.

Tampilkan postingan dengan label @R14-Adam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @R14-Adam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 November 2020

Penanganan Dampak Pencemaran Udara

 Penanganan Dampak Pencemaran Udara


Nama : Adam Syafarrazzaq
@R14-Adam

Abstrak

Pencemaran udara adalah suatu kondisi dimana kehadiran satu atau lebih substansi kimia, fisik atau biologi di atmosfer dalam jumlah yang membahayakan. Polusi udara merupakan salah satu jenis dari pencemaran lingkungan hidup selain pencemaran tanah, pencemaran air, pencemaran suara.  Pencemaran udara merupakan salah satu masalah lingkungan yang paling mengkhawatirkan di Indonesia mengingat Indonesia merupakan negara berkembang dengan pertumbuhan kota yang pesat dan industri yang menyebabkan polutan yang mengotori udara cukup banyak. Dampak pencemaran udara yang terjadi bisa mengakibatkan gangguan Kesehatan dan juga keseimbangan alam yang terganggu sehingga diperlukan konsen dari beberapa pihak atas terjaaina pencemaran udara ini.

Pemerintah daerah dan industri - industri Indonesia harus mengurangi dan melakukan pengendalian polusi udara yang ada supaya tidak akan berdampak pada lingkungan. Pihak pemerintah melakukan berbagai cara untuk mengendalikan pencemaran udara yang sering merebak di Indonesia diantaranya membuat dan merevisi kebijakan. Selain pemerintah, Industri-industri juga melakukan pengawasan dan pengendalian terhadap emsi udara yang dihasilkan dari pabrik sebagai bentuk peduli terhadap pencemaran udara yang merebak dan dapat menimbulkan dampak secara berkepanjangan bila tidak diatasi.

Kata Kunci : Pencemaran Udara, Industri, pengendalian polusi


Pendahuluan

                Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 tahun 1999, Pencemaran udara diartikan dengan turunnya kualitas udara sehingga udara mengalami penurunan mutu dalam penggunaannya yang akhirnya tidak dapat digunakan lagi sebagaimana mestinya sesuai dengan fungsinya. Dalam pencemaran udara selalu terkait dengan sumber yang menghasilkan pencemaran udara yaitu sumber yang bergerak (umumnya kendaraan bermotor) dan sumber yang tidak bergerak (umumnya kegiatan industri) sedangkan pengendaliannya selalu terkait dengan serangkaian kegiatan pengendalian yang bermuara dari batasan baku mutu udara. Dengan adanya tolok ukur baku mutu udara maka akan dapat dilakukan penyusunan dan penetapan kegiatan pengendalian pencemaran udara.

Penjabaran kegiatan pengendalian pencemaran udara nasional merupakan arahan dan pedoman yang sangat penting untuk pengendalian pencemaran udara di daerah. Disamping sumber bergerak dan sumber tidak bergerak seperti tersebut di atas, terdapat emisi yang spesifik yang penanganan upaya pengendaliannya masih belum ada acuan baik di tingkat nasional maupun internasional. Sumber emisi ini adalah pesawat terbang, kapal laut, kereta api, dan kendaraan berat spesifik lainnya. Dengan mengetahui sumber pencemaran udara yang akan dicermati perkembangannya, Pihak-pihak seperti pemerintah dan industri-industri mampu merencanakan pengendalian pencemaran udara dengan tepat.

Permasalahan

                Pencemaran udara merupakan peristiwa dimana polutan asing mulai terdispersi dengan udara sehingga kualitas udara tidak bersih seperti semula. Pencemaran udara disebabkan atas dua jenis, yaitu polutan partikulat dan gas. Polutan udara yang berupa gas biasa dihasilkan dari hasil pembakaran yang tidak sempurna dan emisi dari proses reaksi kimia yang beracun sehingga mampu membahayakan kesehatan dan menurunkan kualitas udara. DI sisi lain, sebuah partikel yang dikatakan polutan partikulat bila berasal dari logam keras seperti partikulat timah dan ukuran partikulat lebih kecil dari 10 mikro sehingga tidak dapat difiltrasi dengan mudah.

                Pencemaran udara merupakan sebuah masalah berkelanjutan yang akan menjadi sebuah bom waktu yang akan terus berjalan sampai dampak buruk yang lebih besar akan terjadi. Pencemaran udara atau polutan udara juga menjadi salah satu masalah lingkungan yang mengkhawatirkan.  Di Indonesia masalah ini menjadi permsalahan lingkungan yang cukup serius. Penyebabnya bisa melalui  kebakaran hutan, industri, transportasi, konstruksi, dan kegiatan antropogenik lainnya yang dilakukan oleh manusia. Sebaran polutan udara tidak hanya terjadi di luar ruangan, namun juga bisa terjadi di dalam ruangan yang disebabkan oleh asap rokok, sirkulasi udara hingga pembakaran dari dapur.  Maka dari itu, perencanaan atas pengendalian polutan udara perlu segera diaplikasikan untuk mengurangi dampak buruk yang akan terjadi. Sumber pencemar yang sering menghasilkan polutan udara yang tidak terkendali ada dalam berbagai kegiatan, seperti ketika ada proses konstruksi, penambangan, lalu lintas yang padat, dan proses produksi dalam sebuah industri. Pihak-pihak tersebut harus melakukan pengurangan emisi terutama pihak industri yang  masih berkembang dan akan bertambah tiap tahunnya. Polutan udara memiliki berbagai macam jenis substansi yang beragam dari kimia, fisika, dan biologi sehingga perlu diperhatikan lebih mendalam dengan adanya pengendalian kualitas udara.

