.

Tampilkan postingan dengan label @S06-Ryan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @S06-Ryan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 November 2020

Pencemaran Udara Meningkatkan Resiko Pemanasan Global

 

Pencemaran Udara Meningkatkan Resiko Pemanasan Global

[Ryan Setya Rama (S06-Ryan)]



ABSTRAK

    Pencemaran udara adalah masuknya atau tercampurnya unsur-unsur berbahaya ke dalam atmosfir yang dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan sehingga menurunkan kualitas lingkungan. Pencemaran udara dapat terjadi dimana-mana, seperti di dalam rumah, sekolah, dan kantor. Pencemaran seperti ini sering disebut dengan pencemaran dalam ruangan (indoor pollution). Sedangkan pencemaran di luar ruangan (outdoor pollution) berasal dari emisi kendaraan bermotor, industri, perkapalan, dan proses alami oleh makhluk hidup. Sumber pencemar udara dapat diklasifikasikan menjadi sumber diam dan sumber bergerak. Semakin meningkatnya pencemaran udara menimbulkan pemanasan global yang semakin tinggi, sehingga pemanasan global adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan bumi. Lalu aktifitas manusia sangat mempengaruhi pencemaran udara sehingga meningkatnya pemanasan global dan perlu dilakukannya aktifitas yang mengurangi dampak pencemaran udara di bumi serta dilakukannya juga penyuluhan terhadap pihak industri agar tidak banyak menjadikan udara tidak sehat.

Keyword: pemanasan global, global warming, pencemaran udara

PENDAHULUAN

    Isu pemanasan global sedang ramai diperbincangkan di media kabar berita,salah satu penyebab dari meningkatnya pemanasan global dikarenakan pencemaran udara. Hal ini menyebabkan terjadinya gangguan pada kesehetan manusia, sehingga perlu dilakukannya aktifitas manusia yang dapat mengurangi pencemaran udara kemudian akan menurunkan tingkat pemanasan global. Penurunan kualitas udara yang terus-menerus terjadi selama beberapa tahun terakhir menunjukan bahwa betapa pentingnya menjaga lingkungan disekitar, dilakukan juga penyuluhan kepada pihak industri atau masyarakat dengan cara menyampaikan informasi pentingnya menjaga udara agar tidak tercemar. Selain dari industri dan aktifitas berkendara masyarakat penyebab utama dari pemanasan global ini adalah pembakaran pada batubara, minyak bumi dan gas alam yang melepaskan karbondioksida dan gas-gas lainnya yang dikenal sebagai gas rumah kaca.

    Ketika atmosfer semakin banyak atau meningkat akan gas-gas rumah kaca maka semakin menjadi insolator yang menahan lebih banyak panas dari matahari yang akan dipancarkan ke bumi, kemudian bumi akan semakin memanas akibat dari sinar matahari yang sudah masuk ke bumi dan tidak bisa keluar karena gas-gas rumah kaca tersebut akan membentuk lapisan di atmosfer yang selanjutnya akan memantulkan sinar matahari. Hal ini terjadi akibat pada peningkatan jumlah gas telah melebihi kemampuan terhadap tumbuhan dan laut untuk mengadsorpsinya.

PERMASALAHAN

  1. Apa itu pencemaran udara ?
  2.  Apa itu pemanasan global ?
  3.  Bagaimana dampak pemanasan global ?

PEMBAHASAN

    Pencemaran udara adalah masuknya atau tercampurnya unsur-unsur berbahaya ke dalam atmosfir yang dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan sehingga menurunkan kualitas lingkungan. Dengan demikian akan terjadi gangguan pada kesehatan manusia. Terdapat dua jenis sumber pencemaran udara, yang pertama adalah pencemaran akibat sumber alamiah (natural sources) seperti letusan gunung berapi dan yang kedua berasal dari kegiatan manusia (anthropogenic sources) seperti yang berasal dari transportasi, emisi pabrik, dan lain-lain. Pencemaran udara dapat terjadi dimana-mana, seperti di dalam rumah, sekolah, dan kantor. Pencemaran seperti ini sering disebut dengan pencemaran dalam ruangan (indoor pollution). Sedangkan pencemaran di luar ruangan (outdoor pollution) berasal dari emisi kendaraan bermotor, industri, perkapalan, dan proses alami oleh makhluk hidup. Sumber pencemar udara dapat diklasifikasikan menjadi sumber diam dan sumber bergerak. Sumber diam terdiri dari pembangkit listrik, industri dan rumah tangga. Sedangkan sumber bergerak adalah aktifitas lalu lintas kendaraan bermotor di darat dan tranportasi laut (Gindo, 2007).

