Pengertian
Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) - Limbah adalah buangan yang dihasilkan
dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga).
Tampilkan postingan dengan label @TB09. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @TB09. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 25 Februari 2017
Kamis, 23 Februari 2017
Pengolahan Sampah Berdasarkan Bentuknya
Latar Belakang
Kegiatan pembangunan yang paling banyak menimbulkan
pencemaran adalah limbah industri, limbah permukiman dan kota , limbah kendaraan bermotor, limbah
pertanian dan pariwisita. Akibatnya lingkungan hidup yang tercemar adalah
adalah perairan, sungai, danau, pesisir, udara dan tanah. Untuk mengurangi tingkat
pencemaran, maka yang harus dilakukan adalah meningkatkan efisiensi pengolahan
bahan dalam setiap kegiatan pembangunan, dan pengembangan teknologi daur ulang
limbah dalam kegiatan-kegiatan tersebut. Selain dari pada itu perlu pula
dikembangkan industri hilir yang menggunakan limbah dari industri hulu sebagai
bahan bakunya, serta dikembangkan pengaturan nilai ambang batas limbah maksimum
yang masih dibolehkan dibuang ke dalam lingkungan hidup, yaitu limbah yang
tidak melebihi kemampuan lingkungan alam untuk mencernanya. Sehubungan dengan
hal tersebut maka jelaslah bahwa pengolahan dan daur ulang limbah wajib
dilakukan oleh setiap industri. Dari kajian yang telah dilakukan mengenai
sampai seberapa jauh pihak industri telah melaksanakan kewajiban tentang
pengolahan limbah, diketahui bahwa ada industri yang telah melaksanakan sistem
pengolahan daur ulang limbah, demi terciptanya lingkungan yang kondusif, sehat
dan nyaman.
A. Pengertian Limbah ( Sampah )
Menurut Sugiharto (1987) Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses
produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga). Dimana masyarakat
bermukim, disanalah berbagai jenis limbah akan dihasilkan. Ada sampah, ada air kakus (black water), dan
ada air buangan dari berbagai aktivitas domestik lainnya (grey water).
Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah
berakhirnya suatu proses. Sampah merupakan didefinisikan oleh manusia menurut
derajat keterpakaiannya, dalam proses-proses alam sebenarnya tidak ada konsep
sampah, yang ada hanya produk-produk yang dihasilkan setelah dan selama proses
alam tersebut berlangsung.Akan tetapi karena dalam kehidupan manusia
didefinisikan konsep lingkungan maka Sampah dapat dibagi menurut
jenis-jenisnya.
B. Karakteristik
Limbah Industri
Berdasarkan karakteristiknya limbah industri dapat dibagi
menjadi empat bagian :
1. Limbah
cair biasanya dikenal sebagai entitas pencemar air. Komponen pencemaran air
pada umumnya terdiri dari bahan buangan padat, bahan buangan organik, dan bahan
buangan anorganik.
2. Limbah
padat
3. Limbah
gas dan partikel
4. Limbah
B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun).
Macam Limbah Beracun:
a.
Limbah mudah meledak adalah limbah yang melalui reaksi
kimia dapat menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan tinggi yang dengan cepat
dapat merusak lingkungan.
b.
Limbah mudah terbakar adalah limbah yang bila
berdekatan dengan api, percikan api, gesekan atau sumber nyala lain akan mudah
menyala atau terbakar dan bila telah menyala akan terus terbakar hebat dalam
waktu lama.
c.
Limbah reaktif
adalah limbah yang menyebabkan kebakaran karena melepaskan atau menerima
oksigen atau limbah organik peroksida yang tidak stabil dalam suhu tinggi.
d.
Limbah beracun adalah limbah yang mengandung racun yang
berbahaya bagi manusia dan lingkungan. Limbah B3 dapat menimbulkan kematian
atau sakit bila masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan, kulit atau mulut.
e.
Limbah penyebab infeksi adalah limbah laboratorium yang
terinfeksi penyakit atau limbah yang mengandung kuman penyakit, seperti bagian
tubuh manusia yang diamputasi dan cairan tubuh manusia yang terkena infeksi.
f.
