.

Tampilkan postingan dengan label @T24-Shafa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @T24-Shafa. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Desember 2021

GREEN TECH: TEKNOLOGI RAMAH LINGKUNGAN

Abstrak

Teknologi sangat dekat dengan kehidupan manusia saat ini. Teknologi membantu dan memudahkan kehidupan manusia. Tak hanya mengenai kegiatan manusia, teknologi juga mempengaruhi dan berperan dalam suatu lingkungan. Teknologi hijau merupakan keterlibatan suatu teknologi yang dikembangkan untuk menciptakan keadaan yang ramah lingkungan. Teknologi hijau atau dikenal dengan teknologi bersih bekerja dengan cara mengutamakan prinsip kelestarian lingkungan. Teknologi Hijau merupakan salah satu upaya untuk menjaga kelestarian dan keberlanjutan kehidupan manusia di Planet Bumi. Teknologi Hijau diprediksi akan banyak melahirkan kreatifitas dan inovasi yang menyebabkan perubahan lebih baik bagi peradaban manusia.

Kata Kunci : teknologi, hijau, lingkungan

Abstract

Technology is very close to human life today. Technology helps and facilitates human life. Not only about human activities, technology also affects and plays a role in an environment. Green technology is the involvement of a technology developed to create an environment that is friendly to the environment. Green technology or known as clean technology works by prioritizing the principle of environmental sustainability. Green Technology is one of the efforts to preserve and sustain human life on Planet Earth. Green Technology is predicted to give birth to a lot of creativity and innovation that causes changes for the better for human civilization.

keywords: technology, green, environment

Pendahuluan

          Perkembangan teknologi semakin maju seiring dengan perkembangan zaman. Adanya revolusi industri 4.0 memberikan dampak yang begitu besar untuk kemajuan teknologi industri. Kemajuan teknologi yang dihasilkan dari revolusi industri 4.0 ini berupa adanya platform dan sharing ecomony. Pada revolusi industri 1.0 sampai 3.0 sebenarnya juga telah memberikan banyak dampak negatif disamping adanya dampak positif yang diberikan, Tandio (2017). Untuk itu, pada revolusi industri 4.0 ini diusahakan adanya pertumbuhan yang inklusif (inclusive growth) yang memunculkan adanya inovasi yaitu teknologi hijau. Revolusi industri 4.0 bukan hanya berkaitan dengan pertumbuhan yang inklusif (inclusive growth) tetapi juga berkaitan dengan renewable energy.

          Menurut Asriningpuri (2015), Energi terbarui (renewable) merupakan energi yang relatif tidak pernah habis merugikan lingkungan, seperti energi matahari, angin, dan air. Pada inovasi teknologi hijau menggunakan energi terbarui (renewable). Teknologi hijau merupakan sebuah inovasi teknologi ramah lingkungan, yang dimana teknologi hijau ini sebagai bentuk bahwa pertumbuhan industri bukan hanya memikirkan tentang keuntungan ekonomi saja tetapi juga harus memikirkan lingkungan.

Rumusan Masalah

  1. Apakah yang dimaksud dengan teknologi?
  2. Apakah yang dimaksud dengan teknologi hijau?
  3. Bagaimanakah karakteristik teknologi hijau yang ramah lingkungan?

Tujuan

  1. Untuk mengetahui teknologi.
  2. Untuk mengetahui maksud dari teknologi hijau.
  3. Untuk mengetahui prinsip-prinsip teknologi hijau.
  4. Untuk mengetahui karakteristik teknologi hijau yang ramah lingkungan.

Pembahasan

          Menurut Heri (2021), teknologi adalah berbagai keperluan serta sarana berbentuk aneka macam peralatan atau sistem yang berfungsi untuk memberikan kenyamanan serta kemudahan bagi manusiaTeknologi berasal dari kata technologia (bahasa Yunani) techno artinya ‘keahlian’ dan logia artinya ‘pengetahuan’. Pada awalnya makna teknologi terbatas pada benda-benda berwujud seperti peralatan-peralatan atau mesin. Seiring berjalannya waktu makna teknologi mengalami perluasan. Ia tidak terbatas pada benda berwujud, melainkan juga benda tak berwujud semisal perangkat lunak, metode pembelajaran, metode bisnis, pertanian dan lain sebagainya.

          Seiring dengan kemajuan zaman dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang juga didukung adanya revolusi industri menyebabkan teknologi semakin berkembang (modern). Saat ini banyak sekali kita temui inovasi-inovasi dari teknologi, salah satunya teknologi hijau.

