Kimia hijau, juga disebut kimia berkelanjutan, adalah filsafat penelitian dan rekayasa/teknik kimia yang menganjurkan desain produk dan proses yang meminimasi penggunaan dan penciptaan senyawa-senyawa berbahaya.
Tampilkan postingan dengan label @A41-RIKI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @A41-RIKI. Tampilkan semua postingan
Kamis, 15 Desember 2016
Kamis, 08 Desember 2016
Pengaruh Hujan Asam
Pengertian
Hujan Asam
Hujan asam mempunyai pengertian sebagai segala bentuk hujan yang memiliki
tingkat keasaman atau pH dibawah normal, yakni dibawah 5,6. Secara umum, hujan
yang turun di wilayah Indonesia memiliki pH normal sekitar 6. Dan hujan asam
ini mempunyai kandungan pH di bawah kadar normal tersebut. Asamnya hujan ini
dikarenakan adanya kandungan karbondioksida atau CO₂ yang larut dengan air hujan tersebut dan memiliki
bentuk sebagai asam lemah.
Karakteristik Hujan Asam
Seperti jenis hujan lainnya, hujan asam ini juga mempunyai karakteristik
khusus yang akan menjadi ciri khasnya dan membedakannya dengan jenis hujan yang
lainnya. Karakteristik atau ciri- ciri yang dimiliki oleh hujan asam ini hanya
dapat kita temukan di hujan asam saja dan tidak di hujan yang lainnya. Beberapa
ciri atau karakteristik yang dimiliki oleh hujan asam ini antara lain adalah
sebagai berikut:
- Memiliki pH dibawah kadar normal, yakni dibawah 5,7
- Terjadi karena adanya peningkatan kadar asam nitrat dan sulfat yang ada di dalam polusi udara.
- Awal terjadinya karena disebabkan oleh peningkatan emisi sulfur dioksida dan nitrogen oksida yang ada di atmosfer
- Meningkatkan seseorang terserang gangguan jantung dan juga paru- paru
- Membuat kulit menjadi gatal- gatal dan memerah
- Beresiko menyebabkan pusing bagi orang yang memiliki kekabalan tubuh yang rendah
Penyebab Terjadi
Hujan Asam
Hujan asam
ini juga terjadinya disebabkan oleh beberapa hal atau beberapa sebab. Sebab-
sebab yang mendatangkan terjadinya hujan asam adalah sebagai berikut:
- Karbondioksida atau CO₂ dan karbon monoksida atau CO. Karbondioksida dan karbon monoksida ini merupakan suatu gas hasil proses pembakaran yang bertemu dengan uap air atau H₂O. kedua gas ini apabila bertemu akan membentuk asam karbonat atau H2CO3 yang termasuk ke dalam kategori asam lemah.
- Hidrogen sulfida atau H2S, sukfur oksida atau SO2 yang bertemu dengan uap air atau H2O akan membentuk asam sulfat atau H2SO4 yang meurapakan kategori asam yang kuat.
Itulah penyebab terjadinya hujan asam secara alami. Kemudian sebab- sebab
tersebut dapat ditimbulkan oleh karena adanya beragam aktivitas manusia maupun
fenomena alam. Beberapa aktivitas manusia dan juga fenomena alam yang dapat
menimbulkan terjadinya hujan asam diantaranya adalah pembakaran BBF, letusan
gunung berapi , kebakaran hutan, peleburan logam, aktivitas pabrik, dan
pembangkit listrik.
Selain fenomena alam maupun beragam aktivitas manusia yang dapat
menimbulkan hujan asam, kita juga perlu mengetahui tenang apa saja gas- gas
yang terlibat dalam proses terjadinya hujan asam ini. Beberapa gas yang
terlihat dalam proses terjadinya hujan asam ini antara lain adalah:
- Karbondioksida atau CO₂. Karbondioksida ini merupakan suatu gas hasil proses pembakaran. Hal- hal yang dapat menyebakan karbondioksida ini antara lain adalah pernafasan makhluk hidup, hasil pembakaran, polusi kendaraan bermotor, dan lain sebagainya.
- Karbon monoksida atau CO. Karbon monoksida ini juga merupakan satu gas yang diperoleh dari berbagai proses pembakaran. Seperti halnya karbondioksida, karbon monoksida ini juga dapat diproduksi melalui beberapa aktivitas sebagai berikut: pernafasan makhluk hidup, hasil pembakaran, polusi kendaraan bermotor, dan lain sebagainya
- Uap air atau H2O. uap air juga merupakan elemen yang berperan dalam proses terjadinya hujan asam. Uap air ini dapat disebabkan karena adanya penguapan dari sumber- sumber air yang ada di Bumi ketika sedang dipanasi oleh sinar matahari.
- Hidrogen sulfida atau H2S. Yakni suatu gas yang dapat timbul karena adanya pembakaran atau pemanasan belerang.
- Sulfur dioksida, yakni gas yang dapat timbul karena adanya pembakaran belerang pula, seperti halnya hidrogen sulfida.
Itulah beberapa gas yang terlibat dalam pembuatan atau terjadinya hujan
asam. Ujan asam ini terjadi setelah beberapa gas tersebut akan menghasilkan
hujan asam ketika sudah bertemu antara uap air, sebagai contoh karbondioksida
dan karbondioksida dengan uap air, serta hidrogen sulfida dan sulfur
dioksida dengan uap air.
Proses Terjadinya Hujan Asam
Seperti halnya hujan pada umumnya yang terbentuk karena melalui beberapa
tahapan atau proses terjadinya hujan, hujan asam pun
juga demikian. Tahapan- tahapan yang akan dilalui dalam proses terjadinya hujan asam ini setidaknya
ada enam tahapan. Tahapan- tahapan tersebut akan disajikan secara urut dan
disebut dengan kronologis. Berikut ini akan dipaparkan mengenai tahapan-
tahapan terjadinya hujan asam ini secara urutm yakni:

- Di Bumi terdapat beragam aktivitas baik aktivitas alam maupun aktivitas manusia yang menimbulkan berbagai macam gas penyebab hujan asam, seperti karbondioksida, karbonmonoksida, sulfur dioksida, dan hidrogen sulfur.
