.

Tampilkan postingan dengan label @Q09-Andyka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @Q09-Andyka. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Februari 2020

Green Building Bangunan Untuk Masa Depan

Green Building Bangunan Untuk Masa Depan


Disusun Oleh : Andyka F

Abstrak

Dalam Teknologi Hijau atau Teknologi ramah lingkungan banyak studi-studi yang berguna untuk mempelajari teknologi ramah lingkungan antara lain mencakup bidang-bidang seperti Renewable energy, Green Building, Green Chemistry, dan Green nanotechnology. Dalam bidang tersebut Green building salah satu aspek yang berpengaruh dan berkelanjutan terhadap bangunan di masa kini hingga masa yang akan datang

Kata Kunci : Teknologi Hijau, Studi Bidang Teknologi Hijau, Green Building

Pendahuluan

Green Building sangat bermanfaat untuk diterapkan pada masa kini agar dapat mencegah dan mengatasi kerusakan lingkungan untuk masa yang akan datang. Dengan terciptanya dan kesadaran dari manusia terhadap green building ini akan ikut serta dalam membantu bumi dalam memberikan mutu kualitas dari udara, air, dan tanah. Sehingga Green Building akan memberikan dampak positif terhadap kelangsungan makhluk hidup, dan kesehatan serta kenyamanan.
Pembahasan

I.                    Green Building
Green building merupakan bangunan dimana sejak dimulai dalam tahap perencanaan, pembangunan, pengoperasian hingga dalam opersioanal pemeliharaannya memperhatikan aspek-aspek dalam melindungi, menghemat, mengurangi penggunaan sumber daya alam, menjaga mutu dari kualitas udara di dalam ruangan, dan memperhatikan kesehatan penghuninya.
Istilah Green Building merupakan upaya untuk menghasilkan bangunan dengan menggunakan proses-proses yang ramah lingkungan, penggunaan sumber daya secara efisien selama daur hidup bangunan.

II.                  Manfaat Pembangunan dengan konsep Green Building
a.       Manfaat terhadap lingkungan
1.       Meningkatkan dan melindungi keragaman ekosistem
2.       Memperbaiki kualitas udara
3.       Memperbaiki kualitas air
4.       Konservasi sumber daya alam
b.      Manfaat terhadap ekonomi
1.       Mereduksi biaya operasional
2.       Menciptakan dan memperluas pasar bagi produk dan jasa hijau
3.       Meningnkatkan produktivitas penghuni
4.       Mengoptimalkan kinerja daur hidup ekonomi
c.       Manfaat terhadap social
1.       Meningkatkan kesehatan dan kenyamanan
2.       Kereduksi masalah dengan infrastruktur local

III.                Aspek dalam Green Building
a.       Life Cycle Assesment (Uji Amdal)
Analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) dibutuhkan dalam pengadaan bangunan yang kemungkinan member dampak terhadap lingkungan sekitar, baik dari segi social, budaya, ekonomi maupun keamanan. Dalam konsep green building menunjukan hasil analisis tidak memberikan pengaruh atau dampak buruk yang besar terhadap lingkungan sekitar
b.      Efisiensi desain struktur
Setiap bangunan konstruksi bermula pada tahap konsen dan desain. Tahap konsep pada kenyataannya merupakan salah satu langkah utama dalam proyek yang memilki dampak terbesar pada biaya dan kinerja proyek. Tujuan utama adalah merncanakan bangunan yang memiliki konsep green building adalah untuk meminimalkan dampak yang akan disebabkan dalam bangunan tersebut baik itu selamap elaksanaan dan selama penggunaan. Perencanaan bangunan gedung yang tidak efisien dalam struktur juga memberikan efek buruk terhadap lingkungan yakni seperti pemakaian bahan bangunan yang sangat banyak sehingga terjadi pemborosan.
c.       Efisiensi energy
Konsumsi energy baik energy yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari, seperti kondisi bangunan dengan mudahnya angin dan sinar matahari masuk kedalam bangunan, energy penggunaan listrik.
Penggunaan energy operasional, penggunaan jendela yang se-efisiensi dan insulasi pada dinding, plafon atau tempat masuknya aliran udara ke dalam bangunan gedung. Selain itu desain bangunan surya pasif, sering dilaksanakan di rumah-rumah rendah energy. Penempatan jendela yang efektif (pencahayaan) dapat memberikan cahaya lebih alami dan mengurangi kebutuhan penerangan listrik di siang hari, ini merupakan konsep dari penghematan energy pada bangunan.
d.      Efisensi air
1.       Mandi dengan shower
Menggunakan shower pada saat mandi dapat menghemat air lebih dari 60% apabila dibandingkan menggunakan gayung yang dapat menghabiskan air sekitar 15 liter.
2.       Tamping air hujan
System ini menggunakan penampungan air (reservoir) bawah tanah di suatu tempat atau dibawah gedung: sumber airnya berasal dari atap dan permukaan melalui paving pori. Melalui penampungan air yang besar dapat menghemat air tanah dan menghemat energy listrik untuk kebutuhan pompa air.
3.       Tanaman dan rumput
Tanaman dan rumput yang ditanam akan membantu bumi mengolah kembali air yang terserap kedalam tanah untuk menjadi air bersih. Dapat juga dilakukan dengan membuat lubang resapan biopori yang dapat meningkatkan daya resapan air dan mengatasi banjir.