Pembahasan

Pencemaran udara ada dua jenis yaitu polutan partikulat (PM2,5, PM10, Pb/Timbal) dan gas (CO dari pembakaran tidak sempurna, SO2 dari bahan bakar yang mengandung sulfur, NOx dari bahan bakar yang dibakar dengan oksigen udara, O3). Dilansir dari laman resmi ITB, bahwa  sistem pengelolaan kualitas udara dilakukan berdasarkan suatu siklus. Siklus pengelolaan kualitas udara (air quality management system) dimulai dari pemantauan kualitas udara ambien (lingkungan). Setelah itu kemudian ada evaluasi analisa kualitas udara dan dampaknya berdasakan level polutan tertinggi.

                Beberapa cara dan strategi dalam mengelola kualitas udara di Indonesia, yaitu pencegahan kebakaran hutan menggunakan sekat kanal merupakan salah satu usaha mengelola kualitas udara di daerah yang didominasi oleh kehutanan yang rentan terbakar. Pengelolaan kualitas udara untuk sumber tidak bergerak dapat dilakukan upaya penggunaan bahan bakar bersih, produksi bersih, pemantauan ambien, serta efisiensi energi.

Pengelolaan kualitas udara untuk sumber yang bergerak dapat dilakukan upaya pengurangan kendaraan, menurunkan durasi perjalanan, menggunakan angkutan umum, serta membudayakan bijak dalam berkendara. Penegakan hukum juga harus dilakukan oleh berbagai pihak yang terlibat dalam pengelolaan udara di daerah yang berada dalam Indonesia. Pemerintah mengawasi pemenuhan baku mutu emisi, pelaporan emisi secara kontinu atau berkelanjutan dan terintegrasi dengan sistem pelaporan di Kementerian LHK. Pemerintah juga terus menegakkan hukum dan mendorong penerapan perkembangan teknologi pada sumber-sumber pencemar industri.

Selain pihak pemerintah, pihak industri juga dapat membantu dan mengendalikan emisi polutan udara sehingga mampu memaksimalkan kerja pemerintah yang telah memberikan bantuan dan berbagai peraturan untuk meminimalisasi pencemaran udara. Pengelolaan kualitas udara yang dapat dilakukan pabrik dapat dimulai dari pemantauan kualitas udara ambien sehingga dapat ditentukan skala prioritas pencemaran udara yang ingin segera diminimalisasi dampaknya. Hasil pemantauan kualitas udara ambien ini akan dilakukan evaluasi kualitas udaranya dan dampak yang dihasilkan dari sampling udara yang diambil dari proses pemantauan. Setelah dilakukan evaluasi atas hasil sampling pemantauan, sasaran akan ditetapkan dan baku mutu yang sesuai dengan National Ambient Air Quality Standards yang ditetapkan setipa negara. Dengan ketetapan tersebut, perencanaan strategi pengendalian pencemaran udara dapat dicanangkan dan dapat direalisasikan sehingga dapat melakukan kontrol bila tidak sesuai dengan baku mutu yang telah ditetapkan.

Pengelolaan pencemaran udara di industri memiliki prinsip dasar yang harus diperhatikan. Hal [ertama yang arus dilakukan adalah melakukan identifikasi jenis polutan udara dengan melakukan pemantauan emisi dan sumber emisi. Sample yang didapatkan dari hasil pemantauan ini akan ditentukan level pencemarannya dari sumber emisi yang ada. Hasil penentuan level pencemaran ini akan dibandingkan dengan baku mutu yang telah ditetapkan dari industri sehingga dapat dilakukan review kontrol polusi udara supaya dapat merencanakan strategi untuk pengendalian identifikasi jenis emisi.

Cara pengendalian kualitas udara ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengendalian kualitas udara. Prinsip dasar pengelolaan industri dalam rangka pengendalian kualitas udara, yaitu dengan mengidentifikasi jenis polutan dengan pemantauan. Selain itu juga penting diadakan penentuan level pencemaran dari sumber emisi, membandingkan dengan baku mutu emisi, pemantauan kontrol polusi udara, dan merencanakan strategi pengendalian. Langkah lain yang perlu ditempu untuk mengendalikan pencemaran udara berdasarkan pendekatan pengendalian, yaitu tindakan preventif dengan mengurangi emisi, daur ulang (recycle), desain ulang (redesign), implementasi Resource Efficient & Cleaner Production (produksi bersih yang targetnya energi, air, dan bahan baku), dan pengelolaan end of pipe (limbah).