Dalam penerapannya menurut Hidayat (2021), teknologi hijau ini memiliki prinsip utama yang meliputi tiga aspek yaitu :

  1. Kenyamanan Sosial, hakikat dari pengembangan dan penerapan teknologi antara lain untuk menumbuhkan kenyamanan dalam kehidupan masyarakat. Namun dalam hal ini kenyamanan hendaknya bersifat jangka panjang atau berkelanjutan. Sebagai gambaran menggunakan kendaraan bermotor yang berbahan bakar fosil (BBM) memang secara seketika menimbulkan kenyamanan, tetapi dalam jangka panjang keberadaan bahan bakar fosil tersebut akan makin menyusut, bahkan habis. Dengan demikian kenyamanan tidak bersifat jangka panjang, bandingkan jika kendaraan tersebut menggunakan tenaga surya (sel surya), maka kenyamanan sosial akan lebih lama lagi.
  2. Ekonomis, penerapan teknologi hijau sedapat mungkin harus rendah biaya dengan nilai manfaat yang seoptimal mungkin. Sebagai gambaran pemanfaatan tenaga surya untuk kebutuhan rumah tangga sebenarnya dapat diperluas untuk rumah atau bangunan yang ada di Indonesia. terutama mengingat keberadaannya di daerah tropis yang mendapat penyinaran hampir 12 jam dalam sehari. Namun dalam hal ini menghadapi berbagai kendala seperti: Daya beli masyarakat yang masih rendah; Sumberdaya manusia (SDM) di bidang surya terma! masih terbatas; Sosialisasi masih rendah, meskipun teknologi energi surya untuk pemanas air sudah mencapai tahap komersial. Dengan diatasinya berbagai kendala tersebut maka pemanfaatan tenaga surya bisa menjadi lebih ekonomis.
  3. Ramah lingkungan, teknologi hijau merupakan teknologi bersm dan ramah lingkungan. Dengan demikian dalam setiap rancangan, pengembangan dan aplikasinya prinsip ramah lingkungan harus menjadi salah satu patokan. Ramah lingkungan artinya dampak penggunaan teknologi tersebut masih hanya menimbulkan dampak yang masih dalam lingkup ambang batas yang ditentukan. bahkan lebih baik lagi seandainya dampak lingkungannya nihil.

          Teknologi hijau merupakan salah satu bentuk teknologi ramah lingkungan. Menurut Sani (2017), teknologi ramah lingkungan yaitu teknologi yang diciptakan  untuk  mempermudah  kehidupan  manusia  namun  tidak  mengakibatkan kerusakan atau memberikan dampak negatif pada lingkungan di sekelilingnya. Menurut Nefilinda (2014), teknologi hijau yang merupakan teknologi ramah lingkungan memiliki beberapa karakteristik atau ciri antara lain : berkelanjutan (sustainable), menggunakan sumber alam yang terbarui (renewable), menghasilkan produk yang bermanfaat kembali (re-used), mengurangi produk limbah dan bahan pencemar, menggunakan proses terdaur ulang (recycle), inovatif tidak berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan, menciptakan kegiatan dan produk yang bermanfaat bagi lingkungan atau dapat melindungi bumi.

Daftar Pustaka

AsriningpuriHandajani., Dkk. 2015. Teknologi Hijau Warisan Nenek Moyang di Tanah Parahyangan. Jurnal Sains dan Teknologi Lingkungan Volume 7, Nomor 1, Januari 2015 Hal. 51-65. Yogyakarta : Universitas Islam Indonesia. Dalam : https://journal.uii.ac.id/JSTL/article/view/3507 (diakses pada 25 November 2021).

Heri. 2021. Pengertian Teknologi : Sejarah, Perkembangan, Manfaat & Contoh. Purwakarta : Salamadian Muda & Berilmu. Dalam https://salamadian.com/perkembangan-pengertian-teknologi/ (diakses pada 25 November 2021).

Hidayat, Atep Afia. 2021. Teknologi Hijau. Modul Kimia dan Pengetahuan Lingkungan Industri. Jakarta : Universitas Mercu Buana.

Nefilinda. 2014. Teknologi Hijau: Solusi Untuk Pelestarian Sumber AirJurnal SpasialSumatera Barat : STKIP PGRI. Dalam https://www.neliti.com/id/publications/131624/teknologi-hijau-solusi-untuk-pelestarian-sumber-air (diakses pada 25 November 2021).

Sani, Andry Aprilianto. 2017. Pengaruh Teknologi Ramah Lingkungan Dan Kualitas Pelayanan Terhadap Keunggulan Kompetitif Dan Kinerja Perusahaan. E-Jurnal Manajemen Unud, Vol. 6, No. 7, 2017: 3485-3512. Bali : Universitas Udayana. Dalam https://ojs.unud.ac.id/index.php/Manajemen/article/view/30139/19181 (diakses pada 25 November 2021)

Senin, 15 November 2021

Kimia Hiaju Dalam Menyelamatkan Bumi

 Oleh: Shafa Almaliya (@T24-Shafa)

Program Studi: Teknik Industri, Fakultas Teknik Universitas Mercu Buana

Abstrak
Green chemistry atau “kimia hijau” merupakan bidang kimia yang berfokus pada pencegahan polusi. Pada awal 1990-an, green chemistry mulai dikenal secara global setelah Environmental Protection Agency mengeluarkan Pollution Prevention Act yang merupakan kebijakan nasional untuk mencegah atau mengurangi polusi. Kimia hijau adalah suatu pendekatan terhadap perancangan, proses pembuatan, dan pemanfaatan produk-produk kimia sedemikian rupa sehingga bisa mengurangi atau menghilangkan bahaya dampak buruk zat kimia terhadap lingkungan termasuk manusia. Tujuan utama pendekatan kimia hijau adalah untuk membentuk zat-zat kimia yang lebih baik serta aman dan secara bersamaan bisa menentukan cara-cara yang paling aman dan efisien buat mensintesa zat-zat tersebut dan mengurangi sampah kimia yang dihasilkan

Kata kunci: Proses, Kimia hijau, Kimia lingkungan

Abstract

Green chemistry or “green chemistry” is a field of chemistry that focuses on preventing pollution. In the early 1990s, green chemistry became known globally after the Environmental Protection Agency issued the Pollution Prevention Act which is a national policy to prevent or reduce pollution. Green chemistry is an approach to the design, manufacturing process, and use of chemical products in such a way as to reduce or eliminate the harmful effects of chemicals on the environment, including humans. The main goal of the green chemistry approach is to produce better and safer chemicals and at the same time determine the safest and most efficient ways to synthesize these substances and reduce the chemical waste generated.

