.

Tampilkan postingan dengan label @N20-WAYAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @N20-WAYAN. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Januari 2020

Teknologi Hijau




Teknologi Hijau

   Merupakan teknologi yang dalam pembuatan dan penerapannya menggunakan bahan baku yang ramah lingkungan, proses yang efektif dan efisien dan mengeluarkan limbah yang minimal sehingga dapat mengurangi dan mencegah terjadinya pencemaran atau kerusakan lingkungan hidup.
   Industri yang menerapkan strategi ramah lingkungan mempunyai tujuan:
1. menciptakan produk yang sehat, aman dan berkualitas,
2. meminimalkan potensi kontaminasi bahan-bahan yang beracun atau berbahaya pada produk
3. melindungi kesehatan dan keselamatan pekerja
4. meminimalkan terbentuknya limbah baik dalam jumlah dan toksisitasnya.

Prinsip dalam Teknologi Hijau

   Prinsip dasar dari teknologi ramah lingkungan adalah ‘zero waste’ yaitu diharapkan dapat mencegah, mengurangi, atau menghilangkan limbah hasil industri.
   Ada 6 prinsip yang diterapkan pada konsep teknologi ramah lingkungan, yaitu:
1. Refine, yang berarti menggunakan bahan yang ramah lingkungan serta melalui proses yang lebih aman dari teknologi sebelumnya.
2. Reduce, yang berarti mengurangi jumlah limbah dengan cara mengoptimalkan penggunaan bahan.
3. Reuse, yang berarti memakai kembali bahan-bahan yang tidak terpakai atau sudah berupa limbah dan diproses dengan cara yang berbeda.
4. Recycle, yang berarti hampir sama dengan reuse, hanya saja recycle menggunakan kembali bahan-bahan atau limbah dan diproses dengan cara yang sama.
5. Recovery, yang berarti pemanfaatan material tertentu dari limbah untuk diproses demi keperluan yang lain.
6. Retrieve Energy, yang berarti penghematan energi dalam suatu proses produksi.

   Model Industri yang menerapkan 6 prinsip tersebut dapat berupa Zero waste, Produksi bersih (Cleaner Production), Produktivitas hijau (Green Productivity), atau Perusahaan hijau (Green Company).

Manfaat Penerapan Teknologi Hijau

   Beragam manfaat dapat diperoleh perusahaan dengan menerapkan strategi ramah lingkungan. Beberapa manfaat tersebut diantaranya adalah:

1. Sebagai pedoman bagi perbaikan produk dan proses produksi.
2. Efektif dan efisien dalam penggunaan sumberdaya alam dan energi.
3. Mengurangi atau mencegah terbentuknya bahan pencemar atau limbah.
4. Mencegah berpindahnya pencemar dari satu media lingkungan ke media lingkungan lain.
5. Mengurangi resiko terhadap kesehatan dan lingkungan.
6. Mendorong pengembangan teknologi pengurangan limbah pada sumbernya, teknologi bersih dan produk akrab lingkungan.
7. Menghindari biaya clean-up.
8. Meningkatkan daya saing produk di pasar internasional melalui penggunaan teknologi baru dan/atau perbaikan teknologi.
9. Kerjasama yang lebih erat antara pemerintah, agro-industri dan masyarakat.
10. Pengurangan biaya yang tinggi karena penerapan sistem pengelolaan limbah ujung pipa (end off pipe treatment).

Aplikasi Teknologi Hijau

1. Biogas adalah gas mudah terbakar (flammable) yang dihasilkan dari proses fermentasi bahan-bahan organik 

2. Biopori atau yang biasa disebut dengan Teknologi Lubang Resapan Biopori. Pemanfaatan Biopori ini akan membuat keseimbangan alam terjaga, sampah organik yang sering menimbulkan bau tak sedap dapat tertangani, disamping itu juga dapat menyimpan air untuk musim kemarau

3. Energi alternatif biofuel yang dapat diperbarui dapat memperkuat ketersediaan bahan bakar.

4. Biopulping adalah salah satunya yang meniru proses mikroorganisme pada proses pelapukan untuk digunakan dalam tingkat industri

5. Kendaraan Hybrid. Kendaraan jenis ini diklaim sebagai memiliki tingkat polusi dan penggunaan bahan bakar yang rendah.


Daftar Pustaka

https://environment-indonesia.com/training/konsep-teknologi-ramah-lingkungan/
http://inspirednature-tech.blogspot.com/2013/07/prinsip-teknologi-ramah-lingkungan.html?m=1
https://hijauku.com/2011/08/12/teknologi-hijau-picu-revolusi-industri-baru/
http://bintangiptek.blogspot.com/2012/07/teknologi-ramah-lingkungan.html?m=1



Rabu, 18 Desember 2019

Industri Hijau


Pengertian Industri Hijau
adalah industri yang dalam proses produksinya menerapkan upaya efisiensi dan efektivitas dalam penggunaan sumber daya secara berkelanjutan. Dengan kata lain industri hijau merupakan sebuah industri yang ramah lingkungan.

