.

Tampilkan postingan dengan label @M06-ANDINI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @M06-ANDINI. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Agustus 2019

PERAN LIMBAH RUMAH TANGGA TERHADAP PENCEMARAN AIR


Oleh : Andini Vinsencia


Abstrak

Air merupakan komponen penting dalam seluruh kehidupan makhluk hidup di bumi, tanpa air tidak akan ada makhluk hidup yang dapat bertahan. Namun bukan hanya sembarang air yang dibutuhkan melainkan air yang layak dan bersih yaitu air yang tidak tercemar dengan berbagai limbah, karena air yang sudah tercemar akan menimbulkan dampak negatif bagi penggunanya misalnya saja pada kesehatan manusia. Limbah rumah tangga adalah limbah hasil dari kegiatan dan aktivitas sehari-hari dari manusia yang langsung dibuang begitu saja ke lingkungan baik yang langsung dibuang ketanah maupun yang dibuang ke air, hal ini semakin lama semakin berpengaruh pada kondisi air, air semakin tercemar oleh adanya limbah hasil dari aktivitas rumah tangga manusia yang tidak terkontrol. Pencemaran air merupakan terjadinya kerusakan yang dialami oleh ekosistem perairan seperti lautan, sungai, danau, atau sumber air lainnya (Hidayat dan Kholil, 2018). Artikel ini membahas mengenai pencemaran air yang disebabkan oleh limbah rumah tangga, dampak serta cara menanggulangi pencemaran air tersebut. Dengan artikel ini diharapkan dapat memberikan edukasi tentang peran limbah rumah tangga dan dampaknya pada pencemaran air, sehingga dapat menimbulkan kesadaran dan dapat mendorong tindakan nyata untuk meminimalisir pencemaran air sehingga sumber air dapat tetap terjaga kebersihan dan kelayakannya demi keberlangsungan hidup seluruh makhluk hidup di Bumi tercinta ini.
Kata kunci : Air, Pencemaran, Limbah


BAGIAN I
PENDAHULUAN

Air merupakan komponen penting dalam seluruh kehidupan makhluk hidup di bumi, tanpa air tidak akan ada makhluk hidup yang dapat bertahan. Karena tubuh makhluk hidup itu sendiri didominasi oleh air. Air yang banyak digunakan banyak berasal dari sungai dan air tanah, air tersebut digunakan untuk konsumsi, mandi, dan juga kegiatan atau aktivitas rumah tangga manusia. Laju pertumbuhan penduduk diseluruh penjuru bumi semakin hari semakin meningkat dan hampir tidak dapat dikendalikan terutama dinegara-negara yang belum maju dan belum memiliki kesadaran untuk mengontrol jumlah kelahiran anak, dengan semakin meningkatnya jumlah manusia otomatis kebutuhan akan air pun semakin berlipat ganda, belum lagi jika menyinggung kebutuhan air dalam industri. Semakin banyak nya jumlah penduduk mempengaruhi kondisi air karena limbah yang dihasilkan dari aktivitas sehari-hari manusia atau yang dikenal dengan limbah rumah tangga yang dihasilkan setiap harinya pun menjadi semakin banyak. Limbah rumah tangga dibuang begitu saja ke lingkungan tanpa adanya penanganan khusus sehingga semakin hari semakin memperparah kondisi air.
Kondisi air yang sudah tercemar oleh limbah rumah tangga semakin tidak layak untuk digunakan, selain menimbulkan bau tidak sedap dan warna yang sudah berubah kearah hitam, jika digunakan untuk kegiatan sehari-hari air tersebut dapat menyebabkan gangguan kesehatan, contoh paling sederhananya adalah penyakit diare dan muntaber. Hal ini menimbulkan kesulitan untuk mendapatkan air bersih yang layak digunakan, selain itu akan menjadi tambahan pengeluaran bagi masyarakat karena harus membeli air bersih untuk kehidupan sehari-hari. Belum lagi dampak pencemaran air yang mengalir kelaut sehingga menimbulkan dampak negatif untuk kehidupan biota air dilaut.
Pencemaran air akibat Limbah rumah tangga sebenarnya sebagian besar terjadi dikarenakan ketidak tahuan masyarakat akan dampak limbah rumah tangga mereka, sudah dianggap biasa jika mencuci pakaian maupun peralatan makan dengan sabun atau detergen dan air bekas cuciannya dibuang langsung ketanah dan sungai, sudah menjadi hal biasa bagi warga yang tinggal dipinggiran sungai untuk membangun jamban dan langsung membuang kotoran mereka kesungai, belum lagi sampah-sampah plastik, sampah organik , dan lain-lain yang dibuang langsung begitu saja kesungai. Masyarakat awam sama sekali tidak menganggap itu sebagai masalah yang dapat menimbulkan pencemaran air, sehingga mereka sama sekali tidak mengambil tindakan apapun untuk dapat merubah ataupun memperbaiki kebiasaan mereka tersebut. Masyarakat hanya berpikir bahwa pencemaran air pasti disebabkan oleh limbah industri yang dibangun disekitar mereka, sehingga mereka fokus untuk menyalahkan pelaku industri saja, tanpa menyadari bahwa hasil limbah rumah tangga mereka pun berperan besar pada pencemaran air itu sendiri. Padahal untuk pengolahan limbah hasil industri justru dapat lebih terkontrol karena terdapat aturan-aturan jelas atau proses serta penanganan khusus untuk limbah industri yang berbeda dengan limbah rumah tangga yang sama sekali tidak diatur penanganannya.

