.

Tampilkan postingan dengan label @X24-fauji. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @X24-fauji. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 November 2022

GREEN TECHNOLOGY

 GREEN TECHNOLOGY

Oleh : Fauji Khoerunisa (@X24-fauji)


Abstrak
    Teknologi hijau atau teknologi ramah lingkungan semakin serius dikembangkan oleh negara-negara di dunia saat ini, menjadikan suatu tantangan yang terus diteliti oleh para pakar untuk dapat mendukung kemajuan teknologi ini. Salah satunya adalah teknologi komposit dengan material serat alam (Natural Fiber). Tuntutan teknologi ini disesuaikan juga dengan keadaan alam yang mendukung untuk pemanfaatannya secara langsung.

Kata kunci : technology, hijau, lingkungan


Abstract
      Green technology or environmentally friendly technology is increasingly being seriously developed by countries in the world today, making it a challenge that experts continue to research to be able to support the progress of this technology.  One of them is composite technology with natural fiber material (Natural Fiber).  The demands of this technology are also adapted to the natural conditions that support its direct use.

Keywords: technology, green, environment


Pendahuluan 

      Teknologi hijau (Green Technology) menjadi solusi bagi berbagai kerusakan lingkungan akibat pemanfaatan sumber daya alam berbahan dasar fosil. Teknologi hijau merupakan cara untuk menghasilkan energi dan/atau produk yang tidak mencemari atau meracuni lingkungan hidup. Energi hijau merupakan energi yang dihasilkan oleh sumber alam seperti cahaya matahari, air, angin dan pemanasan geotermal. Sumber alam tersebut merupakan energi alternatif selain energi konvensional yang berbahan batubara dan minyak bumi. Perkembangan sistem penyediaan energi alternatif saat ini terus dilakukan, mulai dari pemanfaatan sumber daya alam berupa sinar matahari, angin, panas bumi, ombak dan lain sebagainya sebagai energi dasar yang akan dikonversi menjadi energi listrik untuk memenuhi kebutuhan manusia akan energi listrik. 
       Sistem panel surya yang saat ini mulai banyak diterapkan di berbagai tempat di Indonesia, terutama yang belum terjangkau oleh penyedia listrik PLN menjadi sebuah solusi untuk kebutuhan energi listrik di masyarakat daerah tersebut. Penggunaan panel surya sebagai penyedia enegi listrik untuk menggantikan penggunaan energi fosil sebagai bahan bakar kendaraan bermotor terus berkembang, mulai dari mobil bertenaga surya maupun mobil hybrid, motor dan sepeda listrik sebagai solusi untuk mengurangi konsumsi energi berbahan dasar fosil yang saat ini menjadi penyebab pencemaran lingkungan. ( Prianto dkk, 2017 )

Rumusan Masalah 
1. Apa itu Green Technology?
2. Apa itu teknologi tepat guna?
3. Apa saja 15 bidang Green Technology?
4. Bagaimana konsep Green Technology?
5. Bagaimana prinsip Green Technology?
6. Bagaimana ruang lingkup Green Technology?

 
Tujuan
    Agar Mahasiswa mengetahui seputar Green Technology, karena Green Technology ini sangat penting untuk keberlangsungan lingkungan negara.

Pembahasan
A. Green Technology

  Green Technology atau green tech. Salah satu konsep penting dalam teknologi hijau ialah menghasilkan produk, barang, atau energi yang tidak mencemari lingkungan. Secara garis besar, teknologi hijau bisa diterapkan dalam berbagai bidang. Misalnya industri kendaraan dan industri bangunan. Teknologi hijau adalah teknik menghasilkan energi, produk, dan atau barang yang tidak mencemari lingkungan hidup atau bersifat ramah lingkungan. Melansir situs Investopedia, teknologi hijau juga dapat merujuk pada jenis produksi energi bersih, menggunakan bahan bakar alternatif, serta teknologi yang tidak berbahaya bagi lingkungan hidup. 

     Pada intinya, penggunaan teknologi hijau ditujukan untuk melindungi lingkungan, memperbaiki kerusakan lingkungan, serta melestarikan sumber daya alam di Bumi. Beberapa hasil produk dan energi dari teknologi hijau bertujuan untuk mengurangi emisi karbon dioksida, gas rumah kaca, serta mencegah perubahan iklim. Menurut Handajani Asriningpuri, dkk dalam jurnalTeknologi Hijau Warisan Nenek Moyang di Tanah Parahyangan (2015), teknologi hijau mempertimbangkan penghematan dalam penggunaan sumber daya alam, menjaga ketersediaannya, serta mengurangi dampak negatif yang mungkin ditimbulkan.

