.

Tampilkan postingan dengan label @Z17-REVA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @Z17-REVA. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Desember 2023

Kinetika Kimia : Hukum Laju Reaksi

 

Oleh : Reva Liandri (@Z17-REVA)


Abstrak

Kinetika kimia adalah cabang ilmu kimia yang mempelajari laju reaksi kimia dan faktor-faktor yang memengaruhinya. Salah satu konsep penting dalam kinetika kimia adalah Hukum Laju Reaksi. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan konsep ini, mengidentifikasi rumusan masalah, dan mengeksplorasi tujuan penelitian terkait.

Selasa, 12 Desember 2023

Analisis dan Metode Karakterisasi dalam Kimia Organik (Spektroskopi NMR, Spektroskopi IR, Kromatografi)

 Analisis dan Metode Karakterisasi dalam Kimia Organik



 

Oleh : Reva Liandri (@Z17-REVA)

 

Abstrak

Dalam kimia organik, analisis dan metode karakterisasi digunakan untuk mengidentifikasi struktur molekul organik. Beberapa metode yang umum digunakan adalah spektroskopi NMR, spektroskopi IR, dan kromatografi. Analisis dan metode karakterisasi adalah bagian integral dari penelitian dalam kimia organik. Mereka membantu peneliti untuk mengidentifikasi, mengukur, dan memahami sifat-sifat molekuler senyawa organik. Metode karakterisasi digunakan untuk menentukan sifat-sifat fisik dan kimia dari senyawa organik.

 

Pembahasan

Analisis dan metode karakterisasi adalah bagian integral dari penelitian dalam kimia organik. Mereka membantu peneliti untuk mengidentifikasi, mengukur, dan memahami sifat-sifat molekuler senyawa organik. Metode karakterisasi digunakan untuk menentukan sifat-sifat fisik dan kimia dari senyawa organik. Beberapa teknik analisis dan metode karakterisasi yang umum digunakan dalam kimia organik antara lain:

·         Spektroskopi NMR

Spektroskopi NMR adalah teknik analisis fisikokimia yang didasarkan pada interaksi radiasi frekuensi radio yang diterapkan secara eksternal dengan inti atom. Selama interaksi ini terjadi pertukaran energi yang menyebabkan perubahan sifat intrinsik inti atom yang disebut putaran nuklir . NMR memanfaatkan sifat-sifat magnetik inti atom, khususnya inti hidrogen (1H) dan inti karbon-13 (13C), spektroskopi NMR memberikan informasi yang sangat berharga tentang keadaan molekuler suatu senyawa. Berikut adalah langkah-langkah umum dalam menggunakan spektroskopi NMR untuk menentukan struktur molekuler :

1.       Persiapan sampel

Sampel senyawa organik yang akan dianalisis harus murni dan dalam bentuk yang sesuai untuk analisis NMR. Biasanya, senyawa dilarutkan dalam pelarut yang sesuai seperti deuterokloroform (CDCl₃) atau deuterium oksida (D₂O).

 

2.       Perekaman Spektrum NMR

Sampel ditempatkan dalam tabung NMR dan ditempatkan dalam spektrometer NMR (menghasilkan medan magnet yang kuat dan memberikan serangkaian pulsa radiofrekuensi ke sampel)

 

3.       Pemahaman Spektrum

§  Chemical Shift (Skala Kimia)

§  Isyarat (Peak)

§  Pola Pemecahan (Splitting)

4.       Interpretasi Spektrum

Identifikasi gugus hidrogen dan karbon dalam molekul berdasarkan pola isyarat dan lokasi chemical shift.

 

5.       Korelasi dengan Spektroskopi 2D

Beberapa eksperimen NMR 2D seperti COSY, HSQC, dan HMBC dapat digunakan untuk mengidentifikasi keterkaitan antara inti atom dalam molekul.

 

6.       Verifikasi dengan Data Lain

Hasil dari NMR harus diverifikasi dengan data dari teknik analisis lain seperti spektroskopi massa, spektroskopi inframerah, dan data lainnya untuk memastikan keakuratan identifikasi struktur.

 

7.       Penyusunan Struktur Molekuler

Berdasarkan informasi dari spektroskopi NMR dan data verifikasi lainnya, penyusunan struktur molekuler dapat dilakukan.

