.

Kamis, 09 Juni 2022

INTRODUKSI TEKNOLOGI BIOGAS SEBAGAI ENERGI TERBARUKAN UNTUK MASYARAKAT PEDESAAN Rifki Alfarizi (@v25-Rifki Alfarizi)

INTRODUKSI TEKNOLOGI BIOGAS SEBAGAI ENERGI TERBARUKAN UNTUK MASYARAKAT PEDESAAN

Oleh : Rifki Alfarizi (@V25-Alfarizi)

Abstract. This paper is the progress report of research action about biogas technology introduction for a rural community in North Sulawesi, Indonesia. The purpose of this study is to discuss biogas technology utilization in the selected rural. The research method is done by literature review, interview, site visit, data collection using questioner and case study of pilot project development in biogas technology for a household in Kosio village indicate a positive response from the local community. The discussion based on literature review, data collection, and case study give some recommendations for further study in terms of scenarios and guidelines for the development of biogas technology for rural communities. 

Keywords: Energy, Biogas technology, North Sulawesi, rural community 

Abstrak. Artikel ini merupakan laporan progress kerja dari penelitian introduksi teknologi biogas untuk masyarakat pedesaan di Sulawesi Utara. Tujuan artikel ini adalah mendiskusikan tentang penerapan teknologi biogas untuk masyarakat pedesaan dan sebagai laporan studi kasus introduksi teknologi biogas di desa terpilih. Metode penelitian yang dilakukan adalah melalui survey lapangan, wawancara, pengumpulan data melalui kuisioner dan studi kasus berupa rancang bangun proyek contoh teknologi biogas di desa Kosio, Sulawesi Utara. Hasil analisa menunjukan aksi introduksi teknologi biogas dengan membangun proyek contoh skala rumah tangga di desa Kosio, Sulawesi Utara mendapat respons positif dari masyarakat setempat. Inisiasi ini memicu dukungan masyarakat desa tersebut untuk memanfaatkan potensi biogas yang tersedia. Artikel ini juga menghasilkan rekomendasi berupa kajian lebih lanjut mengenai skenario dan petunjuk pengembangan teknologi biogas bagi masyarakat pedesaan. 

Kata kunci: energi, teknologi biogas, Sulawesi Utara, masyarakat pedesaan

1. Pendahuluan 
    Energi menjadi kebutuhan mendasar bagi masyarakat perkotaan dan pedesaan. Akses masyarakat terhadap energi menjadi sangat penting untuk dikaji dan diterapkan. Sumber energi terbarukan menjadi alternatif untuk kebutuhan energi secara lokal dan berkelanjutan. Energi biogas adalah salah satu bentuk energi alternatif yang cocok diterapkan pada masyarakat pedesaan. Teknologi biogas sudah berkembang dari jaman dahulu. Banyak negara seperti India, China, Afrika telah menggunakan dan mengembangkan teknologi biogas untuk kebutuhan energi skala rumah tangga. Penggunaan untuk memasak dan listrik banyak dikembangkan juga negara-negara besar seperti Jerman, Amerika. Negara–negara Asia yang sedang mengembangkan instalasi biogas domestik yaitu Nepal, Vietnam, Bangladesh, Laos, Kamboja, Pakistan termasuk Indonesia (Mengistu dkk, 2015).

    Perkembangan teknologi biogas bagi masyarakat pedesaan di beberapa negara berkembang dan negara maju berdasarkan studi literatur dibahas dalam sumber referensi Mital (1997), Shamsuzzoha dkk (2012), Arafa (2012) meyakinkan bahwa teknologi ini sudah terbukti dan sukses diimplementasikan. 
    Pemanfaatan biogas sebagai sumber energi alternatif memberikan dampak positif terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat dan keuntungan ekonomis. Limbah kotoran ternak yang dikelola menggunakan teknologi biogas dapat menghasilkan gas yang dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai sumber energi untuk memasak, listrik dan menghasilkan pupuk organik. 
    Masyarakat pedesaan adalah sekelompok orang atau komunitas penduduk di lokasi desa yang secara geografis terletak jauh dari kota. Komunitas pedesaan biasanya memiliki populasi yang kecil dan memiliki daerah pertanian atau kehutanan. Komunitas pedesaan memiliki kebutuhan energi untuk memasak, penerangan dan transportasi walaupun secara kuantitas jumlahnya kurang dibanding kebutuhan energi komunitas perkotaan. 
    Pemenuhan kebutuhan energi bagi masyarakat pedesaan memberikan peluang dan tantangan dalam hal pemanfaatan sumber daya yang tersedia secara lokal. Selain tersedia secara lokal, energi biogas di pedesaan, terlebih desa yang memiliki ternak sangat menarik untuk diberdayakan dan digunakan oleh masyarakat pengguna energi dengan skala kecil untuk memasak dan listrik, namun pada artikel ini dibatasi untuk kebutuhan memasak. 
    Adapun tujuan artikel ini adalah melakukan studi kasus berupa introduksi teknologi biogas di desa Kosio, kecamatan Dumoga, kabupaten Bolaang Mongondow, propinsi Sulawesi Utara. Dengan urgensi penulisan memberikan sumbangan pemikiran mengenai penerapan teknologi biogas pada masyarakat pedesaan dan sebagai contoh penerapan teknologi biogas di Sulawesi Utara.

2. Metodologi Penelitian 
    Untuk mengetahui tingkat partisipasi masyarakat pada program biogas di desa Kosio dilakukan pengumpulan data dengan menggunakan kuisioner dan interview dilakukan kepada masyarakat sekitar proyek contoh 1 unit biogas yang telah dibangun di desa Kosio. Kuisioner digunakan sebagai faktor asesmen pada masyarakat setempat dengan menggali informasi detail mengenai : 

[1]. Pengetahuan masyarakat mengenai energi biogas.
[2]. Penerimaan masyarakat terhadap teknologi bioga.
[3]. Kemampuan ekonomi masyarakat untuk membangun teknologi biogas.
[4]. Pendapat masyarakat dalam penerapan teknologi biogas. 

Kuesioner didistribusikan kepada masyarakat di desa Kosio sebanyak 20 responden sebagai sampel. Hasil analisis kuisioner menemukan bahwa 90 persen sampel menerima penerapan teknologi biogas di desa Kosio, sedangkan 80 persen sampel masyarakat ingin berpartisipasi dalam program biogas. Namun responden umumnya mengharapkan hibah dan subsidi untuk pembangunan unit biogas. Diperoleh data kuantitatif bahwa pengetahuan masyarakat terhadap teknologi biogas masih kurang, akan tetapi kesediaan masyarakat untuk menerapkan program energi biogas sangat tinggi.

