.

Tampilkan postingan dengan label @Q04-Adesita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @Q04-Adesita. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Februari 2020

BIOGAS SOLUSI ALTERNATIF MASA KINI


ABSTRAK
Industri peternakan merupakan industri  yang  menghasilkan  limbah  padat dan cair dalam jumlah yang besar dengan konsentrasi karbon  antara  8000-10000  mg (Mahajoeno 2009), sehingga industri  tersebut  berpotensi  mencemari  lingkungan, jika tidak dilakukan pengelolaan. Langkah yang telah ditempuh oleh industri dalam menangani masalah limbah umumnya dengan sistem pengolaan  limbah padat maupun cair secara anarobik terbuka, dimana sistem tersebut akan merombak kandungan polutan karbon dan nitrogen menjadi gas metan, karbon dioksida , dan senyawa lainnya oleh mikroorganisme anaerobik, sehingga berakibat mencemari lingkungan, dan dapat sebagai agen Efek Rumah Kaca (ERK) (Sasongko, W. (2010).
Fenomena yang terjadi di dunia saat ini adalah menyusutnya bahan bakar fosil dan efek pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh bahan bakar fosil. Limbah kotoran dari peternakan dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif untuk menyediakan bahan bakar Renewable dan ramah lingkungan (Mangiwa, S. (2017)

Kata Kunci : Biogas, Alternatif, limbah kotoran

PEMBAHASAN
Pengolahan kotoran sapi menjadi energi alternative biogas yang ramah lingkungan merupakan cara yang sangat menguntungkan, karena mampu memanfaatkan alam tanpa merusaknya sihingga siklus ekologi tetap terjaga. Manfaat lain mengolah kotoran sapi menjadi energi alternatif biogas adalah dihasilkannya pupuk organik untuk tanaman. Dengan demikian, manfaat ganda tersebut dapat menghemat energi, pengurangan biaya energi untuk memasak dan pengurangan konsumsi energi tak terbarukan yaitu BBM.
Biogas merupakan salah satu bentuk energi alternatif yang prospektif untuk dikembangkan. Pengembangan biogas tidak hanya mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak yang harganya terus meningkat, tetapi juga dapat meningkatkan keamanan pasokan energi nasional. Pengolahan kotoran ternak menjadi energi alternatif biogas yang ramah lingkungan merupakan metode yang sangat menguntungkan bagi masyarakat, karena mampu memanfaatkan alam tanpa merusak siklus ekologi. Manfaat lain mengolah kotoran ternak menjadi energi biogas adalah dihasilkannya pupuk organik yang dapat dimanfaatkan untuk tanaman (Mangiwa, S. (2017).
Biogas diproduksi oleh bakteri dari bahan organik di dalam kondisi tanpa oksigen (anaerobic process). Proses ini berlangsung selama pengolahan atau fermentasi. Gas yang dihasilkan sebagian besar terdiri atas CH4 dan CO2. Jika kandungan gas CH4 lebih dari 50%, maka campuran gas ini mudah terbakar, kandungan gas CH dalam biogas yang berasal dari kotoran ternak sapi kurang lebih 60%. Temperatur ideal proses fermentasi untuk pembentukan biogas berkisar 30 oC (Sasse, L., 1992, Junaedi, 2002) dalam (Mariawan, I. M. (2017).
Produksi biogas dari kotoran sapi berkisar 600 liter s.d. 1000 liter biogas per hari, kebutuhan energi untuk memasak satu keluaraga rata-rata 2000 liter per hari. Dengan demikian untuk memenuhi kebutuhan energi memasak rumah tangga dapat dipenuhi dari kotoran 3 ekor sapi. Jenis konstruksi unit pengolah (digester) biogas yang dapat dibangun di daerah tropis dapat dibagi menjadi 3 model yaitu digester permanen (fixed dome digester), digester dengan tampungan gas mengapung (floating dome digester), digester dengan tutup plastic (Junaedi, 2002) dalam (Mariawan, I. M. (2017).
Prinsip dasar teknologi biogas adalah proses penguraian bahan- bahan organik oleh mikroorganisme dalam kondisi tanpa oksigen (anaerob) untuk menghasilkan campuran dari beberapa gas, seperti metan an CO2, Biogas dihasilan dengan bantuan bakteri metanogen (bakteri ini secara alami terdapat dalam limbah yang mengandung bhan organi, seperti limbah ternak dan sampah organik. Umumnya, biogas diproduksi menggunakan alat yang disebut reaktor biogas (digester) yang idrancang agar kedap udara (anaerobik), sehingga proses penguraian oleh mikroorganisme dapat berjalan secara optimal.
Beberapa keuntungan yang dapat diraih dengan memanfaatkan biogas sebagai berikut :
1. Mewujudkan peternakan yang bersih dan ramah lingkungan serta berwawasan budaya
2. Mendorong pola pemeliharaan ternak dari ekstensif menjadi intensif sehingga pengeolaan ternak untuk tujuan produksi dan reproduksi lebih optimal
3. Meciptakan peluang usaha yang ekonomis, mulai dari skala usaha kecil hingga skala besar
4. Menghemat pengeluaran petani dengan memanfaatkan bioas sebagai pengganti bahan bakar minyak tanah atau kayu bakar untuk memasak dan penerangan, serta dapat digunakan sebagai pembangit tenaga listrik.
5. Membantu dalam memperlambat laju pemanasan global dengan menurunkan gas emisi rumah kaca.

