.

Tampilkan postingan dengan label @P07-TIO. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @P07-TIO. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Januari 2020

Pencemaran Tanah


PENCEMARAN TANAH
Pencemaran tanah adalah keadaan di mana bahan kimia buatan manusia masuk dan mengubah lingkungan tanah alami. Pencemaran ini biasanya terjadi karena: kebocoran limbah cair atau bahan kimia industri atau fasilitas komersial; penggunaan pestisida; masuknya air permukaan tanah tercemar ke dalam lapisan sub-permukaan; kecelakaan kendaraaan pengangkut minyak, zat kimia atau limbah; air limbah dari tempat penimbunan sampah, serta limbah industri yang langsung dibuang ke tanah secara tidak memenuhi syarat (illegal dumping).
Ketika suatu zat berbahaya/beracun telah mencemari permukaan tanah, maka ia dapat menguap, tersapu air hujan dan atau masuk ke dalam tanah. Pencemaran yang masuk ke dalam tanah kemudian terendap sebagai zat kimia beracun di tanah. Zat beracun di tanah tersebut dapat berdampak langsung kepada manusia ketika bersentuhan atau dapat mencemari air tanah dan udara di atasnya.
Paparan kronis (terus-menerus) terhadap benzena pada konsentrasi tertentu dapat meningkatkan kemungkinan terkena leukemia
berperan tidak langsung karena menstimulir pertumbuhan mikroorganisme bioremediasi lain seperti bakteri tertentu, jamur, dan sebagainya.
Sedangkan beberapa penyebab terkaitnya adalah sebagaimana berikut.
1. Kebocoran limbah
Sebagaimana telah di sebutkan di atas, limbah adalah salah satu komponen utama penyebab pencemaran tanah. Baik itu limbah padat maupun limbah cair. Sebenarnya dalam berbagai proyek industri, limbah telah di olah sehingga bisa cukup ramah lingkungan. Namun, yang berbahaya adalah ketika terjadi kebocoran limbah karena hal ini akan mengakibatkan pencemaran tanah.
2. Kebocoran bahan kimia industri
Selain limbah, yang bisa bocor juga adalah bahan kimia industri. Sekalipun bukan salah satu komponen utama, namun bahan kimia ini sama berbahayanya sehingga harus tetap berhati-hati. Kebocoran bahan kimia tentu saja akan berakibat sangat buruk pada masa depan tanah. Apalagi jika bahan kimia yang di maksud adalah yang sangat berbahaya, maka makhluk hidup pun ikut terancam.
3. Penggunaan pestisida yang berlebihan
Menggunakan pestisidan untuk mendukung berbagai aktivitas binis dan pertanian Anda memang tidak apa-apa. Namun, perlu di perhatikan untuk mengaplikasikannya sesuai kadarnya saja. Jangan sampai ada kelebihan takaran yang significant. Jika ada penggunaan pestisida yang berlebihan, maka akan sangat membahayakan. Pencemaran tanah yang tinggi pun juga tidak bisa di hindarkan.
4. Masuknya air tercemar ke permukaan tanah
Selain pencemaran tanah, tentu saja pencemaran air saat ini juga sudah sangat banyak di temui. Hal ini pun bisa di sebabkan oleh aktivitas industri sehingga air pun tercemar oleh limbah dan berbagai bahan kimia. Pada akhirnya, tentu saja air akan meresap dalam tanah. Nah, ketika air tercemar ini masuk dalam permukaan tanah, tidak dapat di pungkiri lagi, tanah pun akan ikut tercemar.
5. Kecelakaan kendaraan pengangkut minyak
Mungkin memang cukup sedikit di mengerti, namun kecelakaan juga bisa mengakibatkan pencemaran tanah. Kemungkinan ini akan terjadi manakala kecelakaan tersebut melibatkan kendaraan yang sedang mengangkut minyak. Nah, ketika minyak tumpah, tentu saja akan menyebar di seluruh permukaan. Juga sudah begini, tentu saja yang namanya pencemaran akan terjadi.
6. Air limbah penimbunan sampah
Sampah yang di timbun terlalu lama memang sangat tidak baik. Bukan hanya untuk kesehatan tetapi juga untuk masa depan alam. Namun, jika di penimbunan sampah, memang merupakan tempat yang paling pas. Meski demikian, ketika ada air limbah penimbunan sampah, dan air itu meresap dalam tanah, maka juga akan mengakibatkan pencemaran sehingga perlu untuk di perhatikan lagi.
