.

Tampilkan postingan dengan label @tb07. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @tb07. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Februari 2017

Polutan Udara Pada Lingkungan



Komposisi gas di atmosfer dapat mengalami perubahan karena polusi udara akibat dari aktivitas alam maupun dari berbagai aktivitas manusia.

Sabtu, 11 Februari 2017

Dampak Berbahaya Pencemaran Udara


Pencemaran udara adalah kehadiran satu atau lebih substansi fisik, kimia, atau biologi di atmosfer dalam jumlah yang dapat membahayakan kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan, mengganggu estetika dan kenyamanan, atau merusak properti.
Pencemaran udara dapat ditimbulkan oleh sumber-sumber alami maupun kegiatan manusia. Beberapa definisi gangguan fisik seperti polusi suara, panas, radiasi atau polusi cahaya dianggap sebagai polusi udara. Sifat alami udara mengakibatkan dampak pencemaran udara dapat bersifat langsung dan lokal, regional, maupun global.
Pencemaran udara di dalam ruangan dapat mempengaruhi kesehatan manusia sama buruknya dengan pencemaran udara di ruang terbuka

Kebakaran hutan di Riau




Kepulan asap membubung tinggi dari kebakaran hutan dan lahan di Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, Riau, Kamis (27/3/2014). Kebakaran hutan dan lahan di Riau kembali terjadi yang membuat beberapa wilayah di Riau diselimuti kabut asap.

Kebakaran lahan gambut yang terjadi di Kepulauan Riau dan beberapa daerah di Kalimantan membuat negara tetangga merasa terganggu,

POLUSI UDARA



Kata Kunci : Polutan BatuBara
Polutan-polutan Hasil Pembakaran Batubara Pada Boiler
Bentuk polusi yang paling banyak diakibatkan oleh pembakaran batubara adalah polusi udara. Polusi udara adalah terkontaminasinya udara oleh bahan berbahaya yang karena jumlah ataupun karakteristiknya, dapat membahayakan kesehatan manusia dan/atau lingkungan sekitar. Selain menghasilkan gas-gas buang yang dapat mencemari udara, akumulasi dari debu-debu hasil pembakaran batubara dapat menempel di pipa-pipa boiler dan membentuk semacam kerak yang disebut slag. Melalui perlakuan khusus menggunakan sootblower, slag akan jatuh dalam bentuk padatan yang selanjutnya dikumpulkan untuk diperlakukan lebih lanjut. Namun kali ini saya akan menjelaskan kepada Anda polutan-polutan pencemar udara, yang dihasilkan oleh pembakaran batubara.

