.

Tampilkan postingan dengan label @K05-Risza. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @K05-Risza. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Januari 2019

Perubahan Zat

Disusun Oleh: @Kel-K02

Bayu Anggara (@K04-Bayu)
Risza Kurniawan (@K05-Risza)
Faisal Rafi (@K06-Faisal)



Perubahan wujud zat adalah perubahan termodinamika dari satu fase benda ke keadaan wujud zat yang lain.
Perubahan wujud zat ini bisa terjadi karena peristiwa pelepasan dan penyerapan kalor.Perubahan wujud zat terjadi ketika titik tertentu tercapai oleh atam/senyawa zat tersebut yang biasanya dikuantitaskan dalam angka suhu. Semisal air untuk menjadi padat harus mencapai titik bekunya dan air menjadi gas harus mencapai titik didihnya.

Rabu, 19 Desember 2018

Apa Itu Biomassa

Oleh: Risza Kurniawan (@K05-Risza)

Abstrak

Energi biomassa adalah sumber energi terbarukan yang ditemukan dalam tanaman. Tanaman mengambil energi dari matahari dalam proses fotosintesis dan menggunakannya untuk memproduksi dan tumbuh biomassa.
Biomassa adalah produk yang dikenal atau bahan yang ditemukan di sebagian besar makhluk hidup. Hal ini dapat bahan hewan, bakteri, atau bahan tanaman. Contoh tertua yang kita miliki dari energi biomassa saat ini adalah kayu, yang dapat kita membakar untuk menghasilkan panas dan menciptakan uap yang karenanya, menghasilkan energi.
Kata Kunci : Energi Terbarukan , Renewable Energy


Pembahasan
Hingga saat ini energi memiliki peranan sangat penting dalam kehidupan peradaban manusia. Salah satu persoalan yang muncul dalam penggunaan energi adalah masih banyaknya penggunaan energi fosil, padahal energi ini sangat terbatas di muka bumi. Oleh karena itu perlunya efisiensi penggunaan energi di seluruh lini bidang kehidupan, termasuk pada lembaga pemerintah, swasta maupun masyarakat. (Biantoro dkk, 2017)
Menipisnya cadangan bahan bakar fosil dan meningkatnya populasi manusia sangat kontradiktif dengan kebutuhan energi bagi kelangsungan hidup manusia beserta aktivitas ekonomi dan sosialnya. Sejak lima tahun terakhir Indonesia mengalami penurunan produksi minyak nasional akibat menurunnya secara alamiah cadangan minyak pada sumursumur produksi. Padahal dengan mengembangkan sumber energi alternatif sebagai pengganti BBM ( Haryadi, 2009)

Biomassa adalah bahan organik yang dihasilkan melalui proses fotosintetik, baik berupa produk maupun buangan. Contoh biomassa antara lain adalah tanaman, pepohonan, rumput, ubi, limbah pertanian, limbah hutan, tinja dan kotoran ternak. Selain digunakan untuk tujuan primer serat, bahan pangan, pakan ternak, minyak nabati, bahan bangunan dan sebagainya, biomassa juga digunakan sebagai sumber energi (Arhamsyah, 2010)

Sebagai bahan bakar, biomassa perlu dilakukan pengolahan terlebih dahulu agar dapat lebih mudah dipergunakan yang dikenal sebagai konversi biomassa. Teknologi konversi biomassa tentu saja membutuhkan perbedaan pada alat yang digunakan untuk mengkonversi biomassa dan menghasilkan perbedaan bahan bakar yang dihasilkan (Sulaiman, 2009).

Daftar Pustaka
·         https://kliksma.com/2015/05/pengertian-energi-biomassa.html(Diakses Pada 18 Desember 2018)
·         Biantoro, Agung Wahyudi., D.S, Permana. 2017. Analisis Audit Energi Untuk Pencapaian Efisiensi Energi Di Gedung Ab, Kabupaten Tangerang, Banten. Jurnal Teknik Mesin (JTM): Vol. 06.
·         Kholiq, Imam. 2015. Pemanfaatan Energi Alternatif Sebagai Energi Terbarukan Untuk Mendukung Subtitusi BBM: Vol 19, No. 2.
Dalam : https://ejurnal.itats.ac.id/iptek/article/viewFile/12/12(Diakses Pada 18 Desember 2018)
·         Arhamsyah. 2010. Pemanfaatan Biomassa Kayu Sebagai Sumber Energi Terbarukan: Vol 2, No. 1, 42-48
·         Tajalli, Arief. 2015. Panduan Penilaian Potensi Biomassa Sebagai Sumber Energi Alternatif Di Indonesia.