7. Di sebabkan bahan-bahan yang berakibat pada pencemaran tanah
Selain beberapa sebab di atas, masih ada sebab lain yang penting untuk Anda ketahui. Dalam hal ini pencemaran tanah bisa di sebabkan oleh bahan-bahan tertentu yang akan berakibat pada pencemaran. Di antara bahan-bahan tersebut tidak lain adalah sejenis merkuri, seng, nikel, arsenic, tembaga dan lain sebagainya. Jadi, jika ingij mengurus bahan-bahan tersebut harus berhati-hati.
Dampak
Sebagaimana di katakan sebelumnya, pencemaran tanah adalah salah satu hal yang sangat berbahaya jika terus di biarkan. Di katakan demikian karena mengingat dampaknya pun sangatlah besar sehingga Anda harus memperhatikannya dengan baik. Nah, untuk mengenal dampak pencemaran tanah secara lebih jelas lagi, langsung saja Anda simak daftarnya di bawah ini.
1. Berakibat pada kematian makhluk hidup
Dari beragam dampak pencemaran tanah yang ada, yang paling berbahaya dan sangat mencolok di sini tidak lain adalah adanya tingkat kematian makhluk hidup yang tinggi. Namun kematian ini ada yang perlahan-lahan, berproses dan ada yang langsung terlihat. Pada dasarnya, ini sangatlah berbahaya, terutama bagi tumbuhan serta beberapa hewan yang bertempat tinggal di dalam tanah.
2. Menyebabkan polusi udara
Meskipun tanah yeng tercemar, namun bisa berakibat pada kerusakan komponan lain karena di bumi berbagai komponen memang saling berhubungan. Katakan saja saat terjadi pencemaran tanah, maka air di dalam tanah pun bisa ikut tercemar. Nah, begitu juga dengan udara. Di sini polusi udara pun bisa terjadi sebagai akibat terjadinya pencemaran tanah, baik secara langsung maupun tidak.
3. Kesuburan tanah berkurang
Untuk akibat yang satu ini tentu saja sudah tidak bisa di elakkan lagi. Ketika terjadi pencemaran tanah, di mana tanah tidak lagi murni, tentu saja kesuburannya pun akan berkurang. Nah, jika sudah begini, maka akan banyak aspek kehidupan yang di pengaruhinya. Dalam bidang petanian, tentu saja merugikan. Selain itu, tumbuhan pun akan terhambat perkembangannya.
4. Ekosistem ikut rusak
Di muka bumi ini ada banyak sekali ekosistem yang tersebar di berbagai penjuru. Dalam hal ini, ekosistem sebenarnya harus di jaga dan di rawat sehingga tetap indah. Akan tetapi, sayang sekali karena dengan adanya pencemaran tanah, ekosistem pun bisa ikut rusak secara perlahan-lahan. Terlabih lagi untuk jenis ekosistem darat yang tinggalnya di tanah.
5. Merusak nilai estetika alam
Tanah yang subur dan terawat tentu saja akan menghadirkan keindahan tersendiri. Dan hal ini perlu di lestarikan dengan baik. Akan tetapi, tidak dapat di pungkiri juga bahwasanya tanah yang tercemar akan mulai merusak nilai estetika di berbagai belahan bumi perlahan-lahan. Oleh karena itu, untuk tetap memiliki keindahan di muka bumi, tanah pun harus tetap di rawat.
Cara Menanggulanginya
Meskipun sudah terlanjur terjadi dan banyak di sepelekan, namun jangan terlalu khawatir karena pencemaran tanah masih bisa di atasi. Dalam hal ini ada banyak cara penanggulangan yang bisa di lakukan bersama oleh berbagai pihak untuk bisa menjaga kelangsungan tanahnya. Untuk mengenalnya lebih jauh, berikut ini adalah pembahasan lebih lanjutnya.
1. Menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran masyakat
Hal pertama yang sangat sulit dalam penanggulangan ini adalah menyadarkan masyarakat akan pentingnya menghindari pencemaran tanah. Padahal, faktanya penjagaan tanah tidak bisa di lakukan sendiri. Harus dengan kerjasama yang baik oleh berbagai pihak. Karena itulah menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran masyarakat luas dalam hal ini sangat di perlukan.
2. Melakukan sistem 3R (reduce, rause, dan recycle)
Sistem 3R ini tentu saja sudah banyak Anda dengar. Untuk kepanjangannya tidak lain adalah reduce, rause dan recycle. Dalam sistem ini, sebaiknya sampah yang masih memiliki kondisi baik dan bisa di olah tidak di buang terlebih dahulu. Dengan kata lain, di lakukan daur ulang untuk mengurangi pencemaran tanah.
