.

Sabtu, 31 Oktober 2020

Industri Sabun dan Detergen


Industri Sabun dan Detergen

 


Oleh : Rizik Ibnu Thoriq (@S08-Rizik)

ABSTRAK

     Industri sabun memiliki 2 macam industri yaitu industri detergen dan industri sabun. Proses pembuatan sabun dan detergent pada skala industri rumah tangga atau konvensional memang tidak terlalu rumit, namun apabila produksi ini dilakukan pada skala besar atau sekitar beberapa ton perhari tentulah membutuhkan ilmu khusus untuk melakukannya. Hal yang harus dilakukan pada proses pembuatan Sabun dan Detergent adalah persiapan raw material (bahan baku), pengendalian proses, pengendalian alat, dan treatment hasil produksi. Di zaman sekarang ini perkembangan industri sabun sangatlah luas dan bersaing dengan satu sama lain untuk menciptakan produk yang berkualitas, ini dikarenakan canggihnya teknologi. Industri-industri sabun diantaranya ialah PT P&G, PT Unilever, PT KAO Indonesia, PT Megasurya Mas PT Total Chemindo Loka, dan PT Adimulia Sarimas Indonesia.                                                                                    

 Kata kunci :Pengertian, Sejarah, Kegunaan dan manfaat

PENDAHULUAN

     Industri kimia merupakan sebuah industri yang mengembangkan berbagai proses, baik pada sistem dan produk yang dihasilkan agar memiliki mutu yang berkualitas dengan tujuan untuk menghasilkan produk yang bermanfaat dan juga untuk mengharapkan keuntungan secara finansial. Pada industri kimia sendiri juga menggunakan bahan-bahan kimia yang berguna untuk menunjang dan menjaga kualitas produk industri tersebut.

      Di Indonesia terdapat berbagai macam industri dengan berbagai macam aktivitas perindustriannya. Indonesia bukanlah termasuk negara perindustrian di dunia namun di Indonesia terdapat berbagai macam industri yang bergerak di bidangnya, dimulai dari industri rumahan sampai industri besar. Industri di Indonesia terdapat di berbagai macam daerah dan kota-kota besar. Adapun kota besar yang bergerak di industri sabun seperti kerjasama Indonesia dengan negara lain seperti PT Kao Indonesia, dimana produk yang dihasilkan yaitu sabun dan detergen. Selain itu juga terdapat PT P&G, PT Unilever dan lain-lain yang juga ikut memproduksi sabun di Indonesia.

PERMASALAHAN

      Sejumlah lotion dan sabun yang kita gunakan bisa menyebabkan iritasi. Sebelum memakainya, cobalah membaca bahan yang terkandung di dalamnya. Tidak heran begitu banyak orang yang bermasalah dengan kulitnya. Ini penting untuk diketahui apa yang anda pakai di kulit anda dan gunakan produk-produk alami dengan bahan alami yang benar bermanfaat buat kulit anda.

     Sedangkan deterjen konvensional terbuat dari berbagai macam senyawa kimia seperti builder, Pewangi buatan, dan yang paling berbahaya adalah surfaktan. Surfaktan merupakan senyawa turunan minyak bumi yang berfungsi untuk menurunkan tegangan pada permukaan air atau membuat lebih permukaan menjadi lebih basah sehingga lebih mungkin untuk berinteraksi dengan minyak juga lemak. Kebanyakan deterjen konvensional menggunakan surfaktan yang berupa phosphat, alkyl benzene sulfonate, Diethanolamines , Alkyl phenoxy. Semua senyawa ini merupakan senyawa yang berasal dari sumber daya yang tidak dapat diperbarui (minyak bumi), beracun, dan berbahaya bagi lingkungan.

PEMBAHASAN  




                                                 

A. PENGERTIAN SABUN DAN DETERGEN

     Sabun adalah bahan (substansi) yang digunakan bersama dengan air untuk mencuci dan membersihkan kotoran; sabun terbuat dari bahan alami (minyak/lemak) dan alkali/basa kuat (sodium hidroksida, NaOH atau potasium hidroksida, KOH).

    Sabun cair dan sabun padat (batang) itu berbeda. Untuk membuat sabun padat digunakan alkali berupa sodium hidroksida (NaOH). sedangkan untuk membuat sabun cair digunakan kalium hidroksida (KOH). Namun, seiring perkembangan jaman, sabun mengalami metamorfosis dalam hal warna dan bentuk sediaan. Sabun juga tersedia dalam bentuk serbuk. Masyarakat mengenalnya dengan deterjen. Deterjen terbuat dari bahan yang disebut dengan surfaktan atau surfactant (surface active agent, bahan aktif permukaan). Surfaktan dipandang lebih praktis jika diterapkan dalam aplikasi pembuatan produk pembersih. Dengan demikian, pengertian sabun menjadi berkembang berdasarkan bahan pembuatannya.

     Deterjen adalah campuran berbagai bahan, yang digunakan untuk membantu pembersihan dan terbuat dari bahan-bahan turunan minyak bumi. Dibanding dengan sabun, deterjen mempunyai keunggulan antara lain mempunyai daya cuci yang lebih baik serta tidak terpengaruh oleh kesadahan air. Detergen merupakan garam Natrium dari asam sulfonat.

