.

Senin, 21 November 2016

PERANAN ILMU KIMIA DALAM BIDANG INDUSTRI PANGAN


PERANAN ILMU KIMIA DALAM BIDANG INDUSTRI PANGAN

     PANGAN adalah kebutuhan utama dalam kehidupan seseorang.pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun yang tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan dan pembuatan makanan atau minuman.

Pangan dibutuhkan oleh manusia untuk berbagai tujuan. Diantaranya untuk memenuhi kebutuhan gizi manusia, untuk memenuhi rasa kenyang dan rasa puas akan suatu makanan dan minuman, serta untuk meningkatkan status sosial seseorang.

Komponen yang terdapat dalam bahan pangan, seperti air, karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral serta serat adalah komponen gizi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh untuk pertumbuhan dan perkembangan sel, melancarkan proses metabolisme tubuh, dan bekerjanya anggota dan jaringan tubuh secara normal, serta untuk memproduksi tenaga.

Dampak negatif dari pangan dapat dilihat jika proses pemilihan dan pengolahan pangan sebelum dikonsumsi tidak memenuhi standar. Apel yang secara ilmu gizinya merupakan buah-buahan yang mengandung antioksidan dan vitamin yang tinggi, jika ditelaah proses perawatan tanaman dan proses pengawetannya akan menyebabkan dampak negatif bagi kesehatan.

Selama proses perawatan tanaman, begitu banyak kontaminasi pestisida yang menempel dibuah tersebut. Proses  pengawetan agar tetap segar sampai di pasaran adalah dengan melapisi buah dengan lilin. Jika dalam mengkonsumsi konsumen tidak melakukan proses sanitasi terlebih dahulu, maka apel yang dikonsumsi tidak memberikan efek yang positif bagi tubuh, malah sebaliknya akan menjadi toksin karena bahan kimia yang terkandung di dalam buah.

Tidak semua masyarakat dapat memenuhi kebutuhan pangannya sesuai dengan pola konsumsi yang baik. Ada beberapa kesalahan yang dilakukan, sehingga pemenuhan pangan hanyalah sebagai pelepasan selera saja.

Kesalahan dalam pemilihan atau pengolahan pangan seringkali terjadi. Ini tidak hanya dalam skala perdagangan atau industri makanan, tapi juga terjadi dalam skala rumah tangga karena ingin mendapatkan cita rasa makanan yang lezat.

Penggunaan MSG (Monosodium glutamat) dengan berbagai merek menjadi andalan ibu-ibu rumah tangga dalam menyajikan makanan yang lezat untuk keluarga. Padahal penggunaan MSG atau bahan tambahan pangan lainnya jika terlalu sering sangat berbahaya bagi kerja metabolisme tubuh. Selain itu proses pengolahan untuk mempertahankan nilai gizi terkadang tidak terlalu diperhatikan.

Sebagai contoh, dari kebiasaan dalam memasak sayur. Sayur seringkali dipotong terlebih dahulu, kemudian dicuci dan direndam dalam air. Padahal, sayur merupakan bahan pangan yang mengandung beberapa vitamin yang larut air, seperti vitamin B dan C. efek dari perendaman sayur yang lama dalam air akan menghilangkan vitamin larut air yang terdapat di dalamnya.

Kesalahan pola konsumsi pangan masyarakat saat ini, harus segera diperbaiki agar status gizi masyarakat dapat terpenuhi dengan benar. Masyarakat harus memahami tentang nilai gizi pangan, pola konsumsi pangan dan hubungan timbal balik antara makanan, pertumbuhan, kesehatan dan penyakit.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh masyarakat tentang pangan yang dikonsumsi, diantaranya : pangan apa yang akan dipilih, bagaimana cara memperolehnya, bagaimana cara penyimpanan dan pemeliharaannya, bagaimana cara mempersiapkannya, siapa yang akan memakannya, kapan, dengan siapa, bagaimana dan dalam jumlah berapa memakannya.

Ilmu pangan sangat berperan dalam proses pengaturan pola konsumsi masyarakat. Di dalam ilmu pangan tercakup ilmu tentang makanan, zat-zat gizi, dan substansi yang terkandung didalamnya, peran dan keseimbangannya untuk kesehatan dan masalah kesehatan. 

Di dalam ilmu pangan juga  dipelajari sifat fisis, mikrobiologis, dan kimia dari bahan pangan dan proses mengolah bahan pangan tersebut. Selain itu ilmu pangan juga memberikan gambaran tentang sortasi, pengawetan, pemprosesan, pengemasan, distribusi, hingga penggunaan bahan pangan yang aman dan bernutrisi.