I.                    Contoh Green Building di Dunia
1.       John and Frances Angelo’s Law Center, Maryland
Gedung ini didesain dengan semangat mengatasi emisi pemanasan global dan menetrelitas iklim. Bamboo kayu bersertifikan dan beton yang dibuat dari bahan-bahan daur ulang adalah sebagian kecil dari teknologi ramah lingkungan yang dimiliki gedung ini.

https://www.google.co.id/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fwww.archdaily.com%2F409062%2Fjohn-and-frances-angelos-law-center-behnisch-architekten&psig=AOvVaw3blhGrsZdm_evxmkQYA-PL&ust=1582994370489000&source=images&cd=vfe&ved=0CAIQjRxqFwoTCOiqkoPY9OcCFQAAAAAdAAAAABAD


2.       Bosco Verticale (Vertical Forest), Milan

Karya arsitektur yang menerapkan hutan vertical di gedung ini adalah rumah dari 700 pohon dan 90 spesies tanaman. Tanaman-tanaman ini dipilih untuk memproduksi oksigen, mengurangi polusi suara, dan mengatur temperature.

https://www.google.co.id/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fwww.123rf.com%2Fphoto_79205251_milan-italy-may-28-2017-bosco-verticale-vertical-forest-low-view-designed-by-stefano-boeri-sustainab.html&psig=AOvVaw19wJM8feC358d63RNsNkV_&ust=1582994480143000&source=images&cd=vfe&ved=0CAIQjRxqFwoTCJjI05LY9OcCFQAAAAAdAAAAABAK


3.       Pixel Building, Melbourne

Pada 2010, gedung ini dinobatkan sebagai gedung perkantoran paling ramah lingkungan di dunia. Gedung dengan desain pixel warna warni ini yang dipenuhi aneka fitur inovasi. Mampu mencukupi kebutuhan airnya sendiri juga netralitas karbon adalah bukti bahwa banunan pun bisa menyediakan kebutuhannnya sendiri.

https://www.google.co.id/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fwww.researchgate.net%2Ffigure%2FPixel-building-in-Melbourne-Internet_fig4_301357116&psig=AOvVaw0J9NcFzuTrfQ2_Aywe1O8s&ust=1582994417500000&source=images&cd=vfe&ved=0CAIQjRxqFwoTCOCikfLX9OcCFQAAAAAdAAAAABAD



Daftar Pustaka

Zulmar, Helmi (2012). “Green Building” . http://helmizulmar.blogspot.com/2012/06/definisi-greenbuilding-adalah-bangunan.html (Diakses Tanggal 28-02-2020).

Abduh, M.Natsir (2017). “ Teknologi Green Pada Bangunan Berkelanjutan”. https://tekniksipilunibos.ac.id/wp-content/uploads/2018/04/2017_PROSIDING_M.NATSIR_archive.pdf (Diakses Tanggal 28-02-2020).

Hananto, Akhyari (2016). "10 Green Building Terbaik 2016 yang begitu menginspirasi" https://www.mongabay.co.id/2016/12/28/10-green-building-terbaik-2016-yang-begitu-menginspirasi/ (Diakses Tanggal 28-02-2020).









