.

Tampilkan postingan dengan label @TA08. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @TA08. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Februari 2017

Pencemaran Air Pada Lingkungan



Istilah pencemaran air atau polusi air dapat dipersepsikan berbeda oleh satu orang dengan orang lainnya mengingat banyak pustaka acuan yang merumuskan definisi istilah tersebut, baik dalam kamus atau buku teks ilmiah.

Minggu, 12 Februari 2017

POLUTAN


Definisi : Polutan adalah Zat atau bahan yang dapat mengakibatkan pencemaran terhadap lingkungan baik (Pencemaran Udara, Tanah, Air, dsb).





Suatu zat dapat disebut polutan apabila:
1. Jumlahnya melebihi jumlah normal
2. Berada pada waktu yang tidak tepat
3. Berada pada tempat yang tidak tepat



     Syarat polutan:

  1. Merusak untuk sementara, tetapi bila telah bereaksi dengan zat lingkungan tidak merusak lagi
  2. Merusak dalam jangka waktu lama. Contohnya Pb tidak merusak bila konsentrasinya rendah. Akan tetapi dalam jangka waktu yang lama, Pb dapat terakumulasi dalam tubuh sampai tingkat yang merusak.

     Sifat polutan:

  1. polutan fisik; yaitu polutan yang fisiknya mencemarkan lingkungan. Contohnya: pecahan botol, pecahan keramik, besi tua.
  2. polutan kimiawi; yaitu polutan yang berbentuk senyawa kimia baik senyawa sintetis maupun yang alami, yang karena konsentrasinya cukup tinggi sehingga dapat menimbulkan pencemaran. Contohnya: gas CO, CO2, SO4, logam Pb(timbal), merkuri.
  3. polutan biologis; yaitu polutan yang berbentuk makhluk hidup yang dapat menimbulkan pencemaran. Contohnya: bakteri E.Coli, tumbuhan gulma, dan sebagainya.
  4. polutan sosial budaya; yaitu polutan yang dapat berbentuk perilaku atau hasil budaya yang tidak sesuai dengan norma sosial budaya setempat, sehingga mengganggu kehidupan sosial budaya masyarakat. Contohnya: anak-anak yang tawuran di daerah sekitar masyarakat



Jenis:

  1. Polutan Udara udara umumnya berupa debu, asap, dan gas buangan hasil pembakaran bahan bakarfosil, seperti minyak dan batu bara oleh kendaraan/alat transportasi dan mesin-mesin pabrik
  2. Polutan Air antara lain limbah air, limbah kimia, limbah radioaktif, dll.
  3. Polutan Tanah berasal dari limbah industri, limbah rumah tangga, hujan asam, tumpahan minyak, dan Iain-Iain. Benda-benda yang mencemari tanah berupa benda padat seperti kertas, plastik, aluminium, kaleng, botol, dan benda cair, seperti tumpahan minyak dan limbah cair pabrik.



Daftar pustaka

Blog Hamdan Nawawi. 2013. Pengertian dan Macam Macam Polutan (Zat Pencemar) Air Udara Tanah. http://hamdannawawi.blogspot.co.id/2013/02/Pengertian-Polutan-udara-air-dan-tanah.html

Wikipedia. 2014. Polutan. https://id.wikipedia.org/wiki/Polutan

Blog Belajar Kita Bersama. Pengertian Polusi dan Polutan. https://sites.google.com/site/satuuntukkitasemua/pengertian-polusi-dan-polutan


Sabtu, 11 Februari 2017

PENCEMARAN AIR DARI LIMBAH PABRIK

Pencemaran Air Dari Limbah Pabrik



















Pencemaran air adalah suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air seperti danau, sungai, lautan dan air tanah akibat aktivitas manusia. Danau, sungai, lautan dan air tanah adalah bagian penting dalam siklus kehidupan manusia dan merupakan salah satu bagian dari siklus hidrologi. Selain mengalirkan air juga mengalirkan sedimen dan polutan. Berbagai macam fungsinya sangat membantu kehidupan manusia. Pemanfaatan terbesar danau, sungai, lautan dan air tanah adalah untuk irigasi pertanian, bahan baku air minum, sebagai saluran pembuangan air hujan dan air limbah, bahkan sebenarnya berpotensi sebagai objek wisata

