.

Tampilkan postingan dengan label @H09-ISTIHARIN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @H09-ISTIHARIN. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Agustus 2018

Biodiensel


ABSTRAK

Indonesia adalah negeri yang kaya akan sumber daya alam, Indonesia kaya akan hasil tambangnya seperti  minyak bumi, gas alam, dan batu bara. Energi terbarukan juga ada di Indonesia, sepanjang khatulistiwa Indonesia diberkahi sinar matahari, angin, dan jajaran gunung berapi. Selain itu lahan Indonesia yang luas dapat ditanami berbagi jenis tanaman serta didukung oleh kondisi alam yang membuat tanaman tumbuh dengan baik dan subur. Hal inilah yang menyebabkan Jepang betah menduduki Indonesia.
Kita dapat memanfaatkan  berbagai tanaman serta barang barang yg gak di pakai seperti minyak jelantah. Minyak jelantah dapat kita manfaatkan sebagai bahan biodiensel.

SEJARAH

Penggunaan biodiesel telah ada sejak tahun 1853, bertahun-tahunsebelum mesin diesel pertama kali ditemukan. Mesin diesel pertama, ditemukanoleh Rudolf Diesel pada tahun 10 Agustus 1893, dapat bekerja hanya dengan  menggunakan minyak yang berasal dari kacang Menariknya sendiri pada tahun 1912 saat penggunaan minyak nabati dalam bahan bakar tidak signifikan, akan ada hari ketika pengguna biodiesel akan sama pentingnya dengan minyak bumi.
Selama bertahun – tahun proses diensel  terus di kembangkan sampai pada tahun 1977, ileh ilmuwan Brazil, yaitu Expedito Parente.  Dia menemukan proses produksi pertama mengenai biodiensel.


Biodiesel adalah bioenergi atau bahan bakar nabati yang dibuat dari minyak nabati, turunan tumbuh-tumbuhan yang banyak tumbuh di Indonesia seperti kelapa sawit, kelapa, kemiri, jarak pagar, nyamplung, kapok, kacang tanah dan masih banyak lagi tumbuh-tumbuhan yang dapat meproduksi bahan minyak nabati (BBN) dan dalam penelitian ini bahan bakar nabati berasal dari minyak kacang tanah setelah mengalami beberapa proses seperti ektraksi, transesterifikasi diperoleh metil ester (biodiesel), kemudian biodiesel dicampur dengan bahan bakar solar. Hasil campuran itu disebut B10,B20 dengan tujuan agar bahan bakar B10, B20 ini mempunyai sifat-sifat fisis mendekati sifat-sifat fisis solar sehingga B10 B20 dapat dipergunakan sebagai pengganti solar.

Teknologi biodiesel memiliki beberapa kelebihan sebagai berikut :
1. Menguatkan (security of supply) bahan bakar diesel yang independet dalam negeri
2. Mengurangi impor BBM atau Automatic Diesel Oil
3. Meningkatkan kesempatan kerja orang indonesia di dalam negeri
4. Meningkatkan kemampuan teknologi pertanian dan industri di dalam negeri
5. Memperbesar basis sumber daya bahan bakar minyak nabati (BBN)
6. Meningkatkan pendapatan petani kacang tanah
7. Mengurangi pemanasan global dan pencemaran udara,karena biodiesel ramah lingkungan.

PROSES PEMBUATAN BIOTEKNOLOGI
Langkah kita dapat membuat biodiesel dari minyak jelantah, selain mudah didapatkan, minyak jelantah murah karena kita tidak perlu untuk membelinya. Kita memperoleh bahan baku biodiesel minyak jelantah dari hasil limbah rumah tangga. Tentu saja langkah awal adalah mengumpulkan minyak jelantah yang diperoleh dari dapur rumah kita
Bahan-bahan dan peralatan yang diperlukan untuk membuat biodiesel dari minyak jelantah diperlukan bahan-bahan lain seperti methanol 99 persen dan soda api (NaOH) dengan peralatan ember plastik, gelas ukur, panci, kompor, sarung tangan karet, timbangan, pompa udara akuarium, kain katun tipis untuk penyaring, dan selang.
Langkah-langkah yang harus dilakukan :
1. Bahan pelarut (metoxida) dibuat dengan mencampurkan 900 ml methanol dan 21 gram NaOH hingga larut selama 15 menit
2. Campurkan metoxida ke dalam ember berisi 3 liter minyak jelantah dan aduk memakai sendok plastik selama 30 menit atau campuran sudah rata
3. Biarkan 4-12 jam sampai terjadi pengendapan
4. Pengendapan ditandai dengan dua lapisan berbeda warna dengan lapisan gelap berada di bawah yang disebut crude gliserin, sedangkan lapisan atas berwarna bening, crude BD
5. Pisahkan crude biodisel dari crude gliserin lalu masukkan ke ember untuk dicuci dengan cara mencampurkan air bersih sebanyak dua liter.
6. Pompakan udara melalui pompa udara akuarium dan biarkan beberapa saat sehingga muncul warna putih susu
7. Pisahkan crude biodiesel yang berwarna kuning dengan air warna putih melalui selang
8. Biodiesel yang telah bening dimasukkan ke panci lalu panaskan hingga 100 derajat beberapa menit agar air dan sisa methanol menguap.
9. Biodiesel yang telah dipanaskan dan didinginkan dapat langsung dipergunakan untuk mobil maupun mesin diesel industri
Langkah-langkah diatas dapat menggunakan peralatan seadanya di rumah, jika tidak ada dapat disubsitusi dengan peralatan yang sejenis. Pembuatan biodiesel sanagt mudah, sehingga dapat dilakukan dirumah. Selamat Mencoba





