kesehatan
Hujan asam mempengaruhi kesehatan melalui tiga cara, yaitu pertama efek jangka pendek karena menghirup udara yang tercemar berat; efek jangka panjang karena menghirup udara yang tercemar sedang atau ringan; efek tidak langsung karena terexposed pada logam berat seperti alumunium dan logam berat lain yang terbebaskan dari zarah tanah pada pH yang rendah, akumulasi logam berat melalui rantai makanan dan terlarutnya logam berat dari pipa Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II (1) 148 air yang terbuat dari timbal atau tembaga.
b.      Hutan
Dampak terhadap hutan dan pertanian sebagian karena pH tanah turun.
Kerusakan hutan oleh hujan asam gejalanya berbeda dengan gejala kerusakan oleh kekeringan dan serangan hama atau penyakit. Kerusakan dan kematian hutan disebut Forest Dieback atau Waldsterben. Kematian hutan mengakibatkan naiknya resiko terjadinya tanah longsor dan juga kelonggaran salju pada musim dingin, yang sangat berbahaya bagi penduduk dan wisatawan.
c.       Pertanian
Hasil padi dapat turun sampai 30% karena hujan asam. Karena besarnya laju pertumbuhan industri dan transpor, ada kemungkinan telah terjadi kenaikan kadar SO2 sampai pada kadar yang menyebabkan keracunan kronik dan penurunan hasil pertanian tanpa Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II (1) 149 adanya gejala morfologik dan kasat mata pada tanaman.
d.       Ekosistem akuatik
Hujan asam yang berkepanjangan akan mempengruhi pH air ekosistem akuatik (Kupchella, 1989). Karena kehidupan organisme hidup akuatik sangat dipengaruhi oleh pH air tempat hidupnya, hujan asam mempunyai pengaruh yang besar terhadap biologi ekosistem akuatik.
Proses terjadinya kerusakan dapat dikelompokan menjadi enam, yaitu (1) stres umum, (2) penurunan pH tanah- keracunan aluminium, (3) peracunan oleh SO2, (4) kekurangan magnesium, (5) kelebihan hara atau nitrogen dan (6) zat organik pengatur tumbuh.
  •     Stres Umum

Pencemaran udara telah menghambat fotosintesis dan immobilisasi hasil fotosintesis dengan pembentukan metabolit sekunder yang potensial beracun. Sebagai akibatnya akar kekurangan energi, karena hasil fotosintesis tertahan di tajuk.
  •     Penurunan pH tanah-Keracunan Aluminium

Penurunan pH menyebabkan terlepasnya alumunium dari zarah tanah dan menimbulkan keracunan. Akar yang halus mengalami nekrosis sehingga penyerapan hara dan air terhambat. Hal ini menyebabkan pohon kekurangan air dan hara serta akhirnya mati.
  •       Peracunan oleh Gas SO2

Gas ini menyebabkan daun menjadi kuning dan coklat.
  •        Kekurangan magnesium

Pada analisis daun menunjukkan kadar magnesium yang rendah. Magnesium adalah sebuah unsur hara yang esensial sehingga kadar yang rendah dalam daun itu menunjukkan, pohon menderita kekurangan magnesium.
  •       Kelebihan nitrogen

Kelebihan nitrogen memacu pertumbuhan yang berlebihan sehingga pohon membutuhkan lebih banyak unsur hara yang lain dan karena itu dapat menyebabkan kekurangan unsur hara tertentu.
  •        Zat organik pengatur tumbuh

Contoh zat ini ialah etilen dan anilin. Pencemaran ini berasal dari industri yang memproduksi berjenis pestisida, herbisida dan zat pengatur tumbuh.


Daftar Pustaka
Hidayat, Atep Afia dan M. Kholil. 2017. Kimia, Industri dan Teknologi Hijau.Jakarta: Pantona Media.
Sumarwoto, Otto, 1992, Indonesia dalam Kancah Isu Lingkungan Global, Jakarta, PT. Gramedia Pustaka Utama.

Minyak Mentah

Dibuat oleh: Fernando Andreas @F15-Fernando


Pada pertambangan minyak bumi, minyak mentah yang dihasilkan masih bercampur dengan garam-garam anorganik dan gas yang bersifat asam. Campuran material tersebut jika bercampur dengan air akan menjadi media yang sangat korosif terhadap pipa baja karbon. Oleh karena itu dibutuhkan penanggulangan untuk meminimalisir terjadinya korosi, yaitu dengan menggunakan inhibitor organik yang tersedia di alam yang lebih ramah lingkungan. Dalam penelitian ini digunakan ekstrak bawang putih (Allium sativum L.) sebagai alternatif inhibitor terhadap korosi baja karbon API-5L dalam media NaCl 1% dengan penambahan buffer asetat pH 4 jenuh CO2. Metode yang digunakan untuk menguji aktifitas inhibisi ekstrak bawang putih adalah EIS (Electrochemical Impedance Spectroscopy) dan polarisasi Tafel. Berdasarkan hasil skrining fitokimia, bawang putih mengandung sejumlah senyawa organik seperti alkaloid dan flavonoid serta senyawa aromatik lain yang mengandung molekul nitrogen, oksigen, asam amino, sulfur, atau ikatan rangkap yang memungkinkan menjadikan bawang putih sebagai alternatif inhibitor. Dari hasil pengukuran diketahui bahwa efisiensi inhibisi maksimum terjadi pada konsentrasi inhibitor maksimum, 250 ppm, dengan %EI mencapai 91,87% pada suhu kamar. Pada suhu lebih tinggi 55 oC, efisiensi inhibisi juga meningkat hingga 97,81%, pada konsentrasi ektrak bawang putih yang sama yakni 250 ppm. Laju korosi tanpa inhibitor berkisar pada rentang 1,447-9,105 mm/y, sedangkan laju korosi dengan adanya inhibitor berkisar pada rentang 0,433-0,489 mm/y. Interaksi antara permukaan logam dengan molekul inhibitor adalah fisiosorpsi dengan nilai ΔGads sebesar -18,818 kJ/mol mengikuti isotherm Freundlich. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ekstrak bawang putih dapat digunakan sebagai alternatif inhibitor korosi.