3. Hasil dan Pembahasan 
Potensi pemanfaatan biogas di Sulawesi Utara sangat besar, hal ini ditunjukan dari data populasi ternak menurut kabupaten/ kota seperti Tabel 1. Limbah kotoran ternak yang dihasilkan 1 ekor sapi adalah 15-20 kg per hari. Menurut Hozairi dkk (2012) dua ekor sapi bisa menghasilkan 4 m3 gas yang energinya setara dengan 2,5 liter minyak tanah. Walaupun potensi peternakan sebagai bahan biogas di Sulawesi Utara sangat besar, status penerapan teknologi biogas di Sulawesi Utara masih minim dan bergantung pada program pemerintah pusat. Hal ini menjadi tantangan dan peluang untuk promosi dan introduksi teknologi biogas sebagai sumber energi alternatif bagi masyarakat pedesaan. Penerapan teknologi biogas skala rumah tangga dapat mendukung program pemerintah untuk mewujudkan desa mandiri energi. Desa Kosio dipilih sebagai lokasi untuk introduksi teknologi biogas bagi masyarakat pedesaan karena memiliki potensi bahan biogas berupa limbah kotoran ternak dan air sungai sebagai campurannya. Secara geografis, desa ini terletak di wilayah kecamatan Dumoga Kabupaten Bolaang Mongondow Provinsi Sulawesi Utara dengan luas wilayah 5000 Ha dan jumlah penduduk 1100 jiwa. Mata pencaharian penduduk umumnya adalah petani dan peternak. Peta desa Kosio ditunjukan seperti pada Gambar 1. 

Tabel 1. Data Populasi Ternak Menurut Kabupaten/Kota di Sulawesi Utara (Tahun 2014) 


    Hasil survey lapangan menunjukan bahwa di desa Kosio terdapat lebih kurang 200 ekor sapi. Limbah kotoran ternak dari jumlah sapi tersebut sangat berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber energi biogas. Rata-rata setiap rumah tangga memiliki 2-3 ekor sapi yang kotorannya bisa dimanfaatkan dengan teknologi biogas sederhana sebagai sumber energi alternatif. Status penduduk desa Kosio yang memiliki potensi limbah peternakan namun belum dimanfaatkan potensi tersebut. Introduksi teknologi biogas dilakukan dengan membangun proyek contoh pemanfaatan kotoran ternak menjadi biogas skala rumah tangga di salah satu rumah penduduk desa Kosio. Digester biogas yang dibangun adalah tipe fixed dome dengan ukuran panjang 2,5 m, lebar 1,3 m dan tinggi 1,10 m menampung kotoran sapi sebanyak 10 ekor

4. Kesimpulan 
    Pemanfaatan biogas sebagai sumber energi alternatif bagi masyarakat pedesaan telah dilakukan di berbagai lokasi. Sulawesi Utara berpotensi untuk pengembangan teknologi biogas sebagai sumber energi alternatif karena limbah kotoran ternak tersedia secara lokal. Introduksi teknologi biogas di desa Kosio, kabupaten Bolaang Mongondow, Propinsi Sulawesi Utara berhasil diterapkan melalui pembangunan satu unit contoh digester dan sistem pemipaan untuk keperluan memasak. Tingkat penerimaan masyarakat di desa Kosio untuk penerapan teknologi biogas skala rumah tangga sangat tinggi. 
    Rekomendasi untuk promosi teknologi biogas bagi mayarakat pedesaan dilakukan dengan berbagai skenario yaitu membangun proyek contoh, memberikan hibah dan subsidi, melakukan pelatihan dan pendampingan terhadap masyarakat untuk mengembangkan teknologi biogas skala rumah tangga di pedesaan. Penelitian lebih lanjut diarahkan untuk mengkaji nilai keekonomian pemanfaatan teknologi biogas skala rumah tangga dan menyusun petunjuk (guidelines) untuk diseminasi teknologi biogas bagi masyarakat pedesaan.

Daftar pustaka 

Rabu, 08 Juni 2022

ENERGI TERBARUKAN DAN POTENSINYA DI INDONESIA

Oleh : Aziz Affandi (@V04-Aziz)


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

        Pada tahun 2010, banyak negara telah menyadari pentingnya pemanfaatkan sumber- sumber Energi Terbarukan sebagai pengganti energi tidak terbarukan seperti minyak bumi, batubara dan  gas  yang telah  menimbulkan dampak yang sangat merusak terhadap bumi. Dengan semakin menipisnya cadangan sumber energi tidak terbarukan, maka biaya untuk penambangannya akan meningkat, yang berdampak pada meningkatnya harga jual ke masyarakat  . Pada saat  yang bersamaan,  energi  tidak  terbarukan  akan  melepaskan  emisi karbon ke atmosfir, yang menjadi penyumbang besar terhadap pemanasan global.
Di banyak daerah pedalaman di Indonesia, solusi energi tidak terbarukan belum tersedia. Karena akses kepada jaringan PLN belum ada ataupun masih sangat terbatas. Daerah perdesaan ini sering menjadi tempat-tempat yang terisolasi dan bergantung kepada pemakaian energi tradisional yang tidak bisa diandalkan, seperti generator yang berbahan bakar minyak, kayu atau tabung LPG sebagai sumber energi yang digunakan untuk memasak, penerangan, serta kebutuhan listrik dasar lainnya.

       Solusi Energi Terbarukan menjadi jawaban terhadap permintaan kebutuhan pembangunan desa di Indonesia, serta mempromosikan solusi praktis dan berkelanjutan yang bisa langsung diadopsi oleh masyarakat pedesaan yang menjadi prioritas bagi bangsa Indonesia. Tantangan yang ada di hadapan kita adalah memastikan bahwa masyarakat perdesaan memiliki akses yang cukup terhadap banyak pilihan teknologi energi terbarukan sebelum mereka memutuskan untuk menggunakannya, di mana mereka ingin ikut berinvestasi untuk  melakukan  diversifikasi  energi  lebih  lanjut,  yang  menawarkan  peluang  lebih  luas kepada mereka untuk meningkatkan mata pencahariannya. 

1.2 Ruang Lingkup

Artikel ini mencakup materi dari energi alternatif atau energi terbarukan mulai dari pengertian, jenis-jenis, cara pemanfaatan serta kelebihan dan kekurangannya dan potensi di Indonesia.

1.3 Tujuan dan Manfaat

  • Tujuan artikel ini adalah agar dapat membantu pembaca dalam memperoleh materi energi alternatif atau energi baru terbarukan.
  • Manfaat  pembuatan  makalah  ini  adalah  mahasiswa  dapat  mengetahui  atau lebih memahami tentang energi alternatif atau energi baru terbarukan. 