3. Program reboisasi atau penanaman kembali
Pencemaran tanah tidak hanya bisa mengakibatkan pencemaran udara. Dalam hal ini bisa jadi di sebabkan juga olehnya. Nah, untuk mentantisipasi hal ini melakukan reboisasi atau penanaman kembali menjadi salah satu aspek penting untuk di perhatikan. Selain itu, reboisasi juga bisa membantu kesuburan tanah kembali terjaga.
4. Remidiasi tanah
Jika reboisasi adalah penanaman pohon kembali, maka remidiasi ini bermaksud untuk pembersihan kembali. Jadi, bagian tanah yang telah tercemari dengan berbagai sebab, akan di bersihkan sehingga bisa kembali subur. Tentu saja hasilnya tidak bisa 100 %. Akan tetapi paling tidak ini sudah sangat bermanfaat untuk kondisi tanah dari pada sebelumnya.
5. Bioremidiasi
Masih memiliki maksud yang sama dengan remidiasi, bioremidiasi ini juga merupakan penjernihan atau pembersihan tanah kembali. Akan tetapi dalam bioremidiasi, yang di gunakan adalah bakteri dan jamur. Jadi, pembersihan dalam bioremidiasi ini memanfaatkan bakteri dan jamur yang mampu merombak berbagai zat yang terkandung dan mencemari tanah.
Setelah mengenal lebih jauh tentang pencemaran tanah, kini saatnya Anda untuk ikut serta dalam pemeliharaan tempat Anda berdiri setiap harinya. Keterlibatan setiap komponen masyarakat di sini sangatlah di perlukan untuk menjaga bumi kita bersama. Oleh karena itu, di perintah maupun tidak, setiap masyarakat pun harus tetap ikut serta melibatkan diri di dalamnya.
Daftar Pustaka

INDUSTRI HIJAU


INDUSTRI HIJAU
Pembangunan Industri Hijau bertujuan untuk mewujudkan Industri yang berkelanjutan dalam rangka efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya alam secara berkelanjutan sehingga mampu menyelaraskan pembangunan industri dengan kelangsungan dan kelestarian fungsi lingkungan hidup dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Industri hijau adalah industri yang dalam proses produksinya mengutamakan upaya efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya secara berkelanjutan sehingga mampu menyelaraskan pembangunan industri dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup serta dapat memberi manfaat bagi masyarakat. Lingkup pembangunan industri hijau meliputi standarisasi industri hijau dan pemberian fasilitas untuk industri hijau.
Penerapan industri hijau dilaksanakan dengan pemenuhan terhadap Standar Industri Hijau (SIH) yang secara bertahap dapat diberlakukan secara wajib.
Pemenuhan terhadap Standar Industri Hijau oleh perusahaan industri dibuktikan dengan diterbitkannya sertifikat industri hijau yang sertifikasinya dilakukan melalui suatu rangkaian proses pemeriksaan dan pengujian oleh Lembaga Sertifikasi Industri Hijau (LSIH) yang terakreditasi. Proses pemeriksaan dan pengujian dalam rangka pemberian sertifikat industri hijau dilaksanakan oleh auditor industri hijau yang wajib memiliki sertifikasi kompetensi auditor industri hijau.
Untuk mendorong percepatan terwujudnya Industri Hijau, pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah dapat memberikan fasilitas kepada perusahaan industri baik fiskal maupun non fiskal. Strategi pengembangan Industri Hijau akan dilakukan yaitu:
  1. mengembangkan industri yang sudah ada menuju industri hijau; dan
  2. membangun industri baru dengan menerapkan prinsip-prinsip industri hija
KONSEP DASAR DAN PRINSIP INDUSTRI HIJAU
Konsep Penerapan Efisiensi melalui Industri Hijau
Strategi penerapan industri hijau, yaitu mengembangkan industri yang sudah ada menuju industri hijau dan membangun industri baru dengan prinsip industri  hijau, mempunyai arti yang sangat luas karena didalamnya termasuk upaya pencegahan pencemaran dan perusakan lingkungan melalui upaya pemilihan bahan baku yang ramah lingkungan, meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya (bahan baku, energi dan air) pada setiap tahapan produksi, pembaharuan penggunaan atau perbaikan teknologi produksi rendah karbon, pilihan jenis proses yang efektif dan efisien, rancangan produk yang ramah lingkungan dan minimalisasi limbah.