Jumat, 28 Februari 2020

Konsep dasar Teknologi Hijau

Konsep dasar Teknologi Hijau



Disusun Oleh : Andyka F

Abstrak
Teknologi hijau atau yang sering disebut sebagai teknologi ramah lingkungan in merupakan sebuah bentuk usaha pemeliharaan lingkungan terhadap akibat pencemaran lingkungan. Teknologi hijau ini dapat diterapkan melalui prinsip-prinsip yang berlaku, karena dengan begitu jika teknologi hijau berjalan dengan lancer dan sesuai tujuan akan memberikan banyak manfaat terhadap banyak makhluk hidup sehingga akan terhindar dari berbagai penyakit.
Kata Kunci : Teknologi Hijau, Prinsip-Prinsip, Manfaat Teknologi Hijau
Pendahuluan
Perkembangan teknologi semakin hari semakin meningkat dan membuat kehidupan jauh lebih mudah dalam melakukan apapun, tetapi dengan begitu perkembangan teknologi dapat memberikan dampak negative. Maka dari itu agar dampak negative ini harus sesegera mungkin dicegah dengan menciptakan teknologi yang ramah lingkungan dengan tujuan untuk melestarikan lingkungan, meminimalisir dari segala permasalah dalam pencemaran lingkungan, agar dapat terciptanya lingkungan yang baik dan bersih dari hal itu untuk masa yang akan datang dan masa kini.
Pembahasan
I.                    Pengertian Teknologi Hijau
Teknologi hijau adalah teknik untuk menghasilkan energy atau produk yang tidak mencemari atau meracuni lingkungan hidup. Teknologi hijau merupakan salah satu upaya untuk menjaga kelestarian atau keberlanjutan kehidupan di planet bumi ini. Teknologi hijau juga sering dikenal sebagai Teknologi yang ramah lingkungan.

II.                  Prinsip dalam Teknologi Hijau
a.       Refine
Penggunaan bahan atau proses yang lebih ramah lingkungan
b.      Reduce
Pengurangan jumlah limbah atau mengatasi kehilangan bahan yang menyebabkan pemborosan dengan optimalisasi proses
c.       Reuse
Pemakaian kembali bahan-bahan atau limbah pada proses yang berbeda
d.      Recycle
Penggunaan bahan-bahan atau sumber daya untuk proses yang sama
e.      Recovery
Pengamblan sebagian material penting dari aliran limbah untuk pemanfaatan ulang atau pemanfaatan lain
f.        Retrieve Energi
Pemanfaatan limbah sebagai bahan bakar
III.                Manfaat Teknologi Hijau
Teknologi hijau memiliki manfaat tentunya dalam kehidupan sehari – hari:
a.       Teknologi hijau sangat efektif dan efisien dalam hal pemanfaatn sumber daya alam, sehingga lingkungannya dapat terjaga baik
b.      Teknologi hijau dapat mengurangi jumlah limbah agar tidak berlebihan
c.       Teknologi hijau dapat menghemaat biaya produksi
IV.                Macam – Macam Teknologi Hijau
a.       Biogas
Biogas merupakan gas yang mudah terbakar atau bersifat FLAMMABLE yang diperoleh berdasarkan proses fermentasi dari bahan-bahan yang organic yang dilakukan oleh bakteri yang sifatnya anaerob. Anaerob disini maksudnya adalah bakteri yang dapat hidup pada konidisi yang kedap udara.
b.      Biofuel
Biofuel merupakan bahan baikar baik itu berupa gas, cairan atau padatan yang diperoleh dari zat-zat organic. Biofuel ini bisa dihasilkan baik secara tak langsung melalui limbah industry, pertanian atau domestic dan komersial dan secara langsung melalui tanaman.
c.       Biopori
Biopori atau teknologi lubang resapan biopori adalah teknologi alternative peresapan air hujan pada tanah, disamping menggunakan sumur resapan. Adapun pemanfaatn teknologi biopori ini membuat keseimbangan lingkungan lebih terjaga, bisa menangani sampah organic dengan menimbulkan keseimbangan lingkungan lebih terjaga, bisa menangani sampah organic dengan menimbulkan aroma yang tak sedap.