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Macam-Macam Energi di Alam

    Ada banyak sumber-sumber energi utama dan digolongkan menjadi dua kelompok besar yang dibahas pada alinea-alinea berikut:

      Energi konvensional adalah energi yang diambil dari sumber yang hanya tersedia dalam jumlah terbatas di bumi dan tidak dapat diregenerasi. Sumber-sumber energi ini akan berakhir cepat atau lambat dan berbahaya bagi lingkungan.
        Energi terbarukan adalah energi yang dihasilkan dari sumber alami seperti matahari, angin, dan air dan dapat dihasilkan lagi dan lagi. Sumber akan selalu tersedia dan tidak merugikanlingkungan.
        Sumber-sumber energi Konvensional dan Terbarukan bisa dikonversikan menjadi sumber-sumber energi sekunder, seperti listrik. Listrik berbeda dari sumber-sumber energi lainnya dan dinamakan sumber energi sekunder atau pembawa energi karena dimanfaatkan untuk  menyimpan,  memindahkan  atau  mendistribusikan  energi  dengan  nyaman.  Sumber energi primer diperlukan untuk menghasilkan energi listrik.

        Sumber-sumber energi konvensional biasanya terkait dengan polusi terhadap lingkungan kita. Sumber-sumber energi terbarukan biasanya terkait dengan dampak yang sangat kecil atau tidak ada sama sekali terhadap lingkungan.
        Sumber-sumber energi  konvensional  primer diambil  dari  tanah  dalam  bentuk  cair (minyak & petroleum), gas (gas alam) dan padat (batubara & uranium). Sumber-sumber energi yang ada di indonesia saat ini terdiri dari sumber minyak yang terbatas, sumber gas alam yang cukup, dan sumber batubara yang melimpah, serta energi panas bumi. Tenaga nuklir    belum    digunakan,    namun    sebagai    sumber    energi    primer    konvensional. Bahan Bakar Fosil merupakan sumber energi tidak terbarukan tetapi tidak semua sumber energi tidak terbarukan adalah bahan bakar minyak (contoh: uranium).
        Bahan bakar fosil terbentuk dari sisa-sisa organik tanaman dan hewan, yang mati ribuan tahun lalu dan tetap terkubur dalam pasir dan lumpur. Tahun-tahun berlalu, lapisan pasir dan lumpur kian menumpuk di atasnya dan berubah bentuk menjadi batuan karena panas dan tekanan. Sisa tumbuhan dan hewan yang terkubur di dalamnya berubah menjadi bahan bakar fosil. Bahan bakar fosil harus diekstraksi dari kedalaman bumi di mana mereka terbentuk. 

2.2 Energi Terbarukan

        Energi  terbarukan  adalah  sumber-sumber  energi  yang  bisa  habis  secara  alamiah. Energi terbarukan berasal dari elemen-elemen alam  yang tersedia di bumi dalam jumlah besar, misal: matahari, angin, sungai, tumbuhan dsb. Energi terbarukan merupakan sumber energi paling bersih yang tersedia di planet ini. Ada beragam jenis energi terbarukan, namun tidak     semuanya     bisa     digunakan     di     daerah-daerah     terpencil     dan     perdesaan. Tenaga Surya, Tenaga Angin, Biomassa dan Tenaga Air adalah teknologi yang paling sesuai untuk  menyediakan  energi  di  daerah-daerah  terpencil  dan  perdesaan.  Energi  terbarukan lainnya termasuk Panas Bumi dan Energi Pasang Surut adalah teknologi yang tidak bisa dilakukan di semua tempat.
        Indonesia  memiliki  sumber  panas  bumi  yang  melimpah;  yakni  sekitar  40%  dari sumber total dunia. Akan tetapi sumber-sumber ini berada di tempat-tempat yang spesifik dan tidak tersebar luas. Teknologi energi terbarukan lainnya adalah tenaga ombak, yang masih dalam tahap pengembangan. Berbagai energi terbarukan Matahari terletak berjuta-juta kilometer dari Bumi (149 juta kilometer) akan tetapi menghasilkan jumlah energi yang luar biasa banyaknya. Energi yang dipancarkan oleh matahari yang mencapai Bumi setiap menit akan cukup untuk memenuhi kebutuhan energi  seluruh penduduk manusia di planet kita selama satu tahun, jika bisa ditangkap dengan benar. Setiap hari, kita menggunakan tenaga surya, misal untuk mengeringkan pakaian atau mengeringkan hasil panen. Tenaga surya bisa dimanfaatkan dengan cara-cara lain: Sel Surya (yang disebut dengan sel Energi Solar ‘fotovoltaik’ yang mengkonversi cahaya matahari menjadi listrik secara langsung.

        Pada waktu memanfaatkan energi matahari untuk memanaskan air, panas matahari langsung dipakai untuk memanaskan air yang dipompakan melalui pipa pada panel yang dilapisi cat hitam. Pada saat angin bertiup, angin disertai dengan energi kinetik (gerakan) yang bisa melakukan suatu pekerjaan.Contoh, perahu layar memanfaatkan tenaga angin untuk mendorongnya bergerak di air. Tenaga angin juga bisa dimanfaatkan menggunakan baling- baling yang dipasang di puncak menara, yang disebut dengan turbin angin yang akan menghasilkan energi mekanik atau listrik.

        Biomassa merupakan salah satu sumber energi yang telah digunakan orang sejak dari jaman dahulu kala: orang telah membakar kayu untuk memasak makanan selama ribuan tahun. Biomassa adalah semua benda organik (misal: kayu, tanaman pangan, limbah hewan & manusia)  dan  bisa  digunakan  sebagai  sumber  energi  untuk  memasak,  memanaskan  dan 
pembangkit listrik. Sumber energi ini bersifat terbarukan karena pohon dan tanaman pangan akan selalu tumbuh dan akan selalu ada limbah tanaman.

2.3 Macam Energi Alternatif di Dunia

1. Energi Surya

        Energi surya atau matahari adalah sumber energi paling kuat dan paling besar persediaanya. Sinar matahari dapat digunakan untuk pencahayaan, pembangkit listrik, pemanas   air,   dan   berbagai  proses   industri.   Matahari   bisa   digunakan   untuk menghasilkan listrik dengan bantuan panel suryayang dapat mengolah energi panas matahari menjadi listrik. Tapi, energi listrik menjadi tergantung dengan keadaan cuaca.

2. Energi Angin

        Angin adalah gerakan udara yang terjadi ketika terdapat udara hangat dan udara dingin. Energi angin telah digunakan selama berabad-abad untuk kapal layar dan  kincir angin untuk menggiling gandum. Saat ini, energi angin digunakan sebagai pembangkit  listrik  dengan turbin  angin.  Energi  angin  sangat  tergantung  dengan keadaan angin.

3. Hydropower
 

        Air  yang  mengalir  dari  hulu  ke  hilir.  Energi  hydropower  sangat  bergantung dengan curah hujan. Seperti yang kita ketahui, panas matahari menyebabkan air di danau dan lautan menguap dan membentuk awan. Air kemudian jatuh kembali ke bumi sebagai hujan atau salju, dan mengalir ke sungai dan sungai yang mengalir kembali ke laut. . Tenaga air sudah cukup dikembangkan dan ada banyak pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang menghasilkan listrik di seluruh Indonesia.
        Pada umumnya, bendungan dibangun di seberang sungai untuk menampung air di mana sudah ada danau. Air selanjutnya dialirkan melalui lubang-lubang pada bendungan untuk menggerakkan baling-baling modern yang disebut dengan turbin untuk menggerakkan generator dan menghasilkan listrik. Akan tetapi, hampir semua program PLTA kecil di Indonesia merupakan program yang memanfaatkan aliran sungai dan tidak mengharuskan mengubah aliran alami air sungai.