B. Teknologi Tepat Guna

  Menurut Impres No. 3 Tahun 2001, Teknologi tepat gunaadalah teknologi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dapat menjawab permasalahan masyarakat, tidak merusak lingkungan dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara mudah, serta menghasilkan nilai tambah dari aspek ekonomi dan aspek lingkungan hidup. Pada intinya, teknologi tepat guna adalah teknologiyang tepat sasaran dan berguna bagi masyarakat. Yang dimaksud dengan tepat sasaran adalah teknologi tersebut telah sesuai untuk menjawab permasalahan yang ada di masyarakat. Sedangkat yang dimaksud dengan berguna adalah teknologi tersebut dapat dimanfaatkan dan mampu memberikan nilai tambah bagi kehidupan masyarakat. Produk – produk yang termasuk dalam kategori ‘teknologi tepat guna’, tidak hanya sekedar teknologi baru yang tidak bermanfaat. Teknologi baru ini khusus diciptakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan teknologi namun dengan lebih mudah dan efisien.

C. 15 Bidang Green Technology

1. Pangan dan pertanian

2. Ilmu Pengetahuan Alam

3. Ilmu Pengetahuan Sosial

4. Teknologi untuk mengentaskan kemiskinan

5. Kesehatan, Biologi Molekuler, Bioteknologi dan Kedokteran

6. Material Industri dan Material Maju

7. Energi, Energi baru dan terbarukan

8. Ketenaganukliran dan Pengawasannya

9. Penerbangan dan Antariksa

10. Teknologi pertahanan dan keamanan

11. Industri rancang bangun dan rekayasa

12. Ilmu kebumian dan perubahan iklim

13. Teknologi dan manajemen transportasi

14. Teknologi informatika dan komunikasi

15. Teknologi hijau


D. Konsep Green Technology

1. Konsep keberlanjutan, di mana kebutuhan masyarakat secara terus-menerus dapat dipenuhi tanpa merusak atau menghabiskan sumberdaya alam. Dengan kata lain, kebutuhan saat ini dapat terpenuhi tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhannva sendiri.

 

Keberianjutan dan keberlangsungan kehidupan umat manusia di Planet Bumi memang sampai batas waktu tertentu. mengacu pada teori apapun kehidupan umat manusia dan keberadaan Planet Bumi suatu saat akan berakhir. Namun bukan berarti membiarkan kiamat datang dipercepat, tugas umat manusia di Planet Bumi ialah sebagai khalifah yang berkewajiban memakmurkannya. Penerpan teknologi hijau oleh mayoritas warga Bumi akan menjadikan keberadaan sumberdaya alam menjadi lebih awet dan tersedia dalam jangka waktu yang lebih |ama untuk menyokong kehidupan atau peradaban manusia.

 

2. Konsep daur ulang, di mana dalam proses produksi manufaktur dirancang sedemikian rupa supaya dapat didaur-ulang atau digunakan kembali. Setiap kegiatan produksi menggunakan material tertentu, namun hendaknya diupayakan tidak banyak material yang terbuang, baik material bekas pakai atau sisa dari proses produksi. Kegiatan daur ulang dimaksudkan untuk menghemat sumberdaya alam dan energi, salah satu caranya ialah dengan penerpan teknologi hijau.

 

3. Konsep pengurangan limbah dan polusi, di mana pola produksi dan konsumsi diubah sedemikian rupa sehingga hanya menghasilkan seminimal mungkin limbah dan polusi. Limbah padat dan cair serta polutan selalu dilepaskan dari kegiatan industri, transportasi, maupun rumah tangga. Pedu ada keinginan yang kuat dari seluruh warga Planet Bumi untuk secara bersama-sama mengurangi keluaran limbah dan polutannya, caranya ialah dengan menerapkan teknologi hijau.

 

4. Konsep inovasi, dalam hal selalu berupaya mengembangkan teknologi alternatif. Penggunaan bahan bakar fosil dan bahan kimia pertanian perlu dievalusai kembali, karena sudah terbukti dapat merusak kesehatan dan lingkungan. Sejarah peradaban dan keberadaan umat manusia di Planet Bumi tidak terlepas dari beragm inovasi yang dijalankannya. Bahkan kalau memperhatikan kronologis terbentuknya konsep teknologi hijau sudah dimulai sejak tahun 200 SM, yaitu ketika seorang ilmuwan Yunani bernama Archimedes berhasil membakar kapal Romawi dengan menanfaatkan energi atau panas matahari yang dipantulkan melalui sebuah perisai yang terbuat dari perunggu. Kemudian pada tahun 1973 angkatan laut Yunani mengulang kembali persistiwa pembakaran kapal dengan cara yang sama. dan kapal kayu pada jarak 50 meter berhasil dibakar, hal itu berdasarkan catatan Mulvaney (2011).