Limbah yang bersifat korosif adalah limbah yang
menyebabkan iritasi pada kulit atau mengkorosikan baja, yaitu memiliki pH sama
atau kurang dari 2,0 untuk limbah yang bersifat asam dan lebih besar dari 12,5
untuk yang bersifat basa.
C. Pengolahan
Limbah Padat dan Limbah Cair Di Industri
Beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas limbah padat dan
limbah cair adalah volume limbah, kandungan bahan pencemar, dan frekuensi
pembuangan limbah. Untuk mengatasi limbah padat dan limbah cair ini diperlukan
pengolahan dan penanganan limbah yang tepat. Pada dasarnya pengolahan limbah
ini dapat dibedakan menjadi :
1. Pengolahan
menurut tingkatan perlakuan
a. Metode pengangkutan limbah padat dan limbah cair
b. Pemilihan tempat dan penggunaan tanah
c. Metoda pembuangan :
1. penimbunan darat.
2. pembakaran/pengkremisan.
3. metode
daur ulang.
4. pengolahan biologis
2. Pengolahan
menurut karakteristik limbah
a. Hydropulping (Pembuburan encer).
Hydropulping adalah sebuah teknik penanganan limbah,
khususnya kertas dan makanan, disiram dengan air dan dipadatkan.
b. Pyrolisis (Peninggian Suhu).
Pyrolisis adalah sebuah proses pemanasan, pemindahan
oksidasi organik tidak dimungkinkan terjadi. Bahkan zat organik tersusun atas
sampah dengan kalor (Panas), sebagian besar terdiri dari zat-zat non organik
misalnya logam dan kaca yang tidak dipisahkan sebelum hydrolisis.
Gas-gas yang telah menguap diembunkan pada saat bahan yang
tersisa dibakar untuk menyuplai panas (energi) yang diperlukan untuk
meninggikan suhu benda-benda tersebut. Karena oksidasi dicegah, proses
pyrolisis harus dilakukan pada udara yang mengandung argon, helium, nitrogen.
c. Pembakaran dengan suhu tinggi
Sumber Referensi :
1. www.limbahB3dankesehatan.com
2. www.penenganansampahpadat.com
3. www.masalahsampahdanlingkungan.com
5. Modul Bab 9
Kimia dan Pengetahuan Lingkungan Universitas Mercubuana Fak. Tehnik
6. Jurnal “PENERAPAN
PENGELOLAAN LIMBAH B3 DI PT. TOYOTA MOTOR MANUFACTURING INDONESIA” Oleh ; Cesar
Ray Ratman1 dan Syafrudin2 1 Alumni Program Studi Teknik Lingkungan FT UNDIP 2
Program Studi Teknik Lingkungan FT UNDIP, Jl. Prof. H. Sudarto, SH Tembalang
Semarang,
Sabtu, 11 Februari 2017
KERUSAKAN EKOSISTEM LAUT
Pengertian kerusakan ekosistem laut
Perusakan
ekosistem laut adalah tindakan yang menimbulkan perubahan langsung atau tidak
langsung terhadap sifat fisik dan hayatinya yang melampuai kriteria baku
kerusakan laut. Hal ini berarti bahwa perlu ditetapkan kriteria baku kerusakan
laut yang berfungsi sebagai tolak ukur untuk menentukan tingkat kerusakan laut.
Selain itu juga sangat berguna bagi penentuan status mutu laut. Karena sangat
erat kaitannya antara tingkat kerusakan laut dengan status mutu laut itu
sendiri.
Ciri-Ciri
Ekosistem Air Laut.
Dari
pengertian tentang ekosistem air laut yang telah dijelaskan di atas, maka kita
dapat menyimpulkan bahwa ekosistem air laut memiliki ciri-ciri umum sebagai berikut
:
1.
Memiliki
salinitas (kadar garam) tinggi, semakin mendekati katulistiwa semakin
tinggi.
2.
NaCl mendominasi mineral ekosistem
laut hingga mencapai 75%.
4.
Memiliki
variasi perbedaan suhu
di permukaan dengan di kedalaman.
5.
