Tampilkan postingan dengan label @TB10. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @TB10. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 25 Februari 2017
Sabtu, 18 Februari 2017
PEMANFAATAN SAMPAH PLASTIK
Kimia Hijau berupaya semaksimal mungkin
mengurangi dampak negatif dari berbagai proses kimia terhadap kesehatan manusia
dan kelestarian lingkungan.
Label:
@B04-Na'im,
@B12-Virna,
@C28-Yoppy,
@TB10
KIMIA HIJAU
Kimia hijau, juga disebut kimia berkelanjutan, adalah filsafat penelitian dan rekayasa/teknik kimia yang menganjurkan desain produk dan proses yang meminimasi penggunaan dan penciptaan senyawa-senyawa berbahaya. Sementara kimia lingkungan adalah cabang kimia yang membahas lingkungan hidup dan zat-zat kimia di alam, kimia hijau justru berupaya mencari cara untuk mengurangi dan mencegah pencemaran pada sumbernya. Pada tahun 1990 Pollution Prevention Act (Undang-Undang Pencegahan Pencemaran) telah disahkan di Amerika Serikat.
Label:
@C13-Helfrin,
@C20-Hari,
@C35-Sultana,
@TB10
Energi terbarukan
Energi
terbarukan merupakan sumber energi alam yang dapat langsung dimanfaatkan dengan
bebas. Selain itu, ketersediaan energi terbarukan ini tak terbatas dan bisa
dimanfaatkan secara terus menerus. Adapun contoh dari energi terbarukan ini
adalah sebagai berikut:
Pengelolahan sampah menjadi biji plastik PT Multi Sejahtera Persada
Sampah plastik merupakan masalah lingkungan hidup di
Indonesia dan dunia. Bagaimana kecenderungan, sebab, dampak dan alternatif
solusi sampah plastik?. Artikel ini akan membahas masalah pencemaran sampah
jenis plastik tersebut.
Penggunaan berbagai produk berbahan baku plastik dan
penggunaannyasecara tidak ramah lingkungan menyebabkan berbagai masalah
lingkungan hidup yang serius. Sampah plastik tidak hanya menjadi masalah di
perkotaan, namun juga di lautan. Dampak negatif sampah berbahan plastik tidak
hanya merusak kesehatan manusia, membunuh berbagai hewan dilindungi, tetapi
juga merusak lingkungan secara sistematis. Jika tidak dikelola serius,
pencemaran sampah jenis ini akan sangat berbahaya bagi kelanjutan planet bumi.
Sampah plastik adalah salah satu sumber pencemaran
lingkungan hidup di Indonesia. Plastik merupakan produk serbaguna, ringan,
fleksibel, tahan kelembaban, kuat, relatif murah. Karena berbagai kemudahan
tersebut, seluruh dunia bernafsu untuk menghasilkan lebih banyak produk
berbahan baku plastik. Namun, tanpa disadari, karakter dasar plastik, ditambah
cara penggunaan yang tidak ramah lingkungan, ia justru merusak lingkungan
hidup.
Manfaat penggunaan produk plastik harus diimbangi dengan
kalkulasi dampak negatif yang dihasilkannya. Dalam satu hal, penggunaan plastik
memang menjaga produk segar lebih tahan lama. Penggunaan plastik juga
memungkinkan pembuatan peralatan kesehatan, meningkatkan efisiensi
transportasi, memiliki potensi besar digunakan dalam teknologi energi
terbarukan. Meski demikian, bahaya akibat sampah plastik, zat aditif beracun
dalam plastik – pewarna plastik, bahan baku seperti bisphenol A (BPA) – telah
meningkatkan kesadaran konsumen untuk produk yang lebih ramah lingkungan.
Bagaimana cara mengubah sampah plastic menjadi biji plastic?
1. Giling dengan mesin penghancur plastic (mesin
giling plastic)
perhatikan gambar diatas , itu adalah crusher yang berfungsi untuk menggiling limbah plastik menjadi serpihan
kecil-kecil , cara kerjanya adalah dengan cara
menggunting , plastik akan terpotong jika berada diantara kedua pisau yakni
diantara pisau putar dan pisau diam , yang berderet seperti gigi itu adalah
pisau putar jumlahnya 4 biji tiap baris , dan dalam satu lingkaran as ada 3 row
, jadi total dalam 1 mesin berjumlah 4x3=12 biji , sedangkan pisau yang lainnya
lagi adalah pisau diam, dia menempel pada dinding chamber.
