.

Tampilkan postingan dengan label @ProyekP04. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @ProyekP04. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 September 2019

Industri Bahan Kimia dari Kayu dan Getah








Abstrak
Kayu tersusun dari sel-sel yang memiliki tipe bermacam-macam dan susunan dinding selnya terdiri dari senyawa kimia berupa selulosa dan hemi selulosa (karbohidrat) serta lignin (non karbohidrat).
Semua kayu bersifat anisotropik, yaitu memperlihatkan sifat-sifat yang berlainan jika diuji menurut tiga arah utamanya (longitudinal, radial dan tangensial).
Kayu merupakan bahan yang bersifat higroskopis, yaitu dapat menyerap atau melepaskan kadar air (kelembaban) sebagai akibat perubahan kelembaban dan suhu udara disekelilingnya.
Kayu dapat diserang oleh hama dan penyakit dan dapat terbakar terutama dalam keadaan kering.
Pendahuluan
Hemiselulosa merupakan suatu polisakarida lain yang terdapat dalam tanaman dan tergolong senyawa organik. Casey (1960) menyatakan bahwa hemiselulosa bersifat non-kristalin dan tidak bersifat serat, mudah mengembang karena itu hemiselulosa sangat berpengaruh terhadap bentuknya jalinan antara serat pada saat pembentukan lembaran, lebih mudah larut dalam pelarut alkali dan lebih mudah dihidrolisis dengan asam.
Lignin adalah komponen penyusun utama dari dinding sel tumbuhan dan beberapa algae. Lignin juga masih berikatan erat dengan selulosa dan hemiselulosa. Komponen ini merupakan komponen rantai atau cabang panjang yang terbentuk di dalam dinding sel. Keberadaan lignin sangat melimpah di alam yang mana merupakan komponen polimer organic kedua terbanyak di bumi setelah selulosa.
Zat ekstraktif adalah zat yang mudah larut dalam pelarut seperti: eter, alcohol, bensin dan air. Jumlah zat ekstraktif rata-rata 3 – 8%, dari berat kayu karing tanur. Termasuk di dalamnya minyak-minyakan,resin,lilin,lemak,tannin,gula,pati dan zat warna. Zat ekstraktif tidak merupakan bagian struktur dinding sel, tetapi terdapat dalam rongga sel.

Permasalahan
Pengolahan air limbah bertujuan untuk menurunkan konsentrasi polutan yang terkandung dalam air limbah hingga mencapai batas yang diijinkan sesuai dengan  baku mutu air limbah industri
Proses pengolahan air limbah dapat dilakukan dengan proses fisik, kimia, dan biologi. Proses fisik merupakan proses pemisahan padatan seperti pasir, plastik, kertas dan sebagainya, proses fisik dilakukan dengan unit operasi seperti screening, sedimentasi, comminuttor, dan grit chamber. Proses pengolahan air limbah dengan proses kimia dilakukan dengan penambahan bahan kimia kedalam air limbah yang bertujuan untuk menurunkan konsentrasi padatan tersuspensi dan terlarut baik yang bersifat organik maupun anorganik. Unit operasi pada pengolahan secara kimia seperti koagulasi/flokulasi, netralisasi, injeksi gas (gas transfer), desinfektan, adsorpsi, pertukaran ion dan sebagainya.
Kesimpulan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa tentang pengertian selulosa, hemiselulosa, lignin dan eksraktif, mengetahui struktur dari selulosa, hemiselulosa,lignin dan eksraktif, dan memahami fungsi dari selulosa, hemiselulosa, lignin dan eksraktif.

Daftar Pustaka

Industri Kemasan dari Plastik


Oleh : Viviancho Samosir P (P24- VIVIANCHO)

Abstrak
Industri kemasan plastik berperan penting dalam rantai pasok bagi sektor strategis lainnya seperti industri makanan dan minuman, farmasi, kosmetika, serta elektronika. Dari data Kemenperin, jumlah industri plastik hingga saat ini mencapai 925 perusahaan yang memproduksi berbagai macam produk plastik. Sektor ini menyerap tenaga kerja sebanyak 37.327 orang dan memiliki total produksi sebesar 4,68 juta ton.

