.

Tampilkan postingan dengan label @S20-Seisha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @S20-Seisha. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 November 2020

Pencemaran Udara


 

ABSTRAK

     Peningkatan aktivitas industri dan transportasi menjadi pendorong terjadinya potensi pencemaran udara dan berdampak terhadap kesehatan masyarakat, terutama di wilayah sekitar kawasan industri dan kota besar. Faktor lain yang secara tidak langsung mempengaruhi terjadinya pencemaran udara adalah pertumbuhan penduduk dan kecepatan urbanisasi pada tingkat tinggi, pembangunan tata ruang yang tidak seimbang, dan tingkat kesadaran masyarakat yang rendah terhadap pencemaran udara. Pencemaran udara merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang serius di Indonesia saat ini, sejalan dengan semakin meningkatnya jumlah kendaraan bermotor dan peningkatan ekonomi transportasi. Diperlukan kesadaran masyarakat akan pembatasan penggunaan kendaraan pribadi dan didukung dengan penyediaan angkutan massal yang baik dan nyaman oleh pemerintah akan menciptakan lingkungan udara yang sehat bagi manusia Indonesia

Kata kunci: Transportasi, Pencemaran udara, Industri

PENDAHULUAN

     Pencemaran udara adalah masuknya atau tercampurnya unsur-unsur berbahaya ke dalam atmosfir yang dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan sehingga menurunkan kualitas lingkungan. Dengan demikian akan terjadi gangguan pada kesehatan manusia. Terdapat dua jenis sumber pencemaran udara, yang pertama adalah pencemaran akibat sumber alamiah (natural sources) seperti letusan gunung berapi dan yang kedua berasal dari kegiatan manusia (anthropogenic sources) seperti yang berasal dari transportasi, emisi pabrik, dan lain-lain.

     Dengan kemajuan ekonomi yang sangat pesat mendorong semakin bertambahnya kebutuhan akan transportasi, di lain sisi lingkungan alam yang mendukung hajat hidup manusia semakin terancam kualitasnya, sehingga efek negatif polusi udara terhadap kehidupan manusia semakin hari semakin bertambah. Penurunan kualitas udara yang terus menerus terjadi selama beberapa tahun terakhir menunjukkan kepada kita bahwa betapa pentingnya digalakkan upaya pengurangan emisi dengan cara penyuluhan kepada industriawan maupun masyarakat ataupun dengan cara mengadakan penelitian bagi penerapan teknologi pengurangan emisi.

PERMASALAHAN

1. Apa saja jenis pencemar udara?

2. Apa saja dampak akibat pencemaran udara terhadap kehidupan dan lingkungan?

3. Apa saja upaya yang dilakukan untuk mengurangi dampak pencemaran lingkungan?

PEMBAHASAN

A. Jenis Pencemar Udara

     Zat-zat pencemar udara utama yang berasal dari kegiatan manusia adalah sebagai berikut :

Karbon Monoksida (CO)

     Gas buang kendaraan bermotor merupakan sumber utama bagi karbon monoksida di berbagai perkotaan. Data mengungkapkan bahwa 60%-70% pencemaran udara di Indonesia disebabkan karena benda bergerak atau transportasi umum yang berbahan bakar solar terutama berasal dari Metromini. Karbon monoksida yang meningkat di berbagai perkotaan dapat mengakibatkan turunnya berat janin dan meningkatkan jumlah kematian bayi serta kerusakan otak. Karena itu strategi penurunan kadar karbon monoksida akan tergantung pada pengendalian emisi seperti pengggunaan bahan katalis yang mengubah bahan karbon monoksida menjadi karbon dioksida dan penggunaan bahan bakar terbarukan yang rendah polusi bagi kendaraan bermotor.

Nitrogen Oksida (NOx)

     Nitrogen oksida yang ada di udara yang dihirup oleh manusia dapat menyebabkan kerusakan paru-paru. Setelah bereaksi dengan atmosfir zat ini membentuk partikel-partikel nitrat yang amat halus yang dapat menembus bagian terdalam paru-paru. Selain itu zat oksida ini jika bereaksi dengan asap bensin yang tidak terbakar dengan sempurna dan zat hidrokarbon lain akan membentuk ozon rendah atau kabut berawan coklat kemerahan yang menyelimuti sebagian besar kota di dunia.