Memiliki
kadar mineral yang tinggi, ion terbanyak ialah Cl`(55%), namun kadar garam di
laut bervariasi, ada yang tinggi (seperti di daerah tropika) dan ada yang
rendah (di laut beriklim dingin).
6.
Ekosistem
air laut tidak dipengaruhi oleh iklim dan cuaca.
Penyebab
Kerusakan Ekosistem Laut
Berdasarkan
pembahasan diatas terdapat masalah-masalah yang ada pada ekosistem laut yang
disebabkan oleh manusia-manusia yang tidak memperdulikan dan tidak menjaga
kelestarian alam laut. Berikut merupakan faktor penyebab rusaknya ekosistem
laut antara lain:
1.
Terumbu
karang yang hidup di dasar laut merupakan sebuah pemandangan yang cukup indah.
Banyak wisatawan melakukan penyelaman hanya untuk melihatnya. Sayangnya,
tidak sedikit dari mereka menyentuh bahkan membawa pulang terumbu karang
tersebut. Padahal, satu sentuhan saja dapat membunuh terumbu karang.
2. Membuang sampah ke laut dan pantai
yang dapat mencemari air laut.
3. Mungkin tidak banyak yang sadar, penggunaan pupuk dan
pestisida buatan pada lahan pertanian turut merusak terumbu karang di lautan.
Karena meskipun jarak pertanian dan bibir pantai sangat jauh, residu kimia dari
pupuk dan pestisida buatan pada akhirnya akan terbuang ke laut melalui air
hujan yang jatuh di lahan pertanian.
4. Boros menggunakan air, karena semakin banyak air
yang digunakan semakin banyak pula limbah air yang dihasilkan dan akhirnya
mengalir ke laut. Limbah air tersebut biasanya sudah mengandung bahan kimia.
5. Terumbu karang merupakan tujuan wisata yang sangat
diminati. Kapal akan lalu lintas di perairan. Membuang jangkar pada pesisir
pantai secara tidak sengaja akan merusak terumbu karang yang berada di bawahnya
6. Penambangan pasir atau bebatuan di laut dan
pembangunan pemukiman di pesisir turut merusak kehidupan terumbu karang. Limbah
dan polusi dari aktifitas masyarakat di pesisir secara tidak langsung berimbas
pada kehidupan terumbu karang. Selain itu, sangat banyak yang pengambilan
karang untuk bahan bangunan dan hiasan akuarium.
7. Masih banyak yang menangkap ikan di laut dengan
menggunakan bom dan racun sianida. Ini sangat mematikan terumbu karang
8. Selain karena kegiatan manusia, kerusakan terumbu
karang juga berasal dari sesama mahkluk hidup di laut. Siput drupella salah
satu predator bagi terumbu karang.
9. Pengundulan hutan di lahan atas sedimen hasil erosi
dapat mencapai terumbu karang di sekitar muara sungai, sehingga mengakibatkan
kekeruhan yang menghambat difusi oksigen ke dalam polip atau hewan karang.
10. Pengerukan di sekitar terum-bu karang Meningkatnya kekeruhan yang meng-ganggu
pertumbuhan karang.
11. Penangkapan ikan hias dengan menggunakan bahan beracun. Mengakibatkan ikan
pingsan, mematikan karang dan biota avertebrata.
12. Penangkapan
ikan dengan bahan peledak Mematikan ikan tanpa dikriminasi, karang dan biota
avertebrata yang tidak bercangkang.
Cara Mengatasi Perusakan Ekosistem Laut
Cara mengatasi kerusakan di lingkungan laut,
sebenarnya ada dalam diri manusia itu sendiri tergantung dari kemauan mereka
mau atau tidaknya seseorang melakukan hal tersebut. Diantaranya:
1. Meningkatkan pendayagunaan potensi laut
dan dasar laut Peningkatan pendayagunaan potensi yang ada di lingkungan laut,
baik luar maupun dalam laut. Misalnya dalam pendayagunaan lingkungan laut
sebagai pariwisata,budidaya rumput laut, maupun budidaya ikan. Dimana dalam
peningkatan ini peran pemerintah juga harus diikut sertakan dalam proses
pendayagunan laut ini, seperti yang sudah diatur dalam Undang-Undang Repubik Indonsia
Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan yaitu dalam BAB IV Pasal 8
Ayat 1 dan Pasal 9 Ayat 1 dan Ayat 2.