Sumber : http://kirsman25bandung.blogspot.com/2009/02/cara-membuat-biodiesel-dari-minyak.html?m=1


Green Chemistry



Oleh : @H09-ISTIHARIN
Istiharin Pusparini Tristiana


Abstrak :
Green chemistry atau “kimia hijau” merupakan bidang kimia yang berfokus pada pencegahan polusi. Pada awal 1990-an, green chemistry mulai dikenal secara global setelah Environmental Protection Agency (EPA) mengeluarkan Pollution Prevention Act yang merupakan kebijakan nasional untuk mencegah atau mengurangi polusi. Green chemistry merupakan pendekatan untuk mengatasi masalah lingkungan baik itu dari segi bahan kimia yang dihasilkan, proses ataupun tahapan reaksi yang digunakan. Konsep ini menegaskan tentang suatu metode yang didasarkan pada pengurangan penggunaan dan pembuatan bahan kimia berbahaya baik itu dari sisi perancangan maupun proses. Bahaya bahan kimia yang dimaksudkan dalam konsep green chemistry ini meliputi berbagai ancaman terhadap kesehatan manusia dan lingkungan, termasuk toksisitas, bahaya fisik, perubahan iklim global, dan penipisan sumber daya alam.


Isi :


Green chemistry merupakan pendekatan yang sangat efektif untuk mencegah terjadinya polusi karena dapat digunakan secara langsung oleh para ilmuwan dalam situasi sekarang. Konsep ini lebih memfokuskan pada cara pandang seorang peneliti untuk menempatkan aspek lingkungan pada prioritas utama. Area penelitian dalam bidang green chemistry ini meliputi pengembangan cara sintesis yang lebih ramah lingkungan, penggunaan bahan baku yang terbarukan, merancang bahan kimia yang green, serta penggunaan bioteknologi sebagai alternatif dalam industri (Sharma, 2008)


Berikut adalah ke-12 prinsip kimia hijau yang diusulkan oleh Anastas dan Warner :
  1. Mencegah timbulnya limbah dalam proses. Lebih baik mencegah daripada menanggulangi atau membersihkan limbah yang timbul setelah proses sintesis, karena biaya untuk menanggulangi limbah sangat besar.
  1. Mendesain produk bahan kimia yang aman. Pengetahuan mengenai struktur kimia memungkinkan seorang kimiawan untuk mengkarakterisasi toksisitas dari suatu molekul serta mampu mendesain bahan kimia yang aman. Target utamanya adalah mencari nilai optimum agar produk bahan kimia memiliki kemampuan dan fungsi yang baik akan tetapi juga aman (toksisitas rendah). Caranya adalah dengan mengganti gugus fungsi atau dengan cara menurunkan nilai bioavailability. 
  1. Mendesain proses sintesis yang aman. Metode sintesis yang digunakan harus didesain dengan menggunakan dan menghasilkan bahan kimia yang tidak beracun terhadap manusia dan lingkungan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan dua cara yaitu meminimalkan paparan atau meminimalkan bahaya terhadap orang yang menggunakan bahan kimia tersebut.
  1. Menggunakan bahan baku yang dapat terbarukan. Penggunaan bahan baku yang dapat diperbarui lebih disarankan daripada menggunakan bahan baku yang tak terbarukan didasarkan pada alasan ekonomi. Bahan baku terbarukan biasanya berasal dari produk pertanian atau hasil alam, sedangkan bahan baku tak terbarukan berasal dari bahan bakar fosil seperti minyak bumi, gas alam, batu bara, dan bahan tambang lainnya.
  1. Menggunakan katalis. Penggunaan katalis memberikan selektifitas yang lebih baik, rendemen hasil yang meningkat, serta mampu mengurangi produk samping.Peran katalis sangat penting karena diperlukan untuk mengkonversi menjadi produk yang diinginkan.Dari sisi green chemistry penggunaan katalis berperan pada peningkatan selektifitas, mampu mengurangi penggunaan reagen, dan mampu meminimalkan penggunaan energi dalam suatu reaksi.
  1. Menghindari derivatisasi dan modifikasi sementara dalam reaksi kimia. Derivatisasi yang tidak diperlukan seperti penggunaan gugus pelindung, proteksi/deproteksi, dan modifikasi sementara pada proses fisika ataupun kimia harus diminimalkan atau sebisa mungkin dihindari karena pada setiap tahapan derivatisasi memerlukan tambahan reagen yang nantinya memperbanyak limbah.
  1. Memaksimalkan atom ekonomi. Metode sintesis yang digunakan harus didesain untuk meningkatkan proporsi produk yang diinginkan dibandingkan dengan bahan dasar.Konsep atom ekonomi ini mengevaluasi sistem terdahulu yang hanya melihat rendemen hasil sebagai parameter untuk menentukan suatu reaksi efektif dan efisiens tanpa melihat seberapa besar limbah yang dihasilkan dari reaksi tersebut.Atom ekonomi disini digunakan untuk menilai proporsi produk yang dihasilkan dibandingkan dengan reaktan yang digunakan.Jika semua reaktan dapat dikonversi sepenuhnya menjadi produk, dapat dikatakan bahwa reaksi tersebut memiliki nilai atom ekonomi 100%. Berikut adalah persamaan untuk menghitung nilai atom ekonomi :
Atom ekonomi (%) = x100%
  1. Menggunakan pelarut yang aman. Penggunaan bahan kimia seperti pelarut, ekstraktan, atau bahan kimia tambahan yang lain harus dihindari penggunaannya. Apabila terpaksa harus digunakan, maka harus seminimal mungkin. Penggunaan pelarut memang sangat penting dalam proses sintesis, misalkan pada proses reaksi, rekristalisasi, sebagai fasa gerak pada kromatografi, dan lain-lain. Penggunaan yang berlebih akan mengakibatkan polusi yang akan mencemari lingkungan. Alternatif lain adalah dengan menggunakan beberapa tipe pelarut yang lebih ramah lingkungan seperti ionic liquids, flourous phase chemistry, supercritical carbon dioxide, dan“biosolvents”.Selain itu ada beberapa metode sintesis baru yang lebih aman seperti reaksi tanpa menggunakan pelarut ataupun reaksi dalam media air.
  1. Meningkatkan efisiensi energi dalam reaksi. Energi yang digunakan dalam suatu proses kimia harus mempertimbangkan efek terhadap lingkungan dan aspek ekonomi. Jika dimungkinkan reaksi kimia dilakukan dalam suhu ruang dan menggunakan tekanan.Penggunaan energi alternatif dan efisien dalam sintesis dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode baru diantaranya adalah dengan menggunakan radiasai gelombang mikro (microwave), ultrasonik dan fotokimia.
  1. Mendesain bahan kimia yang mudah terdegradasi. Bahan kimia harus didesain dengan mempertimbangkan aspek lingkungan, oleh karena itu suatu bahan kimia harus mudah terdegradasi dan tidak terakumulasi di lingkungan.Seperti sintesis biodegradable plastik, bioderadable polimer, serta bahan kimia lainya.
  1. Penggunaan metode analisis secara langsung untuk mengurangi polusi. Metode analisis yang dilakukan secara real-time dapat mengurangi pembentukan produk samping yang tidak diinginkan.Ruang lingkup ini berfokus pada pengembangan metode dan teknologi analisis yang dapat mengurangi penggunaan bahan kimia yang berbahaya dalam prosesnya.
  1. Meminimalisasi potensi kecelakaan. Bahan kimia yang digunakan dalam reaksi kimia harus dipilih sedemikian rupa sehingga potensi kecelakaan yang dapat mengakibatkan masuknya bahan kimia ke lingkungan, ledakan dan api dapat dihindari.
Untuk dapat tercapainya konsep kimia hijau ini ada beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain :
1. Meminimalisasi limbah yang dihasilkan
2. Menggantikan perekasi kimia dengan katalis
3. Menggunakan bahan-bahan non toksis
4. Menggunakan bahan baku yang dapat diperbaharui (renewable)
5. Mengurangi atau me-efisienkan bahan-bahan kimia yang digunakan
6. Mengurangi atau tidak menggunakan pelarut (bebas pelarut) atau menggunakan pelarut yang dapat di daur ulang

