.

Tampilkan postingan dengan label @R16-Laykha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @R16-Laykha. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 November 2020

Adanya Pencemaran Udara

 Adanya Pencemaran Udara 



disusun oleh Laykha Fitriani Az Zahra

Kode peserta: @R16-Laykha

ABSTRAK

Pencemaran udara disebabkan oleh sumber bergerak dan sumber tidak bergerak yang meliputi sektor transportasi, industri, dan domestik. Faktor lainnya yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap terjadinya pencemaran udara adalah pertumbuhan penduduk, laju urbanisasi. yang tinggi, pengembangan tata ruang yang tidak seimbang dan  rendahnya tingkat kesadaran masyarakat mengenai pencemaran udara. Pencemaran udara merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang serius di Indonesia saat ini, sejalan dengan semakin meningkatnya jumlah kendaraan bermotor dan peningkatan ekonomi transportasi. Dalam tulisan ini diuraikan mengenai jenis pencemaran udara, dampak negatif dan upaya penanggulangannya. Diperlukan kesadaran masyarakat akan pembatasan penggunaan

Kata kunci: pencemaran udara, permasalahan lingkungan, jenis, dampak negatif ,upaya penanggulangan

 

PENDAHULUAN

Pencemaran udara adalah masuknya atau tercampurnya unsur-unsur berbahaya ke dalam atmosfir yang dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan sehingga menurunkan kualitas lingkungan. Dengan demikian akan terjadi gangguan pada kesehatan manusia. Terdapat dua jenis sumber pencemaran udara, yang pertama adalah pencemaran akibat sumber alamiah (natural sources) seperti letusan gunung berapi dan yang kedua berasal dari kegiatan manusia (anthropogenic sources) seperti yang berasal dari transportasi, emisi pabrik, dan lain-lain. Pencemaran udara dapat terjadi dimana-mana, seperti di dalam rumah, sekolah, dan kantor. Pencemaran seperti ini sering disebut dengan pencemaran dalam ruangan (indoor pollution). Sedangkan pencemaran di luar ruangan (outdoor pollution) berasal dari emisi kendaraan bermotor, industri, perkapalan, dan proses alami oleh makhluk hidup. Sumber pencemar udara dapat diklasifikasikan menjadi sumber diam dan sumber bergerak. Sumber diam terdiri dari pembangkit listrik, industri dan rumah tangga. Sedangkan sumber bergerak adalah aktifitas lalu lintas kendaraan bermotor di darat dan tranportasi laut.

Dengan kemajuan ekonomi yang sangat pesat mendorong semakin bertambahnya kebutuhan akan transportasi, di lain sisi lingkungan alam yang mendukung hajat hidup manusia semakin terancam kualitasnya, sehingga efek negatif polusi udara terhadap kehidupan manusia semakin hari semakin bertambah. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2004, di beberapa propinsi terutama di kota-kota besar seperti Medan, Surabaya dan Jakarta, emisi kendaraan bermotor merupakan kontribusi terbesar terhadap konsentrasi NO2 dan CO di udara yang jumlahnya lebih dari 50%. Penurunan kualitas udara yang terus menerus terjadi selama beberapa tahun terakhir menunjukkan kepada kita bahwa betapa pentingnya digalakkan upaya pengurangan emisi dengan cara penyuluhan kepada industriawan maupun masyarakat ataupun dengan cara mengadakan penelitian bagi penerapan teknologi pengurangan emisi.

Dalam tulisan ini dibahas mengenai pencemaran udara yang meliputi, karakter, pengaruhnya terhadap kualitas lingkungan dan kesehatan manusia serta teknologi terbaru untuk menguranginya.

 

PERMASALAHAN

Udara di daerah perkotaan dengan berbagai macam kegiatan industri dan perkembangan teknologi serta lalu lintas yang padat, relatif sudah mengandung bermacam-macam zat pencemar dengan konsentrasi besarnya bervariasi. Dari berbagai macam komponen pencemar udara, yang paling banyak pengaruh dalam pencemaran udara adalah komponen-komponen Karbon Monoksida (CO), Oksida Nitrogen (NOx), Oksida Sulfur (Sox), Hidrokarbon (HC), Partikel . Komponen atau zat ini berasal dari aktivitas manusia itu sendiri. Jumlah komponen pencemar udara tergantung kepada sumbernya. Komponen pencemar tersebut dapat mencemari udara secara sendiri-sendiri, maupun secara bersama-sama , dari sumber alami, dan sumber sumber lainnya Dengan ada nya komponen atau zat pencemaran udara pasti ada beberapa hal yang terjadi hingga komponen atau zat tersebut ada didalam suatu udara. Adapun beberapa sumber  yang tumbuh hingga terjadinya pencemaran udara itu sendiri, contohnya yaitu :

·         Aktivitas Manusia

Dalam bidang Transportasi; Industri; Pembangkit listrik; Pembakaran (perapian, kompor, tungku, [insinerator] dengan berbagai jenis bahan bakar; Gas buang pabrik yang menghasilkan gas berbahaya seperti (CFC)

·      Sumber Alami

Berupa Gunung berapi; Rawa-rawa; Kebakaran hutan; Nitrifikasi dan denitrifikasi biologi

·         Sumber-sumber lain

Dari Transportasi ammonia; Kebocoran tangki klor; Gas Timbulan metana Dari Lahan Uruk / Tempat Pembuangan Akhir sampah; Uap pelarut organik

Pencemaran udara yang kita sadari membawa dampak negative terhadap kesehatan tubuh manusia , serta lingkungan sekitar . Dari dampak yang kita ketahui kita harus melakukan upaya menanggulangi pencemaran udara tersebut.