Keuntungan energi :
1. Menghasilan energi yang bersih dengan nyala api berwarna biru
2. Menghasilan bahan bakar berkualitas tinggi dan dapat diperbaharui
3. Dapat digunakan untuk berbagai penggunaan
4. Tidak mudah meledak

Keuntungan lingkungan  :
1. Mengurangi polusi udara
2. Memaksimalkan proses daur ulang
3. Pupuk yang dihasilkan bersih dan kaya nutrisi
4. Menurunkan emisi gas metan dan CO2 secara signifikan
5. Memperkecil kontaminasi sumber air karena dapat menghilangkan bakteri Coliform sampai 99%
6. Tidak menimbulkan bau yang berbahaya bagi kesehatan manusia

KESIMPULAN
Pemanfaatan limbah kotoran ternak sebagai biogas merupakan salah satu solusi untuk me- ngatasi masalah kebutuhan bahan bakar yang terus meningkat sekaligus mengatasi masalah pencemaran lingkungan dari bau yang dihasilkan. Limbah kotoran ternak yang banyak digunakan sebagai biogas adalah kotoran sapi namun tidak menutup kemung- kinan bagi kotoran ternak lainnya untuk dapat meng- hasilkan biogas. Salah satu kotoran yang dapat digunakan adalah kotoran ternak babi.

DAFTAR PUSTAKA

Mangiwa, S. (2017). PEMANFAATAN LIMBAH KOTORAN TERNAK SEBAGAI BIOGAS YANG RAMAH LINGKUNGAN DAN BERKELANJUTAN. Jurnal Pengabdian Papua, 1(1).

Mariawan, I. M. (2017). IbM BIOGAS. WIDYA LAKSANA, 1(1), 36-44.

Sasongko, W. (2010). Produksi Biogas dari Biomassa Kotoran Sapi dalam Biodigester Fix Dome dengan Pengenceran dan Penambahan Agitasi (Doctoral dissertation, UNS (Sebelas Maret University)).


Wahyuni, S. (2011). Menghasilkan Biogas dari aneka Limbah. PT. Agro media Pustaka.



Jumat, 28 Februari 2020

Peran Nanoteknologi dalam Pengolahan Air


Peran Nanoteknologi dalam Pengolahan Air


ABSTRAK :
Konsep go green terus menjadi kampaye untuk berbagai bidang kehidupan. Termasuk juga da­lam bidang infrastruktur. Berbagai teknologi untuk mendukung konsep go green terus dikembangkan pada kontruksi-konstruksi bangunan un­tuk membuat bangunan yang lebih ramah lingkungan dan menghemat energi dan pengurangan emisi kar­bon atau yang lazim dikenal dengan konsep green building.
Bidang nanoteknologi sedang berkembang pesat kerana penerapannya yang luas dalam bidang sains dan teknologi yang berbagai. Beberapa kaedah telah digunakan untuk penghasilan nanopartikel kerana fungsi mereka yang besar dalam pelbagai bidang. Batasan kaedah tradisional dan sifat toksik bahan kimia yang digunakan semasa sintesis atau dalam aplikasi menghalang potensi penggunaannya dalam bidang bioperubatan. Ini membawa kepada pembangunan sintesis hijau nanopartikel. Penyelidik sekarang sedang menumpukan pada pembangunan prosedur mudah, kos efektif, bersih, tidak toksik dan mesra alam untuk sintesis nanopartikel (Sutanto, K. (2017).

Kata Kunci : Nanoteknologi , Nanopartikel, Pengolahan air, polutan

PEMBAHASAN
Nanopartikel termasuk kata terpopuler dan bagian penting dari nanoteknologi. Kemajuan besar sedang terjadi dalam pengembangan nanopartikel, dengan munculnya penemuan baru dan harapan baru terhadap nanoteknologi hampir di setiaphari di banyak sektor. Salah satu contoh adalah pengembangan biosensor, pengembangan partikel berbasis besi yang digunakan melawanjaringan kanker, pengembangan adsorben berbasis nano pada pengolahan limbah cair, pengembangan nano-catalytic converter yang mengubah NOx menjadi N2 dan O2, pengembangan nanobots yang mengikat CFC perusak ozon di atmosfer, struktur baja nano yang didukung nanopartikel komposit logam, nanofiber yang kedap air, tabir surya nano yang transparan namun efektif dan sebagainya (Fajaroh, F).
Penggunaan nanomaterial yang telah direkayasa (Engineered Nanomaterials / ENMs) untuk pengolahan air saat ini hanya terbatas pada pengeksplorasian potensinya untuk bertindak sebagai adsorben efektif, filter, disinfektan, dan agen reaktif. Padahal, ENMs memiliki prospek yang baik untuk mengolah air secara utuh dan dalam hal remediasi lingkungan. Meski demikian, penerapan nanoteknologi dalam bidang ini masih lebih maju dibanding pada bidang medis dan elektronik walaupun masih terdapat banyak hambatan dalam proses pengembangannya (Sutanto, K. (2017).
Beberapa tantangan tersebut diantaranya adalah regulasi yang berlaku, kendala teknis, persepsi publik, serta ketidakpastian eksistensi nanomaterial dalam lingkungan hidup (Sutanto, K. (2017).

