.

Tampilkan postingan dengan label @ProyekH02. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @ProyekH02. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Agustus 2018

Bahaya Msg Bagi Kesehatan


Bahaya Msg Bagi Kesehatan
Pada artikel kali ini saya akan membahas tentang bahayanya penggunaan msg pada kehidupan sehari-hari. Apa yang dimaksud msg? monosodium glutamat adalah garam natrium dari asam glutamat yang sangat luas digunakan sebagai bumbu penyedap. Monosodium glutamat diisolasi oleh Dr. Kikunnae Ikeda pada tahun 1909. Monosodium glutamat sendiri sebenarnya sama sekali tidak menghadirkan rasa yang enak, bahkan sering menghadirkan rasa yang dideskripsikan sebagai rasa pahit, dan asin. Pemberian MSG pada bahan makanan yang sesuai dengan konsentrasi rendah, akan membuat makanan tersebut menjadi nikmat yang dapat diterima masyarakat (Kobayashi et al., 2002). Monosodium Glutamat kemudian menjadi bahan penambah rasa yang dipakai di seluruh dunia (Geha & Beiser, 2000).

Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada Perka BPOM-RI No. 23 tahun 2013 menyatakan bahwa asam glutamat dan garam-garamnya, termasuk MSG adalah bahan tambahan pangan yang aman untuk dikonsumsi, dan BPOM tidak membatasi penggunaannya pada produk pangan. Selain itu, MSG juga tidak memiliki nilai ADI. Apa itu nilai ADI? Nilai Acceptable Daily Intakes (ADI) adalah nilai yang menyatakan kadar maksimal suatu BTP  dapat dikonsumsi manusia tanpa menimbulkan gangguan kesehatan. Lembaga kesehatan nasional maupun internasional, termasuk BPOM, United States Food and Drugs Administration (US-FDA), Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA), dan lembaga lainnya menyatakan bahwa MSG tidak memiliki nilai ADI. Artinya, MSG tidak dianggap sebagai bahan tambahan pangan yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Bahkan US-FDA menyatakan MSG sebagai BTP yang GRAS atau Generally Recognized as Safe.
Hasil dari konsensus tersebut dipublikasikan pada European Journal of Clinical Nutrition. Dampak negatif dari MSG sempat dipublikasikan tahun 1981, terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa mengonsumsi 2,5 g MSG dapat memicu penyakit asma dan gangguan pernapasan pada manusia. Namun pada tahun 2000, seorang peneliti bernama Stevenson melakukan penelitian dengan subjek 45 orang yang menderita penyakit asma.
Hasilnya menunjukkan, tidak seorang pun yang memberikan respon negatif setelah mereka mengonsumsi makanan yang mengandung MSG. Hasil konsesus pada tahun 2007 juga menyebutkan bahwa mengonsumsi MSG tidak memberikan efek samping kepada sistem pernapasan, atau pun sistem imun tubuh.

Penggunaan MSG pada makanan, mengapa tidak untuk ditakuti?. Karena MSG hanya sebagai penguat rasa yang bersifat komplemen (pelengkap), bukan sebagai pengganti garam. Nah, berdasarkan uraian di atas, masih kah kita takut akan MSG?. Penggunaan MSG secukupnya dan tidak berlebihan adalah salah satu langkah bijak untuk mengurangi rasa takut terhadap MSG.

Daftar pustaka:

Fenomena Hujan Asam


Abstrak

Fenomena hujan asam memiliki berbagai keterkaitan dengan Kimia Kontekstual. Menurut ELC (2008), hujan secara alami bersifat asam (pH hujan normal 5,6) karena hujan merupakan hasil dari reaksi uap air, karbon dioksida, dan nitrogen di atmosfer. Tingkat keasaman air hujan dapat meningkat secara drastis karena masuknya sulfur dioksida dan nitrogen oksida ke atmosfer, sehingga terjadilah hujan asam.

Isi

          Secara alami hujan asam dapat terjadi akibat semburan dari gunung berapi dan proses biologis serta biokimia di tanah, rawa, dan laut. Tetapi hujan asam kebanyakan disebabkan oleh aktivitas manusia seperti industri, pembangkit tenaga listrik dan kendaraan bermotor yang menghasilkan gas sulfur dioksida dan nitrogen oksida (Lapan, 2015). Berbagai kasus pencemaran udara erat kaitannya dengan terjadinya hujan asam, terutama di kota-kota besar.
Karakteristik Hujan Asam
Seperti jenis hujan lainnya, hujan asam ini juga mempunyai karakteristik khusus yang akan menjadi ciri khasnya dan membedakannya dengan jenis hujan yang lainnya. Karakteristik atau ciri- ciri yang dimiliki oleh hujan asam ini hanya dapat kita temukan di hujan asam saja dan tidak di hujan yang lainnya. Beberapa ciri atau karakteristik yang dimiliki oleh hujan asam ini antara lain adalah sebagai berikut:
·         - Memiliki pH dibawah kadar normal, yakni dibawah 5,7
·         - Terjadi karena adanya peningkatan kadar asam nitrat dan sulfat yang ada di dalam polusi udara.
·        -  Awal terjadinya karena disebabkan oleh peningkatan emisi sulfur dioksida dan nitrogen oksida yang ada di atmosfer
·        - Meningkatkan seseorang terserang gangguan jantung dan juga paru- paru
·        - Membuat kulit menjadi gatal- gatal dan memerah
·        - Beresiko menyebabkan pusing bagi orang yang memiliki kekabalan tubuh yang rendah

Itulah beberapa ciri atau karakteristik yang dimiliki oleh hujan asam. Karakteristik yang disebutkan di atas hanyalah sedikit karena merupakan karakteristik yang dimiliki oleh hujan asam semata dan tidak dimiliki oleh hujan lain. Sedangkan karaktersitik yang lainnya, yakni yang meliputi warna dan juga rasa, hujan asam ini tidak ada bedanya dengan hujan yang lainnya. Sehingga kita akan mengetahui terjadinya hujan asam ini dari kandungan yang dimiliki oleh hujan asam tersebut dan juga dampak yang mugkin ditimbulkan dari hujan asam tersebut.
Penyebab Terjadinya Hujan Asam

Adapun penyebab dari hujan asam adalah sebagai berikut :

·      1. Karbondioksida (CO₂) dan karbon monoksida (CO). Karbondioksida dan karbon monoksida ini merupakan suatu gas hasil proses pembakaran yang bertemu dengan uap air atau HO. kedua gas ini apabila bertemu akan membentuk asam karbonat atau H2CO3 yang termasuk ke dalam kategori asam lemah.