Keywords: Process, Green chemistry, Environmental chemistry

Pendahuluan

Menurut Dina Mustafa (2016) Kimia hijau adalah suatu pendekatan terhadap perancangan, proses pembuatan, dan pemanfaatan produk-produk kimia sedemikian rupa sehingga dapat mengurangi atau menghilangkan bahaya dampak buruk zat kimia terhadap lingkungan termasuk manusia. Tujuan utama pendekatan kimia hijau adalah untuk menciptakan zat-zat kimia yang lebih baik dan aman dan secara bersamaan dapat memilih cara-cara yang paling aman dan efisien untuk mensintesa zat-zat tersebut dan mengurangi sampah kimia yang dihasilkan.

Industri kimia umumnya mengandalkan pelarut petroleum yang tidak dapat diperbaharui sebagai materi utama untuk membuat zat kimia. Industri seperti ini biasanya adalah sangat intensif dalam penggunaan energi, tidak efisien, dan menghasilkan racun, baik produk maupun limbah kimia yang berbahaya.

Salah satu prinsip dari kimia hijau adalah mengutamakan pemanfaatan zat-zat alternatif dan terbarukan termasuk pemanfaatan limbah pertanian atau biomass atau produk-produk biologis yang tidak terkait dengan bahan pangan. Prinsip lain berfokus pada perancangan produk-produk kimia yang mudah dan aman terurai di lingkungan dan efisiensi dan penyederhanaan proses-proses kimia. Lebih jauh lagi, karena proses-proses dalam kimia hijau jauh lebih efisien, maka perusahaan akan menggunakan lebih sedikit bahan mentah dan energi sekaligus menghemat dana untuk pembuangan limbah.

Menurut Dr. Irdhawati, S.Si., M.Si (2016) Green chemistry didefinisikan sebagai model dalam proses pembuatan produk dengan mengurangi atau menghilangkan penggunaan bahan kimia. Pengembangan metode kimia yang ramah lingkungan saat ini sangat berkembang sebagai salah satu cara untuk menerapkan kimia hijau dalam kehidupan. Kepedulian terhadap penggunaan bahan-bahan kimia dalam proses di industry tidak bisa dihindari, namun penggunaannya dalam proses dan limbah yang dihasilkan dapat dikurangi, dengan menerapkan aspek dan prinsip green chemistry .

Bahan-bahan kimia yang berbahaya terhadap kesehatan dan lingkungan dapat dikurangi atau dihilangkan tanpa mengubah metode dalam proses produksi. Kondisi ini memerlukan perhatian yang serius dalam pengolahan limbah yang dihasilkan di pemukiman. Kota-kota besar di Indonesia menghasilkan limbah padat maupun cair sekitar 10 juta ton per tahun, dan meningkat 2-4% per tahun, sementara kapasitas penampungan limbah semakin menurun. Sumber limbah sebagian besar berasal dari rumah tangga dan pasar tradisional. Terdapat beberapa jenis limbah lain seperti plastik, gelas, logam, dan lain-lain .

Pengolahan limbah dilakukan oleh pemerintah maupun swasta. Dalam bidang industri, limbah berasal dari bahan kimia yang digunakan dalam proses produksi, dan gas yang dihasilkan dari proses pembakaran. Implementasi kimia hijau dalam bidang industry dapat dilakukan dengan menggunakan pelarut/pereaksi yang ramah lingkungan, mendaur ulang pelarut organic, menggunakan cairan super kritik, atau menggunakan ionic liquid . Selain itu dalam pengolahan limbah tidak menggunakan bahan kimia, tetapi menggunakan mikroorganisme.

Rumusan Masalah

  1. Apakah yang dimaksud dengan kimia hijau?
  2. Bagaimanakah penerapan dari kimia hijau?
  3. Apakah manfaat dari kimia hijau?

Tujuan

  1. Untuk mengetahui yang dimaksud dengan kimia hijau
  2. Untuk mengetahui penerapan dari kimia hijau
  3. Untuk mengetahui manfaat dari kimia hijau

Pembahasan

Green chemistry atau “kimia hijau” merupakan bidang kimia yang berfokus pada pencegahan polusi. Pada awal 1990-an, green chemistry mulai dikenal secara global setelah Environmental Protection Agency (EPA) mengeluarkan Pollution Prevention Act yang merupakan kebijakan nasional untuk mencegah atau mengurangi polusi.