4. Energi Biomassa 

        Kayu masih merupakan sumber yang paling umum dari energi biomassa, tetapi sumber-sumber lain dari energi biomassa meliputi tanaman pangan,  rumput,, limbah pertanian dan kehutanan, residu, komponen organik dari limbah kota dan industri, bahkan gas metana dari tempat pembuangan sampah. Biomassa dapat digunakan untuk menghasilkan listrik, sebagai bahan bakar untuk transportasi dll. Namun, tentu biomassa akan menghasilkan energi listrik yang berbau tidak sedap.

Ada empat jenis biomassa:

1. Bahan bakar padat limbah organik atau terurai di alam
        Kayu serta limbah pertanian bisa dibakar dan digunakan untuk menghasilkan uap dan listrik. Banyak listrik yang digunakan oleh industri menghasilkan limbah yang bisa dipakai untuk menggerakkan mesin mereka sendiri (contoh: produsen furnitur).

2. Bahan bakar padat limbah anorganik
        Tidak semua limbah adalah organik, beberapa di antaranya bersifat anorganik, seperti plastik.  Pembangkit  listrik  yangmemanfaatkan  sampah  untuk  menghasilkan  energi disebut pembangkit listrik tenaga sampah. Pembangkit listrik bekerja dengan cara yang sama sebagai pembangkit listrik tenaga batubara, kecuali bahan bakar tersebut bukan bahan bakar fosil tetapi sampah yang bisa dibakar.

3. Bahan Bakar Gas
        Sampah yang ada di tempat pembuangan sampah akan membusuk dan menghasilkan gas metan.  Jika  gas  metan  tersebut  ditampung,  maka  bisa  langsung  dmanfaatkan  untuk dibakar  yang  menghasilkan  panas  untuk  penggunaan  praktis  atau  digunakan  pada pembangkit listrik untuk menghasilkan listrik. Metan bisa juga dihasilkan dengan menggunakan kotoran hewan dan manusia dalam metode yang terkendali.
Biodigester adalah wadah kedap udara di mana limbah atau kotoran difermentasi dalam kondisi tanpa oksigen melalui proses yang dinamakan pencernaan anaerob untuk menghasilkan gas yang mengandung banyak metan. Gas ini bisa dipakai untuk memasak, memanaskan & membangkitkan listrik.
        Gasifikasi adalah proses untuk menghasilkan gas yang bisa dipakai sebagai bahan bakar untuk pembangkit listrik. Dalam proses gasifikasi, biomassa dengan biaya murah, seperti batubara atau limbah pertanian dibakar sebagian dan gas sintetik yang dihasilkan dikumpulkan   dan   digunakan   untuk   pemanas   dan   pembangkit   listrik.   Dengan menggunakan teknik lebih lanjut lagi, maka gas sintetik bisa dikonversi menjadi minyak solar sintetik/bahan bakar dari sumber hayati (biofuel) berkualitas tinggi, yang setara dengan minyak solar yang digunakan untuk menggerakkan mesin diesel konvensional.

4. Bahan Bakar Hayati Berbentuk Cair
        Bahan bakar hayati adalah bahan bakar untuk kendaraan bermotor atau mesin. Bahan bakar ini bisa digunakan sebagai tambahan atau menggantikan bahan bakar konvensional untuk mesin. Bioethanol adalah alkohol yang dibuat melalui proses fermentasi gula yang terkandung pada tanaman pangan (contoh: tebu, ubi kayu atau jagung), dan digunakan sebagai  tambahan  untuk  bensin.  Biodiesel  dibuat  dari  minyak  sayur  (misal:  Minyak Sawit, Jatropha Curcas, Minyak Kelapa, atau Minyak Kedelai, atau Limbah Minyak Sayur/WVO.  Biodiesel bisa digunakan sendiri atau sebagai tambahan pada mesin diesel tanpa memodifikasi mesin.

5. Energi Gas Hidrogen

        Gas hidrogen memiliki potensi yang luar biasa sebagai sumber bahan bakar dan energi, tetapi teknologi yang dibutuhkan untuk mewujudkan potensi ini masih dalam tahap awal. Hidrogen adalah elemen paling umum di bumi. Air merupakan dua-pertiga bagian dari hidrogen, tapi hidrogen di alam selalu ditemukan dalam kombinasi dengan unsur lainnya. Setelah dipisahkan dari unsur-unsur lain, hidrogen dapat digunakan untuk menggerakkan kendaraan, menggantikan gas alam untuk pemanasan dan memasak, dan untuk menghasilkan listrik.  Hidrogen dapat dicampur dengan gas alam dan menciptakan bahan bakar untuk kendaraan. Hidrogen juga digunakan pada kendaraan yang menggunakan listrik sebagai bahan bakarnya. Walaupun begitu, harga untuk penggunaan hidrogen masih relatif mahal.

6. Energi Panas Bumi

        Energi panas bumi adalah energi panas yang berasal dari dalam Bumi. Pusat Bumi cukup panas untuk melelehkan bebatuan. Tergantung pada lokasinya, maka suhu Bumi meningkat satu derajat Celsius setiap penurunan 30 hingga 50 m di bawah permukaan tanah. Suhu Bumi 3000 meter di bawah permukaan cukup panas untuk merebus air. Kadang-kadang, air Tenaga Air Energi Panas Bumi memanfaatkan sampah untuk menghasilkan energi disebut pembangkit listrik tenaga sampah. Pembangkit listrik ini bekerja dengan cara yang sama sebagai pembangkit listrik tenaga batubara, kecuali bahan bakar tersebut bukan bahan bakar fosil tetapi sampah yang bisa dibakar. 
Pembangkit  listrik  tenaga  panas  bumi  (PLTPB)  adalah  seperti  pembangkit listrik tenaga batu bara biasa, hanya tidak memerlukan bahan bakar. Uap atau air panas langsung berasal dari bawah tanah dan menggerakkan turbin yang dihubungkan dengan generator yang menghasilkan listrik.Lubang-lubang dibor ke dalam tanah dan uap atau air panas keluar dari pipa-pipa dialirkan ke pembangkit listrik tenaga panas bumi untuk menghasilkan listrik.
        Tenaga panas bumi bersifat terbarukan selama air yang diambil dari Bumi dimasukkan kembali secara terus-menerus ke dalam tanah setelah didinginkan di pembangkit listrik. Tidak banyak tempat di mana PLTPB bisa dibangun, karena perlu menemukan lokasi dengan jenis bebatuan yang sesuai dengan kedalaman di mana memungkinkan untuk melakukan pemboran ke dalam tanah dan mengakses panas yang tersimpan.