Tantangan Teknologi Terkini
Terdapat banyak dampak lingkungan yang terkait dengan berbagai teknologi pengolahan air saat ini yang sangat bergantung pada metode yang digunakan. nanomaterial juga dapat mengurangi konsumsi energi karena bersifat reusable (dapat digunakan kembali) dan mengurangi produksi limbah.
  1.        Oksidasi

Oksidasi adalah salah satu metode yang cukup efektif untuk menghilangkan kontaminan yang terdapat pada air limbah, namun efisiensinya cenderung rendah. Penggunaan klorin untuk oksidasi tentunya cukup berbahaya karena sebagai gas, klorin sangat beracun bahkan pada konsentrasi rendah sekalipun. Oksidasi elektrokimia juga memerlukan input energi yang signifikan serta penggantian elektroda secara sering sebagai akibat dari korosi. Oleh karena itu cara ini dianggap kurang efektif dan efisien.

2         2.  Fotokalis

Penggunaan berbagai bentuk fotolisis atau degradasi fotokatalitik (seperti UV fotolisis, TiO2 katalis UV fotolisis) efektif dalam menurunkan banyak senyawa organik terhalogenasi, beberapa senyawa non-halogen organik, Fotolisis sering dibatasi oleh kejernihan air yang sedang diolah karena cahaya UV harus mampu menembus. Fotolisis UV dapat memiliki dampak siklus hidup yang tinggi karena konsumsi energinya pun tinggi. Lampu UV juga perlu sering dibersihkan dan penggantiannya tentu menyebabkan peningkatan biaya tenaga kerja. Fotokatalisis sering tidak efektif dalam jangka waktu panjang dan dibatasi oleh sifat kimia air (misalnya hardness) dan adanya cokontaminan.

3        3.  Adsorpsi

Berbagai metode adsorpsi cenderung efektif untuk menghilangkan polutan secara umum baik organik maupun anorganik. Sebagian besar metode adsorpsi menggunakan bahan karbon untuk menjebak molekul polutan di dalam struktur porinya. Bahan baku untuk karbon aktif tergolong murah, namun energi yang dibutuhkan untuk memproduksi karbon aktif berkualitas tinggi telah terbukti memberi dampak lingkungan yang buruk dan signifikan jika sumber energi tak terbarukan yang digunakan. Meskipun alternatif dengan biaya yang lebih rendah telah ditemukan, banyak yang belum efisien dan penyumbatan pori-pori adalah masalah yang sering dijumpai. Adsorpsi juga hanya menghilangkan polutan bukan mengubahnya, yang menghasilkan aliran limbah berbahaya yang harus ditangani dengan benar.

          4.   Filtrasi
Berbagai teknik filtrasi, seperti filtrasi pasir dan filtrasi membran (termasuk mikrofiltrasi, ultrafiltrasi, dan reverse osmosis (RO)) efektif menghilangkan sebagian kontaminan dari air limbah.


KESIMPULAN

Penerapan nanoteknologi dalam pemurnian air dan rehabilitasi lingkungan memiliki potensi besar, seperti yang telah ditunjukkan oleh beberapa penelitian. Teknologi pengolahan tradisional tidak selalu menawarkan solusi biaya yang paling efektif untuk menghilangkan beberapa polutan umum, dan juga tidak efektif untuk menghilangkan polutan yang ada pada konsentrasi rendah. Selain itu, banyak dari teknik ini sudah mencapai ke batas mereka dan mungkin tidak dapat lagi memenuhi standar yang semakin ketat perihal kualitas air.


DAFTAR ISI

Fajaroh, F. Sintesis Nanopartikel dengan Prinsip Kimia Hijau.


Sutanto, K. (2017). Teknologi Berbasis Nanomaterial untuk Remediasi dan Pengolahan Air.



Kamis, 27 Februari 2020

E-Toll Card Teknologi Hijau Masa Kini

https://assets.jalantikus.com/assets/cache/0/0/tips/2018/12/22/cara-beli-kartu-e-toll-banner-3ce29.jpg