2.
Meningkatkan harkat dan taraf hidup
nelayan
Penangkapan ikan sebagai cara mencari nafkah para nelayan ataupun untuk
indutri perikanan dapat diperbolehkan. Asal cadangan ikan yang mereka tangkap
tidak dalam keadaan punah, sedangkan untuk ikan yang belum mencapai besar
tertentu, harus dilepaskan kembali ke dalam laut, yang teah diatur dalam
Undang-Undang Repubik Indonsia Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan
Lingkungan yaitu dalam BAB III Pasal 5 dan Pasal 6.
3.
Mengembangkan potensi industri kelautan
Pengendalian pencemaran oleh indutri, hendaknya bersifat bahwa jumlah bahan
yang mengakibatkan polusi tidak harus berbahaya dan tidak mengganggu keberadaan
biota laut. Oleh karena itu, buangan limbah sebelum dialirkanke sungai ataupun
perairan perlu teknik pengolahan imbah seuai bata yang ditentukan. Hasil ampah
yang berasal dari kegiatan manusia harus di kurangi dan didorong untuk mendaur
ulang kotoran maupun limbah lain. Bahkan, kalau perlu melarang pembuangan semua
limbah ke lingkungan laut.
4.
Mempertahankan daya dukung dan kelestarian
fungsi lingkungan laut.
Penanggulangan kerusakan tersebut,diharapkan warga yang ada di daerah
pesisir laut untuk dapat mempertahankan aset-aset yang terdapat dalam
lingkungan laut tersebut, menyadari akan kepentingan laut dan ekosistemnya
yaitu sebagai sumber hayati, meletarikan kemampuan alam untuk menjadikan sumber
mata pencaharian penduduk sekitar laut sehingga menadikan suatu kesejahteraan
masyarakatnya.
Sumber :
http://bloggerchandrahermawan.blogspot.co.id/2016/06/makalah-kerusakan-ekosistem-laut-di.html, Kerusakan Ekosistem Laut di Indonesia (
Hermawan, Chandra : 16 Juli 2016 )
http://raishananda.blogspot.co.id/2016/09/kerusakan-ekosistem-laut.html Kerusakan Ekosistem Laut ( Nanda, Raisha
: 28 September 2016 )
http://www.bppp-tegal.com/web/index.php/artikel/konservasi/518-permasalahan-kerusakan-ekosistem-laut permasalahan Ekosistem Laut ( Afriyani,
Ade Yunaifah : 05 September 2016 )
http://wacanalingkungan.blogspot.co.id/2015/09/kerusakan-ekosistem-laut.html Kerusakan Ekosistem Laut ( Weren, Rendi Notan : 29 September
2015 )
https://sandyharfianto.wordpress.com/2015/02/11/kerusakan-ekosistem-bawah-laut/
Keruskan Ekosistem Laut ( Harfianto,
Sandy : 11 Februari 2015 )
Label:
@B14-Hary,
@C25-Sari,
@C31-Retno,
@TB09
Pencemaran air
A. Konsep-Konsep Untuk Memahami Masalah Lingkungan Dan Pencemaran Oleh Industri
Seringkali ditemukan pernyataan yang menyamakan istilah ekologi dan lingkungan hidup, karena permasalahannya yang bersamaan. Inti dari permasalahan lingkungan hidup adalah hubungan makhluk hidup, khususnya manusia dengan lingkungan hidupnya. Ilmu tentang hubungan timbal balik makhluk hidup dengan lingkungan hidupnya di sebut ekologi. Lingkungan hidup adalah sistem yang merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya. keadaan dan makhluk hidup, termasuk di
Seringkali ditemukan pernyataan yang menyamakan istilah ekologi dan lingkungan hidup, karena permasalahannya yang bersamaan. Inti dari permasalahan lingkungan hidup adalah hubungan makhluk hidup, khususnya manusia dengan lingkungan hidupnya. Ilmu tentang hubungan timbal balik makhluk hidup dengan lingkungan hidupnya di sebut ekologi. Lingkungan hidup adalah sistem yang merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya. keadaan dan makhluk hidup, termasuk di
Label:
@C13-Helfrin,
@C20-Hari,
@C35-Sultana,
@TB09
Limbah B3 Pengeboran Minyak Tengah laut
Limbah secara umum adalah buangan yang dihasilkan dari
suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga). Di mana
masyarakat bermukim, di sanalah berbagai jenis limbah akan dihasilkan. Ada
sampah, ada air kakus (black water), dan ada air buangan dari berbagai aktivitas
domestik lainnya (grey water)
Limbah padat
lebih dikenal sebagai sampah, yang seringkali tidak dikehendaki kehadirannya karena tidak
memiliki nilai ekonomis. Bila ditinjau secara kimiawi, limbah ini terdiri dari
bahan kimia Senyawa organik dan Senyawa anorganik. Dengan konsentrasi dan
kuantitas tertentu, kehadiran limbah dapat berdampak negatif terhadap
lingkungan terutama bagi kesehatan manusia, sehingga perlu dilakukan penanganan
terhadap limbah. Tingkat bahaya keracunan yang ditimbulkan oleh limbah tergantung
pada jenis dan karakteristik limbah.