Kata Kunci
Kemasan dari plastik, kelebihan/kekurangan penggunaan plastik, pengaruh penggunaan plastik.

I. Pendahuluan
Pengemasan adalah suatu proses pembungkusan, pewadahan atau pengepakan suatu produk dengan menggunakan bahan tertentu sehingga produk yang ada di dalamnya bisa tertampung dan terlindungi. Sedangkan kemasan produk adalah  bagian pembungkus dari suatu produk yang ada di dalamnya. Kemasan plastik saat ini mendominasi industri makanan di Indonesia, menggeser penggunaan kemasan logam. Hal ini disebabkan karena kelebihan dari kemasan plastik yaitu ringan, fleksibel, multiguna, kuat, tidak bereaksi, tidak karatan dan bersifat termoplastis (heat seal), dapat diberi warna dan harganya yang murah. Akan tetapi, kemasan plastik memiliki kelemahan karena adanya zat monomer dan molekul kecil dari plastik yang mungkin bermigrasi ke dalam bahan  pangan yang dikemas.
Kita sering jumpai kemasan makanan yang berbahan plastik dimana-mana. Plastik merupakan senyawa polimer tinggi yang dicetak dalam lembaran-lembaran yang mempunyai ketebalan yang berbeda-beda. Bahan utama pembuat plastik adalah resin, baik alami (dammar, oleoresin, terpentin) maupun sintetik (polietilena, polipropilena, poli vinil klorida). Untuk memperbaiki sifat plastik dapat ditambah bahan lain seperti filler, plasticizer, lubricant, anti oksidan, zat warna, dan sebagainya. Plastik mudah didapat dan sangat fleksibel penggunaannya. Selain untuk mengemas langsung bahan makanan, seringkali digunakan sebagai pelapis kertas.

II. Permasalahan
Masalah sampah plastik, daya konsumsi dan perubahan gaya hidup masyarakat.

III. Pembahasan
Industri kemasan plastik yang merupakan sektor kimia hilir, selama ini telah menjadi supply chain dari consumer product mulai dari industri makanan dan minuman, farmasi, kosmetika, hingga elektronika. Industri ini pertumbuhannya cukup tinggi dan potensinya masih besar.
Industri kemasan diperkirakan tumbuh mencapai 6% pada tahun ini seiring dengan berkembangnya sektor makanan, minuman, dan farmasi.

Kelebihan penggunaan plastik
Plastik sering digunakan dalam industri pengemasan karena memiliki kelebihan-kelebihan, antara lain :
• Melindungi isi dengan baik, unsur proteksi merupakan fungsi pengemasan..
• Ringan (biaya transportasi lebih murah).
• Tidak mudah pecah sehingga mengurangi faktor resiko dan kerugian selama penyimpanan dan transportasi.
• Bisa diberikan warna untuk memenuhi selera.
• Bisa dibuat berbagai macam bentuk.
• Bisa di printing.
• Memiliki daya tahan terhadap karatan, keadaan cuaca dan berbagai jenis bahan kimia.

Kekurangan penggunaan plastik
1. Tidak ramah lingkungan
2. Mengandung bahan kimia
3. Susah hancur

Sifat dari plastik
Plastik secara umum mempunyai sifat ;
• Sifat tembus pandang (clarity) yang baik.
• Stiffness : kekakuan dinyatakan dalam psi/100, ASTM 0790.
• Permeabel terhadap gas.
• Mar resistance Ketahanan terhadap segala bentuk benturan, gesekan, dll.
• Warpage : dapat dilengkungkan/dibengkokan, berhubungan dengan sifat mengerut dalam cetakan.
• Impact Strength : berhubungan dengan ketahanan terhadap benturan.
• Tear Strength : berhubungan dengan ketahanan terhadap sobekan.

