.

Selasa, 17 Mei 2022

Macam – macam Pencemaran Lingkungan dan Cara Penanggulangannya (@V13-Lussy)

 

Macam – macam Pencemaran Lingkungan dan Cara Penanggulangannya


Dibuat oleh : Lussy Nur Amellya Apriliani (@V13-Lussy)

Lingkungan biasanya diartikan sebagai sesuatu yang ada di sekeliling kehidupan atau organisme. Lingkungan adalah kumpulan dari segala sesuatu yang membentuk kondisi dan akan mempengaruhi secara langsung maupun tidak langsung baik kepada kehidupan dalam bentuk individual maupun kuminitas pada tempat tertentu. Masalah pencemaran merupakan suatu masalah yang sangat populer, banyak dibahas oleh kalangan masyarakat di seluruh permukaan bumi kita ini. Dalam abad modern ini banyak kegiatan atau perbuatan manusia untuk memenuhi kebutuhan biologis dan kebutuhan teknologi sehingga banyak menimbulkan pencemaran lingkungan. Ditinjau dari segi ilmu kimia yang disebut pencemaran lingkungan adalah peristiwa penyebaran bahan kimia dengan kadar tertentu yang dapat merubah keadaan keseimbangan pada daur materi, baik keadaan struktur maupun fungsinya sehingga mengganggu kesejahteraan manusia. Berikut macam macam dari pencemaran lingkungan :

1.     Pencemaran Air (Polusi Air)

Jika didefinisikan pencemaran air dalam suatu pernyataan, maka pencemaran air adalah terjadinya perubahan dan penyimpangan sifat-sifat alamiah dari air yang ada di lingkungan hidup manusia.  Kristanto (2000) menyatakan disebut pencemaran air apabila terjadi penyimpangan sifat-sifat air dari keadaan normal.

Keadaan normal tidak sama dengan kemurnian air. Di alam, air tidak pernah berbentuk murni, tapi bukan berarti semua air itu tercemar. Karena semua air yang ada di alam, sudah bercampur CO2, O2, dan N2 serta bahan – bahan tersuspensi lainnya seperti partikerl- partikel yang terbawa oleh air hujan karena peristiwa alamiah.

Bahan Pencemar Air :

-          Pembuangan limbah industri

-          Pestisida dan residu pestisida

-          Pembuangan limbah domestik

-          Tumpahan minyak bumi di laut

 

2.     Pencemaran Tanah (Polusi Tanah)

Kontaminasi pada tanah dan perairan diakibatkan oleh banyak penyebab termasuk limbah industri, limbah pertambangan, residu pupuk dan pestisida hingga bekas instalasi senjata kimia. Bentuk kontaminasi berupa berbagai unsur dan substansi kimia berbahaya (Squires 2001; Matsumoto 2001; Wise dkk, 2000) yang mengganggu keseimbangan fisik, kimia, dan biologi tanah.

Ketika suatu zat berbahaya atau beracun telah mencemari permukaan tanah, maka ia dapat menguap, tersapu air hujan dan atau masuk ke dalam tanah. Pencemaran yang masuk ke dalam tanah kemudian terendap sebagai zat kimia beracun di tanah. Zat beracun di tanah tersebut dapat berdampak langsung kepada manusia ketika bersentuhan atau dapat mencemari air tanah dan udara di atasnya. Kontaminasi oleh logam berat seperti kadmium (Cd), seng (Zn), plumbum (Pb), kuprum (Cu), kobalt (Co), selenium (Se) dan nikel (Ni) menjadi perhatian serius karena dapat menjadi potensi polusi pada permukaan tanah maupun air tanah dan dapat menyebar ke daerah sekitarnya melalui air, angin, penyerapan oleh tumbuhan, dan bioakumulasi pada rantai makanan (Chaney dkk., 1998). Kandungan logam dalam tanah sangat berpengaruh terhadap kandungan logam pada tanaman yang tumbuh di atasnya, kecuali terjadi interaksi diantara logam itu sehingga terjadi hambatan penyerapan logam tersebut oleh tanaman. Akumulasi logam dalam tanaman tidak hanya tergantung pada kandungan logam dalam tanah, tetapi juga tergantung pada unsur kimia tanah, jenis logam, pH tanah, dan spesies tanaman (Darmono, 2001).