·       2. Hidrogen sulfida (H2S), sulfur oksida (SO2) yang bertemu dengan uap air (H2O) akan membentuk asam sulfat (H2SO4) yang meurapakan kategori asam kuat.

Itulah penyebab terjadinya hujan asam secara alami. Kemudian sebab-sebab tersebut dapat ditimbulkan oleh karena adanya beragam aktivitas manusia maupun fenomena alam. Beberapa aktivitas manusia dan juga fenomena alam yang dapat menimbulkan terjadinya hujan asam diantaranya adalah pembakaran BBF, letusan gunung berapi, kebakaran hutan, peleburan logam, aktivitas pabrik, dan pembangkit listrik.
Selain fenomena alam maupun beragam aktivitas manusia yang dapat menimbulkan hujan asam, kita juga perlu mengetahui tenang apa saja gas- gas yang terlibat dalam proses terjadinya hujan asam ini. Beberapa gas yang terlihat dalam proses terjadinya hujan asam ini antara lain adalah:
1. Karbondioksida atau CO. Karbondioksida ini merupakan suatu gas hasil proses pembakaran. Hal- hal yang dapat menyebakan karbondioksida ini antara lain adalah pernafasan makhluk hidup, hasil pembakaran, polusi kendaraan bermotor, dan lain sebagainya.
2.    2. Karbon monoksida atau CO. Karbon monoksida ini juga merupakan satu gas yang diperoleh dari berbagai proses pembakaran. Seperti halnya karbondioksida, karbon monoksida ini juga dapat diproduksi melalui beberapa aktivitas sebagai berikut: pernafasan makhluk hidup, hasil pembakaran, polusi kendaraan bermotor, dan lain sebagainya.
      
       3. Uap air atau H2O. uap air juga merupakan elemen yang berperan dalam proses terjadinya hujan asam. Uap air ini dapat disebabkan karena adanya penguapan dari sumber- sumber air yang ada di Bumi ketika sedang dipanasi oleh sinar matahari.
4.     
       4. Hidrogen sulfida atau H2S. Yakni suatu gas yang dapat timbul karena adanya pembakaran atau pemanasan belerang.
5.     
       5. Sulfur dioksida, yakni gas yang dapat timbul karena adanya pembakaran belerang pula, seperti halnya hidrogen sulfida.

Itulah beberapa gas yang terlibat dalam pembuatan atau terjadinya hujan asam. Hujan asam ini terjadi setelah beberapa gas tersebut akan menghasilkan hujan asam ketika sudah bertemu antara uap air, sebagai contoh karbondioksida dan karbondioksida dengan uap air, serta  hidrogen sulfida dan sulfur dioksida dengan uap air.
Dampak Negatif Hujan Asam
Sesuatu selain mempunyai manfaat, terkadang juga mempunyai dampak atau kerugian. Hal ini seperti hukum alam, ada sisi positif dan ada sisi negatif. Demikian halnya dengan hujan asam ini. Sisi positif yang dimiliki oleh hujan asam adalah manfaatnya, dan sisi negatif adalah dampaknya. Seperti yang kita ketahui bersama dan dijelaskan di bagian awal bahwasannya hujan asam ini bisa membawa dampak yang bermacam- macam. Dampak- dampak tersebut apabila kita perhatikan banyak yang bersifat negatif. Agar mengetahui secara lebih lengkap dan lebih jelas mengenai dampak negatif dari hujan asam, berikut ini adalah dampak negatif daru hujan asam tersebut:
1. Menyebabkan jumlah ikan yang ada dilaut mengalami penurunan

Hujan asam mempunyai sifat yang berbeda dengan jenis hujan pada umumnya. Meskipun dari segi warna dan juga rasa hujan ini seolah tidak bebeda dengan hujan yang lainnya, namun hujan ini mempunyai kandungan pH yang tidak sama dengan jenis hujan yang lainnya. Kandungan dari hujan asam ini akan menyebabkan jumlah ikan yang ada di laut menjadi berkurang. Pengurangan jumlah ikan ini karena ikan- ikan tersebut mati oleh kandungan yang terdapat pada hujan asam ini. Tidak hanya ikan saja, bahkan binatang perairan yang lainnya juga bisa terkena dampak dari hujan asam ini. Binatang- binatang perairan ini mudah untuk mati dengan cepat karena tidak terbiasa dengan kandungan asam yang dimiliki air hujan tersebut.
2. Merusak lapisan lilin yang ada di daun tumbuhan
3. Hilangnya beragam nutrisi yang dimiliki oleh tumbuhan
4. Pertumbuhan akar tanaman menjadi lambat
5. Menyebabkan manusia mudah terkena beragam penyaki, dan penyakit kulit
6. Membuat besi menjadi mudah berkarat

Itulah beberapa dampak negatif dari hujan asam yang dapat kita peroleh. Apabila dilihat dari jensi dampaknya, maka hujan asam ini sangat membahayakan. Oleh karena itulah kita sebagai manusai yang menghuni Bumi ini harusnya bisa menjaga agar hujan asam ini tidak jatu atau tidak terjadi di Bumi karena sangat berbahaya.
Cara Mencegah Terjadinya Hujan Asam