Prinsip industri hijau selaras prinsip produksi bersih (cleaner production), dimana dalam beberapa prinsip pokok dan strategi yang dilakukan sebagai berikut:
  1. Meminimalkan penggunaan bahan baku, air, energi dan pemakaian bahan baku tidak ramah lingkungan (beracun dan berbahaya), serta meminalisasi terbentuknya limbah pada sumbernya sehingga mencegah dan atau mengurangi timbulnya pencemaran dan kerusakan lingkungan serta risikonya tehadap manusia.
  2. Perubahan dalam pola produksi dan konsumsi, berlaku baik pada proses maupun produk yang dihasilkan, sehingga harus memahami secara baik analisis daur hidup produk.
  3. Perubahan dalam pola pikir, sikap dan tingkah laku dari semua pihak terkait baik pemerintah, masyarakat maupun kalangan dunia usaha yang tentunya didukung oleh komitmen secara bersama-sama dan terlebih dituangkan dalam kebijakan implementasi industri hijau.
  4. Mengaplikasikan teknologi ramah lingkungan, sistem manajemen yang meliputi posedur standar operasi sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan.
  5. Pelaksanaan program industri hijau harus didasarkan pada kesadaran (awareness) sehingga diperlukan pengaturan sendiri (self regulation) yang tidak bergantung pada peraturan atau ketentuan pemerintah.
Jika dilihat dari manfaat yang diperoleh dari implementasi industri hijau, pertama: menimalisasi terbentuknya limbah sehingga dapat menjaga dam melindungi lingkungan dan kedua: dapat mengurangi biaya produksi.


Definisi Terkait Industri Hijau
Di dalam Undang-undang Republik Indonesia No. 3 tahun 2014 tentang Perindustrian, definisi-definisi berikut ini perlu diketahui dalam kaitannya denganIndustri Hijau, sehingga peserta pelatihan perlu mengetahui secara rinci pengertian-pengertian tentang industri, perusahaan industri, standardisasi, dan industri hijau.
Industri adalah seluruh bentuk kegiatan ekonomi yang mengolah bahan baku dan/atau memanfaatkan sumber daya industri sehingga menghasilkan barang yang mempunyai nilai tambah atau manfaat lebih tinggi, termasuk jasa industri.
Perusahaan Industri adalah setiap orang yang melakukan kegiatan di bidang usaha industri yang berkedudukan di Indonesia.
Standardisasi adalah proses merumuskan, menetapkan, menerapkan, memelihara, memberlakukan, dan mengawasi standar bidang industri yang dilaksanakan secara tertib dan bekerja sama dengan semua pemangku kepentingan.
Industri Hijau adalah industri yang dalam proses produksinya mengutamakan upaya efisiensi dan efektifitas penggunaan sumber daya secara berkelanjutan sehingga mampu menyelaraskan pembangunan industri dengan pelestarian fungsi lingkungan hidup serta dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Konsep Penerapan Industri Hijau
Secara umum kegiatan proses produksi di perusahaan industri masih menerapkan sistem manufaktur konvensional, atau yang dikenal dengan Bussiness as Usual (BAU). Namun, sudah saatnya dilakukan transformasi paradigma menuju sistem manufaktur industri hijau, yaitu sistem manufaktur yang mengedepankan konsep efisiensi, penggunaan sumber daya terbarukan, dan penggunaan teknologi rendah karbon. Selain itu, produksi hijau juga dapat dilakukan dengan pemanfaatan kembali material dan sumber daya yang digunakan melalui konsep 4R (Reduce, Reuse, Recycle, Recovery), menggunakan sumber daya manusia yang kompeten, implementasi SOP, layout pabrik yang efisien dan efektif, dan modifikasi atau penggantian mesin/peralatan. Perbedaan konsep penerapan industri hijau dengan konsep BAU dapat dilihat pada diagram berikut:
Diagram2‑1 Konsep Penerapan Industri Hijau

Kaidah 4 R dalam Penerapan Prinsip Industri Hijau
Penerapan prinsip 4R (Reduce, Reuse, Recycle dan Recovery) merupakan hal pokok dalam mengaplikasikan kegiatan industri hijau pada industri. Prinsip 4R merupakan bagian hirarki pengelolaan limbah ataupun sumber daya industri.
