.

Tampilkan postingan dengan label @N01-RAMA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @N01-RAMA. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Januari 2020

INDUSTRI HIJAU


Oleh : RAMA NUR HIDAYAT

(@N01-RAMA)


Industri Hijau. Industrysebagai penopang utamanya maka harus diimbangi dengan kesadaran untuk menjaga mutu lingkungan, oleh karena itu adanya Industri Hijau memberikan kesadaran kepada kita tentang pentingnya menjaga lingkungan dalam aspek dunia industry.
Industri Hijau dapat didefinisikan sebagai industry berwawasan lingkungan yang menyelaraskan pertunbuhan dengan kelestarian lingkungan hidup, mengutamakan efisiensi dan efektivitas penggunaan sumberdaya alam serta bermanfaat bagi masyarakat ( Permenperin, 2011).

Industri Hijau merupakan industry yang berkomitman untuk ramah lingkungan dengan berfokus pada pengembangan dan perbaikan secara terus-menerus, dan praktek bisnis yang bertanggung jawab terhadap masyarakat baik di dalam maupun di luar organisasi, serta memperhatiakn rantai pasok untuk pembangunan berkelanjutan.(Simachokedee dalam GIM, 2013)

Karakteristik Industri Hijau :

1.      Efisiensi pemanfaatan sumber daya
Di dalam konsep hijau, sumber daya yang pada umumnya tersedia dalam jumlah terbatas harus dimanfaatkan secara efisien. Teknologi Hijau adalah teknologi yang dapat meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya sehingga mengurangi limbah yang dihasilkan atau yang dikenal sebagai zero-waste. Konsep zero-waste productiontidak hanya berhubungan dengan efisiensi pemanfaatan sumber daya, tetapi juga dengan penerapan siklus materi di dalam sistem. Limbah yang dihasilkan oleh satu subsistem harus dapat dijadikan sebagai sumber daya bagi subsistem lainnya. Konsep seperti Recycle dan Reuse adalah penerapan dari siklus materi dan efisiensi pemanfaatan sumber daya dalam Konsep Hijau.

2.      Efisiensi energi dan energi terbarukan
Di dalam ekosistem dan metabolisme organisme, energi dimanfaatkan secara fisik. Energi yang terlepas dalam bentuk kalor dimanfaatkan sebagai sumber energi panas bagi subsistem lain di dalam sistem, atau diserap oleh sistem lain. Panas yang diserap oleh sistem selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Konsep Hijau dilakukan dengan memanfaatkan energi terbarukan yang tersedia di alam. Selanjutnya pemanfaatan energi terbarukan yang semakin banyak akan mendorong pengurangan penggunaan bahan bakar fosil. Sumber energi terbarukan yang ada di alam yang paling utama dan berlimpah adalah energi yang disediakan oleh sinar matahari. Sumber energi terbarukan lainnya meliputi angin, energi potensial air, panas bumi dan biomassa.

3.      Green Industrial Park 
Daerah Kalundborg di Denmark merupakan salah satu daerah yang telah menerapkan konsep Eco-Industrial Park yang terintegrasi dengan pemukiman dan perkotaan. Di Kalundborg, berbagai industri seperti farmasi, penyulingan minyak, pengolahan limbah pertanian, dan permunian air saling terintegrasi dengan memanfaatkan energi dariPower Station yang memanfaatkan bahan baku batubara disamping penggunaan energi terbarukan lain. Di kota ini, masyarakat dapat berenang di danau yang mengandung air luaran dari pabrik (yang tentunya telah diolah lebih dahulu) dan minum dari air kran hasil pengolahan air dalam sistem eko-industrinya. Innovista Industrial Park di kota Hinnon, Kanada juga membangun pemukiman dan komplek industri berwawasan Hijau dengan membangun bangunan hijau, mempertahankan jalur hijau dan taman kota di sebagian besar kawasan, hingga mendesain tata letak pabrik agar asap pabriknya dapat diserap oleh hutan kota di sekitarnya.

4.      Keterkaitan sistem alam – manusia
Green development tidak dapat dilepaskan dari pembangunan masyarakat. Konsep Sistem Ekologi Sosial (SES) memperhatikan masyarakat sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari sistem alam (ekosistem). Alam memberikan sumberdaya bagi manusia, tetapi manusia juga memberikan masukan bagi siklus materi di dalam ekosistem. Pembangunan berwawasan lingkungan yang tidak mengindahkan masyarakat memiliki tendensi untuk gagal dan berpotensi menimbulkan masalah atau bahkan dapat berpotensi menimbulkan bencana. Masyarakat dapat merusak lingkungan melalui pemanfaatan eksploitatif, tetapi juga dapat berperan dalam memelihara lingkungan melalui sistem pengelolaan yang berkelanjutan. Konsep Hijau harus turut serta dalam mengedepankan pemberdayaan masyarakat sekitar sebagai bagian dari pembangunan yang ramah lingkungan.