Setelah membandingkan dampak positif dan juga dampak negatif dari hujan asam ini, ternyata dampak negatif jauh lebih banyak daripada dampak positifnya. Oleh karena itulah lebih baik hujan asam ini jangan dibiarkan untuk turun di wilayah negara kita. Hal ini akan menimbulkan banyak masalah. Ada beberapa cara untuk mencegah terjadinya hujan asam ini. beberapa cara untuk mencegah terjadinya hujan asam adalah sebagai berikut:
1. Menggunakan bahan bakar yang mengandung belerang yang rendah

Bahan bakar yang mengandung kandungan belerang yang tinggi dapat menyebabkan terjadinya hujan asam. Minyak bumi memiliki kandungan beleranh yang tinggi. Maka dari itulah lebih baik penggunaan minyak tanah ini dikurangi dan diganti dengan alternatif bahan bakar yang lain seperti gas alam. Selain penggunaan gas alam, kita juga bisa mneggunakan nahan bakan non belerang yang lainnya seperti methanol, etanol, dan hidrogen.
2. Mengaplikasikan prinsip reuse, recycle, dan reduce

Upaya- upaya tersebut memanglah terlihat kecil, namun apabila dilakukan secara rutin upaya- upaya tersebut dapat mengurangi terjadinya hujan asam, sehingga kita lebih aman dan terbebas dari resiko terkena turunnya hujan asam yang dapat menyebabkan berbagai bahaya.

Daftar Pustaka

https://ilmugeografi.com/fenomena-alam/hujan-asam
http://enviroair.blogspot.com/2013/02/fenomena-hujan-asam.html
Purwantu, Sudalma. 2012. Analisis Sifat Hujan Asam di Semarang. Semarang
Yatim, Erni M. 2007. Dampak dan Pengendalian Hujan Asam di Indonesia

Dilema Energi Nuklir di Indonesia

@H28-AZIZ, @ProyekH02
Oleh Aziz Hadiningrat


Abstrak

        Dampak lingkungan dan semakin berkurangnya sumber energi minyak bumi memaksa kita untuk mencari dan mengembangkan sumber energi baru. Salah satu alternatif sumber energi baru yang potensial datang dari energi nuklir. Meski dampak dan bahaya yang ditimbulkan amat besar, tidak dapat dipungkiri bahwa energi nuklir adalah salah satu alternatif sumber energi yang layak diperhitungkan.  Isu energi nuklir yang berkembang saat ini memang berkisar tentang penggunaan energi nuklir dalam bentuk bom nuklir dan bayangan buruk tentang musibah hancurnya reaktor nuklir di Chernobyl. Isu-isu ini telah membentuk bayangan buruk dan menakutkan tentang nuklir dan pengembangannya. Padahal, pemanfaatan yang bijaksana, bertanggung jawab, dan terkendali atas energi nuklir dapat meningkatkan taraf hidup sekaligus memberikan solusi atas masalah kelangkaan energi.
Pendahuluan
     Di Indonesia, beberapa tahun terakhir ini mulai dirasakan terjadi penurunan jumlah pasokan listrik.Berkaitan dengan masalah tersebut pemerintah melaksanakan berbagai kebijakan untuk melakukan penghematan. Dari yang sifatnya himbauan sampai pada penerapan tarif listrik progresif. Namun, langkah-langkah tersebut sifatnya sementara. Oleh karena masalah krisis energi merupakan masalah yang sudah mendesak maka pemanfaatan nuklir sebagai energi alternatif pembangkit listrik telah ditetapkan berdasarkan Peraturan Presiden nomor 5 tahun 2006. Pembangunan PLTN setidaknya sudah sekitar sepuluh tahun terakhir menjadi perdebatan yang sengit antara yang pro dan kontra di tanah air. Nuklir merupakan salah satu energi alternatif untuk pembangkit tenaga listrik sebagai ganti energi listrik yang berasal dari bahan bakar minyak (BBM) dan batubara. Disadari bersama bahwa stok persediaan BBM jumlahnya terus menunjukkan angka yang menurun, karena energi jenis ini merupakan energi yang tak terbarukan (non-renewable sources).
      Suatu kajian perencanaan energi jangka panjang telah dilakukan oleh Pemerintah dengan pelaksana terdiri dari unsur interdepartemen (BATAN, BPPT, Ditjen LPE dan MIGAS Dep. ESDM, BPS, KLH, PT PLN Persero) dengan bantuan teknis dari Badan Tenaga Atom Internasioanl (IAEA.). Kajian ini diberi judul Comprehensive Assesment of Energy Source for Electricity Generation in Indonesia (CADES). Hasil dari kajian ini menunjukkan bahwa pada tahun 2025 kebutuhan energi di Indonesia akan menjadi 2 kali lipat dibanding pada tahun 2000, bahkan khusus untuk kebutuhan energi listrik akan meningkat 4 kali lipat. Untuk memenuhi kebutuhan energi tahun 2025 tersebut , konsep penggunaan seluruh energi yang ada (energi mix) harus diterapkan, dengan tidak melakukan diskriminasi terhadap sumber energi yang ada dan tersedia. Dengan demikian penggunaan Pusat Listrik Tenega Nuklir untuk mencukupi kebutuhan energi listrik tidak dapat terelakkan lagi.
         Berkaitan dengan pembangunan PLTN tersebut, beberapa pihak mengatakan bahwa PLTN tidak aman dengan berkaca pada peristiwa Chernobyl yang merupakan sejarah hitam dari energi nuklir yang sampai sekarang masih menjadi trauma. Selain itu, terdapat kekhawatiran adanya penyalah-gunaan energi nuklir sebagai senjata. Namun, sementara pihak mengatakan pembangunan PLTN merupakan suatu yang tak terelakkan untuk mengatasi krisis listrik yang telah melanda Indonesia.  
      Permasalahan
         Ketua Dewan Pakar Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia Dr Herman Darnel Ibrahim (2017) mengemukakan, bangsa Indonesia belum membutuhkan pembangkit listrik tenaga nuklir hingga 2100 karena sumber energi di Tanah Air masih mencukupi. Herman menceritakan dulu ada rencana pemerintah membangun pembangkit listrik tenaga nuklir di Muria, Jawa Tengah yang tahapannya sudah sampai studi kelayakan tapak. Ketika itu Muria memang tempat yang masih terisolasi jadi tidak banyak penghuni, namun belakangan setelah terjadi tragedi Fukushima urung dilanjutkan, katanya. Pada sisi lain ia mengatakan energi nuklir berisiko tinggi. Tragedi yang terjadi di Fukushima misalnya, membuat Jepang kehilangan potensi perekonomian setara dengan Rp60 ribu triliun. Belum lagi dari sisi kesehatan, nuklir itu membunuh orang pelan-pelan dan bisa membuat cacat sebagaimana terjadi di Chernobyl, untuk pertanian juga mengalami kendala karena di Fukushima dibutuhkan waktu sekitar 25 tahun untuk memulihkan tanah agar petani bisa menanam komoditas untuk dikonsumsi.
        Terdapat 3 isu global tentang pemanfaatan energi nuklir dan kita sejak sekarang harus mulai memikirkannya, yaitu: isu mengenai “Nuclear Safety” atau keselamatan reaktor nuklir, “nuclear nonproliferation” atau pembatasan penggunaan bahan nuklir , dan “radioactive waste management“ atau pengaturan sampah radioaktif. Untuk isu keselamatan reaktor nuklir, estimasi resiko pada kecelakaan reaktor yang beresiko tinggi menjadi resiko yang rendah dibandingkan dengan semua resiko pada kehidupan manusia umumnya. Kemajuan dalam keselamatan reaktor ini dapat diperoleh dengan usaha keras untuk mempertinggi dan pemeliharaan keselamatan reaktor, manajemen keselamatan dan sumber daya manusia.
        Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Muhamad Nasir (2017) mengatakan kemungkinan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia hanya terhambat dari sisi sosial saja. "Kemarin kami ke Bangka-Belitung, kami coba bahas pengembangan PLTN. Orang berpikir tenaga nuklir itu menakutkan, sementara dunia sudah mengarah ke sana semua," kata Menristekdikti di Yogyakarta, Minggu (16/4). Masalah pengembangan PLTN di Indonesia, menurut dia, hanya terletak pada penerimaan masyarakatnya yang masih takut dengan keberadaan pembangkit listrik bertenaga nuklir. Padahal teknologi pembangkit listrik dengan nuklir sudah pada Generasi 4, dengan desain dan teknologi sedemikian rupa reaktor akan otomatis berhenti bekerja ketika terjadi bencana seperti gempa bumi. Generasi 4 yang bernama High Temperature Gas-Cooled Reactor (HTGR) ini, Nasir mengatakan telah dikembangkan Prancis dan Rusia.