Polusi Udara Oleh Boiler
Polutan-polutan penting yang
dihasilkan dari proses pembakaran batubara antara lain adalah SO2, NOx, CO, dan material partikulat. Selain itu ada bahan polutan lain yang disebut udara beracun. Ia adalah polutan yang sangat berbahaya meskipun jumlahnya hanya sedikit dihasilkan oleh pembakaran batubara. Namun udara beracun ini perlu kita bahas juga lebih lanjut karena sifatnya yang sangat membahayakan kesehatan manusia. Berikut adalah penjelasan lebih detail mengenai polutan-polutan tersebut:
  1. Sulfur Dioksida
Batubara memiliki kandungan sulfur yang dapat mencapai 10% dalam fraksi berat. Namun rata-rata kandungan sulfur di dalam batubara berada di kisaran 1-4% tergantung dari jenis batubara tersebut. Proses pembakaran batubara menyebabkan sulfur tersebut terbakar dan menghasilkan gas sulfur dioksida (SO2) dan sebagian kecil menjadi sulfur trioksida (SO3).
Kerusakan Hutan Di Polandia Akibat Dari Hujan Asam
Secara langsung, sulfur oksida dapat menyebabkan iritasi pada alat pernapasan manusia, mengurangi jarak pandang kita, sekresi muskus berlebihan, sesak napas, dan lebih lanjut dapat menyebabkan kematian. Reaksi sulfur oksida dengan kelembaban ataupun hujan, dapat menimbulkan hujan asam yang sangat berbahaya bagi tanaman, hewan terutama hewan air, serta sifatnya yang korosif dapat merusak infrastruktur-infrastruktur yang ada.
  1. Sulfur Trioksida
Sebagian kecil sulfur dioksida yang terbentuk pada pembakaran batubara, terkonversi menjadi sulfur trioksida (SO3). Rata-rata SO3 terbentuk sebanyak 1% dari total gas buang pembakaran. Satu sistem pada boiler yang berfungsi untuk mengontrol gas buang NOx, memiliki efek samping meningkatkan pembentukan SO3 dari 0,5% sampai 2%. SO3 sangat mudah bereaksi dengan air untuk membentuk asam sulfat (H2SO4) pada temperatur gas buang di bawah 260oC. Seperti yang Anda ketahui bahwa asam sulfat bersifat amat sangat korosif dan berbahaya.
SO3 memiliki sifat higroskopis yang sangat agresif. Higroskopis adalah sebuah sifat untuk menyerap kelembaban dari lingkungan sekitarnya. Sebagai gambaran untuk Anda, SO3 yang mengenai kayu ataupun bahan katun dapat menyebabkan api seketika itu juga. Kasus ini terjadi karena SO3 mendehidrasikan karbohidrat yang ada pada benda-benda tersebut. Polutan ini juga sangat jelas berbahaya bagi manusia, karena apabila terkena kulit, kulit tersebut akan seketika mengalami luka bakar yang serius. Atas dasar inilah polutan SO3 harus ditangani dengan sangat serius agar tidak mencemari lingkungan sekitar.
  1. Nitrogen Oksida
Nitrogen Oksida yang dihasilkan oleh pembakaran batubara biasa disebut dengan NOx. NOx meliputi semua jenis senyawa yang tersusun atas atom nitrogen dan oksigen. Nitrat oksida (NO) dan nitrogen dioksida (NOx) menjadi penyusun utama dari polutan ini. NO, yang paling banyak jumlahnya, terbentuk pada pembakaran bertemperatur tinggi hingga dapat mereaksikan nitrogen yang terkandung pada bahan bakar dan/atau udara, dengan oksigen. Jumlah dari NOx yang terbentuk tergantung atas jumlah dari nitrogen dan oksigen yang tersedia, temperatur pembakaran, intensitas pencampuran, serta waktu reaksinya.
Bahaya polutan NOx yang paling besar berasal dari NO2, yang terbentuk dari reaksi NO dengan oksigen. Gas NO2 dapat menyerap sprektum cahaya sehingga dapat mengurangi jarak pandang manusia. Selain itu NOx dapat mengakibatkan hujan asam, gangguan pernapasan manusia, korosi pada material, pembentukan smog dan kerusakan tumbuhan.
  1. Karbon Monoksida
Gas yang tidak berwarna dan juga tidak berbau ini terbentuk dari proses pembakaran yang tidak sempurna. Karbon monoksida (CO) dihasilkan dari proses pembakaran batubara di boiler dalam jumlah yang relatif sangat kecil. Bahaya paling besar yang diakibatkan oleh CO adalah pada kesehatan manusia dan juga hewan. Jika gas CO terhirup, ia akan lebih mudah terikat oleh hemoglobin darah daripada oksigen. Hal ini menyebabkan tubuh akan kekurangan gas O2, dan jika jumlah CO terlalu banyak akan dapat menyebabkan penurunan kemampuan motorik tubuh, kondisi psikologis menjadi stress, dan paling parah adalah kematian.


  • Abu (Fly Ash)


  • Hasil pembakaran batubara di boiler juga menghasilkan partikel-partikel abu dengan ukuran antara 1 hingga 100 μm. Abu tersebut mudah terlihat oleh mata kita, bahkan dapat mengganggu jarak pandang jika tersebar di udara bebas. Selain itu fly ash sangat berbahaya jika sampai terhirup oleh manusia, karena ia dapat melukai bagian-bagian penting sistem pernapasan kita.