 

PEMBAHASAN

Metrologi Pencemaran Udara

Kondisi metrologi sangat berperan dalam penyebaran, pengenceran, perubahan, dan penghilangan zat pencemaran udara yang terdispersikan di atmosfir

·      Proses Penyebaran

Penyebaran zat pencemar yang diemisikan dari sumbernya ke udara diakibatkan oleh adanya pengaruh down wind. Dalam perhitungan harga kecepatan dan arah angin diperlukan sebagai indikasi pergerakan udara disuatu daerah. Bahkan untuk jarak yang pendek, profil pergerakan udara biasanya akan sangat kompleks.

·      Proses Pengenceran

Pengenceran dan pencampuran zat pencemar di udara diakibatkan oleh adanya gerakan turbulen. Kondisi udara pada umumnya mempunyai kecepatan pengenceran yang diakibatkan oleh pencampuran (turbulensi).

·      Proses Perubahan

Zat pencemar selama berada di udara akan mengalami perubahan fisik dan kimia, sehingga membentuk zat pencemar sekunder. Smog sebagai contoh, merupakan hasil interaksi diudara antara oksidasi nitrogen, hidrokarbon dan energi matahari, peristiwa ini dikenal dengan reaksi fotokimia.

·      Proses Penghilangan

Zat pencemar diatmosfir akan mengalami penghilangan atau pengurangan karena adanya proses-proses meteorologi, seperti hujan.

 

Jenis atau Komponen Pencemar Udara

Zat-zat pencemar udara utama yang berasal dari kegiatan manusia adalah sebagai berikut :

1.      Karbon Monoksida (CO)

Gas buang kendaraan bermotor merupakan sumber utama bagi karbon monoksida di berbagai perkotaan. Data mengungkapkan bahwa 60%-70% pencemaran udara di Indonesia disebabkan karena benda bergerak atau transportasi umum yang berbahan bakar solar terutama berasal dari Metromini . Formasi CO merupakan fungsi dari rasio kebutuhan udara dan bahan bakar dalam proses pembakaran di dalam ruang bakar mesin diesel. Percampuran yang baik antara udara dan bahan bakar terutama yang terjadi pada mesin-mesin yang menggunakan Turbocharge merupakan salah satu strategi untuk meminimalkan emisi CO. Karbon monoksida yang meningkat di berbagai perkotaan dapat mengakibatkan turunnya berat janin dan meningkatkan jumlah kematian bayi serta kerusakan otak. Karena itu strategi penurunan kadar karbon monoksida akan tergantung pada pengendalian emisi seperti penggunaan bahan katalis yang mengubah bahan karbon monoksida menjadi karbon dioksida dan penggunaan bahan bakar terbarukan yang rendah polusi bagi kendaraan bermotor.

2.         Nitrogen Oksida (NOx)

Sampai tahun 2000 NOx yang berasal dari alat transportasi laut di Jepang menyumbangkan 38% dari total emisi NOx (25.000 ton/tahun) [4]. Gas NOx terbentuk atas tiga fungsi yaitu ; Suhu (T), Waktu Reaksi (t), dan konsentrasi Oksigen (O2), NOx = f (T, t, O2). Ada 3 teori yang mengemukakan terbentuknya NOx, yaitu :

1)       Thermal NOx (Extended Zeldovich Mechanism) : Proses ini disebabkan gas nitrogen yang beroksidasi pada suhu tinggi pada ruang bakar (>1800 K). Thermal NOx ini didominasi oleh emisi NO (NOx    NO + NO2).

2)       Prompt NOx : Formasi NOx ini akan terbentuk cepat pada zona pembakaran.

3)       Fuel NOx : NOx formasi ini terbentuk karena kandungan N dalam bahan bakar.

Kira-kira 90% dari emisi NOx adalah disebabkan proses thermal NOx, dan tercatat bahwa dengan penggunaan HFO (Heavy Fuel Oil), bahan bakar yang biasa digunakan di kapal, menyumbangkan emisi NOx sebesar 20-30%. Nitrogen oksida yang ada di udara yang dihirup oleh manusia dapat menyebabkan kerusakan paru-paru. Setelah bereaksi dengan atmosfir zat ini membentuk partikel-partikel nitrat yang amat halus yang dapat menembus bagian terdalam paru-paru. Selain itu zat oksida ini jika bereaksi dengan asap bensin yang tidak terbakar dengan sempurna dan zat hidrokarbon lain akan membentuk ozon rendah atau kabut berawan coklat kemerahan yang menyelimuti sebagian besar kota di dunia.