Makhluk hidup sangat erat kaitannya dengan air. Air adalah sumberdaya yang sangat penting bagi kelangsungan hidup makhluk hidup. Semakin majunya dunia industri mempengaruhi kualitas air bersih tersebut. Hal ini dikarenakan masih banyak pabrik-pabrik yang mebuang limbahnya langsung ke sungai. Limbah yang dibuang kesungai ini menyebabkan pencemaran air. Pencemaran air ini mempunyai banyak dampak negatif dengan kesehatan manusia. Limbah yang dibuang disungai ini menimbulkan pencemaran air dan mengganggu kelangsungan hidup makhluk hidup yang di sungai. Pencemaran yang disebabkan oleh limbah industri akan sangat kelihatan karena terjadi perubahan warna dari air tersebut. Pencemaran air mempengaruhi pH normal pada air.

Penyebab-penyebab pencemaran air oleh pabrik atau industri antara lain adalah
1. Industri membuang berbagai macam polutan ke dalam air limbahnya seperti logam berat, minyak nutrien dan padat.
2. Limbah pabrik yang mengalir di sungai
3. Limbah pabrik yang dibuang ke sungai tanpa ada proses filtrasi terlebih dahulu.
4. Pencemaran yang disebabkan sampah karyawan pabrik yang dibuang di sungai.
5. Limbah sisa pengolah tebu pada pabrik gula.
6. Limbah zat warna yang digunakan pabrik tekstil yang mengalir kesungai.

Akibat-akibat yang ditimbulkan oleh adanya pencemaran air oleh limbah pabrik antara lain :
1. Keadaan air sungai akan berubah warna dan kotor.
2. Menimbulkan bau yang tidak sedap sehingga menggangu pernapasan masyarakat di sekitar sungai.
3. Terjadi kematian atau hilangnya biota yang hidup di sungai.
4. Air di sungai tempat pembuangan limbah menjadi tergenang akibat sampah.
5. Merusak pemandangan atau mengurangi nilai keindahan.
6. Mencemari sumur warga.

Cara mengatasi pencemaran air yang disebabkan oleh limbah pabrik antara lain :
1. Pabrik yang sedang melakukan proses produksi seharusnya mempunyai tempat pembuangan sampah khusus.
2. Tidak membuang limbah pabrik ke sungai ataupun laut.
3. Membuat Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk industri dan pabrik.
4. Pabrik atau industri seharusnya melakukan penyaringan limbah yang nantinya bersatu dengan air sungai bukanlah limbah jahat perusak ekosistem.
5. Penanaman pohon disekitar area pabrik, karena pohon mampu menyerap air dalam jumlah yang banyak.
Kesimpulan
Setiap proses produksi dari industri atau pabrik seharusnya harus memikirkan dampak negatif dari kegiatan atau proses produksi, dan jangan hanya memikirkan keuntungan yang banyak tetapi mengabaikan atau merusak keindahan, kenyamanan, kesehatan dari masyarakat banyak.

Daftar Pustaka





LIMBAH B3

PENGERTIAN
Bahan Berbahaya dan Beracun atau kerap disingkat B3 adalah zat atau bahan-bahan lain yang dapat membahayakan kesehatan atau kelangsungan hidup manusia, makhluk lain, dan atau lingkungan hidup pada umumnya. Karena sifat-sifatnya itu, bahan berbahaya dan beracun serta limbahnya memerlukan penanganan yang khusus.