Green chemistry merupakan pendekatan untuk mengatasi masalah lingkungan baik itu dari segi bahan kimia yang dihasilkan, proses ataupun tahapan reaksi yang digunakan. Konsep ini menegaskan tentang suatu metode yang didasarkan pada pengurangan penggunaan dan pembuatan bahan kimia berbahaya baik itu dari sisi perancangan maupun proses. Pentingnya pendekatan kimia hijau adalah untuk menciptakan zat-zat kimia yang lebih baik dan aman dan secara bersamaan dapat memilih cara-cara yang paling aman dan efisien untuk mensintesa zat-zat tersebut dan mengurangi sampah kimia yang dihasilkan.

Upaya memperbaiki lingkungan dan memecahan masalah lingkungan yang ditawarkan dalam green chemistry sangat bervariasi terutama pada tahap perencanaan. Akan tetapi, pemecahan masalah tersebut dapat dikelompokkan dalam dua komponen yaitu pemecahan masalah yang berkaitan dengan bahan mentah dan pemecahan masalah yang berkaitan dengan kondisi reaksi. Dengan memodifikasi jalur sintesisnya, maka akan didapatkan produk akhir yang sama dengan cara yang konvensional, namun toksisitas bahan dasar, produk maupun buangannya dapat dikurangi .

Menurut Anastas & Warner hal yang penting dalam green chemistry adalah:

  1. Mencegah terjadinya limbah di tempat pertama.
  2. Menggunakan pereaksi dan pelarut yang aman.
  3. Melakukan perobahan reaksi secara selektif dan efisien.
  4. Menghindari produk dan reaksi kimia yang tidak perlu.

Selanjutnya Anastas & Warner mengusulkan 12 prinsip green chemistry yang perlu dipertimbang-kan, yaitu :

  1. Pencegahan terbentuknya bahan buangan beracun akan lebih baik daripada menangani atau membersihkan bahan buangan tersebut.
  2. Mengekonomiskan atom dalam merancang metode sintesis.
  3. Sintesis bahan kimia yang tidak atau kurang berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungannya.
  4. Merancang produk bahan kimia yang lebih aman, walaupaun sifat racunnya dikurangi tetapi fungsi-nya tetap efektif.
  5. Menggunakan pelarut dan bahan-bahan pendukung yang lebih aman dan tidak berbahaya.
  6. Rancangan untuk efisiensi energi.
  7. Penggunaan bahan dasar yang dapat diperbaharui.
  8. Mengurangi turunan (derivatives) yang tidak penting.
  9. Menggunakan katalis untuk meningkatkan selektifitas dan meminimalkan energi.
  10. Merancang produk-produk kimia yang dapat terdegradasi menjadi produk yang tidak berbahaya.
  11. Analisis serentak untuk mencegah polusi.
  12. Bahan kimia yang digunakan dalam proses kimia dipilih yang lebih aman untuk mencegah kecelakaan.

Green chemistry mempunyai 12 azas atau prinsip yang dapat diadaptasi untuk diaplikasikan dalam sikap dan tindakan manusia dalam upaya penyelamatan lingkungan. Prinsip-prinsip green Chemistry dapat diadaptasi untuk diaplikasikan dalam sikap dan tindakan manusia dalam upaya penyelamatan lingkungan yang dapat terwujud melalui green education ( Mitarlis, 2016 ).

Beberapa tahun terakhir ini, mulai dikembangkan metode sintesis yang berbasis green chemistry  misalnya melalui reaksi kondensasi Claisen-Schmidt bebas pelarut. Metode ini merupakan metode green chemistry, karena tidak banyak menggunakan bahan-bahan kimia berbahaya, waktu reaksi yang pendek sehingga aman bagi lingkungan ( Prabawato, 2015 ).

Kimia hijau adalah suatu pendekatan terhadap perancangan, proses pembuatan, dan  pemanfaatan produk-produk kimia sedemikian rupa sehingga bisa mengurangi atau menghilangkan bahaya dampak buruk  zat kimia terhadap lingkungan termasuk manusia. Tujuan utama pendekatan kimia hijau adalah untuk membentuk zat-zat kimia yang lebih baik serta aman dan  secara bersamaan bisa menentukan cara-cara yang paling aman dan  efisien buat mensintesa zat-zat tersebut dan  mengurangi sampah kimia yang dihasilkan.

Pendekatan kimia hijau bertujuan untuk menghilangkan dampak buruk zat kimia sejak pada proses perancangan. Praktik pencegahan bahaya dari sejak awal proses pembuatan zat kimia akan bermanfaat bagi kesehatan manusia dan lingkungan, yang meliputi proses perancangan, produksi, penggunaan atau penggunaan kembali, dan pembuangan limbah yang dihasilkan . Industri seperti ini biasanya adalah sangat intensif dalam penggunaan energi, tidak efisien, dan menghasilkan racun, baik produk maupun limbah kimia yang berbahaya.

Salah satu prinsip dari kimia hijau adalah mengutamakan pemanfaatan zat-zat alternatif dan terbarukan termasuk pemanfaatan limbah pertanian atau biomass atau produk-produk biologis yang tidak terkait dengan bahan pangan. Prinsip lain berfokus pada perancangan produk-produk kimia yang mudah dan aman terurai di lingkungan dan efisiensi dan penyederhanaan proses-proses kimia. Lebih jauh lagi, karena proses-proses dalam kimia hijau jauh lebih efisien, maka perusahaan akan menggunakan lebih sedikit bahan mentah dan energi sekaligus menghemat dana untuk pembuangan limbah.