Daftar Pustaka
D3IPII. “Teknologi Hijau (Green Technology) : Kecenderungan Teknologi di masa Datang”. http://d3ipii-d3ipii.blogspot.com/2011/01/teknologi-hijau-green-technology.html (Diakses Tanggal 20-02-2020).
Unknown (2013). “ Prinsip Teknologi Ramah Lingkungan” http://inspirednature-tech.blogspot.com/2013/07/prinsip-teknologi-ramah-lingkungan.html (Diakses Tanggal 20-02-2020).
2015. “Konsep Teknologi Ramah Lingkungan”. https://environment-indonesia.com/training/konsep-teknologi-ramah-lingkungan/ (Diakses Tanggal 28-02-2020).
Dwizz (2015). “ Manfaat dan Penggunaan Teknologi Ramah Lingkungan”. https://ronif.com/manfaat-dan-penggunaan-teknologi-ramah-lingkungan/ (Diakses Tanggal 28-02-2020).

Konsep Penerapan Industri Hijau


Konsep Penerapan Industri Hijau



Disusun Oleh : Andyka Febriyansyah

Abstrak

Industri hijau bertujuan untuk mewujudkan industry yang berkelanjutan dalam rangka efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya alam secara berkelanjutan sehingga mampu menyelaraskan pembangunan industry dengan kelangsungan dan kelestariannya, dengan itu penerapan industry hijau harus sesuai dengan aspek – aspek yang dibutuhkan dengan tujuan melestarikan lingkungan.

Kata Kunci : Industri hijau, aspek-aspek industry hijau

Pendahuluan

Industry hijau mensyaratkan bahan baku, energy, dan proses yang ramah lingkungan. Selain itu dibutuhkan teknologi yang ramah lingkungan sehingga bisa se- efisien mungkin dalam penggunaan sumber daya alam. Industry hijau juga mensyaratkan adanya limbah buang yang tidak terlalu merusak lingkungan. Industry hijau merupakan industry yang berkomitmen untuk ramah lingkungan dengan berfokus pada pengembangan dan perbaikan secara terus menerus, dan praktek bisnis yang bertanggung jawab terhadap masyarakat baik di dialam maupun di luar organisasi

Pembahasan

I.                    Pengertian Industri Hijau
Industri hijau dapat didefinisikan sebagai industry berwawasan lingkungan yang menyelaraskan pertumbuhan dengan kelestarian lingkungan hidup, mengutamakan efisiensi dan efektivitas penggunaan sumberdaya alam serta bermanfaat bagi masyarakat (Permenperin, 2011).
Sementara itu menurut Darsono (2014), bahwa industry hijau merupakan penerapan teknologi yang ramah lingkungan yang mampu mengubah lingkungan hidup agar sesuai dengan kehidupan manusia, sumber daya alam diambil dan diolah untuk sebesar-besarnya kesejahteraan manusia secara lestari.

II.                  Sasaran Pengembangan industry hijau

1.       Tersusunnya standard industry hijau (jenis industry)
2.       Terakreditasinya lembaga sertifikat (Unit)
3.       Tersertifikasi auditor industry hijau (Orang)
4.       Bantuan prasarana industry hijau pada sentra IKM (unit)
5.       Bantuan fasilitasi untuk sertifikasi industry hijau (Kegiatan)

Dalam rangka mencapai sasaran tersebut diatas, maka akan dilakukan beberapa hal sebagai berikut:
1.       Penerapan standard industry hijau, meliputi antara lain:
a.       Melakukan benchmarking standard industry hijau dibeberapa Negara
b.      Menetapkan panduan umum penyusunan standard industry hijau dengan memperhatikan system standardisasi nasional dan/atau system standard lain yang berlaku
c.       Melakukan penyusunan standard industry hijau berdasarkan kelompok industry sesuai klasifikasi baku lapangan usaha Indonesia
d.      Menetapkan standar industry hijau
e.      Melakukan Mutual Recognition Agreement (MRA) dengan Negara yang telah menerapkan standar industry hijau atau standard lainnya yang sejenis
2.       Pembangunan dan pengembangan lembaga sertifikasi industry hijau yang terakreditasi serta peningkatan kompetensi auditor industry hijau, antara lain:
a.       Menyusun pedoman umum pembentukan lembaga serifikasi
b.      Menyusun standard kompetesni auditor industru hijau
c.       Menyusun Standard Operating Procedure (SOP) Sertifikasi industry hijau
d.      Melakukan pelatihan auditor industry hijau
e.      Menunjuk lembaga sertifikasi industry hijau yang terakreditasi
3.       Pemberian fasilitas untuk industry hijau, antara lain :
a.       Fasilitas fiscal yang diberikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
b.      Fasiliats non fiscal berupa:
-          Pelatihan peningkatan pengetahuan dan keterampilan sumber daya manusia industry
-          Sertifikasi kompetensi profesi bagi sumber daya manusia perusahaan industry
-          Bantuan pembangunan prasarana fisik bagi perusahaan industry kecil dan industry menengah
-          Penyediaan bantuan promosi hasil produksi bagi perusahaan industry