Bahan-bahan tersebut selanjutnya dapat diklasifikasikan dalam kelompok-kelompok bahan yang bersifat:
  1. Mudah Meledak (Explosive), yaitu bahan yang pada suhu dan tekanan standar (25 0C, 760 mmHg) dapat meledak atau melalui reaksi kimia dan atau fisika dapat menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan tinggi yang dengan cepat dapat merusak lingkungan di sekitarnya. Bahan kimia eksplosif ada yang dibuat sengaja untuk tujuan peledakan atau bahan peledak seperti trinitrotoluena (TNT), nitrogliserin, dan amonium nitrat (NH4NO3).
  2. Pengoksidasi (Oxidizing) , yaitu bahan yang memiliki waktu pembakaran sama atau lebih pendek dari waktu pembakaran senyawa standar. Senyawa yang termasuk contoh bahan pengoksidasi (Oxidizing) adalah Hidrogen peroksida(H2O2), Kalium perklorat(KClO4).
  3. Sangat Mudah Sekali Menyala (Extremely Flammable) , yaitu B3 padatan dan  cairan yang memiliki titik nyala di bawah 0 derajat C dan titik didih lebih rendah atau sama dengan 35 0C.
  4. Sangat Mudah Menyala (Highly Flammable) , yaitu bahan yang memiliki titik nyala 0-210C.
  5. Mudah Menyala (Flammable) Contoh bahan yang mudah menyala adalah Alkohol(RCH2OH), natrium(Na), fosforus(P4).
  6. Amat Sangat Beracun (Extremely Toxic)
  7. Sangat Beracun (Highly Toxic)
  8. Beracun (Moderately Toxic) , yaitu bahan yang bersifat racun bagi manusia dan akan menyebabkan kematian atau sakit yang serius apabila masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan, kulit atau mulut. Contoh bahan yang beracun adalah Arsen triklorida(AsCl3), merkuri klorida(HgCl2).
  9. Berbahaya (Harmful) , yaitu bahan baik padatan maupun cairan ataupun gas yang jika terjadi kontak atau melalui inhalasi ataupun oral dapat menyebabkan bahaya terhadap kesehatan sampai tingkat tertentu.
  10. Korosif (Corrosive) , yaitu bahan yang menyebabkan iritasi pada kulit, menyebabkan proses pengkaratan pada lempeng baja SAE 1020 dengan laju korosi lebih besar dari 6,35 mm/tahun, atau mempunyai pH sama atau kurang dari 2 untuk B3 bersifat asam dan sama atau lebih besar dari 12,5 untuk yang bersifat basa.
  11. Bersifat Iritasi (Irritant) , yaitu bahan padat atau cair yang jika terjadi kontak secara langsung, dan apabila kontak tersebut terus menerus dengan kulit atau selaput lendir dapat menyebabkan peradangan.
  12. Berbahaya Bagi Lingkungan (Dangerous To The Environment) , yaitu bahaya yang ditimbulkan oleh suatu bahan seperti merusak lapisan ozon (misalnya CFC), persisten di lingkungan (misalnya PCBs), atau bahan tersebut dapat merusak lingkungan.
  13. Karsinogenik (Carcinogenic) , yaitu bahan yang dapat menyebabkan sel kanker.
  14. Teratogenik (Teratogenic) , yaitu bahan yang dapat mempengaruhi pembentukan dan pertumbuhan embrio.
  15.  Mutagenik (Mutagenic) , yaitu bahan yang menyebabkan perubahan kromosom (merubah genetika).
SISTEM PENGELOLAAN LIMBAH B3 
1. Metode Pengolahan Secara Kimia, Fisik dan Biologis
Dilakukan adalah Stabilisasi / Solidifikasi yaitu proses pengubahan bentuk fisik atau sifat kimia dengan menambahkan bahan pemikat atau senyawa pereaksi tertent uuntuk memperkecil atau membertasi kelarutan ,pergerakan atau penyebaran daya racun limbah sebelum dibuang.
2. Metode Biologi
Bioremidiasi adalah pengunaan bakteri dan microrganisme lain untuk mendegradasi atau mengurai limbah B3.
Fitoremidiasi adalah penggunaan tumbuhan untuk mengabsorsi dan mengakumulasi bahan-bahan beracun dari tanah.
3. Metode Pembuangan Limbah B3
Sumur Dalam Dengan menyemprotkan limbah tersebut melalui pipa kelapisan batuan yang dalam dibawah lapisan-lapisan air tanah dangkal maupun air tanah dalam.
Kolam Penyimpanann Limbah B3 cair dapat ditampung pada kolam-kolam yang memang dibuat untuk limbah B3
Lanfil Untuk B3Limbah B3 dapat ditimbun pada Lanfil namun harus dengan pengamanan yang tinggi.