Para ahli kimia dapat mengakses berbagai sumber informasi mengenai potensi bahaya molekul zat kimia yang akan dirancang dan zat pendukung yang akan dipilih. Saat ini para ahli kimia hijau sudah terlatih untuk mengintegrasikan berbagai informasi tersebut untuk merancang molekul dengan menghindari atau mengurangi sifat racun/toksik dari molekul tersebut. Cara lain adalah mengubah sifat-sifat suatu molekul untuk mencegah absorpsi oleh kulit atau untuk memastikan molekul tersebut akan mudah terurai di lingkungan.

 Dengan kemajuan di bidang teknologi pembuatan partikel nano, maka perlu diperhatikan atau dibuat peraturan untuk mengurangi dampak kesehatan dan lingkungan yang disebabkan partikel nano ini termasuk aplikasi teknologi dan partikel nano di dunia kedokteran, seperti pencitraan, pemberian obat, disinfektasi, dan perbaikan jaringan . Aturan dan regulasi terkait nano partikel dan kesehatan serta lingkungan perlu dikembangkan berdasarkan 12 prinsip kimia hijau.

Menurut Albrechts et al.(2006), menguraikan dampak nano partikel dan berbagai kemungkinan alternatif yang tidak berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan untuk pemanfaatan nano partikel di berbagai aspek kehidupan.

Cat ramah lingkungan

Senyawa organik yang mudah menguap atau volatile organic compounds biasa diidentifikasi sebagai bau sesuatu yang baru dicat, bersifat berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. Perusahan cat di Inggris berhasil membuat cat yang sedikit sekali atau tidak mengandung VOC tetapi tetap menarik, misalnya cat yang berbasis pelarut dari tanaman yang tidak berbau, mudah dibersihkan, dan berdaya tutup yang baik.

Plastik ramah lingkungan

Sudah ada produk-produk plastik yang berbahan dasar gula dari tanaman hasil pertanian yang terbarukan, seperti jagung, kentang, dan gula dari buah bit, untuk mulai menggantikan plastik yang berasal dari petroleum. Perusahaan ini juga berhasil membuat serat yang berasal dari jagung dinamakan Ingeo dan digunakan untuk membuat selimut serta hasil tekstil lain. Pabrik yang memakai polimer PLA sebagai bahan dasarnya juga mengintegrasikan prinsip-prinsip kimia hijau termasuk dalam memilih zat warna untuk produkproduk mereka.

Kesimpulan

Green chemistry atau “kimia hijau” merupakan bidang kimia yang berfokus pada pencegahan polusi. Pada awal 1990-an, green chemistry mulai dikenal secara global setelah Environmental Protection Agency mengeluarkan Pollution Prevention Act yang merupakan kebijakan nasional untuk mencegah atau mengurangi polusi. Konsep ini menegaskan tentang suatu metode yang didasarkan pada pengurangan penggunaan dan pembuatan bahan kimia berbahaya baik itu dari sisi perancangan maupun proses. Akan tetapi, pemecahan masalah tersebut dapat dikelompokkan dalam dua komponen yaitu pemecahan masalah yang berkaitan dengan bahan mentah dan pemecahan masalah yang berkaitan dengan kondisi reaksi.

Kimia hijau adalah suatu pendekatan terhadap perancangan, proses pembuatan, dan pemanfaatan produk-produk kimia sedemikian rupa sehingga bisa mengurangi atau menghilangkan bahaya dampak buruk zat kimia terhadap lingkungan termasuk manusia. Tujuan utama pendekatan kimia hijau adalah untuk membentuk zat-zat kimia yang lebih baik serta aman dan secara bersamaan bisa menentukan cara-cara yang paling aman dan efisien buat mensintesa zat-zat tersebut dan mengurangi sampah kimia yang dihasilkan.

Salah satu prinsip dari kimia hijau adalah mengutamakan pemanfaatan zat-zat alternatif dan terbarukan termasuk pemanfaatan limbah pertanian atau biomass atau produk-produk biologis yang tidak terkait dengan bahan pangan. Prinsip lain berfokus pada perancangan produk-produk kimia yang mudah dan aman terurai di lingkungan dan efisiensi dan penyederhanaan proses-proses kimia.

Cara lain adalah mengubah sifat-sifat suatu molekul untuk mencegah absorpsi oleh kulit atau untuk memastikan molekul tersebut akan mudah terurai di lingkungan. Dengan kemajuan di bidang teknologi pembuatan partikel nano, maka perlu diperhatikan atau dibuat peraturan untuk mengurangi dampak kesehatan dan lingkungan yang disebabkan partikel nano ini termasuk aplikasi teknologi dan partikel nano di dunia kedokteran, seperti pencitraan, pemberian obat, disinfektasi, dan perbaikan jaringan .