III.                Jenis-Jenis industry hijau

1.       Pengembangan hutan energy
2.       Ekowisata
3.       Pengolahan limbah energy dari hasil pemanfaatn mikroba
4.       Restorasi ekosistem
5.       Pemanfaatn panas bumi (geothermal)

IV.                Aspek aspek industry hijau

Dengan penerapan industry hijau dapat meningkatkan daya saing dengan proses dan hasil produksi yang ramah lingkungan. Penerapan industry hijau meliputi aspek-aspek:
1.       Efektifias dan efisiens sumber daya alam:
a.       Menciptakan produk yang hemat bahan baku yang mudah diperbarui
b.      Menggunakan peralatan yang tidak boros energy
c.       Meningkatkan keterampilan SDM untuk memperoleh kinerja maksimal.
2.       Konservasi energy
a.       Mengganti energy berasal dari fosil dengan energy baru/mix energy/ energy nuklir.

V.                  Aplikasi Industri HIjau
Menurut Hidayat (2013), bahwa memang sulit untuk menjadikan industry dan lingkungan, namun juga turut merawat dan melestarikannya. Demikian pula sebaliknya, factor lingkunga makin menunjang sector industry. Alhasil keduanya selalu dalam posisi yang berimbang, sehingga kesan dikotomis dan dilematis ditekan sedemikian rupa. Terlalu idealis memang, namun jika tidak begitu maka misi pembangunan yang sesungguhnya tak akan pernah tercapai.

Adapun di Indonesia aplikasi Industri Hijau yang telah dilakukan antara lain (Kemenperin, 2012):
a.       Penggunaan mesin ramah lingkungan melalui program restrukturisasi permesinan untuk industry tekstil dan produk tekstil, alas kaki dan gula. Program ini memberikan dampak yang signifikan erupa penghematan penggunaan energy dan peningkatan produktivitas.
b.      Program Re-use air limbah hasil pengolahan pada industry penyamakan kulit di sentra industry Magetan.
c.       Program pengembangan biogas dari limbah industry tahu.

Daftar Pustaka 

Hidatat, A, A. Muhammad Kholil. (2018). "Definisi Industri Hijau" , "Aplikasi Industri Hijau". Kimia dan Pengetahuan Lingkungan Industri. Yogyakarta : Wahana Resolusi

Hestanto. "Pembangunan Industri Hijau" https://www.hestanto.web.id/industri-hijau/ (Diakses Tanggal 28-02-2020).

Indah (2013). "Penerapan Industri Hijau 'Green Industri' " http://disperindag.jatimprov.go.id/post/detail?content=penerapan-industri-hijau-green-industry (Diakses Tanggal 28-02-2020).

Bisnis, Lentera (2018). "Pengertian Industri Hijau" https://www.lenterabisnis.com/pengertian-industri-hijau (Diakses Tanggal 28-02-2020).



Jumat, 21 Februari 2020

Mengatasi Masalah Dunia Dengan Green Chemistry

Mengatasi  Masalah Dunia Dengan Green Chemistry



Disusun Oleh : Andyka Febriyansyah


Abstrak

Metode dan konsep dari kimia hijau (Green Chemistry) sangat berguna untuk kelangsungan kehidpan makhluk hidup, karena dengan adanya metode ini dapat meminimalis adanya pencemaran terhadap lingkungan. Apabila beberapa prinsip dari para ahli dapat diterapkan dengan tepat, konsisten akan memberikan dampak positif terhadap lingkungan dan dapat terhindar dari bahan kimia yang mampu merusak dan mencemarkan lingkungan. Jika tidak sesegera mungkin diatasi masalah ini akan semakin melebar didunia dan membuat lingkungan rusak.

Kata Kunci : Konsep Kimia Hijau, Aplikasi untuk memperbaiki masalah, Prinsip Kimia Hijau

Pendahuluan

Menurut EPA (2015), Kimia hijau (Green Chemistry) adalah desain produk dan proses kimia yang berupaya mengurangi atau menghilangkan penggunaan zat berbahaya. Kimia Hijau berlaku untuk seluruh siklus hidup produk kimia termasuk desain, manufaktur, penggunaan, dan pembuangan akhir.