Standar Industri Hijau
Menteri Perindustrian Saleh Husin telah menerbitkan aturan mengenai pedoman penyusunan standar industri hijau (SIH) yang tertuang dalam Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 51/M-IND/PER/6/2015.
Standar Industri Hijau merupakan acuan para pelaku industri dalam menyusun secara konsensus terkait dengan bahan baku, bahan penolong, energi, proses produksi, produk, manajemen pengusahaan, pengelolaan limbah dan/atau aspek lain yang bertujuan untuk mewujudkan industri hijau.

Konsep Penerapan Efisiensi Melalui Industri Hijau
Strategi penerapan industri hijau, yaitu mengembangkan industri yang sudah ada menuju industri hijau dan membangun industri baru dengan prinsip industri  hijau, mempunyai arti yang sangat luas karena didalamnya termasuk upaya pencegahan pencemaran dan perusakan lingkungan melalui upaya pemilihan bahan baku yang ramah lingkungan, meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya (bahan baku, energi dan air) pada setiap tahapan produksi, pembaharuan penggunaan atau perbaikan teknologi produksi rendah karbon, pilihan jenis proses yang efektif dan efisien, rancangan produk yang ramah lingkungan dan minimalisasi limbah.

Prinsip Industri Hijau
1) Meminimalkan penggunaan bahan baku, air, energi dan pemakaian bahan baku tidak ramah lingkungan (beracun dan berbahaya), serta meminalisasi terbentuknya limbah pada sumbernya sehingga mencegah dan atau mengurangi timbulnya pencemaran dan kerusakan lingkungan serta risikonya tehadap manusia.
2) Perubahan dalam pola produksi dan konsumsi, berlaku baik pada proses maupun produk yang dihasilkan, sehingga harus memahami secara baik analisis daur hidup produk.
3) Perubahan dalam pola pikir, sikap dan tingkah laku dari semua pihak terkait baik pemerintah, masyarakat maupun kalangan dunia usaha yang tentunya didukung oleh komitmen secara bersama-sama dan terlebih dituangkan dalam kebijakan implementasi industri hijau.
4) Mengaplikasikan teknologi ramah lingkungan, sistem manajemen yang meliputi posedur standar operasi sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan.
5) Pelaksanaan program industri hijau harus didasarkan pada kesadaran (awareness) sehingga diperlukan pengaturan sendiri (self regulation) yang tidak bergantung pada peraturan atau ketentuan pemerintah.

Konsep Penerapan Industri Hijau
Secara umum kegiatan proses produksi di perusahaan industri masih menerapkan sistem manufaktur konvensional, atau yang dikenal dengan Bussiness as Usual (BAU). Namun, sudah saatnya dilakukan transformasi paradigma menuju sistem manufaktur industri hijau, yaitu sistem manufaktur yang mengedepankan konsep efisiensi, penggunaan sumber daya terbarukan, dan penggunaan teknologi rendah karbon. Selain itu, produksi hijau juga dapat dilakukan dengan pemanfaatan kembali material dan sumber daya yang digunakan melalui konsep 4R (Reduce, Reuse, Recycle, Recovery), menggunakan sumber daya manusia yang kompeten, implementasi SOP, layout pabrik yang efisien dan efektif, dan modifikasi atau penggantian mesin/peralatan. Perbedaan konsep penerapan industri hijau dengan konsep BAU dapat dilihat pada diagram berikut:
Kaidah 4 R dalam Penerapan Prinsip Industri Hijau
Penerapan prinsip 4R (Reduce, Reuse, Recycle dan Recovery) merupakan hal pokok dalam mengaplikasikan kegiatan industri hijau pada industri. Prinsip 4R merupakan bagian hirarki pengelolaan limbah ataupun sumber daya industri.
1) Reduce: Pengurangan penggunaan sumber daya (bahan baku, energi dan air) melalui pemanfaatan semaksimal mungkin sumber daya yang digunakan mulai tahap persiapan sampai saat digunakan sebagai material input pada proses industri.  
2) Reuse: Penggunaan kembali sumber daya yang ada (energi, bahan baku dan air) yang merupakan keluaran dari proses atau utilitas pada sistem atau fasilitas industri tanpa mengalami perlakuan fisika/kimia/biologi.
3) Recycle: Penggunaan kembali sumber daya yang merupakan keluaran dari proses reaksi atau utilitas dari suatu sistem atau fasilitas pada industri dengan modifikasi beberapa rangkaian sistem dan teknologi (fasilitas dan peralatan) untuk melakukan proses kembali ke bentuk semula yang dapat dicapai melalui perlakukan fisika/kimia/biologi.
4) Recovery: Pemisahan potensi sumber daya (bahan, energi dan air) dari suatu tahapan tertentu dengan memprosesnya kembali ke bentuk semula yang dicapai melalui perlakukan fisika/kimia/biologi.