     Bahan utama detergent ialah garam natrium yaitu asam organik yang dinamakan asamsulfonik. Asam sulfonik yang digunakan dalam pembuatan detergent merupakan molekul berantai panjang yang mengandungi 12 hingga 18 atom karbon per molekul. Detergent pertama disintesis pada tahun 1940-an, yaitu garam natrium dari alkylhydrogen sulfat. Alkohol berantai panjang dibuat dengan cara penghidrogenan lemak dan minyak. Alkohol berantai panjang ini direaksikan dengan asam sulfat menghasilkan alkilhydrogen sulfat yang kemudian dinetralkan dengan basa.

B. SEJARAH SABUN DAN DETERGEN

     Sabun sendiri sebenarnya tidak pernah ditemukan, tetapi terus dikembangkan dari campuran mentah basa dan lemak. Pada abad pertama, Pliny, sang pencetus menjelaskan proses pembuatan sabun, hingga pada abad ke-13, sabun diproduksi secara industri. Sampai awal abad ke-18, sabun diyakini campuran lemak dan basa secara mekanis; hingga Chevruel, ahli kimia Perancis, menunjukkan bahwa pembuatan sabun sepenuhnya melibatkan reaksi kimia.

     Domeier menemukan bahwa gliserin dapat diperoleh dari proses saponifikasi. Leblanc juga menemukan bahwa natrium karbonat dapat diproduksi dengan harga yang murah dari natrium klorida. Bahan mentah yang semakin menipis pada PD I menyebabkan Jerman mengembangkan “sabun sintetik” atau detergen yang terbuat dari rantai pendek alkil naphtalene sulfonates sebagai wetting agent yang baik. Pada tahun 1920-an dan 1930-an, rantai pendek penyusun detergen dikembangkan menjadi rantai panjang alkohol sulfat dan pada tahun 1950-an dikembangkan menjadi senyawa rantai bercabang. Selama tahun 1960-an, syarat biodegradability menjadi penting untuk diperhatikan sehingga senyawa penyusun detergen kembali ke rantai panjang tidak bercabang karena rantai tidak bercabang dapat dengan mudah diuraikan.

     Deterjen sintetik yang pertama dikembangkan oleh Jerman pada waktu Perang Dunia II  dengan tujuan agar lemak dan minyak dapat digunakan untuk keperluan lainnya. Pada saat ini ada lebih 1000 macam deterjen sintetik yang ada di pasaran. Fritz Gunther, ilmuwan Jerman, biasa disebut sebagai penemu surfactant sintetis dalam deterjen tahun 1916. Namun, baru tahun 1933 deterjen untuk rumah tangga diluncurkan pertama kali di AS. Kelebihan deterjen, mampu lebih efektif membersihkan kotoran meski dalam air yang mengandung mineral. Tapi, ia pun menimbulkan masalah. Sebelum tahun 1965, deterjen menghasilkan limbah busa di sungai dan danau. Ini karena umumnya deterjen mengandung alkylbenzene sulphonate yang sulit terurai.

     Setelah 10 tahun dilakukan penelitian (1965), ditemukan linear alkylbenzene sulphonate (LAS) yang lebih ramah lingkungan. Bakteri dapat cepat menguraikan molekul LAS, sehingga tidak menghasilkan limbah busa. Sepanjang sejarah banyak usaha dilakukan untuk membantu kita mengerjakan pekerjaan mencuci. Pencucian dengan air saja, bahkan dengan penggosokan atau putaran mesin sekeras apapun, akan menghilangkan sebagian bercak saja, kotoran dan partikel-partikel tanah. Air saja tidak dapat menghilangkan debu yang tak larut dalam air. Air juga tak mampu menahan debu yang telah lepas dari kain agar tetap tersuspensi (tetap berada di air, jadi tidak kembali menempel ke kain). Jadi diperlukan bahan yang dapat membantu mengangkat kotoran dari air dan kemudian menahan agar kotoran yang telah terangkat tadi, tetap tersuspensi. Sejak ratusan tahun lalu telah dikenal sabun, yakni persenyawaan antara minyak atau lemak dan basa.

C. KEGUNAAN DAN MANFAAT

     Digunakan dalam produk laundry, sabun toilet, sampo, sabun cuci piring, dan produk pembersih pada rumah tangga. Kegunaan pada industri yaitu bahan pembersih, surfaktan khusus untuk anti kuman di rumah sakit, pengemulsi pada kosmestik, flowing dan wetting agent untuk bahan kimia pertanian, dan digunakan pada proses pengolahan karet. Secara umum, sabun dan detergen digunakan untuk menghilangkan minyak.

     Manfaat dari pengunaan sabun mandi adalah :

     ·         Dapat memberikan sensasi segar dan wangi pada tubuh

     ·         Dapat memutihkan kulit

     ·         Membantu menjaga kelembaban kulit

     Manfaat dari pengunaan detergen adalah :

     ·         Membersihkan noda di karpet

     ·         Alternatif pembersih kamar mandi dan dapur

     ·     Membersihkan dan merontokan lumut


KESIMPULAN

     Industri sabun ialah industri yang menghasilkan produk sabun yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat. Sabun merupakan produk industri sabun dimana memiliki fungsi sebagai pembersih dan pencuci kotoran seperti tubuh manusia, pakaian, dan lainnya. Industri sabun dibagi menjadi dua macam yaitu indusri detergen dan industri sabun. Bahan pembuatan sabun yaitu asam lemak, NaOH atau KOH, air, zat aditif, gliserin monostearat, dan surfaktan. Dua metode dalam pembuatan sabun yaitu metode batch dan metode kontinu. Empat cara pembuatan sabun di industri yaitu saponifikasi lemak netral, pengeringan sabun, netralisasi asam lemak, dan penyempurnaan sabun. Limbah sabun sangat berdampak pada lingkungan, untuk mengurangi industri sabun mengelola limbah tersebut agar dapat digunakan lagi.