BAGIAN II
PERMASALAHAN

Menurut Hidayat, 2013 dalam artikel green berjudul pencemaran kawasan perairan, Air yang tersebar di permukaan seperti sungai dan danau, maupun air tanah, merupakan sumber air minum. Namun ternyata di sisi lainnya badan-badan air tersebut sekaligus menjadi tempat pembuangan limbah. Sehingga secara perlahan namun pasti akses untuk memperoleh air bersih semakin terbatas.Limbah industri rumah tangga yang dihasilkan dari aktivitas manusia semakin hari semakin tidak terkontrol dan memperparah pencemaran air, baik air tanah, sungai, maupun air laut. Dampak dari pencemaran air menurut Hidayat dan Kholil (2018) adalah sebagai berikut :
1. Kesehatan Manusia
Berdasarkan catatan Envropol (2014) dalam Hidayat dan Kholil (2018), di negara-negara dengan kondisi sumberdaya perairan yang pengelolaannya buruk, sangat rentan terhadap wabah penyakit yang menjadikan air sebagai perantara, seperti kolera dan Tuberculosis (TB). Pada saat ini 40 % penduduk dunia tidak memiliki sarana sanitasi yang memadai. Sekitar satu milyar penduduk dunia terutama anak-anak terinfeksi parasit dan mengalami kekurangan gizi serta hambatan dalam pertumbuhannya, dan sekitar 6000 anak meninggal setiap harinya karena penyakit perut yang disebabkan buruknya kondisi sanitasi, data dari (Winblad, 2004 dalam Nefilinda).
2. Kerusakan Ekosistem
Polusi nutrisi dari bagian hulu sungai akan mengalir sampai kelaut, sebagai dampaknya akan menimbulkan pertumbuhan alga berlebih yang akan mengurangi pasokan oksigen untuk biota air, sehingga kondisi ekosistem air secara keseluruhan menjadi tidak seimbang, selain itu pencemaran-pencemaran air tersebut juga merubah kondisi air secara drastis sehingga menimbulkan terjadinya metamorfosa ekosistem, mengubah siklus rantai makanan, dan lain-lain.
3. Kematian Hewan
Menurut Hidayat dan Kholil (2018), dampak pencemaran air terhadap kehidupan hewan mulai dari menimbulkan stress sampai terjadinya kepunahan.
4. Biaya Ekonomi
Biaya yang diperlukan untuk memurnikan air di perkotaan yang airnya sudah sangat tercemar sangat mahal sehingga perlu biaya yang yang lebih pula dapat menggunakan air bersih hasil olahan tersebut.
Dilihat dari dampak yang dihasilkan pencemaran air ini, maka perlu dilakukan tindakan-tindakan untuk meminimalisir penyebab pencemarannya, hal paling sederhana namun berdampak sangat besar tentunya berasal dari diri masing-masing untuk dapat mengurangi limbah rumah tangga.
  