Skala Prioritas Pelaksanaan Industri Hijau
Strategi untuk menghilangkan limbah atau mengurangi limbah sebelum terjadi (preventive strategy), lebih disukai daripada strategi yang berurusan dengan pengolahan limbah atau pembuangan limbah yang telah ditimbulkan (treatment strategy).
1) Eliminasi: Strategi ini dimasukkan sebagai metode pengurangan limbah secara total. Bila perlu tidak mengeluarkan limbah sama sekali (zero discharge). Didalam konsep penerapan Industri Hijau hal ini dimasukkan sebagai metode pencegahan pencemaran.
2) Minimisasi Limbah (mengurangi sumber limbah): Strategi pengurangan limbah yang terbaik adalah strategi yang menjaga agar limbah tidak terbentuk pada tahap awal. Pencegahan limbah mungkin memerlukan beberapa perubahan penting terhadap proses, tetapi hal ini memberikan hasil-hasil peingkatan lingkungan dan ekonomi yang terbesar.
3) Daur Ulang: Jika timbulnya limbah tidak dapat dihindarkan dalam suatu proses, maka strategi-strategi untuk meminimalkan limbah tersebut sampai batas tertinggi yang mungkin dilakukan harus dicari, seperti misalnya daur ulang (recycle) dan/atau penggunaan kembali(reuse). Jika limbah tidak dapat dicegah atau di minimkan melalui penggunaan kembali atau daur ulang, strategi-strategi yang mengurangi volume atau kadar racunnya melalui pengelolahaan limbah dapat dilakukan. Walaupun “strategi-strategi bagian akhir (end of pipe)” ini kadang-kadang dapat mengurangi jumlah limbah, strategi tersebut tidak sama efektifnya dengan mencegah limbah di tahap awal.
4) Pengendalian Pencemaran: Strategi yang terpaksa dilakukan mengingat pada proses perancangan produksi perusahaan belum meng-antisipasi adanya teknologi baru yang sudah bebas terjadinya limbah. Artinya limbah memang sudah terjadi dan ada dalam sistim produksinya, namun kualitas dan kuantitas limbah yang ada dikendalikan agar tidak melebihi baku mutu yang disyaratkan.
5) Pengelolaan dan Pembuangan: Strategi terakhir yang perlun dipertimbangkan adalah metoda-metoda pembuangan alternatif. Pembuangan limbah yang tepat merupakan suatu komponen penting dari keseluruhan program menejemen lingkungan; tetapi, ini adalah teknik yang paling tidak efektif.
6) Remediasi: Strategi penggunaan kembali bahan-bahan yang terbuang bersama limbah. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kadar toxisitas kuantitas limbah yang ada.

Tantangan Dan Kendala Penerapan Industri Hijau
Pengembangan industri hijau sebagaimana diharapkan akan memberi peluang dan manfaat dalam mendorong pembangunan industri yang berdaya saing dan berkelanjutan di Indonesia. Implementasi program pengembangan industri hijau tidak mudah dan berbagai tantangan dan kendala yang dihadapi sebagai berikut:
1) Pemahaman dan pengetahuan tentang industri hijau masih kurang
Pada tingkat industri, pemahaman pengelolaan industri masih berorientasi terhadap produktivitas dan pemenuhan terhadap peraturan lingkungan yang diwajibkan terkait dengan baku mutu lingkungan. Pola piker pengelolaan lingkungan masih berpola end of pipe.
2) Kurangnya akses informasi terhadap proses dan teknologi yang hemat penggunaan sumber daya
Informasi proses dan teknologi hemat energi masih sangat terbatas dan transfer knowledge terhadap inovasi teknologi yang berbasis green technology masih kurang. Pelaku industri memerlukan database informasi terhadap successful story penggunaan/penerapan teknologi di beberapa industri terkait dengan resiko investasi.
3) Biaya investasi dalam Penerapan Industri Hijau Besar
Implementasi industri hijau memerlukan biaya tambahan (additional cost) dari unsur perbaikan pengelolaan berbasis sistem manajemen dan aplikasi teknis yang memerlukan retrofit, modifikasi, pergantian baru dari suatu fasilitas atau teknologi pada industri.
4) Kebijakan dan Program Industri Hijau
Kebijakan industri hijau masih perlu dukungan lintas sektoral dan beberapa aturan teknis dan acuan pengembangan industri hijau (pedoman/tata cara, standar, best practice, dan lain-lain)
5) Sosialisasi dan Kampanye Industri Hijau
Pemahaman industri hijau bagi pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat masih kurang optimal. Informasi industri hijau perlu disebarluaskan dengan melibatkan berbagai pihak terkait (pemerintah pusat, asosiasi industri, lembaga keuangan/perbankan, korporasi, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, pelajar dan lain-lain).  
6) Insentif dan Apresiasi Implementasi Industri Hijau
Perhatian terhadap pengembangan industri dan harapan implementasi industri hijau dapat berjalan dengan baik sesuai dengan yang diharapkan perlu stimulasi berupa insentif sebagai perwujudan apresiasi dan manfaat yang akan diperoleh oleh industri hijau