7. Energi Gelombang Air Laut
        Ombak laut yang selalu beralun disebabkan oleh angin yang meniup di atas laut. Ombak laut memiliki potensi menjadi sumber energi yang hebat jika bisa dimanfaatkan dengan benar. Ada beberapa metode untuk memanfaatkan energi ombak. Ombak bisa ditangkap dan dinaikkan ke bilik dan udara dikeluarkan paksa dari bilik tersebut. Udara yang bergerak menggerakkan turbin (seperti turbin angin) yang menggerakkan generator untuk menghasilkan listrik.
      Lautan menyediakan beberapa bentuk energi terbarukan, dan masing-masing didorong oleh kekuatan yang berbeda. Energi dari gelombang laut dan pasang surut dapat dimanfaatkan  untuk  menghasilkan  listrik,  dan  energi  termal  laut  dari  panas  yang tersimpan  dalam  air  laut  dapat  juga  diubah  menjadi  listrik.  Meskipun  pada  masa sekarang, energi laut memerlukan teknologi yang mahal dibandingkan dengan sumber energi terbarukan lainnya, selain itu energi  yang dihasilkan oleh gelombang air laut  hanya bisa digunakan di sekitar daerah laut saja. Tapi laut tetap penting sebagai sumber energi potensial untuk masa depan.

8. Energi Ethanol

            Merupakan bahan bakar yang berbasis alkohol dari fermentasi tanaman, seperti jagung dan gandum. Bahan bakar ini dapat dicampur dengan bensin untuk meningkatkan kadar oktan dan kualitas emisi. Namun, ethanol memiliki dampak negatif terhadap harga pangan dan ketersediannya.

9. Energi Gas Alam

        Gas alam sudah banyak digunakan di berbagai negara yang biasanya untuk bidang yang cukup besar seperti properti dan bisnis. Jika digunakan untuk kendaraan, polusi   yang   dikeluarkan   akan  lebih   ramah   lingkungan   dibandingkan   dengan minyak. Akan tetapi, efek rumah kaca yang dihasilkannya 21 kali lebih buruk, karena metana yang dihasilkan energi gas alam tersebut. 

10. Energi Propana

        Propana atau yang biasa dikenal dengan LPG merupakan produk dari pengolahan gas alam dan minyak mentah. Sumber tenaga ini sudah banyak digunakan sebagai bahan bakar. Propana   menghasilkan   polusi   lebih   sedikit   dibandingkan   bensin,   namun penciptaan metananya lebih buruk 21 kali lipat yang dapat menyebabkan meningkatnya efek rumah kaca.

11. Energi Biodiesel

        Biodiesel merupakan energi yang berasal dari tumbuhan atau lemak binatang. Biodesel yang murni atau campuran dapat digunakan sebagai energi untuk menggerakan kendaraan. Biodiesel mampu mengurangi polusi yang ada, akan tetapi terbatasnya produk dan infrastruktur menjadi masalah pada sumber energi ini. 

12. Energi Methanol

        Methanol yang juga dikenal sebagai alkohol kayu dapat menjadi energi alternatif pada kendaraan. Methanol dapat menjadi energi alternatif yang penting di masa depan karena hidrogen yang dihasilkan dapat menjadi energi juga. Namun, sayangnya sekarang ini produsen kendaraan tidak lagi menggunakan methanol sebagai bahan bakar.

13.P-Series

        P-series  merupakan  gabungan  dari  ethanol,  gas  alam,  dan metyhltetrahydrofuran (MeTHF). P-series sangat efektif dan efisien karena oktan yang terkandung  cukup  tinggi.  Penggunaannya  pun  sangat  mudah  jika  ingin  dicampurkan tanpa  ada  proses  dengan  teknologi  lain.  Akan  tetapi,  hingga  sekarang  belum  ada produsen  kendaraan  yang  menciptakan  kendaraan  dengan  bahan  bakar  fleksibel  ini.

14. Energi Piezoelektrik

Piezoelektrik merupakan sistem yang dapat mengubah gaya mekanik, khususnya  gaya tekanan  menjadi energi listrik.  Piezoelektrik ini biasanya digunakan untuk menghasilkan listrik di tempat-tempat umum seperti contohnya stasiun kereta di Jepang dan Disco House di London. Jadi piezoelektrik ini mengunakan gaya tekanan yang dihasilkan oleh manusia itu sendiri yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik di area tersebut. Namun sayangnya penggunaan energi piezoelektrik belum sepenuhnya diterapkan di dunia.

15. Energi Pasang Surut

Dua kali sehari, air pasang naik dan turun menggerakkan volume air yang sangat banyak saat tingkat air laut naik dan turun di sepanjang garis pantai. Energi air pasang bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik seperti halnya listrik tenaga air tetapi dalam skala yang lebih besar. Pada saat air pasang, air bisa ditahan di belakang bendungan. Ketika surut, maka tercipta perbedaan ketinggian air antara air pasang yang ditahan di bendungan dan air laut, dan air laut di belakang bendungan bisa mengalir melalui turbin yang berputar, untuk menghasilkan listrik. Memang tidak mudah membangun penahan air pasang ini, karena pantai harus terbentuk secara alami dalam bentuk kuala, dan hanya 20 lokasi di seluruh dunia yang telah diidentifikasi sebagai tempat yang berpotensi untuk dimanfaatkan energi pasang surut.