Kata kunci: Minyak Mentah

Minyak Mentah
Minyak bumi dan gas alam adalah sumber daya alam yang bernilai ekonomis dan memberikan kontribusi yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Teknologi canggih atau modern mempunyai peranan yang sangat penting dalam perkembangan suatu industri. Setiap industri tidak akan menghasilkan suatu produk yang maksimal tanpa didukung oleh peralatan memadai. Meskipun setiap industri telah berusaha untuk menghasilkan produk yang baik, tetap saja mengalami kendala dalam mengoperasikan suatu mesin produksi, hal ini dapat terjadi karena faktor alam, faktor peralatan yang digunakan, maupun faktor manusia itu sendiri. LNG merupakan alternatif energi yang mempunyai prospek cukup baik dewasa ini, karena hasil pembakarannya memiliki tingkat polusi yang rendah, efisiensi pembakarannya cukup tinggi sehingga mudah dikontrol (Arun, PT., 2001). Ladang gas dan minyak ditemukan di Lhokseumawe, ibu kota Aceh Utara sekitar tahun 1970-an. Kemudian, Acehpun mulai didatangi para investor luar negeri yang tertarik pada sumber daya alamnya yang hebat. Sejak saat itu, gas alam cair atau Liquefied Natural Gas (LNG) yang diolah di kilang PT. ARUN Natural Gas Liquefaction (NGL) Co, yang berasal dari instalasi PT. Exxon Mobil Oil.

Daftar Pustaka

Hidayat, Atep Afia dan M. kholil 2017, Buku Kimia Industri dan Teknologi Hijau, Pantona media, Jakarta, 2017.
http://haska.org/2012/08/02/komposisi-minyak- bumi-bag-ii/
Palembang: Teknik KimiaPoliteknik Negeri Sriwijayahttp://www.fourseasonnews.com/2012/09/komposisi-minyak-bumi.html(diakses tanggal11 September 2013)



Pembakaran Bahan Bakar Fosil Yang Berbuah Udara Tidak Sehat


 


Oleh Andreas Yoga Pratama, @F-32Andreas, @ProyekD02

Abstrak
Udara merupakan campuran gas yang terdapat pada permukaan bumi sebagai habitat manusia dan makhluk hidup lainnya. Keberadaan udara yang ada di sekeliling bumi ini sangat penting bagi makhluk hidup. Tanpa adanya udara, kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya tidak akan pernah bisa.

Kata Kunci : Udara, Pencemaran Udara, Bahan Bakar Fosil

Pembahasan
Udara meliputi tiga komponen utama, yaitu udara kering, uap air dan aerosol. Kandungan udara kering meliputi 78,09 % Nitrogen, 20,94 % Oksigen, 0,93 % Argon, 0,032% Karbon Dioksida, 0,003 % gas-gas lain. Berkembangnya ilmu pengetahuan, teknologi, sosial, dan ekonomi mengakibatkan tingkat aktivitas, produktivitas, dan mobilitas manusia semangkin meningkat. Salah satunya adalah kegiatan industri yang berkembang semakin pesat. Dampak yang diakibatkan dari kegiatan tersebut adalah tercemarnya udara di sekitar kita. Menurut Gomugomuna (2015), pencemaran udara merupakan masalah yang komplek dan harus segera ditangani dikarenakan udara adalah komponen dasar dan berpengaruh langsung terhadap kesehatan manusia, ekosistem lingkungan, tumbuhan maupun hewan. Menurut Undang-undang Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup No. 4 tahun 1982, pencemaran lingkungan atau polusi adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan, atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya.
Pencemaran udara yang paling utama dapat disebabkan oleh 2 faktor, yaitu :
1. Faktor Internal (Alamiah)
- debu yang beterbangan akibat tiupan angin
- abu dan gas vulkanik dari letusan gunung berapi
- proses dekomposisi bahan organik
2. Faktor Eksternal (Manusia)
- pembakaran bahan bakar fosil
- berbagai debu dan serbuk dari kegiatan industri
- penggunaan bahan kimia yang diaplikasikan ke bidang pertanian
- limbah pabrik
Pencemaran udara di sekitar tidak bisa kita hindarkan, karena ini berkaitan dengan teknologi, perkembangan zaman dan kebutuhan dalam kehidupan. Sebagai contoh pada penggunaan bahan bakar fosil yang sangat menguntungkan bagi manusia. Menurut Mandala (2016), penggunaan bahan bakar fosil telah mampu menggerakkan pengembangan industri serta menggantikan tenaga air, kincir angin serta pembakaran kayu. Pada saat menghasilkan listrik, energi dari hasil pembakaran bahan bakar fosil sering digunakan sebagai penggerak turbin.
Pembakaran bahan bakar fosil yang dilakukan oleh manusia adalah sumber utama dari salah satu gas rumah kaca, yaitu karbon dioksida yang dipercaya penyebab terjadinya pemanasan global.
Bahan bakar fosil atau yang biasa disebut juga dengan bahan bakar mineral merupakan sumber daya alam yang mengandung hidrokarbon, misalnya seperti minyak bumi, gas alam dan batu bara.
Minyak Bumi
Bahan bakar fosil yang berasal dari minyak bumi merupakan minyak alami yang ditemukan di bawah tanah, bahan bakar fosil yang satu ini sangatlah penting. Hal tersebut dikarenakan tidak banyak digunakan dalam keadaan asli namun diolah menjadi bahan bakar seperti bensin, minyak tanah, parafin dan lain-lain.
Minyak merupakan salah satu bahan bakar fosil yang paling umum digunakan. Karena minyak serta produk-produknya sangat bermanfaat bagi kehidupan saat ini.
Gas Alam
Bahan bakar fosil lainnya yang banyak digunakan adalah gas alam. Gas alam biasanya bisa ditemukan di bawah tanah bersama minyak bumi dan batu bara. Gas alam telah menjadi sumber gas dalam negeri oleh banyak orang selama bertahun-tahun untuk memanaskan rumah mereka. Bahan bakar ini menghasilkan polusi yang relatif sedikit jika dibandingkan dengan bahan bakar lainnya.
Batubara
Bahan bakar fosil yang satu ini terbentuk dari pengendapan vegetatif yang terjadi selama ribuan tahun. Bentuk fosil dari tanaman yang membusuk serta vegetasi lainnya telah membentuk batu bara. Di Amerika Serikat, batubara digunakan untuk menghasilkan lebih dari 50 persen listrik. Pembangkit listrik dengan menggunakan batubara memerlukan cadangan besar batubara agar menghasilkan listrik secara konstan.
Bahan bakar fosil atau bahan bakar mineral yang telah disebutkan di atas sudah menjadi sumber energi untuk hal-hal penting di dunia ini. Bahan bakar fosil tersebut berguna dan bermanfaat untuk berbagai hal misalnya memasak, transportasi, dan hal-hal lainnya. Namun, bahan bakar fosil tersebut tidak dapat kita perbarui dan termasuk ke dalam sumber energi yang tidak terbarukan.
Oleh karena itu, persedian bahan bakar fosil ini akan habis karena terbatas. Dengan bertambahnya jumlah populasi manusia dan peningkatan konsumsi rata-rata harian, persediaan bahan bakar fosil cepat atau lambah pasti akan habis.
Rata-rata setiap tahunnya jutaan ton batu bara dan galon minyak digunakan untuk mengekstrak energi dari bahan bakar fosil. Proses ekstraksi dilakukan dengan pembakaran bahan bakar fosil ini.
Karena pembakaran bahan bakar itulah akan mengakibatkan pencemaran lingkungan. Konstituen dari bahan bakar fosil adalah sulfur dan nitrogen. Bahan bakar fosil tersebut diproduksi dalam bentuk oksida dan dapat menyebabkan polusi yang tidak baik untuk kesehatan. Hal ini yang menyebabkan pemanasan global terjadi di seluruh dunia.
Efek negatif lain dari hal ini adalah ketika batu bara digali maka hal ini dapat mempengaruhi ekosistem dari lingkungan sekitarnya dan dapat menimbulkan bahaya yang serius bagi kesehatan para pekerja tambang.