BAGIAN III
PEMBAHASAN

Pencemaran air merupakan terjadinya kerusakan yang dialami oleh ekosistem perairan seperti lautan, sungai, danau, atau sumber air lainnya (Hidayat dan Kholil, 2018). Tertuang di PP No. 20/1990 (dalam Warlina , 2004) tentang Pengendalian Pencemaran Air. Pencemaran air didefinisikan sebagai : “pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya mahluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiaan manusia sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya”. Pencemaran air dapat ditanggulangi dengan cara dikenali terlebih dahulu sumber pencemaran, sifat dan karakter bahan pencemar, kemudian dilakukan pengambilan keputusan untuk mengatasi pencemaran. Pengendalian pencemaran perlu dilakukan perlindungan sumber air dengan cara menata tata ruang yang berwawasan lingkungan dan dilindungi undang-undang yang berlaku (Herlambang, 2006 dalam Widiyanto, dkk 2015).
Penyebab pencemaran air menurut Hidayat dan Kholil(2018) adalah sebagai berikut :
1. Limbah Manusia
2. Limbah Nutrisi
3. Air Limbah
4. Limbah Kimia
5. Limbah Radioaktif
6. Limbah Minyak
7. Limbah Plastik
Dari ketujuh penyebab pencemaran air, Limbah manusia atau yang lebih dikenal dengan limbah rumah tangga menduduki peringkat pertama, yang berarti peran limbah rumah tangga sangat besar terhadap pencemaran air dan tidak bisa dianggap remeh. Limbah rumah tangga dapat berupa air bekas cucian, sampah, kotoran manusia, dan lain-lain. Air bekas cucian selalu dibuang begitu saja kelingkungan tanpa ada penanggulangan, sampah-sampah dibuang ke air sampai memenuhi permukaan air bahkan mencemari laut, begitupun dengan ketidak sadaran masyarakat akan pentingnya septic tank yang dapat mengendalikan pembuangan limbah kotoran manusia dengan lebih higienis. Perlu dilakukan tindakan nyata untuk mengatasi hal ini
Hal-hal yang dapat dilakukan untuk menanggulanginya adalah :
1. Pendidikan
Edukasi terhadap bahaya nya pencemaran air yang diakibatkan oleh limbah rumah tangga harus disosialisasikan keseluruh masyarakat agar dapat menjadi edukasi dan menumbuhkan kesadaran masyarakat.
2. Hukum
Perlu adanya aturan atau hukum yang tegas untuk menanggulangi limbah rumah tangga yang dibuang sembarangan, agar menimbulkan efek jera.

BAGIAN IV
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan yang dapat diambil ialah :
1. Pencemaran air memiliki dampak yang negatif bagi kehidupan dan lingkungan
2. Limbah rumah tangga turut berperan dalam pencemaran air

Saran yang dapat diberikan ialah :
Memberikan edukasi kepada masyarakat tentang dampak pencemaran air dan limbah rumah tangga yang memicunya dan juga harus ada hukuman dan aturan yang tegas tentang penanggulangan pembuangan limbah rumah tangga.


DAFTAR PUSTAKA 


Hidayat, Atep Afia dan Muhammad Kholil.2018.Kimia dan Pengetahuan Lingkungan Industri.Penerbit WR.Yogyakarta

Warlina, Lina.2004.Pencemaran air : Sumber, Dampak, dan Penanggulangannya.Institut Pertanian Bogor.Bogor

Widiyanto, Agnes Fitria, dkk. 2015. Polusi Air Tanah Akibat Limbah Industri Dan Limbah Rumah Tangga.Universitas Jendral Soedirman.Purwokerto

Nefilinda. Teknologi Hijau solusi untuk pelestarian sumber air. STKIP PGRI.Sumatera Barat

Hidayat, Atep Afia.2013.Pencemaran Kawasan Perairan.Kangatepafia.com diakses 31 Agustus 2019.

           




Minggu, 25 Agustus 2019

TEKNOLOGI HIJAU UNTUK BUMI YANG HIJAU



Oleh : Andini Vinsencia

Kemajuan teknologi yang semakin maju dan terus berkembang memiliki dampak positif dan negatif bagi kehidupan seluruh makhluk hidup dan juga planet bumi itu sendiri. Sisi positif dengan adanya kemajuan teknologi adalah memudahkan segala aktivitas dan pekerjaan manusia di berbagai lini, contohnya sekarang untuk bepergian kemanapun kita dengan mudahnya dapat memesan transportasi baik online maupun offline, kita tidak perlu lagi harus memakai lilin  sebagai penerangan karena sudah ada listrik yang dapat menyalakan lampu, tidak perlu berkirim surat maupun membaca koran karena sudah ada internet. Kemudahan-kemudahan tersebut membuat kita terlena dan seakan tidak bisa lepas lagi dari teknologi.