Manfaat Penerapan Industri Hijau

Ø  Meningkatkan profitabilitas (keuntungan) melalui peningkatan efisiensi sehingga dapat mengurangi biaya operasi, pengurangan biaya pengelolaan limbah dan tambahan pendapatan dari produk hasil samping
Ø  Meningkatkan image perusahaan 
Ø  Meningkatkan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi 
Ø  Mempermudah akses pendanaan Fleksibilitas dalam regulasi 
Ø  Terbukanya peluang pasar baru 
Ø  Menjaga kelestarian fungsi lingkungan

Upaya Peningkatan Industri Hijau
1.      Penggunaan mesin ramah lingkungan melalui program restrukturisasi permesinan untuk industri tekstil dan produk tekstil, alas kaki, dan gula: program ini memberikan dampak yang signifikan berupa penghematan penggunaan energi sampai 25%, peningkatan produktivitas sampai 17%, peningkatan penyerapan tenaga kerja dan meningkatkan efektivitas giling pada industri gula;
2.      Penerapan produksi bersih dengan memberikan pelatihan kepada pelaku industri dan aparatur, menyusun pedoman teknis produksi bersih untuk beberapa komoditi industri dan bantuan teknis kepada beberapa industri;
3.      Kebijakan teknis, yaitu perlindungan terhadap lapisan ozon melalui kontrol penggunaan Bahan Perusak Ozon (BPO ) secara bertahap.(Peraturan Menteri Perindustrian No. 33 Tahun 2007: larangan Memproduksi Bahan Perusak lapisan Ozon serta Memproduksi yang menggunakan BPO; 
4.      Penyusunan Data Inventori Emisi CO2 equivalent di 700 perusahaan dari 8 sektor industri untuk penetapan baseline emisi GRK.

  Sasaran pengembangan industri

Penetapan standar industri hijau, meliputi antara lain:
1.      Melakukan benchmarking standar industri hijau di beberapa negara.
2.      Menetapkan Panduan Umum penyusunan Standar Industri Hijau dengan memperhatikan sistem standardisasi nasional dan/atau sistem standar lain yang berlaku.
3.     Melakukan penyusunan Standar Industri Hijau berdasarkan kelompok Industri sesuai Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia.
4.      Menetapkan Standar Industri Hijau
5.      Memberlakukan Standar Industri Hijau secara wajib yang dilakukan secara bertahap
6.  Melakukan pengawasan terhadap perusahaan industri yang Standar Industri Hijaunya diberlakukan secara wajib.
7.      Menetapkan Peraturan Menteri mengenai pengawasan terhadap Perusahaan Industri yang Standar Industri Hijaunya diberlakukan secara wajib.
8.      Melakukan Mutual Recognition Agreement (MRA) dengan negara yang telah menerapkan standar industri hijau atau standar lainnya yang sejenis

Pembangunan dan pengembangan lembaga sertifikasi industri hijau yang terakreditasi serta peningkatan kompetensi auditor industri hijau, meliputi antara lain:
1.      Menyusun Pedoman Umum Pembentukan Lembaga Sertifikasi
2.      Menyusun Standar Kompetensi Auditor Industri Hijau
3.      Menyusun Standard Operating Procedure (SOP) Sertifikasi Industri Hijau
4.      Menyusun Modul Pelatihan Industri Hijau
5.      Menunjuk Lembaga Sertifikasi Industri Hijau yang terakreditasi
6.      Menetapkan Pedoman Akreditasi terhadap Lembaga Sertifikasi Industri Hijau
7.      Melakukan Pengawasan terhadap Lembaga Sertifikasi Industri Hijau
8.      Melakukan pelatihan auditor industri hijau

Pemberian fasilitas untuk industri hijau, meliputi:
1.      Fasilitas fiskal yang diberikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
2.      Fasilitas non-fiskal berupa :
Ø  Pelatihan peningkatan pengetahuan dan keterampilan sumber daya manusia Industri;
Ø  sertifikasi kompetensi profesi bagi sumber daya manusia Perusahaan Industri;
Ø  bantuan pembangunan prasarana fisik bagi Perusahaan Industri kecil dan industri menengah; dan
Ø  penyediaan bantuan promosi hasil produksi bagi Perusahaan Industri.