     Pembuatan detergen dan sabun pada skala industri merupakan gabungan dari ilmu-ilmu exact sebegitu rupa, dan memerlukan alat-alat yang perlu pengendalian khusus dan mempunyai spesifikasi tertentu.

 

DAFTAR PUSTAKA

https://4lfonsina.files.wordpress.com/2013/03/soap-and-detergent.docx 

file:///C:/Users/lenovo/Downloads/Paper%20sabun%20-%20Copy.pdf                

https://www.gurupendidikan.co.id/deterjen-adalah/ 

https://adevnatural.com/pengertian-sabun-dan-definisi-sabun-bentuk-dan-jenis-sabun/ 

https://www.kompasiana.com/donipunyablog/54f5f101a33311c1078b4574/apa-saja-manfaat-sabun-mandi

 

Industi Sabun dan Detergen

 

Industri Sabun dan Detergen



Oleh: Aditya Vieri Saputra (@R10-Aditya)

Abstrak

Sabun adalah suatu gliserida (umumnya C16 dan C18 atau karboksilat suku rendah) yang merupakan hasil reaksi antara ester (suatu derivat asam alkanoat yaitu reaksi antara asam karboksilat dengan alkanol yang merupakan senyawa aromatik dan bermuatan netral) dengan hidroksil dengan residu gliserol (1.2.3 – propanatriol). Apabila gliserol bereaksi dengan asam – asam yang jenuh (suatu olefin atau polyunsaturat) maka akan terbentuk lipida (trigliserida atau triasilgliserol).

Deterjen merupakan campuran berbagai bahan, juga terbuat dari bahan-bahan turunan minyak bumi yang digunakan untuk membantu pembersihan. Deterjen adalah garam dari sulfonat atau sulfat berantai panjang dari natrium (RSO3- Na+ dan ROSO3-Na+). Deterjen mempunyai keunggulan dalam hal tidak mengendap bersama logam dalam air (Senja 2010).

Keywords: sabun, detergen, kesehatan, pencemaran lingkungan.

Pendahuluan

Kebutuhan deterjen semakin meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah keluarga di Indonesia. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, peningkatan jumlah kepala keluarga sejak 2010 hingga 2014 mencapai 24,5% dan diperkirakan jumlah ini akan terus meningkat hingga 2017. Peningkatan ini juga dipengaruhi oleh jumlah konsumen yang semakin banyak karena pendapatan yang membaik dan juga daya beli masyarakat yang tinggi. Salah satu bahan kimia anorganik utama yang digunakan dalam industri pembuatan deterjen dan sabun cuci rumah tangga lainnya adalah trisodium fosfat (Na3PO4). Sifatnya yang dapat mempermudah pembentukan busa dan membersihkan kotoran serta mencegah kotoran melekat kembali pada permukaan yang telah dibersihkan. Indonesia sebagai negara berkembang dalam berbagai aspek juga harus meningkatkan pasokan bahan pembuatan bahan pembersih khususnya trisodium fosfat, agar dalam pemasokannya tidak selalu diimpor dari negara lain. Maka dari itu, pendirian pabrik Trisodium Fosfat di Indonesia memiliki peluang yang besar dalam berbagai aspek. Di samping dapat meningkatkan potensi industri kimia dan memenuhi kebutuhan trisodium fosfat dalam negeri, pendirian pabrik ini juga menciptakan lapangan kerja dan menghemat devisa negara.

Permasalahan

1. Apa pengaruh zat yang terkandung didalam sabun dan detergen bagi kesehatan kulit?

 2. Zat apa saja yang berbahaya bagi kesehatan?

 3. Dampak yang ditimbulkan bagi lingkungan?

 4. Hal-hal yang harus diperhatikan agar terhindar dari efek samping pada sabun dan detergen.

5. Cara mengurangi pencemaran lingkungan akibat sabun dan detergen.

Pembahasan

1. Apa pengaruh zat yang terkandung didalam sabun dan detergen bagi kesehatan kulit?

Iritasi

Stratum korneum terdiri dari lapisan sel keratinosit yang sudah mati yang memang akan mengelupas sendiri. Ketika ini terjadi, inti sel dan sitoplasma (cairan dalam sel) menjadi keras dan mengering. Nah, kandungan surfaktan dalam sabun mandi akan lantas bereaksi dengan proses tersebut, sehingga menyebabkan lapisan kulit membengkak. Pembengkakan ini sebenarnya akan membantu bahan-bahan dalam sabun mandi untuk masuk ke lapisan kulit yang lebih dalam. Namun, bila bahan-bahan ini berinteraksi dengan ujung-ujung sel saraf dan sistem kekebalan tubuh, iritasi dan rasa gatal bisa timbul.

Kulit kering dan dehidrasi

Stratum korneum mengandung lipid (sel lemak) yang fungsinya membantu kulit mempertahankan kelembapan. Diyakini, surfaktan dalam sabun mandi mampu menembus stratum korneum dan mengganggu lipid sehingga jumlah lipid menjadi semakin menurun. Jika jumlah lipid menurun, maka kelembapan pada kulit juga berkurang. Air secara alami menguap dari kulit, jika kulit sudah berkurang kelembapannya tentu akan menyebabkan kulit kering dan dehidrasi.

