.

Tampilkan postingan dengan label @Proyek D07. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @Proyek D07. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Februari 2018

Daur Ulang Plastik Bekas




Oleh : Dedy Suryana (@F21-Dedy)


















 Abstrak

Sampah memang barang yang sudah tidak dibutuhkan lagi. Semakin lama semakin bertambahbanyak jumlahnya. Apabila dibiarkan pun akan berdampak negative bagi kehidupan makhluk hidup dikemudian hari. Memang untuk sekarang ini manusia masih belum merasakan dampaknya. Namun apabila dibiarkan terus menerus sampah yang ada di dunia ini akan semakin banyak dan menumpuk. Suatu saat pasti manusia akan merasakan akibat dari apa yang telah mereka perbuat sekarang ini.
Salah satu sampah yang paling banyak dimuka bumi ini adalah sampah plastik. Hampir semua barang yang dijual pasti menggunakan plastik, seperti makanan ringan dan minuman. Barang-barang tersebutmenggunakan bahan plastikuntuk membungkusnya.Plastik untuk membungkusnya pastinyakan tidak akan dimakan juga melainkan dibuang. Kemudian ada juga ember, pipa dan selang airyang sudah rusak pastikan akan dibuang. Jika ini diteruskan pastikan akan menumpuk jumlahnya. Apalagi sifat dari plastik yang tidak dapat terurai dan walaupun dibakar memang akan hilang, namun ini sangat tidak baik bagiudara yang disekira tempat tersebuat karena akan tercemar.

Kata Kunci : Recycle, Daur ulang, kimia Hijau

Isi

Saat ini, plastik ada di mana-mana, dan wadah plastik sekali pakai menghasilkan jumlah sampah yang besar yang rata-rata dibuang manusia tiap hari. Plastik-plastik ini seringkali sangat tidak bisa diuraikan dan terurai menjadi racun yang bisa meresap ke dalam bumi dan air tanah. Untungnya, pendaurulangan bisa membuat plastik-plastik tersebut tidak terbuang ke pembuangan akhir dan mengurangi jumlah material baru yang digunakan untuk berbagai benda. Anda bisa mengidentifikasi plastik yang bisa didaur ulang dengan mengamati simbol segitiga pendaurulangan yang biasanya bisa ditemukan tercetak di bagian bawah botol dengan singkatan nomor atau huruf untuk menandai jenisnya.

Cara Mendaur Ulang Plastik
Berikut beberapa metode dalam mendaur ulang sampah plastic sebagai berikut :

  1. Metode Pertama Kenalilah Jenis Plastik PET atau PETE (politilena terephthalate). Pendaurulangan tipe 1 paling sering digunakan untuk botol minuman ringan, botol air mineral, botol bir plastik, stoples selai kacang plastik, botol bumbu salad, dan minyak sayur, serta nampan makanan. Jika didaur ulang, maka plastik ini dibuat menjadi bahan kain polar fleece, tas sandang, furnitur, karpet, dan wadah minuman baru. 
  2. HDPE (Politilena berkepadatan tinggi). Pendaurulangan tipe 2 digunakan untuk teko susu dan jus, botol produk pembersih, wadah yoghurt, kantung plastik sampah, dan pelapis kotak serealia. Didaur ulang kembali menjadi botol, pulpen, dan bahan-bahan bangunan. 
  3.  V (Vinil) atau PVC. Pendaurulangan tipe 3 ditemukan pada botol pembersih kaca, botol sabun cuci dan botol sampo, juga plastik kemasan makanan bening, siding (bahan pelapis untuk bangunan luar agar tahan cuaca), jendela, pipa, dan perlengkapan medis. Kadang-kadang didaur ulang oleh pembuat papan plastik menjadi bahan-bahan bangunan. 
  4. LDPE (Politilena berkepadatan rendah). Carilah Pendaurulangan tipe 4 pada botol pencet dan kantung belanja plastik, kantung pakaian dry clean, atau kantung roti. Didaur ulang menjadi pelapis tempat sampah, amplop, dan papan plastik. 
  5. PP (polipropilena). Pendaurulangan tipe 5 berasal dari sedotan, wadah yoghurt, botol sirup, botol kecap, botol pil, dan tutup botol. Diubah menjadi garu, sapu, baterai, dan nampan.
  6. PS (polistirena). Pendaurulangan tipe 6 digunakan untuk piring dan mangkuk sekali pakai, wadah cakram padat (CD), tempat karton telur, wadah makanan untuk dibawa pulang, dan botol aspirin. Didaur ulang menjadi kemasan busa, penyekat, tempat karton telur, dan wadah makanan untuk dibawa pulang kembali.
  7. Aneka ragam plastik. Pendaurulangan tipe 7 mencakup botol air isi ulang, bahan-bahan ‘antipeluru’, kacamata, wadah DVD, wadah iPod, dan nilon. Tidak sering didaur ulang, namun kadang-kadang diubah menjadi papan plastik.