Daftar Pustaka:
1.      2012.Efesiensi dan Efektivitas dalam Implemantasi Industri Hijau. http://www.kemenperin.go.id/download/6297/Efisiensi-dan-Efektivitas-dalam-Implementasi-Industri-Hijau. (diakses pada 18 Desember 2018)
2.      Hestanto. 2016. Pembangunan Insutri Hijau Indonesia. https://www.hestanto.web.id/industri-hijau/. (diakses pada 18 Desember 2018)

3.    Kemenperin. 2012. Kebijakan Pengembangan Industri Hijau. http://iesr.or.id/files/2apr_WORKSHOP_ENERGI.pdf. (diakses pada 18 Desember 2018)

Teknologi Hijau


OLEH : RAMANURHIDAYAT

(@N01-RAMA)


Teknologi hijau atau teknologi alam sekitar adalah penggunaan sains alam sekitar untuk memulihara sumber dan alam sekitar semula jadi dan mengawal kesan negatif aktiviti manusia. 
Pembangunan mampan adalah teras kepada teknologi alam sekitar yang bermaksud penyelesaian perlu mengambil kira aspek sosial, ekonomi dan alam sekitar.
Antara contoh bidang tumpuan teknologi hijau adalah:
-Tenaga sumber alam semula jadi: Isu penting dalam teknologi hijau dan ini termasuk pembangunan bahan bakar alternatif atau sumber tenaga yang boleh diperbahurui.
-Bangunan hijau: Bidang ini merangkumi semua tahap pembangunan. Dari pemilihan bahan bangunan hingga pemilihan lokasi bangunan. Lokasinya Di Jalan Sultan Salahuddin, Kuala Lumpur iaitu bangunan Kementerian Kerja Raya. Selain itu, bangunan berkonsepkan teknologi hijau adalah Ibu Pejabat Lembaga Pelabuhan Johor di Pasir Gudang, Johor, Bangunan Dato' Abdul Rahman Andak , Kota Iskandar, Johor. Sebagi contoh konsep yang ditekan dalam Ibu Pejabat Lembaga Pelabuhan Johor adalah seperti 'Vertical Fin' keadah penggunaannya adalah bagi kemasukan cahaya dalam bangunan.
-Selain itu konsep teknologi hijau boleh diprektikkan di tepi pantai dan kuala sungai dengan penanaman pokok bakau bagi menggelak hakisan air yang lebih mesra alam dan mengekalkan ekosistem sediaada.
-Penggunaan tenaga sola yang meluas dikawasan luar bandar dan pendalaman seperti di Sabah dan Serawak. Walaupun pembinaannya agak mahal tapi ia adalah usaha kerajaan meningkatkan taraf hidup di sana. Banyak juga jalanraya menggunakan lampu berunsurkan tenaga sola terutamanya di kawasan selekoh.
-Nanoteknologi hijau: Nanoteknologi melibatkan manipulasi bahan pada skala nanometer atau satu per milyar meter. Nanoteknologi hijau adalah aplikasi teknologi hijau dalam bidang nanoteknologi.
-Alamtologi: Suatu teknologi yang jelas mengikut fitrah alam dan hanya mengembangkannya sesuai dengan susunan yang lebih teratur.

Empat Tunggak Dasar Teknologi Hijau Negara 
  • Tenaga - Mencari ketidakbergantungan tenaga dan mempromosikan kecekapan tenaga
  • Alam sekitar - Memulihara dan meminimumkan kesan kepada alam sekitar
  • Ekonomi - Meningkatkan pembangunan ekonomi negara melalui penggunaan teknologi; dan 
  • Sosial - Meningkatkan kualiti hidup untuk semua.