3.         Sulfur Oxide (SOx)

Emisi SOx terbentuk dari fungsi kandungan sulfur dalam bahan bakar, selain itu kandungan sulfur dalam pelumas, juga menjadi penyebab terbentuknya Sox emisi. Struktur sulfur terbentuk pada ikatan aromatik dan alkyl. Dalam proses pembakaran sulfur dioxide dan sulfur trioxide terbentuk dari reaksi :

S + O2                      SO2  

SO2 + ½ O2              SO3

Kandungan SO3 dalam SOx sangat kecil sekali yaitu sekitar (1-5)%. Gas yang berbau tajam tapi tidak berwarna ini dapat menimbulkan serangan asma, gas ini pun apabila bereaksi di atmosfir akan membentuk zat asam. Badan kesehatan dunia (WHO) menyatakan bahwa tahun 1997-2003 jumlah sulfur dioksida di udara telah mencapai ambang batas.

4.         HydroCarbon (HC)

Emisi Hidrokarbon (HC) terbentuk dari bermacam-macam mesin yang merupakan sumber pencemar. Penyebabnya adalah karena tidak terbakarnya bahan bakar secara sempurna dan tidak terbakarnya minyak pelumas silinder. Emisi HC pada bahan bakar HFO yang biasa digunakan pada mesin-mesin diesel besar akan lebih sedikit jika dibandingkan dengan mesin diesel yang berbahan bakar Diesel Oil (DO). Emisi HC ini berbentuk gas methan (CH4). Jenis emisi ini dapat menyebabkan leukemia dan kanker.

5.         Partikulat Matter (PM)

Partikel debu dalam emisi gas buang terdiri dari bermacam-macam komponen. Bukan hanya berbentuk padatan tapi juga berbentuk cairan yang mengendap dalam partikel debu. Pada proses pembakaran debu terbentuk dari pemecahan unsur hidrokarbon dan setelah proses oksidasi. Dalam debu tersebut terkandung debu sendiri dan beberapa kandungan metal oksida. Dalam kelanjutan proses ekspansi di atmosfir, kandungan metal dan debu tersebut membentuk partikulat. Beberapa unsur kandungan partikulat adalah karbon, SOF (Soluble Organic Fraction), debu, SO4, dan H2O . Sebagian benda partikulat keluar dari cerobong pabrik sebagai asap hitam tebal, tetapi yang paling berbahaya adalah butiran-butiran halus sehingga dapat menembus bagian terdalam paru-paru. Diketahui juga bahwa di beberapa kota besar di dunia. Perubahan menjadi partikel sulfat di atmosfir banyak disebabkan karena proses oksida oleh molekul sulfur.

 

Penyebab Komponen atau Zat Bisa Ada dalam Udara

Adapun penyebab atau dari suatu hal yang terjadi hingga suatu komponen atau zat tersebut ada didalm udara sebagai berikut:

·           Sirkulasi Angin

Angin adalah udara yang bergerak sebagai akibat perbedaan tekanan antara daerah yang satu dan lainnya. Pergerakan udara tersebut dari daerah yang bertekanan padat ke arah udara yang bertekanan rendah/renggang.

Perbedaan pemanasan udara menyebabkan naiknya gradient tekanan horizontal, sehingga terjadi gerakan udara horizontal di atmosfir. Oleh karena itu perbedaan temperature antara atmosfir di antara atmosfir diatas benua dengan diatas lautan menyebabkan gerakan udara dalam skala yang sangat besar, angin lokal terjadi akibat perbedaan temperature setempat.

·           Penyebaran Turbulen

Perubahan gradient kecepatan angin merupakan fungsi dari ketinggian dan tergantung pada kekasaran permukaan, serta waktu. Model pergerakan turbulen dinyatakan sebagai pergerakan Eddy, dapat berupa :

a.       Pusaran Termal yang disebabkan oleh radiasi matahari pada siang hari sehingga pada siang hari gradient angin akan lebih datar dibandingkan pada malam hari

b.      Pusaran Mekanis di sebabkan oleh gerakan angin dipermukaan bumi yang kasar, akibat dari permukaan bumi yang ada akan berpengaruh pada arah dan kecepatan angin

 

·           Kondisi Stabilitas Atmosfer

Derajad kestabilan di atmosfir harus kita ketahui jika kita ingin memperkirakan kemampuan atmosfir untuk mendispersi polutan yang diterima dari sumbernya. Kestabilan atmosfir salah satunya tidak menunjukan pencampuran yang vertikal atau perputaran sebagai hasil emisi polutan yang dekat dengan permukaan bumi cenderung tinggal disana. Perputaran itu terjadi pada suatu atmosfir rendah, terutama tergantung dari :

Gradient temperature , dan Mekanisme turbulan

·           Bungan Angin (Wind Rose)

Satu hal yang penting dalam meramalkan penyebaran zat pencemar adalah mengatahui arah dan besarnya kecepatan angin, yang biasa digambarkan dalam bentuk vektor. Arah angin selalu ditunjukkan dari mana angin tersebut bertiup

Vektor arah dan besarnya kecepatan angin dalam wind rose menggambarkan frekuensi distribusi dari arah angin, pada berbagai variasi kecepatan yang terjadi.