Selasa, 18 Desember 2018

Teknologi Ramah Lingkungan

Teknologi ramah lingkungan adalah sebuah bentuk usaha pemeliharaan lingkungan terhadap akibat pencemaran lingkungan. Dengan begitu, yang dimaksud dengan ramah lingkungan di sini adalah bersifat meminimalisir segala macam pencemaran yang telah ada di bumi kemudian mencegah terjadinya pencemaran yang terjadi pada masa depan. Penggunaan dari teknologi yang ramah lingkungan ini diharapkan bisa menjadi solusi paling baik untuk memecahkan permasalahan lingkungan. Secara umum sendiri, teknologi yang ramah lingkungan merupakan teknologi yang sumber daya alam lingkungannya lebih hemat, mencakup ruang, energi dan bahan baku.
Dengan pemanfaatan teknologi ramah lingkungan diharapkan hanya mengeluarkan limbah sedikit saja, baik berupa limbah gas, cair, padat, radiasi maupun kebisingan. Sehingga resiko terhadap bencana alam pun bisa ditekan. Teknologi yang ramah lingkungan sendiri bisa meningkatkan sistem penghematan sumber daya alam atau energi serta meminimalisir pencemaran lingkungan. Selain itu, teknologi yang ramah lingkungan sendiri biasanya memanfaatkan sumber energi terbaharukan atau dapat diperbarui, contohnya energi angin, sinar matahari, air dan sebagainya. Kemudian mengubah energi tersebut ke dalam energi lainnya yang bisa tidak menghasilkan polusi ataupun limbah (meskipun limbah tersebut dalam jumlah yang sedikit).
Teknologi semacam ini memang seharusnya mampu untuk memelihara dan melindungi lingkungan. Adapun caranya bisa bermacam-macam, seperti mengurangi polutan yang dihasilkan dari berbagai macam peralatan teknologi, memberikan penanganan tepat untuk limbah-limbah yang dihasilkan setiap industri dan menggunakan SDA yang seimbang dan juga berkepanjangan.
Prinsip dalam Konsep Teknologi Ramah Lingkungan
Secara sederhana, teknologi ramah lingkungan adalah teknologi yang diciptakan untuk memudahkan kehidupan manusia tanpa perlu merusak atau memberikan dampak negatif pada lingkungan di sekitarnya. Teknologi seperti ini diharapkan mampu menjaga lingkungan, misalnya dalam alat-alat teknologi ramah lingkungan tersebut tidak menggunakan polutan, serta pada akhirnya dapat memberikan penanganan yang tepat terhadap limbah-limbah yang mungkin dihasilkan dari alat-alat teknologi ramah lingkungan tersebut.
Ada 6 prinsip yang diterapkan pada konsep teknologi ramah lingkungan, yaitu:
1.      Refine, yang berarti menggunakan bahan yang ramah lingkungan serta melalui proses yang lebih aman dari teknologi sebelumnya.
2.      Reduce, yang berarti mengurangi jumlah limbah dengan cara mengoptimalkan penggunaan bahan.
3.      Reuse, yang berarti memakai kembali bahan-bahan yang tidak terpakai atau sudah berupa limbah dan diproses dengan cara yang berbeda.
4.      Recycle, yang berarti hampir sama dengan reuse, hanya saja recycle menggunakan kembali bahan-bahan atau limbah dan diproses dengan cara yang sama.
5.      Recovery, yang berarti pemanfaatan material tertentu dari limbah untuk diproses demi keperluan yang lain.
6.      Retrieve Energy, yang berarti penghematan energi dalam suatu proses produksi.