Manfaat Penerapan Industri Hijau
1) Lebih efektif dan efisien dalam penggunaan sumberdaya (bahan baku, energi, dan air) sehingga mampu menimalisasi biaya produksi
2) Pemenuhan dan partisipasi terhadap pengelolaan lingkungan lebih meningkat berdampak pada peningkatan kualitas lingkungan industri dan masyarakat sekitar.
3) Meningkatkan citra produsen dan meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk yang dihasilkan
4) Membuka peluang sponsorship, pendanaan berbasis ESCO, green atau proyek keberlanjutan (sustainable project) dari lembaga perbankan/keuangan atau lembaga atau korporasi internasional
5) Mengurangi tingkat bahaya kesehatan dan keselamatan kerja pada lingkungan kerja


Daftar Pustaka

http://bppi.kemenperin.go.id/blog/standar-industri-hijau-sih-untuk-17-jenis-industri/
http://industrihijau.kemenperin.go.id/?page=view_artikel&id=9



Senin, 02 Desember 2019

WUJUD GAS














ABSTRAK
materi atau zat dikelompokan menjadi zat tunggal (murni) dan campuran. Zat murni terdiri dari unsur dan senyawa. unsur merupakan zat murni yang palingsederhana. Sedangkan senyawa gabungan dari dua atau lebih unsur yang terbentukmelalui reaksi kimia. Suatu zat bisa berupa gas, cair, atau padat. Saat benda padat berubah menjadi cair, maka disebut meleleh atau melebur atau juga mencair. Jika bendacair berubah menjadi padat, maka disebut menguap. Ada keunikan diantara zattersebut. Ada beberapa zat yang sama yang juga dapat dijumpai dalam bentuk yang berbeda. Air bisa kita jumpai dalam bentuk gas (uap), cair (air), atau padat.Salah satu tujuan mempelajari ilmu Kimia adalah mengkaji tentang  bagaimana partikel berukuran sangat kecil bergabung satu dengan lainnya membentuk strukturmateri yang sangat besar seperti kita lihat sehari-hari, contohnya molekul air. Materiyang kita amati sehari-hari sesungguhnya tersusun dari sejumlah partikel yang bergabung melalui ikatan kimia atau gaya antarmolekul. Dengan diketahuinya jenisikatan yang memperkokoh partikel, diharapkan kita dapat meramalkan bentukgeometri suatu materi, khususnya geometri molekul.

KATA KUNCI: WUJUD GAS

I. PENDAHULUAN
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering melihat zat padat, zat gas, dan cair. misalnya seperti es yang mencair merupakan perubahan wujud zat padat menjadi zat cair.
Semua benda terdiri atas zat atau materi. Walaupun zat-zat penyusun benda itu berlainan jenis atau wujudnya, tetapi ada dua sifat yang sama pada zat-zat itu, yaitu semua menempati ruang dan memiliki massa. Secara umum didifinisikan bahwa zat (materi) adalah sesuatu yang menempeti ruangan dan memiliki massa.

II. PERMASALAHAN
1.Bagaimana sifat benda padat, cair dan gas?
2.Apa saja faktor penyebab perubahan sifat benda?
3.Apakah yang dimaksud dengan perubahan sementara dan perubahan tetap?