 

5. Konsep Viabilitas, intinya ialah bagaimana kegiatan produksi dan konsumsi ramah lingkungan senantiasa terpelihara keberadaannya. Selain ada juga hidup dan berkembang. Dengan mendapat dukungan berbagai pihak, baik pemerintah. industri perbankan, profesional, akademisi, peneliti, dan sebagainya Pengembangan berbagai pusat kegiatan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk perlu dibarengi dengan Upaya yang serius untuk melindungi keberlanjutan sumberdaya alam dan keberlangsungan Planet Bumi.

  Konsep Edukasi, upaya untuk meningkatkan pemahaman masyakat secara keselluruhan melalui pendidikan dan pelatihan. Konsep teknologi hijau terus mengalami perkembangan melalui inovasi dan temuan-temuan baru. Dengan sendirinya setiap perkembangan terbaru perlu disosialisaikan melalui kegiatan edukasi. Dengan sendirinya masyarakat bukan hanya mampu mengadopsi teknologi hijau paling mutakhir, namun dapat memahami prinsip-prinsipnya secara umum.


E. Prinsip Green Technology

1. Kenyamanan Sosial, hakikat dari pengembangan dan penerapan teknologi antara lain untuk menumbuhkan kenyamanan dalam kehidupan masyarakat. Namun dalam hal ini kenyamanan hendaknya bersifat jangka panjang atau berkelanjutan. Sebagai gambaran menggunakan kendaraan bermotor yang berbahan bakar fosil (BBM) memang secara seketika menimbulkan kenyamanan, tetapi dalam jangka panjang keberadaan bahan bakar fosil tersebut akan makin menyusut, bahkan habis. Dengan demikian kenyamanan tidak bersifat jangka panjang, bandingkan jika kendaraan tersebut menggunakan tenaga surya (sel surya), maka kenyamanan sosial akan lebih lama lagi.

 

2. Ekonomis, penerapan teknologi hijau sedapat mungkin harus rendah biaya dengan nilai manfaat yang seoptimal mungkin. Sebagai gambaran pemanfaatan tenaga surya untuk kebutuhan rumah tangga sebenarnya dapat diperluas untuk rumah atau bangunan yang ada di Indonesia. terutama mengingat keberadaannya di daerah tropis yang mendapat penyinaran hampir 12 jam dalam sehari. Namun dalam hal ini menghadapi berbagai kendala seperti: Daya beli masyarakat yang masih rendah; Sumberdaya manusia (SDM) di bidang surya terma! masih terbatas; Sosialisasi masih rendah, meskipun teknologi energi surya untuk pemanas air sudah mencapai tahap komersial. Dengan diatasinya berbagai kendala tersebut maka pemanfaatan tenaga surya bisa menjadi lebih ekonomis. .

 

3. Ramah lingkungan, teknologi hijau merupakan teknologi bersm dan ramah lingkungan. Dengan demikian dalam setiap rancangan, pengembangan dan aplikasinya prinsipramah lingkungan harus menjadi salah satu patokan. Ramah lingkungan artinya dampak penggunaan teknologi tersebut masih hanya menimbulkan dampak yang masih dalam lingkup ambang batas yang ditentukan. bahkan lebih baik lagi seandainya dampak lingkungannya nihil.


F. Ruang Lingkup Green Technology

1. Energi hijau, masalah yang paling mendesak untuk teknologi hljau adalah energi, termasuk pengembangan bahan bakar alternatif, serta dikembangkannya cara baru untuk menghasilkan energi, termasuk efisiensi energi. Pemenuhan kebutuhan energi di Planet Bumi ini masih sangat tergantung pada bahan bakar fosil, pada tahun 2010 masih mencapai 67,6 persen: hyidropower 16,1 persen, nuklir 13 persen, dan kontribusi energi terbarukan (di luar hydropower) hanya 3,3 persen (MC. 2013).

 

 

2. Bangunan hijau (green building), dikenal juga sebagai bangunan ramah lingkungan atau bangunan berkelanjutan, ada keterkaitan yang erat dengan arsitektur hujau, konstruksi hijau, desain berkelanjutan dan bangunan alami. Bangunan merupakan tempat di mana manusia menjalankan sebagian aktivitas kehidupannya, melindunginya dari kondisi iklim yang kurang bersahabat, sekaligus mempengaruhi kondisi kesehatan penghuninya. Dengan demkian bangunan pun harus bersahabat dengan prinsip-prinsip kelestarian lingkungan, berdiri selaras dengan ekosistem sekitar, sehingga muncul konsep dan bidang bangunan hijau.

 

 

3.Kimia hijau (Green chemistry), dalam proses penemuan, desain dan aplikasi proses dan produk kimia semaksimal mungkin menghilangkan penggunaan bahan berbahaya beracun beserta turunannya. Pembahasan lebih lanjut lihat bab sebelumnya.