Objektif

  • Untuk mengurangkan kadar peningkatan penggunaan tenaga dalam masa yang sama meningkatkan pembangunan ekonomi;
  • Untuk membantu pertumbuhan dalam industri Teknologi Hijau dan meningkatkan sumbangannya kepada ekonomi negara; 
  • Untuk meningkatkan keupayaan bagi inovasi dalam pembangunan Teknologi Hijau dan meningkatkan daya saing dalam Teknologi Hijau di persana antarabangsa; 
  • Untuk memastikan pembangunan mapan dan memulihara alam sekitar untuk generasi akan datang; dan 
  • Untuk meningkatkan pendidikan dan kesedaran awam terhadap Teknologi Hijau dan menggalakkan penggunaan meluas Teknologi Hijau. 
Kriteria Teknologi Hijau 
Kriteria Teknologi Hijau merujuk produk, peralatan, atau sistem yang memenuhi kriteria-kriteria berikut:

  • Ia meminimumkan degradasi kualiti persekitaran;
  • Ia mempunyai pembebasan Gas Rumah Hijau (GHG) yang rendah atau sifar;
  • Ia selamat untuk digunakan dan menyediakan persekitaran sihat dan lebih baik untuk semua hidupan;
  • Menjimatkan tenaga dan sumber asli; dan
  • Menggalakkan sumber-sumber yang boleh diperbaharui.

Studi tentang teknologi hijau yang masih terus dikembangkan dan merupakan kecenderungan teknologi di masa datang, antara lain mencakup bidang-bidang, a.l: Energi terbarukan (renewable energy); Bangunan hijau/ramah lingkungan (green building); Kimia hijau (green chemistry) dan Teknologi Nano Hijau (green nanotechnology).
Renewable Energy
Mengingat keterbatasan sumber energi berbahan baku fosil (minyak, gas dan batubara), maka energi menjadi masalah yang paling mendesak dalam bidang teknologi hijau, termasuk didalamnya pengembangan bahan bakar alternatif atau energi terbarukan yang efisien.
Green Building
Bangunan hijau (green building) juga mendapat perhatian penting di bidang teknologi hijau, segala sesuatu yang berkaitan dengan pembangunan rumah atau infrastruktur yang ramah lingkungan. Penerapannya mulai sejak pemilihan bahan bangunan hingga lokasi tempat bangunan akan didirikan diharapkan telah mempertimbangan kelestarian lingkungan hidup.
Green Chemistry
Hampir seluruh produk untuk keperluan sehari-hari adalah produk kimiawi. Oleh karena itu kimia hijau (green chemistry) mulai mendapat perhatian berbagai negara maju dalam hal penemuan, rancangan dan aplikasi produknya termasuk proses yang dijaga dari penggunaan bahan beracun atau zat yang berbahaya bagi kehidupan.
Green Nanotechnology
Yang paling terkini adalah studi tentang Green nanotechnology (teknologi nano hijau) yang melibatkan manipulasi bahan pada skala nanometer (satu miliar meter). Beberapa ilmuwan percaya bahwa penguasaan subjek ini di masa datang akan mengubah cara bagaimana segala sesuatu di dunia ini dibuat. “Green nanoteknologi” adalah penerapan kimia hijau tingkat lanjut dengan prinsip-prinsip rekayasa teknologi yang ramah lingkungan.

Manfaat teknologi hijau 

Umumnya, teknologi hijau memfokuskan kepada empat kebaikan. Dari aspek tenaga, teknologi hijau diharapkan dapat membantu mencari ketidakbergantungan tenaga dan mempromosikan kecekapan tenaga negara. Teknologi hijau merangkumi sumber tenaga seperti angin, air, solar, hibrid dan lain-lain yang bersumberkan alam semula jadi. Teknologi hijau terbukti lebih cekap kerana ia boleh menjana tenaga dalam pelbagai keadaan dengan kos murah, selamat dan mesra pengguna. Ini dapat dibuktikan melalui pengalaman dan amalan di negara maju yang telah membangunkan industri ini sejak sekian lama. Teknologi hijau dapat membantu memulihara dan meminimumkan kesan buruk kepada alam sekitar. Pencemaran udara, air, bunyi dan sebagainya akan menjelaskan kualiti hidup rakyat jika dibiarkan berterusan. Apabila kita menggunakan teknologi hijau, kesan negatif terhadap alam sekitar adalah minimum. Ia dapat meningkatkan dan melindungi ekosistem dan kepelbagaian hidup, meningkatkan kualiti udara dan air, mengurangkan pembuangan bahan tercemar dan melindungi sumber semula jadi. Dari aspek ekonomi, teknologi ini mampu meningkatkan pembangunan ekonomi negara melalui penggunaan teknologi dan meningkatkan kualiti hidup untuk semua kehidupan manusia dan biodiversiti umumnya. Teknologi hijau mempunyai potensi besar dalam memacu pembangunan negara. Ia dapat membantu mengurangkan kos operasi, meningkatkan nilai aset dan keuntungan. Teknologi ini juga dapat meningkatkan produktiviti dan kepuasan pekerja. Industri yang menggunakan atau membangunkan produk berhubung teknologi hijau dapat menyediakan peluang pekerjaan untuk masyarakat tempatan. Prestasi kitar hidup ekonomi juga dapat dioptimumkan.