 

8.       Koreksi dan Penyesuaian

Jika diperlukan, struktur yang diajukan dapat disesuaikan atau dikoreksi berdasarkan hasil analisis dan verifikasi.

 

·         Spektroskopi IR

Spektroskopi Inframerah (IR) adalah teknik analisis spektroskopi yang digunakan untuk mengidentifikasi gugus fungsi dalam molekul senyawa organik. Pada dasarnya, spektroskopi IR bekerja dengan mengukur absorpsi radiasi inframerah oleh ikatan kimia dalam molekul. Setiap gugus fungsi memiliki serapan khas pada panjang gelombang tertentu, sehingga spektroskopi IR sangat efektif untuk mengidentifikasi berbagai gugus fungsi. Berikut adalah beberapa poin penting mengenai spektroskopi IR untuk identifikasi gugus fungsi:

1.       Prinsip Dasar

Molekul menyerap radiasi inframerah yang sesuai dengan frekuensi getaran ikatan kimia tertentu. Gugus fungsi yang berbeda memiliki pita absorpsi karakteristik pada panjang gelombang tertentu.

 

2.       Pita Absorpsi yang Umum

§  Ikatan O-H (hidroksil): Sekitar 3200-3600 cm⁻¹.

§  Ikatan C=O (karbonil): Sekitar 1600-1800 cm⁻¹, tergantung pada jenis karbonil (aldehida, keton, asam karboksilat, ester, amida, dll.).

§  Ikatan C-H (alkana, alkil): Sekitar 2800-3000 cm⁻¹.

§  Ikatan C=C (rangkap tak terkonjugasi): Sekitar 1600-1680 cm⁻¹.

§  Ikatan C≡C (rangkap terkonjugasi): Sekitar 2100-2260 cm⁻¹.

 

3.       Pemeriksaan Gugus Fungsi Tertentu

Fingerprints Region (1500-500 cm⁻¹): Daerah ini seringkali mengandung informasi yang sangat spesifik untuk identifikasi gugus fungsi tertentu, seperti pola sidik jari untuk senyawa kompleks atau panjang rantai tertentu.

 

4.       Efek Isotopik

Deuterium Exchange: Penukaran hidrogen dengan deuterium dapat terjadi pada gugus hidroksil atau amida, mengubah posisi serapan IR.

 

5.       Spektroskopi 2D IR

Kombinasi spektroskopi IR dengan teknik 2D dapat memberikan informasi lebih lanjut tentang keterkaitan antar gugus fungsi dalam molekul.

 

6.       Pencitraan Inframerah (IR Imaging)

Penggunaan teknik IR imaging memungkinkan visualisasi distribusi gugus fungsi dalam sampel, seperti pada studi biologis atau material polimer.

 

7.       Interpretasi Spektrum

Identifikasi gugus fungsi didasarkan pada lokasi pita absorpsi dan pola sidik jari unik untuk setiap gugus fungsi.

 

8.       Verifikasi dengan Data Lain

Hasil dari spektroskopi IR harus diverifikasi dengan data dari teknik analisis lain, seperti spektroskopi NMR, untuk memastikan identifikasi yang akurat.

 

·         Kromatografi

Kromatografi adalah metode pemisahan senyawa-senyawa berdasarkan perbedaan afinitas (daya tarik) terhadap fase diam (stasioner) dan fase gerak (mobile). Prinsip dasar kromatografi adalah memanfaatkan perbedaan distribusi antara fase gerak dan fase diam, sehingga senyawa-senyawa dapat bergerak dengan kecepatan yang berbeda melalui sistem kromatografi. Berikut adalah beberapa jenis kromatografi yang umum digunakan:

§  Kromatografi Cair (Liquid Chromatography - LC)

§  Kromatografi Gas (Gas Chromatography - GC)

§  Kromatografi Kinerja Tinggi (High-Performance Liquid Chromatography - HPLC)

§  Kromatografi Lapis Tipis (Thin-Layer Chromatography - TLC)

§  Kromatografi Affinitas

§  Kromatografi Ion (Ion Chromatography - IC)

Kromatografi memiliki berbagai aplikasi dalam berbagai bidang ilmu, termasuk kimia biokimia, farmasi, dan ilmu hayati. Pemilihan jenis kromatografi tergantung pada sifat-sifat senyawa yang akan dipisahkan dan tujuan analisisnya.