 

4. Nanoteknologi hijau (Green nanotechnology), merupakan manipulasi bahan pada skala nanometer. Banyak ilmuwan yang mempercayai bahwa melalui penguasaan nanotekno|ogi, pada masa yang akan datang banyak hal yang dapat diproduksi. Dalam hal ini Nanoteknologi hijau merupakan penerapan prinsip kimia hijau dan teknik hijau (Green engineering) untuk beragam bidang. Menurut Nano (2016), nanoteknologi dan nanosains merupakan studi dan penerapan hal-hal yang sangat kecil di berbagai bidang ilmu seperti kimia, biologi, fisika, ilmu material dan rekayasa. Dijelaskan, bahwa ide nanoteknologi dan nanosains muncul pada tahun 1959, ketika fisikawan Richard Feyman pada pertemuan Asosiasi Fisika Amerika Serikat di lnstitut Teknologi California (Caltech) memberikan ceramah berjudul "There's Plenty of Room at the Bottom”. Penemuan alat scanning tunneling microscope (STM) dan atomic force microscope (AFM), menandai era kebangkitan nanoteknologi.



Kesimpulan 
    Teknologi hijau sangat berguna untuk kebutuhan manusia dimasa yang akan datang. Oleh karena itu, mulai dari sekarang, kita harus menjaga lingkungan kita


Daftar Pustaka
Atep dan Muhammad, 2018. Kimia Dan Pengetahuan Lingkungan Industri. Ygyakarta : Penerbit Wahana Resolusi.




Jumat, 18 November 2022

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN INDUSTRI HIJAU

 KEBIJAKAN PENGEMBANGAN INDUSTRI HIJAU



Abstrak
 

    Pembangunan sektor industri di Indonesia yang telah berjalan sekitar 50 (lima puluh) tahun selain telah memberi dampak positif bagi negara, juga memberikan dampak negatif terhadap permasalahan lingkungan terutama pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh limbah industri serta pemanfaatan sumber daya alam yang tidak 

 Oleh : Fauji Khoerunisa (@X24-Fauji)  

efisien.Dengan semakin terbatasnya sumber daya alam, krisis energi dan menurunnya daya dukung lingkungan, maka tuntutan untuk mengembangkan industri yang ramah lingkungan atau yang dikenal dengan istilah industri hijau (green industry) telah menjadi isu penting.

Kata kunci    : Industri hijau, pengembangan 

Abstract

    The development of the industrial sector in Indonesia which has been running for about 50 (fifty) years apart from having a positive impact on the country, has also had a negative impact on environmental problems, especially environmental pollution caused by industrial waste and the inefficient use of natural resources. natural resources, the energy crisis and the declining carrying capacity of the environment, the demand to develop an environmentally friendly industry or what is known as a green industry has become an important issue.

Keywords: Green industry, development 

 

Pendahuluan 

    Industri hijau merupakan sebuah ikon industri yang harus dipahami dan dilaksanakan, di mana industri dalam proses produksinya menerapkan upaya efisiensi dan efektivitas terhadap penggunaan sumber daya secara berkelanjutan. Penerapan industri hijau merupakan upaya pencegahan terhadap emisi dan limbah dengan menerapkan sistem industri yang lebih efisien dalam mengubah bahan baku menjadi produk, serta limbah menjadi produk ikutan (by product) yang lebih berguna. 

    SIH paling sedikit memuat bahan baku, bahan penolong, dan energi, proses produksi, produk, manajemen pengusahaan, dan pengelolaan limbah. Penerapan SIH secara bertahap dapat diberlakukan secara wajib. Pada intinya, penggunaan teknologi hijau ditujukan untuk melindungi lingkungan, memperbaiki kerusakan lingkungan, serta melestarikan sumber daya alam di Bumi. Beberapa hasil produk dan energi dari teknologi hijau bertujuan untuk mengurangi emisi karbon dioksida, gas rumah kaca, serta mencegah perubahan iklim.

 

Rumusan Masalah 

1. Bagaimana kondisi industri?

2. Bagaimana tantangan&strategi industri hijau?

3.  Apa saja prinsip prinsip industri hijau?

4. Bagaimana pencapaian industri hijau?

5. Manfaat penerapan industri hijau? 

 

 Tujuan

Agar mahasiswa mengetahui bagaimana kondisi strategi dan tantangan industri hijau pada zaman sekarang dan bagaimana pencapaian industri hijau.