ABSTRAK
ISU lingkungan yang semula sekadar wacana pada 1950-an, justru di awal milenium ini muncul menjadi isu global. Seketika semua pihak kembali mengintrospeksi apa yang telah dilakukan terhadap lingkungan hidup yang notabene menjadi tempat kehidupan makhluk dan tempat memperoleh semua kebutuhan akan sumber daya.           
Ada beberapa hal yang patut menjadi renungan dan pemikiran semua pihak. Hutan hujan tropis yang sudah jauh dari bentuk aslinya karena ulah manusia. Peningkatan lapisan gas CO2 di atmosfer dan penipisan lapisan ozon, sehingga menyebabkan pemanasan bumi. (Prakoso, 2009)
Pemanasan global mengancam kerusakan terumbu karang di kawasan segitiga terumbu karang (coral triangle ) di enam negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Kepulauan Salomon, Papua Nugini, Timor Leste, dan Philipina. Kerusakan segitiga terumbu karang ini dikhawatirkan merusak kehidupan masyarakat lokal yang berada di sekitarnya. Indonesia sebagai negara yang memiliki kawasan terumbu karang terluas di dunia, yakni 51.000 km persegi atau 20% dari luas terumbu karang dunia, namun sekitar 50% dalam kondisi rusak parah. (Prakoso, 2009)
Permasalahan lingkungan juga menghantui kawasan perkotaan. Pencemaran udara di kota-kota besar mengancam kesehatan warga. Gejala gangguan kesehatan pada balita karena terkena dampak timah hitam dari bahan bakar bensin terus diwaspadai. Kota pun mengalami krisis air bersih di beberapa titik (Prakoso, 2009).
Dengan bertambah modernnya jaman, kebutuhan akan kertas di Indonesia semakin meningkat. Hal ini dikarenakan adanya perkembangan ilmu dan teknologi (IPTEK). Pertumbuhan industri pulp dan kertas di Indonesia semakin meningkat tiap tahunnya. Pada tahun 2003 konsumsi kertas mencapai 5,31 juta ton, tahun 2004 kebutuhan konsumsi kertas mencapai 5,40 juta ton. Sedangkan pada tahun 2005 konsumsi kertas mencapai 5,61 juta ton dan untuk tahun 2009 mencapai 6,45 juta. Namun terkait dengan kebutuhan kayu yang semakin menipis akibat digunakan sebagai bahan baku pulp dan kertas, maka sebagaimana dinyatakan oleh Manurung dan Sukaria (2008)[1] bahwa Departemen Kehutanan telah menetapkan batas waktu penggunaan bahan baku dari hutan alam untuk industri pulp pada tahun 2009. Kertas merupakan sarana untuk menyampaikan informasi serta sebagai alat berkomunikasi yang digunakan oleh masyarakat. Dari segi kegunaanya, kertas sulit dipisahkan dengan kehidupan manusia. (Usman, A., Kurniawan, I., & Tarmawan, I. (2015).

Kata Kunci : E-Toll, Teknologi Hijau, Kertas

PENDAHULUAN
Green Technology (Teknologi Hijau), diartikan sebagai suatu ilmu pengetahuan praktis / teknologi yang dapat digunakan untuk melaksanakan pembangunan yang dapat mewujudkan tatanan infrastuktur untuk memenuhi kebutuhan manusia secara berkelanjutan (sustainable development), tanpa merusak atau mengganggu sumber daya alam. Secara singkat, teknologi yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan generasi saat ini dan tidak mengganggu ketersediaan kebutuhan generasi mendatang. (Ginting, N. T. (2008).

Saat ini teknologi hijau diharapkan akan menjadi penyelesaian berbagai aspek sosial, ekonomi, dan alam sekitar. Oleh karena itu, teknologi hijau (green technology) merujuk pada aplikasi produk, peralatan serta sistem untuk memelihara alam sekitar. Ruang lingkup dari green technology ini adalah teknologi sumber alam hijau, bangunan hijau, nanoteknologi hijau, dan alamtologi. Konsep penerapan teknologi hijau diterapkan dalam kehidupan manusia untuk keberlangsungan. Keberlangsungan adalah upaya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat secara terus menerus di masa depan tanpa merusak atau menghabiskan sumber daya alam. Penghematan sumber daya alam salah satunya dengan inovasi (Vachon & Klassen, 2006). Inovasi adalah upaya untuk mengembangkan alternatif teknologi yang ramah lingkungan guna memenuhi kebutuhan manusia tanpa merusak lingkungan. (Sriwardiningsih, E. (2014).

Enam tindakan manusia yang dikenal sebagai “Tragedy of Commons” sebagai penyebab utama perubahan iklim global menurut Gany (2008) ,yaitu:a. Meningkatnya kadar karbon dioksida (CO2) di atmosfir. b. Perobahan terhadap siklus bio-kimia global dari nitrogen dan elemen-elemen lainnya.     c. pembentukan dan pelepasan komponen organik secara terus menerus seperti chlorofluorocarbon    d. Perubahan besar-besaran dalam tataguna lahan dan vegetasi tutupan permukaan. e. Perburuan dan perambahan sejumlah besar sumber daya alam dan kehidupan predator dan konsumen. f. Invasi keanekaragaman hayati oleh species asing. (Nefilinda, N. (2017).

PEMBAHASAN

Salah satu produk teknologi inovasi pembayaran baru yang dikenal saat ini adalah e-toll sebagai alat transaksi pengganti tiket kertas yang biasanya didapatkan pengguna jalan tol. Penggunaan e-toll merupakan suatu inovasi dari teknologi sistem pembayaran yang menghemat sumber daya alam kayu, mengurangi sampah kertas yang hanya sekali pakai selama ini, dan mengurangi kemacetan. Teknologi hjau (green technology) merujuk kepada pembangunan dan aplikasi produk, peralatan serta sistem untuk memelihara alam sekitar, dan meminimalkan peran negatif aktivititas manusia. Sriwardiningsih, E. (2014).

Ruang lingkup teknologi hijau adalah sebagai berikut. Tenaga sumber alam; merupakan isu penting dalam teknologi hijau dan ini termasuk pembangunan bahan bakar alternatif atau sumber tenaga yang boleh diperbarui. Bangunan hijau; bidang ini merangkum semua tahap pembangunan, dari pemilihan bahan bangunan hingga pemilihan lokasi bangunan. Nanoteknologi hijau; bidang ini melibatkan manipulasi bahan pada skala nanometer atau satu per milyar meter. Nanoteknologi hijau adalah aplikasi teknologi hijau dalam bidang nanoteknologi. Alamtologi; suatu teknologi yang jelas mengikut fitrah alam dan hanya mengembangkannya sesuai dengan susunan yang lebih teratur. (Sriwardiningsih, E. (2014).