Diagram2‑2 Hirarki Tahapan Pengolahan Sumber Daya Industri
Reduce: Pengurangan penggunaan sumber daya (bahan baku, energi dan air) melalui pemanfaatan semaksimal mungkin sumber daya yang digunakan mulai tahap persiapan sampai saat digunakan sebagai material input pada proses industri.  
Reuse: Penggunaan kembali sumber daya yang ada (energi, bahan baku dan air) yang merupakan keluaran dari proses atau utilitas pada sistem atau fasilitas industri tanpa mengalami perlakuan fisika/kimia/biologi.
Recycle: Penggunaan kembali sumber daya yang merupakan keluaran dari proses reaksi atau utilitas dari suatu sistem atau fasilitas pada industri dengan modifikasi beberapa rangkaian sistem dan teknologi (fasilitas dan peralatan) untuk melakukan proses kembali ke bentuk semula yang dapat dicapai melalui perlakukan fisika/kimia/biologi.
Recovery: Pemisahan potensi sumber daya (bahan, energi dan air) dari suatu tahapan tertentu dengan memprosesnya kembali ke bentuk semula yang dicapai melalui perlakukan fisika/kimia/biologi.
Skala prioritas pelaksanaan Industri Hijau
Strategi untuk menghilangkan limbah atau mengurangi limbah sebelum terjadi (preventive strategy), lebih disukai daripada strategi yang berurusan dengan pengolahan limbah atau pembuangan limbah yang telah ditimbulkan (treatment strategy).
  • Eliminasi: Strategi ini dimasukkan sebagai metode pengurangan limbah secara total. Bila perlu tidak mengeluarkan limbah sama sekali (zero discharge). Didalam konsep penerapan Industri Hijau hal ini dimasukkan sebagai metode pencegahan pencemaran.
  • Minimisasi Limbah (mengurangi sumber limbah): Strategi pengurangan limbah yang terbaik adalah strategi yang menjaga agar limbah tidak terbentuk pada tahap awal. Pencegahan limbah mungkin memerlukan beberapa perubahan penting terhadap proses, tetapi hal ini memberikan hasil-hasil peingkatan lingkungan dan ekonomi yang terbesar.
  • Daur Ulang: Jika timbulnya limbah tidak dapat dihindarkan dalam suatu proses, maka strategi-strategi untuk meminimalkan limbah tersebut sampai batas tertinggi yang mungkin dilakukan harus dicari, seperti misalnya daur ulang (recycle) dan/atau penggunaan kembali(reuse). Jika limbah tidak dapat dicegah atau di minimkan melalui penggunaan kembali atau daur ulang, strategi-strategi yang mengurangi volume atau kadar racunnya melalui pengelolahaan limbah dapat dilakukan. Walaupun “strategi-strategi bagian akhir (end of pipe)” ini kadang-kadang dapat mengurangi jumlah limbah, strategi tersebut tidak sama efektifnya dengan mencegah limbah di tahap awal.
  • Pengendalian Pencemaran: Strategi yang terpaksa dilakukan mengingat pada proses perancangan produksi perusahaan belum meng-antisipasi adanya teknologi baru yang sudah bebas terjadinya limbah. Artinya limbah memang sudah terjadi dan ada dalam sistim produksinya, namun kualitas dan kuantitas limbah yang ada dikendalikan agar tidak melebihi baku mutu yang disyaratkan.
  • Pengelolaan dan Pembuangan: Strategi terakhir yang perlun dipertimbangkan adalah metoda-metoda pembuangan alternatif. Pembuangan limbah yang tepat merupakan suatu komponen penting dari keseluruhan program menejemen lingkungan; tetapi, ini adalah teknik yang paling tidak efektif.
  • Remediasi: Strategi penggunaan kembali bahan-bahan yang terbuang bersama limbah. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kadar toxisitas kuantitas limbah yang ada.
Peluang dan Manfaat Penerapan Industri Hijau
Pengembangan dan penerapan industri hijau memberi peluang sekaligus manfaat baik pada tingkat nasional dan perusahaan industri. Beberapa peluang dan manfaat tersebut meliputi antara lain:
  1. Berkembangnya paradigma global dan perhatian terhadap industri yang menerapkan kaidah atau prinsif berkelanjutan dalam proses produksi (green processing) dan pola konsumsi masyarakat terhadap produk ramah lingkungan (green consumption).
  2. Ketentuan beberapa aturan tata niaga (perdagangan) untuk barang atau komoditi impor dibeberapa negara terhadap standar ramah lingkungan (eco-labeling, sustainable standard, green product, dan lain-lain) khususnya negara-negara maju.