 

Pembahasan 

A.  Kondisi indusri kimia 

    Pembangunan sektor industri di Indonesia yang telah berjalan sekitar 50 (lima puluh) tahun selain telah memberi dampak positif bagi negara, juga memberikan dampak negatif terhadap permasalahan lingkungan terutama pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh limbah industri serta pemanfaatan sumber daya alam yang tidak efisien.Dengan semakin terbatasnya sumber daya alam, krisis energi dan menurunnya daya dukung lingkungan, maka tuntutan untuk mengembangkan industri yang ramah lingkungan atau yang dikenal dengan istilah industri hijau (green industry) telah menjadi isu penting.

B. Tantangan dan strategi industri hijau

Tantangan:
1. Dibutuhkan Penggantian/modifikasi mesin industri untuk
mengganti/modifikasi mesin dibutuhkan investasi, sementara bunga komersial perbankkan nasional tinggi (14%) serta tidak adanya industri permesinan nasional.
2. Dibutuhkan penghargaan bagi kalangan industri yang telah mewujudkan industri hijau, misal: pemberian kompensansi dalam bentuk bantuan dana; bantuan teknis dll untuk meningkatkan upaya perbaikan;

3. Perlu dirumuskan pola insentif bagi industri yang telah menerapkan industri hijau.

Strategi:
Mengembangkan kerjasama internasional terkait perumusan kebijakan dan pendanaan dalam pembangunan dan pengembangan industri hijau.

Memperkuat kapasitas institutional untuk mengembangkan industri hijau.

Membangun koordinasi antara pemerintah, masyarakat dan sektor swasta.

Mempromosikan/ mensosialisasikan kebijakan dan regulasi teknis yang berkaitan dengan industri hijau (meliputi bahan baku, proses produksi, teknologi dan produk yang ramah lingkungan).

Meningkatkan kemampuan SDM, transfer teknologi, dan memperkuat R&D.

 

C. Prinsip-prinsip industri hijau

 

D. Pencapaian industri hijau

Industri hijau dapat dicapai antara lain melalui:
1. Meningkatkan upaya-uapaya pengelolaan internal/housekeeping.

2. Meningkatkan proses pengawasan.

3. Daur ulang bahan/material.

4. Modifikasi peralatan yang ada.

5. Teknologi bersih.

6. Perubahan bahan baku.

7. Modifikasi produk
.
8. Pemanfaatan produk samping
.


E.
Penerapan industri hijau

Meningkatkan profitabilitas (keuntungan) melalui peningkatan efisiensi sehingga dapat mengurangi biaya operasi, pengurangan biaya pengelolaan limbah dan tambahan pendapatan dari produk hasil samping
Meningkatkan image perusahaan

Meningkatkan kinerja perusahaan

Mempermudah akses pendanaan

Flexsibelitas dalam regulasi

Terbukanya peluang pasar baru

Menjaga kelestarian fungsi lingkungan

 

Kesimpulan
    Pengembangan Industri Hijau membutuhkan dukungan dari semua pihak,, yaitu pelaku industri, pemerintah dan masyarakat.


Daftar Pustaka

Hidayat, Atep Afia. 2022. Kimia dan Pengetahuan Lingkungan Industri. Industri Hijau (Modul  12). Universitas Mercu Buana, Jakarta

 Workshop Efisiensi Energi di IKM Jakarta, 27 Maret 2012

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selasa, 08 November 2022

KIMIA BERKELANJUTAN

 KIMIA BERKELANJUTAN

 

Oleh : Fauji Khoerunisa (@X24-Fauji)

Abstrak 

 Kimia berkelanjutan sering juga disebut dengan Kimia Hijau, hal ini membahas desain proses dan produk kimia yang tujuannya untuk mengurangi dan bisa jadi menghilangkan zat-zat yang berbahaya. Kimia berkelanjutan juga berlaku untuk kimia organik, kimia anorganik,  kimia analitik, biokimia, kimia teknik, dan kimia fisik. Kimia berkelanjutan atau Kimia hijau tertuju pada siklus hidup suatu produk termasuk desain,  pembuatan penggunaan dan pembuangannya.

  

Kata kunci : Kimia, hijau, prinsip

 

Abstract

    Sustainable chemistry is often referred to as Green Chemistry, it discusses the design of chemical processes and products with the aim of reducing and possibly eliminating harmful substances. Sustainable chemistry also applies to organic chemistry, inorganic chemistry, analytical chemistry, biochemistry, engineering chemistry, and physical chemistry. Sustainable chemistry or green chemistry is concerned with the life cycle of a product including its design, manufacture, use and disposal.

Keywords: Chemistry, green, principle 


Pendahuluan

    Definisi kimia hijau (green chemistry), menurut US EPA (Environmental Protection Agency), adalah menggunakan ilmu kimia dan prosesnya untuk pencegahan polusi (pencemaran), dan merancang produk kimia dan proses-prosesnya yang lebih akrab lingkunga. Menurut Anastas & Warner hal yang penting dalam green chemistry adalah: 1) Mencegah terjadinya limbah di tempat pertama 2) Menggunakan pereaksi dan pelarut yang aman 3) Melakukan perobahan reaksi secara selektif dan efisien 4) Menghindari produk dan reaksi kimia yang tidak perlu. 