3.     Pencemaran Udara (Polusi Udara)

Pencemaran udara adalah kehadiran satu atau lebih substansi fisik, kimia, atau biologi di atmosfer dalam jumlah yang dapat membahayakan kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan, mengganggu estetika dan kenyamanan, atau merusak properti. Pencemaran udara dapat ditimbulkan oleh sumber-sumber alami maupun kegiatan manusia. Udara adalah salah satu elemen yang sangat penting sebagai penunjang semua mahluk. Pencemaran udara merupakan salah satu kerusakan lingkungan, berupa penurunan kualitas udara karena masuknya unsur-unsur berbahaya ke dalam udara atau atmosfer bumi.

Unsur-unsur berbahaya yang masuk ke dalam atmosfer tersebut bisa berupa karbon monoksida (CO), Nitrogen dioksida (No2), chlorofluorocarbon (CFC), sulfur dioksida (So2), Hidrokarbon (HC), Benda Partikulat, Timah (Pb), dan Carbon Diaoksida (CO2). Unsur-unsur tersebut bisa disebut juga sebagai polutan atau jenis-jenis bahan pencemar udara. Masuknya polutan ke dalam atmosfer yang menjadikan terjadinya pencemaran udara bisa disebabkan dua faktor, yaitu faktor alam dan faktor manusia. Penyebab pencemaran udara dari faktor adalah alam contohnya adalah aktifitas gunung berapi yang mengeluarkan abu dan gas vulkanik,kebakaran hutan, dan kegiatan mikroorganisme. Polutan yang dihasilkan biasanya berupa asap, debu, dan gas.

Cara – cara Penanggulangan Pencemaran Lingkungan

1.      Menempatkan daerah industri atau pabrik jauh dari daerah perumahan atau pemukiman penduduk.

2.      Pembuangan limbah industri diatur sehingga tidak mencemari lingkungan atau ekosistem. 

3.      Pengawasan terhadap penggunaan jenis-jenis pestisida dan zat kimia lain yang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan.

4.      Memperluas gerakan penghijauan.

5.      Tindakan tegas terhadap pelaku pencemaran lingkungan.

6.      Memberikan kesadaran terhadap masyarakat tentang arti lingkungan hidup sehingga manusia lebih mencintai lingkungan hidupnya.

7.      Membuang sampah pada tempatnya.

8.      Penggunaan lahan yang ramah lingkungan.


Video Terkait Artikel :

https://www.youtube.com/watch?v=QsE-_PS43Lo

Refesensi Buku:

1.      Pencemaran Lingkungan dan Solusinya. https://dlhk.bantenprov.go.id/upload/article/2021/Pencemaran_Lingkungan_dan_Solusinya.pdf

2.      Pencemaran Lingkungan, Disusun oleh Bapak Indang Dewata dan Bapak Yun Hendri Danhas http://repository.unp.ac.id/15573/6/indang%20dewata%20buku%20Pencemaran%20Lingkungan.pdf

3.      Tinjauan Pustaka http://e-journal.uajy.ac.id/6980/3/BL201125.pdf

4.      Pencemaran Udara, Disusun oleh Ibu Triani https://dlhk.bantenprov.go.id/upload/article/Artikel_Pencemaran_Udara.pdf

5.      Upaya Mengatasi Pencemaran Lingkungan, Disusun oleh Ibu Nopia Wati  https://www.researchgate.net/publication/330598673_Upaya_mengatasi_pencemaran_lingkungan

Pencemaran Lingkungan ( Kondisi Pencemaran Lingkungan Perairan di Setu Rawa Kota Depok)

 

 

PENCEMARAN LINGKUNGAN

(Studi Kasus : Kondisi Pencemaran Lingkungan Perairan

Di Setu Rawa Besar Kota Depok)

 

Oleh : Putra Muhammad Fadila (@V05 - Putra)

NIM. 41620110006

Fakultas Teknik Industri

Universitas Mercu Buana Jakarta

 

 

ABSTRAK

Kota Depok merupakan kota yang dilintasi oleh beberapa sungai yang sebagian besar muaranya ke Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta diantaranya yaitu Sungai Ciliwung, Sungai Pesanggrahan, Sungai Angke, dan Sungai Cikeas. Selain itu ada pula aliran irigasi yang disebut sebagai kali, seperti Kali Cabang Tengah, Kali Cabang Timur dan Kali Cabang Barat. Kondisi ruas sungai, danau maupun setu tersebut hampir semua tingkat pencemarannya cukup tinggi dan belum layak untuk dijadikan air baku, terutama untuk konsumsi. Sumber utamanya masih soal limbah rumah tangga dan beberapa pabrik tahu-tempe yang belum menggunakan Instalasi Pengolahan Air Limbah dalam kegiatan di hilirnya