Spesialisasinya beragam, diantaranya pemprosesan, pengawetan, pengemasan, penyimpanan dan sebagainya. Ilmu pangan dapat berperan membantu masyarakat untuk memperbaiki status gizi menjadi lebih baik melalui metoda-metoda proses pemilihan bahan, pengolahan dan sanitasi  pangan itu sendiri.

Penerapan ilmu pangan yang benar dapat membantu masyarakat Indonesia dalam memperbaiki pola konsumsi yang benar, status gizi yang baik dan meningkatkan kesehatan.

Dalam bidang industri makanan, penerapan ilmu pangan yang benar dapat menciptakan produk pangan yang aman dikonsumsi dan memiliki kualitas yang baik. Semoga penerapan ilmu pangan yang benar dalam pengolahan pangan dapat membangun masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang sehat dan berkualitas. 


PERANAN MIKROBIOLOGI DALAM INDUSTRI PANGAN DAN NON-PANGAN


       Mikrobiologi adalah ilmu yang mempelajari organisme hidup yang berukuran sangat kecil sehingga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang melainkan dengan bantuan mikroskop. Organisme yang sangat kecil ini disebut sebagai mikroorganisme, atau kadang-kadang disebut sebagai mikroba, ataupun jasad renik.        Mikroorganisme adalah makhluk hidup yang kecil penuh dengan misteri, karena kecilnya sehingga tidak dapat dilihat dengan mata langsung, harus menggunakan alat pembesar berupa miskroskop. Mikroorganisme dapat melakukan berbagai proses metabolisme di dalam tubuhya sehingga mikroorganisme dapat dimanfaatkan sebangai mesin hayati penghasil senyawa-senyawa organik yang diperlukan baik yang berkaitan dengan pangan maupun nonpangan. Mikroorganisme yang umum digunakan dalam industri terutama yang tergolong bakteri, kapang, dan khamir atau yeast.
       Dunia mikroorganisme terdiri dari 5 kelompok organisme, yaitu bakteri, protozoa, virus, algae, dan cendawan. Mikroorganisme sangat erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Beberapa diantaranya bermanfaat dan yang lain merugikan. Mikroorganisme yang bermanfaat antara lain: yang menghuni tubuh (flora normal), beberapa mikroorganisme yang terlibat dalam proses fermentasi makanan: pembuatan keju, anggur, yoghurt, tempe/oncom, kecap, dll, produksi penisilin, sebagai agens biokontrol, serta yang berkaitan dengan proses pengolahan limbah. Mikroorganisme yang merugikan, antara lain yang sering menyebabkan berbagai penyakit (hewan, tumbuhan, manusia), diantaranya: flu burung yang akhir-akhir ini menggemparkan dunia termasuk Indonesia, yang disebabkan oleh salah satu jenis mikroorganisme yaitu virus. Selain itu, juga terdapat beberapa jenis mikroorganisme yang dapat menyebabakan pencemaran lingkungan.
       Bila bahan baku yang murah dapat diubah menjadi bahan yang berguna, maka proses ini dilaksanakan sebangai industri. Persyaratan suatu proses industri mikroba adalah:
1.      Organisme.
Organisme yang digunakan harus mampu menghasilkan produk dalam jumlah yang tinggi. Mikroba haruslah memiliki ciri yang stabil, pertumbuhanya cepat dan non-patogen.


2.      Medium.
Substrat yang dugunakan oleh mikroba harus murah dan mudah diperoleh dalam jumlah besar.
3.      Produk yang dihasilkan mudah diperoleh dan dimurnikan.