HydroCarbon (HC)

     Emisi Hidrokarbon (HC) terbentuk dari bermacam-macam mesin yang merupakan sumber pencemar. Penyebabnya adalah karena tidak terbakarnya bahan bakar secara sempurna dan tidak terbakarnya minyak pelumas silinder. Emisi HC pada bahan bakar HFO yang biasa digunakan pada mesin-mesin diesel besar akan lebih sedikit jika dibandingkan dengan mesin diesel yang berbahan bakar Diesel Oil (DO). Emisi HC ini berbentuk gas methan (CH4). Jenis emisi ini dapat menyebabkan leukemia dan kanker.

Partikulat Matter (PM)

     Partikel debu dalam emisi gas buang terdiri dari bermacam-macam komponen. Bukan hanya berbentuk padatan tapi juga berbentuk cairan yang mengendap dalam partikel debu. Pada proses pembakaran debu terbentuk dari pemecahan unsur hidrokarbon dan setelah proses oksidasi. Dalam debu tersebut terkandung debu sendiri dan beberapa kandungan metal oksida. Beberapa unsur kandungan partikulat adalah karbon, SOF (Soluble Organic Fraction), debu, SO4, dan H2O. Sebagian benda partikulat keluar dari cerobong pabrik sebagai asap hitam tebal, tetapi yang paling berbahaya adalah butiran-butiran halus sehingga dapat menembus bagian terdalam paru-paru. Diketahui juga bahwa di beberapa kota besar di dunia perubahan menjadi partikel sulfat di atmosfir banyak disebabkan karena proses oksida oleh molekul sulfur.

B. Dampak Terjadinya Pencemaran Udara Terhadap Kehidupan dan Lingkungan

     Pembangunan transportasi yang terus dikembangkan menyusul dengan permintaan pasar, ternyata, telah mendorong terjadinya bencana pembangunan. Saat ini, kita semua telah mengetahui bahwa pengaruh polusi udara juga dapat menyebabkan pemanasan efek rumah kaca (ERK) bakal menimbulkan pemanasan global atau (global warming) (Sudrajad, 2006).

     Tentunya, hal ini harus merupakan sebuah peringatan kepada para pemilik kebijakan industri dan kebijakan transportasi agar melihat kepada masalah udara di sekitarnya. Proses pembangunan yang ada di Indonesia dalam konteks transportasi, ternyata, telah menimbulkan bencana pembangunan yang pada akhirnya bermuara menjadi permasalahan ekologis. Akibatnya, udara sebagai salah satunya commons yang open access menjadi berbahaya bagi kesehatan manusia dan alam sekitarnya.

C. Upaya untuk Mengurangi Dampak Pencemaran Udara

     Upaya pengendalian pencemaran udara akibat kendaraan bermotor yang mencakup upaya-upaya pengendalian baik langsung maupun tidak langsung, akan dapat menurunkan tingkat emisi dari kendaraan bermotor secara efektif antara lain (Sudrajad, 2006):

1. Mengurangi jumlah mobil lalu lalang. Misalnya dengan jalan kaki, naik sepeda, kendaraan umum, atau naik satu kendaraan pribadi bersama temanteman (car pooling).

2. Selalu merawat mobil dengan saksama agar tidak boros bahan bakar dan asapnya tidak mengotori udara.

3. Meminimalkan pemakaian AC. Pilihlah AC non-CFC dan hemat energi.

4. Memilih bensin yang bebas timbal (unleaded fuel).

KESIMPULAN

     Berdasarkan pernyataan diatas, maka polusi udara merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang serius di Indonesia saat ini, sejalan dengan semakin meningkatnya jumlah kendaraan bermotor dan peningkatan ekonomi transportasi. Solusi untuk mengatasi polusi udara kota, terutama ditujukan pada pembenahan sektor transportasi dengan tanpa mengabaikan sektor-sektor lain, maka, tidak ada kata lain kecuali harus mau belajar dari kota-kota besar lain di dunia yang telah berhasil menurunkan polusi udara dan angka kesakitan serta kematian yang diakibatkan karenanya. Di antaranya, dengan pembatasan izin bagi angkutan umum kecil, dengan memperbanyak kendaraan angkutan massal; seperti bus dan kereta api, diperbanyak. Kemudian, kontrol terhadap jumlah kendaraan pribadi juga dapat dilakukan seiring dengan perbaikan pada sejumlah angkutan umum.