Danau urban di Kota Depok yang dikenal dengan “setu atau situ” sangat mempunyai peranan penting dalam pengelolan sumber daya air yang terintergrasi. Walau peranannya sangat utama dalam menjaga keseimbangan sistem air di area urban, danau urban kurang mendapat perhatian. Pesatnya perkembangan di area urban pada daerah tangkapan berdampak terhadap kuantitas dan kualitas air danau urban di Kota Depok. Masalah kronis di daerah hilir Kota Depok seperti banjir kiriman pada musim hujan dan kekurangan air pada musim kering mengindikasikan danau tidak dikelola dan difungsikan dengan baik. Gangguan oleh aktivitas manusia ataupun oleh ala, antara lainnya seperti alih fungsi lahan di area tangkapan danau, erosi, pembuangan sampah, air limbah dan aliran permukaan telah menurunkan kapasitas/volume air dan kualitas air danau berupa pencemaran.

 

Kata Kunci : Pencemaran, Perairan, Setu Rawa


 

1.       PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Penurunan kualitas air tanah dan air permukaan yang terjadi saat ini di Kota Depok tidak lagi disebabkan oleh industri sebagai penyebab utama yang membuang limbahnya ke badan- badan sungai di wilayah Kota Depok. Data hasil penelitian JICA pada gambar 1 di bawah ini menyimpulkan bahwa air limbah domestik adalah penyebab utama penurunan kualitas air sungai- sungai di Jakarta. Pada tahun 1989 tercatat kontribusi air limbah domestik sebanyak 78,9% sedangkan air limbah industri hanya 8%. Pada tahun 2010 perkiraan kontribusi air limbah domestik akan menurun sekitar 72.7% sedangkan air limbah industri akan meningkat menjadi 9,9%, (JICA, 1990).

Gambar 1. Grafik Prosentase Sumber Pencemaran Air Limbah di Kota Depok

 

Selama ini masyarakat cenderung menyalahkan industri terhadap kondisi pencemaran lingkungan perairan yang terjadi di wilayah mereka. Dari hasil survei oleh JICA tersebut masyarakat perlu merubah cara pandang masalah pencemaran yang terjadi saat ini. Limbah cair domestik yang tidak lain adalah air limbah yang dihasilkan dari kegiatan rumah tangga masyarakat menjadi penyebab terbesar terjadinya pencemaran di wilayah perairan setu rawa besar Kota Depok

 

1.2. Tujuan

Untuk menganalisis terhadap kondisi pencemaran yang terjadi di wilayah perairan setu rawa besar Kota Depok.

 


 

2.       LANDASAN TEORI

2.1. Pencemaran

Pencemaran adalah masuk atau dimasukkannya mahluk hidup, zat, energi dan/ ataukomponen lain ke dalam air atau udara. Pencemaran juga bisa berarti berubahnya tatanan (komposisi) air atau udara oleh kegiatan manusia dan proses alam, sehingga kualitas air/ udara menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukkannya Untuk mencegah terjadinya pencemaran terhadap lingkungan oleh berbagaiaktivitas industri dan aktivitas manusia, maka diperlukan pengendalian terhadap pencemaran lingkungan dengan menetapkan baku mutu lingkungan

 

2.2. Pencemaran Air

Istilah pencemaran air atau polusi air dapat dipersepsikan berbeda oleh satu orang dengan orang lainnya mengingat banyak pustaka acuan yang merumuskan definisi istilah tersebut, baik dalam kamus atau buku teks ilmiah. Pengertian pencemaran air juga didefinisikan dalam Peraturan Pemerintah, sebagai turunan dari pengertian pencemaran lingkungan hidup yang didefinisikan dalam undang-undang. Dalam praktek operasionalnya, pencemaran lingkungan hidup tidak pernah ditunjukkan secara utuh, melainkan sebagai pencemaraan dari komponen-komponen lingkungan hidup, seperti pencemaran air, pencemaran air laut, pencemaran air tanah dan pencemaran udara. Dengan demikian, definisi pencemaran air mengacu pada definisi lingkungan hidup yang ditetapkan dalam UU tentang lingkungan hidup yaitu UU No. 23/1997. Dalam PP No. 20/1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air, pencemaran air didefinisikan sebagai : “pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya mahluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiaan manusia sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya” (Pasal 1, angka 2).