Dibalik segala kenyamanan dan kemudahan yang kita dapatkan, terdapat sisi negatifnya, yaitu  terjadi penyalahgunaan teknologi itu sendiri seperti dimanfaatkan untuk berperang. perang dengan teknologi berbeda dengan perang pada jaman dahulu yang menggunakan bambu runcing, sekali perang nuklir terjadi dampaknya pasti sangat besar, bahkan dapat menghancurkan suatu wilayah, belum lagi radiasinya yang dapat menimbulkan kecacatan untuk beberapa generasi. Belum lagi eksploitasi Sumber daya alam demi memenuhi kebutuhan manusia dalam pemakaian teknologi, contohnya tambang batu bara, perkebunan kelapa sawit, dan lain-lain. 

Sisi negatif ini harus dapat kita minimalisir sebisa mungkin, karena kelestarian bumi kita pun menjadi terancam. Oleh karena itulah, kita harus mulai beralih ke teknologi hijau demi menjaga kelestarian planet bumi kita. Menurut catatan Semarno (2011) dalam Hidayat & Kholil (2018) Teknologi hijau adalah teknik untuk menghasilkan energi dan atau produk yang prosesnya tidak mencemari lingkungan. Sudah banyak industri-industri yang sadar akan hal ini dan sudah mulai beralih menjadi industri hijau atau industri yang memakai teknologi hijau. Akan tetapi semua itu harus dimulai dari hal kecil, yaitu dari diri kita masing-masing, kita dapat melakukan Hal-hal sederhana yang dapat kita mulai dari diri kita sendiri untuk mendukung teknologi hijau ini salah satunya adalah dengan mengurangi pemakaian barang elektronik(listrik) dan juga memperbanyak jalan kaki/sepeda guna mengurangi pemakaian kendaraan bermotor yang perlu bahan bakar. Dimulai dari langkah kecil untuk mendukung teknologi hijau ini, kita harus yakin danpercaya bahwa dampak nya semakin lama akan semakin nyata untuk mengembalikan bumi kita yang hijau.

DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, Atep Afia dan Muhammad Kholil. 2018. Kimia dan Pengetahuan Lingkungan Industri. Penerbit WR. Yogyakarta


Sabtu, 10 Agustus 2019

PENCEMARAN LINGKUNGAN

Oleh : Andini Vinsencia

Dewasa ini isu mengenai pencemaran lingkungan merupakan isu yang menjadi concern banyak orang diseluruh dunia, mengingat begitu banyaknya bencana alam yang diakibatkan oleh pencemaran lingkungan dan lagi kondisi planet Bumi kita yang semakin parah dipengaruhi berbagai pencemaran yang kita buat di bumi. Sampah yang menumpuk, limbah industri, limbah rumah tangga, pencemaran laut, pencemaran udara, pencemaran tanah, dan lain-lain.

Apa itu pencemaran lingkungan?