B.  Sumber dan cara memperoleh mikroba.
a.       Sumber.
Sumber-sumber mikroba yang digunakan dalam industri adalah:
1.      Alami : alam.
2.      Lembaga koleksi kultur: jumlah dan jenis beragam.
b.      Cara memperoleh.
1.       Isolasi: pemisahan suatu kultur mikroba dari campuran biakan mikroba di alam  untuk memperoleh sel individu yang diinginkan untuk industri.
Hal-hal yang harus diperhatikan: menentukan sampel apa yang akan diambil dari alam, lokasi dan media apa yang akan digunakan.
Metode pengambilan sampel: padatan (tanah, serpihan batu, kayu dll) diambil dengan menggunakan spatula atau pinset steril disimpan menggunakan kantong plastik steril, cairan atau semi cair (air, lumpur dll) diambil dengan menggunakan pipet steril disimpan menggunakan botol atau tabung polipropilen steril dalam suhu rendah.
Teknik isolasi: Penggoresan (streak-plate) & penyebaran (spread-plate), penuangan (pour-plate), kultur yang diperkaya (enrichment culture), pengenceran berseri (serial-dilution), isolasi sel tunggal.
2.      Seleksi.
Tujuan untuk mendapatkan galur dengan kinerja terbaik, rendemen lebih tinggi, tidak menghasilkan produk sampingan yang tidak dikehendaki, peningkatan kemampuan penggunaan sumber C dan N yang murah, penurunan biaya produksi, perubahan morfologi sel menjadi bentuk yang lebih mudah dipisahkan dari produk dengan pendekatan genetik.
3.      Identifikasi.
Metode untuk identifikasi mikroba adalah dengan menggunakan ciri/karakteristik: morfologi, nutrisional, kultural, metabolik, susunan kimiawi, susunan antigen, patogenik, dan genetik.
Contoh:
- tidak terdapat bakteroklorofil
- sel tidak berbentuk filamen
- gram positif
- berbentuk batang
- menghasilkan endospora
- katalase positif
- aerobik
- nitrit negatif
- VP (Voges Proskauer) negatif
Maka mikroba yang dimaksud adalah Bacillus megaterium

C. Kriteria mikroorganisme yang dimanfaatkan dalam industri.
       Mikroba yang dimanfaatkan dalam industri harus memenuhi kualifikasi:
1.      Mampu berkembang cepat dalam media yang disediakan dan mudah dibudidayakan dalam jumlah yang besar.
2.      Mampu bertahan dengan sifat fisiologi konstan pada kondisi yang diinginkan, menghasilkan enzim-enzim yang diperlukan, serta melangsungkan perubahan kimia yang diinginkan.
3.      Pada kondisi seperti itu, mikroba harus mampu melangsungkan transpormasi-transpormasi dengan relatif sederhana dan dalam kondisi lingkungan yang dimodifikasi. Karena reaksi enzimatik pada umumnya eksotermik, maka tidak perlu menggunakan energi luar yang besar kuantitasnya.
4.       Dapat disimpan dalam jangka waktu yang panjang.
5.      Dapat dikembangkan dengan rekayasa genetik.

 D. Pemanfaatan mikroba dalam industri.
Beberapa contoh pemanfaatan mikroorganisme dalam industri adalah:
1.      Produksi massa sel: protein sel tunggal untuk pakan ternak, manusia dan pestisida.
2.      Penggunaan bagian-bagian dari sel: biokatalis (enzim), polisakarida (xantan, alginat), pigmen dan lipid.
3.      Fermentasi untuk produksi metabolit primer: alkohol, asam organik, vitamin dan lain-lain.
4.      Fermentasi untuk produksi metabolit sekunder: antibiotik, toksin, dan komponen flavor.
5.      Aplikasi aktivitas mikroorganisme dalam:
a.       Pengawetan seperti keju, yoghurt, pikel.
b.      Pengolahan seperti roti, kecap.
c.       Pengolahan limbah dan pembersihan bahan-bahan beracun seperti penghilangan fosfat,H2S dan lain-lain.
6.      Bidang pertanian: merangsang fiksasi nitrogen.
7.      Proses dalam berbagai industri di luar industri makanan dan minuman, umpamanya meningkatkan atau menjaga kualitas tekstil dan serat ataupun bahan kayu dan lain-lain. 
       Banyak reaksi kimia dapat berlangsung dengan memanfaatkan mikroorganisme pada kondisi terkontrol. Beberapa reaksi yang sudah lama dikenal dan sudah dipelajari dalam satuan-satuan proses, antara lain: oksidasi reduksi, hidrolisis dan esterfikasi. Namun demikian, masih banyak reaksi kimia yang dilangsungkan atas bantuan mikroorganisme, namun sangat kompleks dan tidak mudah diklasifikasi.
        Medium yang digunakan untuk menghitung total mikroorganisme pembentuk asam di dalam bahan pangan mengandung indikator, dimana pembentukan asam oleh koloni mikroorganisme akan mengubah pH medium disekitarnya sehingga terjadi perubahan warnah, akibatnya koloni pembentuk asam akan mudah dibedakan dari koloni lainnya dan mudah dihitung. Untuk mikroorganisme yang memproduksi asam dalam jumlah tinggi digunakan indikator ungu bromcresol, hijau atau biru bromcresol. Untuk mikroorganisme yang memproduksi asam dalam jumlah yang sedang, digunakan indikator merah fenol. Perhitungan koloni pada medium spesifik didasarkan atas beberapa karakteristik yakni: ciri-ciri koloni seperti ukuran, bentuk, warna dan reaksi biokimia didalam medium, misalnya produksi asam atau hidrolisis arginin, identifikasi dengan cara mengambil koloni yang terpisah dari cawan dan menginokulasikannya pada berbagai medium uji yang berbeda-beda.