 

Daftar Pusaka

Ahmad Nurhakim & Andjar Tyassih, S. (2023). Asam dan Basa: Pengertian, Fungsi, Ciri-ciri, hingga Contohnya. Retrieved from Quipper Blog: https://www.quipper.com/id/blog/mapel/kimia/asam-dan-basa/#Pengertian_Asam_Basa

Carreras, H. Z. (2021). NMR Spectroscopy Principles, Interpreting an NMR Spectrum and Common Problems. Retrieved from tecnology networks: https://www.technologynetworks.com/analysis/articles/nmr-spectroscopy-principles-interpreting-an-nmr-spectrum-and-common-problems-355891

Gugus Fungsional. (2023). Retrieved from BYJU'S: https://byjus.com/chemistry/functional-groups/

Kromatografi. (2023). Retrieved from wikipedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Kromatografi

Mubarok, F. (2021). Kromatografi Kertas Prinsip dan Cara Kerja. research gate.

Pengertian & Istilah. (2023). Retrieved from kumparan.com: https://kumparan.com/pengertian-dan-istilah/pengertian-asam-dan-basa-ciri-ciri-serta-contohnya-21GIdc0VsCc/full

Spektroskopi inframerah. (2023). Retrieved from wikipedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Spektroskopi_inframerah

 

Senin, 27 November 2023

KESETIMBANGAN KIMIA

 Hukum Le Chatelier dan Faktor yang Mempengaruhi Kesetimbangan



Oleh : Reva Liandri (@Z17-REVA)


Abstrak

Dalam kimia, prinsip Le Chatelier digunakan untuk memanipulasi hasil dari reaksi bolak-balik (reversibel), sering kali dapat meningkatkan rendemen reaksi. Prinsip Le Chatelier menyatakan bahwa jika keseimbangan dinamis terganggu karena perubahan kondisi, maka posisi keseimbangan akan bergeser untuk melawan perubahan tersebut dan membangun kembali keseimbangan. Jika suatu reaksi kimia berada pada kesetimbangan dan mengalami perubahan tekanan, suhu, atau konsentrasi produk atau reaktan, maka kesetimbangan akan bergeser ke arah berlawanan untuk mengimbangi perubahan tersebut. Halaman ini membahas perubahan posisi kesetimbangan akibat perubahan tersebut dan membahas secara singkat mengapa katalis tidak berpengaruh pada posisi kesetimbangan. 

Pendahuluan

Teori kesetimbangan kimia ditemukan oleh seorang ilmuwan asal Prancis bernama Henry Louis Le Chatelier. Henry Louis Le Chatelier mengemukakan bahwa kesetimbangan kimia dapat digeser dengan cara menaikan atau menurunkan konsentrasi salah satu zat, serta merubah suhu dan tekanan suatu sistem reaksi kimia. Jika konsentrasi reaktan atau produk diubah, kesetimbangan akan bergeser ke arah pereaksi atau hasil reaksi yang lebih sedikit. Jika suhu diubah, kesetimbangan akan bergeser ke arah reaksi endotermik atau eksotermik. Jika tekanan diubah, kesetimbangan akan bergeser ke arah reaksi yang menghasilkan jumlah molekul gas yang lebih sedikit.


Pembahasan

Henry Louis Le Chatelier mengemukakan bahwa kesetimbangan kimia dapat digeser dengan cara menaikan atau menurunkan konsentrasi salah satu zat, serta merubah suhu dan tekanan suatu sistem reaksi kimia. Jika suatu sistem kesetimbangan kimia terganggu oleh perubahan konsentrasi, suhu, atau tekanan, maka sistem akan menyesuaikan diri sedemikian rupa untuk meniadakan pengaruh perubahan dan akan menghasilkan kesetimbangan baru. Implikasi hukum ini dalam konteks hukum dapat melibatkan pertimbangan perubahan kondisi hukum atau regulasi terhadap industri kimia yang dapat mempengaruhi kesetimbangan reaksi kimia. Misalnya, jika konsentrasi reaktan dalam suatu reaksi kimia dinaikkan, maka kesetimbangan akan bergeser ke arah produk. Sebaliknya, jika konsentrasi produk dalam suatu reaksi kimia dinaikkan, maka kesetimbangan akan bergeser ke arah reaktan.