 

2.3. Indikator pencemaran air

Indikator atau tanda bahwa air lingkungan telah tercemar adalah adanya perubahan atau tanda yang dapat diamati yang dapat digolongkan menjadi :

·         Pengamatan secara fisis, yaitu pengamatan pencemaran air berdasarkan tingkat kejernihan air (kekeruhan), perubahan suhu, warna dan adanya perubahan warna, bau dan rasa

·         Pengamatan secara kimiawi, yaitu pengamatan pencemaran air berdasarkan zat kimia yang terlarut, perubahan pH

·         Pengamatan secara biologis, yaitu pengamatan pencemaran air berdasarkan mikroorganisme yang ada dalam air, terutama ada tidaknya bakteri pathogen.

 

 

3.       HASIL PEMBAHASAN

3.1. Pencemaran di Perairan Setu Rawa Besar Kota Depok

Kematian Masal Ikan di Setu Rawa Besar Kota Depok telah menerima beban berat bahan pencemar baik berupa limbah domestik, organik, industri, logam berat maupun tumpahan minyak yang cenderung meningkat dari waktu ke waktu hingga dikhawatirkan telah melebihi daya dukungnya Bermuaranya beberapa sungai yang melintasi wilayah Kota Depok ke Setu Rawa Besar telah membawa berbagai bahan pencemar. Maka tidak mengherankan apabila perairan Setu Rawa Besar saat ini telah mengalami pengkayaan berlebihan (eutrofikasi) yang sangat potensial menyebabkan terjadinya ledakan (blooming) plankton atau yang lebih parah lagi menyebabkan terjadinya RED TIDE yang diikiuti dengan penurunan oksigen secara tiba-tiba. Kondisi ini sangat tidak menguntungkan baik secara ekologis, ekonomis maupun estetika, sehingga perlu diminimalisir kemungkinan terjadinya atau bahkan dicegah sama sekali. Beberapa kejadian kematian masal dari ikan-ikan di Seru Rawa Besar beberapa tahun ini sering terdengar. Meskipun beberapa pakar masih belum dapat memastikan penyebabnya, tetapi tidak dipungkiri lagi bahwa kematian massal ikan-ikan tersebut berkaitan erat dengan tidak mencukupinya kadar oksigen terlarut (DO) untuk mendukung kehidupan ikan dan biota perairan lainnya di dalam perairan atau keracunan bahan pencemar lainnya. Terdapat banyak kemungkinan penyebab terjadinya penurunan oksigen dalam perairan yaitu dapat disebabkan oleh ledakan plankton atau peristiwa upwelling yaitu proses penaikan massa air bagian dalam ke permukaan.

 

 

3.2. Kualitas Fisik Air Setu Rawa Besar di Kota Depok

Untuk perairan Setu Rawa Besar pada periode Mei untuk parameter suhu, salinitas, pH, arah dan kecepatan angin, masih memenuhi baku mutu sedangkan untuk parameter DO dan kecerahan telah melebihi baku mutu.

 

3.3. Kualitas Kimia Air Setu Rawa Besar di Kota Depok

Di perairan Setu Rawa Besar konsentrasi detergen dan BOD di semua zona tidak memenuhi baku mutu, dan terus terjadi peningkatan konsentrasi detergen di semua zona selama akhir tahun ini. Sedangkan pada parameter seng secara umum masih memenuhi baku mutu yang ada, hanya di zona–zona tertentu saja. Untuk parameter nitrat di semua zona telah melebihi baku mutu.

 

3.4. Kualitas Biologi Air Setu Rawa Besar di Kota Depok

Berdasarkan indeks keanekaragaman, perairan Setu Rawa Besar untuk zona D telah mengalami pencemaran berat, terutama partikel tersuspensi (TSS), ammonia, nitrat, phosphat, Coli dan Fecal Coli. Untuk menjaga keberlanjutannya, nampaknya perlu dilakukan upaya keras dalam mengurangi tingkat pencemaran di Setu Rawa Besar dengan menggalakkan dan meningkatkan program PROKASI di seluruh daerah aliran sungai dari hulu sampai ke hilir

 

 

4.       KESIMPULAN

Pencemaran yang terjadi di Setu Rawa Besar Kota Depok lebih banyak disebabkan oleh air limbah domestik masyarakat Kota Depok yang membuang air limbahnya ke saluran drainase, kemudian mengalir ke parit parit yang pada akhirnya bermuara ke perairan Setu Rawa Besar. Air limbah domestik yang dibuang ke Setu Rawa Besar banyak mengandung detergen yang dapat menyebabkan tingginya beban pencemaran di Setu Rawa Besar tersebut. Akibatnya kandungan deterjen dan BOD menjadi tinggi, sehingga kandungan oksigen (DO) di dalam air menjadi menipis. Kondisi perairan Setu rawa Besar yang banyak mengandung limbah domestik menjadi penyebab utama kematian masal ikan bebarapa tahun belakangan ini. Air laut yang tercemar oleh air limbah domestik memiliki kadar oksigen terlarut (DO) yang sedikit, sehingga populasi phytoplankton dari jenis dinoflagellata yang bersifat toxic atau beracun menjadi bertambah banyak.