IV. Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan
Kemasan plastik memiliki beberapa keunggulan karena sifatnya yang kuat, tetapi ringan, tidak karatan dan bersifat termoplastik (heat seal) serta dapat diberi warna. Kemasan plastik juga mempunyai kelemahan yaitu adanya zat-zat monomer dan molekul kecil lain dari plastik yang melakukan migrasi ke dalam bahan makanan yang dikemas.
Saran
Sebaiknya kita lebih berhati - hati dalam memakai sesuatu barang yang berbahan plastik karena dampak yang ditimbulkan dapat merusak organ tubuh kita sendiri.

Daftar Pustaka
Hidayat, A A,Kholil, Muhammad. 2018.    
Kimia dan Pengetahuan Lingkaran Industri.
https://www.academia.edu/37901171/makalah_kemasan_plastik_HDPE.docx
https://haryati2013.wordpress.com/2015/07/30/mind-map-bahan-kemasan-plastik/amp/


INDUSTRI PENGOLAHAN KEMBALI PELUMAS BEKAS

INDUSTRI PENGOLAHAN KEMBALI PELUMAS BEKAS

Oleh : Auliyah Pertiwi (@P02-AULIYAH)

ABSTRAK
Minyak pelumas bekas atau yang dalam keseharianya disebut juga dengan oli bekas pada dasarnya adalah minyak pelumas yang dalam pemakaianya telah mengalami berbagai macam gesekan dan tercampur dengan kotoran dari komponen-komponen mesin, sisa pembakaran maupun debu, hal ini menyebabkan efektifitas minyak pelumas menurun dan kontaminan yang didalamnya bila dibiarkan terlalu lama akan menjadi partikel yang abrasive dan merugikan, Jika ditinjau dari segi tersebut maka dengan menghilangkan sejumlah kontaminan dan mengembalikan sifat pelumasan yang dimilikinya minyak pelumas sangat berpotensi jika didaur ulang kembali.

Kata Kunci : industry pengolahan kembali pelumas (oli) bekas

I.                   PENDAHULUAN
Minyak pelumas,baik yang berasal dari ekstraksi crude oil atau yang berasal dari minyak sintetis telah digunakan secara luas dalam dunia industri, dari proses pelumasan, transfer panas, metal cutting dan sebagainya. Dari proses pengaplikasian tersebut, minyak pelumas yang digunakan akan terkontaminasi dan atau terdegradasi. Minyak inilah yang selanjutnya disebut minyak pelumas bekas (used oil). Hal ini secara otomatis memunculkan permasalahan baru dengan hadirnya limbah minyak peIumas atau oli bekas yang sangat melimpah tersebut. sehingga akan berdampak bagi kesehatan dan lingkungan. Minyak pelumas bekas mengandung sejumlah zat yang bisa mengotori udara, tanah, dan air. Minyak pelumas bekas itu mungkin saja mengandung logam, larutan klorin, dan zat-zat pencemar lainnya. Apabila limbah minyak pelumas tumpah di tanah akan mempengaruhi air tanah dan akan berbahaya bagi lingkungan. Hal ini dikarenakan minyak pelumas bekas dapat menyebabkan tanah kehilangan unsur hara. Sedangkan sifatnya yang tidak dapat larut dalam air juga dapat membahayakan habitat air, selain itu juga memiliki sifat yang mudah terbakar yang merupakan karakteristik dari Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).

II.                PERMASALAHAN
Apa itu pelumas bekas? Manfaat apa saja yang terdapat pada pelumas bekas? Bagaimana cara pengolahan pelumas bekas menjadi baru?