       Plastik bisa bertahan lama, namun ketika terurai, sebagian plastik bias mengeluarkan zat kimia berbahaya atau karsinogenik yang masuk ke dalam cairan yang ada di dalamnya. Jangan terlalu sering mengisi ulang botol air plastik sekali pakai. Sebagai gantinya, beli botol air logam tahan karat.Jangan coba-coba menangani plastik dengan cara membakarnya. Asapnya tidak menyenangkan dan bahkan membahayakan, dan residunya berdampak buruk untuk lingkungan.

Daftar Pustaka

Hidayat, Atep Afia dan Muhammad Kholil. 2017. Kimia, Industri dan Teknologi Hijau. Pantona Media. Jakarta.

Diunduh Tanggal 17 Februari 2018.

Aplikasi Kimia Hijau


Oleh : Iwan Saputro ( @f20-iwan )











Abstrak:

           Kimia hijau diartikan sebagai proses yang lebih efisien, hemat energi dan sumber daya alam serta lebih ramah lingkungan daripada sebelumnya. Dalam 20 tahun terakhir, industri kimia di Jerman, yang tergolong terbesar di Eropa,  sudah mengurangi seperlima kebutuhan energinya – meski begitu hampir 10% seluruh penggunaan energi di Jerman dibutuhkan untuk sektor ini.
Sampah harus dihindari, atau dapat diurai secara biologis. Selain itu, tingkat racun dalam reagen dan produk-produk lain harus yang dikurangi.
Menurut banyak peneliti, apa yang terdengar bagus dalam teori, tidak selalu mudah untuk dilaksanakan. Namun ini juga ada keuntungannya:
               Bidang penelitian untuk kimia hjau atau kimia yang ramah lingkungan dikenal sebagai sangat kreatif dan penuh inovasi – di sini bukan hanya teknologi baru yang digunakan. Peneliti harus mengembangkan cara-cara baru untuk mencapai target sektor kimia yang ramah lingkungan.
             Karenanya para ilmuwan kini misalnya mencoba membuat plastik, warna dan obat-obatan dari biomasa, atau merekayasa produksi bahan kimia dari mikroorganisme.
            Dengan begitu melintasi batasan-batasan ilmu pengetahuan lain, kini para peneliti biologi dan kimia berdiskusi bersama mengenai temuan dan ide-ide baru, seperti kala ini dalam pertemuan di Lindau antara para penerima hadiah Nobel di bidang-bidang ilmiah.

Kata kunci : Kimia Hijau,Biomassa

Isi:

SAMPAH PLASTIK , TAMBANG MINYAK BARU ?
Kompas edisi cetak menampilkan berita tentang seorang guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Madiun, Jawa Timur yang mengembangkan inovasi pengolahan sampah plastik menjadi fraksi minyak yang dapat digunakan oleh kendaraan bermotor (Premium Dari Limbah Platik) [1]. Walaupun penelitian ini bukanlah sesuatu yang sangat baru namun kita selayaknya memberi penghargaan karena dapat mengurangi peredaran limbah plastik melalui jalur daur ulang sekaligus menawarkan sumber alternatif bahan bakar minyak.
Disamping didaur ulang untuk aplikasi produk lain, memang sesungguhnya limbah plastik bisa dianggap sebagai sumber bahan mentah senyawa hidrokarbon termasuk didalamnya adalah bahan bakar minyak. Menurut data literatur, tercatat bahwa konsumsi plastik yang meningkat telah menaikkan produksi plastik global rata-rata sebanyak 10% terhitung sejak 1950 dimana produksi masa kini terhitung mencapai 250 juta ton.
[1] KOMPAS cetak, Premium dari limbah plastik, 25 November 2011.