    Pemanasan global adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan Bumi. Peneliti dari Center for International Forestry Research (CIFOR), menjelaskan, bahwa pemanasan global adalah kejadian terperangkapnya radiasi gelombang panjang matahari (gelombang panas atau infra merah), yang dipancarkan ke bumi oleh gas-gas rumah kaca. Ada enam jenis gas rumah kaca, yaitu Karbondioksida ( CO ), Metana ( CH4 ), Nitrous oksida ( N2O ), Hydroperfluorokarbon ( HFCs ), Perfluorokarbon ( CFCs ), Sulfur Heksaflorida ( SF6). Gas-gas ini secara alami terdapat di udara (atmosfer). Efek rumah kaca adalah istilah untuk panas yang terperangkap di dalam atmosfer bumi dan tidak bisa menyebar (Triana, 2008).

Dampak pemanasan global sebagai berikut :

·       Cuaca

·       Tingginya permukaan laut

·       Kesehatan manusia menurun

·       Panen hasil pertanian kualitasnya berkurang

·       Lahan untuk hewan dan tumbuhan berkurang

KESIMPULAN

    Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa aktifitas manusia sangat mempengaruhi pencemaran udara sehingga meningkatnya pemanasan global dan perlu dilakukannya aktifitas yang mengurangi dampak pencemaran udara di bumi serta dilakukannya juga penyuluhan terhadap pihak industri agar tidak banyak menjadikan udara tidak sehat.

DAFTAR PUSTAKA

Gindo, A. 2007. Pencemaran Udara. Jurnal Buletin Limbah Vol. 11 No. 1.

Triana, V. 2008. Pemanasan Global. Jurnal Kesehatan Masyarakat, II (2).

Minggu, 01 November 2020

Manfaat Bahan Aktif Surfaktan Pada Industri Deterjen

 

Manfaat Bahan Aktif Surfaktan Pada Industri Deterjen

[Ryan Setya Rama (S06-Ryan)]



Abstrak

Deterjen merupakan salah satu jenis pembersih pakaian yang dibutuhkan oleh masyarakat, dapat digunakan baik oleh rumah tangga, industri, perhotelan, rumah makan, dan lain-lain. Salah satu komponen yang penting dalam deterjen  adalah surfaktan yang berasal dari sulfat adalah hasil reaksi antara alkohol rantai panjang dengan asam sulfat yang akan menghasilkan sulfat alkohol yang mempunyai sifat aktif permukaan (surface active agent: Surfactan). Jenis surfaktan anionik yang banyak digunakan sebagai deterjen antara lain alkil benzen sulfonat. Akan tetapi pada saat ini sudah banyak alkil benzen sulfonat sudah banyak digantikan dengan alkil linear benzen sulfonat maupun natirum lauril sulfat yang dianggap lebih mudah terdegradasi. Selain surfaktan ada beberapa bahan tambahan lainnya sebagai penyusun deterjen tersebut diantaranya ada pengwangi, pelembut dan antibakteri. Deterjen harus dibuat dengan bahan yang berkualitas baik, agar ketika dipakai untuk keperluan rumah tangga ataupun industri dapat berfungsi dengan baik.

 

Keywords : Surfaktan Deterjen, Manfaat surfaktan, Deterjen

Pendahuluan

            Pentingnya deterjen pada bidang industri diperlukan standar yang dapat menjamin bahwa deterjen yang akan digunakan memiliki kualitas yang baik, salah satu penyusun deterjen adalah surfaktan. Pemakaian deterjen yang terus-menerus setiap hari akan menyebabkan kenaikan jumlah deterjen yang masuk kedalam perairan akan semakin meningkat, sehingga dapat menimbulkan gangguan pada perairan dan akan berdampakpada kehidupan manusia. Deterjen yang beredar di pasaran umumnya merupakan deterjen dengan berbahan aktif surfaktan.

Deterjen merupakan salah satu bahan pembersih yang umum digunakan oleh masyarakat, baik oleh rumah tangga, industri, perhotelan, rumah makan, dan lain-lain. Bahan yang terutama deterjen adalah garam natrium (Sodium Lauryl Sulfat) dan alkyl hydrogen sulfat. Berdasarkan bentuknya, deterjen yang beredar di pasaran dapat berupa deterjen cair, deterjen krim, dan deterjen serbuk. Pada umumnya ketiga jenis deterjen ini memiliki fungsi yang sama. Hal yang membedakan keduanya adalah bentuknya. Pada awalnya deterjen cair lebih banyak digunakan dalam pembersih alat-alat dapur. Namun seiring dengan perkembangan zaman, deterjen cair juga banyak diaplikasikan untuk kebutuhan industri serta pembersih pakaian. Hal ini dikarenakan deterjen cair lebih mudah cara menanganinya dan lebih praktis dalam penggunaannya (Ika, 2018).