Macam-macam teknologi ramah lingkungan
Ada beberapa macam teknologi ramah lingkungan yang bisa dimanfaatkan, diantaranya:
§  Biogas
Biogas ini merupakan gas yang mudah terbakar atau bersifat flammable yang diperoleh berdasarkan proses fermentasi dari bahan-bahan yang organik yang dilakukan oleh bakteri yang sifatnya anaerob. Adapun anaerob di sini maksudnya adalah bakteri yang dapat hidup pada kondisi yang kedap udara. Umumnya segala macam bahan organik dapat diproses untuk memproduksi biogas, akan tetapi hanya berupa bahan organik, baik berbentuk cair maupun padatan yang homogen, contohnya urine dan kotoran dari hewan ternak cocok pada sistem biogas yang sederhana. Biogas memiliki sifat bisa dibakar layaknya LPG, pada skala besar sendiri biogas bisa dimanfaatkan sebagai sebuah energi untuk membangkitkan tenaga listrik. Adapun sumber energi dari biogas paling utama yakni kotoran manusia, kotoran ternak, limbah organik ataupun limbah domestik.
§  Biofuel
Contoh teknologi ramah lingkungan berikutnya adalah biofuel. Biofuel ini yaitu bahan bakar, baik itu berupa gas, cairan atau padatan yang diperoleh dari zat-zat organik. Biofuel ini bisa dihasilkan baik secara tak langsung melalui limbah industri, pertanian atau domestik, dan komersial, dan secara langsung melalui tanaman.
§  Biopori
Teknologi Biopori sendiri merupakan teknologi yang ramah lingkungan yang diberlakukan di Indonesia. Biopori atau Teknologi Lubang Resapan Biopori adalah teknologi alternatif peresapan air hujan pada tanah, di samping menggunakan sumur resapan. Adapun pemanfaatan teknologi Biopori ini membuat keseimbangan lingkungan lebih terjaga, bisa menangani sampah organik dengan menimbulkan aroma yang tak sedap. Selain itu, teknologi ini pun bisa menyimpan air agar bisa digunakan pada musim kemarau. Kelebihan teknologi ini dapat memperkaya kandungan dari air hujan, sebab sesudah diresapkan pada tanah melalui biopori juga memiliki kandungan bakteri dan lumpur. Dengan begitu air nantinya melarutkan dengan mengandung banyak mineral yang dibutuhkan oleh kehidupan. Tujuan dari teknologi ini yaitu supaya air masuk hingga sebanyak mungkin pada tanah. Tak hanya sederhana, teknologi ini pun mudah dipakai kaum perempuan.

Manfaat Teknologi Ramah Lingkungan
            Ada penemuan tentu saja ada manfaatnya, Teknologi ramah pada lingkungan akan memberikan manfaat yang sangat besar buat kehidupan. Seperti:
•    Mengurangi jumlah limbah supaya tak berlebihan hingga dapat menghindar pencemaran lingkungan.
•    Teknologi ini benar-benar efisien serta efektif dalam hal pemakaian sumber daya alam, hingga lingkungan juga bisa tetap terjaga dengan baik.
•    Menekan biaya produksi/hemat. Memakai sumber daya alam untuk sisi dari teknologi dapat menghemat biaya, misalnya yaitu listrik tenaga surya yang cuma mengandalkan energi matahari tanpa dipungut biaya.
•    Mengurangi resiko penurunan kondisi kesehatan makhluk hidup, terutama manusia.

Contoh Penerapan Konsep Teknologi Ramah Lingkungan di Belahan Dunia
Teknologi telah menjadi santapan sehari-hari di zaman sekarang ini, namun penggunaan teknologi yang sekarang ini tidak terbatas akan menyebabkan kelangkaan sumber teknologi yang tidak terbarukan. Karena itulah para ilmuwan bekerja keras untuk menciptakan teknologi yang bisa terbarukan sekaligus juga yang ramah lingkungan. Berikut ini contoh penerapan konsep teknologi ramah lingkungan di belahan dunia:

·         Air Tree, Spanyol
      Merupakan bangunan pertama yang didirikan di Madrid yang dibuat dari berbagai barang-barang daur ulang. Tidak hanya itu, bangunan ini juga menyediakan ventilasi alami serta memberi perlindungan panas ketika musim panas datang. Bangunan ini juga dilengkapi tenaga surya yang dikumpulkan dari panel photovoltaic yang digunakan untuk menyirami tanaman dan segala hal yang berhubungan dengan pemeliharaan tanaman di Air Tree tersebut.

·         The Reichstag, Berlin
Merupakan gedung pemerintahan yang menggunakan kaca dan cermin untuk memantulkan cahaya matahari sejauh mungkin, sehingga tidak perlu lagi bergantung pada penerang buatan. Tidak hanya itu, gedung ini juga bisa mengumpulkan air hujan dan juga tempat mengumpulkan sumber energi. Gedung ini adalah gedung parlemen, tempat dimana para pejabat pemerintahan bekerja untuk rakyat-rakyatnya.

·         The Science Barge, New York
Bangunan ini merupakan tempat edukasi lingkungan sekaligus rumah kaca yang terapung di atas Hudson River, New York.  Rumah kaca ini dilengkapi tenaga surya yang digunakan untuk menggerakannya dengan bantuan angin dan bahan bakar bio. Karena sulitnya mendapat tanah yang subur dan sehat, tanaman di bangunan ini dikembangkan dengan cara hidroponik sehingga tanaman tetap mendapatkan semua nutrisi yang dibutuhkannya dari air bukannya dari tanah.

·         The Sun Moon Mansion, China
Karena China merupakan negara dengan populasi manusia terbanyak di dunia, pemerintah China mempunya rencana untuk meggunakan teknologi yang dapat terbarukan untuk mencegah kelangkaan yang bisa terjadi pada sumber energi yang tak terbarukan. Salah satu caranya adalah dengan membangun gedung ini. Gedung ini menyediakan fasilitas gedung kantor, konferensi, dan pelatihan, sekaligus juga menjadi gedung yang memproduksi energi surya terbesar di dunia untuk saat ini.