    Wakil Menteri Arcandra Tahar Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (2017) menyatakan, investasi untuk membangun PLTN juga besar. Sebagai gambaran, lanjut Arcandra, untuk PLTN berkapasitas 1000 megawatt (MW) membutuhkan investasi sekitar US$6 juta per MW. Sementara, biaya pembangkit listrik tenaga uap menggunakan batubara hanya berkisar US$1 juta hingga US$2 juta per MW. Dari sisi sumber daya, Arcandra mengungkapkan, Indonesia belum memiliki sumber daya nuklir yang diperlukan seperti uranium. Kajian yang dilakukan oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) baru sampai pada potensi keberadaan uranium. 
"Kalau mau membangun PLTN maka nanti uraniumnya adalah impor. Indonesia belum bisa menggunakan resource yang dipunya untuk bisa menjadikan itu sebagai bahan bakar untuk PLTN," jelasnya. 

Kesimpulan

   Berdasarkan kajian mengenai pemanfaatan energi nuklir untuk pembangkit listrik di Indonesia dengan mempertimbangkan tiga aspek yaitu biaya, dampak lingkungan dan ketersediaan bahan baku maka opsi pemanfaatan energi nuklir untuk listrik di Indonesia adalah opsi yang rasional. Dari sisi biaya cukup kompetitif bahkan bisa lebih rendah dibandingkan pembangkit bahan bakar fosil dan dari sisi dampak lingkungan berupa emisi gas CO2 nuklir termasuk yang sangat rendah. Sementara permasalahan limbah radioaktif dari bahan bakar bekas yang menghasilkan radiasi tinggi dapat diatasi dengan dibangunnya fasilitas penyimpanan limbah lestari. Adapun permasalahan kecilnya ketersediaan bahan baku nuklir di Indonesia maka masih perlu diberikan solusi teknis dan solusi politis. Solusi teknisnya yaitu dengan membangun fasilitas pengayaan dan fabrikasi untuk mengolah bahan baku menjadi bahan bakar nuklir.
         Meskipun rencana pembangunan PLTN sudah dibuat dengan matang, di sisi lain tetap saja ada penolakan yang terjadi di banyak daerah. Contonya saja, ketika ada rencana pembangunan PLTN di Muria, warga setempat menentang keras rencana pembangunan PLTN. Mereka beralasan pemerintah selama ini hanya menghitung aspek teknologi dan ekonomi, tetapi tidak pernah bicara tentang resiko sosial. Karena mengoperasikan sebuah sistem yang canggih seperti nuklir membutuhkan sistem kelembagaan yang kuat dan disiplin sangat tinggi. 
             Bahkan dalam kasus tragedi rektor Fukushima, Jepang, kesimpulan akhir menyebut tragedi itu terjadi bukan karena bencana alam tetapi bencana akibat manusia, karena kalangan industri nuklir tidak cukup mengantisipasi situasi darurat. Jika Jepang yang terkenal punya disiplin sangat tinggi saja bisa kebobolan, bagaimana Indonesia yang sistemnya korup dan tidak punya dukungan infrastruktur. 
Budaya kita yang tidak disiplin, mulai dari pekerjanya, kemudian seringnya kita meremehkan hal-hal kecil mengenai perawatan dan belum adanya SDM yang bisa nangani kecelakaan-kecelakaan di PLTN semakin menyakinkan bahwa Indonesia belum siap untuk membangun PLTN. PLTN membutuhkan infrastruktur sangat solid, karena jika tidak terpenuhi, maka akan sangat mengerikan jika terjadi bencana. Kita selama ini hanya bicara tentang keuntungan saja, nuklir bagus untuk pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja dan lain-lain, tetapi kita tidak banyak tahu tentang resikonya.