2.4 Potensi Energi Baru Terbarukan di Indonesia

    Indonesia memiliki Potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) yang cukup besar diantaranya, mini/micro hydro sebesar 450 MW, Biomass 50 GW, energi surya 4,80 kWh/m2/hari, energi angin 3-6 m/det dan energi nuklir 3 GW. Data potensi EBT terbaru disampaikan Direktur Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi dalam acara Focus Group  Discussiontentang Supply-Demand Energi  Baru  Terbarukan  yang  belum  lama  ini diselenggarakan Pusdatin ESDM.
        Saat  ini  pengembangan  EBT  mengacu  kepada  Perpres  No. 5  tahun 2006  tentang Kebijakan Energi Nasional. Dalam Perpres disebutkan kontribusi EBT dalam bauran energi primer nasional pada tahun 2025 adalah sebesar 17% dengan komposisi Bahan Bakar Nabati sebesar 5%, Panas Bumi 5%, Biomasa, Nuklir, Air, Surya, dan Angin 5%, serta batubara yang dicairkan sebesar 2%. Untuk itu langkah-langkah yang akan diambil Pemerintah adalah menambah kapasitas terpasang Pembangkit Listrik Mikro Hidro menjadi 2,846 MW pada tahun 2025, kapasitas terpasang Biomasa 180 MW pada tahun 2020, kapasitas terpasang angin (PLT Bayu) sebesar 0,97 GW pada tahun 2025, surya 0,87 GW pada tahun 2024, dan nuklir 4,2 GW pada tahun 2024. Total investasi yang diserap pengembangan EBT sampai tahun 2025 diproyeksikan sebesar 13,197 juta USD.
        Upaya   yang   dilakukan   untuk   mengembangkan   biomasa   adalah   mendorong pemanfaatan  limbah  industri  pertanian  dan  kehutanan  sebagai  sumber  energi  secara terintegrasi dengan industrinya,  mengintegrasikan pengembangan biomassa dengan kegiatan ekonomi masyarakat, mendorong  pabrikasi teknologi konversi energi biomassa dan usaha penunjang, dan meningkatkan penelitian dan pengembangan pemanfaatan limbah termasuk sampah kota untuk energi.
        Upaya untuk mengembangkan energi angin mencakup pengembangan energi angin untuk listrik dan non listrik (pemompaan air untuk irigasi dan air bersih), pengembangkan teknologi energi angin yang sederhana untuk skala kecil (10 kW) dan skala menengah (50 -100 kW) dan mendorong pabrikan memproduksi SKEA skala kecil dan menengah secara massal.
        Pengembangan   energi   surya   mencakup   pemanfaatan   PLTS   di   perdesaan   dan perkotaan, mendorong komersialisasi PLTS dengan memaksimalkan keterlibatan swasta, mengembangkan industri PLTS dalam negeri, dan mendorong terciptanya sistem dan pola pendanaan yang efisien dengan melibatkan dunia perbankan.
        Untuk  mengembangkan  energi  nuklir,  langkah-langkah  yang  dambil  pemerintah adalah melakukan sosialisasi untuk mendapatkan dukungan masyarakat dan melakukan kerjasama    dengan    berbagai    negara    untuk    meningkatkan    penguasaan    teknologi.
        Sedang  langkah-langkah  yang  dilakukan  untuk  pengebangan  mikrohidro  adalah dengan mengintegrasikan program pengembangan PLTMH dengan kegiatan ekonomi masyarakat, memaksimalkan potensi saluran irigasi untuk PLTMH, mendorong industri mikrohidro dalam negeri, dan mengembangkan berbagai pola kemitraan dan pendanaan yang
efektif.
        Untuk   mendukung   upaya   dan   program   pengebangan   EBT,   pemerintah   sudah menerbitkan  serangkaian  kebijakan  dan  regulasi  yang  mencakup  Peraturan  Presiden  No. 5/2006 tentang Kebijakan Energi Nasional, Undang-Undang No. 30/2007 tentang Energi, Undang-undang No. 15/1985 tentang Ketenagalistrikan, PP No. 10/1989 sebagaimana yang telah diubah dengan PP No. 03/2005 Tentang Perubahan Peraturan Pemerintah No. 10 Tahun 1989   tentang Penyediaan  dan  Pemanfaatan Tenaga  Listrik  dan  PP  No. 26/2006  tentang
            Penyediaan   &   Pemanfaatan   Tenaga   Listrik,   Permen   ESDM   No.   002/2006   tentang 
Pengusahaan Pembangkit Listrik Tenaga Energi Terbarukan Skala Menengah, dan Kepmen ESDM No.1122K/30/MEM/2002 tentang Pembangkit Skala Kecil tersebar. Saat ini sedang disusun RPP Energi Baru Terbarukan  yang  berisi pengaturan kewajiban penyediaan dan pemanfaatan energi baru dan energi terbarukan dan pemberian kemudahan serta insentif.

2.4 Kelebihan Dan Kekurangan Energi Terbarukan

  • Kelebihan/keunggulannya:
1. Tersedia secara melimpah
2. Lestari tidak akan habis
3. Ramah lingkungan (rendah atau tidak ada limbah dan polusi)
4. Sumber energi bisa dimanfaatkan secara cuma-cuma dengan investasi teknologi yang sesuai
5. Tidak  memerlukan  perawatan  yang  banyak  dibandingkan  dengan  sumber-sumber energi konvensional dan mengurangi biaya operasi.
6. Membantu mendorong perekonomian dan menciptakan peluang kerja
7. 'Mandiri' energi, tidak perlu mengimpor bahan bakar fosil dari luar negeri
8. Lebih murah dibandingkan energi konvensional dalam jangka panjang
9. Bebas dari fluktuasi harga pasar terbuka bahan bakar fosil
10. Beberapa teknologi mudah digunakan di tempat-tempat terpencil
11. Distribusi Energi bisa diproduksi di berbagai tempat, tidak tersentralisir. 
  • Kekurangan dari energi terbarukan
1. Biaya awal besar
2.Kehandalan pasokan Sebagian besar energi terbarukan tergantung kepada kondisi cuaca.
3. Saat ini, energi konvensional menghasilkan lebih banyak volume yang bisa digunakan dibandingkan dengan energi terbarukan.
4. Energi tambahan yang dihasilkan energi terbarukan harus disimpan, karena infrastruktur belum lengkap agar bisa dengan segera menggunakan energi yang belum terpakai,  dijadikan  cadangan  di negara-negara  lain  dalam  bentuk  akses  terhadap jaringan listrik.
5. Kurangnya tradisi/pengalaman Energi terbarukan merupakan teknologi yang masih berkembang
6. Masing-masing energi terbarukan memiliki kekurangan teknis dan sosialnya sendiri. 


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

        Energi  terbarukan  adalah  sumber-sumber  energi  yang  bisa  habis  secara  alamiah. Energi terbarukan berasal dari elemen-elemen alam  yang tersedia di bumi dalam jumlah besar, misal: matahari, angin, sungai, tumbuhan dsb. Energi terbarukan merupakan sumber energi paling bersih yang tersedia di planet ini. Ada beragam jenis energi terbarukan, namun tidak semuanya bisa digunakan     di     daerah-daerah     terpencil     dan     perdesaan. Tenaga Surya, Tenaga Angin, Biomassa dan Tenaga Air adalah teknologi yang paling sesuai untuk  menyediakan  energi  di  daerah-daerah  terpencil  dan  perdesaan.  Energi  terbarukan lainnya termasuk Panas Bumi dan Energi Pasang Surut adalah teknologi yang tidak bisa dilakukan di semua tempat.

    Indonesia memiliki Potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) yang cukup besar diantaranya, mini/micro hydro sebesar 450 MW, Biomass 50 GW, energi surya 4,80 kWh/m2/hari, energi angin 3-6 m/det dan energi nuklir 3 GW. Data potensi EBT terbaru disampaikan Direktur Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi dalam acara Focus Group  Discussiontentang Supply-Demand Energi  Baru  Terbarukan  yang  belum  lama  ini diselenggarakan Pusdatin ESDM .



DAFTAR PUSTAKA

Energi, K., & Mineral, S. D. (2008). Potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) Indonesia. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, 24.

Silitonga, A. S., & Ibrahim, H. (2020). Buku Ajar Energi Baru dan Terbarukan. Deepublish.