Khalayak masyarakat bisa melakukan hal-hal kecil yang dapat mengurangi pencemaran udara seperti :

1. Menggunakan urban farming ketika berkebun

2. Memakai transportasi umum

3. Hindari bakar sampah sembarangan

4. Merokok di tempat tertutup

5. Hemat energi

Dengan berbagai upaya yang dilakukan dari berbagai pihak, pencemaran udara yang ada di lingkungan sekitar akan mulai berkurang. Udara yang ada di lingkungan merupakan sebuah komponen pentig dalam kehidupan manusia. Polutan yang mengurangi udara dapat mengganggu kualitas lingkungan dan kesehatan manusia untuk hidup. 

 

Kesimpulan

                Pencemaran udara merupakan masalah serius yang harus ditanggapi berbagai pihak, seperti pihak pemerintah dan pihak industri. Pencemaran udara dapat menimbulkan dampak kesehatan bagi manusia dan ketidakseimbangan lingkungan alam. Beberapa cara sudah dilakukan dari pihak pemerintah dan pihak industri untuk menanggulangi dampak yang dihasilkan dari polusi udara ini. Pihak pemerintah menanggulangi dampak pencemaran udara ini dengan menyiapkan anggaran untuk pengendalian polutan udara danmerancang peraturan untuk mengefektifkan pencegahan dampak udara secara efisien. Di sisi lain, industri-industri melakukan pengendalian kualitas udara dan evaluasi baku mutu udara terhadap emisi polutan yang dihasilkan dari proses industri.


Daftar Pustaka

environment-indonesia.com. (2020, 1 Juli). Tugas dan Tanggung Jawab Pengendalian Pencemaran Udara. Diakses pada 6 November 2020, dari https://environment-indonesia.com/tugas-dan-tanggung-jawab-pengendalian-pencemaran-udara/

itb.ac.id. (2020, 25 Agustus). Strategi Pengelolaan Kualitas Udara di Indonesia. Diakses pada 6 November 2020, dari https://www.itb.ac.id/news/read/57582/home/strategi-pengelolaan-kualitas-udara-di-indonesia

lingkunganhidup.co. (2017, 29 Agustus). Pencemaran Udara: Pengertian, Penyebab, Dampak, Polutan dan Penanggulangannya. Diakses pada 6 November 2020, dari https://lingkunganhidup.co/pencemaran-udara-pengertian-penyebab-dampak-solusi/


Kamis, 29 Oktober 2020

PROSES PRODUKSI PUPUK DALAM INDUSTRI

 


Proses Produksi Pupuk dalam Industri

Sumber : www.mistar.id

Nama : Adam Syafarrazzaq
Kode Peserta : @R14-Adam

Abstrak

       Industri agrokimia di Indonesia mengalami peningkatan terutama industri yang memproduksi pupuk dalam lima tahun terakhir. Jenis pupuk yang diproduksi pabrik tersebut terdiri atas Urea, NPK, SP-36, ZA, dan ZK. Bahan baku untuk produk pupuk yang dibuat tersebut seperti ammonia juga mengalami peningkatan produksi sehingga membantu peningkatan produksi dalam industry secara keseluruhan. Industri pupuk merupakan merupakan industri yang sangat menopang pembangunan berkelanjutan di Indonesia mengingat Indonesia masih bergantung dalam sektor pertanian dan perkebunan.

         Pupuk merupakan semua bahan yang ditambahkan pada tanah dengan maksud untuk memperbaiki sifat fisis, kimia dan biologis. Teknologi pembuatan pupuk sangat erat kaitannya dengan bahan baku yang digunakan, penggunaan bahan baku sangat menentukan jenis pupuk yang dihasilkan. metode atau cara yang digunakan selama proses pengolahan mempengaruhi aspek ekonomi dan efisiensi. Maka dari itu, sebuah perusahaan pupuk harus memperhatikan proses produksi pupuk secara bertahap agar menghasilkan produk dengan efisiensi yang tinggi.

      Sebagai contoh, Pt. Pusri yang merupakan pabrik pupuk terbesar di Indonesia memiliki unit pembuatan amoniak dan unit pembuatan pupuk dalam satu area dimana bahan baku pupuk amoniak diproduksi sendiri oleh perusahaan tersebut. Unit proses produksi amoniak terdiri atas Feed Treating Unit, Reforming UnitP, urification & Methanasi, dan Compression Synloop & Refrigeration Unit. Amoniak yang sudah diproduksi tersebut akan masuk ke unit pembuatan urea yang teriri atas unit sintesa, unit purifikasi, unit kristaliser, unit prilling, unit recovery, dan unit proses kondensat treatment.