 

Sumber Pencemaran  Udara

Pencemar udara dibedakan menjadi dua yaitu pencemar primer dan pencemar sekunder.

1)   Pencemar primer adalah substansi pencemar yang ditimbulkan langsung dari sumber pencemaran udara. [Karbon monoksida] adalah sebuah contoh dari pencemar udara primer karena ia merupakan hasil dari pembakaran .

2)   Pencemar sekunder adalah substansi pencemar yang terbentuk dari reaksi pencemar-pencemar primer di atmosfer . Pembentukan ozon dalam [smog fotokimia] adalah sebuah contoh dari pencemaran udara sekunder.

 

Dampak dari Pencemaran Udara

Ada banyak dampak yang dihasilkan dari pencemaran udara diantaranya: mengganggu kesehatan makhluk hidup, kerusakan lingkungan ekosistem dan hujan asam. Kesehatan pada manusia akan terganggu akibat udara yang tercemar yang bisa mengakibatkan timbulnya penyakit seperti infeksi saluran pernapasan, paru-paru, jantung dan juga sebagai pemicu terjadinya kanker yang sangat berbahaya. Selanjutnya efek yang ditimbulkan pada lingkungan ekosistem adalah kerusakan dimana lingkungan ekosistem tempat tinggal berbagai makhluk hidup seperti akibat kebakaran hutan merusak tumbuh-tumbuhan dan hewan. Sedangkan hujan asam disebabkan oleh belerang (sulfur) yang merupakan polutan dalan bahan bakar fosil serta nitrogen di udara yang bereaksi dengan oksigen membentuk sulfur dioksidadan nitrogen dioksida. Polutan tersebut berasal dari knalpot mobil dan industri yang menggunakan bahan bakar minyak dan batubara. Di atmosfir, polutan tersebut membentuk asam sulfat (H2SO4) dan asam nitrat (HNO3). Akhirnya mereka jatuh ketanah sebagai hujan asam. Selanjutnya yang terjadi adalah bencana bagi kehidupan makhluk hidup. Sebagai contoh peristiwa kebakaran yang terjadi di Kalimantan dan Pekanbaru tentunya mengakibatkan kondisi. udara yang sangat membahayakan kesehatan. Masyarakan akan terjangkit penyakit infeksi saluran pernapasan (ISPA) akibat menghirup udara yang bercampur asap hasil kebakaran hutan.

 

Upaya Penanggulangan Pencemaran Udara

Adapun upaya penanggulangan yang bisa dilakukan , sebagai berikut:

1)   Mengurangi pemakaian bahan bakar fosil terutama yang mengandung asap serta gas-gas polutan lainnya agar tidak mencemarkan lingkungan.

2)   Melakukan penyaringan asap sebelum asap dibuang ke udara dengan cara memasang bahan penyerap polutan atau saringan.

3)   Mengalirkan gas buangan ke dalam air atau dalam larutan pengikat sebelum dibebaskan ke air. Atau dengan cara penurunan suhu sebelum gas buang ke udara bebas.

4)   Membangun cerobong asap yang cukup tinggi sehingga asap dapat menembus lapisan inversi thermal agar tidak menambah polutan yang tertangkap di atas suatu pemukiman atau kita;

5)   Mengurangi sistem transportasi yang efisien dengan menghemat bahan bakar dan mengurangi angkutan pribadi;

6)   Memperbanyak tanaman hijau di daerah polusi udara tinggi, karena salah satu kegunaan tumbuhan adalah sebagai indikator pencemaran dini, selain sebagai penahan debu dan bahan partikel lain

 

KESIMPULAN

Berdasarkan pernyataan diatas, maka polusi udara merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang serius di Indonesia saat ini, sejalan dengan semakin meningkatnya jumlah kendaraan bermotor dan peningkatan ekonomi transportasi. Uji kelayakan emisi yang sejak beberapa tahun terakhir didengung-dengungkan oleh pemerintah dan LSM ternyata juga tidak berjalan dengan yang diharapkan. Jumlah kendaraan bermotor di jalan raya kian hari semakin meningkat. Di wilayah DKI Jakarta pertambahan kendaraan tercatat 8.74% per tahun sementara prasarana jalan meningkat 6.28% per tahun , menambah semakin terpuruknya kondisi lingkungan udara kita. Diharapkan dengan kenaikan harga pokok bahan bakar minyak bagi kendaraan yang ditetapkan pemerintah dapat menjadi salah satu momentum bagi kita semua untuk melangkah berpikir tentang lingkungan udara yang sehat. Kesadaran masyarakat akan pembatasan penggunaan kendaraan pribadi dan didukung dengan penyediaan angkutan massal yang baik dan nyaman oleh pemerintah akan menciptakan lingkungan udara yang sehat bagi manusia Indonesia.

 

DAFTAR PUSTAKA

Ani, M. 2018. Analisis Risiko Kualitas Udara Ambien (NO2 Dan SO2) Dan Gangguan Pernapasan Pada Masyarakat Di Wilayah Kalianak Surabaya.Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.10 , No.4, Oktober 2018: 394-401

Abiding, J . Hasibuan, FA . 2019. Pengaruh Dampak Pencemaran Udara Terhadap Kesehatan untuk Menambah Pemahaman Masyarakat Awam Tentang Bahaya dari Polusi Udara. Prosiding Seminar Nasional Fisika Universitas Riau IV,  Pekanbaru : 7 September 2019.

Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Jakarta. 2013. Zat – zat Pencemar Udara.

Dinus.ac.id . 2020. Klasifikasi Pencemaran atau polutan . http://dinus.ac.id/repository/docs/ajar/Klasifikasi_Pencemar_atau_Polutan(5).pptx

Simanjuntak, AG .2007. Pencemaran Udara. 11(3). 35-36

 


Sabtu, 31 Oktober 2020

Metode Pembuatan dan Kerusakan Fisik Sediaan Tablet

Metode Pembuatan dan Kerusakan Fisik Sediaan Tablet



Disusun oleh : Laykha Fitriani Az Zahra
Kode Peserta : @R16-Laykha




ABSTRAK


Rute pemberian obat secara oral sangan disukai oleh sebagain besar pengguna. Salah satu bentuk, sediaan oral yang paling disukai adalah tablet. Tablet merupakan bentuk sediaan padat yang mengandung bahan aktif dengan atau tanpa bahan pengisi. Pada artikel ini akan akan dibahas mengenai metode umum pembuatan obat tablet , yaitu terdapat 3 metode diantaranya metode granulasi basah , metode granulasi kering dan metode kempa langsung. Serta kemungkinan-kemungkinan masalah umum terjadinya kecacatan fisik tablet yang sering ditemui bersama dengan penyebabnya dan cara mengatasinya sumber masalah tersebut. Selama proses pembuatan, penyimpanan dan pendistribusian tablet sering kali ditemui masalah kerusakan fisik tablet seperti capping, lamination, cracking, chipping, stricking, picking, binding, mottling, dan double impression, yang dapat mengurangi penerimaan oleh pengguna dan keefektifan fungsional sediaan

 Kata kunci: Tablet, Metode Pembuatan, Kerusakan Fisik


PENDAHULUAN

Tablet merupakan salah satu jenis sediaan obat dengan rute pemberiaan  secara oral. Rute oral ini paling disukai karena tingkat kenyamanan dan kepatuhan  pasien sangat baik. Selain itu biaya produksinya juga cukup rendah. Obat yang  diberikan secara oral akan terlarutkan (terdispersi molekuler)  dalam cairan  lambung sebelum diabsorpsi ke dalam sirkulasi sitemik.  Kecepatan disolusi atau waktu yang dibutuhkan untuk obat melarut dalam  cairan pencernaan menjadi kecepatan pembatas (rate-limiting step) dari proses  absorbsi. Hal ini berlaku untuk obat yang diberikan dalam bentuk sediaan padat  oral seperti tablet (Shargel & Yu, 1999).

Sedangkan menurut (Ditjen POM, 1995) tablet adalah bentuk sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Berdasarkan metode pembuatan, tablet dapat digolongkan sebagai tablet cetak dan tablet kempa. Tablet cetak dibuat dengan cara menekan massa serbuk lembab dengan tekanan rendah ke dalam lubang cetakan. Tablet kempa dibuat dengan memberikan tekanan tinggi pada serbuk atau granul menggunakan cetakan baja. Tablet dapat dibuat dalam berbagai ukuran, bentuk dan penandaan permukaan tergantung pada desain cetakan.

Komposisi tablet pada umumnya disamping zat aktif, juga mengandung zat pengisi, zat pengikat, zat penghancur dan zat pelicin. Untuk tablet tertentu zat pewarna, zat perasa, dan bahan-bahan lainnya dapat ditambahkan jika diperlukan dalam pembuatan tablet. Sustained release merupakan salah satu contoh bentuk sediaan yang dirancang untuk  melepaskan obatnya ke dalam tubuh secara perlahan-lahan atau bertahap sehingga pelepasannya lebih lama dan memperpanjang aksi obat (Ansel, Allen & Popovich, 1999). Secara ideal, produk obat pelepasan terkendali hendaknya melepaskan obat pada suatu laju yang konstan, atau laju orde nol (Shargel & Yu, 1999).

Dari pendahuluan diatas dapat kita ketahui bahwa tablet merupakan salah satu sediaan  farmasi yang sering dijumpai dipasaran, Bukan karena cara pembuatannya yang mudah atau simple, tetapi tablet juga merupakan sediaaan yang paling stabil diantara sediaan farmasi sehinggga tablet lebih sering diproduksi besar-besaran atau sekala besar oleh industri farmasi.