Kesimpulan
Udara merupakan campuran gas yang terdapat pada permukaan bumi sebagai habitat manusia dan makhluk hidup lainnya. Keberadaan udara yang ada di sekeliling bumi ini sangat penting bagi makhluk hidup. Menurut Undang-undang Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup No. 4 tahun 1982, pencemaran lingkungan atau polusi adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan, atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya. Pencemaran udara yang paling utama dapat disebabkan oleh 2 faktor, yaitu Faktor Internal (Alamiah) dan Faktor Eksternal (Manusia). Pencemaran udara di sekitar tidak bisa kita hindarkan, karena ini berkaitan dengan teknologi, perkembangan zaman dan kebutuhan dalam kehidupan. Sebagai contoh pada penggunaan bahan bakar fosil yang sangat menguntungkan bagi manusia. Bahan bakar fosil atau yang biasa disebut juga dengan bahan bakar mineral merupakan sumber daya alam yang mengandung hidrokarbon, misalnya seperti minyak bumi, gas alam dan batu bara.

Daftar Pustaka
-       Hidayat, Atep Afia dan M. Kholil. 2017. Kimia Industri dan Teknologi Hijau. Patona Media : Jakarta
-       Gomugomuna. 2015. Sumber Pencemaran Udara. https://envair.wordpress.com/2015/02/23/sumber-pencemaran-udara/ (diunduh tanggal 1 Februari 2018)

-  Mandala. 2016. Pengertian dan Contoh Bahan Bakar Fosil. https://satujam.com/pengertian-dan-contoh-bahan-bakar-fosil/ (diunduh tanggal 2 Februari 2018)