A.    Kelemahan penggunaan mikroba dalam industri makanan.
       Salah satu kelemahan dari penggunaan mikroba dalam industri makanan adalah dapat menyebabkan keracunan. Sebelum membahas mengenai senyawa racun dari mikroba, perlu terlebih dahulu dipahami dua istilah yang mirip pengertiannya, yaitu infeksi dan keracunan. Infeksi adalah suatu istilah yang digunakan bila seseorang setelah mengkonsumsi makanan atau minuman yang mengandung bakteri patogen mendapat gejala-gejala penyakit. Keracunan yang juga disebut intoksikasi disebabkan menkonsumsi makanan yang telah mengandung senyawa beracun yang diproduksi oleh mikroba, baik bakteri maupun kapang.
       Beberapa senyawa racun yang dapat menyebabkan intoksikasi adalah:
1.      Bakteri.
a.      clostridium botulinum.
       Senyawa beracun yang diproduksi clostridium botulinum disebut botulinin dan keracunan yang ditimbulkan akibat mengkonsumsi makanan yang mengandung botulinin disebut botulisme. Botulinin merupakan neurotoksin yang sangat berbahaya bagi manusia dan sering akut dan menyebabkan kematian.
b.      Pseudomonas cocovenenans
       Senyawa beracun yang dapat diproduksi oleh Pseudomonas cocovenenans adalah toksoflavin dan asam bongkrek. Pada umumnya tempe bongkrek yang jadi atau berhasil dengan baik (kompak dan putih warnahnya) hanya ditumbuhi kapang tempe Rhizopus oligosporus, tetapi tempe yang gagal dan rapuh disamping R. oligosporus biasanya juga tumbuh sejenis bakteri yang disebut Pseudomonas cocovenenans, bakteri yang sebenarnya tidak dikehendaki ada dalam tempe bongkrek. Bakteri ini yang menyebabkan terbentuknya toksin dalam tempe bongkrek.
2.      Kapang.
       Mikotoksin merupakan senyawa beracun yang diproduksi oleh kapang (mold) atau jamur. Perlu dijelaskan bahwa tidak semua kapang memproduksi toksin, bhkan beberapa diantaranya berguna bagi proses pengolahan makanan seperti tempe, tauco, kecap dan keju. Toksin yang terbentuk terdifusi ke dalam makanan sehingga kebiasaan menghilangkan atau mengerok kapang dari permukaan makanan tidak dapat menghilangkan bahaya racun yang sudah terlanjur tersebar. Karena itu cara tersebut sebaiknya dihindarkan.
       Mikotoksin yang terkenal adalah aflatoksin. Aflatoksin adalah senyawa beracun yang diproduksi oleh Aspergillus flavus, atau oleh jenis Aspergillus lainnya misalnya Aspergillus parasiticus



Daftar pustaka :
Amir.2013.peranan ilmu kimia dalam bidang pangan,http://muhamadamirr.blogspot.co.id/2013/03/peranan-ilmu-kimia-dalam-bidang-pangan.html (diakses, 21 november 2016)
Hartinah,Rahmah.2013.pseudomonas coccovennenans,http://rahmahhartinah.blogspot.co.id/2013/12/pseudomonas-coccovenenans.html (diakses, 21 movember 2016)

Yaman,Novitasari.2015. makalah Mikrobiologi industri,


Dosenbiologi.2015. Peran Clostridium Botulinum dalam Kehidupan Sehari-hari, http://dosenbiologi.com/bakteri/peran-clostridium-botulinum-dalam-kehidupan-sehari-hari (diakses 21 november 2016)







Minggu, 20 November 2016

KIMIA DI INDUSTRI PENERBANGAN



 












Oleh : Andika Fernanda


MATERIAL KOMPOSIT
Material ini lah yang disebut material komposit. Material komposit terdiri dari lebih dari satu tipe material dan dirancang untuk mendapatkan kombinasi karakteristik terbaik dari setiap komponen penyusunnya. Pada dasarnya, komposit dapat didefinisikan sebagai campuran makroskopik dari serat dan matriks. Serat merupakan material yang (umumnya) jauh lebih kuat dari matriks dan berfungsi memberikan kekuatan tarik.