Penggunaan Kimia Hijau di dalam Industri Farmasi 
1. Gliserol
2. Aspirin
3. Atorvastatin
4. Ibuprofen

5 Masalah Dunia Yang Dapat Diperbaiki Green Chemistry:
1.Kekurangan energi
Masalah kekurangan energi di dunia, dipengaruhi oleh faktor-faktor yang tak dapat diperbaharui dan berpotensi merusak lingkungan seperti karbondioksida, menipisnya lapisan ozon, dampak penambangan serta bahan beracun di sekitar kita.Untuk masalah kekurangan energi ini Green chemistry dapat menjadi pendorong dalam pembuatan energi alternative seperti photovoltaics, rekayasa bahan bakar hidrogen, bahan bakar nabati atau biologis dan yang lainnya.Selain itu gerakan Green Chemistry lain ialah meningkatkan pemakaian katalis yang tepat dan mampu mengefisienkan pemakaian energi. Sebab jika alur proses sintesis dapat dipotong otomatis pemakaian energi dapat dihemat.

2.Perubahan iklim Global
Perubahan iklim, kenaikan suhu lautan , kimia stratosfir, dan pemanasanglobal adalah bidang kajian yang digarap oleh teknologi green chemistry

3.Sumber daya alam yang kian menipis
Eksploitasi yang berlebihan atas sumber daya alam tak terbaharui,menyebabkan ketidakseimbangan pada skala yang memprihatinkan .Oleh karena itu pemakaian bahan bakar fosil menjadi isu utama dalam kajian Green Chemistry.Upaya-upaya yang dapat dilakukan melalui Green Chemistry ialah sintesis bahan bakar yang dapat diperbaharui secara berkesinambungan baik dari segi ekonomi dan teknologi seperti: Teknologi biomassa, Teknologi nanosains, Biosolar, Efisiensi Karbondioksida , Zat chitin dan Pengolahan Limbah.

4.Kekurangan pangan
Ketika terjadi kelangkaan pangan maka aliran distribusi pun melemah.Sayangnya metoda pertanian sekarang ini tak mampu lagi mengatasi masalah pangan di masa mendatang. Untuk itu perlu adanya metoda baru dalam mengatasi masalah pangan ini dan Green chemistry secara sains dapat berperan dalam teknologi produksi makanan masa depan dengan cara:
- Pertama, mengembangkan sejenis pestisida yang hanya berpengaruh pada organisme yang menjadi target dan dapat secara mudah terdegradasi menjadi zat tak berbahaya.
- Kedua, mendesain proses daur ulang sisa-sisa produk pertanian untuk dapat diolah kembali. Ketiga Menbuat sejenis fertilizer (anti pertumbuhan) yang digunakan dengan takaran sesedikit mungkin dengan tingkat keberhasilan tinggi.