Hukum Le Chatelier menjelaskan bagaimana perubahan kondisi tertentu dapat memengaruhi sistem kesetimbangan kimia:

1. Perubahan Konsentrasi : Jika konsentrasi suatu zat dalam reaksi kesetimbangan diubah, sistem akan menyesuaikan diri dengan menggeser posisi kesetimbangan untuk mengurangi efek perubahan tersebut. Misalnya, jika konsentrasi salah satu reagen ditingkatkan, sistem akan bergeser ke arah yang mengurangi konsentrasi reagen tersebut untuk mencapai keseimbangan.

2. Perubahan Suhu : Kenaikan suhu dalam reaksi kesetimbangan dapat menggeser kesetimbangan ke arah endotermik (menyerap panas), sementara penurunan suhu dapat menggesernya ke arah eksotermik (melepaskan panas). Reaksi endotermik biasanya memerlukan peningkatan suhu untuk mencapai keseimbangan, sedangkan reaksi eksotermik cenderung memerlukan penurunan suhu.

3. Perubahan Tekanan : Perubahan tekanan dapat mempengaruhi sistem kesetimbangan, terutama pada reaksi yang melibatkan gas. Jika tekanan ditingkatkan, sistem akan bergeser ke arah yang mengurangi jumlah molekul gas, dan sebaliknya. Ini sesuai dengan aturan gas ideal, di mana tekanan dan volume gas berkaitan dengan jumlah mol gas.


Pengaruh Perubahan Volume, Tekanan, atau Gas Inert terhadap Kesetimbangan dan Pembentukan Produk

Perubahan volume, tekanan atau gas inert tidak berpengaruh pada reaksi cairan dan padatan. Mereka mungkin mempunyai efek dalam reaksi gas , dan itu pun hanya jika perbedaan jumlah jumlah molekul reaktan dan produk (∆n) tidak nol.

Sesuai dengan prinsip Le Chatelier, peningkatan tekanan atau penurunan volume akan meningkatkan pembentukan produk.

Pada tekanan konstan, penambahan gas inert meningkatkan volume sehingga menurunkan pembentukan produk.

Pada volume konstan, kesetimbangan tetap tidak terganggu. Hal ini karena penambahan gas inert pada volume konstan tidak mengubah tekanan parsial atau konsentrasi molar zat yang terlibat dalam reaksi. Hasil bagi reaksi hanya berubah jika gas yang ditambahkan merupakan reaktan atau produk yang terlibat dalam reaksi


Pengaruh Perubahan Suhu terhadap Kesetimbangan dan Pembentukan Produk

Reaksi individu dalam kesetimbangan dapat bersifat endotermik atau eksotermik . Demikian pula, pada kesetimbangan, energi bersih yang terlibat dapat membuat reaksi reversibel menjadi endotermik atau eksotermik.

Menurut Prinsip Le Chatelier,

Dalam kesetimbangan eksotermik, peningkatan suhu menurunkan pembentukan produk, dan penurunan suhu meningkatkan pembentukan produk.

Pada reaksi endotermik, peningkatan suhu akan meningkatkan pembentukan produk, dan penurunan suhu akan menurunkan pembentukan produk


Kesimpulan 

Hukum Le Chatelier memberikan kerangka kerja yang berguna dalam memahami respons sistem kesetimbangan kimia terhadap perubahan eksternal. Konsentrasi, suhu, dan tekanan adalah faktor-faktor kunci yang memengaruhi kesetimbangan, dan sistem akan menyesuaikan distribusi reaktan dan produk untuk mengatasi perubahan tersebut. Pemahaman terhadap prinsip ini penting dalam merancang dan memahami reaksi kimia serta memprediksi bagaimana kondisi eksternal dapat memengaruhi keseimbangan dinamis dalam sistem kimia.