Contoh penerapan teknologi ramah lingkungan
Pemanfaatan teknologi ramah lingkungan bisa dimulai dengan hal yang sifatnya sederhana saja,misalnya saja:
1.      Mengganti pemakaian peralatan rumah tangga lebih sederhana, contohnya mengganti penggunaan blender memakai ulekan, mengganti pemakaian vacuum cleaner memakai sapu lidi.
2.      Memakai listrik seperlunya, terutama di siang hari. Selain itu juga mengontrol penggunaan air di rumah.
3.      Membiasakan diri untuk berjalan kaki atau menggunakan sepeda untuk menggantikan kendaraan bermotor.
4.      Memakai kerbau pembajak sawah dan pestisida organik untuk dapat menggantikan traktor.
Di samping itu, ada beberapa contoh dari teknologi yang ramah lingkungan dengan sistem canggih, seperti berikut ini:
1.      Teknologi hibrida, merupakan salah satu teknologi untuk menekan konsumsi dari bahan bakar, serta menjadikan industri pembuat mobil bisa memenuhi ketentuan ambang batas dari emisi pembuangan gas karbon dioksida (CO2) berdasarkan persyaratan yang telah ditentukan. Contohnya adalah produk mobil yang ramah lingkungan memakai teknologi hibrida.
2.      Teknologi kompor tenaga surya, merupakan sebuah produk kompor yang di desain menggunakan energi matahari untuk dijadikan sumber utamanya. Di mana energi matahari ini dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk bisa memasak ketika harga gas, kayu, minyak tanah semakin meningkat.
3.      Mobil yang bertenaga surya, di mana mobil ini memakai tenaga surya sebagai sumber utama energinya untuk menggantikan BBM.
Penggunaan dari teknologi yang ramah lingkungan di Indonesia sendiri masih belum banyak dikembangkan. Hal ini disebabkan masih kurangnya sosialisasi dalam mengajak masyarakat untuk memanfaatkan sumber daya yang ada. Terlebih lagi, masyarakat di zaman modern saat ini memang telah terbiasa hidup secara instan dan praktis. Di mana gaya hidup mereka memang sudah dekat sekali dengan peralatan canggih yang sebenarnya bisa memicu terjadinya pemanasan global yang mengancam lingkungan.
Penyakit-penyakit yang Ditimbulkan dari Teknologi yang Tidak Ramah Lingkungan
Setelah kita mengetahui pengertian akan hakekat teknologi ramah lingkungan dan contoh-contoh penerapannya di dalam kehidupan kita, maka pada sub bab ini kita akan sedikit membahas mengenai berbagai penyakit yang akan ditimbulkan dari penggunaan teknologi yang tidak ramah dengan lingkungan.
Berikut beberapa penyakit yang aka ditimbulkan dari penggunaan teknologi yang tidak ramh lingkungan:
·         Kanker Paru-paru
Kanker paru-paru merupakan penyakit yang sangat mematikan dan sangat ditakuti oleh banyak orang, oleh karena itu butuh biaya yang tidak sedikit untuk mengobati penyakit ini. Penggunaan teknologi yang tidak ramah lingkungan akan menyebabkan terjadinya pencemaran udara yang mana hal tersebut merupakan faktor utama penyebab kanker paru-paru.
·         Emfisema
Emfisema adalah penyakit yang disebabkan oleh penyempitan saluran pernapasan, penyakit ini merupakan jenis penyakit yang disebabkan oleh polusi udara yang ditimbulkan oleh teknologi yang tidak ramah akan lingkungan.
·         Menurunnya Tingkat Kesuburan
Berdasarkan sebuah penelitian, menjelaskan bahwasannya polusi udara seperti asap kendaraan bermotor dapat mengurangi tingkat kesuburan pada sel sprema dan ovarium.
·         Perusakan Sel Syaraf Otak
Berdasrkan sebuah fakta yang ada menunjukan bahwasannya polusi yang ditimbulkan oleh teknologi yang tidak ramah akan lingkungan akan menyebabkan terjadinya perusakan sel-sel otak.
·         Penurunan IQ
Berdasarkan sebuah penelitian menunjukan bahwasannya penumpukan kadar timbal di udara sangat berpengaruh terhadap penurunan IQ pada anak-anak.