Dari biomass menjadi hidrogen untuk energi terbaharukan

Dahulu kita hanya mengenal minyak dan gas bumi serta batu bara sebagai bahan bakar, namun kesadaran terhadap menurunnya cadangan minyak dunia, naiknya pemanasan global dan pencemaran udara akibat pembakaran material tadi mengubah pandangan dunia untuk mulai memikirkan sumber energi alternatif. Maka kini ilmuwan dan praktisi industri mulai menjajagi kemungkinan sumber energi lain yang terbaharukan dan menghasilkan lebih sedikit emisi gas rumah kaca (terutama karbon dioksida, CO2), misalnya sinar matahari, panas bumi, angin, gelombang, biofuel, dan tentu saja gas hidrogen.
Proses perlakuan terhadap biomass demi mendapatkan hidrogen menjadi salah satu obyek pengembangan yang paling dinamis sekaligus menantang. Biomass adalah material organik yang terbaharukan, sehingga dapat dikatakan cadangannya tidak pernah habis. Beberapa tahun silam teknologi pengolahan biomass yang dikenal sebagai gasifikasi biomas (gasification of biomass), reforming dalam air superkritis (reforming in supercritical water), dan reforming dalam air (aqueous phase reforming) telah diperkenalkan dengan harapan industri dapat segera mengadopsinya. Kenyataannya tidaklah mudah, karena kedua teknologi yang disebutkan pertama membutuhkan kondisi yang cukup ekstrem (temperatur dan tekanan tinggi) serta biaya investasi alat dan operasi yang sangat tinggi. Pilihan ketiga sebenarnya cukup memenuhi syarat untuk segera diterapkan karena bisa dikerjakan pada kondisi lebih lembut namun membutuhkan proses optimasi supaya lebih baik.

Mudah saja, sterilisasi air minum dengan secarik kain dan nano desinfektan

Pengetahuan tentang material nano perlahan mulai merevolusi aneka proses industri dan kehidupan sehari-hari. Seiring dengan turunnya mutu air baku untuk air minum atau untuk industri kimia, teknologi proses untuk mendapatkan  air yang bersih dan bebas kuman juga semakin canggih. Pada masa kini kita sudah mengenal proses pemurnian air menggunakan membran penyaring dan menerapkan kaidah osmosis terbalik (reverse osmosis membrane, ROM). Walau teknologi tersebut bisa dikatakan sudah mapan dan jitu untuk mendapatkan air bersih, tetap saja memiliki masalah diantaranya adalah pembentukan biofilm mikroorganisme (biofouling) pada permukaan membran. OK, kita mungkin juga tahu bahwa menggunakan radiasi sinar ultra ungu bisa membunuh kuman tapi belum tentu mencegah terjadinya biofouling. Dalam praktek sehari-hari larutan encer sodium hipoklorit (NaClO) juga digunakan sebagai agen pembunuh bakteri dalam air, namun memanfaatkan cara ini untuk pengolahan air minum mungkin kurang sehat. Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut, ilmuwan menawarkan salah satu pemecahan dengan memanfaatkan nano material.

Biodiesel generasi kedua menuju bahan bakar yang lebih hijau

Tak dipungkiri memang kita harus mulai memikirkan lebih serius masalah ketersediaan terbatas lawan kebutuhan membengkak akan bahan bakar. Biodiesel sebagai salah satu bahan bakar terbaharukan yang bersumber dari bahan nabati kini mendapat perhatian istimewa dari khalayak ilmuwan dan industriawan Indonesia dan dunia. Pemerintah Indonesia meramalkan bahwa pada tahun 2025 konsumsi terhadap energi terbarukan bakal mencapai 17% dari total konsumsi dengan presentase mencapai 5% untuk pemakaian bahan bakar bio (biodiesel maupun bioethanol). Roadmap pengembangan biodiesel Indonesia menurut Departemen Energi dan Sumberdaya Alam menyebutkan bahwa tahun 2011-2015 pemakaian biodiesel akan sebesar 15% dari total konsumsi bahan bakar mesin diesel dan selanjutnya bisa mencapai 20% pada periode 2016-2025.