DAFTAR PUSTAKA
Badan Pengendalian Dampak Lingkungan, Sumber dan Standar Kesehatan Emisi Gas Buang, 2002.

Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Jakarta, 2013. Pengertian Pencemaran Udara.

Agustin, I. Analisa Hubungan Jumlah Kendaraan dan Faktor Meteorologi (suhu, kelembaban udara dan kecepatan angin) terhadap Peningkatan Konsentrasi SO2 pada Persimpangan Jalan kota Semarang. Jurnal Program Studi Teknik Lingkungan, FT UNDIP. 2013.

Lestari, F. Sampling dan Pengukuran Kontaminan di Udara. Jakarta: EGC: 2010

Senin, 02 November 2020

Teknologi Mempengaruhi Industri Farmasi

 




ABSTRAK

     Teknologi yang semakin berkembang membuat industri farmasi harus menghadapi tantangan dan permasalahan yang semakin kompleks. Peran teknologi sangat mendukung industri farmasi karena membuat prosesnya semakin efisien. Zaman dahulu dalam pengisian kapsul masih menggunakan tenaga manusia secara manual, tetapi dengan adanya teknologi terciptalah mesin pengisi kapsul otomatis atau lebih dikenal dengan mesin filling kapsul yang menjamin akurasi dan presisi tingkat tinggi. Mesin pengisian kapsul otomatis sangat dapat diandalkan karena sesuai dengan standar industri, produk yang aman, dan berkualitas tinggi. Ini menjadikannya pilihan yang sempurna bahkan untuk aplikasi pengisian kapsul yang paling menuntut sekalipun seperti dosis mikro.

Kata kunci: Filling kapsul, Industri farmasi, Teknologi

PENDAHULUAN

     Dengan kemajuan zaman dan teknologi, segala aktivitas yang berurusan dengan manusia menjadi lebih inovatif dan maju, termasuk untuk industri farmasi. Menurut definisi yang tercantum dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1799/MENKES/PER/XII/2010, industri farmasi adalah badan usaha yang memiliki izin dari Menteri Kesehatan untuk melakukan kegiatan pembuatan obat atau bahan obat. Indonesia sendiri memiliki pedoman CPOB untuk memproduksi obat. CPOB harus dilakukan oleh industri farmasi dengan mengikuti seluruh proses produksi. Hal ini terdapat dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 43/Menkes/SK/II/1988 tentang Cara Produksi Obat yang Baik. Pedoman CPOB bertujuan untuk menjamin obat dibuat secara konsisten, memenuhi persyaratan yang ditetapkan dan sesuai dengan tujuan penggunaanya. CPOB mencakup seluruh aspek produksi dan pengendalian mutu. Mutu obat tergantung pada bahan awal, bahan pengemas, proses produksi, pengendalian mutu, bangunan, peralatan yang dipakai, serta personel yang terlibat.

     Berkembangnya teknologi membuat peralatan yang dipakai dalam proses produksi menjadi semakin canggih. Jika dahulu pengisian kapsul dilakukan secara manual oleh manusia, saat ini dengan memanfaatkan teknologi yang ada, pengisian kapsul tersebut dilakukan oleh mesin pengisi kapsul otomatis atau lebih dikenal dengan sebutan mesin filling kapsul. Mesin filling kapsul dapat membuat 25.000 kapsul perjam. Tentu saja jumlah tersebut lebih banyak jika dibandingkan dengan dilakukan secara manual. Selain itu, kelebihan menggunakan mesin filling kapsul ini adalah dapat meningkatkan efektivitas, mengisi secara akurat, dan sesuai dengan peraturan yang berlaku di masing – masing industri farmasi.