UPAYA PENANGGULANGAN PENCEMARAN LIMBAH B3
Strategi Pengelolaan Limbah B3 :
1. Mempromosikan dan mengembangkan teknik minimisasi limbah melalui teknologi bersih, penggunaan kembali, perolehan kembali, dan daur ulang.
2. Meningkatkan kesadaran masyarakat.
3. Meningkatkan kerjasama antar instansi, baik di pusat, daerah maupun internasional, dalam pengelolaan limbah B3.
4. Melaksanakan dan mengembangkan peraturan perundang-undangan yang ada.
5.  Membangun Pusat-pusat Pengolahan Limbah Industri B3 (PPLI-B3) di wilayah yang padat industri.

Sumber:

pencemaran limbah manusia

PENCEMARAN AIR AKIBAT DARI LIMBAH MANUSIA








DEFINISI.
          
             Berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2013, ternyata  780 juta penduduk  (sekitar 11 persen dari populasi dunia) tidak memiliki akses terhadap air bersih (air minum). Sedangkan  2,5 miliar ( sekitar 40 persen dari populasi dunia)  ternyata tidak memiliki fasilitas sanitasi yang layak (tidak memiliki toilet, tidak memiliki toilet yang layak). Dari data tersebut sudah dapat diduga bahwa sebagian limbah manusia memasuki kawasan perairan tanpa mengalami pengolahan terlebih dahulu, sehingga terjadi pencemaran terhadap air permukaan dan air bawah tanah.
            Berdasarkan hasil penelitian, seorang yang normal diperkirakanmenghasilkan tinja rata-rata sehari 970 gram dan menghasilkanair seni 970 gram. Jadi bila penduduk Indonesia dewasa saat ini200 juta, maka setiap hari tinja yang dikeluarkan sekitar 194.000juta gram (194.000 ton). Oleh karena itu, bila pengelolaan tinjatidak baik, jelas penyakit akan mudah tersebar.                           Beberapapenyakit yang dapat disebarkan oleh tinja manusia antara laintipus, disentri, kolera, bermacam-macam cacing (gelang, kremi,tambang, pita), schistosomiasis, dan sebagainya.

DAMPAK YANG DI TIMBULKAN
WHO (2013) mengungkapkan bahwa pembuangan limbah manusia berpengaruh langsung terhadap kualitas kehidupannya, dan seringkali menyebabkan penyakit yang berhubungan dengan air seperti diare. Di seluruh dunia penyakit diare menimbulkan kematian 760.000 anak-anak dan balita dalam setiap tahunnya. Dalam hal ini WHO memprediksi bahwa penyakit yang berhubungan dengan air dapat menimbulkan kematian 135 juta orang sampai tahun 2020.

 CARA MENANGGULANGI LIMBAH MANUSIA

1. SEPTIC TANK
Suatu septic tank disebut sehat untuk daerah pedesaan apabila memenuhipersyaratan-persyaratan sebagai berikut:
1. Tidak mengotori permukaan tanah di sekeliling septic tank tersebut.
2. Tidak mengotori air permukaan di sekitarnya.
3. Tidak mengotori air tanah di sekitarnya.
4. Tidak dapat terjangkau oleh serangga terutama lalat dan kecoa dan binatang-binatang lainnya.
5. Tidak menimbulkan bau.
6. Mudah digunakan dan dipelihara (maintenance).