Pembahasan
I.                    Prinsip – prinsip kimia hijau
a.       Memaksimalkan ekonomi atom
Metode sintesis yang digunakan harus didesain untuk meningkatkan proporsi produk yang diinginkan dibandingkan dengan bahan dasar. Konsep atom ekonomi ini mengevaluasi system terdahulu yang hanya melihat rendemen hasil sebagai parameter untuk menentukan suatu reaksi efektif dan efisiens tanpa melihat seberapa besar limbah yang dihasilkan dari reaksi tersebut. Atom ekonomi disini digunakan untuk menilai proporsi produk yang dihasilkan dibandingkan dengan reaktan yang digunakan. Jika semua reaktan dapat dikonversi sepenuhnya menjadi produk, dapat dikatakan bahwa reaksi tersebut memiliki nilai atom ekonomi 100%.
b.      Menggunakan pelarut yang aman
Penggunaan bahan kimia seperti pelarut, ekstraktan, atau bahan kimia tambahan yang lain harus dihindari penggunaannya. Apabila terpaksa harus digunakan, maka harus seminimal mungkin. Penggunaan pelarut memang sangat penting dalam proses sintesis, misalkan pada proses reaksi, rekristalisasi, sebagai fasa gerak pada kromatofgrafi dan lain-lain. Penggunaan yang berlebih akan mengakibatkan polusi yang akan mencemari lingkungan.
c.       Meningkatkan efisiensi energy dalam reaksi
Energy yang digunakan dalam suatu proses kimia harus mempertimbangkan efek terhadap lingkungan dan aspek ekonomi, jika dimungkinkan reaksi kimia dilakukan dalam suhu ruang dan mengunakan tekanan. Penggunaan energy alternative dan efisien dalam sintesis dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode seperti radiasi gelombang mikro (microwave), ultrasonic & fotokimia.
d.      Mendesain bahan kimia yang mudah terdegradasi
Bahan kimia harus didesain dengan mempertimbangkan aspek lingkungan, oleh karena itu suatu bahan kimia harus mudah terdegradasi dan tidak terakumulasi di lingkungan.
e.      Penggunaan metode analisis secara langsung untuk mengurangi polusi
Metode analisis yang dilakukan secara real-time dapat mengurangi pembentukan produk samping yang tidak diinginkan. Ruang lingkup ini berfokus pada pengembangan metode dan teknologi yang dapat mengurangi bahan kimia yang berbahaya dalam prosesnya.
f.        Meminimalisasi potensi kecelakaan
Bahan kimia yang digunakan dalam reaksi kimia harus dipilih sedemikian rupa sehingga potensi kecelakaan bahan kimia terhadap lingkungan dapat dihindari.

II.                  Aplikasi Kimia Hijau Terhadap masalah di Dunia

1.       Kekurangan Energi
Masalah kekurangan energy di dunia, dipengaruhi oleh factor-faktor yang tak dapat diperbaharui dan berpotensi merusak lingkungan seperti karbondioksida, menipisnya lapisan ozon, dampak penambangan serta bahan beracun di sekitar kita. Dengan adanya masalah kekurang energy ini Green Chemistry bisa menjadi solusi nya karna dapat mendorong dalam pembuatan energy alternative seperti photovoltaics, rekayasa bahan bakar hydrogen, bahan bakar nabati atau biologin dan yang lainnya, selain itu meningkatnya pemakaian katalis.
2.       Perubahan iklim Global
Perubahan iklim, kenaikan suhu lautan, kimia stratosfir, dan pemanasan global adalah bidang kajian yang digarap oleh teknologi green chemistry.
3.       SDA yang menipis
Eksploitasi yang berlebihan atas sumber daya alam tak terbaharui, menyebabkan ketidakseimbangan pada skala yang memprihatinkan. Oleh karena itu pemakaian bahan bakar fosil menjadi isu utama dalam kajian Green Chemistry. Upaya-upaya yang dapat dilakukan melalui Green Chemistry ialah sintesis bahan bakar yang dapat diperbaharui seperti, Teknologi biomassa, Teknologi Nanosains, Efisiensi Karbondioksida.
4.       Kekurangan Pangan
Ketika terjadi kelangkaan pangan maka aliran distribusi pun melemah. Sayangnya metode pertanian sekaran ini tak mampu lagi mengatasi masalah pangan dimasa mendatan. Untuk itu perlu adanya metode baru dalam mengatasi masalah pangan ini dan Green Chemistry secara sain dapat berperan dalam teknologi produksi makanan masa depan.
5.       Lingkungan yang semaking tercemar
Penerapan Green Chemistry secara standart dan dilakukan dengan baik dan benar serta konsisten hingga tepat, dapat mengurangi bahkan menghilangkan senyawa beracun yang berdampak pada manusia, biosfir dan lingkungan sekitar.