REFERENSI:
1. https://ms.wikipedia.org/wiki/Teknologi_hijau
2.HariInovasiICT,2011.ApaItuTeknologiHijau.https://sites.google.com/site/hariinovasi/berita/apa-itu-teknologi-hijau
3.http://www.kettha.gov.my/portal/index.php?r=kandungan/index&menu1_id=3&menu2_id=75&menu3_id=121
4.http://nextdaytechnology.blogspot.co.id/2010/06/teknologi-hijau-teknologi-masa-depan.html
5. Dr. Iskandar Hasan, 2015. Teknologi Hijau Tingkat Kualiti Hidup, Pacu Ekonomi Negara. http://www.bharian.com.my/node/40615

Senin, 02 Desember 2019

WUJUD GAS


Oleh :KELOMPOK @N01-(@N01-RAMA)
(@N02-DYMAS)
(@N03-YOGA)

Abstrak
Selain ikatan yang mempertahankan atom-atom tetap bersenyawa,masih ada gaya-gaya yang menyebabkan molekul-molekul dapat bergabung satu sama lain membentuk materi yang dapat kita lihat sehari-hari.
            Kekuatan Gaya-gaya ini menyebabkan perbadaan sifat fisik materi, sehingga dikenal materi yang berwujud padat,gas,dan cair . Makin kuat gaya antarmolekul , materi cenderung membentuk padatan. Sebaliknya makin lemah gaya antarmolekul,materi cenderung berwujud cair,bahkan berwujud gas.
    II.          Pembahasan
A.     Perubahan Tatanan Materi
·       berdasarkan fungsi dan strukturnya, perubahan meteri dikelompokan menjadi perubahan fisika dan perubahan kimia
perubahan fisika adalah perubahan materi yang tidak membentuk zat
 yang baru
·       perubahan kimia adalah suatu materi yang mengalami perubahan dan memmbentuk suatu zat yang baru
·       perubahan kimia juga dapat disebut juga reaksi kimia
·       pada umumnya materi yang mengalami perubahan fisika dapat dikembalikan ke keadaan meteri semula dan perubahan kimia kebalikannya
beberapa reaksi kimia antara lain:
1.     reaksi yang menghasilkan gas
2.     reaksi yang menghasilkan endapan
3.     reaksi yang menghasilkan perubahan warna
4.     reaksi yang menghailkan perubahan suhu
B.     Tatanan Materi wujud Gas
    Zat adalah sesuatu yang memiliki massa dan menempati ruangan. Ada tiga macam wujud zat, yaitu zat padat, cair, dan gas. Sifat zat padat memiliki bentuk dan volumenya tetap, tidak tergantung pada tempatnya. Sifat zat cair adalah volumenya tetap, tetapi bentuk berubah sesuai dengan tempatnya. Sifat gas adalah bentuk dan volumenya berubah sesuai dengan tempatnya. Sifat-sifat pertikel zat tersebut adalah sebagai berikut.
1.      Sifat partikel zat padat
1.      Bentuk dan volumenya tetap, tidak bergantung pada tempatnya.
2.      Susunan partikelnya teratur.
3.      Jarak antarpartikel berdekatan.
4.      Gaya tarik antarpartikel sangat kuat.
5.      Gerak partikel tidak bebas.
2.      Sifat partikel zat cair
1.      Bentuknya berubah sesuai dengan tempatnya, tetapi volumenya tetap.
2.      Susunan partikelnya tidak teratur.
3.      Jarak antarpartikel agak berjauhan.
4.      Gaya tarik antarpartikel lemah.
5.      Gerak partikel bebas, tetapi masih dalam ikatan kelompoknya.
3.      Sifat Partikel Gas
1.      Bentuk dan volumenya berubah sesuai tempatnya.
2.      Susunan partikelnya sangat tidak teratur.
3.      Jarak antarpartikel sangat berjauhan.
4.      Gaya tarik antarpartikel sangat lemah.
5.      Gerak partikel sangat bebas.