Indonesia, C. E. (2018). Buku Panduan Energi yang Terbarukan. Jakarta: PNPM Mandiri.

Purba, B., Nainggolan, L. E., Siregar, R. T., Chaerul, M., Simarmata, M. M., Bachtiar, E., ... & Meganingratna, A. (2020). Ekonomi Sumber Daya Alam: Sebuah Konsep, Fakta dan Gagasan. Yayasan Kita Menulis.



Kamis, 02 Juni 2022

Penerapan Aturan, Kebijakan, dan Pengawasan pada Perkembangan Industri Terhadap Lingkungan

Sektor industri merupakan salah satu sektor besar yang membuat banyak perubahan di dunia ini yang dimana manusia memproduksi dan mengolah segala sumber daya hayati maupun non hayati baik dalam bentuk barang maupun jasa. Revolusi industri pertama kali terjadi sekitar abad 18, dimana pada saat itu sektor pertanian mengalami kemajuan dan urban. Mulai dari Kereta api lintas benua, mesin uap, listrik, hingga penemuan-penemuan lain yang mengubah dunia dari masa ke masa. Hingga saat ini revolusi industri telah memasuki Revolusi Industri ke empat atau Revolusi Industri 4.0.



Saat ini Indonesia dalam proporsi ekonominya dapat dikategorikan sebagai sebuah negara industri. Dimana sektor Industri memainkan peranan pentingnya sebagai penggerak dan penopang utama bagi perekonomian nasional. Bahkan, sektor industri manufaktur merupakan sektor pendorong utama bagi Indonesia untuk keluar dari resesi. Namun dari berkembangnya industri tersebut tentu membawa dampak, baik itu bagi lingkungan hidup maupun habitat faunanya. Sebab sudah banyak kasus kerusakan lingkungan hidup yang disebabkan oleh dampak dari perjalanan industri. 

Dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh ahli. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa berdasarkan pengambilan sample kondisi lingkungannya, keadaan sumber air bersih, pengambilan sampel kualitas udara di lingkungan permukiman penduduk sekitar industri, pengambilan sample air limbah industri, air sungai tempat pembuangan limbah industri bahwa keadaan ventilasi dan pencahayaan perumahan yang mereka miliki memenuhi syarat kesehatan, namun keadaan kebersihan lingkungan perumahan 75,50% kotor. Jarak sumber air bersih yang mereka gunakan dengan sumber pencemaran tidak memenuhi persyaratan yang dianjurkan karena jaraknya dengan sumber pencemaran 77,1% berjarak < 10 m. Kualitas kimia (Cd, Cu, Pb dan Cr) air bersih pada musim hujan tidak memenuhi persyaratan yang dianjurkan. Kualitas udara (NO2, SO2, TSPl)di sekitar industri dan perumahan sudah mulai tercemar meskipun belum melewati nilai ambang batas yang diperkenankan. Keadaan penyakit ISPA, kulit dan diare pada musim hujan lebih tinggi dibandingkan musim kemarau dan angkanya di bawah gambaran 10 besar penyakit di Kabupaten Karawang.

 


Hal ini menuntut perusahaan untuk melakukan perbaikan untuk memelihara kelestarian lingkungan di masa depan. Dari beberapa kasus kerusakan lingkungan, telah dibuatkan aturan agar dapat menekan kelajuan kerusakan lingkungan, yaitu seperti:

1. Polusi Udara

Karbon dioksida (CO2) yang dikeluarkan oleh otomotif di area kota dan industri telah melewati batas  ambang  keselamatan.  Polusi  yang ditimbulkan oleh  pabrik-pabrik  industri  berat dapat menyebabkan  hujan  asam  yang  merusak  hutan.  Peraturan  menggunakan saringan udara, dan teknologi pengurangan emisi sulphur dikeluarkan.

2.  Pencemaran Tanah

Dua  isu utama  yang dihadapi  saat  ini adalah: 1)  bagaimana  memulihkan kerusakan kualitas tanah yang tererosi oleh polusi dalam proses produksi yang dilakukan oleh perusahaan, dan 2) bagaimana mencegah kerusakan kualitas  tanah,  yaitu  mengeluarkan  berbagai  kebijakan  pemerintah  yang efektif dalam membatasi limbah industri dan penanganan sampah kota.

3. Pencemaran Air

Banyak  terjadi  kasus  industri  membuang  limbah-industri  ke  sungai, danau atau laut. Keracunan penghuni sungai dan laut semakin merajalela. Dampak tidak langsung yang terjadi  pada  manusia  sebagian  besar  pemerintah  kota  negara industri  mengeluarkan  undang-undang  kualitas  air  sungai.  Larangan penggunaaan phosphat. Masih banyak proses dumping sisa oli mobil, air limbah rumahtangga dan deterjen.


Selain menggunakan kebijakan yang dibuat melalui undang-undang, sistem pengawasan lingkungan industri dan perusahaan di Indonesia juga ada seperti AMDAL dan IPAL 

Apa itu AMDAL?

Analisis dampak lingkungan atau sering disebut AMDAL (bahasa Inggris: Environmental impact assessment) atau Analisis mengenai dampak lingkungan (di Indonesia, dikenal dengan nama AMDAL) adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan di Indonesia. AMDAL ini dibuat saat perencanaan suatu proyek yang diperkirakan akan memberikan pengaruh terhadap lingkungan hidup di sekitarnya. Yang dimaksud lingkungan hidup di sini adalah aspek abiotik, biotik dan kultural. Dasar hukum AMDAL di Indonesia adalah Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 2012 tentang "Izin Lingkungan Hidup" yang merupakan pengganti PP 27 Tahun 1999 tentang Amdal. Amdal telah dilaksanakan sejak 1982 di Indonesia.


Apa itu IPAL?

Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) secara komunal dapat digunakan untuk pengelolaan limbah cair di pemukiman padat penduduk, kumuh, dan rawan sanitasi. Dusun Sukunan, Kabupaten Sleman, DIY telah memiliki IPAL untuk mengolah tinja dan air limbah dari 25-30 rumah. 2 Sistem IPAL yang digunakan adalah Rotary Biological Contact dan Contact Aeration yang keduanya merupakan jenis pengolahan yang memanfaatkan dua siklus aerob dan anaerob. Setelah dilakukan proses pengolahan kemudian air dialirkan untuk dapat masuk ke sumur resapan.



 

Kesimpulan

Kesehatan lingkungan di bumi ini merupakan factor penting dalam kehidupan manusia yang bahkan salah satu unsur penentu atau determinan terhadap kesejahteraan dan keharmonisan manusia. Meskipun industry merupakan sector utama dalam perkembangan ekonomi masyarakat, jika tidak adanya pengawasan dan pengontrolan dari output proses industri tersebut maka hal itu akan berakibat fatal terhadap lingkungan dan makhluk hidup sekitarnya. Selain support masyarakat sekitar, ataupun informasi-informasi media social yang aktif membahas terkait isu Kesehatan lingkungan pada dunia industry, perlu adanya kebijakan dan penerapan sanksi yang ketat terhadap para pengelola usaha sebagai bentuk upaya pemerintah dalam melindungi kelestarian lingkungan.