Kata Kunci : Pupuk, Ammonia, Urea

 


Pendahuluan

                Agrokimia merupakan semua bahan-bahan kimia yang sering digunakan untuk dalam pertanian. Bahan kimia yang digunakan dalam pertanian ini berfungsi untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan tanaman serta melindungi tanaman dari gangguan seperti hama dan penyakit pada tumbuhan. Penggolongan bahan yang termasuk agrokimia adalah pestisida, pupuk, dan agen pengapuran atau pengasaman.

                Pupuk adalah adalah senyawa kimia yang digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman. Pupuk digunakan untuk mengurangi kekurangan nutrisi di dalam tanah. Biasanya, ini diaplikasikan ke tanah atau ke jaringan tanaman. Pupuk dapat dikategorikan menjadi dua kategori: pupuk organik dan anorganik. Pupuk organik secara alami adalah zat yang ada yang disiapkan melalui proses alami. Pupuk anorganik, yang juga disebut pupuk sintetis diproduksi secara buatan dengan menggunakan proses kimia dengan memanfaatkan endapan alami, yang diubah secara kimiawi.

               

Permasalahan

        Industri pupuk dalam negeri, Indonesia, merupakan negara agraris yang sebagian besar penduduknya adalah petani, sehingga sektor pertanian memiliki peranan yang sangat penting di Indonesia karena mampu meningkatkan sektor ekonomi Indonesia yang masih bergantung dalam sektor agraris. Industri pupuk di Indonesia memiliki beragam teknologi dalam pengolahan pupuk sehingga menghasilkan berbagai jenis pupuk seperti Urea, NPK, SP-36, ZA, dan ZK. Pengolahan pupuk ini berdasarkan aspek ekonomi dan efisiensi produk yang dihasilkan sehingga mampu memproduksi pupuk secara massal yang mampu memenuhi permintaan pasar.

                Pengolahan pupuk didasarkan pada pengolahan bahan baku yang digunakan dalam pupuk. Pemakaian pupuk bertujuan untuk menambahkan unsur-unsur yang diperlukan bagi tumbuhan untuk dapat tumbuh subur. Pupuk terbagi atas dua jenis, yaitu pupuk alami dan pupuk buatan. Dalam sebuah pabrik yang menggunakan bahan baku amoniak, produksi berawal ddari bahan mentah berupa gas alam. Gas alam di indonesia masih melimpah sehingga banyak digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk dalam pembuatan pupuk.

Pembahasan

                Berbagai industri pupuk dapat ditemukan  di Indonesia dengan berbagai jenis pupuk yang dihasilkan. Penjualan pupuk Indonesia memiliki nilai ekonomis yang dapat membantu pembangunan berkelanjutan dalam sektor agraris Indonesia. Industri pupuk Indonesia berada dalam naungan Pt. Pupuk Indonesia termasuk salah satunya perusahaan pupuk terbesar yang berpusat di Palembang bernama Pt. Pupuk Sriwijaya. Perusahaan ini memproduksi pupuk dengan pabrik pengolahan bahan baku berupa ammonia dan pembuatan urea berada di satu area industri. Ammonia ini merupakan bahan baku utama dalam pembuatan pupuk urea bersama dengan gas karbon dioksida.

        Sumber : Website PT. Pusri

Produksi diawali dengan pembuatan bahan baku utama berupa amoniak. Di dalam pabrik Pupuk Sriwijaya, pabrik amoniak memiliki  unit sebagai berikut:

 

(1) Feed Treating Unit

Gas Alam yang masih mengandung kotoran (impurities), terutama senyawa belerang sebelum masuk ke Reforming Unit harus dibersihkan dahulu di unit ini, agar tidak menimbulkan keracunan pada Katalisator di Reforming Unit. Untuk menghilangkan senyawa belerang yang terkandung dalam gas alam, maka gas alam tersebut dilewatkan dalam suatu bejana yang disebut Desulfurizer. Gas alam yang bebas sulfur ini selanjutnya dikirim ke Reforming Unit.

(2) Reforming Unit

Di reforming unit gas alam yang sudah bersih dicampur dengan uap air, dipanaskan, kemudian direaksikan di Primary Reformer, hasil rekasi yang berupa gas-gas hydrogen dan carbon dioxide dikirm ke Secondary Reformer dan direaksikan dengan udara sehingga dihasilkan gas-gas sebagai berikut :

- Hidrogen

- Nitrogen

- Karbon Dioksida

Gas gas hasil reaksi ini dikirim ke Unit purifikasi dan Methanasi untuk dipisahkan gas karbon dioksidanya.