Berhitung dulu ekonomi atom


Sintesa hijau memerlukan pilihan bahan baku (reaktan), pelarut, dan kondisi reaksi yang dirancang sedemikian rupa demi mengurangi konsumsi sumber daya dan mengurangi limbah.  Penerapan prinsip-prinsip kimia hijau dalam sintesis organik dapat dimulai dengan pemilihan bahan baku (feedstock) yang bukan berasal dari minyak bumi. Bahan baku dari petrokimia digantikan dengan bahan kimia berasal dari sumber biologis yang disebut  biomassa.
Sebagai contoh rancangan sintesa hijau adalah sintesa asam adipat, senyawa kimia organik yang banyak digunakan dalam produksi nilon dan pelumas. Zat ini dapat dihasilkan dari benzena, suatu petrokimia beracun, tapi produk yang sama dapat diturunkan  dari glukosa yang ditemukan dalam tanaman.
Atom ekonomi?
Proses industri berwawasan hijau dan berkesinambungan mulai dirancang menurut konsep Atom Ekonomi.  Apakah itu atom ekonomi?  Ia adalah sebuah konsep perancangan proses kimia yang bisa mengubah semaksimal mungkin bahan baku menjadi produk target ketimbang menghasilkan senyawa sampingan (side product). Dengan kata lain, reaksi kimia tersebut memiliki nilai konversi, selektifitas, dan yield yang setinggi-tingginya.

Teknologi Hijau (Green Technology): Kecenderungan Teknologi di Masa Datang



Green Building
Bangunan hijau (green building) juga mendapat perhatian penting di bidang teknologi hijau, segala sesuatu yang berkaitan dengan pembangunan rumah atau infrastruktur yang ramah lingkungan. Penerapannya mulai sejak pemilihan bahan bangunan hingga lokasi tempat bangunan akan didirikan diharapkan telah mempertimbangan kelestarian lingkungan hidup.

GreenChemistry
Hampir seluruh produk untuk keperluan sehari-hari adalah produk kimiawi. Oleh karena itu kimia hijau (green chemistry) mulai mendapat perhatian berbagai negara maju dalam hal penemuan, rancangan dan aplikasi produknya termasuk proses yang dijaga dari penggunaan bahan beracun atau zat yang berbahaya bagi kehidupan.




Daftar pustaka:


Hidayat,atep dan Muhammad Kholil,2017,Kimia Industri dan Teknologi Hijau,Pantona Media Jakarta.

2010.kimia hijau makin ngetren,http://www.dw.com/id/kimia-hijau-makin-ngetren/a-16929898 (diakses pada 13 desember 2016)

Bixara,Matha.2010.bimoass menjadi hidrogen untuk energi terbaharukan,https://howgreenareyou.wordpress.com/2010/12/30/dari-biomass-menjadi-hidrogen-untuk-energi-terbaharukan/#more-402  (diakses pada 13 desember 2016 )


D. T. Schoen, A. P. Schoen, L. Hu, H. S. Kim, S. C. Heilshorn, and Y. Cui, High speed water sterilization using one-dimensional nanostructures, 

KOMPAS cetak, Premium dari limbah plastik, 25 November 2011.

Jumat, 16 Februari 2018

PENGENALAN GREEN CHEMISTRY

Oleh : Fatkhur Rokhman (@F05-Fatkhur)
ABSTRAK
Ledakan penduduk dunia yang semakin meningkat, ketersediaan sumber daya alam yang semakin menipis, meningkatnya polusi, perubahan iklim, dan berbagai alasan senada lainnya telah memaksa para ilmuwan, khususnya kimiawan berpikir keras bagaimana alam ini tetap seimbang, sejuk, aman, dan berkelanjutan untuk dinikmati anak cucu kita kelak. Di sisi lain, kimia kadang disalahartikan hanya berkutat dengan penggunaan reagent berbahaya untuk mencetak suatu produk lewat proses fabrikasi di industri dan menghasilkan limbah yang tidak bersahabat. Sebagai contohnya, industri obat, tekstil, peleburan logam, pembuatan senjata dan bom atom, serta proses pengilangan minyak.
Kata kunci : Green chemistry
Isi/Pembahasan
Menurut  Taher ada 12 Prinsip Kimia Hijau, antara lain
       1. Mencegah Limbah
Yaitu bagaiamna kemampuan kimiawan untuk merancang ulang transformasi kimia untuk meminimalkan produksi limbah berbahaya merupakan langkah pertama yang penting dalam pencegahan polusi. Dengan mencegah generasi sampah, kita meminimalkan bahaya yang berhubungan dengan limbah, transportasi, penyimpanan dan perawatan.
2 . Memaksimalkan Atom Ekonomi
Ekonomi Atom adalah sebuah konsep, yang dikembangkan oleh Barry Trost dari Stanford University yang mengevaluasi efisiensi transformasi kimia. Mirip dengan perhitungan hasil, ekonomi atom merupakan rasio dari total massa atom dalam produk yang diinginkan dengan massa total atom pada reaktan. Memilih transformasi yang menggabungkan sebagian besar bahan awal ke dalam produk lebih efisien dan meminimalkan limbah.