SERAT KACA  (Fibre glass)
Adalah material yang umum digunakan sebagai serat. Namun, teknologi komposit saat ini telah banyak menggunakan karbon murni sebagai serat. Serat karbon memiliki kekuatan yang jauh lebih baik dibanding serat kaca tetapi biaya produksinya juga lebih mahal. Komposit dari serat karbon memiliki sifat ringan dan juga kuat.

POLIMER
Biasanya menjadi matriks juga dapat dipakai sebagai serat atau penguat. Contohnya, kevlar merupakan serat polimer yang sangat kuat dan dapat meningkatkan toughness dari material komposit. Kevlar dapat digunakan sebagai serat dari produk komposit untuk struktur ringan yang handal, misalnya bagian kritis dari struktur pesawat terbang.


Polimer 
Monomer
Polimerisasi
Sumber/terdapatnya

 Protein

Asam amino

   Kondensasi

Wol, sutera

 Karet alam

Isoprena

Adisi

Getah pohon karet

 Selulosa

Glukosa

   Kondensasi

Kayu(tumbuhan)

 Amilum

Glukosa

   Kondensasi

Beras, gandum

 Asam nukleat

Nukleotida

   Kondensasi

DNA, RNA



Polimer
Monomer
Polimerisasi
Sumber/terdapatnya
Polietilena
Etena
   Adisi
Plastik
PVC
Vinilklorida
   Adisi
Pelapis lantai, pipa
Polipropilena
Propena
   Adisi
(Tali,karung ,botol )plastik
Teflon
Tetraflouroetilena
   Adisi
Gasket,panci anti lengket
 1. Homopolimer (polimer yang terbentuk dari monomer sejenis)
     rumus polimernya (─ A ─ A ─ A ─ A ─ A ─ A ─ A ─ A ─ A ─ A ─ A ─ A ─)n
     contoh homopolimer :polietilen, polipropilen, teflon, PVC, poliisoprena (karet alam),  amilum dan      selulosa
 2. Kopolimer (polimer yang terbentuk dari monomer tak sejenis)
     Rumus polimernya (─ A ─ B ─ B ─ A ─ B ─ A ─ B ─ A ─ B ─ B ─ A ─ A ─)
     Contoh kopolimernilon 66, dakron dan bakelit.

SOLUSI ATASI STRESS CORROSION CRACKING
Aluminium adalah material yang banyak sekali digunakan untuk konstruksi, mulai dari sepeda, otomotif, kapal laut hingga pesawat udara. Keunggulan material aluminium adalah berat jenisnya yang ringan dan kekuatannya yang dapat ditingkatkan sesuai dengan kebutuhan. Kekuatan aluminium biasanya ditingkatkan dengan cara paduan (alloying) dan memberi perlakuan panas (heat treatment).

ALUMINUM ALLOY FOR AEROSTRUCTURE
Paduan aluminium merupakan material utama yang saat ini digunakan industri pesawat terbang komersial. Aluminium dipilih karena memiliki sifat ringan dan kekuatannya dapat dibentuk dengan cara dipadu dengan unsur lain. Permasalahan yang dihadapi adalah pemilihan jenis unsur apa yang akan dipadu dengan aluminium untuk mendapatkan karakteristik material yang dibutuhkan.

JENIS-JENIS BAHAN BAKAR PESAWAT
Ada 2 Jenis Yaitu :

Avtur
adalah singkatan dari Aviation Turbine Fuel. Nama lainnya adalah Jet A-1. Avtur biasa dipake buat bahan bakar pesawat jet atau pesawat turbo jet.
sebagai sumber energi penggerak mesin pesawat terbang, bahan bakar penerbangan juga berfungsi sebagai cairan hidrolik di dalam sistem kontrol mesin dan sebagai pendingin bagi beberapa komponen sistem pembakaran.
Rumus : Avtur = C4 s/d C6 

Avgas
merupakan singkatan dari Aviation Gasoline. Bahan bakar ini biasa dipakai di pesawat dengan mesin Piston Engine atau Helikopter jenis ringan.
Rumus :
Zat Cair Hydraulic power system
adalah suatu system pada pesawat terbang yang menggunakan tekanan zat cair (hydraulic) sebagai media untuk menggerakkan sistem–sistem yang terkait dengan komponen–komponen yang lain, seperti menggerakkan ground spoilers, flight spoilers, leanding gear, nose gear steering, trailing edge flaps, leading edge devices, ailerons, elevators, leanding gear brakes’ rudder, dan thrust reverser.