 

PERMASALAHAN

Tablet ideal umumnya harus bebas dari kerusakan atau cact visual ataupun fungsional. Kemajuan tenologi dan inovasi dalam pembuatan tablet tidak menjamin dapat mengurangi masalah kerusakan tablet selama proses pembuatan, bahkan sebaliknya dengan kemajuan teknologi dan inovasi dalam pembuatan tablet seringkali menyebabkan meningkatnya masalah utama karena kompleksitas pencetakan tablet dan atau semakin besarnya tuntunan criteria perimaan dari kualitas tablet yang diinginkan

Masalah dalam proses pembuatan tablet secara umum dapat disebabkan karena masalah dalam formulasiatau karena masalah dalam pengaturan peralatan dan atau keduanya. Dengan demikian masalah umumdalam proses pembuatan tablet dapat diklasifikasi sebagai berikut

 

1.      Kecacatan Tablet Terkait dengan Proses Pengempaan Tablet:

a.      Capping 

pemisahan sebagian atau seluruh mahkota atas atau bawah tablet dari badan utama tablet karena adanya udara yang terjebak dalam massa cetak. 

b.      Lamination 

pemisahan tablet menjadi dua bagian atau lebih, lapisan terpisah secara horizontal karena adanya udara yang terjebak dalam massa cetak

c.       Cracking 

Retak kecil dan halus yang diamati pada permukaan tengah atas dan bawah tablet, atau sangatjarang pada dinding samping tablet

 

2.      Kecacatan Tablet yang Dipengaruhi oleh Eksipien:

a.      Chipping 

Rusaknya bagian tepi tablet,  karena butiran tepi yang sangat kering.

b.      Sticking

Bahan massa cetak tablet menempel pada dinding cetakan die Karena massa cetak lengket dansebagian besar disebabkan oleh kelembapan berlebih 

c.       Picking 

Perpindahan bahan dari permukaan tablet dan menempel pada permukaan punch.

d.      Binding

Massa cetak yang akan dikempa melekat pada dinding ruang cetak pada saat proses ejection karena massa cetak yang tidak kering atau kurangnya pemberian lubrikan

 

3.       Kecacatan Tablet yang dipergaruhi oleh Lebih dari Satu Faktor :

a.      Mottling 

Keadaan dimana distribusi warna yang tidak merata pada tablet, dengan tersapat bagian bintik bintik terang atau gelap menonjol pada permukaan yang seragam

 

4. Kecacatan Tablet Terkait dengan Pengaruh Mesin :

Double Impression

Merupakan suatu kesan ganda pada permukaan tablet yang dibuat dengan punch yang berlogo hal ini terjadi karena adanya gerakan punch yang tidak terkontrol setelah pengempan

Berdasarkan macam-macam metode dalam tahapan proses pembuatan tablet yang telah dibahas, maka dalam pemilihan penggunaannya harus memperhatikan kelebihan dan kekurangan dari masing masing produk tersebut . Serta mempertimbangkan kemungkinan- kemungkinan permasalahan penyebab ketidaksempurnaan atau kecacatan tablet yang sering kali terjadi dalam proses pembuatan tablet , penyimpanan , pendistribusian tablet dan cara mengatasinya

  

PEMBAHASAN

 

Komposisi Tablet

Tablet merupakan sediaan padat farmasi yang mengandung zat aktif, juga mengandung sebagai berikut:

1.      Zat berkhasiat/ zat aktif

Zat berkhasiat atau zat aktif jarang diberikan dalam keadaan murni, tetapi harus dikombinasikan terlebih dahulu dengan zat-zat yang bukan obat yang mempunyai fungsi khusus agar dapat dibentuk menjadi sediaan tablet (Anief,1994).

2.      Zat pengisi

Zat pengisi adalah suatu zat yang ditambahkan ke dalam suatu formulasi tablet bertujuan untuk penyesuaian bobot dan ukuran tablet sehingga sesuai dengan persyaratan, untuk membantu kemudahan dalam pembuatan tablet, dan meningkatkan mutu sediaan tablet. Zat pengisi yang biasa digunakan adalah pati (amilum), laktosa, manitol, sorbitol dan lain-lain (Siregar dan Wikarsa, 2010).

3.      Zat pengikat

Zat pengikat dimaksudkan agar tablet tidak pecah atau retak, dan dapat dibentuk menjadi granul sehingga dapat dikempa atau dicetak (Anief, 1994). Ada dua golongan bahan pengikat yaitu bahan gula atau zat polimerik. Bahan polimerik terdiri atas dua kelas yaitu polimer alam seperti pati, atau gom mencakup akasia, tragakan dan gelatin; dan polimer sintetis seperti polivinil pirolidon, metil selulosa, etil selulosa, dan hidroksipropilselulosa (Siregar dan Wikarsa, 2010)

4.      Zat penghancur (disintegran)

Zat penghancur dimaksudkan untuk memudahkan pecahnya tablet ketika berkontak dengan cairan saluran pencernaan dan mempermudah absorbsi (Lachman, dkk, 1994).

5.      Zat pelicin

Zat pelicin adalah zat tambahan yang digunakan dalam formulasi sediaan tablet untuk mempermudah pengeluaran sediaan tablet dari dalam lubang kempa dan untuk mencegah tablet melekat pada dinding lubang kempa. Zat pelicin yang biasa digunakan adalah talk, magnesium stearat, kalsium stearat,natrium stearat, polietilen glikol, dan lain-lain (Siregar dan Wikarsa, 2010).

            Tujuan dari penambahan zat tambahan seperti pewarna yaitu untuk mempercantik sediaan tablet dan untuk menutupi atau mengisi cacat pada permukaan tablet yang disebabkan oleh tahap pelapisan dasar serta memberikan warna yang diinginkan pada sediaan tablet. Umumnya pewarnaan ditambahkan pada saat tablet sudah cukup halus agar hasil akhir tablet tidak berbinik-bintik dan terjadi migrasi warna.