III.             PEMBAHASAN

1.      PENGERTIAN
Minyak pelumas atau oli merupakan sejenis cairan kental yang berfungsi sebagai pelicin, pelindung dan pembersih bagian dalam mesin. Kode pengenal oli adalah berupa huruf SAE yang merupakan singkatan dari Society of Automotive Engineers. Minyak pelumas yang dipergunakan mesin-mesin industri atau kendaraan berasal dari lube oil stock. Pada umumnya semua minyak bumi dapat diolah menjadi pelumas, tetapi tidak semua minyak bumi menghasilkan minyak pelumas secara ekonomis yang menguntungkan. Setiap jenis pelumas yang digunakan pada system tertentu selalu mempunyai fungsi ganda. Minyak pelumas adalah salah satu produk minyak bumi yang masih mengandung senyawa-senyawa aromatik dengan indek viskositas yang rendah. Fungsi minyak pelumas adalah mencegah kontak langsung antara dua permukaan yang saling bergesekan. Minyak pelumas yang digunakan mempunyai jangka waktu pemakaian tertentu, tergantung dari kerja mesin, minyak pelumas merupakan sarana pokok dari suatu mesin untuk dapat beroperasi secara optimal. Dengan demikian pelumas mempunyai peranan yang besar terhadap operasi mesin, untuk dapat menentukan jenis pelumas yang tepat digunakan pada suatu sistem mesin, perlu diketahui beberapa parameter mesin yang antara lain: kondisi kerja, suhu, dan tekanan di daerah yang memerlukan pelumasan. Daerah yang bersuhu rendah tentu akan menggunakan pelumas yang lain dengan daerah yang bersuhu tinggi, demikian pula dengan daerah yang berkondisi kerja berat akan menggunakan pelumas yang lain pula dengan daerah yang berkondisi kerja ringan. (Anton. L, 1985).

2.      MANFAAT PELUMAS (OLI) BEKAS
1. Sebagai Bahan Pembakaran
Oli merupakan salah satu hasil olahan minyak bumi sama seperti solar, minyak tanah, premium, dll. Hanya bedanya oli memiliki oktan yang paling rendah sehingga, meninggalkan ampas yang lebih banyak. Karena merupakan hasil olahan minyak bumi, oli juga memiliki sifat dapat terbakar atau membakar. Oli bekas dapat digunakan sebagai bahan pembakaran pada kayu bakar. Sering kita temui pula pada masa sekarang ini masih banyak orang yang memasak menggunakan kayu bakar. Biasanya, mereka akan menggunakan minyak tanah yang harganya cukup mahal untuk membakar kayu tersebut. Namun, jika memanfaatkan oli bekas, biaya yang dikeluarkan jauh lebih sedikit. Selain itu oli yang memiliki oktan rendah pun dapat terbakar dalam waktu yang cukup lama.
2. Pelumas Rantai
Kembali kepada fungsi oli pada awalnya yaitu sebagai pelumas mesin. Setelah menjadi ampas pun oli tidak akan kehilangan kemampuannya sebagai pelumas. Namun berbeda kali ini, jangan gunakan oli bekas untuk kembali melumasi mesin kendaraan anda. Tapi gunakan oli bekas untuk melumasi rantai roda dan gear pada kendaraan anda, sehingga baik rantai ataupun gear tidak akan cepat aus. Tapi, gunakan oli bekas yang sekiranya terlihat masih cukup baik, menggunakan oli bekas yang sudah benar-benar sudah rusak justru dapat membahayakan kondisi rantai dan gear.
3. Pengobatan Pada Hewan Ternak
Mungkin penggunaan oli bekas sebagai pengobatan pada hewan ternak bukan hal yang baru lagi dikalangan para peternak. Pemanfaatan oli bekas dalam bidang pengobatan ini dapat meminimalisir biaya yang harus dikeluarkan oleh para peternak. Lalu bagaimana cara pemanfaatannya? Penyakit yang dapat disembuhkan oleh oli bekas ini adalah penyakit kudis atau scabies, yang disebabkan organisme bernama sarcoptis scabei. Kudis pada ternak diobati dengan cara mengoleskan oli bekas pada bagian yang terkena kudis. Pada suatu penelitian, seekor kambing yang diobati dengan oli bekas di hari ke-28 kudis menghilang dan mulai hari ke-63 kambing tampak kulit kambing tersebut kembali seperti sebelum terkena kudis, hasil penelitian Manurung et al. (1992). Sejatinya oli tetap mengandung beberapa senyawa kimia bermanfaat pada ampasnya, salah satunya adalah sulfur. Senyawa ini bekerja dengan cara memblokir proses oksidasi fosforilasi pada suatu organisme parasit.
4. Pengawet Kayu
Oli bekas juga dapat digunakan untuk mengawetkan kayu, hal ini terkadang dilakukan oleh beberapa industri mebel rumahan dalam menjaga stoknya yang kurang laku agar tidak lapuk atau hancur dimakan rayap. Caranya, cukup mencampur oli bekas dengan solar dengan perbandingan yang sama (misal sama-sama 1 liter). Lalu, dioleskan pada bagian kayu secara merata, biarkan mengering. Lebih baik digunakan saat kayu masih basah, namun dapat juga saat kayu sudah kering.  Kayu akan lebih tahan lama, bebas rayap, dan tahan gempuran cuaca.
3.      CARA PENGOLAHAN PELUMAS (OLI) BEKAS MENJADI BARU