PERMASALAHAN

     Banyak industri farmasi yang belum berani menggunakan mesin karena biaya investasinya sangat besar. Selain itu, dalam proses produksi pasti akan kecacatan dalam proses pembuatan kapsul. Cacat yang terjadi berupa lepasnya bagian badan dan tutup kapsul, kapsul berlekuk, kapsul sobek, dan kapsul yang tidak menutup secara sempurna. Tentunya hal ini akan mengurangi keuntungan perusahaan serta menambah beban operator, karena kapsul yang cacat harus di proses ulang. Dengan adanya permasalahan tersebut, terdapat kekurangan pada perkembangan teknologi dalam industri farmasi. Namun, permasalahan tersebut pasti dapat dikurangi jumlahnya jika digunakan material yang berkualitas, peralatan atau mesin yang dirawat, dan teknik – teknik atau metode yang sesuai dengan proses pengisian kapsul.

PEMBAHASAN

1. Material

     Dalam hal material, kapsul bisa mengalami kecacatan karena kualitas kapsul yang jelek. Misalnya kapsul mudah berlekuk dan ukurannya yang terlalu besar. Cangkang kapsul yang mudah berlekuk akan membuat ujung kapsul tidak sempurna. Jika dalam proses produksi menggunakan bahan material yang berkualitas, kecacatan dalam pembuatan kapsul dapat diatasi dengan mudah.

2. Peralatan

     Peralatan atau mesin sering kali rusak karena bagian penekan yang tidak sesuai dengan bentuk kapsul bagian ujung (bentuk kapsul cembung) serta lubang pada cetakan yang tidak presisi. Lubang yang rusak tersebut terjadi akibat kesalahan pengeringan. Hal ini diakibatkan karena tidak ada prosedur tertulis mengenai cara pengeringan dan alat yang digunakan. Oleh karena itu, peralatan atau mesin harus ditangani dengan cara yang benar. Salah satunya dengan cara setelah pekerjaan selesai setiap hari, sisa obat dalam mesin dan lubang cetakan harus dibersihkan, jaga seluruh mesin bersih dan higienis, dan hindari mencuci inang dengan air. Jika cetakan pada mesin perlu dibersihkan, sekrup dapat dilonggarkan dan dapat diturunkan agar mudah dipasang.

3. Metode

     Metode yang digunakan dalam pembuatan kapsul haruslah sesuai dengan CPOB yang telah ditentukan agar mendapatkan kapsul dengan mutu yang terbaik.



KESIMPULAN

     Perkembangan teknologi selalu diibaratkan dengan kesuksesan dalam hasil akhirnya. Tentu saja, dengan adanya teknologi pekerjaan akan semakin mudah, termasuk dalam industri farmasi. Dengan adanya mesin pengisian kapsul otomatis atau filling kapsul, membuat waktu semakin efisien dan mendapatkan hasil yang lebih banyak jika dibandingkan dengan cara manual. Tentu saja, hal tersebut harus didukung dengan material yang berkualitas, peralatan atau mesin yang selalu dirawat, dibersihkan, maupun diperbaiki agar mesin dapat melakukan pekerjaannya dengan maksimal, serta penggunaan yang baik dan benar sesuai dengan CPOB yang sudah ditentukan. Jika semua hal tersebut dilakukan, akan mendapatkan hasil akhir yang baik dan berkualitas. Dengan ini, bisa diambil kesimpulan bahwa teknologi yang semakin berkembang dapat memberikan kualitas yang baik jika dalam prosesnya dilakukan dengan baik pula. Perkembangan teknologi ini harus dimanfaatkan dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Badan POM. 2012. Pedoman Cara Pembuatan Obat Yang Baik. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan RI.

Sampurno. 2007. Kapabilitas teknologi dan penguatan R&D: tantangan industri farmasi Indonesia. majalah Farmasi Indonesia. Yogyakarta.

Ansel, H.C.. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Edisi keempat, 255-271, 607- 608,700. Jakarta : UI Press.