 

Penggolongan Tablet

Sediaan tablet memiliki berbagai macam bentuk dan penggolongannya yaitu

a.  Tablet kempa atau tablet kempa standar, yaitu tablet oral tidak bersalut yang dibuat dengan pengempaan dan biasanya terdiri atas zat aktif tunggal atau dalam kombinasi dengan eksipien. Metode umum yang digunakan dengan granulasi basah, granulasi kering atau kempa langsung.

b.   Tablet multi kempa atau tablet kempa lapis ganda, adalah tablet yang dibuat dengan lebih dari satu siklus kempa tunggal. Ada dua kelompok tablet ini yaitu : tablet berlapis dan tablet yang disalut dengan pengempaan.

c.  Tablet aksi diperlama atau tablet salut enterik, bentuk sediaan ini dimaksudkan untuk melepaskan obat setelah beberapa waktu tunda atau setelah tablet telah melewati satu bagian dari GIT ke yang lain. Tablet salut enterik adalah tablet kempa konvensional disalut dengan suatu zat seperti selak atau suatu senyawa selulosa, yang tidak terdisolusi dalam lambung (suasana asam), tetapi terlarut dalam saluran usus (suasana basa).

d.   Tablet salut gula, adalah tablet kempa konvensional yang disalut dengan beberapa lapisan tipis larutan gula berwarna atau tidak berwarna. Tujuan utamanya adalah untuk menghasilkan tablet yang elegan, mengkilap, mudah untuk ditelan, secara luas digunakan dalam pembuatan multivitamin dan kombinasi multivitamin mineral.

e.      Tablet salut lapis tipis, adalah tablet kempa konvensional disalut dengan film tipis polimerik larut-air diberi warna atau tidak diberi warna yang terdisintegrasi segera dalam saluran cerna.

f.   Tablet kunyah, tablet yang dimaksudkan dikunyah dulu sebelum ditelan. Tablet kunyah harus mengandung bahan tambahan dasar yang mempunyai rasa dan aroma yang menyenangkan.

g.      Tablet bukal, tablet berukuran kecil, datar, dan dimaksudkan untuk tertahan di antara pipi dan gigi. Obat yang digunakan melalui rute ini memiliki aksi sistemik cepat. Tablet ini dirancang untuk tidak hancur namun perlahan-lahan larut.

h.     Tablet sublingual, sama seperti tablet bukal hanya saja penggunaannya di bawah lidah.

i.       Troche atau Lozenges, tablet yang digunakan dalam rongga mulut untuk memberikan efek lokal di mulut dan tenggorokan. Umumnya digunakan untuk mengobati sakit tenggorokan atau mengontrol batuk pada saat flu. Dapat berisi obat bius lokal, antiseptik, agen antibakteri, astringent dan antitusif.

j.    Dental cones, Cone gigi, tablet yang dirancang untuk ditempatkan pada socket kosong yang ada setelah pencabutan gigi. Tujuan utamanya adalah untuk mencegah pertumbuhan mikroba dalam socket atau mengurangi perdarahan.

k.     Tablet implantasi, adalah tablet yang didesain dan dibuat secara aseptik untuk implantasi subkutan pada hewan atau manusia. Kegunaannya ialah memberikan efek zat aktif yang diperlama, sekitar satu bulan sampai satu tahun.

l.     Tablet vaginal, tablet yang dirancang utuk terdisolusi lambat dan pelepasan obatnya dalam rongga vagina. Tablet lebar atau berbentuk buah pir, digunakan untuk antibakteri, antiseptik dan mengobati infeksi vagina.

m. Tablet effervescen, merupakan tablet yang dirancang untuk menghasilkan larutan dengan cepat melalui pelepasan karbon dioksida. Bila tablet ini dimasukkan ke dalam air, mulailah terjadi reaksi kimia antara asam dan natrium bikarbonat sehingga terbentuk garam natrium dari asam dan menghasilkan CO2 serta air.

n.  Tablet dispensing, adalah tablet kempa yang biasanya digunakan oleh apoteker dalam meracik bentuk sediaan solid dan cairan

o.  Tablet hipodermik, adalah tablet kempa yang dibuat dari bahan yang mudah larut atau larut sempurna dalam air. Tablet ini umumnya untuk membuat sediaan injeksi hipodemik segar yang akan diinjeksikan.

p.   Tablet triturat, adalah tablet kempa yang fungsinya sama dengan tablet dispensing, berbentuk kecil umumnya silindris dan digunakan untuk menyediakan zat aktif yang tepat dalam peracikan obat. Biasanya mengandung zat aktif yang sangat toksik atau sangat berkhasiat keras.


Cara Pembuatan Tablet

            Tablet dapat dibuat dengan 3 metode yaitu metode cetak langsung, metode granulasi kering, metode granulasi basah.

Metode cetak langsung (direct granulation) atau kempa langsung yaitu proses pembuatannya dengan cara pengempaan zat aktif dan bahan tambahan secara langsung tanpa perlakuan awal terlebih dahulu. Metode ini digunakan apabila sifat alirannya baik, dosis  kecil, rentang dosis terapi zat tidak sempit,  zat aktif tidak tahan pemanasan dan lembab.