5. Lingkungan kita yang semakin terpolusi 
Penerapan Green Chemistry pada sendi-sendi penelitian dan proses produksi yang dilakukan secara konsisten dan tepat, dapat mengurangi bahkan menghilangkan senyawa beracun yang berdampak manusia, biosfir dan lingkungan sekitar.



DAFTAR PUSTAKA

http://bptba.lipi.go.id/bptba3.1/?lang=id&u=blog-single&p=343

http://infostudikimia.blogspot.com/2016/12/aplikasi-kimia-hijau.html

https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000010127554/penerapan-konsep-green-chemistry-dalam-keseharian/

http://infostudikimia.blogspot.com/2016/08/obat-revolusioner.html


Atep Afia Hidayat & Muhammad Kholil, Kimia Industri dan teknologi Hijau

Green Tech

ABSTRAK :

Teknologi adalah suatu input produksi yang dikelola secara sistematis dan efektif. Teknologi merupakan penerapan ilmu pengetahuan untuk tujuan praktis. Menurut Karyono (2009), teknologi masa kini menawarkan kemudahan, kenyamanan dan kecepatan bagi aktifitas menusia. Selanjutnya dijelaskan bahwa oermasalahan lingkungan  muncul akibat limbah padat, cair, dan gas nyang di hasilkan dari penggunaan teknologi di sektor industri, perumahan, bisnis, transportasi dn lain sebagainya.



KATA KUNCI : Teknologi, Teknologi Hijau

ISI :

Teknologi” lebih bermakna sebagai penerapan pengetahuan untuk tujuan praktis. Sedangkan “teknologi hijau” adalah teknik untuk menghasilkan energi dan/atau produk yang tidak mencemari atau meracuni lingkungan hidup. Teknologi hijau masih terus dikembangkan hingga saat ini.
Untuk masa datang, “teknologi hijau” merupakan suatu bidang yang akan melahirkan banyak inovasi dan perubahan dalam kehidupan sehari-hari. Boleh dikatakan perkembangan teknologi hijau ini dapat disejajarkan dengan ledakan “teknologi informasi” selama dua dekade terakhir ini.
Teknologi hijau merupakan salah satu upaya untuk menjaga kelestarian atau keberlanjutan kehidupan di planet bumi ini. Kelestarian atau keberlanjutan (sustainabilitas) yang dapat diartikan sebagai perihal pemenuhan kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan di masa depan tanpa merusak sumber daya alam, atau pemenuhan kebutuhan saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.

Menurut Kuswartojo(20019) teknologi  sebagai suatu sistem dapat di pandang dengan berbagai cara, antara lain sebagai daur mulai dri perumudan masalah atau pertanyaan. Pengembangan gagasan atau inovasi, perancangan produksi atau kontruksi, distribusi penggunaan, pemeliharaan sampai pada pembuangannya.  Selanjutnya Kuswartojo(20019) mengutip akira (1998) bahwa teknologi di bedakan menjadi tiga  katagori yaitu :

  • Teknologi empirik atau pertukangan yantg di kuasai oleh perorangan berdasaran keterampilannya. Kemampuan individu menjadi dasar untuk memproduksi artifak
  •  Teknologi sosial yang di kuasai oleh komunitas. Dalam hal ini sistem komunitas memproduksi artifak. Awalnya merupakan teknologi empiric yang berkmbang dan menyebar menjadi teknologi komunitas
  • Teknologi ilmiah(teknologi moderen atau teknologi komples) perkembangn teknologi mengacu pada eksplorasi ilmu pengetahuan yang semal=kin mendalam dapat menghasilkan barang dalam skala besar yang menyebar tanpa mengenal batas negara dalam hal ini perpaduan antar komponen yang kompleks dan beragam.


Penerapan konsep Greentech adalah untuk mengefisienkan tingkat penggunaan energi, mulai dari sistem eksplorasi sumber energi, proses pengkonversian sumber tersebut menjadi energi hingga terbentuknya energi yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Dengan adanya efisiensi energi diharapkan pencemaran karbon dapat ditekan.
Solusi lain dari konsep Greentech adalah dengan mengganti sumber energi dari fosil energi menjadi renewable energy atau energi terbarukan yang lebih potensial, ramah lingkungan dan dapat diperbaharui kembali. Renewable energy merupakan konsep utama dalam penerapan Greentech di bidang energi, beberapa contoh Renewable energy antara lain :
–          Waste to Energy
–          Biomass Enegy
–          Hydro Energy
–          Wind Energy
–          Solar Energy
–          Geothermal Energy

Prinsip Teknologi Hujau
Ada enam prinsip yang diterapkan dalam konsep Teknologi Ramah Lingkungan :
  1. Refine yaitu menggunakan bahan yang ramah lingkungan serta melalui proses yang lebih aman dari teknologi sebelumnya.
  2. Reduce yaitu berarti mengurangi jumlah limbah dengan cara mengoptimalkan penggunaan bahan.
  3. Reuse yaitu berarti memakai kembali bahan-bahan yang tidak terpakai atau sudah berupa limbah dan diproses dengan cara yang berbeda.
  4. Recycle yaitu berarti hampir sama dengan reuse, hanya saja recycle menggunakan kembali bahan-bahan atau limbah dan diproses dengan cara yang sama.
  5. Recovery yaitu berarti pemanfaatan material tertentu dari limbah untuk diproses demi keperluan yang lain.
  6. Retrieve Energy yaitu berarti penghematan energi dalam suatu proses produksi.
Kriteria Teknologi hijau
Meminimumkan degrasi kualitas lingkungan
Mempunyai pembebasan gas rumah kaca yang rendah
Aman untuk digunakan dan menyediakan lingkungan hidup sehat dan lebih baik untuk semua kehidupan
Menghemat energy dan sumberdaya alam
Menggalakkan sumber-sumber yang dapat diperbaharui (renewable).