 

 


 

DAFTAR PUSTAKA

Https://Depoklestari.Com/Permasalahan-Lingkungan-Di-Kota-Depok-Pencemaran-Sungai-Danau-Sampah-Hingga-Air-Bawah-Tanah/

Http://Www.Rudyct.Com/Pps702-Ipb/08234/Lina_Warlina.Pdf

Https://Depoklestari.Com/Permasalahan-Lingkungan-Di-Kota-Depok-Pencemaran-Sungai-Danau-Sampah-Hingga-Air-Bawah-Tanah/

Jica 1990, The Study On Urban Drainage And Waste Water Disposal Project In The City Of Jakarta.

Ashar, Yulia Khairina And Susilawati, Susilawati And Agustina, Dewi (2020) Analisis Kualitas (Bod,Cod,Do) Air Sungai Pesanggrahan Desa Rawadenok Kelurahan Rangkepan Jaya Baru Kecamatan Mas Kota Depok. Fakultas Kesehatan Masyarakat Uinsu Medan.

Yohannes, B. Y., Utomo, S. W., & Agustina, H. (2019). Kajian Kualitas Air Sungai Dan Upaya Pengendalian Pencemaran Air. Ijeem - Indonesian Journal Of Environmental Education And Management, 4(2), 136 - 155.

Mudarisin, (2004) Strategi Pengendalian Pencemaran Sungai: Studi Kasus Sungai Cipinang Jakarta Timur Control

Said, Nusa Idaman, Pengelolaan Air Limbah Domestik Di Dki Jakarta, Jurnal Air Indonesia, Bppt 2006.

S. Yudo, Kondisi Kualitas Air Sungai Ciliwung Di Wilayah DKI Jakarta Ditinjau Paramater Organik, Amoniak Fosfat, Deterjen Dan Bakteri Coli. Jurnal Air Indonesia, BPPT, 2010

 

 

 

 

 

 

 


Pencemaran Lingkungan: Jenis, Dampak ,dan Cara Penanggulangannya

Pencemaran Lingkungan: Jenis, Dampak ,dan Cara Penanggulangannya

Oleh : Benedictus Dimas Galuh Arwiananda (@V15-Dimas)



Seiring meningkatnya aktivitas manusia, tingkat pencemaran lingkungan juga ikut meningkat yang dampaknya kembali berbalik kepada kualitas hidup manusia sendiri. Pengertian pencemaran dijelaskan pada Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pencemaran lingkungan adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, atau komponen lain ke dalam lingkungan yang mengubah tatanan lingkungan akibat kegiatan manusia atau proses alam. Ketika hal ini terjadi, kualitas lingkungan akan menurun sampai tingkat tertentu yang menjadikan lingkungan tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya.

A. JENIS PENCEMARAN LINGKUNGAN

1. POLUSI UDARA



Polusi udara merupakan kondisi di mana adanya substansi kimia, fisik, atau biologi di atmosfer dalam jumlah yang membahayakan. Singkatnya, polusi udara adalah perusakan terhadap kualitas udara yang disebabkan oleh banyak faktor. Dampak dari polusi udara berbahaya bagi manusia, hewan, dan tumbuhan ‒ juga merusak estetika lingkungan. Sumber pencemaran udara ini dibagi dalam dua kategori:

  • Secara alami (gunung meletus, kebakaran hutan, nitrifikasi dan denitrifikasi biologi)
  • Aktivitas manusia (transportasi, emisi pabrik, asap rokok, pembakaran sampah, dsb.)

Jika polusi udara tidak ditangani, maka risiko terganggunya pernafasan, kanker, hingga gangguan jantung semakin tinggi.

2. POLUSI AIR



Polusi air merupakan kondisi di mana masuknya zat atau komponen berbahaya ke dalam air akibat aktivitas manusia sehingga kualitas air menurun dan tidak bisa digunakan sebagaimana mestinya. Polusi ini terjadi di hulu sungai, sungai, danau, dan lautan. Sumber pencemaran ini bisa berasal dari pembuangan sampah rumah tangga dan limbah pabrik yang sengaja dibuang ke wilayah perairan. Air yang tercemar umumnya berubah warna, berbau, dan rasanya juga berubah hingga tidak dapat dikonsumsi. Dampak polusi air sangatlah besar, mulai dari rusaknya ekosistem hingga menipisnya ketersediaan air bersih untuk dikonsumsi.