Jumat, 09 Oktober 2020

 PENGELOLAAN LIMBAH KERTAS SEBAGAI BAHAN BAKU BIOETANOL


Oleh : Seisha Milanisti (@S20-Seisha)

ABSTRAK

Meningkatnya limbah padat di Indonesia disebabkan oleh peningkatan penggunaan kertas. Kertas mengandung banyak selulosa. Selulosa termasuk dalam sumber daya yang dapat diperbaharui sebagai bahan baku bioetanol. Pemanfaatan limbah kertas untuk pembuatan bioetanol diawali dengan proses pretreatment untuk delignifikasi. Hidrolisis kertas dilakukan secara enzimatis untuk mengurai selulosa pada limbah kertas dengan menggunakan enzim selulase menjadi glukosa. Hidrolisis enzimatis sangat penting dilakukan karena dapat meningkatkan kadar glukosa hingga 90%. Dengan meningkatnya kadar glukosa diharapkan akan meningkatkan juga kadar dan produksi etanol yang dihasilkan dari proses fermentasi dengan menambahkan ragi sehingga terdapat bakteri Saccaromyces cerevisiae. Untuk memisahkan air dan etanol dari proses fermentasi maka perlu dilakukan distalasi. Uji karakterisasi bioetanol menggunakan Gas Chromatography/Mass Spectroscopy (GC-MS) dan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). Pengukuran kadar bioetanol menggunakan Gas Chromatography (GC). Dari artikel ilmiah ini menunjukkan bahwa (1) kertas dapat digunakan sebagai bahan pembuatan bioetanol generasi kedua dengan proses pretreatment, hidrolisis enzimatis, fermentasi, dan distalasi (2) upaya pemecahan masalah pencemaran lingkungan karena kertas.

 

Kata Kunci : Kertas, Selulosa, Bioetanol, Hidrolisis enzimatis


 

PENDAHULUAN

            Kertas dibuat dari kayu yang berasal dari pohon kayu lunak seperti cemara dan pinus, atau dari pohon kayu keras seperti kayu putih, akasia dan aspen. Kertas dibuat dari pengolahan selulosa atau serat kayu, yang dihasilkan dari bubur kertas atau pulp. Kertas menjadi salah satu kebutuhan penting dalam kegiatan sehari-hari sehingga pemakaian kertas setiap harinya meningkat. Kebutuhan kertas yang sangat besar dapat mendorong produksi industri kertas. Selain itu, kebutuhan kertas yang sangat besar dapat menimbulkan masalah-masalah lain diantaranya adalah masalah lingkungan yaitu penebangan pohon di hutan, pencemaran air dan udara dan juga sampah kertas yang menumpuk. Kertas merupakan salah satu unsur terbesar dari limbah padat.

                Di dalam limbah kertas terdapat senyawa lignoselulosa yang bisa digunakan sebagai bahan baku pembuatan bioetanol. Bioetanol adalah etanol yang diperoleh dari hasil olahan fermentasi bahan-bahan yang mengandung komponen pati, gula, atau serat selulosa yang bisa menjadi bahan bakar utama yang digunakan sebagai pengganti bensin untuk kendaraan. Seperti yang diketahui, bahan bakar minyak merupakan salah satu masalah global karena bahan baku yang digunakan berasal dari fosil yang tidak bisa diperbaharui.

Pengolahan lignoselulosa pada kertas menjadi bahan baku bioetanol harus melalui beberapa proses, antara lain  pretreatment dengan dilignifikasi untuk menghilangkan kandungan lignin. Proses selanjutnya adalah mengkonversi selulosa menjadi glukosa dengan hidrolisis menggunakan enzim selulase. Glukosa yang didapatkan pada proses hidrolisis, kemudian difermentasi. Proses fermentasi dilakukan dengan penambahan ragi roti dan ragi tape (Saccharomyces cerevisiae), salah satu spesies ragi yang dikenal mempunyai daya konversi gula menjadi etanol. Dalam hasil fermentasi masih terdapat air yang dapat mengganggu kadar etanol yang diperoleh maka dilakukan distilasi untuk memisahkan air dan etanol tersebut.