3. Desain sintesis kimia yang kurang berbahaya
Metode sintetis seharusnya didesain untuk menggunakan dan menghasilkan zat yang memiliki kadar sekecil mungkin atau bahkan tidak beracun terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. Tujuannya adalah untuk menggunakan reagen kurang berbahaya bila memungkinkan dan proses desain yang tidak menghasilkan produk sampingan berbahaya.
4. Desain Produk kimia yang aman
Produk kimia seharusnya didesain untuk mempengaruhi fungsi yang diinginkan dengan meminimalkan toksisitas ( sifat beracun) mereka.
5. Gunakan Pelarut / kondisi reaksi yang aman
Semaksimal mungkin diupayakan untuk tidak menggunaan zat tambahan (misalnya, pelarut, agen pemisah, dll). Penggunakan pelarut biasanya mengarah ke produksi limbah. Oleh karena itu penurunan volume pelarut atau bahkan penghapusan total pelarut akan lebih baik. Dalam kasus di mana pelarut diperlukan, hendaknya perlu diperhatikan penggunaan pelarut yang cukup aman.
6. Meningkatkan Efisiensi Energi
Kebutuhan Energi dalam proses kimia harus diakui berdampak pada lingkungan dan ekonomi dan harus diminimalkan. Jika mungkin, metode sintetis dan pemurnian harus dirancang untuk suhu dan tekanan ruang, sehingga biaya energi yang berkaitan dengan suhu dan tekanan ekstrim dapat diminimalkan.
7. Gunakan bahan baku Terbarukan
Bila memungkinkan, transformasi kimia harus dirancang untuk memanfaatkan bahan baku yang terbarukan. Contoh bahan baku terbarukan termasuk produk pertanian atau limbah dari proses lainnya. Contoh bahan baku depleting termasuk bahan baku yang ditambang atau dihasilkan dari bahan bakar fosil (minyak bumi, gas alam atau batubara).
8. Hindari penggunaan Kimia Derivatif
Derivatisasi yang tidak perlu (penggunaan kelompok „blocking“, proteksi / deproteksi, modifikasi sementara proses fisika / proses kimia) harus dikurangi atau dihindari jika mungkin, karena langkah-langkah seperti ini membutuhkan reagen tambahan dan dapat menghasilkan limbah. Transformasi Sintetik yang lebih selektif akan menghilangkan atau mengurangi kebutuhan untuk proteksi gugus fungsi. Selain itu, urutan sintetis alternatif dapat menghilangkan kebutuhan untuk mengubah gugus fungsi dengan ada gugus fungis lain yang lebih sensitif.
9. Gunakan Katalis
Secara stoikiometri katalis dengan selektivitas yang tinggi memang lebih unggul dalam reaksi. Katalis dapat memainkan beberapa peran dalam proses transformasi, antara lain dapat meningkatkan selektivitas reaksi, mengurangi suhu transformasi, meningkatkan tingkat konversi produk dan mengurangi limbah reagen (karena mereka tidak dikonsumsi selama reaksi). Dengan mengurangi suhu, kita dapat menghemat energi danberpotensi menghindari reaksi samping yang tidak diinginkan.
10. Desain produk yang terdegradasi
Produk kimia seharusnya didesain hingga pada akhir fungsinya nanti mereka dapat terurai menjadi produk degradasi yang tidak berbahaya ketika mereka dilepaskan ke lingkungan. Disinilah arti pentingnya sintesis material sehari-hari yang biodegradable, misalnya biopolimer, plastik ramah lingkungan dst.
11. Analisis Real-Time untuk Mencegah Polusi
Selalu penting untuk memonitor kemajuan reaksi untuk mengetahui kapan reaksi selesai atau untuk mendeteksi munculnya produk samping yang tidak diinginkan. Bila memungkinkan, metodologi analitis harus dikembangkan dan digunakan untuk memungkinkan untuk real-time, pemantauan pada proses dan kontrol untuk meminimalkan pembentukan zat berbahaya.
12. 
Minimalkan Potensi Kecelakaan
Salah satu cara untuk meminimalkan potensi kecelakaan kimia adalah memilih pereaksi dan pelarut yang memperkecil potensi ledakan, kebakaran dan kecelakaan yang tak disengaja. Risiko yang terkait dengan jenis kecelakaan ini kadang-kadang dapat dikurangi dengan mengubah bentuk (padat, cair atau gas) atau komposisi dari reagen.
Daftar Pustaka
Hidayat, Atep Afia dan Muhammad Kholil (2017) Kimia, Industri dan Teknologi Hijau. Pantona Media. Jakarta.