III.PEMBAHASAN 
Sifat Benda Padat, Cair Dan Gas
1.Sifat benda padat
Benda padat mempunyai bentuk dan ukuran yang tetap. Contohnya kayu, buku, dan batu. Bentuk dan ukuran benda tersebut tetap walaupun dipindahkan tempatnya.
2.Sifat benda cair
Benda cair memiliki ukuran yang tetap, namun bentuknya berubah-ubah sesuai dengan wadah yang ditempatinya. Contohnya air. Apabila air 1 liter dimasukan kedalam botol maka bentuknya seperti botol dan volumenya tetap 1 liter. Jika dipindahkan kedalam kaleng maka volumenya tetap 1 liter namun bentuknya seperti kaleng.
3.Sifat benda gas
Benda gas memiliki bentuk dan ukuran yang berubah-ubah. Contohnya udara di dalam balon, bentuknya seperti balon dan menempati seluruh ruangan balon.

B.Faktor Penyebab Perubahan Sifat Benda
Wujud benda tidak selalu tetap. Setiap benda yang mendapat perlakuan tertentu pasti akan berubah baik wujud maupun bentuknya. Benda dapat berubah wujud, misalnya dari benda padat berubah menjadi benda cair ataupun sebaliknya. Perubahan wujud benda juga menyebabkan perubahan sifat benda. Berikut diagram perubahan wujud benda.
1.Mencair (melebur)
Mencair adalah peristiwa perubahan wujud dari padat menjadi cair. Contoh: es dipanaskan berubah menjadi air.
2.Membeku
Membeku adalah peristiwa perubahan wujud cair menjadi padat. Contoh: air yang didinginkan (dimasukan ke dalam freezer) akan membeku menjadi es batu.
3.Menguap
Menguap adalah peristiwa perubahan wujud dari cair menjadi gas. Contoh: pakaian yang basah setelah dijemur menjadi kering.
4.Mengembun
Mengembun adalah peristiwa perubahan wujud gas menjadi cair. Contoh: gelas yang berisi es pada dinding bagian luarnya terdapat titik-titik air.
5.Menyublim
Menyublim adalah peristiwa perubahan wujud padat menjadi gas atau sebaliknya. Contoh: kapur barus.

Sebuah benda dapat mengalami perubahan sifat. Perubahan sifat benda meliputi warna, kelenturan dan bau. Perubahan tersebut dipengarauhi oleh beberapa faktor:
1.Pemanasan
Pemanasan suatu benda akan menimbulkan perubahan pada benda. Pemanasan pada benda padat dapat mengubah wujud benda menjadi cair. Contonya lilin, es, dan mentega yang dipanaskan akan menjadi cair. Wujud benda cair apabila dipanaskan maka akan berubah menjadi gas. Contonya air yang dipanaskan akan menjadi uap air. Benda-benda tersebut apabila mengalami proses pemanasan maka sifat dari benda tersebut akan berubah.
2.Pendinginan
Benda yang bersifat cair akan berubah manjadi padat dan keras jika didinginkan. Air merupakan zat cair dan es adalah benda padat. Sifat es berbeda dengan sifat padat. Jadi sifat air berubah setelah mengalami proses pendinginan.
3.Pembakaran
Pembakaran suatu benda akan menyebabkan perubahan pada benda. Kertas yang dibakar akan berubah menjadi abu. Sebelum dibakar sifat kertas adalah berwarna putih, dapat menyerap tinta, dan tidak rapuh. Namun setelah dibakar, kertas berubah menjadi abu yang berwarna hitam, bersifat rapuh, dan tidak dapat menyerap tinta. Plastik yang dibakar akan mejadi hitam dan kayu yang dibakar akan berubah menjadi arang atau abu.
4.Pembusukan
Pembusukan terjadi karena adanya bakteri atau jamur yang menempel. Contohnya, buah, sayuran, daging maupun makan matang. Buah dan sayuran segar akan berubah menjadi lembek ketika membusuk, begitu pula dengan daging dan makanan matang. Pembusukan juga menyebabkan benda berbau busuk dan berlendir. Proses pembusukan mengubah sifat-sifat dari benda.

IV. KESIMPULAN
Di alam ini terdapat tiga wujud benda, yaitu padat, cair dan gas. Ketiga wujud tersebut memiliki sifat yang berbeda-beda.Benda dapat berubah wujud, misalnya dari benda padat berubah menjadi benda cair ataupun sebaliknya. Perubahan wujud benda juga menyebabkan berubah pula sifat benda tersebut. Perubahan benda terbagi menjadi dua, yaitu perubahan sementara dan perubahan tetap.

DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Mulyati, Dkk. (2009). Ilmu Pengetahuan Alam Dan Lingkunganku. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional
Rositawaty, S, Aris Muharam.(2008). Senang Belajar Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
Nunung, Ningsih. Makalah perubahan wujud zat.

Selasa, 26 November 2019

Struktur Molekul & Ikatan Valensi




STRUKTUR MOLEKUL

     Struktur molekul adalah penggambaran ikatan-ikatan unsur atau atom yang membentuk molekul. Molekul terdiri dari sejumlah atom yang bergabung melalui ikatan kimia, baik itu ikatan kovalen, ikatan hidrogen dan ikatan ion, serta ikatan-iktan kimia lainnya. 