DARTAR PUSTAKA
Hidayat, Atep Afia dan M. Kholil. 2017. Kimia, Industri dan Teknologi Hijau. Jakarta. Pantona Media

Next Day Technologi Indonesia
http://nextdaytechnology.blogspot.com/2010/06/teknologi-hijau-teknologi-masa-depan.html

Green teknologi, infomasi dan  Teknologi
https://yussupsolikhin.wordpress.com/2013/01/23/green-technology/

Buku jendela pengetahuan
http://d3ipii-d3ipii.blogspot.com/2011/01/teknologi-hijau-green-technology.html



Teknologi Hujau dan Ramah Lingkungan 
http://www.sorotandunia.net/2017/11/22/teknologi-ramah-lingkungan/

http://dinus.ac.id/repository/docs/ajar/TM-6-TEKNOLOGI_HIJAU.pptx

Green Industry

@H-ISTIHARIN
Oleh : Istiharin Pusparini Tristiana



Abstrak :

Sektor industry di Indonesia telah tumbuh dengan kondusif dan mampu bertahanmengahadapi krisis global di tahun 2009. Bahkan secara makro dunia industri masih mempertahankan surplus perdagangannya. Peningkatan kapasitas industry tentu dibarengidengan peningkatan konsumsi sumber daya alam. Sudah sepantasnya lingkungan hidupmendapatkan perlakuan yang baik, setimpal dengan jasanya menyediakan sumber dayaalam yang berlimpah. Air, udara, tanah dan segala kompleksitas kandungannya telahbanyak dieksploitasi untuk menopang kehidupan manusia. Diperlukan langkah bijak untuk menjaga keseimbangan sumber daya alam dengan melakukan manajemen lingkungan yangsesuai dengan prinsip keberlanjutan.


Isi :


Green industry adalah proses industri yang mengutamakan efisiensi dan efektiftas dalam penggunaan sumber daya secara berkelanjutan, sehingga mampu menyesuaikan pembangunan industri dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup. Green industry juga dapat memberi manfaat bagi masyarakat. 

Prosedur green industry dapat dilakukan dengan menerapkan 4R, yakni Reduce (pengurangan limbah pada sumbernya), Reuse (penggunaan kembali limbah ), Recycle ( daur ulang limbah ), dan Recovery ( pemisahan suatu bahan atau energi dari suatu limbah ). Namun 4R masih belum cukup untuk menerapkan green industry di Indonesia, karena masyarakat Indonesia tidak berpikir kembali dengan alam yang telah mereka gunakan. Oleh karena itu, untuk melakukan green industry di Indonesia dibutuhkan 5R yaitu ReduceReuseRecycleRecovery, dan Rethink. Penambahan 1 R, yakni Rethink bertujuan untuk konsep pemikiran pada awal operasional kegiatan. 

Tujuan green industry adalah menjadikan industri yang sesuai dengan lingkungan sekitar baik secara moral maupun fisik. Saat ini pemerintah Indonesia sedang merevisi UU tentang perindustrian. Salah satunya adalah mengatur tentang perancanaan, pelaksanaan, dan pengembangan industri hijau. Tindak lanjut dari pengembangan green industry adalah penyusunan rencana, standarisasi green industry, serta membuat katalog bahan baku dan bahan penolong (komplementer) yang ramah lingkungan. Pemerintah akan membuat badan yang mensertifikasi green industry, penyusunan kebijakan efektif untuk green industry, pengembangan R&D clean technology, bantuan teknisi dan pilot project penerapan produksi bersih pada industri.



Karakteristik Industri Hijau :
a.       Rendahnya Intensitas Material Input
b.       Menggunakan Alternatif Material Input
c.       Penerapan Konsep 4R
d.       Rendahnya Insenitas Air
e.       Penggunaan Energi Alternatif (Biomass)
f.         Sumber Daya Manusia yang kompeten
g.       Rendahnya Intensitas Energi
h.       Teknologi Rendah Karbon
i.         Minimisasi Limbah yang dihasilkan


Penerapan Industri Hujau dapat juga menumbuhkan inovasi untuk perlindungan lingkungan.(unido, 2010)
Menurut FFs(2016) berbagai peluang bisnis bidang lingkungan yang berkaitan dengan penerapan industri hijau, salah satunya efsiensi energi, yaitu dengan pengurangan konsumsi per unit energi melalui peningkatan efesiensi.
1. Energi terbarukan, yaitu pembangkit listrik atau panas dengan menggunakan sumber enenrgidari matahari, angin, biomassa, panas bumi atau sumber daya hydro
2. Produksi Cleaner yaitu meminimalkan limbah dan  emisidari proses industri dan memaksimalkan keluaran produk.
3. carbon finance, yaitu menyangkut keuangan karbon yang menyediakan sumber daya keuangan untuk proyek-proyek atau program yang  berhasil mengurangi emisi gas rumah kaca yang di verifikasi dan di jual di pasar karbon global.
4. Rantai pasok nerkelanjutan yitu menyangkut pengelolaan iso lingkungan dan sosial di seluruh rantai pasok dan menggabungkan standar keberlanjutan antara ff-taken dan pemasok sekaligus memaksimalkan output produk sertan menyediakan akses untuk membiayai pemasok kecil.