Mengganggu keseimbangan kadar pH kulit

Menurut Verywell.com, zat surfaktan yang terkandung pada sabun umumnya memiliki tingkat pH (juga disebut tingkat keasaman) sekitar 10, sedangkan kulit memiliki pH sekitar 5,5. Kadar pH yang berbeda tersebut dapat menyebabkan ketidakseimbangan sehingga akhirnya menyebabkan iritasi. Bahan pembersih yang baik adalah dapat menyeimbangkan kadar asam pada kulit.

Deterjen juga bertanggung jawab atas banyaknya kasus keracunan dalam rumah, karena hal yang tak disengaja. Biasanya ketidaksengajaan tersebut banyak dilakukan oleh anak-anak. Deterjen memiliki banyak jenis, pun juga banyak masalah kesehatan yang ditimbulkannya. Bahkan, efek jangka panjang dari penggunaan deterjen bisa menyebabkan kanker.

2. Zat apa saja yang berbahaya bagi kesehatan?

Bahan kimia sintetis yang harus diwaspadai:

1.      Methylparaben

2.      Sodium Lauryl Sulfate

3.      Fragrance

4.      Surfaktan

 

3. Dampak yang ditimbulkan bagi lingkungan?

Air berbusa yang dihasilkan dari deterjen, akan menghilang ke saluran pembuangan air dan akan mencemari lingkungan melalui aliran dan proses infiltrasi. Air bekas mencuci ini akan menimbulkan berbagai masalah pencemaran yang juga dapat merusak ekosistem dalam air, seperti: mencemari kualitas air tanah dengan bahan kimia, pertumbuhan ganggang atau tumbuhan air belebihan yang merusak ekosistem dalam air, hingga menipisnya oksigen dalam air yang akhirnya membunuh ikan dan organisme lainnya. Dan akan menimbulkan:

1.      Memicu eutrofikasi

Eutrofikasi adalah suatu kondisi pesatnya pertumbuhan tanaman enceng gondok dan ganggang. Jika kondisi ini dibiarkan maka permukaan sungai atau rawa akan tertutup tanaman ini. Dampak negatif akan dirasakan oleh biota air dibawahnya karena eutrofikasi menghambat sirkulasi oksigen dan sinar matahari. Lalu tumbuhnya ganggang yang pesat dapat meningkatkan unsur hara di dalamnya. Lama kelamaan bukan tidak mungkin kondisi ini dapat menyebabkan biota di dalamnya mati atau bahkan mengalami kepunahan.

2.      Menyebabkan pencemaran air

Kondisi limbah detergen yang tak terkendali akan menyebabkan pencemaran air di got-got yang mengalir ke sungai lalu bermuara di laut. Apabila debit limbah detergen semakin besar maka sangat memungkinkan terjadinya pencemaran terhadap air tanah. Padahal air tanah digunakan sebagai sumber air minum masyarakat, sehingga zat kimia berbahaya penyusun detergen secara tidak langsung akan ikut terminum. 

3.      Mengandung bahan yang sulit terurai

Salah satu zat penyusun detergen adalah alkyl benzene sulfonateAlkyl benzene sulfonate bersifat sulit terurai di alam sehingga banyak Negara yang sudah melarang penggunaan zat ini. Apabila jumlah limbah detergen terus bertambah maka kandungan alkyl benzene sulfonate juga akan semakin banyak mencemari lingkungan. Namun saat ini terdapat alternatif penggantinya yaitu linear alkyl sulfonate meskipun zat ini juga hanya mampu terurai 50 persennya saja.

4.      Mengancam ekosistem air laut

Limbah detergen yang mengalir di sungai-sungai akan berujung di laut. Sementara itu, detergen mengandung banyak sekali bahan kimia berbahaya seperti zat pewangi, pemutih, alkyl benzene sulfonatenonylphenol ethoxylates, surfaktan, dan fosfat. Semua zat kimia tersebut dapat mengancam kelangsungan hidup biota laut. 

4. Hal-hal yang harus diperhatikan agar terhindar dari efek samping pada sabun dan detergen.

Solusi dari masalah tersebut adalah sabun biodegradable. Sabun ini memiliki komponen penyusun yang bisa terurai atau dipecah secara alami oleh organisme pengurai. Meski dalam jumlah besar sabun biodegradable tetap membikin ketidakseimbangan ekosistem, namun paling tidak efeknya tak separah sabun kimia modern. Beberapa produsen sabun biodegradable saat ini juga sudah fokus memotong jejak karbon dengan meminimalisir dan mendaur ulang kemasan. Gunakan sabun dengan kandungan emolien yang dapat menjaga kelembapan kulit. Biasanya, emolion terdapat pada banyak sabun cair. Jika sabun sudah sesuai, cara dan aturan pemakaiannya juga harus benar. Misalnya, tidak menggosokkannya terlalu kuat pada kulit atau tidak menggunakan air yang terlalu panas ketika membilasnya. Anda juga tidak disarankan untuk mandi berlama-lama karena bisa membuat kulit kering. Cukup basahi badan, sabuni hingga merata, dan segera bilas bersih tubuh anda.

Melansir laman Organic Consumers Association, langkah yang dapat dilakukan untuk mengganti deterjen untuk membersihkan noda adalah dengan menggunakan bahan sederhana seperti : sabun, air, soda kue, cuka, air lemon, dan boraks untuk membersihkan noda pada pakaian ataupun peralatan rumah tangga lainnya. Namun jika masih belum bisa secara total tak menggunakan detergen, gunakanlah detergen sesedikit mungkin ketika mencuci pakaian. Selain itu, selalu gunakan sarung tangan karet untuk melindungi kulit dari iritasi dan pastikan sirkulasi udara yang baik dalam ruangan dengan membuka jendela ataupun menyalakan kipas angin ketika mencuci. Dan yang terpenting, jangan pernah mencampur 2 jenis pembersih, terutama yang mengandung amonia dan klorin atau pemutih, karena dapat menghasilkan gas beracun yang dapat menyebabkan masalah serius pada saluran pernapasan.