- Kemudian di Bumi juga terjadi penguapan oleh berbagai macam sumber air yang disebabkan karena pemanasan sinar matahari dan menghasilkan uap air yang banyak.
- Setelah itu uap air yang timbul dari pengembunan tersebut akan bertemu dengan gas- gas yang menyebabkan terjadinya hujan asam tersebut. Yakni karbondioksida dan karbonmonoksida dengan uap air, serta hidrogen sulfur dan sulfur oksida dengan uap air.
- Adanya pertemuan uap air dengan karbondioksida atau karbon monoksida ini akan menghasilkan asam yang bersifat lemah. Hidrogen oksida dan sulfur dioksida ketika bertemu dengan uap air akan menghasilkan asam yang bersifat kuat.
- Kemudian kandungan syang bertemu tersebut terbawa oleh angin menuju tempat yang jauh dari sumbernya dan semakin ke atas.
- Ketika sudah sampai di atas, gas yag bercampur dengan uap air tersebut akan mengalami kejenuhan sehingga menjatuhkan kandungan airnya sebagai titik- titik air. Titik- titik air inilah yeng menjadi hujan. Hujan inilah yang yang dinamakan sebgai hujan asam
Itulah kronologi atau tahapan proses terjadinya hujan asam. Tahapan-
tahapan yang telah disebutkan di atas disajikan secara urut sehingga membentuk
suatu kronologi. Untuk mengetaui lebih jelas dan lebih mendetail mengenai
proses terjadinya hujan asam, disamping adalah visualisasi dari proses
trejadinya hujan asam ini. Dalam gambar tersebut tampak asap yang diphasilkan
sisa pembakan pabrik yang keluar dari cerobong asap menuju ke arah atas udara.
Kemudian bercampur dengan uap air, yang pada akhirnya menghasikan hujan. Hujan
ini turun di tempat yang jauh dari sumbernya karena telah terbawa oleh angin.
Sifat Hujan Asam
Setelah kita mengetahui tentang proses terjadinya hujan asam, kita akan
mengetahui fakta tentang hujan asam ini. Berikut ini adalah fakta mengenai
hujan asam, yakni sebagai berikut:
- Hujan asam merupakan sebuah hujan yang intensitas terjadinya meningkat ketika terjadi revolusi industri. Jenis industri yang paling banyak menimbulkan atau memicu terjadinya hujan asam adalah indistri yang melakukan pembakaran atau yang mempunyai cerobong asam dan menggunakannya sebagai cara untuk membuang asap sisa pembakaran.
- Penggunaan cerobong asap memang bisa mengurangi polusi udara yang ada di permukaan Bumi (khususnya di bagian bawah), namun penggunaan cerobong asap ini justru akan menambah kontribusi pada penyebaran hujam asam sendiri.
- Hujan asam ini biasanya terjadi di daerah yang lokasinya jauh dari sumber atau penyebab terjadinya hujan itu sendiri. Di wilayah Bumi, yang paling banyak mengalami hujan asam adaah di daerah gunung atau pegunungan. Hal ini karena daerah pegunungan mempunyai curah hujan yang lebih tinggi daripada daerah atau kawasan yang ada di sekitarnya.
- Pengaruh dari hujan asam sendiri dapat kita lihat dari beberapa sudut atau beberapa hal, antara lain adalah menurunnya jumlah ikan yang berada di danau. Selain itu, efek yang terlihat pada tumbuhan hijau adalah rusaknya lapisan lilin yang ada di daun tumbuhan
- Dari hujan asam pula kita juga dapat menemui beragam nutrisi akan hilang. Hal ini akan berakibat pada tumbuhan yang tidak akan tahan pada udara dingin dan juga tidak tahan terhadap serangan serangga dan juga jamur
- Hujan asam juga akan membuat pertumbuhan akar pada tumbuhan menjadi lambat. Dan manusia dapat terganggu oleh berbagai macam penyakit karena adanya hujan asam ini.
Itulah beberapa informasi mengenai hujan asam ini. Informasi yang telah
disebutkan di atas menjadi bagian dari sifat yang dimiliki oleh hujan asam ini.
Manfaat Hujan Asam
Sebagai salah satu jenis fenomena alam, hujan sangat dikenal sebagai
fenomena alam yang mempunyai banyak sekali manfaat bagi alam dan juga makhluk
hidup yang ada di dalamnya. Bukan hanya manusia, namun juga binatang dan
tumbuh- tumbuhan.
Seperti halnya hujan pada umumnya, hujan asam pun juga mempunyai sisi
positif. Sisi positif ini adalah sisi kemanfaatan dari hujan asam sendiri bagi
alam sekitar atau alam semesta raya. Meskipun sebenarnya hujan asam lebih
identik dengan sesuatu hal yang negatif, namun keberadaannya di Bumi ternyata
juga membawa sedikit manfatat. Satu- satunya manfaat dari hujan asam yang
banyak diketahui oleh banyak orang adalah hujan asam ini mampu melarutkan berbagai
mineral yang sangat di butuhkan oleh binatang dan juga tumbuhan yang ada di
Bumi. Kandungan asam yang tinggi inilah yang mampu melakukannya (melarutkan
mineral di dalam tanah). Sementara hanya inilah manfaat dari hujan asam yang
mampu dipecahkan. Selain manfaat tersebut, masih ada manfaat lain yang akan
kita peroleh dari turunnya hujan asam ini.
Dampak yang ditimbulkan hujan asam
Adapun dampak yang di timbulkan hujan asam,
diantaranya seperti di bagian bawah ini:
- Hujan asam adalah racun bagi makhluk hidup khususnya umat manusia, karena akan berdampak bagi kesehatan. Air hujan asam akan menyebar ke perairan seperti sungai, danau dan tempat penyimpanan air lainnya, karena pH yang terlalu rendah sangat tidak baik untuk kesehatan manusia.