3. POLUSI TANAH



Polusi tanah merupakan kondisi di mana tanah terkontaminasi oleh bahan kimia buatan manusia, baik di permukaan tanah hingga ke dalam tanah. Meski demikian, polusi tanah ini juga bisa terjadi secara alami, namun kasusnya sangat jarang ditemui. Ketika tanah tercemar, dampaknya bisa menyebabkan ekosistem terganggu atau bahkan rusak. Tak hanya merusak ekosistem, pencemaran tanah ini juga pasti akan mengurangi kualitas hidup manusia.


B. DAMPAK PENCEMARAN LINGKUNGAN

Berikut ini beberapa dampak sebagai akibat dari pencemaran lingkungan diantaranya yaitu:

  • Keseimbangan lingkungan atau ekosistem menjadi terganggu.
  • Banyak spesies flora dan fauna yang punah.
  • Kesuburan tanah menjadi berkurang.
  • Hama tumbuh secara berlebihan dan tanpa kendali, akibat predator ikut punah akibat penggunaan pestisida.
  • Menyebabkan terjadinya lubang ozon
  • Terjadinya pemekatan hayati.
  • Menyebabkan keracunan dan penyakit.

C. CARA MENANGGULANGI PENCEMARAN LINGKUNGAN

1. CEMARAN UDARA

Berikut ini adalah beberapa cara mencegah pencemaran lingkungan yang berfokus pada pencemaran udara. Anda bisa melakukan beberapa langkah di bawah ini untuk berkontribusi dalam pengurangan polusi udara di lingkungan:

  • Saat mengecat rumah, gunakan cat lateks. Hal ini karena cat berbasis minyak dapat melepaskan asap hidrokarbon yang mencemari lingkungan.
  • Rawat kendaraan pribadi Anda dengan baik. Kendaraan yang dirawat dengan benar akan memiliki jarak tempuh yang lebih baik dan mengeluarkan lebih sedikit polutan.
  • Jangan isi tangki bensin kendaraan secara berlebihan. Pengisian yang berlebihan menyebabkan tumpahan yang pada akhirnya melepaskan hidrokarbon dan bahan kimia beracun lainnya ke udara.
  • Lakukan gerakan hemat energi. Menghemat energi selain akan membantu menurunkan tagihan listrik juga akan membantu menghindari tuntutan berlebih pada pembangkit listrik.
  • Jangan membakar sampah di halaman. Di Indonesia, praktik pembakaran sampah rumah tangga masih banyak terjadi. Padahal, hal ini dapat melepaskan spora jamur, jelaga, dan kontaminan lain yang dapat memperburuk alergi dan menyebabkan masalah pernapasan.
  • Tanam sebuah pohon di rumah. Pohon dapat membantu menyerap karbon dioksida, gas rumah kaca.
  • Kurangi penggunaan kendaraan pribadi. Alih-alih, berjalan kaki, bersepeda, atau gunakanlah transportasi massal kapan pun Anda bisa. Lalu lintas kendaraan merupakan penyumbang utama kabut asap.

2. CEMARAN AIR

Selain pencemaran udara, Anda juga harus bergotong-royong untuk mencegah pencemaran air. Berikut adalah beberapa cara mencegah pencemaran lingkungan khususnya dalam aspek pencemaran air yang bisa mulai dilakukan sendiri:

  • Gunakan lebih sedikit pupuk untuk tanaman-tanaman Anda. Hla ini karena saat hujan, kelebihan pupuk akan mengalir ke selokan dan mencemari sungai.
  • Jangan pernah menuangkan apa pun, terutama limbah minyak atau bahan kimia rumput yang tersisa ke saluran pembuangan air. Karena limbah-limbah ini akan berakhir di aliran terdekat dan menumpuk di sana, menyebabkan pencemaran.
  • Siram halaman Anda di pagi hari, saat air akan meresap dan tidak menguap di siang hari.
  • Jangan menyiram lebih dari sekali seminggu, dan hanya jika tidak hujan. Halaman rumput yang sudah stabil hanya membutuhkan satu inci air setiap satu minggunya.
  • Jangan menyirami trotoar. Atur sprinkler untuk menjaga air agar tetap di halaman rumah Anda sendiri.
  • Gunakan ember saat mencuci mobil, dan bukan selang. Membiarkan air mengalir saat Anda mencuci kendaraan di rumah hanya akan membuang-buang air dan juga uang. Gunakan selang hanya untuk membilas.
  • Sapu jalan masuk dan trotoar alih-alih membersihkannya dengan menyemprotkan selang air.
  • Jangan mencuci piring jika belum ada tumpukan piring kotor yang signifikan. Mencuci piring memerlukan banyak air dan sebaiknya Anda melakukan kegiatan ini sekaligus agar lebih menghemat air dan tenaga. Hal ini juga berlaku untuk pakaian.
  • Jangan biarkan air mengalir saat bercukur atau menyikat gigi. Nyalakan hanya saat Anda membutuhkannya. Setiap menit keran mengalir, lima galon air mengalir ke saluran pembuangan.
  • Gunakan air secara bijaksana saat mandi. Anda dapat mempersingkat waktu mandi untuk menghemat air. 
  • Perbaiki keran dan toilet yang bocor. Anda dapat mengetahui apakah toilet bocor dengan memasukkan pewarna makanan ke dalam tangki. Jika warna muncul di mangkuk tanpa pembilasan, berarti ada kebocoran.
  • Pasang aerator keran. Anda dapat menghemat penggunaan air hingga enam persen.