Rumus Hukum Pascal : F = P x A ( Kg )
  
    Dimana  :  F  =  Gaya ( Force ) ( K g ).
                      P  =  Tekanan ( Pressure Kg/Cm2 ).
                      A  =  Luas Penampang ( Area  Cm2 )


Daftar pustaka
https://aeroblog.wordpress.com/category/material-pesawat/

Sabtu, 19 November 2016

Industri Pembuatan Yogurt


Oleh : Anna Lusiana
Yogurt adalah susu yang dibuat melalui fermentasi bakteri. Yogurt dapat dibuat dari susu apa saja, termasuk sari kacang kedelai. Produksi modern saat ini didominasi oleh susu sapi. Fermentasi gula susu (Laktosa) menghasilkan asam laktat yang berperan dalam protein susu untuk menghasilkan tekstur seperti gel dan aroma yang unik pada yogurt. Yogurt tersedia dalam beraneka rasa seperti plain, rasa buah atau rasa coklat.
1.  Sejarah
Bukti-bukti menunjukkan bahwa produk susu budidaya telah diproduksi sebagai makanan sejak 4.500 tahun yang lalu atau sejak abad ke-3 SM. Yogurt awalnya mungkin terfermentasi secara spontan oleh bakteri liar yang hidup pada tas kulit kambing yang dibawa oleh bangsa bulgar, orang nomadik yang mulai berimigrasi ke Eropa pada abad ke-2 M dan akhirnya menetap di Balkan pada abad ke-7. Sekarang, banyak negara memiliki yogurt-nya sendiri. Meskipun demikian, sampai sekarang belum ada bukti yang jelas mengenai siapa yang menemukan yogurt.

2.  Etimologi
Kata yogurt berasal dari bahasa Turki yogurt diambil dari kata sifat yogun, yang berarti “padat dan tebal”.

3.  Bakteri yang digunakan
Yogurt dibuat dengan memasukkan bakteri spesifik ke dalam susu di bawah temperatur yang dikendalikan dalam kondisi lingkungan, terutama dalam produksi industri. Bakteri merombak laktosa dan melepaskan asam laktat sebagai produk sisa. Keasaman meningkat menyebabkan protein susu membuatnya menjadi padat. Keasaman yang meningkat dengan PH = 4-5, juga menghindari poliferasi bakteri patogen yang potensial. Jika suhu teralu rendah bakteri akan berkembang biak lambat atau tidak sama sekali. Jika suhu teralu panas bakteri bisa rusak atau mati.
Yogurt dibuat dengan bantuan dua jenis bakteri yang menguntungkan, satu dari keluarga lactobacillus yang berbentuk batang (Lactobacillus bulgaricus) dan yang lainnya dari keluarga Streptococcus yang berbentuk bulat (Streptococcus thermophilus). Lactobacillus bulgaricus lebih berperan pada pembentukan aroma, sedangkan Streptococcus thermophilus lebih berperan dalam pembentukan citra rasa yogurt. Kedua bakteri ini juga berperan dalam pengaturan mikroflara usus. Saat tumbuh di usus, kedua bakteri tersebut mampu menciptakan keadaan asam yang menghambat bakteri penyembab penyakit tidak tahan tumbuh disekitar bakteri yogurt. Sementara bakteri lain yang memang seharusnya melimpah dirangsang untuk tumbuh, sehingga mikroflora dalam usus didorong mendekati keadan seimbang yang normal.

4.  Proses Fermentasi Yogurt
Susu terfermentasi dibuat melaui beberapa cara yaitu menambahkan enzim-enzim untuk proses fermentasinya atau menambahkan mikroba yang dapat melakukan proses fermentasi susu. Cara yang pertama membutuhkan biaya yang sangat mahal, karena enzim yang ditambahkan lebih dari satu dan membutuhkan kondisi tingkat kemurnian tinggi. Maka yang biasa digunakan adalah penambahan mikroba, karena mkroba tersebut secara alami terdapat pada susu, kita hanya tinggal mengisolasinya menjadi biakan murni untuk selanjutnya diperbanyak dan ditambahkan pada susu yang difermentasi.
Adapun tahap-tahap pembuatan yogurt adalah sebagai berikut :
1.     Susu segar dipanaskan sampai suhu 900C dan selalu diaduk supaya protein tidak mengalami koagulasi. Waktunya sekitar 1 jam. Apabila dilakukan pasteurisasi maka suhu pemanasannya adalah 70-750C. jika hal ini dilakukan maka pemanasan dilakukan sebanyak 2 kali.
2.    Setelah dipanaskan, selanjutnya proses pendinginan yaitu dengan cara dimasukkan ke dalam wadah tertutup sampai suhunya mencapai antara 37-450C.
3.    Selanjutnya dilakukkan inokulasi/ penambahan bakteri ke dalam susu tersebut sejumlah 50-60 ml/Liter susu. Penempatan bakteri dilakukan dengan teknik aseptik (di dekat api).
4.    Selanjutnya diperam pada ruangan hangat (30-400C), dalam keadaan tertutup selama 3 hari.
5.    Selanjutnya adalah filtrasi. Hal ini untuk memisahkan bagian yang padat/gel dengan bagian yang cair. Pemisahan dilakukan didekat api sehingga bagian yang cair (stater berikutnya) terhindar dari kontaminasi. Bagian yang cair ini mengandung bakteri Lactobacillus sp yang dapat digunakan untuk menginokulasi susu segar. Bagian padat inilah yang dikonsumsi sebagai yogurt.
6.    Supaya yogurt terasa lebih enak dapat ditambahkan dengan gula, sirup, buah atau untuk bahan pembuatan jus.