  1. BENTUK MOLEKUL
    1. Bentuk Molekul Berdasarkan Teori  VSEPR
Teori VSEPR adalah teori yang menggambarkan bentuk molekul berdasarkan kepada tolakan pasangan electron disekitar atom pusat. Teori talakan pasangan  electron ini dikenal dengan istilah VSEPR (Valence Shell  Electron Pair of Repulsion)

Bentuk molekul didasarkan kepada jumlah electron yang saling tolak-menolak disekitar atom pusat yang akan menempati tempat sejauh munkin untuk meminimumkan tolakan.
12
  • Symbol – symbol dalam teori  VSEPR
  1. A            : Atom pusat
  2. X            : Jumlah pasangan electron ikatan
  3. E            : jumlah Pasangan electron bebas
Rumusan tipe molekul  dapat ditulis dengan lambang  AXnEm   (jumlah pasangan electron)
Catatan: ikatan rangkap dua atau rangkap tiga dihitung satu pasang electron ikatan
Cara meramalkan bentuk molekul dengan teori VSEPR
  1. Tentukan struktur lewis dari rumus moleku
  2. Tentukan jumlah PEB dan PEI atom pusat
  3. Prediksi besar sudut ikatan dan arah yang munkin akibat tolakan
  4. Gambar bentuk molekul dan beri nama sesuai dengan  jumlah PEI dan PEB
Catatan 2            : tolakan antara PEB-PEB> PEB-PEI>PEI-PEI
Lebih lengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:
529_originalvsepr1
Terdapat sekitar tujuh bentuk molekul yang sederhana, yaitu bentuk
linear, trigonal planar, trigonal piramidal, segiempat datar, tetrahedral,
tirogonal bipiramidal, dan oktahedral.
1.    Bentuk Linear
Suatu molekul dikatakan linear jika atom-atom yang menyusun
molekul tersebut berada dalam suatu garis lurus. Contohnya, BeCl2
 dan CO2. Sudut yang dibentuk oleh ikatan antara dua atom melalui atom
pusat sebesar 180°.
2.    Trigonal Planar
Suatu bentuk molekul dikatakan trigonal planar jika di dalam
molekulnya terdapat empat buah atom dan semua atom berada pada
bidang yang sama. Atom pusat dikelilingi oleh tiga atom lain yang berada
pada sudut-sudut segitiga. Sudut ikatan yang dibentuk di antara dua
ikatan melalui atom pusat sama besar yaitu 120°. Contohnya, molekul
BCl3  dan BF3.
3.    Trigonal Piramidal
Trigonal piramidal adalah suatu bentuk molekul dengan empat buah
muka segitiga sama sisi. Suatu molekul dikatakan berbentuk trigonal
piramidal jika memilki empat buah atom. Atom pusat ditempatkan pada
sudut puncak limas, dan atom lainnya berada pada sudut-sudut limas
yang berada pada bidang datar segitiga. Contohnya, molekul NH3.
4.    Bujur Sangkar
Suatu bentuk molekul dikatakan bujur sangkar jika dalam molekul
terdapat lima buah atom dan semua atom berada pada bidang datar yang
sama. Atom pusat dikelilingi oleh empat atom lain yang berada pada sudut-
sudut segiempat. Sudut ikatan yang dibentuk antara dua ikatan yang
melalui pusat sama besar, yaitu 90°. Contohnya, molekul XeF4.
5.    Tetrahedral
Tetrahedral adalah limas segiempat dengan muka segitiga sama sisi.
Suatu bentuk molekul tergolong tetrahedral jika dalam molekulnya
terdapat lima buah atom. Atom pusat ditempatkan pada pusat tetrahedral  
dan empat atom lain berada pada sudut-sudut tetrahedral yang terlihat
pada ujung-ujung bidang segitiga sama sisi. Sudut ikatan yang dibentuk
sama besar, yaitu 109,5°. Contohnya, molekul CH4.
6.    Trigonal Bipiramidal
Trigonal bipiramidal terdiri atas dua buah limas yang bagian alasnya
berimpit. Suatu molekul memiliki bentuk trigonal bipiramidal jika dalam
molekulnya terdapat enam buah atom.
Dalam trigonal bipiramidal, atom pusat ditempatkan pada pusat alas
yang berimpit dan dikelilingi oleh lima atom lain yang ditempatkan  pada
sudut-sudut trigonal bipiramidal. Dalam bentuk molekul ini sudut ikatan
tidak sama. Sudut ikatan yang terletak pada pusat bidang datar segitiga
masing-masing 120°, sedangkan sudut ikatan antara bidang pusat dan titik
sudut atas serta bawah bidang adalah 90°. Contohnya, molekul PCl5.
7.    Oktahedral
Oktahedral adalah bentuk yang memiliki delapan muka segitiga,
dibentuk dari dua buah limas alas segiempat yang berimpit. Suatu molekul
memiliki bentuk oktahedral jika tersusun dari tujuh atom.
Atom pusat ditempatkan pada pusat bidang segiempat yang berimpit.
Enam atom lain terletak pada sudut-sudut oktahedral. Sudut antarikatan
yang terbentuk sama besar, yaitu 90°. Contohnya, molekul SF6 dan XeF6