Source: 




Green Industry adalah sebuah istilah yang dikenal melalui International Conference on Green Industry in Asia di Manila, Filipina tahun 2009, atas kerjasama antara United Nations Industrial Development Organization (UNIDO), United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (UNESCAP), United Nations Environment Programme (UNEP), International Labour Organization (ILO), dan dihadiri 22 negara termasuk Indonesia. Salah satu output dari pertemuan tersebut adalah dokumen Manila Declaration on Green Industry in Asia. Deklarasi Manila tersebut bersifat nonlegally binding, dan merupakan komitmen bersama negara-negara di Asia dalam upaya penanganan masalah lingkungan hidup melalui efisiensi penggunaan sumber daya dan pengurangan emisi gas karbon utamanya disektor industri. Efisiensi sumberdaya dapat dilakukan dengan menerapkan 3R (reduce, reuse, dan recycle) yang merupakan inti dari cleaner production, sedangkan rendah karbon dapat dicapai dengan menerapkan CO2 emission reduction yang sejalan dengan Clean Development Mechanism (CDM); effisiensi energi dan diversifikasi dalam rangka mendapatkan energi terbarukan. Green Industry adalah komitmen setiap industri untuk mengurangi dampak terhadap lingkungan akibat proses produksi dan produk yang dihasilkannya melalui efisiensi penggunaan sumberdaya secara terus menerus serta bersifat rendah karbon yang diterapkan pada pemilihan bahan baku, proses produksi, produk akhir, dan pelayanan di suatu kegiatan/industri.
         
          Green industry merupakan konsep pengembangan industri yang berkelanjutan secara ekonomi, lingkungan, dan sosial, dimana setiap jenis industri berpotensi untuk “green”. Dalam Rencana Aksi Deklarasi Manila, telah dirumuskan langkah-langkah yang diperlukan untuk mereduksi intensitas penggunanan sumberdaya alam dan emisi karbon dari sektor industri di Asia, serta memonitor upaya-upaya dalam skala nasional. Dalam deklarasi tersebut, pilar-pilar yang tercakup dalam green industry adalah produksi bersih produk dan layanan yang berwawasan lingkungan serta pertumbuhan dan daya saing. Secara menyeluruh, konsep green industry merupakan cara pengembangan sektor industri yang berkesinambungan, baik secara ekonomi, lingkungan, maupun sosial (EPS, 2009). Industri-industri yang dapat menerapkan green industry adalah industri yang bergerak di sektor “environmental good” dan jasa, meliputi : industri pendaur ulang, pengolah limbah, pemusnah limbah, pengangkut limbah, konsultan lingkungan, industri pengolah air limbah, pengendali pencemaran udara, peralatan pengolah limbah, industri manufaktur dan instalasi peralatan energi yang terbarukan, konsultan energi, laboratorium khusus pengukuran dan analisa lingkungan, dan industri yang memproduksi teknologi bersih. Menurut OECD, konsumsi sumber daya alam per kapita di wilayah Asia jauh lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara maju (OECD). Sedangkan dilihat dari intensitas konsumsi sumber daya untuk menghasilkan satu satuan GDP sebesar dua kali dari intensitas konsumsi sumber daya di Eropa dan Amerika Utara. Dengan demikian, masih ada peluang untuk meningkatkan efisiensi sumber daya di Asia. Dengan melakukan efisiensi sumber daya terutama di sektor industri antara lain melalui 3R dan penggunaan low carbon resources, maka akan menurunkan biaya produksi sehingga mempercepat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan daya saing internasional serta mencapai target di bidang lingkungan yaitu penurunan emisi CO2.
2 Strategi Mewujudkan Industri Hijau
Menteri Perindustrian Saleh Husin mengungkapkan ada 2 (dua) strategi dalam mewujudkan industri hijau. Pertama,mengembangkan industri yang sudah ada menuju industri hijau (greening of existing industries). Kedua, membangun industri baru dengan menerapkan prinsip-prinsip industri hijau (creation of new green industries). Hal tersebut disampaikan Menperin dalam paparannya pada acara Tropical Landscapes Summit: A Global Investment Opportunity di Jakarta, Selasa (28/4).
Pengembangan industri yang sudah ada menuju industri hijau,dilakukanmelalui berbagai upaya antara lain: (1) Rencana penerapan 5 standar industri hijau yaitu industri tekstil, ubin keramik, semen, baja, serta pulp dan kertas; (2)Katalog bahan baku ramah lingkungan untuk industri tekstil, ubin keramik, dan makanan; (3) Pedoman umum dan teknis konservasi energi dan pengurangan emisi gas CO2; (4) Panduan teknis untuk studi kelayakan untuk implementasi Konservasi Energi dan Pengurangan Emisi CO2; (5) Panduan  pengolahan limbah cair, bahan berbahaya dan beracun (B3);
Selanjutnya, (6) Panduan produksi bersih; (7) Program restukturasi mesin untuk industri gula, industri tekstil dan produk tekstil serta industri kulit dan alas kaki yang telah dilakukan sejak tahun 2007;serta (8) Pemberian penghargaan Industri Hijau sejak tahun 2010 dan pada tahun 2014 telah diberikan penghargaan kepada 256 perusahaan.
Sedangkan, untuk pembangunan industri baru akan diterapkanprinsip-prinsip Industri Hijau dalam proses produksinya seperti penggunaanbahan baku, energi, dan air yang efisien. “Insentif yang bisa diberikan untuk industri yang telah menerapkan industri hijau berupa peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) perusahaan industri, dukungan promosi, serta penyediaan tenaga ahli audit energi, air dan bahan baku,” tegas Menperin.
Lebih lanjut Menperin menjelaskan mengenai konsep industri hijau, yang mengutamakan efisiensi dalam proses produksi dengan karakteristik sebagai berikut: penggunaan material, energi, dan air denganintensitas yang rendah; penggunaan energi alternatif; melakukan minimisasi limbah dan pemenuhan baku mutu lingkungan; menggunakan teknologi rendah karbon dan SDM yang kompeten.