Industri hijau dapat dicapai antara lain melalui:
 1. Meningkatkan upaya-uapaya pengelolaan internal/housekeeping
2. Meningkatkan proses pengawasan;
 3. Daur ulang bahan/material; 
4. Modifikasi peralatan yang ada; 
5. Teknologi bersih;
 6. Perubahan bahan baku; 
7. Modifikasi produk; dan 
8. Pemanfaatan produk samping

Sasaran Pengembangan Industri Hijau
  1. Tersusunnya standar industri hijau (jenis industri)
  2.  Terakreditasinya lembaga sertifikasi (unit)
  3. Tersertifikasi auditor industri hijau (orang)
  4. Bantuan prasarana industri hijau pada sentra IKM (unit)
  5. Bantuan fasilitasi untuk sertifikasi industri hijau (kegiatan)


DAFTAR PUSTAKA

Balai Penelitian Bahan Alam
http://bptba.lipi.go.id/bptba3.1/?lang=id&u=blog-single&p=343

pembangunan industri hujau indonesia
https://www.hestanto.web.id/industri-hijau/

Afia Hidayat, Atep. 2017. Kimia Industri dan Teknologi Hijau

tmawinata, Achdiat. 2012. Efisiensi dan Efektivitas dalam Implementasi Industri Hujau
http://iesr.or.id/files/2apr_WORKSHOP_ENERGI.pdf

Pengembangan Industri Huju Nasional
http://apki.net/wp-content/uploads/2017/04/Industri-Hijau-Pak-Lintong-1.pdf

Pembangunan Industri dengan Green Industry
http://industriberkicaumc.wixsite.com/home/single-post/2017/02/09/Pembangunan-Industri-dengan-Green-Industry


Sabtu, 11 Agustus 2018

BIODIENSEL


ABSTRAK
Indonesia adalah negeri yang kaya akan sumber daya alam, Indonesia kaya akan hasil tambangnya seperti  minyak bumi, gas alam, dan batu bara. Energi terbarukan juga ada di Indonesia, sepanjang khatulistiwa Indonesia diberkahi sinar matahari, angin, dan jajaran gunung berapi. Selain itu lahan Indonesia yang luas dapat ditanami berbagi jenis tanaman serta didukung oleh kondisi alam yang membuat tanaman tumbuh dengan baik dan subur. Hal inilah yang menyebabkan Jepang betah menduduki Indonesia
Kita dapat memanfaatkan  berbagai tanaman serta barang barang yg gak di pakai seperti minyak jelantah.
KEY WORD : BIODIENSEL TRANSESTERIFIKASI
PENDAHULUAN
Biodiesel adalah bioenergi atau bahan bakar nabati yang dibuat dari minyak nabati, turunan tumbuh-tumbuhan yang banyak tumbuh di Indonesia seperti kelapa sawit, kelapa, kemiri, jarak pagar, nyamplung, kapok, kacang tanah dan masih banyak lagi tumbuh-tumbuhan yang dapat meproduksi bahan minyak nabati (BBN) dan dalam penelitian ini bahan bakar nabati berasal dari minyak kacang tanah setelah mengalami beberapa proses seperti ektraksi, transesterifikasi diperoleh metil ester (biodiesel), kemudian biodiesel dicampur dengan bahan bakar solar. Hasil campuran itu disebut B10,B20 dengan tujuan agar bahan bakar B10, B20 ini mempunyai sifat-sifat fisis mendekati sifat-sifat fisis solar sehingga B10 B20 dapat dipergunakan sebagai pengganti solar.
Teknologi biodiesel memiliki beberapa kelebihan sebagai berikut :
1. Menguatkan (security of supply) bahan bakar diesel yang independet dalam negeri
2. Mengurangi impor BBM atau Automatic Diesel Oil
3. Meningkatkan kesempatan kerja orang indonesia di dalam negeri
4. Meningkatkan kemampuan teknologi pertanian dan industri di dalam negeri
5. Memperbesar basis sumber daya bahan bakar minyak nabati (BBN)
6. Meningkatkan pendapatan petani kacang tanah
7. Mengurangi pemanasan global dan pencemaran udara,karena biodiesel ramah lingkungan. ( Prakoso, T., 2008 )

SEJARAH
Transesterifikasi biodiesel pertama kali dilakukan pada tahun 1853 oleh E. Duffy dan J. Patrick, jauh sebelum mesin diesel pertama kali ditemukan. Baru kemudian pada tahun 1893 di Augsburg, Jerman, Rudolf Diesel mengenalkan model mesin diesel pertama pada world fair Paris, Prancis. Pada saat itu mesin diesel dioperasikan menggunakan bahan bakar biodiesel yaitu terbuat dari transesterifikasi kacang tanah.

Mesin diesel yang beroperasi dengan menggunakan biodiesel menghasilkan emisi karbon monoksida, hidrokarbon yang tidak terbakar, partikulat dan udara beracun yang lebih rendah dibandingkan dengan mesin diesel yang menggunakan bahan bakar petroleum.

Kelebihan biodiesel selain sebagai bahan bakar yang dapat diperbaharui antara lain tidak perlu modifikasi mesin, mudah digunakan, ramah lingkungan, tercampurkan dengan minyak diesel (solar), memiliki cetane number tinggi, memiliki daya pelumas yang tinggi, biodegradable, non toksik, serta bebas dari sulfur dan bahan aromatik (Soerawidjaja, 2005).

Transesterifikasi adalah proses transformasi kimia molekul trigliserida yang besar, bercabang dari minyak nabati dan lemak menjadi molekul yang lebih kecil, molekul rantai lurus, dan hampir sama dengan molekul dalam bahan bakar diesel. Minyak nabati atau lemak hewani bereaksi dengan alkohol (biasanya metanol) dengan bantuan katalis (biasanya basa) yang menghasilkan alkil ester (atau untuk metanol, metil ester) (Knothe et al., 2005).