Jika diamati dari ruang lingkup teknologi hijau, e-toll dalam hal ini masuk dalam bangunan hijau karena mengikuti tahap pembangunan hijau dari pemilihan bahan kertas menjadi kartu daur ulang. E-toll card adalah kartu prabayar contactless smartcard yang diterbitkan oleh Bank Mandiri bekerja sama dengan operator tol. (Sriwardiningsih, E. (2014).

KESIMPULAN

Aplikasi penerapan Teknologi Hijau masih terus dikembangkan dalam berbagai Aspek. Salah satunya adalah Karcis Toll diganti menggunakan Kartu E-toll. Hal ini dilakukan untuk mengurangi penggunaan kertas yang berdampak pada penebangan pohon secara ilegal yang dapat berakibat pada bumi, salah satunya adalah pemanasan global.

DAFTAR PUSTAKA

Asriningpuri, H., Kurniawati, F., & Pambudi, G. (2015). Teknologi Hijau Warisan Nenek Moyang di Tanah Parahyangan. Jurnal Sains & Teknologi Lingkungan, 7(1), 51-65.

Ginting, N. T. (2008). Mitigasi dan Adaptasi Dampak Perubahan Iklim Melalui Penerapan Teknologi Hijau. Jurnal Permukiman, 3(2), 129-136.

Mahreni, A., & Nuri, W. (2019). Bahan Kimia Hijau.

Nefilinda, N. (2017). Teknologi Hijau: Solusi Untuk Pelestarian Sumber Air. Jurnal Spasial, 1(2).

Sriwardiningsih, E. (2014). Nilai guna (kepuasan) green technology e-Toll sebagai salah satu alternatif layanan pada konsumen pengguna tol dalam kota Jakarta. Binus Business Review, 5(1), 323-332.

Usman, A., Kurniawan, I., & Tarmawan, I. (2015). Perancangan Kampanye Mengurangi Konsumsi Kertas Di Kota Bandung (studi Kasus Brosur). eProceedings of Art & Design, 2(3).




Sabtu, 22 Februari 2020

PENCEMARAN LINGKUNGAN AKIBAT LIMBAH PABRIK TAHU


PENCEMARAN LINGKUNGAN AKIBAT LIMBAH PABRIK TAHU

Oleh : Adesita N

ABSTRAK :
Industri kecil pembuatan tahu adalah salah satu usaha kelola pangan yang memiliki prospek pasar bagus  di Indonesia. Industri tahu saat ini sudah menjamur di Indonesia, dan rata-rata masih dilakukan dengan teknologi yang sederhana, sehingga tingkat efisiensi penggunaan air dan bahan baku masih rendah dan tingkat produksi limbahnya juga relatif tinggi (Kaswinarni, F. (2008). Namun, masih banyak  yang belum melakukan pengolahan limbah. Kalaupun sudah ada yang mempunyai unit pengolahan limbah hasilnya juga ada yang belum sepenuhnya sesuai yang diharapkan.

Kata Kunci : Limbah Tahu, Tahu, Dampak Limbah Tahu

PENDAHULUAN

Industri tahu dalam proses pengolahannya menghasilkan limbah baik limbah padat maupun cair. Limbah padat dihasilkan dari proses penyaringan dan penggumpalan. Sedangkan limbah cairnya dihasilkan dari proses pencucian, perebusan, pengepresan dan pencetakan tahu, oleh karena itu limbah cair yang dihasilkan sangat tinggi. Limbah cair tahu dengan karakteristik mengandung bahan organik tinggi, suhu mencapai 40oC-46oC, kadar BOD5 (6.000-8.000 mg/1), COD (7.500-14.000 mg/1), TSS dan pH yang cukup tinggi pula. Jika langsung dibuang ke badan air, maka akan menurunkan daya dukung lingkungan.

Sehingga industri tahu memerlukan suatu pengolahan limbah yang bertujuan untuk mengurangi resiko beban pencemaran yang ada. Gas-gas yang biasa ditemukan dalam limbah tahu adalah gas nitrogen (N2). Oksigen (O2), hidrogen sulfida (H2S), amonia (NH3), karbondioksida (CO2) dan metana (CH4). Gas-gas tersebut berasal dari dekomposisi bahan-bahan organik yang terdapat di dalam air buangan (Herlambang, 2002, 15-17). Dalam  Kaswinarni, F. (2008)

Pada umumnya bahan – bahan organik yang terkandung dalam industri tahu sangat tinggi, senyawa organik di dalam air buangan tersebut dapat berupa protein, karbohidrat, lemak dan minyak. Di antara senyawa organik protein dan lemaklah yang paling besar bisa mencapai 40% - 60% protein, 25 - 50% karbohidrat, dan 10% lemak. Semakan lama jumlah dan bahan organik ini akan semakin banyak, dalam hal ini akan menyulitkan pengelolaan limbah, karena beberapa zat sulit di uraikan oleh mikroorganisme di dalam air limbah tahu tersebut. Adack, J. (2013).

Air buangan industri tahu kualitasnya bergantung dari proses yang digunakan. Apabila air prosesnya baik, maka kandungan bahan organik pada air buangannya biasanya rendah. Pada umumnya konsentrasi ion hidrogen buangan industri tahu ini cenderung bersifat asam. Komponen terbesar dari limbah cair tahu yaitu protein sebesar 226,06 sampai 434,78 mg/l. sehingga masuknya limbah cair tahu ke lingkungan perairan akan meningkatkan total nitrogen di peraian tersebut.