1.    Cara pertama, daur ulang oli bekas menggunakan asam kuat untuk memisahkan kotoran dan aditif dalam oli bekas. kemudian dilakukan pemucatan dengan lempung. Produk yang dihasilkan bersifat asam dan tidak memenuhi syarat.

2.    Campuran pelarut alkohol dan keton digunakan untuk memisahkan kotoran dan aditif dalam oli bekas. Campuran pelarut dan pelumas bekas yang telah dipisahkan di fraksionasi untuk memisahkan kembali pelarut dari oli bekas. Kemudian dilakukan proses pemucatan dan proses blending serta reformulasi untuk menghaasilkan pelumas siap pakai.

3.    Cara ketiga. pada tahap awal digunakan senyawa fosfat dan selanjutnya dilakukan proses perkolasi dan dengan lempung serta dikuti proses hidrogenasi.




IV.              KESIMPULAN DAN SARAN
Oli bekas adalah oli yang mengandung butihan halus partikel keras mesin mulai dari (besi, tembaga, kromium) pokoknya semua logam yang terkandung dalam mesin pasti bisa berpindah ke pelumastuh. Oli bekas pasti memiliki kemampuan mengentalkan yang semakin lambat karena adanya kandungan bahan diatas akan mempengaruhi, karena sifat logam tadi yang menyerap enegi. Oli bekas semakin tidak layak penggunaannya dalam kendaraan karena kemampuan melumasi bagian dengan celah kecil semakin sulit akibat adanya partikel halus.


DAFTAR PUSTAKA
Kurniawan, arif. 2015. “Analisa pemurnian minyak bekas”.Dinamika teknik mesin Vol 5 No. 2 juli 2015. Dalam : https://media.neliti.com/media/publications/58576-ID-none.pdf

Tafifah, amirut. Hilda dwi lestari dan setiyo gunawan. 2016. “Pra Desain Pabrik Lube Base Oil”. JURNAL TEKNIK ITS Vol 5 No. 2 (2016). Dalam :  https://media.neliti.com/media/publications/214202-pra-desain-pabrik-lube-base-oil-dari-oli.pdf

Pengertian pelumas bekas”. Dalam : http://eprints.polsri.ac.id/935/3/BAB%20II.pdf

Ana, Chy. 2015. “7 Manfaat Pelumas Bekas”. Diterbitkan 12 oktober 2015. Dalam : https://manfaat.co.id/manfaat-oli-bekas


Tomy, Rustop. 2014. “Proses pengolahan pelumas bekas menjadi baru”. Diterbitkan 12 oktober 2014. Dalam : http://kumpul-bacaan.blogspot.com/2014/12/proses-pengolahan-limbah-oli-bekas.html 

INDUSTRI BAHAN PELEDAK


DISUSUN OLEH: @P17-GIMAWATI

1.    ABSTRAK
       Kebutuhan akan bahan peledak semakin meningkat menyebabkan pertumbuhan industri bahan peledak semakin meningkat pula. Perningkatan sangat besar terdapat pada bahan peledak karena disamping untuk bahan militer, penggunaan bahan peledak sangat besar digunakan untuk pekerjaan konstruksi dan pertambangan yang semakin besar. Oleh karena itu, penggunaan bahan peledak tidak semata-mata didasarkan pada kekuatan ledaknnya, tetapi lebih lagi perlu diperhatikan keselamatan pengoperasiannya, penympanan, serta transportas dan keselamatan lingkungan.