5. Cara mengurangi pencemaran lingkungan akibat sabun dan detergen.

Cara paling sederhana untuk menampung limbah-limbah tersebut yaitu pada suatu tempat penampung atau selokan yang pada tempat tersebut ditanami tanaman air yang dapat menyerap zat pencemar seperti: jaringao, Pontederia cordata (bunga ungu), lidi air, futoy ruas, Thypa angustifolia (bunga coklat), melati air, dan lili air. Akan tetapi cara ini sederhana karena tanaman air memiliki batas kemampuan untuk menyerap zat pengotor, selain itu juga tidak bisa menyerap lemak dan sampah dapur yang ikut terbuang. Limbah sabun atau detergen hendaknya tidak dibuang pada pembuangan septik tank, karena limbah dapat menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk pada septik tank. Selain limbah yang kita olah, dari kita sendiri pun harus tetap memperhatikan gaya hidup yang kita lakukan untuk meminimalisir limbah sabun maupun detergen yang kita hasilkan, diantaranya :

1.    Menggunakan sabun dan detergen secukupnya.

2.    Memilih selektif sabun dan detergen yang akan kita gunakan.

3.    Tidak membuang limbah sabun dan detergen sembarangan.

Kesimpulan

Sabun dan detergen sebenarnya banyak membantu kita dalam hal membersihkan sesuatu baik tubuh ataupun pakaian namun jika pada penggunaannya berlebihan atau cenderung salah maka yang akan terjadi sebaliknya yaitu bisa menimbulkan penyakit pada kulit dan mencemarkan lingkungan. Jadi pergunakanlah sabun dan detergen dengan sebaik-baiknya.

Daftar Pustaka

Widya putri, Aditya. 2019. Kali Item Berbusa, Detergen Memang Masalah bagi Lingkungan. https://tirto.id/kali-item-berbusa-detergen-memang-masalah-bagi-lingkungan-ddqH. (diakses tanggal 30/10/2020)

Neverland. 2014. makalah sabun dan detergen. http://neverlandlufi.blogspot.com/2014/02/makalah-sabun-dan-detergen.html. (diakses tanggal 30/10/2020)

Eka putri, Arshinta. 2019. Dampak Negatif Deterjen, Bisa Sebabkan Banyak Masalah Kesehatan Hingga Mencemarkan Lingkungan. https://health.grid.id/read/351819963/dampak-negatif-deterjen-bisa-sebabkan-banyak-masalah-kesehatan-hingga-mencemarkan-lingkungan?page=all. (diakses tanggal 30/10/2020)

Aprinda putri. 2017. Sebenarnya, Sabun Mandi Itu Baik Atau Justru Merusak Kulit?. https://hellosehat.com/hidup-sehat/kecantikan/sabun-dan-cara-kerjanya/#gref. (diakses tanggal 30/10/2020)

INDUSTRI AGROKIMIA

 

Industri Agrokimia



       Nama:Yongky putra narso

        Kode peserta :@Ro4-Yongky

ABSTRACT

         Kandungan nitrogen pada pupuk urea sehingga tanaman sangat diperlukan oleh, khusnya pada masa pertumbuhan. Zat nitrogen juga bisa membantu metabolic tanaman, pertumbuhan dan perkembangan cabang mempercepat, jumlah anakan, menjadi lebih segar membuat daun, dan rimbun hijau. Dapat berbentuk butiran-butiran seperti kristal dengan warna putih Pupuk urea (NH2 CONH2.) Umumnya, tekstur yang cukup kasar pupuk ureamempunyai. Dapat dengan mudah larut dalam air pupuk urea. Hal ini bisa mempermudah petani dalam dalam menggunakan pupuk urea dikombinasikan dengan penyiraman tanaman. Pupuk UREA adalah pupuk buatan yang berbentuk butiran bulat kecil (berdiameter sekitar 1 mm) yang berasal dari senyawa kimia organik CO (NH2)2 dengan kadar nitrogen sebesar 45% hingga 46%( Gusnilawati:2010). Pengertian pupuk UREA adalah pupuk padatan kristalin putih yang mengandung 46% nitrogen serta bersifat sangat larut dalam air( Engelstad:1985)

           Pestisidia merupakan bahan kimia yang digunakan untuk membunuh hama, baik insekta, jamur maupun gulma. Pestisida telah secara luas digunakan untuk tujuan membrantas hama dan penyakit tanaman dalam bidang pertanian. Pestisida juga digunakan dirumah tangga untuk memberantas nyamuk, kecoa dan berbagai serangga penggangu lainnya. Dilain pihak pestisida ini secara nyata banyak menimbulkan keracunan pada orang (Runia Y, 2008).

            Pestisida juga merupakan substansi (zat) kimia yang digunakan untuk membunuh atau mengendalikan berbagai hama. Pestisida berasal dari bahasa inggris yaitu pest berarti hama dan cida berarti pembunuhan. Yang dimaksud hama bagi petani sangat luas yaitu : tungau, tumbuhan pengganggu, penyakit tanaman yang disebabkan oleh fungi (jamur), bakteria dan virus, nematoda (cacing yang merusak akar), siput, tikus, burung, dan hewan lain yang dianggap merugikan (Subiakto sudamo, 1991).