    1. Karbon Dioksida
    Sejak tahun 1980-an, efek dari meningkatnya jumlah emisi CO2 akibat ulah manusia semakin diperhatikan. CO2 yang dikenal dengan sebutan gas rumah kaca, menjadi satu dari beberapa gas buang yang mengakibatkan terjadinya global warming (pemanasan global). CO2 selalu dihasilkan oleh semua jenis proses pembakaran yang menggunakan bahan bakar fosil berbasis hidrokarbon.
    Menangani emisi CO2 tidak semudah menangani emisi gas buang lainnya, seperti SO2 misalnya. Karena jumlah produksi CO2 dari proses pembakaran yang secara alamiah selalu berjumlah banyak. Salah satu metode paling efektif untuk mengurangi pembentukan CO2 adalah dengan memperbaiki tingkat efisiensi dari proses pembakaran (energi yang lebih banyak dari bahan bakar yang lebih sedikit). Saat ini metode-metode untuk mengurangi jumlah penggunaan bahan bakar karbon untuk menghasilkan energi yang lebih besar terus dikembangkan.





    Daftar Pustaka
    Anonim. 2010. Pemanfaatan Bakteri Pereduksi Sulfat untuk Bioremediasi TanahBekas Tambang Batubara
    Refrensi

    PENCEMARAN UDARA



    PENCEMARAN UDARA


    Definisi
    Pencemaran udara adalah suatu kondisi di mana kualitas udara menjadi rusak dan terkontaminasi oleh zat-zat, baik yang tidak berbahaya maupun yang membahayakan kesehatan tubuh manusia. Pencemaran udara biasanya terjadi di kota-kota besar dan juga daerah padat industri yang menghasilkan gas-gas yang mengandung zat di atas batas kewajaran. Rusaknya ata semakin sempitnya lahan hijau atau pepohonan di suatu daerah juga dapat memperburuk kualitas udara di tempat tersebut. Semakin banyak kendaraan bermotor dan alat-alat industri yang mengeluarkan gas yang mencemarkan lingkungan akan semakin parah pula pencemaran udara yang terjadi. Untuk itu diperlukan peran serta pemerintah, pengusaha dan masyarakat untuk dapat menyelesaikan permasalahan pencemaran udara yang terjadi.               

     Pencemaran udara dapat terjadi dimana-mana, misalnya di dalam rumah, sekolah, dan kantor. Pencemaran ini sering disebut pencemaran dalam ruangan. Sementara itu pencemaran di luar ruangan berasal dari emisi kendaraan bermotor, industri, perkapalan, dan proses alami oleh makhluk hidup. Sumber pencemar udara dapat diklasifikasikan menjadi sumber diam dan sumber bergerak. Sumber diam terdiri dari pembangkit listrik, industri dan rumah tangga. Sedangkan sumber bergerak adalah aktifitas lalu lintas kendaraan bermotor dan tranportasi laut. Dari data BPS tahun 1999, di beberapa propinsi terutama di kota-kota besar seperti Medan, Surabaya dan Jakarta, emisi kendaraan bermotor merupakan kontribusi terbesar terhadap konsentrasi NO2 dan CO di udara yang jumlahnya lebih dari 50%. Penurunan kualitas udara yang terus terjadi selama beberapa tahun terakhir menunjukkan kita bahwa betapa pentingnya digalakkan usaha-usaha pengurangan emisi ini. Baik melalui penyuluhan kepada masyarakat ataupun dengan mengadakan penelitian bagi penerapan teknologi pengurangan emisi. Secara umum, terdapat 2 sumber pencemaran udara, yaitu pencemaran akibat sumber alamiah, seperti letusan gunung berapi, dan yang berasal dari kegiatan manusia, seperti yang berasal dari transportasi, emisi pabrik, dan lain-lain. Di dunia, dikenal 6 jenis zat pencemar udara utama yang berasal dari kegiatan manusia, yaitu Karbon monoksida (CO), oksida sulfur (SOx), oksida nitrogen (NOx), partikulat, hidrokarbon (HC), dan oksida fotokimia, termask ozon. Di Indonesia, kurang lebih 70% pencemaran udara disebabkan oleh emisi kendaraan bermotor. Kendaraan bermotor mengeluarkan zat-zat berbahaya yang dapat menimbulkan dampak negatif, baik terhadap kesehatan manusia maupun  terhadap lingkungan, seperti timbal/timah hitam (Pb), oksida nitrogen (NOx), hidrokarbon (HC), karbon monoksida (CO), dan oksida fotokimia (Ox). Kendaraan bermotor menyumbang hampir 100% timbal, 13-44% suspended particulate matter (SPM), 71-89% hidrokarbon, 34-73% NOx, dan hampir seluruh karbon monoksida (CO) ke udara Jakarta.  Sumber utama debu berasal dari pembakaran sampah rumah tangga, di mana mencakup 41% dari sumber debu.