Daftar Pusaka

Ahmad Nurhakim & Andjar Tyassih, S. (2023). Asam dan Basa: Pengertian, Fungsi, Ciri-ciri, hingga Contohnya. Retrieved from Quipper Blog: https://www.quipper.com/id/blog/mapel/kimia/asam-dan-basa/#Pengertian_Asam_Basa

Al-Amin, M. I. (2021). Henry Louis Le Chatelier, Sang Pencetus Kesetimbangan Kimia. Retrieved from Katadata.co.id: https://katadata.co.id/safrezi/berita/6151a562004cf/henry-louis-le-chatelier-sang-pencetus-kesetimbangan-kimia#google_vignette

Clark, J. (2019). Prinsip Dasar Le Chatelier. Retrieved from Libre Texts Chemistry: https://chem.libretexts.org/Bookshelves/Physical_and_Theoretical_Chemistry_Textbook_Maps/Supplemental_Modules_(Physical_and_Theoretical_Chemistry)/Equilibria/Le_Chateliers_Principle/Le_Chatelier's_Principle_Fundamentals

Clark, J. (n.d.). Prinsip Dasar Le Chatelier. Retrieved from Libre Texts Chemistry: https://chem.libretexts.org/Bookshelves/Physical_and_Theoretical_Chemistry_Textbook_Maps/Supplemental_Modules_(Physical_and_Theoretical_Chemistry)/Equilibria/Le_Chateliers_Principle/Le_Chatelier's_Principle_Fundamentals

Gugus Fungsional. (2023). Retrieved from BYJU'S: https://byjus.com/chemistry/functional-groups/

Pengertian & Istilah. (2023). Retrieved from kumparan.com: https://kumparan.com/pengertian-dan-istilah/pengertian-asam-dan-basa-ciri-ciri-serta-contohnya-21GIdc0VsCc/full

Raimarda, S. N. (2020). Asas Le Chatelier tentang Pergeseran Kesetimbangan Reaksi Kimia. Retrieved from kompas.com: https://www.kompas.com/skola/read/2020/10/19/211346569/asas-le-chatelier-tentang-pergeseran-kesetimbangan-reaksi-kimia?page=all#

Tatomir, J. (2023). Prinsip & pH Le Chatelier | Definisi, Pergeseran & Keseimbangan. Retrieved from study.com: https://study.com/academy/lesson/impact-of-ph-on-lechateliers-principle.html


Selasa, 21 November 2023

Faktor yang Mempengaruhi Kekuatan Asam dan Basa : Gugus Fungsional


Faktor yang Mempengaruhi Kekuatan Asam dan Basa :

Gugus Fungsional


Oleh : Reva Liandri (@Z17-REVA)

 

Abstrak

Pengertian asam dan basa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), asam adalah zat yang dapat memberikan proton, zat yang dapat membentuk ikatan kovalen dengan menerima sepasang elektron. Asam dapat melepaskan ion hidrogen (H+) dalam larutannya. Ini berarti bahwa asam memiliki kemampuan untuk meningkatkan konsentrasi ion hidrogen dalam larutannya. Sedangkan, basa adalah senyawa yang cenderung menyumbangkan sepasang elektron untuk dipakai bersama-sama dan menerima proton. Basa dapat menerima ion hidrogen (H+) atau melepaskan ion hidroksida (OH-) dalam larutannya.

 

Pendahuluan

Gugus fungsional, sebagai konsep utama dalam kimia organik, memegang peran sentral dalam mendefinisikan sifat dan reaktivitas molekul organik. Sejak awal perkembangan ilmu kimia, pemahaman tentang gugus fungsional telah menjadi dasar untuk merinci struktur molekuler dan memprediksi perilaku senyawa. Konsep gugus fungsional menjadi landasan penting untuk mengklasifikasikan senyawa organik berdasarkan kesamaan struktural dan reaktivitas. Gugus fungsional asam karboksilat, misalnya, cenderung membuat senyawa bersifat asam, sementara gugus amina cenderung membuat senyawa bersifat basa. Namun, variasi struktur molekuler juga memiliki dampak penting terhadap kekuatan tersebut.

 

Pembahasan

Gugus fungsional adalah kelompok atom yang memberikan sifat khas pada suatu senyawa kimia. jenis gugus fungsional secara signifikan mempengaruhi kekuatan asam dan basa. Gugus fungsional asam karboksilat, misalnya, cenderung membuat senyawa bersifat asam, sementara gugus amina cenderung membuat senyawa bersifat basa. Namun, variasi struktur molekuler juga memiliki dampak penting terhadap kekuatan tersebut.