(kata kunci:pupuk urea,pestisida)




 

 

PENDAHULUAN

      Agrokimia merupakan yang bergerak dibidang pertanian seperti pupuk, petsida, dengan mengacu mempunyai arah kebijakan industri dan berdasarkan faktor dan ciri sub sektor industri agro dan kimia serta berperan dalam struktur industri dan ekonomi indonesia pada umumnya .

      Pupuk umumnya berhubungan dengan pupuk buatan,yang tidak hanya berisi unsur hara tanaman dalam bentuk unsur nitrogen tetapi juga dapat berbentuk campuran yang memberikan bentuk-bentuk ion dari unsur hara yang dapat diabsorpsi oleh tanaman.Pupuk dapat dibedakan menjadi pupuk organik(pupuk alami)yang dikenal dengan pupuk kandang,pupuk hijau,dan pupuk gambut,sedangkan pupuk anorganik(pupuk buatan) merupakan pupuk yang berasal dari bahan kimia anorganik yang dibuat oleh pabrik.

 

PERMASALAHAN

    1.Apa saja jenis agrokimia?

    2.Apa efek dari penggunaan agrokimia?

PEMBAHASAN

1.1  Pestisida:

    Pestisida adalah bahan kimia atau zat yang digunakan untuk menghancurkan atau mengendalikan beberapa jenis tumbuhan atau organisme yang juga dikenal sebagai hama, yang berbahaya bagi tanaman budidaya atau hewan. Pestisida kebanyakan bekerja melalui racun hama.

1.2 Insektisida:

    Insektisida digunakan untuk menghancurkan serangga. Insektisida dapat berupa ovisida yang membunuh telur, larvisida untuk membunuh larva. Contoh pestisida: Organoklorin, organofosfat, karbamat dan piretroid.

1.3 Herbisida:       

Herbisida digunakan untuk mengendalikan atau membunuh gulma dan tumbuh-tumbuhan. Contoh herbisida: Gramoxone dan glifosat.

1.4 Fungisida:

Fungisida digunakan untuk mengendalikan jamur dan oomycetes. Contoh fungisida: Mankosida.

1.5 Algasida:

Algasida digunakan untuk mengendalikan ganggang. Juga dikenal sebagai algisida.

1.6 Rodentisida:

Rodentisida digunakan untuk mencegah penyebaran hewan pengerat seperti tikus, tikus. Contoh: Klerat.

1.7 Moluskosida:

Moluskosida digunakan untuk mengendalikan moluska seperti siput dan keong. Contoh: Slugit

1.8 Nematisida:

Nematisida digunakan untuk mengendalikan atau membunuh nematoda. Contoh: Furadan.

1.9 Pupuk:

Pupuk adalah adalah senyawa kimia yang digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman. Pupuk digunakan untuk mengurangi kekurangan nutrisi di dalam tanah. Biasanya, ini diaplikasikan ke tanah atau ke jaringan tanaman.Pupuk dapat dikategorikan menjadi dua kategori: pupuk organik dan anorganik. 

Pupuk organik secara alami adalah zat yang ada yang disiapkan melalui proses alami. Pupuk anorganik, yang juga disebut pupuk sintetis diproduksi secara buatan dengan menggunakan proses kimia dengan memanfaatkan endapan alami, yang diubah secara kimiawi.

1.10 Agen pengapuran dan pengasaman:

Tanah terkadang bisa terlalu asam atau terlalu basa untuk pertumbuhan tanaman yang tepat. Dalam kasus ini, pengapuran dan pengasaman produk ditambahkan ke tanah untuk menyesuaikan pH nya. Bila tanahnya terlalu asam, kapur terutama dalam bentuk kapur tohor atau CaO sering di tambahkan, sedangkan untuk tanah yang bersifat basa senyawa sulfur sering ditambahkan untuk menetralkan.

 

2.1 Efek pada air:
-Air menjadi tidak layak untuk dikonsumsi
-Bisa meningkatkan pertumbuhan ganggang
-menyebabkan eutrofikasi karena bahan kimia yang berlebihanMempengaruhi     hewan air akibat polusi air.

2.2 Efek pada udara:
-Residu dan partikel bahan kimia ini bisa menyebabkan polusi udara.
-Pestisida bisa melayang terjadi saat udara membawa partikel agrokimia dari satu tempat ke tempat lain.
-Lebih banyak penguapan pada penyemprotan bisa terjadi karena kelembaban relatif rendah dan suhu yang lebih tinggi.
-Efek seputar kesehatan organisme karena menghirup udara yang tercemar.

 

2.3 Efek Pada kesehatan manusia:
-Penggunaan agrokimia menyebabkan berbagai efek kesehatan, mulai dari kulit mudah dan iritasi mata.
-Efek pada manusia juga mempengaruhi sistem saraf, menyebabkan kanker dan juga masalah reproduksi.
-Dapat menyebabkan kerusakan saraf, ketidaksuburan, kelainan hormon dan neurotoksisitas.

2.4 Efek pada tanah:

-Membunuh bakteri bermanfaat
-Meningkatkan kadar nitrat dalam tanah
-Mengubah pH tanah
-Membunuh organisme tanah
-Toksisitas dan penurunan kualitas tanah

                                                                           

KESIMPULAN

Industri Agrokimia merupakan suatu industri yang bergerak dibidang pertanian pupuk dan pestisida,industri agrokimia ini memiliki beberapa jenis pestisida,pupuk,fungsida,insektisida,dan juga mempunyai beberapa efek antara lain:efek pada air,udara,manusia,dan tanah .