    Zat pencemar

    Sulfur dioksida: Batubara, minyak bumi, dan bahan bakar lainnya sering tidak murni dan mengandung sulfur serta senyawa  organik (berbasis karbon).  Ketika sulfur yang juga dikenal sebagai belerang mengalami proses pembakaran  dengan oksigen dari udara, maka sulfur dioksida (SO2) diproduksi.  Pembangkit listrik dengan bahan bakar batubara  merupakan  sumber  polutan sulfur dioksida udara terbesar di dunia, yang memberikan kontribusi untuk terbentuknya asap dan hujan asam, serta menimbulkan masalah  kesehatan, terutama  penyakit paru-paru.

    Karbon monoksida: Proses pembakaran yang kurang sempurna dan dalam kondisi kekurangan oksigen akan menghasilkan CO.

    Karbon dioksida: Gas CO2 diproduksi oleh semua manusia melalui proses pernafasan. Gas tersebut merupakan bahan baku bagi tanaman untuk menghasilkan karbohidrat melalui proses fotosintesis. Gas CO2  biasanya tidak dianggap sebagai  polutan. Namun, CO2  merupakan gas rumah kaca yang dilepaskan oleh mesin industri, mesin mobil dan sepeda motor, serta pembangkit listrik. Sejak awal Revolusi Industri gas CO2  sudah terakumulasi  di atmosfer bumi dan berkontribusi terhadap masalah pemanasan global dan perubahan iklim.  

    Nitrogen oksida: Nitrogen dioksida (NO2) dan nitrogen oksida (NO) adalah polutan yang dihasilkan sebagai akibat tidak langsung dari pembakaran, yaitu ketika nitrogen dan oksigen dari udara bereaksi bersama-sama. Polusi nitrogen oksida berasal dari mesin kendaraan  dan pembangkit listrik, dan memainkan peran penting dalam pembentukan hujan asam, ozon dan asap. Seperti karbon dioksida, nitrogen oksida juga merupakan gas rumah kaca (berkontribusi terhadap pemanasan global).

    Senyawa organik volatil (VOC): Bahan kimia berbasis karbon (organik), dapat menguap dengan mudah pada suhu dan tekanan normal, sehingga  mudah menjadi gas. Oleh karena itu digunakan sebagai pelarut dalam berbagai bahan kimia rumah tangga yang  seperti cat lilin, dan pernis. Namun merupakan salah satu  polutan udara,  diyakini memiliki  efek buruk secara jangka panjang terhadap kesehatan manusia. Selain itu  berperan dalam pembentukan ozon dan asap.

    Partikulat: Ini adalah deposit jelaga sebagai polutan udara yang menghitamkan bangunan dan kesulitan menyebabkan gangguan pernafasan. Partikulat memiliki i berbagai ukuran (PM diikuti dengan nomor). Dalam hal ini  PM 10 berarti partikel jelaga kurang dari 10 mikron (10 sepersejuta meter). Di perkotaan yang ramai  sebagian besar partikulat berasal dari asap kendaraan bermotor..
    Chlorofluorocarbons (CFC): Gas CFC telah dintakakan berbahaya dalam pemakainnya, baik untuk pendingin dalam lemari es maupun penyemprot pada kaleng aerosol. CFC terbukti dapat merusak lapisan ozon di stratosfer.