Dalam konteks asam dan basa, terdapat beberapa gugus fungsional yang memainkan peran penting dalam menentukan sifat-sifat ini. Berikut adalah beberapa gugus fungsional yang umumnya terkait dengan sifat asam dan basa :

Gugus Fungsional Asam :

1.       Gugus Asam Karboksilat (-COOH) :

·         Molekul dengan gugus ini cenderung bersifat asam. Asam karboksilat melepaskan ionhidrogen (H+) dalam larutan, membuatnya bersifat asam.

·         Contoh : Asam asetat (CH₃COOH) asam benzoat (C₆H₅COOH).

2.       Gugus Asam Sulfonat (-SO₃H) :

·         Gugus ini dapat memberikan sifat asam pada senyawa organik.

·         Contoh : Asam petoluensulfonat.

 

Gugus Fungsional Basa :

1.       Gugus Amina (-NH₂) :

·         Molekul dengan gugus amina cenderung bersifat basa. Amina menerima ion hidrogen ( H +)dalam larutan, membuatnya bersifat basa.

·         Contoh : Amina etilamin (C₂H₅NH₂), amina amonia (NH₃)

2.       Gugus Hidroksil (-OH) :

·         Meskipun umumnya terkait dengan sifat basa, gugus hidroksil tidak selalu membuat senyawa menjadi basa, tergantung pada konteksnya.

·         Contoh : Alkohol etanol (C₂H₂OH).

 

Kesimpulan

Kesimpulan ini menegaskan peran sentral gugus fungsional dalam menentukan sifat asam dan basa suatu senyawa. Pemahaman tentang gugus fungsional ini memberikan petunjuk mengenai sifat asam atau basa suatu senyawa organik. Dalam pengelompokan senyawa berdasarkan gugus fungsionalnya, kita dapat memprediksi bagaimana senyawa tersebut akan berperilaku dalam reaksi asam-basa.

 

Daftar Pusaka

Ahmad Nurhakim & Andjar Tyassih, S. (2023). Asam dan Basa: Pengertian, Fungsi, Ciri-ciri, hingga Contohnya. Retrieved from Quipper Blog: https://www.quipper.com/id/blog/mapel/kimia/asam-dan-basa/#Pengertian_Asam_Basa

Gugus Fungsional. (2023). Retrieved from BYJU'S: https://byjus.com/chemistry/functional-groups/

Pengertian & Istilah. (2023). Retrieved from kumparan.com: https://kumparan.com/pengertian-dan-istilah/pengertian-asam-dan-basa-ciri-ciri-serta-contohnya-21GIdc0VsCc/full

 

Selasa, 07 November 2023

KEPADATAN ZAT PADAT


KEPADATAN ZAT PADAT



Oleh : Reva Liandri (@Z17-REVA)

Abstrak

Zat padat memiliki bentuk tetap yang tidak mudah berubah, juga volume tetap yang tidak dipengaruhi oleh wadah tempatnya ditempatkan. Partikel penyusun zat padat tersusun secara teratur dalam susunan kristal atau pola tertentu, yang memberikan struktur khas pada setiap zat padat. Selain itu, zat padat memiliki kerapatan yang tinggi, hingga sulit untuk mengompresinya, juga tidak dapat mengalir seperti zat cair.

 

Pendahuluan

Zat padat adalah salah satu bentuk materi atau bahan yang memiliki karakteristik khusus dalam keadaan fisiknya. Dalam fisika, zat padat adalah salah satu dari tiga bentuk materi dasar, bersama dengan zat cair dan zat gas. Zat padat memiliki sifat-sifat yang membedakannya dari bentuk materi lainnya, dan pemahaman tentang sifat-sifat ini sangat penting dalam ilmu fisika, kimia, dan berbagai bidang ilmu lainnya.

Zat padat memiliki beberapa karakteristik yang mencakup ketidakmampuan untuk mengalir, bentuk yang tetap, dan volume yang tetap. Artinya, zat padat mempertahankan bentuk dan volume tertentu, meskipun dapat mengalami perubahan bentuk dan volume akibat tekanan atau suhu.

 

Pembahasan

1.       Zat Padat

Zat padat merupakan zat yang memiliki bentuk dan volume yang tetap, tidak dapat dengan mudah bergerak. Partikel-partikel penyusunnya teratur dan rapat, sehingga memiliki kepadatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan zat cair dan zat gas.