DAFTAR PUSTAKA

Gusnilawati.2010.Analisis Kandungan Nitrogen dalam Pupuk Urea.

 Engelstad, O.P. 1997. Teknologi dan Penggunaan Pupuk. Edisi ketiga. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Runia, Y, 2008. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Keracunan Pestisida Organofosfat, Karbamat, dan Kejadian Anemia

Subiyakto Sudarmo. Pestisida. Kanisius. Yogyakarta.1991

 

 

Dampak Negatif Penggunaan Pestisida

 

Dampak Negatif Penggunaan Pestisida

Sumber : agroindonesia.co.id

 

Oleh : Dinda Damarisa Anggadewi (@S03-Dinda)

 

Abstrak

Di Indonesia, pestisida sering digunakan untuk membasmi hama tanaman. Hama tanaman mengancam stabilitas produksi pertanian karena menyebabkan penurunan produktivitas tanaman sehingga dapat terjadi gagal panen pada serangan yang masif. Serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) terjadi di semua tahap pengelolaan agribisnis sayuran dimulai dari sebelum masa tanam, di pertanaman, sampai penyimpanan dan pengangkutan produk yang menyebabkan kerugian secara ekonomis karena menurunkan kualitas, kuantitas, dan harga hasil panen. Penggunaan pestisida kimiawi menjadi pilihan dengan memperhatikan kondisi ekonomi di lapangan. Namun, dampak dari penggunaan pestisida kimia sintetis perlu diperhatikan. Tujuan penulisan artikel ini adalah dapat menambah pengetahuan mengenai dampak negatif penggunaan pestisida.

Abstract

In Indonesia, pesticides are often used to eradicate plant pests. Crop pests threaten the stability of agricultural production as they cause a decline in crop productivity, which can lead to crop failure during large-scale attacks. Plant Pest Organism (OPT) attacks occur at all levels of vegetable agribusiness management, from before planting time, during planting, to storage and transportation of products resulting in economic losses due to lower quality, quantity and harvest prices. The use of chemical pesticides is an option with respect to the economic situation on the farm. However, the effects of the use of synthetic chemical pesticides should be noted. The purpose of writing this article is to increase knowledge about the negative effects of pesticide.

Kata kunci : pestisida, dampak, agrokimia

Pendahuluan

Salah satu industri agrokimia adalah pestisida. Pestisida/pembasmi hama berdasarkan asal katanya berasal dari bahasa inggris yaitu pest berarti hama dan cida berarti pembunuh. Yang dimaksud dengan hama bagi petani sangat luas yaitu : tungau, tumbuhan pengganggu, penyakit tanaman yang disebabkan oleh fungi (jamur), bakteria dan virus,nematoda (cacing yang merusak akar), siput, tikus, burung dan hewan lain yang dianggap merugikan. Jadi, pestisida adalah senyawa kimia yang disusun untuk mengendalikan hama dan penyakit yang menyerang tanaman.

Berdasarkan sasarannya, pestisida dibagi menjadi :

·       Insektisida (serangga)

·       Fungisida (fungi/jamur)

·       Rodensida (hewan pengerat)

·       Herbisida (gulma)

·       Akarisida (tungau)

·       Bakterisida (bakteri)

·       Larvasida (larva)

Permasalahan

Dengan menggunakan pestisida, produksi pertanian meningkat dan kesejahteraan petani juga semakin baik, tetapi penggunaan pestisida tanpa mengikuti aturan yang diberikan dapat memberikan dampak negatif bagi lingkungan dan kesehatan manusia.

 

Pembahasan



Pestisida masih diperlukan dalam kegiatan pertanian. Pestisida dengan cepat menurunkan populasi hama hingga meluasnya serangan dapat dicegah, dan kehilangan hasil panen dapat dikurangi. Penggunaan pestisida yang tidak bijak dan tidak sesuai dapat menimbulkan dampak negatif sebagai berikut :

1.     Pencemaran air dan tanah di lingkungan sekitar

Jenis-jenis pestisida yang persisten (DDT, Aldrin, Dieldrin) tidak mengalami degradasi dalam tanah, tapi malah akan berakumulasi. Dalam air, pestisida dapat mengakibatkan biology magnification, pada pestisida yang persisten dapat mencapai komponen terakhir, yaitu manusia melalui rantai makanan. Pestisida dengan formulasi granula, mengalami proses dalam tanah dan air sehingga ada kemungkinan untuk dapat mencemari tanah dan air.

2.     Pencemaran udara

Pestisida yang disemprotkan segera bercampur dengan udara dan langsung terkena sinar matahari. Pestisida dapat mengalami fotodekomposisi di udara. Pestisida mengalami perkolasi atau ikut terbang menurut aliran angin. Makin halus butiran larutan makin besar kemungkinan ikut perkolasi dan makin jauh ikut diterbangkan arus angin.

 

3.     Timbulnya spesies hama yang resisten

Spesies hama yang akan diberantas dapat menjadi toleran terhadap pestisida, sehingga populasinya menjadi tidak terkendali. Ini berarti bahwa jumlah individu yang mati sedikit sekali atau tidak ada yang mati, meskipun telah disemprot dengan pestisida dosis normal atau dosis lebih tinggi sekalipun. Populasi dari spesies hama dapat pulih kembali dengan cepat dari pengaruh racun pestisida serta bisa menimbulkan tingkat resistensi pestisida tertentu pada populasi baru yang lebih tinggi, hal ini biasanya disebabkan oleh pestisida golongan organoklorin.