(3) Purification & Methanasi

Karbon dioksida yang ada dalam gas hasil reaksi Reforming Unit dipisahkan dahulu di Unit Purification, Karbon Dioksida yang telah dipisahkan dikirim sebagai bahan baku Pabrik Urea. Sisa karbon dioksida yang terbawa dalam gas proses, akan menimbulkan racun pada katalisator ammonia converter, oleh karena itu sebelum gas proses ini dikirim ke Unit Synloop & Refrigeration terlebih dahulu masuk ke Methanator

(4) Compression Synloop & Refrigeration Unit

Gas Proses yang keluar dari Methanator dengan perbandingan gas hidrogen : nitrogen = 3 : 1, ditekan atau dimampatkan untuk mencapai tekanan yang diinginkan oleh Ammonia Converter agar terjadi reaksi pembentukan, uap ini kemudian masuk ke Unit Refrigerasi sehingga didapatkan amoniak dalam fasa cair yang selanjutnya digunakan sebagai bahan baku pembuatan Urea.

Hasil / produk pada proses di atas adalah gas ammonia cair serta karbon dioksida yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan Urea. Urea tersebut kemudian diproses di pabrik urea. Proses pembuatan urea dibagai atas 6 proses :

1. Sintesa Unit

Unit ini merupakan bagian terpenting dari pabrik Urea, untuk mensintesa dengan mereaksikan NH3 cair dan gas CO2 didalam Urea Reactor dan kedalam reaktor ini dimasukkan juga larutan Recycle karbamat yang berasal dari bagian Recovery. Tekanan operasi proses sintesa adalah 175 Kg/cm2. Hasil Sintesa Urea dikirim ke bagian Purifikasi untuk dipisahkan Ammonium Karbamat dan kelebihan amonianya setelah dilakukan Stripping oleh CO2.

2. Purifikasi Unit

Amonium Karbamat yang tidak terkonversi dan kelebihan amonia di Unit Sintesa diuraikan dan dipisahkan dengan cara penurunan tekanan dan pemanasan dengan 2 langkah penurunan tekanan, yaitu pada 17 Kg/cm2 dan 22,2 Kg/cm2. Hasil penguraian berupa gas CO2 dan NH3 dikirim kebagian recovery, sedangkan larutan urea dikirim ke bagian Kristaliser.

3. Kristaliser Unit

Larutan Urea dari unit Purifikasi dikristalkan di bagian ini secara vakum, kemudian kristal urea dipisahkan di pemutar sentrifugal. Panas yang diperlukan untuk menguapkan air diambil dari panas sensibel larutan urea, maupun panas kristalisasi urea dan panas yang diambil dari sirkulasi urea slurry ke HP Absorber dari Recovery.

4. Prilling Unit

Kristal urea keluaran pemutar sentrifugal dikeringkan sampai menjadi 99,8 % berat dengan udara panas, kemudian dikirimkan ke bagian atas prilling tower untuk dilelehkan dan didistribusikan merata ke distributor, dan dari distributor dijatuhkan kebawah sambil didinginkan oleh udara dari bawah dan menghasilkan produk urea butiran (prill). Produk urea dikirim ke Bulk Storage dengan Belt Conveyor.

5. Recovery Unit

Gas Ammonia dan Gas CO2 yang dipisahkan dibagian Purifikasi diambil kembali dengan 2 langkah absorbsi dengan menggunakan Mother Liquor sebagai absorben, kemudian direcycle kembali ke bagian Sintesa.

6. Proses Kondensat Treatment Unit

Uap air yang menguap dan terpisahkan dibagian kristalliser didinginkan dan dikondensasikan. Sejumlah kecil urea, NH3 dan CO2 ikut kondensat kemudian diolah dan dipisahkan di Stripper dan Hydroliser. Gas CO2 dan gas NH3 dikirim kembali ke bagian purifikasi untuk direcover. Sedang air kondensatnya dikirim ke utilitas.Sintesa urea dapat berlangsung dengan bantuan tekanan tinggi. Sintesa ini dilaksanakan untuk pertama kalinya oleh BASF pada tahun 1941 dengan bahan baku karbon dioksida (CO2) dan amoniak (NH3).

Sintesa urea berlangsung dalam dua bagian. Selama bagian reaksi pertama berlangsung, dari amoniak dan karbon dioksida akan terbentuk amonium karbamat. Reaksi ini bersifat eksoterm.

2NH3 (g) + CO2 (g) NH2COONH4 (s) ΔH = -159,7 kJ

Pada bagian kedua, dari amonium karbamat terbentuk urea dan air. Reaksi ini bersifat endoterm.

NH2COONH4 (s) NH2CONH2 (aq) + H2O (l) ΔH = 41,43 kJ

Sintesa dapat ditulis menurut persamaan reaksi sebagai berikut:

2NH3 (g) + CO2 (g) NH2CONH2 (aq) + H2O (l) ΔH = -118,27 kJ

Kedua bagian reaksi berlangsung dalam fase cair pada interval temperatur mulai 170-190°C dan pada tekanan 130 sampai 200 bar. Reaksi keseluruhan adalah eksoterm. Panas reaksi diambil dalam sistem dengan jalan pembuatan uap air. Bagian reaksi kedua merupakan langkah yang menentukan kecepatan reaksi dikarenakan reaksi ini berlangsung lebih lambat dari pada reaksi bagian pertama.