            Kata Kunci: Bahan peledak, industri bahan peledak

2.    PENDAHULUAN
     Bahan  peledak  adalah suatu  bahan  kimia  senyawa  tunggal  atau  campuran  berbentukpadat,cair gas atau campuranya yang apabila dikenali suatu aksi panas, berbenturan, gesekan atau  ledakan  awal  akan  mengalami  suatu  reaksi  kimia  eksotermis  sangat  cepat  yang  hasil reaksinya  sebagian  atau  seluruhnya  berbentuk  gas  dan  disertai  panas  dan  tekanan  sangat tinggi yang secara kimia lebih stabil.
       Terdapat beberapa jenis bahan peledak yang digunakan dalam beberapa industri serta terdapat kategori dalam pengelompokan tersebut. Salah satu jenis bahan peledak yang sangan dikenal adalah TNT, TNT merupakan bahan peledak yang digunakan dalam bidang militer utuk keperluan peperangan.
        Selain dari bidang militer, bahan peledak juga digunakan untuk hal komersial, salah satu conthnya pada pertambangan. Pada industri pertambangan tentu membutuhkan bahan peledk untuk menggali sumber bahan tambang yang terkubur di dasar tanah.

3.    PERMASALAHAN
       Kebutuhan bahan peledak selalu meningkat karena didorong oleh pertumbuhan sejumlah sektor industri, terutama pertambangan. Amonium nitrat banyak digunakan oleh industri berbasis bahan galian logam dan nonlogam, seperti batu bara, minyak dan gas bumi, serta bahan mineral yang mencakup emas, nikel, tembaga, dan bahan mineral lainnya.
        Indonesia masih kekurangan 40.000-60.000 ton amonium nitrat per tahun karena produksi dalam negeri belum mampu mengimbangi permintaan bahan peledak yang terus meningkat, terutama dari sektor pertambangan
      Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, kebutuhan amonium nitrat saat ini 480.000-500.000 ton per tahun, sedangkan kapasitas produksi industri baru mencapai 440.000 ton per tahun
      Saat ini, pasar bahan baku peledak diperkirakan mencapai 500.000 ton dan diproyeksikan tumbuh 10% menjadi 550.000 ton pada tahun depan. Dengan asumsi harganya US$600 per ton, nilai pasar komoditas itu meningkat dari US$300 juta menjadi US$480 juta.
     Jika struktur industrinya tidak diperkuat, dikhawatirkan industri pengguna bahan peledak di dalam negeri akan bergantung pada impor.

4.    PEMBAHASAN
3.1 Definisi Bahan Peledak
        Bahan  peledak  adalah suatu  bahan  kimia  senyawa  tunggal  atau  campuran  berbentukpadat,cair gas atau campuranya yang apabila dikenali suatu aksi panas, berbenturan, gesekan atau  ledakan  awal  akan  mengalami  suatu  reaksi  kimia  eksotermis  sangat  cepat  yang  hasil reaksinya  sebagian  atau  seluruhnya  berbentuk  gas  dan  disertai  panas  dan  tekanan  sangat tinggi yang secara kimia lebih stabil.
         Secara praktis, bahan peledak (BP) adalah kumpulan bahan kimia yang mampu mengurai dengan cepat dan menghasilkan ledakan. Penguraian ini menghasilkan gas dengan temperatur dan tekanan tinggi sehingga dapat melakukan kerja mekanis ke sekelilingnya. Agar dapat dipakai dengan aman, BP harus mempunyai stabilitas kimia yang baik pada berbagai kondisi seperti, gesekan, impak, atau panas.