C.     Tatanan Materi Wujud Cair
1.Struktur dan sifat zat cair
            Dalam cairan ,terdapat derajat keteraturan seperti pada struktur padatan tetapi terbatas , artinya rentang keteratutannya tidak lebar , hanya bebeerapa jarak antaratom atau molekul.
a.Sifat zat cair
            Molekul-molekul cairan yang berada di permukaan cenderung untuk meninggalkan cairan berbentuk uap. Tekanan up adalah kesetimbangan tekanan parsial uap di atas cairan yang dipengaruhi oleh suhu.Titik didih adalah suhu dimana tekanan uap sama dengan tekanan yang diterapkan terhadap cairan. Kedua aspek tersebut adalah sifat-sifat penting cairan. Dua sifat lain adalah tegangan permukaan dan viskositas (kekentalan). Semua sifat ini bergantung pada gaya antarmolekul dan struktur molekul cairan.
2.Dinamika Cairan
            Gerakan acak yang tetap dari molekul-molekul cairan menyebabkan cairan mengikuti gerak Brownian yang tidak teratur. Partikel-partikel  seperti itu jika diamati dengan mikroskop akan tampak bergerak dan bertumbukan dengan molekul cairan lainnya.
D.    Tatanan Materi Berwujud Padat
Zat Padat
Zat Padat digolongkan ke dalam tiga kategori yaitu kristalin,amorf,dan polikristalin:
-Kristalin memiliki susunan partikel teratur dengan pola berulang (natrium,klorida,tembaga sulfat hidrat,dan Bungan salju)
-Amorf,memiliki susunan partikel yang toidak berpola atau acak sehingga tidak mempunyai bentuk yang teratur (kaca dan serat plastic)
-Polikristalin adalah agregat dari sejumlah besar Kristal-kristal kecil membentuk struktur secara teratur (garam)
Tabel Sifat Zat

Struktur dan Jenis Padatan
-Padatan Kovalen
            Padatan ini tersusunatas atom-atom dengan ikatan kovalen baik untuk kovalen polar (titik lebur tinggi ),maupun ikatan nonpolar (titik lebur lebih rendah)
-Padatan Ionis
            Padatan ini tersusun atas ion positif dan ion negatif. Pada padatan ini terdapat gaya elektrostatik,ikatannya sangat kuat sehingga padatan ini memiliki titik lebur tinggi.
-Padatan Molekuler
            Tersusun atas molekul-molekul dengan ikatan Van Der Waals. Ikatan ini sangat lemah sehingga untuk memutuskan ikatannya hanya perlu energy kecil,dengan demikian memiliki titik leburnya rendah.
-Padatan Logam
            Tersusun atas logam-logam sangat rapat,dapat berbentuk kubus,trigonal dll.Merupakan Konduktor yang baik.Daya konduktor merupakan mobilitas ion.


  III.          Daftar Pustaka
Sunarya, Yayan. 2010. Kimia Dasar 1. Bandung: Yrama Widya

S, Syukri. 1999. Kimia Dasar 1. Bandung: Penerbit ITB

H. Petrucci, Ralph. 1987. Kimia Dasar. Bogor: PT. Gelora Aksara Pratama


Senin, 25 November 2019

STRUKTUR MOLEKUL DAN IKATAN VALENSIA



OLEH : (@N01-RAMA)
(@N02-DYMAS)
(@N03-YOGA)

Pendahuluan.
Dalam ikatan kimia berkembang teori ikatan yaitu teori ikatan valensi atau Valence Bond Theori (VBT), teori orbital molekul atau Molecular Orbital Theory (MOT) dan teori medan kristal atau Crystal Field Theory (CFT). Teori ikatan valensi merupakan yang paling luas digunakan karena lebih mudah diaplikasikan pada berbagai senyawa. Sementara MOT sering direpotkan oleh persamaan-persamaan gelombang dan simbul-simbul simetri orbital. Demikian juga CFT hanya lazim digunakan untuk menjelaskan ikatan dalam senyawa koordinasi. Teori ikatan ini akan diperkenalkan dan pokok bahasan ini dimulai dengan VBT.
II.                Pembahasan
2.1  Teori Ikatan Modern
Dua metode pendekatan untuk menjelaskan ikatan antar atom :
1.      Metode Ikatan Valensi : Ikatan berbentuk karena adanya overlaping orbital atom
2.      Metode Orbital Molekul : Bila atom-atom membentuk molekul/senyawa, orbital-orbitalnya bergabung dan membentuk orbital baru (Orbital Molekul)
2.2  Teori Ikatan Valensi
Valence bond theory (VBT) adalah pendekatan kuantum mekanik terlokalisasi untuk menjelaskan ikatan dalam molekul. VBT memberikan perhitungan matematis bagi penggambaran Lewis dari pasangan elektron membentuk ikatan antara atom-atom. VBT menyatakan bahwa elektron menempati orbital yang diarahkan terlokalisasi pada atom tertentu. Arah dari orbital ditentukan oleh geometri di sekitar atom tertentu. Arah dari orbital ditentukan oleh geometri disekitar atom yang diperoleh dari perkiraan dengan teori VSEPR. Pada VBT, ikatan akan terbentuk bila terjadi tumpangsuh (overlap) dari orbital yang cocok dari dua atom, dan orbital orbital tersebut ditempati oleh 2 elektron secara maksimum.
2.3  Metode Ikatan Valensi
Menurut teori ini, ikatan H-H terbentuk darri overlaping (tumpangsuh) orbital 1s dari masing-masing atom.