Kesimpulan

Pupuk termasuk dalam bahan agrokimia yang berguna untuk meningkatkan pekembangan tanaman dengan menyediakan mineral dan nutrisi bagi tanaman. Industri pupuk di Indonesia membantu pembangunan berkelanjutan dalam sektor agraris dengan berbagai jenis pupuk untuk segala kebutuhan tanaman. Sebagai contoh dalam perusahaan Pt. Pusri yang merupakan pabrik pupuk terbesar di Indonesia mempunyai pabrik pengolahan amoniak dan urea dalam satu area. Amoniak merupakan bahan baku utama dari pupuk area dan didapatkan dari gas alam. Gas alam ini perlu dipisahkan dari zat sulfur karena sulfur merupakan zat yang berbahaya. Setelah itu amonia dan metana direaksikan dengan karbon dioksida melalui beberapa proses yang kemudian menghasilkan pupuk urea.


Daftar Pustaka

cdmione.com. (2017, 4 Agustus). Industri Pupuk di Indonesia. Diakses pada 29 Oktober 2020, dari https://www.cdmione.com/industri-pupuk-di-indonesia/

kampuscuy.blogspot.com. (2012, 6 Juni). Proses Prroduksi Pupuk di Pt. Sriwidjaja. Diakses pada 29 Oktober 2020 dari http://kampuscuy.blogspot.com/2012/06/proses-produksi-pupuk-di-pt-pupuk.html

Sulanjana, Agung dkk. 2005. Makalah Industri Pupuk dan Amonia. Bandung; Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA UPI.


Jumat, 09 Oktober 2020

PROSES PENGGORENGAN TEKNIK DEEP FRYING PADA BAHAN MAKANAN

 

Proses Penggorengan Teknik Deep Frying pada Bahan Makanan


Disusun Oleh : Adam Syafarrazzaq
Kode Peserta : @R14-Adam

Abstrak
                Penggunaan teknik deep frying dalam proses penggorengan sebuah bahan makanan sudah banyak digunakan terutama Ketika memasak bahan makanan dalam jumlah banyak. Teknik deep frying ini mengefektifkan beberapa reaksi yang terlibat dalam sebuah proses penggorengan sebuah bahan makanan sehingga cukup efektif untuk digunakan. Proses penggorengan mengalami beberapa reaksi kimia diantaranya reaksi hidrolisis, reaksi polimerisasi, dan reaksi oksidasi. Dengan adanya berbagai reaksi yang terlibat dalam proses penggorengan ini, perubahan fisik dan kimia akan mulai terjadi pada bahan-bahan yang terlibat dalam proses penggorengan tersebut, termasuk minyak.

                Teknik penggorengan dalam memasak ada dua jenis, yaitu  Pan Frying dan Deep Frying. Perbedaan yang mendasar dari dua teknik tersebut adalah terdapat dalam penggunaan minyak untuk proses menggoreng. Dalam hal ini, Proses Deep Frying memerlukan minyak yang lebih banyak sehingga wajan atau panic tertutup sebagian sehingga bahan makanan terendam sepenuhnya dalam proses penggorengan. Hasil penggorengan yang dihasilkan cukup berbeda secara signifikan dengan teknik Pan Frying terletak pada tingkat kematangan dan perubahan warna bahan yang digoreng. Hal ini disebabkan karena adanya degradasi yang lebih dalam dengan adanya berbagai reaksi yang terlibat sehingga bahan mengalami dekomposisi.

Kata Kunci : Deep Frying, Penggorengan, Reaksi Kimia, Dekomposisi


PENDAHULUAN

            Sudah lama diketahui bahwa penggorengan dengan teknik Deep Frying sudah digunakan dalam metode memasak klasik sejak 1600 SM (sebelum masehi) dimana suhu yang biasanya dihasilkan melebihi 180oC, melewati suhu penggorengan yang direkomendasikan. Teknik Deep Frying merupakan metode memasak yang paling banyak digunakan karena dipercaya memiliki nilai ekonomi yang tinggi dengan pengolahan bahan makanan yang efisien untuk banyak bahan makanan yang diproses secara langsung dalam satu waktu. Dalam kondisi yang sudah ditetapkan, sebuah proses penggorengan melibatkan semua komponen yang ada untuk berpartisipasi dalam sebuah perubahan secara fisik dan kimia. Perubahan tersebut ditandai dengan adanya dekomposisi bahan makan yang dimasukkan secara volatile maupun nonvolatile. Reaksi tersebut melibatkan komponen mentah sebuah minyak goreng yaitu Triagriserol (TAGs) yang beroksidasi dengan zat keto, hidroksil, aldehida, radikal jenuh atau tidak jenuh, dan interaksi antar komponen tersebut.