Pencemaran Udara dari alat Transportasi, oleh @F30-mohamad

Abstrak
Udara adalah faktor penting dalam kehidupan,udara merupakan campuran gas yang terdapat pada permukaan bumi sebagai habitat manusia dan makhluk hidup lainnya namun, di era modern, sejalan dengan perkembangan pembangunan fisik kota dan pusat industri, serta berkembangnya transportasi, telah menyebabkan kualitas udara mengalami perubahan. Dari yang mulanya segar, kini, kering dan kotor akibat dari terjadinya pencemaran udara karena kendaraan transportasi. Lewat penggunaan metode kepustakaan, maka, tampak dengan jelas ada beberapa hal yang harus mendapatkan perhatian yang serius, di antaranya; 1. Pemberian izin bagi angkutan umum kecil lebih dibatasi, sementara, kendaraan angkutan massal, diperbanyak. 2. Kontrol jumlah kendaraan pribadi. 3. Pembatasan usia kendaraan . 4. Pembangunan MRT, dan pembuatan Electronic Road Pricing. 5. Pengaturan lalu lintas, rambu-rambu, dan tindakan tegas terhadap pelanggaran berkendaraan. 6. Uji emisi harus dilakukan secara berkala pada kendaraan umum maupun pribadi. 7. Penanaman pohon berdaun lebar di pinggir jalan yang lalu lintasnya padat serta di sudut-sudut kota.
Kata kunci: pencemaran udara, emisi gas buang, kehidupan, lingkungan
ISI
A. Proses Terjadinya Emisi Gas Buang oleh Kendaraan Transportasi
Tidak ada yang bisa menepis, betapa, emisi gas buang, berupa asap knalpot, adalah akibat terjadinya proses pembakaran yang tidak sempurna, dan mengandung timbal/timah hitam (Pb), suspended particulate matter (SPM), oksida nitrogen (NOx), oksida sulfur (SO2), hidrokarbon (HC), karbon monoksida (CO), dan oksida fotokimia (Ox)” (BPLH DKI Jakarta, 2013).
Selanjutnya, emisi gas buang yang paling signifikan dari kendaraan bermotor ke atmosfer berdasarkan massa, adalah gas karbondioksida (CO2), dan uap air (H2O) yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar yang berlangsung sempurna yang dapat dicapai dengan tersedianya suplai udara yang berlebih. Namun demikian, kondisi pembakaran yang sempurna dalam mesin kendaraan, jarang sekali terjadi.
B. Dampak Terjadinya Pencemaran Udara Terhadap Kehidupan dan Lingkungan
Sebagaimana kita ketahui bersama, pencemaran udara atau perubahan salah satu komposisi udara dari keadaan normal, mengakibatkan terjadinya perubahan suhu dalam kehidupan manusia. Pembangunan transportasi yang terus dikembangkan menyusul dengan permintaan pasar, ternyata, telah mendorong terjadinya bencana pembangunan. Saat ini, kita semua telah mengetahui bahwa pengaruh polusi udara juga dapat menyebabkan pemanasan efek rumah kaca (ERK) bakal menimbulkan pemanasan global atau (global warming) (Sudrajad, 2006).
Tentunya, hal ini harus merupakan sebuah peringatan kepada para pemilik kebijakan industri dan kebijakan transportasi agar melihat kepada masalah udara di sekitarnya. Proses pembangunan yang ada di Indonesia dalam konteks transportasi, ternyata, telah menimbulkan bencana pembangunan yang pada akhirnya bermuara menjadi permasalahan ekologis. Akibatnya, udara sebagai salah satunya commons yang open access menjadi berbahaya bagi kesehatan manusia dan alam sekitarnya.
C. Kondisi Existing Pencemaran Udara Akibat Kendaraan Transportasi
Dalam melihat kasus pencemaran udara akibat kendaraan bermotor sebagai suatu dampak, adalah bukan satu-satunya penyebab yang disalahkan. Akan tetapi, penggunaannya yang tidak teratur (disorder) adalah yang dapat menimbulkan ”abuse” bagi lingkungan kita, terutama udara. Singgungan antara transportasi dan lingkungan juga dapat diungkapkan lewat masalah perilaku manusia terhadap lingkungannya (Sudrajad, 2006). Hal tersebut bertolakbelakang, mengingat, transportasi yang seharusnya merupakan salah satu perangkat teknologi untuk memudahkan manusia, malahan menimbulkan dampak yang berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungannya.
Selanjutnya, secara langsung, kandungan-kandungan timah hitam dan SPM dapat mengganggu kesehatan kita, dan/atau menimbulkan penyakit-penyakit yang mematikan. Lalu apakah produksi dari transportasi sebagai alasan pembangunan teknologi dapat dijadikan alasan bagi para pembuat keputusan. Kenyataan inilah yang sampai sekarang selalu menjadi ajang perdebatan, terutama, dalam memahami bagaimana mengartikan sebuah lingkungan dan teknologi agar dapat berdampingan tanpa adanya bahaya serta transportasi yang tidak teratur (disorder).
Sebagai contoh, di Jakarta, sumber pencemaran udara yang utama adalah kendaraan bermotor dan industri. Dalam hal ini, tehadap beban emisi total, kendaraan bermotor menyumbang sekitar 71% pencemar oksida nitrogen (NOX), 15% pencemar oksida sulfur (SOx), dan 70% pencemar partikulat (PM10). Tampaknya, emisi gas dan kandungannya menjadi beban moral bagi pengguna transportasi dan industri transportasi (BPLH DKI Jakarta, 2013).
Permasalahan seperti ini telah menjadi fenomena pembangunan. Walau pembangunan transportasi yang ideal amat diharapkan oleh masyarakat, namun, dari sudut pandang ekologi, dampak sosial transportasi dengan lingkungan telah menimbulkan depresi terhadap masyarakat. Secara lebih tegas dapat dikatakan, udara yang tercemar akibat transportasi telah menimbulkan tingkat stress pada manusia yang mengalami gangguan tersebut.
Dari perspektif ekologi, perilaku manusia yang beradaptasi dengan proses akan menjadi jenuh apabila adaptasi tersebut dilakukan dengan terus menerus atau sering, sehingga, orang yang dalam kehidupan sehari-harinya mengalami gangguan udara dari transportasi dan mengalami kejenuhan dapat menimbulkan stress dan depresi (kajian ini terjadi pada behaviour-nya).
Karena apa yang adaptif dan bukan adaptif, bagi mereka, adalah cenderung pada perubahan perilaku kolektif dari masyarakatnya. Hal ini dapat ditunjukkan, tingkat stress dan depresi penduduk di kota-kota besar seperti Jakarta tergolong tinggi. Manusia sebagai faktor yang menentukan keberlanjutannya lingkungan yang ada di sekitarnya, menjadi tidak berdaya, karena, pengrusakan lingkungan terjadi dan dilakukan oleh segelintir orang yang tidak bertanggung-jawab.
Oleh sebab itu, kejadian-kejadian seperti pencemaran udara pun tidak terhindarkan. Bukan hanya itu, ternyata, permasalahan ekologi yang terjadi akibat transportasi ini juga menjadi permasalahan psikologis yang ada pada masyarakat urban. Semakin tinggi tingkat pencemaran udara, maka, kecenderungan tingkat stress pun akan semakin tinggi pula.
Kebijakan transportasi yang berhubungan dengan lingkungan atau Transportation Environment, adalah merupakan suatu penyebab munculnya dampak sosial. Artinya, dampak sosial yang dimaksud adalah transportasi yang tidak teratur (disorder), yang kemudian mengganggu kehidupan manusia.
e. Kesamaan waktu aliran lalu lintas.
f. Jenis, umur dan karakteristik kendaraan bermotor.
g. Faktor perawatan kendaraan.
h. Jenis bahan bakar yang digunakan.
i. Jenis permukaan jalan.
j. Siklus dan pola mengemudi (driving pattern).