    SOLUSI YANG DILAKUKAN UNTUK MENCEGAH PENCEMARAN UDARA


    Solusi teknologi
    Pembangkit listrik, pabrik, dan kendaraan bermotor terus-menerus membuang berbagai polutan ke udara, sehingga menimbulkan berbagai kritik, pemberitaan, pengamatan, kajian, seminar, lokakarya dan sebagainya. Namun yang paling penting sebenarnya ialah menerapkan solusi teknologi yang tepat untuk mengurangi kualitas dan kuantitas polutan. Solusi pencemaran udara memang memerlukan investasi yang besar, sebagai contoh industri mobil memerlukan dana yang besar untuk membuat mobil bertenaga listrik untuk menggantikan mobil yang menggunakan bahan bakar minyak. Di sisi lainnya di Planet Bumi ini terdapat ribuan pembangkit listrik batubara dan ratusan pembangkit listrik tenaga nuklir, keduanya berpotensi besar menimbulkan pencemaran udara, solusi teknologinya ialah dengan mulai memperhatikan keberadaan energy terbarukan, dengan menggunakan sumber energi dari panel surya, turbin angina, dan sebagainya. Solusi pencemaran udara ialah dengan menggunakan teknologi bersih.

    Berbagai peralatan untuk mereduksi polutan terus dirintis dan dikembangkan, sebagai contoh mobil dengan sumber energi bensin saat ini sudah banyak yang dilengkapi dengan Mari kita optimis, meskipun. Sama seperti teknologi telah menyebabkan masalah polusi udara, sehingga dapat memberikan solusi. Mobil dengan mesin bensin konvensional sekarang secara sudah banyak yang dilengkapi dengan catalytic converter , yang berfungsi mengurangi konsentrasi gas buangan. Begitu pula banyak pembangkit listrik dilengkapi dengan  electrostatic smoke precipitatorst yang menggunakan listrik statis untuk menarik kotoran dan jelaga dari gas yang muncul di sekitar  cerobong asap. Selain itu sudah banyak  pembangkit listrik yang dilengkapi dengan carbon capture systems,  di mana karbon dioksida dijerap, sehingga tidak dilepas ke udara. Teknologi ramah lingkungan, teknologi hijau atau teknologi hemat energi terus dikembangkan, dan secara keseluruhan berkontribusi terhadap pengurangan dampak negatif akibat pencemaran udara.

     Peraturan dan Perundang-udangan

    Peraturan dan perundang-undangan menjasi solusi penting untuk mengendalikan pencemaran udara. Peraturan dan perundang-undangan tersebut ada yang berskala local untuk kota atau kabupaten tertentu, nasional, dan global. Sudah banyak kota yang semula dalam kondisi udaranya tercemar berat, kini berubah menjadi kota yang berudara relatif bersih, hal itu antara lain karena penerapan peraturan daerah secara konsisten. Di DKI Jakarta misalnya terdapat Perda Nomor 2 Tahun 2005 Tentang Pengendalian Pencemaran Udara. Sedangkan untuk hal yang sama di Provinsi Jawa Barat terdapat Perda Nomor 11 Tahun 2006. Setelah tragedi kabut asap tahun 1952, pemerintah Kota London segera menarapkan Clean Air Act of 1956, yang membatasi dan mengatur penggunaan batubara, antara lain dengan membangun cerobong asap yang lebih tinggi.

    Setiap negara memiliki peraturan dan perundang-undangan tentang pencemaran udara. Di Indonesia melalui Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran Udara, antara lain berisi : Ketentuan Umum; Perlindungan Mutu Udara (Baku Mutu Udara Ambien, Status Mutu Udara Ambien, Baku Mutu Emisi dan Ambang Batas Emisi Gas Buang, Baku Tingkat Gangguan dan Ambang Batas Kebisingan, dan Indeks Standar Pencemaran Udara – ISPU); Pengendalian Pencemaran Udara (Pencegahan Pencemaran Udara dan Persyaratan Penataan Lingkungan Hidup, Penanggulangan dan Pemulihan Pencemaran Udara); Pengawasan, Pembiayaan, Ganti Rugi, Sanksi, Ketentuan Peralihan dan Ketentuan Penutup.