Limbah B3
Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun
(B3) adalah sisa
suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung B3. Sedangkan sesuai definisi
pada Undang Undang 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup yang dimaksud dengan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) adalah zat, energi,
dan/atau komponen lain yang karena sifat, konsentrasi dan/atau jumlahnya, baik
secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan, merusak lingkungan
hidup, dan/atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan
hidup manusia serta makhluk hidup lainnya. Yang termasuk limbah B3 antara lain
adalah bahan baku yang berbahaya dan beracun yang tidak digunakan lagi karena
rusak, sisa kemasan, tumpahan, sisa proses, dan oli bekas kapal yang memerlukan
penanganan dan pengolahan khusus. Bahan-bahan ini termasuk limbah B3 bila
memiliki salah satu atau lebih karakteristik berikut: mudah meledak, mudah
terbakar, bersifat reaktif, beracun, menyebabkan infeksi, bersifat korosif, dan
lain-lain, yang bila diuji dengan toksikologi dapat diketahui termasuk limbah
B3
Limbah minyak adalah buangan yang berasal dari hasil eksplorasi produksi minyak,
pemeliharaan fasilitas produksi, fasilitas penyimpanan, pemrosesan, dan tangki penyimpanan
minyak pada kapal laut. Limbah minyak bersifat mudah meledak,
mudah terbakar, bersifat reaktif, beracun, menyebabkan infeksi, dan bersifat korosif.Limbah
minyak merupakan bahan berbahaya dan beracun (B3), karena sifatnya, konsentrasi
maupun jumlahnya dapat mencemarkan dan membahayakan lingkungan hidup, serta
kelangsungan hidup manusia dan mahluk hidup lainnya
Minyak bumi
Pengeboran di laut
Pada umumnya, pengeboran minyak bumi di laut menyebabkan
terjadinya peledakan (blow aut) di sumur minyak.Ledakan ini
mengakibatkan semburan minyak ke lokasi sekitar laut, sehingga menimbulkan
pencemaran. Contohnya, ledakan anjungan minyak
yang terjadi di teluk meksiko sekitar 80 kilometer dari Pantai
Louisiana pada 22 April 2010. Pencemaran laut yang diakibatkan
oleh pengeboran minyak di lepas pantai itu dikelola perusahaan minyak British
Petroleum (BP). Ledakan itu memompa minyak mentah 8.000 barel atau 336.000
galon minyak ke perairan di sekitarnya.
Efek minyak
tumpah
Akibat yang ditimbulkan dari terjadinya pencemaran minyak
bumi di laut adalah:
Rusaknya estetika pantai akibat bau dari material minyak.
Residu berwarna gelap yang terdampar di pantai akan menutupi batuan, pasir,
tumbuhan dan hewan. Gumpalan tar yang terbentuk dalam proses
pelapukan minyak akan hanyut dan terdampar di pantai.