Pencemaran limbah sangat berbahaya bagi biota di perairan berbagai jenis ekosistem mengalami keracunan. Setiap spesies yang berada di perairan berbeda – beda ada spesies yang tahan terhadap pencemaran dan ada juga yang tidak tahan terhadap pencemaran yang terjadi di perairan. Setiap ekosistem selalu beradaptasi dengan tempatnya. Walau pun begitu tingkat adaptasinya terbatas, bila batas tersebut melampaui batas, maka ikan tersebut akan mati. Punahnya sepesis tertentu akan beakibat pada kehidupan manusia dan juga makhluk hidup lainnya.

PP No. 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air di katakan bahwa air yang merupakan sumber daya alam yang di perlukan banyak orang, perlu di pelihara untuk melindungi kualitas air agar air tetap bersih, bermanfaat bagi kehidupan manusia dan ekosistem yang hidup di perairan baik di masa kini maupun di masa yang akan datang, karena itu untuk menjaga kualitas air agar dapat bermanfaat secara berkelanjutan dengan tingkat mutu yang di inginkan, maka perlu pengendalian pencemaran air bagi kehudupan manusia dan untuk mendapatkan lingkungan hidup yang bersih Adack, J. (2013).

Analisis resiko Dampak Limbah Pabrik Tahu terhadap Lingkungan :

Prakiraan resiko terhadap tata guna lahan yang mungkin terjadi yaitu resiko berasal dari buangan limbah terutama limbah cair yang mencemari air tanah dan air permukaan.

Prakiraan resiko terhadap udara, yaitu resiko berasal dari bau limbah tahu yang semakin lama semakin tidak sedap. Akibat pencemaran tersebut warga khususnya pekerja pabrik merasa kurang nyaman akibat terhisapnya bau ke dalam pernafasan.

Prakiraan resiko terhadap air tanah yaitu berasal dari pengolahan limbah cair, yang mungkin meresap dan masuk ke dalam air tanah. Resiko yang mungkin timbul berupa timbulnya penyakit-penyakit yang diderita oleh masyarakat yang menggunakan air tanah, seperti penyakit kulit, penyakit perut, dan lain-lain.

Prakiraan resiko terhadap air permukaan yaitu berasal dari pengolahan limbah cair, yang dibuang ke sungai. Resiko yang timbul pada flora, fauna, dan manusia, yang memanfaatkan sungai. Resiko terbesar yang mungkin terjadi adalah matinya biota air, tumbuhan air, dan hewan air. Resiko yang muncul bersifat negatif.

Prakiraan resiko terhadap flora resiko yang mungkin timbul berupa berkurangnya kemampuan tumbuhan dalam berfotosintesis sehingga menyebabkan tumbuhan tersebut mati serta bersifat negatif.

Prakiraan resiko terhadap fauna darat berasal dari limbah cair yang berasal dari proses akhir pemisahan jonjot-jonjot tahu yang telah diolah kemudian dibuang ke sungai lalu dihisap oleh tumbuhan yang hidup di sekitar sungai. Berkurangnya flora darat mempengaruhi pula fauna yang ada.

Prakiraan resiko terhadap tingkat kesehatan masyarakat berasal dari limbah cair yang dari kolam pengolahan yang masuk ke dalam air permukaan/sungai, di mana masyarakat sekitar tinggal dan memanfaatkan sungai maupun air tanah (sumur). Resiko yang mungkin timbul berupa munculnya penyakit kulit, perut, dan sebagainya serta bersifat negatif.

Teknologi pengolahan Limbah Tahu :
Teknologi pengolahan limbah tahu dapat dilakukan dengan proses biologis sistem anaerob, aerob dan kombinasi anaerob-aerob. Teknologi pengolahan limbah tahu yang ada saat ini pada umumnya berupa pengolahan limbah dengan sistem anaerob, hal ini disebabkan karena biaya operasionalnya lebih murah. Dengan proses biologis anaerob, efisiensi pengolahan hanya sekitar 70%-80%, sehingga airnya masih mengandung kadar pencemar organik cukup tinggi, serta bau yang masih ditimbulkan sehingga hal ini menyebabkan masalah tersendiri.  Untuk mengatasi hal tersebut, maka diterapkan sistem pengolahan limbah dengan sistem kombinasi anaerob-aerob, dengan 6 sistem ini diharapkan dapat menurunkan konsentrasi kadar COD air limbah tahu (Herlambang, 2002, 30).

KESIMPULAN
Dampak dari pencemaran limbah pabrik tahu terhadap lingkungan hidup yaitu rusaknya kualitas lingkungan terutama perairan sebagai salah satu kebutuhan umat manusia dan makhluk hidup lainnya. Rusaknya lingkungan akibat limbah pabrik tahu yang berdampak buruk terhadap kehidupan ekosistem yang berada diperairan dan juga mengancam kesehatan manusia. Ganguan terhadap perairan sangat merugikan kualitas mutu air serta manfaatnya. Limbah tahu membawa akibat bagi lingkungan, karena mempunyai bahan – bahan berbahaya yang dibuang ke perairan salah satunya limbah berbahaya dan beracun. Jika pencemaran limbah tahu dibiarkan terus menerus ditanah air kita, maka kelangsungan hidup ekosistem diperairan pun semakin terancam.