Daftar Pustaka
Harjanto, Nur Tri. "Dampak Lingkungan Pusat Listrik Tenaga Fosil dan Prospek PLTN sebagai Sumber Energi Listrik Nasional." PIN Pengelolaan Instalasi Nuklir 1.01 (2016).

Liza Nurharani, Liza. Fungsi International Atomic Energy Agency (IAEA) dalam Menangani Fukushima Disaster di Jepang. Diss. Universitas Andalas, 2017.

Permana, Sidik. "Energi Nuklir dan Kebutuhan Energi Masa Depan." Majalah INOVASI (2005): 22.






Jumat, 10 Agustus 2018

Dampak dan Pencegahan Hujan Asam


Oleh: @H27-DINISHA
Dampak dan Pencegahan Hujan Asam @PROYEKH02-DINISHA


Abstrak

Tingkat polutan yang makin hari makin bertambah banyak dapat menyebabkan berbagai bahaya bagi kesehatan dan kehidupan manusia. Banyak bencana yang terjadi merupakan akibat dari hasil polusi yang terakumulasi di udara dan lingkungan. Dapak berbahaya tersebut salah satunya Hujan Asam. Apabila tidak dikendalikan maka akan berujung lebihi buruk lagi. Oleh karenanya, masyarakat umunya diharapkan dapat lebih mengerti mengenai salah satu dampak polusi lingkungan yaitu hujan Asam.

Isi

Menurut Yatim (2007), Istilah hujan asam pertama kali digunakan oleh Robert A. Smith ( 1872 ) dalam Kupchella ( 1989 ) yang menguraikan tentang keadaan di Manchester, sebuah daerah industri dibagian utara Inggris. Hujan asam ialah turunnya asam dalam bentuk hujan. Hal ini terjadi apabila asam di udara larut dalam butir-butir air di awan. Jika hujan turun dari awan tersebut, air hujannya bersifat asam. Dan asam Tersebut terhujankan atau rainout. Hujan asam dapat pula terjadi karena hujan turun melalui udara yang mengandung asam sehingga asam itu terlarut kedalam air hujan dan turun kebumi.
Masalah hujan asam terjadi dilapisan athmosfir rendah, yaitu di troposfir. Asam yang terkandung dalam hujan asam ialah asam sulfat (H2SO4 ) dan asam nitrat (HNO)3 , keduanya merupakan asam kuat. Asam sulfat berasal dari gas SO2 dan asam nitrat dari gas NOx.
Sebenarnnya hujan secara alami memang bersifat asam dengan pH hujan normalsebesar 5,6. Hal tersebut terjadi dikarenakan hasil dari reaksi uap air, Karbon Dioksida, dan Nitrogen di dalam atmosfer (ELC, 2008). Namun, tingkat keasaman dari hujan dapat terganggu apabila ditambahkan Sulfur Dioksida dan Nitrogen Oksida dan terjadilah hujan asam.
Masuknya Sulfur Dioksidan dan Nitrogen Oksida terjadi secara alami akibat adanya kerusakan vegetasi dan letusan gunung berapi. Namun, manusia dapat pula menjadi faktor pendukung terjadinya hujan asam yaitu dengan pembakaran bahan fosil melalui kegiatan industri, pembangkit tenaga listrik (Minyak dan Batubara), knalpot kendaraan bermotor, dan sebagainya.
Menurut Lapan (2015) Kasus terbanyak dari adanya hujan asam dikarenakan oleh aktivitas manusia seperti industri, Pembangkit listrik, dan kendaraan bermotor yang menghasilkan gas Sulfur Dioksida dan Nitrogen Oksida. Kasus hujan asam sering terjadi di kota – kota besar yang sudah mulai sedikit lahan tumbuhan hijaunya.
Dampak dari hujan asam itu sendiri cukup berbahaya diantaranya:
  1. Menyebabkan penurunan jumlah ikan di laut
  2. Menyebabkan beragam penyakit kulit
  3. Menghilangkakn nutrisi yang dimiliki oleh tumbuhan
  4. Merusak lapisan lilin yang ada di daun tumbuhan
  5. Menyebabkan besi menjadi mudah berkarat

Mengingat betapa berbahayanya hujan asam maka perlu dilakukan pencegahan agar hujan asam tidak terjadi. Berbagai cara pencegahan terhadap hujan asam adalah sebagai berikut:
  1. Menggunakan bahan bakar yang mengandung kadar belerang rendah
  2. Mengaplikasikan prinsip reuse, recycle, dan reduce.
  3. Penghematan energi

Daftar Pustaka

Anonimus. Dalam: https://ilmugeografi.com/fenomena-alam/hujan-asam Diakses pada 10 Agustus 2018 Jam 11.20.

ELC. 2008. Acid Precipitation. Environmental Literacy Council http://enviroliteracy.org/article.php/2.html Diakses pada 10 Agustus 2018 Jam 10.20

Hidayat, Atep Afia. Dan Kholil, Muhammad.2017. Kimia, Industri dan Teknologi Hijau

Lapan. 2015. Hujan Asam. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional. 
http://komposisi.sains.lapan.go.id/htm/hujanasam.htm Diakses pada 10 Agustus 2018 Jam 10.40

Yatim, Erni. M. 2007. Dampak dan Pengendalian Hujan Asam di Indonesia. Jurnal Kesehatan Masyarakat. Dalam: http://jurnal.fkm.unand.ac.id/index.php/jkma/article/view/24 Diakses pada 10 Agustus 2018 Jam 11.10.