2.Bentuk  Molekul menurut Teory Hibridisasi
yaitu bentuk molekul yang didasarkan kepada bentuk orbital kulit terluarnya, dimana terjadi pengabungan beberapa orbital membentuk orbital yang baru yang tingkat energinya sama yan disebut dengan hibridisasi.
Pembentukan  orbital hibrida dapat dilihat dari contoh berikut:
molekul PCl5
3
tabel-hibridisasi
sp
sp

sp2
sp2
sp3
sp3
GAYA ANTAR MOLEKUL
Gaya antarmolekul adalah gaya aksi di antara molekul-molekul yang menimbulkan tarikan antarmolekul dengan berbagai tingkat kekuatan. Pada suhu tertentu, kekuatan tarikan antarmolekul menentukan wujud zat, yaitu gas, cair, atau padat. Kekuatan gaya antarmolekul lebih lemah dibandingkan ikatan kovalen maupun ikatan ion. Ikatan kimia dan gaya antarmolekul memiliki perbedaan. Ikatan kimia merupakan gaya tarik menarik di antara atom- atom yang berikatan, sedangkan gaya antarmolekul merupakan gaya tarik menarik di antara molekul (perhatikan Gambar 2.23).
Ada tiga jenis gaya antarmolekul, yaitu gaya dipol-dipol, gaya London, dan ikatan hidrogen. Gaya dipol-dipol dan gaya London dapat dianggap sebagai satu jenis gaya, yaitu gaya van der Waals.
  1. Gaya Dipol-Dipol
Gaya dipol-dipol adalah gaya yang terjadi di antara molekul-molekul yang memiliki sebaran muatan tidak homogen, yakni molekul-molekul dipol atau molekul polar. Molekul-molekul polar memiliki dua kutub muatan yang berlawanan. Oleh karena itu, di antara molekul-molekulnya akan terjadi antaraksi yang disebabkan kedua kutub muatan yang dimilikinya. Pada antaraksi dipol-dipol, ujung-ujung parsial positif suatu molekul mengadakan tarikan dengan ujung-ujung parsial negatif dari molekul lain yang mengakibatkan orientasi molekul-molekul sejajar. Tarikan dipol-dipol memengaruhi sifat-sifat fisik senyawa, seperti titik leleh, kalor peleburan, titik didih, kalor penguapan, dan sifat fisik lainnya.

Semakin kuat gaya antaraksi antarmolekul, semakin besar energi yang diperlukan untuk memutuskannya. Dengan kata lain, semakin tinggi titik didihnya. Hal ini menunjukkan bahwa dalam molekul polar terjadi gaya antaraksi yang relatif lebih kuat dibandingkan dalam molekul nonpolar.
bab12-5-638
  1. Gaya London
Gaya London adalah gaya yang terjadi pada atom atau molekul, baik polar maupun nonpolar. Gaya London atau disebut juga gaya dispersi, yaitu gaya yang timbul akibat dari pergeseran sementara (dipol sementara) muatan elektron dalam molekul homogen. Dalam ungkapan lain, dapat dikatakan bahwa  gaya London terjadi akibat kebolehpolaran atau distorsi “awan elektron” dari suatu molekul membentuk dipol sementara (molekul polar bersifat dipol permanen). Mengapa awan elektron dapat terdistorsi? Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut.
  1. Pada sekumpulan besar molekul, setiap saat selalu terjadi tumbukan antarmolekul, tumbukan ini menimbulkan dipol sementara membentuk muatan parsial positif pada salah satu ujung molekul dan muatan parsial negatif pada ujung yang lain (terdistorsi).
  2. Molekul-molekul yang terdistorsi selanjutnya menginduksi molekul lain membentuk dipol terinduksi.
  3. Akibat terbentuk dipol sementara pada sejumlah molekul yang bertumbukan dan menginduksi sejumlah molekul lain membentuk dipol terinduksi, menimbulkan gaya tarik-menarik di antara molekul- molekul tersebut. Gaya tarik-menarik seperti ini dinamakan gaya London.
  4. Gejala tersebut berlangsung secara terus menerus dan berimbas kepada molekul-molekul lain sehingga terjadi gaya London di antara molekul-molekul yang ada. Dengan demikian, gaya London adalah gaya antaraksi antaratom atau molekul yang memiliki dipol sementara dengan jarak yang sangat berdekatan satu sama lain. Kekuatan gaya London dipengaruhi oleh ukuran, bentuk molekul, dan kemudahan distorsi dari awan elektron. Sentuhan di antara atom atau molekul dengan luas permukaan sentuhan besar menghasilkan peluang lebih besar membentuk dipol sementara dibandingkan bidang sentuh yang relatif kecil. Semakin besar luas permukaan bidang sentuh molekul, semakin besar peluang terjadinya dipol sementara.
  1. Ikatan Hidrogen