Surfaktan anionik yang berasal dari sulfat adalah hasil reaksi antara alkohol rantai panjang dengan asam sulfat yang akan menghasilkan sulfat alkohol yang mempunyai sifat aktif permukaan (surface active agent: Surfactan). Jenis surfaktan anionik yang banyak digunakan sebagai deterjen antara lain alkil benzen sulfonat. Namun, saat ini alkil benzen sulfonat sudah banyak digantikan dengan alkil linear benzen sulfonat maupun natirum lauril sulfat yang dianggap lebih mudah terdegradasi (Rosariawari, 2008).

Permasalahan

a.      Apa saja kandungan yang terdapat pada deterjen?

b.     Bagaimana manfaat dari surfaktan yang terdapat dalam deterjen?

Pembahasan



Deterjen merupakan salah satu produk industri dari sabun dan deterjen yang meluas dipakai untuk mencuci atau menghilangkan noda minyak, pemakaiannya digunakan untuk semua kalangan mulai dari rumah tangga hingga industri. Semakin meningkat pendapatan masyarakat maka semakin meningkat penggunaannya, pemakaian ini meningkat dikarenakan jumlah masyarakat yang semakin banyak. Deterjen digunakan pada era modern yang disebut sebagai pembersih modern, sebelumnya tidak digunakan deterjen hanya menggunakan air saja. Dalam deterjen terdapat surfaktan yang berfungsi untuk menurunkan tegangan pada permukaan air agar membuat lebih basah sehingga lebih memungkinkan untuk berinteraksi dengan minyak dan juga lemak, akan tetapi semakin berkembangnya zaman dan teknologi semakin meningkat banyak dibuat deterjen dengan mengandung  zat aktif lebih dari sekedar surfaktan.

Ada juga beberapa bahan tambahan lain ditambahkan dalam jumlah kecil untuk meningkatkan sifat suatu komponen tertentu dari detergen, misalnya:

·       Penstabil enzim

·       Pemutih fluoresen yang meningkatkan tingkat warna putih dari kain dan mencegah kain menguning secara alami

·       Antiredeposition Agen atau zat pencegah penumpukan kotoran seperti derivat selulosa(Karboksimetilselulosa) yang membantu melepaskan kotoran dari kain

·       Anti busa seperti silicon untuk mengatur kadar busa yang dihasilkan sehingga mesin cuci dapat beroperasi dengan baik

·       Parfum atau pewangi

·       Pelembut

·       Pewarna

·       Anti bakteri

·       Penghambat karat, contohnya natrium silikat

Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa surfaktan merupakan bahan utama dalam pembuatan deterjen, surfaktan tersebut memiliki fungsi sebagai menurunkan tegangan pada permukaan air agar membuat lebih basah sehingga lebih memungkinkan untuk berinteraksi dengan minyak dan juga lemak. Akan tetapi tidak hanya surfaktan sebagai bahan penyusun deterjen ada beberapa bahan tambahan lainnya.

Daftar Pustaka

Ika. F. U, dkk. (2018). Penurunan Kadar Surfaktan Anionik dan Fosfat dalam Air Limbah Laundry di Kawasan Keputih, Surabaya Menggunakan Karbon Aktif. Akta Kimia Indonesia. Vol 3 (1) : 127-140.

Rosariawari, F. (2008). Penurunan Konsentrasi Limbah Deterjen Menggunakan Furnace Bottom Ash (FBA). Jurnal Rekayasa Perencanaan, Vol.4 (3).

Minggu, 11 Oktober 2020

Manfaat daun Teh Sebagai Antioksidan

 

Manfaat Daun Teh sebagai Antioksidan

 

[Oleh : Ryan Setya Rama (S06-Ryan)]

 


ABSTRAK

Teh terbuat dari pucuk daun tanaman teh (Camellia sinensis), kandungan kimia dalam teh sebagian besar mengandung senyawa bioaktif polifenol, termasuk didalamnya flavonoid. Flavonoid merupakan salah satu kelompok antioksidan alami. Antioksidan adalah zat yang diperlukan untuk melawan pengaruh bahaya dari radikal bebas yang terbentuk sebagai hasil metabolisme oksidatif. Hasil yang diperoleh bahwa didalam teh mengandung seperti katekin, kafein, aneka asam amino, dan berbagai gula.

Keywords : daun teh, antioksidan, manfaat teh

 

PENDAHULUAN

Pada perkembangan zaman yang semakin maju seperti saat ini, terdapat berbagai jenis minuman yang dikonsumsi oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Namun sebagian besar dari minuman tersebut tidak memiliki manfaat bagi kesehatan tubuh, bahkan tidak sedikit yang bisa menimbulkan penyakit. Hal ini disebabkan oleh zat kimia yang terkandung dalam minuman tersebut, sehingga dapat merusak bagi tubuh. Salah satu di antara minuman tersebut adalah teh.