Lelehkan plastic sampah dan cetak menjadi biji/pellet plastic
mesin extruder merupakan sebuah mesin yang dibuat khusus untuk mencetak berbagai macam bentuk kebutuhan manusia, secara global, cara kerja dari mesin extruder ini hampir sama dengan mesin injection molding. hanya saja perbedaanya tipis sekali, kalau pada mesin injection molding dalam mencetak satu persatu dan cetakannya berpisah dengan tabung screwnya , sedangkan pada mesin extruder dalam mencetak biasanya akan berkesinambungan dan hasilnya akan di potong oleh pisau, pada mesin extruder cetakannya menempel pada tabung yang didalamnya berisi screwnya.
Hasilnya seperti yang ada pada gambar berikut
Biji plastic yang sudah
menjadi pellet plastic ini bisa dijual ke berbagai perusahaan yang membutuhkan
material tersebut dengan berbagai spesifikasi material yang bisa dibuat
berdasarkan kebutuhan perusahaan tersebut untuk memnuhi standart dan kebutuhan
perusahaan tersebut.
Daftar pustaka:
Terima kasih untuk PT. Multi
Sejahtera Persada
Label:
@B23-Randy,
@B30-Mega,
@C27-Rivqi,
@TB10
Green Chemistry ( Limbah B3 )
Kimia hijau ( Green Chemistry ) adalah desain produk dan proses kimia yang berupaya mengurangi atau menghilangkan penggunaan zat berbahaya bagi makhluk hidup maupun lingkungan. Zat berbahaya disini adalah limbah hasil dari proses atau aktivitas . Salah satu cara sederhana yang bisa mewujudkan konsep Kimia Hijau adalah mengelola limbah/waste/sampah.
Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga). Dengan konsentrasi dan kuantitas tertentu, kehadiran limbah dapat berdampak negatif terhadap lingkungan terutama bagi kesehatan manusia atau bisa disebut pencemaran. Kali ini kita akan membahas salah satu limbah yaitu limbah B3 ( Bahan Berbahaya dan Beracun ).Jenis limbah B3 menurut sifatnya sesuai Peraturan Pemerintah, terdiri dari :
Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga). Dengan konsentrasi dan kuantitas tertentu, kehadiran limbah dapat berdampak negatif terhadap lingkungan terutama bagi kesehatan manusia atau bisa disebut pencemaran. Kali ini kita akan membahas salah satu limbah yaitu limbah B3 ( Bahan Berbahaya dan Beracun ).Jenis limbah B3 menurut sifatnya sesuai Peraturan Pemerintah, terdiri dari :
Label:
@C01-Dwezka,
@C03-Hanung,
@C14-Nanda,
@TB10,
TB10
Katalisis
Pengertian Katalis dan Katalisis
Katalis
adalah zat kimia yang mempengaruhi laju reaksi kimia pada suhu tertentu dengan
mengubah energi aktivasi yang diperlukan pada saat reaksi untuk diproses,
Sedangkan katalisis merupakan proses yang terjadi akibat adanya peran dari
katalis.
Label:
@B16-Nanda,
@B21-Hakim,
@C12-Sandi,
@TA10,
@TB10
KIMIA HIJAU
Kimia
Hijau / Green Chemistry
Green chemistry atau “kimia hijau” merupakan bidang kimia yang berfokus pada
pencegahan polusi. Pada awal 1990-an, green chemistry mulai dikenal secara
global setelah Environmental Protection Agency (EPA) mengeluarkan Pollution
Prevention Act yang merupakan kebijakan nasional untuk mencegah atau mengurangi
polusi. Green chemistry merupakan pendekatan untuk mengatasi masalah lingkungan
baik itu dari segi bahan kimia yang dihasilkan, proses ataupun tahapan reaksi
yang digunakan. Konsep ini menegaskan tentang suatu metode yang didasarkan pada
pengurangan penggunaan dan pembuatan bahan kimia berbahaya baik itu dari sisi
perancangan maupun proses. Bahaya bahan kimia yang dimaksudkan dalam konsep
green chemistry ini meliputi berbagai ancaman terhadap kesehatan manusia dan
lingkungan, termasuk toksisitas, bahaya fisik, perubahan iklim global, dan
penipisan sumber daya alam.