“Dengan penerapan industri hijau melalui penggunaan teknologi rendah karbon, tentunya akan memberikan dampak penghematan energi, air dan bahan baku. Selain itu juga akan meningkatkan produktivitas dan menghasilkan limbah yang lebih sedikit,” papar Menperin.
Dapat disampaikan, pada tahun 2050, diperkirakan dunia akan membutuhkan 55 persen air lebih banyak, 60 persen tambahan makanan, 70 persen lebih energi dan 100 persen tambahan energi listrik. Hal ini diperkuat dengan laporan dari United Nations Environment Programme (UNEP) tahun 2014 yang menyatakan bahwa: (a) akan dihasilkan lebih dari 36 miliar metrik ton karbondioksida yang dapat menyebabkan peningkatan temperatur sebesar 3 derajat celcius atau lebih pada akhir abad ini; (b) terjadi defisit kebutuhan air bersih, mengingat kebutuhan air bersih akan mencapai 2 miliar kilometer kubik, sementara ketersedian jumlah air bersih yang ada di bumi sekitar 1,4 miliar kilometer kubik; (c) kebutuhan energi diperkirakan menjadi 3 kali lipat dari jumlah energi yang digunakan saat ini; (d) populasi diperkirakan akan melampaui 9 miliar, dan (e) 60 persen dari ekosistem yang ada akan rusak dan tidak dapat diperbaharui.
“Saat ini sumber daya alam semakin berkurang, permintaan semakin tumbuh akibat pertumbuhan populasi, mesin dan sistem produksi kurang efisien, adanya kesepakatan tentang lingkungan hidup global dan terjadinya degradasi lingkungan. Hal ini menyebabkan kita tidak bisa lagi melaksanakan proses business as usual. Oleh karena itu, industri hijau adalah salah satu solusi yang diharapkan,” tegas Menperin.
Pemerintah indonesia telah memiliki tekad yang kuat dalam pembangunan yang berkelanjutan melalui program industri hijau. Menperin mengharapkan, pengembangan industri hijau mendapatkan dukungan dari semua pihak termasuk investasi yang diperuntukkan dalam modifikasi teknologi bahkan mengembangkan teknologi baru yang bisa memberikan efisiensi dan produktivitas yang tinggi.
“Disinilah yang kami maksudkan investasi hijau bisa mengambil peran. Dengan langkah-langkah yang kami lakukan telah menunjukan bahwa kebijakan Pemerintah Indonesia selaras dengan arah kebijakan Green Investment yang saat ini menjadi kecenderungan dunia,” pungkas Menperin.
Strategi Industri hijau :
•Mengembangkan kerjasama internasional terkai tperumusan kebijakan dan pendanaan dalam pembangunan dan pengembangan industry hijau;
•Memperkuat kapasitas institutional untuk mengembangkan industry hijau;
•Membangun koordinasi antara pemerintah, masyarakat dan sector swasta;
•Mempromosikan/ mensosialisasikan kebijakan dan regulasi teknis yang berkaitan dengan industry hijau(meliputi bahan baku, proses produksi, teknologi dan produk yang ramah lingkungan).
•Meningkatkan kemampuan SDM, transfer teknologi, dan memperkuat R&D
Pengembangan Industri Hijau membutuhkan dukungan dari semua pihak,,yaitu pelaku industri,pemerintah dan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA
·         Kementrian Perindustrian RI, (2012), Kebijakan Pengembangan Industri Hijau(
Green Industry Workshop Efisiensi Energi di IKM 27 Maret 2012  ,Jakarta
·         Achmad Faishal ,Hukum Lingkungan Pengaturan Limbah Dan Paradigma Industri Hijau,
Pustaka Yustisia , Februari – 2016
·           Anonim. 2016. Kemenperin Dorong Pengembangan Industri Hijau. Indonesia: Kemenperin
·         Anonim. 2016. Menperin Terbitkan Pedoman Standar Industri Hijau. Indonesia: Kemenperin.