Tidak seperti esterifikasi yang mengkonversi asam lemak bebas  menjadi ester, pada transesterifikasi yang terjadi adalah mengubah trigliserida menjadi ester. Perbedaan antara transesterifikasi dan esterifikasi menjadi sangat penting ketika memilih bahan baku dan katalis. Transesterifikasi dikatalisis oleh asam atau basa, sedangkan esterifikasi, bagaimanapun hanya dikatalisis oleh asam (Nourredine, 2010). Pada transesterifikasi, reaksi saponifikasi yang tidak diinginkan bisa terjadi jika bahan baku mengandung asam lemak bebas yang mengakibatkan terbentuknya sabun. Lotero et al. (2005) merekomendasikan bahan baku yang mengandung kurang dari 0,5% berat asam lemak saat menggunakan katalis basa untuk menghindari pembentukan sabun..


CARA MEMBUAT BIOTEKNOLOGI

Langkah kita dapat membuat biodiesel dari minyak jelantah, selain mudah didapatkan, minyak jelantah murah karena kita tidak perlu untuk membelinya. Kita memperoleh bahan baku biodiesel minyak jelantah dari hasil limbah rumah tangga. Tentu saja langkah awal adalah mengumpulkan minyak jelantah yang diperoleh dari dapur rumah kita

Bahan-bahan dan peralatan yang diperlukan untuk membuat biodiesel dari minyak jelantah diperlukan bahan-bahan lain seperti methanol 99 persen dan soda api (NaOH) dengan peralatan ember plastik, gelas ukur, panci, kompor, sarung tangan karet, timbangan, pompa udara akuarium, kain katun tipis untuk penyaring, dan selang.

Langkah-langkah yang harus dilakukan :
1. Bahan pelarut (metoxida) dibuat dengan mencampurkan 900 ml methanol dan 21 gram NaOH hingga larut selama 15 menit
2. Campurkan metoxida ke dalam ember berisi 3 liter minyak jelantah dan aduk memakai sendok plastik selama 30 menit atau campuran sudah rata
3. Biarkan 4-12 jam sampai terjadi pengendapan
4. Pengendapan ditandai dengan dua lapisan berbeda warna dengan lapisan gelap berada di bawah yang disebut crude gliserin, sedangkan lapisan atas berwarna bening, crude BD
5. Pisahkan crude biodisel dari crude gliserin lalu masukkan ke ember untuk dicuci dengan cara mencampurkan air bersih sebanyak dua liter.
6. Pompakan udara melalui pompa udara akuarium dan biarkan beberapa saat sehingga muncul warna putih susu
7. Pisahkan crude biodiesel yang berwarna kuning dengan air warna putih melalui selang
8. Biodiesel yang telah bening dimasukkan ke panci lalu panaskan hingga 100 derajat beberapa menit agar air dan sisa methanol menguap.
9. Biodiesel yang telah dipanaskan dan didinginkan dapat langsung dipergunakan untuk mobil maupun mesin diesel industri
Langkah-langkah diatas dapat menggunakan peralatan seadanya di rumah, jika tidak ada dapat disubsitusi dengan peralatan yang sejenis. Pembuatan biodiesel sanagt mudah, sehingga dapat dilakukan dirumah.
DAFTRA PUSTAKA




Sabtu, 04 Agustus 2018

KIMIA ORGANOLOGAM

  • Oleh : Istiharin Pusparini Tristiana (@H09-ISTIHARIN)

 Pembahasan

Kimia arnologam adalah ilmu yang mempelajari senyawa yang mengandung ikatan antara karbon dan  logam.  Dalam kimia anarlogam terdapat perpaduan antara kimia anorganik dan organik, senyawa anarlogam antara lain sebagai katalis dalam pengolahan hasil minyak bumi dan dalam prosess produksi polimer organik. Senyawa organologam secara luas digunakan baik secara stoikiometrik dalam penelitian dan reaksi kimia industri, maupun dalam peran katalis untuk meningkatkan laju reaksi tersebut  (misalnya, seperti dalam katasilsitis), di mana molekul target termasuk polimer, obat-obatan, dan banyak jenis produk praktis lainnya.
Kimia organologam adalah studi mengenaisenyawa organologam, senyawa kimia yang mengandung setidaknya satu ikatan kimiaantara atom karbon dari sebuah molekul organik dan logam, termasuk alkali, alkali tanah, dan logam transisi, dan terkadang diperluas untuk mencakup metaloid seperti boron, silikon, dan timah, pula.[1] Selain ikatan untuk fragmen atau molekul organil, ikatan dengan karbon 'anorganik', seperti karbon monoksida (karbonil logam), sianida, atau karbida, umumnya dianggap organologam juga. Beberapa senyawa yang terkait sepertilogam transisi hidrida dan kompleks logam fosfina sering dimasukkan dalam diskusi senyawa organologam, meskipun secara tegas, mereka tidak selalu merupakan organologam. Istilah yang terkait tetapi berbeda "senyawa metalorganik" mengacu pada senyawa yang mengandung logam yang kurang memiliki ikatan logam-karbon langsung tetapi yang mengandung ligan organik. Logam β-diketonat, alkoksida, dialkilamida, dan kompleks logam fosfina merupakan anggota perwakilan dari golongan ini. Bidang kimia organologam menggabungkan aspek-aspek kimia anorganik dan organik tradisional.[2]
Senyawa organologam secara luas digunakan baik secara stoikiometrik dalam penelitian dan reaksi kimia industri, maupun dalam peran katalis untuk meningkatkan laju reaksitersebut (misalnya, seperti dalam penggunaan katalisis homogen), di mana molekul target termasuk polimer, obat-obatan, dan banyak jenis produk praktis lainnya.