- Hujan asam dapat menghambat pertumbuhan makhluk hidup yang ada di perairan misalnya seperti ikan atau binatang yang hidup di air akan mati, karena pH yang semakin kecil dapat menghambat pertumbuhan benih-benih ikan, dan membuat ikan sulit untuk berkembang biak.
- Hujan asam dapat memusnahkan makhluk hidup yang ada di air, penelitian menunjukan bahwa plankton tidak bisa bertahan hidup jika pH air dibawah 5. Plankton adalah salah satu makanan bagi ikan, jika plankton musnah rantai makanan di perairanpun akan terputus.
- Hujan asam dapat merusak lingkungan dan akan menyebabkan banyak tumbuhan yang mati. Hujan asam dapat menghancurkan zat lilin yang ada pada tumbuhan. Sehingga nutrisi yang terkandung pada tumbuhan tersebut akan hilang, dan tumbuhan akan mudah terserang penyakit.
- Hujan asam juga dapat menyebabkan peningkatan konsentrasi logam dalam air. Dan juga dapat menyebabkan bangunan rusak karena berkarat.
Cara untuk mencegah dan menanggulangi hujan asam
- Gunakanlah energi secara bijak jangan terlalu berlebihan, jangan terlalu sering menggunakan bahan bakar fosil.
- Pakailah kendaraan bermotor seperlunya, kalau bisa usahakan pakai kendaraan umum saat berpergian.
- Jangan menebang pohon atau hutan sembarangan, dan tanamlah pohon atau reboisasi.
- Usahakan untuk memakai peralatan yang ramah lingkungan.
Daftar Pustaka
Anonim. 2015. Pengertian Hujan Asam Dan Dampaknya Yang Ditibulkan
Anonim. 2016. Hujan Asam : Pengertian, Proses, Manfaat, dan Dampaknya. (http://ilmugeografi.com/fenomena-alam/hujan-asam )
Kamis, 01 Desember 2016
Pencemaran di Jogyakarta
Pembangunan
hotel dan mal yang semakin marak dalam beberapa tahun terakhir di Daerah
Istimewa Yogyakarta, ternyata membawa dampak buruk bagi lingkungan. Dalam
diskusi Jogja Sold Out di
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gajah Mada, Rabu, (22/04/2015),
warga Miliran, Kota Yogyakarta, Dodok Putra Bangsa mencontohkan sejak pendirian
Fave Hotel, sumur warga Miliran mengering.
“Sumur-sumur warga mengalami kekeringan sejak muncul
hotel tersebut. Kami jadi korban pembangunan Fave Hotel. Sejak beroperasi 2012
silam sumur warga jadi kering. Padahal sejak saya hidup disini dan kecil sumur
tidak pernah kering meski musim kemarau,” kata aktivis gerakan Jogja Asat itu.
Setelah protes mereka tidak direspon manajemen
hotel Fave, Dodo dan warga Miliran menyambangi pemerintah Kota Yogyakarta untuk
meminta dilakukan pengawasan penggunaan sumur dalam Fave Hotel.
“Ironisnya pemerintah Kota Yogyakarta melalui Badan
Lingkungan Hidup (BLH) malah beragumen membenarkan operasional hotel karena
dinilai sudah tepat mengambil sumber air dalam yag tidak akan menganggu air
sumber air dangkal masyarakat. Padahal jelas-jelas sumur warga terdampak
menjadi kering,” tambahnya.
Dodok mengajak masyarakat dan kaum muda
bersama-sama memperjuangkan kepentingan rakyat yang telah kehilangan kebutuhan
dasar yakni air. Salah satunya dengan melakukan riset terkait dokumen Amdal
pembangunan hotel dan mal di Yogyakarta.
“Saya takut Jogja nantinya benar-benar kering. Jadi ayo
siapa yang mau membantu melakukan riset Amdal dan IMB mal dan hotel di
Yogyakarta,” ajaknya.
Sementara itu, aktivis lingkungan RM. Aji Kusumo
menilai bahwa pembangunan hotel maupun mal lebih banyak memunculkan dampak
negatif bagi masyarakat sekitar. “Pembangunan hotel dam mal dengan modal
investor tidak menguntungkan warga karena keuntungan hanya masuk ke kantong
mereka sendiri (investor),” kata Aji.
Meski merugikan masyarakat, pembangunan gedung
komersil tetap berjalan karena ada dukungan dari aparat kepolisian. Bahkan
tidak jarang mendapat dukungan ilmiah dari kalangan akademisi yang luput dari
fokus pembangunan yang berkeadilan.
Pembangunan dan aktivitas
manusia di Kota Jogja yang semakin padat berdampak pada risiko pencemaran timah
dalam tanah.
Dosen Departemen
Geologi Universitas Yangon Myanmar, Saw Aung Zaw Aye dalam ujian terbuka
program doktor di Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) mengatakan
pentingnya pengawasan terhadap area perkotaan yang berpotensi terkontaminasi.
Kesadaran mengenai kesehatan masyarakat terkait bahaya timah juga diperlukan,
mengingat jalur paparan dan penilaian risiko polutan, juga harus diperhatikan.
Ia memberikan
masukan, agar ada manajemen dari area urban yang telah terkontaminasi, dilihat
berdasarkan tipe penggunaan tanah. Selain itu diperlukan edukasi publik untuk
mengurangi sumber kontaminasi dengan pengelolaan limbah yang layak, daur ulang,
serta penggunaan ulang material harus dipraktekkan di area urban yang tua.
Manajemen yang efektif perlu dirancang untuk area urban yang relatif muda demi
pembangunan yang berkelanjutan.
Dalam penelitian
tersebut Saw Aung Zaw Aye menerangkan, kontaminasi timah sesungguhnya dapat
diturunkan dari sumber natural atau sumber antropogenik. Peneliti sebelum
dirinya, telah menjelaskan mengenai kemungkinan kontaminasi timah di permukaan
tanah yang disebabkan oleh hasil pembakaran bahan bakar dari kendaraan
bermotor.