2. PENGOLAHAN MENJADI BIOGAS / BIOFUEL

Biogas merupakan gas yang dihasilkan oleh aktivitas anaerobik atau fermentasi dari bahan-bahan organik termasuk di antaranya; kotoran manusia dan hewan, limbah domestik (rumah tangga), sampah biodegradable atau setiap limbah organik yang biodegradable dalam kondisi anaerobik. Kandungan utama dalam biogas adalah metana dan karbon dioksida.
Biogas yang dihasilkan oleh aktivitas anaerobik sangat populer digunakan untuk mengolah limbah biodegradable karena bahan bakar dapat dihasilkan sambil Mengurai dan sekaligus mengurangi volume limbah buangan. Metana dalam biogas, bila terbakar akan relatif lebih bersih daripada batu bara, dan menghasilkan energi yang lebih besar dengan emisi karbon dioksida yang lebih sedikit. Pemanfaatan biogas memegang peranan penting dalam manajemen limbah karena metana merupakan gas rumah kaca yang lebih berbahaya dalam pemanasan global bila dibandingkan dengan karbon dioksida. Karbon dalam biogas merupakan karbon yang diambil dari atmosfer oleh fotosintesis tanaman, sehingga bila dilepaskan lagi ke atmosfer tidak akan menambah jumlah karbon di atmosfer bila dibandingkan dengan pembakaran bahan bakar fosil.


MANFAAT BIOGAS

Nilai kalori dari 1 meter kubik Biogas sekitar 6.000 watt jam yang setara dengan setengah liter minyak diesel. Oleh karena itu Biogas sangat cocok digunakan sebagai bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan pengganti minyak tanahLPGbutana, batu bara, maupun bahan-bahan lain yang berasal dari fosil.

Limbah biogas, yaitu kotoran yang telah hilang gasnya (slurry) merupakan pupuk organik yang sangat kaya akan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh tanaman. Bahkan, unsur-unsur tertentu seperti protein, selulose, lignin, dan lain-lain tidak bisa digantikan oleh pupuk kimia. Pupuk organik dari biogas telah dicobakan pada tanaman jagung, bawang merah, dan padi.



DAFTAR PUSTAKA

Pencemaran Air Oleh Deterjen, Dampak dan Penyebabnya.



 

 Pencemaran Air Akibat Limbah Rumah Tangga Oleh Deterjen

Pencemaran air menurut surat Keputusan Mentri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor: KEP-02/MENKLH/1/1988 Tentang Penetapan Baku Mutu Lingkungan adalah: masuk atau dimasukkan makhluk hidup, zat,energi, dan atau komponen lain ke dalam air dan atau berubahnya tatanan air oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam, sehingga kualitas air turun sampai ketingkat tertentu yang menyebabkan air menjadi atau sudah tidak berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya.
Pencemaran air adalah suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air seperti danau, sungai, lautan dan air tanah akibat aktivitas manusia. Walaupun fenomena alam seperti gunung berapi, badai, gempa bumi dll juga mengakibatkan perubahan yang besar terhadap kualitas air, hal ini tidak dianggap sebagai pencemaran.

Deterjen
Deterjen merupakan produk teknologi yang strategis, karena telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat modern mulai rumah tangga sampai industri. Di sisi lain, detergen harus memenuhi sejumlah persyaratan seperti fungsi jangka pendek (short therm function) atau daya kerja cepat, mampu bereaksi pada suhu rendah, dampak lingkungan yang rendah dan harga yang terjangkau (Jurado et al, 2006)
Dibandingkan dengan produk terdahulu, sabun, deterjen mempunyai keunggulan antara lain mempunyai daya cuci yang lebih baik serta tidak terpengaruh oleh kesadahan air. Pada umumnya detergen bersifat surfaktan anionik yang berasal dari derivat minyak nabati atau minyak bumi         (Chantraine F et all, 2009).
Menurut Asosiasi Pengusaha Deterjen Indonesia (APEDI), surfaktan anionik yang digunakan di Indonesia saat ini adalah alkyl benzene sulfonate rantai bercabang (ABS) sebesar 40% dan alkyl benzene sulfonate rantai lurus (LAS) sebesar 60%. Alasan penggunaan  ABS antara lain karena harganya murah, stabil dalam bentuk krim pasta dan busanya melimpah. Dibandingkan dengan LAS, ABS lebih sukar diuraikan secara alami sehingga pada banyak negara di dunia penggunaan ABS telah dilarang dan diganti dengan LAS. Sedangkan di Indonesia, peraturan mengenai larangan penggunaan ABS belum ada. Beberapa alasan masih digunakannya ABS dalam produk deterjen, antara lain karena harganya murah, kestabilannya dalam bentuk krim pasta dan busanya melimpah (Anonimous, 2009).