    Sebagian besar umat manusia untuk melanjutkan kehidupannya agar sejahtera makin memacu perkembangan industri dan teknologi. namun disisi lain ternyata beragam kegiatan teknologi dan industri menyisakan pembuangan atau limbah yang menyebabkan umat manusia tidak nyaman.

 

Rumusan Masalah

1. Apa itu kimia hijau?

2. Ada berapa prinsip kimia hijau?

3. Bagaimana mengaplikasikan kimia hijau?

4. Apa saja 3 bidang utama dikimia hijau?


Tujuan

  Agar  manusia sadar bahwa kimia hijau itu harus dipertahankan agar tidak merusak bumi dan akan terus memenuhi kebutuhan manusia dan manusia akan hidup sejahtera.


Pembahasan

A. Definisi Kimia Hijau

    Kimia Hijau sering juga disebut sebagai kimia berkelanjutan , hal ini membahas desain proses dan produk kimia yang tujuannya untuk mengurangi dan bisa jadi menghilangkan zat-zat yang berbahaya. Kimia berkelanjutan juga berlaku untuk kimia organik, kimia anorganik,  kimia analitik, biokimia, kimia teknik, dan kimia fisik. Kimia berkelanjutan atau Kimia hijau tertuju pada siklus hidup suatu produk termasuk desain,  pembuatan penggunaan dan pembuangannya. Bidang kimia ini tidak bisa disamakan dengan kimia lingkungan. Sebab kimia hijau lebih berfokus pada dampak lingkungan dari kimia, serta pengembangan praktik berkelanjutan yang lebih ramah lingkungan. Misalnya strategi pengendalian pencemaran lingkungan. Manfaat kimia hijau mengurangi penggunaan energi, pengurangan limbah produksi, pengurangan kecelakaan, produk yang lebih aman.

B. 12 Prinsip Kimia Hijau

  • Prevention (Pencegahan). Lebih baik mencegah timbulan limbah daripada mengolahnya.
  • Atom Economy (Ekonomi Atom). Metode sintetis harus dirancang untuk memaksimalkan penggabungan semua bahan baku yang digunakan dalam proses menjadi produk akhir.
  • Less Hazardous Chemical Syntheses (Sintesis Bahan Kimia Kurang Berbahaya). Jika memungkinkan, metode sintetis harus dirancang untuk menggunakan dan menghasilkan zat yang memiliki sedikit atau tidak ada toksisitas/ potensi bahaya terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.
  • Designing Safer Chemicals (Merancang Bahan Kimia Yang Lebih Aman). Produk kimia harus dirancang untuk mempengaruhi fungsi yang diinginkan sambil meminimalkan toksisitasnya.
  • Safer Solvents and Auxiliaries (Pelarut dan Auxiliaries yang Lebih Aman). Penggunaan zat tambahan (misalnya, pelarut, zat pemisah, dll.) bilamana mungkin ditiadakan dan tidak berbahaya bila digunakan.
  • Design for Energy Efficiency (Merancang untuk Efisiensi Energi). Penggunaan energi dari proses kimia harus harus diminimalkan. Jika memungkinkan, metode sintetis harus dilakukan pada suhu dan tekanan rendah.
  • Use of Renewable Feedstocks (Penggunaan Bahan Baku Terbarukan). Bahan mentah atau bahan baku harus dapat diperbarui daripada menghabiskan bahan yang tak dapat diperbarui, yang secara teknis dan ekonomis dapat dilakukan. 
  • Reduce Derivatives (Mengurangi Derivatif). Derivatisasi yang tidak perlu (penggunaan gugus pemblokiran, perlindungan / deproteksi, modifikasi sementara proses fisik / kimia) harus diminimalkan atau dihindari jika mungkin, karena langkah-langkah tersebut memerlukan reagen tambahan dan mengakibatkan pemborosan. 
  • Catalysis (Katalisis). Reagen katalitik (seselektif mungkin) lebih unggul daripada reagen stoikiometri.
  • Design for Degradation (Desain untuk Degradasi). Produk-produk kimia harus dirancang sedemikian rupa sehingga pada akhir fungsi mereka akan terurai menjadi produk degradasi yang tidak berbahaya dan tidak persisten di lingkungan.
  • Real-time analysis for Pollution Prevention (Analisis real-time untuk Pencegahan Polusi). Metodologi analitis perlu dikembangkan lebih lanjut untuk memungkinkan pemantauan dan pengendalian proses secara real- time.
  • Inherently Safer Chemistry for Accident Prevention (Bahan Kimia yang bersifat Lebih Aman untuk Pencegahan Kecelakaan). Zat dan bentuk zat yang digunakan dalam proses kimia harus dipilih untuk meminimalkan potensi kecelakaan kimia, termasuk pelepasan ke lingkungan, ledakan, dan kebakaran.