Selain itu, ia
juga mengumpulkan sampel dari beberapa lokasi seperti area sekitar Gunung
Merapi sebagai area alami, Pakem sebagai area pertanian, serta wilayah
perkotaan sebagai area urban.
Dari sana
diketahui, kontaminasi timah di area perkotaan dan Pakem disebabkan oleh sumber
antropogenik, sementara di Merapi kontaminasi lebih disebabkan oleh sumber
natural, yaitu sebagai akibat dari aktivitas vulkanis.
Daftar Pustaka :
-Aprindo, Tommy.
2015. Pembangunan Hotel Dan Mal di Yogyakarta Merusak Lingkungan. Mengapa?
-Febriani,
Uli. 2016. Konsentrasi timah dijogja tinggi, apa yang harus dilakukan?
Kamis, 24 November 2016
Industri Tekstil
Macam Zat Kimia yang Sering Digunakan dalam
Industri Tekstil
Bahan-bahan kimia telah menjadi
bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan kita, menjadi bagian dari
aktifitas kita terutama di bidang industri tekstil.Banyak macam zat kimia yang
digunakan dalam industri tekstil, zat kimia tersebut sangat berperan penting
dalam proses penyempurnaan. Berikut adalah beberapa macam zat kimia yang sering
digunakan dalam industri tekstil:
2.2.1 Soda Api (NaOH)
Sodium hidroksida tersedia dalam
bentuk serpihan-serpihan (konsentrat 100%) atau dalam bentuk cair dengan konsentrasi
yang bermacam-macam.
2.2.2 Asam Klorida (HCl)HCl adalah cairan kekuning-kuningan dengan aroma kuat yang menusuk, bersifat sangat korosif.
2.2.2 Sodium Nitrit (NaNO₂)
Sodium nitrit adalah bubuk kristal putih kekuning-kuningan yang dapat dilarutkan dalam air. Senyawanya adalah agen oksidasi yang kuat.
2.2.3 Hidrogen Peroksida (H₂O₂)
Hidrogen peroksida memiliki sifat oksidasi yang kuat dan merupakan agen pengelantangan yang hebat. Hidrogen peroksida juga mudah terbakar.
2.2.4 Sodium Ditionit (Na₂S₂O₄)
Sodium ditionit (juga dikenal dengan sodium hidrosulfit) adalah bubuk kristal putih dengan aroma belerang. Senyawa ini adalah garam yang larut dalam air, dan dapat digunakan sebagai agen pereduksi dalam bentuk larutan encer.
2.2.5 Sodium Karbonat (Na₂CO₃)
Sodium karbonat adalah bubuk kristal putih yang dikenal juga sebagai abu soda.
2.2.2 Sodium Silikat (Na2SiO3)
Sodium silikat (water glass) adalah senyawa alkali yang kuat.
2.2.3 Zat warna Naftol dan zat warna reaktif
Zat warna Naftol dan zat warna reaktif termasuk dalam golongan senyawa Azo. Senyawa azo merupakan bahan kimia yang berbahaya apabila masuk ke dalam tubuh dan terakumulasi. Senyawa Azo mampu mereduksi amina aromatik yang menghasilkan arylamines yang dapat menimbulkan alergi pada kulit. Selain itu, bahan penyempurna pewarnaan yang digunakan untuk kedua zat warna tersebut adalah sama yaitu zat warna naftol memerlukan bahan berupa garam diazium dan natrium hidroksida sebagai pelekatan zat warna ke dalam kain, sedangkan zat warna reaktif memerlukan natrium hidroksida dan alkali untuk proses pelekatannya.
DAFTAR PUSTAKA :
Zat Kimia Tekstil
Pengertian dari zat warna tekstil
Zat warna tekstil adalah semua zat berwarna yang mempunyai kemampuan untuk diserap oleh serap tekstil dan mudah dihilangkan kembali. Di Indonesia, belum ada Undang-Undang yang mengaturnya tentang penggunaan zat pewarna sehingga masih ada penyalahgunaan pemakaian zat pewarna untuk sembarang bahan pangan; misal zat pewarna untuk tekstil dan kulit dipakai untuk mewarnai bahan makanan. Hal ini jelas sangat berbahaya bagi kesehatan karena adanya residu logam berat pada zat pewarna tersebut. Timbulnya penyalahgunaan zat pewarna tersebut disebabkan oleh ketidaktahuan rakyat mengenai zat pewarna untuk makanan (winarno, 1984).
Suatu zat dapat berlaku sebagai zat warna apabila mempunyai gugus yang dapat menimbulkan warna (kromofor) dan dapat mengadakan ikatan dengan serat tekstil Kromofor berasal dari kata Chromophore yang bersal dari bahasa yunani yaitu Chroma yang berarti warna dan phoros yang berarti mengemban (Fessenden dan fessenden, 1982 ).
Dari berbagai referensi hasil penelitian tentang zat warna alam yang telah dibaca oleh tim peneliti, pemanfaatan zat warna alam pada umumnya masih menggunakan teknik pencelupan untuk mewarnai bahan tekstil. Oleh karena itu tim peneliti merasa perlu untuk mengembangkan penggunaan zat warna alam dengan teknik pencapan sablon. Hal ini didasari bahwa teknik pencapan sablon telah memasyarakat sehingga mudah dipelajari disamping itu akan dapat memperpendek waktu produksi jika digunakan untuk membuat motif batik pada kain oleh para pengrajin. Dari hasil penelitian ini diharapkan meningkatkan produktivitas penggunaan zat warna alam untuk batik dan produk kerajinan.
Menurut sumber diperolehnya zat warna tekstil digolongkan menjadi 2 yaitu:
1. Zat Pewarna Alat(ZPA) yaitu zat warna yang berasal dari bahan-bahan alam pada umumnya dari hasil 130% tumbuhan atau hewan.