 

METODE

A.  Pembuatan Bioetanol

                Pengolahan bioetanol dari limbah kertas memiliki sedikit perbedaan dengan bahan yang lainnya karena dalam proses pengolahannya, kertas memiliki kandungan lignin yang harus dihilangkan terlebih dahulu. Proses pengolahan kertas menjadi bioetanol antara lain adalah :

1. Pretreatment

Lignin yang terdapat pada kertas merupakan serabut yang menyelubungi selulosa. Lignin tersebut harus dihilangkan agar bisa menjadikan kertas sebagai bioetanol. Proses delignifikasi dilakukan untuk menghilangkan kandungan lingnin dengan menggunakan proses kimiawi yaitu senyawa NaOH sebagai katalis. Proses pretreatment bertujuan untuk memecah struktur lignin dan mengganggu struktur kristal selulosa sehingga cairan asam atau enzim dapat dengan mudah mengakses dan menghidrolisis selulosa.

     2. Hidrolisis

Hidrolisis merupakan reaksi kimia yang memecah molekul menjadi dua bagian dengan penambahan molekul air (H2O), dengan tujuan untuk mengkonversi polisakarida menjadi monomer-monomer sederhana, yaitu untuk mengkonversi selulosa menjadi glukosa. Dalam proses hidrolisis dapat dilakukan dengan dua cara yaitu hidrolisis asam dan hidrolisis dengan enzimatik. Hidrolisis asam dapat dilakukan dengan penambahan H2SO4 atau HCL. Hidrolisis enzimatik adalah proses konversi selulosa dan hemiselulosa menjadi gula reduksi menggunakan enzim. Enzim yang digunakan untuk mengkonversi hemiselulosa menjadi glukosa adalah enzim xylanase sedangkan enzim yang digunakan untuk mengkonversi selulosa menjadi glukosa menggunakan enzim selulase.

Pada permasalahan limbah kertas menjadi bioetanol maka solusinya adalah menggunakan proses hidrolisis enzimatik, dimana aplikasi proses ini menggunakan enzim yang secara sederhana dilakukan dengan mengganti tahap hidrolisis asam dengan tahap hidrolisis enzim. Keuntungan hidrolisis dengan enzim dapat mengurangi penggunaan asam sehingga dapat mengurangi efek negatif terhadap lingkungan. Hidrolisis sempurna selulosa akan menghasilkan monomer selulosa yaitu glukosa dan hidrolisis tak sempurna akan menghasilkan disakarida dari selulosa yang disebut selobiosa.

      3. Fermentasi

Setelah proses hidrolisis dan mendapatkan glukosa dari limbah kertas tersebut maka proses selanjutnya yaitu proses fermentasi. Fermentasi dilakukan menggunakan yeast seperti Saccaromyces cerevisiae untuk mengkonversi menjadi etanol. Limbah kertas yang telah ditambahkan ragi atau yeast, kemudian dimasukkan kedalam toples kaca dan ditutup rapat agar mendapat kondisi anaerob sehingga bakteri Saccharomyces cerevisiae dalam ragi tersebut dapat bekerja dengan baik dan maksimal dalam proses fermentasi.

      4. Distilasi

Proses distalasi dilakukan setelah proses fermentasi, limbah kertas yang telah menjadi lumpur atau sludge akan diambil etanolnya. Dalam hasil fermentasi masih terdapat air yang dapat mengganggu kadar etanol yang diperoleh maka dilakukan distilasi untuk memisahkan air dan etanol tersebut.  Proses destilasi berlanjut dengan mengalirkan uap zat cair melalui kondensor lalu hasilnya ditampung dalam wadah.

   B. Karakterisasi Bioetanol Menggunakan FTIR dan GC – MS

Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) adalah teknik analisis yang digunakan untuk mendapatkan spektrum inframerah penyerapan atau emisi dari zat padat, cair atau gas yang belum diketahui strukturnya. Tipe ikatan yang berlainan dari suatu struktur senyawa akan menyerap radiasi inframerah pada panjang gelombang tertentu sesuai dengan ikatan yang ada. Pada metode analisis. Gas Chromatography Mass Spectroscopy (GC-MS) adalah  metode analisis yang menggabungkan fitur kromatografi gas dan spektrometri massa untuk mengidentifikasi zat yang berbeda dalam sampel uji.