Istilah
kimia digunakan dalam “green chemistry” dimaksudkan karena melibatkan struktur
dan perubahan suatu materi.Perubahan tersebut pasti melibatkan energi sebagai
sumbernya. Oleh karena itu konsep green chemistry ini juga erat kaitannya
dengan energi dan penggunaannya baik itu secara langsung maupun yang tidak
langsung seperti penggunaan suatu material dalam hal pembuatan, penyimpanan dan
proses penyalurannya.
Green
chemistry merupakan pendekatan yang sangat efektif untuk mencegah terjadinya
polusi karena dapat digunakan secara langsung oleh para ilmuwan dalam situasi
sekarang. Konsep ini lebih memfokuskan pada cara pandang seorang peneliti untuk
menempatkan aspek lingkungan pada prioritas utama. Area penelitian dalam bidang
green chemistry ini meliputi pengembangan cara sintesis yang lebih ramah
lingkungan, penggunaan bahan baku yang terbarukan, merancang bahan kimia yang
green, serta penggunaan bioteknologi sebagai alternatif dalam industri (Sharma,
2008).
Anastas
dan Warner (1998) mengusulkan konsep“The Twelve Principles of Green Chemistry”
yang digunakan sebagai acuan oleh para peneliti untuk melakukan penelitian yang
ramah lingkungan. Berikut adalah prinsip kimia hijau yang diusulkan oleh
Anastas dan Warner :
- Mencegah timbulnya limbah dalam proses
Lebih
baik mencegah daripada menanggulangi atau membersihkan limbah yang timbul
setelah proses sintesis, karena biaya untuk menanggulangi limbah sangat besar. cara mencegah limbah yaitu
Reuse berarti menggunakan kembali sampah yang masih dapat digunakan untuk fungsi yang sama ataupun fungsi lainnya. Reduce berarti mengurangi segala sesuatu yang mengakibatkan sampah. Dan Recycle berarti mengolah kembali (daur ulang) sampah menjadi barang atau produk baru yang bermanfaat.
Reuse berarti menggunakan kembali sampah yang masih dapat digunakan untuk fungsi yang sama ataupun fungsi lainnya. Reduce berarti mengurangi segala sesuatu yang mengakibatkan sampah. Dan Recycle berarti mengolah kembali (daur ulang) sampah menjadi barang atau produk baru yang bermanfaat.
- Mendesain produk bahan kimia yang aman
Pengetahuan
mengenai struktur kimia memungkinkan seorang kimiawan untuk mengkarakterisasi
toksisitas dari suatu molekul serta mampu mendesain bahan kimia yang aman. Target
utamanya adalah mencari nilai optimum agar produk bahan kimia memiliki
kemampuan dan fungsi yang baik akan tetapi juga aman (toksisitas rendah).
Caranya adalah dengan mengganti gugus fungsi atau dengan cara menurunkan nilai
bioavailability.
- Mendesain proses sintesis yang aman
4.
Menggunakan
bahan baku yang dapat terbarukan
Penggunaan
bahan baku yang dapat diperbarui lebih disarankan daripada menggunakan bahan
baku yang tak terbarukan didasarkan pada alasan ekonomi. Bahan baku terbarukan
biasanya berasal dari produk pertanian atau hasil alam, sedangkan bahan baku
tak terbarukan berasal dari bahan bakar fosil seperti minyak bumi, gas alam,
batu bara, dan bahan tambang lainnya.
5.
Menggunakan
katalis
Penggunaan
katalis memberikan selektifitas yang lebih baik, rendemen hasil yang meningkat,
serta mampu mengurangi produk samping.Peran katalis sangat penting karena
diperlukan untuk mengkonversi menjadi produk yang diinginkan.Dari sisi green
chemistry penggunaan katalis berperan pada peningkatan selektifitas, mampu
mengurangi penggunaan reagen, dan mampu meminimalkan penggunaan energi dalam
suatu reaksi.
6.
Menghindari
derivatisasi dan modifikasi sementara dalam reaksi kimia
Derivatisasi
yang tidak diperlukan seperti penggunaan gugus pelindung, proteksi/deproteksi,
dan modifikasi sementara pada proses fisika ataupun kimia harus diminimalkan
atau sebisa mungkin dihindari karena pada setiap tahapan derivatisasi
memerlukan tambahan reagen yang nantinya memperbanyak limbah.