    Isu penipisan lapisan ozon telah menjadi masalah global sejak dikemukakannya hasil penelitian para ahli terkait adanya penggunaan bahan kimia yang dapat merusak ozon di lapisan Stratosfer. Kerjasama global untuk perlindungan lapisan ozon dimulai dengan negosiasi yang menghasilkan Konvensi Wina tentang upaya melindungi lapisan ozon yang lahir pada tahun 1985 dan diikuti dengan Protokol Montreal pada tahun 1987 mengenai langkah-langkah penghapusan bahan-bahan yang dapat merusak lapisan ozon. Protokol Montreal merupakan salah satu perjanjian internasional dibidang lingkungan yang paling berhasil pelaksanaannya yang dapat memberikan contoh bagaimana kerjasama antara negara maju dan negara berkembang, serta antara pemerintah dan industri untuk melindungi lingkungan. Selain sudah diratifikasi oleh seluruh negara, implementasi Protokol Montreal telah menunjukkan penghapusan dan penurunan produksi dan konsumsi Bahan Perusak Ozon (BPO) yang terukur sesuai jadwal yang disepakati. Protokol Montreal ditandantangani tahun 1987, berlaku mulai 1989, kemudian direvisi tahun 1990 (di London), 1992 (di Kpenhagen)m 1995 (di Vienna), 1997 (di Montreal) dan 1999 (di Beijing). (LH, 2011).

    Meningkatkan kesadaran dan mengubah perilaku

    Dalam hal ini teknologi bersih dapat menggantikan  teknologi kotor, selain itu hukum dapat mengatur dan memberikan sanksi terhadap para pelanggar atau encemar udara, namun semua itu tidak berate jika tidak ada upaya untuk meningkatkan kesadaran dan mengubah perilaku manusia. Kadang-kadang harus ada kejadian besar untuk memperkuat kesadaran manusia, seperti bencana asbut di London, bencana Bhopal dan Chernobyl. Sebagian kasus pencemaran  lingkungan terjadi karena pelaku tidak menyadarinya. Pencemaran udara dan masalah lingkungan lainnya merupakan persoalan kolektif yang harus dicari dan ditempuh solusinya secara bersama, Karena pada dasarnya lingkungan tidak mengenal batas-batas, sorang tetangga yang membakar sampah di halaman rumahnya, tidak bisa mengisolasi polutan yang dihasilkannya khusus untuk lingkungannnya sendiri. Tetapi polutan tersebut menyebar ke tetangga lainnya, bahkan satu kampung. Pembakaran hutan di Riau daratan untuk pembukaan perkebunan, tidak hanya menimbulkan asap dan kabut di lokasi itu saja, tetapi juga menyebar hingga ke negara tetangga. Selain itu ternyata akumulasi penggunaan senyawa CFC oleh sebagian manusia di seluruh Planet Bumi, dapat menimbulkan dampak kebocoran lapisan ozon di stratisfer. Tidak ada pilihan lain, di antara sesama manusia harus saling menyadarkan dan berupaya mengubah perlilaku yang tidak ramah lingkungan.

    Lantas kesadaran dan perilaku apa saja yang secara nyata dapat mengurangi pencemaran udara, mulai dari hemat energi, hemat air,  mengurangi penggunaan kendaraan bermotor, mengurangi pembakaran sampah, mengembangkan taman organik,  mengurangi penggunaan bahan kimia rumah tangga, gunakan cat tembok berpelarut air, lakukan daur ulang, dan jauhi rokok. 

    Sumber:

    Atmosfer dan Lapisannya

      

    Definisi atmosfer menurut para ahli bumi atau geografi ialah lapisan udara atau selimut gas yang menyelubungi planet termasuk planet bumi dimana lapiasa udara tersebut mengandung 4 unsur gas diantaranya gas nitrogen, oksigen, karbondioksida dan argon.

    Namun secara harfiah, Atfosmer berasal dari kata Atmos yang artinya uap air (butiran-butiran air) dan Sphaira yang artinya selimut. Jadi jika digabungkan atmosfer adalah lapisan gas/uap air yang menyelimuti sebuah planet.

    B. Fungsi Lapisan Atmosfer
    Fungsi dari atmosfer adalah untuk melindungi keempat unsur gas oleh grafitasi bumi dan mempertahankan serta melindungi dari seruangan luar. Komposisi dari keempat unsur tersebut ialah nitrogen sebesar 78%, oksigen sebesar 21%, karbondioksida sebesar 0,03% dan argon sebesar 0,9%.