 C. Aplikasi Kimia Hijau

Cat ramah lingkungan 

    Senyawa organik di dalam cat atau volatile organic compounds (VOC) biasanya mudah menguap, sehingga dapat bersifat berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. Meski sejak dulu ada cat yang larut dalam air berbentuk bubuk, kenyataannya barang ini tidak mudah didapat. Dengan kimia hijau, perusahan cat di Inggris akhirnya berhasil membuat cat yang sedikit sekali atau tidak mengandung VOC, tetapi tetap menarik. Misalnya, cat yang berbasis pelarut dari tanaman yang tidak berbau, mudah dibersihkan, dan berdaya tutup yang baik.

Plastik ramah lingkungan

    Sebagaimana diketahui bahwa plastik merupakan bahan kimia yang sulit terurai. Namun kini, sudah ada produk-produk plastik yang berbahan dari tanaman hasil pertanian, sehingga lebih mudah terurai ketika berada di tanah.
Untuk mulai menggantikan plastik yang berasal dari petroleum, beberapa produk plastik ramah lingkungan tersebut dibuat dari hasil pertanian, seperti jagung, kentang, dan gula dari buah bit.
 
D. Bidang Utama Kimia Hijau

1. Teknologi energi terbarukan
   
Contohe energi terbarukan :
  • Energi surya. 
  • Energi air.
  • Energi angin.
  • Energi panas bumi.
  • Bio energi.
 
2.  Teknologi alternatif
 
Berikut adalah macam-macam sumber energi alternatif:
  • Energi air Terjun.
  • Energi pasang Surut.
  • Energi panas Matahari.
  • Energi angin.
  • Energi panas Bumi.
  • Energi biofuel.
  • Energi nuklir.
  • Energi biomassa.
Berikut adalah contoh penerapan konsep Kimia Hijau dalam kehidupan sehari-hari. 1. Dalam hubungannya dengan keamanan pangan, konsep kimia hijau diterapkan dengan konsep pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) untuk mengurangi dampak buruk penggunaan zat-zat kimia untuk lingkungan pertanian. 2. Menggunakan energi alternatif sebagai pengganti sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, seperti biogas, biodiesesl, biofuel, dan lainnya. 3. Menerapkan 3R dalam penggunaan energi, yaitu reuse (menggunakan kembali), recycle (daur ulang), dan reduce (mengurangi). 4. Penggunaan cat ramah lingkungan dan tidak mengandung VOC (zat yang mudah menguap, sehingga dapat bersifat berbahaya bagi kesehatan). Misalnya, cat yang berbasis pelarut dari tanaman yang tidak berbau, mudah dibersihkan, dan berdaya tutup yang baik. 5. Menggunakan plastik yang ramah lingkungan untuk mulai menggantikan plastik yang berasal dari petroleum. Beberapa produk plastik ramah lingkungan tersebut dibuat dari hasil pertanian, seperti jagung, kentang, dan gula dari buah bit. 6. Penerapan teknologi daur ulang pelarut organik yang digunakan untuk langkah-langkah pembuatan zat kimia, seperti pada sistem fermentasi, ekstraksi, pembentukan dan tahap akhir produk. Pelarut-pelarut yang berbahaya bagi lingkungan diganti dengan pelarut yang ramah lingkungan seperti jenis dari soy methyl ester dan laktat ester yang berasal dari kedelai, yang mampu menggantikan pelarut yang merupakan turunan produk minyak bumi terklorinasi.

Baca selengkapnya di artikel "Contoh Penerapan Kimia Hijau di Kehidupan & Prinsip Green Chemistry", https://tirto.id/gwDn
Berikut adalah contoh penerapan konsep Kimia Hijau dalam kehidupan sehari-hari. 1. Dalam hubungannya dengan keamanan pangan, konsep kimia hijau diterapkan dengan konsep pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) untuk mengurangi dampak buruk penggunaan zat-zat kimia untuk lingkungan pertanian. 2. Menggunakan energi alternatif sebagai pengganti sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, seperti biogas, biodiesesl, biofuel, dan lainnya. 3. Menerapkan 3R dalam penggunaan energi, yaitu reuse (menggunakan kembali), recycle (daur ulang), dan reduce (mengurangi). 4. Penggunaan cat ramah lingkungan dan tidak mengandung VOC (zat yang mudah menguap, sehingga dapat bersifat berbahaya bagi kesehatan). Misalnya, cat yang berbasis pelarut dari tanaman yang tidak berbau, mudah dibersihkan, dan berdaya tutup yang baik. 5. Menggunakan plastik yang ramah lingkungan untuk mulai menggantikan plastik yang berasal dari petroleum. Beberapa produk plastik ramah lingkungan tersebut dibuat dari hasil pertanian, seperti jagung, kentang, dan gula dari buah bit. 6. Penerapan teknologi daur ulang pelarut organik yang digunakan untuk langkah-langkah pembuatan zat kimia, seperti pada sistem fermentasi, ekstraksi, pembentukan dan tahap akhir produk. Pelarut-pelarut yang berbahaya bagi lingkungan diganti dengan pelarut yang ramah lingkungan seperti jenis dari soy methyl ester dan laktat ester yang berasal dari kedelai, yang mampu menggantikan pelarut yang merupakan turunan produk minyak bumi terklorinasi.