Pencemaran lingkungan (environmental pollution) merupakan efek dari perubahan yang tidak diinginkan dalam lingkungan, yang secara langsung berpengaruh buruk terhadap kondisi tumbuhan, hewan, dan manusia (Hidayat dan Kholil,2018). Pencemaran atau polusi adalah suatu kondisi yang telah berubah dari bentuk asal pada keadaan yang lebih buruk. Pergeseran bentuk tatanan dari kondisi asal pada kondisi yang buruk ini dapat terjadi sebagai akibat masukan dari bahan-bahan pencemar atau polutan. Bahan polutan tersebut pada umumnya mempunyai sifat racun (toksik)yang berbahaya bagi organisme hidup.Toksisitas atau daya racun dari polutan itulahyang kemudian menjadi pemicu terjadinya pencemaran (Palar, 1994; Dalam Ainuddin, Widyawati 2017). Hal yang menjadi penyebab pencemaran lingkungan biasa dikenal dengan polutan, polutan dapat berupa padat, cair, dan juga gas, Polutan yang mencemari lingkungan sebagian besarnya merupakan akibat dari kegiatan atau aktivitas yang dilakukan oleh manusia sehari-hari. Contoh paling sederhananya adalah limbah rumah tangga yang dihasilkan dari air bekas cucian pakaian yang menggunakan detergen, Kegiatan mencuci pakaian pasti dilakukan oleh hampir seluruh manusia didunia setiap harinya, dapat kita bayangkan dari satu kegiatan ini saja sudah berapa banyak limbah yang kita sumbangkan untuk pencemaran air dan tanah.
Menurut Cef, 2015 ; Hathaway, 2015 ; dan Hill, 2004 (Dalam Hidayat dan Kholil,2018), Beberapa jenis pencemaran adalah sebagai berikut :
1. Pencemaran udara
Pencemaran udara merupakan pencemaran yang paling berbahaya dibandingkan dengan jenis pencemaran yang lain. Hal ini dikarenakan polutan yang dilepaskan keudara merupakan hasil dari hal yang paling dominan dilakukan oleh manusia, seperti konsumsi bahan bakar baik dari perorangan maupun industri. Selain berdampak pada kesehatan seperti penyakit asma, paru-paru-paru, dan lain-lain, pencemaran udara juga berperan besar pada meningkatkan potensi pemanasan global dan hujan asam yang ditandai dengan peningkatan suhu bumi, cuaca tidak menentu, kekeringan di berbagai wilayah dunia, dan lain-lain.
2. Pencemaran Air
Odum (1971) dalam Ainuddin, Widyawati, 2017 mengatakan bahwa pencemaran perairan adalah suatu perubahan fisika, kimia dan biologi yang tidak dikehendaki pada ekosistem perairan yang akan menimbulkan kerugian pada sumber kehidupan, kondisi kehidupan dan proses industri.
Pencemaran air terjadi karena adanya limbah industri yang dibuang ke perairan, penggunaan bahan kimia pada tanaman, dan juga kegiatan sehari-hari manusia seperti yang sudah disinggung sebelumnya seperti mencuci pakaian. Polutan-polutan tersebut masuk ke perairan dan kemudian mempengaruhi  atau mengkontaminasi perairan yang dapat menyebabkan kontaminasi bagi organisme maupun pengurangan kadar oksigen perairan. Lebih jauh lagi, dapat mengganggu siklus rantai pangan dan juga dapat menyebarkan penyakit seperti Diare dan lain-lain.
3. Pencemaran Tanah
Penggunaan pestisida dalam pertanian yang dilakukan secara massive dan dalam jangka waktu lama juga berakibat pada pencemaran tanah, pencemaran tanah dapat mengganggu kelangsungan hidup mikroorganisme dalam tanah yang sebenarnya berguna untuk kehidupan kita, seperti cacing tanah.
4. Pencemaran Suara
Disebabkan saat suara mengganggu sistem pendengaran manusia, hal ini dapat menimbulkan berbagai penyakit seperti stres, hipertensi, gangguan pendengaran dan lain-lain. Pencemaran suara umumnya dihasilkan oleh mesin-mesin industri, suara kendaraan, musik, dan lain-lain.
5. Pencemaran Radioaktif
Menimbulkan dampak yang berbahaya karena biasanya disebabkan oleh efek samping penggunaan nuklir. Dampak radioaktifnya  adalah kanker, kemandulan, cacat, mengurangi kesuburan tanah, serta kualitas tanah dan air.
6. Pencemaran Termal
Pencemaran termal atau panas terjadi karena kenaikan suhu secara berlebihan, hal ini disebabkan oleh polutan industri, polutan kendaraan, dan lain-lain. Pencemaran termal menyebabkan peningkatan suhu bumi dan perubahan iklim.
7. Pencemaran Cahaya
Terjadi karena pencahayaan berlebihan pada suatu lokasi, pencemaran cahaya menimbulkan penggunaan energi listrik yang boros atau berlebihan.
Setelah mengetahui Apa itu Pencemaran lingkungan, kita perlu mengetahui juga dampak pencemaran lingkungan tersebut terhadap berbagai hal disekitar kita, Menurut Cef, 2015 ; Hathaway, 2015 ; dan Hill, 2004 (Dalam Hidayat dan Kholil,2018), Dampak Pencemaran Lingkungan adalah sebagai berikut:
a. Degradasi Kualitas Lingkungan
Pencemaran air, udara, dan tanah berdampak pada penurunan kualitas lingkungan, hal ini berpengaruh pada setiap bidang di bumi, Manusia hewan, maupun tumbuhan, seperti kabut asap, pemanasan global, dan lain-lain.
b. Kesehatan manusia
Dampak negatif terhadap kesehatan masyarakat akan dirasakan dalam kurun waktu jangka panjang, berbagai penyakit seperti kanker, penyakit paru-paru, cacat, danlain-lain merupakan contoh dari berbagai pencemaran yang terjadi di Bumi.
c. Pemanasan Global
d. Penipisan Lapisan ozon
e. Berkurangnya kesuburan tanah



DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, Atef Afia dan Muhammad Kholil.2018.Kimia dan Pengetahuan Lingkungan Industri.Yogyakarta.Penerbit WR

Ainuddin,  dan Widyawati.2017. Studi Pencemaran Logam Berat Merkuri (Hg) Di Perairan Sungai Tabobo Kecamatan Malifut Kabupaten Halmahera Utara.Maluku Utara. Universitas Nuku Tidore



Sabtu, 03 Agustus 2019

MENGURANGI DAMPAK LINGKUNGAN SAMPAH PLASTIK DENGAN PENGOLAHAN LIMBAH KANTONG PLASTIK JENIS KRESEK MENJADI BAHAN BAKAR



                             MIND MAP
 Seperti yang kita semua ketahui, saat ini sampah plastik sedang menjadi perbincangan hangat diseluruh dunia terkait dengan dampak lingkungan yang ditimbulkannya. Dampak yang ditimbulkannya terhadap lingkungan banyak sekali, contoh umumnya yang paling terlihat adalah Sampah plastik yang mencemari lautan dan merusak ekosistem biota laut, seperti penyu, ikan, dan lain-lain. Belum lagi dampaknya jika dilihat dari sisi kesehatan, Menurut Karuniastuti(2003), Penggunaan plastik yang tidak sesuai persyaratan akan menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, karena dapat mengakibatkan pemicu kanker dan kerusakan jaringan pada tubuh manusia (karsinogenik). Selain itu plastik pada umumnya sulit untuk didegradasikan (diuraikan) oleh mikro organisme. Sampah plastik dapat bertahan hingga bertahun-tahun sehingga menyebabkan pencemaran terhadap lingkungan. Sampah plastik tidaklah bijak jika dibakar karena akan menghasilkan gas yang akan mencemari udara dan membahayakan pernafasan manusia, dan jika sampah plastik ditimbun dalam tanah maka akan mencemari tanah, air tanah.
Mengacu pada dampak yang ditimbulkan oleh sampah plastik, banyak orang yang sudah memulai untuk mengkampanyekan terkait penggunaan sampah plastik dalam kehidupan sehari-sehari, sudah banyak pula orang yang mulai berupaya untuk mengurangi pemakaian sampah plastik, misalnya dengan tidak memakai sedotan plastik  sekali pakai dan beralih ke sedotan stainless, lalu mengurangi pemakaian Botol plastik dengan menggunakan wadah air minum seperti tumbler, mengurangi pemakaian kantong plastik dengan beralih ke pemakaian tas belanja, dan masih banyak lagi. Akan tetapi upaya ini masih berdampak sangat kecil terhadap lingkungan, karena masih banyak orang yang tidak bisa meninggalkan kepraktisan penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-harinya, belum lagi sampah-sampah plastik yang sudah dipakai bertahun bahkan puluhan tahun lalu masih betah berdiam di lingkungan kita dan tidak kunjung terurai.
            Penanganan sampah plastik tidak bisa ditanggulangi dengan hanya mengurangi pemakaian saat ini, bagaimana dengan sampah plastik yang sudah terlanjur ada? Saat ini pun sudah banyak penelitian dilakukan guna menanggulangi sampah plastik yang sudah ada, salah satu caranya adalah dengan menggunakan sampah plastik kresek menjadi bahan bakar.
Menurut Nasrun, dkk (2015), diperkirakan setiap orang menghabiskan 170 kantong plastik setiap tahunnya dan sekitar 500 miliar hingga satu triliun kantong plastik digunakan di seluruh dunia. Serta lebih dari 17 miliar kantong plastik dibagikan secara gratis oleh supermarket di seluruh dunia untuk setiap tahunnya. Bahkan, jika dibentangkan semua kantong plastik yang ada di bumi ini bisa membungkus seluruh permukaan bumi hingga 10 kali lipat. Pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar minyak merupakan salah satu pengembangan dari ilmu pengetahuan yang memberikan manfaat positif untuk mengatasi masalah lingkungan, meningkatkan taraf hidup orang banyak, juga menjadi tawaran solusi mencari bahan bakar alternatif.