Referensi:

1. Industri Yes, Lingkungan Rusak No! - https://youtu.be/r-yCgfrFd7U 

2.https://www.bkpm.go.id/id/publikasi/detail/berita/industri-manufaktur-untuk-percepatan-pertumbuhan-ekonomi-indonesia

3. http://r2kn.litbang.kemkes.go.id:8080/handle/123456789/20292

4. https://dlh.bulelengkab.go.id/informasi/detail/artikel/pengertian-amdal-46

Hakikat Kehidupan Manusia dengan Alam, dan Keharmonisannya

Pada dasarnya, kehidupan manusia sangat bergantung kepada alam mulai dari air, udara, tanah, dan energinya selama ribuan tahun. Dan sumber energi yang ada di bumi ini sangat berlimpah, ada sumber energi yang dapat terbaharui, ada pula sumber energi yang tidak dapat diperbaharui dan akan habis terpakai. Dalam system kosmos, manusia dan alam semesta merupakan kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Dan Seluruh unsur komponen yang ada di bumi ini saling terhubung dan mempengaruhi satu sama lainnya. Maka dengan itu sesuatu ataupun seseorang sakit, rusak, atau terkena bencana maka seluruh isi dunia pun sebenarnya merasakannya.

Pada hakikatnya, hubungan manusia dengan alam semesta dibagi menjadi tiga pola interaksi yaitu; (a) manusia tunduk kepada kekuatan alam; (b) manusia harus berusaha mencari keselarasan hidup dengan alam; dan (c) manusia mentaklukan alam.

Alam di bumi memiliki keunggulan dalam system kesadaran yang di mana alam semesta menjadi objek sangat penting untuk kehidupan manusia. Beberapa tinjauan kajian ilmiah tentang alam dapat mendekatkan manusia kepada penciptanya. Hal inilah yang dapat mengartikan bahwa manusia dapat mempertajam persepsi pandangan untuk mendapatkan suatu penglihatan yang lebih dalam. Dapat kita pahami bahwa pengetahuan tentang alam akan menambah pandangan yang luas tak terhingga.

Hubungan manusia dan alam semestanya sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai kearifan dan budaya yang dianut sebagai pandangan hidup sebagai kehidupan bermasyarakat. Menjaga lingkungan alam sangat penting agar bencana alam di bumi ini tidak terjadi. Dengan terjaganya keharmonisan alam makrosistem kehidupan dapat tercapai. Maka dengan itu hal ini bukanlah suatu yang sepele dan bisa dikerjakan sendiri oleh satu manusia saja. Butuh kerja sama dan kesadaran antara masyarakat, dan pemerintahnya demi lingkungan yang lestari.  Namun seiring berkembangnya kehidupan manusia menyebabkan pola kehidupannya pun berubah sangat cepat dan jauh dari konsep hidup harmoni dengan alam. Salah satu cara mendorong penahanan kelajuan kerusakan iklim dan lingkungan alam dengan pendekatan manusia dengan alamnya yaitu menerapkan model baru sistem tentang eco/ ekologi.

 

Apa itu Eco?

Ekologi berasal dari kata Oikos  (bahasa Yunani) yang berarti rumah tangga dan Logos yang berarti studi atau mempelajari. Jadi ekologi adalah ilmu yang membahas rumah tangga (makhluk hidup). Dengan kata lain, ekologi mempelajari lingkungan rumah tangga dari seluruh makhluk hidup di dalam rumah tangganya, serta seluruh proses yang berfungsi untuk memungkinkan rumah itu dihuni para penghuninya (Odum 1983: 1-2). Ekologi mengungkapkan secara utuh menyeluruh pola, tatanan dan hubungan timbal-balik antara makhluk hidup sesamanya dengan semua faktor dalam lingkungan hidupnya itu. Lingkungan hidup ibarat rumah bagi kita.



Saat ini, ada beberapa masalah lingkungan yang berkaitan dengan ekologi (contoh Miller 2001), di antaranya:

  • Penggunaan atau eksploitasi sumber daya tanpa memperhatikan pencegahan pencemaran dan produksi limbah.

  • Pertumbuhan populasi penduduk yang begitu cepat.

  • Kegagalan sistem ekonomi dan dan politik untuk mendorong pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

  • Kegagalan sistem ekonomi dan dan politik untuk menghargai lingkungan.

  • Usaha untuk mendominasi dan mengelola lingkungan tanpa bekal pengetahuan tentang ekologi.

  • Kemiskinan, yang dapat mendorong pemakaian sumberdaya secara tidak berkelanjutan untuk kepentingan jangka pendek (beresiko terhadap keselamatan dan lingkungan).

  • Penyusutan / degradasi sistem pendukung kehidupan (life supporting system).

  • Dan lain lain

Literasi   ekologi   atau  ecoliterasi  adalah   kesadaran   masyarakat   tentang prinsip-prinsip   pentingnya   menjaga   lingkungan   hidup   yang   diwujudkan   dengan pembangunan   berkelanjutan,   baik   pada   tingkat   global,   nasional,   ataupun   daerah. Sebuah   kelompok   masyarakat   yang   menguasai   literasi   ekologi   akan   menata kehidupannya  dengan   bertumpu   pada  kesadaran   tentang  pentingnya  lingkungan hidup   Prinsip-prinsip   itu   menekankan   pentingnya   jejaring   (networks),   siklus (cycles),   energi   surya   (solar   energy),   kemitraan   (pertnership),   keanegaramaan (diversity),   dan   keseimbangan   dinamis   (dynamic   balance)   (Capra,   1997:   297; Capra, 2004: 201-202). Literasi   ekologi   menjadi   landasan   dalam   menentukan   orientasi   hakikat hubungan   manusia   dengan   alam   sekitar.

Selain dengan sistem ekologi, kita juga dapat ikut serta membantu melestarikan lingkungan Bersama komunitas-komunitas kelestarian lingkungan hidup seperti

  • · bercocok tanam dengan bijak
  • ·       Menggunakan alat tidak sekali pakai
  • ·       Mereboisasi pohon
  • ·       Melakukan AMDAL
  • ·       Menjaga kelestarian hutan.












Referensi:
1. LINGKUNGAN HARMONI DAN UTUH YANG DIDAMBAKAN SETIAP ORANG (#BINCANGLINGKUNGAN 005) - https://youtu.be/Dgv68-Suq6Q
2. https://kemenag.go.id/read/alam-semesta-sebagai-sarana-kehidupan-xke82
2. https://www.anekamakalah.com/2012/03/manusia-dan-alam-semesta.html
3. https://zerowaste.id/zero-waste-lifestyle/ekologi-dan-eco-literacy/