Metode granulasi kering (dry granulation)  yaitu proses pembuatannya dengan cara mencampurkan zat aktif dan bahan dalam keadaan kering, untuk dikempa lalu dihancurkan menjadi partikel yang lebih besar dan dikempa kembali untuk mendapatkan tablet yang memenuhi persyaratan. Prinsipnya membuat granul yang baik dengan cara mekanis, tanpa pengikat dan pelarut. Metode ini boleh digunakan apabila zat aktif memiliki sifat aliran yang buruk (tidak amorf), zat aktif sensitif terhadap panas dan lembab dan kandungan zat aktif dalam tablet tinggi.

Metode cetak langsung (direct granulation) atau kempa langsung yaitu proses pembuatannya dengan cara pengempaan zat aktif dan bahan tambahan secara langsung tanpa perlakuan awal terlebih dahulu. Metode ini digunakan apabila sifat alirannya baik, dosis  kecil, rentang dosis terapi zat tidak sempit,  zat aktif tidak tahan pemanasan dan lembab. Beberapa zat seperti NaCl, NaBr, dan KCl dapat langsung dikempa, tetapi sebagian besar zat tidak dapat langsung dikempa.

 

Evaluasi Tablet

Evaluasi tablet yang dilakukan adalah  uji keseragaman sediaan, uji kekerasan tablet, uji keregasan tablet, uji waktu hancur, uji disolusi, uji penetapan kadar zat berkhasiat. Evaluasi ini diterapkan dengan tujuan untuk mengetahui kualitas atau mutu dari tablet yang telah jadi

 

 Alur Produksi Tablet

Alur produksi tablet diawali dengan penimbangan bahan baku.  Tablet yang diproduksi dengan menggunakan metode granulasi basah, dibuat mucilago terlebih dahulu (gelatin, CMC) sebagai pengikat. Bahan-bahan yang termasuk fase dalam dicampur di mesin pencampur (mixer) dengan menambahkan mucilago sedikit demi sedikit, kemudian dikeringkan di oven (untuk granulasi basah). Bahan yang sudah dikeringkan digranulasi dengan granulator. Granul yang didapat selanjutnya ditimbang dan dilanjutkan dengan penambahan fase luar sesuai dengan bobot granul yang didapatkan. Granul yang diperoleh dilakukan pemeriksaan meliputi pemeriksaan kadar air dan kadar zat aktif, jika hasil pemeriksaan memenuhi persyaratan, granul dicetak menjadi produk ruahan. Tablet yang dihasilkan diuji kekerasan tablet, kerapuhan (abrasi), bobot rata-rata, disolusi, waktu hancur dan kadar zat aktif pada waktu-waktu tertentu. Untuk tablet salut, proses pembuatan dilanjutkan dengan penyalutan tablet menggunakan mesin penyalut. Tablet yang dihasilkan dikemas dengan kemasan primer berupa kemasan strip atau dalam botol, kemudian dikemas sekunder dan dilakukan pemeriksaan kemasan. Setelah proses produksi selesai, dibuat berita acara pembuatan tablet. Produk yang sudah dikemas dan memenuhi syarat dapat dikirim ke unit gudang obat jadi. Alur kegiatan produksi tablet dapat dilihat pada gambar dibawah ini :


KESIMPULAN

Tablet merupakan sediaan oral yang paling umum dan sering digunakan diantara bentuk sediian oral lain . Hal ini disebabkan karena tablet merupakan bentuk sediaan yang nyaman digunakan dalam hal pengobatan sendiri, kemudahan pembeian, ketepatan dosis yang lebih akurat, penghindaraan rasa sakit, fleksibilitas dan relative lebih efisien dalam proses pembuataannya sehingga dapat meminimalkan harga jual. Namun ketidaksempurnaan fisik tablet (Visual Defect) selama proses pembuatan,penyimpangan atau pendistribusian seringkali ditemui, dan dapat mengurangi nilai penerimaan oleh pengguna dan keefektifan produk. Oleh karena itu dalam ulasan ini telah dibahas kemungkinan masalah umum yang sering terjadi dalam proses pembuatan tablet, penyebab, dan tindakan untuk mengatasi visual deect tersebut sehingga dapat meminimalkan dan mencegah penyebab masing masing visual defect.

  

DAFTAR PUSTAKA


Ansel, H.C., 1989, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, diterjemahkan oleh Farida Ibrahim, Asmanizar, Iis Aisyah, Edisi keempat, 255-271, 607-608, 700, Jakarta, UI Press.

Chaerunisaa, A. Y., Surahman, E., dan Soeryati, S.2009. Farmasetika Dasar, Konsep Teoritis dan Aplikasi Pembuatan Obat. Bandung: Widya Padjadjaran

Ditjen POM. (1995). Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Shargel, L., Yu, A., and Wu, S., 2005, Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan, Edisi kedua, Airlangga University Press, Surabaya.

Siregar, C.J.P., dan Wikarsa, S., 2010, Teknologi Farmasi Sediaan Tablet DasarDasar   Praktis, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.