Di samping faktor-faktor yang menentukan intensitas emisi gas buang sumber pencemaran udara tersebut, faktor penting lainnya adalah; faktor potensi dispersi atmosfer daerah perkotaan akan sangat tergantung kepada kondisi dan perilaku meteorologi. Padahal, sektor transportasi mempunyai ketergantungan yang tinggi terhadap sumber energi yang berdampak terhadap kehidupan dan lingkungan.
Hampir semua produk energi konvensional dan rancangan motor bakar yang digunakan dalam sektor transportasi masih menyebabkan sumber emisi pencemaran udara. Penggunaan BBM (Bahan Bakar Minyak) bensin dalam motor bakar akan selalu mengeluarkan senyawa-senyawa seperti CO (karbon monoksida), THC (total hidro karbon), TSP (debu), NOx (oksida-oksida nitrogen) dan SOx (oksida-oksida sulfur) (BPLH DKI Jakarta, 2013).
Premium yang dibubuhi TEL, akan mengeluarkan timbal. Solar dalam motor disel akan mengeluarkan beberapa senyawa tambahan di samping senyawa tersebut di atas, yang terutama adalah fraksi-fraksi organik seperti aldehida, PAH (Poli Alifatik Hidrokarbon), yang mempunyai dampak kesehatan yang lebih besar (karsinogenik), dibanding dengan senyawa-senyawa lainnya.
Seperti telah disebutkan sebelumnya, penggunaan bahan bakar untuk kendaraan bermotor dapat mengemisikan zat-zat pencemar seperti CO, NOx, SOx, debu, hidrokarbon juga timbal. Udara yang tercemar oleh zat-zat tersebut dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang berbeda tingkatan dan jenisnya, tergantung dari macam, ukuran dan komposisi kimiawinya.
Gangguan tersebut terutama terjadi pada fungsi faal dari organ tubuh seperti paru-paru dan pembuluh darah, atau menyebabkan iritasi pada mata dan kulit. Biasanya, pencemaran udara karena partikel debu dapat menyebabkan penyakit pernapasan kronis seperti bronchitis kronis, emfiesma paru, asma bronchial dan bahkan kanker paru-paru.
Kadar timbal yang tinggi di udara juga dapat mengganggu pembentukan sel darah merah. Gejala keracunan dini mulai ditunjukkan dengan terganggunya fungsi enzim untuk pembentukan sel darah merah, yang pada akhirnya dapat menyebabkan gangguan kesehatan lainnya; seperti anemia, kerusakan ginjal dan lain-lain, sedang keracunan Pb bersifat akumulatif.
Keracunan gas CO timbul sebagai akibat terbentuknya karboksihemoglobin (COHb) dalam darah. Afinitas CO yang lebih besar dibanding dengan oksigen (O2) terhadap Hb menyebabkan fungsi Hb untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh menjadi terganggu (BPLH DKI Jakarta, 2013). Selaras dengan itu, berkurangnya penyediaan oksigen ke seluruh tubuh, apabila tidak segera mendapat udara segar, akan membuat sesak napas dan dapat menyebabkan kematian. Sementara, bahan pencemar udara seperti NOx, SOx, dan H2S dapat merangsang pernapasan yang mengakibatkan iritasi dan peradangan.
D. Upaya untuk Mengurangi Dampak Polusi/Pencemaran Udara
Upaya pengendalian pencemaran udara akibat kendaraan bermotor yang mencakup upaya-upaya pengendalian baik langsung maupun tidak langsung,
Pada saat ini, transportasi selalu dijadikan alasan utama bagi pencemaran kota. Kebanyakan orang beranggapan, pencemaran kota yang merusak udara di sekitar kita adalah merupakan suatu akibat dari kelalaian pemerintah dan produsen yang mendesain kendaraan bermotornya tidak sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan. Akibatnya, daerah perkotaan dianggap merupakan salah satu sumber utama pencemaran udara, dan memegang peranan yang sangat besar dalam masalah pencemaran udara.
Pada umumnya, dari berbagai sektor yang potensial dalam mencemari udara, maka, sektor transportasi memegang peran yang sangat besar dibanding dengan sektor yang lainnya. Di kota-kota besar, kontribusi gas buang kendaraan bermotor sebagai sumber polusi udara mencapai 60-70%, sementara, kontribusi gas buang dari cerobong asap industri hanya berkisar 10-15%, dan sisanya berasal dari sumber pembakaran lain; misalnya rumah tangga, pembakaran sampah, kebakaran hutan, dan lain-lain (BPLH DKI Jakarta, 2013).
Dari uraiaan di atas, maka, tampak dengan jelas beberapa faktor penting yang menyebabkan dominannya pengaruh sektor transportasi terhadap pencemaran udara perkotaan di Indonesia antara lain:
a. Perkembangan jumlah kendaraan yang cepat (eksponensial).
b. Tidak seimbangnya prasarana transportasi dengan jumlah kendaraan yang ada.
c. Pola lalu lintas perkotaan yang berorientasi memusat, akibat terpusatnya kegiatan-kegiatan perekonomian dan perkantoran.
d. Masalah turunan akibat pelaksanaan kebijakan pengembangan kota yang ada, misalnya daerah pemukiman penduduk yang semakin menjauhi pusat kota.
akan dapat menurunkan tingkat emisi dari kendaraan bermotor secara efektif antara lain (Sudrajad, 2006):
1. Mengurangi jumlah mobil lalu lalang. Misalnya dengan jalan kaki, naik sepeda, kendaraan umum, atau naik satu kendaraan pribadi bersama teman-teman (car pooling).
2. Selalu merawat mobil dengan saksama agar tidak boros bahan bakar dan asapnya tidak mengotori udara.
3. Meminimalkan pemakaian AC. Pilihlah AC non-CFC dan hemat energi.
4. Memilih bensin yang bebas timbal
(unleaded fuel).
KESIMPULAN
Solusi untuk mengatasi polusi udara kota, terutama ditujukan pada pembenahan sektor transportasi dengan tanpa mengabaikan sektor-sektor lain, maka, tidak ada kata lain kecuali harus mau belajar dari kota-kota besar lain di dunia yang telah berhasil menurunkan polusi udara dan angka kesakitan serta kematian yang diakibatkan karenanya. Di antaranya, dengan pembatasan izin bagi angkutan umum kecil, dengan memperbanyak kendaraan angkutan massal; seperti bus dan kereta api, diperbanyak. Kemudian, kontrol terhadap jumlah kendaraan pribadi juga dapat dilakukan seiring dengan perbaikan pada sejumlah angkutan umum.
Selanjutnya, pembatasan usia kendaraan terutama bagi angkutan umum juga perlu mendapatkan pertimbangan secara khusus, mengingat, semakin tua kendaraan, apalagi yang kurang terawat, sangat berpotensi besar sebagai penyumbang polutan udara. Selaras dengan itu, pembangunan MRT, dan Electronic Road Pricing (ERP), juga mendesak untuk direalisasikan. Di samping itu, pengaturan lalu lintas, rambu-rambu, dan tindakan tegas terhadap pelanggaran berkendara benar-benar dapat diwujudkan, begitu juga uji emisi yang dilakukan secara berkala, serta penanaman pohon berdaun lebar di pinggir jalan, terutama yang lalu lintasnya padat, dapat juga mengurangi polusi udara.
Daftar Pustaka
Hdayat, Atep Afia dan Muhammad Kholil ,2017  Kimia, Industri dan teknologi Hijau
Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Jakarta, 2013. Zat – zat Pencemar Udara.
Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Jakarta, 2013. Pengertian Pencemaran Udara.
Hassan, M. Iqbal. 2002. Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.
John W. Creswell. 2002. Researh Design Qualitative & Quantitative Approaches. New York: Sage Publication, Inc.
Sudrajad, Agung. 2006. Pencemaran Udara, Suatu Pendahuluan. Http//kamase_ugm@yahoo.co.id [3 Januari 2013]
World Health Organization. 1977. Environmental Health Criteria No. 3, Lead. Geneva.
World Health Organization. 1977. Environmental Health Criteria No. 4, Oxides of nitrogen, Geneva.
World Health Organization, (1978). Environmental Health Criteria No. 7, Photochemical oxidants. Geneva.