Teh merupakan salah satu minuman yang sangat populer dikonsumsi dibanyak negara. Teh menjadikan sebagai salah satu komoditi hasil perkebunan yang mempunyai peran cukup penting dalam kegiatan perekonomian di Indonesia, yakni sebagai salah satu penghasil devisa negara sesudah minyak dan gas. Hal ini ditunjang dengan perkebunan teh di Indonesia yang cukup luas dan jumlah produksi teh yang besar (Syaipulloh, 2011).

Teh terbuat dari pucuk daun tanaman teh (Camellia sinensis) melalui proses pengolahan tertentu. Berdasarkan cara/proses pengolahannya, teh dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu teh hijau, teh oolong, dan teh hitam (Hartoyo, 2003).

 

Selain sebagai minuman, juga merupakan functional food mengingat khasiat dan potensi yang terkandung dapat meningkatkan kesehatan tubuh. Kandungan kimia dalam teh sebagian besar mengandung senyawa bioaktif polifenol, termasuk didalamnya flavonoid. Flavonoid merupakan salah satu kelompok antioksidan alami. Antioksidan adalah zat yang diperlukan untuk melawan pengaruh bahaya dari radikal bebas yang terbentuk sebagai hasil metabolisme oksidatif, yaitu hasil dari reaksi-reaksi kimia dan proses metabolik yang terjadi di dalam tubuh. Radikal bebas (free radical) adalah suatu senyawa atau molekul yang mengandung satu atau lebih elektron tidak berpasangan pada orbital luarnya (Winarti, 2010).

METODE/ PERMASALAHAN

a.      Apa saja kandungan kimia yang terdapat didalam daun teh ?

b.     Berapa banyak kadar dari senyawa kimia yang terdapat didalam daun teh ?

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    Hasil

·       Kandungan kimia pada daun teh

Tabel 1. Komposisi Pucuk Daun Teh dalam % berat kering (Bhatia, 1963).

Bagian Sel

Senyawa

Total

Larut Dalam Air

Dinding Sel

Selulosa

24.0

0.0

Lignin

6.5

2.3

Protoplasma

Protein

17.0

0.0

Lemak

8.0

0.0

Tepung

0.5

0.0

Vakuola

Polifenol / Katekin

22.0

22.0

Kafein

4.0

4.0

Asam Amino

7.0

7.0

Asam Gula

3.0

3.0

Asam Organik

3.0

3.0

Abu / Mineral

5.0

4.0

Jumlah

100.0

45.3

 B.    Pembahasan

Daun teh sebagai bahan utama dalam pembuatan minuman (teh) tentu mengandung berbagai jenis senyawa kimia di dalamnya. Vakuola dalam sel daun teh mengandung zat-zat yang larut dalam air, seperti katekin, kafein, aneka asam amino, dan berbagai gula. Dalam sitoplasma terdapat enzim pengoksida, yaitu polifenol oksidase, klorofil, dan karoten. Presentase kandungan katekin dan kafein menunjukkan tingkat mutu seduhan dari pucuk daun teh yang digunakan. Gambaran mengenai komposisi pucuk daun teh dapat dilihat pada tabel diatas.

Menurut Fulder teh mengandung senyawa bermanfaat seperti polifenol, theofilin, flavonoid, tanin, kafein, vitamin C dan E, serta sejumlah mineral seperti Zn, Se, Mo, Ge, Mg (Fulder, 2004). Sedangkan menurut Rumiati hasil penelitian menunjukkan catechin, yang merupakan senyawa flavonoid berefek anti kanker, antioksidan, antimikroba, antihipertensi, hipokolesterolemik, antiarteriosklerosis, mencegah diabetes, menurunkan risiko penyakit jantung koroner, serta membantu menurunkan berat badan (Rumiati, 2002).

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa mengonsumsi teh  baik bagi kesehatan tubuh. Di antara senyawa-senyawa yang terdapat pada daun teh, katekin (polifenol) memiliki jumlah terbanyak sekaligus memegang peranan paling penting, sebab selain berfungsi sebagai pemberi warna, aroma, dan rasa, katekin juga berkhasiat sebagai antioksidan yang sangat ampuh serta terbukti mampu mencegah berbagai macam penyakit.

DAFTAR PUSTAKA

Bhatia, I.S. 1963. Chemical Aspect of Green Leaf Processing. London: Two and a Bud.

Fulder. 2004. Khasiat Teh Hijau. Jakarta : Prestasi Pustaka.

Hartoyo, A. 2003. Teh Dan Khasiatnya Bagi Kesehatan. Yogyakarta : KANISUIS            Anggota IKAPI.

Rumiati. 2004. Teh Hijau dan Khasiatnya bagi Penyakit Kanker. Jakarta : Meditek.

Syaipulloh. 2011. Statistik Teh Indonesia. Jakarta : Badan Pusat Statistik Republik            Indonesia.

Winarti, S. 2010. Makanan Fungsional. Surabaya: Graha Ilmu.