7.
Memaksimalkan
atom ekonomi
Metode
sintesis yang digunakan harus didesain untuk meningkatkan proporsi produk yang
diinginkan dibandingkan dengan bahan dasar.Konsep atom ekonomi ini mengevaluasi
sistem terdahulu yang hanya melihat rendemen hasil sebagai parameter untuk
menentukan suatu reaksi efektif dan efisiens tanpa melihat seberapa besar
limbah yang dihasilkan dari reaksi tersebut.Atom ekonomi disini digunakan untuk
menilai proporsi produk yang dihasilkan dibandingkan dengan reaktan yang
digunakan.Jika semua reaktan dapat dikonversi sepenuhnya menjadi produk, dapat
dikatakan bahwa reaksi tersebut memiliki nilai atom ekonomi 100%. Berikut
adalah persamaan untuk menghitung nilai atom ekonomi :
Atom ekonomi
(%) = x100%
8.
Menggunakan
pelarut yang aman
Penggunaan
bahan kimia seperti pelarut, ekstraktan, atau bahan kimia tambahan yang lain
harus dihindari penggunaannya. Apabila terpaksa harus digunakan, maka harus
seminimal mungkin. Penggunaan pelarut memang sangat penting dalam proses
sintesis, misalkan pada proses reaksi, rekristalisasi, sebagai fasa gerak pada
kromatografi, dan lain-lain. Penggunaan yang berlebih akan mengakibatkan polusi
yang akan mencemari lingkungan. Alternatif lain adalah dengan menggunakan
beberapa tipe pelarut yang lebih ramah lingkungan seperti ionic liquids,
flourous phase chemistry, supercritical carbon dioxide, dan“biosolvents”.Selain
itu ada beberapa metode sintesis baru yang lebih aman seperti reaksi tanpa
menggunakan pelarut ataupun reaksi dalam media air.
9.
Meningkatkan
efisiensi energi dalam reaksi
Energi yang
digunakan dalam suatu proses kimia harus mempertimbangkan efek terhadap
lingkungan dan aspek ekonomi. Jika dimungkinkan reaksi kimia dilakukan dalam
suhu ruang dan menggunakan tekanan.Penggunaan energi alternatif dan efisien
dalam sintesis dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode baru
diantaranya adalah dengan menggunakan radiasai gelombang mikro (microwave),
ultrasonik dan fotokimia.
10. Mendesain bahan kimia yang mudah terdegradasi
Bahan kimia
harus didesain dengan mempertimbangkan aspek lingkungan, oleh karena itu suatu
bahan kimia harus mudah terdegradasi dan tidak terakumulasi di
lingkungan.Seperti sintesis biodegradable plastik, bioderadable polimer, serta
bahan kimia lainya.
11. Penggunaan metode analisis secara langsung
untuk mengurangi polusi
Metode
analisis yang dilakukan secara real-time dapat mengurangi pembentukan produk
samping yang tidak diinginkan.Ruang lingkup ini berfokus pada pengembangan
metode dan teknologi analisis yang dapat mengurangi penggunaan bahan kimia yang
berbahaya dalam prosesnya.
Aplikasi
penerapan prinsip kimia hijau ini masih belum sepenuhnya dilakukan para
kimiawan khususnya yang bergerak pada bidang sintesis dalam hal desain reaksi
dan metode yang digunakan untuk mencegah seminimal mungkin terjadinya pencemaran
lingkungan. Marilah kita mulai penelitian yang lebih berwawasan lingkungan
dengan mempertimbangkan aspek green chemistry, agar generasi mendatang dapat
hidup lebih baik.
Referensi
:
Anastas,
P.,dan Warner, J.C., 1998, Green Chemistry, Theory and Practice, Oxford
University Press, Oxford.
Sharma,
S.K., Chaudhary,A., dan Singh, R.V., 2008, Gray Chemistry Versus Green
Chemistry: Challenges and Opportunities, Rasayan J.Chem., 1, 1, 68-92.
Label:
@C22-Zahrita,
@C23-Reza,
@C33-Asikin,
@TB10
Langganan:
Postingan (Atom)