Macam-macam Jenis Deterjen.

Ada dua jenis detergen sebagai berikut.

  1. Detergen keras: sukar diuraikan oleh bakteri sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan.
  2. Detergen lunak: dapat diuraikan oleh bakteri sehingga tidak terlalu menimbulkan pencemaran.

Komposisi Bahan pembuat deterjen.


Adapun bahan pembuat deterjen adalah sebagai berikut.

a. Bahan penurun tegangan permukaan 

Bahan penurun tegangan permukaan digunakan untuk memudahkan mengikat kotoran dan menimbulkan busa, antara lain sebagain berikut.

  1. Alkil Benzen Sulfonat (ABS) + NaOH menghasilkan Natrium Alkil Benzen Sufonat (detergen keras).
  2. Lauril Asam Sulfat (LAS) + NaOH menghasilkan Natrium Lauril Sulfat (detergen lunak)


b. Bahan penunjang


Bahan penunjang pada deterjen digunakan STPP (Sodium Tri Poli Phosphat/Natrium Tri Poli Phosphat) berfungsi menunjang kerja bahan penurun tegangan permukaan.

c. Bahan pengisi


Bahan pengisi deterjen digunakan untuk memperbesar volume materi.

d. Bahan pengikat


Sebagai bahan pengikat digunakan air, yaitu untuk mencampurkan semua bahan (media).

e. Bahan tambahan


Sebagai bahan tambahan digunakan CMC (Carboxy Metyl Cellulose), agar kotoran yang terikat deterjen tidak melekat kembali ke bahan yang dicuci.

f. Bahan pewangi dan pewarna


Bahan pewangi dan pewarna digunakan agar detergen mempunyai warna dan aroma yang spesifik untuk membedakan dengan merk lain dan sesuai dengan warna dan aroma yang diminati konsumen.


Bahan – bahan yang umum terkandung pada deterjen adalah :
1.            Surfaktan (surface active agent) merupakan zat aktif permukaan yang mempunyai ujung berbeda yaitu hydrophile (suka air) dan hydrophobe (suka lemak). Bahan aktif ini berfungsi menurunkan tegangan permukaan air sehingga dapat melepaskan kotoran yang menempel pada permukaan bahan. Surfaktant terbagi atas jenis anionic (Alkyl Benzene Sulfonate/ABS, Linier Alkyl Benzene Sulfonate/LAS, Alpha Olein Sulfonate/AOS), sedangkan jenis kedua bersifat kationik (Garam Ammonium) dan jenis yang ketiga bersifat non ionic (Nonyl phenol polyethoxyle) serta Amphoterik (Acyl Ethylenediamines).
2.            Builder (Permbentuk) berfungsi meningkatkan efisiensi pencuci dari surfaktan dengan cara menonaktifkan mineral penyebab kesadahan air, dapat berupa Phosphates (Sodium Tri Poly Phosphate/STPP), Asetat (Nitril Tri Acetate/NTA, Ethylene Diamine Tetra Acetate/EDTA), Silikat (Zeolit),  dan Sitrat (asam sitrat).
3.            Filler (pengisi) adalah bahan tambahan deterjen yang tidak mempunyai kemampuan meningkatkan daya cuci, tetapi menambah kuantitas atau dapat memadatkan dan memantapkan sehingga dapat menurunkan harga, misal Sodium sulfate
4.             Additives adalah bahan suplemen/ tambahan untuk membuat produk lebih menarik, misalnya pewangi, pelarut, pemutih, pewarna dan sebagainya yang tidak berhubungan langsung dengan daya cuci deterjen. Additives ditambahkan lebih untuk maksud komersialisasi produk. Contohnya enzyme, borax, sodium chloride, Carboxy Methyl Cellulose (CMC) dipakai agar kotoran yang telah dibawa oleh detergent ke dalam larutan tidak kembali ke bahan cucian pada waktu mencuci (anti Redeposisi). Wangi – wangian atau parfum dipakai agar cucian berbau harum, sedangkan air sebagai bahan pengikat.