Daftar pustaka

Hidayat, Atep Avia. 2021. Kimia Hijau. Modul perkuliahan Kimia dan pengetahuan lingkungan industri. Universitas Mercubuana. (diunduh 11 November 2021)

Mustafa, Dina. 2016. Kimia hijau dan pembangunan kesehatan yang berkelanjutan di perkotaan. Dalam jurnal Peran MST dalam mendukung Urban Lifestyle yang berkualtas. Dalam http://repository.ut.ac.id/7091/1/UTFMIPA2016-07-dina.pdf (di unduh 12 November 2021)

Toha, Muhammad. Diki. Utami, sri. Dwisatyadini, Multimanda. 2016. Peran Matemtika, sains, dan teknologi dalam mendukung gaya hidup perkotaan (Urban Lifestyle) yang berkualitas. Universitas Terbuka. Dalam http://repository.ut.ac.id/5634/1/UTFMIPA-ALL.pdf#page=188 (di unduh 12 November 2021)

 

Selasa, 09 November 2021

PENCEMARAN AIR DAN UDARA

Oleh: Shafa Almaliya (@T24-Shafa)

Program studi: Teknik Industri, Fakultas: Teknik

E-mail: shafaalmaliya@gmail.com

ABSTRAK

Pencemaran air adalah suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air seperti danau, sungai, lautan, dan air tanah akibat aktivitas manusia. Menurut PP no 20 tahun 1990, pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia sehingga kualitas dari air tersebut turun hingga batas tertentu yang menyebabkan air tidak berguna lagi sesuai dengan peruntukannya

Kata kunci: udara, air, polusi

Jumat, 22 Oktober 2021

Perkembangan Revolusi Industri

 Oleh: Shafa Almaliya (@T24-Shafa)

Program Studi: Teknik Industri Fakultas: Teknik Universitas Mercu Buana

E-mail: shafaalmaliya@gmail.com


Abstrak

Revolusi industri terjadi pertama kali di Inggris merupakan revolusi ekonomi. Corak perekonomian Inggris yang semula agraris berubah menjadi industri. Diantara ciri-cirinya adalah status sosial sangat dipengaruhi oleh luasnya kepemilikan tanah. Saat itu cara membuat barang juga masih konvensional yaitu mengandalkan tenaga manusia dan tenaga hewan. Pembuatan barang juga masih dikerjakan di rumah-rumah belum dilakukan di pabrik.

Kata kunci: revolusi, industri, konvensional

Abstract

The first industrial revolution in England was an economic revolution. The pattern of the British economy which was originally an agrarian turned into an industrial one. Among its characteristics is that social status is strongly influenced by the extent of land ownership. At that time the method of making goods was also still conventional, namely relying on human power and animal power. The manufacture of goods is also still done in homes, not yet done in factories.

Keywords: revolution, industry, conventional

Rumusan Masalah

  1. Apakah yang dimaksud dengan revolusi industri?
  2. Bagaimana perkembangan revolusi industri?
  3. Apakah yang termasuk contoh perkembangan revolusi industri?

Tujuan

  1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan revolusi industri.
  2. Untuk mengetahui perkembangan revolusi industri.
  3. Untuk mengetahui contoh perkembangan revolusi industri.

Pendahuluan

Revolusi industri membuka pintu bagi variasi yang cukup besar dalam interpretasi bahkan di mana sejarawan berbagi konseptualisasi topik yang sama. Hal ini berlaku untuk interpretasi dan ukuran makroekonomi saat ini seperti perdebatan masa lalu tentang kemajuan teknologi atau standar hidup di mana penilaian deskriptif dan kuantitatif telah digunakan (Hudson, 2014).

Pada akhir abad ke-17, pembuatan barang (manufaktur) dikerjakan di rumah-rumah penduduk dengan menggunakan manual tangan atau menggunakan mesin sederhana. Oleh sebab itu kemampuan menghasilkan barang masih sangat terbatas. Revolusi industri di mulai dengan penemuan cara pembuatan barang dari penggunaan tenaga manusia ke penggunaan mesin. Dengan demikian barang bisa diproduksi dengan lebih cepat dan dalam jumlah massal. Mulailah pabrik-pabrik didirikan di perkotaan dan tentunya membutuhkan tenaga kerja yang besar sehingga terjadilah urbanisasi.

Revolusi industri ditandai dengan adanya perubahan pola hidup dan pola pikir masyarakat dan negara. Revolusi Industri akan mewarnai corak tatanan kehidupan masyarakat, baik di bidang ekonomi, sosial budaya dan politik. Masyarakat mulai berubah cara berpikirnya yaitu dari sektor agraria bergeser ke arah industri. Revolusi industri terjadi pertama kali di Inggris merupakan revolusi ekonomi. Corak perekonomian Inggris yang semula agraris berubah menjadi industri. Diantara ciri-cirinya adalah status sosial sangat dipengaruhi oleh luasnya kepemilikan tanah. Saat itu cara membuat barang juga masih konvensional yaitu mengandalkan tenaga manusia dan tenaga hewan. Pembuatan barang juga masih dikerjakan di rumah-rumah belum dilakukan di pabrik.