Baca selengkapnya di artikel "Contoh Penerapan Kimia Hijau di Kehidupan & Prinsip Green Chemistry", https://tirto.id/gwDn
Berikut adalah contoh penerapan konsep Kimia Hijau dalam kehidupan sehari-hari. 1. Dalam hubungannya dengan keamanan pangan, konsep kimia hijau diterapkan dengan konsep pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) untuk mengurangi dampak buruk penggunaan zat-zat kimia untuk lingkungan pertanian. 2. Menggunakan energi alternatif sebagai pengganti sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, seperti biogas, biodiesesl, biofuel, dan lainnya. 3. Menerapkan 3R dalam penggunaan energi, yaitu reuse (menggunakan kembali), recycle (daur ulang), dan reduce (mengurangi). 4. Penggunaan cat ramah lingkungan dan tidak mengandung VOC (zat yang mudah menguap, sehingga dapat bersifat berbahaya bagi kesehatan). Misalnya, cat yang berbasis pelarut dari tanaman yang tidak berbau, mudah dibersihkan, dan berdaya tutup yang baik. 5. Menggunakan plastik yang ramah lingkungan untuk mulai menggantikan plastik yang berasal dari petroleum. Beberapa produk plastik ramah lingkungan tersebut dibuat dari hasil pertanian, seperti jagung, kentang, dan gula dari buah bit. 6. Penerapan teknologi daur ulang pelarut organik yang digunakan untuk langkah-langkah pembuatan zat kimia, seperti pada sistem fermentasi, ekstraksi, pembentukan dan tahap akhir produk. Pelarut-pelarut yang berbahaya bagi lingkungan diganti dengan pelarut yang ramah lingkungan seperti jenis dari soy methyl ester dan laktat ester yang berasal dari kedelai, yang mampu menggantikan pelarut yang merupakan turunan produk minyak bumi terklorinasi.

Baca selengkapnya di artikel "Contoh Penerapan Kimia Hijau di Kehidupan & Prinsip Green Chemistry", https://tirto.id/gwDn

 3. Regen yang bersumber dari minyak bumi 

Hasil olahan minyak bumi :
  • Gas minyak cair.
  • Bensin.
  • Minyak tanah.
  • Avtur.
  • Solar.
  • Minyak bakar.

 

Kesimpulan

    kimia hijau adalah usaha penerapan prinsip penghilangan dan pengurangan senyawa berbahaya melalui usaha perancangan, produksi,dan penerapan produk kimia. Pendekatan kimia hijau berusaha meminimalisir zat berbahaya, pemanfaatan katalis yang aman untuk reaksi dan proses kimia, penggunaan reagen yang tidak beracun, penggunaan sumber daya yang dapat diperbaharui, peningkatan efisiensi pada tingkat atom, dan penggunaan pelarut yang ramah lingkungan. Usaha untuk menerapkan kimia hijau untuk menghasilkan produk industri untuk bangunan dan penggantian zat kimia berbahaya yang digunakan pada berbagai industri dan kesehatan telah dilakukan.


Daftar Pustaka

Hidayat, Atep Afia. 2022. Kimia dan Pengetahuan Lingkungan Industri. Kimia Hijau (Modul  11). Universitas Mercu Buana, Jakarta 

Anastas, P. T., and J. C. Warner (1998) Green Chemistry: Theory and Practice
Eds. Oxford University Press: Oxford, UK.

Clark, J. H. (2005). Green Chemistry and Environmentally Friendly
Technology. In C. A. M. Afonso a
nd J. G. Crespo (eds). Green Separation
Processes.
pp 3 4. WILEY-VCH Verlag GmbH & Co. KGaA, Weinheim
ISBN 3
-527-30985-3. https://www.wiley-ch.de/books/sample/
3527309853_c01.pdf. Diunduh pada 20/06/2016
.