Sejarah Senyawa Organologam sendiri dimulai pada tahun 1827 ketika direaksikannya PtCl4dengan PtCl2 dalam etanol refluks. Berlanjut pada tahun 1850 Frankland berhasil menemukan Kompleks Organoseng (ZnEt2), pada saat ini umumnya digunakan dalam reaksi alkilasi untuk kimia organik, berlanjut pada 1867 Kimiawan Perancis Schützenberger yang mampu membuat senyawa Platinum-Chloro-Carbhonyl sebagai senyawa karbonil terikat pertama, turunan senyawa ini adalah Ni(CO)4 yang berperan dalam memurnikan Nikel dari bijih dan ditemukan pada tahun 1890.
Berlanjut pada pergantian abad 20 dengan ditemukannya reagen grignard yang merupakan kompleks alkil magnesium dengan ikatan sigma Mg-C dan menjadi reagen yang banyak digunakan dalam sintesis senyawa organik ataupun retrosintesis. Puncaknya pada tahun 1950-an Kealy dan Pauson mampu membuat  Ferrocene yang dianggap sebagai cikal bakal pesatnya perkembangan pengetahuan kimia organologam [2].
Senyawa organologam banyak digunakan sebagai Katalis, Aplikasi Senyawa organologam dalam katalisis memang menjadi faktor meningkatnya minat peneliti terhadap organologam. Melihat sejarah industrinya, katalis organologam memiliki sejarah panjang dalam produksi  senyawa organik dan polimer.
Reaksi Organologam
1. Insertion Reaction
Reaksi penyisipan merupakan suatu reaksi yang menyisipkan suatu molekul kedalam suatu senyawa organologam. Molekul yang menyisip kedalam senyawa organologam ini dapat bertindak sebagai 1,1 insertion dan 1,2 insertion, kedua hal ini merupakan suatu acuan bagaimana molekul ini menyisipkan dirinya diantara logam dan ligan  senyawa organologam yaitu apakah menggunakan satu atom untuk mengikat logam dan ligan (1,1 insertion) atau molekul tersebut mempunyai dua atom yang satu mengikat logam sedangkan atom lain mengikat ligan (1,2 insertion). Contoh reaksi insertion dapat ditunjukan dari siklus reaksi dibawah ini (reaksi penyisipan di dalam kotak).
Aplikasi senyawa organologam
Aplikasi penyulingan Nikel pada awal 1880-an contohnya, Ludwig moond mampu menunjukkan bagaimana Ni mentah dapat dimurnikan dengan CO untuk menguapkan Ni dalam bentuk Ni (CO)4 sebagai uap kemudian dapat dipanaskan untuk memperoleh Ni murni [1].
Senyawa organologam juga mengambil peran dalam bidang kesehatan, banyak sekali aplikasi pemanfaatan senyawa organologam di bidang kesehatan salah satunya adalah Haemoglobin. Haemoglobin (Hb) merupakan senyawa metalloprotein yang berperan mengantarkan Oksigen ke seluruh tubuh, Haemoglobin juga berperan dalam proses transportasi gas lain seperti karbondioksida [3].
Secara susunan kimia Haemoglobin merupakan senyawa yang memiliki unsur logam (Fe) dan senyawa organik (Protein). Unsur Besi yang mengikat protein juga mampu mengikat ligan lain, diantaranya Oksigen dan Karbon dioksida dengan Fe sebagai logam. Senyawa tersebut dalam ikatan haemoglobin membentuk ikatan kordinasi sehingga membentuk senyawa kompleks organologam [4].
Elvis Nyarko et.al (2003) melakukan penelitian dalam menemukan material dalam aplikasi antikanker menggunakan paramaeter spektrum Fluorescence dan Phosphorescencedengan DNA pada suhu kamar. Senyawa yang dimanfaatkan adalah doping metallo porfirin dari Au(III), Pt(II) dan Pd(II). Pada penelitian ini disebutkan spektra dari senyawa organologam tersebut dapat digunakan untuk mendeteksi sifat dari biomolekul seperti DNA. Penelitian menyebutkan meningkatnya jumlah DNA  menyebabkan meningkatnya intensitas Flouresensi [5].
Selain pemanfaatan aplikasi untuk kimia organik dalam dunia industri, senyawa organologam juga mengambil peran dalam bidang lain salah satunya organic light-emitting diode (OLED) sebagai material baru yang diperkenalkan dalam tampilan ponsel,OLED merupakan senyawa Iridium organologam.
Dalam bentuk solid-state senyawa ini berperan sebagai pemancar cahaya sel elektrokimia(LEC). Pada tahun 2008 dibuat layar OLED yang menggunakan kompleks  Ir cyclometallated sebagai emitor merah.  Kompleks Cyclometallated Ru memungkinkan memiliki potensi sebagai fotosensitizer untuk sel surya [6].







Rerefensi


https://www.selasar.com/jurnal/21403/Senyawa-Organologam-Berperan-Vital-dalam-Kehidupan

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kimia_organologam
https://www.google.com/search?hl=in-ID&source=android-browser&ei=1UllW5aFO8-f9QP725rgBw&q=reaksi+organologam&oq=reaksi+&gs_l=mobile-gws-wiz-serp.1.0.0i67l2j0i131i67j0l2.63881.66786..67726...1.0..4.207.4086.1j24j2......0....1.......5..46j0i71j35i39j46i39j0i131.KTORU6QvslY