Oleh : @H12- STEALLA

CINTAI BAYI, CINTAI BUMI
 @ProyekH02

Abstrak :
Pertumbuhan penduduk di Indonesia yang semakin pesat tentu dibarengi dengan banyaknya penggunaan diaper (biasa dikenal popok) oleh para ibu-ibu. Popok yang umumnya dipakai oleh ibu-ibu zaman sekarang adalah popok sekali pakai, karena tidak perlu memikirkan untuk mencuci dan menunggu kering. Atau dapat dikatakan popok sekali pakai jauh lebih praktis daripada popok kain. Tetapi disamping sifatnya yang praktis ketika digunakan, ternyata popok sekali pakai juga memiliki beberapa efek.

Isi :
Menurut buku Ensiklopedia clodi, Niken TF Alimah menjelaskan bahwa keberadaan clodi berawal dari sebelum abad ke-18 Masehi. Beberapa suku bangsa di Eropa dengan teknik bedong menggunakan bahan alami seperti dedaunan, lumut maupun kulit binatang. Penggunaan Lumut spaghum sebagai penyerap oleh suku Indian di Amerika, salah satunya suku Indian Cree. Cara yang berbeda digunakan oleh masyarakat Jepang pada masa era ebdo (1603-1868). Mereka menggunakan ejiko ayunan unik dari rotan yang dilapisi dengan bahan-bahan penyerap cairan dengan lubang khusus dibagian belakang bayi. Sedangkan popok tradisional yang ada di China bisa dikenal dengan sebutan kai-dang-ku- pun berbeda, Popok ini yang lebih diarahkan untuk latihan pergi ke toilet (toilet training) berbentuk celana dalam dengan lubang di bagian pantat bayi.
Sekitar tahun 1800, popok kain mulai digunakan dengan berbahan dasar kain katun atau linen yang dilipat membentuk segi tiga, atau segi empat yang dibebatkan di pinggang bayi menutupi alat kelaminnya. Popok ini dikunci dengan peniti besar di bagian depan perut bayi. Istilah diaper atau popok mulai digunakan untuk kain kecil dengan pola geometris.Pada periode ini bayi di Amerika utara maupun Eropa biasa dipakaikan celana penutup popok berbahan wool yang disebut soaker atau pilch sehingga lebih bersifat anti tembus saat buang air kecil.
Pada tahun 1887 popok kain mencapai keemasan, bahkan diproduksi secara masal dengan dipelopori oleh Maria Allen dari Amerika pada tahun 1887. Bahan yang digunakan mulai bergeser dari katun ke handuk terry dan kain muslin yang lembut. Meski demikian, kebutuhan akan kepraktisan rupanya membuat popok kain buatan pabrik dirasa kurang memuaskan.
Pada tahun 1947 Marion Donovan dari Amerika dan Paddi oleh Valerie Hunter menemukan popok sekali pakai bernama “booter”. Suami Istri Rick dan Erika Force melalui Motherease adalah pelopor popok kain modern (modern cloth diapers) dengan desain unik yang kemudian dikenal dengan sebutan AIO (All in one) pada tahun 1991 di Kanada. Kesadaran akan besarnya anggaran untuk popok sekali pakai adalah motivator utama pasangan ini untuk bergerak menciptakan desain popok ekonomis yang tetap nyaman dipakai bayi. (Rahayu, 2016)
Bayi-bayi jaman dahulu bisa dikatakan jarang terkena ruam popok, karena mereka hanya mengenakan popok kain yang terbuat dari kain tipis sehingga saat bayi ngompol bisa cepat kering sendiri.
Tetapi untuk menjaga kebersihan dan kesehatan bayi, popok harus segera diganti. Hal ini tentu cukup melelahkan karena bayi bisa saja mengompol hingga 2-3 kali per jam. Belum lagi jika bayi BAB, kotorannya bisa menyebar (berantakan).
Kelebihan dari popok kain tentunya lebih hemat, karena orang tua hanya perlu membeli beberapa popok kain dan menggunakannya berulang kali. Bahkan, kadang kala bisa diwariskan kepada generasi berikutnya. Ada pula beberapa keluarga yang memberikannya kepada calon ibu lain yang akan memiliki momongan.
Tetapi zaman sekarang, ibu-ibu lebih memikirkan segi praktiks. Sekarang sudah bukan jamannya lagi bagi para ibu untuk berkutat seharian dengan tumpukan popok bayi di dalam bak cucian dan proses penjemuran yang menjemukan. Apalagi, jika sedang musim hujan, mereka harus berupaya mengeringkannya di dalam rumah agar tidak sampai kekurangan popok.
Sekarang ini, para orang tua lebih memilih menggunakan popok bayi sekali pakai dan tinggal membuangnya saja jika sudah kotor. Oleh karena itu kebutuhan akan popok sekali pakai semakin hari semakin meningkat. Penumpukan sampah popok sekali pakai tentu berdampak pada pencemaran lingkungan.
Sampah tersebut merupakan jenis sampah produk yang sulit terurai oleh mikroorganisme sehingga jika dibiarkan akan semakin menumpuk. Salah satu bahan yang terkandung dalam popok sekali pakai yaitu plastik. Plastik memiliki karakteristik sukar terurai, tidak menyerap, bahkan kedap air serta tidak berkarat. Karena sifatnya yang kedap air maka mikroorganisme pun enggan menyentuhnya sehingga tidak adanya proses pembusukan. Akibatnya, tidak dapat dihancurkan oleh mikroorganisme. Apabila sampah plastik tidak terurai, tidak membusuk, tidak berkarat berarti bersifat kumulatif. Maka keberadaan sampah plastik akan menggunung. Kehadiran sampah plastik di suatu perairan, apabila dalam jumlah banyak akan menyita ruang. Plastik juga akan mengurangi tata guna air, akibatnya hantaran panas air tidak sama dan lebih jauh mengganggu keseimbangan cairan (homeostasis). Keberadaan plastik pada tanah akan menimbulkan keterbatasan penggunaan tanah. (Rahayu, 2016)
Dimulai dari hal yang kecil yang berada di lingkungan rumah akan tetapi berdampak sangat fatal bagi keseimbangan lingkungan. Jika dalam satu rumah memiliki satu bayi atau balita yang masih memakai popok, dalam sehari rata-rata bayi membutuhkan popok sekali pakai 3-6 buah dalam penggunaan popok sekali pakai selama satu tahun : 6 buah x 365 hari = 2.190 sampah. Dilihat dari segi ekonomi, pemakaian popok sekali pakai pada bayi sangat terasa. Jika satu anak memakai popok dengan harga yang paling murah maka dapat dihitung pengeluaran pertahun untuk pemakaian popok sekali pakai adalah : Rp.1.500,-x6 buahx365 hari = Rp 3.285.000,-
Selain biaya yang dikeluarkan lebih besar dan memberi dampak buruk bagi lingkungan, popok sekali pakai ternyata memberikan masalah kesehatan juga bagi bayi. Pada sebagian bayi popok sekali pakai menimbulkan masalah diantaranya terjadinya iritasi kulit, gatal, dan luka. Menurut Weisbrod dan Hoff (2011) uric acid pada urine neonates merupakan pemicu pertumbuhan Candida sp. Dib (2005) mengemukakan bahwa ruam kemerahan (iritasi) pada permukaan kulit bayi dapat terjadi juga pada di daerah pangkal paha bayi. Kemerahan tersebut menunjukkan iritasi pada kulit bayi yang dipicu oleh bakteri pada popok sekali pakai maupun bakteri pada urine. Ketika ammonia yang terdapat pada urine bergabung dengan plastik diapers maka suasana dipermukaan kulit bayi yang anaerobic akan mendukung pertumbuhan bakteri. Bayi yang sering enupresis dan enkopresis tetapi tidak diganti akan memperburuk kondisi kulit bayi. Pada bayi dengan ASI eksklusif makanan ibu juga dapat mempengaruhi terutama jika kandungan zat makanan yang tergolong allergen. Penggunaan antibiotik juga dapat menyebabkan iritasi karena antibiotik akan membunuh semua jenis bakteri termasuk bakteri yang akan berkompetisi dengan jamur. Disamping itu juga bahan kimia popok sekai pakai, bahan makanan bayi yang menyebabkan alergi baik pada urine maupun feses. Penelitian tentang lamanya penggunaan diapers yang aman pada setiap jenis diapers belum dilakukan Mullen (2005). Disamping disebabkan oleh bakteri, kemerahan juga kemungkinan disebabkan oleh jamur, karena kondisi yang lembab dan tersedianya faktor pendukung kehidupan jamur. Iritasi tersebut juga dipengaruhi oleh acrodermatitis enteropathica yang berhubungan dengan diare, hilangnya rambut pada permukaan kulit, erosive perioral dermatitis, malabsorbtion, malnutrition, asma, alergi herpes dan HIV. Dampak iritasi tersebut adalah luka, rasa gatal dan panas, demam, dan limphangitis. Infeksi lain yang mungkin timbul adalah cystitis yang dapat berlanjut pada penurunan fungsi urogenital. (Noriko)
Jika dilihat dampak positif dan negatif yang ditimbulkan dari popok kain maupun popok sekali pakai, dapat dikatakan bahwa popok kain sifatnya lebih aman. Entah aman bagi kesehatan bayi, aman bagi lingkungan, dan pastinya aman bagi “dompet” orangtua. Walaupun popok kain tidak praktis seperti diaper, tetapi kesehatan bayi adalah yang utama. Apabila ada pilihan untuk menjaga kesehatan bayi dengan menggunakan popok kain, tentu ada baiknya kita terapkan. Lagipula dengan tindakan kecil seperti menggunakan popok kain, kita sebagai penduduk bumi telah menunjukan kepedulian dan cinta pada bumi.