Pembahasan

 


sumber gambar: https://aptika.kominfo.go.id/2020/01/revolusi-industri-4-0/

Revolusi industri merupakan perubahan besar cara manusia memproduksi barang atau jasa. Semakin berkembangnya zaman, maka revolusi industri semakin berkembang. Revolusi industri didukung dengan sumber daya manusia yang memadai dan kemudahan mengeksplorasi teknologi. Revolusi dimulai pada abad ke-18 dan terus berlanjut hingga sekarang.

Revolusi Industri 1.0

Revolusi Industri 1.0 dimulai pada abad ke-18 di antara tahun 1750-1850. Saat itu terjadi perubahan secara besar-besaran di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi serta menimbulkan dampak yang besar terhadap kondisi sosial, ekonomi, politik dan budaya di dunia.

Revolusi generasi 1.0 melahirkan sejarah ketika tenaga kerja manusia dan hewan digantikan oleh mesin. Salah satunya adalah adanya kereta api lintas benua, listrik, mesin uap, dan lainnya. Sebagai contoh, terciptanya mesin uap yang dapat menghemat waktu sebesar 80% dari sebelumnya kapal berlayar memakan waktu hingga bertahun-tahun.

Revolusi ini tercatat oleh sejarah berhasil meningkatkan perekonomian secara drastis. Revolusi industri sangat menguntungkan di bidang industri karena efisien dan lebih ekonomis, Setelah dimulainya Revolusi Industri terjadi peningkatan rata-rata pendapatan perkapita negara-negara di dunia menjadi enam kali lipat.

Revolusi Industri 2.0

Revolusi Industri 2.0, yang dikenal sebagai Revolusi Teknologi adalah sebuah fase pesatnya industrialisasi di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Revolusi Industri 1.0 yang berakhir pertengahan tahun 1800-an, diselingi oleh perlambatan dalam penemuan makro sebelum Revolusi Industri 2.0 muncul tahun 1870.

Revolusi Industri 2.0 dimulai pada tahun 1870 hingga 1914, pada awal Perang Dunia I. Revolusi industri generasi 2.0 diawali dengan keresahan transportasi pada saat produksi. Untuk memudahkan proses produksi di dalam pabrik yang umumnya cukup luas, alat transportasi untuk pengangkutan barang berat seperti mobil sangat diperlukan. Sebelum revolusi industri 2.0 produksi mobil dilakukan hanya di satu tempat dengan pekerja yang sama untuk menghindari proses transportasi dari satu tempat ke tempat lainnya. Kemudian, dibentuklah lini produksi, dimana setiap satu bagian mengerjakan satu bidang yang selanjutnya diproses ke bidang berikutnya.

Kemunculan pembangkit tenaga listrik dan motor pembakaran dalam (combustionchamber). Penemuan ini mendasari terciptanya mobil, pesawat telepon, pesawat terbang, dll yang mengubah wajah dunia secara signifikan.

Revolusi Industri 3.0

Berkembangnya teknologi digital dan internet menandai dimulainya Revolusi Indusri 3.0. Jika dikaji dari cara pandang sosiolog Inggris David Harvey, industri 3.0 ini disebut sebagai proses pemampatan ruang dan waktu. Ruang dan waktu yang terkompresi. Waktu dan ruang tidak lagi berjarak. Oleh karena itu, era digital sekarang mengusung sisi kekinian (real time).

Selain mengusung kekinian, revolusi industri 3.0 mengubah pola relasi dan komunikasi masyarakat kontemporer. Praktik bisnis pun mau tidak mau harus berubah agar tidak tertelan zaman. Namun, revolusi industri ketiga juga memiliki sisi yang layak diwaspadai. Teknologi membuat pabrik-pabrik dan industri lebih memilih mesin ketimbang manusia. Konsekuensinya, pengurangan tenaga kerja manusia tidak terelakkan.

Revolusi Industri 4.0

Industri 4.0 mulai dicetuskan pertama kali oleh sekelompok perwakilan ahli berbagai bidang asal Jerman, pada tahun 2011 lalu di acara Hannover Trade Fair. Pada saat itu, dipaparkan bahwa, indsutri saat ini memulai inovasi baru. Inovasi baru tersebut di antaranya ialah Internet of Things (IoT), Big Data, percetakan 3D, Artifical Intelligence (AI), kendaraan tanpa pengemudi, rekayasa genetika, robot dan mesin pintar.

Revolusi Industri 4.0 menerapkan konsep automatisasi yang dilakukan oleh mesin tanpa memerlukan tenaga manusia dalam pengaplikasiannya. Dimana hal tersebut merupakan hal vital yang dibutuhkan oleh para pelaku industri demi efisiensi waktu, tenaga kerja, dan biaya. Penerapan Revolusi Industri 4.0 di pabrik-pabrik saat ini dikenal dengan istilah Smart Factory. Tidak hanya itu, saat ini pengambilan ataupun pertukaran data juga dapat dilakukan on time saat dibutuhkan. Jika sebelumnya hanya dapat mengambil uang atau bertransaksi melalui ATM (withdrawl) sekarang kita bisa bertransaksi di mana pun dan kapan pun melalui jaringan internet.

Berkembangnya Artifical Intelligence (AI), robot, dan mesin pintar yang mampu mengendalikan kegiatan produksi tanpa tenaga manusia sehingga proses produksi dan pembukuan yang berjalan di pabrik dapat termotorisasi oleh pihak yang berkepentingan kapan saja dan dimana saja selama terhubung dengan internet. Teknologi berkembang, sumber daya manusia pun semakin meningkat. Oleh karena itu, sebagai generasi penerus, harus mampu mengikuti perkembangan zaman agar tidak terkalahkan dan mampu bersaing.