DAFTAR PUSTAKA


Adack, J. (2013). Dampak pencemaran limbah pabrik tahu terhadap lingkungan hidup. Lex Administratum, 1(3).

Damayanti, A., Hermana, J., Masduqi, A., & FTSP-ITS, J. T. L. (2004). ANALISIS RESIKO LINGKUNGAN DARI PENGOLAHAN LIMBAH PABRIK TAHU DENGAN KAYU APU (Pistia stratiotes L.) ENVIRONMENTAL ANALYSIS FROM TOFU WASTE WATER TREATMENT BY WATER LETTUCE (Pistia stratiotes L.). Jurnal Purifikasi, 5(4), 151-156.

Kaswinarni, F. (2008). Kajian Teknis Pengolahan Limbah Padat dan Cair Industri Tahu. Majalah Lontar, 22(2).



Jumat, 21 Februari 2020

PERANAN PRINSIP KIMIA HIJAU UNTUK MENYELAMATKAN BUMI


PERANAN PRINSIP KIMIA HIJAU UNTUK MENYELAMATKAN BUMI
Oleh : Adesita N

ABSTRAK :

Green chemistry atau “kimia hijau” merupakan bidang kimia yang berfokus pada pencegahan polusi. Pada awal 1990-an, green chemistry mulai dikenal secara global setelah Environmental Protection Agency (EPA) mengeluarkan Pollution Prevention Act yang merupakan kebijakan nasional untuk mencegah atau mengurangi polusi. (Anwar, 2015).

Kata Kunci : Green Chemistry, kimia Hijau, Generasi Cerdas, BUMI

PENDAHULUAN :
Perkembangan dan pemanfaatan zat-zat kimia yang tanpa kendali, menyebabkan tubuh manusia terkontaminasi oleh sejumlah besar zat kimia sintetis hasil industrialisasi, banyak diantaranya telah diketahui bersifat racun dan penyebab kanker. Zat-zat tersebut masuk ke tubuh manusia melalui produk yang tidak disebutkan sebagai komponen penyusun atau ingredients pada produk-produk makanan atau aditif, makanan yang terkontaminasi zat kimia, udara, air dan debu. Bahkan, janin yang tumbuh di perut ibu juga sudah terpapar langsung oleh zat kimia melalui makanan dan obat-obatan yang dikonsumsi oleh ibu. Pada akhirnya banyak zat kimia yang masuk ke rantai makanan dan tersirkulasi ke seluruh dunia. Telah terbukti bahwa pestisida yang digunakan di daerah tropis ternyata sudah umum ditemukan di Artika (wilayah di Kutub Utara) sekarang (Clark, 2005). Zat pencegah api pada mebel dan elektronik saat ini ternyata didapati di tubuh mamalia yang hidup di lautan (Mustafa, D. (2017).

Konsep kimia hijau biasanya ditampilkan sebagai gabungan dari 12 prinsip yang diusulkan oleh Anastas dan Warner (Anastas & Warner, 1998), apabila diterapkan dapat menunjukkan bagaimana produksi zat kimia dapat memfasilitasi kesehatan manusia dan lingkungan, dengan tetap memperhatikan efisiensi dan keuntungan.
Kedua belas prinsip kimia hijau itu adalah:
1) pencegahan: pencegahan limbah lebih diutamakan daripada perlakuan terhadap air limbah;
2) atom ekonomi: metode sintesa harus dirancang untuk memaksimalkan pemanfaatan semua materi yang digunakan dalam proses sampai menghasilkan suatu produk;
3) sintesa zat kimia dengan kemungkinan timbulnya bahaya seminimal mungkin: kegiatan pembuatan zat kimia diusahakan menerapkan metode yang dirancang untuk memanfaatkan dan menghasilkan zat-zat dengan toksisitas serendah mungkin bagi kesehatan manusia dan lingkungan; 
4) merancang zat kimia yang aman yang dapat digunakan sesuai peruntukannya dengan meminimalisir toksisitas zat tersebut;
5) pemanfaatan pelarut dan zat pendamping yang aman;
6) perancangan sistem untuk mendapatkan efisiensi energi pada temperatur dan tekanan rendah serta ramah lingkungan;
7) sejauh mungkin menerapkan penggunaan bahan mentah yang terbarukan, bukan yang menghabiskan sumber daya;
8) sejauh mungkin mengurangi pemanfaatan zat derivatif seperti zat pencegah, pelindung, atau penghancur;
9) pemanfaatan katalis seselektif mungkin dan yang merupakan reagen dengan sifat stokiometrik yang paling baik;
10) perancangan agar mudah diuraikan, zat-zat kimia yang dihasilkan harus mudah diuraikan saat manfaatnya telah selesai;
11) analisis secara real-time untuk pencegahan polusi; metode-metode analisis harus dikembangkan untuk memungkinkan pemantauan dan pencegahan secara langsung pada setiap tahap dari proses sintesa untuk mencegah terbentuknya zat berbahaya;
12) penerapan kimia aman untuk mencegah kecelakaan, zat-zat yang digunakan dalam proses kimia harus dipilih untuk meminimalisir potensi kecelakaan, termasuk pelepasan zat berbahaya, ledakan, dan kebakaran.