Daftar Pustaka :

https://id.theasianparent.com/pedebatan-soal-popok-bayi

Aisyah, Siti. 2016. HUBUNGAN PEMAKAIAN DIAPERS DENGAN KEJADIAN RUAM POPOK PADA BAYI USIA 6 – 12 BULAN. http://journal.unisla.ac.id/pdf/19812016/d.%20dr.%20Siti.pdf


Hidayat, Atep Afia, Kholil, Muhammad. 2017. Kimia, Industri dan Teknologi Industri

Norgitasari, Selvia. 2017. PEMAKAIAN DIAPERS TERHADAP PERILAKU TEMPERTANTRUM PADA ANAK. http://jurnal.csdforum.com/index.php/GHS/article/download/94/39


Rahayu, Yayu. 2016. PERANCANGAN KOMUNIKASI VISUAL KAMPANYE PENGGUNAAN CLOTH DIAPER SEBAGAI SOLUSI POPOK RAMAH LINGKUNGAN. http://digilib.isi.ac.id/1261/7/yayu%20rahayu_0911909024.pdf

(semua diakses tanggal 10 Agustus 2018)

Zat Aditif dalam Pangan

ZAT ADITIF DALAM PANGAN


Abstrak

     Dalam kaitannya dengan Kimia Kontekstual berbagai isu mengenai Kimia Pangan banyak menjadi perhatian publik. Sebenarnya ada tiga komponen utama dalam makanan yang menjadi perhatian ahli kimia pangan, yaitu : karbohidrat, lemak dan protein (Domel, 2014). Berbagai komponen lain seperti air, vitamin, mineral, enzim, serta zat aditif juga menjadi bahan kajian Kimia Pangan. Kasus yang paling banyak dibahas misalnya penggunaan zat aditif pengawet seperti formalin pada bahan makanan contohnya ayam potong, mie basah, dsb. Padahal formalin ini biasa digunakan untuk pengawet mayat, bahan pembuat pupuk, pembasmi lalat, dsb. Oleh karena itu, masyarakat sangat perlu mengenal lebih jauh mengenai jenis-jenis zat aditif yang terkandung dalam suatu makanan.