Kimia Hijau



Oleh : Gilang pratama (f14-gilang)






Abstrak :
Awal green kimia sering dianggap sebagai respon terhadap kebutuhan untuk mengurangi kerusakan lingkungan oleh bahan-bahan buatan manusia dan proses yang digunakan untuk menghasilkan mereka. Lihat Aquick isu-isu hijau kimia dalam dekade terakhir menunjukkan banyak metodologi yang melindungi kesehatan manusia dan lingkungan secara ekonomis berguna. Artikel ini menyajikan beberapa contoh penerapan prinsip-prinsip green kimia dalam kehidupan sehari-hari dalam industri, laboratorium dan pendidikan. Sejarah Abrief kimia hijau dan tantangan di masa depan juga disebutkan.

Kata kunci : Kimia hijau, hijau analisis kimia, kimia bersih, ekonomi atom, pembangunan berkelanjutan.

    Istilah kimia digunakan dalam “green chemistry” dimaksudkan karena melibatkan struktur dan perubahan suatu materi.Perubahan tersebut pasti melibatkan energi sebagai sumbernya. Oleh karena itu konsep green chemistry ini juga erat kaitannya dengan energi dan penggunaannya baik itu secara langsung maupun yang tidak langsung seperti penggunaan suatu material dalam hal pembuatan, penyimpanan dan proses penyalurannya.      
     Menurut Manahan (2006) dalam hidayat (2017) kimia hijau merupakan pendekatan filosofis baru yang dapat diaplikasikan, sehingga memberi konstribusi yang cukup nyata terhadap pmbangunan berkelanjutan.

    KONSEP KIMIA HIJAU
     kimia hijau telah muncul di Amerika Serikat sebagai program penelitian umum yang dihasilkan dari kerjasama interdisipliner tim universitas , kelompok riset independen , industri , masyarakat ilmiah dan lembaga pemerintah , yang masing-masing memiliki program sendiri yang ditujukan untuk mengurangi polusi . Kimia hijau menggabungkan pendekatan baru untuk sintesis , pengolahan dan penerapan sub – sikap kimia sedemikian rupa untuk mengurangi ancaman terhadap kesehatan dan lingkungan . Pendekatan baru ini juga dikenal sebagai :
• Kimia ramah lingkungan
• Kimia Bersih
• Ekonomi Atom
• Kimia jinak -by -design

    Kimia hijau umumnya disajikan sebagai satu set dua belas prinsip yang diusulkan oleh Anastas dan Warner . Prinsip-prinsip terdiri dari petunjuk untuk kimiawan profesional untuk menerapkan senyawa kimia baru , sintesis baru dan proses teknologi baru .

Prinsip pertama menggambarkan ide dasar dari kimia hijau – melindungi lingkungan dari pencemaran . Prinsip-prinsip yang tersisa berfokus pada isu-isu seperti ekonomi atom , toksisitas , pelarut dan media lain yang menggunakan konsumsi tion energi , penerapan bahan baku dari sumber yang terbarukan dan degradasi produk kimia untuk , zat beracun sederhana yang ramah bagi lingkungan .