Daftar Link :
Anonim. 2016. Yogurt. Wikipedia. org (diakses 18 November 2016)
Anonim. 2012. Proses Pembuatan Yogurt Yang Baik dan Benar. Wordpress.com (diakses 2016)

Kamis, 17 November 2016

Kimia Industri Korek Api


Definisi Korek Api
Korek Api merupakan batang kayu yang salah satu ujungnya ditutupi dengan suatu bahan yang umumnya fosfor yang akan menghasilkan nyala api karena gesekan ketika digesekkan terhadap satu permukaan khusus. Bangsa Tiongkok sejak 577 telah mengembangkan korek api sederhana yang terbuat dari batang kayu yang mengadung belerang. Korek api modern pertama ditemukan tahun 1805 oleh K. Chancel, asisten Profesor L. J. Thénard di Paris. Kepala korek api merupakan campuran potasium klorat, belerang, gula dan karet. Korek api ini dinyalakan dengan menyelupkannya ke dalam botol asbes yang berisi asam sulfat.
Korek api yang dinyalakan dengan digesek pertama kali ditemukan oleh kimiawan Inggris John Walker tahun 1827. Penemuan tersebut diawali oleh Robert Boyle tahun 1680-an dengan campuran fosfor dan belerang, tetapi usahanya pada waktu itu belum mencapai hasil yang memuaskan. Walker menemukan campuran antimon (III) sulfida, potasium klorat, natural gum, dan pati dapat dinyalakan dengan menggesekkannya pada permukaan kasar. Ada ribuan zat kimia yang bila dicampurkan menimbulkan api. Jadinya, korek api bisa dibuat dari berbagai macam zat kimia. Tetapi, tak semua zat kimia bersifat aman. Ada zat kimia yang bila dicampurkan menimbulkan letupan, api yang besar, bahkan ledakan. Jadi korek api harus dibuat dari zat yang aman, yang hanya menimbulkan api kecil. Di Indonesia, industri korek api kayu hanya dilakoni oleh beberapa perusahaan besar, salah satu diantaranya adalah Java Macth Factory (Jakarta Utara) yang telah berdiri sejak 1949.

Proses Pembuatan Korek Api
Dalam industri pembuatan korek api, jenis kayu yang umum digunakan untuk stick korek api adalah kayu pinus, albasia, gamelina, damar, dan genitri. Untuk bahan pentol koreknya (head composition), memakai aneka zat kimia yaitu gelatin, powdered glass (bubuk kaca), mangan dioksida, potassium klorat, potassium bikromat, zine oxide, iron oxide, bubuk sulfur, dan parafine untuk splint (stick kayu). Sementara bahan untuk tempat menggesek kepala (pentol) korek atau disebut dengan istilah side coating terdiri dari fosfor merah, mangan dioksida, polysol, dan ore concentrade. Agar bisa memproduksi dalam jumlah besar, perusahaan korek api memerlukan berbagai peralatan dan mesin canggih, diantaranya :

1. Pada bagian produksi batang korek (splint process), mesin-mesin yang diperlukan: 
Mesin Cross Cut (CCT) untuk memotong batang kayu menjadi ukuran tertentu; Mesin Autoclave yang berfungsi melunakan kayu pinus dengan proses uap; Mesin Peeling (CBK2) untuk mengiris kayu menjadi lembaran-lembaran tipis (veneer) yang tebalnya sekitar 2mm; dan Mesin Penyusun (CED) yang akan menyusun venner sebelum dimasukkan ke dalam mesin Chopping; Mesin Chopping (DAL) berfungsi memotong veneer menjadi batang-batang (sticks) korek api yang panjangnya 4cm; Mesin Impragnating (DYS) yang bertugas memberi amonium fosfor ke batang-batang korek api; Mesin Pengering (SF); Mesin Poleshing Drum (FZDS) yang berfungsi menghaluskan batang-batang korek api (splint); dan Mesin Penyortir Batang Korek Api yang rusak atau disebut Mesin Selecting Table;