2.4  Hibridisasi
Problem dalam menghitung geometri sebenarnya dan arah dari orbital diatasi dengan menggunakan konsep hibridisasi orbital. Orbital hibridisasi adalah campuran dari orbital atom dan dihitung secara matematika sebagai kombinasi linier dari orbital atom s, p, dan d yang tepat.


III.             Kesimpulan
Teori ikatan valensi merupakan yang paling luas digunakan karena lebih mudah diaplikasikan pada berbagai senyawa. Sementara MOT sering direpotkan oleh persamaan-persamaan gelombang dan simbul-simbul simetri orbital
IV.             Daftar Pustaka

Prinsip kimia hijau



Oleh : RAMA NUR HIDAYAT

(@N01-RAMA)

ABSTRAK.
  1. Pencegahan limbah : Lebih baik untuk mencegah sedini mungkin terjadinya limbah daripada menanggulangi dan mengelola limbah yang sudah terlanjur terbentuk. Bagaimanapun pengelolaan limbah yang muncul sebagai bagian dari proses produksi akan menimbulkan biaya ekonomi tinggi. Berbagai teknologi pengelolaan limbah sudah diterapkan, mulai dari sanitary landfillincinerator dan land treatment (land farming). Namun ketiga jenis teknologi tersebut tetap saja dianggap sangat mahal, sulit diterapkan, memerlukan standar operasi yang tinggi dan efektivitasnya diragukan. Jadi sekali lagi lebih baik mencegah limbah daripada mengelolanya. Hal itu sejalan dengan pendapat Wang dkk (2006).
Kata kunci : kimia hijau

Teknologi pemusnahan sampah dengan metode Sanitary Landfill ialah dengan cara  membuang dan menumpuk limbah (sampah) ke suatu titik lokasi yang cekung, kemudian dipadatkan dan  menutupnya dengan tanah.  Sedangkan incinerator (insinerator) ialah teknologi pengelolaan limbah (sampah) dengan proses pembakaran.
Adapun teknologi land treatment ialah dengan cara menebar limbah (termasuk limbah bahan beracun berbahaya) ke permukaan tanah, dengan maksud supaya mengalami proses dekomposisi oleh mikroorganisme tanah. Di sisi lainnya partikel tanah dapat menahan laju mobilisasi berbagai komponen berbahaya dari limbah. Sekali lagi jika dicermati secara seksama, ketiga teknologi pengelolaan limbah tersebut selain mahal juga tidak ada yang ramah lingkungan. Oleh sebab itu prinsip pertama dari Kimia Hijau ialah mencegah terjadinya limbah (sampah) sedini mungkin.
Menurut Bogner dkk (2007), tantangan utama bagi setiap pemerintah kota ialah untuk mengumpulkan, mendaur ulang, sekaligus mengurangi  kuantitas limbah padat dan limbah cair. Dalam hal ini konsep pembangunan berkelanjutan perlu mencakup upaya pengelolaan limbah yang rasional, terjangkau, efektif dan benar-benar berkelanjutan. Kesehatan dan keselamatan  masyarakat serta kelestarian lingkungan secara langsung dipengaruhi oleh praktek pengelolaan limbah yang efektif. Pencegahan dan pengendalian limbah lebih jauh lagi akan menimbulkan dampak langsung terhadap berkurangnya emisi gas kaca; mencegah kontaminasi air, tanah dan udara; memberikan manfaat energi terbarukan; melestarikan sumberdaya alam; sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