Kerusakan biologis, bisa merupakan efek letal dan efek
subletal. Efek letal yaitu reaksi yang terjadi saat zat-zat fisika dan kimia
mengganggu proses sel ataupun subsel pada makhluk hidup hingga kemungkinan
terjadinya kematian. Efek subletal yaitu mepengaruhi kerusakan fisiologis dan
perilaku namun tidak mengakibatkan kematian secara langsung. Terumbu
karang akan mengalami efek letal dan subletal di mana pemulihannya memakan
waktu lama dikarenakan kompleksitas dari komunitasnya.
Pertumbuhan fitoplankton laut akan terhambat akibat
keberadaan senyawa beracun dalam komponen minyak bumi, juga senyawa beracun
yang terbentuk dari proses biodegradasi. Jika jumlah pitoplankton menurun, maka populasi ikan, udang,
dan kerang juga akan menurun. Padahal hewan-hewan tersebut dibutuhkan manusia
karena memiliki nilai ekonomi dan kandungan protein yang
tinggi.
Penurunan populasi alga dan protozoa akibat
kontak dengan racun slick (lapisan minyak di permukaan air). Selain
itu, terjadi kematian burung-burung laut. Hal ini dikarenakan slick membuat
permukaan laut lebih tenang dan menarik burung untuk hinggap di atasnya ataupun
menyelam mencari makanan. Saat kontak dengan minyak, terjadi peresapan minyak
ke dalam bulu dan merusak sistem kekedapan air dan isolasi, sehingga burung
akan kedinginan yang pada akhirnya mati.
Solusi ledakan dan kebocoran minyak
Beberapa teknik penanggulangan tumpahan minyak diantaranya in-situ
burning, penyisihan secara mekanis, bioremediasi, penggunaan Sorbent
penggunaan bahan kimia dispersan, dan washing oil.
- - In-site burning adalah pembakaran minyak pada permukaan laut, sehingga
mengatasi kesulitan pemompaan minyak dari permukaan laut, penyimpanan dan
pewadahan minyak serta air laut yang terasosiasi. Teknik ini membutuhkan booms (pembatas
untuk mencegah penyebaran minyak) atau barrier yang tahan api. Namun,
pada peristiwa tumpahan minyak dalam jumlah besar sulit untuk mengumpulkan
minyak yang dibakar. Selain itu, penyebaran api sering tidak terkontrol.
- Washing oil yaitu
kegiatan membersihkan minyak dari pantai.
- - Dispersan kimiawi
merupakan teknik memecah lapisan minyak menjadi tetesan kecil (droplet), sehingga mengurangi kemungkinan terperangkapnya hewan ke dalam tumpahan minyak. Dispersan kimiawi adalah bahan kimia dengan zat aktif yang disebut surfaktan.
-
- Penyisihan
minyak secara mekanis melalui 2 tahap, yaitu melokalisir tumpahan dengan menggunakan booms dan melakukan pemindahan minyak ke dalam
wadah dengan menggunakan peralatan mekanis yang disebut skimmer.
- - Penggunaan sorbent
dilakukan dengan menyisihkan minyak melalui mekanisme adsorpsi (penempelan minyak pad permukaan sorbent) dan absorpsi (penyerapan minyak ke dalam sorbent). Sorbent ini berfungsi mengubah fase minyak dari cair menjadi padat, sehingga mudah dikumpulkan dan disisihkan. Sorbent harus memiliki karakteristik hidrofobik, oleofobik, mudah disebarkan di permukaan minyak, dapat diambil kembali dan digunakan ulang. Ada 3 jenis sorbent yaitu organik alami (kapas, jerami, rumput kering, serbuk gergaji), anorganik alami (lempung, vermiculite, pasir) dan sintetis (busa poliuretan, polietilen, polipropilen dan serat nilon).
- Bioremediasi yaitu
proses pendaurulangan seluruh material organik. Bakteri pengurai spesifik dapat
diisolasi dengan menebarkannya pada daerah yang terkontaminasi. Selain itu,
teknik bioremediasi dapat menambahkan nutrisi dan oksigen,
sehingga mempercepat penurunan polutan.
Daftar Pustaka:
Label:
@B23-Randy,
@B30-Mega,
@C27-Rivqi,
@TB09
Langganan:
Postingan (Atom)