Teknik Deep Frying ini merupakan proses fisiokemis yang kompleks karena melibatkan beberapa reaksi secara simultan yang dipengaruhi dari beberapa faktor seperti kandungan alami dari bahan yang digoreng atau minyak goreng, waktu, temperatur, Pemanasan secara kontinu ataupun dengan jeda, model penggorengan dan penggunaan saringan. Selanjutnya banyak produk yang terbentuk disebabkan oleh substrat kompleks yang terbentuk pada proses penggorengan dan kondisi kimiawi penggorengan. Dalam kondisi kimiawi yang terjadi ketika penggorengan, beberapa reaksi utama yang akan terjadi merupakan reaksi hidrolisis, reaksi polimerisasi, dan reaksi oksidasi. Reaksi ini juga menyebabkan adanya peningkatan busa-busa, perubahan warna, perubahan kekentalan, kerapatan, jumlah komponen polimer dan polar serta asam lemak bebas dari minyak goreng.


METODE

            Menggoreng merupakan salah satu metode memasak yang tercepat, tertua, dan termudah karena hanya mengandalkan pemanasan dan minyak yang aman dikonsumsi atau lemak dan hanya menggunakan minyak panas untuk menggoreng. Minyak terekspos untuk menaikkan temperatur dengan adanya udara dan tekstur yang ada.

Alat yang sering digunakan dalam menggoreng yaitu :

1. Panci

2. Minyak goreng

3. Spatula

4. Saringan

         Teknik menggoreng dalam proses memasak terbagi atas dua jenis, yaitu Pan Frying dan Deep Frying. Teknik Pan Frying merupakan proses menggoreng dengan penggunaan minyak goreng yang hanya menutupi dasar permukaan panci atau wajan. Teknik ini digunakan untuk menumis dan hanya menggoreng bumbu dasar pada olahan makanan. Teknik ini tidak tepat untuk digunakan jika hasil bahan makanan yang diinginkan adalah kematangan luar dan dalam. Namun, teknik ini mengefisienkan penggunaan minyak goreng untuk proses penggorengan dengan skala kecil. Sedangkan, teknik Deep Frying merupakan proses menggoreng bahan makanan dengan menggunakan minyak goreng yang menutupi sebagian sampai penuh panci atau wajan. Tentu bila dibandingkan dengan teknik pan frying, teknik ini cukup boros dalam penggunaan minyak dan perbedaan diantara keduanya hanyalah dalam kadar penggunaan minyak goreng dalam proses menggoreng. Dengan penggunaan teknik Deep Frying, Properti sensorik benda yang digoreng akan bertambah (warna, tekstur, dan rasa), tetapi penggunaan minyak goreng yang berulang memproduksi komponen yang tidak diperlukan dan berpengaruh terhadap kesehatan.

    Setiap dilakukan proses penggorengan ketika memasak, perubahan yang signifikan terjadi pada minyak goreng yang digunakan dan bahan makanan yang digoreng. Bahan makanan yang telah digoreng mengalami perubahan dari rasa, tekstur dan aroma yang dihasilkan. Misalkan saja pada makanan cepat saji dimana salah satunya merupakan kentang goreng yang mengalami perubahan warna menjadi lebih kuning dengan rasa gurih yang khas serta aroma minyak yang menyerap ke dalam kentang. Selain itu, bila bahan makanan dibiarkan menggoreng terlalu lama akan menjadi gosong dengan perubahan yang sangat berbeda dari sebelumnya. Tidak hanya bahan makanan saja yang berubah, minyak goreng pun juga mengalami perubahan secara fisik dan kimiawi. Bila diperhatikan dengan teliti, minyak hasil penggorengan mengalami perubahan komposisi dan warna akibat dari proses reaksi yang bereaksi dalam hasil menggoreng sehingga minyak goreng mengalami penurunan kualitas untuk digunakan berulang kali.

HASIL DAN PEMBAHASAN

                Proses menggoreng ketika menggunakan teknik Deep Frying mengalami berbagai reaksi secara simultan atau bersamaan, terutama reaksi deteriorisasi secara kimiawi seperti hidrolisis, oksidasi, polimerisasi dan terjadinya dekomposisi bahan untuk membentuk bahan yang volatile maupun monomer nonvolatil dan senyawa polimer. Perubahan tersebut tergantung terhadap beberapa faktor mulai dari temperatur, siklus penghangatan, permukaan/volume, rasio antara minyak dan bahan makanan yang digoreng, asam lemak, dan komposisi antioksidan dan minyak goreng. Pada umumnya, teknik Deep Frying meningkatkan pembusaan, warna, kekentalan, kerapatan, jumlah polimer, dan senyawa polar serta asam lemak bebas dari minyak goreng.