  1. Memaksimalkan ekonomi atom : Perancangan sintesis sedemikian rupa sehingga produk akhir mengandung proporsi maksimum dari bahan awal. Dalam hal ini hanya sedikit atom yang terbuang, dan kalau bisa nihil. Menurut Santosa (2008) metode sintesis harus dirancang dengan memaksimalkan semua reaktan menjadi produk akhir yang diinginkan.
Konsep ekonomi atom  dikembangkan oleh Barry Trost dari Stanford University (AS), merupakan penerima Presidential Green Chemistry Challenge Award  tahun 1998. Konsep ekonomi atom merupakan metode yang mengungkapkan seberapa efisien reaksi tertentu yang menggunakan atom reaktan. Ekonomi atom merupakan nisbah antara masa atom produk yang diinginkan dengan masa atom dalam reaktan dikalikan 100 persen (GI, 2015). 
Menurut Santosa (2008), idealnya reaksi kimia berjalan dengan reaktan terubah menjadi produk yang sesuai dengan persamaan stoikiometrinya. Faktanya kebanyakan reaksi menghasilkan produk dengan kuantitas di bawah yang diperhitungkan dari persamaan stoikiometrinya. Semula dikenal adanya konsep Efisiensi Hasil (EH), yang merupakan hasil perbandingan antara massa produk yang dihasilkan dengan massa produk teoritis yang diperhitungkan dari persamaan stoikiometri. Namun produk reaksi kimia yang dihasilkan oleh suatu reaksi kimia sering berjumlah lebih dari satu jenis, dan tidak semuanya merupakan produk reaksi yang diinginkan. Oleh karena itu EH tidak mencerminkan seberapa besar efisiensi reaktan terubah menjadi produk yang diinginkan, sebagai langkah perbaikan maka muncul konsep Ekonomi Atom (EA).
Contoh :
Benzena dapat dioksidasi untuk membuat anhidrida maleat, bahan kimia yang cukup penting (GI, 2015).
Ekonomi Atom  reaksi tersebut mencapai 43 persen, yaitu  dihitung dengan menggunakan massa rumus relatif. Hal itu menunjukkan bahwa hanya 43 persen dari massa reaktan yang berubah menjadi produk yang diinginkan.

Catatan :
Fenol telah diproduksi oleh berbagai metode, dan setiap alternatif metode produksi telah menunjukkan nilai Ekonomi Atom yang terus meningkat.
Ibuprofen untuk memproduksinya menggunakan metode dengan enam langkah, dengan nilai Ekonomi Atom hanya 40,1 persen. Pada tahun 1990-an Hoechst Celanese Corporation mengembangkan proses tiga tahap baru dengan Ekonomi Atom mencapai  77,4 persen. Hal itu menjadi  contoh klasik untuk mengembangkannya ke skala produk komersial.

  1. Perancangan sintesis dengan bahan kimia yang tidak berbahaya : Dalam praktek metode sintesis seharusnya didesain untuk menggunakan dan menghasilkan zat yang paling sedikit atau sama sekali ridak menimbulkan toksisitas pada manusia dan lingkungan.
Sintesis kimia ialah penyusunan atau pembentukan senyawa tertentu, biasanya senyawa organik, dari bahan kimia komersial mudah tersedia atau murah, tergantung kepentingannya. Senyawa disusun atau disintesis dengan melakukan berbagai reaksi kimia dengan  mengubah struktur molekul, oleh reaksi tertemtu dengan bahan kimia lainnya. Sintesis kimia terbaik adalah  yang menggunakan bahan awal yang murah, hanya memerlukan beberapa langkah, dan memiliki output yang baik berupa  produk yang sesuai dengan perancangan sintesis,
Bahan awal untuk sintesis organik dapat berupa senyawa sederhana yang bersumber dari  minyak dan gas alam, bisa juga dari bahan kimia yang lebih kompleks yang diisolasi dalam jumlah besar dari  tanaman dan hewan. Tujuan dari sintesis kimia untuk membuat produk tertentu yang dapat digunakan secara komersial; misalnya sebagai obat, wewangian, lapisan polimer, makanan, pewarna kain, pestisida, atau untuk tujuan industri dan komersial lainnya. Selain itu senyawa juga disintesis untuk menguji teori kimia, membuat bahan kimia baru, membuat bahan yang lebih baik, atau untuk mengkonfirmasi struktur bahan yang diisolasi dari sumber alami (McMurry, 1999). Dengan demikian jika mengedepankan prinsip Kimia Hijau maka setiap kegiatan sintesis bahan kimia perlu senantiasa memperhatikan aspek perancangan yang mengutamakan bahan tidak berbahaya dan tidak beracun.

Daftar Pustaka

 Anwar, Muslih, M.SC. 2015. Kimia Hijau / Green Chemistryhttp://bptba.lipi.go.id/bptba3.1/?u=blog-single&p=343&lang=id