  3. Persyaratan koorporasi terhadap kebijakan green business yang semakin berkembang sebagai perwujudan terhadap komitmen perusahaan terhadap upaya pelestarian lingkungan.
  4. Persayaratan lembaga perbankan atau pendanaan terhadap debitur untuk pemenuhan kriteria investasi hijau (green investment/financing) atau pengadaan hijau (green procurement) dari proyek investasi.
  5. Pengembangan skema bisnis ESCO, yang memberi peluang bagi industri hijau untuk melakukan inovasi optimalisasi penggunaan energi dengan skema pendanaan proyek efisiensi energi dari penghematan yang diperoleh.
  6. Pemanfaatan sumber daya alam bagi kebutuhan industri secara optimal dan terjaganya keberlanjutan lingkungan.
  7. Mendorong pengembangan teknologi baru yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
  8. Mendukung prinsip ‘enviromental equity’ dalam rangka pembangunan berkelanjutan.
  9. Berkurangnya biaya produksi untuk satu satuan produk yang dihasilkan pada industri, karena terjadinya optimalisasi penggunaan sumber daya dan minimalisasi biaya pengelolaan limbah.
  10. Memperkuat daya saing produk nasional di pasar internasional.

Pada tingkat industri, penerapan industri hijau akan memberi manfaat antara lain:  
  1. Lebih efektif dan efisien dalam penggunaan sumberdaya (bahan baku, energi, dan air) sehingga mampu menimalisasi biaya produksi
  2. Pemenuhan dan partisipasi terhadap pengelolaan lingkungan lebih meningkat berdampak pada peningkatan kualitas lingkungan industri dan masyarakat sekitar.
  3. Meningkatkan citra produsen dan meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk yang dihasilkan
  4. Membuka peluang sponsorship, pendanaan berbasis ESCO, green atau proyek keberlanjutan (sustainable project) dari lembaga perbankan/keuangan atau lembaga atau korporasi internasional
  5. Mengurangi tingkat bahaya kesehatan dan keselamatan kerja pada lingkungan kerja


Tantangan dan Kendala Penerapan Industri Hijau
Pengembangan industri hijau sebagaimana diharapkan akan memberi peluang dan manfaat dalam mendorong pembangunan industri yang berdaya saing dan berkelanjutan di Indonesia. Implementasi program pengembangan industri hijau tidak mudah dan berbagai tantangan dan kendala yang dihadapi sebagai berikut:
  1. Pemahaman dan pengetahuan tentang industri hijau masih kurangPada tingkat industri, pemahaman pengelolaan industri masih berorientasi terhadap produktivitas dan pemenuhan terhadap peraturan lingkungan yang diwajibkan terkait dengan baku mutu lingkungan. Pola piker pengelolaan lingkungan masih berpola end of pipe.
  2. Kurangnya akses informasi terhadap proses dan teknologi yang hemat penggunaan sumber daya
Informasi proses dan teknologi hemat energi masih sangat terbatas dan transfer knowledge terhadap inovasi teknologi yang berbasis green technology masih kurang. Pelaku industri memerlukan database informasi terhadap successful story penggunaan/penerapan teknologi di beberapa industri terkait dengan resiko investasi.
  1. Biaya investasi dalam Penerapan Industri Hijau Besar
Implementasi industri hijau memerlukan biaya tambahan (additional cost) dari unsur perbaikan pengelolaan berbasis sistem manajemen dan aplikasi teknis yang memerlukan retrofit, modifikasi, pergantian baru dari suatu fasilitas atau teknologi pada industri.
  1. Kebijakan dan Program Industri Hijau
Kebijakan industri hijau masih perlu dukungan lintas sektoral dan beberapa aturan teknis dan acuan pengembangan industri hijau (pedoman/tata cara, standar, best practice, dan lain-lain)
  1. Sosialisasi dan Kampanye Industri Hijau
Pemahaman industri hijau bagi pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat masih kurang optimal. Informasi industri hijau perlu disebarluaskan dengan melibatkan berbagai pihak terkait (pemerintah pusat, asosiasi industri, lembaga keuangan/perbankan, korporasi, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, pelajar dan lain-lain).  
  1. Insentif dan Apresiasi Implementasi Industri Hijau
Perhatian terhadap pengembangan industri dan harapan implementasi industri hijau dapat berjalan dengan baik sesuai dengan yang diharapkan perlu stimulasi berupa insentif sebagai perwujudan apresiasi dan manfaat yang akan diperoleh oleh industri hijau.
Daftar Pustaka