3.2 Karakteristik Bahan Peledak
         Karakteristik/spesifikasi. Bahan peledak komersial harus memiliki beberapa persyaratan antara lain :
·        1.  Peka terhadap suatu reaksi :panas, getaran, gesekan atau benturan.
·      2.  Mempunyai kecepatan detonasi teertentu (high dan low explosive)
·      3.  Memiliki daya tahan air (water resistance) terbatas
·      4. Dapat disimpan dengan stabil
·      5. Menghasilkan gas-gas hasil peledak, yaitu : gas dalam bentuk molekul lebih stabil

3.3 Klasifikasi Industri Bahan Peledak
         Keppres No. 5/1988 juga SK Menhankam No. SKEP/974/VI/1988 membagi bahan
peledak (explosives) menjadi dua golongan besar yaitu :
1.      Bahan Peledak Industri (Komersial)
2.      Bahan Peledak Militer.
          Bahan peledak (handak) industri dibedakan ke dalam dua kelompok sesuai
dengan kecepatan gelombang kejutnya (Jimeno dkk., 1995), yaitu :
a) Bahan peledak cepat (rapid and detonating explosives), memiliki kecepatan
2000 ñ 7000 m/detik, dan dibedakan lagi menjadi dua yaitu primer (energinya
tinggi dan sensitif, untuk isian detonator dan primer cetak, seperti mercury fulminate, PETN, Pentolite), dan sekunder yang kurang sensitif

fulminate, PETN, Pentolite), dan sekunder yang kurang sensitif, dipakai untuk
isian lubang ledak.
 b) Bahan peledak lambat (slow and deflagrating explosives), memiliki
kecepatan di bawah 2000 m/detik; contoh : gunpowder senyawa piroteknik dan
senyawa propulsif untuk artilleri.
Ahli bahan peledak lain (Manon, 1977) membedakan bahan peledak industri
menjadi dua kelompok juga yaitu :
a) Bahan peledak kuat (high explosives), mempunyai kecepatan detonasi 1600- 7500 m/detik, sifat reaksinya detonasi (propagasi gelombang kejut) dan
menghasilkan efek menghancurkan (shattering effect)
b) Bahan peledak lemah (low explosives), kecepatan reaksinya kurang dari
1600 m/detik, sifat reaksinya deflagarasi (reaksi kimia yang sangat cepat, dan
menimbulkan efek pengangkatan (heaving effect)

3.4 Peledakan
        Peledakan adalah suatu aktivitas pemisahan batuan dari batuan induknya agar menjadi material berukuran tertentu sehingga memudahkan untuk kegiatan produksi selanjutnya dan optimalisasi produksi dari suatu kegiatan peledakan tidak saja ditinjau dari aspek teknis saja, akan tetapi harus pula mempertimbangkan aspek ekonomi/ biaya.
5.    KESIMPULAN
       Penggunaan bahan peledak sangan esensial dalam berbagai bidang. Dari peningkatan kebutuhan bahan peledak, maka indutri bahan peledak pun harus memasok dengan jumlah yang besar. Hanya saja sampai aat ini, Indonesia masih minim dalam hal memproduki bahan ledak. Jika bahan ledak tidak segera dierhatikan maka bidang kemiliteran industri pertambangan akan mengalami keadaan krisis.

6.    DAFTAR PUSTAKA

Somun, Haryono. 2014. TINJAUAN KRIMINOLOGIS PENGGUNAAN BAHAN PELEDAK. Jurnal Ilmu Hukum Legal Opinion. Edisi 3, Volume 2, Tahun 2014
Yusuf, Muhammad. SINTESIS DAN KARAKTERISASI BAHAN PELEDAK.
Wibowo, Budi. PENENTUN KARAKTERISTIK BAHAN PELEDAK.
Hidayat Atep, Kholil Muhammad. 2018. Kimia dan Pengetahuan Lingkungan Indutri. Yogyakarta: Penerbit Wahana Resolusi
Prabo, Bara. 2015. ANALISIS BAHN PELEDAK. Jurnal Industri Kimia. Vol2, No.2