12  PRINSIP KIMIA HIJAU
  1. Pencegahan
    Lebih baik mencegah daripada limbah untuk mengobati atau membersihkan limbah setelah telah dibuat .
  2. Atom Ekonomi
    Metode sintetis seharusnya didesain untuk memaksimalkan penggabungan semua bahan yang digunakan dalam proses tersebut menjadi produk akhir .
  3. Kurang Bahan kimia berbahaya SintesisDimanapun praktis , metode sintetis seharusnya didesain untuk memakai dan membuat zat yang memiliki menyala – tle atau toksisitas terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.
  4. Merancang Aman Chemicals
    Produk kimia seharusnya didesain untuk mempengaruhi fungsi yang diinginkan dan meminimalkan toksisitas .
  5. Pelarut lebih aman dan Produk TambahanPenggunaan zat tambahan ( misalnya pelarut , agen yang terpisah ransum , dll ) seharusnya tidak perlu wherev – er mungkin dan tidak berbahaya bila digunakan .
  6. Desain untuk Efisiensi Energi
    Kebutuhan energi dari proses kimia harus diakui untuk dampak lingkungan dan ekonominya dan seharusnya diminimalisasi . Jika memungkinkan , metode sintetis harus dilakukan pada suhu kamar dan tekanan .
  7. Penggunaan Bahan baku Terbarukan
    Bahan mentah seharusnya dapat diperbaharui daripada depleting kapan teknis dan economi -Cally praktis .
  8. Mengurangi Derivatif
    Yang tidak perlu ( penggunaan kelompok memblokir , proteksi / deproteksi , modifikasi sementara proses / kimia faktor-faktor fisik ) harus dikurangi atau dihindari – ed jika mungkin , karena langkah-langkah seperti ini membutuhkan reagen tambahan dan dapat menghasilkan limbah .
  9. Katalisis
    Reagen Catalytic ( seselektif mungkin ) adalah supe – rior untuk reagen stoikiometri .
  10. Desain untuk Degradasi
    Produk kimia seharusnya didesain jadi pada akhir fungsi mereka, mereka terurai menjadi berbahaya produk degradasi – tion dan tidak bertahan dalam lingkungan .
  11. Analisis real-time untuk Pencegahan Pencemaran
    Metodologi analisis perlu lebih dikembang-kan untuk memungkinkan real-time , dalam proses monitoring dan kontrol sebelum pembentukan zat berbahaya .
  12. Inheren Aman Kimia Pencegahan Kecelakaan
    Zat dan bentuk zat yang dipakai dalam proses kimia harus dipilih untuk meminimalkan po – bangkan untuk kecelakaan kimia , termasuk siaran , daya eksploratif -keputusan , dan kebakaran .
      Anastas dan Warner (1998) mengusulkan konsep“The Twelve Principles of Green Chemistry” yang digunakan sebagai acuan oleh para peneliti untuk melakukan penelitian yang ramah lingkungan. Berikut adalah ke-12 prinsip kimia hijau yang diusulkan oleh Anastas dan Warner :
  1. Mencegah timbulnya limbah dalam proses
Lebih baik mencegah daripada menanggulangi atau membersihkan limbah yang timbul setelah proses sintesis, karena biaya untuk menanggulangi limbah sangat besar.
  1. Mendesain produk bahan kimia yang aman
Pengetahuan mengenai struktur kimia memungkinkan seorang kimiawan untuk mengkarakterisasi toksisitas dari suatu molekul serta mampu mendesain bahan kimia yang aman. Target utamanya adalah mencari nilai optimum agar produk bahan kimia memiliki kemampuan dan fungsi yang baik akan tetapi juga aman (toksisitas rendah). Caranya adalah dengan mengganti gugus fungsi atau dengan cara menurunkan nilai bioavailability. 
  1. Mendesain proses sintesis yang aman
Metode sintesis yang digunakan harus didesain dengan menggunakan dan menghasilkan bahan kimia yang tidak beracun terhadap manusia dan lingkungan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan dua cara yaitu meminimalkan paparan atau meminimalkan bahaya terhadap orang yang menggunakan bahan kimia tersebut.


Daftar pustaka :

Hidayat, Atep Afia dan Muhammad Kholil, 2017, Kimia Industri dan Teknologi Hijau, Pantona Media Jakarta.



Anonim. 2017. Kimia Hijau/Green Chemistry. http://bptba.lipi.go.id/bptba3.1/?u=blog-single&p=343&lang=id