Selasa, 04 Desember 2018

GREEN CHEMISTRY

Risza Kurniawan  (@K05-Risza)
Abstrak

PENGERTIAN KIMIA HIJAU

Kimia hijau, juga disebut kimia berkelanjutan, adalah filsafat penelitian dan rekayasa/teknik kimia yang menganjurkan desain produk dan proses yang meminimasi penggunaan dan penciptaan senyawa-senyawa berbahaya.

Sementara kimia lingkungan adalah cabang kimia yang membahas lingkungan hidup dan zat-zat kimia di alam, kimia hijau justru berupaya mencari cara untuk mengurangi dan mencegah pencemaran pada sumbernya. Pada tahun 1990 Pollution Prevention Act (Undang-Undang Pencegahan Pencemaran) telah disahkan di Amerika Serikat. Undang-undang ini membantu menciptakan modus operandi untuk berurusan dengan pencemaran secara inovatif dan asli. Undang-undang ini bertujuan untuk mencegah masalah sebelum mereka terjadi.

KONSEP KIMIA HIJAU

kimia hijau telah muncul di Amerika Serikat sebagai program penelitian umum yang dihasilkan dari kerjasama interdisipliner tim universitas , kelompok riset independen , industri , masyarakat ilmiah dan lembaga pemerintah , yang masing-masing memiliki program sendiri yang ditujukan untuk mengurangi polusi . Kimia hijau menggabungkan pendekatan baru untuk sintesis , pengolahan dan penerapan sub – sikap kimia sedemikian rupa untuk mengurangi ancaman terhadap kesehatan dan lingkungan . Pendekatan baru ini juga dikenal sebagai :
• Kimia ramah lingkungan
• Kimia Bersih
• Ekonomi Atom
• Kimia jinak -by -design

12 PRINSIP KIMIA HIJAU

·Pencegahan
Lebih baik mencegah daripada limbah untuk mengobati atau membersihkan limbah setelah telah dibuat .
·Atom Ekonomi
Metode sintetis seharusnya didesain untuk memaksimalkan penggabungan semua bahan yang digunakan dalam proses tersebut menjadi produk akhir .
·Kurang Bahan kimia berbahaya Sintesis
Dimanapun praktis , metode sintetis seharusnya didesain untuk memakai dan membuat zat yang memiliki menyala – tle atau toksisitas terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.
·  Merancang Aman Chemicals
Produk kimia seharusnya didesain untuk mempengaruhi fungsi yang diinginkan dan meminimalkan toksisitas .
·  Pelarut lebih aman dan Produk Tambahan
Penggunaan zat tambahan ( misalnya pelarut , agen yang terpisah ransum , dll ) seharusnya tidak perlu wherev – er mungkin dan tidak berbahaya bila digunakan .
·Desain untuk Efisiensi Energi
Kebutuhan energi dari proses kimia harus diakui untuk dampak lingkungan dan ekonominya dan seharusnya diminimalisasi . Jika memungkinkan , metode sintetis harus dilakukan pada suhu kamar dan tekanan .
·  Penggunaan Bahan baku Terbarukan
Bahan mentah seharusnya dapat diperbaharui daripada depleting kapan teknis dan economi -Cally praktis .
·  Mengurangi Derivatif
Yang tidak perlu ( penggunaan kelompok memblokir , proteksi / deproteksi , modifikasi sementara proses / kimia faktor-faktor fisik ) harus dikurangi atau dihindari – ed jika mungkin , karena langkah-langkah seperti ini membutuhkan reagen tambahan dan dapat menghasilkan limbah .
·  Katalisis
Reagen Catalytic ( seselektif mungkin ) adalah supe – rior untuk reagen stoikiometri .
·  Desain untuk Degradasi
Produk kimia seharusnya didesain jadi pada akhir fungsi mereka, mereka terurai menjadi berbahaya produk degradasi – tion dan tidak bertahan dalam lingkungan .
·  Analisis real-time untuk Pencegahan Pencemaran
Metodologi analisis perlu lebih dikembang-kan untuk memungkinkan real-time , dalam proses monitoring dan kontrol sebelum pembentukan zat berbahaya .
·  Inheren Aman Kimia Pencegahan Kecelakaan
Zat dan bentuk zat yang dipakai dalam proses kimia harus dipilih untuk meminimalkan po – bangkan untuk kecelakaan kimia , termasuk siaran , daya eksploratif -keputusan , dan kebakaran
Menurut Hidayat Dan Kholil dalam buku ( Kimia, Industri Dan Teknologi Hijau tahun2017 ) Kimia Hijau merupakan paradigm yang relative baru, dengan focus pada upaya mengoptimalkan kegiatan perancangan proses prodeuk dan pasca produk.