Kesimpulan

Berbagai metode dan prinsip dari kimia hijau yang sudah dijadikan acuan dari berbagai penelit maupun ahli sudah sangat menjelaskan betapa berharganya lingkungan sekitar kita yang bersih akan pencemaran. Dengan itu kita sebagai makhluk hidup yang paling utama di bumi ini harus bisa memaksimalkan dan melestarikan lingkungan ini.

Daftar pustaka

Anwar, Muslih (2015). “Kimia Hijau / Green Chemistry”  http://bptba.lipi.go.id/bptba3.1/?u=blog-single&p=343&lang=id (Diakses tanggal 20-02-2020).
Kun, Ricky (2011). “Penerapan Konsep Green Chemistry dalam keseharian”  https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000010127554/penerapan-konsep-green-chemistry-dalam-keseharian/ (Diakses Tanggal 20-02-2020).
Hidayat, A A., Muhammad Kholil. 2018. Kimia dan Pengetahuan Lingkaran Industri. Yogyakarta: Penerbit Wahana Resolusi

Kimia Hijau Untuk Kelangsungan Ramah Lingkungan


Kimia Hijau Untuk Kelangsungan Ramah Lingkungan


Disusun Oleh : Andyka Febriyansyah


Abstrak

Kimia Hijau atau Green Chemistry adalah suatu rancangan proses dan produk yang bisa meminimalisasi bahkan menghilangkan penggunaan bahan kimia yang beracun dan berbahaya. Kimia hijau mengembangkan inovasi proses kimia yang menggeser, menambah atau mengurangi, hingga memperbarui proses kimia. Dalam proses penerapan kimia hijau tentu diperlukan berbagai tujuan agar untuk menentukan hasil yang lebih baik dan menciptakan lingkungan yang ramah, dengan itu banyak langkah yang harus dipelajari tentunya seperti 12 prinsip – prinsip dari kimia hijau yang dapat dijadikan acuan untuk melakukan pemanfaatan kimia dan menyelamatkan lingkungan.

Kata Kunci : Kimia Hijau, Tujuan Kimia Hijau, 12 Prinsip Kimia Hijau

Pendahuluan

Green Chemistry atau kimia hijau merupakan bidang kimia yang berfokus pada pencegahan polusi. Pada awal 1990-an, green chemistry mulai dikenal secara global setelah Environmental Protection Agency (EPA) mengeluarkan Pollution Prevention Act yang merupakan kebijakan nasional untuk mencegah atau mengurangi polusi. Green Chemistry merupakan pendekatan untuk mengatasi masalah lingkungan baik itu dari segi bahan kimia yang dihasilkan, proses ataupun tahapan reaksi yang digunkan. Konsep ini menegaskan tentang suatu metode yang didasarkan pada pengurangan penggunaan dan pembuatan bahan kimia berbahaya baik itu dari sisi perancangan maupun proses.

Pembahasan

I.                    Definisi Kimia Hijau

Menurut EPA (2015), Kimia Hijau (Green Chemistry) adalah desain produk dan proses kimia yag berupaya mengurangi atau menghilangkan penggunaan zat berbahaya. Kimia hijau berlaku untuk seluruh sikulus hidup produk kimia, termasuk desain, manufaktur, penggunaan, dan pembuangan akhir.

Kimia Hijau dikenal juga sebagai kimia berkelanjutan (Suistainable Chemistry). Dalam hal ini kimia hijau merupakan konsep dan pemikiran mengenai kimia untuk menyelamatkan lingkungan dari pencemaran. Kimia hijau bukanlah cabang ilmu kimia baru, namun merupakan cara pandang atau strategi dalam kaitannya dengan pemanfaatn kimia.