   C. Pengujian Menggunakan GC

Kromatografi gas adalah suatu metode pemisahan yang terdiri dari dua macam komponen yang terdiri dari dua macam komponen atau lebih, yang didasarkan pada distribusi defrensial diantara dua fasa yaitu fasa diam yang berupa padatan atau cairan dan fasa gerak yang berupa gas (Alimin, dkk., 2007: 121). Teknik kromatografi gas-cair metode ini digunakan secara luas untuk analisis kualitatif dan kuantitatif dari sejumlah besar senyawa karena memiliki kepekaan tinggi dan hasilnya dapat diperoleh dengan cepat. Teknik ini telah terbukti paling baik untuk pemisahan senyawa dengan polaritas rendah (Bintang, 2010: 168). 

HASIL DAN PEMBAHASAN

                Kertas yang sudah tidak terpakai dan menjadi limbah, ternyata bisa diolah menjadi bahan baku bioetanol. Pengolahan limbah kertas menjadi bahan baku bioetanol diawali dengan proses pretreatment yang bertujuan untuk memecah ikatan lignin (delignifikasi), menghilangkan kandungan lignin dan hemiselulosa, merusak struktur kristal dari selulosa serta meningkatkan porositas bahan.  Pada pretreatment menggunakan NaOH, hasilnya adalah selulosa yang sudah terpisah dengan lignin. Enzim merupakan protein yang memiliki sifat katalis yang memiliki kemampuan mengaktifkan senyawa lain secara spesifik dan dapat meningkatkan kecepatan reaksi kimia. Penggunaan enzim selulase sangat berpengaruh terhadap konversi limbah kertas menjadi etanol. Enzim selulase dapat memecah selulosa menjadi glukosa.

Fermentasi etanol juga disebut sebagai fermentasi alkohol. Proses ini tidak membutuhkan oksigen, melainkan khamir yang melakukannya, maka fermentasi etanol digolongkan sebagai respirasi anaerob. Pengaruh pemberian variasi konsentrasi Saccharomyces cereviceae merupakan salah satu faktor untuk menentukan kadar bioetanol yang dihasilkan. Selain itu, lama fermentasi juga ikut berperan dalam menentukan jumlah kadar dan volume bioetanol selama proses fermentasi. Etanol  dan  air sangat susah dipisahkan. Oleh sebab itu, untuk pemisahan etanol dan air harus dilakukan distilasi.


KESIMPULAN

            Limbah kertas dapat digunakan sebagai bahan pembuatan bioetanol generasi kedua dengan proses pretreatment, hidrolisis enzimatis, fermentasi, dan distalasi. Dengan adanya pengelolaan limbah kertas menjadi bioetanol, termasuk upaya untuk menyelesaikan masalah pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh kertas dan bisa menjadi jalan alternatif untuk menggantikan bahan bakar minyak dengan menggunakan bioetanol untuk kendaraan.


DAFTAR PUSTAKA

Anindyawati, T. 2009. Prospek Enzim dan Limbah Lignoselulosa untuk Produksi Bioetanol. Pusat Penelitian Bioteknologi : LIPI Bogor.

Ahmad Rasyidi, dkk. 2013. Pembuatan Bioetanol Dari Limbah Tongkol Jagung Dengan Variasi Asam Klorida Dan Waktu Fermentasi. Jurnal Teknik Kimia No. 1, Vol. 19, Universitas Sriwijaya.

Hermawan, Yulis Anwar. 2009. Konversi Limbah Kertas Menjadi Etanol Menggunakan Kombinasi Enzim Selulase dan Selobiase Melalui Sakarifikasi dan Fermentasi Serentak. Skripsi Universitas Indonesia. Jakarta.

Salim, Marniati, Elida Mardiah, Yollanda Atmelwidia. 2014. Produksi Bioetanol Dari Sampah Dedaunan Sekitar Kampus UNAND Dengan Metode SSF (Simultaneous Sacharification Fermentation). Jurnal Kimia No. 2, Vol. 7, Universitas Andalas.