Zat Pewarna Sintesis (ZPS) yaitu Zat warna buatan atau sintesis dibuat dengan reaksi kimia dengan bahan dasar ter arang batu bara atau minyak bumi yang merupakan hasil senyawa turunan hidrokarbon aromatik seperti benzena, naftalena dan antrasena.Pada awalnya proses pewarnaan tekstil menggunakan zat warna alam. Namun, seiring kemajuan teknologi dengan ditemukannya zat warna sintetis untuk tekstil maka semakin terkikislah penggunaan zat warna alam. Keunggulan zat warna sintetis adalah lebih mudah diperoleh , ketersediaan warna terjamin, jenis warna bermacam macam, dan lebih praktis dalam penggunaannya Meskipun dewasa ini penggunaan zat warna alam telah tergeser oleh keberadaan zat warna sintesis namun penggunaan zat warna alam yang merupakan kekayaan budaya warisan nenek moyang masih tetap dijaga keberadaannya khususnya pada proses pembatikan dan perancangan busana. Rancangan busana maupun kain batik yang menggunakan zat warna alam memiliki nilai jual atau nilai ekonomi yang tinggi karena memiliki nilai seni dan warna khas, ramah lingkungan sehingga berkesan etnik dan eksklusif. Dalam tulisan ini akan dijelaskan teknik eksplorasi zat warna alam dari tanaman di sekitar kita sebagai upaya pemanfaatan kekayaan sumberdaya alam yang melimpah sebagai salah satu upaya pelestarian budaya. Zat Warna Alam untuk Bahan Tekstil
Zat warna alam untuk bahan tekstil pada umumnya diperoleh dari hasil ekstrak berbagai bagian tumbuhan seperti akar, kayu, daun, biji ataupun bunga. Pengrajin-pengrajin batik telah banyak mengenal tumbuhan-tumbuhan yang dapat mewarnai bahan tekstil beberapa diantaranya adalah : daun pohon nila (indofera), kulit pohon soga tingi (Ceriops candolleana arn), kayu tegeran (Cudraina javanensis), kunyit (Curcuma), teh (Tea), akar mengkudu (Morinda citrifelia), kulit soga jambal (Pelthophorum ferruginum), kesumba (Bixa orelana), daun jambu biji (Psidium guajava). (Sewan Susanto,1973).
Bahan tekstil yang diwarnai dengan zat warna alam adalah bahan-bahan yang berasal dari serat alam contohnya sutera,wol dan kapas (katun). Bahan-bahan dari serat sintetis seperti polyester , nilon dan lainnya tidak memiliki afinitas atau daya tarik terhadap zat warna alam sehingga bahan-bahan ini sulit terwarnai dengan zat warna alam. Bahan dari sutera pada umumnya memiliki afinitas paling bagus terhadap zat warna alam dibandingkan dengan bahan dari kapas.
Salah satu kendala pewarnaan tekstil menggunakan zat warna alam adalah ketersediaan variasi warnanya sangat terbatas dan ketersediaan bahannya yang tidak siap pakai sehingga diperlukan proses-proses khusus untuk dapat dijadikan larutan pewarna tekstil. Oleh karena itu zat warna alam dianggap kurang praktis penggunaannya.
Namun dibalik kekurangannya tersebut zat warna alam memiliki potensi pasar yang tinggi sebagai komoditas unggulan produk Indonesia memasuki pasar global dengan daya tarik pada karakteristik yang unik, etnik dan eksklusif. Untuk itu, sebagai upaya mengangkat kembali penggunaan zat warna alam untuk tekstil maka perlu dilakukan pengembangan zat warna alam dengan melakukan eksplorasi sumber- sumber zat warna alam dari potensi sumber daya alam Indonesia yang melimpah.
Zat warna tekstil adalah semua zat berwarna yang mempunyai kemampuan untuk diserap oleh serap tekstil dan mudah dihilangkan kembali. Di Indonesia, belum ada Undang-Undang yang mengaturnya tentang penggunaan zat pewarna sehingga masih ada penyalahgunaan pemakaian zat pewarna untuk sembarang bahan pangan; misal zat pewarna untuk tekstil dan kulit dipakai untuk mewarnai bahan makanan. Hal ini jelas sangat berbahaya bagi kesehatan karena adanya residu logam berat pada zat pewarna tersebut. Timbulnya penyalahgunaan zat pewarna tersebut disebabkan oleh ketidaktahuan rakyat mengenai zat pewarna untuk makanan (winarno, 1984).
Suatu zat dapat berlaku sebagai zat warna apabila mempunyai gugus yang dapat menimbulkan warna (kromofor) dan dapat mengadakan ikatan dengan serat tekstil Kromofor berasal dari kata Chromophore yang bersal dari bahasa yunani yaitu Chroma yang berarti warna dan phoros yang berarti mengemban (Fessenden dan fessenden, 1982 ).
Dari berbagai referensi hasil penelitian tentang zat warna alam yang telah dibaca oleh tim peneliti, pemanfaatan zat warna alam pada umumnya masih menggunakan teknik pencelupan untuk mewarnai bahan tekstil. Oleh karena itu tim peneliti merasa perlu untuk mengembangkan penggunaan zat warna alam dengan teknik pencapan sablon. Hal ini didasari bahwa teknik pencapan sablon telah memasyarakat sehingga mudah dipelajari disamping itu akan dapat memperpendek waktu produksi jika digunakan untuk membuat motif batik pada kain oleh para pengrajin. Dari hasil penelitian ini diharapkan meningkatkan produktivitas penggunaan zat warna alam untuk batik dan produk kerajinan.
Menurut sumber diperolehnya zat warna tekstil digolongkan menjadi 2 yaitu:
1. Zat Pewarna Alat(ZPA) yaitu zat warna yang berasal dari bahan-bahan alam pada umumnya dari hasil 130% tumbuhan atau hewan.