3. CEMARAN TANAH

Terakhir adalah langkah-langkah cara mencegah pencemaran lingkungan dalam hal ini tanah. Berikut adalah beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk berkontribusi menjaganya:
  • Lakukan daur ulang. Jika komunitas Anda tidak menawarkan program daur ulang, mintalah pejabat setempat untuk memulainya.
  • Jangan membuang bahan berbahaya di tempat sampah. Hemat cat, pestisida, bahan kimia rumput, aki mobil, oli bekas, dan bahan serupa untuk hari pengumpulan limbah berbahaya rumah tangga setempat.
  • Nyalakan termometer air raksa Anda dan ganti dengan yang digital. Merkuri adalah polutan persisten yang bergerak ke atas rantai makanan dan dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius.
  • Jangan membeli lebih dari yang Anda butuhkan. Ketika membahas bahan kimia rumput, pestisida, cat dan bahan berbahaya lainnya, belilah paket yang lebih kecil sehingga Anda tidak akan memiliki sisa untuk dibuang seusai digunakan.
  • Kurangi pemakaian kertas atau plastik. Lebih baik lagi, bawalah tas kanvas ke toko dan gunakan kembali setiap kali Anda berbelanja.
  • Gunakan kedua sisi kertas. Atur mesin fotokopi untuk membuat salinan dua sisi dan Anda akan membantu mengurangi penggunaan kertas secara substansial.
  • Gunakan baterai isi ulang. Banyak baterai mengandung logam yang berbahaya dan lebih baik dijauhkan dari tempat pembuangan sampah selama mungkin.
  • Berikan, jangan dibuang. Banyak organisasi amal menerima sumbangan pakaian yang dapat dikenakan dan barang-barang rumah tangga yang masih layak pakai.

DAFTAR PUSTAKA



Akibat Pencemaran Udara di Indonesia

 Oleh : Umayyah Mita Fadhilah (@V12-Umayyah)

 


Ringkasan

Pencemaran udara telah menjadi salah satu masalah lingkungan global yang menjadi perhatian dunia (Mulyadi, 2015). Survei yang dilakukan oleh World Health Organization - WHO (2002) di 1.600 kota yang tersebar di 91 negara di dunia menunjukkan bahwa hampir 90% orang-orang di pusat perkotaan menghirup udara yang tidak sehat. WHO juga menyatakan bahwa sekitar setengah dari penduduk dunia terkena pencemaran setidaknya dua setengah kali lebih tinggi dari baku mutu kualitas udara yang ditetapkan. Fenomena tersebut terutama dirasakan di negara-negara berkembang seperti Indonesia sebagai dampaknegatif dari pembangunan yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi (Basri, 2014).

Dari berbagai jenis zat pencemar udara, benda partikulat atau particulate matter berdiameter 10 mikron (PM10) mendapatkan perhatian khusus karena dinilai memiliki pengaruh lebih besar terhadap gangguan kesehatan manusia dibandingkan dengan zatzat pencemar lainnya. PM10 dapat dijadikan sebagai wakil dari zat-zat pencemar lain. Naik turunnya PM10 berasosiasi dengan zatzat pencemar lain yang berada di udara. Oleh karena itu, sebagai prediktor kesehatan PM10 mempunyai cakupan yang lebih luas. Pendapat senada dikemukakan oleh WHO (2011), yang menyatakan bahwa PM10 merupakan prediktor kesehatan yang baik.