II.                  Tujuan Kimia Hijau

Kimia hijau bertujuan untuk menghilangkan dampak buruk zat kimia sejak pada proses perancangan. Praktik pencegahan bahaya dari sejak awal proses pembuatan zat kimia akan bermanfaat bagi keseshatan manusia dan lingkungan. Yang meliputi proses perancangan, produksi, penggunaan dan pembuangan limbah yang dihasilkan .

III.              Prinsip Kimia Hijau

 Menurut Anastas dan Warner (1998), Mengusulkan konsep “The Twelve Principles of Green Chemistry” yang digunakan sebagai acuan oleh para peneliti untuk melakukan penelitian yang ramah lingkungan. Berikut Prinsip 1-3 dan 4-6 dari 12 Prinsip Kimia Hijau:
1.       Mencegah timbulnya limbah dalam proses
Lebih baik mencegah daripada menanggulangi atau membersihkan limbah yang timbul setelah proses sintesis, karena biaya untuk menanggulangi limbah sangat besar. Pengolahan limbah yang masih diterapkan itu seperti:
a.       Reduce
b.      Reuse
c.       Recycle
d.      Recovery
e.      Landfill
Dengan adanya pencegahan limbah kita akan memiliki keuntungan yang bermanfaat seperti mengurangi emisi gas rumah kaca, mencegah kontaminasi air, tanah, dan udara, melestarikan SDA, dan memberikan energy pembahruan.

2.       Mendesain produk bahan kimia yang aman

Pengetahuan mengenai struktur kimia memungkinkan seorang kimiawan untuk mengkarakterisasi toksisitas dari suatu molekul serta mampu mendesain bahan kimia yang aman. Target utamanya adalah mencari nilai optimum agar produk bahan kimia memiliki kemampuan dan fungsi yang baik akan tetapi juga aman (toksisitas rendah). Caranya adalah dengan mengganti gugus fungsi atau dengan cara menurunkan nilai biovailability.

3.       Mendesain proses sintesis yang aman

Metode sintesis yang digunakan harus didesain dengan menggunakan dan menghasilkan bahan kimia yang tidak beracun terhadap manusia dan lingkungan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan dua cara yaitu meminimalkan paparan atau meminimalkan bahaya terhadap orang yang menggunakan bahan kimia tersebut.
4.       Menggunakan bahan baku yang dapat terbarukan

Penggunaan bahan baku yang dapat diperbarui lebih disarankan daripada menggunakan bahan baku yang tak terbarukan didasarkan pada alas an ekonomi. Bahan baku terbarukan biasanya berasal dari produk pertanian atau hasil alam, sedangkan bahan baku tak terbarukan berasalh dari bahan bakar fosil seperti minyak bumi, gas alam, batu bara, dan bahkan tambang alinnya.

5.       Menggunakan katalis

Penggunaan katalis memberikan seletifitas yang lebih baik, rendeman hasil yang meningkat serta mampu mengurangi produk samping. Peran katalis sangat penting meningkat, serta mampu mengurangi produk samping. Peran katalis sangat penting karena diperlukan untuk mengkonversi menjadi produk yang diinginkan. Dari sisi green chemistry penggunaan katalis berperan pada peningkatan selektifitas, mampu mengurangi penggunaan reagen, dan mampu meminimalkan penggunaan energy dalam suatu reaksi.

6.       Menghindari derivatisasi dan modifikasi sementara dalam reaksi kimia

Derivatisasi yang tidak diperlukan seperti penggunaan gugus pelindung, proteksi/deproteksi, dan modifikasi sementara pada proses fisika ataupun kimia harus diminimalkan atau sebisa mungkin dihindari karena pada setiap tahapan derivitisasi memerlukan tambahan reagen yang nantinya memperbanyak limbah.


Daftar Pustaka

Mustafa, Dian (2016). "Kimia Hijau dan Pembangunan kesehatan yang berkelanjutan di perkotaan" http://repository.ut.ac.id/7091/1/UTFMIPA2016-07-dina.pdf (Diakses Tanggal 20-02-2020).

Anwar, Muslih (2015). "Kimia Hijau / Green Chemistry" http://bptba.lipi.go.id/bptba3.1/?u=blog-single&p=343&lang=id (Diakses Tanggal 20-02-2020).

Hidayat, Atep Afia dan Muhammad Kholil. 2018. Kimia dan Pengetahuan Lingkungan Industri. Wahana Resolusi, Yogyakarta.