Dalam jurnal nya yang berjudul pengolahan limbah kantong plastik jenis kresek menjadi bahan bakar menggunakan proses pirolisis, Nasrun, dkk (2015) menyebutkan bahwa pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar meliputi beberapa proses, diantaranya :
1. Pirolisis adalah dekomposisi kimia bahan organik melalui proses pemanasan tanpa atau sedikit oksigen atau reagen kimia lainya dimana material mentah akan mengalami pemecahan stuktur kimia menjadi fase gas. Teknik seperti ini mampu menghasilkan gas pembakaran yang berguna dan aman bagi lingkungan Proses pirolisis ini akan memecah hidrokarbon rantai karbon panjang dari polimer plastik menjadi rantai hidrokarbon berantai pendek, selanjutnya molekul molekul ini didinginkan menjadi fase cair.
2. Distilasi adalah pemisahan campuran dalam suatu larutan berdasarkan perbedaan titik didih
Nasrun, dkk (2015) menggunakan metodologi sebagai berikut dalam penelitiannya, Tahap pembuatan atau metodologi ialah proses produksi bahan bakar yaitu dari limbah kantong plastik jenis kresek dengan menggunakan metode pirolisis dan tahap analisis adalah tahap menganalisa nilai kalor, titik nyala (flash point), kadar abu, kadar air dan analisa komposisi yang terkandung dalam produk bahan bakar. Berat sampel 500 gram dan ukuran 1-2 cm2 . Suhu pirolisis: 2600C, 2700C, 2800C, 2900C dan 3000C dan waktu pirolisis :0, 15, 30, 45, 60 menit. Setelah bahan bakar yang diperoleh diambil untuk dianalisa nilar kalor, titik nyala (flash point), kadar abu, kadar air dan analisa komposisi.
Berdasarkan penelitian yang Nasrun, dkk(2015) lakukan diperoleh lah kesimpulan sebagai berikut :
1. Nilai kalor yang diperoleh dari hasil perhitungan komposisi kimianya sebesar 10.541,75 kkal/kg
2. Titik nyala dari beberapa sampel produk yang didapat memenuhi standar mutu bahan bakar minyak di Indonesia, diantaranya yang paling mendekati titik minimum pada suhu pirolisis 3000C yaitu 57,50C. Jurnal Energi Elektrik Volume IV Nomor 1 Tahun 2015 5 ISSN 2303 - 1360
3. Semakin tinggi suhu pirolisis maka semakin sedikit persen kadar air yang diperoleh yaitu berkisar antara 0,01 - 0,53 %.
4. Semakin tinggi suhu pirolisis maka semakin banyak pula persen kadar abu yang dihasilkan tertinggi pada suhu 3000C yaitu 0.26%, terendah pada suhu 2600C yaitu 0,01%.
5. Komposisi limbah kantong plastik jenis kresek dapat mempengaruhi pembentukan distribusi jumlah atom C senyawa hidrokarbon minyak pirolisis. Hasil dari analisa komposisi GC-MS diperoleh komposisi yang paling dominan adalah C12H24 yaitu sebesar 41,9%.
6. Nilai energi aktivasi yang didapat adalah 10.106,77 kj/mol
Dengan adanya penelitian-penelitian seperti ini dan juga upaya-upaya mengurangi pemakaian sampah plastik di masyarakat, semoga problema Sampah plastik yang mencemari lingkungan ini dapat segera terselesaikan dan kita dapat menyelamatkan lingkungan kita dari dampak-dampak yang ditimbulkan oleh Sampah plastik ini.



DAFTAR PUSTAKA


Karuniastuti, Nurhenu. 2003. Bahaya Plastik Terhadap Kesehatan dan Lingkungan. Semarang: Universitas Diponegoro.
Nasrun, dkk. 2015. Pengolahan Limbah Kantong Plastik Jenis Kresek Menjadi Bahan Bakar Menggunakan Proses Pirolisis. Lhokseumawe: Universitas Malilkussaleh.