Tehnik Pengolahan air secara umum dapat digolongkan menjadi :

1. Pengolahan Fisis
Pengolahan air yang bertujuan untuk mengurangi atau menghilangkan kotoran-kotoran yang kasar, penyisihan lumpur dan pasir serta mengurangi zat-zat organik dalam air yang akan diolah.
Contoh : filterisasi, evaporasi, sekrining, sentrifugasi, flotasi, RO, dan sebagainya.

2. Pengolahan Kimiawi
Proses pengolahan dengan penambahan bahan kimia tertentu dengan tujuan untuk memperbaiki kualitas air.
Contoh : koagulasi, ion exchange resin, khlorinasi, ozonasi, dan sebagainya.

3. Pengolahan Biologis
Bertujuan menghilangkan atau mengurangi kandungan senyawa organik atau anorganik. Fungsi ini dapat dicapai dengan bantuan aktifitas mikroorganisma gabungan (mixed culture) yang heterotrofik.
Mikroorganisma mengkonsumsi bahan-bahan organik untuk membentuk biomassa sel baru serta zat-zat organik, dan memanfaatkan energi yang dihasilkan dari reaksi oksidasi untuk metabolismenya
Contoh : lumpur aktif, filter trickling, kolam oksidasi, fermentasi metan, dekomposisi materi toksik, denitrifikasi, dan sebagainya.

Sumber Penyebab Terjadinya Pencemaran Air.
Pada dasarnya Bahan Pencemar Air dapat dikelompokkan menjadi:
a.       Sampah yang dalam proses penguraiannya memerlukan oksigen yaitu sampah yang mengandung senyawa organik,
b.      Bahan pencemar penyebab terjadinya penyakit, yaitu bahan pencemar yang mengandung virus dan bakteri misal bakteri coli yang dapat menyebabkan penyakit saluran pencernaan.
c.       Bahan pencemar senyawa anorganik/mineral misalnya logam-logam berat seperti merkuri (Hg), kadmium (Cd), Timah hitam (pb), tembaga (Cu), garam-garam anorganik.
d.      Bahan pencemar organik yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme yaitu senyawa organik berasal dari pestisida, herbisida, polimer seperti plastik, deterjen, serat sintetis, limbah industri dan limbah minyak.
e.       Bahan pencemar berupa makanan tumbuh-tumbuhan seperti senyawa nitrat, senyawa fosfat dapat menyebabkan tumbuhnya alga (ganggang) dengan pesat sehingga menutupi permukaan air.
f.       Bahan pencemar berupa zat radioaktif, dapat menyebabkan penyakit kanker, merusak sel dan jaringan tubuh lainnya. Bahan pencemar ini berasal dari limbah PLTN dan dari percobaan-percobaan nuklir lainnya.