World Health Organization, (1979). Environmental Health Criteria No. 8, Sulfur oxides and suspended particulate matter. Geneva.

“ KIMIA” MENGAWALI, MENDAMPINGI DAN MENGAKHIRI KEHIDUPAN MANUSIA


Oleh : Dede Abdulah (@F28-Komaludin)

Abstrak
Perkembangan ilmu dan teknologi kimia semakin pesat, dan telah menyentuh berbagai aspek kehidupan manusia. Kimia tidak hanya berkonotasi dengan laboratorium, kelas perkuliahan atau dunia industry, tetapi mencakup semua sisi kehidupan manusia. Tak dapat dipungkiri kimia menjadi solusi untuk berbagai persoalan yang dihadapi manusia, sehingga menjadikan kehidupan lebih sejahtera dan lebih mudah. Namun disisi lain kimia menimbulkan beragam persoalan termasuk penurunan kualitas manusia dan dapat membinasakan manusia.
Kata kunci : Bahaya kimia, Pencemaran, B3
Pendahuluan
Interaksi diantara ilmu atau sains, masyarakat dan industry menyebabkan riset dasar (Fundamental) dan riset terapan (engineering) semakin berbaur, begitu pula disiplin ilmu lainnya semakin meluas. Dalam kehidupan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung selalu ada keterkaitan dengan ilmu kimia. Semua aspek dalam kehidupan manusia tidak bisa terlepaskan dari ilmu kimia, mulai dari industri, pertanian, kedokteran, konstruksi dan sebagainya semua menggunakan dasar keilmuan dari kimia. Kimia ada dan terus berkembang sejalan dengan peradaban manusia.
Pembahasan
            Kimia konstektual atau kimia kekinian berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan manusia. Fenomena dari proses kimia yang ditemukan dalam kehidupan sehari – hari seperti pencemaran yang diakibatkan oleh zat kimia, hujan asam, kimia proses industri. Dengan adanya kimia di kehidupan manusia dapat memperbaiki kehidupan manusia sekaligus mengancam kehidupan manusia karena efek dari penggunaaan berbagai zat kimia dapat memperburuk kehidupan manusia dan alam semesta.
            Manfaat yang pertama dari ilmu kimia adalah energi. Energi adalah sumber utama dari kehidupan manusia, tanpa energi manusia akan sulit menjalankan kehidupan. Bahan bakar minyak dari fosil contohnya batubara dan minyak bumi. Minyak bumi dan batubara merupakan sumber energi bagi manusia yang menggukana prinsip - prinsip ilmu kimia dalam aplikasinya. Minyak mentah yang dikenal sebagai emas hitam keluar dari tanah berupa campuran kompleks hidrokarbon dan beragam bobot molekul.
            Selanjutnya yaitu Polimer, sumberdaya alam banyak menyediakan beragam jenis polimer seperti protein, selulosa, katun dan wol. Berbagai hasil penelitian mengenail polimer telah terbukti dapat memperbaiki kesejahteraan hidup manusia, terutama aplikasinya untuk bidang pertanian,kedokteran dan industry.
            Terdapat enam jenis polimer yang paling banyak digunakan dalam kehidupan sehari – hari yaitu polyethylene, polypropylene, polyvinyl chloride, polyethylene terephthalate, polystyrene, dan polycarbonate. Meskipun polimer berguna bagi kehidupan manusia namun polimer tidak mengalami dekomposisi di dalam tanah, meskipun telah terkubur hingga ratusan tahun.
            Ilmu kimia juga bermanfaat dalam ilmu pangan dalam hal produksi, pengolahan distribusi, persiapan evaluasi dan pemanfaatan pangan. Para ahli kimia bekerja dengan tanaman yang telah dipanen untuk makanan, dan hewan yang telah disembelih untuk makanan. Ahli kimia mengkaji bagaimana produk makanan ini diproses, disiapkan dan didistribusikan. Menurut (Domel, 2014) dalam (Atep, 2017) ada tiga komponen utama dalam makanan yang menjadi perhatian para ahli kimia pangan yaitu : karbohidrat, lemak, dan protein. Penggunaan kimia juga berdampap buruk bagi kehidupan manusia, seperti terjadi pencemaran baik pencemaran udara, pencemaran air maupun pencemaran tanah dan hujan asam.
            Udara adalah campuran gas yang terdapat di permukaan bumi sebagai habitat manusia dan beragam mahluk lainnya. Udara terdiri dari udara kering , uap air, dan aerosol Pencemaran udara dapat disebabkan oleh Faktor internal seperti adanya debu yang beterbangan akibat tiupan angina: abu dan gas vulkanik dari letusan gunung berapi: serta proses dekomposisi bahan organic dan Faktor Eksternal atau dari dampak perbuatan manusia seperti adanya aktivitas pembakaran bahan bakar fosil, berbagai pulutan dari kegiatan industry. Serta semakin maraknya penggunaan bahan kimia yang disemprotkan ke atmosfir seperti pestisida, parfum dan sebagainya.
            Pencemaran udara membahayakan kelangsungan hidup manusia, hewan dan tumbuhan. Pencemaran udara dapat menyebabkan gangguan pernapasan dan beragam penyakit lainnya.Akibat dari kimia selanjutnya dalah terjadi hujan asam, hujan asam secara alami terjadi akibat adanya kerusakan vegetasi dan letusan gunung berapi, manusia pun secara langsung berkontribusu terhadap hujan asam, yaitu melalui kegiatan industry, pembangkit tenaga listrik (minyak dan batubara), knalpot kendaraan bermotor dan areal pertanian yang mengeluarkan ammonia (seperti sawah).
Selain daripada yang disebutkan diatas bahaya dari kimia adalah berasal dari limbah B3, Bahan kimia berbahaya dan beracun (B3) tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Dampak tersebut dapat berupa keracunan, kerusakan/pencemaran lingkungan, korban materi dan juga mungkin bisa menimbulkan korban jiwa. Secara umum B3 terdiri dari bahan beracun, korosif, mudah terbakar, mudah meledak, reaktif terhadap air/asam, dan gas bertekanan. Faktor yang menyebabkan terjadinya kecelakaan antara lain dari manusia/pekerja, prosedur/metode, dan peralatan/bahan. Faktor manusia merupakan faktor terbesar penyebab terjadinya kecelakaan diantaranya adalah ketidak-tahuan akan bahaya yang akan terjadi.
Sistem managemen bahan kimia berbahaya dan beracun (B3) melalui beberapa tahapan (Nur, tri harjanto. 2011) diantaranya :
1.      Perencanaan
Perencanaan dilakukan untuk kurunwaktu tertentu (1 tahun) mulai dari perencanaan pengadaan, penyimpanan / penggudangan, dan penggunaannya.
2.      Pengorganisasian (Organizing)
Pengorganisasian untuk mengelola B3 meliputi penetapan tugas dan wewenang personil pengelola, pemakai, dan pengawas. Dalam pengorganisasian perlu adanya koordinasi antar berbagai pihak yang berkepentingan dengan B3 tersebut
3.      Pelaksanaan (Actuating)
Pelaksanaan setiap kegiatan mulai dari pengelolaan (penyimpanan), pemakaian dan pengawasan harus sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. Prosedur harus digunakan untuk setiap kegiatan yang berkaitan dengan penggunaan B3 oleh semua personil, baik sebagai pengelola, pemakai maupun pengawas.