Keuntungan penerapan model Industri 4.0 adalah sebagai berikut:

  1. Revolusi Industri 4.0 mempunyai potensi memberdayakan individu dan masyarakat, menciptakan peluang baru bagi ekonomi, sosial, maupun pengembangan diri pribadi.
  2. Mempermudah pekerjaan manusia terutama dalam kegiatan perindustrian.
  3. Data dan fasilitas produksi yang terhubung ke cloud komputing juga menjamin keamanan data yang lebih baik, tertata dan ringkas.
  4. Kemungkinan terjadinya human error berkurang, karena komputer yang menjadi “kontrol” bisa menghasilkan pekerjaan yang konsisten.
  5. Selain itu, hasil untuk banyak bisnis bisa meningkatkan pendapatan, pangsa pasar, dan keuntungan.
  6. Besar kemungkinan sistem yang digunakan akan lebih canggih Semua dapat di kontrol dan dikendalikan secara realtime.

Kerugian penerapan model Industri 4.0 adalah sebagai berikut:

  1. Kemungkinan berkurangnya kebutuhan tenaga manusia dalam proses industri, karena semua sudah dilakukan secara otomatis oleh mesin.
  2. Isu tentang keamanan data meningkat dengan mengintegrasikan sistem baru dan semakin banyaknya akses ke system itu.
  3. Isu Privasi, terkait informasi produksi dan kepemilikan.
  4. Memerlukan control ketat dari manusia saat proses produksi. Karena tidak ada dan tidak akan pernah ada kecerdasan AI yang mampu mengalahkan kecerdasan manusia.

Simpulan

Perkembangan Keilmuan Teknik Industri sejak revolusi industri sampai saat ini, tidak lepas dari proses industri yang dimulai dari revolusi industri 1.0 sampai 4.0. Terjadinya suatu revolusi industri berawal pada akhir abad ke-17 melalui pembuatan barang atau manufaktur dikerjakan dari rumah-rumah penduduk yang masih manual dengan tangan. Oleh karena itu, kemampuan menghasilkan suatu barang masih sangat terbatas.

Revolusi industri pun terjadi yang dimulai dari penemuan cara pembuatan suatu barang yang tadinya menggunakan tenaga manusia menjadi menggunakan mesin dengan demikian produksi barang bisa lebih cepat dan banyak. Dan dari situ juga pabrik-pabrik mulai berdiri dan membutuhkan banyak tenaga manusia. Lalu revolusi industri terus berkembang dari revolusi 1.0 yang dikenal dengan industri tekstil,revolusi 2.0 dengan penemuan mesin uap, revolusi 3.0 dengan sistem komputasi data, dan revolusi 4.0 dengan kemunculan robot pintar.

Daftar Pustaka

Hudson, P. 2014. The industrial revolution. Bloomsbury Publishing. Dalam https://tinyurl.com/55nfa4sz (Diakses pada 22 Oktober 2021).

Rojko, A. 2017. Industry 4.0 concept: Background and overview. International Journal of Interactive Mobile Technologies, 11(5). 77-90. Dalam https://tinyurl.com/5y3w8jsx (Diakses pada 22 Oktober 2021).

Sawitri, Dara. 2019. Revolusi Industri 4.0 : Big Data Menjawab Tantangan Revolusi Industri 4.0. Jurnal Ilmiah Maksitek ISSN. 2655-4399. Dalam http://download.garuda.ristekdikti.go.id/article.php?article=1599824&val=18023&title=REVOLUSI%20INDUSTRI%2040%20%20BIG%20DATA%20MENJAWAB%20TANTANGAN%20REVOLUSI%20INDUSTRI%2040#:~:text=Menurut%20Herman%20dkk%20(2015)%20mengatakan,IoT%20dan%20IoS%20guna%20menghasilkan (Diakses pada 22 Oktober 2021)


Senin, 18 Oktober 2021

Kimia Industri: Pembuatan Alkohol

 

Oleh: Shafa Almaliya (@T24-Shafa)

Program Studi: Teknik Industri Fakultas: Teknik, Universitas Mercu Buana

e-mail: shafaalmaliya@gmail.com

 

Abstrak

Produk yang dihasilkan dari industri merupakan produk yang diperlukan oleh manusia dalam hal ini produk tersebut mempunyai nilai tambah. Alkohol merupakan senyawa yang memiliki gugus fungsional –OH yang terikat pada rantai karbon alifatik. Dalam molekul alkohol, Gugus fungsi –OH berikatan secara kovalen dengan atom karbon. Alkohol yang memiliki satu gugus –OH disebut dengan monoalkohol, sedangkan yang memiliki lebih dari satu gugus –OH disebut dengan polialkohol. Alkanol merupakan monoalkohol turunan alkana. Rumus umum dari alkohol adalah CnH2n+1 OH atau ditulis R-OH, satu atom H dari alkana diganti oleh gugus OH.

Kata kunci: industry, kimia, alkohol, senyawa, karbon.