Pengolahan Limbah Deterjen.
Cara yang paling sederhana mengatasi pencemaran limbah deterjen adalah dengan menanami selokan dengan tanaman air yang bisa menyerap zat pencemar. Tanaman yang bisa digunakan, antara lain jaringao, Pontederia cordata (bunga ungu), lidi air, futoy ruas, Thypa angustifolia (bunga coklat), melati air, dan lili air. Cara ini sangat mudah, tapi hanya bisa menyerap sedikit zat pencemar dan tak bisa menyaring lemak dan sampah hasil dapur yang ikut terbuang ke selokan.
Cara yang lebih efektif adalah membuat instalasi pengolahan yang sering disebut dengan sistem pengolahan air limbah (SPAL). Caranya gampang; bahan yang dibutuhkan adalah bahan yang murah meriah sehingga rasanya tak sulit diterapkan di rumah Anda. Instalasi SPAL terdiri dari dua bagian, yaitu bak pengumpul dan tangki resapan. Di dalam bak pengumpul terdapat ruang untuk menangkap sampah yang dilengkapi dengan kasa 1 cm persegi, ruang untuk penangkap lemak, dan ruang untuk menangkap pasir.
Tangki resapan dibuat lebih rendah dari bak pengumpul agar air dapat mengalir lancar. Di dalam tangki resapan ini terdapat arang dan batu koral yang berfungsi untuk menyaring zat-zat pencemar yang ada dalam limbah deterjen.
Cara kerja :
Air bekas cucian atau bekas mandi dialirkan ke ruang penangkap sampah yang telah dilengkapi dengan saringan di bagian dasarnya. Sampah akan tersaring dan air akan mengalir masuk ke ruang di bawahnya. Jika air mengandung pasir, pasir akan mengendap di dasar ruang ini, sedangkan lapisan minyak-karena berat jenisnya lebih ringan-akan mengambang di ruang penangkap lemak.

Air yang telah bebas dari pasir, sampah, dan lemak akan mengalir ke pipa yang berada di tengah-tengah tangki resapan. Bagian bawah pipa tersebut diberi lubang sehingga air akan keluar dari bagian bawah. Sebelum air menuju ke saluran pembuangan, air akan melewati penyaring berupa batu koral dan batok kelapa.

Dampak pencemaran deterjen bagi kesehatan dan lingkungan.
 
Risiko deterjen yang paling ringan pada manusia berupa iritasi (panas, gatal bahkan mengelupas) pada kulit terutama di daerah yang bersentuhan langsung dengan produk. Hal ini disebabkan karena kebanyakan produk deterjen yang beredar saat ini memiliki derajat keasaman (pH) tinggi. Dalam kondisi iritasi/terluka, penggunaan produk penghalus apalagi yang mengandung pewangi, justru akan membuat iritasi kulit semakin parah. Dalam jangka panjang, air minum yang telah terkontaminasi limbah deterjen berpotensi sebagai salah satu penyebab penyakit kanker (karsinogenik). Proses penguraian deterjen akan menghasilkan sisa benzena yang apabila bereaksi dengan klor akan membentuk senyawa klorobenzena yang sangat berbahaya. Kontak benzena dan klor sangat mungkin terjadi pada pengolahan air minum, mengingat digunakannya kaporit (dimana di dalamnya terkandung klor) sebagai pembunuh kuman pada proses klorinasi. Saat ini, instalasi pengolahan air milik PAM dan juga instalasi pengolahan air limbah industri belum mempunyai teknologi yang mampu mengolah limbah deterjen secara sempurna.
Penggunaan deterjen secara besar-besaran juga meningkatkan senyawa fosfat pada air sungai atau danau. Fosfat ini merangsang pertumbuhan ganggang dan eceng gondok. Pertumbuhan ganggang dan eceng gondok yang tidak terkendali menyebabkan permukaan air danau atau sungai tertutup sehingga menghalangi masuknya cahaya matahari dan mengakibatkan terhambatnya proses fotosintesis. Jika tumbuhan air ini mati, akan terjadi proses pembusukan yang menghabiskan persediaan oksigen dan pengendapan bahan-bahan yang menyebabkan pendangkalan.

Kerugian lain dari penggunaan deterjen adalah terjadinya proses eutrofikasi di perairan. Ini terjadi karena penggunaan deterjen dengan kandungan fosfat tinggi. Eutrofikasi menimbulkan pertumbuhan tak terkendali bagi eceng gondok dan menyebabkan pendangkalan sungai. Sebaliknya deterjen dengan rendah fosfat beresiko menyebabkan iritasi pada tangan dan kaustik karena diketahui lebih bersifat alkalis dengan tingkat keasaman (pH) antara 10 – 12.


Referensi :