Senyawa yang mengandung atom hidrogen dan atom yang memiliki keelektronegatifan tinggi, seperti fluorin, klorin, nitrogen, dan oksigen dapat membentuk senyawa polar, Akibatnya, atom hidrogen menjadi lebih bermuatan positif. Akibat dari gejala tersebut, atom hidrogen dalam molekul polar seolah-olah berada di antara atom-atom elektronegatif. Apa yang akan terjadi jika atom hidrogen yang bermuatan parsial positif berantaraksi dengan atom-atom pada molekul lain yang memiliki muatan parsial negatif dan memiliki pasangan elektron bebas. Anda pasti menduga akan terjadi antaraksi di antara molekul-molekul tersebut sebab molekulnya polar. Berdasarkan hasil pengamatan, dalam senyawa-senyawa polar yang mengandung atomhidrogen ada antaraksi yang lebih kuat dibandingkan antaraksi dipol maupun gaya London. Antaraksi ini dinamakan ikatan hydrogen.
Kim26-4IkatanHidrogen

IKATAN VALENSI
     Dalam bentuk molekul dikenal adanya teori ikatan valensi. Teori ini menyatakan bahwa ikatan antar atom terjadi dengan cara saling bertindihan dari orbital-orbital atom. Elektron dalam orbital yang tumpang tindih harus mempunyai bilangan kuantum spin yang berlawanan. Pertindihan antara dua sub kulit s tidak kuat, oleh karena distribusi muatan yang berbentuk bola, oleh sebab itu pada umumnya ikatan s – s relatif lemah.
Sub kulit “p” dapat bertindih dengan sub kulit “s” atau sub kulit “p” lainnya, ikatannya relatif lebih kuat, hal ini dikarenakan sub kulit “p” terkonsentrasi pada arah tertentu.



FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BENTUK MOLEKUL

 Berdasarkan teori domain elektron:
1.      Setiap pasangan elektron pada kulit terluar, baik pasangan elektron ikatan maupun pasangan elektron bebas menempati ruang tertentu, yang disebut domain.
2.      Ikatan rangkap menempati satu domain, karena pasanngan elektron pada ikatan rangkap berada pada daerah atau ruang yang sama diantara dua atom yang berikatan.
3.      Pasangan elektron bebas dan pasanga elektron ikatan rangkap menempati ruang lebih besar dibandingkan ruang yang ditempati pasangan elektron ikatan tunggal.
4.      Setiap pasangan elektron saling tolak – menolak satu sama lain dengan urutan kekuatan tolakan: PEB-PEB > PEI-PEB > PEI-PEI (PEB = pasangan elektron bebas, PEI = pasangan elektron ikatan)
5.      Setiap domain pasangan elektron mengambil tempat sedemikian rupa sehingga tolakan diantara pasangan elektron sekecil mungkin.
6.      Bentuk molekul ditentukan oleh pasangan elektron ikatan.

Berdasarkan hibridisasi :
1.      Hanya orbital-orbital yang memiliki tingkat energy berdekatan yang dapat bercampur menghasilkan orbital hibrid yangn baik.
2.      Jumlah orbital hibrid yang dihasilkan sama dengan banyaknya orbital  yang bercampur.
3.      Orbital hibrid diberi lambing sesuai dengan jenis dan jumlah orbital yang bercampur.
4.      Orbital hibrid memiliki tingkat energi diantara tingkat energy orbital-orbital atom yang bercampur. Urutan tingkat energi orbital hibrid: sp  < sp2 < sp3 < dsp2 < d2sp3.
5.      Dalam hibridisasi yang bercampur adalah sejumlah orbital bukan sejumlah elektron.
6.      Orbital – orbital hibrid memiliki orientasi ruang yang menentukan struktur molekul. 

DAFTAR PUSTAKA