2. Pada bagian pembuatan pentol korek api (match production process), jenis mesin yang dibutuhkan: 
Mesin Match Dipping (MDM) yang bertugas menyusun splint (batang korek api) dan memberinya adonan pentul sehingga menjadi korek api yang sempurna; Mesin Filling Type untuk memasukkan batang-batang korek api kedalam kotak kemasan korek api (box); Mesin Outer Box untuk memberi lapisan side coating pada ke dua bagian sisi kotak pembungkus; Mesin Inner Box; Mesin Wraping; dan Mesin Packing.

Bahan-bahan yang digunakan
1.      Kayu yang umum digunakan untuk stick korek api adalah kayu pinus, albasia, gamelina, damar, dan genitri.
2.      Untuk bahan pentol koreknya (head composition), memakai aneka zat kimia yaitu gelatin, powdered glass (bubuk kaca), Potasium Klorat, Bubuk Sulfur
3.      Sementara bahan untuk tempat menggesek kepala (pentol) korek atau disebut dengan istilah side coating terdiri dari fosfor merah, mangan dioksida
4.      Lem elmer

Alat-alat
1.      Mesin Cross Cut (CCT) untuk memotong batang kayu menjadi ukuran tertentu
2.      Mesin Peeling (CBK2) untuk mengiris kayu menjadi lembaran-lembaran tipis
3.      Mesin Chopping (DAL) berfungsi memotong veneer menjadi batang-batang (sticks) korek api
4.      Mesin Match Dipping (MDM) yang bertugas menyusun splint (batang korek api) dan memberinya adonan pentul sehingga menjadi korek api yang sempurna
Langkah-langkah Pembuatan Korek Api :
1.      Memasukkan kayu-kayu ke dalam mesin pemotong kayu, kemudian dibentuk menjadi lembaran tipis agar mudah dibentuk lagi menjadi batang-batang korek api yang kecil kemudian kayu yang tadi berbentuk lembaran tipis, dipotong menggunakan mesin agar menjadi batang-batang kecil berbatang-batang korek disusun sedemikian rupa
2.      Mencampurkan 1 sdt zat kimia berupa potasium klorat dengan ½ sdt lem elmer dengan menggunakan tusuk gigi hingga adonan merata
3.      Memberikan ujung batang korek api dengan adonan tersebut setebal 1 mm.
4.      Panggang menggunakan wajan atau oven atau mesin pemanas lain batang-batang yang telah dilapisi adonan selama 2 jam pada suhu 65 derajat Celcius.
5.      Biarkan batang-batang tersebut dingin dan mengeras
6.      Ambil tusuk gigi yang baru, campurkan 1 st fosfor merah dengan ½ sdt lem elmer, celupkan ujung batang korek yang telah berlapis tersebut kedalam campuran fosfor merah dan lem tadi.
7.      Pastikan lapisan potasium klorat telah tertutup dengan lapisan fosfor merah
8.      Oven kembali selama 2 jam pada suhu yang sama.



Dampak Negatif Penggunaan Fosfor pada korek api
Pembakaran fosfor di udara berlangsung sangat eksotermis yaitu menghasilkan suhu sekitar 800°C. Suhu yang tinggi inilah yang akan merusak jaringan tubuh seperti luka bakar ketika mengenai organ-organ tubuh.Sedangkan hasil pembakaran fosfor putih yaitu berupa P2O5 dalam bentuk asap. Asap yang dihasilkan sangat berbahaya karena selain beracun asap inipun bersifat korosif atau dapat pula bereaksi dengan organ-organ tubuh manusia. Oleh sebab itu jika fosfor ditembakan atau yang digunakan sebagai bom ketika terbakar akan merusak sebagian besar jaringan tubuh. Misalnya jika mengenai mata maka akan menyebabkan kebutaan, jika dihirup akan merusak kerongkongan bahkan paru-paru jika dalam jumlah yang lebih banyak, jika mengenai kulit maka akan menyebabkan luka bakar dan akan lebih parah lagi jika terkena dalam jumlah banyak.

Daftar Pustaka :

Anonim. 2013. Mengenal Industri Pembuatan Korek Api (Matches). (http://www.kerjausaha.com/2013/03/mengenal-industri-pembuatan-korek-api.html )