Zat Pewarna Sintesis (ZPS) yaitu Zat warna buatan atau sintesis dibuat dengan reaksi kimia dengan bahan dasar ter arang batu bara atau minyak bumi yang merupakan hasil senyawa turunan hidrokarbon aromatik seperti benzena, naftalena dan antrasena.Pada awalnya proses pewarnaan tekstil menggunakan zat warna alam. Namun, seiring kemajuan teknologi dengan ditemukannya zat warna sintetis untuk tekstil maka semakin terkikislah penggunaan zat warna alam. Keunggulan zat warna sintetis adalah lebih mudah diperoleh , ketersediaan warna terjamin, jenis warna bermacam macam, dan lebih praktis dalam penggunaannya Meskipun dewasa ini penggunaan zat warna alam telah tergeser oleh keberadaan zat warna sintesis namun penggunaan zat warna alam yang merupakan kekayaan budaya warisan nenek moyang masih tetap dijaga keberadaannya khususnya pada proses pembatikan dan perancangan busana. Rancangan busana maupun kain batik yang menggunakan zat warna alam memiliki nilai jual atau nilai ekonomi yang tinggi karena memiliki nilai seni dan warna khas, ramah lingkungan sehingga berkesan etnik dan eksklusif. Dalam tulisan ini akan dijelaskan teknik eksplorasi zat warna alam dari tanaman di sekitar kita sebagai upaya pemanfaatan kekayaan sumberdaya alam yang melimpah sebagai salah satu upaya pelestarian budaya. Zat Warna Alam untuk Bahan Tekstil
Zat warna alam untuk bahan tekstil pada umumnya diperoleh dari hasil ekstrak berbagai bagian tumbuhan seperti akar, kayu, daun, biji ataupun bunga. Pengrajin-pengrajin batik telah banyak mengenal tumbuhan-tumbuhan yang dapat mewarnai bahan tekstil beberapa diantaranya adalah : daun pohon nila (indofera), kulit pohon soga tingi (Ceriops candolleana arn), kayu tegeran (Cudraina javanensis), kunyit (Curcuma), teh (Tea), akar mengkudu (Morinda citrifelia), kulit soga jambal (Pelthophorum ferruginum), kesumba (Bixa orelana), daun jambu biji (Psidium guajava). (Sewan Susanto,1973).
Bahan tekstil yang diwarnai dengan zat warna alam adalah bahan-bahan yang berasal dari serat alam contohnya sutera,wol dan kapas (katun). Bahan-bahan dari serat sintetis seperti polyester , nilon dan lainnya tidak memiliki afinitas atau daya tarik terhadap zat warna alam sehingga bahan-bahan ini sulit terwarnai dengan zat warna alam. Bahan dari sutera pada umumnya memiliki afinitas paling bagus terhadap zat warna alam dibandingkan dengan bahan dari kapas.
Salah satu kendala pewarnaan tekstil menggunakan zat warna alam adalah ketersediaan variasi warnanya sangat terbatas dan ketersediaan bahannya yang tidak siap pakai sehingga diperlukan proses-proses khusus untuk dapat dijadikan larutan pewarna tekstil. Oleh karena itu zat warna alam dianggap kurang praktis penggunaannya.
Namun dibalik kekurangannya tersebut zat warna alam memiliki potensi pasar yang tinggi sebagai komoditas unggulan produk Indonesia memasuki pasar global dengan daya tarik pada karakteristik yang unik, etnik dan eksklusif. Untuk itu, sebagai upaya mengangkat kembali penggunaan zat warna alam untuk tekstil maka perlu dilakukan pengembangan zat warna alam dengan melakukan eksplorasi sumber- sumber zat warna alam dari potensi sumber daya alam Indonesia yang melimpah.
DAFTAR PUSTAKLA :
Diposkan oleh pusy jutek di 05.56
Komposisi Senyawa Kimia dalam Tekstil
Senin, 08 April 2013

Dari bahan hidrokarbon yang bisa dimanfaatkan untuk sandang adalah PTA (purified terephthalic acid) yang dibuat dari para-xylene dimana bahan dasarnya adalah kerosin (minyak tanah). Dari Kerosin ini semua bahannya dibentuk menjadi senyawa aromat, yaitu para-xylene. Rumus kimianya tau kan ? Bentuknya senyawa benzen (C6H6), tetapi ada dua gugus metil pada atom C1 dan C3 dari molekul benzen tersebut.
Senyawa hidrokarbon juga mulai digunakan untuk mengganti bahan alam
seperti kapas, sutra, dan wall. Bahan pakaian sintetis harganya lebih murah dan
dapat diproduksi secara besar-besaran dalam waktu singkat. Produk ini termasuk
polimer yang dibuat dari berbagai senyawa hidrokarbon molekul kecil yang
disebut monomer.
Proses pembuatan polyester
Proses pembuatan polyester
Kehalusan bahan yang terbuat dari serat poliester dipengaruhi oleh zat
penambah (aditif) dalam proses pembuatan benang (saat mereaksikan PTA dengan
metanol). Salah satu produsen PTA di Indonesia adalah di Pertamina Unit
Pengolahan III . Sebetulnya ada polimer lain yang juga dibunakan untuk pembuatan
serat sintetis yang lebih halus atau lembut lagi. Misal serat untuk bahan isi
pembalut wanita. Polimer tersebut terbuat dari polietilen.
Poliester adalah suatu kategori polimer yang mengandung gugus fungsional
ester dalam rantai utamanya. Meski terdapat banyak sekali poliester, istilah
"poliester" merupakan sebagai sebuah bahan yang spesifik lebih sering
merujuk pada polietilena tereftalat (PET). Poliester termasuk zat kimia yang
alami, seperti yang kutin dari kulit ari tumbuhan, maupun zat kimia sintetis
seperti polikarbonat dan polibutirat.
Kain dari poliester disebut-sebut terasa “tak alami” bila dibandingkan
dengan kain tenunan yang sama dari serat alami (misalnya kapas dalam penggunaan
tekstil). Namun kain poliester memiliki beberapa kelebihan seperti peningkatan
ketahanan dari pengerutan. Akibatnya, serat poliester terkadang dipintal
bersama-sama dengan serat alami untuk menghasilkan baju dengan sifat-sifat
gabungan. Poliester juga digunakan untuk membuat botol, film, tarpaulin, kano,
tampilan kristal cair, hologram, penyaring, saput (film) dielektrik untuk
kondensator, penyekat saput buat kabel dan pita penyekat.