Prinsip-prinsip Kimia Hijau yang dapat diterapkan untuk pembentukan dan pengelolaan kota cerdas, adalah atom economy, penghindaran toksisitas, pemanfaatan solven dan media lainnya dengan konsumsi energi seminimal mungkin, pemanfaatan bahan mentah dari sumber terbarukan, serta penguraian produk kimia menjadi zat-zat nontoksik sederhana yang ramah lingkungan (Dhage, 2013). Dalam (Mustafa, D. (2017).

Penerapan kimia hijau antara lain pada sistem pengelolaan air dengan menerapkan nanofiltrasi dengan kreasi membran ramah lingkungan untuk menyaring polutan, pembuatan bahan bangunan yang aman bagi manusia dan lingkungan, serta pengelolaan limbah yang sehat bagi lingkungan (Mustafa, 2017). Untuk menjamin penyediaan air bersih di perkotaan telah dilakukan dengan berbagai rekayasa infrastruktur pengairan (Susanto, 2017), dan rekayasa pengolahan dan penghematan air untuk mendapatkan air bersih yang sehat (Utami & Handayani, 2017) dalam (Mustafa, D. (2017).

Beberapa penerapan Prinsip Kimia Hijau, diantaranya :

CAT RAMAH LINGKUNGAN
Senyawa organik yang mudah menguap atau volatile organic compounds (VOC) biasa diidentifikasi sebagai bau sesuatu yang baru dicat, bersifat berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. (Mustafa, D. (2017). . Cat-cat yang diiklankan di Indonesia juga sudah mulai memperhatikan keamanan terhadap kesehatan dan lingkungan contohnya adalah berbahan dasar air atau Water Based. (Mustafa, D. (2017)

PLASTIK RAMAH LINGKUNGAN
Sudah ada produk-produk plastik yang berbahan dasar gula dari tanaman hasil pertanian yang terbarukan, seperti jagung, kentang, dan gula dari buah bit, untuk mulai menggantikan plastik yang berasal dari petroleum. Beberapa perusahaan di negara maju telah menghasilkan produk-produk plastik yang ramah lingkungan. Sebagai contoh, perusahaan di Amerika yang memasarkan polimer PLA dari tumbuhan yang berasal dari jagung, digunakan dalam kemasan makanan dan minuman.        (Mustafa, D. (2017)

ADOPSI PENDEKATAN KIMIA HIJAU PADA TINGKAT INDUSTRI
Banyak usaha yang mulai memperhatikan pendekatan kimia hijau. Perusahaan bangunan memanfaatkan bahan bangunan yang ramah lingkungan dan menghindari bahan yang terbukti berbahaya bagi kesehatan seperti asbes. Usaha pencucian baju atau laundry juga sudah mengganti pelarut bahan kimia untuk dry cleaning, dari Perchloroethylene (PERC) – Cl2C=CCl2 –, dengan CO2 cair dan surfaktan (Dhage, 2013). PERC terbukti berbahaya bagi air tanah dan diduga bersifat karsinogenik, seperti hampir semua pelarut yang mengandung halogen. (Mustafa, D. (2017)

SOSIALISASI KIMIA HIJAU
Pendekatan kimia hijau untuk pengolahan limbah padat, baik organik maupun anorganik, dapat disosialisasikan ke masyarakat (Anggraeni, et al., 2012). Masyarakat di desa Padakembang dan Cilampung Hilir, Kecamatan Cisayong, kabupaten Tasikmalaya, difasilitasi untuk mendaur ulang limbah anorganik menjadi barang yang bernilai ekonomis, seperti limbah kertas jadi produk seni; dan mengolah limbah organik menjadi kompos. Pendekatan yang digunakan adalah 5 R, yaitu Reduce, Reuse, Recycle, Replace, and Refill. (Mustafa, D. (2017)

PENGAWASAN PENERAPAN KIMIA HIJAU DI INDONESIA
Pemerintah telah membuat suatu kebijakan berkaitan dengan kepedulian menjaga kelestarian lingkungan dan penerapan konsep kimia hijau oleh industri dan bisnis. Kebijakan ini disebut Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan atau dikenal dengan sebutan PROPER. (Mustafa, D. (2017)

KESIMPULAN
Pendekatan kimia hijau adalah usaha penerapan prinsip penghilangan dan pengurangan senyawa berbahaya melalui usaha perancangan, produksi, dan penerapan produk kimia. Pendekatan kimia hijau berusaha meminimalisir zat berbahaya, pemanfaatan katalis yang aman untuk reaksi dan proses kimia, penggunaan reagen yang tidak beracun, penggunaan sumber daya yang dapat diperbaharui, peningkatan efisiensi pada tingkat atom, dan penggunaan pelarut yang ramah lingkungan.

DAFTAR ISI
Anwar, Muslih. (2015). Kimia Hijau /Green Chemistry. Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Mustafa, D. (2016). Kimia Hijau dan Pembangunan Kesehatan yang Berkelanjutan di Perkotaan.

Mustafa, D. (2018). Penerapan Kimia Hijau Untuk Menjamin Keamanan Pangan.

Mustafa, D. (2017). Peranan Kimia Hijau (Green Chemistry) dalam Mendukung Tercapainya Kota Cerdas (Smart City) Suatu Tinjauan Pustaka.

Redhana, I. W. (2017). Green Chemistry Practicum to Enhance Students' Learning Outcomes on Reaction Rate Topic. Cakrawala Pendidikan, (3), 196192.