Isi

Pengertian Zat Aditif Makanan
      Zat aditif sejak dahulu kala sudah digunakan oleh manusia seperti halnya garam, cuka, jeruk, lada, dan berbagai bahan-bahan lainnya yang selalu digunakan untuk zat penambah rasa saat memasak. Hal tersebut sesungguhnya hanya mempunyai tujuan dalam membantu memberikan cita rasa pada makanan dan juga memberikan daya tarik seperti warna pada makanan sehingga akan memunculkan rasa nafsu makan yang tinggi.
    Semua bahan yang dicampurkan pada saat proses memasak makanan selama proses pengolahannya, proses penyimpanannya, dan proses pengepakannya bisa disebut sebagai zat aditif makanan.

Fungsi Zat Aditif 
     Banyak sekali fungsi dari zat aditif yang ditambahkan dalam makanan antara lain :
  • Meningkatkan kandungan gizi
  • Menjaga kualitas dan tekstur pada makanan
  • Membuat makanan menjadi lebih tahan lama
  • Memberikan warna sehingga terlihat lebih menarik
  • Memberikan cita rasa sedap pada makanan
  • Memberikan aroma yang sedap pada makanan
Jenis-jenis Zat Aditif Alami dan Buatan Pada Makanan
     Bahan atau zat aditif dapat digolongkan menjadi beberapa kelompok tertentu berdasarkan kegunaannya. Di bawah ini merupakan beberapa contoh zat aditif pada makanan baik alami maupun buatan :
1. Bahan Pewarna
     Jika dibandingkan dengan yang lain, zat aditif yang sering digunakan ialah bahan pewarna. Penggunaan bahan pewarna yang dilakukan di rumah, biasanya hanya digunakan untuk menambahkan dan memberi sedikit warna agar tampilan makanan dan juga minuman menjadi terlihat lebih menarik. Hal tersebut berfungsi untuk memunculkan dan merangsang nafsu makan.
  • Bahan pewarna alami : Daun Pandan, Kunit, Daun Jati, wortel, buah naga, dan lain-lain.
  • Bahan pewarna buatan : Biri Berlian, Tartrazain, Kamoizin, Erotrosin, Yellow CFC dan lain-lain.
2. Bahan Pemanis
     Hampir semua makanan yang kita jumpai di pasaran memiliki cita rasa yang manis. Definisi dari pemanis merupakan suatu zat yang dicampurkan pada suatu makanan dan juga minuman yang mempunyai fungsi sebagai pemberi rasa yakni manis. Kelebihan yang ditawarkan oleh pemanis alami yaitu mempunyai nilai kalori yang cukup baik dan sangat mudah dilakukan proses pencernaan dalam tubuh.
  • Alami : Gula Tebu, Gula Aren, Madu dan lain-lain.
  • Buatan : Dulsin, sakarin, siklamat aspartam dan lain-lain.
3. Bahan Pengawet
     Makanan yang kita temui di pasaran kebanyakan tidak mempunyai tingkat keawetan yang cukup baik, karena diakibatkan oleh bakteri dan juga jamur yang akan merubahnya menjadi makanan basi. Penggunaan bahan pengawet dapat menjadikan bahan makanan bebas dari kehidupan mikroba baik yang bersifat patogen maupun non patogen yang dapat menyebabkan kerusakan bahan makanan seperti pembusukan (Tranggono, dkk, 1990). Oleh karena itu, sangat penting diperhatikan bahwa penanganan dan pengolahan bahan pangan dilakukan secara higinies (Buckle, et. al., 1985).
  • Alami : Garam dapur, bawang putih, asam cuka.
  • Buatan : Natrium benzoat, Asam sorbat, dan lain-lain.
4. Bahan Penyedap atau Penguat Rasa
     Makanan yang kita konsumsi sehari-hari tak lepas dari penyedap atau bumbu masak, karena memang zat tersebut menambah sedap dan menimbulkan selera makan. Penyedap yang paling kita kenal adalah vetsin atau MSG (monosodium glutamat) yang dikenal dengan merk dagang seperti Ajinomoto, Miwon, Royco, Sasa, Masako, dan lain lain.
  • Alami : Kunyit, kayu manis, lengkuas, lada, serai dan rempah-rempah lainnya.
  • Buatan : Monosodium Glutamat (MSG) Garam inosinat, Garam Guaniat.

Daftar Pustaka

Buckle, K. A., Edward R. A., Fleet G. H., Souness R., and Wotton M., 1985, Ilmu Pangan, a.b. Hari Purnomo dan Adiono, UI-Press, Jakarta

Domel, D. 2014.  What is Food Chemistry? University of Nebraska.
     http://www.math.unl.edu/~jump/Center1/Labs/WhatisFoodChemistry.pdf

Hidayat, Atep Afia. Dan Kholil, Muhammad.2017. Kimia, Industri dan Teknologi Hijau

Suharyanto. 2017. Zat Aditif Pada Makanan : Pewarna, Pemanis dan Pengawet
     https://dosenbiologi.com/biokimia/zat-aditif (diakses tgl 10 Agustus 2018 pkl.19.45)

Sumberpengertian. 2017. Pengertian Zat Aditif, Fungsi, Penggunaan dan Contohnya
     http://www.sumberpengertian.co/pengertian-zat-aditif (diakses tgl 10 Agustus 2018 pkl.19.00)

Tranggono, Z.N., Wibowo D., Murdjiati G., dan Mary A., 1990, Kimia Nutrisi Pangan, PAU Pangan dan Gizi UGM, Jogjakarta



Oleh : @H23-DEANDRA @ProyekH02