Poliester kristalin cair merupakan salah satu polimer kristalin cair
yang digunakan industri yang pertama dan digunakan karena sifat mekanis dan
ketahanan terhadap panasnya. Kelebihan itu penting dalam penggunaannya sebagai
segel mampu kikis dalam mesin jet.
Poliester keras panas (thermosetting) digunakan sebagai bahan
pengecoran, dan resin poliester chemosetting digunakan sebagai resin pelapis
kaca serat dan dempul badan mobil yang non logam. Poliester tak jenuh yang
diperkuat kaca serat banyak digunakan dalam bagian badan dari kapal pesiar
serta mobil.
Kimia tekstil
…adalah
salah satu cabang terapan dari ilmu kimia.
Kimia tekstil adalah salah satu cabang terapan dari ilmu kimia.
Kimia tekstil merupakan bidang yang sangat khusus dalam hal penerapan
prinsip-prinsip ilmu kimia untuk memahami bahan-bahan tekstil, juga dalam hal
memodifikasi bahan tekstil tersebut untuk mencapai fungsi (kegunaan) dan
estetika yang diinginkan. Misalnya untuk mendapatkan bahan tekstil dengan warna
tertentu serta memiliki sifat lembut, anti kusut, easy care, anti
bakteri, tolak air, tahan api, anti ngengat dan sebagainya. Selain itu, kimia
tekstil juga dapat diterapkan untuk membuat bahan-bahan tekstil yang bermanfaat
untuk bidang medis, militer, lingkungan dan sebagainya.
Pelajaran kimia tekstil dimulai dengan pengetahuan mengenai serat
tekstil (fibres) baik itu serat alam maupun serat buatan, juga
mempelajari bagaimana proses mewarnai bahan tekstil sampai proses finishing.
Serat-serat buatan atau sintetis sangat banyak diperdagangkan di seluruh dunia
oleh karena itu seorang ahli kimia tekstil juga dibekali pengetahuan mengenai
polimer. Kimia tekstil dan ilmu bahan (material science) memiliki
interaksi yang cukup besar dan terus berkembang.
Ilmu kimia tekstil juga menerapkan prinsip kimia permukaan (surface
chemistry) untuk proses-proses pencucian dan pada proses pencelupan maupun
penyempurnaan. Dalam hal ini seorang ahli tekstil harus memahami kimia organik
untuk mensintesa dan memformulasi produk-prosuk yang digunakan pada proses
tersebut.
…adalah
dinamis
Dulu seorang ahli kimia tekstil hanya memiliki pengetahuan tentang
struktur dan sifat-sifat dari serat alam dan sintetik serta mengenai
pencelupan, pencapan, dan penyempurnaan tekstil. Namun saat ini tidak hanya
itu, seorang ahli tekstil juga harus memiliki pengetahuan mengenai bagaimana
membuat proses tekstil yang ramah lingkungan, misalnya dengan membuat serat
yang biodegradable.
Saat ini juga berkembang mengenai biotextile, yaitu serat
yang dikembangkan untuk drug delivery systems. Hal lainnya adalah
aplikasi tekstil dibidang aeronautika, yaitu penggunaan material tekstil yang
dikenal dengan textile composite untuk bahan pesawat terbang dan bahan
lainnya yang menginginkan bahan yang kuat tapi ringan.
Jadi ilmu tekstil akan terus berkembang sesuai dengan perkembangan
teknologi dan kebutuhan manusia.
…terasa
Dalam bidang tekstil, Anda bekerja dengan sesuatu yang dapat
dipegang dan dirasakan. Keahliannya mencakup proses manufaktur, evaluasi
tekstil, pertenunan, perajutan, persiapan penyempurnaan, pencelupan, pencapan,
penyempurnaan sampai garmen.
Spesialisasi dalam bidang kimia tekstil memberikan kesempatan
aplikasi ilmu kimia yang kreatif dan dinamis. Kombinasi teori dan praktek
membuatnya memungkinkan dalam mengembangkan bermacam-macam textile chemicals
yang dibutuhkan untuk membuat bahan tekstil yang baik yang dapat bersaing dipasaran.
DAFTAR PUSTAKA : http://atobhai.blogspot.co.id/2008/12/kimia-tekstil_18.html
Jenis-Jenis Pewarna Bahan Tekstil
Menurut sumber diperolehnya zat warna
tekstil digolongkan menjadi 2 yaitu:
- Zat Pewarna Alat (ZPA) yaitu zat warna yang berasal dari bahan-bahan alam pada umumnya dari hasil 130% tumbuhan atau hewan.
- Zat Pewarna Sintesis (ZPS) yaitu Zat warna buatan atau sintesis dibuat dengan reaksi kimia dengan bahan dasar ter arang batu bara atau minyak bumi yang merupakan hasil senyawa turunan hidrokarbon aromatik seperti benzena, naftalena dan antrasena.
Pada awalnya proses pewarnaan tekstil menggunakan zat
warna alam. Namun, seiring kemajuan teknologi dengan ditemukannya zat warna
sintetis untuk tekstil maka semakin terkikislah penggunaan zat warna alam.