4.      Pengendalian (Controling)
Pengendalian dalam manajemen B3 dapat dilakukan dengan inspeksi, audit maupun pengujian mulai dari perencanaan, hingga pelaksanaan.
Kesimpulan
            Ilmu kimia hadir diantara kehidupan manusia dan melekat erat di segala aspek kehidupan, kimia memiliki banyak manfaat bagi manusia namun dari sisi lain, ternyata memiliki segudang bahaya yang dapat mengancam kehidupan manusia.
            Dengan melakukan mengetahui dan memahami akan resiko dari penggunaan kimia, kita dapat menangani dan meminimalisir potensi- potensi dari bahaya kimia itu sendiri.
Daftar Pustaka
Hidayat, Atep Afia dan M. Kholil.2017.kimia,industry dan teknologi hijau. Jakarta : Pantona Media
Nur Tri Harjanti, Suliyanti, Endang sukesi I, Management bahan Kimia Berbahaya dan Beracun sebagai upaya Keselamatan dan Kesehatan kerja serta perlindungan lingkungan, Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir – BATAN, Tahun 2011

Jumat, 02 Februari 2018

JENIS - JENIS BAHAN PENYUSUN PEWARNA ALAMI PADA MAKANAN


ABSTRAK
Sekarang Banyak beraneka ragama makanan , dan semakin menarik jenisnya dan bermacam - macam terutama jika dilihat dengan mata , warna yang beragam membuat orang makin penasaran rasa makanan tersebut karena warna dalam makanan dapat meningkatkan penerimaan konsumen tentang sebuah produk. Namun, kurangnya tingkat pengetahuan masyarakat tentang jenis - jenis bahan pewarna makanan sangatlah kurang , sangatlah penting mengetahui jenis pewarna makanan , apakah alami atau sintetis karena penggunaan pewarna sintetis harus dilakukan sesuai dengan peraturan yang berlaku karena dapat merugikan kesehatan.  menyebabkan berbagai penyakit bila terlalu banyak masuk pada tubuh.
Kata Kunci : Makanan, pewarna sintetis, analisis kadar warna
Kata kunci : Pewarna makanan, bahan alami , bahan sintetis, kesehatan manusia
PEMBAHASAN

Terdapat banyak jenis bahan pewarna, tetapi tidak semua pewarna itu dapat digunakan pada makanan. Ada dua jenis pewarna makanan, yaitu pewarna alami dan pewarna buatan.

1. Bahan Pewarna alami (natural colour)

Pewarna alami merupakan bahan pewarna yang diambil dari tumbuh tumbuhan atau batu-batuan secara langsung. Misalnya,

a. zat warna klorofil dari daun suji dan daun pandan yang menghasilkan warna hijau untuk mewarnai kue, seperti kue lapis dan kue pisang;

b. zat warna kurkumin yang berasal dari kunyit yang menghasilkan warna kuning untuk memberi warna pada tahu, minuman ringan, dan nasi kuning;

c. zat warna kapxantin yang dikandung oleh cabai merah untuk memerahkan rendang dan sayur ikan;

d. zat warna antosianin yang dikandung bit menghasilkan warna abu-abu violet pada keadaan basa dan warna merah pada keadaan asam;

e. zat warna coklat pada karamel dihasilkan dari reaksi karamelisasi sukrosa pada pemanasan sekitar 170 C;

f. zat warna kuning pada wortel disebut beta-karoten untuk memberi warna kuning pada makanan;

g. beberapa zat warna alami lainnya, seperti sari jeruk yang menghasilkan warna kuning, riboflavin, paprika, dan ekstrak kulit anggur.

Zat Pewarna Alami
1. Anato
2. Beta-Apo-8’Karotenoat
3. Etil Beta-Apo-8’Karotenoat
4. Xantasantin
5. Karamel, Amonia Sulfit Proses
6. Karmin
7. Beta Karoten
8. Klorofil
9. Klorofil Tembaga Komplex

Ukuran penggunaan zat pewarna harus memerhatikan ambang batas penggunaannya yang menggunakan satuan bpj (bagian per juta). Misalnya, beta-karoten mempunyai ambang 33 bpj.

2. Bahan Pewarna buatan (sintetis atau synthetic colour)

Pewarna buatan adalah bahan pewarna yang dibuat secara kimia oleh pabrik industri kimia. Pewarna ini biasanya dijual di pasaran dengan tanda khusus pada label atau kemasannya.

Tanda itu dapat berbentuk tulisan FD&C (food, drugs, and cosmetics), tetapi yang baku berbentuk M. Beberapa contoh pewarna sintetis, misalnya biru berlian, yellow nomor 5 dengan ambang 7,5 bpj per hari.