    Kita sederhanakan fungsi dari lapisan atmosfer:
    1. Pelindung bumi. Apa yang dilindungi? Melindungi agar suhu bumi tetap stabil dan menjaga agar cuaca dan kelembaban udara di dalam bumi juga tetap stabil.
    2. Penyeimbang dan penyeimbang keadaan di dalam dan di luar bumi.
    3. Mengurangi rasa panas yang diberikan langsung oleh cahaya matahari.
    4. Melindungi bumi dari serangan meteor-meteor atau benda-benda luar angkasa.
    5. Menjaga agar grafitasi bumi tetap stabil.

    Intinya fungsi atmosfer adalah untuk mengatur proses penerimaan panas yang berasal dari matahari. Yaitu dengan cara menyerap sinar matahari kemudian memantulkan panas yang dipancarkan oleh matahari.

    Sekitar 34% dari 100% panas matahari yang dipantulkan akan dikembalikan ke angkasa oleh bantuan dari atmosfer, kumpulan awan dan permukaan bumi. Kemudian sekitar 19% akan diserap oleh atmosfer dan awan.

    Dan sisanya sekitar 47% mencapai permukaan bumi, artinya panas yang sampai ke kulit kita adalah sudah mengalami penyerapan atau difilterisasi sama atmosfer dan awan.
    Selain dari keempat unsur gas tersebut ada unsur lain yang menyelimuti atmosfer bumi diantaranya uap air, krypton, neon, xinon, hidrogen dan ozon. 

    1. Troposfer
    Lapisan troposfer merupakan lapisan udara yang paling rendah. Rata-rata kedalaman lapisan troposfer adalah 12 km. Pada lapisan ini, peristiwa-peristiwa cuaca seperti angin, awan dan hujan terjadi.
    Adapun susunan kimia yang terdapat di dalam Troposfer antara lain:
    1.    Nitrogen sebanyak 78,03%
    2.    Oksigen sebanyak 20,03%
    3.    Argon sebanyak 0,93%
    4.    Asam Arang sebanyak 0,03%
    5.    Nenon sebnayak 0,0015%
    6.    Helium sebanyak 0,00015%
    7.    Kripton sebanyak 0,0001%
    8.    Hidrogen sebanyak 0,00005%
    9.    Xenon sebanyak 0,000005%

    2. Stratosfer
    Lapisan stratosfer berada di atas tropopause sampai ketinggian berkisar 49 km dari permukaan laut. Pada stratosfer terdapat lapisan isothermal dan lapisan inverse. Diatas stratosfer terdapat lapisan stratopause yang merupakan pembatas antara stratosfer dengan mesosfer. Pada lapisan yang satu ini tedapat apa yang kita kenal dengan istilah “lapisan Ozon” yang berperan penting dalam menyerap radiasi sinar ultraviolet sehingga tidak jatuh secara keseluruhan di bumi.

    3. Mesosfer
    Lapisan mesosfer terdapat pada ketinggian antara 49-85 km di atas permukaan bumi. Lapisan mesosfer dengan lapisan diatasnya dibatasi dengan lapisan mesopause.

    4. Termosfer
    Lapisan ini terletak pada ketinggian antara 85-500 km di atas permukaan bumiyang lebih sering disebut dengan lapisan panas ( hot layer ). Pada lapisan ini terdapat lapisan ionosfer yang terletak antara 85-375 km diatas permukaan bumi pada lapisan ini terdapat partikel-partikel ion yang berfungsi memantulkan gelombang radio.

    5. Eksosfer
    Lapisan eksosfer berada di atas 500 km di atas permukaan bumi. Moleku-molekul pada lapisan ini selalu bergerak dengan kecepatan tinggi. Gas yang mendominasi adalah hydrogen. Kerapatan udaranya sangat tipis. Tingkat cahaya juga sangat rendah. Garis tak terlihat atau imajiner yang membatasi eksosfer dengan angkasa luas dikenal juga dengan istilah Magnetopause.


    Daftar Pustaka :

    https://pesonageografi.wordpress.com/2011/01/22/komposisi-dan-lapisan-atmosfer/
    https://id.wikipedia.org/wiki/Meteor
    https://id.wikipedia.org/wiki/Atmosfer_Bumi



    http://berkahkhair.com/atmosfer/
    http://belajarilmugeografi.blogspot.co.id/2013/04/membedah-lapisan-atmosfer.html