Beberapa reaksi yang terlibat dalam proses penggorengan teknik Deep Frying :

1. Reaksi Hidrolisis

                Ketika makanan digoreng menggunakan minyak goreng yang telah dipanaskan, timbul uap yang merupakan hasil evaporasi dengan percikan gelembung dan secara bertahap menghilang ketika makanan digoreng. Air, uap, dan oksigen menginisiasikan reaksi kimia di dalam makanan dan minyak goreng. Air ,yang merupakan nukleofil yang lemah, menyerang rantai ester dari triasilgliserol dan memproduksi monoasilgliserol, gliserol, dan asam lemak bebas. Kandungan asam lemak bebas ini meningkat seiring proses penggorengan berlangsung dan memengaruhi perubahan yang terjadi pada bahan makanan dan juga minyak. Asam lemak bebas dan produk molekuler asam lemah yang terbentuk dari oksidasi lemak meningkatkan reaksi hidrolisis dalam kehadiran uap selama menggoreng. Produk hidrolisis ini mengurangi stabilitas minyak goreng dan dapat digunakan untuk mengukur kualitas minyak goreng.

2. Reaksi  Oksidasi

                Lemak yang dapat dikonsumsi mengandung molekul tidak jenuh yang dapat diserang oleh molekul oksigen. Proses ini merujuk kepada oksidasi lemak dan dapat memberikan peningkatan komponen rasa yang tidak diinginkan, berpotensi menghasilkan oksidasi racun dan reaksi deteriorisasi yang umum dalam sebuah kualitas lemak. Oksidasi lemak ini diebabkan oleh sebuah input energi seperti cahaya atau panas, komposisi dari asam lemak, tipe molekul oksigen, dan komponen minor seperti logam, pigmen, fosfolipid, asam lemak bebas, mono- dan diasilgliserol, senyawa oksidasi termal, dan antioksidan. Reaksi kimia yang terjadi dalam proses oksidasi berkontribusi dalam pembentukan produk dekomposisi volatile dan nonvolatil. Oksidasi dari minyak berpengaruh dalam kualitas nutrisi dan tingkat racun yang terdapat dalam minyak.

3. Reaksi Polimerisasi

    Hidroperoksida yang dihasilkan dari proses oksidasi biasanya akan mengalami pembelahan. Banyak senyawa polar nonvolatil dan polimer triasilgliserol diproduksi dari oksidasi minyak secara thermal. Polimerisasi meruapakan reaksi besar yang terjadi dalam oksidasi thermal minyak. Polimer merupakan molekul besar dengan besar berkisar diantara 692-1600 dalton dan terbentuk dari kombinasi dari gabungan -C-C- , -C-O-C-, dan -C-O-O-C- . Polimerisasi terjadi dengan mudah dalam minyak dengan kadar asam linoleate yang tinggi. Polimer yang kaya dalam oksigen memproduksi residu coklat, seperti resin. Seiring meningkatnya produk polimerasi dalam minyak, kekentalan dari minyak juga bertambah karena adanya dekomposisi peroksida yang berfluktuasi dengan cepat.

KESIMPULAN

               Selama proses penggorengan Deep Frying terdapat berbagai reaksi pemisahan kimiawi seperti hidrolisis, oksidasi, polimerisasi dan dekomposisi minyak untuk membentuk produk volatile dan monomer nonvolatil, dan senyawa polimer. Reaksi tersebut memengaruhi komponen yang ada dalam proses penggorengan, mulai dari rasa, tekstur, warna, kualitas komponen, kekentalan seiring penggorengan berlangsung dalam Deep Frying yang lebih terlihat perubahannya dibandingkan dengan Pan Frying. Reaksi hidrolisis dalam proses penggorengan merupakan reaksi yang paling awal terjadi dengan adanya kontak air dan minyak yang menghasilkan percikan gelembung uao air. Reaksi oksidasi yang terjadi merupakan oksidasi lemak yang menghasilkan peroksida untuk proses polimerisasi dan produk lain. Reaksi polimerisasi mengubah polimer peroksida menjadi senyawa polar nonvolatil dan senyawa triasilgliserol yang memengaruhi kekentalan minyak. Berbagai reaksi yang terjadi dalam proses penggorengan saling berhubungan satu sama lain dengan indicator tertentu yang dapat memengaruhi hasil dari penggorengan tersebut.


DAFTAR PUSTAKA

Ilmi, Ibnu Malkan Bakhrul Ilmi, Ali Khomsan, Sri Anna Marliyati. 2015. Kualitas Minyak Goreng dan Produk Penggorengan di Rumah Tangga Indonesia. Bogor: Indonesia Food Technologists

Mariod, Abdalbasit dan Nuha Muhammad Ali Omer. 2014. Chemical Reaction Taken Place During deep-fat Frying and their Produtcs: A Review. Khartoum: SUST Journal of Natural and Medical Sciences

mulonoapriyanto.wordpress.com. (2010, 12 Juli). Chemistry of Frying Oils. Diakses pada 8 Oktober 2020, dari https://mulonoapriyanto.wordpress.com/kimia-lipid/