Zat Pewarna Sintetis
1. Biru Berlian
2. Coklat HT
3. Eritrosin
4. Hijau FCF
5. Hijau S
6. Indigotin
7. Karmoisin
8. Kuning FCF
9. Kuning Kuinolin

Ada beberapa zat pewarna yang dilarang untuk mewarnai makanan, misalnya magenta untuk tekstil dan butter yellow. Zat pewarna yang dilarang lainnya tercantum pada Tabel berikut ini.

Tabel: Zat Pewarna yang dilarang

Penggunaan zat pewarna yang dilarang ini dapat menyebabkan penyakit kanker, kerusakan ginjal, kerusakan hati, dan gangguan pencernaan. Hal ini disebabkan zat pewarna tersebut mengandung bahan kimia yang tidak dapat dicerna tubuh sehingga mengendap di dalam tubuh. Selain bpj, ambang batas pemakaian menggunakan satuan mg/kg.

KESIMPULAN
Zat warna alami dapat menggantikan warna sintetis karena mempunyai banyak keuntungan dibandingkan dengan warna sintetis, yaitu
§ Tidak beracun oleh karena itu aman digunakan dalam makanan, obat obatan, kosmetik dan tekstil.
§ Ramah lingkungan karena sifatnya biodegradable.
§ Berasal dari sumber terbarukan (bukan dari fraksi minyak bumi).

DAFTAR PUSTAKA
Azizahwati,. Maryati,. Heidi. 2007. Analisis Zat Warna Sintetik Terlarang Untuk Makanan Yang Beredar Di Pasaran. [ Jurnal Ilmu Kefarmasian. Vol. IV, No. 1, 7 – 25 ] Departemen Farmasi FMIPA. Universitas Indonesia. Depok.
Puspita Febrindari, Ayu. [Online]. Tersedia di: http://www.scribd.com/doc/97894726/Eritrosin. Diakses pada tanggal 28 Mei 2014.
Sumarlin, La Ode. 2009. Identifikasi Pewarna Sintetis Pada Produk Pangan Yang Beredar di Jakarta dan Ciputat. [ Jurnal ] Progam Studi Kimia. FST. Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah. Jakarta.
Suyatma, DEA, Dr. Ir. Nugraha E. 2009. Analisis Warna. [ Materi Kuliah ] Departemen ITP, FATETA IPB. Bogor.

Biomassa Sumber Energi Baru Pengganti Bahan Bakar Fosil

Oleh : @F10-Priyo, @ProyekD02
Priyo Dwi Wijaksono







ABSTRAK
Kenyataan bahwa para ahli dari banyak negara maju telah mengunjungi Indonesia untuk
mengeksplorasi dan memanfaatkan limbah biomassa. Memanfaatkan limbah biomassa sebagai pengganti untuk bahan bakar fosil merupakan salah satu kesempatan berharga untuk mengimplementasikan sektor energi di agroindustri di Indonesia. Biomassa sebagai bahan bakar untuk generasi baru ini dibahas pemanfaatan limbah biomassa nya secara kualitatif.

Kata Kunci  : Limbah Biomassa, Pengganti Energi Fosil, Energi Baru

Isi  :

            Dalam artikel ini hanya dibahas masalah pemanfaatan potensi limbah biomasa
sebagai energi pengganti fosil yang cadangannya semakin menipis. Limbah biomasa ini dihasilkan dari proses produksi pada kegiatan agro-industri. Pemanfaatan energi dari limbah biomasa ini, sangat diperlukan oleh industri-industri yang suplai energi nya bergantung kepada BBM (Bahan Bakar Minyak).

            Sampai saat ini bahan bakar alternatif ini telah diteliti oleh sejumlah praktisi dari akademi, yang diharapakan suatu saat nanti dapat diproduksi secara besar-besaran. Sumber dari energi biomasa ini ialah : hasil kayu (arang), sisa pertanian (sekam padi) serat bahan biomasa lain seperti pupuk kandang.

            Berdasarkan hasil penelitian Febijanto (2007), saat ini telah dikembangkan bahan bakar ramah lingkungan yang disebut dengan biodiesel. Bahan bakar biodisel ini didapat dengan Esterifikasi terhadap Destilat Asam Lemak Minyak Sawit (Supranto, Purnomo, dan Suhardi Pusat Studi Energi UGM). Jadi dengan hasil sampingan dari pengolahan kelapa sawit menjadi minyak goreng akan didapatkan hasil sampingan berupa Destilat Asam Lemak Minyak Sawit. Dimana senyawa ini kemudian diproses menjadi biodisel, yang dipergunakan untuk bahan bakar mesin disel. Campuran antara biodisel dengan solar dari minyak bumi dapat dipergunakan untuk menggerakkan semua mesin disel.

            Keuntunganya yaitu, dapat mengurangi kadar emisi dari : Hidrokarbon yang tidak terbakar, karbon monoksida sulfate, hidrokarbon polisklis aromatik dll. Melakukan gerakan penghematan BBM, perlu juga dilakukan pengembangan bahan bakar yang ramah terhadap lingkungan. Salah satu diantaranya yaitu dengan mempergunakan hydrokarbon organik atau biodisel. Selain menghemat devisa untuk keperluan impor bahan bakar minyak, pengunaan biodisel ini secara nyata akan menurunkan tingkat karbon di atmosfer. Negara kita yang masih mempunyai area hutan yang relatif sangat besar, sangatlah potensial untuk mengembangkan bahan bakar dengan basis biodisel ini, dan sangatlah mungkin dimasa datang Indonesia untuk menjadi pusat energi alternatif didunia.

DAFTAR PUSTAKA

1.       Hidayat, Atep Afia dan M. Kholil. 2017. Kimia, Industri dan Teknologi Hijau.Jakarta: Pantona Media

2.       Febijanto Irhan, (2007) POTENSI BIOMASA INDONESIA SEBAGAI BAHAN BAKAR PENGGANTI ENERGI FOSIL. Dalam http://id.portalgaruda.org/index.php?ref=browse&mod=viewarticle&article=61807 diakses tanggal 1 Februari 2018

3.       Harso Tri (2011), Biomasa Energi Alternatif Pengganti Bahan Bakar Fosil (Dalam https://namakutree.wordpress.com/2011/07/03/biomasa-energi-alternatif-pengganti-bahan-bakar-fosil/) diakses tanggal 1 Februari 2018.