PENGAJARAN UNTUK GREEN CHEMISTRY.
  
Aturan utama : Pengajaran harus selaras dengan praktek .
Pertanyaan tentang bagaimana mendidik generasi masa depan kimia yang memiliki keterampilan dan pengetahuan untuk prakteknya kimia ramah lingkungan terletak di pusat materi pendidikan yang berhubungan dengan kimia hijau . Pendidikan sangat penting dalam populariza – tion kimia hijau . Disadari baik di tingkat akademis dan pada tingkat pro – lingkungan pendidikan -tion untuk kalangan luas masyarakat . Kimiawan muda skr – rently berkenalan dengan metode baru organik sintesis com – pon bukan metode tradisional dan dengan teknik kimia analitik baru yang memungkinkan mereka sebagai – sess keadaan pencemaran lingkungan dalam peningkatan jumlah sekolah yang tinggi . – Tions lembaga internasional yang berbeda , yaitu American Chemical Society ( ACS ) dan Pol – ish Chemical Society ( PTChem ) , aktif dalam bahan penerbitan yang mempromosikan aturan dan prestasi kimia hijau Program kimia hijau harus mengarah pada keberlanjutan dengan merancang dan menggunakan metode di mana bahan baku alami akan diproses secara ekonomis , penggunaan rasional sumber energi , penghapusan gas berbahaya , limbah cair dan padat dan dengan di – troduction produk keamanan bagi manusia . Mempopulerkan kimia hijau di sekolah , di antara para pekerja di pabrik industri kimia dan distributor produk kimia juga sangat penting . Penggunaan luas hijau prestasi kimia akan memungkinkan kita untuk menyeimbangkan eco – de – Pembangunan menguntungkan bagi masyarakat , ekonomi dan ENVI – ronment . Materi pendidikan banyak , tersedia saat ini di pasar dan di Internet , sangat berguna dalam mengajar sehari-hari kimia hijau prinsip –prinsip

Kesimpulan

     Kimia hijau bukanlah cabang baru ilmu pengetahuan . Ini adalah pendekatan filosofis baru yang melalui aplikasi dan perpanjangan prinsip-prinsip kimia hijau dapat berkontribusi untuk pembangunan berkelanjutan . Saat ini sangat mudah untuk menemukan dalam literatur banyak contoh menarik dari penggunaan aturan kimia hijau . Mereka diterapkan tidak hanya dalam sintesis ,pengolahan dan penggunaan bahan kimia com – pound . Banyak metodologi analisis baru juga de-jelaskan yang direalisasikan sesuai dengan aturan kimia hijau . Mereka sangat berguna dalam melakukan proses kimia dan dalam evaluasi dampak terhadap lingkungan . Penerapan teknik persiapan sampel yang tepat , ( misalnya SPME , SPE , ASE ) memungkinkan kita untuk mendapatkan hasil yang tepat dan akurat – tingkat analisis . Upaya-upaya besar masih dilakukan untuk merancang sebuah proses yang ideal yang dimulai dari non-polusi bahan awal , menyebabkan tidak ada produk sekunder dan tidak memerlukan pelarut untuk melaksanakan konversi kimia atau untuk mengisolasi dan pu – rify produk. Namun, teknologi yang lebih ramah lingkungan teman – ly pada tahap penelitian tidak menjamin bahwa mereka akan diimplementasikan pada skala industri . Adop – tion metode ramah lingkungan dapat facilitat – ed oleh fleksibilitas yang lebih tinggi dalam peraturan , program-program baru untuk memfasilitasi transfer teknologi antara lembaga-lembaga akademik , pemerintah dan industri dan insentif pajak untuk teknologi im – plementing bersih .Selain itu , keberhasilan kimia hijau tergantung pada pelatihan dan pendidikan generasi baru ahli kimia . Siswa di semua tingkatan harus diperkenalkan dengan filosofi dan praktek kimia hijau . Akhirnya , mengenai peran pendidikan dalam kimia hijau

Daftar Pustaka
·                     ·         Menurut Hidayat dan Kholi dalam buku Kimia Industri Dan Teknologi Hijau (2017), Jakarta, Pantona Media
·                     ·         http://infostudikimia.blogspot.co.id/2016/12/12-prinsip-kimia-hijau.html