Benda padat memiliki sifat bentuk dan ukuran yang selalu tetap. Selain itu, daya tarik antar molekulnya sangat kuat sehingga benda padat memiliki volume yang tetap dan molekul yang rapat.

Ada dua cara utama penyusunan partikel padat, yaitu dalam barisan yang tersusun rapi atau dalam susunan yang tidak beraturan. Zat padat yang partikelnya tersusun rapi disebut kristal. Contoh umum kristal adalah logam,berlian, es dan kristal garam. Zat padat yang partikelnya tidak tesusun disebut amorf. Padatan amorf biasanya memiliki tekstur mengkilap atau elastis. Contoh umum padatan amorf adalah lilin, kaca, karet dan plastik.

 

2.       Ciri-ciri Zat Padat

§  Bentuk dan ukuran benda tidak berubah meskipun dipindah-pindah.

§  Massa jenis / kerapatan relatif tinggi

§  Volumenya tetap

 

3.       Sifat Zat Padat

§  Memiliki bentuk tetap

§  Volumenya tetap

§  Berbentuk padatan

§  Letak partikel penyusun zat padat sangat berdekatan.

§  Memiliki gaya tarik – menarik antar partikel yang sangat kuat sehingga gerakan antar partikel tidak bebas.

 

4.       Contoh Zat Padat

§  Emas

§  Kayu

§  Pasir

§  Baja

 

5.       Perubahan Wujud Zat

§  Titik lebur sebagai konsep kimia

Jika mengukur suhu bongkahan es, mungkin akan menemukan –5 ° Celcius. Jika melakukan pembacaan suhu saat memanaskan es dalam panci di atas kompor, maka akan mendapati bahwa suhu es mulai naik ketika panas dari kompor menyebabkan partikel-partikel es mulai bergetar semakin cepat dan semakin cepat. Zat padat ini mulai berubah dari keadaan padat menjadi cair, suatu proses yang disebut peleburan.

§  Sublimasi

Sebagian besar zat mengalami kemajuan logis dari padat menjadi cair menjadi gas saat dipanaskan atau sebaliknya saat didinginkan. Tetapi beberapa zat langsung dari zat padat ke gas tanpa pernah menjadi cairan.

§  Deposisi

Kebalikan dari sublimasi adalah deposisi, yaitu bergerak langsung dari keadaan gas ke keadaan padat.

 

6.       Rumus

Besarnya tekanan pada zat padat dapat dihitung dengan rumus

P = F/A

Dimana,

P = tekanan (Pa)

F = gaya (N)

A = luas permukaan benda atau luas bidang tekan (m2)

 

§  Rumus zat padat biasa

Dapat dihitung menggunakan rumus panjang (L), lebar (W), tinggi (H). Dengan menggunakan simbol, ini dapat ditulis sebagai: V= L x W x H.

 

Daftar Pusaka

https://jurnalpost.com/mengenal-sifat-zat-padat/13566/

https://pastiguna.com/zat-padat/#Sifat_Zat_Padat

https://mamikos.com/info/rangkuman-materi-zat-dan-perubahannya-kelas-10-pljr/

https://materikimia.com/10-contoh-soal-tekanan-zat-padat-kelas-8-dan-penyelesaiannya/

 

Contoh Soal

1.       Seorang murid mendorong gerobak dengan kedua tangannya dengan gaya sebesar 90 N. Jika luas sebuah telapak tangan adalah 150 cm2, maka tekanan yang diberikan murid tersebut adalah …

Pembahasan :

Diketahui:

F = 90 N

A = 2 x 150 cm2 = 300 cm2 = 0,03 m2

Ditanayakan: p = …?

Jawaban:

p = F/A

p = 90 N/0,03 m2 = 3.000 N/m2

 

2.       Upaya yang dapat dilakukan untuk mendapatkan tekanan yang besar adalah …

Meningkatkan gaya tekan dan memperkecil luas bidang

Pembahasan :

Apabila semakin besar luas alas bidang tekan, maka tekanannya semakin kecil. Sebaliknya, apabila semakin kecil luas alas bidang tekan, maka tekanannya semakin besar.