Keunggulan zat warna sintetis adalah lebih mudah diperoleh , ketersediaan warna
terjamin, jenis warna bermacam macam, dan lebih praktis dalam penggunaannya
Meskipun dewasa ini penggunaan zat warna alam telah tergeser oleh keberadaan
zat warna sintesis namun penggunaan zat warna alam yang merupakan kekayaan
budaya warisan nenek moyang masih tetap dijaga keberadaannya khususnya pada
proses pembatikan dan perancangan busana. Rancangan busana maupun kain batik
yang menggunakan zat warna alam memiliki nilai jual atau nilai ekonomi yang
tinggi karena memiliki nilai seni dan warna khas, ramah lingkungan sehingga
berkesan etnik dan eksklusif. Dalam tulisan ini akan dijelaskan teknik
eksplorasi zat warna alam dari tanaman di sekitar kita sebagai upaya
pemanfaatan kekayaan sumberdaya alam yang melimpah sebagai salah satu upaya
pelestarian budaya. Zat Warna Alam untuk Bahan Tekstil

Zat warna alam
untuk bahan tekstil pada umumnya diperoleh dari hasil ekstrak berbagai bagian
tumbuhan seperti akar, kayu, daun, biji ataupun bunga. Pengrajin-pengrajin
batik telah banyak mengenal tumbuhan-tumbuhan yang dapat mewarnai bahan tekstil
beberapa diantaranya adalah : daun pohon nila (indofera), kulit pohon soga tingi
(Ceriops candolleana arn), kayu tegeran (Cudraina javanensis), kunyit
(Curcuma), teh (Tea), akar mengkudu (Morinda citrifelia), kulit soga jambal
(Pelthophorum ferruginum), kesumba (Bixa orelana), daun jambu biji (Psidium
guajava). (Sewan Susanto,1973).
Bahan tekstil yang diwarnai dengan zat warna alam adalah bahan-bahan
yang berasal dari serat alam contohnya sutera,wol dan kapas (katun).
Bahan-bahan dari serat sintetis seperti polyester , nilon dan lainnya tidak
memiliki afinitas atau daya tarik terhadap zat warna alam sehingga bahan-bahan
ini sulit terwarnai dengan zat warna alam. Bahan dari sutera pada umumnya
memiliki afinitas paling bagus terhadap zat warna alam dibandingkan dengan
bahan dari kapas.
Salah satu kendala pewarnaan tekstil menggunakan zat warna alam adalah ketersediaan variasi warnanya sangat terbatas dan ketersediaan bahannya yang tidak siap pakai sehingga diperlukan proses-proses khusus untuk dapat dijadikan larutan pewarna tekstil. Oleh karena itu zat warna alam dianggap kurang praktis penggunaannya.
Namun dibalik kekurangannya tersebut zat warna alam memiliki potensi pasar yang tinggi sebagai komoditas unggulan produk Indonesia memasuki pasar global dengan daya tarik pada karakteristik yang unik, etnik dan eksklusif. Untuk itu, sebagai upaya mengangkat kembali penggunaan zat warna alam untuk tekstil maka perlu dilakukan pengembangan zat warna alam dengan melakukan eksplorasi sumber- sumber zat warna alam dari potensi sumber daya alam Indonesia yang melimpah.
Proses pembuatan larutan zat warna alam adalah proses untuk mengambil pigmen – pigmen penimbul warna yang berada di dalam tumbuhan baik terdapat pada daun, batang, buah, bunga, biji ataupun akar. Proses eksplorasi pengambilan pigmen zat warna alam disebut proses ekstraksi. Proses ektraksi ini dilakukan dengan merebus bahan dengan pelarut air. Bagian tumbuhan yang di ekstrak adalah bagian yang diindikasikan paling kuat/banyak memiliki pigmen warna misalnya bagian daun, batang, akar, kulit buah, biji ataupun buahnya. Untuk proses ekplorasi ini dibutuhkan bahan – sebagai berikut:
Salah satu kendala pewarnaan tekstil menggunakan zat warna alam adalah ketersediaan variasi warnanya sangat terbatas dan ketersediaan bahannya yang tidak siap pakai sehingga diperlukan proses-proses khusus untuk dapat dijadikan larutan pewarna tekstil. Oleh karena itu zat warna alam dianggap kurang praktis penggunaannya.
Namun dibalik kekurangannya tersebut zat warna alam memiliki potensi pasar yang tinggi sebagai komoditas unggulan produk Indonesia memasuki pasar global dengan daya tarik pada karakteristik yang unik, etnik dan eksklusif. Untuk itu, sebagai upaya mengangkat kembali penggunaan zat warna alam untuk tekstil maka perlu dilakukan pengembangan zat warna alam dengan melakukan eksplorasi sumber- sumber zat warna alam dari potensi sumber daya alam Indonesia yang melimpah.
Proses pembuatan larutan zat warna alam adalah proses untuk mengambil pigmen – pigmen penimbul warna yang berada di dalam tumbuhan baik terdapat pada daun, batang, buah, bunga, biji ataupun akar. Proses eksplorasi pengambilan pigmen zat warna alam disebut proses ekstraksi. Proses ektraksi ini dilakukan dengan merebus bahan dengan pelarut air. Bagian tumbuhan yang di ekstrak adalah bagian yang diindikasikan paling kuat/banyak memiliki pigmen warna misalnya bagian daun, batang, akar, kulit buah, biji ataupun buahnya. Untuk proses ekplorasi ini dibutuhkan bahan – sebagai berikut:
- Kain katun (birkolin) dan sutera, Ekstrak adalah bahan yang diambil dari bagian tanaman di sekitar kita yang ingin kita jadikan sumber pewarna alam seperti : daun pepaya, bunga sepatu, daun alpokat, kulit buah manggis, daun jati, kayu secang, biji makutodewo, daun ketela pohon, daun jambu biji ataupun jenis tanaman lainnya yang ingin kita eksplorasi
- Bahan kimia yang digunakan adalah tunjung (FeSO4) , tawas, natrium karbonat/soda abu (Na2CO3) , kapur tohor (CaCO3), bahan ini dapat di dapatkan di toko-toko bahan kimia. Peralatan yang digunakan adalah timbangan, ember, panci, kompor, thermometer , pisau dan gunting.. Proses Ekstraksi Zat Warna Alam
Diposkan oleh Batik News di 07.23
Daftar Pustaka : http://pengetahuantekstilbusana.blogspot.co.id/2016/06/jenis-jenis-bahan-pewarna-tekstil.html
Langganan:
Postingan (Atom)