Tinjauan

Laporan WHO dan Kementerian Kesehatan yang menyebutkan bahwa penyebab kematian di Indonesia pada tahun 2011 didominasi oleh penyakit Non-Communicable Disease (NCD) atau Penyakit Tidak Menular (PTM) dengan proporsi 71% dari 1.551.000 kasus kematian total. Berdasarkan jenisnya, penyakit kardiovaskuler seperti penyakit jantung, stroke, dan infark menjadi penyebab utama dari kematian (37%), kemudian diikuti oleh kanker (13%), penyakit pernapasan (7%), diabetes (6%), dan 10% penyakit PTM lainnya. Fakta tersebut mengindikasikan adanya korelasi yang erat antara tingginya konsentrasi PM10 dengan gangguan kesehatan, terutama PTM.

Strategi 

Dampak dari pencemaran udara terhadap kesehatan pada akhirnya akan menimbulkan beban ekonomi (economic burden) yang harus ditanggung oleh masyarakat. Beban ekonomi dari suatu penyakit meliputi tiga komponen biaya, yaitu: biaya langsung (direct cost), biaya tidak langsung (indirect cost), dan biaya yang bersifat tidak nyata(intangible cost). Biaya langsung berupa penggunaan sumberdaya untuk merawat dan mengobati sakit, yang dibedakan ke dalam dua jenis, yaitu biaya kesehatan (medical cost), seperti biaya berobat dan jasa konsultasi medis serta biaya non-kesehatan (non-medical cost) seperti transportasi menuju dan akomodasi selama di tempat berobat. Biaya tidak langsung merupakan nilai sumber daya yang hilang, yang meliputi biaya morbiditas dan mortalitas, biaya pengobatan informal, dan biaya kehilangan akibat tindakan kriminal. Sementara itu, intangible cost merupakan jenis biaya yang sulit diukur karena terkait dengan perasaan, baik fisik dan psikologi, seperti sakit, menderita, dan tidak nyaman (Sangkey, 2011).

Penilaian dampak ekonomi dari pencemaran udara terhadap kesehatan seringkali dihindari karena dua kesulitan yang sekaligus menjadi masalah utama, yaitu: (1) menetapkan hubungan sebab-akibat secara langsung antara pencemaran dan gangguan kesehatan; (2) mengestimasi nilai moneter pada dampak kesehatan akibat pencemaran. Masalah pertama merupakan bagian dari studi tentang penilaian risiko epidemiologi (epidemiological risk assessment), terutama terkait dengan penentuan ada tidaknya hubungan sebabakibat (cause-effect relationship) (WHO, 2002). Studi ini melibatkan beberapa tahap penilaian, yaitu identifikasi risiko kesehatan, penilaian eksposur (paparan pencemar), penilaian doseresponse, dan yang terakhir adalah identifikasi karakter dari masing-masing risiko kesehatan.

Masalah kedua, yaitu estimasi nilai ekonomi dalam satuan moneter(sering disebut valuasi ekonomi) dari dampak kesehatan akibat pencemaran merupakan sesuatu yang cukup kompleks karena kesehatan bukanlah suatu komoditas pasar yang sederhana.Konsep ini didasarkan pada teori ekonomi kesejahteraan (welfare economics) yang mengasumsikan bahwa kesehatan memiliki nilai selayaknya barang ekonomi lainnya, dan nilai tersebut dapat diperbandingkan. Secara lebih spesifik, teori tersebut mengasumsikan bahwa masyarakat cukup rasional dalam mengambil keputusan yang bersifat ‘trade-off’antara risiko kesehatan (health risks) dan barang ekonomi lainnya (Septiyantie, 2013).

Daftar Pustaka

Septiyantie, UP., & Cahyadin. 2013. Hubungan Antara Realisasi Dana Bantuan Operasional Kesehatan dengan Indikator Gizi KIA di Provinsi Jawa Tengah pada Tahun 2012. Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia 2 (4).

Sengkey,SL., Jansen, F., Wallah, S., 2011. Tingkat Pencemaran Udara CO Akibat Lalu Lintas dengan Model Prediksi Polusi Udara Skala Mikro. Jurnal Kemas 1 (2): 119-126.

Mulyadi. 2015. Paparan Timbal Udara terhdap Timbal Darah, Hemoglabin, Cystatin C Serum Pekerja Pengecatan Mobil. Jurnal Kemas. 11 (1).

Basri, S. dkk. 2015. Analisis Risiko KEsehatan Lingkungan (Mdel Pengukuran Risiko Pencemaran Udara terhadap Kesehatan). Jurnal Kesehatan 7 (2).

http://pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/index.php?p=show_detail&id=399