4.     Timbulnya spesies hama baru atau ledakan hama sekunder

Penggunaan pestisida yang ditujukan untuk memberantas jenis hama tertentu, bahkan dapat menyebabkan munculnya jenis hama yang lain. Ledakan hama sekunder tersebut dapat terjadi beberapa saat setelah penggunaan pestisida, atau pada akhir musim tanam atau malah pada musim tanam berikutnya. Ledakan hama sekunder dapat lebih merusak daripada hama sasaran sebelumnya.

5.     Resurgensi

Bila suatu jenis hama setelah memperoleh perlakuan pestisida berkembang menjadi lebih banyak dibanding dengan yang tanpa perlakuan pestisida, maka fenomena itu disebut resurgensi. Faktor penyebab terjadinya resurgesi antara lain :

a)     Butir semprotan pestisida tidak sampai pada tempat hama berkumpul dan makan.

b)    Kurangnya pengaruh residu pestisida untuk membunuh nimfa hama yang menetas sehingga resisten terhadap pestisida.

c)     Predator alami mati terbunuh pestisida.

d)    Pengaruh fisiologis insektisida kepada kesuburan hama. Hama bertelur lebih banyak dengan angka kematian hama yang menurun.

e)     Pengaruh fisiologis pestisida kepada tanaman sedemikian rupa sehingga hama dapat hidup lebih subur.

 

6.     Merusak keseimbangan ekosistem

Penggunaan pestisida seperti insektisida, fungisida dan herbisida untuk membasmi hama tanaman, hewan, dan gulma (tanaman benalu) yang bisa mengganggu produksi tanaman sering menimbulkan komplikasi lingkungan. Penekanan populasi insekta hama tanaman dengan menggunakan insektisida, juga akan mempengaruhi predator dan parasitnya, termasuk serangga lainnya yang memangsa spesies hama dapat ikut terbunuh. Misalnya, burung dan vertebrata lain pemakan spesies yang terkena insektisida akan terancam kehidupannya. Sehingga dengan demikian bersamaan dengan menurunnya jumlah individu spesies hama, menurun pula parasitnya.

7.     Dampak terhadap kesehatan masyarakat

Penggunaan pestisida dalam kegiatan pertanian dapat mengakibatkan dampak negatif pada kesehatan manusia, misalnya :

(a)   Terdapat residu pestisida pada produk pertanian.

(b)  Bioakumulasi dan biomagnifikasi melalui rantai makanan. Manusia sebagai makhluk hidup yang letaknya paling ujung dari rantai makanan dapat memperoleh efek biomagnifikasi yang p aling besar. Dampak ini ditimbulkan oleh pestisida golongan organoklorin.

(c)   Keracunan pestisida, yang sering terjadi pada pekerja dengan pestisida.

Dampak negatif pestisida terhadap kesehatan manusia, baik secara langsung maupun tak langsung yang dihubungkan dengan sifat dasar bahan kimianya :

a.     Organoklorin (OK)

Merupakan racun kontak dan racun perut. Merugikan lingkungan dan kesehatan masyarakat karena sifat persistensinya sangat lama di lingkungan, baik di tanah maupun jaringan tanaman dan dalam tubuh hewan. Persistensi organoklorin menimbulkan dampak negatif seperti biomagnifikasi dan masalah keracunan kronik yang membahayakan. Herbisida senyawa 2,3,7,8-TCDD merupakan senyawa toksik untuk ternak termasuk manusia, masuk lewat kontak kulit atau saluran pencernakan, menginduksi enzim oksidase, karsinogen kuat, teratogenik serta menekan reaksi imun. Toksisitas golongan organoklorin ini yaitu sebagai anastesi, narkotik dan racun sistemik. Cara kerja spesifiknya adalah sebagai depressant system saraf pusat (narkosis), kerusakan jaringan liver dan kerusakan jaringan ginjal.

b.     Organofosfat (OP)

Merupakan racun kontak, racun perut maupun fumigan. Toksisitas karena paparan senyawa ini meliputi system syaraf melalui inhibisi enzim kolinesterase.

c.     Karbamat

Seperti halnya golongan organofosfat, toksisitasnya dengan penghambatan aktivitas enzim kolinesterase pada sistem syaraf.

 

Kesimpulan

            Dalam pertanian, pestisida mampu mengendalikan hama dan jasad pengganggu lainnya. Penggunaan pestisida bertujuan untuk menaikkan kualitas serta kuantitas hasil panen. Tetapi, penggunaan pestisida yang tidak bijak dan tidak sesuai malah akan membawa dampak negatif bagi lingkungan maupun kesehatan manusia. Pestisida harus digunakan dengan benar agar tidak memberikan dampak negatif seperti pencemaran air dan tanah di lingkungan pertanian, pencemaran udara, timbulnya spresies hama yang resisten, timbulnya ledakan hama sekunder, reurgensi, merusak keseimbangan ekosistem, dan berdampak buruk bagi manusia baik yang berada di lingkungan sekitar pertanian maupun konsumen.

 

Daftar Pustaka

Adriyani, R. (n.d.). Usaha Pengendalian Pencemaran Lingkungan Akibat Penggunaan Pestisida Pertanian.

Irfan Afandi, S. (2019, December 13). Retrieved from cybex.pertanian: http://cybex.pertanian.go.id/mobile/artikel/88186/Pengertian-Pestisida-Jenis-Cara-Kerja-Dan-Dampak-Pengunaan-Pestisida/

Sulistiyono, L. (2004). Dilema Penggunaan Pestisida Dalam Sistem Pertanian Tanaman Hortikultura Di Indonesia.